Kole-kole

Bahan
Kacang hijau/tepung kacang hijau
Tepung beras

Bumbu
Santan kelapa
Gula merah

Peralatan Masak
Peralatan yang digunakan untuk membuat kole-kole adalah kisaran atau gilingan kopi, gilingan (cowek) dan batu giling untuk menghaluskan kacang hijau hingga menjadi tepung, kuali untuk menggongseng kacang hijau, panci untuk membuat adonan dan untuk membuat tahi minyak, loyang, sendok besar untuk mengaduk adonan, saringan, dan pisau.

Cara Membuat
Cara membuat makanan ini adalah kacang hijau digongseng atau disangrai, setelah itu dibuang kulitnya. Setelah kacang hijau bersih dari kulit kemudian digiling atau dikisar hingga menjadi tepung. Apabila tidak digiling atau dikisar, di Tanjungpinang ada orang yang khusus menjual jasa untuk menggilingkan kacang hijau tersebut. Selain menggilingkan kacang hijau dapat juga menggiling beras. Setelah kacang hijau menjadi tepung lalu campurkan dengan tepung beras dan diaduk dengan air dingin sampai rata, kemudian disisihkan. Lalu jerang air yang sudah dimasukkan gula merah, dimasak sampai cair setelah itu air gula disaring untuk membuang kotoran yang ada pada gula. Gula merah tadi campurkan dengan santan kemudian dimasak sampai keluar minyaknya. Setelah santan pecah minyak, angkat panci dari atas api kompor lalu masukkan tepung sedikit demi sedikit ke dalamnya. Aduk terus sampai tercampur semuanya dengan rata. Kemudian masak lagi di atas kompor sampai kental dan matang. Adonan dapat dikatakan masak apabila sudah meletup-letup. Kemudian masukkan ke dalam cetakan atau loyang, selagi panas taburkan tahi minyak di atasnya agar melekat pada kue. Adonan di dalam loyang dibiarkan sampai dingin dan kue kole-kole dapat dipotong-potong.

Untuk membuat tahi minyak sebagai taburan di atas kue adalah dari santan yang dimasak. Santan ini dibiarkan sampai pecah santan dan akhirnya keluar minyak yang terpisah dari tahinya yang mengendap di dasar panci. Untuk mendapatkan tahi minyak yang terpisah dari minyaknya yaitu dengan jalan menyaring minyak tersebut, hingga yang tinggal dalam saringan adalah tahi minyak saja. Sebelum kue dipotong-potong lalu di atasnya ditaburi tahi minyak ini. Namun para penjual kue sekarang banyak yang tidak memakai tahi minyak. Jadi di atas kue kole-kole itu polos saja. Menurut masyarakat Penyengat itu bukan kole-kole karena kole-kole tetap harus memakai tahi minyak di atasnya.

Penyajian
Penduduk setempat menyuguhkan kole-kole sebagai teman minum teh, dan seringkali juga disajikan ketika ada tamu yang berkunjung dari luar Penyengat.

Nilai Budaya
Dalam kehidupan masyarakat Penyengat tidak ada fungsi yang menonjol dari masakan kole-kole ini. Makanan ini mengandung nilai budaya dan nilai ekonomi yang terlihat dari penduduk yang menjual kole-kole ke toko-toko kue atau pasar di Tanjungpinang. Kole-kole biasanya dijajakan pada pagi hari.

Sumber:
Setiati. Dwi. 2000. Tata Saji Hidangan Melayu Pada Peringatan Hari-Hari Besar Islam Di Pulau Penyengat. Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah Dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.
Dibaca: