Munding dan Manfaatnya

Munding adalah istilah orang Sunda bagi binatang yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai kerbau atau Bubalus bubalis. Binatang memamah biak yang dapat mencapai berat antara 300-600 kg ini oleh berbagai bangsa di dunia telah didomestikasi alias menjadi hewan ternak untuk diambil daging maupun air susunya sebagai bahan makanan (id.wikipedia.org).

Selain itu, di beberapa daerah kerbau juga dijadikan sebagai hewan penarik pedati atau bajak. Di Jawa Barat misalnya, kerbau atau yang biasa disebut munding umum digunakan sebagai bajak. Oleh para petani, munding dimanfaatkan untuk ngawalajar yaitu suatu proses membalikkan lapisan tanah agar tidak asam dan dapat terkena sinar matahari. Ngawalajar merupakan salah satu dari rangkaian dalam proses pengolahan lahan persawahan. Tahap ini mulai dilaksanakan setelah nyacar atau pembersihan jerami bekas panen pada tanah sawah yang telah tergenang air.

Proses ngawalajar dimulai dengan memberi makan munding sekitar pukul 03.00 agar tidak loyo ketika sedang menarik singkal. Sekitar dua jam kemudian, munding dituntun keluar dari kandang menuju petak sawah yang akan digarap. Sesampainya di sawah, leher munding dipasang alat untuk menarik singkal berupa pasangan, streng, dan pangkal. Selanjutnya, dibawa ngider atau berputar-putar mengelilingi petak sawah sebagai “pemanasan” sebelum mulai menyingkal tanah. Dan, apabila telah siap, maka tukang bajak akan mengendalikannya dari belakang dengan cara berjalan sambil menekankan sebelah kakinya di atas singkal atau duduk di atas kayu dudukan lanjam. Si tukang bajak juga akan memberi aba-aba tertentu sebagai perintah kepada sang hewan agar berjalan lurus, berjalan agak ke samping, menundukkan kepala, berbelok kiri atau kanan, dan ngider (berputar mengelilingi petak sawah yang sedang dibajak). Dengan cara demikian maka alat pembalik yang dinamakan singkal (pekerjaannya dinamakan nyingkal) dapat masuk lebih dalam ke tanah dan membaliknya menjadi bongkahan-bongkahan besar.

Walau terlihat sederhana, pekerjaan membalik lapisan tanah menggunakan tenaga munding bukanlah suatu hal yang mudah karena harus mempunyai pengetahun mengenai peralatan yang digunakan untuk membajak, seluk-beluk tanah sawah yang akan dibajak, kebiasaan munding, serta bagaimana pelatihannya agar dapat digunakan untuk membajak sawah. Adapun cara melatihnya tergolong sederhana. Bagi munding berumur 2,5 hingga 3 tahun yang masih amatir atau baru akan dipekerjaan untuk menarik singkal dan garu, caranya cukup dengan menuntunnya menyusuri kalen (sungai kecil) lalu ngider (berkeliling) di areal persawahan yang belum digarap atau baru dicaian (diairi) dan menyusur kalen lagi. Pelatihan ini dilakukan oleh dua orang (satu orang menuntun dari depan, lainnya berada di belakang munding) dari pukul 06.00 hingga 12.00. Selanjutnya munding diangon (digembalakan) hingga pukul 15.00 atau 16.00 kemudian dimandikan dan menjelang magrib dimasukkan ke dalam kandang. Begitu seterusnya selama 2 hingga 4 hari berturut-turut hingga munding dianggap sudah nurut dan siap untuk menarik bajak. Selain munding amatir, yang sudah “jadi” atau mahir namun lama tidak dipakai untuk ngawuluku (membajak) juga perlu dilatih lagi dengan waktu yang jauh lebih sikat (sekitar 2 hingga 4 jam) dan hanya ngider di area persawahan tanpa mapai kalen lagi.

Pemeliharaan Munding
Bagi para tukang bajak, seekor munding merupakan benda paling berharga yang dapat dijadikan sebagai tumpuan hidup. Oleh karena itu, munding biasanya dipelihara dengan baik agar kesehatannya selalu terjaga dan dapat bekerja dengan maksimal. Usaha pemeliharaan munding dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: kandang, pemberian makan, dan kesehatan.

a. Kandang Munding
Harga seekor munding relatif mahal antara 4 hingga 15 juta rupiah, bergantung pada umur dan berat badannya. Oleh karena itu, agar munding terhindar dari teriknya sinar matahari, derasnya air hujan, dan dinginnya udara malam, maka perlu dibuatkan kandang (bangunan tempat tinggal binatang). Kadang munding bentuknya bermacam-macam, bergantung pada selera dan kemampuan pemiliknya. Jadi, ada kandang yang berbentuk menyerupai rumah biasa berdinding semen, anyaman bambu, atau triplek dan memiliki pintu untuk keluar masuk munding. Atapnya juga bermacam-macam; ada yang terbuat dari genting; ada yang terbuat dari seng; ada yang terbuat dari asbes; dan ada pula yang terbuat dari tumpukan jerami. Panjang dan lebar kandang bergantung dari jumlah munding yang dimiliki. Sedangkan tingginya sama atau hampir sama dengan tinggi rumah si pemilik.
Kandang Munding
Letak kandang biasanya tidak jauh dari rumah (ada yang di belakang rumah, ada yang di samping rumah, malahan ada juga yang berada di depan rumah). Faktor yang membuat penempatan kandang demikian dekat dengan rumah adalah keamanan. Dengan dekatnya kadang dari rumah membuat pemilik senantiasa mudah dapat memantau keberadaan kerbaunya, sehingga relatif aman dari pencurian.

b. Pemberian Makan
Dalam usaha memelihara munding, pekerjaan yang paling berat adalah memberi makan karena dalam sehari satu ekor munding harus diberi makan sedikitnya 50 kg jukut (rumput) dan jarami (jerami). Jukut dapat diperoleh dengan cara mencarinya di tempat-tempat lapang, sedangkan jarami dapat diambil dari bekas panen padi. Namun apabila malas mengangkutnya, dapat pula mengangonnya langsung menuju lokasi penggembalaan yang memiliki banyak rumput (Di Desa Cijagang disebut tanah sampalan). Selain mempermudah pekerjaan karena dapat mencari makan sendiri, proses pengangonan juga bertujuan agar si munding menjadi nurut dan mudah diajak bekerja di sawah.

Pemberian makan bergantung pada aktivitas munding. Misalnya, jika munding sedang tidak dipekerjakan di sawah, maka pola makannya dimulai dari pukul 06.00 lalu pukul 12.00 dan pukul 17.30 (menjelang magrib). Tetapi apabila sedang diperlukan tenaganya untuk membajak sawah, maka pola makannya dimulai dari sekitar pukul 03.00, pukul 12.00 dan pukul 17.30 setelah dimandikan di sungai.
Pakan Munding
c. Kesehatan Munding
“Bersih pangkal sehat” demikian kata orang. Walaupun munding hanyalah seekor binatang, ia juga harus bersih. Untuk itu, secara teratur perlu dimandikan minimal sehari sekali. Tujuannya agar tubuh munding selalu bersih, sehingga terhindar dari penyakit. Caranya, cukup dengan membawanya ke sungai atau ke balong (kolam) yang cukup besar. Selanjutnya, munding diguyur air lalu digosok menggunakan tangan atau dibiarkan berkubang sendiri hingga kotoran yang melekat di tubuhnya luruh dengan sendirinya.

Perawatan kesehatan munding bukan hanya pada kebersihannya saja, tetapi juga ketahanan tubuhnya terhadap berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, satu bulan sekali secara rutin munding diberi vitamin dan kalek (berbentuk tablet) agar tulangnya kuat dan tahan terhadap penyakit. Obat-obatan ini dapat dibeli dengan harga sekitar Rp.20.000,00 per botol. Apabila sang pemilik masuk dalam suatu organisasi khusus, biasanya Dinas Peternakan setempat akan mengeluarkan kartu recording untuk mengetahui, umur, jenis kelamin, waktu birahi, dewasa kelamin, dewasa tubuh, dan kesehatan munding. Recording adalah kartu yang berfungsi sebagai identitas yang biasanya ditempelkan di kandang. Setiap munding mempunyai kartu recording untuk mempermudah pemeriksaan.

Selain menjaga kebersihan dan pemberian obat-obatan, ada usaha lain yang bersifat spiritual dan sampai saat ini masih dilakukan oleh sebagian pemilik munding. Usaha tersebut adalah mengupacarai sang munding setelah seluruh pekerjaannya selesai (nyingkal dan ngagaru). Tujuannya, sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia-Nya berupa munding yang telah berjasa membantu dalam proses ngawalajar sawah. Dalam upacara kecil yang berlangsung di kandang ini hanya dihadiri oleh pemilik dan beberapa orang keluarganya saja. Adapun perlengkapan upacaranya diantaranya adalah: sebuah kupat segitilu (ketupat berbentuk segitiga) terbuat dari anyaman daun kelapa yang nantinya akan dikongkorongan (dikalungkan) pada leher munding, sebuah kalung terbuat dari rangkaian bunga, dan satu stel pakaian laki-laki.
Kupat Segitilu bekas Kongkorongan Munding


Ngawalajar

Ngawalajar adalah istilah orang Sunda bagi suatu proses membalikkan lapisan tanah agar tidak asam dan dapat terkena sinar matahari. Ngawalajar merupakan salah satu dari rangkaian dalam proses pengolahan lahan persawahan. Tahap ini mulai dilaksanakan setelah nyacar atau pembersihan jerami bekas panen pada tanah sawah yang telah tergenang air.

Setelah jerami mulai membusuk dan air yang menggenai sawah mulai surut, mulailah tahap ngawalajar dengan menggunakan peralatan berupa cangkul, bajak, atau traktor (bergantung pada luas dan kemiringan tanah). Pada sawah yang tidak begitu luas dan atau berada pada kemiringan relatif tinggi, maka ngawalajar hanya menggunakan cangkul. Sedangkan pada lahan sawah berukuran sedang hingga luas dan kontur tanahnya relatif datar dapat menggunakan bajak tenaga hewan atau bajak mesin (hand tractor).

Apabila menggunakan cangkul atau pacul yang pekerjaannya disebut macul, maka tanah dibalik memakai pacul lalu diinjak-injak agar bongkahan tanah dapat hancur dan terendam air. Pekerjaan macul ini dilakukan pada sawah yang luasnya relatif kecil dan berbentuk terasiring (berundak-undak) karena berada di sekitar kaki gunung yang konturnya tidak rata, sehingga hanya perlu satu hingga empat orang petani laki-laki untuk mengerjakannya. Selain tidak terlalu luas, kontur tanah yang tidak rata dan bahkan ada yang memiliki kemiringan tinggi tidak memungkinkan petani menggunakan bajak tenaga hewan atau mesin (traktor).

Waker

Waker adalah sebutan masyarakat Desa Cijagang di Kabupaten Cianjur bagi perangkat desa pengatur pembagian air ke tiap petak sawah agar merata dan adil. Bagi pemilik sawah air merupakan suatu komponen vital dalam penggarapan sawah karena tidak hanya menyangkut masalah yang berkenaan dengan pengolahan tanah, tetapi juga tumbuh dan berkembangnya tanaman padi. Agar tidak terjadi percekcokan antarpetani akibat berebut air, maka pihak desa melalui perangkatnya yang disebut disebut waker, mengatur pembagiannya berdasarkan waktu (pagi, siang, dan malam). Jadi, ada sejumlah petani yang diberi kesempatan ngacaian sawahnya pada pagi hari, sebagian lagi pada sore hari, dan ada pula yang malam hari.

Seorang waker adalah pelaksana teknis di lapangan yang dibentuk oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air berdasarkan: Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran Negara Tahun 2004 No. 32, Tambahan Lembaran Negara No. 4377); Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1982 No. 37, Tambahan Lembaran Negara No. 3225); Peraturan Pemerintah No. 77 tahun 2001 tentang Irigasi (Lembaran Negara Tahun 2001 No. 143, Tambahan Lembaran Negara No. 4156); Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 42/PRT/1989 tentang Tata Laksana Penyerahan Jaringan Irigasi Kecil Berikut Wewenang Pengurusannya kepada Perkumpulan Petani Pemakai Air; Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 tahun 1992 tentang Iuran Pelayanan Irigasi; dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 tahun 1992 tentang Pembentukan dan Pembinaan Perkumpulan Petani Pemakai Air.

Adapun tugas-tugasnya di antaranya: mengatur pembagian air ke tiap petak sawah agar terairi dengan merata dan adil; membuat peta dan menyusun jadwal pembagian air irigasi bagi para pemilik sawah; merencanakan, melaksanakan dan mengawasi pengoperasian dan pemeliharaan jaringan irigasi; mengawasi dan mengkoordinasi ketua blok/sub blok dan ketua kelompok tani dalam tata pengaturan air; mengarsipkan data pengoperasian dan pemeliharaan jaringan irigasi; serta bekerja sama dengan penyuluh pertanian lapangan dalam menyusun pola tanam yang sesuai dengan jadwal pemberian air irigasi.

Dalam menjalankan tugasnya waker dibantu oleh dua orang asisten atau lebih (bergantung luas sawah yang menjadi tanggung jawabnya) yang mengkoordinasi dan mengawasi ketua-ketua blog/sub blok dan melaksanakan tugas organisasi yang diberikan ketua perkumpulan petani pemakai air. Dan, sebagai imbalannya, waker beserta para asistennya akan mendapatkan sejumlah uang yang diambil dari iuran para anggota Perkumpulan Petani Pemakai Air Desa Cijagang. Besarnya uang iuran bergantung pada luas lahan yang dimiliki. Misalnya, petani yang memiliki lahan seluas 1 ha harus membayar sebesar Rp.50.000,00 per tahun, sedangkan petani yang sawahnya hanya seluas 6000 meter persegi hanya membayar sebesar Rp.30.000,00 per tahun.

Foto: https://www.cendananews.com/2017/03/petugas-ulu-ulu-di-lampung-kerja-keras-tanpa-honor.html

Gambang Kromong

Pada masyarakat Betawi ada sebuah kesenian melalui media bunyi sebagai ungkapan ekspresi yang dinamakan sebagai gambang kromong. Kesenian ini populer sekitar tahun 1930-an di kalangan masyarakat Tionghoa Peranakan yang sekarang dikenal dengan nama Cina Benteng (jakarta.go.id). Masih menurut jakarta.go.id, gambang kromong pertama kali muncul hanya bernama gambang. Namun sejak awal abad ke-20 menjadi gambang kromong karena ada penambahan instrumen berupa kromong. Adapun orang yang memprakarsainya adalah Nie Hoe Kong.

Oleh masyarakat Betawi gambang kromong difungsikan sebagai sarana penyemarak upacara adat dalam rangka lingkaran hidup seseorang (perkawinan, nazar, dan sunatan). Dalam pementasannya, kesenian yang lahir sebagai bentuk dari pemuasan kebutuhan manusia akan rasa keindahan ini digunakan sebagai pengiring teater lenong, tari cokek, dan hiburan khas Betawi lainnya.

Pemain
Struktur organisasi sebuah group gambang kromong terdapat seorang pemimpin yang bertugas mulai dari mengkoordinir anggota, mencari penanggap, menentukan harga pentas, hingga upah bagi panjak (pemain) berdasarkan keahlian yang dimiliki. Seorang pemimpin sebuah group gambang kromong dapat merangkap sebagai pemilik, anak/kerabat pemilik atau panjak yang diberi wewenang oleh pemimpin sebelumnya.

Selain pemimpin, sebuah group gambang kromong juga memiliki panjak (pemain) antara 8-25 orang, bergantung pada jenis musik yang dibawakan serta pesanan penanggapnya. Jumlah ini ada kaitannya dengan peranan panjak dalam setiap pementasan. Dalam konteks ini ada yang berperan sebagai: panjak gambang, panjak kromong, panjak teh-hian, panjak kong-a-hian, panjak su-kong, panjak gong dan kempul, panjak gong enam, panjak ningnong, panjak kecrek, panjak bangsing, terompet, organ, gitar melodi, bas elektrik, drum, penyanyi, penari, dan bahkan panjak lenong.

Keahlian seorang panjak dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu belajar pada para panjak yang sudah malang melintang di dunia kesenian Betawi atau diwariskan oleh orang tua. Bagi orang-orang yang bukan berasal dari keluarga seniman tetapi memiliki bakat dan tekad yang kuat untuk menjadi seniman, cara belajarnya dengan magang pada satu atau beberapa sanggar seni.

Seorang panjak dapat bermain di mana saja. Ia dapat ngamen bersama groupnya maupun group lain yang sedang membutuhkan panjak tambahan atau pengganti sementara untuk mengisi kekosongan formasi. Adapun aturan mainnya sangatlah sederhana, seorang panjak boleh bermain pada group atau kelompok lain apabila groupnya sedang tidak ada kegiatan (ngamen). Selain aturan pinjam yang sederhana, prosesnya juga fleksibel, yaitu dapat minta izin pada pimpinan kelompoknya atau menghubungi langsung pada panjak yang akan diminta jasanya. Apabila setuju, sang panjak langsung bergabung tanpa perlu memberitahukan pada pimpinan kelompoknya. Honor yang didapat juga sepenuhnya milik sang panjak tanpa harus disetorkan, dipotong, atau diberitahukan pada pimpinan kelompoknya.

Instrumen Gambang Kromong
Sesuai dengan namanya, kesenian gambang kromong menggunakan dua buah alat musik utama berupa gambang dan seperangkat kromong. Keduanya selalu disertai oleh instrumen atau alat musik lain sebagai pelengkap, yaitu: su-kong, teh-hian, kong-a-hian, bangsing (seruling), gong, gendang, kecrek (pan), dan ningnong (sio-lo). Selain instrumen tadi, Kwa (2013) mencatat ada lima buah instrumen yang sekarang sudah tidak dimainkan lagi, yaitu ji-hian (instrumen gesek berdawai dua), ho-sian (instrumen gesek berdawai dua), sam-hian (instrumen gesek berdawai tiga), gweh-khim (semacam gitar berbentuk bulat berdawai dua), dan juanto (semacam terompet berlubang tujuh buah). Nada musiknya hanya memakai lima buah nada (pentatonis) yang mempunyai nama dalam bahasa Tionghoa, yakni: liuh = sol (g), u = la (a), siang = do (c), che = re (d), dan kong = mi (e). Tidak ada nada fa = f dan si = b seperti dalam musik diatonis khas Barat. Larasnya pun selendro khas Tionghoa sehingga biasa disebut selendro cina atau selendro mandalungan.

Apabila jenis lagu yang dimainkan adalah lagu sayur, maka ditambah lagi dengan instrumen musik modern seperti gitar elektrik, bas elektrik, terompet, saxophone, organ, dan bahkan drum. Menurut Sukotjo (2012), masuknya instrumen musik Barat dalam ensambel gambang kromong membuat musik tersebut harus menyesuaikan dengan tanga nada diatonis (tujuh nada) pada pola permainannya. Adapun urutan nada pokok diatonis yang dipergunakan dalam pola permainannya menjadi c (do), d (re), e (mi), f (fa), g (sol), a (la), dan b (si).

Penambahan alat-alat musik modern menciptakan pro dan kontra di kalangan seniman maupun penikmat musik gambang kromong. Bagi yang setuju berpendapat bahwa pengkolaborasian gambang kromong dengan alat musik modern dapat memperkaya karya seni yang dihasilkan. Jadi, boleh dilakukan asalkan alat-alat musik yang asli (gambang, kromong, teh-hian, dsb) tetap dipertahankan agar tidak kehilangan "roh"nya. Sementara bagi mereka yang kontra berpendapat bahwa pengkolaborasian dengan alat musik modern akan membuat bergesernya aturan-aturan yang menjadi suatu patokan dalam pola permainan gambang kromong. Perubahan dari nada pentatonis menjadi diatonis akan memberikan nuansa yang berbeda dalam karakteristik musik gambang kromong. Hal ini dapat dilihat dalam dominasi penggunaan gitar elektrik dan saxophone ketimbang instrumen gambang dan teh-hian sebagai musik pembukanya (intro).

Berikut adalah instrumen musik tradisional bernada pentatonis yang biasa digunakan dalam orkes gambang kromong:
a. Gambang
Bentuk resonator gambang menyerupai sebuah perahu dengan bagian atas dipasang bilah-bilah kayu manggarawan, suangking, atau huru batu berbentuk empat persegi panjang. Jumlah bilahnya ada 18 buah dan dibagi dalam dua gembyang (oktaf) dengan nada terendah adalah liuh (a) dan nada tertinggi siang (c). Bilah gambang berukuran panjang antara 29-58 centimeter dan "dikunci" menggunakan paku pada bagian atas resonator agar tidak goyah. Cara memainkannya dengan dipukul menggunakan dua buah kayu sepanjang 30-35 centimeter berujung bulat berlapis kain dalam dua tabuham, yaitu dilagu (menurut lagu) dan dicaruk atau dikotek.

b. Kromong
Bentuk kromong mirip seperti bonang, yaitu kumpulan 10 buah gong "pecon" terbuat dari perunggu atau kuningan yang disusun dua baris dalam sebuah rak kayu. Di dalam rak terdapat kotak-kotak kecil untuk menaruh pecon dengan bagian bawah dipasang tali penyangga. Tiap baris berisi lima buah gong dengan nada siang-liuh-u-kong-che pada baris pertama (luar) dan nada che-kong-siang-liuh-u pada baris kedua (dalam). Kromong dibunyikan secara berbarengan antara baris luar dan dalam menggunakan dua buah kayu lonjong dengan ujung berbalut kain atau benang dalam tiga tabuhan: dilagu (menurut lagu), dikemprang/digembyang, dan Dicaruk/dikotek/diracik.

c. Kong-a-hian, Teh-hian, dan Su-kong
Kong-a-hian, Teh-hian, dan Su-kong mempunyai bentuk sama, hanya ukuran resonator dan gagangnya yang berbeda. Ukuran paling kecil adalah kong-a-hian bernada liuh (g) dan che (d), sedang teh-hian bernada siang (e) dan liuh (g), serta terbesar disebut su-kong bernada su (a) dan kong (e). Ketiga alat musik gesek berdawai dua tersebut terdiri atas resonator (wadah gema) dari tempurung kelapa yang dibelah lalu dilapis kulit tipis, tiang kayu berbentuk bulat panjang, dan purilan atau alat penegang dawai. Kong-a-hian, Teh-hian, dan Su-kong adalah instrumen pembawa melodi yang dimainkan dengan cara digesek menggunakan tongkat bersenar plastik (kenur).

d. Bangsing (suling)
Bangsing atau suling terbuat dari bambu kecil berbentuk bulat panjang dengan enam buah lubang nada. Instrumen yang dimainkan secara horizontal atau sejajar dengan mulut ini sering dikelompokkan dengan rebab dan vokal karena nada yang dihasilkannya lebih pendek dan terputus-putus.

e. Gong dan kempul
Gong dan kempul terbuat dari kuningan atau perunggu berbentuk lingkaran yang bagian tengahnya menonjol (kenop). Gong berukuran sekitar 85 centimeter berfungsi sebagai penentu irama dasar, sementara kempul berukuran sekitar 45 centimeter berfungsi sebagai pewatas ritme melodi. Oleh karena ukuran gong dan kempul yang relatif besar tersebut, maka umumnya digantung pada sebuah gawangan kayu. Caranya adalah dengan melubangi sisinya sebagai tempat mengikat tali untuk digantungkan pada gawangan kayu berukir motif bunga, sulur dan ular naga setinggi satu meter. Gong dan kempul dibunyikan dengan cara dipukul dari samping pada bagian kenop menggunakan tongkat kayu berujung bulat berlapis kain.

f. Gong Enam
Sesuai dengan namanya, gong enam terdiri dari enam buah gong berukuran kecil yang digantung pada gawangan kayu dengan susunan nada: 3, 1, 6, 2, 1, 5.

g. Kecrek (pan)
Kecrek atau pan berbentuk dari dua hingga empat lempengan logam tipis (besi, kuningan, perunggu) yang disusun diatas sebuah papan kayu. Alat yang berfungsi sebagai pengatur irama dan untuk menimbulkan efek bunyi tertentu ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan palu khusus atau tongkat kayu pendek hingga menghasilkan bunyi crek-crek-crek.

h. Ningnong (sio-lo)
Ningnong berbentuk dua buah piringan logam perunggu atau kuningan berdiameter sekitar 10 centimeter yang ditempatkan pada sebuah bingkai kayu bertangkai satu. Ningnong dibunyikan dengan cara dipukul menggunakan tongkat besi kecil secara bergantian dari kiri ke kanan atau sebaliknya (teknik pitet), sebagai pengatur irama.

i. Gendang
Gendang atau kendang terbuat dari kayu berbentuk silinder berongga yang kembung di bagian tengahnya. Pada kedua pangkal gendang berbentuk lingkaran ditutup dengan kulit kambing atau kerbau yang tidak sama besarnya. Bentuk gendang semacam ini biasa disebut sebagai kerucut pepet dan berfungsi sebagai instrumen pengatur irama. Dalam setiap pementasan umumnya terdapat sebuah kerucut pepet dan satu atau dua buah gendang kecil yang disebut ketipung, tepak, tipluk atau kulanter. Kerucut pepet ditempatkan pada dudukan kayu silang kecil di depan, sedangkan ketipung berada di samping kiri atau di pangkuan pemain.

Seluruh instrumen musik di atas didominasi oleh warna merah, hitam, coklat dan kuning. Warna coklat, baik muda maupun tua, terdapat pada resonator su-kong, teh-yan, kong-a-hian, bilah-bilah gambang, dan badan gendang. Warna kuning terdapat pada instrumen suling, gong, kecrek, kromong dan benda-benda lain yang terbuat dari kuningan. Warna hitam terdapat pada instrumen gong, kromong, kecrek, dan bilah-bilah gambang yang dibiat dari kayu-besi (ki beusi). Dan, warna merah terdapat pada alat-alat kayu penyangga (dudukan) instrumen gong, kempul, kecrek, gambang, serta kromong.

Adapun pembuatan instrumennya tidak dilakukan sendiri oleh seniman gambang kromong, melainkan dipesan dari berbagai daerah di Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Kalaupun ada yang dibuat sendiri, biasanya hanya bagian-bagian kecil dari sebuah instrumen yang memerlukan perbaikan. Untuk gong, kromong, dan kempul misalnya, dipesan dari pande yang biasa membuat peralatan tersebut. Oleh pande gong atau kempul dibuat dalam adonan timah dan tembaga panas kemudian dituang pada cetkan gamelan yang tertanam di tanah di ruang pembakaran. Setelah mengeras, adonan diangkat lalu dibakar dan dipukul-pukul untuk mencapai ketebalan yang diinginkan. Apabila kurang tebal, ditambah dengan cara didempul kemudian dilas.

Keluar dari ruang pande (ruang pembakaran), gong atau kempul digerinda dan dikikir. Di tengah proses pengikiran, gong atau kempul dilaras (disetel agar bunyi yang dihasilkan sesuai dengan nadanya). Apabila kurang pas, dibawa ke ruang pembakaran lagi untuk didempul dan dilas. Begitu seterusnya hingga dihasilkan sebuah gong, kromong, atau kempul dengan nada sempurna. Dan, sebelum beralih ke tangan seniman gambang kromong, peralatan perkusi itu digosok dengan cairan kimia atau batu giok hijau bercampur bensin agar mengkilat.

Kostum
Kostum yang dikenakan oleh para panjak laki-laki dan perempuan dari waktu ke waktu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Dewasa ini sedikitnya ada tiga model yang biasa dikenakan oleh para panjak laki-laki, yaitu: sadariah, demang, dan batik. Model sadariah atau biasa disebut juga sadarie, tikim, dan koko adalah setelan yang umum dipakai oleh orang Betawi kebanyakan, terdiri dari baju koko atau baju gunting Cina, celana batik panjang, kain sarung sebagai selendang bahu, terompah, kopiah berwarna hitam atau merah sebagai penutup kepala, dan sandal jepit dari kulit. Menurut jakarta.go.id, mulanya busana ini hanya dikenakan oleh para pemuda saat ada kegiatan keagamaan atau sedekahan di masjid. Lambat laun fungsinya meluas untuk keperluan lain, diantaranya adalah busana pemuda yang bertugas membawa sirih-nanas sebagai mas kawin pada prosesi perikahan adat Betawi, dan busana para seniman kesenian betawi ketika sedang manggung.

Model selanjutnya disebut sebagai ujung serong atau demang karena dahulu umum dikenakan oleh para demang dan kaum bangsawan laki-laki lainnya, terdiri dari: jas tutup berkerah, celana panjang berwarna senada dengan jas, kain jung serong karena dipakai tidak lurus (serong), kopiah berwarna hitam atau merah, sepatu kulit, dan aksesoris berupa jam saku rantai serta kuku harimau atau duit gobang yang diletakkan pada saku jas atas.

Model terakhir adalah kemeja batik yang dipadukan dengan celana panjang berwarna gelap serta ditambah dengan kopiah dan sepatu kulit. Kostum batik ini jarang dikenakan oleh para pemain ketika ngamen dalam acara yang diselenggarakan oleh warga masyarakat secara perseorangan, seperti khitanan atau perkawinan. Mereka memakainya apabila yang mengundang untuk ngamen dari dines atau instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Adapun kostum atau busana yang dikenakan oleh panjak perempuan adalah kebaya encim terbuat dari sifon atau katun halus yang panjangnya hanya sebatas pinggul agar mencerminkan keindahan tubuh si pemakai,sarung batik berwarna cerah bermotif pucuk rebung, kutang nenek sebagai pakaian dalam, selendang polos berbahan sifon, konde cepol berukuran segenggaman tangan dan diletakkan sekitar tujuh jari di atas tengkuk, serta selop bertumit rendah terbuat dari kain ringan seperti beludru.

Lagu-lagu yang Dilantunkan
Ada beberapa versi mengenai jenis lagu yang umum dibawakan dalam kesenian gambang kromong. Versi pertama berasal dari Sopandi dkk, 1992, yang menyatakan bahwa jenis lagu gambang kromong ada tiga macam, yaitu phobin, sayur, dan lagu untuk rancag. Lagu phobin adalah lagu berirama cepat yang dibawakan dalam bentuk instrumentalia. Lagu sayur adalah lagu selingan atau hiburan, seperti: Versi, Jali-jali, Cente Manis, Cente Manis Gula Batu, Cente Manis Kelapa Muda, Surilang, Balo-balo, Stambul Siliwangi, Jali-jali Kalih Jodo, Jali-jali Si Ronda, Jali-jali Pasar Malam, Jali-jali Bunga Siantan, Jali-jali Ujung Menteng, Jali-jali Kramat Karem. Dan, jenis lagu rancag adalah lagu iringan dan lagu vokal dalam penyajian rancag, seperti: Sipitung, Siangkri, Orang Bujang, Galatik Unguk, Stambul.

Sementara menurut Rojali (seniman gambang rancag), lagu gambang kromong hanya terdiri dari dua jenis, yaitu: lagu dalem dan lagu sayur. Lagu dalem adalah lagu yang masih kental dengan nuansa musik Tionghoa. Jenis lagu ini umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: phobin, musik dan vokal, lalu diakhiri dengan lopan. Komposisinya dapat berupa phobin--musik dan vokal--lopan atau phobin-musik dan vokal-phobin. Irama phobin dan lopan yang sama dapat dimainkan untuk mengiringi lagu yang berbeda.

Phobin merupakan intro atau musik pengantar berdurasi pendek sebelum suara vokal masuk. Kwa (2005) menuturkan, dahulu phobin merupakan irama khusus yang digunakan untuk mengiringi berbagai macam upacara dalam lingkaran hidup masyarakat Tionghoa tradisional. Judul phobin umumnya menggunakan nama-nama tokoh dalam cerita rakyat Tionghoa berdialek Hokkian di Cina Selatan, seperti: Phobin Poa Si Litan, Phobin Peh Pan Tau, Phobin Cu Te Pan, Phobin Cai Cu Siu, Phobin Cai Cu Teng (Punjung Cendekiawan Berbakat), Phobin Seng Kiok, Ma To Jin (Pendeta Perempuan), Jin Kui Hwe Ke (Jin Kui Pulang Kampung), Lui Kong (Dewa Halilintar), Cia Peh Pan, It Ki Kim (Setangkai Emas), Tai Peng Wan (Teluk Perdamaian dan Ketenteraman), Pek Bou Tan (Bunga Peoni Putih), Cai Cu Siu (Kekayaan, Keturunan dan Usia Panjang), Kim Hoa Cun (Perahu Bunga Emas), Liu Tiau Kim, Si Sai Hwe Ke, Ban Kim Hoa (Berlaksa Bunga Emas), Pat Sian Kwe Hai (Delapan Dewa Menyeberangi Laut), Lian Hoa The (Tubuh Bunga Teratai), Se Ho Liu, Hong Tian, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Kong Ji Lok, Coan Na, Ki Seng Co, Ciang Kun Leng, Tio Kong In, Sam Pau Hoa, Pek Hou Tian, Kim Sun Siang, Ce Hu Liu, Bangliau, Li Ten Hwe Bin, Phobin Kong Ji Lok, dan lain sebagainya.

Untuk dapat memainkan lagu-lagu phobin, seseorang harus menggunakan notasi dalam huruf Tionghoa yang biasa dipakai unuk lagu-lagu Hokkian Selatan. Oleh karena itu, sekarang sudah sangat jarang ada pemusik gambang kromong yang dapat memainkan lagu phobin secara lengkap. Kalau pun ada, hanya beberapa judul saja, seperti Phobin Khong Ji Lok serta beberapa phobin sebagai pengiring upacara inisiasi menjelang pernikahan atau kematian di kalangan orang Tionghoa tradisional (Kwa, 2005).

Setelah lagu phobin barulah vokal penyanyi masuk dalam tempo lambat dan monoton. Syair yang dilantunkan diambil dari kumpulan pantun Melayu-Betawi atau syair Tionghoa koleksi penyanyinya dan diiringi instrumen musik yang didominasi oleh suling, kong-a-hian, teh-yan dan su-kong tanpa menggunakan instrumen modern. Judul lagu dalem bersyair Melayu-Betawi diantaranya adalah: Peca Piring, Semar Gunem, Mawar Tumpa, Mas Nona, Gula Ganting, Tanjung Burung, Nori Kocok (Burung Nuri), Centeh Manis Berduri, Dempok, Temenggung, Menulis, Enko Si Baba, Indung-indung, Jungjang Semarang, Kulanun Salah, Gunung Payung, Bong Tjeng Kawin, Mas Mira, Persi Kocok, dan Duri Rembang. Sedangkan, yang bersyair Tionghoa adalah: Poa Si Li Tan, Bangliau, Tan Sha Sioe Khie, Gouw Nio, dan Tang Hoa Ko Nyanyi. Lagu dalem kemudian diakhiri dengan lopan atau musik pengakhir lagu dengan judul berbahasa Tionghoa atau Melayu-Betawi, misalnya Lopan Tukang Sado. Sebagai catatan, saat ini seniman Betawi yang mampu menyanyikan lagu-lagu dalem tinggal satu orang saja, yaitu Cim Masnah alias Pang Tjin Nio yang wafat pada hari Minggu, 26 Januari 2014 dalam usia 88 tahun.

Jenis lainnya adalah lagu sayur yang komposisinya tidak menggunakan phobin dan lopan sebagai intro dan penutup lagu. Konon, jenis lagu ini diciptakan untuk ngibing (menari) dengan diiringi instrumen musik modern berupa gitar, bas elektrik, dan bahkan drum, sehingga ada pula yang menamakannya sebagai lagu modern. Judul-judul lagu sayur atau modern diantaranya adalah: Kramat Karem, Onde-onde, Glatik Ngunguk, Surilang, Jali-jali (versi Ujung Menteng, Kembang Siantan, Pasar Malem, Kacang Buncis, Cengkareng, dan Jago), Stambul (Satu, Dua, Sere Wangi, Rusak, dan Jalan), Persi (Rusak, Jalan, dan Kocok), Centeh Manis, Kudehel, Balo-balo, Renggong Manis, Akang Haji, Renggong Buyut, Jepret ayung, Lenggang Kangkung, Kicir-kicir, Sirih Kuning, Blenderan, dan lain sebagainya termasuk beberapa diantaranya lagu berbahasa Sunda (Awi Ngarambat, Gaplek, Kembang Kacang, Kembang Beureum, Lampu Tempel, dan Wawayangan).

Munculnya lagu sayur atau lagu modern dimulai ketika Bung Karno dengan sistem politik Demokrasi Terpimpin dan Anti Neo Kolonialismenya memberlakukan larangan penerapan ideologi barat (liberal) termasuk kebudayaannya pada tahun 1965 (www.share-pdf.com). Waktu itu, para seniman dilarang untuk memainkan dan menyanyikan lagu-lagu pop barat yang dianggap oleh pemimpin politik sebagai lagu ngak-ngek-ngok. Kondisi ini dimanfaatkan oleh banyak penyanyi pop beralih ke jalur musik lain yang "asli" Indonesia sebagai tempat bernaung agar tetap berprofesi sebagai penyanyi. Beberapa di antara mereka adalah Lilis Suryani dan Benyamin Suaeb yang menggandeng seorang seniman gambang kromong bernama Suhaeri Mukti untuk berduet menyanyikan lagu-lagu Melayu-Betawi.

Senada dengan Lilis Suryani, Benyamin Suaeb yang sebelumnya bernyanyi lagu pop segera banting stir agar aman dari tuduhan penyanyi ngak-ngek-ngok (Kalim, 2005). Seniman asli Betawi yang lahir di Kemayoran ini memilih bergabung dalam kelompok Naga Mustika pimpinan Suryahanda menyanyikan lagu-lagu Melayu-Betawi dengan iringan musik gambang kromong. Selama berada di Naga Mustika, Benyamin menambahkan nuansa baru dalam penambilan kesenian ini agar sejajar dengan seni musik modern yang dipengaruhi seni musik Barat. Caranya adalah dengan memadukan peralatan musik gambang kromong yang bernada pentatonik dengan alat-alat musik modern berbasis nada diatonik seperti gitar melodi, gitar bas, drum, saxsofon, terompet, dan keyboard (organ). Hasilnya, terbentuklah sebuah aliran musik baru yang dinamakan sebagai gambang kromong modern atau gambang kromong kombinasi karena menggunakan instrumen musik modern dari Barat.

Untuk lebih mempopulerkan gambang kromong modern, bersama grup Naga Mustika Benyamin kemudian menggandeng Bing Slamet dan Ida Royani masuk dapur rekaman melalui studio Dimitra Record milik Dick Tamimi. Bing Slamet diminta menyanyikan lagu Nonton Bioskop, Brang Breng Brong dan Tukang Sayur sementara Ida Royani diminta berduet menyanyikan lagu ciptaan grup Naga Mustika. Mulai dari sinilah berkembang lagu-lagu baru gambang kromong yang oleh masyarakat disebut sebagai lagu sayur. Liriknya bertema tentang kesulitan hidup, kritik terhadap pemerintah dan elit politik, humor, dan lain sebagainya.

Nilai Budaya
Walau terjadi perubahan baik dalam bentuk lagu maupun penambahan instrumen musik modern yang digunakannya, gambang kromong masih dapat bertahan hingga sekarang. Musik perpaduan unsur budaya Tionghoa dan Betawi ini masih memiliki regenerasi pemain, penanggap serta penikmat setianya. Bagi penanggap, gambang kromong dapat dijadikan sebagai sarana hiburan untuk hajatan yang sedang dihelatnya. Dasar pemilihannya dapat karena hobi, untuk menarik perhatian undangan agar mau datang ke hajatan, dan dapat pula karena tradisi hajatan tersebut memang memerlukan gambang kromong sebagai musik pengiringnya. Sementara, bagi mayoritas penonton atau penikmatnya, gambang kromong hanya dijadikan sebagai sarana hiburan. Penyebab utama seseorang mau menonton dan mendengarkan alunan musik gambang kromong adalah karena faktor asal usul kesuku-bangsaannya. Dalam hal ini, seseorang senang menonton, mendengar, dan menyanyikan lagu gambang kromong dengan maksud untuk menunjukkan identitasnya sebagai orang Melayu-Betawi.

Sedangkan bagi seniman, gambang kromong memiliki banyak fungsi, bergantung dari sudut pandang senimannya sendiri. Dari hasil wawancara terhadap beberapa seniman, muncul berbagai alasan mengenai eksistensi mereka dalam dunia kesenian gambang kromong, diantaranya: (a) memainkan gambang kromong berarti ikut melestarikan kebudayaan Betawi, (b) bangga mampu memainkan satu atau lebih alat musik gambang kromong, (c) mengasah bakat dan menambah pengetahuan, (d) menghibur masyarakat, (e) menjalin silaturrahim pemain, pimpinan, dan penonton, serta (f) sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain memiliki banyak fungsi (bagi penikmat maupun seniman), jika dicermati gambang kromong juga mempunyai nilai-nilai (tidak hanya estetika) yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu adalah: ketekunan, kesabaran, kerja keras, kerja sama, kekompakan, dan kreatifitas.

Nilai ketekunan, kesabaran, dan kerja keras tercermin dalam penguasaan alat musik yang dimainkan. Untuk menjadi panjak yang mahir tentu diperlukan kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Tanpa itu mustahil seseorang dapat menunjukkan kehebatannya ketika sedang pentas. Bahkan, bisa saja mengganggu jalannya pertunjukan dan malah menjadi bahan cemoohan dan tertawaan penonton. Nilai kerja sama tercermin dalam proses pementasan gambang kromong itu sendiri. Sebagai sebuah ensembel tentu memerlukan kerja sama antarpemain atau antarpanjak agar pementasan berjalan dengan lancar. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kreatifitas tercermin pada peralatan dan perlengkapan gambang kromong. Sebagaimana telah disinggung pada bagian atas, diawal munculnya peralatan musik masih bersifat tradisional bernada pentatonis. Namun seiring waktu, penggunakan alat-alat musik modern juga ikut dimainkan sehingga menimbulkan bunyi yang lebih dinamis. Ini artinya, para panjak tidak hanya puas dengan apa yang selama ini dimainkan. Ada proses kreatifitas tertentu untuk memadukan peralatan musik tradisional dengan modern sehingga musik gambang kromong lebih berwarna. (ali gufron)

Sumber:
Sopandi, Atik. dkk. 1992. Gambang Rancag. Jakarta: Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Kwa, David. 2005. Lebih dalam tentang gambang kromong & wayang. Jurnal cisadane, 7: 10-15.

Kwa, David. 2013. "Gambang Kromong dan Wayang Cokek", diakses dari http://blog.budaya-tionghoa.net/tionghoa/gambang-kromong-dan-wayang-cokek/ tanggal 7 April 2016.

http://www.share-pdf.com/8360f9dcc1614dd2937d30ce799deab7/Revisi%20Disertasi%20Promosi%20Terbuka%20januari%2013.htm diakses tanggal 9 Maret 2016.

Sukotjo. 2012. "Musik Gambang Kromong dalam Masyarakat Betawi di Jakarta", dalam Jurnal Etnomusikologi Indonesia Vol. 1 No. 1. Maret 2012 Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Kalim, Nurdin. 2005. "Potret Benyamin Apa Adanya", dalam http://muhlissuhaeri.blogspot.com/2005/07/potret-benyamin-apa-adanya.html, diakses 20 Maret 2016

“Gambang Kromong”, diakses dari https://jakarta.go.id/artikel/konten/1100/gambang-kromong, tanggal 20 Februari 2020.

Ngacaian

Ngacaian adalah istilah orang Sunda bagi tahap pertama dalam pengolahan lahan sawah. Tahap lainnya adalah nyacar, mopok, ngawalajar, ngagaru atau ngangler, ngacak, ngararata, nyataan dan nyaplak. Ngacaian atau dapat diartikan sebagai ngeu’eum atau “merendam”, yaitu merendam atau memberi air pada lahan sawah yang akan digarap (dikerjakan). Tujuannya, agar tanah menjadi gembur sehingga mempermudah proses pencangkulan dan pembajakan. Sawah yang setelah panen tidak segera dikeu’em atau dicaian mudah mengeras dan akan menguras banyak tenaga untuk mencangkulnya. Dalam proses yang dilakukan setelah panen ini sawah diairi hingga seluruh permukaannya tertutup oleh air. Kemudian, sawah dibiarkan begitu saja selama beberapa hari agar air yang menggenangi sawah tersebut susut (terserap ke dalam tanah).

Nyacar

Nyacar adalah istilah orang Sunda bagi tahap kedua dalam pengolahan lahan sawah (setelah ngacaian). Tahap lainnya adalah ngacaian, mopok, ngawalajar, ngagaru atau ngangler, ngacak, ngararata, nyataan dan nyaplak. Nyacar adalah proses pembersihan jerami bekas panen pada tanah sawah yang telah tergenang air. Dalam proses nyacar jerami yang masih tertanam di tanah dipotong menggunakan arit dan congkrang yang pengerjaannya dilakukan oleh kaum laki-laki. Bagi petani yang memiliki ternak sapi, kerbau atau domba, potongan jerami tersebut dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternaknya. Namun, jika tidak digunakan untuk pakan ternak, maka potongan jerami itu ditumpuk dan dibiarkan begitu saja selama satu hingga dua minggu agar busuk dan menjadi pupuk.

Macul

Dalam dunia pertanian di daerah Jawa ada istilah yang dinamakan sebagai macul yaitu aktivitas mengolah tanah menggunakan pacul. Di daerah Pemalang, macul dilakukan setelah tahap namping atau merata-luruskan bagian pematang sawah. Macul berguna untuk mertakan bagian tengah sawah yang masih berbongkah-bongkah hasil pembajakan menggunakan kerbau maupun traktor. Secara sepintas macul bertujuan agar kondisi tanah rata. Namun, demikian secara tersirat sebenarnya masih ada tujuan lainnya, yaitu agar berikutnya (nggaru) dapat dilakukan dengan mudah, karena tidak mungkin nggaru dilakukan pada tanah yang berbongkah-bongkah. Tahap macul ini biasanya dilakukan 5 hari setelah membajak (sehari setelah namping). Tenggang waktu tersebut dimaksudkan agar airnya betul-betul meresap ke dalam tanah, sehingga pencangkulan dapat dilakukan dengan mudah. Aktivitas macul umumnya dimulai dari pukul 07-00-01.00 WIB selama satu hari penuh dengan jumlah pemacul sekitar 12 orang untuk setengah hektar sawah.

Mal

Mal adalah istilah orang Pemalang, Jawa Tengah, bagi sebuah alat yang digunakan untuk menjaga agar jarak antartanaman padi lebih beraturan ketika proses penanaman. Alat ini ada dua macam; pertama berupa bilah bambu berukutan panjang 4 meter (setiap 20 centimeter diberi tanda semacam lobang). Kedua, berupa tali terbuat dari ijuk (sekarang plastik) yang setiap 20 centimeternya diberi tanda berupa simpul. Ketika mal digunakan, penanam tinggal mengikuti tanda-tanda tersebut. Jenis mal yang digunakan bergantung pada lebar atau luas sawah yang akan ditanami. Jika tidak lebar atau luas, maka yang digunakan alat yang terbuat dari bambu, dan sebaliknya. Dalam satu bau biasanya memerlukan pe-nandur sejumlah 24 orang. Seorang memegang salah satu ujung alat tandur dan seorang lagi memegang ujung lainnya. Mereka adalah laki-laki. Sementara, selebihnya (semuanya perempuan) berperan sebagai pe-nandur. Penanaman dimulai dari salah satu tepian sawah (bagian lebar sawah). Mereka bergerak mundur mengikuti tali ijuk atau plastik yang diangkat-letakkan oleh dua orang. Seorang ada di tepian sawah (pematang) yang satu dan seorang lagi ada pematang satunya lagi.

Penggunaan mal mulai umum dilakukan oleh para petani Pemalang semenjak padi yang ditanam berupa varietas unggul yang dalam satu tahun dapat dipanen sebanyak tiga kali, seperti: C4, IR 64, IR Ciputih, IR Tegalgondo, dan Jahirang. Sebelumnya, penanaman menggunakan sistem rejeg tanpa alat ukur dan hanya menggunakan perkiraan sehingga jarak antara tanaman padi yang satu dengan lainnya tidak beraturan. Adapun padi yang ditanam berjenis padi lama seperti, Jawa, Sembyuk, Gondomanak, Sampang, Nandi, Cempa, Cinta, Klarak, Andel, Kinanti, Rase, Ketan Apu, Ketan Klomek, dan Ketan Ireng

Nandur

Nandur adalah istilah petani di Jawa Tengah bagi aktivitas menanam di ladang maupun sawah. Pada aktivitas di tanah pertanian basah (sawah), sebelum nandur dilakukan, para petani telah mempersiapkan biji padi yang dijadikan benih. Caranya, ketika panen, padi yang direncanakan untuk dijadikan benih dipisahkan. Kemudian, padi tersebut dijemur dan disimpan ditempat terpisah dari padi-padi lainnya. Biasanya ditaruh bergantungan di ruang dapur selama kurang lebih satu bulan. Hal itu dimaksudkan di samping untuk menghindari hama tikus, juga agar padi betul-betul kering. Selanjutnya, padi dipilih yang cabang batangnya hanya berisi sebutir padi. Butir padi yang demikian disebut “Pari Fatimah” atau “Sri Sedene”. Butir padi yang demikian bagus dijadikan benih karena mudah hidup. Tentunya pemilihan itu tidak secara satu persatu (setiap batang padi) melainkansetiap ikatan padi. Selanjutnya, ikatan padi dilepaskan dari batangnya dengan cara diinjak-injak agar butir padi yang lepas dari batangnya tidak rusak atau pecah. Seteleh itu, butir padi ditampi agar butir yang tidak berisi tersisih. Kemudian, yang bernas (berisi) dimasukkan dalam wadah terbuat dari tembikar, diberi air secukupnya, dan dibiarkan selama dua hari dua malam. Selanjutnya, dicuci dan dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari anyaman bambu yang dialasi dan ditutup dengan daun pisang. Kemudian, dibiarkan selama dua hari dua malam. Benih tersebut selanjutnya ditebarkan pada persemaian yang telah dipersiapkan sebelumnya (biasanya di bagian pojok sawah) untuk mempermudah pemeliharaan dan sekaligus pencabutan. Ketika benih yang berumur 22 hari (biasanya tingginya sudah mencapai 20 centimenter), kemudian dicabut dan diikat untuk dipindahkan ke areal sawah yang akan ditanami. Peletakkannya dilakukan secara tersebar (tidak terpusat pada suatu tempat agar mempermudah penanaman (nandur).

Nandur pada beberapa masyarakat petani Jawa tidak dilakukan secara sembarangan, tetapi melalui perhitungan-perhitungan tertentu dengan tujuan agar tanaman tumbuh subur dan terhindar dari berbagai macam hama. Pada masyarakat Pemalang misalnya, acuan yang digunakan adalah “wit, godong, tibe, woh” yang perhitungannya didasarkan pada jumlah nilai hari dan pasaran. Hari Ahad (Minggu) bernilai 5, Senen (Senin) bernilai 4, Slasa (Selasa) bernilai 3, Rebo (Rabu) benilai 7, Kemis (Kamis) bernilai 8, Jemuah (Jumat) bernilai 6, dan Setu (Sabtu) bernilai 9. Sedangkan, pasaran yang jumlahnya ada lima (Paing, Pon, Wage, Kliwon, dan Manis) masing-masing nilainya adalah sebagai berikut: Pahing bernilai 9, Pon bernilai 7, Wage bernilai 4, Kliwon bernilai 8, dan Manis/Legi bernilai 5. Dalam nandur jumlah antara nilai hari dan nilai pasaran diusahakan agar jatuh pada wit (pohon) atau godong (daun). Misal Senen Pahing; Senen bernilai 4 dan Pahing bernilai 9. Dari nilai hari (Senin) dan pasaran (Paing) dapat diketahui jumlahnya, yaitu 13. Jumlah tersebut dihitung secara urut dan berulang berdasarkan acuan wit, godhong, tibe, woh (1=wit, 2=godong, 3=tibe, 4=woh, 5=wit, 6=godhong, 7=tibe, 8=woh, 9=wit, 10=gohdong, 11=tibe, 12=woh, dan 13=wit.

Selain melalui perhitungan hari, nandur juga memperhatikan pranata mangsa, yaitu: kapat, kanem, kepitu, kesanga. Setiap mangsa lamanya 3 bulan. Mangsa kapat ditandai dengan tumbuhnya dedaunan; mangsa kanem ditandai dengan angin dan hujan (rendeng), uler, keper, tikus. Mangsa kepitu ditandai hujan sehari-hari (rendeng), keper. Mangsa kesanga (musim ketiga).Mangsa yang tepat untuk penanduran adalah kapat karena pada masa ini biasanya pepohonan mrintis (dedaunannya bertumbuhan). Jadi, diusahakan jangan sampai mangsa kesanga karena bertepatan dengan musim kemarau.

Namping

Namping adalah istilah petani di Jawa Tengah bagi sebuah ahap dalam proses pengolahan lahan pertanian tanah basah (sawah). Namping dilakukan setelah sawah dibalik tanahnya dengan menggunakan luku (ngluku) dengan diperbaiki dan atau diluruskan dengan cangkul sepanjang tepian sawah (pematang). Kegiatan yang biasanya dilakukan 4 hari setelah ngluku ini dalam satu bau (kurang lebih 0,5 hektar) tenaga yang diperlukan sejumlah 4 orang. Mereka bekerja mulai dari pukul 07.00-01.00 WIB. Menjelang tengah hari biasanya mereka dikirimi makanan dan minuman yang oleh masyarakat setempat disebut kojong. Tujuan namping di samping pematang sawah kelihatan lurus dan rapih, lubang yuyu (sejenis kepiting) dan atau tikus dapat tertutup. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah agar mudah dilalui.

Mbanyoni

Mbanyoni adalah istilah petani Jawa bagian tengah bagi tahap pertama dalam pengelolaan tanah pertanian (sawah). Tahap lainnya adalah: ngluku, namping, macul, nggaru, nandur, mbentuli, nyiangi, dan maneni. Istilah “mbanyoni” berasal dari kata “banyu” (bahasa Jawa) yang berarti “air”. Dengan demikian, mbanyoni berarti “mengairi” (memberi air), yaitu mengairi sawah yang akan digarap (dikerjakan). Tujuannya adalah agar tanah menjadi gembur sehingga mempermudah pencangkulan. Adapun waktunya bergantung dari pembagian yang telah diatur oleh perangkat desa bagian pengairan (ulu-ulu). Jadi, ada sejumlah petani yang diberi kesempatan mbanyoni pagi hari; ada sejumlah petani yang diberi kesempatan pada sore hari; dan ada sejumlah petani yang diberi kesempatan pada malam hari. Dengan cara demikian, setiap petani tidak perlu berebut untuk memperoleh air.

Mbanyoni dilakukan sampai permukaan sawah tertutup dengan air. Kemudian, sawah dibiarkan begitu saja selama dua hari dengan maksud agar air yang menggenangi sawah susut (terserap ke dalam tanah).

Bonang

Bonang adalah sebuah instrumen pukul berupa kumpulan 10 buah gong "pecon" terbuat dari perunggu atau kuningan yang disusun dua baris dalam sebuah rak kayu. Dalam sebuah pagelaran alat ini dimainkan paling awal dengan tempo lambat. Adapun cara memainkannya dipukul dengan dua buah pemukul berkepala lembut terbuat dari kayu yang bagian ujungnya dibalut dengan benang wol. Bonang terbuat dari tembaga, kuningan atau perunggu. Bentuk berbilah-bilah antara 6-7 bilah berderet memanjang di atas ruang suara atau resonator yang terbagi dalam dua buah ancak. Permukaan bilah bagian tengahnya berbentuk bulat menonjol yang merupakan tempat jatuhnya pemukul. Panjang bilah berbeda-beda, demikian pula ruang suara yang berbentuk kotak panjang satu ujungnya mengecil dan penempatan bilah-bilah mengikuti ukuran suaranya.

Foto: https://www.silontong.com/2017/08/13/14-alat-musik-tradisional-jawa-tengah-gambar-dan-penjelasannya/bonang-barung-2/

Nggaru

Dalam proses pengolahan lahan pertanian padi (sawah) pada masyarakat Pemalang, Jawa Tengah, ada istilah yang dinamakan sebagai nggaru. Nggaru sendiri adalah proses merata-haluskan tanah setelah dicangkul. Hasil Cangkulan biasanya hanya untuk membalikkan dan meratakan tanah, tetapi tidak betul-betul rata dan halus. Tanah perlu dirata-haluskan atau dinggaru dengan alat yang disebut garu, sebuah alat berbentuk menyerupai sisir. Penggaruan dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama (nggaru sepisan) hasilnya tidak betul-betul rata dan halus. Baru setelah tahap kedua (nggaru pindo) tanah menjadi halus dan rata setelah posisi garu digeser sedikit, sehingga “gigi-gigi”-nya tidak berada pada bekas garu-an yang pertama. Nggaru pindo ini biasanya dilakukan pada hari kedua sampai ke empat setelah nggaru sepisan. Dan, apabila proses penggaruan selesai, tahap berikutnya adalah nandur atau menanam bibit padi.

Mlanggar

Mlanggar adalah istilah orang Pemalang, Jawa Tengah, bagi petani yang tetap menanam padi pada saat persediaan air tidak terlalu melimpah (saat musim kemarau). Petani di Pemalang dalam satu tahun umumnya bercocok tanam padi-padi-palawija. Jadi, dalam satu tahun mereka menanam tanaman palawija seperti mentimun dan kacang-kacangan. Menurut pandangan mereka apabila lahan selalu ditanami padi, maka hasilnya tidak dapat maksimal karena tingkat kesuburan tanah menurun. Untuk itu, perlu diselinggi dengan tanaman palawija agar kesuburan tanah tetap terjaga.

Seseorang yang mlanggar dengan tetap menanam padi saat musim kemarau tidak akan dikenakan sanksi apapun karena segala sesuatu yang diperbuat menjadi urusannya (resiko) sendiri. Dalam hal ini jika berhasil berarti bernasib baik (mujur). Sebaliknya, jika tidak berhasil maka segala sesuatunya ditanggung sendiri.

Panahan Kasumedangan

Panahan dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan menggunakan busur panah untuk menembakkan anak panah (id.wikipedia.org). sementara menurut kbbi.web.id panahan didefinisikan sebagai hasil memanah atau cabang olahraga yang memakai panah sebagai alat lomba atau olah raga memanah. Lepas dari definisi-definisi tersebut, panahan atau memanah telah ada sejak 5.000 tahun lalu sebagai alat untuk berburu. Bahkan, busur panah telah ditemukan pada masa paleolitik hingga awal periode mesolitik di lembah Ahrensburg, Hamburg (id.wikipedia.org). Peralatan ini (panah dan busur), entah dari mana asalnya, kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Di Sumedang misalnya, panahan telah ada pada masa Kerajaan Sumedang Larang yang menurut Yanuarlan (2015) bermula sebagai alat berburu kemudian berkembang menjadi senjata perang dan akhirnya beralih fungsi sebagai sebuah olahraga. Salah satu daerah Sumedang yang hingga saat ini masih melestarikannya adalah di Kampung Cimanglid, Desa Pasir Biru, Kecamatan Rancakalong. Cimanglid adalah sebuah kampung penghasil bambu, bahan baku utama pembuat panah dan busur.

Pemain
Panahan Kasumedangan umumnya dilakukan oleh laki-laki dewasa secara individual. Adapun kostum yang dikenakan ketika berlaga adalah pakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala (iket) dalam berbagai bentuk (wewengkon1.rssing.com). Jumlah pemain tergantung dari kesanggupan dewan juri dalam menghitung poin yang dihasilkan pemain. Sebab, para pemain akan membidik satu sasaran (patung Dasamuka) secara bergiliran.

Tempat Permainan
Arena panahan Kasumedangan sebenarnya tidak membutuhkan tempat luas karena sasaran yang dituju hanyalah patung Dasamuka. Namun karena disaksikan oleh banyak orang, maka lokasi panahan umumnya diadakan di tanah lapang atau lapangan.

Peralatan Permainan
Peralatan yang digunakan dalam permainan adalah busur serta anak panah berbahan bambu bitung. Jenis bambu ini dipercaya berkualitas baik karena memiliki batang tebal, kuat, dan keras. Wewengkon1.rssing.com menyatakan bahwa pemilihan bambu bitung tidaklah dilakukan secara sembarangan. Bambu haruslah tumbuh menghadap arah timur yang lebih banyak mendapat sinar matahari ketimbang arah lainnya. Selain itu penebangan bambu juga harus dilakukan pada hari tertentu (1 Muharram) disertai dengan pembakaran rokok sebagai persembahan dan penghormatan bagi leluhur.

Selanjutnya, bambu dipotong menjadi beberapa bagian guna membuat busur dan anak panah. Ukuran panjang bambu untuk anak panah disesuaikan dengan panjang tangan orang yang akan menggunakannya. Setelah itu, bambu direrab atau dipanaskan di atas bara api agar kering dan mudah dibentuk. Kemudian bambu diserut halus, diwarnai, dan bagian ujung dipasang lempengan besi tempa pipih tajam. Sementara bagian pangkal dipasang tiga helai bulu ayam atau angsa (satu helai menghadap ke atas, dua helai ke samping) agar dapat melesat lurus ketika digunakan (sumedangtandang.com).

Sedangkan untuk membuat busur dibutuhkan dua bilah bambu yang bagian tengahnya beruas agar tidak mudah patah. Pada ujung bambu diikatkan sebuah tali terbuat dari benang impor Korea yang dipercaya sangat kuat alias tidak mudah putus sehingga aman ketika digunakan untuk melepaskan anak panah. Selain panah dan busur, permainan juga dilengkapi sebatang pisang sebagai sasaran ketika akan menentukan nomor urut peserta dan patung Dasamuka sebagai sasaran utama penilaian.

Aturan Permainan
Aturan dalam panahan Kasumedangan tergolong mudah. Peserta diharuskan memanah sasaran berupa patung Dasamuka. Bagi peserta yang dapat membidik anggota tubuh tertentu dari Dasamuka dan mengumpulkan poin terbanyak dinyatakan sebagai pemenangnya. Adapun poinnya: bagian kepala berpoin sembilan, dada berpoin tujuh, perut berpoin lima, dan satu poin bagi anggota tubuh lainnya. Selain poin, panahan juga menggunakan sistem rambahan atau putaran. Untuk satu kali rambahan pemanah dapat melepaskan anak panah hingga 15 buah (bergantung kesepakatan).

Jalannya Permainan
Panahan Kasumedangan diawali dengan penentuan nomor urut peserta yang akan memanah terlebih dahulu. Cara menentukannya, para peserta mengambil nomor urut undian yang nantinya akan ditempelkan pada anak panah masing-masing. Selanjutnya mereka akan membidik sebuah sasaran berupa batang pohon pisang menggunakan anak panah bernomor tersebut. Juri akan mengurutkan siapa yang berhak mendapat giliran memanah berdasarkan ketepatan sasaran bidik pada batang pohon pisang.

Selama proses penentuan nomor urut, peserta akan mulai menari atau ngibing diiringi alunan musik angklung jengklung. Selesai menari acara dilanjutkan dengan penyerahan pusaka berupa panah kabuyutan peninggalan Kerajaan Sumedang Larang kepada sesepuh yang biasa disebut Pupuhu. Pusaka itu lalu ditancapkan di atas sebuah hiasan yang terbuat dari janur sebagai simbol kehadiran leluhur.

Berikutnya adalah sambutan Pupuhu berkenaan dengan maksud, tujuan dan makna dari kegiatan panahan. Usai sambutan acara inti dimulai dengan membuka selubung patung Dasamuka yang jaraknya sekitar 50 meter dari garis batas permainan. Selanjutnya, satu persatu peserta mulai memanah sejumlah yang telah ditentukan sebelumnya dalam satu rambahan. Begitu seterusnya hingga seluruh peserta mendapat giliran memanah. Dan, bagi peserta yang berhasil mengumpulkan poin terbanyak akan menjadi pemenangnya.

Nilai Budaya
Panahan Kasumedangan jika dicermati secara mendalam mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu adalah: kerja keras, kerja sama, persaingan, kecermatan, ketekunan, ketelitian, ketertiban, dan sportivitas.

Nilai kerja keras tercermin dalam proses pelatihan menjadi seorang pemanah, sehingga dapat memanah tepat sasaran. Untuk menjadi seorang pemanah ahli tentunya diperlukan kesabaran, ketekunan, dan kerja keras dalam berlatih. Tanpa itu mustahil seseorang dapat menunjukkan kehebatannya di arena panahan kasumedangan.

Nilai kerja sama tercermin dalam proses panahan kasumedangan itu sendiri. Panahan kasumedangan adalah suatu kegiatan yang melibatkan berbagai pihak, seperti pemanah, juri, pupuhu, dan penonton. Pihak-pihak itu satu dengan lainnya saling bekerja sama sesuai dengan kedudukan dan peranan masing-masing agar acara panahan kasumedangan terselenggara dengan baik.

Nilai persaingan tercermin dalam arena panahan. Para peserta berusaha sedemikian rupa agar bidikannya dapat mengenai bagian-bagian tertentu dari tubuh Dasamuka. Sasaran yang tepat akan mendapatkan poin besar untuk dapat mengalahkan lawan. Setiap pemain akan berusaha saling mengalahkan dalam persaingan yang sehat karena diawasi oleh dewan juri.

Nilai ketertiban tercermin dalam proses panahan kasumedangan itu sendiri. Olahraga atau permainan apa saja, termasuk panahan kasumedangan, perlu sebuah ketertiban. Ketertiban tidak hanya ditunjukkan oleh para peserta yang dengan sabar menunggu giliran memanah, tetapi juga penonton yang mematuhi peraturan-peraturan sehingga tidak mengganggu jalannya panahan.

Nilai ketekunan dan ketelitian tercermin dalam proses pembuatan panah dan busur. Untuk membuat sebuah busur beserta anak panahnya diperlukan ketelitian dalam hal pemilihan serta aturan pemotongan bambu. Sedangkan ketekunan tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan waktu relatif lama. Apabila pembuat tidak tekun, niscaya busur dan panah yang dibuat tidak sesuai dengan yang diharapkan

Nilai kecermatan tercermin dari perlunya perhitungan yang pas agar panah-panah yang akan dilepaskan tepat sasaran alias tidak meleset sehingga dapat mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya. Dan Nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada. (Ali Gufron)

Foto: https://www.youtube.com/watch?v=Hme8GvD-vX0
Sumber:
“Panahan”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Panahan, tanggal 5 Januari 2020.

“Panah” diakses dari https://kbbi.web.id/panah, tanggal 5 Januari 2020.

Yanuarlan, Jery. 2015. “Seni Olahraga Tradisional Panahan Kasumedangan”. Diakses dari https: //www.jeryanuar.web.id/2015/09/seni-olahraga-tradisional-panahan.html, tanggal 6 Januari 2020.

“Seni Olahraga Tradisional Panahan Kasumedangan”. Diakses dari http://wewengkon1.rssing. com/chan-53312460/all_p2.html, tanggal 6 Januari 2020.

“Budaya Manahan Kasumedangan Kampung Cimanglid” diakses dari http://sumedangtandang. com/direktori/detail/budaya-manahan-kasumedangan-kampung-cimanglid.htm, tanggal 7 Januari 2020.

Dodol Garut

Dodol Garut sebenarnya masih dalam koridor “terminologi” dodol secara umum, yakni sebuah bentuk makanan tradisional berbahan dasar tepung beras ketan atau buah-buahan, gula, dan santan kelapa sebagai bahan baku utamanya yang dimasak hingga kental-lengket. Adapun penamaannya menurut Haryadi (2006), berdasarkan wilayah dodol itu mula-mula dibuat. Jadi ada dodol Garut, dodol Betawi, dodol Kandangan (Kalimantan), dodol Buleleng (Bali), dodol Ulame (Tapanuli), dan lain sebagainya.

Untuk daerah Garut situs resmi Kabupaten Garut (garutkab.go.id) mencatat bahwa dodol mulai menjadi sebuah industri sejak tahun 1926 yang diprakarsai oleh Ibu Karsinah. Waktu itu, proses pembuatan serta bahan baku yang digunakan masih terbilang sederhana, berupa tepung beras ketan, gula putih, susu, serta santan kelapa dengan tanpa menggunakan bahan pengawet. Meski demikian, dodol buatan Ibu Karsinah dapat tahan selama kurang lebih tiga bulan (bergantung kondisi penyimpanannya) sehingga mampu bersaing dengan jenis dodol yang berasal dari daerah lain (indonesiakaya.com).

Seiring waktu, komoditi khas Garut mulai “dimodifiksi” dengan memanfaatkan waluh, kentang, kacang, pepaya, nenas, sirsak, srikaya, durian, wijen dan lain sebagainya sebagai bahan baku utamanya. Walhasil, permintaan semakin meningkat (rata-rata 4.378 ton per tahun) dan daerah pemasaran meluas hingga ke mancanegara (Brunai, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Singapura, dan Inggris). Salah satu merek dagang dodol garut yang berhasil melakukannya adalah “Picnic” produksi PT Herlinah Cipta Pratama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri makanan dan perdagangan umum.

Namun, dari semua varian dodol yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat Garut, dodol tradisional berbahan beras ketanlah yang paling banyak diminati dan ditemui. Adapun proses pembuatannya diawali dengan pendidihan adonan beberapa bahan hingga kental dan berminyak, yaitu: tepung beras ketan (Oryza sativa glutinous) yang ditumbuk atau digiling halus; gula merah dari aren atau gula kelapa yang berwarna kuning kecoklatan; gula putih yang apabila dicampurkan dengan gula merah dapat memberikan tekstur, warna, dan rasa dodol menjadi coklat kehitaman; dan santan kelapa yang mengandung lemak, air, protein, serta karbohidrat guna memberikan rasa lezat dan gurih.

Proses pendidihan atau pemanasan bahan-bahan di atas memerlukan waktu sekitar 7 atau delapan jam agar adonan menjadi kental, berminyak dan tidak lengket. Selama masa pemanasan adonan harus diaduk terus-menerus guna mencegah terjadinya pengendapan, memudahkan penghantaran panas, dan menghindari adonan menjadi hangus. Apabila telah dingin adonan akan menjadi padat, kenyal, dan dapat diiris.

Sumber:
Haryadi. 2006. Teknologi Pengolahan Beras. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

“Dodol Garut”, diakses dari https://www.garutkab.go.id/page/dodol-garut, tanggal 10 Januari 2020

“Dodol Garut”, diakses dari https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/dodol-garut, tanggal 10 Januari 2020.

Si Tingaang

(Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur)

Alkisah, di daerah daerah Batu Mekam di hulu Kampung Memahak Tebo ada sepasang suami-istri kaya raya bernama Kakek Ibau dan Nenek Mujaan Paran. Kekayaan mereka terkenal di sepanjang Kampung Mahakam hingga ke daerah hulu Riam. Seluruh harta kekayaan Sang kakek dan nenek adalah hasil dari kerja keras yang dilakukan sepanjang hidup. Mereka sangat rajin bekerja di ladang, mulai dari pagi buta hingga matahari terbenam. Oleh karena itu, setiap tahun hasil tanaman ladang yang mereka usahakan selalu melimpah ruah.

Suatu hari mereka mengadakan acara pemberian gelar Lejau Madaang (gelar bangsawan sukubangsa Dayah Bahau) bagi anak semata wayang bernama Tingaang. Dalam acara tersebut diadakanlah pesta besar-besaran dengan mengundang penduduk kampung-kampung yang tersebar di sepanjang aliran Sungai Mahakam. Para tamu dijamu beraneka macam makanan berbahan puluhan ekor babi serta ratusan ekor ayam. Adapun tujuan pesta, selain pengukuhan gelar adat, juga agar Tingaang diberkati oleh para dewa dan kelak dapat menjadi arif dan bijaksana.

Namun, pemberian gelar ini tidak ada pengaruhnya sama sekali bagi Tingaang. Dia tetap malas dan kerjanya tiada lain hanyalah berpesta pora, mabuk-mabukan, serta bermain judi bersama kawan-kawannya. Nenek Mujaan Paran dan Kakek Ibau terlalu memanjakan sehingga Tingang tumbuh menjadi seorang yang keras kepala, sulit diatur, dan mau menang sendiri. Dia tidak peduli kalau uang yang digunakan berjudi dan mabuk-mabukan adalah hasil jerih payah orang tua.

Bahkan, dia juga tidak peduli ketika Kakek Ibau sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Malahan dia menjadi lebih leluasa menggasak harta kekayaannya. Sang ibu tidak dapat berbuat banyak untuk mengendalikan perilaku Tingaang. Walhasil, harta benda yang selama ini dikumpulkan secara perlahan berkurang dan akhirnya ludes. Nenek Mujan Paran terpaksa bekerja pada orang lain sebagai penumbuk padi demi kelangsungan hidup mereka.

Tingaang yang melihat Sang Ibu harus bekerja pada orang lain tetap tidak bergeming. Hanya saja, kebiasaan buruk bersama teman-temannya agak berkurang karena Nenek Mujan Paran telah jatuh miskin. Sedangkan kebiasaan lainnya tetap dipertahankan seperti bermalasan dan hidup mewah layaknya seorang bangsawan. Dia tidak mau memakan makanan yang diberikan oleh orang yang mempekerjakan Sang Ibu. Alasannya, makanan tersebut hanya untuk orang miskin dan tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Kelakuan Tingang hanya bisa dihadapi Nenek Mujan Paran dengan mengurut dada. Namun, namanya juga manusia, semakin perasaan dipendam maka penyakitlah yang akan menyerang. Tubuh Nenek Mujan Paran semakin hari melemah hingga tinggal tulang berbalut kulit. Dia tidak mampu berobat karena tidak memiliki biaya. Harta satu-satunya yang masih tersisa adalah waang bataang umaaq yang diberikan oleh Kakek Ibau sebagai barang jujuran ketika mereka menikah. Sayangnya, waang bataang umaaq telah disembunyikan Tingaang di suatu tempat sebagai bekal untuk berjudi.

Dan, karena dibiarkan begitu saja akhirnya Sang Nenek meninggal dunia menyusul Kakek Ibau. Jenazahnya tidak diurus Tingaang melainkan oleh para tetangga terdekat yang merasa kasihan melihat jasad Nenek Mujan Paran yang selama hidup selalu membantu mereka. Sementara Si Tingaang yang tidak peduli semakin hari hidupnya semaki sulit. Akibat dari menyia-nyiakan orang tua Si Tingaang menjadi orang sengsara hingga akhir hayat.

Popular Posts