Kikat

Kikat atau sinjang merupakan penutup kepala kaum pria Lampung yang bahannya dibuat dari kain rampang atau batik. Fungsi utama dari kikat adalah sebagai pelindung kepala dari sengatan matahari atau udara dingin di malam hari. Selain digunakan untuk keperluan sehari-hari, kikat atau sinjang juga dikenakan pada saat menghadiri rapat adat atau gawi adat lainnya.

Masjid Raya Sultan Riau

Masjid Raya Sultan Riau atau Masjid Putih Telur berada di Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau. Keberadaan masjid ini tidak lepas dari sejarah Pulau Penyengat yang luasnya hanya sekitar 240 hektar. Menurut Evawarni (2000), nama Penyengat baru dicatat dalam sejarah ketika terjadi perang perebutan kekuasaan antara Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dengan iparnya Raja Kecil pada tahun 1719. Raja Kecil menjadikan Penyengat sebagai benteng pertahanan untuk menangkis serangan yang datang dari Hulu Riau.

Pulau Penyengat mulai ditempati sebagai perkampungan setelah Sultan Mahmud Syah III menghadiahkannya sebagai mas kawin pada Raja Hamidah binti Raja Haji (Engku Puteri) tahun 1803. Setelah menjadi kediaman Raja Hamidah dan sadara-saudaranya, Penyengat diubah sebagai sebuah negeri kedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau yang pangkatnya setara dengan perdana menteri (Sultan berkedudukan di Daik Lingga).

Keberadaan Masjid Sultan Riau yang dibangun sekitar tahun 1761-1812 atau pada masa awal dihuninya pulau ini hanyalah berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang dilengkapi dengan sebuah menara setinggi sekitar enam meter (id.wikipedia.org). Perbaikan atau renovasi masjid baru dilakukan ketika Sultan Abdurrahman Muazzam Syah atau Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman memindahkan pusat pemerintahan dari Lingga ke Penyengat (Sultan berkedudukan di Pulau Penyengat).

Perpindaham pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga menjadikan Penyengat semakin ramai. Jumlah penduduk bertambah dan masjid tidak lagi mampu menampung orang-orang yang akan sholat berjamaah. Oleh sebab itu, Sultan Abdurrahman berinisiatif memperbaiki dan memperbesar masjid (Stone, 2017). Bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1248 Hijriah (1823 M) Sultan berseru pada wakyatnya untuk bergotong-royong memperbaiki masjid.

Seruan Sultan diindahkan oleh rakyatnya. Mereka (laki-laki dan perempuan) berbondong-bondong datang mengantarkan bahan bangunan, makanan, maupun tenaga agar renovasi masjid berjalan lancar. Bahkan konon, karena terlalu banyak bahan makanan yang disumbangkan, khususnya telur, sehingga tidak termanfaatkan dengan baik. Para pekerja hanya memakan bagian kuning telurnya saja sebagai lauk (Stone, 2017). Agar tidak mubazir, putih telur dimanfaatkan sebagai bahan baku oleh arsitek masjid keturunan India yang didatangkan dari Tumasik (Singapura). Bersama dengan pasir, tanah liat, dan kapur, putih telur diaduk dan dijadikan sebagai perekat. Hasilnya, bangunan masjid menjadi semakin kuat dan kokoh (Rosikhin, 2016).

Sampai saat ini Masjid Raya Sultan Riau masih digunakan oleh warga setempat untuk melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang waktu sholat, akan terlihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat banyak warga yang menggunakan masjid untuk berinteraksi, belajar Al Quran, mengadakan kenduri jamak sebelum bulan Ramadhan, dan lain sebagainya.

Kompleks Masjid Raya Sultan Riau
Kompleks Masjid Raya Sultan Riau dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu halaman, bangunan utama, dan bangunan tambahan. Area komplek masjid ini seluas 54,4x32,2 meter dikelilingi dinding tembok terbuat dari batu bata berwarna kuning (Stone, 2017). oleh karena letaknya agak tinggi dari areal di luar komplek, untuk memasuki gerbang utama masjid di sisi timur harus menaiki anak tangga berwarna hijau sejumlah belasan buah.

Setelah melewati pintu gerbang ada halaman yang sebagian dikeramik dan sisanya dibiarkan tetap berupa tanah berumput. Pada bagian yang dikeramik terdapat dua buah balai tidak berdinding yang oleh Adiputra (2016) dan wisatago.com disebutkan berfungsi sebagai tempat istirahat sambil menunggu waktu sholat, berkesenian, dan berbuka puasa saat bulan Ramadhan.

Di belakang balai ada bangunan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai sotoh. Bangunan tersebut berfungsi antara lain sebagai: tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan upacara yang berkaitan dengan hari-hari besar Islam (ksmtour.com); peristirahatan musafir serta penyelenggaraan musyawarah (wisatago.com); dan tempat menimba ilmu agama. Wikipedia.org mencatat, setidaknya ada empat ulama besar yang pernah mengajar di masjid ini, yaitu: Syekh Ahmad Jabrati, Syekh Ismail, Syekh Arsyad Banjar, dan Haji Shahabuddin.

Beranjak dari balai dan gedung sotoh ada bangunan utama (masjid) berdenah segi empat dengan pintu masuk utama berada di sisi timur yang bagian depannya diatapi kubah dan berpliaster. Di dekat pintu masuk utama terdapat lemari kaca berisi mushaf Al Quran tulisan tangan Abdurrahman Stambul, putera Penyengat yang diutus Sultan belajar di Turki pada tahun 1867 M (wikipedia.org). Menurut Movanita (2017), ada sebuah kitab tulis tangan lebih tua lagi (dibuat tahun 1752 M tanpa nama penulis) yang disimpan bersama sekitar 300 buah kitab lain dalam dua lemari di sayap kanan masjid. Kitab-kitab tersebut merupakan warisan Kerajaan Riau-Lingga saat terjadi eksodus besar-besaran ke Singapura dan Johor pada awal abad ke-20 akibat perang melawan Belanda (wisatago.com).

Melewati lemari kaca terdapat ruang utama berukuran 29,3x19,5 meter berlantai batu bata. Dindingnya berketebalan sekitar 50 centimeter dengan enam buah jendela. Ruang utama ini memiliki empat buah soko guru terbuat dari beton guna menopang atap kubah berbentuk bawang. Jumlah seluruh kubah ada 13 buah, terdiri atas: empat mengarah kiblat, tiga kubah melintang dan satu kubah di pintu masuk. Selain itu, di tiap pejuru terdapat menara berdinding kuning dan beratap hijau setinggi 18,9 meter (wisatago.com). Apabila kubah dan menara digabungkan, ksmtour.com berpendapat bahwa akan sama jumlahnya dengan rakaat shalat lima waktu.

Sebagai catatan, selain mushaf Al Quran di ruang utama juga terdapat mimbar terbuat dari kayu jati yang didatangkan khusus dari Jepara. Wikipedia.org menyatakan bahwa mimbar tersebut sebenarnya dipesan sejumlah dua buah, berukuran besar dan becil. Mimbar berukuran besar ditempatkan di Masjid Sultan Riau, sedangkan yang lebih kecil berada di Daik Lingga. Di dekat mimbar terdapat sepiring pasir yang konon dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua sepulang dari berhaji pada tahun 1820 M (Adiputra, 2016).

Bagaimana? Anda berminat mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau yang saat ini telah ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya? Apabila berminat, untuk mencapainya Anda harus menaiki perahu motor yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai pompong dari dermaga Sri Bintan Pura, Tanjungpinang. Sarana ini merupakan satu-satunya alternatif bagi masyarakat keluar-masuk Penyengat. Pompong tersedia baik di pelabuhan Sri Bintan Pura maupun di pelabuhan Penyengat yang melayani penumpang dari pagi sekitar pukul 06.00 WIB sampai dengan malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Apabila belum puas hanya mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau, di Penyengat masih ada 16 situs cagar budaya lain, di antaranya: Makam rraja-raja Melayu beserta keluarganya (makam Engku Puteri sebagai pemilik Pulau Penyengat, Makam Raja Jakfar, Makam Raja Haji Fisabilillah), Kedaton, dan Benteng Pertahanan. Adapun cara mengunjungi situs-situs cagar budaya tersebut selain dengan berjalan kaki, dapat juga menggunakan becak motor sambil mengitari kampung-kampung yang ada di Pulau Penyengat (Kampung Datuk, Kampung Bulang, Kampung Ladi, Kampung Balik Kota, dan Kampung Baru). (Ali Gufron)

Foto: https://travel.kompas.com/read/2013/07/21/2053532/Pulau.Penyengat.Menjadi.Hutan.Konversi
Sumber:
Evawarni, 2000, Naskah Kuno: Sumber Ilmu Yang Terabaikan (Telaah Terhadap Beberapa Naskah Kuno), Penelitian, Departemen Pendidikan Nasional Direktoran Jenderal Kebudayaan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

"Masjid Raya Sultan Riau", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Sultan_ Riau, tanggal 30 Desember 2017.

"Megahnya Arsitektur Masjid Raya Sultan Riau yang Dibangun dengan Putih Telur", diakses dari https://www.wisatago.com/mesjid-raya-sultan-riau/, tanggal 25 Desember 2017.

Stone, Riyad. 2017. "Masjid Raya Sultan Riau, Masjid Peninggalan Kerajaan Riau-Lingga", diakses dari https://www.tempat.co.id/wisata/Masjid-Raya-Sultan-Riau, tanggal 25 Desember 2017.

Rosikhin. 2016. "Sejarah Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat", diakses dari http://khinrosi06.blogspot.co.id/2016/08/masjid-ini-mulai-dibangun-sekitar-tahun.html, tanggal 26 Desember 2017.

Movanita, Ambaranie Nadia Kemala. 2017. "Masjid di Pulau Penyengat, Kono Dibangun dengan Bahan Putih Telur", diakses dari http://travel.kompas.com/read/2017/05/18/ 060800327/masjid.di.pulau.penyengat.konon.dibangun.dengan.bahan.putih.telur, tanggal 27 Desember 2017.

Adiputra, Maryo Sanjaya. 2016. "Masjid Penyengat, Mesjid Sultan Riau - Mesjid Pulau Para Raja", diakses dari http://www.riaumagz.com/2016/10/masjid-penyengat-mesjid-sultan-riau.html, tanggal 27 Desember 2017.

"Masjid Raya Sultan Riau yang Unik di Pulau Penyengat Kepulauan Riau", diakses dari https://ksmtour.com/informasi/tempat-wisata/kepulauan-riau/masjid-raya-sultan-riau-yang-unik-pulau-penyengat-kepulauan-riau.html, tanggal 27 Desember 2017.

Mie Lendir

Selain nasi, mie adalah makanan yang populer di kawasan Asia. Makanan berbentuk bulat atau pipih panjang ini konon telah ada sejak 4.000 tahun lalu (mesinmie.biz). Namun dari mana asalnya, hingga saat ini masih simpang siur. Menurut sejarahdk.com, penentuan waktu 4.000 tahun tersebut berasal dari Gary Crawford, arkeolog University of Toronto yang pada tahun 2005 menemukan fosil mie kuning dalam endapan lumpur di daerah Lajia, Tiongkok. Fosil mie tadi berbahan millet-broomcorn dan jawawut yang dibuat secara manual dalam bentuk lembaran-lembaran tipis-panjang.

Bentuk mie baru berubah setelah ditemukan alat mekanik pembuat mie pada tahun 700-an Masehi. Dan, baru diproduksi secara masal setelah T. Masuki berhasil membuat mesin mie tahun 1854. Adapun jenisnya (berdasarkan tingkat kematangan) menurut mesinmie.biz dapat dibagi menjadi: mie kering, mie basah dan mie instan. Mie basah adalah mie yang memiliki kandungan air sekitar 52% sehingga hanya dapat bertahan selama satu hari. Mie instan berkandungan air hanya sekitar 8% sehingga tidak memerlukan waktu lama dalam proses pengeringannya. Sedangkan mie kering Mie kering atau biasa disebut mie telur karena berbahan dasar terigu dan telur memiliki kandungan air hanya sekitar 13%, umumnya digunakan sebagai bahan baku mie rebus atau mie goreng. Ketiga jenis mie tadi memiliki kandungan gizi relatif sama, yaitu per 100 gram terdapat 338 kalori, 7.6 gram protein, 11,8 gram lemak, 50 gram karbohidrat, 1,7 mg mineral, dan 49 mg kalsium (www.superindo.co.id).

Berkenaan dengan mie jenis terakhir, di Provinsi Kepulauan Riau ada sebuah makanan berbahan mie telur yang oleh orang Melayu disebut sebagai mie lendir. Sesuai dengan namanya, mie ini dilengkapi dengan kuah kental menyerupai lendir berasal dari campuran air, bawang merah, bawang putih, jahe halus, kunyit, cabe giling, udang giling, jintan, kacang tanah goreng, daun salam dan tepung kanji atau maizena. Bahab-bahan lain berupa 250 gram tauge, 250 gram kentang rebus, 2 buah mentimun, 5 butir telur rebus, bawang goreng dan seledri (Qomariah, 2017).

Langkah membuatnya diawali dengan menumis bawang putih, cabe giling, bawang putih, kunyit, dan jintan. Kemudian, dalam tumisan masukkan kacang goreng yang telah dihaluskan. Setelah tercampur merata, tuangkan air dan biarkan matang (mendidih) lalu masukkan gula jawa (gula merah), garam, perasa dan tepung kanji atau maizena. Aduk merata hingga membentuk cairan kental menyerupai lendir. Terakhir, sebelum disajikan, tuang kuah lendir tersebut dalam piring yang berisi mie, tauge rebus, telur rebus, potongan kentang rebus, irisan mentimun, dan irisan cabe rawit.

Di Kota Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau, salah satu penjual mie lendir yang cukup laris berada di sebuah ruko (rumah toko) di Jalan Bintan, tidak begitu jauh dari Masjid Agung Al Hikmah. Jumlah meja makannya yang cukup banyak membuat suasana menikmati mie lendir terasa lebih "privat" dan "berbeda", khususnya pada bagian dalam ruko. Saya sempat mempunyai pengalaman "indah" ketika ingin merasakan sensasi "privat" dan "berbeda" tersebut. Sekitar dua puluh tahun lalu (tahun 1998), bersama beberapa teman "iseng" menuju tempat itu di sela-sela jam pelajaran sekolah. Tujuan sejatinya adalah menikmati beberapa batang rokok di tempat "privat". Bagian dalam warung mie lendir kami rasa cocok dijadikan sebagai lokasi "tersembunyi" sambil mencicipi hangatnya mie lendir serta dinginnya teh obeng (es teh).

Namun, baru beberapa belas menit di sana, tiba-tiba datang salah seorang guru dan langsung duduk bersama kami (kok bisa tahu yah? Ngikutin gitu? ^_^). Anehnya, beliau tetap membiarkan sebagian dari kami menyelesaikan "tugas" menyatap mie lendir dan sebagian lagi menghabiskan rokok yang sedang dihisap. Setelah selesai, barulah kami digelandang ke sekolah (SMA Negeri 1 Tanjungpinang) untuk menemui guru Bimbingan Penyuluhan (sekarang Bimbingan Konseling) yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan. Walhasil, kami pun mendapat bimbingan karena tidak berada di tempat ketika jam pelajaran berlangsung, tidak mengindahkan larangan merokok bagi pelajar, dan beberapa hal lain yang tidaklah elok bila disebutkan satu per satu ^_^. (Ali Gufron)

Foto: https://www.temberang.co.id/travel/mie-lendir-kuliner-enak-nan-unik-di-kepulauan-riau.html
Sumber:
"Sejarah Mie dan Asal Usulnya", diakses dari http://mesinmie.biz/sejarah-mie-dan-asal-usulnya/, tanggal 22 Maret 2018.

"Jenis-jenis Mie", diakses dari https://www.superindo.co.id/artikel/info-sehat/jenis-jenis-mie/3, tanggal 22 Maret 2018.

"Sejarah dan Asal Usul Mie", diakses dari http://www.sejarahdk.com/2016/04/sejarah-dan-asal-usul-mie.html, tanggal 23 Maret 2018.

Qomariah, Nurul. 2017. "Lezatnya Mie Lendir Tanjung Pinang, Begini Cara Membuatnya", diakses dari http://pekanbaru.tribunnews.com/2017/10/23/lezatnya-mie-lendir-tanjung-pinang-begini-cara-membuatnya, tanggal 25 Maret 2018.

Lakma Dewi

Lakma Dewi merupakan satu dari segelintir seniman tradisi yang masih eksis di Kabupaten Pesisir Barat. Perempuan yang mahir dalam memainkan berbagai macam kesenian tradisional ini lahir di Krui pada hari Jumat tanggal 6 Juli 1965. Dia adalah anak ke-sebelas (tiga belas bersaudara) dari pasangan Bahsan dan Rabiah binti Basro. Saudara-saudara kandung Lakma yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 2 orang perempuan saat ini sudah tidak utuh lagi (setengah di antaranya telah meninggal dunia). Sementara sisanya ada yang berdomisili di Pesisir Barat, Lampung Barat, Bandarlampung, dan DKI Jakarta.

Konon semenjak kecil (Lakma sendiri sudah tidak dapat mengingat kapan tepatnya), telah menunjukkan bakat seni dengan pandai bernyanyi dan membawakan tari sempaya, cerai kasih, serta payung. Adapun belajarnya hanya dengan cara otodidak, alias melihat dan mendengar para seniman beraksi kemudian mempraktikkannya di rumah. Kebiasaan Lakma ternyata didukung oleh kedua orang tua. Bahkan, mereka menyarankan agar para tetangga yang sedang mengadakan pesta memberi kesempatan pada Lakma untuk mempertontonkan kebolehannya. Sebagai catatan, bagi generasi Lakma pengertian pesta yang dimaksud di sini adalah adalah gelaran-gelaran yang berkenaan dengan lingkaran hidup seseorang (kelahiran, perkawinan, kematian) atau acara adat lainnya (penobatan raja, pemberian gelar, dan lain sebagainya).

Di berbagai gelaran pesta inilah Lakma Dewi mulai mengasah diri untuk menjadi seorang seniman tradisi. Selain itu, berkat interaksi yang cukup intens dengan seniman-seniman seni tutur yang turut tampil dalam pesta, Lakma juga mulai merambah ke seni tutur. Hahiwang, segata, bebandung, ringget, wayak/muayak dan hahaddo hasil "contekan" dari para seniman tutur tersebut dipelajarinya secara rutin sepulang sekolah di SDN 04 Penengahan Laay. Namun, kebiasaan berlatih seni tradisi sempat terhenti ketika dia baru beberapa bulan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama karena Sang kakek mengajaknya hijrah ke Jakarta.

Oleh karena sangat dimanja Sang kakek dan keluarganya, Lakma diberi kebebasan untuk melakukan segala hal sesuai dengan kemauan sendiri dan tidak dibebani kewajiban sebagaimana layaknya orang lain. Alhasil, dia terlalu "enjoy" dengan diri sendiri sehingga tidak berhasrat melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertamanya. Jadi, praktis selama di Jakarta rutinitas yang dilakukan hanyalah makan, tidur, dan jalan-jalan bersama keluarga Sang kakek.

Sepulang dari Jakarta, Lakma menggeluti kembali seni tradisi yang sempat ditinggalkan. Bahkan dia tidak hanya tampil dalam acara pesta-pesta adat yang diselenggarakan oleh masyarakat yang ada di sekitar pekon tempat tinggalnya. Secara rutin Lakma Dewi mengikuti berbagai ajang perlombaan kesenian daerah, baik yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Barat maupun Pemerintah Provinsi Lampung. Dan, dari berbagai macam perlombaan ini banyak di antaranya yang berhasil dimenangkan.

Konsekuensi dari keberhasilan memenangkan sejumlah perlombaan, jadwal manggung pun semakin bertambah. Dia tidak hanya diundang memeriahkan acara adat yang diselenggarakan oleh Pekon, Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat saja, tetapi juga orang-orang tertentu yang berniat ingin menjadi petinggi di Lampung Barat hingga para pejabat di pemerintahan Provinsi Lampung.

Tidak berapa lama setelah mencapai ketenaran sebagai seorang seniwati tradisi, Lakma Dewi menikah dengan Hermanto, seorang staf Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Barat. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai empat orang anak (seorang laki-laki dan tiga orang perempuan), yaitu: Wawan Putra (kelahiran tahun 1983), Heidi Diana (kelahiran tahun 1985), Tria Yunisa (kelahiran tahun 1987), dan Wira Opana (kelahiran tahun 1990).

Pernikahan dengan Hermanto ternyata membawa berkah tersendiri bagi Lakma Dewi. Jadwal pentasnya menjadi kian banyak hingga rata-rata mencapai 20 kali dalam satu bulan. Oleh karena itu, tidak jarang Hermanto turut menemani ketika Lakma pentas keluar wilayah Lampung Barat, seperti: Bandarlampung, Metro, Jakarta, hingga Yogyakarta. Khusus di Bandarlampung dan Yogyakarta Lakma pernah diminta masuk dapur rekaman untuk membawakan sastra lisan muayak dan hahaddo. Namun, hasil rekamannya saat ini hanya ada di Kantor Dinas Pemuda, Pariwisata, dan Olahraga Kabupaten Lampung Barat.

Menurut Lakma tidak lakunya penjualan rekaman muayak dan hahaddo karena masyarakat (terutama generasi muda) menganggap bahwa kedua kesenian tersebut sudah ketinggalan zaman. Kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi membuat orang lebih menghargai kesenian populer yang datang dari daerah atau negara lain. Muayak, hahaddo, hahiwang, ringget dan beragam kesenian tradisional lain yang selalu mempertahankan "pakem" tanpa melakukan pembaruan tidak lagi dapat mengikuti arus perubahan zaman sehingga nyaris ditinggalkan dan hampir punah.

Keprihatinan akan punahnya kesenian tradisi mendorong Lakma Dewi untuk menularkan keahliannya pada generasi muda. Mula-mula dia mengajar pada anak-anak usia Sekolah Dasar hingga Menengah Pertama di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya anak-anak usia 6 hingga 16 tahun lebih "lebih cepat nyambung" ketimbang remaja atau orang tua. Anak-anak relatif mudah menerima pelajaran dan dapat "dipoles" sedemikian rupa agar sesui dengan pakem-pakem kesenian yang diajarkan.

Tetapi usaha awal Lakma Dewi banyak mengalami kendala. Salah satunya disebabkan oleh stratifikasi sosial dalam masyarakat yang tercermin dalam kelas-kelas sosial yang ditentukan berdasarkan asal usul serta hubungan kekerabatan patrilineal. Mereka membagi diri menjadi 16 marga. Masing-masing marga dipimpin oleh seorang Saibatin (Kepala Marga) dan memiliki tujuh tingkatan Gelar yaitu: Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas.

Struktur sosial berdasarkan tingkatan gelar tersebut mempengaruhi ruang gerak individu, mulai dari level paling tinggi (Kepaksian) hingga ke level terendah yaitu keluarga. Atau dengan kata lain, terdapat rambu-rambu tertentu yang mengatur hubungan antarstatus dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak dapat sesuka hati berhubungan tanpa mengindahkan statusnya karena akan mendapat sanksi-sanksi tertentu (adat maupun sosial) apabila melanggarnya.

Lakma Dewi yang berada dalam keluarga berstatus atau bergelar Minak relatif mudah menggerakkan anak-anak dari keluarga yang berstatus di bawahnya (Kimas dan Mas) untuk belajar kesenian tradisional. Namun, dia sulit "memaksa" anak-anak dari keluarga berstatus Radin, Batin, Raja, apalagi Suntan tanpa persetujuan orang tua mereka. Apabila orang tua menyetujui, dalam menentukan jadwal latih pun dia tidak dapat begitu saja menyuruh anak-anak mereka datang. Lakma harus membujuk anak yang akan berlatih agar orang tuanya tidak tersinggung dan marah.

Aturan-aturan adat yang mengikat seseorang berdasarkan kelas dalam masyarakat tentu saja menyulitkan Lakma Dewi dalam mentransfer ilmunya. Agar seni tradisi yang digeluti tidak hilang di telah zaman, dia kemudian beralih ruang dengan mengajar di pekon-pekon (desa) dan sekolah-sekolah di sekitar Krui. Kedua tempat tersebut dipilih karena sudah ada orang-orang yang mengkoordinasi anak-anak untuk berkumpul dan berlatih. Jadi, dia dapat langsung mengajar tanpa perlu lagi bersusah payah membujuk anak-anak agar mau belajar seni tradisi.

Lambat laun jerih payah Lakma secara perlahan membuahkan hasil. Banyak di antara anak didiknya memenangi berbagai ajang perlombaan, mulai dari tarian, nyanyian, hingga tradisi lisan. Bahkan karena terlalu sering menang, terkadang pihak panitia perlombaan sengaja "menghambat" agar peserta lain mendapat giliran sebagai pemenang. Adapun caranya adalah dengan menjadikan anak-anak didik Lakma sebagai penampil dan bukan peserta lomba. Sementara Lakma sendiri didaulat juga menjadi penampil, panitia dan atau jurinya.

Foto: ali gufron

Ahmad Sjarief Mustafa

Di lingkungan Pemprov DKI Jakarta nama Ahmad Sjarief Mustafa sudah cukup akrab di telinga. Putra dari Muallim Radjiun Pekajon yang lahir di Jakarta pada tanggal 21 Juli 1951 ini merupakan salah seorang pejabat di jajaran Prmprov DKI Jakarta. Jabatan terakhirnya adalah sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual Kesejahteraan Sosial Provinsi DKI Jakarta.

Ahmad menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1964, kemudian pendidikan menengah pertama tahun 1967. Tamat dari sekolah menengah pertama Ahmad meneruskan ke sekolah lanjutan atas hingga tahun 1970. Selanjutnya dia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti (Usakti) hingga lulus pada tahun 1980. Selama kuliah, dia aktif berorganisasi di dalam kampus. Jabatannya waktu itu adalah sebagai Ketua HIMEP FE Usakti dan Kedua DPM FE Usakti (jakarta.go.id).

Selesai kuliah Ahmad memulai karir sebagai Pegawai Negeri Sipil di Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bawasda adalah sebuah lembaga pengawasan yang dibentuk sebagai perangkat daerah yang ditujukan untuk menjamin agar Pemerintahan Daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (researchgate.net). Jabatan yang diembannya selama di Bawasda adalah sebagai Inspektur Wilayah Kota Jakarta Barat dari tahun 1983 hingga 2001.

Pada tahun 2001 Ahmad dipindahtugaskan sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial hingga tahun 2007. Dia dilantik bersama 37 pejabat eselon II dan II di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta oleh Gubernur Sutiyoso di Gedung Balai Agung, Balaikota, Medan Merdeka Selatan. Dalam sambutannya, Sutiyoso mengatakan pejabat yang dilantik akan dinilai kinerjanya pada 6 bulan pertama. Penilaian dimaksudkan membuka ruang diadakannya koreksi dan tindakan internal demi pencapaian misi organisasi (news.detik.com).

Sebagai Kepala Dinas Ahmad bertanggung jawab kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta melalui Sekretaris Daerah dan dikoordinasikan oleh Asisten Kesejahteraan Masyarakat. Adapun tugas pokok lembaga yang diatur berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 41 tahun 2002 di antaranya adalah melaksanakan pembinaan mental spiritual dan kesejahteraan sosial di Provinsi DKI Jakarta. Sementara fungsinya antara lain: merumuskan kebijakan teknis di bidang mental spiritual dan kesejahteraan sosial; melaksanakan pendataan, perencanaan, pemantauan, evaluasi, penelitian serta pengembangan kegiatan mental spiritual dan usaha kesejahteraan sosial; melakukan pembinaan mental spiritual dan kesejahteraan masyarakat; menyelenggarakan kegiatan pencegaran timbulnya penyandang masalah sosial; menyelenggarakan peningkatan kualitas dan perluasan jangkauan pelayanan usaha kesejahteraan sosial; menyelenggarakan promosi dan pembinaan partisipasi kegiatan sosial masyarakat; melaksanakan pembinaan dan pengasawan terhadap penempatan tenaga kerja kesejahteraan sosial serta peningkatan profesionalisme sumber daya manusia di bidang kesejahteraan sosial; melakukan pembinaan dan peningkatan profesionalisme sumber daya manusia di bidang mental spiritual; memberikan rekomendasi perizinan pembangunan tempat-tempat ibadah; memberikan perizinan dan akreditasi lembaga kesejahteraan sosial; memberikan rekomendasi, perizinan, pengawasan, dan pengendalian undian dan sumbangan; menyelenggarakan rekomendasi pengangkatan anak, perizinan pengasuhan anak dan perizinan operasional Taman Penitipan Anak (TPA); memberikan pelayanan rehabilitasi, resosialisasi dan pemberdayaan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial dan penginformasiannya; menyelenggarakan pelayanan perlindungan korban tindak kekerasan, bantuan sosial korban bencana dan musibah sosial lainnya serta orang terlantar; melestarikan nilai-nilai keperintisan, kepahlawanan, dan kesetiakawanan sosial; memberikan bantuan penyelenggaraan pelayanan sosial lembaga-lembaga kesejahteraaan sosial; menyediakan dan mengelola sarana dan prasarana pelayanan di bidang mental spiritual dan kesejahteraan sosial; meningkatkan dan memberdayakan potensi lembaga-lembaga keagamaan; mengelola dukungan teknis dan administrasi; dan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan kegiatan suku dinas (Lakip Dinas Bintal dan Kesos tahun 2008).

Sebagai catatan, selain mengabdi pada negara, pria yang menikahi Muliana dan dikaruniai tiga orang anak ini juga aktif dalam organisasi massa sebagai Wakil Ketua PWNU Provinsi DKI Jakarta dan Ketua PP Persatuan Masyarakat Jakarta Muhammad Husni Thamrin (Permata MHT). Permata MHT merupakan organisasi yang turut membentuk Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) (jakarta.go.id).

Sumber:
Ahmad Sjarief Mustawa, H. SH", diakses dari http://www.jakarta.go.id/v2/dbbetawi/detail/62 /Ahmad-Sjarief-Mustafa-H.-SH, tanggal 5 Mei 2017.

"Sutiyoso Lantik 38 Pejabat Pemprov DKI Jakarta", diakses dari http://news.detik.com/berita /226645/sutiyoso-lantik-38-pejabat-pemprov-dki-jakarta, tanggal 4 Mei 2017.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Bintal dan Kesos Provinsi DKI Jakarta Tahun 2008.

"Kedudukan dan Peran Padan Pengawas Daerah dalam Pengawasan Fungsional", diakses dari https://www.researchgate.net/publication/42323253_Kedudukan_Dan_Peran_Badan_Pengawas_Daerah_BAWASDA_Dalam_Pengawasan_Fungsional_Setelah_Keluarnya, tanggal 5 Mei 2017.

Popular Posts