Bulava Mpongeo (Emas Mengeong)

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Bulunggatugo atau Limboro/Towale ada seorang raja baik hati. Apabila sedang tidak mengurusi masalah kerajaan, dia menghabiskan waktu dengan menekuni hobi lamanya, yaitu mencari dan menangkap udang di sungai dekat benteng kerajaan. Tetapi karena telah lanjut usia, secara ngerangsur-angsur hobi ini tidak dilakukan sendiri, melainkan menitah belasan orang dayang istana yang berparas cantik jelita dan menggemaskan untuk mencarinya.

Suatu hari Sang Raja ingin sekali mendapat udang dari kuala sungai yang bermuara di Gunung Ravi. Untuk itu, dikerahkanlah para dayang agar segera mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan penangkap udang. Setelah siap, berangkatlah mereka (para dayang) secara beriringan menuju kuala yang diperkirakan masih terdapat banyak udang berukuran relatif besar.

Sesampai di lokasi para dayang mulai merentang jaring. Namun, setelah ditunggu sekian lama, tidak ada seekor pun yang berhasil terjaring. Mereka lalu pindah ke lokasi baru. Tetapi tetap saja tidak memperoleh hasil. Malah yang terjaring adalah sebutir mirip telur ayam. Telur itu lantas dibuang begitu saja karena target sasaran adalah udang.

Begitu seterusnya. Setiap menebar jaring yang terperangkap adalah sebutir telur yang telah dibuang berulang kali, seakan si telur selalu mengikuti ke mana pun jaring ditebar. Mereka akhirnya menyerah dan membawanya ke istana sebagai “hasil tangkapan” pengganti udang. Rencananya telur tadi akan dijadikan sebagai “tersangka” menghilangnya kawanan udang di sekitar kuala.

Sang Raja yang mendengar pengakuan para dayang tidak lantas mengambil tindakan. Biasanya dia akan marah bila apa yang diinginkan tidak terpenuhi. Tapi kali ini dia hanya terdiam sambil mengamati telur yang dipegang oleh salah seorang dayang. Dia lalu memerintah koki istana membawa dan mengambil si telur untuk disimpan dalam landue . Nanti malam akan dia minta koki istana menggoreng telur itu sebagai lauk saat bersantap.

Tetapi, oleh karena hanya berupa sebutir telur, begitu tiba makan malam Sang Raja lupa. Dia malah asyik bersenda gurau dengan para dayang serta penghuni istana lainnya. Bahkan sesekali menggoda beberapa diantara mereka hingga tersipu malu. Selesai makan barulah teringat akan telur yang disimpan dalam landue. Dia lalu mengingatkan lagi pada Sang koki agar menggoreng terlur untuk sarapan. Anehnya, kejadian serupa terulang kembali. Begitu seterusnya, telur berkali-kali lupa digoreng dan baru teringat setelah selesai makan.

Telur tadi akhirnya dilupakan. Tidak ada seorang pun yang menyinggungnya. Apalagi, para dayang sudah beraksi kembali menangkap udang dengan hasil luar biasa banyak. Akibatnya, suatu hari terdengarlah sebuah ledakan maha dahsyat di istana. Setelah dilakukan investigasi ^_^ ternyata sumber ledakan berasal dari arah dapur. Pada bagian solopio dapur terdapat lubang sangat besar besar sebagai tanda bahwa pusat ledakan tidak jauh dari situ. Seluruh benda yang berada di dapur rusak atau bahkan hancur tidak bersisa, termasuk telur yang berada dalam landue. Namun ajaibnya, hanya cangkang dan putih telur saja yang hancur. Putih telur tersebut terbang bersama solopio sementara bagian intinya (kuning telur) tetap utuh.

Kejadian luar biasa ini tidak dianggap serius oleh segenap penghuni istana. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa karena beranggapan bahwa dapur adalah sebuah tempat yang selalu berhubungan dengan panas, api membara, serta kepulan asap. Jadi, merupakan suata hal lumrah apabila kadangkala terjadi kebakaran atau ledakan. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi akibat kelalaian orang yang sedang ada gawe di dalamnya.

Malam hari setelah kejadian, di atap kamar tidur raja samar-samar terdengar suara sesuatu sedang melompat. Semakin lama suaranya semakin terdengar jelas. Di sela-sela lompatan terdengar pula beberapa kali suara mengeong. Raja yang sepanjang hidup tidak pernah melihat ada seekor kucing di dalam istana langsung terkejut dan memerintahkan para pengawal mencari dan menemukan makhluk yang mengeong di atas atap kamar tidurnya.

Setelah ditemukan, alangkah terkejutnya para pengawal. Mereka melihat makhluk yang mengeong bukanlah seekor kucing melainkan kuning telur yang ditinggal bagian putihnya. Si kuning telur mondar-mandir kesana-kemari sembari mengeong layaknya seekor anak kucing. Dengan sangat hati-hati seorang pengawal mendekat dan menangkapnya untuk diserahkan pada Sang Raja.

Ketika sudah berada di hadapan, Sang Raja mengamati “kucing telur” dengan saksama. Rupanya kuning telur itu sudah berumah menjadi emas berwarna kuning terang. Emas yang dapat melompat dan mengeong. Raja menamakannya sebagai Bulava Mpongeo atau emas yang mengeong. Dia dianggap sebagai benda keramat yang sangat langka sehingga harus dipelihara dengan baik. Si Bulava Mpongeo dibiarkan berkeliaran di sekitar istana tanpa ada yang boleh mengganggunya.

Agar tetap hidup, raja beranggapan Bulava Mpongeo harus mendapat makan sebagaimana halnya makhluk hidup lain. Tetapi setelah diberi berbagai macam makanan dari mulai nasi, jagung, hingga umbi-umbian dia tidak mau menyentuhnya. Sang Raja menjadi khawatir kalau makhluk langka yang tidak mau makan itu sebentar lagi akan mati atau menghilang.

Satu minggu kemudian, entah mengapa Bulava Mpongeo keluar dari istana menuju sebatang pohon kolontigi yang sedang berbunga lebat. Dia lalu mendekati salah satu ranting dan memakan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Semenjak itu seluruh penghuni istana tahu bahwa makanan Bulava Mpongeo adalah bunga pohon kolontigi. Setiap minggu, tepatnya pada hari Jumat dia selalu mendatangi pohon itu untuk memakan bunganya. Begitu seterusnya hingga suatu hari ada seorang tamu kerajaan melihatnya sedang memakan bunga sambil sesekali mengeong.

Sang tamu yang awalnya terperanjat lalu menyadari kalau telur mengeong itu bukanlah makhluk sembarangan. Selesai bertamu dia bergegas pulang ke daerahnya di Palu untuk menceritakan pada sanak kerabat tentang makhluk ajaib yang kemungkinan dapat mendatangkan berkah serta kesejahteraan bagi siapa saja yang dapat memilikinya. Walhasil, timbullah niat untuk mencuri Bulava Mpongeo. Mereka sepakat mencuri pada hari Jumat, sesuai dengan laporan kawan yang datang ke istana Raja.

Beberapa jam menjalang hari H mereka telah bersembunyi di luar tembok istana. Ketika malam tiba secara mengendap-endap mereka menuju ke halaman tempat biasa Bulava Mpongeo memakan bunga kolontigi. Tidak lama berselang, dari dalam istana muncullah sinar terang menyilaukan mata yang perlahan-lahan menuju pohon kolontigi. Saat sang sinar mulai menyantap bunga, dari arah belakang kawanan pencuri datang menyergap dan membawanya pergi.

Keesokan hari barulah seisi istana sadar Bulava Mpongeo telah menghilang. Spekulasi pun mulai berkembang. Ada berpendapat Bulava Mpongeo kembali ke tempat asalnya di kahyangan. Ada lagi yang berprasangka dia telah dicuri karena dianggap sebagai benda bertuah, dan ada juga yang mengira kembali bersatu dengan bagian putihnya. Spekulasi-spekulasi tadi membuat Sang Raja pasrah dan merelakan kepergian Bulava Mpongeo.

Selang beberapa bulan setelahnya, daerah tempat para pencuri menjadi subur dan makmur. Seluruh penduduk hidup damai dan sejahtera. Sedangkan para pemilik Bulava Mpongeo sendiri hidup lebih mewah dari warga yang makmur tersebut. Mereka memiliki harta benda jauh lebih banyak dan besar, baik dari segi jumlah maupun ukuran. Oleh karena itu, mereka bersepakat mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang kerajaan-kerajaan terdekat sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah berupa emas mengeong walau didapat dari hasil curian.

Setelah sebagian besar tamu undangan datang, pesta dimulai dengan suguhan berbagai macam tari dan musik. Saat para tamu tengah asyik mendengarkan musik sambil menyantap aneka makanan, dari dalam sebuah rumah muncullah Bulava Mpongeo melompat-lompat sembari mengeong di sela-sela tempat duduk para tamu. Sang raja yang kebetulan melihat langsung berteriak bahwa mahkluk ajaib itu adalah miliknya.

Tuan rumah yang merasa tertangkap basah tentu berusaha membela diri. Di depan orang banyak dia mengatakan bahwa Bulava Mpongeo adalah miliknya sehingga terjadi perdebatan berujung pertengkaran dengan Sang Raja. Keduanya saling klaim sebagai pemilik sah Bulava Mpongeo tanpa memberikan bukti-bukti kuat tentang klaim tersebut.

Walhasil, suasana yang tadinya riang gembira berubah menjadi tegang. Tuan rumah dan Sang Raja sama-sama bersikeras ingin memiliki. Sementara para tamu yang tidak terlibat ada yang memilih berdiam diri sambil mengamati, ada yang mencoba melerai dan menjadi penengah, serta ada pula yang secara diam-diam pergi meninggalkan arena pesta karena menganggap suasana sudah tidak kondisuf lagi.

Di tengah kondisi semakin memanas, tiba-tiba seorang tamu mengusulkan agar Bulava Mpongeo dibuang ke Karone (Sungai Palu). Apabila milik sang raja, maka dia akan kembali ke istana. Sebaliknya bila milik si tuan rumah, maka dia akan kembali lagi ke tempat pesta. Dengan demikian tidak akan terjadi perselisihan karena si emas mengeong telah memilih sendiri siapa tuannya.

Usul tersebut diterima oleh kedua belah pihak. Selanjutnya bersama-sama dengan para tamu mereka membawa Bulava Mpongeo ke Karone. Sampai di sana si emas ajaib dilepas di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Kemudian mereka pulang kembali ke tempat masing-masing tanpa melanjutkan pesta.

Begitu sampai di istana, Sang Raja sudah disambut oleh suara mengeong Bulava Mpongeo. Sekarang tahulah Raja bahwa si emas mengeong memanglah miliknya. Oleh karena itu, dia tidak mempersoalkan lagi mengapa emas tadi bisa sampai di Palu. Baginya, dengan kembalinya Bulava maka persoalan dianggap selesai. Dia tidak ingin masalah perebutan Bulava menjadi berlarut-larut hingga menimbulkan permusuhan.

Sebaliknya, para pencuri yang merasa dipermalukan tidak terima dengan kembalinya Bulava Mpongeo ke istana Raja. Mereka ingin merebut kembali makhluk itu agar kemakmuran tetap terjaga dan orang-orang di sekitar tidak mencemooh. Pencurian kedua dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan akhirnya berhasil mendapatkan Bulava Mpongeo.

Agar tidak dapat keluar rumah, atas nasihat seorang ahli nujum sekujur tubuh Bulava Mpongeo disiram perasan air jeruk. Tetapi akibatnya malah sebaliknya. Secara perlahan kondisi Bulava semakin melemah dan akhirnya mati. Ia tidak dapat lagi melompat ataupun mengeong dan perlahan beralih ujud menjadi seonggok emas bulat. Para pencuri tidak dapat berbuat apa-apa selain menyesal telah menuruti nasihat sang ahli nujum.

Beberapa bulan setelahnya keadaan daerah para pencuri malah memburuk. Tanaman tidak lagi tumbuh subur, kekeringan melanda, dan jumlah hewan ternak berkurang. Atas kesepakatan bersama mereka bersepakat mengembalikan pada pemiliknya walau dalam kondisi sudah mati dan telah menjadi seonggok emas bulat. Alasan pengembalian adalah kematian Bulava Mpongeo membawa kesengsaraan bagi banyak orang.

Ketika para pencuri datang ke istana untuk mengembalikan Bulava Mpongeo Sang Raja tidak banyak bereaksi. Bahkan saat mereka menceritakan mengapa sang makhluk ajaib berubah menjadi onggokan emas, Sang Raja hanya tersenyum (kecut) dan tidak berusaha menyalahkan para pencuri atau ahli nujumnya. Dia lalu memerintahkan para pengawal membawa dan menaruh emas itu di suatu tempat khusus dalam istana.

Konon, walau telah mati Bulava Mpongeo malah benar-benar menjadi benda keramat bagi kerajaan. Dia selalu dimandikan di daerah kuala (tempat ditemukan) apabila kerajaan sedang terjadi kekacauan atau mengalami suatu bencana, seperti kekeringan akibat kemarau panjang, kelaparan, maupun wabah penyakit. Dengan begitu, segala macam wabah maupun kekacauan dapat teratasi.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Lodong Gejlig

Lodong gejlig adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat Sunda yang menggunakan lodong atau bambu besar sebagai alat utamanya. Bambu sendiri adalah tumbuhan jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Tumbuhan ini memiliki banyak fungsi, mulai dari sumber makanan (hewan dan manusia), peralatan rumah tangga, konstruksi bangunan, senjata, transportasi, hingga instrumen musik. Istilah lodong sendiri pada masyarakat Sunda awalnya bukanlah instrumen musik. Ia merupakan peralatan rumah tangga yang digunakan oleh para penyadap kawung untuk menampung air nira atau aren.

Sebelum proses penampungan nira dilakukan, para penyadap akan memeriksa lodong dengan cara menghempaskan ke tanah. Apabila menghasilkan bunyi nyaring, maka lodong diyakini belum bocor dan dapat digunakan. Sebaliknya apabila tidak berbunyi nyaring, berarti ada kebocoran atau keretakan di dalam lodong yang dapat mengakibatkan air nira merembes keluar.

Lambat laun, karena proses kreativitas, bunyi nyaring lodong ketika diketrukeun tersebut dijadikan sebagai sebuah kesenian yang dalam penyajiannya digabungkan dengan alunan gitar akustik. Kesenian baru ini kemudian dinamakan sebagai “tardong”, akronim dari gitar dan lodong. Selanjutnya, agar lebih menarik, penyajian seni tardong ditambah lagi dengan beberapa instrumen lain seperti angklung, kecapi, suling, kendang, dan bahkan keyboard. Namun, karena komponen awal dan yang paling berperan adalah suara lodong yang digejligkeun, maka nama kesenian pun diubah lagi lodong gejlig.

Dalam penyajiannya, seni lodong gejlig menggunakan lodong berukuran kecil untuk menghasilkan nada tinggi dan logong besar untuk nada rendah dan sedang yang dimainkan oleh 12-24 orang laki-laki dan perempuan selama sekitar setengah jam. Adapun lagu-lagu yang dibawakan antara lain lodong gejlig, sampurasun, salawat, dan lain sebagainya.

Foto: https://elib.unikom.ac.id/download.php?id=362293

Anyaman Mendong di Tasikmalaya

Kerajinan anyaman mendong di Kota Tasikmalaya terpusat di tiga kecamatan, yaitu Cibeurem, Tamansari, dan Purbaratu. Menurut Dinas Perindustrian Tasikmalaya di ketiga kecamatan ini terdapat 165 unit tempat pembuatan mendong yang menyerap sekitar 2.055 orang tenaga kerja dengan nilai total produksi sekitar 34,18 miliar rupiah per tahun. Adapun konsumennya tidak hanya dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Surabaya, tetapi juga dari luar negeri seperti Jepang, Australia, Belanda, Malaysia, hingga Timur Tengah.

Hasil produksi kerajinan anyaman mendong antara lain adalah topi, wadah tissue, sandal, tas, tikar, boks, keranjang, dan lain sebagainya sesuai dengan pesanan atau permintaan konsumen. Bahan baku pembuatnya adalah tanaman mendong yang habitatnya sesuai dengan karakteristik agroklimat sebagian zona dataran di wilayah Tasikmalaya yaitu lahan basah seperti sawah atau rawa. Namun saat sekarang tanaman mendong mulai jarang ditemui sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi keseluruhan pesanan. Padahal wilayah Tasikmalaya memiliki sumber air cukup dan bahkan di beberapa tempat sangat melimpah. Oleh karena itu, untuk mengatasinya perajin terpaksa mendatangkan mendong dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibatnya, produksi mendong baru bisa mencukupi kebutuhan kurang lebih 15% dari total pemesanan. Apabila terus berlangsung, bukan tidak mungkin kerajinan mendang suatu saat hanya dijual di sekitaran Tasikmalaya saja atau bahkan didatangkan dari daerah lain.

Foto: https://inilahtasik.com/tag/kerajinan-anyaman-mendong

Sayur Daun Kelor-Labu Peringgi

Bahan
200 gram daun kelor
100 gram labu peringgi
Santan dari 1/3 butir kelapa
Bawang merah dan bawang putih
Cabe merah, daun salam, laos
Garam dan gula pasir secukupnya

Cara membuat
Jerangkan santan dan bumbu yang diiris sampai mendidih, lalu masukkan labu. Kalau sudah empuk masukkan daun kelor. Masak sebentar lalu diangkat.

Makam Syech Abdul Ghorib

Makam Syech Abdul Ghorib berada di Cibeas, Kelurahan Gunung Tandala, Kecamatan Kawalu. Lokasi makam sebenarnya merupakan sebuah komplek yang terdiri dari sembilan makam. Makam-makam tersebut adalah: Syech Abdul Ghorib, Raden Ajeng Ayu Sutri (istri Syech Abdul Ghorib), Raden Paranakusumah (Jaksa Sumedang), Raden Surawijaya (Wedana Cicariang), Raden Inda, Raden Indrajaya (Wedana Manonjaya), Ajengan Nursabin, Raden Abdul Manaf, dan makam Raden Abdulloh (putra Syech Abdul Ghorib).

Selain makam, di bagian utara komplek ini ada sebuah sumur dengan diameter sekitar 1,5 meter yang dikelilinngi tiga buah pohon besar. Oleh karena salah satunya (terbesar) adalah pohon sempur, maka penduduk sekitar menamai sumur itu sebagai Sumur Sempur. Di dekat sumur juga ada sebuah batu besar datar yang konon pernah dijadikan sebagai tempat sholat Syech Abdul Ghorib. Tidak jauh dari sumur ada sebuah sungai kecil yang dahulu airnya berwarna putih seperti cucian beras sehingga dinamakan Sungai Cibeas.

Bagi pengunjung yang ingin berziarah, di depan komplek makam juga menyediakan sarana perparkiran yang cukup luas. Namun untuk dapat memasuki area makam pengunjung harus mematuhi aturan yang dibuat oleh juru kunci (kuncen), yaitu: (1) harus mendaftarkan diri ke kuncen; (2) berziarah atas petunjuk kuncen; (3) berpakaian sopan menurut tata cara sesuai aturan agam Islam; (4) berziarah sesuai dengan ajaan Islam; (5) bertawasullah dengan benar; (6) mengindahkan segala ketentuan terutama mengenai ketertiban, keindahan, keamanan, dan kebersihan; (7) dilarang menulis fisik bangunan makam, benteng, jalan, dan lain sebagainya; (8) harus meminta izin kuncen bila hendak meninggalkan lokasi makam; dan (9) berziarah maksimal 3 hari.

Juru kunci atau kuncen yang membuat aturan di atas merupakan pemeliharan makam yang diangkat secara turun-temurun, sesuai dengan amanat/wasiat kuncen pertama (Bapak Kolot putra Syech Abdul Ghorib), yaitu: (a) makam supaya dipelihara dengan baik; (b) kuncen harus anak dari keturunan kuncen sebelumnya dan masih ada hubungan keluarga dengan Syech Abdul Ghorib; dan (c) area tanah sekitar makam yang luasnya sekitar 21 ha menjadi milik kuncen selama mereka masih mengurus makam.

Amanat ini tetap dilaksanakan dari kuncen kedua hingga ke lima (Anti putra Kolot, Anti putra Anti, Haji Abdurrohman putra Anti, Haji Jarkasih putra Haji Abdurrohman, dan KH Muhjidin cucu Haji Abdurrohman). Tetapi setelah KH Muhjidin menjadi kuncen, wasiat kuncen pertama agak sedikit dirubah. KH Muhjidin membuat wasiat baru yang isinya antara lain melimpahkan wewenang sebagai kuncen kepada adiknya (Odjo Sutarjo) dan kuncen-kuncen yang akan menggantikan selanjutnya diteruskan oleh keturunan dari Odjo Sutarjo.

Lepas dari siapa yang harus melanjutkan menjadi kuncen, yang pasti orang-orang tersebut telah berjasa merawat dan memelihara makam Syech Abdul Ghorib hingga sekarang. Syech Abdul Ghorib sendiri bukanlah orang asli Tasikmalaya. Beliau adalah seorang ulama penyebar ajaran Islam yang lahir di Kudus (waktu itu termasuk daerah Kerajaan Mataram) sekitar tahun 1655 M/1076 H. Semenjak kecil beliau sering berguru dari satu pesantren ke pesantren lain di Pulau Jawa dan Sumatera.

Suatu hari salah seorang gurunya mengajak menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Oleh karena Sang guru telah melihat ada sifat-sifat kewalian pada diri Abdul Ghorib, maka dia memerintahkannya untuk tinggal di Mekkah sambil memper dalam ilmu keagamaan. Beberapa tahun kemudian beliau kembali ke Kudus lalu mendirikan pesatren serta tempat tinggal baru atas bantuan masyarakat sekitar. Setelah terlaksana, oleh kedua orang tua beliau dinikahkan dengan seorang perempuan keturunan keraton yang taat terhadap ajaran Islam bernama Raden Ajeng Ayu Sutri.

Tidak berselang lama setelah pesantren beroperasi meletuslah peperangan melawan Belanda. Syech Abdul Ghorib pun turut bergerilya bersama para santrinya dan warga masyarakat setempat menghalau Belanda yang ingin memperluas daerah kekuasaan. Namun karena persenjataan pasukan Belanda jauh lebih lengkap dan mematikan, lama-kelamaan Syech Abdul Ghorib terdesak dan terpaksa menyingkir. Bersama keluarga, pengikut, dan seorang ajengan bernama Kursiban beliau pindah ke wilayah Jawa Barat.

Sebelum berangkat, beliau sempat berziarah ke makam Syech Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Selesai berziarah barulah ke arah barat menuju Cirebon melalui jalur utara Pulau Jawa untuk bersilaturrahim dengan para pembesar serta pemuka agama dan berziarah ke makam Sultan Fatahilah (Maulana Syarif Hidayatulloh/Sunan Gunung Jati). Hal yang sama juga dilakukannya di Banten (mengunjungi makam Syech Sultan Hasanuddin den bersilaturrahim dengan para pembesar dan alim ulama). Begitu pula ketika singgah di Bogor, beliau mengunjungi Prasasti Batu Tulis, bekas kerajaan Tarumanegara peninggalan Raja Purnawarman dan bersilaturrahim dengan para alim ulama di sana.

Dari ketiga daerah tersebut, Syech Abdul Ghorib mendapat semacam petunjuk agar meneruskan perjalanan menuju daerah Sumedang. Di daerah ini beliau tidak hanya disambut dengan baik, tetapi juga diberikan “guide” seorang petugas dari kejaksaan untuk menjumpai Syech Abdul Muchyi di Pamijahan. Atas petunjuk Syech Abdul Muchyi dari Pamijahan beliau menuju Tasikmalaya untuk mendirikan sebuah pesantren pada sekitar tahun 1708 M/1129 H di wilayah Kewedanaan Cicariang Kolot. Dan, setelah lebih dari 37 tahun, Syech Abdul Ghorib tutup usia pada usia 90 tahun. Seiring berjalannya waktu, makam beliau mulai diziarahi orang dari seluruh pelosok Indonesia.

Foto: https://mediadesa.id/pemkot-tasikmalaya-tak-perhatikan-makam-syekh-abdul-ghorib/

Makam Syech Abdul Muchyi

Syech Abdul Muchyi dipercaya sebagai waliyulloh (wali) penyebar ajaran Islam di dareah Jawa Barat bagian selatan dan bahkan hingga seluruh Pulau Jawa, Madura, dan mancanegara. Oleh karena telah berjasa sebagai penyabar ajaran Islam, setiap bulan Mulud, Rajab, dan Sapar, makamnya selalu diziarahi ribuah orang dari berbagai kota di Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera.

Untuk dapat mengunjung makam Syech Abdul Muchyi, peziarah terlebih dahulu harus melapor kepada juru kunci (kuncen) untuk dicatat pada buku tamu. Setelah itu, peziarah baru diperbolehkan masuk ke komplek makam yang di dalamnya terdapat Goa Saparwadi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari peninggalan sejarah Syech Abdul Muchyi dalam melaksanakan pendidikan dan penyebaran ajaran Islam. Di dalam goa ada ruangan seperti masjid lengkap dengan mihrab, tempat penyimpanan Al Quran, jabal kopiah, padaringan (tempat penyimpanan beras), dan lain sebagainya. Selain itu, ada pula Cikahuripan sebagai representasi air zam-zam yang mengalir di antara bebatuan stalagtit dan stalagmit dalam sebuah lorong panjang yang konon merupakan jalan tembus menuju Cirebon, Surabaya, dan bahkan Mekkah. Dan, bila telah selesai berziarah pengunjung dapat membeli beraneka ragam cindera mata berupa kerajinan tangan khas Kota Tasikmalaya.

Foto: https://daerah.sindonews.com/read/1115873/29/kisah-karomah-syekh-abdul-muhyi-pamijahan-1465637226

Makam Adipati Sakarembong

Makam Adipati Sakarembong berada di Jalan Bantar, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bantarsari. Makam dengan luas area sekitar 500 meter persegi ini merupakan tempat bersemayam Adipati Sekarembong, salah seorang isteri dari Prabudilaya. Prabudilaya sendiri adalah tokoh legendaris penyebar agama Islam pada zaman Kebupatian Sukapura yang berasal dari keturunan Kerajaan Sumedang Larang.

Eyang Sekarembong sebenarnya bukanlah keturunan bangsawan Tasikmalaya. Beliau yang bernama asli Ratu Cempaka adalah putri dari Raja Kerajaan Mataram. Setelah menikah dengan Prabudilaya, Ratu Cempaka menetap di Tasikmalaya untuk menyebarkan ajaran Islam ke segenap penduduk di sana. Dan ketika meninggal dunia, lambat laut makamnya kemudian diziarahi sebagai bentuk penghormatan atas jasanya sebagai penyebar syariah Islam.

Selama menjadi tempat peziarahan, Makam Eyang Sekarembong dibiarkan begitu saja seperti apa adanya. Baru pada sekitar tahun 1975 ada usaha dari juru kunci untuk menjaga dan melestarikan tempat tersebut dengan mendirikan bangunan guna menutup makam. Selain itu, dibangun pula sebuah masjid dengan dana yang dikumpulkan dari hasil sumbangan para peziarah. Masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat menunaikan sholat, melainkan juga tempat istirahat bagi yang berasal dari luar kota. Di dekat masjid dan makam terdapat sebatang pohon beringin yang dibawahnya mengalir sebuah sumber mata air yang tidak pernah kering walau sedang musim kemarau.

Foto: https://www.radartasikmalaya.com/gunakan-sumbangan-peziarah-menata-makam-sakarembong/

Popular Posts