Kabupaten Lampung Tengah

Letak dan Keadaan Alam
Lampung Tengah adalah salah satu kabupaten yang secara administratif termasuk dalam provinsi Lampung dengan batas geografis sebelah utara dengan Kabupaten Tulang Bawang dan Kabupaten Lampung Utara; sebelah timur dengan Kabupaten Tanggamus; sebelah selatan dengan Kabupaten Pesawaran, Kabupaten Lampung Timur, dan Kota Metro; dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lampung Barat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah sekitar 4.789,82 km² dengan titik koordinat 40° 30’ – 40° 15’ Lintang Selatan dan 104° 35’ – 105° 50’ Bujur Timur.

Kabupaten Lampung Tengah terdiri atas 28 Kecamatan yang mencakup 16 kelurahan serta 298 pekon (desa). Ke-15 kecamatan itu beserta luasnya adalah sebagai berikut: (1) Kecamatan Padang Ratu beribukota di Haduyang Ratu terdiri atas 15 pekon seluas 204,44 km2 (4,27%); (2) Kecamatan Selagai Lingga beribukota di Negri Katon terdiri atas 14 pekon seluas 308,52 km2 (6,44%); (3) Kecamatan Pubian beribukota di Negri Kepayungan terdiri atas 20 pekon seluas 173,88 km2 (3,63%); (4) Kecamatan Anak Tuha beribukota di Negara Aji Tua terdiri atas 12 pekon seluas 161,64 km2 (3,37%); (5) Kecamatan Anak Ratu Aji beribukota di Gedung Sari terdiri atas 6 pekon seluas 68,39 km2 (1,43%); (6) Kecamatan Kali Rejo beribukota di Kelirejo terdiri atas 16 pekon dan 1 kelurahan seluas 101,31 km2 (2,12%); (7) Kecamatan Sendang Agung beribukota di Sendang Agung terdiri atas 9 pekon seluas 108,89 km2 (2,27%); (8) Kecamatan Bangun Rejo beribukota di Bangun Rejo terdiri atas 16 pekon dan 1 kelurahan seluas 132,63 km2 (2,77%); (9) Kecamatan Gunung Sugih beribukota di Gunung Sugih terdiri atas 13 pekon dan 2 kelurahan seluas 130,12 km2 (2,72%); (10) Kecamatan Bekri beribukota di Kusumadadi terdiri atas 8 pekon seluas 95,51 km2 (1,95%); (11) Kecamatan Bumi Ratu Nuban beribukota di Bulusari terdiri atas 10 pekon seluas 65,14 km2 (1,36%); (12) Kecamatan Trimurjo beribukota di Simbarwaringin terdiri tas 14 pekon seluas 68,43 km2 (1,43%); (13) Kecamatan Punggur beribukota di Tanggul Angin terdiri atas 7 pekon dan 2 kelurahan seluas 118,45 km2 (2,47%); (14) Kecamatan Kota Gajah beribukota di Kota Gajah terdiri atas 4 pekon dan 3 kelurahan seluas 68,05 km2 (1,42%); (15) Kecamatan Seputih Raman beribukota di Rukti Harjo terdiri atas 14 pekon seluas 146,65 km2 (3,06%); (16) Kecamatan Terbanggi Besar beribukota di Terbanggi Besar terdiri atas 6 pekon dan 4 kelurahan seluas 208,65 km2 (4,36%); (17) Kecamatan Seputih Agung beribukota di Dono Arum terdiri atas 10 pekon seluas 122,27 km2 (2,55%); (18) Kecamatan Pengubuan beribukota di Tanjung Ratu Ilir terdiri atas 7 pekon dan 1 kelurahan seluas 210,72 km2 (4,40%); (19) Kecamatan Terusan Nunyai beribukota di Gunung Batin Ilir terdiri atas 5 pekon dan 2 kelurahan seluas 302,05 km2 (6,31%); (20) Kecamatan Mataram beribukota di Kurnia Mataram terdiri atas 12 pekon seluas 120,02 km2 (2,51%); (21) Kecamatan Bandar Mataram beribukota di Jati Datar terdiri atas 12 pekon seluas 1.055,28 km2 (22,03%); (22) Kecamatan Seputih Banyak beribukota di Tanjung Harapan terdiri atas 13 pekon seluas 145,92 km2 (3,05%); (23) Kecamatan Way Seputih beribukota di Suko Binangun terdiri atas 6 pekon seluas 77,84 km2 (1,63%); (24) Kecamatan Rumbia beribukota di Reno Basuki terdiri atas 9 pekon seluas 106,09 km2 (2,21%); (25) Kecamatan Bumi Nabung beribukota di Bumi Nabung Ilir terdiri atas 7 pekon seluas 108,94 km2 (2,27%); (26) Kecamatan Putra Rumbia beribukota di Binakarya Utama terdiri atas 10 pekon seluas 95,02 km2 (1,98%); (27) Kecamatan Seputih Surabaya beribukota di Gaya Baru Satu terdiri atas 13 pekon seluas 144,60 km2 (3,02%); dan (28) Kecamatan Bandar Surabaya beribukota di Surabaya Ilir terdiri atas 10 pekon dengan luas 142,39 km2 (2,97%) (BPS Kabupaten Lampung Tengah, 2017).

Topografi Kabupaten Lampung Tengah bervariasi mulai dari dataran rendah hingga tinggi (perbukitan dan pegunungan). Dataran rendah yang ketinggiannya 0,1-100 meter dari permukaan air laut menempati hampir seluruh wilayah. Oleh karena itu tidak heran apabila Lampung Tengah dialiri oleh belasan buah sungai, di antaranya: Way Waya, Way Ketaya, Kali Pasir, Way Besi, Kali Maeas, Way Tipo, Way Seputih, Way Pengubuan, Way Tetayan, Way Pubian, Kali Punggur, Way Sekampung, Way Raman, Way Bening, Way Keliwang, Way Buring, Way Pengubuan, dan Way Pengaduan. Sedangkan dataran di atas 1.001 meter dari permukaan air laut hanya di sekitar Gunung Anak (1614 meter), dan Gunung Tangkitangan (1.613 meter).

Iklim yang menyelimuti daerahnya sama seperti daerah lain di Indonesia, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, penghujan dan kemarau. Musim penghujan biasanya dimulai pada Oktober - Maret, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April - September. Curah hujannya rata-rata 2.500-3.000 milimeter per tahun. Sedangkan, temperaturnya rata-rata 20-30 Celcius. Sesuai dengan iklimnya yang tropis maka flora yang ada di sana pada umumnya sama dengan daerah-daerah lain di Indonesia, seperti: jati, kelapa, bambu, tanaman buah (seperti rambutan, manggis, duku, kopi, dan durian), padi, dan tanaman palawija (jagung, kedelai, singkong, dan mentimun). Fauna yang ada di wilayah kabupaten ini seperti yang biasa diternakan oleh masyarakat di Indonesia pada umumnya.

Pemerintahan
Pada masa pemerintahan Belanda, Lampung Tengah merupakan Onder Afdeling Sukadana yang dikepalai seorang Controleur berkebangsaan Belanda dan dibantu Demang bangsa pribumi. Afdeling ini terdiri dari tiga distrik, yaitu: Onder Distrik Sukadana (Marga Sukadana, Marga Tiga, Marga Nuban, dan Marga Unyai Way Seputih), Onder Distrik Labuhan Meringgai (Marga Sekampung Ilir, Sekampung Udik, dan Marga Subing Labuhan), dan Onder Distrik Gunung Sugih (Marga Unyi, Subing, Anak Tuha, serta Marga Pubian).

Ketika Jepang berkuasa Lampung Tengah menjadi wilayah Bun Shu Metro yang terbagi dalam beberapa Gun Shu, marga-marga, dan kampung-kampung. Setelah Indonesia merdeka, melalui Peraturan Peralihan pasal 2 UUD 1945 Bun Shu Metro berubah menjadi Kabupaten Lampung Tengah dengan bupati pertama Burhanuddin (1945-1948). Pada masa ini sistem pemerintahan masih berdasarkan marga-marga sebelum dikeluarkannya Undang-undang Darurat No.4 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Sumatera Selatan mulai diberlakukan.

Dalam Undang-undang tersebut salah satunya memuat sistem pemerintahan negeri yang dipimpin oleh Kepala Negeri pilihan Dewan Negeri dan Kepala Kampung. Kepala Negeri membawai sembilan Negeri, yaitu Tirmurjo, Metro, Pekalongan, Tribawono, Sekampung, Sukadana, Labuhan Meringgai, Way Seputih, dan Seputih Barat. Namun, karena sistem pemerintahan negeri dirasa kurang sesuai, pada tahun 1972 Gubernur Lampung mengeluarkan kebijakan menghapusnya secara bertahap dengan cara tidak lagi mengangkat kepala negeri setelah habis masa jabatan. Dan, dengan berakhirnya pemerintahan negeri, berlakulah Undang-undang No.5 tahun 1979 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Desa.

Pada masa Orde Baru, wilayah Kabupaten Lampung Tengah meliputi satu kota administratif, dua buah lembaga pembantu bupati, 24 kecamatan, dan 504 desa/kelurahan. Kemudian ditambah dengan Kecamatan Terusan Nunyai (pemekaran Kecamatan Terbanggi Besar) berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 46 tahun 1999. Selanjutnya, masih di tahun yang sama berdasar UU RI Nomor 12 Tahun 1999 diadakan pemekaran sehingga wilayah Kabupaten Lampung Tengah semula memiliki luas 9.189,50 km² menjadi hanya sekitar 4.789,82 km² (id.wikipedia.org).

Hasil pemekaran berupa terbentuknya kabupaten baru yaitu Lampung Timur. Selain itu, ibukota kabupaten yang semula berada di Metro harus dipindahkan ke wilayah Gunung sugih karena Metro menjadi sebuah kotamadya. Selanjutnya Lampung Tengah hanya memiliki 13 buah kecamatan karena sebagian di antaranya masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Timur, yaitu: Sukadana, Metro Kibang, Pekalongan, Way Jepara, Labuhan Meringgai, Batanghari, Sekampung, Jabung, Purbolinggo, dan Raman Utara.

Sedangkan kecamatan yang masih tetap berada dalam wilayah Lampung Tengah adalah: Gunung Sugih, Terbanggi Besar, Seputih Mataram, Punggur, Seputih Raman, Seputih Banyak, Rumbia, Seputih Surabaya, Trimurjo, Padang Ratu, Bangun Rejo, Kali Rejo, dan Terusan Mumyai. Sebagian kecamatan tadi dimekarkan lagi berdasar Perda Kabupaten Lampung Tengah No. 10 tahun 2001 menjadi 13 kecamatan baru, yaitu: Bumi Ratu Nuban, Bekri, Seputih Agung, Way Pengubuan, Bandar Mataram, Pubian, Selagai Lingga, Anak Tuha, Sendang Agung, Kota Gajah, Bumi Nabung, Way Seputih, dan Bandar Surabaya. Selanjutnya berdasarkan Perda Kabupaten Lampung Tengah No. 6 Tahun 2005 dibentuk Kecamatan Anak Ratu Aji dan terakhir berdasar Perda No. 15 Tahun 2006 dibentuk Kecamatan Putra Rumbia (id.wikipedia.org)

Sebagaimana wilayah lain di Indonesia, Kabupaten Lampung Tengah juga memiliki lambang daerah. Adapun bentuknya menyerupai perisai bersudut lima berwarna dasar hijau yang menggambarkan alat untuk mempertahankan cita-cita dan perjuangan serta Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia. Segilima juga bermakna sebagai lima prinsip masyarakat Lampung yaitu piil pesengiri, sakai sambayan, nemui nyimah, nengah nyapur, dan bejuluk beadek. Sedangkan warna dasar hijau melambangkan kesuburan dan kedamaian.

Di dalam lambang terdapat gambar-gambar sebagai berikut: (a) bendera merah putih yang melambangkan Kabupaten Lampung Tengah adalah bagian tak terpisahkan dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia; (b) empat buah payung agung melambangkan kehormatan, pengayom, dan budaya masyarakat Lampung Tengah. Setiap payung memiliki warna dengan makna khusus. Warna merah melambangkan keberanian keperwiraan dan patriotisma. Warna kuning bermakna keagungan, kekuasaan, dan kejayaan, warna putih melambangkan kesucian dan kebersihan jiwa; dan warna hitam melambangkan kekuatan serta keabadian; (c) kursi pepadun bermotif hewan dan tumbuhan memaknakan kehormatan dalam adat serta kedaulatan rakyat yang menjadi hak setiap warga; (d) pita putih bertuliskan Jurai Siwo melambangkan identitas kebudayaan masyarakat Lampung Tengah yang terdiri atas sembilan marga; dan (e) 17 butir padi serta 8 buah kapas melambangkan kemakmuran dan semangat dalam mengisi kemerdekaan (www.kemendagri.go.id).
Selain itu, Kabupaten Lampung Tengah juga memiliki visi yaitu sebagai lumbung pangan yang aman, maju, adil, sejahtera, dan berkelanjutan. Sedangkan misinya yang dikutip dari scribd.com adalah: meningkatkan keamanan, ketertiban, keadilan, dan keberagaman budaya; membangun dan meningkatkan infrastruktur strategis berbasis pengembangan wilayah yang terpadu; membangun ekonomi kerakyatan berbasis agribisnis dan ekonomi kreatif dengan melibatkan partisipasi industri; meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan sesuai potensi dan kearifan lokal; mengelola fungsi sumberdaya alam dan lingkungan berbasis pertanian berkelanjutan; dan menyelenggarakan tata kelola pemerintahan yang baik dan prorakyat.

Kependudukan
Penduduk Lampung Tengah berdasarkan data dari BPS Kabupaten Lampung Tengah (sensus tahun 2016) berjumlah 1.250.486 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 339.317. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah penduduk laki-lakinya mencapai 636.688 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan mencapai 613.798 jiwa. Para penduduk ini tersebar di 28 kecamatan, yaitu: Padang Ratu dihuni oleh 49.464 jiwa, terdiri dari laki-laki 25.274 jiwa dan perempuan 24.190 jiwa; Selagai Lingga dihuni oleh 33.328 jiwa (laki-laki 17.151 jiwa dan perempuan 16.177 jiwa); Pubian 42.123 jiwa (laki-laki 21.498 jiwa dan perempuan 20.625); Anak Tuha 37.558 jiwa (laki-laki 19.065 jiwa dan perempuan 18.493 jiwa); Anak Ratu Aji 16.017 jiwa (laki-laki 8.213 jiwa dan perempuan 7.804 jiwa); Kalirejo 66.921 jiwa (laki-laki 34.179 jiwa dan perempuan 32.742 jiwa); Sendang Agung 37.592 jiwa (laki-laki 19.293 jiwa dan perempuan 18.299 jiwa); Bangun Rejo 57.291 jiwa (laki-laki 29.086 jiwa dan perempuan 28.205 jiwa); Gunung Sugih 67.470 jiwa (laki-laki 34.214 jiwa dan perempuan 33.256 jiwa); Bekri 26.901 jiwa (laki-laki 13.602 jiwa dan perempuan 13.299 jiwa); Bumi Ratu Nuban 31.048 jiwa (laki-laki 15.882 jiwa dan perempuan 15.166 jiwa); Trimurjo 51.414 jiwa (laki-laki 25.238 jiwa dan perempuan 26.176 jiwa); Punggur 38.960 jiwa (laki-laki 19.830 jiwa dan perempuan 19.130 jiwa); Kota Gajah 33.638 jiwa (laki-laki 17.015 jiwa dan perempuan 16.623 jiwa); Seputih Raman 48.749 jiwa (laki-laki 24.511 jiwa dan perempuan 24.238 jiwa); Terbanggi Besar 119.127 jiwa (laki-laki 59.808 jiwa dan perempuan 59.319 jiwa); Seputih Agung 49.777 jiwa (laki-laki 25.198 jiwa dan perempuan 24.579 jiwa); Way Pengubuan 42.803 jiwa (laki-laki 21.558 jiwa dan perempuan 21.245 jiwa); Terusan Nuyai 44.349 jiwa (laki-laki 22.537 jiwa dan perempuan 21.812 jiwa); Seputih Mataram 48.030 jiwa (laki-laki 24.418 jiwa dan perempuan 23.612 jiwa); Bandar Mataram 77.572 jiwa (laki-laki 40.515 jiwa dan perempuan 37.057 jiwa); Seputih Banyak 45.058 jiwa (laki-laki 22.812 jiwa dan perempuan 22.246 jiwa); Way Seputih 18.395 jiwa (laki-laki 9.337 jiwa dan perempuan 9.058 jiwa); Rumbia 35.641 jiwa (laki-laki 18.326 jiwa dan perempuan 17.315 jiwa); Bumi Nabung 32.102 jiwa (laki-laki 16.451 jiwa dan perempuan 15.651 jiwa); Putra Rumbia 18.274 jiwa (laki-laki 9.417 jiwa dan perempuan 8.857 jiwa); Seputih Surabaha 46.730 jiwa (laki-laki 23.809 jiwa dan perempuan 22.921 jiwa); serta Kecamatan Bandar Surabaya dihuni oleh 34.154 jiwa yang terdiri atas 17.513 orang laki-laki dan 16.641 orang perempuan.

Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk yang berusia 0-4 tahun ada 115.351 jiwa, kemudian yang berusia 5-9 tahun ada 113.913 jiwa, berusia 10-14 tahun ada 109 620 jiwa, berusia 15-19 tahun ada 102 821 jiwa, berusia 20-24 tahun ada 94 563 jiwa, berusia 25-29 tahun ada 97 643 jiwa, berusia 30-34 tahun ada 102 137 jiwa, berusia 35-39 tahun ada 101 493 jiwa, berusia 40-44 tahun ada 92 841 jiwa, berusia 45-49 tahun ada 82 833 jiwa, berusia 50-54 tahun ada 69 139 jiwa, berusia 55-59 tahun ada 54 242 jiwa, berusia 60-64 tahun ada 39 512 jiwa, berusia 65-69 ada 27 741 jiwa, berusia 70-74 ada 21 193 jiwa, dan yang berusia 75 tahun ke atas ada 25 444 jiwa dari jumlah total penduduk. Ini menunjukkan bahwa penduduk Lampung Tengah sebagian besar berusia produktif.

Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai sebuah kabupaten, Lampung Tengah tentu saja memiliki sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai bagi masyarakatnya. Adapun sarana pendidikan yang terdapat di kabupaten ini berdasar data dari referensi.data.kemdikbud.go.id, adalah: 678 buah Sekolah Dasar dengan jumlah siswa sebanyak 121.068 orang dan 9.529 tenaga pengajar; dan 79 buah Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah siswa sebanyak 28.281 orang dan 3.045 orang tenaga pengajar; 21 buah sekolah menengah atas dengan jumlah siswa sebanyak 8.775 orang dan 978 orang tenaga pengajar; 8 buah sekolah menengah kejuruan dengan jumlah siswa 3.642 orang dan 380 orang tenaga pengajar; 176 Madrasah Diniah dengan jumlah siswa sebanyak 10.698 orang dan 565 orang tenaga pengajar; 73 buah Madrasah Ibtidaiyah dengan jumlah siswa sebanyak 9.141 orang dan 907 orang tenaga pengajar; dan 87 buah Madrasah Tsanawiyah dengan jumlah siswa sebanyak 16.748 orang dan 73 1677 orang tenaga pengajar.

Sementara untuk sarana kesehatan terdapat 8 buah rumah sakit, 1 buah rumah bersalin, 38 buah puskesmas, 408 buah Posyandu, dan 26 buah balai kesehatan. Berdasarkan data yang tercatat pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Tengah tahun 2017 tercatat 1.406 tenaga kesehatan, terdiri atas: 126 dokter umum, 26 dokter gigi, 82 dokter spesialis, 424 tenaga keperawatan, 705 tenaga kebidanan, 12 tenaga kefarmasian, dan 31 orang tenaga kesehatan lainnya (BPS Kabupaten Lampung Tengah, 2017).

Perekonomian
Letak Kabupaten Lampung Tengah yang relatif jauh dari ibukota provinsi (Bandarlampung) membuat perekonomian mayoritas penduduknya masih mengandalkan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut data dari BPS Kabupaten Lampung Tengah tahun 2016, hanya sebagian kecil lahan saja yang digunakan sebagai areal perumahan. Selebihnya, merupakan lahan pertanian, perladangan, dan kolam, dengan rincian: padi sawah seluas 80.814 ha, padi irigasi teknis seluas 56.659 ha, jagung seluas 49.580 ha, kedelai seluas 303 ha, kacang tanah seluas 661 ha, kacang hijau seluas 236 ha, ubi kayu seluas 60.716 ha, ubi jalar seluas 289 ha, petsai seluas 56 ha, kacang panjang seluas 538 ha, cabe besar seluas 642 ha, cabe rawit seluas 148 ha, tomat seluas 184 ha, kangkung seluas 532 ha, bayam seluas 463 ha, terung seluas 475 ha dan mentimun seluas 388 ha.

Sosial Budaya
Saat ini penduduk Lampung Tengah terdiri dari berbagai etnik, di antaranya: Lampung, Jawa, Sunda, Bali, dan lain sebagainya. Beragamnya etnik tersebut tidak lepas dari peran pemerintah dalam rangka pemerataan pembangunan demi tercapainya asimilasi dan integrasi bangsa. Desaterbanggibesarlampungtengah.blogspot.com mencatat, ketika Indonesia baru merdeka (selama tahun 1952 hingga 1970) pada 24 objek transmigrasi daerah Lampung telah ditempatkan sebanyak 53.607 KK atau 221.181 jiwa. Empat objek di antaranya berada di Kabupaten Lampung Tengah dengan jatah penempatan sebanyak 6.189 KK atau 26.538 jiwa.

Mereka umumnya menempati tanah-tanah marga milik penduduk lokal ataupun lahan bekas kolonisasi pemerintah Hindia Belanda yang diserahkan kepada Direktorat Transmigrasi. Selanjutnya, areal transmigrasi tersebut diserahkan kembali pada pemerintah daerah bersangkutan untuk dilakukan pembinaan dan pengembangannya. Hasilnya, seiring peningkatan, penyebaran dan pemerataan penduduk, terbentuklah keanekaragaman sukubangsa di Provinsi Lampung, termasuk di Kabupaten Lampung Tengah.

Di Lampung Tengah, selain penduduk asli, sebagian wilayahnya dihuni oleh transmigran yang berasal dari bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Mereka mayoritas beragama Islam dan sebagian lagi Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Kemudian ada pula sukubangsa Sunda (Jawa Barat) walau jumlahnya tidak sebanyak sukubangsa Jawa. Sementara transmigran yang berasal dari luar Pulau Jawa mayoritas adalah orang Bali yang mendiami beberapa kecamatan di wilayah bagian timur. Penduduk pendatang lain yang ikut pula menetap berasal dari sukubangsa Bugis dan Makassar. Mereka umumnya bermukim di sekitar pesisir pantai, terutama di Kecamatan Bandar Surabaya. Terakhir, adalah orang-orang yang datang dari Pulau Sumatera sendiri, seperti Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

Dengan adanya bermacam sukubangsa tadi tentu saja kehidupan sosial budaya di Kabupaten Lampung Tengah relatif beragam. Setiap sukubangsa selalu membawa unsur-unsur kebudayaannya sehingga membentuk semacam Indonesia mini. Hal yang mencolok dari keragaman tadi, selain bahasa, juga pada kesenian tradisional yang kerap ditampilkan pada acara-acara tertentu (perkawinan, sunatan, dan upacara daur hidup lainnya).

Sementara masyarakat asli Lampung sendiri (bukan transmigran atau pendatang) terbagi dalam dua adat besar yaitu Saibatin dan Pepadun. Penduduk yang beradat Saibatin umumnya tinggal di sepanjang pesisir selatan hingga barat provinsi ini, sedangkan penduduk beradat Pepadun bermukim di daerah pedalaman sebelah barat Bukit Barisan. Masyarakat adat Saibatin atau disebut juga Peminggir (karena bermukim di pinggir pantai) terdiri atas Paksi Pak (Buay Belunguh, Buay Pernong, Buay Bejalan Di Way, Buay Nyerupa, Buay Lapah) dan Komering-Kayuagung. Mereka mendiami sebelas wilayah adat, yaitu: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Belalau, Liwa, dan Ranau.

Sedangkan masyarakat pendukung adat Pepadun menurut seandanan.wordpress.com, terdiri atas: (1) Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagi, dan Nyerupa) yang mendiami tujuh wilayah adat, yaitu Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Meringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi; (2) Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, dan Puyang Tegamoan) yang mendiami empat wilayah adat, yaitu Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga; (3) Pubian Teluk Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak, dan Hulu atau Suku Bukujadi) yang mendiami delapan wilayah adat, yaitu Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung; (4) Sungkai-Way Kanan Buay Lima atau lima keturunan Raja Tijang Jungur, terdiri dari Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, dan Barasakti. Mereka mendiami sembilan wilayah adat, yaitu Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Berdasarkan pembagian marga dan wilayah adat tersebut, maka dapat dikatakan masyarakat Lampung Tengah sebagian besar adalah pendukung adat Pepadum. Sebagai sebuah kesatuan adat, orang Pepadun tentu mengembangkan kebudayaan tersendiri sebagai pedoman bagi kehidupan bersama. Misalnya, dalam sistem kekerabatan mereka menganut prinsip patrilineal yang mengikuti garis keturunan dari kaum laki-laki. Oleh karena itu, dalam sebuah keluarga kedudukan adat tertinggi berada pada anak laki-laki tertua dari keturunan tertua yang disebut Penyimbang. Seseorang yang memperoleh gelar dan status sebagai penyimbang akan sangat dihormati dalam masyarakatnya karena menjadi penentu dalam setiap proses pengambilan keputusan adat. Sementara kesatuan hidup masyarakatnya tercermin dalam ikatan kekerabatan yang menganut sistem keluarga luas (extended family). Ikatan kekerabatan didasarkan pada hubungan keturunan (ikatan darah), ikatan perkawinan, ikatan mewarei (pengangkatan saudara), dan ikatan berdasarkan pengangkatan anak (adopsi).

Mereka juga memiliki falsafah hidup yang disebut sebagai piil pesenggiri dengan elemen budaya juluk adek, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan. Adapun artinya menurut lampungtengah.go.id, Juluk adek adalah pemberian gelar kepada seseorang ditetapkan berdasarkan kesepakatan keluarga satu kebuwaiyan (seketurunan) dengan pertimbangan antara lain, status atau kedudukan yang bersangkutan dalam keluarga batih, mengacu pada gelar atau nama dalam keturunan dua atau tiga tingkat ke atas (secara genealogis). Juluk adek merupakan hak bagi anggota masyarakat Lampung, oleh karena itu juluk adek merupakan identitas utama yang melekat pada pribadi yang bersangkutan. Juluk adek merupakan azas identitas dan sebagai sumber motivasi bagi anggota masyarakat Lampung untuk dapat berkarya lebih produktif.

Nemui nyimah, secara harafiah diartikan sebagai sikap pemurah, terbuka, suka memberi, dan menerima dalam arti material sesuai dengan kemampuan. Nemui nyimah merupakan ungkapan azas kekeluargaan untuk menciptakan suatu sikap keakraban dan kerukunan serta silaturahmi. Nemui nyimah merupakan kewajiban bagi suatu keluarga dan masyarakat Lampung pada umumnya, dan khususnya masyarakat hukum adat Lampung Saibatin untuk tetap menjaga silaturahmi, di mana ikatan keluarga secara genealogis selalu tetap terpelihara dengan prinsip keterbukaan, kepantasan, dan kewajaran. Unsur nemui nyimah pada hakekatnya didasari rasa keikhlasan dari lubuk hati terdalam, untuk menciptakan kerukunan hidup berkeluarga serta bermasyarakat. Bentuk konkrit nemui nyimah dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini, lebih tepat diterjemahkan sebagai sikap keperdulian sosial dan rasa kesetiakawanan. Suatu keluarga yang memiliki keperdulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan, tentunya akan berpandangan luas, berpandangan jauh ke depan, dengan motivasi kerja keras, jujur, dan tidak merugikan orang lain.

Nengah nyappur, menggambarkan bahwa anggota masyarakat Lampung mengutamakan rasa kekeluargaan dan didukung dengan sikap suka bergaul serta bersahabat dengan siapa saja, tanpa membedakan suku bangsa, agama, status sosial, asal-usul, dan golongan. Sikap suka bergaul dan bersahabat menumbuhkan semangat suka bekerja sama, tenggang rasa (toleransi) yang tinggi antar sesamanya. Sikap toleransi akan menumbuhkan sikap ingin tahu, mau mendengarkan nasehat orang lain, memacu semangat kreativitas dan tanggap terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu kesimpulan dari sikap nengah nyappur menunjuk kepada nilai musyawarah untuk mufakat. Sikap nengah nyappur melambangkan sikap nalar yang baik, tertib, dan sekaligus merupakan embrio dari kesungguhan untuk meningkatkan pengetahuan serta sikap adaptif terhadap perubahan. Melihat kondisi kehidupan masyarakat Lampung Selatan yang pluralistik, maka dapat dipahami bahwa penduduk daerah ini telah menjalankan prinsip hidup nengah nyappur secara wajar dan positif. Dengan demikian berarti masyarakat Lampung pada umumnya dituntut kemampuannya untuk dapat menempatkan diri pada posisi yang wajar, yakni dalam arti sopan dalam sikap perbuatan serta santun dalam tutur kata. Makna yang lebih dalam adalah harus siap mendengarkan, menganalisis, dan harus siap menyampaikan informasi dengan tertib dan bermakna.

Sakai sambayan, berarti tolong menolong dan gotong royong, yakni memahami makna kebersamaan atau guyub. Sakai sambayan pada hakekatnya adalah menunjukkan rasa partisipasi dan solidaritas yang tinggi terhadap berbagai kegiatan sosial pada umumnya. Sebagai masyarakat Lampung akan merasa kurang terpandang, apabila tidak mampu berpartisipasi dalam suatu kegiatan kemasyarakatan. Perilaku ini menggambarkan sikap toleransi kebersamaan, sehingga seseorang akan memberikan apa saja secara suka rela apabila pemberian tersebut memiliki nilai manfaat bagi orang atau anggota masyarakat lain yang membutuhkan. Mengenai hukum adat yang berisi keharusan, kebolehan, dan larangan (cempala), dalam pergaulan sehari-hari senantiasa dituangkan dalam perilaku sopan santun, berdasarkan kelaziman dan kebiasaan secara turun temurun. Kelaziman dan kebiasaan ini pada hakekatnya menggambarkan bahwa masyarakat adat Lampung Saibatin mempunyai tatanan kehidupan sosial yang teratur. Prinsip hidup yang terkandung dalam cempala merupakan pedoman dalam pelaksanaan pengawasan terhadap sikap perilaku, yang melahirkan nilai kebaikan konkrit dan terbentuknya tatanan hukum sesuai dengan kebutuhan hidup masyarakat. Tata nilai budaya masyarakat hukum adat Lampung Saibatin sebagaimana diuraikan di atas, pada dasarnya merupakan kebutuhan hidup dasar bagi seluruh anggota masyarakat setempat, agar tetap survive secara wajar dalam membina kehidupan dan penghidupannya, yang tercermin dalam tata kelakuan sehari-hari baik secara pribadi, ataupun bersama dengan anggota kelompok masyarakat maupun bermasyarakat secara luas. (ali gufron)

Sumber:
"Sejarah Lampung Tengah", diakses dari http://www.lampungtengah.go.id/lamteng/index. php?option=displaypage&Itemid=130&op=page&SubMenu=, tanggal 15 Agustus 2017.

"Desa Terbanggi Besar Lampung Tengah", diakses dari http://desaterbanggibesarlampung tengah.blogspot.com/p/gambaran-umum.html, tanggal 17 Agustus 2017.

BPS Kabupaten Lampung Tengah. 2017. Lampung Tengah Dalam Angka 2017. Gunung Sugih, Badan Pusat Statistik Kabupaten Lampung Tengah.

"Kebupaten Lampung Tengah", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_ Lampung_Tengah, tanggal 30 Juni 2018.

"Profil Daerah Kabupaten Lampung Tengah" diakses dari http://www.kemendagri. go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/18/name/lampung/detail/1802/lampung-tengah, tanggal 25 Juni 2018.

"Visi dan Misi Lampung Tengah", diakses dari https://www.scribd.com/document/ 339273689/Visi-Dan-Misi-Lampung-Tengah, tanggal 25 Juni 2018.

Hadikusuma, Hilman. 1989. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.

"Jumlah Data Satuan Pendidikan (Sekolah) per Kabupaten Kota: Kab. Lampung Tengah:", diakses dari http://referensi.data.kemdikbud.go.id/index11.php?kode=120200&level=2, tanggal 24 Juni 2018.

"Adat Masyarakat Lampung", diakses dari http://seandanan.wordpress.com/ada/, tanggal 3 September 2017.

Gabing

Dalam dunia tumbuhan kelapa (cocos nucifera) termasuk marga cocos dari suku aren-arenan (arecaceae). Tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) ini bercirikan batang tidak bercabang, daun menyirip dan berakar serabut. Oleh masyarakat Indonesia pohon kelapa dianggap serbaguna karena hampir seluruh bagiannya mulai dari pucuk hingga akar dapat dimanfaatkan.

Bagian daun misalnya, dapat sebagai bahan atap rumah sementara batang daun untuk dijadikan sapu lidi dan tusuk sate. Buah kelapa dapat dapat dijadikan bahan makanan, obat dan minuman. Sementara kulit buahnya (sabut) dapat menjadi alas kaki dan pembersih peralatan dapur. Bagian batok dapat menjadi bahan bakar (arang) dan bahan kerajinan tangan. Akarnya pun juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan bernilai seni. Sedangkan batangnya dapat berfungsi sebagai bahan pembuat rumah, kayu bakar, dan lain sebagainya.

Khusus di daerah Lampung, batang kelapa yang masih sangat muda dapat pula dibuat menjadi masakan yang disebut gabing. Gabing disajikan berkuah menyerupai opor karena salah satu racikannya menggunakan bumbu opor. Adapun bahan lain, di antaranya: santan, cabe rawit, udang, dan cempokak. Sedangkan cara mengolahnya diawali dengan mengiris tipis batang kelapa muda dengan ukuran sesuai selera. Selanjutnya rebus irisan tadi hingga empuk lalu angkat dan tiriskan. Kemudian rebus irisan dalam campuran bumbu opor, satan, cabe rawit, udang, dan cempokak. Bila telah matang gabing siap disajikan.

Foto: https://triplampungku.blogspot.com/2017/07/nikmatnya-gulai-gabing-yang-menggoda.html

Engkak

Engkak merupakan salah satu jenis kuih-muih yang populer di daerah Sumatera Selatan dan Lampung. Kue lembut-manis berbentuk persegi empat berbahan ketan ini dibuat secara berlapis menggunakan loyang atau cetakan. Engkak dibuat dari berbagai macam bahan, yaitu tepung ketan putih, gula pasir, telur ayam, santan kelapa, susu kental manis, dan mentega. Adapun cara membuatnya diawali dengan mencampur telur dan gula dalam baskom lalu dikocok hingga mengembang. Selanjutnya campuran telur dan gula tadi ditambah dengan tepung ketan putih, santan, dan susu kaleng. Bila adonan telah tercampur merata, langkah berikutnya adalah menuangnya ke dalam loyang yang telah diolesi mentega untuk dipanggang. Penuangan adonan tidak dilakukan sekaligus, melainkan selapis demi selapis dengan suhu panggangan yang berbeda-beda. Dan, bila telah masak dan didinginkan, kue engkak pun siap disajikan.

Kakumbut

Kakumbut atau kandung adalah selendang yang dililitkan sebagai ikat kepala bagi kaum perempuan dewasa atau tua di daerah Lampung. Selain berfungsi sebagai penahan panas matahari kakumbut juga berfungsi sebagai kelengkapan pakaian resmi saat menghadiri acara adat atau gawi adat. Kakumbut terkadang juga digunakan oleh kaum ibu sebagai alat untuk menggendong bayi.

Terumpah

Terumpah atau gappar adalah sebutan orang Lampung bagi alat pelapis kaki untuk berjalan yang dibuat dari kayu atau papan tebal. Cara membuat terumpah adalah dengan memotong atau membelah kayu yang telah dipersiapkan. Kemudian diberi lekukan sesuai dengan telapak kaki dan dipatok pada bagian depan untuk jepitan jari kaki. Terumpah saat ini jarang dipakai oleh orang Lampung karena fungsinya berangsur-angsur tergantikan oleh sandal yang diproduksi pabrik.

Agrowisata Bhumi Merapi

Agrowisata Bhumi Merapi berada di Jalan Kaliurang Km. 20, Sawangan, Kabupaten Slemen, Yogyakarta. Untuk mencapainya relatif mudah karena lokasinya (Kaliurang/lereng Gunung Merapi) adalah merupakan salah satu daerah tujuan wisata favorit di Yogyakarta. Di daerah tersebut banyak terdapat objek wisata, antara lain: Museum Gunung Merapi, Blue Lagoon Jogja, Tlogo Putri, Tlogo Muncar, Museum Ullen Sentalu, Wisata Edukasi Omah Salak, Desa Wisata Ledok Sambi, Desa Wisat Pulesari, Goa Jepang, Desa Wisata Petingsari, bunker Kaliadem, Bukit Klangon, dan lain sebagainya.

Objek wisata yang mulai beroperasi pada tanggal 20 Desember 2015 ini menempati lahan seluas sekitar 5,2 ha. Adapun tujuan pendiriannya adalah sebagai arena wisata edukasi bagi anak-anak agar lebih dekat dengan alam melalui pengenalan hewan (mamalia dan reptil) serta tumbuhan. Oleh karena itu, fasilitas yang disediakan pun berkaitan dengan pengenalan alam berupa: taman kelinci dan kambing perah, camping ground, outbond training, dan lain sebagainya.

Taman kelinci letaknya tidak jauh dari tempat penjualan tiket. Di tempat ini ada tiga buah kandang. Kadang pertama dan kedua berisi berbagai macam jenis kelinci dari dalam maupun dari luar negeri yang ditempatkan dalam sangkar-sangkar berukuran kecil. Konon, di antara jenis-jenis kelinci tersebut ada yang langka dan berharga relatif mahal (antara 1 hingga 8 juta rupiah). Sedangkan kandang ketiga diisi dengan sejumlah kelinci yang sengaja dilepas agar dapat bermain dengan pengunjung.

Selain kandang kelinci ada sejumlah kandang lagi yang diperuntukkan bagi mamalia (kambing, kuda) dan reptil (kura-kura, ular, biawak, kadal). Untuk kambing jenis ettawa kandang berbentuk panggung dan berpagar rapat terbuat dari kayu dengan atap genting, sementara kambing atau domba import berbulu tebal bentuk kandangnya "lebih modern" dengan lantai paving block/conblock dan berpagar renggang agar sirkulasi udara lebih baik. Di area pengembangbiakan kambing ini pengunjung dapat memberi makan dedaunan, meminumkan susu pada anak kambing hingga memerah susu salah seekor kambing yang ditempatkan dalam sebuah kandang khusus.

Sementara kandang reptil bentuknya ada yang berupa rumah kecil berpagar kaca, kolam dilengkapi dengan bebatuan untuk kura-kura, dan rumah panggung kecil dari bambu yang di dalamnya terdapat akuarium atau sangkar besi. Bagi pengunjung yang ingin berinteraksi terdapat pula sebuah taman berpagar setinggi sekitar satu meter untuk melepas kura-kura dan ular pyton berukuran sangat besar. Dengan bantuan pemandu pengunjung dapat berfoto sambil memegang atau bahkan menggendong binatang-binatang tersebut.

Terakhir, kandang untuk kuda berada pada bagian ujung agrowisata Bhumi Merapi. Kadang agak jarang dikunjungi karena sebagian kuda digunakan sebagai sarana tunggangan bagi pengunjung yang ingin berkeliling dengan biaya antara 10-20 ribu rupiah bergantung ukuran kuda dan yang menaikinya. Area berkeliling hanya berada di bagian belakang agrowisata sehingga tidak mengganggu pengunjung lain yang sedang berekreasi.

Sebagai catatan, bila tidak puas hanya dengan mengenalkan anak pada hewan peliharaan yang diternakkan, agrowisata Bhumi Merapi juga menyediakan sejumlah fasilitas lain, di antaranya: (1) dua buah "rumah hobbit" yang berada tidak jauh dari kandang kuda dan kambing untuk berselfie ria; (2) kebun hidroponik; (3) kantin yang cukup luas; (4) taman bermain; (5) camping ground yang dilengkapi dengan arena outbond berlatar belakang Gunung Merapi di kejauhan; dan (6) situs Goa Ponggolo, sebuah goa sepanjang 350 meter dan lebar 1-1,25 meter yang dibuat antara tahun 1825-1830 (selama perang Diponegoro) oleh Kyai dan Nyi Ponggolo. Fungsi goa dahulu adalah sebagai sarana irigasi bagi sawah-sawah yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi.

Bagaimana? Anda tertarik mengajak keluarga berwisata ke Bhumi Merapi sambil mengenalkan buah hati pada budidaya tanaman maupun hewan ternak? Apabila tertarik agrowisata Bhumi Merapi buka mulai pukul 08.30-17.00 WIB dengan harga tiket relatif murah yaitu 10 ribu rupiah per orang (tahun 2017). Tahun 2018 terjadi sedikit kenaikan (saya lupa harganya ^_^) dengan diberi bonus berupa segelas susu kambing.



Foto: Ali Gufron

Kampung Wisata Budaya Terbanggi Besar

Terbanggi Besar merupakan salah satu kampung/desa yang berada dalam Kecamatan Terbanggi Besar. Nama yang serupa dengan kecamatannya ini termasuk salah satu kampung tua di Kabupaten Lampung Tengah. Terbanggi Besar dahulu merupakan bagian dari Terbanggi Ilir atau Terbanggi Libo. Mengenai nama Terbanggi Besar sendiri konon berasal dari para tetua adat yang dapat terbang karena sakti mandraguna. Sementara kata besar (balak) berasal dari luas wilayahnya yang setelah pisah dengan Terbangi Ilir mendapat porsi paling luas atau besar.

Wilayah Terbanggi Besar dihuni oleh penduduk asli Lampung. Mereka terbagi ke dalam beberapa marga yang berasal sari Kebuwayan Subing. Marga-marga tersebut adalah Terbanggi Ilir (Terbanggi Libo), Terbanggi Besar (Terbanggi Balak), Terbanggi Subing, Terbanggi Agung, Terbanggi Marga, Indra Putra Subing, dan Terbanggi Labuhan (opantb.blogspot.com). Tiap marga cenderung tinggal berkelompok membentuk satuan adat tersendiri namun secara garis besar tetap mempertahankan adat pepadun dengan bentuk bangunan rumah adat yang disebut sebagai ‘Nuwo Sesat.’ Nuwo sendiri memiliki arti Lamban atau tempat tinggal, dan ada pula versi yang menyebutkan Nuwo memiliki arti tempat ibadah. Dan ‘sesat’ memiliki arti bangunan tempat berkumpul atau bermusyawarah dna menyimpan makanan.

Selain itu, dalam percakapan sehari-hari kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa Lampung (Dialek O). Sebagai catatan, masyarakat Lampung memiliki dua rumpun dalam penggunaan dialek yaitu A dan O. Dialek A untuk masyarakat di daerah pesisir atau peminggi atauai saibatin dan dialek O biasa digunakan oleh masyarakat pepadun di bagian tengah dan utara lampung. Perbedaan dari dua dialek ini yang cukup terlihat adalah di penggunaan huruf ‘a’ dan ‘o’ di tiap katanya. Misal, dalam dialek ‘a’ kata apa menjadi ‘Api’dan dalam dialek ‘o’, kata apa menjadi ‘Nyo.’

Menurut Pytaloka (2016), penduduk Terbanggi Besar umumnya bermata pencaharian sebagai petani, baik lahan basah maupun kering. Kemudian ada pula yang bergerak dalam sektor perikanan sebagai nelayan di sepanjang sungai-sungai besar di sekitar daerahnya. Sementara bagi yang tinggal di sekitar oleh jalan lintas utama sumatera, banyak yang berwirausaha di pinggir jalan tersebut. Desa Terbanggi Besar sendiri cenderung menjorok ke dalam atau berada lebih rendah daripada jalan lintas Sumatera. Desa tersebut seolah-olah di lindungi oleh letaknya yang menjorok kebawah. Jadi jika dilihat dari jalan raya lintas sumatera, hanya bisa melihat atap dari rumah-rumah penduduk saja. Untuk masuk ke desa terdapat tiga akses yaitu melewati jembatan buatan Belanda, turunan di persimpangan jalan lintas Sumatera, dan melewati daerah perkebunan sawit. Desa ini juga di kelilingi oleh sungai, jadi saat musim hujan tiba kebanyakan daerah pinggir sungai akan ikut terendam air. Satu hal yang menarik dari desa ini adalah tiap jalan di desa tersebut memiliki pemakaman sendiri, seperti tiap gang atau jalan masih satu keluarga, jadi di tiap ujung jalan ada pemakaman keluarga sendiri.

Pada tahun 2016 Terbanggibesar ditetapkan sebagai kampung wisata oleh Bupati Lampung Tengah Mustafa. Adapun alasan penetapannya karena dianggap memiliki banyak nilai sejarah, adat istiadat, budaya, dan kesenian orang Lampung. Hal ini disebabkan Terbanggibesar merupakan pusat pemerintahan pertama di Lampung. Jejak peninggalan yang masih ada hingga sekarang adalah rumah adat nuwo balak yang dibangun sekitar tahun 1696 dan Nuwo Kattur (rumah Kantor) dibangun sekitar tahun 1832 (Pamungkas, 2016).

Penetapan Terbanggibesar sebagai kampung budaya merupakan salah satu implementasi program canangan Bupati Lampung Tengah yakni Terbagus (Terbanggibesar, Bandarjaya, dan Gunungsugih). Terbangi besar sebagai pusat budaya, Bandarjaya sebagai pusat ekonomi, dan Gunungsugih sebagai pusat pemerintahan. Dan, untuk mencitrakannya sebagai kampung wisata budaya, Terbanggibesar juga dilengkapi rumah tapis, rumah batik, rumah pemerintahan, rumah informasi, dan kantor pemerintahan kampung wisata.

Foto: https://www.kupastuntas.co/2016/11/02/kampung-wisata-adat-budaya-terbanggibe sar-menjadi-destinasi-wisata-baru-lampung-tengah/
Sumber:
Pytaloka, Marsha Dhita. 2016. "Sejarah Desa Terbanggi Besar Lampung Tengah", diakses dari http://marshadhita.blogspot.com/2016/10/sejarah-desa-terbanggi-besar-lampung.html, tanggal 7 Juni 2018.

Pamungkas, Wahyu. 2016. "Ada Rumah Adat Tahun 1696, Terbanggibesar Dijadikan Kampung Wisata". Diakses dari http://www.lampost.co/berita-ada-rumah-adat-tahun-1696-terbanggibesar-dijadikan-kampung-wisata-, tanggal 7 Juni 2018.

"Marga Terbanggi Besar", diakses dari http://opantb.blogspot.com/2009/04/marga-terbanggi-besar.html, tanggal 8 Juni 2018.

Gekhubak

Gekhubak adalah istilah orang Lampung untuk menyebut sebuah sarana angkut berbentuk segi empat dan memiliki roda yang terbuat dari kayu dan dilapisi plat besi dan ditarik oleh satu atau dua ekor sapi. Saat ini di daerah Lampung ada juga gerobak yang mempergunakan roda dari ban mobil. Sedangkan bentuknya ada yang berdinding dan ada pula yang tidak berdinding. Gerobak yang berdinding dipakai untuk mengangkut bata, genteng, dan padi, sedang yang tak berdinding biasanya dipakai untuk mengangkut karung beras, lada dan kopi

Pemais

Pemais adalah sebutan orang Lampung bagi alat pengawet ikan dengan menyalai atau memepesnya. Cara menggunakan alat yang terbuat dari tanah liat ini adalah dengan menaruhnya di atas tungku yang sudah menyala. Pemepesan dilakukan selama beberapa menit hingga ikan menjadi matang. Saat memepes, kadang-kadang pemais ditindih lagi dengan batu agar debu dari bara api tungku tidak mengotori pepesan ikan. Hasilnya, ikan akan matang secara merata dan bebas dari debu atau bara api tungku.

Tupoi

Tupoi adalah sebutan orang Lampung bagi penutup kepala yang bahannya dibuat dari anyaman rotan, pandan, bambu, atau kain yang agak tebal. Tupoi umum digunakan oleh para petani untuk menutupi kepala mereka dari sengatan sinar matahari saat bekerja di sawah atau ladang. Dan, karena ukurannya yang agak besar, kadang-kadang tupoi juga dapat berubah fungsi sebagai wadah untuk menampung buah-buahan yang baru dipetik.

Katupung

Katupung adalah kain penutup kepala laki-laki Lampung berbentuk bujur telur yang umumnya berwarna hitam dan biasa dipakai oleh orang tua maupun muds. Adapun fungsinya adalah untuk melindungi kepala dan juga sebagai pelengkap pakaian sehari-hari, baik resmi maupun tidak resmi. Di kalangan pemuda Lampung katupung biasa dipakai untuk menghadiri acara pertemuan dengan para gadis saat acara gawi adat.

Asal Mula Pohon Enau

(Cerita Rakyat Daerah Bengkulu)

Alkisah, zaman dahulu kala ada tujuh orang adik-beradik tinggal di sebuah desa terpencil. Mereka terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang bungsu berjenis kelamin perempuan. Ayah mereka telah lama meninggal dunia. Sementara Sang ibu menyusul sesaat setelah melahirkan si bungsu yang bernama Putri Sedaro Putih. Untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari mereka bekerja sebagai peladang dengan menggarap sebidang tanah huma yang terletak di tepi hutan.

Suatu hari, saat tertidur lelap Putri Sedaro Putih bermimpi didatangi seorang tua yang mengaku kakeknya. Dalam mimpi itu Sang kakek mengatakan bahwa hidup Putri Sedaro Putih tidak lama lagi akan berakhir. Oleh karena itu, dia menyarankan Sang Putri bersiap diri agar dapat tabah menghadapi. Selain itu, Sang kakek juga mengatakan bahwa di atas pusaranya nanti akan tumbuh sebatang pohon varietas baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Mimpi bertemu Sang kakek tadi selalu diingat sepanjang waktu. Hasilnya, badan semakin kurus dan wajah tampak pucat karena pikiran selalu dihantui oleh ingatan akan kematian. Produktivitas kerja pun semakin merosot. Hampir setiap hari diisi dengan termenung di teras rumah atau di tepi ladang ketika para kakak sedang sibuk menyiangi dan merawat tanaman.

Melihat kondisi Sang adik bungsu yang seolah "hidup segan mati tak mau" (hadeuh ^_^), Sang sulung sebagai pengganti orangtua menanyakan apakah gerangan yang menjadi penyebabnya. Putri Sedaro Putih sebenarnya enggan bercerita. Tetapi karena didesak dia lalu mengungkapkan kronologi kejadian mimpinya pada Sang kakak. Dia takut apabila hal itu benar-benar terjadi, maka tidak akan dapat berkumpul dan bergembira bersama para kakaknya lagi.

Sang sulung yang sudah pandai menyembunyikan emosi segera menghibur dan menenangkan. Dia mengatakan bahwa mimpi bagi seseorang hanyalah sebagai bunga tidur. Setiap orang pasti bermimpi dan umumnya tidak berpengaruh banyak pada kehidupan sehari-hari. Jadi, Putri Sedaro Putih tidak perlu memikirkan mimpi yang hanya bunga pelengkap tidur. Dan, jika dicermati, melihat rupa Ayah dan ibu saja dia belum pernah apalagi Sang kakek. Oleh karena itu, Sang sulung menyarankan agar melupakan mimpi bertemu dengan Sang kakek.

Nasihat kakak sulung tadi rupanya mengena di hati Putri Sedari Putih. Secara perlahan namun pasti dia kembali seperti sedia kala sebagai seorang gadis periang yang energik. Segala pekerjaan rumah kembali dilakukan dengan riang sehingga kamar-kamar yang ada di dalamnya selalu terlihat rapi dan bersih. Bahkan, ketika berada di ladang dia sangat giat membantu pada kakak merawat tanaman. Hasil ladang menjadi berlimpah ketika musim panen tiba.

Namun sayang, beberapa hari selepas panen tanpa menderita sakit Putri Sedaro Putih tiba-tiba meninggal dunia. Sontak saja keenam saudaranya menjadi sedih. Mereka tidak menyangka Sang bungsu pergi begitu cepat. Tetapi mereka belum percaya kalau hal itu berkaitan dengan Sang kakek yang muncul dalam mimpi Putri Sedaro Putih. Oleh karena itu, dia kemudian dimakamkan tidak jauh dari rumah agar dapat mengawasi pusaranya. Apabila di atas pusara tumbuh pohon, perkataan Sang kakek benar adanya. Sebaliknya, apabila tidak ada pohon yang tumbuh, mimpi tadi hanya kebetulan belaka.

Dan benar saja, beberapa minggu setelah dimakamkan di atas pusara tumbuhlah sebatang pohon yang belum pernah ada di daerah itu. Maka percayalah mereka bahwa impian Putri Sedaro Putih tentang Sang kakek benar adanya. Mereka lantas memberinya nama pohon Sedaro Putih dan memelihara dengan penuh kasih sayang seakan merawat Putri Sedaro Putih.

Tidak lama berselang tumbuh pula sebatang pohon berjenis kayu kapung di sisi pohon sedaro putih. Beberapa tahun kemudian kedua pohon tumbuh sama tinggi. Setiap ada angin berhembus agak kencang dahan-dahan pohon kayu kapung membuat tangkai buah sedaro putih menjadi memar sehingga mempermudah air mengalir ke arah tangkai-tangkai buahnya. Tangkai-tangkai buah inilah yang kemudian menarik perhatian beberapa jenis binatang, salah satunya tupai. Para tupai kadang datang menggigit cairan yang terdapat pada tangkai buah sedaro putih.

Kelakuan para tupai menarik perhatian salah seorang saudara Putri Sedaro Putih. Dia mendekat dan mencoba melakukan hal serupa. Begitu dicicipi air tangkai buah itu berasa manis. Dia lalu pulang dan menceritakan rentetan kejadian tadi pada saudaranya yang lain. Mereka menjadi penasaran dan bergegas menuju pohon sedaro putih sambil membawa tabung bambu (tikoa) untuk menampung air manis itu.

Namun, karena air yang keluar dari tangkai buah tidaklah deras dan hanya menetes, tikoa tadi diletakkan sedemikian rupa agar dapat menampung tetesannya. Keesokan hari mereka datang lagi untuk mengambilnya. Dan, namanya juga manusia, setelah mencicipi timbul rasa ketagihan dan bernafsu ingin mendapatkan lebih banyak air lagi dan lagi dan lagi (kayak iklan aja ^_^). Beberapa tikoa pun disiapkan untuk menampung air dari tangkai- tangkai buah sedaro putih.

Begitu seluruh tikoa penuh ternyata tidak seluruhnya dapat dihabiskan. Sisanya disimpan di dapur sebagai cadangan. Beberapa hari kemudian ketika akan dikonsumsi air telah menjadi masam dan tidak layak digunakan. Agar tidak mengalami kejadian serupa, mereka menampung lagi kemudian hasilnya dimasak hingga kental lalu didinginkan sampai membeku dan berwarna coklat kekuningan.

Seiring waktu, karena tidak ada sebelumnya air pohon itu mereka namakan nira, sedangkan pohonnya (mungkin karena sebutan sedaro putih terlalu panjang ^_^) diganti menjadi enau atau aren. Pohon inilah yang menjadi cikal bakal adanya gula aren.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Balok Menes, Olahan Singkong Khas Banten

Singkong atau ubi kayu atau ketela pohon dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidat. Bagian umbinya berwana putih kekuningan rata-rata bergaris tengah 2-3 centimeter dengan pantang sekitar 40-80 centimeter. Tanaman dengan nama latin manihot esculenta ini pertama kali dikembangkan di wilayah Amerika Selatan sekitar 10 ribu tahun lalu. Di Indonesia sendiri singkong mulai ditanam secara komersial pada masa kolonial sekitar tahun 1810. Namun, baru pada permulaan abad ke-20 dibudidayakan secara luas karena konsumsinya meningkat. Singkong pun menjadi sumber pangan utama setelah padi-padian dan jagung.

Singkong diolah dengan berbagai macam cara dan digunakan pada berbagai macam masakan. Di daerah Pandeglang, Banten, misalnya singkong diolah sedemikian rupa menjadi penganan yang dinamakan balok menes. Nama balok mungkin diberikan karena penganan ini berbentuk menyerupai balok (kayu kubus panjang), sedangkan menes diambil dari nama daerah tempat kue basah ini pertama dibuat, salah satu kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Balok menes juga biasa disebut sebagai gegetuk cioda untuk membedakannya dengan getuk yang berwarna cokelat campuran gula merah.

Balok menes berwarna putih dengan tekstur lembut bila disentuh dan kenyal bila telah berada di dalam mulut. Kenikmatan kue balok ini lebih terasa ketika bagian atasnya dibubuhi bawang goreng yang dicampur minyak kepala serta taburan serundeng yang berada di antara balok yang dilipat. Adapun bahan-bahan lengkapnya adalah: singkong, kelapa parut, bawang merah, minyak sayur, gula pasir, dan garam. Sedangkan cara membuatnya diawali dengan mengupas singkong dan cuci bersih kemudian kukus hingga matang. Singkong yang telah matang kemudian ditumbuk atau digiling hingga halus, diberi garam secukupnya, lalu dibentuk menjadi lapis-lapis menyerupai balok atau sesuai keinginan.

Tahap selanjutnya adalah mengiris tipis bawang merah lalu goreng hingga matang kecoklatan dan tuang ke dalam wadah yang telah berisi minyak. Kemudian membuat bahan serundeng berupa sangraian parutan kelapa yang diberi gula putih, garam, serta rempah-rempah (lada, pala, cengkeh, ketumbar, kayu manis, kapulaga, dan lain sebagainya). Sebelum balok menes disajikan, kedua bahan tadi ditabur di atas atau di dalam lapisan balok singkong.

Foto: https://cookpad.com/id/resep/1862629-kue-balok-postingrame2_jajanantradisional

Watu Gilang

Watu Gilang atau Watu gigilang atau lengkapnya Watu Gilang Sriman Sriwicana adalah batu andesit berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 190x121 centimeter dan tebal 16,5 centimeter. Adapun letaknya berada tidak jaih dari Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kecamatan Kasemen, Kota Serang (Sutisna, 2017). Watu (batu) yang telah menjadi benda cagar budaya ini dahulu merupakan benda sakral karena menjadi tempat penobatan para sultan Banten.

Menurut Darussalam (2015) ada dua versi mengenai asal usul Watu Gilang. Versi pertama dari Claude Guillot yang menyatakan bahwa saat Maulana Hasanudin berhasil menaklukkan Banten Girang tahum 1526, Sunan Gunung Jati memerintahkannya mendirikan sebuah kota baru di tepi pantai. Di lokasi tersebut ada seorang resi bernama Betara Guru Jampang yang sedang bertapa di atas sebuah batu. Dan, batu bekas pertapaan Betara Guru Jampang tadi kemudian diberi nama sebagai Watu Gilang. Selanjutnya, Watu Gilang menjadi tempat penobatan Maulana Hasanudin dan penerusnya.

Sedangkan versi lainnya menyebutkan bahwa setelah Pajajaran ditaklukan pada tahun 1526, batu tempat penobatan rajanya yang dinamakan Palangka Sriman Sriwacana diboyong dari Pakuan ke Keraton Surosowan oleh Maulana Yusuf, anak Maulana Hasanudin. Alasannya batu itu tidak akan digunakan lagi untuk penobatan raja baru Pajajaran dari trah yang telah takluk. Sebab, Maulana Yusuflah yang mengklaim sebagai penerusnya (buyut perempuannya merupakan putri Sri Baduga Maharaja).

Lepas dari kedua versi tersebut, yang jelas Watu Gilang pernah menjadi benda sakral dalam Kesultanan Banten. Ia tidak boleh dipidahtempatkan karena dipercaya akan menyebabkan keruntuhan kerajaan (Destlama, 2017). Namun, seiring waktu peran Watu Gilang mulai pudar alias tidak dominan lagi. Hal ini dimulai ketika Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa, pada sekitar tahun 1596 bersama para penasihatnya mengambil keputusan bukan di Watu Gilang melainkan di lokasi lain yang bernama Darpragi (situsbudaya.id). Dan, saat ini walau masih berada di tempat semula, tetapi fungsinya hanya menjadi sebuah simbol akan kejayaan Banten masa lalu. Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Watu Gilang dijadikan sebagai benda cagar budaya. Sekelilingnya dibuatkan pagar besi tipis dan papan berisi sedikit penjelasan tentang asal usulnya. Sementara di luar pagar telah berdiri gubuk-gubuk bambu tanpa dinding sebagai tempat berjualan.




Foto: Ali Gufron
Sumber:
Sutisna. 2017. "Watu Gilang di Banten Lama Tempat Penobatan", diakses dari https://www.kabar-banten.com/watu-gilang-di-banten-lama-tempat-penobatan/, tanggal 26 April 2018.

Deslatama, Yandhi. 2017. "Nasib Menyedihkan Sajadah Batu Tempat Penobatan Sultan Banten", diakses dari http://www.liputan6.com/regional/read/3033612/nasib-menyedihkan-sajadah-batu-tempat-penobatan-sultan-banten, tanggal 27 April 2018.

"Watu Gilang Banten", diakses dari https://situsbudaya.id/watu-gigilang-banten/, tanggal 27 April 2018.

Darussalam, JS. 2015. "Watu Gilang; Simbol Kekuasaan Raja dan Kehancurannya", diakses dari http://bantenhits.com/2015/11/22/watu-gilang-simbol-kekuasaan-raja-dan-kehancurannya/, tanggal 28 April 2018.

Si Penyadap Nira

(Cerita Rakyat Daerah Madura)

Alkisah, ada seorang laki-laki yang berprofesi sebagai penyadap nira. Setiap hari pekerjaannya memanjat pohon siwalan untuk menyadap air nira. Nira hasil sadapan kemudian dimasak dan diolah hingga menjadi gula aren. Selanjutnya gula aren dijual di pasar dan keuntungannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Suatu hari saat sedang asyik menyadap nira, tiba-tiba cuaca berubah drastis. Langit tertutup gumpalan awan hitam dan udara terasa sangat lembab. Tetapi Si laki-laki tidak menghiraukannya. Pikirnya, sebelum hujan turun masih ada cukup waktu mengumpulkan air nira ke dalam wadah bambu. Oleh karena itu, pohon demi pohon tetap dia panjat untuk diambil niranya.

Ketika sampai di puncak pohon keempat hujan turun dengan sangat lebat. Selain itu, hujan disertai pula dengan tiupan angin topan yang membuat pepohonan meliuk-liuk seakan hendak tercerabut dari akarnya. Si penyadap yang berada di puncak pohon tentu terkena imbasnya. Tubuh laki-laki itu terombang-ambing hingga nyaris terlempar dari pohon. Dalam ketakutan yang teramat sangat, dia memohon pada Tuhan agar diselamatkan. Dia berjanji apabila selamat bernazar akan memotong sapinya yang paling gemuk sebagai hidangan bagi para fakir miskin.

Ternyata doa tadi didengar Tuhan. Tidak berapa lama hujan disertai angin topan mulai reda. Si penyadap segera turun dari pohon nira. Namun, baru sampai di bagian tengah batang nira, pikirannya mulai bercampur aduk antara gembira dan penyesalan. Dia gembira karena selamat dari maut, sementara rasa penyelasan karena telah berjanji akan menyembelih sapi gemuk kesayangannya.

Di tengah kebimbangan harus mengorbankan sapi kesayangan, Si penyadap nira memohon lagi pada Tuhan agar diberi keringanan untuk mengganti sapi dengan seekor kambingnya yang paling besar dan gemuk. Tetapi karena masih merasa sayang, permohonan itu diralat lagi menjadi seekor ayam yang dia rasa sudah cukup untuk memuaskan beberapa fakir miskin. Baginya, fakir miskin yang jarang makan daging pasti akan berterima kasih walau hanya diberi potongan kecil daging ayam.

Pikiran mengorbankan daging ayam ternyata tidak bertahan lama. Lagi-lagi dia merasa sayang dan meralat hanya akan memberikan lima butir telur ayam. Dan, karena tidak terjadi apa-apa lagi dia berkeyakinan bahwa negosiasi nazar menjadi hanya lima butir telur ayam dirasa sudah cukup. Bahkan dia menjadi bertanya pada diri sendiri jangan-jangan angin dan hujan tadi hanyalah lewat belaka. Oleh karena itu, dia meneruskan lagi aktivitas memanjat pohon siwalan seakan melupakan kejadian luar biasa yang baru saja dialami.

Saat berada di puncak pohon siwalan, dengan hati gembira dia mulai menyadap sambil bersiul mendendangkan sebuah lagu. Di sini dia benar-benar berkeyakinan bahwa hujan-angin barusan hanya "numpang lewat" sehingga tidak perlu bernazar. Toh dia tetap selamat dan dapat kembali menyadap nira. Oleh karena itu, lebih baik memakan telur nazar itu sendiri daripada diberikan pada fakir miskin.

Dalam suasana gembira tersebut Si penyadap nira menjadi tidak berhati-hati dan waspada. Ketika akan turun kakinya menapak batang pohon yang licin bekas terkena siraman air hujan sehingga membuatnya tidak dapat menjaga keseimbangan dan jatuh ke tanah. Si penyadap nira langsung terkapar dan tidak bergerak lagi untuk selamanya.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Siti Nurbaya Bakar

Bila mendengar nama Siti Nurbaya maka yang terlintas di benak sebagian orang adalah sebuah novel terbitan Balai Pustaka karangan Marah Rusli pada tahun 1922 silam yang menceritakan kisah cinta orang Minang antara Sambulbahri dan Sitti Nurbaya yang disusupi oleh Datuk Maringgih. Siti Nurbaya yang akan diceritakan di sini bukanlah orang yang "kasihnya tak sampai" melainkan seorang birokrat yang menduduki posisi sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam Kabinet Kerja bentukan Presiden Joko Widodo.

Siti Nurbaya Bakar lahir di Jakarta 28 Juli 1956 dari Pasangan Mochammad Bakar (Betawi) dan Sri Baini (Lampung) (viva.co.id). Dia memulai pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Muhammadiyah III Matraman, Jakarta hingga lulus tahun 1968. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 50 Slamet Riyadi sampai tahun 1971. Lulus SMP Siti meneruskan ke Sekolah Menangah Atas Negeri 8 Bukit Duri (lulus tahun 1974). Selanjutnya Siti menempuh pendidikan tingginya di Institut Pertanian Bogor dari tahun 1975-1979 (Lestari, 2014).

Menurut situs pribadinya (sitinurbaya.com), semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar Siti telah berkenalan dengan "dunia birokrasi dan ilmu administrasi" melalui tulisan Said bin Tsabit (penulis kodifikasi Al Quran era pemerintahan Ustman bin Affan 644-656 Masehi). Baginya, Said yang dijuluki sebagai "Pena Allah" atau "Sekretaris Nabi" itu merupakan sosok idola yang mengispirasi gerak langkah Siti selanjutnya.

Oleh karena itu, setamat menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1979 Siti memulai karir dalam bidang birokrasi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Lampung (tirto.id). Menurut Fathurrohman (2014), selama di Bappeda Provinsi Lampung Siti sempat menduduki berbagai jabatan, di antaranya: Kasi Penelitian Fisik (1983-1985), Kasi Pengarian (1985-1988), Kasubid Analisis Statistik, Kasi Tata Ruang (1988-1990), Kabid Penelitian (1990-1995), Wakil Ketua dan akhirnya Ketua Bappeda Tk. I Pemda Lampung dari tahun 1996 hingga 1998.

Sebagai catatan, selama di Bappeda, Siti Nurbaya Bakar menyempatkan melanjutkan pendidikan di International Institute for Aerospace Survey and Earth Science (ITC) Enschede, Belanda hingga meraih gelar master tahun 1988 (Aditya, 2014) dan gelar doktor dari Fakultas Perencanaan Sumber Daya Alam, Institut Pertanian Bogor. Selain itu, dia juga berhasil meraih sejumlah penghargaan, seperti: Penerus Generasi 45 dari Dewan Harian Daerah Angkatan 45 (1996), penghargaan dari Menko Kesra atas partisipasi dalam penanganan kebakaran lahan dan hutan (1996), penghargaan dari Ikatan Surveyor Indonesia dalam Aplikasi Sistem Informasi Geografi (1992), penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja RI sebagai Wakil Ketua Dewan Produktivitas Daerah (1989), dan penghargaan dari Gubernur Lampung atas Pencapaian Hasil Penataran P4 terbaik ke-2 (1980) (sitinurbaya.com)

Sukses berkarir sekitar 16 tahun di Bappeda Provinsi Lampung, tanggal 8 Mei 1998 Siti ditarik ke Jakarta untuk menempati jabatan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Dalam Negeri pimpinan R. Hartono (Akuntono, 2014). Selanjutnya, menjadi Sekretaris Jenderal Depdagri (2001-2005), tenaga pengajar perguruan tinggi di lingkungan Kopertis Wilayah III (2001- sekarang), Pelaksana Manajemen STPDN (2003-2004), Dewan Komisaris Pusri (2011- sekarang), Ketua Komite Investasi dan Manajemen Resiko Pusri (2013), dan Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah RI (2006-2013) sebuah institusi yang dibentuk untuk menjembatani kepentingan-kepentingan legislatif pemerintah-pemerintah provinsi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (Aditya, 2014).

Penunjukan Siti sebagai Sekjen DPD RI menurut Ginanjar Sasmita yang dikutip oleh Fathurrohman (2014) disebabkan karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengenal kinerja dan kemampuan Siti Nurbaya. Sewaktu menjabat sebagai Pangdam Sriwijaya SBY pernah menghadiri presentasi Siti Nurbaya selaku ketua Bappeda tentang konsep tata ruang Hankam Provinsi Lampung. Penunjukan ini dibuktikan oleh Siti Nurbaya dengan meraih penghargaan dari Menteri Keuangan atas Laporan Akutansi Standar Tertinggi (2008-2011) dan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) Laporan Keuangan dari BPK-RI sejak penilaian awal sebagai Sekjen DPD-RI.

Bagi istri dari Rusli Rachman dan ibu dari Meitra Mivida NR serta Ananda Tohpati penghargaan tersebut merupakan beberapa dari sejumlah telah diterimanya sepanjang mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil. Penghargaan lain, di antaranya adalah: Satya Lencana Karya Satya XX Tahun dari Presiden RI (2000); Penerapan Informasi Teknologi dari ITB (2003); PNS Teladan Nasional dari Presiden RI (2004); prestasi kerja luar biasa dari Menteri Dalam Negeri RI (2004); Partisipasi Pejabat Eksekutif dalam Pers dari Dewan Pers Nasional (2004) Wibawa Seroja dari Lemhanas RI (2009); Pamong Award dari Alumi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (2009); 99 Most Powerful Women dari Majalah Globe Asis (2008-2010); Perempuan Terinspiratif dari Majalah Kartini (2008-2010; Kerjasama instansi pemerintah dan pers dari Jurnal Nasional (2010); Satya Lencana Karya Satya XXX Tahun dari Presiden RI (2010); Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI (2010); Mitra Kerja Media dari SKH Jurnal Nasional (2010); Pemimpin Pancasila dari Yayasan Indonesia Satu (2011); dan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (2011) (sitinurbaya.com).

Selain berprestasi di lingkungan birokrasi, tahun 2007-2008 Siti Nurbaya juga terlibat dalam lembaga non-pemerintah yaitu sebagai ketua steereng committee Institut Reformasi Birokrasi IndoPos-JawaPos (IRB-IPJP). Gagasan pendirian lembaga yang hendak memperjuangkan reformasi birokrasi ini dilontarkan oleh Dahlan Iskan (pemilik Indopos-JawaPos Group) dalam ulasan kritisnya berjudul "Agar Birokrasi Tidak Seperti Ferrari di Atas, Bemo di Bawah". Siti bersama lima orang anggota IRB-IPJP dinilai sebagai tokoh yang ahli dan memiliki pengalaman konkrit dalam bidangnya masing-masing, termasuk pengalaman langsung sebagai birokrat yang mencapai karir tertinggi (sitinurbaya.com).

Keterlibatan lain terjadi setelah pensiun tahun 2013 dengan terjun ke dunia politik melalui partai Nasdem pimpinan Surya Paloh. Di partai ini Siti menjabat sebagai Ketua Bidang Otonomi Daerah DPP Partai Nasdem (Akuntono, 2014) lalu naik menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem (Aditya, 2014). Selanjutnya, dia mencalonkan diri menjadi anggota DPR-RI perwakilan Lampung dan terpilih. Namun, belum sempat bertugas di Senayan Presiden Joko Widodo memintanya menjadi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk periode 2014-2019 sebagai perwakilan Partai Nasdem di pemerintahan.

Foto: http://news.metrotvnews.com/politik/nN9oZ45k-siti-nurbaya-bakar-pns-teladan-jadi-menteri
Sumber:
"Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.", diakses dari https://www.viva.co.id/siapa/read/134-siti-nurbaya-bakar, tanggal 12 Mei 2018.

Lestari, Reni. 2014. "Siti Nurbaya Bakar", diakses dari https://news.okezone.com/read/2014/ 12/02/17/1073512/siti-nurbaya-bakar, tanggal 12 Mei 2018.

"Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc", diakses dari http://sitinurbaya.com/tentang, tanggal 13 Mei 2018.

"Siti Nurbaya Bakar", diakses dari https://tirto.id/m/siti-nurbaya-bakar-mh, tanggal 13 Mei 2018.

Faturrohman, Muhamad Nurdin. 2014. "Profil Siti Nurbaya Bakar - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke-1", diakses dari https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.co.id/2014/ 12/profil-siti-nurbaya-bakar-menteri-lingkungan-hidup-kehutanan-ke-1.html, tanggal 13 Mei 2018.

Aditya. 2014. "Profil & Biodata Siti Nurbaya Bakar: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia 2014-2019 Kabinet Kerja Jokowi JK", diakses dari http://sidomi.com/ 335400/siti-nurbaya-bakar/, tanggal 14 Mei 2018.

Akuntono, Indra. 2014. "Ini Sosok Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya", diakses dari https://nasional.kompas.com/read/2014/10/26/18281691/Ini.Sosok.Menteri.Ling kungan.Hidup.dan.Kehutanan.Siti.Nurbaya., tanggal 14 Mei 2018.

Rumah Pacenan

Pacenan adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Rumah pacenan bentuknya segi empat. Bagian atapnya serupa dengan omah kampung (rumah orang Jawa). Rumah pacenan yang berdiri sendiri dan ada yang bergabung (sambung) dengan lainnya, sehingga memanjang. Rumah ini memiliki sesakhah 8 buah, dengan rincian 4 buah sesakhah utama dan 4 buah sesakhah pembantu. Sesakhah utama berfungsi sebagai penyangga atap yang membentuk segi tiga. Atap yang membentuk segi tiga oleh masyarakat setempat disebut “antong-antong”. Jadi, ada antong-antong bagian depan dan antong-antong bagian belakang. Sedangkan, sesakhah pembantu berfungsi sebagai penyangga amparan, yaitu bagian atap rumah yang salah satu ujungnya bersambung dengan salah satu ujung yang membentuk segi tiga. Sebagaimana antong-antong, amparan juga ada dua, yaitu di bagian depan dan belakang. Amparan, baik yang ada di bagian depan maupun belakang, ditopang oleh kayu yang panjang yang oleh masyarakat setempat disebut plesur.

Sesakhah, baik yang utama maupun pembantu, pada umumnya terbuat dari kayu sengon. Kayu yang menghubungkan antara sesakhah utama yang satu dengan lainnya disebut lambheng pandhek. Di atas lambheng pandhek ada kayu lagi (bertumpangan) yang berfungsi sebagai alas andher (kayu yang menghubungkan antara lambheng pandhek dan atap (siku-siku atap). Di bawah lambheng pandhek ada kayu yang juga menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Kayu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthuk pandhek”. Pososinya kurang lebih 50 centimeter dari lambheng pandhek. Fungsinya sebagai penguat sesakhah, sehingga dapat membentuk siku-siku (sesakhah dapat berdiri secara tegak lurus).

Selain lambheng pandhek, ada juga yang disebut sebagai “lambheng panjang”, yaitu kayu yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya di bagian yang panjang. Oleh karena itu, disebut “lambheng panjang”. Di bawah lambheng panjang juga ada lambheng yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Posisi dan fungsinya sama dengan yang ada di bawah lambheng pendek, yaitu sebagai penguat sesakhah. Di bagian tengah lambheng panjang diberi lambheng yang panjang dan besarnya sama dengan lambheng pandhek.

Di bagian tengah lambheng-lambheng pandhek diberi andher, yaitu kayu tegak lurus sebagai penopang bubung. Panjang bubung sama dengan panjang lambheng panjang. Di atas senthuk panjang diberi beberapa kayu atau papan, lalu di atasnya diberi anyaman bambu. Posisinya sejajar dengan kayu atau papan penyanggah (mendatar), sehingga menyerupai plapon.

Tempat yang menyerupai plapon itu ada yang digunakan untuk menyimpan peralatan dapur, seperti: dandang, baskom, tempat makanan kecil yang terbuat dari plastik, dan barang-barang rumah tangga lainnya yang sewaktu-waktu dapat diambil dan digunakannya.

Dinding ada yang terbuat dari bambu (anyaman bambu), ada yang terbuat dari papan (kayu), dan ada yang berupa tembok. Namun demikian, pada umumnya dinding terbuat dari bambu dan atau kayu.. Pada sisi kanan dan kiri rumah diberi jendela yang terbuat dari kayu; masing-masing dua duah; demikian juga di bagian depan rumah (dua buah).

Ketinggian rumah dari permukaan tanah bervariasi; ada yang 10-30 centimeter dan ada yang 50-80 centimeter. Hal itu bergantung pada tinggi-rendahnya permukaan tanah, sehingga derasnya air hujan yang membasahi pelataran tidak masuk ke dalam rumah. Lantai rumah pacenan ada yang berupa tanah liat, ada yang berupa semen, dan ada pula yang telah dikeramik. Namun demikian, pada umumnya lantai berupa tanah liat dan atau semen. Alasannya adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini semen, apalagi tanah, biayanya relatif lebih murah ketimbang menggunakan keramik.

Pada bagian depan rumah diberi pembatas (semacam pagar) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang (penutup) agar ternak (ayam dan atau itik) tidak dapat leluasa masuk rumah. Selain itu, juga berfungsi agar tamu tidak secara utuh terlihat dari luar. Bagi yang mampu pagar tersebut terbuat dari kayu yang berukir. Pagar yang demikian oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh. Sedangkan, bagi yang kurang atau tidak mampu cukup hanya dengan bambu yang dianyam.

Ruang dan Tata Ruang Pacenan Beserta Fungsinya
Pada dasarnya rumah pacenan terdiri atas 3 ruangan, yakni ruang depan, tengah, dan belakang. Ruang depan berfungsi sebagai ruang tamu. Ruangan ini bagian depannya tidak berdinding, kecuali pada bagian samping kiri dan kanannya. Jadi, jika ada orang yang bertamu akan kelihatan dari luar, walaupun tidak seratus prosen karena masih dihalangi oleh tabing mantheh atau pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang tingginya kurang lebih satu meter.

Oleh karena fungsi utama ruang depan adalah sebagai ruang tamu, di ruangan tersebut diberi perlengkapan (mebelair) yang berkenaan dengan tamu, seperti meja dan kursi. Bagi yang mampu, ruang tamu diisi dengan dua set meja kursi; satu set ada di sebelah kiri dan satu set lagi ada di sebelah kanan ruang tamu. Sementara, bagi yang kurang mampu cukup hanya satu set meja kursi yang diletakkan pada bagian kiri ruang tamu. Sedangkan, bagian kanan ruang tamu diisi dengan tempat tidur. Tempat tidur ini tidak hanya berfungsi tempat duduk para tamu, tetapi juga sebagai tempat tidur bagi anak lelaki yang sudah dewasa yang karena satu dan lain hal tidak tidur di surau.

Ruang tengah dipergunakan sebagai tempat istirahat (tidur) dan sholat (melakukan ibadat), Ruangan ini pada umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kanan, kiri, dan tengah. Bagian kanan dan kiri berupa kamar tidur, sedang bagian tengah dibiarkan kosong karena berfungsi sebagai penghubung antara ruang depan dan ruang belakang. Pemilik rumah dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan menempati salah satu kamar tidur yang ada. Sedangkan, kamar tidur lainnya diperuntukkan bagi anak-anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau).

Ruang belakang berfungsi sebagai dapur dan sekaligus ruang makan. Dalam memasak, mereka masih menggunakan “tungku” yang terbuat dari batu bata dan semen yang diaduk dengan pasir. Batu bata tersebut disusun sedemikian rupa, kemudian diberi adukan semen dan pasir, sehingga membentuk segi empat. Ketinggian tungku yang berbentuk segi empat itu kurang lebih 30 centimenter dari permukaan tanah, dengan panjang sekitar 80 centimter dan lebar sekitar 60 centimeter. Bagian depan diberi lubang dalam bentuk segi empat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter. Posisi lubang tersebut berada di tengah-tengah. Kemudian, bagian atas tungku diberi lubang dua buah dengan ukuran lebih kecil ketimbang lubang yang ada di bagian depan. Fungsi lubang bagian depan sebagai untuk memasukkan kayu bakar. Sedangkan, kedua lubang yang berada di bagian atas tungku berfungsi sebagai tempat untuk menaruh peralatan menanak nasi, nggodok (mendidihkan air), dan menggoreng, seperti: dandang, kwali, teko, dan wajan.

Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Popular Posts