Tedhak Siten, Upacara Turun Tanah Masyarakat Jawa

Secara etimologis Tedhak Siten berasal dari kata “tedhak” yang berarti kaki atau langkah dan “siten” (asal kata “siti”) berarti tanah. Jadi, tedhak siten dapat diartikan sebagai kaki yang mulai melangkah di tanah, sebuah upacara lingkaran hidup bagi seorang bayi yang baru berusia 7 lapan atau 245 hari (Adarrma, 2018). Upacara ini menurut Hambali (2016) umum dilakukan oleh masyarakat Jawa dengan berbagai tujuan, di antaranya: sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena sang anak akan mulai belajar berjalan, upaya memperkenalkan anak pada lingkungan sekitar, dan perwujudan dari pepatah Ibu Pertiwi Bopo Angkoso yang berarti bumi adalah ibu dan langit adalah Bapak.

Waktu dan Tempat Upacara
Sebagaimana upacara tradisional pada umumnya, tedhak siten juga dilakukan secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui adalah sebagai berikut: (1) tedhak juadah pitung warna; (2) mudhun tangga tebu; (3) kurungan; (4) sebar udhik-udhik; dan (5) siraman. Adapun tempat pelaksanaannya dilakukan di halaman rumah pada pagi hari, bertepatan dengan weton anak yang akan diupacarakan. Priherdityo (2016), mendefinisikan weton sebagai perayaan hari kelahiran berdasarkan hitungan hari dalam kalender Jawa yang merupakan gabungan dari kalender Islam dan pasaran Jawa. Kalender Jawa sendiri adalah gabungan dari kalender Saka, Kalender Islan, dan Kalender Julian yang dibawa bangsa Barat. Kalender ini terdiri dari tujuh hari mulai Ahad hingga Sabtu; lima hari pasaran; rata-rata 30 hari dalam sebulan; dan 12 bulan dalam satu tahun.

Perlengkapan Upacara
Sebagai sebuah upacara yang dilaksanakan secara berurutan, tedhak siten tentu saja memerlukan peralatan dan perlengkapan untuk menunjang kelancaran prosesinya. Adapun peralatan dan perlengkapan tersebut, diantaranya: (1) jenang atau bubur merah-putih, jenang baro-baro, dan jenang putih yang ditaburi parutan kelapa serta irisan gula merah; (2) jajanan pasar berupa bikang, kacang rebus, bugis, kue lapis, nagasari, dan lain sebagainya; (3) kembang setaman (mawar, melati, kenanga dan lain sebagainya berjumlah tujuh rupa); (4) batang tebu arjuna atau tebu wulung untuk digunakan sebagai tangga; (5) banyu gege atau air yang semalaman didiamkan di tempat terbuka; (6) nasi tumpeng lengkap beserta gudhangannya; (7) undhik-undhik atau nasi yang diberi pewarna berbahan kunyit. Di dalam nasi nantinya akan diisi uang logam; (8) ayam panggang yang nantinya akan diikatkan pada tangga tebu; (9) pisang satu lirang; (10) juadah (penganan terbuat dari beras ketan dicampur dengan garam dan kelapa muda yang dikukus, dihaluskan dan dicetak) yang diberi pewarna merah, hitam, kuning, biru, putih, merah muda, dan ungu; (11) kurungan ayam yang diberi hiasan kertas warna-warni. Di dalam kurungan diletakkan seperti kalung, helang, alat tulis, buku, mainan, beras, peralatan hias, uang kertan dan lain sebagainya) (id.theasianparent.com).

Jalannya Upacara
Upacara tedhak siten diawali dengan tedhak juadah pitung warna, yaitu membimbing anak yang akan diupacarakan menginjakkan kaki ke tanah lalu berjalan di atas tujuh buah juadah (atau bubur) berwarna hitam, merah, biru, hitam, kuning, merah muda, ungu, dan putih (dari warna gelap ke terang) sebagai simbol jalan keluar atau titik terang dari setiap masalah yang kelak menghadang (suaramerdeka.com). Sedangkan jumlah warnanya (tujuh buah/pitu) merupakan simbol agar mendapat pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa selama sang anak menjalani kehidupannya (id.theasianparent.com).

Selanjutnya, mudhun tangga tebu dengan menuntun Sang anak menaik-turuni tujuh buah anak tangga tebu arjuna (wulung atau ireng) yang dibuat khusus untuk upacara. Maksud yang terkandung dalam makna simbolik dari menaik-turuni tangga tebu ini menurut jogjasiana.net adalah agar anak memiliki kemantapan hati dalam bertindak layaknya Sang Arjuna yang bertanggung jawab, selalu membela kebenaran, dan berbakti pada bangsa dan negara.

Kemudian, Sang anak dimasukkan ke dalam sebuah kurungan ayam berhias janur dan kertas berwarna-warni. Di dalam kurungan disediakan berbagai macam benda sebagai simbol berbagai macam pekerjaan, seperti: kapas, cermin, buku, kalung, dompet, cincin, uang, alat tulis, padi, dan lain sebagainya. Ketika telah berada di kurungan anak akan dibiarkan mengambil atau memilih benda-benda yang disukai. Benda-benda yang telah dipilih, konon merupakan gambaran masa depan serta pekerjaan yang nantinya akan digeluti sang anak ketika dewasa.

Setelah itu, Sang anak dibantu oleh ibunya menyebarkan udhik-udhik (beras kuning yang dicampur dengan uang logam) ke tanah untuk diperebutkan oleh anak-anak yang ikut menghadiri upacara. Maksud dari penebaran udhik-udhik tersebut adalah pengharapan kedua orang tua agar Sang anak nantinya memiliki rezeki berlimpah sehingga dapat mendermakan sebagian hartanya bagi sesama.

Terakhir, sebelum didandani, Sang anak terlebih dahulu dimandikan dengan banyu gege yang telah dicampur kembang setaman (melati, mawar, kenangka, kanthil, dan lain sebagainya). Makna simbolik dari pemandian ini adalah sebagai pengharapan agar dalam kehidupan Sang anak nanti dapat mengharumkan nama diri sendiri maupun keluarga. Dan, dengan didandaninya anak maka berakhir pulalah seluruh rangkaian upacara tedhak siten.

Nilai Budaya
Tedhak siten yang sangat erat kaitannya dengan lingkaran hidup individu ini, jika dicermati secara mendalam, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain adalah kebersamaan, ketelitian, gotong royong, dan religius. Nilai kebersamaan tercermn dari berkumpulnya sebagian anggota masyarakat dalam satu tempat untuk mengikuti prosesi tedhak siten sambil berdoa bersama demi keselamatan bersama pula. Ini adalah wujud kebersamaan dalam hidup bersama di dalam lingkungannya (dalam arti luas). Oleh karena itu, upacara ini mengandung pula nilai kebersamaan. Dalam hal ini, kebersamaan sebagai komunitas yang mempunyai wilayah, adat-istiadat dan budaya yang sama.

Nilai ketelitian tercermin dari proses upacara itu sendiri. Sebagai suatu proses, upacara memerlukan persiapan, baik sebelum, pada saat prosesi, maupun sesudahnya. Persiapan-persiapan itu, tidak hanya menyangkut peralatan upacara, tetapi juga tempat, waktu, pemimpin, dan peserta. Semuanya itu harus dipersiapkan dengan baik dan seksama, sehingga upacara dapat berjalan dengan lancar. Untuk itu, dibutuhkan ketelitian.

Nilai kegotong-royongan tercermin dari keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan upacara. Mereka saling bantu demi terlaksananya upacara. Dalam hal ini ada yang membantu menyiapkan makanan dan minuman, membuat rangkaian bunga, menjadi pemimpin upacara, dan lain sebagainya.

Nilai religius tercermin dalam doa dan harapan yang ditujukan kepada Tuhan agar sang anak mendapat perlindungan, keselataman dan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan. Dan, nilai kesatriaan tercermin dalam makna simbolik dari jenis tebu yang digunakan (arjuna) yang merupakan tokoh kesatria dunia pewayangan yang gagah berani dan pembela kebenaran. (gufron)

Sumber:
Adarrma, Tulus. 2015. “Tedhak Siten, Tradisi Pengenalan Bayi Kepada Lingkungan”, diakses dari http://beritajatim.com/gaya_hidup/341787/tedhak_siten,_tradisi_pengenalan_bayi_kepada_li ngkungan.html, tanggal 25 Oktober 2018.

Hambali, Mellyani. 2016. “Tedhak Siten – Tradisi Jawa yang Penuh Warna”, diakses dari https:// www.nyonyamelly.com/blogs/news/tedhak-siten-tradisi-jawa-yang-penuh-warna, tanggal 24 Oktober 2018.

Priherdityo, Endro. 2016. “Weton, Penanggalan yang Dianggap Ramalan”, diakses dari https:// www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160109230744-277-103197/weton-penanggalan-yang-dianggap-ramalan, tanggal 20 Oktober 2018.

“Tedak Siten: Ritual Adat Turun Tanah Pertama Kali Bagi Bayi”, diakses dari https://id.the asianparent.com/tedak-siten-ritual-turun-tanah/, tanggal 20 Oktober 2018.

“Menemukan Potensi Anak dari Upacara Tedhak Siten”, diakses dari https://www.suaramerdeka. com/gayahidup/baca/756/menemukan-potensi-anak-dari-upacara-tedhak-siten, tanggal 19 Oktober 2018.

“Upacara Tedhak Siten”, diakses dari http://www.jogjasiana.net/index.php/site/adat_tradisi/ custom_tradition-3, tanggal 20 Oktober 2018.

Datu Pujung

(Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Selatan)

Alkisah, dalam masa pemerintahan Sultan Suriansyah antara tahun 1920-1550 M Kerajaan Banjar I pernah mendapat ancaman dari luar dengan adanya sebuah perahu asing sangat besar yang hendak berlabuh di muara Sungai Kuin. Para awaknya berbeda dengan penduduk setempat. Mereka rata-rata bertubuh tinggi besar, bermata biru atau hijau dan rambut berwarna menyerupai rambut jagung. Jenis manusia ini belum pernah dilihat sebelumnya oleh penduduk Kerajaan Banjar sehingga mereka ketakutan dan menyingkir dari muara.

Sultan Suriansyah yang mendengar kedatangan perahu itu segera mengumpulkan para punggawa untuk mengantisipasi kedatangan mereka. Di dalam pertemuan salah seorang punggawa mengusulkan membuat sebuah barikade dengan menancapkan batang pepohonan besar dan tinggi ke dasar sungai agar perahu tidak dapat bersandar di pelabuhan. Namun, hanya orang sakti mandraguna dapat melakukannya, sementara tidak ada seorang pun para punggawa yang memiliki kesaktian seperti itu.

Di tengah kebutuan mencari solusi, ada punggawa yang mengusulkan membuat sebuah sayembara. Isinya bagi orang yang mampu membuat barikade di dasar sungai akan mendapat hadiah besar dari kerajaan. Tetapi, sekali lagi, untuk menyebarkan sayembara ke seluruh pelosok negeri membutuhkan waktu relatif lama, sementara jarak perahu dengan pelabuhan hanya dalam hitungan jam. Para awak perahu asing tadi dapat sewaktu-waktu bersandar dan menyerang kerajaan.

Tidak lama setelah usulan sayembara dilontarkan, dari arah belakang para punggawa yang berada di sekeliling Sultan terdengar sebuah suara seorang kakek. Entah dari mana, Sang kakek tiba-tiba muncul dan menyatakan sanggup menghalau perahu asing. Dia bernama Pujung, seorang arif, bijaksana, dan menguasai banyak ilmu. Oleh masyarakat di kampungnya Pujung dijadikan panutan dan digelari sebagai Datu. Dan, sama seperti kedatangannya pada pertemuan Sultan beserta para punggawa, masyarakat di kampungnya pun tidak asal usul Datu Pujung. Dia hadir dan berbaur di tengah mereka untuk memberikan sebuah pencerahan.

Kedatangan Sang kakek dalam pertemuan tertutup tersebut tentu saja membuat semua orang heran. Di antara mereka ada yang langsung percaya karena untuk dapat memasuki ruang pertemuan seseorang harus dapat melewati penjagaan istana yang berlapis. Sementara sebagian lainnya ada yang malah mencibir atau bahkan tidak mengacuhkannya sama sekali. Mereka beranggapan tidaklah mungkin seorang kakek tua renta dan sudah "batu tanah" dapat melakukan pekerjaan besar dalam waktu singkat.

Berbeda dengan para punggawanya, Sultan Suriansyah yang arif dan bijaksana tidak serta merta mengusir Datu Pujung. Sultan malah memberi kesempatan bagi Datu Pujung menjelaskan bagaimana dia akan menghalau perahu. Sang Datu tidak memberikan penjelasan apapun. Dia hanya meminta agar Sultan mempercayai serta memberikan izin baginya untuk leluasa bertindak. Dia berani menjamin perahu asing itu akan kandas sebelum mencapai dermaga.

Selepas berkata demikian, Datu Pujung langsung menghilang dari pandangan. Para Punggawa kerajaan dan Sultan Suriansyah tercengang-cengang dibuatnya. Kini mereka yakin kalau Datu Pujung bukanlah orang sembarangan. Hanya orang sakti mandragua yang memiliki ilmu kanuragan sangat tinggi yang dapat berbuat demikian. Datu Pujung menjadi secercah harapan bagi Kerajaan Banjar dalam menghalau perahu asing yang ingin berlabuh.

Ketika tengah malam tiba, suasana di atas perahu asing tampak lengang. Pada bagian geladak hanya ada belasan orang berjaga sambil menenteng senapa laras panjang. Para awak lain ada yang beristirahat menunggu giliran jaga dan ada pula yang masih bersantai di bagian buritan. Namun, suasana lengang tersebut hilang ketika perahu miring ke arah kanan. Belum sempat mengetahui apa yang terjadi, perahu berbalik miring ke arah kiri. Begitu seterusnya hingga perahu seakan diombang-ambing, padahal tidak ada gelombang besar menerjang.

Sadar ada yang tidak beres, sejumlah awak bersenjata lengkap berhamburan ke geladak. Di sana mereka melihat Datu Pujung mengenakan jubah putih tengah berdiri menatap. Merasa hanya seorang tua renta yang dihadapi, mereka langsung merangsek dan menyudutkannya hingga ke bagian haluan. Ketika akan di tangkap Datu Pujung menghentakkan kaki hingga membuat perahu retak lalu melompat ke bagian buritan. Dalam kondisi gelap para awak yang berjaga di sana tidak mau mengurung Datu Pujung. Mereka langsung menembaknya hingga tersungkur.

Namun, saat didekati tiba-tiba Datu Pujung menghentakan kaki lalu meloncat meninggalkan perahu. Sesaat setelah hentakan kaki, bagian tengah perahu langsung retak dan terbelah menjadi dua bagian. Perahu pun tenggelam beserta seluruh awaknya. Potongan-potongan perahu yang tenggelam membentuk sebuah delta yang oleh masyarakat setempat kemudian dinamakan sebagai Pulau Kaget. Sementara awak perahu secara ajaib beralih ujud menjadi bekantan (kera berhidung mancung), penghuni Pulau Kaget hingga sekarang.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Asal Mula Danau Malawen

(Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu kala ada sepasang suami-isteri tanpa anak yang tinggal di sebuah pondok kecil di tepi sebuah hutan. Seusai bekerja di ladang, hampir setiap malam hari mereka memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar dikaruniai momongan. Setelah beberapa bulan berdoa dan berpuasa, Sang isteri mulai menunjukkan tanda-tanda hamil. Badannya terasa tidak enak dan perut mual.

Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki. Bayi yang telah diidam-idamkan kelahirannya lebih dari sepuluh dasawarsa itu diberi nama Kumbang Banaung. Agar tumbuh menjadi anak yang berbakti, setiap hari dia dibekali petuah-petuah atau nasihat-nasihat supaya patuh terhadap orang tua serta bertingkah laku sopan dengan siapa saja.

Namun, bekal tadi rupanya tidak berpengaruh sama sekali pada kepribadian yang membentuk prilaku Kumbang Banaung. Walau tumbuh sebagai pemuda yang gagah dan tampan, sikapnya terhadap orang tua sangat bertolak belakang. Dia malah menjadi seorang yang keras kepala, tidak mau diatur, serta setiap keinginannya harus dipenuhi.

Suatu saat dia meminta Sang ayah menemani berburu binatang di hutan. Sang ayah menolak karena sedang sakit. Tetapi dia tetap memaksa dan mengancam akan pergi seorang diri bila tidak mau menemani. Khawatir akan keselamatan Kumbang Banaung, sementara kondisi badan tidak memungkinkan beranjak dari tempat tidur, Sang ayah lalu memberikan benda pusaka berupa piring malawen. Benda keramat ini dapat digunakan bagi segala macam keperluan.

Berbekal parang, tombak, makanan, dan piring malawen, Kumbang Banaung pergi menuju hutan seorang diri. Oleh karena tanpa bimbingan Sang ayah, dia berjalan tanpa arah hingga sampai di sebuah kampung bernama Sanggu yang terletak di tengah hutan. Di sana dia melihat ada sebuah api unggun dengan kepulan asap membumbung tinggi. Rupanya kepala kampung sedang mengadakan sebuah upacara adat berkenaan dengan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa bagi anak perempuannya yang bernama Intan.

Begitu melihat sosok Intan yang cantik molek, Kumbang Banaung langsung terpesona dan jatuh hati. Dia pun ikut membaur bersama warga masyarakat yang ikut menghadiri upacara. Setelah tahapan upacara rampung, Kumbang Banaung menyempatkan diri berkenalan dengan Intan. Tanpa disangka Intan menyambut dengan sangat ramah dan sopan sehingga hanya dalam waktu singkat mereka menjadi akrab. Rupanya Intan juga tertarik akan ketampanan Kumbang Banaung.

Sejak saat itu, Kumbang Banaung kerap pergi ke Sanggu menemui Intan. Walhasil, hubungan mereka akhirnya menjadi bahan pembicaraan orang. Sang kepala kampung yang sudah terikat "kontrak" untuk menjodohkan Intan dengan seorang juragan rotan setempat menjadi marah sekaligus malu. Dia tidak ingin nama baiknya tercemar hanya gara-gara Intan berpacaran dengan Kumbang Banaung. Oleh karena itu, dia melarang Intan berhubungan lagi walau hanya sekedar berpapasan muka dengan Kumbang Banaung.

Kumbang Banaung tidak tinggal diam ketika mengetahui Intan dilarang berhubungan dengannya. Di sini watak keras kepala, susah diatur, dan keinginan harus terpenuhi muncul. Dia tidak mempedulikan norma yang berlaku dalam masyarakat setempat yang mangatur hal-ihwal apabila seorang perempuan telah dijodohkan. Baginya, kesempatan masih terbuka sebelum Intan dan Juragan rotan resmi menjadi suami-isteri.

Atas dasar itulah Kumbang Banaung kemudian bertekad "mencuri start" terlebih dahulu. Pada suatu malam dia mendatangi rumah Intan secara diam-diam. Setelah bertemu muka dia langsung mengutarakan niatnya untuk mengajak Intan berkawin lari. Intan yang memang tidak cinta pada Juragan rotan langsung menyanggupi. Mereka kemudian meninggalkan rumah secara sembunyi-sembuynyi agar tidak diketahui orang tua dan para tetangga. Tetapi baru berjalan beberapa puluh meter dari rumah, ada belasan warga yang kebetulan melihat dan langsung mengejar karena disangka pencuri.

Ketakutan akan dihakimi warga, Kumbang Banaung dan Intan lari tunggang-langgang menuju sungai besar di bagian barat kampung. Sampai di sungai ternyata tidak ada satu pun sampan yang dapat digunakan untuk menyeberang, sementara para pengejar semakin mendekat. Di tengah keputusasaan, Kumbang Banaung teringat akan piring malawen milik Sang ayah. Piring itu dilemparkan ke tepi sungai dan secara ajaib mengembang menjadi besar. Mereka pun menggunakannya sebagai perahu.

Ketika "perahu piring" berada di bagian tengah sungai, entah kenapa tiba-tiba hujan turun sangat lebat disertai petir sambar-menyambar. Sesaat kemudian, datang banjir bandang dari arah hulu sungai. "Perahu piring" milik Kumbang Banaung yang tidak dilengkapi dayung tentu saja oleng, terombang-ambing, dan akhirnya tenggelam bersama Kumbang dan Intan di dalamnya. Saat tercebur ke sungai terjadi suatu keanehan pada keduanya yang seketika menjelma menjadi buaya putih. Keanehan lain juga terjadi pada aliran sungai yang "mampet" dan membentuk sebuah danau. Oleh masyarakat setempat danau itu kemudian diberi nama sebagai Malawen. Danau Malawen sekarang dikembangkan sebagai salah satu objek wisata unggulan daerah Barito Selatan.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Rompang

Rompang adalah salah satu tahapan dalam pembukaan ladang (lingko) pada masyarakat Manggarai di Nusa Tenggara Timur. Rompang berupa aktivitas mengumpulkan dahan, kayu, ranting, dan rerumputan pada suatu tempat untuk dibakar (tapa uma). Setelah dibakar sisa-sisanya yang disebut untung dikumpulkan dan dibakar kembali hingga menjadi abu. Lokasi pembakaran untung tersebut nantinya akan ditanami berbagai berbagai macam tumbuhan ladang, seperti: ketela rambat, mentimun, ubi jalar, dan lain sebagainya.

Tapa Uma

Tapa uma adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah aktivitas perladangan berupa pembakaran rima atau pepohonan kering hasil pembukaan ladang. Aktivitas yang merupakan bagian dari proses perladangan ini baru boleh dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Tua Teno/lebok. Tua Teno adalah salah seorang anggota klen (Tua Pangga) yang dianggap mampu dan bijaksana untuk mengatur kepentingan bersama dalam pembukaan kebun/ladang (lingko) serta semua urusan adat.

Dalam menentukan lahan yang akan ditapa uma, Tua Teno akan mengadakan musyawarah bersama para pemilik lingko. Adapun tujuannya adalah agar diketahui oleh para pemilik lingko yang berdekatan dengan lokasi tapa uma, sehingga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (area tapa uma meluas), penyelesaiannya tidak berlarut-larut. Tahapan musyawarah harus dilakukan sebelum tapa uma dilaksanakan dengan sanksi adat berupa denda (bergantung pada tingkat kerusakan yang ditimbulkan) bila ada yang melanggarnya.

Ki Peurat

Ki peurat atau Andrographis paniculata adalah istilah orang Sunda bagi sejenis tumbuhan yang berasal dari kingdom plantae, ordo lamiales, famili acanthaceae, genus andrographis, dan spesies paniculata (id.wikipedia.org). Tanaman yang tumbuh pada ketinggian hingga 700 meter di atas permukaan air laut dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm/tahun dan suhu udara 25-32 derajat Celcius ini memiliki batang bercabang banyak berbentuk segi empat dengan nodus membesar dan tinggi antara 50-90 centimeter. Daunnya berbentuk tunggal bertangkai pendek dengan permukaan bagian atas berwarna hijau tua sedangkan bawahnya hijau muda. Panjang daun antara 2-8 centimeter, lebar 1-3 centimeter dengan bagian ujung meruncing dan tepian rata. Bunganya berbentuk tabung kecil berwarna putih bernoda ungu, sedangkan buahnya berbentuk silindris berwarna hijau kekuningan dengan panjang sekitar 1,5 centimeter dan lebar 0,5 centimeter. Apabila telah masak, buah ki peurat akan pecah membujur menjadi 4 keping biji pipih berwarna cokelat muda.

Kandungan Kimia
Tanaman ki peurat mengandung banyak sekali zat kimia yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Zat-zat kimia tersebut diantaranya adalah: laktone berupa deoxyandrographolide, andrographolide (zat pahit), neoandrographolide, 14-deoxy-11, 12-didehydroandrographolide, dan hormonandropholide pada daun dan batangnya; sementara bagian akarnya mengandung flavonoid berupa polymethoxyflavone, andrigraphin, panicolin, mono-o methilwithin, apigenin-7, 4-dimetol eter, alkane, keton, aldehid, anrodrafoliida 15, kelmegin, hablur kuning, kalium, kalsium, natrium serta asam kersik (sambiloto.org).

Zat-zat kimia tersebut memiliki fungsi masing-masing. Misalnya, kalium berfungsi untuk meningkatkan sekaligus membantu mengeluarkan urin dalam tubuh; laktone yang mengandung neoandrographolid, anrographolid, deoksiandrographolid, 14-deoksi-11, dan 12-dehidroandrographolid berfungsi sebagai antiradang dan antipiretik; andrografolid berfungsi menurunkan demam yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin yang menyebabkan panas serta melindungi sel hati dari zat toksik; flavonoid berfungsi mencegah dan menghancurkan penggumpalan darah; dan berbagai macam fungsi lainnya yaitu menghambat pertumbuhan sel kanker hati, trofit placenta, meningkatkan aliran empedu, merangsang daya tahan selular (fagositosis), meningkatkan antibody (immunostimulant), menghambat penyebaran HIV (Human Immunodeficiency Virus), merangsang dayatahansel (fagositosis) darah putih, antiracun (detoksikasi), penghambat reaksi imunitas (imunosupresi), dan penghilang rasa nyeri (analgesic).

Khasiat Ki Peurat
Lepas dari banyaknya jumlah senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan tersebut, sejak dahulu kala ki peurat telah digunakan sebagai bahan pengobatan. Tanaman ini, baik daun, batang, maupun akarnya, dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti: hepatitis, disentri basiler, influenza, infeksi saluran empedu, malaria, abses paru, radang amandel (tosilitis), radang paru (pneumonia), radang ginjal akut (pielonefritis), radang saluran napas (bronkhitis), radang telinga tengah (OMA), radang usus buntu, sakit gigi, kencing manis (diebetes melitus), kencing nanah (gonore), TB paru, batuk rejan (pertusis), sesak napas (asma), darah tinggi (hipertensi) kusta (morbus hansen), keracunan makanan, kanker, kehamilan anggur (mola hidatidosa), trofoblas ganas, tumor paru, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah beberapa cara pengolahan sambiloto untuk mengobati suatu penyakit.

1. Hareeng (demam)
Keringkan lalu tumbuk hingga halus segenggam daun ki peurat, kemudian rebus dengan satu gelas air. Setelah dingin, air rebusan tersebut dapat diminumkan sementara ampasnya jadikan sebagai tapal badan yang panas.

2. TB paru
Gilingan daun ki peurat yang telah menjadi bubuk dicampur madu lalu dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil berukuran sekitar 0,5 centimeter. Untuk mengobati TB paru, bulatan kecil ki peurat tadi diminum 2-3 kali sehari sejumlah 15-30 butir per sekali minum.

3. Kencing nanah
Sejumlah tiga batang ki peurat berikut daunnya yang masih menempel dicuci, keringkan, lalu rebus dalam 4 gelas air. Setelah tersisa kira-kira 2,5 gelas, saring dan tambahkan madu secukupnya untuk dijadikan minuman.

4. Tifus
Cuci dan rebus 10-15 lembar daun ki peurat dengan dua gelas air hingga mendidih dan hanya menyisakan satu gelas saja. Setelah dingin tambah dengan satu sendok makan madu atau air jahe manis agar tidak terlalu pahit ketika diminum.

5. Darah tinggi
Cuci dan potong kecil-kecil 7-9 lembar daun ki peurat lalu rebus dengan satu gelas air hingga mendidih. Setelah dingin, tambahkan satu sendok makan madu dan minum minumal tiga kali sehari.

6. Mencret (diare)
Daun ki peurat dikeringkan lalu tumbuk hingga halus atau langsung rebus dalam 4-5 gelas air hingga tersisa 2-3 gelas. Air rebusan tersebut kemudian didinginkan dan minum selama 2 hari, masing-masing sebanyak 1 gelas. Apabila perlu dapat tambahkan satu sendok madu sebelum memulai perebusan.

7. Nyeri sirah
Keringkan segenggam daun ki peurat lalu tumbuk hingga halus dan kemudian rebus dengan satu gelas air. Setelah dingin, air rebusan terdebut dapat diminum.

8. Kencing manis
Setengah genggam daun ki peurat dicuci lalu rebus dalam tiga gelas air hingga tersisa sekitar 2 gelas. Setelah dingin, saring dan minum sebanyak 3/4 gelas tiap selesai makan.

Foto: http://awanherbal.com/4-tanaman-obat-asam-urat-dan-cara-membuat-ramuannya.html
Sumber:
"Sambiloto", diakses dari http://sambiloto.org/sambiloto/, tanggal 4 Juli 2014.
"Sambiloto", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sambiloto, tanggal 4 Juli 2014.

Paring

Dalam proses pertanian tanah kering atau perladangan di daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ada sebuah tahap yang dinamakan sebagai Paring. Kata ini berasal dari “pari” yang berarti menjemur. Paring adalah proses membiarkan hasil tebasan berupa rerumputan, dahan, dan ranting hingga menjadi kering oleh panas matahari selama sekitar satu bulan lamanya. Apabila seluruh hasil tebasan telah mengering, maka proses selanjutnya adalah tapa uma atau pembakaran yang waktunya harus ditentukan melalui musyawarah adat yang dipimpin oleh tua teno.

Popular Posts