Desa Sarwodadi

Letak dan Keadaan Alam
Sarwodadi adalah sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dari ibukota kecamatan jaraknya kurang lebih 3 Kilometer ke arah utara; sedangkan dari ibukota kabupaten jaraknya kurang lebih 20 Kilometer ke arah timur. Desa ini sebelah utara berbatasan dengan Desa Pandek, sebelah timur berbatasan dengan Desa Gandu, sebelah barat berbatasan dengan Desa Susukan, dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Gintung.

Desa Sarwodadi merupakan gabugan dari tiga buah desa, yaitu: Kaso Kulon, Kaso Wetan, dan Bengkelung. Sarwodadi merupakan kata jadian (gabungan) antara sarwo dan dadi yang berasal dari bahasa Jawa. Sarwo berarti “serba” dan dadi berarti “jadi”. Jadi, dengan nama itu apa saja yang diharapkan atau dicita-citakan oleh masyarakatnya menjadi kenyataan.

Desa Sarwodadi yang luasnya mencapai 200.105 hektar ini berada di dataran rendah (kurang lebih 7 kilometer dari pantai Laut Jawa). Dari luas tersebut sebagian besar (116.838 hektar atau 58,39%) berupa persawahan; selebihnya (83.267 hektar atau 41,61%) berupa pekarangan. Sedangkan, suhu udara yang menyelimutinya berkisar antara 25--31 Celsius. Sementara, curah hujannya rata-rata 2.500 Milimeter pertahun. Desa ini dilalui oleh saluran sekunder Kaliwadas yang membentang dari arah selatan ke utara. Saluran ini sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Desa Sarwodadi, khususnya bagi petani.

Administrasi Pemerintahan dan Kependudukan
Sebagai satuan wilayah yang bernama desa, Sarwodadi dipimpin oleh seorang kepala desa (kades). Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat menyebut dan atau menyapanya sebagai lurah (bukan kades). Jabatan lurah bukan didasarkan atas penunjukkan atau penempatan pejabat di atasnya (camat atau bupati), tetapi melalui pemilihan warganya yang oleh masyarakat setempat disebut “kodrah”.

Tugas seorang lurah pada dasarnya adalah ngayomi warganya agar kehidupannya aman, tenteram, damai, maju, dan sejahtera. Untuk mewujudkan kehidupan yang demikian, lurah dibantu oleh jajarannya yang terdiri atas: carik (sekretaris desa), kepala urusan pemerintahan, bau (kepala urusan pembangunan), kepala urusan kesejahteraan rakyat, kepala urusan umum, dan kepala urusan keuangan. Lurah beserta stafnya bukan termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Oleh karena itu, mereka tidak digaji oleh pemerintah. Namun demikian, mereka memperoleh tanah garapan (sawah) milik desa yang oleh masyarakat setempat disebut bengkok. Oleh karena bengkok merupakan tanah (sawah) milik desa, maka ketika seseorang tidak menjadi perangkat desa lagi, tanah tersebut dikembalikan kepada desa untuk diserahkan kepada penggantinya.

Selain perangkat-perangkat desa sebagaimana disebutkan di atas, juga ada perangkat-perangkat yang membawahi wilayah pedukuhan. Desa Sarwodadi terbagi dalam 3 wilayah pedukuhan, yakni: (1) Kasowetan, (2) Kasokulon, dan (3) Bengkelung. Masing-masing dukuh membawahi 2 dusun. Dukuh Kasowetan membawadi Dusun I dan II (RT 1—13); Dukuh Karokulon membawahi Dusun III dan IV (RT 14—26); dan Dukuh Bengkelung membawahi Dusun V dan VI (RT 27—33). Jadi, Desa Sarwodadi terdiri atas 3 pedukuhan, 6 dusun (RW), dan 33 RT.

Penduduk Desa Sarwodadi berjumlah 5.471 jiwa dengan rincian 2.780 jiwa (50,10%) laki-laki dan 2.691 jiwa (49,90%) perempuan. Daerah permukiman mereka berada di bagian barat-laut desa. Bagian lainnya (timur dan selatan desa) diperuntukan sebagai persawahan. Areal yang diperuntukkan bagi persawahan, sebagaimana telah disinggung, merupakan bagian terbesar dari penggunaan tanah yang ada di Desa Sarwodadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian penduduknya bekerja di sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik maupun buruh tani.

Berdasarkan monografi Desa Sarwodadi tahun 2012 tercatat bahwa penduduk yang bekerja secara keseluruhan berjumlah 3.639 jiwa. Selebihnya, yaitu 1.832 jiwa belum bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Mereka terdiri atas anak-anak balita dan usia sekolah. Penduduk Desa Sarwodadi yang bekerja di sektor pertanian persentasinya lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang bekerja di sektor lain. Penduduk yang bekerja sebagai buruh tani saja jumlahnya mencapai 1.896 orang atau 52,0%. Apalagi, jika ditambahkan dengan petani pemilik yang jumlahnya mencapai 728 orang atau 20,1%, maka secara keseluruhan penduduk yang bekerja di sektor pertanian jumlahnya mencapai 2.624 orang atau 72,1%). Adapun pertanian yang mereka usahakan adalah sawah dengan sistem irigasi.

Penduduk Desa Sarwodadi sebagian besar (1761 orang atau 4420%) hanya berpendidikan SD/sederajat. Penduduk yang bependidikan SLTP/sederajat juga jumlahnya relatif besar, yaitu mencapai 1.315 orang atau 33,00%. Kemudian, penduduk yang berpendidikan SLTA/sederajat berjumlah 827 orang (20,76%). Hanya sebagian kecil yang berpendidikan S1 (32 orang atau 0,80%) dan S2 (12 orang atau 0,30%). Ini artinya tingkat pendidikan masyarakat Desa Sarwodadi dapat dikatakan rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Desa Sarwodadi adalah ekonomi. Sebab, untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SLTA dan Perguruan Tinggi) mereka harus keluar dari desanya, yang tentunya membutuhkan dana relatif banyak. Oleh karena itu, penduduk yang berpendidikan tinggi jumlahnya hanya puluhan orang.

Latar Belakang Sosial-budaya
1. Bahasa
Secara etnik masyarakat Desa Sarwodadi adalah Jawa. Walaupun pada hakekatnya sama, yaitu sama-sama pendukung budaya Jawa, namun faktor geografis pada gilirannya membuat budaya mereka berbeda dengan budaya Jawa yang ada di pusatnya (Yogyakarta dan Surakarta), khususnya dalam segi bahasa. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Desa Sarwodadi memang bahasa Jawa, namun demikian dialeknya berbeda. Jika orang Yogyakarta dan Surakarta dalam beberapa kata yang diakhiri dengan huruf “k” pengucapannya tidak sejelas orang Sarwodadi yang berada di Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Oleh karena itu, orang Pemalang, termasuk orang Sarwodadi, sering disebut sebagai “wong ngapak” karena dialek yang digunakan termasuk dalam kategori “Banyumasan”1. Selain dialek, juga ada perbedaan-perbedaan nama suatu benda dan atau sikap dan tingkah laku. Sebagai contoh, apa yang disebut orang Yogyakarta sebagai “tape”, orang Sarwodadi menyebutnya “kenyas”. Kemudian, apa yang disebut orang Yogyakarta sebagai “ndhableg”, orang Sarwodadi menyebutnya “mblekesunu”, dan masih banyak lagi istilah-istilah yang berbeda penyebutannya, baik itu benda maupun kerabat.

2. Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Desa Sarwodadi semuanya beragama Islam. Setiap pedukuhan memiliki langgar (tempat peribadatan) tersendiri. Selain langgar yang tersebar di setiap pedukuhan, desa memiliki sebuah masjid yang tidak hanya digunakan untuk melakukan sholat lima waktu dan jumatan (sholat Jumat) juga pengajian dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam rangka memperingati hari-hari besar agama Islam, muludan, Nuzulul Quran, Isra Mi'rojd, dan sebagainya.

Meskipun masyarakat Desa Sarwodadi semuanya menganut agama Islam, namun dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya mereka masih mempercayai adanya mahkluk-makhluk halus yang menempati tempat-tempat tertentu, seperti: sumur mati, sawah, dan pesisir laut. Konon, di daerah Sigeseng (pesisir) ada kerajaan makhluk halus. Di daerah tersebut pernah ada kapal yang terdampar karena nahkodanya mengira pelabuhan. Oleh karena itu, para orang tua berpesan kepada anak-anaknya agar tidak mendekati tempat itu. Kalaupun sampai di tempat itu jangan mengambil sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Sebab, pernah ada kejadian ada orang yang “iseng” (mengambil sesuatu), lalu jatuh sakit. Untung ada orang “tua” yang menyarankan agar apa yang diambilnya dikembalikan. Setelah dikembalikan, maka yang bersangkutan sembuh seperti sediakala. (Sindu Galba)

Keraton Kaibon

Di Kabupaten Serang, tepatnya di kawasan Banten Lama terdapat sebuah benda cagar budaya berupa reruntuhan bangunan bekas keraton. Lokasinya berada di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Keraton yang merupakan salah satu saksi kejayaan Kerajaan Banten Lama ini dibangun sekitar tahun 1815 saat Sultan Syafiudin memegang tampuk pemerintahan. Tujuannya adalah sebagai tempat tinggal Sang Ibu, Ratu Aisyah.

Sesuai dengan tujuannya, maka keraton diberi nama sebagai Kaibon yang dapat diartikan sebagai keibuan atau sesuatu yang bersifat seperti seorang ibu (lemah lembut dan penuh kasih sayang). Letak keraton menghadap arah barat dengan sebuah kanal di bagian depannya berfungsi sebagai prasarana transportasi menuju pusat pemerintahan di Keraton Surosowan yang berada di bagian utara.

Namun, kejayaan Keraton Kaibon tidaklah lama karena pada tahun 1832 dihancurkan oleh Belanda yang dipimpin oleh Guberbur VOC saat itu Herman Willem Daendels. Adapun sebabnya adalah keinginan Deandles untuk meneruskan pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan yang ditolak oleh Sultan Syaifudin. Penolakan Sang Sultan tadi ditunjukkan dengan cara yang ekstrim yaitu mengembalikan utusan Deandles bernama Du Puy dalam bentuk kepalanya saja (tanpa anggota tubuh lain).

Saat ini yang tersisa dari Keraton Kaibon hanyalah puing-puing bangunan yang sudah tidak utuh lagi yang tersebar dalam area seluas sekitar empat hektar. Sisa-sisa bangunan tersebut diantaranya adalah: (1) bagian depan keraton terdapat lima buah gerbang bersayap bergaya Jawa-Bali berbentuk bentar dengan tinggi sekitar dua meter. Salah satu gerbang terdapat pintu paduraksa menuju ruang utama; (2) ruang utama yang diduga sebagai kamar Ratu Aisyah berbentuk persegi empat dengan bagian dasar lebih rendah dari tanah yang diduga pula sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air; dan (3) sebuah bangunan menyerupai masjid di sisi kanan gerbang lengkap dengan pilar dan mimbar.










Haji Rijan

Haji Rijan adalah tokoh pejuang perintis kemerdekaan (1945-1949) yang lahir di Bekasi sekitar tahun 1875. Sebagai perintis kemerdekaan, namanya kerap disebut oleh para pelaku dan saksi sejarah pada masa Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, perang kemerdekaan, hingga awal demokrasi liberal. Sementara menurut anaknya sendiri (Marzuki Hidayat) yang dikutip oleh Anwar (2017), Sang ayah selalu diidentikkan sebagai penggelora semangat juang rakyat. Haji Rijan dipandang sebagai pemimpin kharismatis, guru mengaji yang disegani, dan tempat bertanya para pemuda pejuang.

Predikat sebagai penggelora semangat juang rakyat disebabkan karena pada periode 1930-1950an Haji Rijan kerap hadir dalam segenap perjuangan melawan penjajah. Pada masa Hindia Belanda misalnya, beliau masuk dalam jajaran pimpinan Sarekat Islam Bekasi. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), aktif di organisasi AAA atau Jepang pemimpin Asia, Jepang cahaya Asia, dan Jepang pelindung Asia.

Bahkan saat awal kemerdekaan, tokoh karismatis ini masih ikut mengayomi dan menggelorakan semangat para pejuang muda untuk ikut bertempur membela tanah air. Dia menjadikan rumahnya sebagai markas pasukan Pelopor dan Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) yang dipimpin oleh Sang anak, M. Husein Kamaly. Selain itu, dalam arsip Badan Keamanan Rakyat (BKR) Keresidenan Jakarta yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, nama Haji Rijan pun juga disebutkan.

Arsip bernomor 47/BKR bertanggal 9 November 1945 itu berisi laporan Pemimpin BKR Keresidenan Jakarta, R. Soeriodipoetra kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Dalam lamporannya R. Soeriodipoetra juga melampirkan hasil laporan Tarmidji (salah seorang anggota BKR bagian penyidikan) sejumlah tiga halaman. Sebagian besar isi laporan Tarmidji sebagian besar berisi pertemuan dengan Haji Rijan di rumahnya di daerah Kranji.

Ada semacam tanya jawab dengan Haji Rijan dalam laporan Tarmidji. Dia menceritakan Haji Rijan menyambut dengan gembira dan sekaligus memujinya sebagai anak muda yang bisa menyatukan para haji di Bidara Cina dengan para haji lain untuk mendirikan Madrasatul Islamiyah, yaitu Haji Joenoes, KH. M. Moentaha S., Abdoelkadir bin Mohammad Alhaded, dan Ir. Safwan. Beliau bangga sekaligus heran melihat anak-anak muda seperti Tarmidji berani bertaruh nyawa demi mempertahankan kemerdekaan. Sebaliknya, Tarmidji juga memuji karena walau telah berusia lanjut, Haji Rijan masih bersedia menjadi pemimpin pasukan rakyat berjuang membela agama Islam sekaligus menghancurkan perintang-perintang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu NICA dan para kaki tangannya.

Dalam kesempatan itu Haji Rijan berharap agar Tarmidji dapat mempertemukannya dengan Ir. Safwan. Namun Haji Rijan tidak menguraikan ciri-ciri fisik atau profil Ir. Safwan secara gamblang. Dia hanya mengatakan bahwa Ir. Safwan adalah seorang pejuang yang berintelegensia tinggi serta seorang sangat taat dalam beragama. Hal ini tentu saja membuat Tarmidji bingun dan hanya dapat berkata akan berusaha mencari tanpa memberi jaminan akan bertemu dengan Ir. Safwan.

Ketokohan Haji Rijan bukan hanya tercatat dalam arsip nasional Republik Indonesia saja, melainkan juga dalam ingatan kolektif para murid, kerabat, serta masyarakat di sekitarnya. Damanhuri Husein misalnya, salah seorang cucu Haji Rijan membenarkan kalau termasuk salah satu pemimpin yang dimusuhi oleh para tuan tanah dan diincar oleh Belanda. Pasalnya, banyak “aksi” beliau yang meresahkan mereka. Salah satunya, ketika para pemuda menggelar rapat raksasa di Ikada pada 19 September 1945, Haji Rijan memimpin rombongan pemuda Bekasi yang berangkat dari rumahnya di Kranji yang dijadikan sebagai markas pejuang. Pada awal revolusi, rumah ini pernah dilempari sebuah mortir namun hanya mengenai pohon yang ada di bagian pekarangannya.

Sebagai catatan, Haji Rijan menikah dengan seorang perempuan bernama Kisah. Dari hasil pernikahan tersebut mereka dikaruniai tujuh orang anak, yaitu: Muhammad, Saabah, Sauwih, Riah, Eno, Amsani, dan Muhammad Husein Kamaly. Muhammad dan Muhammad Husein Kamaly mengikuti jejak Sang Ayah. Muhammad menjabat sebagai detasement comandan atau komandan polisi pertama di Bekasi, sedangkan Muhammad Husein Kamaly, selain ketua BBRI juga merangkap sebagai ketua DPRD Kabupaten Bekasi periode 1956-1960.

Haji Rijan sendiri wafat pada 23 September 1957 dalam usia 82 tahun. Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Mushala Al-Ikhlas, Gang Swadaya, Jalan Banteng, Kampung Kranji Besar, Kota Bekasi. Di dekat pusaranya terdapat sebuah replika bambu runcing berbendera Merah-Putih yang disematkan oleh Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) terhadap sebagai pengakuan terhadap segala jasa yang telah diberikan pada bangsa dan negara.

Siluq

(Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur)

Alkisah, dahulu di hulu Sungai Mahakam ada sebuah pohon besar yang dibawahnya tinggal tiga orang bersaudara. Mereka adalah Siluq (perempuan) serta dua orang adik laki-lakinya bernama Sayus dan Songo. Ketiganya memiliki kekhasan masing-masing. Silqu memiliki hobi berbelian dan bedewaan atau mencari ilmu kesaktian guna mengobati penyakit. Dia terkadang lupa makan dan tidur karena asyik mempelajari ilmunya. Sang adik, Sayus, bernyali besar serta memiliki tubuh yang dapat dibesar-kecilkan. Apabila tubuh sedang dalam keadaan besar pepohonan dapat dicabutnya dengan mudah. Sebaliknya, bila sedang mengecil dapat menyerupai tubuh seorang kanak-kanak berusia sembilan tahun. Sayus memiliki sifat kurang bijak dengan sering mencampuri orang lain serta jika bertindak kurang memikirkan akibatnya. Sedangkan sang adik, Songo, tidak memiliki keahlian apa pun selain tidur. Dia tidak memiliki kemauan untuk bekerja dan hanya bergerak jika diperintah walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Suatu hari, terjadilah hujan lebat semalam suntuk hingga ketiga bersaudara tadi tidak dapat tidur karena pondok mereka yang beratap dedaunan bocor. Esok harinya, Sayus bergegas hendak mencari daun serdang guna memperbaiki rumah serta memeriksa jerat yang dipasang di tengah hutan. Sebelum pergi dia mendatangi Siluq dan berpesan agar dia memasak. Siluq yang tengah khusuk bebelian tentu saja kaget mendengar suara Sayus yang menggelegar. Bahkan dia sampai kesal karena usaha bebelian yang telah dilakukan semalam suntuk harus diulang kembali gara-gara terganggu suara Sayus.

Namun, sebagai kakak yang menggantikan peran orang tua dia mahfum apa yang dikehendaki oleh Sayus. Tanpa banyak bicara Siluq menuju dapur. Ketika anak menanak nasi ternyata persediaan beras telah habis. Apabila dia meminta Sayus membeli beras tentu akan menolak karena sudah berniat mencari daun serdang. Sedangkan, bila menyuruh Songo tentu beras yang dibeli tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, Siluq coba mempraktekkan ilmu beliannya guna mendapatkan beras secara gaib.

Hal pertama yang dilakukan adalah mengambil tujuh helain daun padi, dibersihkan dengan air, lalu dimasukkan dalam periuk. Kemudian dia mendatangi Sayus dan berpesan agar jangan sekali pun membuka tudung periuk yang sedang digunakan menanak. Apabila dia belum kembali dari mencuci serta menjemur tikar di tepian sungai, hendaklah Sayus menjaga agar apinya tetap menyala dengan selalu menambahkan kayu bakar.

Selesai berkata demikian Siluq menuju tepi sungai, sementara Sayus menuju hutan mencari daun serdang serta memeriksa jerat. Sampai di hutan Sayus mendapati seekor babi jantan besar terjerat perangkap. Secepat kilat babi itu dipukul hingga tewas lalu diikat menjadi satu dengan daun serdang untuk diangkut ke rumah.

Tiba di rumah, babi serta daun diletakkan begitu saja di pelataran. Sayus langsung menuju dapur hendak memeriksa apakah makanan sudah tersaji atau belum. Namun yang dilihat hanyalah pengukus bertudung dengan bara api yang menyala di bawahnya. Sebenarnya Sayus tahu kalau tudung tidak boleh diangkat atau dibuka, tetapi karena sifatnya yang sembrono tetap saja dilakukannya. Walhasil, belian Siluq tidak sepenuhnya berhasil karena daun padi hanya setengahnya saja yang berhasil menjadi nasi.

Siluq yang kebetulan telah pulang tentu saja menjadi marah besar. Akibat perbuatan Sayus, Siluq telah melanggar tuhing (pantangan) besar bagi seorang balian. Dia tidak lagi dapat mengubah daun padi menjadi bulir beras secara ajaib. Akibatnya jelas, mereka harus membeli atau menanam padi untuk mendapatkan beras sebagai makanan pokok. Hal ini akan membutuhkan tenaga dan waktu antara tiga hingga enam bulan dalam sekali panen.

Akibat lain dari pelanggaran tuhing adalah akan timbul bencana apabila adik-beradik ini tetap berkumpul. Oleh karena itu, Siluq mengatakan bahwa mereka harus berpisah dan hidup sendiri-sendiri. Dia memilih untuk tinggal di dekat sumber air dengan tujuan agar dapat lebih fokus dalam bebelian dan bedewa tanpa ada yang mengganggu.

Selanjutnya, tanpa mengindahkan rengekan Sayus dan Songo dibungkuslah pakaian serta dibawanya ayam jantan kesayangan yang berada di belakang dapur lalu berjalan cepat keluar rumah. Ketika berada di pelataran tapeh-silaqnya (sarung) tersangkut ranting daun serdang dan kaki babi hutan hasil buruan Sayus hingga robek. Siluq menjadi lebih marah dan disepaknya tubuh babi hutan itu hingga jatuh ke tanah. Anehnya, babi dan daun serdang kemudian bersatu hidup kembali menjelma menjadi seekor binatang menyerupai kerbau yang bertaring di bagian moncongnya.

Siluq menjadi ketakutan setengah mati dan berlari tunggang langgang menuju rakit yang ditambatkan di tepi sungai. Walau saat itu air sedang banjir dia tetap mengayuh rakitnya mengikuti arus Air. Sayus yang melihat sang kakak pergi mencoba mencegah dengan berlari menyusuri tepi sungai.

Saat berada di depan Siluq, Sayus melemparkan bebatuan besar guna membendung sungai. Namun, ketika Siluq mendekat tiba-tiba sang ayam berkokok misterius yang membuat bendungan hancur dan rakit kembali melaju. Melihat hal itu Sayus menjadi marah dan mencoba membuat bendungan baru tetapi lagi-lagi hancur akibat kokokan ayam Siluq. Begitu seterusnya hingga Siluq hampir mencapai muara dan Sayus tidak dapat membuat bendungan lagi karena keterbatasan bebatuan serta sungai yang semakin lebar.

Tidak putus asa usahanya selalu gagal, Sayus mencoba siasat baru dengan membuat kuala. Dikumpulkanlah lumpur dari tepian sungai lalu bagian atasnya ditanam pepohonan nipah sehingga terlihat menyerupai hutan nipah. Siasat ini ternyata juga tidak berhasil. Kokokan ayam Siluq membuat kuala terbelah yang konon sekarang menjadi Kuala Bayur, Kuala Berau dan delta-delata di Kuala Mahakam.

Siluq yang tidak dapat ditahan lagi berteriak pada Sayus bahwa dia pantang menarik ucapannya. Namun dia tidak akan meninggalkan Sayus dan Songo begitu saja. Suatu saat nanti, apabila ada kawanan burung kangkaput ramai berbunyi, maka itu merupakan tanda kedatangannya. Saat dia datang, maka pertanda musim panen padi dan jagung pun akan tiba sehingga Sayus dan Songo tidak akan kelaparan. Suara Siluq kemudian menghilang siring rakit yang memasuki laut lepas dan akhirnya hilang dari pandangan mata.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Naga Sabang dan Raksasa Seulawah

(Cerita Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam)

Alkisah, pada zaman dahulu Andalas masih berbentuk dua buah pulau (barat-timur) yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit yang dihuni oleh seekor naga besar bernama Sabang. Pulau bagian timur dikuasai oleh Kerajaan Daru dengan rajanya bernama Sultan Daru, sementara pulau bagian barat oleh Kerajaan Alam dengan rajanya bernama Sultan Alam. Kedua sultan mempunyai sifat bertolak belakang. Sultan Alam adalah raja yang adil dan bijaksana sehingga rakyat di wilayah kerajaannya menjadi maju, makmur, dan sejahtera. Sebaliknya, Sultan Daru adalah seorang kejam yang lalim pada rakyat sendiri serta serakah alias tamak dan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Dia tidak segan-segan memerintahkan prajuritnya merompak perahu-perahu saudagar hanya untuk mendapatkan harta mereka. Bahkan, untuk memperluas daerah kekuasaan, berkali-kali dia berusaha menyerang Kerajaan Alam namun selalu gagal karena harus berhadapan dengan Naga Sabang yang menguasai selat.

Suatu hari, Sultan Daru memanggil penasihat kerajaan guna mencari orang sakti yang mampu mengalahkan Naga Sabang sehingga dia dapat menyerang Kerajaan Alam. Sang penasihat terkejut mendengar perintah Sultan Daru dan menjelaskan bahwa Naga Sabang adalah penyangga sekaligus perawat pulau yang apabila dibunuh dapat membuat selat menghilang dan kedua pulau menyatu.

Penjelasan dari penasihat tadi rupanya tidak diindahkan. Sultan Daru tetap memintanya mencari siapa saja yang mampu menaklukkan Naga Sabang. Oleh karena itu, Sang penasihat terpaksa memberitahu bahwa ada dua orang raksasa sangat sakti bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Dia menganggap kedua raksasa tadi mampu mengalahkan Naga Sabang karena ukuran mereka yang relatif sama.

Penjelasan Sang Penasihat langsung di “follow up” oleh Sultan Daru dengan memerintahkan beberapa orang pengawal memanggil Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Setelah datang Sultan Daru membujuk mereka agar mau membunuh Naga Sabang dengan iming-iming imbalan sejumlah uang dan harta benda lainnya. Ketika mereka setuju, dikirimlah seorang utusan lagi menemui Naga Sabang menyampaikan tantangan bertarung melawan Seulawah Agam dan Seulawah Inong.

Naga Sabang tidak langsung menyambut tantangan tersebut. Dia meminta waktu selama beberapa hari untuk menjawabnya. Sebelum waktu yang diminta habis, Naga Sabang sempat menceritakan tantangan Seulawah Agam dan Seulawah Inong kepada Sultan Alam. Di hadapan Sultan dia menyatakan bahwa kedua raksasa itu sangatlah sakti dan mustahil dikalahkan. Sang Naga berpesan apabila nanti dia bertarung dan mati, rakyat Kerajaan Alam harus segera melarikan diri ke dataran tinggi. Sebab, bumi akan berguncang keras akibat bersatunya kedua pulau yang kemudian diikuti oleh surutnya air laut. Tidak lama setelah air laut surut datang gelombang sangat besar yang akan menyapu daratan.

Singkat cerita, tantangan pun disetujui. Pada hari yang telah ditentukan mereka bertarung disaksikan oleh seluruh penduduk Kerajaan Daru dan Alam. Dan benar saja, hanya dalam waktu tidak terlalu lama Naga Sabang dapat ditaklukkan. Seulawah Inong berhasil menebaskan pedangnya ke arah leher Sang Naga, sementara Seulawah Agam mengangkat dan melemparkannya ke laut lepas.

Sejurus setelah Naga Sabang mati, kedua pulau bergerak saling mendekat dan akhirnya berbenturan sehingga menimbulkan gempa hebat selama beberapa saat. Usai gempa air laut tiba-tiba menyurut dan ribuan ikan mulai menggelepar di sepanjang bibir pantai. Penduduk Kerajaan Daru yang tidak mendapat pesan Naga Sabang segera berebut menangkap ikan-ikan tersebut. Sementara rakyat Kerajaan Alam secara berbondong-bondong berlari menuju dataran tinggi.

Ketika penduduk Kerajaan Daru sedang asyik menangkap dan memasukkan ikan dalam wadah-wadah seadanya dari arah laut lepas tiba-tiba muncul gelombang sangat besar dengan kecepatan tinggi. Mereka langsung dihantam gelombang tanpa dapat menyelamatkan diri. Bahkan, gelombang itu juga menyapu seluruh rumah beserta hewan-hewan ternak sehingga Kerajaan Daru luluh lantak dan hampir tanpa bekas. Sedangkan penduduk Kerajaan Alam berhasil selamat karena berada di daerah yang tidak dapat dijangkau gelombang.

Setelah surut, dibawah komando Sultan Alam mereka kembali ke kerajaan yang juga hancur lebur diterjang gelombang. Sultan yang wilayah kekuasaannya menjadi luas kemudian memerintah sebagian rakyatnya membangun kerajaan baru di lokasi Naga Sabang bertarung. Ketika selesai kota diberi nama Koeta Radja dan pantai tepat naga tergeletak dinamakan Ulee Leue atau kepala ular. Selain itu, ada pula tempat lain yang diberi nama baru, yaitu Seulawah Agam dan Seulawah Inong sesuai dengan lokasi kedua raksasa Seulawah terkubur lumpur. Sedangkan lokasi terlemparnya Naga Sabang yang kemudian menjadi sebuah pulau dinamakan Weh sesuai dengan teriakan Seulawah Agam ketika melemparkan tubuh Naga Sabang ke tengah laut.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Popular Posts