Deden S Cahyana

Bakat seni pada seseorang umumnya muncul sejak dini. Bakat seni inilah yang juga muncul pada sosok Deden S Cahyana, pengagas sanggar seni Duta Pasundan. semenjak berumur sekitar enam tahun Deden yang lahir di Cianjur tahun 1965 telah memiliki cita-cita untuk mengarungi dunia seni sebagai bekal hidup. Waktu itu dia sudah menjadi pemain calung pada sebuah group di desanya di Kabupaten Cianjur Selatan.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Deden mulai membuktikan bakat dengan berkali-kali mewakili daerahnya mengikuti lomba seni/pasanggiri Anggana Sekar, Pupuh, Tari, Degung, Ngadongeng/Carita Sunda baik tingkat kabupaten maupun Provinsi Jawa Barat. Prestasi-prestasi lain juga diukirnya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas SMKI hingga tahun 1984.

Lulus SMKI Deden hijrah ke Kota Bekasi untuk menjadi relawan di beberapa sekolah. Selama satu tahun (1984-1985) Deden mengadakan beberapa eksperimen di berbagai sekolah dengan tujuan agar kesenian Sunda lebih dihargai dan mendapat apresiasi dari masyarakat luas. Tahun berikutnya, dengan membawa misi menciptakan peluang melalui kendang, Deden keliling di hampir 40 buah sekolah di Kabupaten Bekasi dalam bentuk pertunjukan seni degung, calung, dan tari. Namun, misi ini kurang berhasil karena hanya beberapa sekolah saja yang mau memberi ruang.

Seiring berjalannya waktu, dengan usaha yang pantang menyerah tentunya, Deden akhirnya berhasil menumbuhkan apresiasi terhadap pelestarian seni budaya Sunda di Bekasi. Berkat dukungan pemerintah setempat melalui bantuan sarana berupa alat musik gamelan, mulai banyak sekolah yang minta dibantu dalam hal pembinaan kesenian tradisional. Deden pun kemudian terjun sebagai tenaga honorer bidang pendidikan kesenian/pembinaan kesenian tradisional. Selain itu, dia juga aktif dalam sejumlah organisasi seni budaya, di antaranya: (1) pengurus DKB (Dewan Kesenian Bekasi); (2) Sekretaris IKASENTRA (Ikatan Seniman Tradisional Bekasi); (3) Litbang HARPI Melati Bekasi; (4) Ketua tim Rampak Kendang Pesona Patriot Bekasi; (5) Ketua Divisi Seni Budaya Islam Al-Azhar Bekasi; (6) Ketua Duta Suara Pelajar MB Bekasi; (7) Ketua Sanggar Duta Pasundan Bekasi; dan (8) Ketua Duta Karya Seni Budaya (DKSB).

DKSB sendiri adalah sebuah sanggar seni yang bergerak dibidang pembinaan dan pelestarian seni budaya. Sanggar yang berdiri sejak tahun 1999 ini sekarang sudah beranggotakan sekitar 150 orang anak yang berdomisili di sekitar Bantargebang. Sementara Sanggar Duta Pasundan yang berada di Jalan Cipta Karya Raya Blok J, Kecamatan Bantargebang didirikan sekitar tahun 2000 merupakan jawaban dari antusiasme masyarakat akan adanya kesenian tradisional Sunda di daerah Bekasi, khususnya gamelan degung, angklung, calung, dan kecapi suling.

Dalam perkembangan selanjutnya, Sanggar Duta Pasundan juga menjadi pusat pelatihan seni tari tradisional. Di samping itu menjadi sentra layanan pementasan seni budaya Sunda khusus untuk prosesi pernikahan. Adapun list pementasan beserta nominal harganya sebagai berikut: musik pengiring (degung Rp.6,5 juta, kecapi suling Rp.2,5 juta, celempungan Rp.3,5 juta, rampak gendang plus 4 penari Rp.3,5 juta), dan prosesi upacara adat pengantin (siraman ngaras Rp.1,5 juta, ngeuyeuk seureuh Rp.2,5 juta, mapag pengantin plus tari persembahan Rp.3,5 juta, sawer huap lingkup Rp.2,5 juta, dan pemandu adat/resepsi/akad nikah Rp.750 ribu).

Foto: http://dksbbekasi.blogspot.com/2010/03/dilahirkan-di-cianjur-pada-tahun-1965.html

Ray Abdul Fatah

Walau berusia masih dibawah 30 tahun, nama serta hasil karyanya mampu menembus pasar internasional. Ray Abdul Fatah adalah wirausahawan muda yang memiliki semangat tinggi untuk menggali potensi diri secara maksimal. Laki-laki yang hanya tamatan SMA ini memulai karir sebagai pengusaha dengan menjual Lampu Benang bersama isterinya. Namun karena pangsa pasar lampu benang mulai menurun, dia banting stir dengan membuka usaha pop up sekaligus sebagai wadah inovasi dalam berkreasi.

Usaha pop up yang didirikannya ternyata laris manis di pasaran. Oleh karena itu dia pun mulai mempekerjakan karyawan guna memenuhi permintaan pasar. Saat ini usaha yang dinamakan sebagai Ravy26house tersebut telah memiliki 11 orang karyawan yang terdiri atas lima orang karyawan tetap, tiga orang magang, dan tiga orang lagi para ibu yang berada di sekitar rumahnya. Para karyawan tadi sebelumnya telah diberikan pelatihan hingga mahir dan profesional sehingga dapat mengerjakan pesanan dari konsumen dengan baik.

Selain jumlah karyawan yang bertambah, hasil kreasi Ray juga ikut berkembang. Produk pop up yang dibuat menjadi lebih bervariasi, di antaranya pop up mahar, pop up card, pop up book, pop up frame, pop up brosur, dan kartu nama pop up. Produk-produk tersebut tidak hanya untuk memenuhi permintaan dari dalam negeri saja, melainkan juga dari Malaysia, Hongkong, dan Australia. Konsumen yang memesan biasanya diberi kebebasan menentukan desain yang diinginkan dan merevisi hasilnya sesuai keinginan.

Ketenaran pop up karya Ray rupanya menarik perhatian sejumlah media massa lokal maupun nasional, seperti MNC TV, DAAI TV, KTV, Kompas TV, Trans 7, Trans TV, TV One, Metro TV, GO Bekasi, Radar Bekasi, Tribun News, Harian Suara, Bekasi Urban City, Kontan, dan lain sebagainya. Dan, berkat ekspose dari berbagai media tadi pada tahun 2018 Ray mencoba mengikuti ajang kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diadakan oleh Bank Mandiri.

WMM merupakan wujud Bank Mandiri dalam mendukung pengembangan industri yang sejalan dengan program Kementerian BUMN. Kehadiran para pebisnis muda akan semakin memperkuat kewirausahaan nasional. Bank Mandiri sebagai salah satu BUMN mendukung pengusaha muda potensial agar dapat menopang dan mendorong ekonomi Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Melalui ajang WMM pada tahun 2018 Bank Mandiri melahirkan 28 pelaku usaha muda potensial, tangguh, dan profesional. Mereka dijaring dari sekitar 800 calon pebisnis yang diseleksi lewat 34 perguruan tinggi di Indonesia dan 10 komunitas maupun inkubasi bisnis.

Penilaian dibagi dalam kelompok mahasiswa dan non-mahasiswa dengan sub kategori wirausaha industri, perdagangan-jasa, boga, kreatif, sosial, dan tenologi. Pemenang kelompok non-mahasiswa akan memperoleh penghargaan serta uang tunai Rp.200 juta (juara pertama) dan Rp.100 juta (juara kedua). Sementara kelompok mahasiswa akan memperoleh Rp.100 juta bagi juara pertama dan juara kedua sebesar Rp. 50 juta.

Ray yang termasuk ke dalam 28 pelaku usaha, berhasil menjadi pemenang kedua bidang Usaha Kreatif dibawah Bella Kartika Aprilia – Sepiak Belitong sebagai juaranya. Adapun pemenang kategori lainnya (non-mahasiswa) adalah: Bidang Usaha Industri (Juwita – Golden Berry dan Reza Rizky Hermawan – Hermawan Propertindo Utama); Bidang Usaha Sosial (Andhika Mahardika – CV Agradaya Indonesia dan Mohammad Andriza Syarifudin – Nusa Berdaya); Bidang Usaha Boga (Endro Firdaus – GreenSmoothie Factory dan Bintang Priyambodo – Papa Buncit); Bidang Usaha Teknologi Digital (Christopher Farrel Millenio Kusuma – Kecilin dan Yudhis Thiro Kabul Yunior – Detron Engineering); Bidang Usaha Teknologi Non-Digital (Achmad Arbi – Lightning Advanced Solution Technology dan Nugroho Hari Wibowo – Encomotion); serta Digital Financial Technology (Adjie Wicaksana – Halofina – LPIK ITB dan Bong Defendy – Zend Money).
Sedangkan pemenang Wirausaha Muda Mandiri kategori mahasiswa adalah: Bidang Usaha Industri, Perdagangan, dan Jawa (Arnandiza Amirul Khadifa – Balon Kado dan Agus Wibowo – Agro Lestari Merbabu); Bidang Usaha Boga (Putu Agi Pratama – Umah Lokal dan Sentanah Limmase – Fermenation Indonesia); Bidang Usaha Kreatif (Malinda Amalia – Linean dan Nabila – Batik Kanawa); Bidang Usaha Sosial (Reno Pati – Rumah OPPO dan M Zulfikri Al Qowy – Pacco.com); Bidang Usaha Teknologi Digital (Aditya Pramata Ghifary – Media Bimbingan Belajar Gratis Website & Aplikasi dan Rafliansyah Ruslan – Scola); serta Bidang Usaha Teknologi Non Digital (Alwy Herfian Satriatama – Majapahitech dan Aprial Syahputra – Herbalfoam).

Bagi Ray, kemenangan dalam ajang WMM 2018 memotivasi dirinya untuk terus berkreasi dan berinovasi. Bahkan tidak hanya itu, dia juga mengajak masyarakat yang berada di sekitarnya untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan usaha pop up dengan tujuan mengurangi angka pengangguran di daerah Bekasi. Melalui rumah kreatif Ravy26house Ray mencoba memberdayakan mereka melalui pelatihan hingga dapat menjadi pengusaha handal dan mandiri.

Foto: https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-4220462/wirausaha-muda-mandiri-2018-sukses-lahirkan-pengusaha-muda-baru

Raden KH Umar

Raden KH Umar atau biasa disapa dengan Mbah Guru Keneng adalah seorang ulama ahli tassawuf yang sangat disegani di Bekasi, khususnya di daerah Jatibening, Cikunir, Jatiasih, dan Ceger. Oleh masyarakat setempat, beliau dianggap sebagai waliyullah yang banyak karomah serta masih memiliki garis silsilah bersambung terus hingga ke Wali Songo dan Nabi Muhammad SAW (Firdaus, 2016).

Masih menurut Firdaus (2016) yang mengutip Porbatjaraka, Mbah Guru Keneng lahir pada tahun 1857 dan meninggal tahun 1972. Beliau diperkirakan merupakan keturunan rombongan kerabat Kerajaan Banten yang menetap di Jati Kramat Jatiasih antara tahun 1527-1530. Rombongan dipimpin oleh Syeikh Syarifudin (Mbah Kandong) yang merupakan keturunan Pangeran Sageri/Segori dan masih memiliki garis dengan Syeikh Sunan Gunu Jati Cirebon. Selain Mbah Kandong, Pangeran Sageri juga memiliki keturunan bernama R.H. Sholeh yang kemudian menetap di Kampung Ceger Jaka, Bekasi Selatan. R.H. Sholeh inilah ayahanda dari R. H. Umar atau Mbah Guru Keneng.

Adapun susunan nasabnya adalah: Taajul Arsy. Rh Umar bin Rh Zahiri bin Rh Muhadir bin Raden Kanzul Asikin bin Pangeran Sageri bin Aabulfath Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa bin Abul Ma’ali Ahmad bin Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Syeikh Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati bin Raja Abdulloh bin Alhusein Jamaluddin Alkubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Al Akbar bin Abdulloh Khan bin Sayyid Abdul Malik Ba’aali Adzumat Khan bin Alwi bin muhammad Shohib Mirbath Alawi bin Ali Kholi’ Qosim bin Alwi bin Muhammad Shohib Assouwmaah bin Alwiy Ba’alawiy Al A’ala bin Abdulloh bin Ahmad Almuhajir Alfaqihil Muqoddam hingga ke Rasulullah SAW.

Semasa hidup Mbah Guru Keneng pernah mengajar di salah satu sekolah Islam diniyah yang sekarang menjadi YPIA Islam Al-Mu’awanah Bekasi. Selain itu beliau juga melakukan dakwah kepada warga masyarkat di Kampung Ceger (Irhamni, 2017). Dalam berdakwah, beliau mempunyai pesan tersendiri yaitu “Jalanilah apa yang tidak kamu pilih jangan menjalani apa yang kamu pilih, beragam pernak pernik kehidupan selalu saja menjadi bayangan dalam setiap gerak alur raga ini bergerak, aku bertanya apakah ini yang aku mau dan yang aku pilih…Ternyata menjalani apa yang aku pilih adalah suatu kesusahan hidup yang amat teramat menyakitkan” (Firdaus, 2016). Kata-kata “mutiara” ini rupanya banyak menarik minat orang, sehingga dakwahnya kemudian diikuti pula oleh orang-orang di luar Kampung Ceger. Mereka tidak hanya berasal dari Pulau Jawa saja melainkan juga dari daerah lain di luar Pulau Jawa.

Bagi para pengikutnya, Mbah Guru Keneng tidak hanya ahli dalam ilmu Islam, melainkan memiliki juga keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keistimewaan tersebut di antaranya adalah: tubuh tetap kering walau kehujanan, pencuri yang masuk ke rumahnya seakan mematung dan tidak dapat keluar sebelum diizinkan, dapat memasak sebutir telur hanya dengan menggenggamnya, suara speaker yang keras tidak berbunyi bila dihadapkan ke rumahnya, dan lain sebagainya.

Berkat jerih payah dalam menyebarkan agama Islam di Bekasi, hingga saat ini makamnya sering diziarahi orang untuk memanjatkan doa. Mereka tidak hanya berasal dari daerah Bekasi dan sekitarnya, melankan juga dari daerah lain di seluruh Indonesia.

Foto: https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger
Sumber:
Firdaus, Ahmad. 2017. “Mbah Guru Keneng Keramat dari Ceger”, diakses dari https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger, tanggal 23 April 2019.

Irhamni, Bayu. 2017. “Kisah Perjalanan Seorang Ulama Ceger”, diakses dari http://bayuirhamni.blogspot.com/2017/02/kisah-perjalanan-seorang-murid.html, tanggal 24 April 2019.

KH Ma’mun Nawawi

KH Ma’mun Nawawi adalah seorang tokoh ulama sekaligus pejuang yang berasal dari daerah Cibogo, Kecamatan Cibarusah, Bekasi. Ulama yang produktif sebagai penulis 63 kitab ini lahir di Cibogo pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M (As-Samfuriy, 2014). Beliau adalah putra sulung (tujuh bersarudara) dari pasangan H. Anwar (seorang pedagang sekaligus guru mengaji) dan Siti Romlah. Saudara-saudara kandungnya yang lain adalah: Nyi Rukiyah, Nyi Endeh, H. Yahya, Siti Iyok, Endang, Dimiyati, dan Abdul Salim. H. Anwar sendiri adalah putra Marhan bin H. Abdul Wahid, salah seorang keturunan dari Kerajaan Banten (mondok.co).

Berdasar garis keturunan tersebut, tidak heran bila Nawawi memperoleh pendidikan yang berkaitan dengan agama Islam. Tidak lama setelah menamatkan pendidikan dasar di usia yang baru mencapai 13 tahun, anak dari KH. R Anwar ini nyantri di Plered Sempur asuhan Tubagus Ahmad Bakri bin Seda (Mama Sempur) hingga tujuh tahun lamanya (ypialkamiliyyah.wordpress.com). Selesai nyantri di sempur, Nawawi hijrah ke Mekkah selama dua tahun (1937-1939) untuk memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada 13 muallif (pengarang kitab), di antaranya: al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al Maliki, Syekh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî (ulama besar hadits di Masjidil Haram asal Bogor), Syekh Bâqir ibn Nûr al-Jukjâwî tsumma al-Makkî (ulama besar Masjidil Haram asal Yogyakarta), Sayyid ‘Alawî ibn ‘Abd al-‘Azîz al-Mâlikî al-Makkî, Syekh ‘Umar Hamdan al-Mahrasî, Syekh Khalifah Nabwah, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Fathoni, dan lain sebagainya (Sya’ban, 2017).

Kembali dari Mekkah, atas saran Sang Ayah pada tahun 1942 Nawawi nyantri lagi di beberapa pesantren guna lebih memperdalam ilmu, seperti: Pesantren Tebuireng (Jombang) asuhan Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren asuhan Syaik Ikhsan (Jampes Kediri). Adapun para guru Nawawi selama nyantri di Jawa menurut Mondok.co, di antaranya adalah: H. Masdiki al-Quruthi Sempur-Plered, Mualif Siradjud Tolibin Kediri, Syekh Muhammad Cholil Jember, Syekh Muhammad Yunus bin Abdullah Kediri, KH Suja’i al-Quruthi Sukaraja. Muhammad Ali bin Husen, Syahid Alwie bin Abas al-Maliki, Syahid Muhammad ‘Amin al-Qutbhi, Syekh Hasan bin Muhammad al-Masad, Sayyid Abdul Bari al-Quruti, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Banduni al-Jawi, Abdurahman Asyburaki al-Maki, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Fatoni, Syekh Sabibullah al-Hindi al-Maki, Syekh Ubaidillah al-Maki, dan KH. Manshur Abdul Hamid (Guru Mansur Betawi). Dari para guru ini Nawawi mempelajari berbagai macam kitab, seperti: tafsir, alfiyah, mantiq, fiqih, lughat, dan lain sebagainya. Khusus ketika berguru dengan KH. Manshur Abdul Hamid di Jembatan Lima, Jakarta, Nawawi mempelajari ilmu falaq yang dapat dikuasai hanya dalam waktu 40 hari saja.

Selesai nyantri dan dianggap telah cakap bila mengembangkan dakwah, Nawawi diminta oleh mertuanya (Tugabus Bakri) untuk mendirikan pesantren di daerah Pandeglang, Banten. Namun, baru berjalan sekitar dua tahun, Sang ayah meminta pula mendirikan pesantren di Cibogo. Walhasil, para santri di Pandeglang pun ikut diboyong ke Cibogo dan tinggal di pesantren baru yang diberi namaAl-Baqiyatus Sholihat. Pesantren ini dibangun pada bulan Rajab tahun 1359 H/1938 M saat Ma’mun Nawawi baru berusia sekitar 25 tahun (http://nizomalhasani.blogspot.com).

Para santri asuhan KH Ma’mun Nawawi yang jumlahnya beberapa ratus orang pada masa perang kemerdekaan pernah mendapat pelatihan militer sebagai bekal menghadapi tentara sekutu. Mereka membentuk sebuah laskar yang dinamakan Hizbullah. Adapun pelatihan perdananya dilaksanakan pada 28 Februari 1945 dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim (mewakili KH Hasyim Asy’ari) dan beberapa tokoh lain seperti KH. Zainul Arifin, dan KH. Noer Alie (kini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional) serta dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Nippon, pimpinan pusat Partai Masyumi, dan para Pangreh Praja.

Para santri yang ikut serta dalam pelatihan tidak melulu berlatih perang menghadapi musuh. Pada malam hari mereka mengaji dengan beberapa ulama seperti KH. Mustada Kamil dari Singaparna dan lain sebagainya. Usai pelatihan para santri kembali ke kampung halaman masing-masing guna memberikan latihan kepada para pemuda lain. Hasilnya, pada saat Jepang menyerah anggota Hizbullah telah mencapai sekitar 50.000 orang. Menurut muslimedianews.com, mereka tidak saja aktif selama revolusi fisik, tetapi juga mampu mengubah peta militer di Indonesia.

Para laskar Hizbullah ini masuk menjadi sayap militer bagi Partai Masyumi yang berdiri pada 7 November 1945. Bersama dengan laskar Sabilillah, mereka kemudian bertempur melawan tentara Sekutu pada pertempuran 10 November 1945. Selanjutnya, bersama Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang diprakarsai M. Natsir dan KH. Wahid Hasyim laskar Hizbullah dan Sabilillah membentuk Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia yang menentang semua perundingan dengan Belanda selepas agresi militer pertama 1947.

Lepas dari perannya dalam pembentukan laskar Hizbullah, yang jelas KH Ma’mun Nawawi merupakan ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab berbahasa Arab dan Sunda. Sedikitnya ada 63 buah kitab yang pernah ditulis, di antaranya: At-Taisir fi ‘Ilmi al-Falak, Bahjatul Wuduh Fi Hadits Awfatil Fuluh, Idha’ al-Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yang mengandung akronim), Hikayat al-Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama terdahulu), Manasiq H. wal Umrah, Khutbah Jumat, Kasyf al-Humum wa al-Ghumum (tentang doa), Majmu’at Da’wat, Risalah Zakat, Syair Qiyamat, Risalah Syurb ad-Dukhan, Qolaidul Juman Fi Aqaidul Iman, I’anah Rafiq fi Tarjamah, Sulamu Taufiq, Muhasinul al-Khatabh, As-Sirajul Wahaj, Syi’ran Kiyamat, Hibatullah Karimul Aly, Tahtasikul Abid, Majmu Da’wah, Kasyful Humum wal Ghumum, Tadwirul Qulud, Taysirul Awam, Tuhfatul At Fal, Manaqib Syekh Abdul Qadir, Fiqh (dua jilid), Maulid Nabi (empat jilid), Parakunan Pashalatan, Al-Atiyatul Haniyah, At-Taisir Ilmu Falaq (Empat Jilid), dan Hushuli Rojai, dan lain sebagainya (As-Samfuriy, 2014 dan mondok.co).

Setelah berhasil membuat sebuah “pencerahan” bagi umat Islam di daerah Bekasi, KH. Ma’mun Nawawi wafat pada malam Jumat 26 Muharram 1395H/7 Februari 1975 M di Cibogo-Cibarusah pada pukul 01.15 WIB dalam usia 63 tahun. Selama hidup beliau pernah menikah dengan Nyi Jumenah (bercerai) lalu dengan Nyi Siti Junah yang menghasilkan enam orang anak (Muhaimin, Muhammad Jajuli, Zainal Mutaqin, Abdul Mu’min, Abdul Rahim, dan Abdul Halim). Selain dengan Nyi Jumenah dan Nyi Siti Junah, Ma’mun Nawawi pernah menikah dengan tujuh perempuan lain, namun hanya empat orang yang menemani hingga akhir hayat, yaitu: Hj. Ummah, Hj. Nyi Junah, Hj. Rohman, dan Hj. Romiah. Dan, dari pernikahan-pernikahan tersebut beliau dikaruniai sejumlah anak, di antaranya: Nyi Rahman, Muhammad Firdaus, Nyi Fatimah, Nyi Khadijah, Muhammad Syahroni, Nyi Safiah, Nyi Aisyah, Muhammad Shahalidin, Abdul Qudus, Abdul Raul, Abdul Mujib, Nyi Umu Habibah, Abdullah, Muhammad Mahfudz, Ahmad, Muhammad, Abdur Rahman, Nyi Ummu Salamah, Abdul Mu’min, Nyi Rukayah, Nyi Maryam, Abdul Latif, Abdul Khabir, Nyi Aminah, R. Abdul Hamid, R.A Qadir, Abdul Hafidz, Nyi Endin, Abdul Khalik Yanwari, Jamal Abdul Ghafar, dan Endin Quratul Aeyin (As-Samfuriy, 2014).

Saat ini penerus pondok pesantren adalah salah satu dari putranya sendiri, KH. Jamaluddin Nawawi. Pesantren merupakan salah satu dari beberapa peninggalan KH Ma’mun Nawawi. Peninggalan lainnya adalah asrama pesantren, Masjid Jami Al-Baqiyatus Sholihat, Yayasan Pendidikan Agama Islam Al-Baqiyatus Sholihat, almanak, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Aliyah Al-Baqiyatus Sholihat, serta kitab-kitab yang telah dan belum diterbitkan.

Foto: http://nizomalhasani.blogspot.com/2017/04/kh-raden-mamun-nawawi-bekasi.html
Sumber:
“KH. Raden Ma’mun Nawawi (1915-1975)”, diakses dari https://mondok.co/kh-raden-ma%C2%92mun-nawawi-1915-1975/, tanggal 10 Juni 2019.

As-Samfuriy, Sya’roni. 2014. “KH. R. Ma’mun Nawawi Ahli Falak Bekasi Santri Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari”, diakses dari http://www.muslimedianews.com/2014/06/kh-r-mamun-nawawi-ahli-falak-bekasi.html#ixzz5pNOuiFCY, tanggal 10 Juni 2019.

“KH Raden Ma’mun Nawawi Bekasi”, diakses dari http://nizomalhasani.blogspot.com/2017/04/kh-raden-mamun-nawawi-bekasi.html, tanggal 11 Juni 2019.

“Mengenal Ulama Nusantara (KH Ma’mun Nawawi/Mama Cibogo, Bekasi), diakses dari https://ypialkamiliyyah.wordpress.com/2012/09/04/kh-mamun-nawawi-mama-cibogo-bekasi/, tanggal 12 Juni 2019.

Sya’ban, A. Ginanjar. 2017. “Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah”, diakses dari http://www.nu.or.id/post/read/76983/kitab-fiqih-manasik-berbahasa-sunda-karya-kh-mamun-nawawi-cibarusah, tanggal 12 Juni 2019.

Kelenteng Jin De Yuan

Kelenteng atau klenteng Jin De Yuan adalah salah satu dari empat kelenteng besar1 yang ada di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Kelenteng yang dahulunya di bawah pengelolaan Gong Guan atau "Dewan Opsir Tionghoa" Batavia ini berada di Jalan Kemenangan III Nomor 13 Jakarta yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari, Kotamadya Jakata Barat.

Claudine Salmon dan Denys Lombard dalam Les Chinois de Jakarta: Temples et vie Collectives (1977) yang dikutip Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1989) menyebutkan bahwa dalam "Catatan Sejarah Tionghoa tentang Batavia" sekitar tahun 1650 Luitenant Tionghoa Guo Xun Guan [Kwee Hoen] mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Guan Yin [Kwan Im] di Glodok. Oleh karena itu, kelenteng tersebut disebut Guan Yin Ting [Kwan Im Teng] atau yang secara harafiah berarti “Paviliun Guan Yin”. Namun, ketika terjadi Tragedi Pembantainn Angke (1740) .kelenteng ini dirusak dan dibakar.

Tahun 1755 seorang Kapiten Tionghoa memugarnya dan memberi nama Jin De Yuan (Kim Tek Ie) Jin De [Kim Tek] artinya “kebajikan emas” dan Yuan [Ie] menurut Carstairs Douglas dalam Chinese-English Dictionary of the Vernacular or Spoken Language of Amoy (i.e. Xiamen), with the Principal Variations of the Chang-Chew (i.e. Zhangzhou) and Chin-Chew (i.e. Quanzhou) Dialects (1873:164a) berarti "Kelenteng yang berhalaman luas dengan beberapa bangunan umum".

Keterangan tertulis mengenai Kelenteng Jin De Yuan antara lain terdapat dalam Kai-ba li-dai shi-ji (Kronik Penduduk Tionghoa di Batavia). Dokumen tersebut menyebutkan bahwa kelenteng ini dibangun sekitar pertengahan abad XVII. Kelenteng yang disebut Guan Yin Ting itu dibangun tahun 1650 oleh Letnan Quo Xun Guan dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten Guo Jun Guan. Menurut kronik yang sama, nama Jin De Yuan diberikan oleh Kapten Huang Shi Lao (Huang Yi Qu) pada tahun 1755 (Salmon & Lombard 1980: 730). Masyarakat sekitarnya menyebut “Kelenteng Kim Tek I” (sekarang bernama “Vihara Dharma Bhakti”).

Data Bangunan
a. Bangunan Utama
Bangunan Kelenteng Jin De Yuan terdiri atas bangunan utama dan bangunan samping (sayap) kanan, kiri, dan belakang. Bangunan utama berukuran 12 x 26 m dengan orientasi arah utara-selatan. Bangunan ini memiliki serambi dan ruang utama. Dalam ruang utama terdapat ruangan depan, impluvium, dan ruang samping, serta ruang suci utama. Di ruang tengah bangunan utama terdapat impluvium yang lantainya lebih rendah dari lantai di sekelilingnya. Sedangkan, lantai ruang utama bagian depan, samping, dan belakang (ruang suci utama) dibuat lebih tinggi.

Ruang suci utama yang terletak di bagian belakang atau di sebelah utara terbagi menjadi tiga. Masing-masing ada patung dewanya. Ruang tengah lebih besar dari ruang yang lainnya, karena merupakan tempat altar dewa-dewa utama.

Serambi (teras) yang terletak di bagian depan dibatasi dengan dinding ruang utama dan memiliki pagar besi berwarna merah. Dinding depan ini mempunyai pintu masuk dengan dua daun pintu dari kayu. Pintu ini diberi gambar orang penjaga yang berpakaian perang (dewa pintu). Di atas ambang pintu terpampang sebuah papan horizontal berisi tulisan Cina yang menyebutkan nama kelenteng dan tanggal Minguo 25 (1936). Minguo adalah perhitungan tahun Cina yang dimulai dari tahun 1911. Dalam perhitungannya, angka belakang Minguo dijumlahkan dengan 1911. Selain pintu masuk yang menghadap ke selatan, juga terdapat dua pintu lain untuk menuju ke ruang utama. Pintu ini terletak di dekat pintu pertama (utama) dan keduanya berdiri saling berhadapan.

Di kanan-kiri pintu utama tampak sebuah bidang segi empat berukuran 120 x 160 cm. Bidang tersebut terbagi menjadi beberapa bidang (panel) yang tidak sama besarnya. Pada permukaan bidang ini diberi ukiran vas berbunga, seekor gajah dengan bunga-bungaan, atau pohon dengan hewan seperti burung atau rusa. Motif pada ukiran berwarna kuning keemasan dengan tepi bingkai berwarna merah, kuning, dan hitam. Di kiri-kanan pintu utama juga terdapat jendela bulat dengan ukiran yang menerawang ke dalam. Ukuran jendela ini berdiameter 192 cm. Di tengah bulatan bergambar lilin dengan motif awan, matahari, dan beberapa lambang Buddhis seperti suling, daun, dan tanduk, serta warna merah di sekelilingnya. Panel-panel yang lain berukuran 215 x 120 cm dengan relif yang menggambarkan burung phoenik dan naga yang ditempatkan di sudut-sudut bangunan.

Ruang bangunan bagian dalam terdiri atas ruang bagian depan, impluvium, samping ipluvium, dan ruang suci utama. Antarruang-ruang tersebut tidak ada dinding pemisah. Dinding pemisah hanya terdapat pada ruang suci utama yang terletak paling belakang sebagai tempat dewa-dewa. Di ruang utama bagian depan, tepat di depan pintu masuk, terdapat meja altar dan diletakkan sebuah patung Wei Tuo yang dianggap sebagai dewa penjaga kelenteng dengan sikap membelakangi, karena ia menghadap ke dalam. Patung ini berjubah dan bertutup kepala warna keemasan. Kedua tangannya diletakkan di depan dada sambil memegang pedang. Sebuah padupaan (tempat hio) dan dua vas bunga diletakkan di atas meja altar.

Di atas ambang pintu bagian dalam terdapat sebuah kotak berisi tiga patung sebagai gambaran dari San Yuan, yaitu “kaisar Tiga Dunia” yang merupakan dewa Taoist. Di sudut ruangan sebelah timur, dekat pintu masuk, terdapat penjualan keperluan upacara. Sedangkan, di sudut ruang sebelah barat ada sebuah lemari tempat menyimpan obat-obatan.

Setelah melewati altar Wei Tuo, terdapat satu bangunan yang disebut impluvium berukuran 5x6 meter dengan lantai yang lebih rendah dan beratap kawat. Imoluvium ini terbentang tidak beratap, hanya ditutup atap anyaman kawat sebagai pengaman. Di sebelah kanan dan kiri impluvium terdapat ruangan, sedangkan di sebalah barat terdapat sederetan kursi untuk istirahat dan meja panjang untuk menempatkan piring-piring makanan. Di dinding sebelah barat dipasang sebuah papan prasasti. Sementara, ruang sebelah timur impluvium juga terdapat sederet kursi untuk istirahat dan lemari dengan laci-laci tempat menyimpan kertas-kertas ramalan. Dinding ruangan ini juga terpampang sebuah prasasti. Pada kedua prasasti itu tertulis nama-nama para pederma yang telah membantu perbaikan berguna dengan jumlah uang atau benda lain yang disumbangkan. Salah satu prasasti tersebut menyatakan bahwa pada tahun 1890 telah dilaksanakan perbaikan atas inisiatif Kong Tong (Dewan Tionghoa) di Jakarta. Di sebelah kiri prasasti tersebut digantung sebuah tambur besar dari kulit macan, sedangkan di seberangnya tergantung sebuah genta. Tidak jauh dari impluvium ada pintu keluar menuju ke halaman samping dan halaman belakang. Pintu ini berada di bagian barat menyamping. Bentuknya serupa dengan pintu masuk utama yang terdiri dua daun pintu, tetapi bentuknya lebih kecil yaitu tinggi 236 cm, lebar 60 cm, dan dicat merah.

Ruang suci utama berada di bagian paling belakang (lantainya paling tinggi). Di ruangan ini tempat patung-patung dewa. Di dinding barat dan timur, di dalam almari kaca, masing-masing terdapat sembilan patung Luo Han atau arhat yang dilapis warna emas. Di tengah-tengah ruang suci utama ditempatkan dua meja panjang berukir. Satu meja untuk Dewa Kwan Im dan dua pengiring yang disimpan dalam lemari kaca. Ketiganya berwarna keemasan. Dewa Kwan Im digambarkan dalam sikap duduk di atas bunga lotus dengan kaki bersila dan mempunyai tangan sebanyak sembilan pasang. Sepasang terletak di depan dada dan yang lainnya memegang sebuah benda. Seorang pendampingnya juga duduk di atas bunga lotus dengan melipat tungkai kaki ke atas dan tungkai kaki kiri dilipat mendatar. Sedangkan, pendamping yang lainnya menduduki seekor singa dengan kedua kaki menjuntai ke bawah dan tangan di depan dada. Sebuah bejana kuningan diletakkan di depan lemari kaca tersebut. Meja panjang lainnya dipergunakan sebagai tempat buku-buku kitab suci, sebuah kotak hitam tempat membakar kayu cendana, dan kentongan agak bulat yang disebut bo-ki.

Bagian paling belakang ruang suci ini terdiri atas tiga ruang yang diisi patung-patung dewa. Ruang terbesar berada di tengah tempat patung dewa utama, yaitu sebuah patung kayu Kwan Im berwarna hitam yang didampingi seorang pengiring dan tiga patung Budha besar di belakangnya. Ketiga patung Budha itu disebut Tri Tunggal Budhis atau San-zun fo-zuy yang terdiri atas Sakyamuni Buddha, Bhaisjyaguru, dan Amitabha (Salmond dan Lombard 1985: 59-0). Ketiga pantung ini diberi warna emas, tanpa jubah kain. Patung Kwan Im berjubah saten kuning dengan kerudung sutera merah panjang dan mahkota di kepalanya. Pengiring juga diberi jubah sutera dan mahkota.

Ruang patung dewa utama berkaca dan diberi tirai merah yang diletakkan ke samping. Sebuah lampu kristal bunder meneranginya. Di bagian atas tirai digantung sehelai kain (sulaman yang bertuliskan huruf Cina pada kain sutera). Kain ini merupakan sumbangan seseorang yang telah berhasil permintaannya. Di depan ruang dewa ini berdiri sebuah meja panjang untuk persembahan yang berisi dua pelita yang terus menyala (disebut pelita kehidupan), dua jambangan besar, lampu keramik bundar, beberapa piring berisi sajen kue dan buah-buahan. Tempat kuningan untuk pedupaan diletakkan di atas meja kecil di depan meja panjang.

Ruang lain yang berada di sebelah kanan (timur) Kwan Im berisi patung dewa Guan Di (Kwan Kong) sebagai dewa perang (berpakaian perang warna emas). Selembar kain sutera merah menyelimuti kedua bahunya dan tutup kepala juga berwarna merah. Wajahnya merah dan berjenggot. Kedua pengawal juga berpakaian perang dan salah seorang berwajah coklat dan membawa tombak. Mereka diterangi dua lampu merah kecil di depannya. Di ruang sebelah kiri (barat) Kwan Im berisi patung Dewi Ma Co Po (Thian Huo) sebagai pelindung para pelaut dan dua orang pengiringnya. Jumah Ma Co Po disepuh keemasan dan selembar kain sutera merah menutupi bahu. Ruangan ini diterangi dua lampu merah kecil dan di depannya diletakkan meja untuk tempat pedupaan dan sesajian.

b. Bangunan samping
Sesuai dengan namanya bangunan ini terpisah dari bangunan utama. Untuk menuju ke sana melalui dua pintu yang berada di tengah dinding barat dan timur bangunan utama. Sebuah halaman berada di antara bangunan utama dan bangunan samping yang mengelilinginya. Dari pintu penghubung dibuat sebuah koridor hingga ke teras. Di halaman samping ada sebuah tempat pembakaran kertas dari bata yang berbentuk pagoda (dekat ke dua pintu penghubung). Di belakangnya (utara) terdapat tiga genta dan satu pembakaran kertas kuno (jin-lu) yang terletak tepat di balik dinding utara ruang suci utama yang semuanya terdapat angka tahunnya (berhuruf Cina). Masing-masing genta berukuran tinggi 75-100 cm, diameter antara 67-76 cm. Genta yang terbesar berhiasan naga dan yang terkecil berhiaskan manusia yang bersikap akrobatik. Sedangkan, tempat pembakaran berukuran tinggi 200 cm dan lebar 40 cm, berbentuk menyerupai rumah yang ditopang empat tiang. Tempat tersebut terbuat dari besi cor (dari kaki hingga atap penuh dengan ukiran). Di bagian tubuhnya bertulisan prasasti yang menyatakan bahwa jin-lu ini dibuat di Kwantung pada tahun 1821. Sebagai catatan, benda-benda tersebut sudah tidak terpakai lagi.

Pada bangunan samping ini terdapat ruang-ruang dengan altar-altar sekunder yang terpisah dari ruang suci utama. Bentuk denah bangunan samping yang berada di sisi-sisinya (kanan, kiri, dan belakang bangunan utama) menyerupai huruf “U” terbalik serta susunan tata letak ruang-ruang di sebelah barat dan timur simetris. Beberapa tahun yang lalu salah satu ruang di bagian timur mengalami perubahan. Dinding bangunan samping berdiri di atas lapik yang tidak tinggi, tetapi lantai di dalam ruangan-ruangan tidak ada yang ditinggikan. Dinding bangunan dipergunakan sebagai penyangga atap, ruangannya terbuka, tanpa pintu untuk penempatan altar dewa. Sedangkan, ruang tertutup dilengkapi dengan pintu yang bercat merah dan jendela yang beruji untuk tempat penyimpanan barang-barang atau keperluan lainnya.

Atap bangian dalam bangunan samping dibuat dari papan-papan kayu berwarna hitam yang disusun berjejer ke samping. Atap luar terbuat dari genting, berbentuk pelana berwarna polos putih. Ruang-ruang bangunan samping yang terbuka dipergunakan untuk menyimpan patung dewa. Dewa-dewa di sini diberi pak wan dan mahkota dilapisi warna emas, selebar kain saten merah yang menutupi kedua bahu. Selain itu, di ruangan ini terdapat patung pendamping, dua buah lampu merah kecil yang ditempatkan dalam lemari kayu, dan sebuah tempat pedupaan dari kuningan yang diletakkan di atas meja (di depannya), serta dua lilin besar dalam keadaan terus menyala.

Dewa yang berada di bangunan samping bagian timur yaitu: patung dewa To Ta Thian Wang (Thian Ong) berjenggot dan didampingi oleh No Cak Gong (Lo Cah Kong) dan Mu Cak Gong (Bok Zha Kong). Mereka dianggap sebagai pemberi pertolongan kepada orang yang mengalami kesulitan. Arca-arca lain seperti: Qin, Shui Zu Shi (Cu Su Kong) sebagai dewa laut; Can Kui Zi Shi (Cuo Kue Cosu) atau guru pertama seorang rahib dari Yanping, Fujian (arca mengenakan jubah kuning dan tangannya memegang kipas); macan (harimau) putih yang ditempatkan dalam suatu kotak yang berbentuk rumah; Cheng Huan Yi (Seng Ho Ja) atau dewa sumpah; Tai Sui Ye (Tai Sue Ye); dan Hua-po (Hua-kong hua-bu) sebagai pelinduk anak.

Patung-patung dewa pada bagian samping sebelah belakang (utara) yaitu: (1) Patung Dutho Jiang Jun (Tatmo Co Su) berawjah suram berwarna coklat, mata melotot, berambut keriting dan berjenggot. Ia sebagai dewa yang dapat memberi keselamatan bagi pemujanya; (2) Patung Dewa Ze Hai Zhen Ren (Tik Hai Cin Jin) sebagai pelindung samudera dan di sampingnya berdiri Dewa Wen Chang Gong (Boen Ciong Kong) yang memegang seperti gulungan kertas sebagai ahli sastra, serta ditemani oleh seorang pengawal; (3) Patung Dewa Mi-lei-fo berperawakan gendut, sedang tertawa, duduk dengan satu lutut terangkat, sehingga perutnya kelihatan. Ia dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain bagi yang memujanya; dan (4) Xuan Tan Gong (Hian Tan Kong), ia sebagai tempat meminta pertolongan oleh orang sakit agar sembuh. Ia berjenggot, memakai pakaian kebesaran dan mahkota, lima orang pengawal bersenjatakan pedang.

Dewa-dewa yang berada di bagian samping sebelah barat dimulai dari utara, yaitu: (1) Dewa Fu De Zheng Shan atau Hok Tek Ceng Sin (dewa bumi) dengan dua pengawalnya yang berwajah hitam. Ciri-cirinya yaitu orang tua berjenggot, bermahkota, dan berwajah merah; (2) Cai Shen Ye (Chay Sin Ja) atau dewa bintang kekayaan. Ia ahli menghimpun kekayaan. Dewa ini disertai pendamping yang berdiri di sampingnya; (3) Macan agak besar dan dikelilingi empat macan kecil, orang memuja agar terhindar dari kesakitan; (4) Himpunan arca-patung dewa yang merupakan sumbangan orang-orang. Selain itu, ada tempat penyimpanan papan nama serta foto para pendeta yang telah meninggal di kelenteng ini.

c. Halaman
Di sebelah selatan terdapat sebuah gapura besar menyerupai gerbang dengan bagian atap yang tertutup. Bentuk ini disebut tipe pai lou (jenis paduraksa). Gerbang ini menyatu dengan tembok pagar yang melebar ke samping. Di tengah gapura terdapat dua daun pintu terbuat dari kayu berwarna merah khas kesenian Cina. Tepat di atas ambang pintu terpampang tulisan “Vihara Dharma Bhakti”. Sementara, di bagian luar sederetan huruf Cina berbunyi “Kim Tek I” pada sisi gapura bagian dalam. Atap gapura berbentuk pelana. Gapura yang lebih kecil terdapat pada pagar tembok sebelah timur. Keduanya juga berbentuk arsitektur Cina, walaupun pintunya bukan dari bahan kayu lagi, melainkan dari besi. Di halaman pertama ini berdiri tiga bangunan kelenteng lainnya yang semuanya menghadap ke arah timur. Halaman kelenteng dipergunakan untuk upacara-upacara tertentu hingga sekarang.

Halaman lainnya dibatasi pagar tembok setinggi 170 cm. Pintu masuk ke halaman ini terbuat dari besi (berada di tengah tembok). Bagian atasnya terpampang tulisan “Yayasan Vihara Dharma Bhakti”. Di masa lalu lapangan di dalam lingkup halaman ini merupakan sebuah taman kecil yang dihiasi tanaman, namun sekarang dengan semakin banyaknya jumlah umat yang bersembahyang diubah menjadi pelataran berlantai semen. Di bagian tengah halaman ini, tepatnya di muka bangunan kelenteng, berdiri sebuah bangunan segi delapan tanpa dinding yang ditopang oleh tiang kecil-kecil berjumlah empat buah. Atapnya juga berdenah segi delapan bersusun dua. Setiap jurainya mengarah ke atas. Bagian puncaknya dihiasi bunga teratai yang sedang mekar.

Di tengah bangunan terdapat sebuah wadah terbuat dari kuningan, berdiameter 85 cm. Wadah ini diletakkan di atas alas berbentuk bunga teratai berfungsi untuk tempat menancapkan hio setelah melaksanakan sembahyang kepada Thian (Tuhan). Di halaman ini terdapat sepasang patung singa (bougushi) berdiri di atas laping setinggi 70 cm yang berfungsi sebagai penjaga. Tinggi patung singa 80 cm, terbuat dari batu berada di kiri dan kanan halaman. Bangunan lainnya adalah dua buah balai pengobatan yang terletak di sebelah barat (bersebelahan dengan Vihara Dharma Bakti). Sedangkan, lainnya tepat di sisi timur bangunan utama Kelenteng Jin De Yuan.

Sumber:
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
http://community.siutao.com
http://www.detiknews.com
http://www.geocities.com

Popular Posts