Bubur Blendrang Muntilan merupakan salah satu kuliner tradisional dari daerah Muntilan yang cukup dikenal sebagai makanan sederhana masyarakat pedesaan. Bubur ini memiliki cita rasa gurih dan sedikit manis, dengan tekstur lembut seperti bubur nasi, tetapi disajikan bersama kuah santan berbumbu yang khas. Dalam tradisi masyarakat setempat, bubur blendrang sering dikonsumsi sebagai menu sarapan atau makanan penghangat tubuh pada pagi dan malam hari.
Secara historis, bubur blendrang berkembang dari budaya kuliner agraris masyarakat Jawa yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana hasil pertanian lokal, terutama beras dan kelapa. Nama “blendrang” diyakini berasal dari istilah Jawa yang merujuk pada proses memasak santan berbumbu hingga mendidih dan harum. Kuliner ini dahulu banyak dibuat di rumah-rumah warga ketika musim panen atau pada acara kumpul keluarga karena mudah dibuat dan mengenyangkan. Seiring waktu, bubur blendrang kemudian dijual di pasar tradisional serta warung-warung makan di kawasan Muntilan dan sekitarnya.
Peralatan yang digunakan untuk membuat bubur blendrang umumnya masih sederhana dan tradisional. Alat utamanya meliputi dandang atau panci besar untuk memasak bubur, tungku atau kompor, centong kayu untuk mengaduk, cobek dan ulekan untuk menghaluskan bumbu, serta pisau dan talenan untuk menyiapkan bahan tambahan. Pada masa dahulu, banyak masyarakat memasaknya menggunakan tungku kayu bakar sehingga menghasilkan aroma yang lebih khas.
Bahan utama bubur blendrang terdiri atas beras yang dimasak hingga lembut menjadi bubur. Kuah blendrang dibuat dari santan kelapa yang dicampur bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, daun salam, dan serai. Beberapa penjual juga menambahkan potongan tempe, tahu, atau kacang tolo sebagai pelengkap. Ada pula yang menyajikannya bersama sambal dan kerupuk agar rasanya lebih kaya.
Cara membuatnya dimulai dengan mencuci beras lalu memasaknya bersama air dalam jumlah banyak hingga menjadi bubur yang lembut dan agak cair. Sementara itu, bumbu halus ditumis sampai harum, kemudian dimasukkan santan dan rempah-rempah seperti serai serta daun salam. Kuah santan dimasak perlahan sambil terus diaduk agar tidak pecah. Setelah matang, bubur disiram dengan kuah blendrang dan diberi pelengkap sesuai selera.
Dalam penyajiannya, bubur blendrang biasanya disajikan hangat di mangkuk atau pincuk daun pisang. Bubur putih diletakkan terlebih dahulu, lalu disiram kuah santan blendrang yang gurih. Di atasnya dapat ditambahkan tempe, tahu, kacang, bawang goreng, sambal, dan kerupuk. Penyajian dengan daun pisang memberi aroma khas yang menambah kenikmatan makanan tradisional ini. Hingga sekarang, bubur blendrang tetap menjadi bagian dari identitas kuliner lokal masyarakat Muntilan dan menjadi salah satu makanan tradisional yang dirindukan karena rasa sederhana namun kaya cita rasa tradisional Jawa.
Secara historis, bubur blendrang berkembang dari budaya kuliner agraris masyarakat Jawa yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana hasil pertanian lokal, terutama beras dan kelapa. Nama “blendrang” diyakini berasal dari istilah Jawa yang merujuk pada proses memasak santan berbumbu hingga mendidih dan harum. Kuliner ini dahulu banyak dibuat di rumah-rumah warga ketika musim panen atau pada acara kumpul keluarga karena mudah dibuat dan mengenyangkan. Seiring waktu, bubur blendrang kemudian dijual di pasar tradisional serta warung-warung makan di kawasan Muntilan dan sekitarnya.
Peralatan yang digunakan untuk membuat bubur blendrang umumnya masih sederhana dan tradisional. Alat utamanya meliputi dandang atau panci besar untuk memasak bubur, tungku atau kompor, centong kayu untuk mengaduk, cobek dan ulekan untuk menghaluskan bumbu, serta pisau dan talenan untuk menyiapkan bahan tambahan. Pada masa dahulu, banyak masyarakat memasaknya menggunakan tungku kayu bakar sehingga menghasilkan aroma yang lebih khas.
Bahan utama bubur blendrang terdiri atas beras yang dimasak hingga lembut menjadi bubur. Kuah blendrang dibuat dari santan kelapa yang dicampur bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, garam, daun salam, dan serai. Beberapa penjual juga menambahkan potongan tempe, tahu, atau kacang tolo sebagai pelengkap. Ada pula yang menyajikannya bersama sambal dan kerupuk agar rasanya lebih kaya.
Cara membuatnya dimulai dengan mencuci beras lalu memasaknya bersama air dalam jumlah banyak hingga menjadi bubur yang lembut dan agak cair. Sementara itu, bumbu halus ditumis sampai harum, kemudian dimasukkan santan dan rempah-rempah seperti serai serta daun salam. Kuah santan dimasak perlahan sambil terus diaduk agar tidak pecah. Setelah matang, bubur disiram dengan kuah blendrang dan diberi pelengkap sesuai selera.
Dalam penyajiannya, bubur blendrang biasanya disajikan hangat di mangkuk atau pincuk daun pisang. Bubur putih diletakkan terlebih dahulu, lalu disiram kuah santan blendrang yang gurih. Di atasnya dapat ditambahkan tempe, tahu, kacang, bawang goreng, sambal, dan kerupuk. Penyajian dengan daun pisang memberi aroma khas yang menambah kenikmatan makanan tradisional ini. Hingga sekarang, bubur blendrang tetap menjadi bagian dari identitas kuliner lokal masyarakat Muntilan dan menjadi salah satu makanan tradisional yang dirindukan karena rasa sederhana namun kaya cita rasa tradisional Jawa.
Foto: https://magelangekspres.disway.id/kuliner/read/657238/resep-bubur-blendrang-makanan-khas-gunungpring-muntilan-yang-jadi-makanan-buka-puasa-para-pasukan-diponegoro




