Bubu Apolo

Bubu apolo merupakan alat tangkap ikan yang memiliki pintu dan badan yang dirancang sedemikian rupa untuk memerangkap ikan. Bubu apolo termasuk perangkap berukuran kecil dengan panjang sekitar 7,2 meter, kaki 3,75 meter dan tinggi 0,60 meter. Mulut bubu berbentuk empat persegi dengan sedikit lekukan di bagian kiri dan kanan. Pada bagian kaki terdapat mestak yang diikuti oleh adanya dua buah kantung dengan panjang 1,60 meter dan lebar 0,60 meter. Sementara badannya berupa waring terbuat dari benang nilon halus (polyfilament) bermata kecil. Bubu apolo dioperasikan oleh 2-3 orang nelayan sekitar 1-2 mil dari pantai pada waktu siang maupun malam hari. Arah pemasangan pintunya dapat dibolak-balik menurut pasang-surutnya air laut. Setelah direndam selama beberapa jam, dapat dilakukan pengambilan hasil berupa udang rebon dan jenis-jenis udang kecil lain dengan cara mempertemukan bibir atas dan bibir bawah menggunakan tali lalu mengangkatnya ke permukaan.

Raden Tjetje Somantri

Di daerah Wanayasa tidak hanya ada Ayi Kurnia Iskandar dan sejumlah seniman lain yang mengharumkan nama Purwakarta di tingkat Jawa Barat maupun Nasional. Jauh sebelum generasi Ayi dan kawan-kawannya ada seorang pelopor seni tari kreasi Sunda bernama Raden Tjetje Somantri. Pria bernama asli Raden Rusdi Somantri ini lahir pada tahun 1892 dari pasangan Raden Somantri dan Nyi Raden Siti Munigar.

Bakat seni Tjetje mulai muncul setelah lulus MULO dan masuk Voor Work OSVIA (Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtemaren) sebuah sekolah Pamong Praja bagi kalangan menak di Bandung (id.wikipedia.org). Selama bersekolah di OSVIA Tjetje gemar menari tayub. Bahkan saking gemarnya, dia sering bolos hingga akhirnya tidak dapat menamatkan pendidikannya.

Walau tidak tamat sekolah, Sang paman, R Karta Kusumah (orang yang mengasuh Tjetje karena Raden Somantri meninggal dunia) memasukkannya sebagai pegawai kecamatan di Wanayasa. Namun, karena sering mangkir untuk berlatih tari, dia diberhentikan. Begitu juga ketika Sang paman memasukkannya menjadi Mantri Polisi Kehutanan, Tjetje tetap melakukan hal yang sama. Bahkan, ketika bekerja sebagai pegawai Bank Denis (De Earste Nederlandsche Indische Spaarkas en Hipotheek Bank) tahun 1918, Tjetje juga tidak betah dan keluar untuk memfokuskan diri mempelajari seni tari (clikberita.com).

Adapun seni tari yang paling awal didalami Tjetje adalah Tayub. Tari ini dipelajarinya dari Aom Doyot (R Gandakusumah) pada sekitar tahun 1911. Menurut 18news.id/, selain Aom Doyot ada beberapa maestro tari lagi yang dijadikan guru oleh Tjetje, di antaranya adalah: Aom Menin (Camat Buahbatu yang ahli Wayang Wong), Wentar dan Koncer (Tari Topeng Cirebon), Sudiani dan Sujojo (pelatih tari Perkumpulan Tirtayasa dan Sekar Pakuan yang ahli tari Jawa), serta Elang Oto Denda Kusumah (tari topeng Cirebon). Jenis tarian lain yang juga dipelajari Tjetje adalah Menak Jingga, Anjasmara, Jingga Anom Nyamba, Menak Koncar, Panji, Topeng Pamindo, Topeng Kelana, serta Kendit Birayung.

Jalan hidup Tjetje mulai beralih dari hanya sekadar menari menjadi seorang koreografer ketika bertemu dengan pegawai Jawatan Kebudayaan Jawa Barat, yaitu RM Suyignya dan Tb Umay Martakusumah yang menjadikannya sebagai salah satu pengajar tari di BKI (Badan Kebudayaan Indonesia). Selama di BKI inilah satu demi satu tari kreasi Sunda mulai dibuatnya, di antaranya adalah: Dewi (1946), Anjasmara I dan II (1946), Kendit Birayung (1947), Puragabaya (1947), Dewi Serang dan Sulintang (1948), Komala Gilang Kusumah (1949), Ratu Graeni (1949), Topeng Koncaran (1949), Srigati (1949), Golek Purwokertoan (1950), Rineka Sari (1951), Kukupu (1952), Sekar Putri (1952-1954), Merak (1955), Golek Rineka (1957), Nusantara (1958), Anjasmara III (1958), Renggarini (1958), dan lain sebagainya (budaya-indo.com).

Tari ciptaan Tjetje tadi dianggap sebagai pembaharu tarian Sunda yang telah ada. Berkat kreasi barunya yang sebagian besar diperuntukkan bagi kaum perempuan, Tjetje berhasil merubah imej penari perempuan (ronggeng) menjadi lebih terhormat. Oleh karena itu, dia pun mendapat penghargaan berupa Piagam Wijaya Kusumah dari pemerintah. Dan, untuk tetap melestarikannya, hingga sekarang sejumlah tari kreasinya masih dipentaskan di berbagai event dalam maupun luar negeri. Bahkan, ada juga yang menjadikan sebagai bahan ajar di sekolah seni dan perguruan tinggi (SMKI Bandung, ISBI Bandung, dan UPI Bandung).

Bubu Wadong/Bintur

Bubu wadong/bintur adalah alat tangkap ikan menyerupai perangkap yang dirancang sedemikian rupa sehingga bila ikan masuk tidak dapat keluar lagi karena terhalang oleh pintu masuknya yang berbentuk corong. Bentuk bubu wadong sangat bervariasi, bergantung pada ikan target tangkapan dan kebiasaan atau pengetahuan nelayan yang mengoperasikannya, seperti: sangkar, silinder, trapesium, segi empat, gendang, segitiga memanjang, kubus, bulat setengah lingkaran, lonjong, dan lain sebagainya. Walaupun bentuknya bervariasi, namun secara umum konstruksi bubu wadong terdiri atas: tali penarik terbuat dari polyethylene (PE) yang diikatkan pada bagian atas bubu sebagai penarik dan penurun bubu ke dalam air; mulut (ijeh) berbentuk corong sebagai jalur masuk ikan ke dalam perangkap; pintu sebagai tempat untuk mengambil hasil tangkapan; kantung (bersifat opsional) dari kawat kasa sebagai penyimpan umpan berupa ikan pepetek atau ikan rucah; rangka dari besi behel, lempengan besi, bambu, atau kayu yang dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan yang diinginkan; dan, badan dari waring benang multifilament PA berukuran 2 inci, anyaman kawat, anyaman bambu sebagai pembungkus rangka.

Adapun metode pengoperasiannya menurut Martasuganda (2002), dapat dipasang secara satu per satu (sistem tunggal) maupun berantai (sistem rawai) di daerah penangkapan yang sudah diperkirakan banyak ikan dasar (demersal). Waktu pemasangan dan pengangkatan bubu wadong ada yang dilakukan pada pagi, sore, atau malam hari, bergantung dari nelayan yang mengoperasikannya. Adapun lama perendamannya ada yang hanya beberapa jam, satu malam, tiga hari tiga malam dan bahkan ada pula yang direndam sampai tujuh hari tujuh malam.

Koesoemah Atmadja

Koesoemah Atmadja atau lengkapnya Raden Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja adalah salah seorang pahlawan nasional yang pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putra asli Purwakarta yang berasal dari kalangan menak ini lahir pada tanggal 8 September 1898. Menurut Almunfahannah (2020), latar belakang keluarga inilah yang membuat Koesoemah Atmadja memiliki kesempatan luas di bidang pendidikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Selesai menamatkan pendidikan di Rechtshcool atau sekolah kehakiman (sekarang FH UI) pada tahun 1913, enam tahun kemudian (1919) Koesoemah Atmadja baru mengawali karier dengan menjadi pegawai di Pengadilan Bogor. Id.wikipedia.org menyatakan bahwa tahun itu juga dia berkesempatan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan hukumnya di Universitas Leiden, Belanda. Selama beberapa tahun di Leiden, akhirnya Koesoemah Atmadja berhasil meraih gelar Doctor in de recht geleerheid dengan disertasi berjudul De Mohamedaansche Vrom Stichtingen in Indie yang menguraikan hukum wakaf di Hindia Belanda.

Pulang dari Leiden, Koesoemah Atmadja langsung dipercaya menjadi hakim Raad Van Justitie di Batavia. Tidak lama kemudian, dia diangkat menjadi Ketua Pengadilan Negeri (Voor Zitter Landraad) di Indramayu. Setelah Belanda hengkang Koesoemah Atmadja tetap menjabat sebagai Ketua Pengadilan Negeri (Tihoo Hooin) bentukan Jepang di Semarang. Kemudian menjadi Hakim Pengadilan Tinggi Padang dan pada tahun 1944 sebagai Pemimpin Kehakiman Jawa Tengah (hukumonline.com).

Menjelang Indonesia merdeka, tanggal 29 April 1945 Koesoemah Atmadja ditunjuk menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Lembaga ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan bangsa Indonesia karena Jepang berjanji akan membantu proses kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, Koesoemah Atmadja ikut berperan membentuk sebuah lembaga yudikatif dan pemegang kekuasaan kehakiman tertinggi. Hasilnya, terbentuklah Mahkamah Agung Republik Indonesia dengan Koesoemah Atmadja sendiri yang menjadi ketuanya. Pada masa kepimpinannya, Mahkamah Agung pernah dipindahkan ke Yogyakarta antara tahun 1946 hingga 1950 (id.wikipedia.org).

Menurut tokoh.id, susunan Mahkamah Agung sewaktu berada di Yogyakarta adalah Mr. Dr. Koesoemah Atmadja sebagai ketua, Mr. R. Satochid Kartanegara sebagai wakil ketua, Mr. Husen Tirtasmidjaja (anggota), Mr. Wono Prodjodikoro (anggota), Sutan Kali Malikul Add (anggota), Mr. Soebekti (panitera), dan Ranuatmadja (tata usaha).

Selesai Konferensi Meja Bundar dan pemulihan kedaulatan, kedudukan Mahkamah Agung kembali ke Jakarta pada tahun 1950 dengan susunan yang agak berbeda namun tetap diketuai oleh Koesoemah Atmadja dan wakil ketua Satochid Kartanegara. Anggota lainnya adalah Mr. Wirjono Prodjodikoro (hakim agung), Mr. Husen Tirtamidjaja (hakim agung), Mr. Husen Tirtamidjaja (hakim agung), Mr. Soebekti (panitera), dan ranoeatmadja sebagai wakil panitera.

Jabatan sebagai Ketua Mahkamah Agung di Jakarta diemban Koesoemah Atmadja hanya berlangsung sekitar dua tahun. Pada 11 Agustus 1952, pria yang juga Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Dan, atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah kemudian menganugeraginya sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No 124/1965.

Selama menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung banyak sekali hal yang telah dibuat oleh Koeseomah Atmadja, di antaranya adalah: (1) mengambil alih kedudukan Hoogerechtshof dan menjadikan Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi pada Januari 1950; (2) melantik kembali Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia Serikat; (3) menetapkan batasan dan kewenangan Mahkamah Agung; (4) melakukan restrukturisasi Mahkamah Agung RIS; dan (5) menetapkan Pengadilan Tentara sebagai bagian dari Mahkamah Agung (Almundahannah, 2020).

Yoseph Iskandar

Yoseph Iskandar adalah seorang pengarang cerpen, novel, roman, dan drama khusus dalam bahasa Sunda. Sastrawan asli Purwakarta ini lahir pada 11 Januari 1953. Karya-karyanya berhasil memperpadukan dan mengangkat sejarah Tatar Sunda dalam karya sastra. Melalui karyanya tersebut dia telah berhasil menjadikan orang Sunda semakin sadar akan sosok Ki Sunda.

Ketertarikan Yoseph pada dunia sastra dimulai setelah masuk ATPU atau Akademi Teknik Pekerjaan Umum Bandung. Menurut Purna dan Yulianto (2008), meski kuliah di bidang teknik aktivitas Yoseph lebih banyak tercurah pada kegiatan seni seperti menjadi pimpinan Teater Khas (1977-1981). Saking minatnya pada dunia seni, Yoseph kemudian lebih memilih meninggalkan studinya di teknik demi mendalami Sastra Sunda. Bersama Eddy D Iskandar, Godi Suwarna, Juniarso Ridwan, dan Beni Setia, dia mendirikan organisasi sastrawan muda Sunda bernama Durma Kangka. Hasilnya adalah dua buah buku berjudul Antologi Puisi Sunda Mutakhir (1980) dan Tumbal (1982).

Selain bergelut di sastra, Yoseph juga terjun dalam dunia jurnalistik dengan menjadi redaktur di majalah Mangle (1979-1985) dan tabloid Giwangkara. Bahkan, dia juga sempat menggeluti dunia pendidikan dengan menjadi tenaga pengajar di UNPAS, UNTIRTA, serta UC Santa Cruz di California, Amerika Serikat.

Ketika menjadi redaktur Manglelah Yoseph memiliki kedekatan dengan Saleh Danasasmita yang membuatnya tertarik pada Sejarah Sunda. Oleh karena itu, tulisannya di Mangle pun didominasi oleh Sejarah Sunda. Begitu juga dengan proses pembuatan karya sastranya seperti Perang Bubat (1988), Wastukancana (1990), Prabu Wangisutah (1991), Pamanahrasa (1991), Putri Subaglarang (1991), Prabu Anom Jayadewata (1996) (p2kp.stiki.ac.id), Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana (1991), dan Tri Tangtu di Bumi (1996). Khusus untuk dua karya terakhir, yaitu Tanjeur na Juritan, Jaya di Buana (1991) dan Tri Tangtu di Bumi (1996) Yoseph berhasil mendapat penghargaan Sastra Rancage.

Selain karya sastra di atas, Yoseph juga membuat sejumlah karya lagi baik berupa buku dan artikel sejarah, puisi, serta naskah drama, di antaranya: Yuganing Rajakawasa diterbitkan Geger Sunten; Sejarah Kebudayaan Jawa Barat (empat jilid); Sejarah Cirebon; Sejarah Banten; peristiw serangan pasukan RI terhadap Inggris di daerah Sukabumi pada masa revolusi; Ngadegna Pajajaran (naskah drama); Pemberontakan Cakrawarman (naskah drama); Runtagna Pajajaran (naskah drama); Nyi Puun (naskah drama); Tanjeur Pajajaran (naskah drama); Haji Prawatasan (naskah drama); Juag Toed (naskah drama komedi); Harewos Nu Gaib (naskah drama); BOM (naskah drama); dan Cucunguk (naskah drama ini banyak dipilih oleh peserta FDBS atau Festival Drama Basa Sunda IX tahun 2006).

Sumber:
“Yoseph Iskandar”, diakses dari https://p2kp.stiki.ac.id/id3/3068-2956/Yoseph-Iskandar_106875_stiki-malang_p2kp-stiki.html, tanggal 2 Mei 2021.

Purna, Dhipa Galuh dan Yulianto Agung. 2008. “Obituari: “Nyekar” Yoseph Iskandar”, diakses dari http://cabiklunik.blogspot.com/2008/03/obituari-nyekar-yoseph-iskandar.html, tanggal 2 Mei 2021.

Popular Posts