The Mummy (2017) merupakan film aksi-fantasi horor yang disutradarai oleh Alex Kurtzman dan ditulis oleh David Koepp, Christopher McQuarrie, serta Dylan Kussman. Sebagai sebuah proyek ambisius, film ini awalnya diproyeksikan menjadi batu pijakan pertama bagi Dark Universe milik Universal Pictures—sebuah upaya untuk menghidupkan kembali waralaba monster klasik mereka dalam satu jagat sinema modern. Menggandeng Tom Cruise sebagai daya pikat utama, film ini mencoba mengawinkan elemen horor gotik tradisional dengan intensitas aksi berskala masif ala Hollywood abad ke-21.
Cerita berpusat pada karakter Nick Morton (diperankan dengan energi fisik yang intens oleh Tom Cruise), seorang tentara bayaran sekaligus pencuri artefak kuno yang beroperasi di wilayah konflik Timur Tengah. Saat menjalankan aksinya di Irak bersama rekannya, Chris Vail (Jake Johnson), Nick secara tidak sengaja menemukan sebuah makam bawah tanah kuno yang terkubur dalam cairan merkuri. Makam tersebut ternyata merupakan penjara bagi Putri Ahmanet (Sofia Boutella), seorang pewaris takhta Mesir kuno yang dihukum dan dimumikan hidup-hidup karena bersekutu dengan Set, dewa kegelapan, demi kekuasaan.
Ketika sarkofagus Ahmanet diangkat dan diterbangkan menuju London menggunakan pesawat militer, kutukan kuno mulai terlepas. Pesawat tersebut jatuh akibat serangan kawanan burung gagak mistis, menewaskan seluruh kru di dalamnya—kecuali Nick, yang tiba-tiba terbangun di kamar mayat tanpa luka sedikit pun. Nick segera menyadari bahwa ia telah "dipilih" dan dikutuk oleh Ahmanet untuk menjadi wadah fisik bagi Dewa Set di bumi. Dibantu oleh seorang arkeolog bernama Jenny Halsey (Annabelle Wallis), Nick harus berpacu dengan waktu menjelajahi terowongan bawah tanah London untuk menghentikan ritual kebangkitan Ahmanet, sekaligus menghadapi organisasi rahasia "Prodigium" yang dipimpin oleh Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe).
Keberhasilan film ini dalam menyajikan elemen horor supernatural terletak pada performa luar biasa Sofia Boutella sebagai Putri Ahmanet. Berbeda dengan adaptasi The Mummy versi Imhotep yang cenderung menggunakan manipulasi sihir dari jauh, Boutella membawakan karakter Ahmanet dengan bahasa tubuh yang sangat ekspresif, sensual, namun sekaligus mematikan berkat latar belakangnya sebagai penari profesional. Tatapan mata dengan pupil ganda (dua pupil dalam satu mata) serta desain hieroglif yang terukir di sekujur kulitnya berhasil menciptakan impresi visual monster yang eksotis, mengerikan, dan memiliki kedalaman latar belakang tragedi yang kuat.
Naratif The Mummy (2017) mencoba memberikan dinamika baru lewat pengenalan organisasi Prodigium yang bertugas memburu dan mempelajari monster di seluruh dunia. Kehadiran Russell Crowe sebagai Dr. Jekyll—yang sewaktu-waktu bisa bertransformasi menjadi Mr. Hyde yang beringas—memberikan bobot eksposisi mitologi yang menarik. Sayangnya, intervensi Prodigium ini justru menjadi pedang bermata dua bagi struktur cerita. Alih-alih fokus pada ancaman kutukan Ahmanet yang mendesak, paruh kedua film ini terlalu banyak menghabiskan durasi untuk memperkenalkan konsep Dark Universe dan monster-monster masa depan, membuat narasi utamanya terasa terdistraksi dan kehilangan fokus ketegangan horornya.
Dari segi estetika dan hiburan, film ini diakui menyajikan beberapa sekuens aksi praktis yang sangat spektakuler dan menantang maut. Salah satu pencapaian visual paling berkesan adalah adegan kecelakaan pesawat dalam kondisi tanpa gravitasi (zero-gravity sequence). Adegan ini direkam di dalam pesawat khusus (Vomit Comet) yang melakukan manuver menukik tajam secara nyata di langit, membutuhkan 64 kali penerbangan demi menangkap ketegangan organik tanpa bantuan CGI yang berlebihan. Didukung oleh sinematografi Ben Seresin yang menangkap kontras antara padang pasir Irak yang gersang dan atmosfer kelam katedral tua di London, film ini menyajikan kualitas produksi berskala blockbuster yang mewah.
Aspek audio film ini digarap oleh komposer Brian Tyler, yang menyusun skor musik orkestra yang megah, gelap, dan sarat akan instrumen eksotis Timur Tengah. Tyler secara cerdas memadukan tiupan logam yang menggelegar dengan paduan suara (choir) bernuansa mistis untuk merepresentasikan kebangkitan kekuatan Ahmanet. Desain suara untuk setiap hembusan angin badai pasir di tengah kota London, suara kerumunan laba-laba, hingga erangan para mayat hidup yang dibangkitkan terdengar sangat pekak dan menakutkan, memberikan lapisan atmosfer horor yang cukup imersif di ruang bioskop.
Namun, benturan genre yang terlalu drastis ini memicu banyak kritik tajam dari para penonton purist. Persona Tom Cruise sebagai pahlawan aksi yang tak terkalahkan dinilai kurang cocok berpadu dengan pakem film horor monster, di mana protagonis seharusnya merasa rentan dan tidak berdaya. Humor yang disisipkan melalui karakter hantu Chris Vail juga kerap kali terasa canggung dan merusak atmosfer klaustrofobik yang sudah dibangun. Skrip yang ditulis oleh banyak orang membuat resolusi akhir film ini terasa terburu-buru dan menyisakan banyak celah logika demi membuka jalan bagi sekuel yang pada akhirnya tidak pernah diproduksi.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari sebuah film horor murni yang setia pada akar gotik klasik atau misteri petualangan arkeologi ala versi tahun 1999, The Mummy (2017) kemungkinan besar akan terasa mengecewakan dan terlalu padat oleh ambisi korporat. Sebaliknya, jika Anda mampu melepaskan ekspektasi terhadap jagat sinemanya dan menikmatinya sebagai sebuah film aksi supernatural musim panas yang dipenuhi aksi berbahaya khas Tom Cruise, desain monster yang keren dari Sofia Boutella, serta efek visual yang megah, film ini tetap menjadi sebuah tontonan hiburan popcorn yang cukup seru dan memanjakan mata.
Cerita berpusat pada karakter Nick Morton (diperankan dengan energi fisik yang intens oleh Tom Cruise), seorang tentara bayaran sekaligus pencuri artefak kuno yang beroperasi di wilayah konflik Timur Tengah. Saat menjalankan aksinya di Irak bersama rekannya, Chris Vail (Jake Johnson), Nick secara tidak sengaja menemukan sebuah makam bawah tanah kuno yang terkubur dalam cairan merkuri. Makam tersebut ternyata merupakan penjara bagi Putri Ahmanet (Sofia Boutella), seorang pewaris takhta Mesir kuno yang dihukum dan dimumikan hidup-hidup karena bersekutu dengan Set, dewa kegelapan, demi kekuasaan.
Ketika sarkofagus Ahmanet diangkat dan diterbangkan menuju London menggunakan pesawat militer, kutukan kuno mulai terlepas. Pesawat tersebut jatuh akibat serangan kawanan burung gagak mistis, menewaskan seluruh kru di dalamnya—kecuali Nick, yang tiba-tiba terbangun di kamar mayat tanpa luka sedikit pun. Nick segera menyadari bahwa ia telah "dipilih" dan dikutuk oleh Ahmanet untuk menjadi wadah fisik bagi Dewa Set di bumi. Dibantu oleh seorang arkeolog bernama Jenny Halsey (Annabelle Wallis), Nick harus berpacu dengan waktu menjelajahi terowongan bawah tanah London untuk menghentikan ritual kebangkitan Ahmanet, sekaligus menghadapi organisasi rahasia "Prodigium" yang dipimpin oleh Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe).
Keberhasilan film ini dalam menyajikan elemen horor supernatural terletak pada performa luar biasa Sofia Boutella sebagai Putri Ahmanet. Berbeda dengan adaptasi The Mummy versi Imhotep yang cenderung menggunakan manipulasi sihir dari jauh, Boutella membawakan karakter Ahmanet dengan bahasa tubuh yang sangat ekspresif, sensual, namun sekaligus mematikan berkat latar belakangnya sebagai penari profesional. Tatapan mata dengan pupil ganda (dua pupil dalam satu mata) serta desain hieroglif yang terukir di sekujur kulitnya berhasil menciptakan impresi visual monster yang eksotis, mengerikan, dan memiliki kedalaman latar belakang tragedi yang kuat.
Naratif The Mummy (2017) mencoba memberikan dinamika baru lewat pengenalan organisasi Prodigium yang bertugas memburu dan mempelajari monster di seluruh dunia. Kehadiran Russell Crowe sebagai Dr. Jekyll—yang sewaktu-waktu bisa bertransformasi menjadi Mr. Hyde yang beringas—memberikan bobot eksposisi mitologi yang menarik. Sayangnya, intervensi Prodigium ini justru menjadi pedang bermata dua bagi struktur cerita. Alih-alih fokus pada ancaman kutukan Ahmanet yang mendesak, paruh kedua film ini terlalu banyak menghabiskan durasi untuk memperkenalkan konsep Dark Universe dan monster-monster masa depan, membuat narasi utamanya terasa terdistraksi dan kehilangan fokus ketegangan horornya.
Dari segi estetika dan hiburan, film ini diakui menyajikan beberapa sekuens aksi praktis yang sangat spektakuler dan menantang maut. Salah satu pencapaian visual paling berkesan adalah adegan kecelakaan pesawat dalam kondisi tanpa gravitasi (zero-gravity sequence). Adegan ini direkam di dalam pesawat khusus (Vomit Comet) yang melakukan manuver menukik tajam secara nyata di langit, membutuhkan 64 kali penerbangan demi menangkap ketegangan organik tanpa bantuan CGI yang berlebihan. Didukung oleh sinematografi Ben Seresin yang menangkap kontras antara padang pasir Irak yang gersang dan atmosfer kelam katedral tua di London, film ini menyajikan kualitas produksi berskala blockbuster yang mewah.
Aspek audio film ini digarap oleh komposer Brian Tyler, yang menyusun skor musik orkestra yang megah, gelap, dan sarat akan instrumen eksotis Timur Tengah. Tyler secara cerdas memadukan tiupan logam yang menggelegar dengan paduan suara (choir) bernuansa mistis untuk merepresentasikan kebangkitan kekuatan Ahmanet. Desain suara untuk setiap hembusan angin badai pasir di tengah kota London, suara kerumunan laba-laba, hingga erangan para mayat hidup yang dibangkitkan terdengar sangat pekak dan menakutkan, memberikan lapisan atmosfer horor yang cukup imersif di ruang bioskop.
Namun, benturan genre yang terlalu drastis ini memicu banyak kritik tajam dari para penonton purist. Persona Tom Cruise sebagai pahlawan aksi yang tak terkalahkan dinilai kurang cocok berpadu dengan pakem film horor monster, di mana protagonis seharusnya merasa rentan dan tidak berdaya. Humor yang disisipkan melalui karakter hantu Chris Vail juga kerap kali terasa canggung dan merusak atmosfer klaustrofobik yang sudah dibangun. Skrip yang ditulis oleh banyak orang membuat resolusi akhir film ini terasa terburu-buru dan menyisakan banyak celah logika demi membuka jalan bagi sekuel yang pada akhirnya tidak pernah diproduksi.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari sebuah film horor murni yang setia pada akar gotik klasik atau misteri petualangan arkeologi ala versi tahun 1999, The Mummy (2017) kemungkinan besar akan terasa mengecewakan dan terlalu padat oleh ambisi korporat. Sebaliknya, jika Anda mampu melepaskan ekspektasi terhadap jagat sinemanya dan menikmatinya sebagai sebuah film aksi supernatural musim panas yang dipenuhi aksi berbahaya khas Tom Cruise, desain monster yang keren dari Sofia Boutella, serta efek visual yang megah, film ini tetap menjadi sebuah tontonan hiburan popcorn yang cukup seru dan memanjakan mata.
.jpg)
.jpg)
.jpg)
