Nggoet

Nggoet adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah wadah berbentuk keranjang pengangkut bulir padi hasil pengetaman. Nggoet terbuat dari bambu wuluh muda (berumur sekitar satu tahun). Bambu ini ada yang dibelah dan dihaluskan sebagai penyangga/kerangka nggoet dengan ukuran antara 1-1,5 centimeter dan ada pula yang dianyam membentuk sebuah keranjang. Pekerjaan membelah bambu umumnya dilakukan kaum laki-laki, sedangkan proses menganyamnya oleh kaum perempuan.

Apabila nggoet telah terbentuk, proses selanjutnya adalah mengeringkan dengan cara dijemur di panas mahatari selama beberapa hari. Nggoet hasil karya orang Manggarai ini memiliki volume bervariasi antara 2,5-5 kilogram. Adapun cara membawanya disandang di pinggang kiri ataupun kanan, bergantung pada kebiasaan si pembawanya menggunakan tangan mana ketika mengetam. Dan, agar tidak jatuh ketika disandang, pada bagian bilah bambunya diberi semacam tali untuk diikatkan di pinggang.

Kahitutan

Kahitutan adalah istilah orang Sunda bagi sebuah tanaman herba tahunan bernama latin paederia scandens. Tanaman yang dapat hidup di lapangan terbuka, tebing-tebing sungai, semak belukar, dan bahkan merambat di pagar-pagar rumah ini memiliki panjang antara 1-5 meter. Daunnya tunggal berbentuk bulat telur atau lonjong dan bagian pangkal menyerupai jantung. Tepi daun rata, ujung runcing, tulang menyirip, dan bila diremas akan mengeluarkan bau seperti hitut.

Namun, walau berbau tidak sebab, daun kahitutan ternyata berguna sebagai bahan atau ramuan obat tradisional. berikut adalah pengolahan secara tradisional daun kahitutan dalam mengobati suatu penyakit.

Sakit lambung
Daun kahitutan direbus selama kurang lebih seperempat jam atau hingga mendidih. Setelah hangat atau dingin airnya diminum dengan dosis sehari satu kali.

Sariawan
Peras beberapa helai daun kahitutan dan ambil airnya untuk dioleskan pada bagian yang luka.

Sakit perut
Daun kahitutan diremas-remas lalu tempelkan pada bagian perut.

Reumatik
Remas atau tumbuk beberapa helai daun kahitutan agar keluar getahnya untuk dioleskan pada bagian yang terkena reumatik

Kurap
Sama seperti mengobati reumatik, penyakit kurap dapat disembuhkan dengan mengoleskan getah daun kahitutan.

Foto: https://www.innerpath.com.au/matmed/herbs/Paederia~scandens.htm

Heis

Heis adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah aktivitas berupa pembersihan rumput, dedaunan dan ranting-ranting kering di sekitar tanah yang akan dijadikan sebagai ladang. Pembersihan ini dilakukan secara merata hingga ke seluruh tepian ladang (lingko) agar ketika dilakukan pembakaran tidak merembet ke ladang milik orang lain. Adapun proses pembakarannya sendiri disebut sebagai tapa uma yang harus mendapat persetujuan dari Tua Teno/lebok (salah seorang anggota klen (Tua Pangga) yang dianggap mampu dan bijaksana untuk mengatur kepentingan bersama dalam pembukaan kebun/ladang (lingko) serta semua urusan adat).

Pekerjaan heis dilakukan selama satu hari penuh oleh seluruh penggarap lahan yang akan dijadikan lingko. Sedangkan tapa umanya baru dilakukan keesokan hari pada waktu cirang leso (mata hari sedang bersinar terik) antara pukul 10.00 hingga 11.00 siang waktu setempat. Pembakaran dimulai dari bagian yang berlawanan dengan arah angin. Apabila api telah melalap sekitar seperempat lingko, barulah bagian yang searah dengan arah angin mulai dibakar menggunakan culu atau cawar yang berupa ikatan sejumlah bambu berukuran kecil dengan panjang sekitar satu meter dan diameter seukuran lengan orang dewasa.

Beka Renco

Beka renco adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur untuk menyebut sebuah wadah berbentuk keranjang besar berfungsi sebagai penyalin bulir padi yang telah dietam dan dimasukkan dalam nggoet. Beka renco berasal dari kata beka yang berarti keranjang atau wadah dan renco berarti menyalin. Wadah ini terbuat dari anyaman bambu pada bagian penampungnya dan bilah-bilah bambu tipis sebagai penyangganya.

Pekerjaan menyalin bulir padi dari nggoet ke dalam beka renco umumnya dilakukan oleh salah seorang pengetam. Dia disebut sebagai ata renco, yaitu orang (laki-laki atau perempuan) dewasa yang diberi tugas khusus menyalin bulir padi ke beka benco untuk selanjutnya dibawa ke tempat rik (irik).

Tugu Ara

Tugu Ara berada di Jalan Jenderal Sudirman, Pasar Liwa, Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Tugu yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Erwin Nizar sekitar tahun 2000 ini merupakan landmark Kota Liwa, Ibukota Kabupaten Lampung Barat. Adapun wujudnya diadopsi dari hagha (pohon yang dahulu banyak tumbuh di wilayah Lampung Barat) yang dibentuk sedemikian rupa setinggi sekitar 11 meter. Pada bagian puncak dibuat semacam belalai menghadap ke atas berjumlah 16 buah yang melambangkan jumlah marga di Lampung Barat. Di bawah belalai ada empat buah bulatan sebagai lambang empat kebuayan yang menaungi ke-16 marga.

Saat sekarang, Tugu Ara penanda Kota Liwa hanya tinggal kenangan. Pada sekitar tahun 2017, Pemkab Lampung Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup memutuskan untuk merubuhkannya sebagai salah satu upaya penataan kawasan Sekunting Terpadu. Sebagai ganti, dibuatlah Tugu Sekura dengan dilengkapi tiga buah pohon pinang untuk memperindahnya. Tugu baru ini dianggap lebih merepresentasikan kekhasan budaya masyarakat Lampung Barat.

Popular Posts