Kampung Toleransi Paledang

Kampung Toleransi sebenarnya merupakan sebuah gang bernama Ruhana yang berada di Jalan Lengkong Kecil, Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. Untuk dapat mencapainya relatif mudah karena berada di pusat Kota Bandung, tepatnya tidak begitu jauh dari jalan utama Lengkong Kecil. Sebagai penanda gang ada papan petunjuk Masjid dan Madrasah Al-Amanah serta gapura masuk yang agak mencolok dihiasi payung warna-warni. Di dalam kampung, rumah-rumah berdinding torehan mural berisi gambar dan pesan-pesan mengenai toleransi. Sementara di bagian ujung gang ada sebuah masjid yang berdiri bersebelahan dengan vihara.

Gang ini diresmikan menjadi Kampung Toleransi oleh Pjs Walikota Bandung Muhamad Solihin pada tanggal 5 November 2018. Adapun tujuannya adalah sebagai upaya Pemerintah menjaga keberagaman di Kota Bandung yang telah sekian lama dihuni oleh warga bermacam sukubangsa, ras, dan agama maupun kepercayaan. Atau dengan kata lain, keberadaan Kampung Toleransi dimaksudkan untuk memperkuat kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Kota Bandung.

Gang Ruhana sendiri bukanlah yang pertama dijadikan sebagai Kampung Toleransi. Sebelumnya Pemerintah Kota Bandung juga telah meresmikan Kampung Toleransi Jamaika yang berada di RW 04, Kelurahan Jamaika, Kecamatan Bojongloa Kaler sebagai media komunikasi sekaligus penjaga toleransi atas keberagaman yang ada di Kota Bandung.

Foto: http://humas.bandung.go.id/humas/foto/2018-05-11/peresmian-kampung-toleransi-paledang

Festival Lengkong Balakecrakan

Selain Kampung Toleransi, di Kelurahan Paledang, tepatnya di RW 01 ada pula event khusus yang dapat dijadikan sebagai potensi budaya yaitu Festival Lengkong Balakecrakan. Festival ini sengaja diadakan secara rutin untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus sebagai saranan perekat persatuan dan kesatuan warga masyarakat Lengkong. Adapun pihak penyelenggaranya melibatkan pihak UMKM, Kepolisian, Babinkamtibmas, PKK, Karang Taruna, dan warga masyarakat lain di RW 01. Sedangkan lokasinya berada di perempatan Jalan Lengkong Besar dan Lengkong Kecil.

Di sepanjang jalan berjarak sekitar 500 meter tersebut mulai dari pagi hari hingga tengah malam dialihfungsikan menjadi sebuah pesta rakyat. Pada tahun 2018 para budayawan dan seniman dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga Banten silih berganti menampilkan sejumlah kesenian tradisional buhun, seperti: dogdog lojor, karinding buhun (Komunitas Tradisional Karinding Jempling Asgar) yang melantunkan petuah-petuah leluhur, benjang, antraksi laes khas kampung adat Ciptamulya dan Ciptagelar, debus, dan lain sebagainya.

Foto: https://www.ayobandung.com/read/2018/09/23/38417/ngeri-pesta-rakyat-lengkong-balakecrakan-suguhkan-atraksi-debus

Masjid Agung Buahbatu

Masjid Agung Buahbatu (dulu bernama Masjid Kaoem Boeahbatoe) berada tidak jauh dari Pasar Kordon di Jalan Margacinta-Terusan Buahbatu. Masjid ini merupakan masjid tertua di kawasan Bandung Selatan yang mulai dibangun pada 17 Ramadhan 1357 H (10 November 1938) dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Bandung Padoeka Kandjeng Dalem Raden Wiranatakoesoema hingga selesai dan diresmikan pada 22 Jumadil Awal 1358 H atau 9 Juli 1938. Adapun pelindung kepanitiaan pembangunan masjid adalah Raden Wiriadipoetra yang juga menjabat sebagai Wedana Oejoengbroeng sedangkan yang bertindak sebagai petugas pengawas (Noe Nitenan) adalah Opzichter Desawerken RR Bandoeng Mas Memed.

Selain Padoeka Kandjeng Dalem Raden Wiranatakoesoema dan Mas Memed, nama-nama lain yang ikut terlibat dalam proses pembangunan masjid tercatat di prasasti peresmian terpahat pada lempengan batu marmer berbentuk persegi yang ditempel pada salah satu tiang di teras masjid. Mereka adalah Padoeka Djoeragan Raden Demang Wiriadinata, Patih Bandoeng, Paduka Djoeragan Raden Hadji Abdul Kadir, Penghoeloe Bandoeng, Padoeka Djoeragan Raden Moehammad Enoch, Padoeka Djoeragan Raden Wiriadipoetra, dan Wedana Oejoengbroeng.

Sebagai catatan, masjid yang dirancang oleh N. Goedbloed Bouwkundige ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan tahun 1988 pada masa pemerintahan Bupati Bandung HD Cherman E dengan menghancurkan seluruh bangunan masjid dan hanya menyisakan prasasti peresmian. Selesai renovasi, dibuat prasasti lagi bertuliskan “Masjid Agung Buah Batu diresmikan Bupati Bandu HD Cherman E, Paseh 16 Desember 1988”.

Satu dasawarsa kemudian (tahun 2002) bangunan mulai direnovasi lagi karena telah tercakup dalam wilayah pemekaran Kota Bandung. Dan sejak saat itu, perombakan demi perombakan terus dilakukan dari mulai hal-hal kecil hingga besar. Perombakan besar terjadi pada tahun 2010 dan baru rampung dua tahun setelahnya. Tanggal 30 Agustus 2010 atau 20 Ramadhan 1431 H hasil perombakan diresmikan oleh Walikota Bandung Dada Rosada dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Sebagai penanda, keduanya membubuhkan tanda tangan pada prasasti hitam yang berada di bawah prasasti yang diresmikan oleh HD Cherman E.

Saat sekarang, bangunan masjid yang diarsiteki oleh H. Ahmad Nu’man ini telah berlantai dua. Pada bagian kubah berwarna emas sedangkan dinding luar berbalut kaca patri bermotif kaligrafi berwarna kuning dan hijau. Sementara untuk lantai bagian dalam berbahan parkit dan luarnya menggunakan keramik. Dan, untuk menambah kemegahan masjid, di sekeliling bangunan dipasang kusen-kusen terbuat dari kayu jati.

Foto: https://komunitasaleut.com/tag/masjid-agung-buah-batu/

Bulava Mpongeo (Emas Mengeong)

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Bulunggatugo atau Limboro/Towale ada seorang raja baik hati. Apabila sedang tidak mengurusi masalah kerajaan, dia menghabiskan waktu dengan menekuni hobi lamanya, yaitu mencari dan menangkap udang di sungai dekat benteng kerajaan. Tetapi karena telah lanjut usia, secara ngerangsur-angsur hobi ini tidak dilakukan sendiri, melainkan menitah belasan orang dayang istana yang berparas cantik jelita dan menggemaskan untuk mencarinya.

Suatu hari Sang Raja ingin sekali mendapat udang dari kuala sungai yang bermuara di Gunung Ravi. Untuk itu, dikerahkanlah para dayang agar segera mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan penangkap udang. Setelah siap, berangkatlah mereka (para dayang) secara beriringan menuju kuala yang diperkirakan masih terdapat banyak udang berukuran relatif besar.

Sesampai di lokasi para dayang mulai merentang jaring. Namun, setelah ditunggu sekian lama, tidak ada seekor pun yang berhasil terjaring. Mereka lalu pindah ke lokasi baru. Tetapi tetap saja tidak memperoleh hasil. Malah yang terjaring adalah sebutir mirip telur ayam. Telur itu lantas dibuang begitu saja karena target sasaran adalah udang.

Begitu seterusnya. Setiap menebar jaring yang terperangkap adalah sebutir telur yang telah dibuang berulang kali, seakan si telur selalu mengikuti ke mana pun jaring ditebar. Mereka akhirnya menyerah dan membawanya ke istana sebagai “hasil tangkapan” pengganti udang. Rencananya telur tadi akan dijadikan sebagai “tersangka” menghilangnya kawanan udang di sekitar kuala.

Sang Raja yang mendengar pengakuan para dayang tidak lantas mengambil tindakan. Biasanya dia akan marah bila apa yang diinginkan tidak terpenuhi. Tapi kali ini dia hanya terdiam sambil mengamati telur yang dipegang oleh salah seorang dayang. Dia lalu memerintah koki istana membawa dan mengambil si telur untuk disimpan dalam landue . Nanti malam akan dia minta koki istana menggoreng telur itu sebagai lauk saat bersantap.

Tetapi, oleh karena hanya berupa sebutir telur, begitu tiba makan malam Sang Raja lupa. Dia malah asyik bersenda gurau dengan para dayang serta penghuni istana lainnya. Bahkan sesekali menggoda beberapa diantara mereka hingga tersipu malu. Selesai makan barulah teringat akan telur yang disimpan dalam landue. Dia lalu mengingatkan lagi pada Sang koki agar menggoreng terlur untuk sarapan. Anehnya, kejadian serupa terulang kembali. Begitu seterusnya, telur berkali-kali lupa digoreng dan baru teringat setelah selesai makan.

Telur tadi akhirnya dilupakan. Tidak ada seorang pun yang menyinggungnya. Apalagi, para dayang sudah beraksi kembali menangkap udang dengan hasil luar biasa banyak. Akibatnya, suatu hari terdengarlah sebuah ledakan maha dahsyat di istana. Setelah dilakukan investigasi ^_^ ternyata sumber ledakan berasal dari arah dapur. Pada bagian solopio dapur terdapat lubang sangat besar besar sebagai tanda bahwa pusat ledakan tidak jauh dari situ. Seluruh benda yang berada di dapur rusak atau bahkan hancur tidak bersisa, termasuk telur yang berada dalam landue. Namun ajaibnya, hanya cangkang dan putih telur saja yang hancur. Putih telur tersebut terbang bersama solopio sementara bagian intinya (kuning telur) tetap utuh.

Kejadian luar biasa ini tidak dianggap serius oleh segenap penghuni istana. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa karena beranggapan bahwa dapur adalah sebuah tempat yang selalu berhubungan dengan panas, api membara, serta kepulan asap. Jadi, merupakan suata hal lumrah apabila kadangkala terjadi kebakaran atau ledakan. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi akibat kelalaian orang yang sedang ada gawe di dalamnya.

Malam hari setelah kejadian, di atap kamar tidur raja samar-samar terdengar suara sesuatu sedang melompat. Semakin lama suaranya semakin terdengar jelas. Di sela-sela lompatan terdengar pula beberapa kali suara mengeong. Raja yang sepanjang hidup tidak pernah melihat ada seekor kucing di dalam istana langsung terkejut dan memerintahkan para pengawal mencari dan menemukan makhluk yang mengeong di atas atap kamar tidurnya.

Setelah ditemukan, alangkah terkejutnya para pengawal. Mereka melihat makhluk yang mengeong bukanlah seekor kucing melainkan kuning telur yang ditinggal bagian putihnya. Si kuning telur mondar-mandir kesana-kemari sembari mengeong layaknya seekor anak kucing. Dengan sangat hati-hati seorang pengawal mendekat dan menangkapnya untuk diserahkan pada Sang Raja.

Ketika sudah berada di hadapan, Sang Raja mengamati “kucing telur” dengan saksama. Rupanya kuning telur itu sudah berumah menjadi emas berwarna kuning terang. Emas yang dapat melompat dan mengeong. Raja menamakannya sebagai Bulava Mpongeo atau emas yang mengeong. Dia dianggap sebagai benda keramat yang sangat langka sehingga harus dipelihara dengan baik. Si Bulava Mpongeo dibiarkan berkeliaran di sekitar istana tanpa ada yang boleh mengganggunya.

Agar tetap hidup, raja beranggapan Bulava Mpongeo harus mendapat makan sebagaimana halnya makhluk hidup lain. Tetapi setelah diberi berbagai macam makanan dari mulai nasi, jagung, hingga umbi-umbian dia tidak mau menyentuhnya. Sang Raja menjadi khawatir kalau makhluk langka yang tidak mau makan itu sebentar lagi akan mati atau menghilang.

Satu minggu kemudian, entah mengapa Bulava Mpongeo keluar dari istana menuju sebatang pohon kolontigi yang sedang berbunga lebat. Dia lalu mendekati salah satu ranting dan memakan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Semenjak itu seluruh penghuni istana tahu bahwa makanan Bulava Mpongeo adalah bunga pohon kolontigi. Setiap minggu, tepatnya pada hari Jumat dia selalu mendatangi pohon itu untuk memakan bunganya. Begitu seterusnya hingga suatu hari ada seorang tamu kerajaan melihatnya sedang memakan bunga sambil sesekali mengeong.

Sang tamu yang awalnya terperanjat lalu menyadari kalau telur mengeong itu bukanlah makhluk sembarangan. Selesai bertamu dia bergegas pulang ke daerahnya di Palu untuk menceritakan pada sanak kerabat tentang makhluk ajaib yang kemungkinan dapat mendatangkan berkah serta kesejahteraan bagi siapa saja yang dapat memilikinya. Walhasil, timbullah niat untuk mencuri Bulava Mpongeo. Mereka sepakat mencuri pada hari Jumat, sesuai dengan laporan kawan yang datang ke istana Raja.

Beberapa jam menjalang hari H mereka telah bersembunyi di luar tembok istana. Ketika malam tiba secara mengendap-endap mereka menuju ke halaman tempat biasa Bulava Mpongeo memakan bunga kolontigi. Tidak lama berselang, dari dalam istana muncullah sinar terang menyilaukan mata yang perlahan-lahan menuju pohon kolontigi. Saat sang sinar mulai menyantap bunga, dari arah belakang kawanan pencuri datang menyergap dan membawanya pergi.

Keesokan hari barulah seisi istana sadar Bulava Mpongeo telah menghilang. Spekulasi pun mulai berkembang. Ada berpendapat Bulava Mpongeo kembali ke tempat asalnya di kahyangan. Ada lagi yang berprasangka dia telah dicuri karena dianggap sebagai benda bertuah, dan ada juga yang mengira kembali bersatu dengan bagian putihnya. Spekulasi-spekulasi tadi membuat Sang Raja pasrah dan merelakan kepergian Bulava Mpongeo.

Selang beberapa bulan setelahnya, daerah tempat para pencuri menjadi subur dan makmur. Seluruh penduduk hidup damai dan sejahtera. Sedangkan para pemilik Bulava Mpongeo sendiri hidup lebih mewah dari warga yang makmur tersebut. Mereka memiliki harta benda jauh lebih banyak dan besar, baik dari segi jumlah maupun ukuran. Oleh karena itu, mereka bersepakat mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang kerajaan-kerajaan terdekat sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah berupa emas mengeong walau didapat dari hasil curian.

Setelah sebagian besar tamu undangan datang, pesta dimulai dengan suguhan berbagai macam tari dan musik. Saat para tamu tengah asyik mendengarkan musik sambil menyantap aneka makanan, dari dalam sebuah rumah muncullah Bulava Mpongeo melompat-lompat sembari mengeong di sela-sela tempat duduk para tamu. Sang raja yang kebetulan melihat langsung berteriak bahwa mahkluk ajaib itu adalah miliknya.

Tuan rumah yang merasa tertangkap basah tentu berusaha membela diri. Di depan orang banyak dia mengatakan bahwa Bulava Mpongeo adalah miliknya sehingga terjadi perdebatan berujung pertengkaran dengan Sang Raja. Keduanya saling klaim sebagai pemilik sah Bulava Mpongeo tanpa memberikan bukti-bukti kuat tentang klaim tersebut.

Walhasil, suasana yang tadinya riang gembira berubah menjadi tegang. Tuan rumah dan Sang Raja sama-sama bersikeras ingin memiliki. Sementara para tamu yang tidak terlibat ada yang memilih berdiam diri sambil mengamati, ada yang mencoba melerai dan menjadi penengah, serta ada pula yang secara diam-diam pergi meninggalkan arena pesta karena menganggap suasana sudah tidak kondisuf lagi.

Di tengah kondisi semakin memanas, tiba-tiba seorang tamu mengusulkan agar Bulava Mpongeo dibuang ke Karone (Sungai Palu). Apabila milik sang raja, maka dia akan kembali ke istana. Sebaliknya bila milik si tuan rumah, maka dia akan kembali lagi ke tempat pesta. Dengan demikian tidak akan terjadi perselisihan karena si emas mengeong telah memilih sendiri siapa tuannya.

Usul tersebut diterima oleh kedua belah pihak. Selanjutnya bersama-sama dengan para tamu mereka membawa Bulava Mpongeo ke Karone. Sampai di sana si emas ajaib dilepas di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Kemudian mereka pulang kembali ke tempat masing-masing tanpa melanjutkan pesta.

Begitu sampai di istana, Sang Raja sudah disambut oleh suara mengeong Bulava Mpongeo. Sekarang tahulah Raja bahwa si emas mengeong memanglah miliknya. Oleh karena itu, dia tidak mempersoalkan lagi mengapa emas tadi bisa sampai di Palu. Baginya, dengan kembalinya Bulava maka persoalan dianggap selesai. Dia tidak ingin masalah perebutan Bulava menjadi berlarut-larut hingga menimbulkan permusuhan.

Sebaliknya, para pencuri yang merasa dipermalukan tidak terima dengan kembalinya Bulava Mpongeo ke istana Raja. Mereka ingin merebut kembali makhluk itu agar kemakmuran tetap terjaga dan orang-orang di sekitar tidak mencemooh. Pencurian kedua dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan akhirnya berhasil mendapatkan Bulava Mpongeo.

Agar tidak dapat keluar rumah, atas nasihat seorang ahli nujum sekujur tubuh Bulava Mpongeo disiram perasan air jeruk. Tetapi akibatnya malah sebaliknya. Secara perlahan kondisi Bulava semakin melemah dan akhirnya mati. Ia tidak dapat lagi melompat ataupun mengeong dan perlahan beralih ujud menjadi seonggok emas bulat. Para pencuri tidak dapat berbuat apa-apa selain menyesal telah menuruti nasihat sang ahli nujum.

Beberapa bulan setelahnya keadaan daerah para pencuri malah memburuk. Tanaman tidak lagi tumbuh subur, kekeringan melanda, dan jumlah hewan ternak berkurang. Atas kesepakatan bersama mereka bersepakat mengembalikan pada pemiliknya walau dalam kondisi sudah mati dan telah menjadi seonggok emas bulat. Alasan pengembalian adalah kematian Bulava Mpongeo membawa kesengsaraan bagi banyak orang.

Ketika para pencuri datang ke istana untuk mengembalikan Bulava Mpongeo Sang Raja tidak banyak bereaksi. Bahkan saat mereka menceritakan mengapa sang makhluk ajaib berubah menjadi onggokan emas, Sang Raja hanya tersenyum (kecut) dan tidak berusaha menyalahkan para pencuri atau ahli nujumnya. Dia lalu memerintahkan para pengawal membawa dan menaruh emas itu di suatu tempat khusus dalam istana.

Konon, walau telah mati Bulava Mpongeo malah benar-benar menjadi benda keramat bagi kerajaan. Dia selalu dimandikan di daerah kuala (tempat ditemukan) apabila kerajaan sedang terjadi kekacauan atau mengalami suatu bencana, seperti kekeringan akibat kemarau panjang, kelaparan, maupun wabah penyakit. Dengan begitu, segala macam wabah maupun kekacauan dapat teratasi.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Lodong Gejlig

Lodong gejlig adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat Sunda yang menggunakan lodong atau bambu besar sebagai alat utamanya. Bambu sendiri adalah tumbuhan jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Tumbuhan ini memiliki banyak fungsi, mulai dari sumber makanan (hewan dan manusia), peralatan rumah tangga, konstruksi bangunan, senjata, transportasi, hingga instrumen musik. Istilah lodong sendiri pada masyarakat Sunda awalnya bukanlah instrumen musik. Ia merupakan peralatan rumah tangga yang digunakan oleh para penyadap kawung untuk menampung air nira atau aren.

Sebelum proses penampungan nira dilakukan, para penyadap akan memeriksa lodong dengan cara menghempaskan ke tanah. Apabila menghasilkan bunyi nyaring, maka lodong diyakini belum bocor dan dapat digunakan. Sebaliknya apabila tidak berbunyi nyaring, berarti ada kebocoran atau keretakan di dalam lodong yang dapat mengakibatkan air nira merembes keluar.

Lambat laun, karena proses kreativitas, bunyi nyaring lodong ketika diketrukeun tersebut dijadikan sebagai sebuah kesenian yang dalam penyajiannya digabungkan dengan alunan gitar akustik. Kesenian baru ini kemudian dinamakan sebagai “tardong”, akronim dari gitar dan lodong. Selanjutnya, agar lebih menarik, penyajian seni tardong ditambah lagi dengan beberapa instrumen lain seperti angklung, kecapi, suling, kendang, dan bahkan keyboard. Namun, karena komponen awal dan yang paling berperan adalah suara lodong yang digejligkeun, maka nama kesenian pun diubah lagi lodong gejlig.

Dalam penyajiannya, seni lodong gejlig menggunakan lodong berukuran kecil untuk menghasilkan nada tinggi dan logong besar untuk nada rendah dan sedang yang dimainkan oleh 12-24 orang laki-laki dan perempuan selama sekitar setengah jam. Adapun lagu-lagu yang dibawakan antara lain lodong gejlig, sampurasun, salawat, dan lain sebagainya.

Foto: https://elib.unikom.ac.id/download.php?id=362293

Popular Posts