Ketan pencok merupakan makanan tradisional yang dikenal di wilayah Cibeureum, Kabupaten Kuningan. Makanan ini berbahan dasar beras ketan putih yang diolah hingga pulen kemudian dipadukan dengan pencok (campuran bumbu kacang dan serundeng kelapa yang telah diberi rempah). Perpaduan ketan dan bumbu tersebut menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma rempah yang khas. Tekstur ketan yang kenyal berpadu dengan taburan bumbu yang memberikan sensasi rasa berbeda dari olahan ketan pada umumnya.
Dian Nugraha Ramdani (2026) dalam artikelnya di detikJabar berjudul “6 Kuliner Khas Kuningan selain Tape Ketan yang Wajib Dicoba!” menjelaskan bahwa Ketan Pencok merupakan makanan tradisional yang populer di wilayah Cibeureum. Meskipun menggunakan istilah pencok, makanan ini tidak berkaitan dengan sambal mentah seperti yang dikenal dalam hidangan rujak pencok. Istilah tersebut merujuk pada bubuk kacang dan serundeng yang menjadi pelengkap utama ketan. Dengan demikian, ciri utama Ketan Pencok terletak pada perpaduan ketan yang pulen dengan bumbu kering berbumbu rempah.
Dalam kehidupan masyarakat Kuningan Ketan Pencok dikenal sebagai kudapan tradisional yang dapat dinikmati bersama keluarga maupun dijadikan buah tangan. Bahan dasarnya yang sederhana tidak mengurangi kekhasan rasa yang dihasilkan. Justru melalui pengolahan ketan, penggunaan kelapa, kacang, dan rempah, makanan ini memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan bahan pangan menjadi hidangan dengan identitas lokal.
Sejarah
Sejarah Ketan Pencok di Kabupaten Kuningan belum banyak terdokumentasi secara tertulis, terutama mengenai waktu pertama kali makanan ini dibuat dan siapa yang memperkenalkannya. Meskipun demikian, keberadaannya di wilayah Cibeureum menunjukkan bahwa makanan ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional masyarakat setempat. Pengetahuan mengenai cara mengolah ketan dan meracik bumbu pencok menjadi unsur penting dalam mempertahankan keberadaan makanan tersebut.
Keterangan mengenai Ketan Pencok juga ditemukan di wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Tengah (2022), dalam artikel “Ketan Pencok. Berawal dari Coba-Coba hingga Jadi Ikon Kuliner Brebes”, menjelaskan bahwa Ketan Pencok Majapahit dibuat dari beras ketan pilihan dengan bumbu pencok atau serundeng kelapa. Artikel tersebut juga menerangkan bahwa makanan ini dahulu kerap hadir dalam acara-acara besar dan memiliki makna kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Bumiayu.
Keterangan dari Bumiayu tersebut memperlihatkan bahwa nama Ketan Pencok juga digunakan untuk makanan berbahan dasar ketan dan serundeng di daerah lain. Namun, kesamaan nama dan bahan dasar tidak serta-merta membuktikan bahwa Ketan Pencok Kuningan berasal dari tradisi yang sama persis dengan versi Bumiayu. Oleh karena itu, sejarah perkembangan Ketan Pencok di Cibeureum perlu ditelusuri melalui keterangan masyarakat, terutama para pembuat dan penjual yang telah lama menjalankan usaha tersebut.
Dalam perkembangannya, Ketan Pencok dikenal sebagai salah satu pilihan kuliner tradisional Kabupaten Kuningan selain tape ketan. Dian Nugraha Ramdani (2026) mencatat bahwa makanan ini dapat ditemukan di toko oleh-oleh di kawasan Ciawigebang maupun pusat Kota Kuningan. Penjualan tersebut memperlihatkan bahwa makanan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat setempat juga memiliki peluang untuk dikenal oleh pengunjung dari luar daerah.
Perkembangan penjualan Ketan Pencok menunjukkan adanya penyesuaian dalam cara masyarakat memasarkan makanan tradisional. Jika sebelumnya makanan seperti ini dapat dibuat untuk konsumsi keluarga atau acara tertentu, kini pengemasan dan penjualan dalam bentuk kotak memungkinkan produk dibawa pulang sebagai buah tangan. Meskipun cara penjualannya dapat berubah, bahan utama dan perpaduan rasa tetap menjadi unsur yang membedakan Ketan Pencok dari olahan ketan lainnya.
Dengan demikian, sejarah Ketan Pencok lebih tepat dipahami melalui keberadaannya dalam tradisi kuliner masyarakat dan praktik pengolahannya yang terus berlangsung. Penelusuran melalui wawancara dengan pembuat Ketan Pencok di Cibeureum akan membantu memperjelas riwayat makanan ini, termasuk sejarah usaha, resep yang diwariskan, serta perubahan cara penyajian dari masa ke masa.
Kekhasan
Kekhasan Ketan Pencok terletak pada perpaduan ketan putih dan bumbu pencok yang memiliki aroma rempah. Beras ketan diolah hingga pulen, kemudian ditumbuk atau dipadatkan sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal. Ketan selanjutnya dibentuk pipih dan dipotong-potong sebelum dilapisi atau ditaburi bumbu pencok. Cara penyajian ini membuat bumbu melekat pada permukaan ketan dan memberikan rasa pada setiap potongannya.
Dian Nugraha Ramdani (2026) menjelaskan bahwa beras ketan putih dikukus bersama santan. Setelah matang, ketan ditumbuk hingga cukup padat tetapi tidak sampai terlalu halus. Ketan kemudian dicetak pipih dan dipotong-potong sebelum dicelupkan atau digulingkan ke dalam bubuk kacang dan serundeng. Campuran bumbu tersebut diracik menggunakan bawang putih, kencur, dan daun jeruk sehingga menghasilkan aroma rempah yang khas.
Unsur pembeda lainnya adalah penggunaan serundeng sebagai bagian dari bumbu pencok. Kelapa parut yang diolah bersama rempah menghasilkan tekstur dan aroma yang berbeda dari saus kacang basah. Kacang yang dihaluskan atau dijadikan bubuk kemudian dipadukan dengan serundeng untuk menghasilkan lapisan bumbu yang menyelimuti ketan. Perpaduan ini menjadikan Ketan Pencok berbeda dari ketan biasa yang umumnya disantap dengan kelapa parut sederhana atau gula.
Ketan Pencok juga memperlihatkan penggunaan bahan pangan yang mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Beras ketan menjadi bahan utama, sedangkan kelapa, kacang tanah, dan rempah menjadi bahan pendamping. Bahan-bahan tersebut diolah melalui beberapa tahapan hingga menghasilkan kudapan dengan karakter rasa dan tekstur tersendiri. Kesederhanaan bahan tidak berarti prosesnya selalu sederhana, sebab pengolahan ketan dan penyiapan bumbu memerlukan perhatian agar keduanya menghasilkan perpaduan yang baik.
Meskipun Ketan Pencok juga dikenal di Bumiayu, Brebes, pembahasan mengenai versi Kuningan perlu tetap memperhatikan ciri dan praktik yang berkembang di wilayah Cibeureum. Kesamaan nama tidak selalu berarti seluruh resep, komposisi bumbu, maupun cara penyajiannya sama. Karena itu, keterangan mengenai bahan dan proses pembuatan sebaiknya dilengkapi dengan pengetahuan para pembuat setempat agar kekhasan Ketan Pencok Kuningan dapat didokumentasikan secara lebih tepat.
Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan Ketan Pencok pada dasarnya merupakan peralatan dapur yang umum digunakan dalam pengolahan makanan. Peralatan tersebut meliputi wadah untuk mencuci dan merendam beras ketan, kukusan atau dandang, alat penumbuk ketan, wadah untuk mendinginkan ketan, pisau, talenan, serta wadah untuk menyiapkan bumbu. Untuk mengolah pencok, dapat digunakan wajan dan spatula, sedangkan cobek atau alat penghalus digunakan untuk menghaluskan kacang serta meracik rempah.
Bahan utama Ketan Pencok adalah beras ketan putih. Dalam proses pengolahan yang dijelaskan Dian Nugraha Ramdani (2026), ketan dikukus bersama santan untuk menghasilkan rasa gurih dan tekstur yang pulen. Bahan pencok terdiri atas kacang tanah dan kelapa parut yang diolah menjadi campuran bumbu atau serundeng. Rempah yang digunakan meliputi bawang putih, kencur, dan daun jeruk. Komposisi serta takaran setiap bahan dapat berbeda sesuai resep pembuatnya.
Beras ketan perlu dipilih dalam kondisi baik agar menghasilkan tekstur yang sesuai setelah dikukus. Sementara itu, kacang tanah dan kelapa harus diolah dengan baik agar bumbu menghasilkan aroma yang sedap. Penggunaan rempah juga menjadi unsur penting karena memberikan karakter aroma yang membedakan pencok dari taburan kelapa biasa.
Bahan-bahan tersebut menunjukkan bahwa Ketan Pencok mengandalkan perpaduan bahan pangan pokok dengan hasil olahan kacang dan kelapa. Ketiganya menghasilkan hidangan yang memiliki karakter rasa dan tekstur tersendiri. Walaupun bahan dasarnya relatif sederhana, keseimbangan antara ketan dan bumbu menentukan kualitas makanan yang dihasilkan.
Proses Pembuatan
Pembuatan Ketan Pencok diawali dengan membersihkan beras ketan putih. Ketan kemudian dapat direndam sebelum dikukus agar proses pemasakan berlangsung lebih merata. Setelah siap, beras ketan dimasak menggunakan kukusan hingga matang. Dalam resep yang dijelaskan Dian Nugraha Ramdani (2026), santan digunakan bersama ketan untuk memberikan rasa gurih. Kematangan ketan perlu diperhatikan agar teksturnya pulen dan tidak terlalu keras ketika dipadatkan.
Setelah matang, ketan diangkat dan ditumbuk ketika masih cukup hangat. Proses penumbukan dilakukan untuk menyatukan butiran ketan sehingga menghasilkan tekstur yang lebih padat dan mudah dibentuk. Ketan tidak harus ditumbuk sampai benar-benar halus. Tekstur butiran yang masih terasa menjadi bagian dari karakter olahan ketan ini. Selanjutnya, ketan dibentuk pipih dan dipotong-potong setelah cukup padat.
Tahap berikutnya adalah menyiapkan bumbu pencok. Kacang tanah diolah hingga dapat dihaluskan atau menjadi bubuk, sedangkan kelapa parut dimasak bersama bumbu dan rempah hingga menghasilkan serundeng. Bawang putih, kencur, dan daun jeruk digunakan untuk memberikan aroma khas. Proses pengolahan perlu dilakukan dengan cermat agar bumbu matang, tidak mudah gosong, dan memiliki rasa yang seimbang.
Setelah ketan dan bumbu siap, potongan ketan dicampurkan dengan pencok. Ketan dapat dicelupkan atau digulingkan ke dalam bumbu hingga seluruh permukaannya terlapisi. Cara ini membuat campuran kacang dan serundeng menempel pada ketan dan memberikan rasa pada setiap potongan. Ketan kemudian ditata dalam wadah untuk disajikan atau dikemas.
Tahapan tersebut mengikuti gambaran proses pembuatan yang dimuat dalam artikel Dian Nugraha Ramdani (2026). Namun, resep dan teknik pengolahan dapat berbeda antara satu pembuat dan pembuat lainnya. Untuk memperoleh dokumentasi yang benar-benar menggambarkan tradisi Ketan Pencok di Cibeureum, proses ini masih perlu dibandingkan dengan praktik langsung para pembuat setempat.
Penyajian
Ketan Pencok disajikan dalam bentuk potongan ketan yang telah dipadatkan dan dilapisi bumbu pencok. Potongan ketan yang kenyal berpadu dengan bubuk kacang dan serundeng kelapa yang memberikan rasa gurih serta aroma rempah. Bentuknya yang praktis membuat makanan ini dapat dinikmati sebagai kudapan di rumah maupun dibawa sebagai buah tangan.
Dalam perkembangannya, Ketan Pencok dijual dalam kemasan yang memudahkan pembeli membawa makanan tersebut pulang. Dian Nugraha Ramdani (2026) menyebutkan bahwa makanan ini dapat ditemukan di toko oleh-oleh di kawasan Ciawigebang maupun pusat Kota Kuningan. Keberadaan Ketan Pencok di tempat penjualan oleh-oleh memperlihatkan bahwa kudapan yang berkembang di lingkungan masyarakat lokal juga memiliki peluang untuk dikenal oleh pengunjung dari luar daerah.
Penyajian Ketan Pencok tidak membutuhkan banyak pelengkap karena bumbu pencok telah menjadi bagian utama dari hidangan. Perpaduan ketan, kacang, kelapa, dan rempah menghasilkan rasa yang cukup kuat meskipun bahan yang digunakan tidak banyak. Kualitas ketan dan bumbu menjadi penentu utama cita rasa makanan ini.
Ketan Pencok memperlihatkan bagaimana bahan pangan sederhana dapat diolah menjadi makanan tradisional dengan identitas tersendiri. Beras ketan yang dipadukan dengan kacang, kelapa, dan rempah tidak hanya menghasilkan kudapan, tetapi juga menunjukkan pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang tersedia di lingkungan mereka. Keberadaan makanan ini di Cibeureum menjadi bagian dari keragaman kuliner Kabupaten Kuningan yang patut dikenal dan didokumentasikan.
Pelestarian Ketan Pencok dapat dilakukan melalui pengenalan makanan kepada generasi muda, pendokumentasian resep dan teknik pengolahannya, serta penelusuran sejarah melalui cerita para pembuat dan penjual. Upaya tersebut penting agar pengetahuan mengenai bahan, proses pembuatan, dan kebiasaan penyajiannya tidak hanya bertahan sebagai praktik usaha, tetapi juga tercatat sebagai bagian dari warisan kuliner masyarakat Kuningan.
Sumber
Dian Nugraha Ramdani. 2026. “6 Kuliner Khas Kuningan selain Tape Ketan yang Wajib Dicoba!” diakses dari https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-8416264/6-kuliner-khas-kuningan-selain-tape-ketan-yang-wajib-dicoba?, tanggal 1 November 2026.
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Tengah. 2022. “Ketan Pencok. Berawal dari Coba-Coba hingga Jadi Ikon Kuliner Brebes,” diakses dari https://diskop-ukm.jatengprov.go.id/berita/ketan-pencok.-berawal-dari-coba-coba-hingga-jadi-ikon-kuliner-brebes?, tanggal 1 November 2026.
Foto
https://www.instagram.com/accounts/login/?next=https%3A%2F%2Fwww.instagram.com%2Fp%2FCy5YwKRPVv0%2F&is_from_rle
Dian Nugraha Ramdani (2026) dalam artikelnya di detikJabar berjudul “6 Kuliner Khas Kuningan selain Tape Ketan yang Wajib Dicoba!” menjelaskan bahwa Ketan Pencok merupakan makanan tradisional yang populer di wilayah Cibeureum. Meskipun menggunakan istilah pencok, makanan ini tidak berkaitan dengan sambal mentah seperti yang dikenal dalam hidangan rujak pencok. Istilah tersebut merujuk pada bubuk kacang dan serundeng yang menjadi pelengkap utama ketan. Dengan demikian, ciri utama Ketan Pencok terletak pada perpaduan ketan yang pulen dengan bumbu kering berbumbu rempah.
Dalam kehidupan masyarakat Kuningan Ketan Pencok dikenal sebagai kudapan tradisional yang dapat dinikmati bersama keluarga maupun dijadikan buah tangan. Bahan dasarnya yang sederhana tidak mengurangi kekhasan rasa yang dihasilkan. Justru melalui pengolahan ketan, penggunaan kelapa, kacang, dan rempah, makanan ini memperlihatkan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan bahan pangan menjadi hidangan dengan identitas lokal.
Sejarah
Sejarah Ketan Pencok di Kabupaten Kuningan belum banyak terdokumentasi secara tertulis, terutama mengenai waktu pertama kali makanan ini dibuat dan siapa yang memperkenalkannya. Meskipun demikian, keberadaannya di wilayah Cibeureum menunjukkan bahwa makanan ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional masyarakat setempat. Pengetahuan mengenai cara mengolah ketan dan meracik bumbu pencok menjadi unsur penting dalam mempertahankan keberadaan makanan tersebut.
Keterangan mengenai Ketan Pencok juga ditemukan di wilayah Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Tengah (2022), dalam artikel “Ketan Pencok. Berawal dari Coba-Coba hingga Jadi Ikon Kuliner Brebes”, menjelaskan bahwa Ketan Pencok Majapahit dibuat dari beras ketan pilihan dengan bumbu pencok atau serundeng kelapa. Artikel tersebut juga menerangkan bahwa makanan ini dahulu kerap hadir dalam acara-acara besar dan memiliki makna kebersamaan dalam kehidupan masyarakat Bumiayu.
Keterangan dari Bumiayu tersebut memperlihatkan bahwa nama Ketan Pencok juga digunakan untuk makanan berbahan dasar ketan dan serundeng di daerah lain. Namun, kesamaan nama dan bahan dasar tidak serta-merta membuktikan bahwa Ketan Pencok Kuningan berasal dari tradisi yang sama persis dengan versi Bumiayu. Oleh karena itu, sejarah perkembangan Ketan Pencok di Cibeureum perlu ditelusuri melalui keterangan masyarakat, terutama para pembuat dan penjual yang telah lama menjalankan usaha tersebut.
Dalam perkembangannya, Ketan Pencok dikenal sebagai salah satu pilihan kuliner tradisional Kabupaten Kuningan selain tape ketan. Dian Nugraha Ramdani (2026) mencatat bahwa makanan ini dapat ditemukan di toko oleh-oleh di kawasan Ciawigebang maupun pusat Kota Kuningan. Penjualan tersebut memperlihatkan bahwa makanan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat setempat juga memiliki peluang untuk dikenal oleh pengunjung dari luar daerah.
Perkembangan penjualan Ketan Pencok menunjukkan adanya penyesuaian dalam cara masyarakat memasarkan makanan tradisional. Jika sebelumnya makanan seperti ini dapat dibuat untuk konsumsi keluarga atau acara tertentu, kini pengemasan dan penjualan dalam bentuk kotak memungkinkan produk dibawa pulang sebagai buah tangan. Meskipun cara penjualannya dapat berubah, bahan utama dan perpaduan rasa tetap menjadi unsur yang membedakan Ketan Pencok dari olahan ketan lainnya.
Dengan demikian, sejarah Ketan Pencok lebih tepat dipahami melalui keberadaannya dalam tradisi kuliner masyarakat dan praktik pengolahannya yang terus berlangsung. Penelusuran melalui wawancara dengan pembuat Ketan Pencok di Cibeureum akan membantu memperjelas riwayat makanan ini, termasuk sejarah usaha, resep yang diwariskan, serta perubahan cara penyajian dari masa ke masa.
Kekhasan
Kekhasan Ketan Pencok terletak pada perpaduan ketan putih dan bumbu pencok yang memiliki aroma rempah. Beras ketan diolah hingga pulen, kemudian ditumbuk atau dipadatkan sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal. Ketan selanjutnya dibentuk pipih dan dipotong-potong sebelum dilapisi atau ditaburi bumbu pencok. Cara penyajian ini membuat bumbu melekat pada permukaan ketan dan memberikan rasa pada setiap potongannya.
Dian Nugraha Ramdani (2026) menjelaskan bahwa beras ketan putih dikukus bersama santan. Setelah matang, ketan ditumbuk hingga cukup padat tetapi tidak sampai terlalu halus. Ketan kemudian dicetak pipih dan dipotong-potong sebelum dicelupkan atau digulingkan ke dalam bubuk kacang dan serundeng. Campuran bumbu tersebut diracik menggunakan bawang putih, kencur, dan daun jeruk sehingga menghasilkan aroma rempah yang khas.
Unsur pembeda lainnya adalah penggunaan serundeng sebagai bagian dari bumbu pencok. Kelapa parut yang diolah bersama rempah menghasilkan tekstur dan aroma yang berbeda dari saus kacang basah. Kacang yang dihaluskan atau dijadikan bubuk kemudian dipadukan dengan serundeng untuk menghasilkan lapisan bumbu yang menyelimuti ketan. Perpaduan ini menjadikan Ketan Pencok berbeda dari ketan biasa yang umumnya disantap dengan kelapa parut sederhana atau gula.
Ketan Pencok juga memperlihatkan penggunaan bahan pangan yang mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Beras ketan menjadi bahan utama, sedangkan kelapa, kacang tanah, dan rempah menjadi bahan pendamping. Bahan-bahan tersebut diolah melalui beberapa tahapan hingga menghasilkan kudapan dengan karakter rasa dan tekstur tersendiri. Kesederhanaan bahan tidak berarti prosesnya selalu sederhana, sebab pengolahan ketan dan penyiapan bumbu memerlukan perhatian agar keduanya menghasilkan perpaduan yang baik.
Meskipun Ketan Pencok juga dikenal di Bumiayu, Brebes, pembahasan mengenai versi Kuningan perlu tetap memperhatikan ciri dan praktik yang berkembang di wilayah Cibeureum. Kesamaan nama tidak selalu berarti seluruh resep, komposisi bumbu, maupun cara penyajiannya sama. Karena itu, keterangan mengenai bahan dan proses pembuatan sebaiknya dilengkapi dengan pengetahuan para pembuat setempat agar kekhasan Ketan Pencok Kuningan dapat didokumentasikan secara lebih tepat.
Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan Ketan Pencok pada dasarnya merupakan peralatan dapur yang umum digunakan dalam pengolahan makanan. Peralatan tersebut meliputi wadah untuk mencuci dan merendam beras ketan, kukusan atau dandang, alat penumbuk ketan, wadah untuk mendinginkan ketan, pisau, talenan, serta wadah untuk menyiapkan bumbu. Untuk mengolah pencok, dapat digunakan wajan dan spatula, sedangkan cobek atau alat penghalus digunakan untuk menghaluskan kacang serta meracik rempah.
Bahan utama Ketan Pencok adalah beras ketan putih. Dalam proses pengolahan yang dijelaskan Dian Nugraha Ramdani (2026), ketan dikukus bersama santan untuk menghasilkan rasa gurih dan tekstur yang pulen. Bahan pencok terdiri atas kacang tanah dan kelapa parut yang diolah menjadi campuran bumbu atau serundeng. Rempah yang digunakan meliputi bawang putih, kencur, dan daun jeruk. Komposisi serta takaran setiap bahan dapat berbeda sesuai resep pembuatnya.
Beras ketan perlu dipilih dalam kondisi baik agar menghasilkan tekstur yang sesuai setelah dikukus. Sementara itu, kacang tanah dan kelapa harus diolah dengan baik agar bumbu menghasilkan aroma yang sedap. Penggunaan rempah juga menjadi unsur penting karena memberikan karakter aroma yang membedakan pencok dari taburan kelapa biasa.
Bahan-bahan tersebut menunjukkan bahwa Ketan Pencok mengandalkan perpaduan bahan pangan pokok dengan hasil olahan kacang dan kelapa. Ketiganya menghasilkan hidangan yang memiliki karakter rasa dan tekstur tersendiri. Walaupun bahan dasarnya relatif sederhana, keseimbangan antara ketan dan bumbu menentukan kualitas makanan yang dihasilkan.
Proses Pembuatan
Pembuatan Ketan Pencok diawali dengan membersihkan beras ketan putih. Ketan kemudian dapat direndam sebelum dikukus agar proses pemasakan berlangsung lebih merata. Setelah siap, beras ketan dimasak menggunakan kukusan hingga matang. Dalam resep yang dijelaskan Dian Nugraha Ramdani (2026), santan digunakan bersama ketan untuk memberikan rasa gurih. Kematangan ketan perlu diperhatikan agar teksturnya pulen dan tidak terlalu keras ketika dipadatkan.
Setelah matang, ketan diangkat dan ditumbuk ketika masih cukup hangat. Proses penumbukan dilakukan untuk menyatukan butiran ketan sehingga menghasilkan tekstur yang lebih padat dan mudah dibentuk. Ketan tidak harus ditumbuk sampai benar-benar halus. Tekstur butiran yang masih terasa menjadi bagian dari karakter olahan ketan ini. Selanjutnya, ketan dibentuk pipih dan dipotong-potong setelah cukup padat.
Tahap berikutnya adalah menyiapkan bumbu pencok. Kacang tanah diolah hingga dapat dihaluskan atau menjadi bubuk, sedangkan kelapa parut dimasak bersama bumbu dan rempah hingga menghasilkan serundeng. Bawang putih, kencur, dan daun jeruk digunakan untuk memberikan aroma khas. Proses pengolahan perlu dilakukan dengan cermat agar bumbu matang, tidak mudah gosong, dan memiliki rasa yang seimbang.
Setelah ketan dan bumbu siap, potongan ketan dicampurkan dengan pencok. Ketan dapat dicelupkan atau digulingkan ke dalam bumbu hingga seluruh permukaannya terlapisi. Cara ini membuat campuran kacang dan serundeng menempel pada ketan dan memberikan rasa pada setiap potongan. Ketan kemudian ditata dalam wadah untuk disajikan atau dikemas.
Tahapan tersebut mengikuti gambaran proses pembuatan yang dimuat dalam artikel Dian Nugraha Ramdani (2026). Namun, resep dan teknik pengolahan dapat berbeda antara satu pembuat dan pembuat lainnya. Untuk memperoleh dokumentasi yang benar-benar menggambarkan tradisi Ketan Pencok di Cibeureum, proses ini masih perlu dibandingkan dengan praktik langsung para pembuat setempat.
Penyajian
Ketan Pencok disajikan dalam bentuk potongan ketan yang telah dipadatkan dan dilapisi bumbu pencok. Potongan ketan yang kenyal berpadu dengan bubuk kacang dan serundeng kelapa yang memberikan rasa gurih serta aroma rempah. Bentuknya yang praktis membuat makanan ini dapat dinikmati sebagai kudapan di rumah maupun dibawa sebagai buah tangan.
Dalam perkembangannya, Ketan Pencok dijual dalam kemasan yang memudahkan pembeli membawa makanan tersebut pulang. Dian Nugraha Ramdani (2026) menyebutkan bahwa makanan ini dapat ditemukan di toko oleh-oleh di kawasan Ciawigebang maupun pusat Kota Kuningan. Keberadaan Ketan Pencok di tempat penjualan oleh-oleh memperlihatkan bahwa kudapan yang berkembang di lingkungan masyarakat lokal juga memiliki peluang untuk dikenal oleh pengunjung dari luar daerah.
Penyajian Ketan Pencok tidak membutuhkan banyak pelengkap karena bumbu pencok telah menjadi bagian utama dari hidangan. Perpaduan ketan, kacang, kelapa, dan rempah menghasilkan rasa yang cukup kuat meskipun bahan yang digunakan tidak banyak. Kualitas ketan dan bumbu menjadi penentu utama cita rasa makanan ini.
Ketan Pencok memperlihatkan bagaimana bahan pangan sederhana dapat diolah menjadi makanan tradisional dengan identitas tersendiri. Beras ketan yang dipadukan dengan kacang, kelapa, dan rempah tidak hanya menghasilkan kudapan, tetapi juga menunjukkan pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan pangan yang tersedia di lingkungan mereka. Keberadaan makanan ini di Cibeureum menjadi bagian dari keragaman kuliner Kabupaten Kuningan yang patut dikenal dan didokumentasikan.
Pelestarian Ketan Pencok dapat dilakukan melalui pengenalan makanan kepada generasi muda, pendokumentasian resep dan teknik pengolahannya, serta penelusuran sejarah melalui cerita para pembuat dan penjual. Upaya tersebut penting agar pengetahuan mengenai bahan, proses pembuatan, dan kebiasaan penyajiannya tidak hanya bertahan sebagai praktik usaha, tetapi juga tercatat sebagai bagian dari warisan kuliner masyarakat Kuningan.
Sumber
Dian Nugraha Ramdani. 2026. “6 Kuliner Khas Kuningan selain Tape Ketan yang Wajib Dicoba!” diakses dari https://www.detik.com/jabar/kuliner/d-8416264/6-kuliner-khas-kuningan-selain-tape-ketan-yang-wajib-dicoba?, tanggal 1 November 2026.
Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Tengah. 2022. “Ketan Pencok. Berawal dari Coba-Coba hingga Jadi Ikon Kuliner Brebes,” diakses dari https://diskop-ukm.jatengprov.go.id/berita/ketan-pencok.-berawal-dari-coba-coba-hingga-jadi-ikon-kuliner-brebes?, tanggal 1 November 2026.
Foto
https://www.instagram.com/accounts/login/?next=https%3A%2F%2Fwww.instagram.com%2Fp%2FCy5YwKRPVv0%2F&is_from_rle

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)