Naga Sabang dan Raksasa Seulawah

(Cerita Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam)

Alkisah, pada zaman dahulu Andalas masih berbentuk dua buah pulau (barat-timur) yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit yang dihuni oleh seekor naga besar bernama Sabang. Pulau bagian timur dikuasai oleh Kerajaan Daru dengan rajanya bernama Sultan Daru, sementara pulau bagian barat oleh Kerajaan Alam dengan rajanya bernama Sultan Alam. Kedua sultan mempunyai sifat bertolak belakang. Sultan Alam adalah raja yang adil dan bijaksana sehingga rakyat di wilayah kerajaannya menjadi maju, makmur, dan sejahtera. Sebaliknya, Sultan Daru adalah seorang kejam yang lalim pada rakyat sendiri serta serakah alias tamak dan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Dia tidak segan-segan memerintahkan prajuritnya merompak perahu-perahu saudagar hanya untuk mendapatkan harta mereka. Bahkan, untuk memperluas daerah kekuasaan, berkali-kali dia berusaha menyerang Kerajaan Alam namun selalu gagal karena harus berhadapan dengan Naga Sabang yang menguasai selat.

Suatu hari, Sultan Daru memanggil penasihat kerajaan guna mencari orang sakti yang mampu mengalahkan Naga Sabang sehingga dia dapat menyerang Kerajaan Alam. Sang penasihat terkejut mendengar perintah Sultan Daru dan menjelaskan bahwa Naga Sabang adalah penyangga sekaligus perawat pulau yang apabila dibunuh dapat membuat selat menghilang dan kedua pulau menyatu.

Penjelasan dari penasihat tadi rupanya tidak diindahkan. Sultan Daru tetap memintanya mencari siapa saja yang mampu menaklukkan Naga Sabang. Oleh karena itu, Sang penasihat terpaksa memberitahu bahwa ada dua orang raksasa sangat sakti bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Dia menganggap kedua raksasa tadi mampu mengalahkan Naga Sabang karena ukuran mereka yang relatif sama.

Penjelasan Sang Penasihat langsung di “follow up” oleh Sultan Daru dengan memerintahkan beberapa orang pengawal memanggil Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Setelah datang Sultan Daru membujuk mereka agar mau membunuh Naga Sabang dengan iming-iming imbalan sejumlah uang dan harta benda lainnya. Ketika mereka setuju, dikirimlah seorang utusan lagi menemui Naga Sabang menyampaikan tantangan bertarung melawan Seulawah Agam dan Seulawah Inong.

Naga Sabang tidak langsung menyambut tantangan tersebut. Dia meminta waktu selama beberapa hari untuk menjawabnya. Sebelum waktu yang diminta habis, Naga Sabang sempat menceritakan tantangan Seulawah Agam dan Seulawah Inong kepada Sultan Alam. Di hadapan Sultan dia menyatakan bahwa kedua raksasa itu sangatlah sakti dan mustahil dikalahkan. Sang Naga berpesan apabila nanti dia bertarung dan mati, rakyat Kerajaan Alam harus segera melarikan diri ke dataran tinggi. Sebab, bumi akan berguncang keras akibat bersatunya kedua pulau yang kemudian diikuti oleh surutnya air laut. Tidak lama setelah air laut surut datang gelombang sangat besar yang akan menyapu daratan.

Singkat cerita, tantangan pun disetujui. Pada hari yang telah ditentukan mereka bertarung disaksikan oleh seluruh penduduk Kerajaan Daru dan Alam. Dan benar saja, hanya dalam waktu tidak terlalu lama Naga Sabang dapat ditaklukkan. Seulawah Inong berhasil menebaskan pedangnya ke arah leher Sang Naga, sementara Seulawah Agam mengangkat dan melemparkannya ke laut lepas.

Sejurus setelah Naga Sabang mati, kedua pulau bergerak saling mendekat dan akhirnya berbenturan sehingga menimbulkan gempa hebat selama beberapa saat. Usai gempa air laut tiba-tiba menyurut dan ribuan ikan mulai menggelepar di sepanjang bibir pantai. Penduduk Kerajaan Daru yang tidak mendapat pesan Naga Sabang segera berebut menangkap ikan-ikan tersebut. Sementara rakyat Kerajaan Alam secara berbondong-bondong berlari menuju dataran tinggi.

Ketika penduduk Kerajaan Daru sedang asyik menangkap dan memasukkan ikan dalam wadah-wadah seadanya dari arah laut lepas tiba-tiba muncul gelombang sangat besar dengan kecepatan tinggi. Mereka langsung dihantam gelombang tanpa dapat menyelamatkan diri. Bahkan, gelombang itu juga menyapu seluruh rumah beserta hewan-hewan ternak sehingga Kerajaan Daru luluh lantak dan hampir tanpa bekas. Sedangkan penduduk Kerajaan Alam berhasil selamat karena berada di daerah yang tidak dapat dijangkau gelombang.

Setelah surut, dibawah komando Sultan Alam mereka kembali ke kerajaan yang juga hancur lebur diterjang gelombang. Sultan yang wilayah kekuasaannya menjadi luas kemudian memerintah sebagian rakyatnya membangun kerajaan baru di lokasi Naga Sabang bertarung. Ketika selesai kota diberi nama Koeta Radja dan pantai tepat naga tergeletak dinamakan Ulee Leue atau kepala ular. Selain itu, ada pula tempat lain yang diberi nama baru, yaitu Seulawah Agam dan Seulawah Inong sesuai dengan lokasi kedua raksasa Seulawah terkubur lumpur. Sedangkan lokasi terlemparnya Naga Sabang yang kemudian menjadi sebuah pulau dinamakan Weh sesuai dengan teriakan Seulawah Agam ketika melemparkan tubuh Naga Sabang ke tengah laut.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Putri Kemang

(Cerita Rakyat Daerah Bengkulu)

Di kalangan orang Serawai ada sebuah cerita berjudul Putri Kemang. Sang Putri dikisahkan memiliki sifat seperti seorang laki-laki. Hobinya berburu dan memancing ikan di sungai-sungai yang berada jauh di dalam hutan. Hal ini tentu tidak sesuai dengan statusnya sebagai putri seorang raja yang umumnya dituntut harus tampil anggun dan lemah lembut di hadapan orang banyak.

Sifat kelaki-lakian Sang putri justru membuat Baginda Raja senang. Dia bahkan mendidik layaknya seorang prajurit dengan berlatih pedang, memanah, serta menombak. Walhasil, Sang Putri pun tumbuh menjadi seorang perempuan yang mandiri, kuat, pantang menyerah, dan bermental baja.

Suatu hari dia ingin berburu rusa. Berbekal sebilah pedang, sebatang tombak, dan seekor anjing buru dia masuk ke hutan saat matahari mulai bersinar. Namun karena binatang yang dicari sulit ditemukan, area perburuan pun semakin jauh ke tengah hutan melewati rimbunan pepohonan, perbukitan, dan bahkan menyeberangi sungai-sungai besar. Baru menjelang petang dia berjumpa dengan seekor binatang besar dengan tanda belang di kakinya. Binatang tadi lalu dipanah tetapi meleset dan malah melarikan diri hingga dia harus bersusah payah mengejarnya.

Setelah sekian lama berkejaran, tiba-tiba si binatang berhenti di dekat sebatang pohon kemang berukuran besar. Ketika didekati dan akan ditombak ada sebuah suara yang mengatakan agar tidak membunuhnya karena binatang itu adalah harimau penjaga hutan. Sang suara bukanlah berasal dari manusia melainkan pohon kemang tempat si harimau berhenti berlari.

Walau bingung sekaligus penasaran dengan apa yang didengar, Sang putri tetap melanjutkan niat membunuhnya. Pikirnya, daripada mencari binatang lain lebih baik memburu apa yang sudah ada di depan mata. Oleh karena itu, dia lalu memanjat pohon kemang tadi untuk membidik si harimau. Sejurus kemudian, melesatlah sebuah anak panah tepat mengenai jantung si harimau hingga mati seketika.

Namun, ketika akan dikuliti tiba-tiba saja terjadi suatu keanehan. Pohon kemang yang tadi berbicara secara ajaib beralih wujud menjadi seorang pemuda gagah dan tampan. Dia lalu mendekati Sang putri dan mengatakan hal yang sama sewaktu masih berwujud sebatang pohon. Sang putri tidak mengindahkan perkataan pemuda tadi dan bahkan malah mengajaknya ikut berburu.

Sebagai mahkluk penunggu hutan tentu dia tidak dapat pergi begitu saja karena terikat wujud dan lokasi dimana dia berada. Sementara untuk beralih wujud menjadi manusia terlebih dahulu dia harus meubah lingkungan yang dijaganya menjadi sebuah negeri beserta sekumpulan orang di dalamnya. Oleh karena itu, dia tidak dapat menemani Sang Putri mencari pergi ke wilayah lain untuk berburu binatang.

Sang Putri hanya mengangguk-angguk sambil tetap menguliti harimau yang baru saja dipanahnya. Selesai menguliti, dia bergegas pergi. Di lain tempat, dia bertemu seekor kucing hutan. Sang anjing yang mengendus keberadaannya segera berlari mengejar. Namun, secara ajaib kucing hutan tadi membesar hingga belasan kali lipat dari pengejarnya. Akibatnya, anjing Sang Putri balik dikejar, diterkam, dan langsung menjadi santapan.

Melihat kejadian itu tahulah Sang Putri bahwa telah memasuki wilayah terlarang yang biasa dihuni para siluman. Dia kemudian memutuskan mengakhiri perburuan dan kembali ke kerajaan. Agar cepat sampai, dalam perjalanan pulang dia mengambil rute terdekat dengan menyeberang sungai. Tetapi ketika akan menyeberang, datanglah sekumpulan buaya lapar dengan jumlah puluhan ekor. Salah seekor di antaranya kemudian mendekat dan berkata akan memangsa Sang Putri.

Tidak gentar terhadap ancaman buaya, Sang putri menggunakan “siasat Si kancil” dengan mengatakan bahwa tubuhnya cukup untuk seluruh buaya yang ada di sungai itu. Selanjutnya, dia menyuruh para buaya berbaris hingga ke sebarang sungai agar seluruhnya mendapat bagian. Saat buaya berbaris, mulailah Sang Putri melompati mereka satu persatu. Ketika berada pada punggung buaya terakhir dia lalu melompat ke darat dan pergi begitu saja.

Tahun berikutnya Sang Putri kembali lagi ke tempat pertemuannya dengan Putra Kemang. Sesampai di lokasi yang dilihat bukanlah hutan belantara dengan pohon kemang besar sebagai pusatnya, melainkan sebuah negeri nan indah. Heran akan apa yang dilihat, dia bertanya pada salah satu penduduk di sana dan mendapat penjelasan bahwa negeri itu dahulu adalah kerajaan gaib diperintah oleh dewa yang dikutuk menjadi pohon kemang. Sang dewa baru akan terbebas dari kutukan dan menjadi manusia biasa apabila ada orang yang bisa berbicara dengannya.

Mendengar penjelasan tersebut tahulah Sang Putri bahwa pohon kemang yang dulu berbicara dengannya adalah seorang dewa. Oleh karena itu, dia bergegas menuju istana untuk berjumpa dengannya. Singkat cerita, mereka pun bertemu, saling jatuh hati, dan kemudian menikah. Adapun adat yang mereka pilih adalah semendo rajo-rajo atau adat menetap yang memberi kebebasan kedua pasangan untuk memilih tempat tinggal setelah menikah.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Legenda Bau Nyale

(Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat)

Alkisah, zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok ada sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Tonjang Beru, seorang arif dan bijaksana. Dalam kesehariannya Tojang Beru kerap membantu rakyat sehingga seantero negeri pun hidup makmur, aman, dan sentosa. Mereka tidak pernah khawatir menderita kelaparan karena Tojang Beru selalu memberi “subsidi” bagi orang-orang yang tidak mampu atau sedang mengalami kesulitan.

Tojang Beru sendiri memiliki seorang permaisuri nan anggun dan cantik jelita bernama Dewi Seranting. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Putri Mandalika. Sang putri mewarisi keanggunan dan kecantikan Permaisuri. Parasnya elok rupawan, mata laksana bintang di timur, pipi menyerupai pauh dilayang, dan rambut bagaikan mayang terurai. Sementara dari Sang ayah, dia mewarisi sifat arif dan bijaksana. Oleh kalangan istana dan rakyat kebanyakan dia terkenal ramah dan sopan serta memiliki tutur kata lembut dan santun.

Kemolekan Sang putri rupanya tersohor hingga ke seluruh pelosok Pulau Lombok. Para pangeran dari kerajaan lain (Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan Beru) menjadi penasaran dan ingin melihatnya. Banyak yang kemudian datang dan setelah berhasil melihat Putri Mandalika mereka menjadi mabuk kepayang dan berhasrat ingin mempersuntingnya. Sayang, mereka harus pulang dengan tangan hampa dan hanya bisa gigit jari. Putri Mandalika menolak seluruh pinangan.

Tetapi tidak seluruh pangeran mau “legowo”. Ada dua orang yang tidak bisa menerima kenyataan. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pangeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Ketika pulang lagi ke kerajaan masing-masing Pangeran Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar kembali dengan ancaman jika ditolak Kerajaan Tojang Beru akan dihancurkan. Sementara Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan ancaman serupa.

Ancaman kedua pangeran tadi tidak ditanggapi oleh Putri Mandalika. Dia tetap menolak dan malah mengusir Arya Bawal dan Arya Tebuik serta Arya Bumbang dan Arya Tuna. Mereka pulang dan melaporkan penolakan kedua dari Putri Mandalika. Pangeran Datu Teruna yang marah segera melepaskan ajian Senggeger Utusaning, sedangkan Pangeran Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Kedua ajian ini rupanya dapat mempengaruhi pikiran Putri Mandalika. Dia tidak dapat makan, telihat lesu, dan sulit tidur nyenyak sehingga beberapa waktu kemudian badan menjadi kurus kering layaknya orang sakit.

Melihat kondisi Sang putri yang kian hari kian merana, seisi negeri turut berduka. Sebagian dari mereka ada mencoba mengkaitkannya dengan lamaran-lamaran yang ditolak Sang Putri. Namun mereka tidak berani bertanya karena Putri Mandalika selalu menolak untuk bicara. Sang Raja dan Permaisuri juga tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat berdoa agar anak semata wayang dapat kembali seperti sedia kala.

Di dalam hati Putri Mandalika sendiri sebenarnya berkecamuk berbagai macam pemikiran. Salah satunya adalah jika waktu itu menjatuhkan pilihan pada salah seorang pangeran, kemungkinan akan menimbulkan malapetaka bagi negeri karena pangeran lain marah dan menyatakan perang. Untuk mengatasi kegundahan hati dan mencari jalan keluar dia lalu bersemedi memohon bantuan Yang Kuasa.

Dalam semedinya, Sang putri mendapat bisikan gaib agar mengundang seluruh pangeran yang melamarnya untuk bertemu tanggal 20 bulan 10 Sasak sebelum fajar menyingsing. Esok harinya, dia memerintah kurir kerajaan untuk menyampaikan undangan pada para pangeran. Mereka diminta datang bersama seluruh rakyatnya di sebuah tempat yang telah ditentukan, yaitu di Pantai Kuta. Adapun maksud dan tujuannya masih dirahasiakan dan baru akan diungkapkan setelah seluruh pangeran berkumpul.

Pada hari yang telah ditentukan, menjelang fajar menyingsing Putri Mandalika datang dengan diusung tandu berlapiskan emas. Tepat di belakang Sang Putri ada rombongan prajurit beserta penghuni istana. Mereka berjalan menuju sebuah onggokan batu besar yang membelakangi laut lepas. Selanjutnya, Sang putri turun dari tandu dan berjalan ke arah puncak onggokan batu. Saat berjalan tersebut, para hadirin hanya dapat terpana menyaksikan kecantikan dan kemolekan Putri Mandalika yang dibalut oleh gaun berbahan sutra.

Setelah berada di puncak batu, Sang Putri segera berucap lantang namun hikmat menyatakan bahwa dirinya bukanlah milik satu orang saja melainkan seluruh rakyat di Pulau Lombok. Pernyataan ini tentu saja membingungkan, terutama bagi para pangeran yang mendambakan cintanya. Mereka tidak mengerti apa maksud perkataan Putri Mandalika. Apakah artinya Sang putri tidak ingin dinikahi ataukah ada hal lain yang perlu diusahakan untuk mendapatkannya?

Saat hadirin bingung menerka-nerka, tanpa diduga Putri Mandalika menceburkan diri dan langsung ditelan gelombang laut. Orang-orang yang menyaksikan mengira kalau Sang Putri terpeleset hingga jatuh ke laut. Namun, setelah ditunggu sekian lama tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Tidak lama kemudian, tepat di lokasi jatuh Sang Putri muncul ribuan binatang kecil yang oleh masyarakat setempat biasa disebut sebagai nyale. Nyale adalah sejenis cacing laut yang biasa disajikan sebagai salah satu menu makanan orang Lombok.

Kehadiran ribuan nyale tersebut oleh masyarakat dianggap sebagai jelmaan Putri Mandalika. Oleh karena itu, tahulah mereka apa maksud perkataan Putri Mandalika tentang dirinya yang akan menjadi milik semua orang. Mereka kemudian berlomba-lomba menangkapnya. Dan, seiring berjalannya waktu, proses penangkapan nyale menjadi sebuah tradisi yang dilaksanakan pada bulan dan tanggal tertentu.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Sadhu Amar Bharati

Sadhu atau sadu (साधु) adalah istilah bagi petapa yang dalam bahasa India berarti mulia, orang baik, atau orang suci. Sebagai sebuah jalan hidup, seseorang yang memilih menjadi sadhu akan melepaskan semua keterikatan dengan masyarakat, baik secara materi, keluarga, keinginan seksual, maupun segala hal yang bersifat duniawi lainnya (Tiarasari, 2018). Adapun tujuannya adalah untuk mendedikasikan hidup secara spiritual demi mencapai moksa, suatu jenjang kehidupan (caturasrama) yang keempat sekaligus yang terakhir menurut kepercayaan Hindu.

Masih menurut Tiarasari (2008), sadhu secara umum dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar, yaitu: Shaiva Sadhus dan Waisnava Sadhus. Waisnava Sadhus adalah sadhu yang mendedikasikan diri pada Dewa Wisnu, sedangkan Shaiva Sadhus pada Dewa Siwa. Kedua dewa tersebut adalah dua dari tiga dewa utama (Trimurti: Siwa, Brahma, Wisnu) dalam ajaran Hindu. Siwa atau yang bernama lain Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, dan Trinetra adalah dewa pelebur/pemusnah yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lain ke unsurnya menjadi Panca Maha Bhuta (id.wikipedia.org).

Dewa Siwa digambarkan bermata tiga (trinetra) dan bertangan empat yang masing-masing membawa tri wahyudi, cemara, tasbih/genitri, serta kendi. Pada bagian kepala terdapat hiasan ardha chandra (bulan sabit), bagian leher ada ular kobra yang sedang melilit, dan perut dililit ikat pinggang dari kulit harimau. Dewa yang menempati arah tengah dalam pangider Dewata Nawa Sanga ini bersenjatakan padma dengan kendaraan lembu Nandini.

Para sadhu yang mendedikasikan diri bagi dewa Siwa umumnya tampil dalam kesederhanaan dengan pakaian serba oranye safron atau kuning kunyit, rambut gimbal, dan wajah penuh polesan abu suci yang melambangkan kehidupan seorang petapa (sanyasin) sekaligus telah mengalami keterputusan dari hal-hal berbau duniawi. Mereka hidup dalam kemiskinan mutlak dan sepenuhnya bergantung pada kebaikan atau sumbangan orang (bangka.tribunnews.com).

Setiap sadhu membawa atribut masing-masing seperti corong trisula, pedang, tongkat, kerang, senjata dan alat musik yang mencerminkan status mereka. Selain itu, sebagai lambang dedikasi sebagian dari sadhu juga melakukan hal-hal ekstrem yang jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh orang kebanyakan. Salah satunya adalah dengan mengangkat lengan selama bertahun-tahun seperti yang dilakukan oleh Amar Bharati.

Amar Bharati adalah orang kebanyakan pada umumnya yang memiliki istri, tiga orang anak, dan pekerjaan tetap (kejadiananeh.com). Namun, sebuah mimpi di sekitar tahun 1970 (yang dia anggap sebagai firasat gaib) membuat jalan hidupnya berubah total. Sejak mendapat firasat tersebut dia memutuskan menjadi seorang sadhu dan mengabdikan diri sepenuh hati kepada Dewa Siwa. Amar kemudian mulai melepaskan atributnya sebagai orang biasa dengan mengenakan pakaian sederhana sambil membawa trisula logam (trishula) kemana pun pergi. Dia juga membiarkan rambut tumbuh gondrong dan gimbal karena tidak pernah mandi lagi.

Sekitar tiga tahun menjalani hidup sebagai sadhu, Amar merasa tidak puas. Menurut Alicia (2018), Amar yakin dirinya masih diliputi oleh kemewahan.dan kesenangan duniawi yang hanya bersifat semu. Oleh karena itu, pada sekitar tahun 1973 dia membuat sebuah keputusan ekstrem untuk terus-menerus tanpa henti mengangkat lengan kanannya di atas kepala. Adapun tujuannya ada yang mengatakan sebagai upaya memisahkan diri dari kesenangan hidup sekaligus wujud pengabdian pada Dewa Siwa Dan, ada pula yang memperkirakan sebagai bentuk kekecewaan sekaligus protes Amar atas terjadinya peperangan dan konflik di dunia (Khoirul, 2018).

Pada masa-masa awal mengangkat lengan, Amar merasakan hal yang “luar biasa”. Mulai dari rasa pegal, kebas, hingga mati rasa karena peredaran darah tidak lancar pernah dialaminya. Namun, seiring berjalannya waktu rasa sakit tersebut hilang bersamaan dengan terhentinya perkembangan tulang beserta otot lengan Amar yang menciut dan kaku pada posisi semi-vertikal di atas kepala (tidak bisa digerakkan lagi).

Saat ini, hanya bagian kuku saja yang masih terus bertumbuh melengkung panjang. Meskipun demikian, di sisi lain Amar telah berhasil membuktikan keimanannya pada Dewa Siwa. Dia mampu melewati siksaan selama puluhan tahun agar dapat mencapai suatu pembebasan diri dari godaan duniawi. Berkat kegigihan dan keteguhan hati mengabdi pada Dewa Siwa, Amar berhasil menempati strata tinggi dalam masyarakatnya.

Sumber:
Alicia, Nesa. 2018. “Amar Bharati, Petapa India Mengangkat Lengan Kanannya Selama 45 Tahun”, diakses dari https://nationalgeographic.grid.id/read/13947159/amar-bharati-petapa-india-mengangkat-lengan-kanannya-selama-45-tahun?page=all, tanggal 10 Oktober 2019.

“Siwa”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Siwa, tanggal 10 Oktober 2019.

Tiarasari, Rizkianingtyas. 2018. “Mengenal Sadhu, Orang Paling Suci di India yang Tinggalkan Segala Hal Berbau Duniawi”, diakses dari https://travel.tribunnews.com/2018/07/23/mengenal-sadhu-orang-paling-suci-di-india-yang-tinggalkan-segala-hal-berbau-duniawi?page=3, tanggal 11 Oktober 2019.

“Mengenal Naga Sadhu, Petapa Sakti sekaligus Klan Paling Rahasia dan Misterius India”, diakses dari https://bangka.tribunnews.com/2018/08/07/mengenal-naga-sadhu-petapa-sakti-sekaligus-klan-paling-rahasia-dan-misterius-india?page=3, tanggal 12 Oktober 2019.

“Pertapa India Angkat Tangan selama 45 Tahun Demi Bhaktinya Kepada Dewa Siwa”, diakses dari https://www.kejadiananeh.com/2018/10/pertapa-india-angkat-tangan-selama-45-tahun.html, tanggal 12 Oktober 2019.

Khoirul, Afif. 2018. “Demi Mengabdikan Diri Pada Dewa Siwa Petapa India Ini Terus Mengangkat Lengannya Selama 43 Tahun”, diakses dari https://intisari.grid.id/read/03942614/demi-mengabdikan-diri-pada-dewa-siwa-petapa-india-ini-terus-mengangkat-lengannya-selama-43-tahun?page=2, tanggal 12 Oktober 2019.

Kalabu

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu ada sebuah daerah bernama Lobu yang berada di lereng gunung sebelah barat Palu. Desa ini dipimpin oleh seorang raja arif dan bijaksana sehingga rakyat dapat rukun dan damai. Dalam hidup keseharian, seluruh penduduk menggantungkan sepenuhnya pada tanah di sekitar lereng dengan bercocok tanam pertanian lahan kering alias berladang. Mereka tidak pernah kekuarangan makanan, kecuali bahan-bahan tertentu yang diambil dari laut seperti ikan dan garam.

Suatu hari, datanglah empat orang dari Tomene (Mandar) untuk berdagang garam. Mereka tidak hanya menerima uang sebagai imbalan atas garam yang diberikan, tetapi juga hasil pertanian ladang dan bahkan kain sarung hasil tenunan. Sebelum berdagang pada kalangan orang kebanyakan, tentu saja mereka menawarkan terlebih dahulu pada penguasa Lobu yang dalam hal ini adalah Raja Lobu.

Sang raja yang kebetulan sedang tidak mempunyai uang tetapi sangat membutuhkan garam kemudian menawarkan kain sarung terbuat dari kulit kayu sebagai barternya. Namun kain itu belumlah selesai ditetun. Salah seorang pedagang yang garamnya akan dibarterkan sempat terdiam sejenak. Setelah berpikir agak lama akhirnya Sang pedagang mensetujui dengan catatan raja harus menyelesaikan pengerjaan sarungnya. Sarung akan diambil saat dia datang lagi untuk berdagang.

Beberapa waktu setelahnya, istri Raja Lobu mengandung dan melahirkan seorang anak. Semenjak lahir sang anak tidak pernah berhenti menangis sehingga membuat kedua orang tua menjadi masygul karena khawatir akan terjadi hal-hal tidak diinginkan. Berbagai macam cara telah mereka lakukan, tetapi Sang bayi tetap saja menangis. Bahkan, Sang raja juga telah menitah salah seorang pembantunya mencari dukun-dukun sakti di sekitar kerajaan, namun tidak seorang pun dapat menghentikan tangis Sang bayi.

Oleh karena tangisan tak kunjung berhenti, lama-kelamaan kekhawatiran Sang ibu berubah menjadi kejengkelan. Semenjak bayi lahir, dia beserta seluruh isi rumah tidak dapat tidur nyenyak. Setiap saat selalu aja terdengar tangisan bayi yang terkadang sangat keras. Walhasil, karena telah habis akal dia pun geram dan menghardik Sang bayi dengan sebutan “nosonggo karatu pombalua” atau wadah terbuat dari tembaga yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan sebagai tempat menaruh bayi.

Tanpa disangka, hardikan Sang ibu tadi langsung membuat bayi terdiam. Namun, bersama terdiamnya Sang bayi, hujan turun dengan sangat lebat disertai guntur dan likat yang sambar-menyambar disertai tiupan angin kencang. Akibatnya, bukan hanya seisi rumah menjadi terjaga, melainkan juga seisi kampung. Mereka tidak menyangka akan datang cuaca buruk bukan di saat sedang musim penghujan.

Keesokan hari, setelah beredar “bisik-bisik tetangga”, barulah mereka sadar bahwa cuaca buruk tadi malam adalah akibat umpatan istri raja pada bayinya yang tidak mau berhenti menangis. Bahkan, akibat dari umpatan itu, kini sang bayi tidak lagi berada dalam tempat buaian melainkan di atas karatu pombalua yang secara ajaib tiba-tiba saja ada di sana. Karatu pombalua tadi bukanlah benda sembarangan. Sebab, setiap malam Jumat selalu memuntahkan benda-benda kecil menyerupai kalung.

Pedagang garam yang mendengar berita Raja Lobu memiliki sebuah benda ajaib, segera bergegas menemui. Saat bertemu, pedagang langsung menagih hutang atas garam yang telah diberikan. Namun, ketika kain sarung yang telah ditenun sempura diserahkan, pedagang dengan tegas menolak. Dia menginginkan karatu pombalua sebagai ganti garam yang telah diberikan.

Permintaan tersebut tentu saja ditolak Raja Lobu yang menganggap bahwa karatu pombalua telah menjadi benda pusaka kerajaan. Sebagai ganti, dia lalu menawarkan sejumlah babi yang berusia masih muda. Ketika mereka tetap menolak, dia menawarkan lagi sejumlah kerbau, kemudian domba, sepasang budak belian, hingga tawaran terakhir berupa tujuh pasang budak belian. Dan, karena tetap memaksa karatu pombalua diserahkan, Raja Lobu kemudian meminta waktu untuk memikirkannya. Sementara Raja Lobu berpikir, para pedagang dipersilahkan menjajakan dagangan di daerah lain.

Sepeninggal para pedagang garam, Raja Lobu segera mengumpulkan orang tua-tua di seantero kerajaan guna mencari jalan keluar agar karatu pombalua tidak beralih tangan. Hingga larut malam mereka saling bertukar pikiran dan baru menjelang subuh dicapailah kesepakatan untuk membuat kalabu. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, apabila kalabu dibuat maka seluruh manusia yang berada di sekitarnya akan musnah. Konsekuensi ini tetap ditempuh oleh Raja Lobu dan rakyatnya karena tidak rela menyerahkan karatu pombalua.

Pada hari yang telah disepakati diadakanlah sebuah pesta besar berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Seluruh penduduk desa beserta sejumlah tamu undangan (termasuk para pedagang garam dari Mandar) datang menghadiri pesta. Mereka bersuka-ria sambil menikmati berbagai macam hidangan mewah yang jarang ditemukan pada hari-hari biasa. Khusus bagi pedagang garam, mereka tidak tahu bahwa akan terjadi malapetaka apabila mereka tetap memaksa Raja Lobu menyerahkan karatu pombalua.

Esok harinya, saat pedagang garam datang, Raja Lobu segera memerintahkan bawahannya membuat kalabu beserta sebuah tulang kaki anjing dan kucing. Setelah selesai, diturunkanlah karatu pombalua di depan rumah lalu bagian bawahnya ditabuh menggunakan tulang kaki anjing dan kucing hingga mengeluarkan suara sangat merdu. Sang penabuh adalah tetua kampung yang biasa melaksanakan upacara adat, baik upacaraa lingkaran hidup individu maupun upacara adat lainnya.

Tidak lama kemudian, tanpa diduga-duga kerajaan itu lenyap berganti bebatuan besar yang muncul dari dalam tanah. Seluruh penduduk beserta harta benda mereka hilang tanpa bekas. Hanya ada seorang saja yang berhasil selamat, yaitu si bayi raja yang saat kejadian terlempar jauh hingga ke Desa Sibalaya, dekat Sungai Gumbasa.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Popular Posts