Jeniper

Di daerah Kuningan, Jawa Barat, ada sejenis minuman ringan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai "Jeniper". Bila baru mendengarnya mungkin yang terlintas di benak adalah nama seorang perempuan "bule" berambut pirang dan bermata biru ^_^. Namun setelah dipesan yang datang hanyalah sebuah botol berisi air berwarna kuning muda. Air inilah yang dinamakan "jeniper" akronim dari "Jeruk Nipis Peras".

Sesuai dengan namanya, minuman ini berasal dari sari jeruk nipis yang diperas kemudian dicampur dengan gula pasir. Adapun cara membuatnya diawali dengan memeras jeruk nipis dengan saringan halus. Hasil perasan dicampur dengan gula pasir lalu direbus hingga matang dan didinginkan. Setelah dingin jeniper dimasukkan dalam botol dan dikemas lagi memakai keranjang agar telihat lebih menarik.

Foto: http://jeniper.blogspot.com/2006/09/jeniper-itu-apa-yaah-jeniper-adalah.html

Tangga Seribu Gunung Manglayang

Gunung Manglayang berada di antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang. Gunung ini berketinggian sekitar 1.818 meter di atas permukaan air laut. Walau berukuran relatif kecil di antara jejeran gunung di sekitarnya (Tangkuban Perahu, Burangrang, dan Bukit Tunggal), tetapi Manglayang cukup menarik untuk dijadikan sebagai jalur pendakian, bumi perkemahan, maupun wisata alam.

Jalur pendakian di Gunung Manglayang dapat dibagi menjadi empat, yaitu: melalui Bumi Perkemahan atau Wanawisata Situs Batu Kuda di Kabupaten Bandung; Palintang di Ujungberung, Kota Bandung; Baru Beureum atau Manyeuh Beureum; dan Jatinangor di Kabupaten Sumedang. Sementara untuk wisata alam, di antaranya adalah Curug Cilengkrang dan tangga seribu yang berada di Kampung Cikoneng Babakan, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Untuk mencapai lokasi tangga seribu dari Kota Bandung relatif mudah karena berjarak hanya sekitar 10-15 kilometer hingga ke daerah Ujungberung, Cibiru maupun Cileunyi. Dari Ketiga daerah ini terdapat jalan-jalan kecil berukuran lebar 3-4 meter dengan jarak antara 10 hingga 12 kilometer hingga ke lokasi, yaitu: Jalan Cilengkrang I, Jalan Desa Cipadung, Jalan Manisi, Jalan Sindangreret, Jalan Sadang, hingga Jalan Villa Bandung Indah. Jalan-jalan tersebut telah beraspal atau cor beton, sehingga walau tidak ada angkutan umum (kecuali ojek) dapat dilalui relatif cepat. Namun apabila hendak ke lokasi, sebaiknya menggunakan kendaraan berkondisi prima karena medannya selalu menanjak.

Oleh karena terbilang cukup baru, belum ada petugas yang datang atau berjaga untuk menarik retribusi di tangga seribu. Area parkir pun juga belum tersedia sehingga pengunjung yang membawa kendaraan "terpaksa" memarkirkannya di beberapa rumah penduduk yang paling dekat menuju objek wisata ini. Sebagai catatan, tangga seribu merupakan bagian dari program padat karya Kementerian Ketenagakerjaan. Adapun tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat penganggur dan setengah penganggur, mempercepat laju perekonomian masyarakat, dan memanfaatkan serta mengoptimalisasi sumberdaya lokal. Masyarakat setempat yang dilibatkan dalam proyek pembuatan tangga seribu dikategorikan menjadi tiga berdasarkan kemampuan mereka, yaitu: pekerja biasa berupah Rp.56.500 per hari, kepala kelompok berupah Rp.62.000 per hari, dan tukang berupah sebesar Rp.67.000 per hari.

Untuk mempertegas tujuan di atas, begitu akan menapaki tangga di sisi sebelah kanan terdapat sebuah "monumen kecil" penanda bertuliskan "Padat Karya Infrastruktur Pembuatan Rabat Jalan Desa Cibiru Wetan, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung Program PPKK Kemnaker RI Ta 2017". Selanjutnya, terdapat 880 buah anak tangga (hok) yang harus ditapaki bila ingin menuju puncak. Di sisi kiri dan kanan hok merupakan hamparan perkebunan (entah milik penduduk atau Perhutani ^_^) yang ditanami bermacam tumbuhan khas pertanian tanah kering (ladang).

Sesampai di hok terakhir ada beberapa buah saung terbuat dari bambu yang sebagian telah diisi oleh pedagang makanan, minuman, dan gorengan. Sebagian saung lainnya ada yang masih belum beratap dan ada pula yang baru kerangkanya saja. Di depan saung-saung tersebut terdapat tempat duduk bambu saling berhadapan yang di tengahnya ada tiang dengan bagian atas memiliki penutup terbuat dari rumbia. Di tempat ini pengunjung dapat melepas lelah sambil menikmati minuman atau makanan dan melihat (bila tidak berkabut) pemandangan yang luar biasa berupa panorama Kabupaten Bandung dari kejauhan. Sebagai catatan lagi, di lokasi saung ada sejumlah anak tangga lagi menuju ke toilet umum dan ke sebuah kolam kecil berlatar belakang puncak Gunung Manglayang dari kejauhan. Namun anak tangga tersebut masih berupa tanah berbatas potongan bambu kecil sehingga apabila hujan akan menjadi licin.

Bagaimana? Anda tertarik mengunjungi tangga seribu sembari berwisata dan berolahraga? Apabila tertarik, sebaiknya datang pada pagi hari saat cuaca sedang cerah. Sebab, apabila sedang berkabut yang tampak hanyalah gugusan pegunungan berselimut putih dengan sedikit pemandangan berupa rimbunan pepohonan.



Foto: Rezky Syandana
SDN Cibiru 08

Syekh Dapur

(Cerita Rakyat Daerah Lampung)

Alkisah, sekitar tahun 1600-an di daerah Panjang, Lampung, ada sebuah desa terdiri dari puluhan kampung. Kampung-kampung tersebut ada yang diatur oleh kaum penjajah dan ada pula yang masih diketuai oleh punyimbang (pimpinan adat berdasarkan genealogis). Adanya pemimpin dan yang dipimpin tadi rupanya menimbulkan masalah, terutama dalam hal pencarian jodoh. Hukum tidak tertulis yang berlaku adalah anak orang berkedudukan tinggi harus dijodohkan dengan orang sederajat.

Salah satu di antara kampung tersebut bernama Prabang. Di kampung ini ada seorang bujang bernama Raden Sukat. Dia telah memadu kasih dengan seorang gadis cantik jelita bernama Raden Gayung. Namun ketika akan melangkah ke jenjang lebih jauh (pernikahan) orang tua Raden Sukat melarang karena mereka tidak memiliki apa-apa dan hanya berasal dari golongan orang kebanyakan. Sang ayah menjelaskan bahwa dia bukanlah padanan Raden Gayung. Tapi karena Raden Sukat terus memaksa, Sang ayah terpaksa menuruti.

Keesokan hari kedua orang tua Raden Sukat bertandang ke rumah orang tua Raden Gayung yang kaya raya serta memiliki status sosial jauh lebih tinggi. Setelah dipersilakan duduk di serambi rumah, Ayah Raden Sukat langsung mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan, yaitu ingin menjodohkan Raden Sukan dan Raden Gayung. Tentu saja lamaran tadi ditolak dengan alasan status mereka yang tidak sederajat. Bahkan, ayah Raden Gayung sempat memaki dan mengeluarkan kata-kata pedas yang menusuk perasaan. Mereka pun pulang bertangan hampa.

Sesampai di rumah tanpa berkata apa-apa mereka kembali melakukan rutinitas seperti biasa. Sang Ibu menuju dapur untuk mengolah makanan, sementara Sang Ayah mengambil cangkul dan arit lalu beranjak ke kebun di belakang rumah. Raden Sukat yang sedari tadi menanti dengan harap-harap cemas juga tidak bertanya apa-apa pada mereka. Dia telah mendapat jawaban hanya dengan melihat roman muka kedua orang tua yang terlihat masam dan tidak ceria.

Semenjak kejadian itu, Raden Sukat seakan tidak mempunyai gairah hidup karena tambatan hati tidak dapat dimiliki. Begitu juga sebaliknya, Raden Gayung menjadi murung dan sebagian besar waktu digunakan mengurung diri di dalam kamar. Tetapi, mungkin karena dia hidup dalam dunia masyarakat Lampung yang bersifat patriarkis, Raden Sukat lebih tabah. Dia memutuskan pergi mengembara menenangkan batin.

Setelah mendapat restu kedua orang tua, hanya berbekal beberapa helai pakaian serta makanan secukupnya dia berangkat. Sesampai di sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan nama Kotapaan dia bertemu dengan seorang lelaki tua bernama Tuan Syekh Balung. Entah mengapa ketika bertemu tanpa segan Raden Sukat menceritakan asal usul serta kisah hidupnya pada Tuan Syekh Balung.

Tuan Syekh Balung hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Raden Sukat dan tidak berusaha memberikan wejangan. Tetapi selesai bercerita, dia menyuruh Raden Sukat tinggal di rumahnya yang berada di puncak Gunung Rajabasa. Di tempat itu Raden Sukat diperintahkan bertapa selama sembilan bulan sembari mempelajari berbagai macam ilmu (beladiri, pengobatan, agama, dan kebatinan). Setelah genap waktu yang ditentukan, Raden Sukat baru diizinkan kembali ke kampung halaman untuk mengamalkan ilmu yang didapat.

Di lain tempat, Raden Gayung yang telah lama tidak bersua dengan Raden Sukat menjadi sakit. Orang tuanya berusaha menghibur dan mencari orang pintar yang dapat mengobati. Namun, dari sekian banyak orang pintar didatangkan, tidak ada yang dapat menyembuhkan penyakit Raden Gayung. Kondisinya bahkan semakin parah. Sedikit sekali asupan makanan di dalam tubuh dan setiap malam selalu meracau memanggil nama Raden Sukat. Orang tua akhirnya sadar bahwa “obat” penyambuh hanya ada pada Raden Sukat. Oleh karena itu, Sang ayah memerintah para pekerjanya mencari dan membawa pulang Raden Sukat. Usaha tadi selalu gagal karena orang-orang yang diutus malah tewas dimakan binatang buas di sekitar Gunung Rajabasa.

Berita mengenai sakit Raden Gayung terdengar pula oleh Raden Sukat. Dia yang baru turun gunung bermaksud hendak mengobati. Tetapi karena takut akan bernasib sama seperti orang tua yang diusir lantaran tidak sepadan, dia memutuskan datang secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang tua Raden Gayung. Cilakanya, ketika masuk lewat dapur ternyata orang tua Raden Gayung sedang berada di sana.

Tertangkap basah hendak menuju kamar Raden Gayung, Raden Sukat hanya berdiri mematung dengan wajah merah padam karena malu. Dia pasrah apabila orang tua Raden Gayung akan memperlakukan sebagai maling dan membawanya pada ketua kampung untuk diadili. Sebaliknya, orang tua Raden Gayung sangat senang melihat Raden Sukat datang. Sambil merasa bersalah dan malu sekaligus membutuhkan kehadiran Raden Sukat, dia mempersilakan menuju kamar Raden Gayung.

Ketika bertemu dan melihat keadaan Raden Gayung yang tampak pucat dengan badan kurus kering, Raden Sukat menjadi sangat sedih dan menangis. Tanpa terasa tetesan air mata di kelopak mata Raden Gayung. Anehnya, tetesan air mata itu seolah-olah memberikan tenaga bagi Raden Gayung untuk membuka mata dan mengulurkan tangan ke arah wajah Raden Sukat.

Singkat cerita, beberapa waktu setelah bertemu kesehatan Raden Gayung berangsur pulih seperti sedia kala. Obat yang selama ini bukanlah ramuan atau jampi-jampi melainkan kehadiran sosok Raden Sukat. Ayah Raden Gayung baru menyadari bahwa cinta sejati tak terpisahkan dan dapat mengalahkan segalanya. Dengan hati ikhlas, dia merelakan Raden Gayung dipersunting oleh Raden Sukat. Pada waktu pernikahan, Raden Sukat mengganti nama menjadi Syekh Dapur, sebab berkat pertemuan di dapur dengan ayah Raden Gayung dia akhirnya dapat mempersunting puterinya.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Curug Dago

Kawasan Dago Pakar di Kota Bandung memiliki banyak potensi yang dapat dijadikan sebagai objek wisata, di antaranya: Tebing Keraton, Goa Jepang, Goa Belanda, dan Taman Hutan Raya Ir. Juanda atau biasa disebut sebagai Tahura. Di dalam area Tahura sendiri ada sebuah objek berupa air terjun (curug) yang berada di Desa Dago, Kecamatan Coblong, sekitar delapan kilometer dari pusat Kota Bandung. Sesuai dengan lokasinya, oleh masyarakat setempat air terjun itu dinamakan sebagai Curug Dago.

Untuk mencapai lokasi Curug Dago dapat melalui jalan di seberang Terminal Dago atau dari Taman Budaya Ganesha (Dago Tea House). Namun keduanya hanya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua atau berjalan kaki karena masih berupa jalan setapak bercoran beton selebar sekitar satu meter. Sebelum sampai di lokasi (dekat papan nama curug) terdapat sebuah pelataran parkir cukup luas bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor. Di tempat ini terdapat pula beberapa wahana permainan anak seperti prosotan dan ayunan serta sebuah warung yang menjual makanan dan minuman.

Tidak jauh dari pelataran parkir membentang sebuah jembatan kecil menuju ke bagian atas curug. Di sini pengunjung dapat menyaksikan lintasan aliran Sungai Cikapundung yang jatuh sejauh sekitar 12 meter ke dalam sebuah kolam pembentuk dasar curug. Tepat disisinya terdapat dua buah bangunan kecil berwarna merah dengan dinding sebagian besar terbuat dari kaca. Namun, apabila tidak puas dan ingin melihat dari dekat (di bagian bawah) haruslah menuruni sejumlah anak tangga agak curam dan licin terbuat dari semen sejauh sekitar 100 meter.

Pada bagian bawah akan terpampang jelas curahan air agak besar yang mengalir di antara dua tebing batu curam berkemiringan sekitar 90 derajat. Selain itu, "isi" dari dua bangunan berwarna merah pun dapat terlihat jelas yaitu dua buah prasasti yang konon merupakan peninggalan Raja Rama V (Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) dari dinasti Chakri Thailand yang pernah berkunjung ke Curug Dago pada sekitar tahun 1818.

Bagaimana? Anda berminat berwisata ke Curug Dago? Apabila berminat, kemungkinan Anda hanya sekadar menikmati keindahan curahan air di sekitar curug tanpa dapat bermain air atau berenang. Sebab, kondisinya kini telah keruh dan berwarna kecoklatan akibat mulai bermunculan pemukiman baru pada bagian hulu Sungai Cikapundung.

Foto: https://wisatapedi.com/tempat-wisata-curug-dago-keindahan-yang-tersembunyi/

Khekhabai Bukhung

Khekhabai Bukhung adalah sebutan orang Lampung bagi sebuah alat pengusir burung yang mengganggu tanaman padi. Khekhabai Bukhung dibuat dari pelepah kelapa yang ditancapkan pada beberapa petakan sawah. Antara pelepah satu dengan yang lain di¬hubungkan dengan tali panjang yang bermuara dan berakhir di gubuk (anjung). Dengan demikian, semua pelepah akan bergoyang bila tali itu ditarik-tarik dari gubuk tempat para petani menunggu padi. Goyangan pelepah kelapa yang masih lengkap dengan daun¬nya itu akan membuat burung yang akan hinggap menjadi takut.

Popular Posts