Kedai 115 Wong Tegal

Kedai 115 Wong Tegal berada di Jalan Alamsyah Ratu Perwiranegara No.53, Kotabumi Selatan, Kabupaten Lampung Utara. Kedai ini menyajikan berbagai macam makan dan minuman, antara lain: pecel lele, ikan nila goreng/bakar, ayam goreng potong/kampung, ayam bakar potong, bebek goreng/bakar, nasi goreng biasa/mawut, mie goreng, cah kangkung, sayur asem, es teh, teh panas, es jeruk, jeruk hanget, kopi hitam, kopi susu, jus alpukat, jus melon, dan jus buah naga.

Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Utara

Rumah Makan Khas Sunda Dua Saudara

Lokasi: Jalan Otista No. 199, Tarogong, Garut.

Legenda Pulau Sikantan

(Cerita Rakyat Daerah Sumatera Utara)

Alkisah, di daerah Labuhan Batu, Sumatera Utara, ada seorang janda tua yang tinggal dalam sebuah gubuk reot di tepi sebuah sungai. Dia hanya hidup bersama anak sematang wayangnya bernama Kantan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari mereka mencari kayu bakar di sekitar hutan. Hasilnya sebagian digunakan sendiri dan sisanya jual di pasar terdekat.

Begitu rutinitas kehidupan mereka hingga suatu malam Sang janda bermimpi didatangi seorang laki-laki tua yang menyarankan menggali tanah di suatu tempat di tengah hutan. Oleh karena mimpi itu tampak begitu nyata, begitu bangun dia langsung mengajak Kantan menuju tempat yang ditunjuk Sang laki-laki tua.

Sampai di tengah hutan, dia menyuruh Kantan menggali tanah yang letaknya tepat berada di bawah sebuah pohon besar. Tidak berapa lama menggali Kantan menemukan sebuah benda terbungkus kain putih. Tanpa buang waktu, dibukanya bungkusan yang ternyata adalah sebuah tongkat terbuat dari emas bertahtakan permata.

Setelah diangkat dan dibersihkan, tongkat emas kemudian dibungkus lagi dengan kain untuk dibawa pulang. Malam harinya mereka berunding apa yang akan diperbuat terhadap tongkat emas tersebut. Sang ibu menghendaki agar tongkat emas dijual agar mereka dapat hidup dengan layak hingga akhir hayat.

Namun, melihat kondisi warga di desa yang mayoritas berpenghidupan sama yaitu bertani, mereka menjadi ragu. Kemungkinan besar tidak ada yang sanggup membelinya. Sang ibu menyarankan agar Kantan menjualnya di Malaka yang sebagian besar penduduknya terkenal kaya raya.

Pagi harinya Kantan berpamitan. Sebelum pergi Sang ibu berpesan bila tongkat emas telah laku terjual Kantan harus lekas kembali. Dia khawatir akan keselamatan Kantan bila seorang diri membawa berkarung-karung uang dari hasil penjualan tongkat emas.

Rupanya Malaka merupakan tempat yang sangat jauh. Menumpang sebuah perahu kecil Kantan terombang-ambing di lautan selama berhari-hari. Namun karena tekatnya bulat untuk mengubah nasib, akhirnya dia berhasil mencapai pelabuhan Malaka dan bertemu seorang hulubalang yang sedang berjaga.

Hulubalang kerajaan yang melihat Kantan seperti orang udik celingak-celinguk kebingungan tak tahu hendak kemana lalu mendatangi dan bertanya tentang maksud dan tujuan datang ke Malaka. Sambil menunjukkan tongkat emas terbungkus kain Kantan menjawab bahwa dia akan menjualnya pada orang paling kaya di Malaka.

Adapun orang paling kaya di tanah Malaka tentu saja adalah raja. Hulubalang itu lalu mengantarkan Kantan menuju istana raja. Di sana dia menunjukkan benda yang akan dijual dan ternyata Baginda Raja meminatinya. Bahkan, saking kagumnya pada tongkat emas berlapis berlian itu Baginda lantas menawarkan putri semata wayangnya untuk dijadikan istri Kantan apabila Kantan bersedia menyerahkan kepemilikan tongkat emas kepadanya.

Tawaran tadi tentu saja sangat menggiurkan bagi Kantan. Walau tidak mendapatkan uang secara langsung, dia akan mendapat seorang putri cantik jelita yang mustahil bisa dilakukan bila statusnya hanyalah anak seorang janda miskin. Dan, apabila telah menjadi suami Sang putri, kelak suatu saat nanti kerajaan akan menjadi miliknya. Dia pun menyetujui penawaran Baginda Raja.

Tidak lama setelah menerima tongkat emas, Raja menikahkan putrinya dengan Kantan. Pernikahan dilangsungkan sangat meriah dengan mengundang seluruh rakyat kerajaan serta para bangsawan dari kerajaan di sekitarnya. Mulai saat itu hidup Kantan berubah seratus delapan puluh derajat. Dia telah melupakan pesan Sang ibu agar segera pulang bila tongkat emas telah berpindah tangan.

Begitu seterusnya, hari demi hari berlalu dalam kegelimpangan harta hingga suatu saat Sang isteri meminta untuk bertemu ibu mertua. Awalnya permintaan ditolak Kantan. Dia takut bila Sang istri melihat kondisi Ibu Kantan akan terkejut dan menyesal telah kawin dengannya. Namun, karena terus memaksa akhirnya Kantan menuruti. Pikir Kantan Sang ibu kemungkinan telah meninggal dunia karena sudah bertahun-tahun berlalu sejak dia meninggalkannya.

Satu minggu setelahnya mereka pun berlayar menuju pulau seberang. Menggunakan sebuah perahu mewah yang dilengkapi puluhan pengawal Sang putri membawa segala macam harta benda yang akan dipersembahkan bagi mertuanya. Dia sama sekali tidak melihat status dari Sang mertua. Sebab, baginya mertua adalah orang yang harus dihormati tanpa harus melihat kedudukannya dalam masyarakat.

Sebaliknya, sepanjang pelayaran hati Katan gundah gulana. Dia berharap agar tidak dipertemukan dengan sang ibu agar marwahnya tetap terjaga. Tetapi harapan sirana ketika perahu sampai di muara Sungai Barumun. Banyak sekali orang datang karena kagum melihat kemegahan perahu. Salah seorang di antara kerumunan massa adalah Sang Ibu yang berharap perahu megah itu membawa anak semata wayangnya.

Ketika perahu bersandar tampaklah sosok-sosok penumpangnya. Salah satunya adalah Kantan yang berpenampilan mewah layaknya seorang bangsawan kaya raya. Sang ibu yang melihat anaknya telah kembali segera berteriak lantang memanggil namanya. Bahkan, dia sampai mendekati tangga perahu untuk naik ke geladak sembari meneriakkan nama anaknya..

Panik, bila Sang ibu sampai di geladak dan berhadapan langsung dengan Sang isteri Kantan lantas mengerahkan para pengawal untuk mengusirnya. Sejurus setelah Sang ibu terusir, Kantan memerintahkan nakhoda menarik jangkar dan memutar haluan kembali ke lautan lepas.

Tindakan Kantan ini oleh Sang ibu dianggap sebagai hal yang sudah di luar batas. Dia tidak menyangka kalau anak terkasih telah mendurhakai dan tidak berbakti pada dirinya. Dengan perasaan hancur lebur, dia bersimpuh dan berdoa pada Tuhan agar Sang anak diberi pelajaran setimpal atas tindakan yang dilakukan terhadapnya.

Usai berdoa, langit tiba-tiba menjadi gelap disusul oleh sambaran petir dan hujan badai sangat dahsyat. Beberapa saat setelahnya air Sungai Barumun meninggi dan menggulung perahu milik Kantan yang baru saja hendak menuju lautan hingga terbalik dan menenggelamkan seluruh awak termasuk Kantan dan istrinya.

Esok harinya di lokasi perahu tenggelam muncul sebuah pulau kecil. Oleh masyarakat setempat pulau itu kemudian dinamakan sebagai Sikantan. Saat ini Pulau Sikantan di bagian tengahnya dipenuhi semak belukar dan pepohonan kelapa. Sementara bagian tepinya terhampar tumbuhan bakau yang menjadi sarang berbagai jenis ikan.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
MUSIM LAYANGAN
Rumah Adat Lampung Berusia 4 Abad
Ritual Pencucian Gong Emas Buay Belunguh

Archive