Guntur Elmogas

Situn, begitu istilah orang Bekasi bagi salah satu bentuk sastra lisan gabungan antara puiSI dan panTUN. Situn merupakan puisi yang dibuat dalam konsep pantun, namun tidak memiliki sampiran alias seluruhnya berupa isi (pingpoint.co.id). Adapun orang yang mempopulerkannya tiada lain adalah Mohamad Guntur. Pria yang lahir di Bekasi pada 8 Maret 1954 ini dikenal juga dengan nama Guntur Elmogas atau Kong Guntur Elmogas. Penambahan nama Elmogas di belakang nama aslinya menurut Winata (2017) hanya sebagai “pemanis” agar terdengar lebih keren dan macho.

Apabila sedang pentas, situn-situn ciptaan Kong Guntur dilantunkan dalam bentuk nyanyian sambil mengenakan pakaian khas Bekasi. Isi situnnya bersifat jenaka, aktual, kekinian, spontan, dan lain sebagainya yang dapat membuat orang seperti terhipnotis sekaligus terhibur bila mendengarnya. Baginya situn haruslah seperti itu (menghibur). Dia merasa gagal apabila yang mendengar atau membaca tidak terhibur.

Kong Guntur mulai berkarya lewat situn sekitar tahun 2005. Sejak itu, dalam sehari dia bisa membuat situn antara lima hingga sepuluh buah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila saat ini jumlah situn yang telah dibuatnya mencapai sekitar 164.000 buah. Seluruhnya dibuat berdasarkan tema-tema kehidupan sehari-hari yang luwes dan tidak terbatas hanya pada Bekasi dan permasalahannya saja, mulai dari nasihat orangtua pada anak-anaknya hingga pemilihan kepala daerah.

Sebagian dari situn tadi telah dibukukan menjadi enam buah jilid dengan tebal masing-masing hingga 300-an halaman. Selain itu, juga telah dipentaskan dalam bentuk pentas tunggal maupun berkelompok dengan Group El Borus (Bocah gampang DiuRUS) yang beranggotakan 8-10 orang pemegang peralatan musik, seperti jimbe, ukulele, dan lain sebagainya. Mereka manggung di mana saja, mulai dari sekolah, gedung pemerintahan, pusat perbelanjaan, hingga ke pinggir kali dalam acara hajatan (sunatan, perkawinan dan lain sebagainya) (Suyitno, 2017)

Bahkan untuk salah satu pentas tunggalnya, Kong Guntur yang saat ini telah menjadi salah satu “ikon” Bekasi, pernah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pelantun terlama dalam pembacaan situn selama 8 jam 8 menit. Penghargaan diberikan oleh pengurus MURI, Yusuf Ngadri, pada pada hari Rabu 21 Agustus 2013 pukul 23.05 WIB setelah Kong Guntur menyelesaikan pembacaan situnnya.

Dengan keberhasilannya meraih rekor MURI ini Kong Guntur berharap akan semakin banyak generasi muda menekuni bidang kebudayaan, khususnya puisi-pantun. Sebab, anak-anak muda Bekasi sekarangkurang punya perhatian pada seni dan bahasa lokal. Mereka lebih suka menggali bahasa dan seni dari budaya lain.

Sumber:
“Aktivitas Budaya Menelisik Sastra Khas Bekasi”, diakses dari https://pingpoint.co.id/berita/akti vis-budaya-menelisik-sastra-khas-bekasi/, tanggal 18 Agustus 2019.

Winata, Gitafee. 2017. “Mari Lestarikan Situn dan Ikut Jejak Kong Guntur Elmogas”, diakses dari https://www.kompasiana.com/reragitaa12/58688d6e1fafbd361ca0876e/mari-lestarikan-situn -dan-ikut-jejak-kong-guntur-elmogas, tanggal 19 Agustus 2019.

Suyitno. PS. 2017. “Kong Guntur Elmogas, Menyapa Indonesia dari Bekasi”, diakses dari http:// indikatornews.com/kong-guntur-elmogas-menyapa-indonesia-dari-bekasi/, tanggal 19 Agustus 2019.

Munawar Fuad Noeh

Perubahan adalah transformasi dari keadaan yang sekarang menuju keadaan yang diharapkan akan lebih baik. Perubahan dapat terjadi secara besar-besaran seperti revolusi pertanian disusul oleh revolusi industri di benua Eropa dan ada pula yang hanya berskup kecil yang dilakukan agen-agen perubahan dalam suatu masyarakat. Di daerah Bekasi ada seorang profesional yang bertindak sebagai agen tersebut. Dia, yang di media massa setempat disebut penggiat perubahan, adalah Munawar Fuad Noeh atau lengkapnya Dr. H. Munawar Fuad Noeh, Mag.

Munawar yang lebih dikenal dengan nama Bang Fuad atau Bang Kabek lahir di Bekasi pada tanggal 16 Mei 1970 dari pasangan KH Raden Noeh Inayatillah Ahmad dan Nyai Raden Hj Maskanah. Bang Fuad menempuh pendidikan awalnya di Sekolah Dasar Negeri Sukamanah di Kampung Babakan Cibarusah. Lima tahun kemudia melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Yaspia dan Madrasah Aliyah Cibogo Cibarusah. Selain itu, dia juga pernah mondok selama beberapa lama di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Selama menempuh pendidikan dasar dan menengah Bang Fuad sudah mulai menunjukkan prestasi, antara lain dengan menjadi juara kedua Lomba Cerdas Cermat se-Kabupaten Bekasi (1986), Juara Pertama Lomba Cerdas Cerman mewakili Bekasi di Tingkat Jawa Barat (1988), juara nominasi Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri Tingkat Nasional (1988), dan Juara Pertama Lomba Pidato Pemuda se-Kabupaten Bekasi (1989).

Usai menempuh pendidikan menengah atas, Bang Fuad melanjutkan ke perguruan tinggi guna menempuh jenjang Strata 1. Setelah lulus, dia melanjutkan lagi di Pasca Sarjana IAIN Jakarta (1998) dalam bidang studi Islam dan Tata Negara. Bahkan tidak hanya Strata 1 dan 2 saja yang ditempuhnya, melainkan juga Strata 3 di University Malaya, Malaysia, dengan riset berjudul “Peranan Kyai Dalam Pemilu Presiden 2004: Studi Kasus Jawa Timur”. Hasil riset tersebut kemudian dipublikasikan dalam bentuk sebuah buku berjudul “Kyai Di Panggung Pemilu Presiden: Dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost”.

Pria yang menikah dengan Dra. Hj. Ariyana Wahidah (putri KH. Muhammad Thahir dan Nyai Hj. Tazkiyah Thahir) dan dikaruniai empat orang anak (R. Ahela Shindy Farica, R. Arsya Millenio Fuad, Farah Najwa Madiena, dan Muhammad Kaisar Khan) ini pernah mendapat kepercayaan sebagai Asisten Bidang Sosial Engineering (Hubungan Kelembagaan dan Sosial) dari tahun 1999 hingga 2012.

Di antara masa tersebut Bang Fuad juga dipercaya mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (saat menjadi Mentamben) sebagai Alhi Pemberdayaan Persepsi Publik Menteri Pertambangan dan Energi. Adapun tugasnya terkait dengan pemberdayaan masyarakat, media relation, dan eksternal relation dari Kementerian Pertambangan dan Energi beserta BUMN yang berada di bawahnya seperti Pertamina, Aneka Tmbang, PLN, PT Timah, dan lain sebagainya.

Berkat kompetensi, profesionalisme serta pengalamannya, tahun 2004 Bang Fuad masih dipercaya oleh SBY menjadi staf khusus kandidat presiden yang menangani pengelolaan hubungan dan penggalangan aspirasi politik umat Islam dan lintas agama secara nasional. Bang Fuad dianggap mampu berinteraksi secara luas karena memiliki basis sosio-kultural dengan kalangan pesantren dan tokoh-tokoh lintas agama sehingga diharapkan dapat ikut membangun komunikasi yang kuat guna menata berbagai agenda strategis dalam kerangka pemberdayaan pesantren, perdesaan, dan pembangunan secara lebih terarah dan menyeluruh. Tahun berikutnya, dia bekerja sebagai staf khusus Menteri Komunikasi dan Informasi Dr. H. Sofyan A Djalil.
Selain berkutat dalam dunia konsultan, Bang Fuad juga aktif dalam keorganisasian tingkat nasional maupun internasional, di antaranya: Pimpinan Pusat Ansor yang membidangi Hubungan Luar Negeri dan Media Komunikasi (2000-2005); Sekretaris Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (2012-2017); Wakil Bendahara LTNU (Lajnah Taklif Wan Nashr)/ Badan Informasi, Komunikasi dan Publikasi PBNU (2015-2020); Ketua Departemen Kajian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan di Majelis Pengurus Pusat ICMI (2015-2020); Anggota Komisi Riset dan Pengembangan MUI Pusat (2015-2020); penasihat bidang perekonomian BUMDES, pimpinan pusat Parade Nusantara sejak 2015-sekarang; Vice President Pemuda Asia (The Asian Youth Coincil) di Korea selatan periode 2008-2011); Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) periode 2005-2008; Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (2005-2010); President Global Common Society (GCS) International Indonesia Chapter (2003-2005); Wakil Sekretaris Jenderal SAMYO (South East Asia Muslim Youth Organization – Organisasi Pemuda Muslim Asia Tenggara); dan Direktur Program Workshop dan Pelatihan The New Generaton of Religious Leaders di berbagai daerah Indonesia.

Seabreg jabatan tersebut tentu saja membuat Bang Fuad menjadi orang super sibuk, baik di dalam maupun luar negeri. Di kancah internasional dia pernah menghadiri berbagai macam seminar dan workshop, di antaranya: sebagai narasumber, pembicara, dan peserta dialog antarbangsa untuk misi perdamaian dan diplomasi di New Zaelan, Turki, dan Korea Selatan; penceramah dalam The New Asian African’s Strategic Partnership di India, Sri Lanka, dan China; memimpin delegasi pemuda Indonesia dalam Forum Dialog Pemuda Malaysia-Indonesia di Selangor, Malaysia; memimpin delegasi dan mempresentasikan pemikirannya tentang pemuda dan entrepreneurship dalam forum pertemuan pemuda Asia di Beijing; kunjungan kenegaraan bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Afrika Selatan; memimpin delegasi pemuda NU untuk sebuah kunjungan kebudayaan dan persahabatan di Jepang; narasumber acara Voice of America dengan presentasi tentang pengembangan tradisi keagamaan moderat melawan terorisme; peserta Forum Indonesia-Australia untuk mengikuti berbagai diskusi lintas agama; mewakili delegasi pemuda Indonesia dalam Forum Konvensi Pemuda Dunia di Thailand; dan lain sebagainya.

Namun, walau memiliki segudang kegiatan, Bang Fuad masih juga sempat melahirkan berbagai karya tulis intelektual yang dipublikasikan secara luas. Adapun karya tulis tersebut, di antaranya adalah: Kyai di Panggung Pemilu Presiden: Substansialisasi Hukum Islam dalam Hukum Pertanahan di Indonesia (1994); 99 Alasan Memilih SBY for President (sby.com, 2009); 31 Alasan Memenangkan Partai Demokrat (sby.com, 2009); Islam dan Gerakan Moral Anti Korupsi (1997); Islam di Abad 21 (1998); Masalah Korupsi di Indonesia: Respons Cendekiawan Muslim (1998); Menembus Batas; Lintas Agama, Budaya, dan Bangsa (1999); Susilo Bambang Yudhoyono: Mengatasi Krisis Menyelamatkan Reformasi (1999); Jejak Setapak Saifullah Yusuf (2000); Menghidupkan Ruh Pemikiran KH. Ahmad Siddiq (2000); Dua yang Satu: Nu-Muhammadiyah (2003); Bersaksi di Tengah Badai; Jenderal Wiranto (2004); SBY dan Islam (2004); Kebangsaan-Keislaman SBY (2004); Ziarah Nurani SBY (2005); Kyai di Republik Maling (2005); Tentara Berkarakter dan Profesional: Jelang Pelantikan Pangkostrad (catatan kritis Munawar Fuad, 2006); Mengelola Pemuda Pelopor Perdamaian (2007); Indonesia Today: The Characteristic Indonesian Muslim (2007); Menegakkan Daulat dan Martabat Bangsa (2008); Awakening the Giant: Membangunkan Negeri Raksasa yang Tertidur (2009); Mahligai Cinta Firdaus, Ketika Rasul Membelaiku (Novel, 2009); Pesona Ibu Negara: Hj. Kristiani Herrawati (2009); Terbanglah ke Angkasa Anakku (2011), Sahabat, Salam Indonesia, Bunga Rampai SMS Dr. Darwin Zahedi Saleh (2007-2011); Dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost (2014); serta puluhan artikel yang dipublikasikan di media massa (Kompas, Media Indonesia, Gatra, Tempo, Republika, Suara Pembaruan, dan lain sebagainya).

Sementara di kampung halaman sendiri, kiprah serta pengabdian sosial Bang Fuad juga tidak kalah banyaknya. Di daerah Cibarusah misalnya, sejak tahun 1994 hingga sekarang menggantikan Sang ayah menjadi Direktur Pesantren Al Quran Ash-Shulaha yang bergerak di bidang keagamaan, sosial, pendidikan, dan pembinaan mental remaja. Oleh Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi dia diangkat menjadi Sekretaris Majelis Adat Kabupaten Bekasi (2016-2021). Kemudian, mendapat amanah pula sebagai Syuriah NU Kabupaten Bekasi, Pengurus Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi, Dewan Pertimbangan KADIN Kabupaten Bekasi, dan Ketua Umum Yayasan Masjid Al Mujahidin Cibarusah.

Peran lainnya adalah sebagai penggagas dan Ketua Dewan Pembina GSA Foundation (Yayasan Silih Asah Asih Asuh Bekasi), Ketua Dewan Pembina LSM Aliansi Masyarakat Bekasi (2012-2017), Ketua Dewan Pembina LSM Gempal (Gerakan Masyarakat Peduli Alam dan Lingkungan), Ketua Panitia Pemilihan Daerah (PPD II) Pemilu Legislatif 1999; Direktur Eksekutif Asosiasi Forum Investor Bekasi; dan penggagas berdirinya Bekasi Industri Society Association atau Lembaga Kemitraan Masyarakat Industri Bekasi yang bertujuan mengembangkan kerjasama dan hubungan baik antarpemangku kepentingan di lingkungan masyarakat industri di Bekasi.

Foto: https://www.facebook.com/moonmf1203/

Deden S Cahyana

Bakat seni pada seseorang umumnya muncul sejak dini. Bakat seni inilah yang juga muncul pada sosok Deden S Cahyana, pengagas sanggar seni Duta Pasundan. semenjak berumur sekitar enam tahun Deden yang lahir di Cianjur tahun 1965 telah memiliki cita-cita untuk mengarungi dunia seni sebagai bekal hidup. Waktu itu dia sudah menjadi pemain calung pada sebuah group di desanya di Kabupaten Cianjur Selatan.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Deden mulai membuktikan bakat dengan berkali-kali mewakili daerahnya mengikuti lomba seni/pasanggiri Anggana Sekar, Pupuh, Tari, Degung, Ngadongeng/Carita Sunda baik tingkat kabupaten maupun Provinsi Jawa Barat. Prestasi-prestasi lain juga diukirnya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas SMKI hingga tahun 1984.

Lulus SMKI Deden hijrah ke Kota Bekasi untuk menjadi relawan di beberapa sekolah. Selama satu tahun (1984-1985) Deden mengadakan beberapa eksperimen di berbagai sekolah dengan tujuan agar kesenian Sunda lebih dihargai dan mendapat apresiasi dari masyarakat luas. Tahun berikutnya, dengan membawa misi menciptakan peluang melalui kendang, Deden keliling di hampir 40 buah sekolah di Kabupaten Bekasi dalam bentuk pertunjukan seni degung, calung, dan tari. Namun, misi ini kurang berhasil karena hanya beberapa sekolah saja yang mau memberi ruang.

Seiring berjalannya waktu, dengan usaha yang pantang menyerah tentunya, Deden akhirnya berhasil menumbuhkan apresiasi terhadap pelestarian seni budaya Sunda di Bekasi. Berkat dukungan pemerintah setempat melalui bantuan sarana berupa alat musik gamelan, mulai banyak sekolah yang minta dibantu dalam hal pembinaan kesenian tradisional. Deden pun kemudian terjun sebagai tenaga honorer bidang pendidikan kesenian/pembinaan kesenian tradisional. Selain itu, dia juga aktif dalam sejumlah organisasi seni budaya, di antaranya: (1) pengurus DKB (Dewan Kesenian Bekasi); (2) Sekretaris IKASENTRA (Ikatan Seniman Tradisional Bekasi); (3) Litbang HARPI Melati Bekasi; (4) Ketua tim Rampak Kendang Pesona Patriot Bekasi; (5) Ketua Divisi Seni Budaya Islam Al-Azhar Bekasi; (6) Ketua Duta Suara Pelajar MB Bekasi; (7) Ketua Sanggar Duta Pasundan Bekasi; dan (8) Ketua Duta Karya Seni Budaya (DKSB).

DKSB sendiri adalah sebuah sanggar seni yang bergerak dibidang pembinaan dan pelestarian seni budaya. Sanggar yang berdiri sejak tahun 1999 ini sekarang sudah beranggotakan sekitar 150 orang anak yang berdomisili di sekitar Bantargebang. Sementara Sanggar Duta Pasundan yang berada di Jalan Cipta Karya Raya Blok J, Kecamatan Bantargebang didirikan sekitar tahun 2000 merupakan jawaban dari antusiasme masyarakat akan adanya kesenian tradisional Sunda di daerah Bekasi, khususnya gamelan degung, angklung, calung, dan kecapi suling.

Dalam perkembangan selanjutnya, Sanggar Duta Pasundan juga menjadi pusat pelatihan seni tari tradisional. Di samping itu menjadi sentra layanan pementasan seni budaya Sunda khusus untuk prosesi pernikahan. Adapun list pementasan beserta nominal harganya sebagai berikut: musik pengiring (degung Rp.6,5 juta, kecapi suling Rp.2,5 juta, celempungan Rp.3,5 juta, rampak gendang plus 4 penari Rp.3,5 juta), dan prosesi upacara adat pengantin (siraman ngaras Rp.1,5 juta, ngeuyeuk seureuh Rp.2,5 juta, mapag pengantin plus tari persembahan Rp.3,5 juta, sawer huap lingkup Rp.2,5 juta, dan pemandu adat/resepsi/akad nikah Rp.750 ribu).

Foto: http://dksbbekasi.blogspot.com/2010/03/dilahirkan-di-cianjur-pada-tahun-1965.html

Ray Abdul Fatah

Walau berusia masih dibawah 30 tahun, nama serta hasil karyanya mampu menembus pasar internasional. Ray Abdul Fatah adalah wirausahawan muda yang memiliki semangat tinggi untuk menggali potensi diri secara maksimal. Laki-laki yang hanya tamatan SMA ini memulai karir sebagai pengusaha dengan menjual Lampu Benang bersama isterinya. Namun karena pangsa pasar lampu benang mulai menurun, dia banting stir dengan membuka usaha pop up sekaligus sebagai wadah inovasi dalam berkreasi.

Usaha pop up yang didirikannya ternyata laris manis di pasaran. Oleh karena itu dia pun mulai mempekerjakan karyawan guna memenuhi permintaan pasar. Saat ini usaha yang dinamakan sebagai Ravy26house tersebut telah memiliki 11 orang karyawan yang terdiri atas lima orang karyawan tetap, tiga orang magang, dan tiga orang lagi para ibu yang berada di sekitar rumahnya. Para karyawan tadi sebelumnya telah diberikan pelatihan hingga mahir dan profesional sehingga dapat mengerjakan pesanan dari konsumen dengan baik.

Selain jumlah karyawan yang bertambah, hasil kreasi Ray juga ikut berkembang. Produk pop up yang dibuat menjadi lebih bervariasi, di antaranya pop up mahar, pop up card, pop up book, pop up frame, pop up brosur, dan kartu nama pop up. Produk-produk tersebut tidak hanya untuk memenuhi permintaan dari dalam negeri saja, melainkan juga dari Malaysia, Hongkong, dan Australia. Konsumen yang memesan biasanya diberi kebebasan menentukan desain yang diinginkan dan merevisi hasilnya sesuai keinginan.

Ketenaran pop up karya Ray rupanya menarik perhatian sejumlah media massa lokal maupun nasional, seperti MNC TV, DAAI TV, KTV, Kompas TV, Trans 7, Trans TV, TV One, Metro TV, GO Bekasi, Radar Bekasi, Tribun News, Harian Suara, Bekasi Urban City, Kontan, dan lain sebagainya. Dan, berkat ekspose dari berbagai media tadi pada tahun 2018 Ray mencoba mengikuti ajang kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diadakan oleh Bank Mandiri.

WMM merupakan wujud Bank Mandiri dalam mendukung pengembangan industri yang sejalan dengan program Kementerian BUMN. Kehadiran para pebisnis muda akan semakin memperkuat kewirausahaan nasional. Bank Mandiri sebagai salah satu BUMN mendukung pengusaha muda potensial agar dapat menopang dan mendorong ekonomi Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Melalui ajang WMM pada tahun 2018 Bank Mandiri melahirkan 28 pelaku usaha muda potensial, tangguh, dan profesional. Mereka dijaring dari sekitar 800 calon pebisnis yang diseleksi lewat 34 perguruan tinggi di Indonesia dan 10 komunitas maupun inkubasi bisnis.

Penilaian dibagi dalam kelompok mahasiswa dan non-mahasiswa dengan sub kategori wirausaha industri, perdagangan-jasa, boga, kreatif, sosial, dan tenologi. Pemenang kelompok non-mahasiswa akan memperoleh penghargaan serta uang tunai Rp.200 juta (juara pertama) dan Rp.100 juta (juara kedua). Sementara kelompok mahasiswa akan memperoleh Rp.100 juta bagi juara pertama dan juara kedua sebesar Rp. 50 juta.

Ray yang termasuk ke dalam 28 pelaku usaha, berhasil menjadi pemenang kedua bidang Usaha Kreatif dibawah Bella Kartika Aprilia – Sepiak Belitong sebagai juaranya. Adapun pemenang kategori lainnya (non-mahasiswa) adalah: Bidang Usaha Industri (Juwita – Golden Berry dan Reza Rizky Hermawan – Hermawan Propertindo Utama); Bidang Usaha Sosial (Andhika Mahardika – CV Agradaya Indonesia dan Mohammad Andriza Syarifudin – Nusa Berdaya); Bidang Usaha Boga (Endro Firdaus – GreenSmoothie Factory dan Bintang Priyambodo – Papa Buncit); Bidang Usaha Teknologi Digital (Christopher Farrel Millenio Kusuma – Kecilin dan Yudhis Thiro Kabul Yunior – Detron Engineering); Bidang Usaha Teknologi Non-Digital (Achmad Arbi – Lightning Advanced Solution Technology dan Nugroho Hari Wibowo – Encomotion); serta Digital Financial Technology (Adjie Wicaksana – Halofina – LPIK ITB dan Bong Defendy – Zend Money).
Sedangkan pemenang Wirausaha Muda Mandiri kategori mahasiswa adalah: Bidang Usaha Industri, Perdagangan, dan Jawa (Arnandiza Amirul Khadifa – Balon Kado dan Agus Wibowo – Agro Lestari Merbabu); Bidang Usaha Boga (Putu Agi Pratama – Umah Lokal dan Sentanah Limmase – Fermenation Indonesia); Bidang Usaha Kreatif (Malinda Amalia – Linean dan Nabila – Batik Kanawa); Bidang Usaha Sosial (Reno Pati – Rumah OPPO dan M Zulfikri Al Qowy – Pacco.com); Bidang Usaha Teknologi Digital (Aditya Pramata Ghifary – Media Bimbingan Belajar Gratis Website & Aplikasi dan Rafliansyah Ruslan – Scola); serta Bidang Usaha Teknologi Non Digital (Alwy Herfian Satriatama – Majapahitech dan Aprial Syahputra – Herbalfoam).

Bagi Ray, kemenangan dalam ajang WMM 2018 memotivasi dirinya untuk terus berkreasi dan berinovasi. Bahkan tidak hanya itu, dia juga mengajak masyarakat yang berada di sekitarnya untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan usaha pop up dengan tujuan mengurangi angka pengangguran di daerah Bekasi. Melalui rumah kreatif Ravy26house Ray mencoba memberdayakan mereka melalui pelatihan hingga dapat menjadi pengusaha handal dan mandiri.

Foto: https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-4220462/wirausaha-muda-mandiri-2018-sukses-lahirkan-pengusaha-muda-baru

Nalih

Nalih adalah wadah sejenis bakul yang mempunyai pegangan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara hasil kebun atau ladang seperti lada dan kopi. Wadah ini dibuat dari anyaman bambu atau rontan yang dibentuk sedemikian rupa dengan memakai pegangan untuk dapat diangkat dengan tangan. Pada masyarakat pedesaan Lampung Nalih umumnya dibuat sendiri dan bukan dibeli di pasar tradisional.

Popular Posts