Desa Sarwodadi

Letak dan Keadaan Alam
Sarwodadi adalah sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Dari ibukota kecamatan jaraknya kurang lebih 3 Kilometer ke arah utara; sedangkan dari ibukota kabupaten jaraknya kurang lebih 20 Kilometer ke arah timur. Desa ini sebelah utara berbatasan dengan Desa Pandek, sebelah timur berbatasan dengan Desa Gandu, sebelah barat berbatasan dengan Desa Susukan, dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Gintung.

Desa Sarwodadi merupakan gabugan dari tiga buah desa, yaitu: Kaso Kulon, Kaso Wetan, dan Bengkelung. Sarwodadi merupakan kata jadian (gabungan) antara sarwo dan dadi yang berasal dari bahasa Jawa. Sarwo berarti “serba” dan dadi berarti “jadi”. Jadi, dengan nama itu apa saja yang diharapkan atau dicita-citakan oleh masyarakatnya menjadi kenyataan.

Desa Sarwodadi yang luasnya mencapai 200.105 hektar ini berada di dataran rendah (kurang lebih 7 kilometer dari pantai Laut Jawa). Dari luas tersebut sebagian besar (116.838 hektar atau 58,39%) berupa persawahan; selebihnya (83.267 hektar atau 41,61%) berupa pekarangan. Sedangkan, suhu udara yang menyelimutinya berkisar antara 25--31 Celsius. Sementara, curah hujannya rata-rata 2.500 Milimeter pertahun. Desa ini dilalui oleh saluran sekunder Kaliwadas yang membentang dari arah selatan ke utara. Saluran ini sangat berperan dalam kehidupan masyarakat Desa Sarwodadi, khususnya bagi petani.

Administrasi Pemerintahan dan Kependudukan
Sebagai satuan wilayah yang bernama desa, Sarwodadi dipimpin oleh seorang kepala desa (kades). Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat menyebut dan atau menyapanya sebagai lurah (bukan kades). Jabatan lurah bukan didasarkan atas penunjukkan atau penempatan pejabat di atasnya (camat atau bupati), tetapi melalui pemilihan warganya yang oleh masyarakat setempat disebut “kodrah”.

Tugas seorang lurah pada dasarnya adalah ngayomi warganya agar kehidupannya aman, tenteram, damai, maju, dan sejahtera. Untuk mewujudkan kehidupan yang demikian, lurah dibantu oleh jajarannya yang terdiri atas: carik (sekretaris desa), kepala urusan pemerintahan, bau (kepala urusan pembangunan), kepala urusan kesejahteraan rakyat, kepala urusan umum, dan kepala urusan keuangan. Lurah beserta stafnya bukan termasuk Pegawai Negeri Sipil (PNS). Oleh karena itu, mereka tidak digaji oleh pemerintah. Namun demikian, mereka memperoleh tanah garapan (sawah) milik desa yang oleh masyarakat setempat disebut bengkok. Oleh karena bengkok merupakan tanah (sawah) milik desa, maka ketika seseorang tidak menjadi perangkat desa lagi, tanah tersebut dikembalikan kepada desa untuk diserahkan kepada penggantinya.

Selain perangkat-perangkat desa sebagaimana disebutkan di atas, juga ada perangkat-perangkat yang membawahi wilayah pedukuhan. Desa Sarwodadi terbagi dalam 3 wilayah pedukuhan, yakni: (1) Kasowetan, (2) Kasokulon, dan (3) Bengkelung. Masing-masing dukuh membawahi 2 dusun. Dukuh Kasowetan membawadi Dusun I dan II (RT 1—13); Dukuh Karokulon membawahi Dusun III dan IV (RT 14—26); dan Dukuh Bengkelung membawahi Dusun V dan VI (RT 27—33). Jadi, Desa Sarwodadi terdiri atas 3 pedukuhan, 6 dusun (RW), dan 33 RT.

Penduduk Desa Sarwodadi berjumlah 5.471 jiwa dengan rincian 2.780 jiwa (50,10%) laki-laki dan 2.691 jiwa (49,90%) perempuan. Daerah permukiman mereka berada di bagian barat-laut desa. Bagian lainnya (timur dan selatan desa) diperuntukan sebagai persawahan. Areal yang diperuntukkan bagi persawahan, sebagaimana telah disinggung, merupakan bagian terbesar dari penggunaan tanah yang ada di Desa Sarwodadi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sebagian penduduknya bekerja di sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik maupun buruh tani.

Berdasarkan monografi Desa Sarwodadi tahun 2012 tercatat bahwa penduduk yang bekerja secara keseluruhan berjumlah 3.639 jiwa. Selebihnya, yaitu 1.832 jiwa belum bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Mereka terdiri atas anak-anak balita dan usia sekolah. Penduduk Desa Sarwodadi yang bekerja di sektor pertanian persentasinya lebih besar dibandingkan dengan penduduk yang bekerja di sektor lain. Penduduk yang bekerja sebagai buruh tani saja jumlahnya mencapai 1.896 orang atau 52,0%. Apalagi, jika ditambahkan dengan petani pemilik yang jumlahnya mencapai 728 orang atau 20,1%, maka secara keseluruhan penduduk yang bekerja di sektor pertanian jumlahnya mencapai 2.624 orang atau 72,1%). Adapun pertanian yang mereka usahakan adalah sawah dengan sistem irigasi.

Penduduk Desa Sarwodadi sebagian besar (1761 orang atau 4420%) hanya berpendidikan SD/sederajat. Penduduk yang bependidikan SLTP/sederajat juga jumlahnya relatif besar, yaitu mencapai 1.315 orang atau 33,00%. Kemudian, penduduk yang berpendidikan SLTA/sederajat berjumlah 827 orang (20,76%). Hanya sebagian kecil yang berpendidikan S1 (32 orang atau 0,80%) dan S2 (12 orang atau 0,30%). Ini artinya tingkat pendidikan masyarakat Desa Sarwodadi dapat dikatakan rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Desa Sarwodadi adalah ekonomi. Sebab, untuk mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SLTA dan Perguruan Tinggi) mereka harus keluar dari desanya, yang tentunya membutuhkan dana relatif banyak. Oleh karena itu, penduduk yang berpendidikan tinggi jumlahnya hanya puluhan orang.

Latar Belakang Sosial-budaya
1. Bahasa
Secara etnik masyarakat Desa Sarwodadi adalah Jawa. Walaupun pada hakekatnya sama, yaitu sama-sama pendukung budaya Jawa, namun faktor geografis pada gilirannya membuat budaya mereka berbeda dengan budaya Jawa yang ada di pusatnya (Yogyakarta dan Surakarta), khususnya dalam segi bahasa. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Desa Sarwodadi memang bahasa Jawa, namun demikian dialeknya berbeda. Jika orang Yogyakarta dan Surakarta dalam beberapa kata yang diakhiri dengan huruf “k” pengucapannya tidak sejelas orang Sarwodadi yang berada di Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Oleh karena itu, orang Pemalang, termasuk orang Sarwodadi, sering disebut sebagai “wong ngapak” karena dialek yang digunakan termasuk dalam kategori “Banyumasan”1. Selain dialek, juga ada perbedaan-perbedaan nama suatu benda dan atau sikap dan tingkah laku. Sebagai contoh, apa yang disebut orang Yogyakarta sebagai “tape”, orang Sarwodadi menyebutnya “kenyas”. Kemudian, apa yang disebut orang Yogyakarta sebagai “ndhableg”, orang Sarwodadi menyebutnya “mblekesunu”, dan masih banyak lagi istilah-istilah yang berbeda penyebutannya, baik itu benda maupun kerabat.

2. Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Desa Sarwodadi semuanya beragama Islam. Setiap pedukuhan memiliki langgar (tempat peribadatan) tersendiri. Selain langgar yang tersebar di setiap pedukuhan, desa memiliki sebuah masjid yang tidak hanya digunakan untuk melakukan sholat lima waktu dan jumatan (sholat Jumat) juga pengajian dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam rangka memperingati hari-hari besar agama Islam, muludan, Nuzulul Quran, Isra Mi'rojd, dan sebagainya.

Meskipun masyarakat Desa Sarwodadi semuanya menganut agama Islam, namun dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya mereka masih mempercayai adanya mahkluk-makhluk halus yang menempati tempat-tempat tertentu, seperti: sumur mati, sawah, dan pesisir laut. Konon, di daerah Sigeseng (pesisir) ada kerajaan makhluk halus. Di daerah tersebut pernah ada kapal yang terdampar karena nahkodanya mengira pelabuhan. Oleh karena itu, para orang tua berpesan kepada anak-anaknya agar tidak mendekati tempat itu. Kalaupun sampai di tempat itu jangan mengambil sesuatu yang bukan menjadi miliknya. Sebab, pernah ada kejadian ada orang yang “iseng” (mengambil sesuatu), lalu jatuh sakit. Untung ada orang “tua” yang menyarankan agar apa yang diambilnya dikembalikan. Setelah dikembalikan, maka yang bersangkutan sembuh seperti sediakala. (Sindu Galba)

Keraton Kaibon

Di Kabupaten Serang, tepatnya di kawasan Banten Lama terdapat sebuah benda cagar budaya berupa reruntuhan bangunan bekas keraton. Lokasinya berada di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Keraton yang merupakan salah satu saksi kejayaan Kerajaan Banten Lama ini dibangun sekitar tahun 1815 saat Sultan Syafiudin memegang tampuk pemerintahan. Tujuannya adalah sebagai tempat tinggal Sang Ibu, Ratu Aisyah.

Sesuai dengan tujuannya, maka keraton diberi nama sebagai Kaibon yang dapat diartikan sebagai keibuan atau sesuatu yang bersifat seperti seorang ibu (lemah lembut dan penuh kasih sayang). Letak keraton menghadap arah barat dengan sebuah kanal di bagian depannya berfungsi sebagai prasarana transportasi menuju pusat pemerintahan di Keraton Surosowan yang berada di bagian utara.

Namun, kejayaan Keraton Kaibon tidaklah lama karena pada tahun 1832 dihancurkan oleh Belanda yang dipimpin oleh Guberbur VOC saat itu Herman Willem Daendels. Adapun sebabnya adalah keinginan Deandles untuk meneruskan pembangunan jalan raya Anyer-Panarukan yang ditolak oleh Sultan Syaifudin. Penolakan Sang Sultan tadi ditunjukkan dengan cara yang ekstrim yaitu mengembalikan utusan Deandles bernama Du Puy dalam bentuk kepalanya saja (tanpa anggota tubuh lain).

Saat ini yang tersisa dari Keraton Kaibon hanyalah puing-puing bangunan yang sudah tidak utuh lagi yang tersebar dalam area seluas sekitar empat hektar. Sisa-sisa bangunan tersebut diantaranya adalah: (1) bagian depan keraton terdapat lima buah gerbang bersayap bergaya Jawa-Bali berbentuk bentar dengan tinggi sekitar dua meter. Salah satu gerbang terdapat pintu paduraksa menuju ruang utama; (2) ruang utama yang diduga sebagai kamar Ratu Aisyah berbentuk persegi empat dengan bagian dasar lebih rendah dari tanah yang diduga pula sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air; dan (3) sebuah bangunan menyerupai masjid di sisi kanan gerbang lengkap dengan pilar dan mimbar.










Haji Rijan

Haji Rijan adalah tokoh pejuang perintis kemerdekaan (1945-1949) yang lahir di Bekasi sekitar tahun 1875. Sebagai perintis kemerdekaan, namanya kerap disebut oleh para pelaku dan saksi sejarah pada masa Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, perang kemerdekaan, hingga awal demokrasi liberal. Sementara menurut anaknya sendiri (Marzuki Hidayat) yang dikutip oleh Anwar (2017), Sang ayah selalu diidentikkan sebagai penggelora semangat juang rakyat. Haji Rijan dipandang sebagai pemimpin kharismatis, guru mengaji yang disegani, dan tempat bertanya para pemuda pejuang.

Predikat sebagai penggelora semangat juang rakyat disebabkan karena pada periode 1930-1950an Haji Rijan kerap hadir dalam segenap perjuangan melawan penjajah. Pada masa Hindia Belanda misalnya, beliau masuk dalam jajaran pimpinan Sarekat Islam Bekasi. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), aktif di organisasi AAA atau Jepang pemimpin Asia, Jepang cahaya Asia, dan Jepang pelindung Asia.

Bahkan saat awal kemerdekaan, tokoh karismatis ini masih ikut mengayomi dan menggelorakan semangat para pejuang muda untuk ikut bertempur membela tanah air. Dia menjadikan rumahnya sebagai markas pasukan Pelopor dan Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) yang dipimpin oleh Sang anak, M. Husein Kamaly. Selain itu, dalam arsip Badan Keamanan Rakyat (BKR) Keresidenan Jakarta yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, nama Haji Rijan pun juga disebutkan.

Arsip bernomor 47/BKR bertanggal 9 November 1945 itu berisi laporan Pemimpin BKR Keresidenan Jakarta, R. Soeriodipoetra kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Dalam lamporannya R. Soeriodipoetra juga melampirkan hasil laporan Tarmidji (salah seorang anggota BKR bagian penyidikan) sejumlah tiga halaman. Sebagian besar isi laporan Tarmidji sebagian besar berisi pertemuan dengan Haji Rijan di rumahnya di daerah Kranji.

Ada semacam tanya jawab dengan Haji Rijan dalam laporan Tarmidji. Dia menceritakan Haji Rijan menyambut dengan gembira dan sekaligus memujinya sebagai anak muda yang bisa menyatukan para haji di Bidara Cina dengan para haji lain untuk mendirikan Madrasatul Islamiyah, yaitu Haji Joenoes, KH. M. Moentaha S., Abdoelkadir bin Mohammad Alhaded, dan Ir. Safwan. Beliau bangga sekaligus heran melihat anak-anak muda seperti Tarmidji berani bertaruh nyawa demi mempertahankan kemerdekaan. Sebaliknya, Tarmidji juga memuji karena walau telah berusia lanjut, Haji Rijan masih bersedia menjadi pemimpin pasukan rakyat berjuang membela agama Islam sekaligus menghancurkan perintang-perintang Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu NICA dan para kaki tangannya.

Dalam kesempatan itu Haji Rijan berharap agar Tarmidji dapat mempertemukannya dengan Ir. Safwan. Namun Haji Rijan tidak menguraikan ciri-ciri fisik atau profil Ir. Safwan secara gamblang. Dia hanya mengatakan bahwa Ir. Safwan adalah seorang pejuang yang berintelegensia tinggi serta seorang sangat taat dalam beragama. Hal ini tentu saja membuat Tarmidji bingun dan hanya dapat berkata akan berusaha mencari tanpa memberi jaminan akan bertemu dengan Ir. Safwan.

Ketokohan Haji Rijan bukan hanya tercatat dalam arsip nasional Republik Indonesia saja, melainkan juga dalam ingatan kolektif para murid, kerabat, serta masyarakat di sekitarnya. Damanhuri Husein misalnya, salah seorang cucu Haji Rijan membenarkan kalau termasuk salah satu pemimpin yang dimusuhi oleh para tuan tanah dan diincar oleh Belanda. Pasalnya, banyak “aksi” beliau yang meresahkan mereka. Salah satunya, ketika para pemuda menggelar rapat raksasa di Ikada pada 19 September 1945, Haji Rijan memimpin rombongan pemuda Bekasi yang berangkat dari rumahnya di Kranji yang dijadikan sebagai markas pejuang. Pada awal revolusi, rumah ini pernah dilempari sebuah mortir namun hanya mengenai pohon yang ada di bagian pekarangannya.

Sebagai catatan, Haji Rijan menikah dengan seorang perempuan bernama Kisah. Dari hasil pernikahan tersebut mereka dikaruniai tujuh orang anak, yaitu: Muhammad, Saabah, Sauwih, Riah, Eno, Amsani, dan Muhammad Husein Kamaly. Muhammad dan Muhammad Husein Kamaly mengikuti jejak Sang Ayah. Muhammad menjabat sebagai detasement comandan atau komandan polisi pertama di Bekasi, sedangkan Muhammad Husein Kamaly, selain ketua BBRI juga merangkap sebagai ketua DPRD Kabupaten Bekasi periode 1956-1960.

Haji Rijan sendiri wafat pada 23 September 1957 dalam usia 82 tahun. Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Mushala Al-Ikhlas, Gang Swadaya, Jalan Banteng, Kampung Kranji Besar, Kota Bekasi. Di dekat pusaranya terdapat sebuah replika bambu runcing berbendera Merah-Putih yang disematkan oleh Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) terhadap sebagai pengakuan terhadap segala jasa yang telah diberikan pada bangsa dan negara.

Siluq

(Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Timur)

Alkisah, dahulu di hulu Sungai Mahakam ada sebuah pohon besar yang dibawahnya tinggal tiga orang bersaudara. Mereka adalah Siluq (perempuan) serta dua orang adik laki-lakinya bernama Sayus dan Songo. Ketiganya memiliki kekhasan masing-masing. Silqu memiliki hobi berbelian dan bedewaan atau mencari ilmu kesaktian guna mengobati penyakit. Dia terkadang lupa makan dan tidur karena asyik mempelajari ilmunya. Sang adik, Sayus, bernyali besar serta memiliki tubuh yang dapat dibesar-kecilkan. Apabila tubuh sedang dalam keadaan besar pepohonan dapat dicabutnya dengan mudah. Sebaliknya, bila sedang mengecil dapat menyerupai tubuh seorang kanak-kanak berusia sembilan tahun. Sayus memiliki sifat kurang bijak dengan sering mencampuri orang lain serta jika bertindak kurang memikirkan akibatnya. Sedangkan sang adik, Songo, tidak memiliki keahlian apa pun selain tidur. Dia tidak memiliki kemauan untuk bekerja dan hanya bergerak jika diperintah walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Suatu hari, terjadilah hujan lebat semalam suntuk hingga ketiga bersaudara tadi tidak dapat tidur karena pondok mereka yang beratap dedaunan bocor. Esok harinya, Sayus bergegas hendak mencari daun serdang guna memperbaiki rumah serta memeriksa jerat yang dipasang di tengah hutan. Sebelum pergi dia mendatangi Siluq dan berpesan agar dia memasak. Siluq yang tengah khusuk bebelian tentu saja kaget mendengar suara Sayus yang menggelegar. Bahkan dia sampai kesal karena usaha bebelian yang telah dilakukan semalam suntuk harus diulang kembali gara-gara terganggu suara Sayus.

Namun, sebagai kakak yang menggantikan peran orang tua dia mahfum apa yang dikehendaki oleh Sayus. Tanpa banyak bicara Siluq menuju dapur. Ketika anak menanak nasi ternyata persediaan beras telah habis. Apabila dia meminta Sayus membeli beras tentu akan menolak karena sudah berniat mencari daun serdang. Sedangkan, bila menyuruh Songo tentu beras yang dibeli tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu, Siluq coba mempraktekkan ilmu beliannya guna mendapatkan beras secara gaib.

Hal pertama yang dilakukan adalah mengambil tujuh helain daun padi, dibersihkan dengan air, lalu dimasukkan dalam periuk. Kemudian dia mendatangi Sayus dan berpesan agar jangan sekali pun membuka tudung periuk yang sedang digunakan menanak. Apabila dia belum kembali dari mencuci serta menjemur tikar di tepian sungai, hendaklah Sayus menjaga agar apinya tetap menyala dengan selalu menambahkan kayu bakar.

Selesai berkata demikian Siluq menuju tepi sungai, sementara Sayus menuju hutan mencari daun serdang serta memeriksa jerat. Sampai di hutan Sayus mendapati seekor babi jantan besar terjerat perangkap. Secepat kilat babi itu dipukul hingga tewas lalu diikat menjadi satu dengan daun serdang untuk diangkut ke rumah.

Tiba di rumah, babi serta daun diletakkan begitu saja di pelataran. Sayus langsung menuju dapur hendak memeriksa apakah makanan sudah tersaji atau belum. Namun yang dilihat hanyalah pengukus bertudung dengan bara api yang menyala di bawahnya. Sebenarnya Sayus tahu kalau tudung tidak boleh diangkat atau dibuka, tetapi karena sifatnya yang sembrono tetap saja dilakukannya. Walhasil, belian Siluq tidak sepenuhnya berhasil karena daun padi hanya setengahnya saja yang berhasil menjadi nasi.

Siluq yang kebetulan telah pulang tentu saja menjadi marah besar. Akibat perbuatan Sayus, Siluq telah melanggar tuhing (pantangan) besar bagi seorang balian. Dia tidak lagi dapat mengubah daun padi menjadi bulir beras secara ajaib. Akibatnya jelas, mereka harus membeli atau menanam padi untuk mendapatkan beras sebagai makanan pokok. Hal ini akan membutuhkan tenaga dan waktu antara tiga hingga enam bulan dalam sekali panen.

Akibat lain dari pelanggaran tuhing adalah akan timbul bencana apabila adik-beradik ini tetap berkumpul. Oleh karena itu, Siluq mengatakan bahwa mereka harus berpisah dan hidup sendiri-sendiri. Dia memilih untuk tinggal di dekat sumber air dengan tujuan agar dapat lebih fokus dalam bebelian dan bedewa tanpa ada yang mengganggu.

Selanjutnya, tanpa mengindahkan rengekan Sayus dan Songo dibungkuslah pakaian serta dibawanya ayam jantan kesayangan yang berada di belakang dapur lalu berjalan cepat keluar rumah. Ketika berada di pelataran tapeh-silaqnya (sarung) tersangkut ranting daun serdang dan kaki babi hutan hasil buruan Sayus hingga robek. Siluq menjadi lebih marah dan disepaknya tubuh babi hutan itu hingga jatuh ke tanah. Anehnya, babi dan daun serdang kemudian bersatu hidup kembali menjelma menjadi seekor binatang menyerupai kerbau yang bertaring di bagian moncongnya.

Siluq menjadi ketakutan setengah mati dan berlari tunggang langgang menuju rakit yang ditambatkan di tepi sungai. Walau saat itu air sedang banjir dia tetap mengayuh rakitnya mengikuti arus Air. Sayus yang melihat sang kakak pergi mencoba mencegah dengan berlari menyusuri tepi sungai.

Saat berada di depan Siluq, Sayus melemparkan bebatuan besar guna membendung sungai. Namun, ketika Siluq mendekat tiba-tiba sang ayam berkokok misterius yang membuat bendungan hancur dan rakit kembali melaju. Melihat hal itu Sayus menjadi marah dan mencoba membuat bendungan baru tetapi lagi-lagi hancur akibat kokokan ayam Siluq. Begitu seterusnya hingga Siluq hampir mencapai muara dan Sayus tidak dapat membuat bendungan lagi karena keterbatasan bebatuan serta sungai yang semakin lebar.

Tidak putus asa usahanya selalu gagal, Sayus mencoba siasat baru dengan membuat kuala. Dikumpulkanlah lumpur dari tepian sungai lalu bagian atasnya ditanam pepohonan nipah sehingga terlihat menyerupai hutan nipah. Siasat ini ternyata juga tidak berhasil. Kokokan ayam Siluq membuat kuala terbelah yang konon sekarang menjadi Kuala Bayur, Kuala Berau dan delta-delata di Kuala Mahakam.

Siluq yang tidak dapat ditahan lagi berteriak pada Sayus bahwa dia pantang menarik ucapannya. Namun dia tidak akan meninggalkan Sayus dan Songo begitu saja. Suatu saat nanti, apabila ada kawanan burung kangkaput ramai berbunyi, maka itu merupakan tanda kedatangannya. Saat dia datang, maka pertanda musim panen padi dan jagung pun akan tiba sehingga Sayus dan Songo tidak akan kelaparan. Suara Siluq kemudian menghilang siring rakit yang memasuki laut lepas dan akhirnya hilang dari pandangan mata.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Naga Sabang dan Raksasa Seulawah

(Cerita Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam)

Alkisah, pada zaman dahulu Andalas masih berbentuk dua buah pulau (barat-timur) yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit yang dihuni oleh seekor naga besar bernama Sabang. Pulau bagian timur dikuasai oleh Kerajaan Daru dengan rajanya bernama Sultan Daru, sementara pulau bagian barat oleh Kerajaan Alam dengan rajanya bernama Sultan Alam. Kedua sultan mempunyai sifat bertolak belakang. Sultan Alam adalah raja yang adil dan bijaksana sehingga rakyat di wilayah kerajaannya menjadi maju, makmur, dan sejahtera. Sebaliknya, Sultan Daru adalah seorang kejam yang lalim pada rakyat sendiri serta serakah alias tamak dan tidak puas dengan apa yang telah dimiliki. Dia tidak segan-segan memerintahkan prajuritnya merompak perahu-perahu saudagar hanya untuk mendapatkan harta mereka. Bahkan, untuk memperluas daerah kekuasaan, berkali-kali dia berusaha menyerang Kerajaan Alam namun selalu gagal karena harus berhadapan dengan Naga Sabang yang menguasai selat.

Suatu hari, Sultan Daru memanggil penasihat kerajaan guna mencari orang sakti yang mampu mengalahkan Naga Sabang sehingga dia dapat menyerang Kerajaan Alam. Sang penasihat terkejut mendengar perintah Sultan Daru dan menjelaskan bahwa Naga Sabang adalah penyangga sekaligus perawat pulau yang apabila dibunuh dapat membuat selat menghilang dan kedua pulau menyatu.

Penjelasan dari penasihat tadi rupanya tidak diindahkan. Sultan Daru tetap memintanya mencari siapa saja yang mampu menaklukkan Naga Sabang. Oleh karena itu, Sang penasihat terpaksa memberitahu bahwa ada dua orang raksasa sangat sakti bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Dia menganggap kedua raksasa tadi mampu mengalahkan Naga Sabang karena ukuran mereka yang relatif sama.

Penjelasan Sang Penasihat langsung di “follow up” oleh Sultan Daru dengan memerintahkan beberapa orang pengawal memanggil Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Setelah datang Sultan Daru membujuk mereka agar mau membunuh Naga Sabang dengan iming-iming imbalan sejumlah uang dan harta benda lainnya. Ketika mereka setuju, dikirimlah seorang utusan lagi menemui Naga Sabang menyampaikan tantangan bertarung melawan Seulawah Agam dan Seulawah Inong.

Naga Sabang tidak langsung menyambut tantangan tersebut. Dia meminta waktu selama beberapa hari untuk menjawabnya. Sebelum waktu yang diminta habis, Naga Sabang sempat menceritakan tantangan Seulawah Agam dan Seulawah Inong kepada Sultan Alam. Di hadapan Sultan dia menyatakan bahwa kedua raksasa itu sangatlah sakti dan mustahil dikalahkan. Sang Naga berpesan apabila nanti dia bertarung dan mati, rakyat Kerajaan Alam harus segera melarikan diri ke dataran tinggi. Sebab, bumi akan berguncang keras akibat bersatunya kedua pulau yang kemudian diikuti oleh surutnya air laut. Tidak lama setelah air laut surut datang gelombang sangat besar yang akan menyapu daratan.

Singkat cerita, tantangan pun disetujui. Pada hari yang telah ditentukan mereka bertarung disaksikan oleh seluruh penduduk Kerajaan Daru dan Alam. Dan benar saja, hanya dalam waktu tidak terlalu lama Naga Sabang dapat ditaklukkan. Seulawah Inong berhasil menebaskan pedangnya ke arah leher Sang Naga, sementara Seulawah Agam mengangkat dan melemparkannya ke laut lepas.

Sejurus setelah Naga Sabang mati, kedua pulau bergerak saling mendekat dan akhirnya berbenturan sehingga menimbulkan gempa hebat selama beberapa saat. Usai gempa air laut tiba-tiba menyurut dan ribuan ikan mulai menggelepar di sepanjang bibir pantai. Penduduk Kerajaan Daru yang tidak mendapat pesan Naga Sabang segera berebut menangkap ikan-ikan tersebut. Sementara rakyat Kerajaan Alam secara berbondong-bondong berlari menuju dataran tinggi.

Ketika penduduk Kerajaan Daru sedang asyik menangkap dan memasukkan ikan dalam wadah-wadah seadanya dari arah laut lepas tiba-tiba muncul gelombang sangat besar dengan kecepatan tinggi. Mereka langsung dihantam gelombang tanpa dapat menyelamatkan diri. Bahkan, gelombang itu juga menyapu seluruh rumah beserta hewan-hewan ternak sehingga Kerajaan Daru luluh lantak dan hampir tanpa bekas. Sedangkan penduduk Kerajaan Alam berhasil selamat karena berada di daerah yang tidak dapat dijangkau gelombang.

Setelah surut, dibawah komando Sultan Alam mereka kembali ke kerajaan yang juga hancur lebur diterjang gelombang. Sultan yang wilayah kekuasaannya menjadi luas kemudian memerintah sebagian rakyatnya membangun kerajaan baru di lokasi Naga Sabang bertarung. Ketika selesai kota diberi nama Koeta Radja dan pantai tepat naga tergeletak dinamakan Ulee Leue atau kepala ular. Selain itu, ada pula tempat lain yang diberi nama baru, yaitu Seulawah Agam dan Seulawah Inong sesuai dengan lokasi kedua raksasa Seulawah terkubur lumpur. Sedangkan lokasi terlemparnya Naga Sabang yang kemudian menjadi sebuah pulau dinamakan Weh sesuai dengan teriakan Seulawah Agam ketika melemparkan tubuh Naga Sabang ke tengah laut.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Putri Kemang

(Cerita Rakyat Daerah Bengkulu)

Di kalangan orang Serawai ada sebuah cerita berjudul Putri Kemang. Sang Putri dikisahkan memiliki sifat seperti seorang laki-laki. Hobinya berburu dan memancing ikan di sungai-sungai yang berada jauh di dalam hutan. Hal ini tentu tidak sesuai dengan statusnya sebagai putri seorang raja yang umumnya dituntut harus tampil anggun dan lemah lembut di hadapan orang banyak.

Sifat kelaki-lakian Sang putri justru membuat Baginda Raja senang. Dia bahkan mendidik layaknya seorang prajurit dengan berlatih pedang, memanah, serta menombak. Walhasil, Sang Putri pun tumbuh menjadi seorang perempuan yang mandiri, kuat, pantang menyerah, dan bermental baja.

Suatu hari dia ingin berburu rusa. Berbekal sebilah pedang, sebatang tombak, dan seekor anjing buru dia masuk ke hutan saat matahari mulai bersinar. Namun karena binatang yang dicari sulit ditemukan, area perburuan pun semakin jauh ke tengah hutan melewati rimbunan pepohonan, perbukitan, dan bahkan menyeberangi sungai-sungai besar. Baru menjelang petang dia berjumpa dengan seekor binatang besar dengan tanda belang di kakinya. Binatang tadi lalu dipanah tetapi meleset dan malah melarikan diri hingga dia harus bersusah payah mengejarnya.

Setelah sekian lama berkejaran, tiba-tiba si binatang berhenti di dekat sebatang pohon kemang berukuran besar. Ketika didekati dan akan ditombak ada sebuah suara yang mengatakan agar tidak membunuhnya karena binatang itu adalah harimau penjaga hutan. Sang suara bukanlah berasal dari manusia melainkan pohon kemang tempat si harimau berhenti berlari.

Walau bingung sekaligus penasaran dengan apa yang didengar, Sang putri tetap melanjutkan niat membunuhnya. Pikirnya, daripada mencari binatang lain lebih baik memburu apa yang sudah ada di depan mata. Oleh karena itu, dia lalu memanjat pohon kemang tadi untuk membidik si harimau. Sejurus kemudian, melesatlah sebuah anak panah tepat mengenai jantung si harimau hingga mati seketika.

Namun, ketika akan dikuliti tiba-tiba saja terjadi suatu keanehan. Pohon kemang yang tadi berbicara secara ajaib beralih wujud menjadi seorang pemuda gagah dan tampan. Dia lalu mendekati Sang putri dan mengatakan hal yang sama sewaktu masih berwujud sebatang pohon. Sang putri tidak mengindahkan perkataan pemuda tadi dan bahkan malah mengajaknya ikut berburu.

Sebagai mahkluk penunggu hutan tentu dia tidak dapat pergi begitu saja karena terikat wujud dan lokasi dimana dia berada. Sementara untuk beralih wujud menjadi manusia terlebih dahulu dia harus meubah lingkungan yang dijaganya menjadi sebuah negeri beserta sekumpulan orang di dalamnya. Oleh karena itu, dia tidak dapat menemani Sang Putri mencari pergi ke wilayah lain untuk berburu binatang.

Sang Putri hanya mengangguk-angguk sambil tetap menguliti harimau yang baru saja dipanahnya. Selesai menguliti, dia bergegas pergi. Di lain tempat, dia bertemu seekor kucing hutan. Sang anjing yang mengendus keberadaannya segera berlari mengejar. Namun, secara ajaib kucing hutan tadi membesar hingga belasan kali lipat dari pengejarnya. Akibatnya, anjing Sang Putri balik dikejar, diterkam, dan langsung menjadi santapan.

Melihat kejadian itu tahulah Sang Putri bahwa telah memasuki wilayah terlarang yang biasa dihuni para siluman. Dia kemudian memutuskan mengakhiri perburuan dan kembali ke kerajaan. Agar cepat sampai, dalam perjalanan pulang dia mengambil rute terdekat dengan menyeberang sungai. Tetapi ketika akan menyeberang, datanglah sekumpulan buaya lapar dengan jumlah puluhan ekor. Salah seekor di antaranya kemudian mendekat dan berkata akan memangsa Sang Putri.

Tidak gentar terhadap ancaman buaya, Sang putri menggunakan “siasat Si kancil” dengan mengatakan bahwa tubuhnya cukup untuk seluruh buaya yang ada di sungai itu. Selanjutnya, dia menyuruh para buaya berbaris hingga ke sebarang sungai agar seluruhnya mendapat bagian. Saat buaya berbaris, mulailah Sang Putri melompati mereka satu persatu. Ketika berada pada punggung buaya terakhir dia lalu melompat ke darat dan pergi begitu saja.

Tahun berikutnya Sang Putri kembali lagi ke tempat pertemuannya dengan Putra Kemang. Sesampai di lokasi yang dilihat bukanlah hutan belantara dengan pohon kemang besar sebagai pusatnya, melainkan sebuah negeri nan indah. Heran akan apa yang dilihat, dia bertanya pada salah satu penduduk di sana dan mendapat penjelasan bahwa negeri itu dahulu adalah kerajaan gaib diperintah oleh dewa yang dikutuk menjadi pohon kemang. Sang dewa baru akan terbebas dari kutukan dan menjadi manusia biasa apabila ada orang yang bisa berbicara dengannya.

Mendengar penjelasan tersebut tahulah Sang Putri bahwa pohon kemang yang dulu berbicara dengannya adalah seorang dewa. Oleh karena itu, dia bergegas menuju istana untuk berjumpa dengannya. Singkat cerita, mereka pun bertemu, saling jatuh hati, dan kemudian menikah. Adapun adat yang mereka pilih adalah semendo rajo-rajo atau adat menetap yang memberi kebebasan kedua pasangan untuk memilih tempat tinggal setelah menikah.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Legenda Bau Nyale

(Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat)

Alkisah, zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok ada sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Tonjang Beru, seorang arif dan bijaksana. Dalam kesehariannya Tojang Beru kerap membantu rakyat sehingga seantero negeri pun hidup makmur, aman, dan sentosa. Mereka tidak pernah khawatir menderita kelaparan karena Tojang Beru selalu memberi “subsidi” bagi orang-orang yang tidak mampu atau sedang mengalami kesulitan.

Tojang Beru sendiri memiliki seorang permaisuri nan anggun dan cantik jelita bernama Dewi Seranting. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Putri Mandalika. Sang putri mewarisi keanggunan dan kecantikan Permaisuri. Parasnya elok rupawan, mata laksana bintang di timur, pipi menyerupai pauh dilayang, dan rambut bagaikan mayang terurai. Sementara dari Sang ayah, dia mewarisi sifat arif dan bijaksana. Oleh kalangan istana dan rakyat kebanyakan dia terkenal ramah dan sopan serta memiliki tutur kata lembut dan santun.

Kemolekan Sang putri rupanya tersohor hingga ke seluruh pelosok Pulau Lombok. Para pangeran dari kerajaan lain (Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan Beru) menjadi penasaran dan ingin melihatnya. Banyak yang kemudian datang dan setelah berhasil melihat Putri Mandalika mereka menjadi mabuk kepayang dan berhasrat ingin mempersuntingnya. Sayang, mereka harus pulang dengan tangan hampa dan hanya bisa gigit jari. Putri Mandalika menolak seluruh pinangan.

Tetapi tidak seluruh pangeran mau “legowo”. Ada dua orang yang tidak bisa menerima kenyataan. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pangeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Ketika pulang lagi ke kerajaan masing-masing Pangeran Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar kembali dengan ancaman jika ditolak Kerajaan Tojang Beru akan dihancurkan. Sementara Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan ancaman serupa.

Ancaman kedua pangeran tadi tidak ditanggapi oleh Putri Mandalika. Dia tetap menolak dan malah mengusir Arya Bawal dan Arya Tebuik serta Arya Bumbang dan Arya Tuna. Mereka pulang dan melaporkan penolakan kedua dari Putri Mandalika. Pangeran Datu Teruna yang marah segera melepaskan ajian Senggeger Utusaning, sedangkan Pangeran Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Kedua ajian ini rupanya dapat mempengaruhi pikiran Putri Mandalika. Dia tidak dapat makan, telihat lesu, dan sulit tidur nyenyak sehingga beberapa waktu kemudian badan menjadi kurus kering layaknya orang sakit.

Melihat kondisi Sang putri yang kian hari kian merana, seisi negeri turut berduka. Sebagian dari mereka ada mencoba mengkaitkannya dengan lamaran-lamaran yang ditolak Sang Putri. Namun mereka tidak berani bertanya karena Putri Mandalika selalu menolak untuk bicara. Sang Raja dan Permaisuri juga tidak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat berdoa agar anak semata wayang dapat kembali seperti sedia kala.

Di dalam hati Putri Mandalika sendiri sebenarnya berkecamuk berbagai macam pemikiran. Salah satunya adalah jika waktu itu menjatuhkan pilihan pada salah seorang pangeran, kemungkinan akan menimbulkan malapetaka bagi negeri karena pangeran lain marah dan menyatakan perang. Untuk mengatasi kegundahan hati dan mencari jalan keluar dia lalu bersemedi memohon bantuan Yang Kuasa.

Dalam semedinya, Sang putri mendapat bisikan gaib agar mengundang seluruh pangeran yang melamarnya untuk bertemu tanggal 20 bulan 10 Sasak sebelum fajar menyingsing. Esok harinya, dia memerintah kurir kerajaan untuk menyampaikan undangan pada para pangeran. Mereka diminta datang bersama seluruh rakyatnya di sebuah tempat yang telah ditentukan, yaitu di Pantai Kuta. Adapun maksud dan tujuannya masih dirahasiakan dan baru akan diungkapkan setelah seluruh pangeran berkumpul.

Pada hari yang telah ditentukan, menjelang fajar menyingsing Putri Mandalika datang dengan diusung tandu berlapiskan emas. Tepat di belakang Sang Putri ada rombongan prajurit beserta penghuni istana. Mereka berjalan menuju sebuah onggokan batu besar yang membelakangi laut lepas. Selanjutnya, Sang putri turun dari tandu dan berjalan ke arah puncak onggokan batu. Saat berjalan tersebut, para hadirin hanya dapat terpana menyaksikan kecantikan dan kemolekan Putri Mandalika yang dibalut oleh gaun berbahan sutra.

Setelah berada di puncak batu, Sang Putri segera berucap lantang namun hikmat menyatakan bahwa dirinya bukanlah milik satu orang saja melainkan seluruh rakyat di Pulau Lombok. Pernyataan ini tentu saja membingungkan, terutama bagi para pangeran yang mendambakan cintanya. Mereka tidak mengerti apa maksud perkataan Putri Mandalika. Apakah artinya Sang putri tidak ingin dinikahi ataukah ada hal lain yang perlu diusahakan untuk mendapatkannya?

Saat hadirin bingung menerka-nerka, tanpa diduga Putri Mandalika menceburkan diri dan langsung ditelan gelombang laut. Orang-orang yang menyaksikan mengira kalau Sang Putri terpeleset hingga jatuh ke laut. Namun, setelah ditunggu sekian lama tidak ada tanda-tanda kemunculannya. Tidak lama kemudian, tepat di lokasi jatuh Sang Putri muncul ribuan binatang kecil yang oleh masyarakat setempat biasa disebut sebagai nyale. Nyale adalah sejenis cacing laut yang biasa disajikan sebagai salah satu menu makanan orang Lombok.

Kehadiran ribuan nyale tersebut oleh masyarakat dianggap sebagai jelmaan Putri Mandalika. Oleh karena itu, tahulah mereka apa maksud perkataan Putri Mandalika tentang dirinya yang akan menjadi milik semua orang. Mereka kemudian berlomba-lomba menangkapnya. Dan, seiring berjalannya waktu, proses penangkapan nyale menjadi sebuah tradisi yang dilaksanakan pada bulan dan tanggal tertentu.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Sadhu Amar Bharati

Sadhu atau sadu (साधु) adalah istilah bagi petapa yang dalam bahasa India berarti mulia, orang baik, atau orang suci. Sebagai sebuah jalan hidup, seseorang yang memilih menjadi sadhu akan melepaskan semua keterikatan dengan masyarakat, baik secara materi, keluarga, keinginan seksual, maupun segala hal yang bersifat duniawi lainnya (Tiarasari, 2018). Adapun tujuannya adalah untuk mendedikasikan hidup secara spiritual demi mencapai moksa, suatu jenjang kehidupan (caturasrama) yang keempat sekaligus yang terakhir menurut kepercayaan Hindu.

Masih menurut Tiarasari (2008), sadhu secara umum dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar, yaitu: Shaiva Sadhus dan Waisnava Sadhus. Waisnava Sadhus adalah sadhu yang mendedikasikan diri pada Dewa Wisnu, sedangkan Shaiva Sadhus pada Dewa Siwa. Kedua dewa tersebut adalah dua dari tiga dewa utama (Trimurti: Siwa, Brahma, Wisnu) dalam ajaran Hindu. Siwa atau yang bernama lain Jagatpati, Nilakantha, Paramêśwara, Rudra, dan Trinetra adalah dewa pelebur/pemusnah yang mengembalikan manusia dan makhluk hidup lain ke unsurnya menjadi Panca Maha Bhuta (id.wikipedia.org).

Dewa Siwa digambarkan bermata tiga (trinetra) dan bertangan empat yang masing-masing membawa tri wahyudi, cemara, tasbih/genitri, serta kendi. Pada bagian kepala terdapat hiasan ardha chandra (bulan sabit), bagian leher ada ular kobra yang sedang melilit, dan perut dililit ikat pinggang dari kulit harimau. Dewa yang menempati arah tengah dalam pangider Dewata Nawa Sanga ini bersenjatakan padma dengan kendaraan lembu Nandini.

Para sadhu yang mendedikasikan diri bagi dewa Siwa umumnya tampil dalam kesederhanaan dengan pakaian serba oranye safron atau kuning kunyit, rambut gimbal, dan wajah penuh polesan abu suci yang melambangkan kehidupan seorang petapa (sanyasin) sekaligus telah mengalami keterputusan dari hal-hal berbau duniawi. Mereka hidup dalam kemiskinan mutlak dan sepenuhnya bergantung pada kebaikan atau sumbangan orang (bangka.tribunnews.com).

Setiap sadhu membawa atribut masing-masing seperti corong trisula, pedang, tongkat, kerang, senjata dan alat musik yang mencerminkan status mereka. Selain itu, sebagai lambang dedikasi sebagian dari sadhu juga melakukan hal-hal ekstrem yang jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan oleh orang kebanyakan. Salah satunya adalah dengan mengangkat lengan selama bertahun-tahun seperti yang dilakukan oleh Amar Bharati.

Amar Bharati adalah orang kebanyakan pada umumnya yang memiliki istri, tiga orang anak, dan pekerjaan tetap (kejadiananeh.com). Namun, sebuah mimpi di sekitar tahun 1970 (yang dia anggap sebagai firasat gaib) membuat jalan hidupnya berubah total. Sejak mendapat firasat tersebut dia memutuskan menjadi seorang sadhu dan mengabdikan diri sepenuh hati kepada Dewa Siwa. Amar kemudian mulai melepaskan atributnya sebagai orang biasa dengan mengenakan pakaian sederhana sambil membawa trisula logam (trishula) kemana pun pergi. Dia juga membiarkan rambut tumbuh gondrong dan gimbal karena tidak pernah mandi lagi.

Sekitar tiga tahun menjalani hidup sebagai sadhu, Amar merasa tidak puas. Menurut Alicia (2018), Amar yakin dirinya masih diliputi oleh kemewahan.dan kesenangan duniawi yang hanya bersifat semu. Oleh karena itu, pada sekitar tahun 1973 dia membuat sebuah keputusan ekstrem untuk terus-menerus tanpa henti mengangkat lengan kanannya di atas kepala. Adapun tujuannya ada yang mengatakan sebagai upaya memisahkan diri dari kesenangan hidup sekaligus wujud pengabdian pada Dewa Siwa Dan, ada pula yang memperkirakan sebagai bentuk kekecewaan sekaligus protes Amar atas terjadinya peperangan dan konflik di dunia (Khoirul, 2018).

Pada masa-masa awal mengangkat lengan, Amar merasakan hal yang “luar biasa”. Mulai dari rasa pegal, kebas, hingga mati rasa karena peredaran darah tidak lancar pernah dialaminya. Namun, seiring berjalannya waktu rasa sakit tersebut hilang bersamaan dengan terhentinya perkembangan tulang beserta otot lengan Amar yang menciut dan kaku pada posisi semi-vertikal di atas kepala (tidak bisa digerakkan lagi).

Saat ini, hanya bagian kuku saja yang masih terus bertumbuh melengkung panjang. Meskipun demikian, di sisi lain Amar telah berhasil membuktikan keimanannya pada Dewa Siwa. Dia mampu melewati siksaan selama puluhan tahun agar dapat mencapai suatu pembebasan diri dari godaan duniawi. Berkat kegigihan dan keteguhan hati mengabdi pada Dewa Siwa, Amar berhasil menempati strata tinggi dalam masyarakatnya.

Sumber:
Alicia, Nesa. 2018. “Amar Bharati, Petapa India Mengangkat Lengan Kanannya Selama 45 Tahun”, diakses dari https://nationalgeographic.grid.id/read/13947159/amar-bharati-petapa-india-mengangkat-lengan-kanannya-selama-45-tahun?page=all, tanggal 10 Oktober 2019.

“Siwa”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Siwa, tanggal 10 Oktober 2019.

Tiarasari, Rizkianingtyas. 2018. “Mengenal Sadhu, Orang Paling Suci di India yang Tinggalkan Segala Hal Berbau Duniawi”, diakses dari https://travel.tribunnews.com/2018/07/23/mengenal-sadhu-orang-paling-suci-di-india-yang-tinggalkan-segala-hal-berbau-duniawi?page=3, tanggal 11 Oktober 2019.

“Mengenal Naga Sadhu, Petapa Sakti sekaligus Klan Paling Rahasia dan Misterius India”, diakses dari https://bangka.tribunnews.com/2018/08/07/mengenal-naga-sadhu-petapa-sakti-sekaligus-klan-paling-rahasia-dan-misterius-india?page=3, tanggal 12 Oktober 2019.

“Pertapa India Angkat Tangan selama 45 Tahun Demi Bhaktinya Kepada Dewa Siwa”, diakses dari https://www.kejadiananeh.com/2018/10/pertapa-india-angkat-tangan-selama-45-tahun.html, tanggal 12 Oktober 2019.

Khoirul, Afif. 2018. “Demi Mengabdikan Diri Pada Dewa Siwa Petapa India Ini Terus Mengangkat Lengannya Selama 43 Tahun”, diakses dari https://intisari.grid.id/read/03942614/demi-mengabdikan-diri-pada-dewa-siwa-petapa-india-ini-terus-mengangkat-lengannya-selama-43-tahun?page=2, tanggal 12 Oktober 2019.

Kalabu

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu ada sebuah daerah bernama Lobu yang berada di lereng gunung sebelah barat Palu. Desa ini dipimpin oleh seorang raja arif dan bijaksana sehingga rakyat dapat rukun dan damai. Dalam hidup keseharian, seluruh penduduk menggantungkan sepenuhnya pada tanah di sekitar lereng dengan bercocok tanam pertanian lahan kering alias berladang. Mereka tidak pernah kekuarangan makanan, kecuali bahan-bahan tertentu yang diambil dari laut seperti ikan dan garam.

Suatu hari, datanglah empat orang dari Tomene (Mandar) untuk berdagang garam. Mereka tidak hanya menerima uang sebagai imbalan atas garam yang diberikan, tetapi juga hasil pertanian ladang dan bahkan kain sarung hasil tenunan. Sebelum berdagang pada kalangan orang kebanyakan, tentu saja mereka menawarkan terlebih dahulu pada penguasa Lobu yang dalam hal ini adalah Raja Lobu.

Sang raja yang kebetulan sedang tidak mempunyai uang tetapi sangat membutuhkan garam kemudian menawarkan kain sarung terbuat dari kulit kayu sebagai barternya. Namun kain itu belumlah selesai ditetun. Salah seorang pedagang yang garamnya akan dibarterkan sempat terdiam sejenak. Setelah berpikir agak lama akhirnya Sang pedagang mensetujui dengan catatan raja harus menyelesaikan pengerjaan sarungnya. Sarung akan diambil saat dia datang lagi untuk berdagang.

Beberapa waktu setelahnya, istri Raja Lobu mengandung dan melahirkan seorang anak. Semenjak lahir sang anak tidak pernah berhenti menangis sehingga membuat kedua orang tua menjadi masygul karena khawatir akan terjadi hal-hal tidak diinginkan. Berbagai macam cara telah mereka lakukan, tetapi Sang bayi tetap saja menangis. Bahkan, Sang raja juga telah menitah salah seorang pembantunya mencari dukun-dukun sakti di sekitar kerajaan, namun tidak seorang pun dapat menghentikan tangis Sang bayi.

Oleh karena tangisan tak kunjung berhenti, lama-kelamaan kekhawatiran Sang ibu berubah menjadi kejengkelan. Semenjak bayi lahir, dia beserta seluruh isi rumah tidak dapat tidur nyenyak. Setiap saat selalu aja terdengar tangisan bayi yang terkadang sangat keras. Walhasil, karena telah habis akal dia pun geram dan menghardik Sang bayi dengan sebutan “nosonggo karatu pombalua” atau wadah terbuat dari tembaga yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan sebagai tempat menaruh bayi.

Tanpa disangka, hardikan Sang ibu tadi langsung membuat bayi terdiam. Namun, bersama terdiamnya Sang bayi, hujan turun dengan sangat lebat disertai guntur dan likat yang sambar-menyambar disertai tiupan angin kencang. Akibatnya, bukan hanya seisi rumah menjadi terjaga, melainkan juga seisi kampung. Mereka tidak menyangka akan datang cuaca buruk bukan di saat sedang musim penghujan.

Keesokan hari, setelah beredar “bisik-bisik tetangga”, barulah mereka sadar bahwa cuaca buruk tadi malam adalah akibat umpatan istri raja pada bayinya yang tidak mau berhenti menangis. Bahkan, akibat dari umpatan itu, kini sang bayi tidak lagi berada dalam tempat buaian melainkan di atas karatu pombalua yang secara ajaib tiba-tiba saja ada di sana. Karatu pombalua tadi bukanlah benda sembarangan. Sebab, setiap malam Jumat selalu memuntahkan benda-benda kecil menyerupai kalung.

Pedagang garam yang mendengar berita Raja Lobu memiliki sebuah benda ajaib, segera bergegas menemui. Saat bertemu, pedagang langsung menagih hutang atas garam yang telah diberikan. Namun, ketika kain sarung yang telah ditenun sempura diserahkan, pedagang dengan tegas menolak. Dia menginginkan karatu pombalua sebagai ganti garam yang telah diberikan.

Permintaan tersebut tentu saja ditolak Raja Lobu yang menganggap bahwa karatu pombalua telah menjadi benda pusaka kerajaan. Sebagai ganti, dia lalu menawarkan sejumlah babi yang berusia masih muda. Ketika mereka tetap menolak, dia menawarkan lagi sejumlah kerbau, kemudian domba, sepasang budak belian, hingga tawaran terakhir berupa tujuh pasang budak belian. Dan, karena tetap memaksa karatu pombalua diserahkan, Raja Lobu kemudian meminta waktu untuk memikirkannya. Sementara Raja Lobu berpikir, para pedagang dipersilahkan menjajakan dagangan di daerah lain.

Sepeninggal para pedagang garam, Raja Lobu segera mengumpulkan orang tua-tua di seantero kerajaan guna mencari jalan keluar agar karatu pombalua tidak beralih tangan. Hingga larut malam mereka saling bertukar pikiran dan baru menjelang subuh dicapailah kesepakatan untuk membuat kalabu. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, apabila kalabu dibuat maka seluruh manusia yang berada di sekitarnya akan musnah. Konsekuensi ini tetap ditempuh oleh Raja Lobu dan rakyatnya karena tidak rela menyerahkan karatu pombalua.

Pada hari yang telah disepakati diadakanlah sebuah pesta besar berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Seluruh penduduk desa beserta sejumlah tamu undangan (termasuk para pedagang garam dari Mandar) datang menghadiri pesta. Mereka bersuka-ria sambil menikmati berbagai macam hidangan mewah yang jarang ditemukan pada hari-hari biasa. Khusus bagi pedagang garam, mereka tidak tahu bahwa akan terjadi malapetaka apabila mereka tetap memaksa Raja Lobu menyerahkan karatu pombalua.

Esok harinya, saat pedagang garam datang, Raja Lobu segera memerintahkan bawahannya membuat kalabu beserta sebuah tulang kaki anjing dan kucing. Setelah selesai, diturunkanlah karatu pombalua di depan rumah lalu bagian bawahnya ditabuh menggunakan tulang kaki anjing dan kucing hingga mengeluarkan suara sangat merdu. Sang penabuh adalah tetua kampung yang biasa melaksanakan upacara adat, baik upacaraa lingkaran hidup individu maupun upacara adat lainnya.

Tidak lama kemudian, tanpa diduga-duga kerajaan itu lenyap berganti bebatuan besar yang muncul dari dalam tanah. Seluruh penduduk beserta harta benda mereka hilang tanpa bekas. Hanya ada seorang saja yang berhasil selamat, yaitu si bayi raja yang saat kejadian terlempar jauh hingga ke Desa Sibalaya, dekat Sungai Gumbasa.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Museum Perjuangan Bogor

Museum Perjuangan (Perdjoangan) Bogor berada di Jalam Merdeka Nomor 56, Kelurahan Cibogor, Kecamatan Bogor tengah, Kota Bogor. Sesuai dengan namanya, museum ini ditujukan untuk mewariskan semangat dan jiwa juang serta nilai-nilai perjuangan pada generasi muda dalam bentuk penyimpanan benda-benda bersejarah yang dipergunakan para pejuang Bogor dalam mempertahankan kemerdekaan (id.wikipedia.org). Adapun pendiriannya menurut disparbud.jabarprov.go.id berawal dari musyawarah para tokoh pejuang Karesidenan Bogor yang digagas oleh Mayor Ishak Djuarsah, Pekumil Daerah Res. Inf 8 Suryakancana Devisi III Siliwangi pada tanggal 10 November 1957 di rumah Bupati Bogor saat itu RE. Abdoellah.

Hasil musyawarah, disepakati untuk memanfaatkan sebuah bangunan di Jalan Cikeumeuh No. 20 (sekarang Jalan Merdeka) sebagai museum (Ariesmunandi, 2017). Bangunannya sendiri dahulu adalah milik seorang pengusaha Belanda bernama Wilhelm Gustaf Wissner yang dibangun sekitar tahun 1879. Oleh sang pemilik bangunan difungsikan sebagai gudang komoditas pertanian untuk dikirim ke Batavia sebelum diekspor ke berbagai negara di Benua Eropa.

Ketika Wissner kembali ke negaranya, tahun 1938 bangunan dialihfungsikan sebagai kantor perusahaan dan gedung persaudaraan Parindra (Partai Indonesia Raya) cabang Bogor dan kemudian diberi nama Gedung Persaudaraan. Pada masa pergerakan gedung sempat pula dimanfaatkan sebagai tempat aktivitas pemuda di bawah panji Gerakan Pemuda Kepanduan Indonesia (Pandu Suryawirawan). Saat Jepang berkuasa gedung menjadi tempat penyimpanan barang-barang sitaan milik interniran Belanda. Kemudan, antara tahun 1945-1950 secara silih berganti pernah menjadi Kantor Komite Nasional Indonesia, Kantor BP3, Markas Pejuang, Call Sigen RRI Perjuangan Karesidenan Bogor, GABSI Cabang Bogor, Kantor Dewan Perdjoangan Karesidenan Bogor, Kantor Pemerintah sementara Kabupaten Bogor dan markas Laskar Rakyat Bambu Runcing (situsbudaya.id). Selanjutnya, gedung dimiliki seorang pedagang keturunan Arab bernama Umar bin Usman Albawahab melalui surat Eigendom Verponding No. 4016. Oleh Umar gedung difungsikan sebagai balai pertemuan pemuda rakyat dan bahkan Sekolah Rakyat. Dan, baru tanggal 17 Maret 1958 diserahkan sepenuhnya kepada Yayasan Museum Perdjoangan Bogor melalui akta notaris J.L.L. Wonas di Bogor.

Sebagai catatan, yang diserahkan Albawahab adalah lahan seluas sekitar 650 meter persegi beserta sebuah bangunan di dalamnya dengan ukuran luas sekitar 515 meter persegi (situsbudaya.id). Ariesmunandi, 2017, mencatat bahwa bangunan yang kemudian dijadikan sebagai museum ini hingga tahun 1981 belum pernah mengalami renovasi. Bangunan baru direnovasi antara 18 September 1981 hingga Juni 1987 dengan dana sekitar 80 juta rupiah dari hasil penggalangan.

Koleksi Museum Perjuangan Bogor
Museum Perjuangan Bogor berada dalam sebuah bangunan berlantai dua berisi benda-benda bersejarah yang digunakan oleh para pejuang terutama pada masa revolusi fisik 1945. Lantai dasar berisi koleksi: senjata modern (pistol, senapan, granat, ranjau, senapan mesin, mortir dengan berbagai kaliber); senjata tradisional berupa bambu runcing yang pernah digunakan saat perang kemerdekaan; dokumen-dokumen; mata uang zaman VOC; lukisan; dan beberapa diorama yang menggambarkan pertempuran Bojong Kokosan, pertempuran di Kota Paris, pertempuran Maseng, pertempuran di Bantammer Weg (Jalan Kapten Muslihat) tahun 1945, dan pertempuran Ceplang 1945.

Sementara di lantai dua terdapat koleksi: senjata tradisional berupa golok, kujang; katana, pedang buatan Belanda dan lain sebagainya yang disimpan berjejer dalam lemari kaca; mesin ketik tua; pesawat telepon; mesin jahit; helmet; pakaian yang pernah dipakai para pejuang ketika berperang; peralatan stensil yang pernah digunakan membuat surat serta mencetak edaran bagi para pejuang; daftar nama para pejuang yang gugur; sejumlah bendera merah putih yang pernah diusung para pejuang pada zaman perang kemerdekaan; dan panggung teater guna memutar film-film tentang kemerdekaan.

Khusus untuk pakaian, ada beberapa diantaranya yang masih bernoda darah sebagai tanda pernah dikenakan ketika berperang melawan penjajah. Di antara pakaian-pakaian tersebut ada baju peninggalan TB Muslihat (gugur di Kota Bogor) yang terpajang di sudut kanan museum berdekatan dengan panggung teater dan seragam, helmet, serta tongkat Bupati Bogor periode 1950-1958, RE Abdullah. Selain itu, ada pula kain penutup jenazah berwarna merah-putih yang dahulu pernah digunakan PMI membalut jenazah pejuang yang gugur di medan perang.

Bagaimana? Anda tertarik mengunjungi Museum Perdjoangan Bogor guna menambah pengetahuan tentang sejarah perjuangan rakyat Bogor merebut dan mempertahankan kemerdekaan? Apabila berminat, museum yang mempunyai program bimbingan, pameran keliling, workshop, dan seminar ini buka setiap hari dari pukul 08.00-16.00 WIB dengan harga tiket masuk hanya sebesar Rp.3.000,-. Adapun fasilitas yang ada di museum, di antaranya: ruang pamer tetap, ruang auditorium, ruang diskusi publik, galeri merdeka, ruang penyimpanan koleksi, ruang administrasi, dan mushola.

Untuk mencapai lokasi pun tergolong mudah. Bila menggunakan kereta api, dari stasiun Bogor hanya berjarak sekitar 100 meter menjuju ke arah Jembatan Merah. Dan, bila dari terminal Baranangsiang dapat menggunakan angkutan kota nomor 03 berwarna merah dan dilanjut dengan nomor 01 menuju Jalan Merdeka. (gufron)

Sumber:
“Museum Perjuangan Bogor”, diakses dari http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=397&lang=id, tanggal 8 Oktober 2019.

“Museum Perjuangan Bogor”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Perjuangan_Bogor, tanggal 8 Oktober 2019.

Ariesmunandi. 2017. “Mengintip Sejarah di Museum Perjuangan Bogor”, diakses dari https://www.hipwee.com/list/mengintip-sejarah-di-museum-perjuangan-bogor/, tanggal 16 Oktober 2019.

“Museum Perjungan Bogor”, diakses dari https://situsbudaya.id/museum-perjuangan-bogor/, tanggal 16 Oktober 2019.










SDN Cibiru 08

Sa’duddin

Sa’duddin adalah Bupati Bekasi periode 2007-2012 dan anggota DPR-RI 2014-2019 mewakili Jawa Barat VII dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Sa’duddin adalah anak ke-5 dari pasangan H. Marzuki Saat dan Hj. Aisyah yang lahir di Bekasi pada tanggal 2 Juni 1961. Semenjak kecil, oleh kedua orang tua Sa’duddin dididik dalam lingkungan keagamaan yang cukup kuat. Dia disekolahkan di Pondon Pesantren Attaqwa di bawah binaan KH Noer Alie, salah seorang pahlawan nasional dari Bekasi. Melalui tempaan kedisip-linan dari KH Noer Ali inilah, Sa’duddin tumbuh menjadi seorang yang sangat taat dalam beribadah yang mendasari setiap gerak langkahnya dalam menjalani kehidupan.

Selepas menamatkan pendidikan di Pesantren Attaqwa, Sa’duddin memperdalam ilmu agamanya di Madrasah Aliyah YAPINK di bawah asuhan KH. Dawam dan khususnya ilmu tasyawuf dengan KH. Mahfud sehingga konsep-konsep dalam ilmu tersebut, seperti muhasabah (introspeksi diri), mutaba’ah (menghakimi diri), mujahadah (bersemangat tinggi), dan murokobah (senantiasa merasa diawasi) selalu mewarnai segenap aktivitasnya dalam menjalankan profesinya di kemudian hari.

Tamat Aliyah YAPINK Sa’duddin mencoba mengabdikan diri sebagai guru di sebuah Madrasah Diniyah yang berlokasi di kampung halamannya sendiri. Genap satu tahun mengajar Sang Ayah mengirimnya ke sebuah pondok pesantren di daerah Serang, Banten, guna memperdalam ilmu Al Quran serta Kitab Kuning pada KA As’ari dan KH Mukit. Dan ternyata, bukan hanya ilmu agama saja yang di dapat, melainkan juga pasangan hidup bernama Cucu Sugiarti yang sekarang telah menyelesaikan Program Doktoral pada Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Setelah lulus ponpes dan menikahi Cucu Sugiarti, Sa’duddin “nekat” meneruskan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi mengambil program Diploma tiga. Hasilnya, tentu saja dia harus membanting tulang demi menghidupi keluarga kecilnya sambil berusaha menamatkan pendidikannya. Beragam usaha pun dilakoni demi kelangsungan hidup keluarga, seperti mengajar, berdagang koran ke kampung-kampung dengan sistem konsinyasi, hingga berjualan buku dan majalah ke sekolah-sekolah.

Beberapa tahun kemudian, merasa tidak puas hanya memperoleh gelar BA, dia meneruskan lagi ke Program Strata satu di IAIN Serang hingga selesai tahun 1990 dan pulang kembali ke Bekasi (memenuhi permintaan orangtua) guna mengamalkan ilmunya di kampung halaman dengan mengajar sebagai guru madrasah di Kampung Gabus Pabrik, Tambun Utara.

Berbekal semangat, kesungguhan hati, dan keseriusan terhadap pembangunan bidang pendidikan di daerah Bekasi, Sa’duddin melanjutkan sekolah lagi ke jenjang pascasarjana di STIE IPWI Jakarta hingga lulus tahun 1999. Bahkan ketika terjun ke dunia politik dan berhasil menjabat sebagai Bupati Bekasi, dia tetap bersekolah dan meraih gelar doktor bidang ilmu pendidikan pada Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2009 dengan disertasi berjudul “Pengaruh Komunikasi Interpersonal Kerja Tim dan Kepemimpinan Terhadap Produktivitas Kerja Aparat Pejabat Eselon II di Pemerintahan Daerah Kabupaten Bekasi”.

Ketertarikan pada dunia politik berawal ketika dia mencalonkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Bekasi. Selama dua periode dia terpilih dan bahkan berhasil menduduki jabatan sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bekasi periode 2004. Selesai masa jabatan sebagai anggota legislatif daerah, tahun 2007 dia maju menjadi calon Bupati dari Partai Keadilan Sejahtera menggandeng Darip Mulyana sebagai wakilnyaParipurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bekasi tanggal 20 April 2007.

Selama menjabat ada tiga pilar yang dicanangkannya dalam membangun Bekasi, yaitu SDM yang berkualitas dan agamis, Pembangunan agro-bisnis, serta pembangunan industri yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Baginya, kunci dari pemajuan Bekasi dengan membangun sumber daya manusia berkualitas adalah pendidikan sehingga dalam APBD Bekasi anggaran bagi pendidikan menjadi prioritas yang utama.

Selepas masa jabatan sebagai bupati berakhir, Sa’duddin masuk lagi ke dunia pendidikan dengan mendirikan Yayasan Thariq Bin Ziyad yang mengelola Sekolah Islam Terpadu meliputi TK-IT, SD-IT, SMP-IT, dan SMA-IT. Namun, masuknya Sa’duddin ke dunia pendidikan ini hanya bersifat sementara karena pada tanggal 23 September 2016 bersama Ahmad Dhani balik lagi ke panggung politik dengan mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bekasi sebagai calon bupati dan wakil bupati periode 2017-2022.

Foto: https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Sa%27duddin,_2017.jpg

Taman Kupu-kupu Gita Persada

Sesuai dengan namanya, taman ini merupakan tempat penangkaran berbagai jenis kupu-kupu, terutama yang berendemi di Pulau Sumatera, khususnya Provinsi Lampung. Adapun lokasinya berada di Jalan Wan Abdul Rahman, Desa Tanjung Gedong, Kecamatan Kemiling. Untuk mencapainya, dari Kota Tanjungkarang yang berjarak sekitar 21 kilometer hanya membutuhkan waktu lebih-kurang 20-25 menit menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Adapun rutenya (apabila menggunakan kendaraan pribadi) dari Jalan Pagar Alam menuju Beringin Raya menyeberangi fly over Kemling. Selanjutnya, dari Kemiling dilanjutkan ke arah Sumber Agung. Di tempat inilah Taman Kupu-kupu Gita Persada berada.

Taman yang menjadi kebanggaan warga Lampung ini terwujud atas prakarsa pasangan suami-istri Anshori Djausal dan Herawati Soekardi pada sekitar tahun 1997. Gagasan pendiriannya sendiri berawal dari keprihatinan mereka terhadap kerusakan hutan di wilayah Sumatera akibat eksploitasi hutan yang berlebihan dan berdampak pada terganggunya ekosistem. Gita Persada merupakan wadah bagi konservasi lebih dari 140 spesies kupu-kupu di Sumatera yang terancam punah akibat eksploitasi tadi.

Fasilitas Taman Kupu-kupu Gita Persada
Memasuki area taman terdapat vegetasi berbagai jenis bunga serta pepohonan yang sengaja dibiarkan tumbuh secara alami agar dapat menarik kehadiran kupu-lupu. Di antara rimbunan pepohonan dengan beberapa anak tangga serta jalan setapak tersebut terdapat beberapa fasilitas penunjang taman sebagai area rekreasi, di antaranya: (1) museum berbentuk rumah panggung kayu. Pada beberapa bagian tertentu rumah dipajang spesies kupu-kupu awetan yang dibingkai serta diberi nama sesuai dengan jenisnya. Selain itu, ada pula kerajinan tangan berbentuk kupu-kupu terbuat dari kayu yang dapat dijadikan sebagai souvenir atau buah tangan; (2) tempat penangkaran ratusan jenis kupu-kupu. Di tempat ini pengunjung dapat melihat metamorfosis dari mulai ulat, kepompong, dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu yang indah; (3) rumah berbahan kayu dan bambu yang berada di atas sebuah pohon besar sebagai tempat untuk menikmati pemandangan di sekitar; (4) taman bermain anak yang menyediakan berbagai macam wahana permainan, seperti ayunan, perosotan, dan lain sebagainya; (5) kafetaria yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman; (6) dan fasilitas penunjang layaknya tempat wisata lain yaitu area parkir, toilet, musholla, dan lain sebagainya.

Bagaimana? Tertarik membawa keluarga atau pasangan Anda mengunjungi sebuah taman yang dipenuhi ratusan atau bahkan ribuan kupu-kupu beraneka warna sambil menikmati pemandangan alam di sekitarnya? Bila tertarik, Anda dapat berkunjung ke taman ini antara pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dengan biaya masuk hanya sebesar Rp.10.000 per orang.

Foto: https://destinasipariwisata.com/wisata-taman-kupu-kupu-gita-persada/

Popular Posts