Pantai Puri Gading

Pantai Puri Gading terletak di jalan RE. Martadinata, kelurahan Sukamaju, Kecamatan Telukbetung Barat, Lampung. Letaknya bersebelahan dengan Pantai Duta Wisata dan Pantai Tirtayasa. Untuk dapat mencapai pantai ini relatif mudah, karena hanya berjarak sekitar 14 kilometer dari Kota Tanjungkarang atau 20 menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.

Daya tarik dari pantai ini, selain pemandangan alamnya yang indah juga memiliki fasilitas yang relatif lengkap, seperti: tempat penyewaan peralatan olahraga air (kano, banana boat, jetski serta perahu khusus yang disediakan untuk perjalanan ke Krakatau); kios-kios penjual makanan dan cinderamata; shelter dan lain sebagainya.

Pulau Kubur

Pulau Kubur merupakan salah satu pulau di Teluk Lampung yang secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Telukbetung Barat. Untuk mencapai ke lokasi, dari Pulau Pasaran yang berjarak sekitar 3 kilometer membutuhkan waktu 20-30 menit menggunakan perahu motor. Selain itu, dapat pula ditempuh melalui Pantai Puri Gading ataupun Pantai Tirtayasa juga menggunakan perahu motor dengan waktu tempuhnya sekitar 10 menit. Pulau Kubur memiliki luas sekitar 5 hektar dengan kondisi tanpa dihuni oleh manusia sehingga masih terlihat alami.

Pulau yang hanya ramai saat ada libur nasional atau keagamaan ini memiliki daya tarik luar biasa khususnya dalam hal panorama alam serta suasana alami di sekitarnya. Pengunjung akan merasakan hembusan angin sepoy-sepoy di antara rimbunan pepohonan yang menghiasi pulau. Sementara di bagian pesisir akan terlihat ikan-ikan kecil berkeliaran di sela-sela karang. Pulau ini dapat dijadikan sebagai alternatif belibur bagi pengunjung yang membutuhkan suasana hening dan tenang.

Foto: https://wisato.id/wisata-alam/pulau-kubur-lampung/

Sastra Lampung

Sastra Lampung adalah sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Sastra Lampung memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantera, pantun, syair, dan cerita rakyat.

A. Effendi Sanusi (1996) yang dikutip oleh www.wikipedia.org, menyatakan bahwa khasanah sastra lisan di daerah Lampung dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis, yaitu:

1. Sesikun/sekiman (peribahasa)
Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.

2. Seganing/teteduhan (teka-teki)
Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.

3. Memmang (mantra)
Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.

4. Warahan (cerita rakyat)
Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-mata fiksi.

5. Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin. Menurut fungsinya, puisi di daerah Lampung dapat dibagi lagi menjadi lima bagian, yaitu: (a) bebandung; (b) ringget/pisaan; (c) Paradinei/paghadini, puisi yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya upacara perkawinan. Paradinei/paghadini diucapkan jurubicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan; (d) Pepaccur/pepaccogh/wawancan adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok (gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan/tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pemberian adok (gelar adat) dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah butetah atau istilah lainnnya, ngamai dan nginai adek, ngamai ghik ngini adok, dan kabaghan adok atau nguwaghko adok; dan (e) pantun/segata/adi-adi adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya dalam beberapa acara muda mudi (nyambai, miyah damagh, kedayek).

Pepes Ikan Mumbang Kelapa

Bahan
200 gram ikan kecil-kecil (lambak)
100 gram mumbang kelapa (cengkir kelapa)
Cabe, bawang merah, bawang putih
Gula, garam dan kunyit
Asam jeruk dan kemiri sedikit

Cara membuat
Ikan dibuang kepalanya, lalu dicuci. Bumbu digiling, kecuali daun kunyit bahan-bahan diaduk jadi satu + mumbang kelapa (diambil isi dalamnya) dipotong-potong lalu diaduk diatas daun, terus dikukus. Setelah masak dipanggang dengan arang.

Guntur Elmogas

Situn, begitu istilah orang Bekasi bagi salah satu bentuk sastra lisan gabungan antara puiSI dan panTUN. Situn merupakan puisi yang dibuat dalam konsep pantun, namun tidak memiliki sampiran alias seluruhnya berupa isi (pingpoint.co.id). Adapun orang yang mempopulerkannya tiada lain adalah Mohamad Guntur. Pria yang lahir di Bekasi pada 8 Maret 1954 ini dikenal juga dengan nama Guntur Elmogas atau Kong Guntur Elmogas. Penambahan nama Elmogas di belakang nama aslinya menurut Winata (2017) hanya sebagai “pemanis” agar terdengar lebih keren dan macho.

Apabila sedang pentas, situn-situn ciptaan Kong Guntur dilantunkan dalam bentuk nyanyian sambil mengenakan pakaian khas Bekasi. Isi situnnya bersifat jenaka, aktual, kekinian, spontan, dan lain sebagainya yang dapat membuat orang seperti terhipnotis sekaligus terhibur bila mendengarnya. Baginya situn haruslah seperti itu (menghibur). Dia merasa gagal apabila yang mendengar atau membaca tidak terhibur.

Kong Guntur mulai berkarya lewat situn sekitar tahun 2005. Sejak itu, dalam sehari dia bisa membuat situn antara lima hingga sepuluh buah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila saat ini jumlah situn yang telah dibuatnya mencapai sekitar 164.000 buah. Seluruhnya dibuat berdasarkan tema-tema kehidupan sehari-hari yang luwes dan tidak terbatas hanya pada Bekasi dan permasalahannya saja, mulai dari nasihat orangtua pada anak-anaknya hingga pemilihan kepala daerah.

Sebagian dari situn tadi telah dibukukan menjadi enam buah jilid dengan tebal masing-masing hingga 300-an halaman. Selain itu, juga telah dipentaskan dalam bentuk pentas tunggal maupun berkelompok dengan Group El Borus (Bocah gampang DiuRUS) yang beranggotakan 8-10 orang pemegang peralatan musik, seperti jimbe, ukulele, dan lain sebagainya. Mereka manggung di mana saja, mulai dari sekolah, gedung pemerintahan, pusat perbelanjaan, hingga ke pinggir kali dalam acara hajatan (sunatan, perkawinan dan lain sebagainya) (Suyitno, 2017)

Bahkan untuk salah satu pentas tunggalnya, Kong Guntur yang saat ini telah menjadi salah satu “ikon” Bekasi, pernah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pelantun terlama dalam pembacaan situn selama 8 jam 8 menit. Penghargaan diberikan oleh pengurus MURI, Yusuf Ngadri, pada pada hari Rabu 21 Agustus 2013 pukul 23.05 WIB setelah Kong Guntur menyelesaikan pembacaan situnnya.

Dengan keberhasilannya meraih rekor MURI ini Kong Guntur berharap akan semakin banyak generasi muda menekuni bidang kebudayaan, khususnya puisi-pantun. Sebab, anak-anak muda Bekasi sekarangkurang punya perhatian pada seni dan bahasa lokal. Mereka lebih suka menggali bahasa dan seni dari budaya lain.

Sumber:
“Aktivitas Budaya Menelisik Sastra Khas Bekasi”, diakses dari https://pingpoint.co.id/berita/akti vis-budaya-menelisik-sastra-khas-bekasi/, tanggal 18 Agustus 2019.

Winata, Gitafee. 2017. “Mari Lestarikan Situn dan Ikut Jejak Kong Guntur Elmogas”, diakses dari https://www.kompasiana.com/reragitaa12/58688d6e1fafbd361ca0876e/mari-lestarikan-situn -dan-ikut-jejak-kong-guntur-elmogas, tanggal 19 Agustus 2019.

Suyitno. PS. 2017. “Kong Guntur Elmogas, Menyapa Indonesia dari Bekasi”, diakses dari http:// indikatornews.com/kong-guntur-elmogas-menyapa-indonesia-dari-bekasi/, tanggal 19 Agustus 2019.

Munawar Fuad Noeh

Perubahan adalah transformasi dari keadaan yang sekarang menuju keadaan yang diharapkan akan lebih baik. Perubahan dapat terjadi secara besar-besaran seperti revolusi pertanian disusul oleh revolusi industri di benua Eropa dan ada pula yang hanya berskup kecil yang dilakukan agen-agen perubahan dalam suatu masyarakat. Di daerah Bekasi ada seorang profesional yang bertindak sebagai agen tersebut. Dia, yang di media massa setempat disebut penggiat perubahan, adalah Munawar Fuad Noeh atau lengkapnya Dr. H. Munawar Fuad Noeh, Mag.

Munawar yang lebih dikenal dengan nama Bang Fuad atau Bang Kabek lahir di Bekasi pada tanggal 16 Mei 1970 dari pasangan KH Raden Noeh Inayatillah Ahmad dan Nyai Raden Hj Maskanah. Bang Fuad menempuh pendidikan awalnya di Sekolah Dasar Negeri Sukamanah di Kampung Babakan Cibarusah. Lima tahun kemudia melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Yaspia dan Madrasah Aliyah Cibogo Cibarusah. Selain itu, dia juga pernah mondok selama beberapa lama di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
Selama menempuh pendidikan dasar dan menengah Bang Fuad sudah mulai menunjukkan prestasi, antara lain dengan menjadi juara kedua Lomba Cerdas Cermat se-Kabupaten Bekasi (1986), Juara Pertama Lomba Cerdas Cerman mewakili Bekasi di Tingkat Jawa Barat (1988), juara nominasi Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri Tingkat Nasional (1988), dan Juara Pertama Lomba Pidato Pemuda se-Kabupaten Bekasi (1989).

Usai menempuh pendidikan menengah atas, Bang Fuad melanjutkan ke perguruan tinggi guna menempuh jenjang Strata 1. Setelah lulus, dia melanjutkan lagi di Pasca Sarjana IAIN Jakarta (1998) dalam bidang studi Islam dan Tata Negara. Bahkan tidak hanya Strata 1 dan 2 saja yang ditempuhnya, melainkan juga Strata 3 di University Malaya, Malaysia, dengan riset berjudul “Peranan Kyai Dalam Pemilu Presiden 2004: Studi Kasus Jawa Timur”. Hasil riset tersebut kemudian dipublikasikan dalam bentuk sebuah buku berjudul “Kyai Di Panggung Pemilu Presiden: Dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost”.

Pria yang menikah dengan Dra. Hj. Ariyana Wahidah (putri KH. Muhammad Thahir dan Nyai Hj. Tazkiyah Thahir) dan dikaruniai empat orang anak (R. Ahela Shindy Farica, R. Arsya Millenio Fuad, Farah Najwa Madiena, dan Muhammad Kaisar Khan) ini pernah mendapat kepercayaan sebagai Asisten Bidang Sosial Engineering (Hubungan Kelembagaan dan Sosial) dari tahun 1999 hingga 2012.

Di antara masa tersebut Bang Fuad juga dipercaya mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (saat menjadi Mentamben) sebagai Alhi Pemberdayaan Persepsi Publik Menteri Pertambangan dan Energi. Adapun tugasnya terkait dengan pemberdayaan masyarakat, media relation, dan eksternal relation dari Kementerian Pertambangan dan Energi beserta BUMN yang berada di bawahnya seperti Pertamina, Aneka Tmbang, PLN, PT Timah, dan lain sebagainya.

Berkat kompetensi, profesionalisme serta pengalamannya, tahun 2004 Bang Fuad masih dipercaya oleh SBY menjadi staf khusus kandidat presiden yang menangani pengelolaan hubungan dan penggalangan aspirasi politik umat Islam dan lintas agama secara nasional. Bang Fuad dianggap mampu berinteraksi secara luas karena memiliki basis sosio-kultural dengan kalangan pesantren dan tokoh-tokoh lintas agama sehingga diharapkan dapat ikut membangun komunikasi yang kuat guna menata berbagai agenda strategis dalam kerangka pemberdayaan pesantren, perdesaan, dan pembangunan secara lebih terarah dan menyeluruh. Tahun berikutnya, dia bekerja sebagai staf khusus Menteri Komunikasi dan Informasi Dr. H. Sofyan A Djalil.
Selain berkutat dalam dunia konsultan, Bang Fuad juga aktif dalam keorganisasian tingkat nasional maupun internasional, di antaranya: Pimpinan Pusat Ansor yang membidangi Hubungan Luar Negeri dan Media Komunikasi (2000-2005); Sekretaris Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (2012-2017); Wakil Bendahara LTNU (Lajnah Taklif Wan Nashr)/ Badan Informasi, Komunikasi dan Publikasi PBNU (2015-2020); Ketua Departemen Kajian Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan di Majelis Pengurus Pusat ICMI (2015-2020); Anggota Komisi Riset dan Pengembangan MUI Pusat (2015-2020); penasihat bidang perekonomian BUMDES, pimpinan pusat Parade Nusantara sejak 2015-sekarang; Vice President Pemuda Asia (The Asian Youth Coincil) di Korea selatan periode 2008-2011); Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) periode 2005-2008; Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (2005-2010); President Global Common Society (GCS) International Indonesia Chapter (2003-2005); Wakil Sekretaris Jenderal SAMYO (South East Asia Muslim Youth Organization – Organisasi Pemuda Muslim Asia Tenggara); dan Direktur Program Workshop dan Pelatihan The New Generaton of Religious Leaders di berbagai daerah Indonesia.

Seabreg jabatan tersebut tentu saja membuat Bang Fuad menjadi orang super sibuk, baik di dalam maupun luar negeri. Di kancah internasional dia pernah menghadiri berbagai macam seminar dan workshop, di antaranya: sebagai narasumber, pembicara, dan peserta dialog antarbangsa untuk misi perdamaian dan diplomasi di New Zaelan, Turki, dan Korea Selatan; penceramah dalam The New Asian African’s Strategic Partnership di India, Sri Lanka, dan China; memimpin delegasi pemuda Indonesia dalam Forum Dialog Pemuda Malaysia-Indonesia di Selangor, Malaysia; memimpin delegasi dan mempresentasikan pemikirannya tentang pemuda dan entrepreneurship dalam forum pertemuan pemuda Asia di Beijing; kunjungan kenegaraan bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla ke Afrika Selatan; memimpin delegasi pemuda NU untuk sebuah kunjungan kebudayaan dan persahabatan di Jepang; narasumber acara Voice of America dengan presentasi tentang pengembangan tradisi keagamaan moderat melawan terorisme; peserta Forum Indonesia-Australia untuk mengikuti berbagai diskusi lintas agama; mewakili delegasi pemuda Indonesia dalam Forum Konvensi Pemuda Dunia di Thailand; dan lain sebagainya.

Namun, walau memiliki segudang kegiatan, Bang Fuad masih juga sempat melahirkan berbagai karya tulis intelektual yang dipublikasikan secara luas. Adapun karya tulis tersebut, di antaranya adalah: Kyai di Panggung Pemilu Presiden: Substansialisasi Hukum Islam dalam Hukum Pertanahan di Indonesia (1994); 99 Alasan Memilih SBY for President (sby.com, 2009); 31 Alasan Memenangkan Partai Demokrat (sby.com, 2009); Islam dan Gerakan Moral Anti Korupsi (1997); Islam di Abad 21 (1998); Masalah Korupsi di Indonesia: Respons Cendekiawan Muslim (1998); Menembus Batas; Lintas Agama, Budaya, dan Bangsa (1999); Susilo Bambang Yudhoyono: Mengatasi Krisis Menyelamatkan Reformasi (1999); Jejak Setapak Saifullah Yusuf (2000); Menghidupkan Ruh Pemikiran KH. Ahmad Siddiq (2000); Dua yang Satu: Nu-Muhammadiyah (2003); Bersaksi di Tengah Badai; Jenderal Wiranto (2004); SBY dan Islam (2004); Kebangsaan-Keislaman SBY (2004); Ziarah Nurani SBY (2005); Kyai di Republik Maling (2005); Tentara Berkarakter dan Profesional: Jelang Pelantikan Pangkostrad (catatan kritis Munawar Fuad, 2006); Mengelola Pemuda Pelopor Perdamaian (2007); Indonesia Today: The Characteristic Indonesian Muslim (2007); Menegakkan Daulat dan Martabat Bangsa (2008); Awakening the Giant: Membangunkan Negeri Raksasa yang Tertidur (2009); Mahligai Cinta Firdaus, Ketika Rasul Membelaiku (Novel, 2009); Pesona Ibu Negara: Hj. Kristiani Herrawati (2009); Terbanglah ke Angkasa Anakku (2011), Sahabat, Salam Indonesia, Bunga Rampai SMS Dr. Darwin Zahedi Saleh (2007-2011); Dari Kyai Khos sampai Kyai High Cost (2014); serta puluhan artikel yang dipublikasikan di media massa (Kompas, Media Indonesia, Gatra, Tempo, Republika, Suara Pembaruan, dan lain sebagainya).

Sementara di kampung halaman sendiri, kiprah serta pengabdian sosial Bang Fuad juga tidak kalah banyaknya. Di daerah Cibarusah misalnya, sejak tahun 1994 hingga sekarang menggantikan Sang ayah menjadi Direktur Pesantren Al Quran Ash-Shulaha yang bergerak di bidang keagamaan, sosial, pendidikan, dan pembinaan mental remaja. Oleh Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi dia diangkat menjadi Sekretaris Majelis Adat Kabupaten Bekasi (2016-2021). Kemudian, mendapat amanah pula sebagai Syuriah NU Kabupaten Bekasi, Pengurus Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi, Dewan Pertimbangan KADIN Kabupaten Bekasi, dan Ketua Umum Yayasan Masjid Al Mujahidin Cibarusah.

Peran lainnya adalah sebagai penggagas dan Ketua Dewan Pembina GSA Foundation (Yayasan Silih Asah Asih Asuh Bekasi), Ketua Dewan Pembina LSM Aliansi Masyarakat Bekasi (2012-2017), Ketua Dewan Pembina LSM Gempal (Gerakan Masyarakat Peduli Alam dan Lingkungan), Ketua Panitia Pemilihan Daerah (PPD II) Pemilu Legislatif 1999; Direktur Eksekutif Asosiasi Forum Investor Bekasi; dan penggagas berdirinya Bekasi Industri Society Association atau Lembaga Kemitraan Masyarakat Industri Bekasi yang bertujuan mengembangkan kerjasama dan hubungan baik antarpemangku kepentingan di lingkungan masyarakat industri di Bekasi.

Foto: https://www.facebook.com/moonmf1203/

Deden S Cahyana

Bakat seni pada seseorang umumnya muncul sejak dini. Bakat seni inilah yang juga muncul pada sosok Deden S Cahyana, pengagas sanggar seni Duta Pasundan. semenjak berumur sekitar enam tahun Deden yang lahir di Cianjur tahun 1965 telah memiliki cita-cita untuk mengarungi dunia seni sebagai bekal hidup. Waktu itu dia sudah menjadi pemain calung pada sebuah group di desanya di Kabupaten Cianjur Selatan.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Deden mulai membuktikan bakat dengan berkali-kali mewakili daerahnya mengikuti lomba seni/pasanggiri Anggana Sekar, Pupuh, Tari, Degung, Ngadongeng/Carita Sunda baik tingkat kabupaten maupun Provinsi Jawa Barat. Prestasi-prestasi lain juga diukirnya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas SMKI hingga tahun 1984.

Lulus SMKI Deden hijrah ke Kota Bekasi untuk menjadi relawan di beberapa sekolah. Selama satu tahun (1984-1985) Deden mengadakan beberapa eksperimen di berbagai sekolah dengan tujuan agar kesenian Sunda lebih dihargai dan mendapat apresiasi dari masyarakat luas. Tahun berikutnya, dengan membawa misi menciptakan peluang melalui kendang, Deden keliling di hampir 40 buah sekolah di Kabupaten Bekasi dalam bentuk pertunjukan seni degung, calung, dan tari. Namun, misi ini kurang berhasil karena hanya beberapa sekolah saja yang mau memberi ruang.

Seiring berjalannya waktu, dengan usaha yang pantang menyerah tentunya, Deden akhirnya berhasil menumbuhkan apresiasi terhadap pelestarian seni budaya Sunda di Bekasi. Berkat dukungan pemerintah setempat melalui bantuan sarana berupa alat musik gamelan, mulai banyak sekolah yang minta dibantu dalam hal pembinaan kesenian tradisional. Deden pun kemudian terjun sebagai tenaga honorer bidang pendidikan kesenian/pembinaan kesenian tradisional. Selain itu, dia juga aktif dalam sejumlah organisasi seni budaya, di antaranya: (1) pengurus DKB (Dewan Kesenian Bekasi); (2) Sekretaris IKASENTRA (Ikatan Seniman Tradisional Bekasi); (3) Litbang HARPI Melati Bekasi; (4) Ketua tim Rampak Kendang Pesona Patriot Bekasi; (5) Ketua Divisi Seni Budaya Islam Al-Azhar Bekasi; (6) Ketua Duta Suara Pelajar MB Bekasi; (7) Ketua Sanggar Duta Pasundan Bekasi; dan (8) Ketua Duta Karya Seni Budaya (DKSB).

DKSB sendiri adalah sebuah sanggar seni yang bergerak dibidang pembinaan dan pelestarian seni budaya. Sanggar yang berdiri sejak tahun 1999 ini sekarang sudah beranggotakan sekitar 150 orang anak yang berdomisili di sekitar Bantargebang. Sementara Sanggar Duta Pasundan yang berada di Jalan Cipta Karya Raya Blok J, Kecamatan Bantargebang didirikan sekitar tahun 2000 merupakan jawaban dari antusiasme masyarakat akan adanya kesenian tradisional Sunda di daerah Bekasi, khususnya gamelan degung, angklung, calung, dan kecapi suling.

Dalam perkembangan selanjutnya, Sanggar Duta Pasundan juga menjadi pusat pelatihan seni tari tradisional. Di samping itu menjadi sentra layanan pementasan seni budaya Sunda khusus untuk prosesi pernikahan. Adapun list pementasan beserta nominal harganya sebagai berikut: musik pengiring (degung Rp.6,5 juta, kecapi suling Rp.2,5 juta, celempungan Rp.3,5 juta, rampak gendang plus 4 penari Rp.3,5 juta), dan prosesi upacara adat pengantin (siraman ngaras Rp.1,5 juta, ngeuyeuk seureuh Rp.2,5 juta, mapag pengantin plus tari persembahan Rp.3,5 juta, sawer huap lingkup Rp.2,5 juta, dan pemandu adat/resepsi/akad nikah Rp.750 ribu).

Foto: http://dksbbekasi.blogspot.com/2010/03/dilahirkan-di-cianjur-pada-tahun-1965.html

Ray Abdul Fatah

Walau berusia masih dibawah 30 tahun, nama serta hasil karyanya mampu menembus pasar internasional. Ray Abdul Fatah adalah wirausahawan muda yang memiliki semangat tinggi untuk menggali potensi diri secara maksimal. Laki-laki yang hanya tamatan SMA ini memulai karir sebagai pengusaha dengan menjual Lampu Benang bersama isterinya. Namun karena pangsa pasar lampu benang mulai menurun, dia banting stir dengan membuka usaha pop up sekaligus sebagai wadah inovasi dalam berkreasi.

Usaha pop up yang didirikannya ternyata laris manis di pasaran. Oleh karena itu dia pun mulai mempekerjakan karyawan guna memenuhi permintaan pasar. Saat ini usaha yang dinamakan sebagai Ravy26house tersebut telah memiliki 11 orang karyawan yang terdiri atas lima orang karyawan tetap, tiga orang magang, dan tiga orang lagi para ibu yang berada di sekitar rumahnya. Para karyawan tadi sebelumnya telah diberikan pelatihan hingga mahir dan profesional sehingga dapat mengerjakan pesanan dari konsumen dengan baik.

Selain jumlah karyawan yang bertambah, hasil kreasi Ray juga ikut berkembang. Produk pop up yang dibuat menjadi lebih bervariasi, di antaranya pop up mahar, pop up card, pop up book, pop up frame, pop up brosur, dan kartu nama pop up. Produk-produk tersebut tidak hanya untuk memenuhi permintaan dari dalam negeri saja, melainkan juga dari Malaysia, Hongkong, dan Australia. Konsumen yang memesan biasanya diberi kebebasan menentukan desain yang diinginkan dan merevisi hasilnya sesuai keinginan.

Ketenaran pop up karya Ray rupanya menarik perhatian sejumlah media massa lokal maupun nasional, seperti MNC TV, DAAI TV, KTV, Kompas TV, Trans 7, Trans TV, TV One, Metro TV, GO Bekasi, Radar Bekasi, Tribun News, Harian Suara, Bekasi Urban City, Kontan, dan lain sebagainya. Dan, berkat ekspose dari berbagai media tadi pada tahun 2018 Ray mencoba mengikuti ajang kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang diadakan oleh Bank Mandiri.

WMM merupakan wujud Bank Mandiri dalam mendukung pengembangan industri yang sejalan dengan program Kementerian BUMN. Kehadiran para pebisnis muda akan semakin memperkuat kewirausahaan nasional. Bank Mandiri sebagai salah satu BUMN mendukung pengusaha muda potensial agar dapat menopang dan mendorong ekonomi Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Melalui ajang WMM pada tahun 2018 Bank Mandiri melahirkan 28 pelaku usaha muda potensial, tangguh, dan profesional. Mereka dijaring dari sekitar 800 calon pebisnis yang diseleksi lewat 34 perguruan tinggi di Indonesia dan 10 komunitas maupun inkubasi bisnis.

Penilaian dibagi dalam kelompok mahasiswa dan non-mahasiswa dengan sub kategori wirausaha industri, perdagangan-jasa, boga, kreatif, sosial, dan tenologi. Pemenang kelompok non-mahasiswa akan memperoleh penghargaan serta uang tunai Rp.200 juta (juara pertama) dan Rp.100 juta (juara kedua). Sementara kelompok mahasiswa akan memperoleh Rp.100 juta bagi juara pertama dan juara kedua sebesar Rp. 50 juta.

Ray yang termasuk ke dalam 28 pelaku usaha, berhasil menjadi pemenang kedua bidang Usaha Kreatif dibawah Bella Kartika Aprilia – Sepiak Belitong sebagai juaranya. Adapun pemenang kategori lainnya (non-mahasiswa) adalah: Bidang Usaha Industri (Juwita – Golden Berry dan Reza Rizky Hermawan – Hermawan Propertindo Utama); Bidang Usaha Sosial (Andhika Mahardika – CV Agradaya Indonesia dan Mohammad Andriza Syarifudin – Nusa Berdaya); Bidang Usaha Boga (Endro Firdaus – GreenSmoothie Factory dan Bintang Priyambodo – Papa Buncit); Bidang Usaha Teknologi Digital (Christopher Farrel Millenio Kusuma – Kecilin dan Yudhis Thiro Kabul Yunior – Detron Engineering); Bidang Usaha Teknologi Non-Digital (Achmad Arbi – Lightning Advanced Solution Technology dan Nugroho Hari Wibowo – Encomotion); serta Digital Financial Technology (Adjie Wicaksana – Halofina – LPIK ITB dan Bong Defendy – Zend Money).
Sedangkan pemenang Wirausaha Muda Mandiri kategori mahasiswa adalah: Bidang Usaha Industri, Perdagangan, dan Jawa (Arnandiza Amirul Khadifa – Balon Kado dan Agus Wibowo – Agro Lestari Merbabu); Bidang Usaha Boga (Putu Agi Pratama – Umah Lokal dan Sentanah Limmase – Fermenation Indonesia); Bidang Usaha Kreatif (Malinda Amalia – Linean dan Nabila – Batik Kanawa); Bidang Usaha Sosial (Reno Pati – Rumah OPPO dan M Zulfikri Al Qowy – Pacco.com); Bidang Usaha Teknologi Digital (Aditya Pramata Ghifary – Media Bimbingan Belajar Gratis Website & Aplikasi dan Rafliansyah Ruslan – Scola); serta Bidang Usaha Teknologi Non Digital (Alwy Herfian Satriatama – Majapahitech dan Aprial Syahputra – Herbalfoam).

Bagi Ray, kemenangan dalam ajang WMM 2018 memotivasi dirinya untuk terus berkreasi dan berinovasi. Bahkan tidak hanya itu, dia juga mengajak masyarakat yang berada di sekitarnya untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan usaha pop up dengan tujuan mengurangi angka pengangguran di daerah Bekasi. Melalui rumah kreatif Ravy26house Ray mencoba memberdayakan mereka melalui pelatihan hingga dapat menjadi pengusaha handal dan mandiri.

Foto: https://news.detik.com/adv-nhl-detikcom/d-4220462/wirausaha-muda-mandiri-2018-sukses-lahirkan-pengusaha-muda-baru

Nalih

Nalih adalah wadah sejenis bakul yang mempunyai pegangan berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara hasil kebun atau ladang seperti lada dan kopi. Wadah ini dibuat dari anyaman bambu atau rontan yang dibentuk sedemikian rupa dengan memakai pegangan untuk dapat diangkat dengan tangan. Pada masyarakat pedesaan Lampung Nalih umumnya dibuat sendiri dan bukan dibeli di pasar tradisional.

Raden KH Umar

Raden KH Umar atau biasa disapa dengan Mbah Guru Keneng adalah seorang ulama ahli tassawuf yang sangat disegani di Bekasi, khususnya di daerah Jatibening, Cikunir, Jatiasih, dan Ceger. Oleh masyarakat setempat, beliau dianggap sebagai waliyullah yang banyak karomah serta masih memiliki garis silsilah bersambung terus hingga ke Wali Songo dan Nabi Muhammad SAW (Firdaus, 2016).

Masih menurut Firdaus (2016) yang mengutip Porbatjaraka, Mbah Guru Keneng lahir pada tahun 1857 dan meninggal tahun 1972. Beliau diperkirakan merupakan keturunan rombongan kerabat Kerajaan Banten yang menetap di Jati Kramat Jatiasih antara tahun 1527-1530. Rombongan dipimpin oleh Syeikh Syarifudin (Mbah Kandong) yang merupakan keturunan Pangeran Sageri/Segori dan masih memiliki garis dengan Syeikh Sunan Gunu Jati Cirebon. Selain Mbah Kandong, Pangeran Sageri juga memiliki keturunan bernama R.H. Sholeh yang kemudian menetap di Kampung Ceger Jaka, Bekasi Selatan. R.H. Sholeh inilah ayahanda dari R. H. Umar atau Mbah Guru Keneng.

Adapun susunan nasabnya adalah: Taajul Arsy. Rh Umar bin Rh Zahiri bin Rh Muhadir bin Raden Kanzul Asikin bin Pangeran Sageri bin Aabulfath Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa bin Abul Ma’ali Ahmad bin Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Syeikh Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati bin Raja Abdulloh bin Alhusein Jamaluddin Alkubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Al Akbar bin Abdulloh Khan bin Sayyid Abdul Malik Ba’aali Adzumat Khan bin Alwi bin muhammad Shohib Mirbath Alawi bin Ali Kholi’ Qosim bin Alwi bin Muhammad Shohib Assouwmaah bin Alwiy Ba’alawiy Al A’ala bin Abdulloh bin Ahmad Almuhajir Alfaqihil Muqoddam hingga ke Rasulullah SAW.

Semasa hidup Mbah Guru Keneng pernah mengajar di salah satu sekolah Islam diniyah yang sekarang menjadi YPIA Islam Al-Mu’awanah Bekasi. Selain itu beliau juga melakukan dakwah kepada warga masyarkat di Kampung Ceger (Irhamni, 2017). Dalam berdakwah, beliau mempunyai pesan tersendiri yaitu “Jalanilah apa yang tidak kamu pilih jangan menjalani apa yang kamu pilih, beragam pernak pernik kehidupan selalu saja menjadi bayangan dalam setiap gerak alur raga ini bergerak, aku bertanya apakah ini yang aku mau dan yang aku pilih…Ternyata menjalani apa yang aku pilih adalah suatu kesusahan hidup yang amat teramat menyakitkan” (Firdaus, 2016). Kata-kata “mutiara” ini rupanya banyak menarik minat orang, sehingga dakwahnya kemudian diikuti pula oleh orang-orang di luar Kampung Ceger. Mereka tidak hanya berasal dari Pulau Jawa saja melainkan juga dari daerah lain di luar Pulau Jawa.

Bagi para pengikutnya, Mbah Guru Keneng tidak hanya ahli dalam ilmu Islam, melainkan memiliki juga keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keistimewaan tersebut di antaranya adalah: tubuh tetap kering walau kehujanan, pencuri yang masuk ke rumahnya seakan mematung dan tidak dapat keluar sebelum diizinkan, dapat memasak sebutir telur hanya dengan menggenggamnya, suara speaker yang keras tidak berbunyi bila dihadapkan ke rumahnya, dan lain sebagainya.

Berkat jerih payah dalam menyebarkan agama Islam di Bekasi, hingga saat ini makamnya sering diziarahi orang untuk memanjatkan doa. Mereka tidak hanya berasal dari daerah Bekasi dan sekitarnya, melankan juga dari daerah lain di seluruh Indonesia.

Foto: https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger
Sumber:
Firdaus, Ahmad. 2017. “Mbah Guru Keneng Keramat dari Ceger”, diakses dari https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger, tanggal 23 April 2019.

Irhamni, Bayu. 2017. “Kisah Perjalanan Seorang Ulama Ceger”, diakses dari http://bayuirhamni.blogspot.com/2017/02/kisah-perjalanan-seorang-murid.html, tanggal 24 April 2019.

KH Ma’mun Nawawi

KH Ma’mun Nawawi adalah seorang tokoh ulama sekaligus pejuang yang berasal dari daerah Cibogo, Kecamatan Cibarusah, Bekasi. Ulama yang produktif sebagai penulis 63 kitab ini lahir di Cibogo pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M (As-Samfuriy, 2014). Beliau adalah putra sulung (tujuh bersarudara) dari pasangan H. Anwar (seorang pedagang sekaligus guru mengaji) dan Siti Romlah. Saudara-saudara kandungnya yang lain adalah: Nyi Rukiyah, Nyi Endeh, H. Yahya, Siti Iyok, Endang, Dimiyati, dan Abdul Salim. H. Anwar sendiri adalah putra Marhan bin H. Abdul Wahid, salah seorang keturunan dari Kerajaan Banten (mondok.co).

Berdasar garis keturunan tersebut, tidak heran bila Nawawi memperoleh pendidikan yang berkaitan dengan agama Islam. Tidak lama setelah menamatkan pendidikan dasar di usia yang baru mencapai 13 tahun, anak dari KH. R Anwar ini nyantri di Plered Sempur asuhan Tubagus Ahmad Bakri bin Seda (Mama Sempur) hingga tujuh tahun lamanya (ypialkamiliyyah.wordpress.com). Selesai nyantri di sempur, Nawawi hijrah ke Mekkah selama dua tahun (1937-1939) untuk memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada 13 muallif (pengarang kitab), di antaranya: al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al Maliki, Syekh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî (ulama besar hadits di Masjidil Haram asal Bogor), Syekh Bâqir ibn Nûr al-Jukjâwî tsumma al-Makkî (ulama besar Masjidil Haram asal Yogyakarta), Sayyid ‘Alawî ibn ‘Abd al-‘Azîz al-Mâlikî al-Makkî, Syekh ‘Umar Hamdan al-Mahrasî, Syekh Khalifah Nabwah, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Fathoni, dan lain sebagainya (Sya’ban, 2017).

Kembali dari Mekkah, atas saran Sang Ayah pada tahun 1942 Nawawi nyantri lagi di beberapa pesantren guna lebih memperdalam ilmu, seperti: Pesantren Tebuireng (Jombang) asuhan Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren asuhan Syaik Ikhsan (Jampes Kediri). Adapun para guru Nawawi selama nyantri di Jawa menurut Mondok.co, di antaranya adalah: H. Masdiki al-Quruthi Sempur-Plered, Mualif Siradjud Tolibin Kediri, Syekh Muhammad Cholil Jember, Syekh Muhammad Yunus bin Abdullah Kediri, KH Suja’i al-Quruthi Sukaraja. Muhammad Ali bin Husen, Syahid Alwie bin Abas al-Maliki, Syahid Muhammad ‘Amin al-Qutbhi, Syekh Hasan bin Muhammad al-Masad, Sayyid Abdul Bari al-Quruti, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Banduni al-Jawi, Abdurahman Asyburaki al-Maki, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Fatoni, Syekh Sabibullah al-Hindi al-Maki, Syekh Ubaidillah al-Maki, dan KH. Manshur Abdul Hamid (Guru Mansur Betawi). Dari para guru ini Nawawi mempelajari berbagai macam kitab, seperti: tafsir, alfiyah, mantiq, fiqih, lughat, dan lain sebagainya. Khusus ketika berguru dengan KH. Manshur Abdul Hamid di Jembatan Lima, Jakarta, Nawawi mempelajari ilmu falaq yang dapat dikuasai hanya dalam waktu 40 hari saja.

Selesai nyantri dan dianggap telah cakap bila mengembangkan dakwah, Nawawi diminta oleh mertuanya (Tugabus Bakri) untuk mendirikan pesantren di daerah Pandeglang, Banten. Namun, baru berjalan sekitar dua tahun, Sang ayah meminta pula mendirikan pesantren di Cibogo. Walhasil, para santri di Pandeglang pun ikut diboyong ke Cibogo dan tinggal di pesantren baru yang diberi namaAl-Baqiyatus Sholihat. Pesantren ini dibangun pada bulan Rajab tahun 1359 H/1938 M saat Ma’mun Nawawi baru berusia sekitar 25 tahun (http://nizomalhasani.blogspot.com).

Para santri asuhan KH Ma’mun Nawawi yang jumlahnya beberapa ratus orang pada masa perang kemerdekaan pernah mendapat pelatihan militer sebagai bekal menghadapi tentara sekutu. Mereka membentuk sebuah laskar yang dinamakan Hizbullah. Adapun pelatihan perdananya dilaksanakan pada 28 Februari 1945 dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim (mewakili KH Hasyim Asy’ari) dan beberapa tokoh lain seperti KH. Zainul Arifin, dan KH. Noer Alie (kini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional) serta dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Nippon, pimpinan pusat Partai Masyumi, dan para Pangreh Praja.

Para santri yang ikut serta dalam pelatihan tidak melulu berlatih perang menghadapi musuh. Pada malam hari mereka mengaji dengan beberapa ulama seperti KH. Mustada Kamil dari Singaparna dan lain sebagainya. Usai pelatihan para santri kembali ke kampung halaman masing-masing guna memberikan latihan kepada para pemuda lain. Hasilnya, pada saat Jepang menyerah anggota Hizbullah telah mencapai sekitar 50.000 orang. Menurut muslimedianews.com, mereka tidak saja aktif selama revolusi fisik, tetapi juga mampu mengubah peta militer di Indonesia.

Para laskar Hizbullah ini masuk menjadi sayap militer bagi Partai Masyumi yang berdiri pada 7 November 1945. Bersama dengan laskar Sabilillah, mereka kemudian bertempur melawan tentara Sekutu pada pertempuran 10 November 1945. Selanjutnya, bersama Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang diprakarsai M. Natsir dan KH. Wahid Hasyim laskar Hizbullah dan Sabilillah membentuk Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia yang menentang semua perundingan dengan Belanda selepas agresi militer pertama 1947.

Lepas dari perannya dalam pembentukan laskar Hizbullah, yang jelas KH Ma’mun Nawawi merupakan ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab berbahasa Arab dan Sunda. Sedikitnya ada 63 buah kitab yang pernah ditulis, di antaranya: At-Taisir fi ‘Ilmi al-Falak, Bahjatul Wuduh Fi Hadits Awfatil Fuluh, Idha’ al-Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yang mengandung akronim), Hikayat al-Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama terdahulu), Manasiq H. wal Umrah, Khutbah Jumat, Kasyf al-Humum wa al-Ghumum (tentang doa), Majmu’at Da’wat, Risalah Zakat, Syair Qiyamat, Risalah Syurb ad-Dukhan, Qolaidul Juman Fi Aqaidul Iman, I’anah Rafiq fi Tarjamah, Sulamu Taufiq, Muhasinul al-Khatabh, As-Sirajul Wahaj, Syi’ran Kiyamat, Hibatullah Karimul Aly, Tahtasikul Abid, Majmu Da’wah, Kasyful Humum wal Ghumum, Tadwirul Qulud, Taysirul Awam, Tuhfatul At Fal, Manaqib Syekh Abdul Qadir, Fiqh (dua jilid), Maulid Nabi (empat jilid), Parakunan Pashalatan, Al-Atiyatul Haniyah, At-Taisir Ilmu Falaq (Empat Jilid), dan Hushuli Rojai, dan lain sebagainya (As-Samfuriy, 2014 dan mondok.co).

Setelah berhasil membuat sebuah “pencerahan” bagi umat Islam di daerah Bekasi, KH. Ma’mun Nawawi wafat pada malam Jumat 26 Muharram 1395H/7 Februari 1975 M di Cibogo-Cibarusah pada pukul 01.15 WIB dalam usia 63 tahun. Selama hidup beliau pernah menikah dengan Nyi Jumenah (bercerai) lalu dengan Nyi Siti Junah yang menghasilkan enam orang anak (Muhaimin, Muhammad Jajuli, Zainal Mutaqin, Abdul Mu’min, Abdul Rahim, dan Abdul Halim). Selain dengan Nyi Jumenah dan Nyi Siti Junah, Ma’mun Nawawi pernah menikah dengan tujuh perempuan lain, namun hanya empat orang yang menemani hingga akhir hayat, yaitu: Hj. Ummah, Hj. Nyi Junah, Hj. Rohman, dan Hj. Romiah. Dan, dari pernikahan-pernikahan tersebut beliau dikaruniai sejumlah anak, di antaranya: Nyi Rahman, Muhammad Firdaus, Nyi Fatimah, Nyi Khadijah, Muhammad Syahroni, Nyi Safiah, Nyi Aisyah, Muhammad Shahalidin, Abdul Qudus, Abdul Raul, Abdul Mujib, Nyi Umu Habibah, Abdullah, Muhammad Mahfudz, Ahmad, Muhammad, Abdur Rahman, Nyi Ummu Salamah, Abdul Mu’min, Nyi Rukayah, Nyi Maryam, Abdul Latif, Abdul Khabir, Nyi Aminah, R. Abdul Hamid, R.A Qadir, Abdul Hafidz, Nyi Endin, Abdul Khalik Yanwari, Jamal Abdul Ghafar, dan Endin Quratul Aeyin (As-Samfuriy, 2014).

Saat ini penerus pondok pesantren adalah salah satu dari putranya sendiri, KH. Jamaluddin Nawawi. Pesantren merupakan salah satu dari beberapa peninggalan KH Ma’mun Nawawi. Peninggalan lainnya adalah asrama pesantren, Masjid Jami Al-Baqiyatus Sholihat, Yayasan Pendidikan Agama Islam Al-Baqiyatus Sholihat, almanak, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Aliyah Al-Baqiyatus Sholihat, serta kitab-kitab yang telah dan belum diterbitkan.

Foto: http://nizomalhasani.blogspot.com/2017/04/kh-raden-mamun-nawawi-bekasi.html
Sumber:
“KH. Raden Ma’mun Nawawi (1915-1975)”, diakses dari https://mondok.co/kh-raden-ma%C2%92mun-nawawi-1915-1975/, tanggal 10 Juni 2019.

As-Samfuriy, Sya’roni. 2014. “KH. R. Ma’mun Nawawi Ahli Falak Bekasi Santri Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari”, diakses dari http://www.muslimedianews.com/2014/06/kh-r-mamun-nawawi-ahli-falak-bekasi.html#ixzz5pNOuiFCY, tanggal 10 Juni 2019.

“KH Raden Ma’mun Nawawi Bekasi”, diakses dari http://nizomalhasani.blogspot.com/2017/04/kh-raden-mamun-nawawi-bekasi.html, tanggal 11 Juni 2019.

“Mengenal Ulama Nusantara (KH Ma’mun Nawawi/Mama Cibogo, Bekasi), diakses dari https://ypialkamiliyyah.wordpress.com/2012/09/04/kh-mamun-nawawi-mama-cibogo-bekasi/, tanggal 12 Juni 2019.

Sya’ban, A. Ginanjar. 2017. “Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah”, diakses dari http://www.nu.or.id/post/read/76983/kitab-fiqih-manasik-berbahasa-sunda-karya-kh-mamun-nawawi-cibarusah, tanggal 12 Juni 2019.

Kelenteng Jin De Yuan

Kelenteng atau klenteng Jin De Yuan adalah salah satu dari empat kelenteng besar1 yang ada di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Kelenteng yang dahulunya di bawah pengelolaan Gong Guan atau "Dewan Opsir Tionghoa" Batavia ini berada di Jalan Kemenangan III Nomor 13 Jakarta yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari, Kotamadya Jakata Barat.

Claudine Salmon dan Denys Lombard dalam Les Chinois de Jakarta: Temples et vie Collectives (1977) yang dikutip Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1989) menyebutkan bahwa dalam "Catatan Sejarah Tionghoa tentang Batavia" sekitar tahun 1650 Luitenant Tionghoa Guo Xun Guan [Kwee Hoen] mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Guan Yin [Kwan Im] di Glodok. Oleh karena itu, kelenteng tersebut disebut Guan Yin Ting [Kwan Im Teng] atau yang secara harafiah berarti “Paviliun Guan Yin”. Namun, ketika terjadi Tragedi Pembantainn Angke (1740) .kelenteng ini dirusak dan dibakar.

Tahun 1755 seorang Kapiten Tionghoa memugarnya dan memberi nama Jin De Yuan (Kim Tek Ie) Jin De [Kim Tek] artinya “kebajikan emas” dan Yuan [Ie] menurut Carstairs Douglas dalam Chinese-English Dictionary of the Vernacular or Spoken Language of Amoy (i.e. Xiamen), with the Principal Variations of the Chang-Chew (i.e. Zhangzhou) and Chin-Chew (i.e. Quanzhou) Dialects (1873:164a) berarti "Kelenteng yang berhalaman luas dengan beberapa bangunan umum".

Keterangan tertulis mengenai Kelenteng Jin De Yuan antara lain terdapat dalam Kai-ba li-dai shi-ji (Kronik Penduduk Tionghoa di Batavia). Dokumen tersebut menyebutkan bahwa kelenteng ini dibangun sekitar pertengahan abad XVII. Kelenteng yang disebut Guan Yin Ting itu dibangun tahun 1650 oleh Letnan Quo Xun Guan dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten Guo Jun Guan. Menurut kronik yang sama, nama Jin De Yuan diberikan oleh Kapten Huang Shi Lao (Huang Yi Qu) pada tahun 1755 (Salmon & Lombard 1980: 730). Masyarakat sekitarnya menyebut “Kelenteng Kim Tek I” (sekarang bernama “Vihara Dharma Bhakti”).

Data Bangunan
a. Bangunan Utama
Bangunan Kelenteng Jin De Yuan terdiri atas bangunan utama dan bangunan samping (sayap) kanan, kiri, dan belakang. Bangunan utama berukuran 12 x 26 m dengan orientasi arah utara-selatan. Bangunan ini memiliki serambi dan ruang utama. Dalam ruang utama terdapat ruangan depan, impluvium, dan ruang samping, serta ruang suci utama. Di ruang tengah bangunan utama terdapat impluvium yang lantainya lebih rendah dari lantai di sekelilingnya. Sedangkan, lantai ruang utama bagian depan, samping, dan belakang (ruang suci utama) dibuat lebih tinggi.

Ruang suci utama yang terletak di bagian belakang atau di sebelah utara terbagi menjadi tiga. Masing-masing ada patung dewanya. Ruang tengah lebih besar dari ruang yang lainnya, karena merupakan tempat altar dewa-dewa utama.

Serambi (teras) yang terletak di bagian depan dibatasi dengan dinding ruang utama dan memiliki pagar besi berwarna merah. Dinding depan ini mempunyai pintu masuk dengan dua daun pintu dari kayu. Pintu ini diberi gambar orang penjaga yang berpakaian perang (dewa pintu). Di atas ambang pintu terpampang sebuah papan horizontal berisi tulisan Cina yang menyebutkan nama kelenteng dan tanggal Minguo 25 (1936). Minguo adalah perhitungan tahun Cina yang dimulai dari tahun 1911. Dalam perhitungannya, angka belakang Minguo dijumlahkan dengan 1911. Selain pintu masuk yang menghadap ke selatan, juga terdapat dua pintu lain untuk menuju ke ruang utama. Pintu ini terletak di dekat pintu pertama (utama) dan keduanya berdiri saling berhadapan.

Di kanan-kiri pintu utama tampak sebuah bidang segi empat berukuran 120 x 160 cm. Bidang tersebut terbagi menjadi beberapa bidang (panel) yang tidak sama besarnya. Pada permukaan bidang ini diberi ukiran vas berbunga, seekor gajah dengan bunga-bungaan, atau pohon dengan hewan seperti burung atau rusa. Motif pada ukiran berwarna kuning keemasan dengan tepi bingkai berwarna merah, kuning, dan hitam. Di kiri-kanan pintu utama juga terdapat jendela bulat dengan ukiran yang menerawang ke dalam. Ukuran jendela ini berdiameter 192 cm. Di tengah bulatan bergambar lilin dengan motif awan, matahari, dan beberapa lambang Buddhis seperti suling, daun, dan tanduk, serta warna merah di sekelilingnya. Panel-panel yang lain berukuran 215 x 120 cm dengan relif yang menggambarkan burung phoenik dan naga yang ditempatkan di sudut-sudut bangunan.

Ruang bangunan bagian dalam terdiri atas ruang bagian depan, impluvium, samping ipluvium, dan ruang suci utama. Antarruang-ruang tersebut tidak ada dinding pemisah. Dinding pemisah hanya terdapat pada ruang suci utama yang terletak paling belakang sebagai tempat dewa-dewa. Di ruang utama bagian depan, tepat di depan pintu masuk, terdapat meja altar dan diletakkan sebuah patung Wei Tuo yang dianggap sebagai dewa penjaga kelenteng dengan sikap membelakangi, karena ia menghadap ke dalam. Patung ini berjubah dan bertutup kepala warna keemasan. Kedua tangannya diletakkan di depan dada sambil memegang pedang. Sebuah padupaan (tempat hio) dan dua vas bunga diletakkan di atas meja altar.

Di atas ambang pintu bagian dalam terdapat sebuah kotak berisi tiga patung sebagai gambaran dari San Yuan, yaitu “kaisar Tiga Dunia” yang merupakan dewa Taoist. Di sudut ruangan sebelah timur, dekat pintu masuk, terdapat penjualan keperluan upacara. Sedangkan, di sudut ruang sebelah barat ada sebuah lemari tempat menyimpan obat-obatan.

Setelah melewati altar Wei Tuo, terdapat satu bangunan yang disebut impluvium berukuran 5x6 meter dengan lantai yang lebih rendah dan beratap kawat. Imoluvium ini terbentang tidak beratap, hanya ditutup atap anyaman kawat sebagai pengaman. Di sebelah kanan dan kiri impluvium terdapat ruangan, sedangkan di sebalah barat terdapat sederetan kursi untuk istirahat dan meja panjang untuk menempatkan piring-piring makanan. Di dinding sebelah barat dipasang sebuah papan prasasti. Sementara, ruang sebelah timur impluvium juga terdapat sederet kursi untuk istirahat dan lemari dengan laci-laci tempat menyimpan kertas-kertas ramalan. Dinding ruangan ini juga terpampang sebuah prasasti. Pada kedua prasasti itu tertulis nama-nama para pederma yang telah membantu perbaikan berguna dengan jumlah uang atau benda lain yang disumbangkan. Salah satu prasasti tersebut menyatakan bahwa pada tahun 1890 telah dilaksanakan perbaikan atas inisiatif Kong Tong (Dewan Tionghoa) di Jakarta. Di sebelah kiri prasasti tersebut digantung sebuah tambur besar dari kulit macan, sedangkan di seberangnya tergantung sebuah genta. Tidak jauh dari impluvium ada pintu keluar menuju ke halaman samping dan halaman belakang. Pintu ini berada di bagian barat menyamping. Bentuknya serupa dengan pintu masuk utama yang terdiri dua daun pintu, tetapi bentuknya lebih kecil yaitu tinggi 236 cm, lebar 60 cm, dan dicat merah.

Ruang suci utama berada di bagian paling belakang (lantainya paling tinggi). Di ruangan ini tempat patung-patung dewa. Di dinding barat dan timur, di dalam almari kaca, masing-masing terdapat sembilan patung Luo Han atau arhat yang dilapis warna emas. Di tengah-tengah ruang suci utama ditempatkan dua meja panjang berukir. Satu meja untuk Dewa Kwan Im dan dua pengiring yang disimpan dalam lemari kaca. Ketiganya berwarna keemasan. Dewa Kwan Im digambarkan dalam sikap duduk di atas bunga lotus dengan kaki bersila dan mempunyai tangan sebanyak sembilan pasang. Sepasang terletak di depan dada dan yang lainnya memegang sebuah benda. Seorang pendampingnya juga duduk di atas bunga lotus dengan melipat tungkai kaki ke atas dan tungkai kaki kiri dilipat mendatar. Sedangkan, pendamping yang lainnya menduduki seekor singa dengan kedua kaki menjuntai ke bawah dan tangan di depan dada. Sebuah bejana kuningan diletakkan di depan lemari kaca tersebut. Meja panjang lainnya dipergunakan sebagai tempat buku-buku kitab suci, sebuah kotak hitam tempat membakar kayu cendana, dan kentongan agak bulat yang disebut bo-ki.

Bagian paling belakang ruang suci ini terdiri atas tiga ruang yang diisi patung-patung dewa. Ruang terbesar berada di tengah tempat patung dewa utama, yaitu sebuah patung kayu Kwan Im berwarna hitam yang didampingi seorang pengiring dan tiga patung Budha besar di belakangnya. Ketiga patung Budha itu disebut Tri Tunggal Budhis atau San-zun fo-zuy yang terdiri atas Sakyamuni Buddha, Bhaisjyaguru, dan Amitabha (Salmond dan Lombard 1985: 59-0). Ketiga pantung ini diberi warna emas, tanpa jubah kain. Patung Kwan Im berjubah saten kuning dengan kerudung sutera merah panjang dan mahkota di kepalanya. Pengiring juga diberi jubah sutera dan mahkota.

Ruang patung dewa utama berkaca dan diberi tirai merah yang diletakkan ke samping. Sebuah lampu kristal bunder meneranginya. Di bagian atas tirai digantung sehelai kain (sulaman yang bertuliskan huruf Cina pada kain sutera). Kain ini merupakan sumbangan seseorang yang telah berhasil permintaannya. Di depan ruang dewa ini berdiri sebuah meja panjang untuk persembahan yang berisi dua pelita yang terus menyala (disebut pelita kehidupan), dua jambangan besar, lampu keramik bundar, beberapa piring berisi sajen kue dan buah-buahan. Tempat kuningan untuk pedupaan diletakkan di atas meja kecil di depan meja panjang.

Ruang lain yang berada di sebelah kanan (timur) Kwan Im berisi patung dewa Guan Di (Kwan Kong) sebagai dewa perang (berpakaian perang warna emas). Selembar kain sutera merah menyelimuti kedua bahunya dan tutup kepala juga berwarna merah. Wajahnya merah dan berjenggot. Kedua pengawal juga berpakaian perang dan salah seorang berwajah coklat dan membawa tombak. Mereka diterangi dua lampu merah kecil di depannya. Di ruang sebelah kiri (barat) Kwan Im berisi patung Dewi Ma Co Po (Thian Huo) sebagai pelindung para pelaut dan dua orang pengiringnya. Jumah Ma Co Po disepuh keemasan dan selembar kain sutera merah menutupi bahu. Ruangan ini diterangi dua lampu merah kecil dan di depannya diletakkan meja untuk tempat pedupaan dan sesajian.

b. Bangunan samping
Sesuai dengan namanya bangunan ini terpisah dari bangunan utama. Untuk menuju ke sana melalui dua pintu yang berada di tengah dinding barat dan timur bangunan utama. Sebuah halaman berada di antara bangunan utama dan bangunan samping yang mengelilinginya. Dari pintu penghubung dibuat sebuah koridor hingga ke teras. Di halaman samping ada sebuah tempat pembakaran kertas dari bata yang berbentuk pagoda (dekat ke dua pintu penghubung). Di belakangnya (utara) terdapat tiga genta dan satu pembakaran kertas kuno (jin-lu) yang terletak tepat di balik dinding utara ruang suci utama yang semuanya terdapat angka tahunnya (berhuruf Cina). Masing-masing genta berukuran tinggi 75-100 cm, diameter antara 67-76 cm. Genta yang terbesar berhiasan naga dan yang terkecil berhiaskan manusia yang bersikap akrobatik. Sedangkan, tempat pembakaran berukuran tinggi 200 cm dan lebar 40 cm, berbentuk menyerupai rumah yang ditopang empat tiang. Tempat tersebut terbuat dari besi cor (dari kaki hingga atap penuh dengan ukiran). Di bagian tubuhnya bertulisan prasasti yang menyatakan bahwa jin-lu ini dibuat di Kwantung pada tahun 1821. Sebagai catatan, benda-benda tersebut sudah tidak terpakai lagi.

Pada bangunan samping ini terdapat ruang-ruang dengan altar-altar sekunder yang terpisah dari ruang suci utama. Bentuk denah bangunan samping yang berada di sisi-sisinya (kanan, kiri, dan belakang bangunan utama) menyerupai huruf “U” terbalik serta susunan tata letak ruang-ruang di sebelah barat dan timur simetris. Beberapa tahun yang lalu salah satu ruang di bagian timur mengalami perubahan. Dinding bangunan samping berdiri di atas lapik yang tidak tinggi, tetapi lantai di dalam ruangan-ruangan tidak ada yang ditinggikan. Dinding bangunan dipergunakan sebagai penyangga atap, ruangannya terbuka, tanpa pintu untuk penempatan altar dewa. Sedangkan, ruang tertutup dilengkapi dengan pintu yang bercat merah dan jendela yang beruji untuk tempat penyimpanan barang-barang atau keperluan lainnya.

Atap bangian dalam bangunan samping dibuat dari papan-papan kayu berwarna hitam yang disusun berjejer ke samping. Atap luar terbuat dari genting, berbentuk pelana berwarna polos putih. Ruang-ruang bangunan samping yang terbuka dipergunakan untuk menyimpan patung dewa. Dewa-dewa di sini diberi pak wan dan mahkota dilapisi warna emas, selebar kain saten merah yang menutupi kedua bahu. Selain itu, di ruangan ini terdapat patung pendamping, dua buah lampu merah kecil yang ditempatkan dalam lemari kayu, dan sebuah tempat pedupaan dari kuningan yang diletakkan di atas meja (di depannya), serta dua lilin besar dalam keadaan terus menyala.

Dewa yang berada di bangunan samping bagian timur yaitu: patung dewa To Ta Thian Wang (Thian Ong) berjenggot dan didampingi oleh No Cak Gong (Lo Cah Kong) dan Mu Cak Gong (Bok Zha Kong). Mereka dianggap sebagai pemberi pertolongan kepada orang yang mengalami kesulitan. Arca-arca lain seperti: Qin, Shui Zu Shi (Cu Su Kong) sebagai dewa laut; Can Kui Zi Shi (Cuo Kue Cosu) atau guru pertama seorang rahib dari Yanping, Fujian (arca mengenakan jubah kuning dan tangannya memegang kipas); macan (harimau) putih yang ditempatkan dalam suatu kotak yang berbentuk rumah; Cheng Huan Yi (Seng Ho Ja) atau dewa sumpah; Tai Sui Ye (Tai Sue Ye); dan Hua-po (Hua-kong hua-bu) sebagai pelinduk anak.

Patung-patung dewa pada bagian samping sebelah belakang (utara) yaitu: (1) Patung Dutho Jiang Jun (Tatmo Co Su) berawjah suram berwarna coklat, mata melotot, berambut keriting dan berjenggot. Ia sebagai dewa yang dapat memberi keselamatan bagi pemujanya; (2) Patung Dewa Ze Hai Zhen Ren (Tik Hai Cin Jin) sebagai pelindung samudera dan di sampingnya berdiri Dewa Wen Chang Gong (Boen Ciong Kong) yang memegang seperti gulungan kertas sebagai ahli sastra, serta ditemani oleh seorang pengawal; (3) Patung Dewa Mi-lei-fo berperawakan gendut, sedang tertawa, duduk dengan satu lutut terangkat, sehingga perutnya kelihatan. Ia dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain bagi yang memujanya; dan (4) Xuan Tan Gong (Hian Tan Kong), ia sebagai tempat meminta pertolongan oleh orang sakit agar sembuh. Ia berjenggot, memakai pakaian kebesaran dan mahkota, lima orang pengawal bersenjatakan pedang.

Dewa-dewa yang berada di bagian samping sebelah barat dimulai dari utara, yaitu: (1) Dewa Fu De Zheng Shan atau Hok Tek Ceng Sin (dewa bumi) dengan dua pengawalnya yang berwajah hitam. Ciri-cirinya yaitu orang tua berjenggot, bermahkota, dan berwajah merah; (2) Cai Shen Ye (Chay Sin Ja) atau dewa bintang kekayaan. Ia ahli menghimpun kekayaan. Dewa ini disertai pendamping yang berdiri di sampingnya; (3) Macan agak besar dan dikelilingi empat macan kecil, orang memuja agar terhindar dari kesakitan; (4) Himpunan arca-patung dewa yang merupakan sumbangan orang-orang. Selain itu, ada tempat penyimpanan papan nama serta foto para pendeta yang telah meninggal di kelenteng ini.

c. Halaman
Di sebelah selatan terdapat sebuah gapura besar menyerupai gerbang dengan bagian atap yang tertutup. Bentuk ini disebut tipe pai lou (jenis paduraksa). Gerbang ini menyatu dengan tembok pagar yang melebar ke samping. Di tengah gapura terdapat dua daun pintu terbuat dari kayu berwarna merah khas kesenian Cina. Tepat di atas ambang pintu terpampang tulisan “Vihara Dharma Bhakti”. Sementara, di bagian luar sederetan huruf Cina berbunyi “Kim Tek I” pada sisi gapura bagian dalam. Atap gapura berbentuk pelana. Gapura yang lebih kecil terdapat pada pagar tembok sebelah timur. Keduanya juga berbentuk arsitektur Cina, walaupun pintunya bukan dari bahan kayu lagi, melainkan dari besi. Di halaman pertama ini berdiri tiga bangunan kelenteng lainnya yang semuanya menghadap ke arah timur. Halaman kelenteng dipergunakan untuk upacara-upacara tertentu hingga sekarang.

Halaman lainnya dibatasi pagar tembok setinggi 170 cm. Pintu masuk ke halaman ini terbuat dari besi (berada di tengah tembok). Bagian atasnya terpampang tulisan “Yayasan Vihara Dharma Bhakti”. Di masa lalu lapangan di dalam lingkup halaman ini merupakan sebuah taman kecil yang dihiasi tanaman, namun sekarang dengan semakin banyaknya jumlah umat yang bersembahyang diubah menjadi pelataran berlantai semen. Di bagian tengah halaman ini, tepatnya di muka bangunan kelenteng, berdiri sebuah bangunan segi delapan tanpa dinding yang ditopang oleh tiang kecil-kecil berjumlah empat buah. Atapnya juga berdenah segi delapan bersusun dua. Setiap jurainya mengarah ke atas. Bagian puncaknya dihiasi bunga teratai yang sedang mekar.

Di tengah bangunan terdapat sebuah wadah terbuat dari kuningan, berdiameter 85 cm. Wadah ini diletakkan di atas alas berbentuk bunga teratai berfungsi untuk tempat menancapkan hio setelah melaksanakan sembahyang kepada Thian (Tuhan). Di halaman ini terdapat sepasang patung singa (bougushi) berdiri di atas laping setinggi 70 cm yang berfungsi sebagai penjaga. Tinggi patung singa 80 cm, terbuat dari batu berada di kiri dan kanan halaman. Bangunan lainnya adalah dua buah balai pengobatan yang terletak di sebelah barat (bersebelahan dengan Vihara Dharma Bakti). Sedangkan, lainnya tepat di sisi timur bangunan utama Kelenteng Jin De Yuan.

Sumber:
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
http://community.siutao.com
http://www.detiknews.com
http://www.geocities.com

Muliaman Darmansyah Hadad

Muliaman Darmansyah Hadad merupakan salah seorang putra Bekasi yang berhasil menempati beberapa posisi strategis di pemerintahan. Pria yang lahir pada tanggal 3 April 1960 ini sudah mulai menunjukkan prestasi dengan menyelesaikan pendidikan dasarnya lebih cepat dari yang seharusnya (wikipedia.org). Begitu pula ketika menempuh pendidikan tingkat tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Studi Pembangunan pada tahun 1979 Muliaman memperoleh gelar Sarjana Ekonomi tahun 1984 sebagai salah satu lulusan tercepat di antara teman-teman satu angkatannya.

Dua tahun setelah mendapat gelar Sarjana Ekonomi, Mualiman memulai karir dengan bekarja sebagai staf umum di Kantor Bank Indonesia cabang Mataram. Tahun 1990 Muliaman kembali melanjutkan pendidikan di John F Kennedy School of Government, Havard University dan memperoleh gelar Master of Public Administration satu tahun setelahnya. Tidak puas hanya mendapat gelar Master, lima tahun kemudian (1996) dia pergi ke Australia untuk belajar di Faculty of Bussines and Economics Monas University hingga memperoleh gelar Doctor of Philosophy.

Sekembali dari Australia, tahun 2003 Muliaman diangkat sebagai Kepala Biro Stabilitas Keuangan lalu menjadi Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan pada tahun 2005 (finance.detik.com). selanjutnya, berdasarkan Keputusan Presiden RI No.69/P Tahun 2006, tanggal 22 Desember 2006 diangkat menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Jabatan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia ini diembannya dua kali setelah dilantik kembali oleh Ketua Mahkamah Agung Harifin A Tumpa pada tanggal 29 Desember 2011 berdasarkan Keputusan Presiden No.75/P tanggal 21 Desember 2011. Dalam proses pemilihannya Muliaman berhasil mengalahkan Wakil Direktur Bank Mandiri Riswandi yang merupakan hasil pilihan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI.

Selain jabatan prestisius tadi, Muliaman juga aktif sebagai Anggota Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan, Basel Committee on Banking Supervision (BCBS), Financial Stability Board (FSB), Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Sekretaris Dewan Penasihat Indonesian Risk Proffesionals Association (IRPA), Ketua Komite Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dan pengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta (finance.detik.com).

Setelah tidak menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Komisi XI DPR RI yang dilaksanakan pada 19 Juni 2012. OJK sendiri adalah sebuah lembaga supervisi industri jasa keuangan. Bersama Nelson Tampubolon, Nurhaida, Rahmat Waluyanti, Firdaus Djaelani, Ilya Avianti, dan Kusumaningtuti S Soetiono, Muliaman mengelola dana OJK yang besarnya setara dengan produk domestik bruto Indonesia (ekonomisyariah.org).

Terpilihnya Muliaman sebagai ketua OJK tidak lepas dari sepak terjangnya dalam dunia perbankan khususnya dalam penelitian dan pengaturan perbankan di Indonesia. Baginya, untuk mengatur sektor keuangan Indonesia OJK harus memiliki sejumlah karakteristik tertentu agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Salah satunya adalah berhati-hati dalam menjalankan pengawasan terhadap industri jasa keuangan, terutama pada lembaga keuangan yang mengelola dana seperti bank, asuransi, dana pensiun, hingga pasar modal. Selanjutnya, kegiatan pengawasan dilakukan sebagai “business is not as usual”. Kemudian, membangun koorniasi dengan Bank Indonesia agar tidak terjadi overlapping pekerjaan. Dan, karakteristik lainnya adalah meningkatkan kebijakan keuangan yang bersifat inklusif dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat.

Jabatan sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK diemban Muliaman dari tahun 2012 hingga 2017. Usai menunaikan masa bakti di OJK, awal tahun 2018, tepatnya tanggal 20 Februari 20108, Muliaman secara resmi dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk negara Swiss merangkap Leichtenstein. Muliaman menggantikan Linggawaty Hakim yang telah telah menjabat sejak 11 Februari 2014.

Foto: http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/09/03/ojk-minta-lembaga-keuangan-non-bank-biayai-infrastruktur
Sumber:
“Muliaman Darmansyah Hadad”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Muliaman_Darman syah_Hadad, tanggal 25 Mei 2019.

“Muliaman Darmansyah Hadad”, diakses dari https://finance.detik.com/moneter/d-1946032/ini-profil-7-petinggi-ojk-terpilih/2, tanggal 25 Mei 2019.

“Dr. Muliaman D Hadad [Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah] Memimpin Otoritas Jasa Keuangan”, diakses dari http://www.ekonomisyariah.org/4569/dr-muliaman-d-hadad-ketua-umum-masyarakat-ekonomi-syariah-memimpin-otoritas-jasa-keuangan-ojk/, tanggal 26 Mei 2019.

Siti Rohmah

Bila berbicara mengenai emansipasi di Indonesia, tentu yang terbayang adalah gambaran nama-nama besar seperti Kartini sebagai perempuan Jawa yang walau dapat menyuarakan isi hati melalui tulisan namun tetap tunduk pada aturan patriakis, Raden Dewi Sartika yang memberi pengajaran bagi anak negeri, hingga perempuan-perempuan gagah berani (Cut Nyak Dhien dan Martha Kristina Tiahahu) yang memimpin pasukan menghalau penjajah.

Di beberapa daerah juga ada perempuan-perempuan pejuang emansipasi seperti di atas, namun karena peran mereka kurang diekspos, maka jarang ada yang mengetahui. Di daerah Bekasi misalnya, ada seorang perempuan pejuang bernama Siti Rohmah. Beliau adalah putri dari KH Abdul Mugni dan isteri dari pahlawan nasional KH Noer Ali. Mereka menikah pada bulan April 1940 dan dikaruniai tujuh orang putri serta lima orang putra.

Perempuan yang biasa dipanggil Nyai Rohmah ini merupakan orang yang berada di belakang perjuangan KH Noer Ali yang terkenal dengan julukan Si Singa Bekasi. Sang suami berjuang dengan memanggul senapan memimpin laskar Hisbullah menghalau penjajah, sedangkan sang isteri dalam dunia pendidikan demi mencerdaskan kaum bumi putra.

H Madinah

H Madinah adalah Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Madaniyah, Ketua Tanfidhiyah Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi, dan sekaligus juga menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Bekasi Barat, Kota Bekasi. Seabreg jabatan tersebut tidak lepas dari perjuangan serta pengalaman hidup yang ditempuhnya selama ini yang mulai dirintis dari bawah.

Laki-laki kelahiran Bekasi tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama yang agak dominan. Dia mengawalinya dengan bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al Hidayah (1977) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Agus Salim (1981). Lulus dari MTS Agus Salim, Madihan melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru Negeri Lubang Buaya (1984). Kemudian hijrah ke Bandung untuk menempuh pendidikan tinggi di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunungjati (1996), Uninus Bandung (1997), dan Akta IV di Unisma 45 (1999). Terakhir dia mendapatkan ijazah S2-nya di Jakarta pada tahun 2008 (tentangbekasi.com).

Selama menempuh pendidikan formal keseharian Madinah tidak melulu belajar dan belajar. Di sela-sela waktu, berbekal sepeda onthel dia pernah menjadi loper koran, tukang dekor hajatan, penjual petasan,hingga berjualan es mambo dari daerah Jatiasih sampai ke Halim. Selain berdagang, dia juga menyempatkan diri belajar agama pada beberapa orang berpengaruh, seperti: KH Musryid Kamil, KH Latif Kamil (DR Syafie Kamiel), KH Mir’an Syamsuri, KH Jamaksari, KH Noer Ali, KH Muhazirin, KH Sirojil Munir, KH Dawam, dan DR KH Ali Mustofa Yakub.

Pada saat bersekolah di SPGN Lubang Buaya, pada tahun 1982 Madinah pernah menjadi menjadi guru honorer di salah satu sekolah di daerah Bekasi. Waktu itu, honor pertama yang diterima hanya sebesar Rp.5.000,00 per bulan. Namun seiring waktu meningkat menjadi Rp.12.000,00 dan di tahun 1996 menjadi RP.50.000,00 per bulan. Walaupun honorarium relatif kecil Madinah tetap menjalaninya, sebab dia beranggapan bahwa mengajar merupakan sebuah pengabdian bagi sesama sekaligus sebagai ibadah mencari ridlo Illahi.

Pengalaman hidup inilah yang kemudian membuat Madinah dapat lebih menghargai setiap kejadian. Dia berpendapat bahwa hidup haruslah cerdas dan jangan menjadi orang bodoh. Orang harus bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup dan dapat mengambil hikmah sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal. Selain itu, juga menjaga “lima masa sebelum datang lima masa berikutnya”. Menurut poskotanews.com, masa-masa tersebut adalah masa muda sebelum masa tua, masa kaya sebelum miskin, masa sehat sebelum sakit, masa luang sebelum sibuk, dan masa hidup sebelum kematian.

Atas dasar prinsip hidup tersebut, Madinah bersama sejumlah tokoh ulama Bekasi kemudian mendirikan sebuah pondok pesantren yang diberi nama Miftahul Madaniyah. Pendirian pondok pesantren bertujuan agar generasi penerus bangsa memiliki akhlak baik di tengah masyarakat yang norma-norama aturannya sudah mulai bergeser. Adapun peresmiannya sendiri dilakukan pada tahun 2014 oleh Walikota Bekasi Rahmat Efeendi yang juga dihadiri pula oleh KH Ali Mustofa Yakub dan H Roma Irama.

Saat ini, di sela-sela kesibukan sebagai pimpinan pondok pesantren dan kepala KUA Bekasi Barat, Madinah juga menjabat sebagai Ketua Tanfidhiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi menggantikan KH Abdul Majid yang telah usai masa kepengurusannya. Pemilihan Madinah sebagai pengurus PCNU berlangsung dalam Konferensi Cabang IV Nahdlatul Ulama Kota Bekasi di Islamic Center. Madinah sebagai figur panutan di Bekasi dianggap mampu merangkul semua elemen dan potensi NU dalam mengembangkan peran dan manfaat kepada masyarakat (poskotanews.com).

Sumber:
“Tokoh Asli Jatiasih jadi Ketua NU Kota Bekasi”, diakses dari http://poskotanews.com/2018/12/19/tokoh-asli-jatiasih-jadi-ketua-nu-kota-bekasi/, tanggal 3 Juli 2019.

“Madinah: Jadikan Pengalaman Hidup sebagai Pembelajaran”, diakses dari http://www.tentangbekasi.com/2017/09/22/madinah-jadikan-pengalaman-hidup-sebagai-pembelajaran/, tanggal 2 Juli 2019.

“Kepala KUA Ini Pernah Jadi Loper Koran Pos Kota”, diakses dari http://poskotanews.com/2017/04/01/kepala-kua-ini-pernah-jadi-loper-koran-pos-kota/, tanggal 3 Juli 2019.

H Ilyasa

H. Ilyasa bin H. Malih adalah seorang pejuang kemerdekaan dari daerah Babelan, Kabupaten Bekasi. Beliau merupakan bagian dari Laskar Hisbullah pimpinan oleh H. Noer Alie. Laskar Hisbullah sendiri berawal dari para santri asuhan KH. Makmun Nawawi yang mendapat pelatihan militer sebagai bekal menghadapi tentara sekutu. Adapun pelatihan perdananya dilaksanakan pada 28 Februari 1945 dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim (mewakili KH Hasyim Asy’ari) dan beberapa tokoh lain seperti KH. Zainul Arifin, dan KH. Noer Alie (kini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional) serta dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Nippon, pimpinan pusat Partai Masyumi, dan para Pangreh Praja.

Para santri yang ikut serta dalam pelatihan tidak melulu berlatih perang menghadapi musuh. Pada malam hari mereka mengaji dengan beberapa ulama seperti KH. Mustada Kamil dari Singaparna dan lain sebagainya. Usai pelatihan para santri kembali ke kampung halaman masing-masing guna memberikan latihan kepada para pemuda lain. Hasilnya, pada saat Jepang menyerah anggota Hizbullah telah mencapai sekitar 50.000 orang. Menurut muslimedianews.com, mereka tidak saja aktif selama revolusi fisik, tetapi juga mampu mengubah peta militer di Indonesia.

Para laskar Hizbullah ini masuk menjadi sayap militer bagi Partai Masyumi yang berdiri pada 7 November 1945. Bersama dengan laskar Sabilillah, mereka kemudian bertempur melawan tentara Sekutu pada pertempuran 10 November 1945. Selanjutnya, bersama Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang diprakarsai M. Natsir dan KH. Wahid Hasyim laskar Hizbullah dan Sabilillah membentuk Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia yang menentang semua perundingan dengan Belanda selepas agresi militer pertama 1947.

Sebagai mantan anggota laskar Hisbullah, Ilyasa tentu pernah merasakan pahit getirnya berjuang demi merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Beliau pernah ikut terlibat dalam baku tembak melawan tentara Sekutu di daerah Pedaengan (kini bernama Cakung di Jakarta Timur), tepatnya di sekitar front demarkasi pasca Jakarta dijadikan sebagai kota diplomasi pada 9 November 1945.

Pada waktu itu, seluruh pasukan bersenjata (kecuali polisi) diharuskan keluar dari wilayah Jakarta dan keberadaan tentara hanya boleh diwakilkan oleh kantor penghubung di Jalan Cilacap Nomor 5. Sungai Cakung dijadikan sebagai garis demarkasi yang dijaga oleh pasukan Batalyon III Bekasi dan sejumlah organisasi perjuangan lain termasuk laskar Hisbullah di bawah pimpinan KH Noer Ali.

Garis demarkasi yang dijaga oleh Ilyasa dan kawan-kawannya tersebut tidak dapat bertahan lama karena pasukan Sekutu terus mendesak hingga terjadilan pertempuran Sasak Kapuk di daerah Pondok Ungu pada 29 November 1945. Sebelum terjadi pertempuran, konvoi pasukan Sekutu yang datang dari arah Klender menuju Cakung sempat dihadang di daerah Kranji oleh kelompok pesilat Subang pimpinan Ama Puradiredja.

Meski tidak berdampak besar, konvoi pasukan Sekutu sempat tercerai berai sebelum dihantam lagi di Sasak Kapuk oleh gabungan laskar Hisbullah, angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), serta para pemuda rakyat. Namun karena kalah dalam persenjataan, Ilyasa dan rekan-rekannya terpaksa mundur ke arah Kaliabang. Beruntung, mereka hanya dihujani tembakan dan tidak dikejar oleh pasukan Sekutu hingga ke Kaliabang.

Ada cerita menarik ketika Ilyasa melarikan diri ke Kaliabang. Saat itu senapan Lee Enfield-nya nyaris hilang. Padahal itulah senjata api satu-satunya yang dimiliki. Sebelumnya, beliau hanya memakai golok atau alat panah bermata bambu yang diberi racun dari tubuh katak beracun. Senapan Lee Enfield sendiri didapat dari seorang penghubung tentara yang sering berkomunikasi dengan atasannya (KH Noer Ali). Senapan Lee Enfield (buatan Inggris) beliau anggap lebih mudah digunakan dan relatif tepat sasaran ketimbang senjata buatan Jepang yang sering meleset alias tidak mengenai target.

Saat ini, di sisa-sisa hidupnya Ilyasa tetap menyimpan semangat sebagai seorang pejuang. Beliau enggan menerima tunjangan dari pemerintah. Kendati hidup dalam kesederhanaan, Ilyasa tetap memegang teguh sumpah sebagai anggota laskar Hisbullah yang harus berjuang tanpa pamrih (tanpa mengharapkan balas jasa) demi menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Foto: https://historia.id/politik/articles/aksi-pejuang-bekasi-DrBeb

Kampung Wayang Urban

Kampung Wayang Urban merupakan nama lain dari RW 08 di Jalan Pangaran, Kelurahan Cikawao. Rukun Warga ini dijadikan sebagai kampung wayang urban oleh Kecamatan Lengkong karena sejak tahun 1964 ada salah seorang warganya (Ruhiyat) yang bekerja sebagai perajin wayang golek. Keahlian membuat wayang tersebut kemudian diturunkan kepada salah seorang anak bernama Tatang yang hingga kini masih eksis dengan berbagai macam pembaruan bentuk wayang kreasinya.

Selain itu, Tatang juga “menularkan” keahliannya pada anak-anak di sekitar Jalan Pangaran dengan tujuan untuk mengenalkan serta membangkitkan rasa cinta mereka terhadap wayang serta sejarahnya. Konsepnya bukan hanya memperkenalkan wayang klasik melainkan juga kontemporer. Jadi, apabila sore hari sepulang sekolah banyak anak yang mencoba membuat dan mewarnai wayang dalam berbagai macam bentuk yang dipadupadankan dengan beberapa tokoh superhero dari luar negeri.

Dan, agar menarik minat wisatawan, belakangan Kampung Wayang Urban juga mengembangkan kerajinan lain seperti topeng, lampu hias, dan barang souvernir lainnya yang diproduksi oleh para ibu Majelis Taklim Kelurahan Cikawao dan Turangga. Berbagai macam cinderamata tersebut tidak hanya dipasarkan di dalam kampung, tetapi juga ke hotel-hotel di sekitaran wilayah Kota Bandung.

Foto: http://jabarekspres.com/2018/wayang-urban-jadi-unggulan-lengkong/

Kampung Toleransi Paledang

Kampung Toleransi sebenarnya merupakan sebuah gang bernama Ruhana yang berada di Jalan Lengkong Kecil, Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. Untuk dapat mencapainya relatif mudah karena berada di pusat Kota Bandung, tepatnya tidak begitu jauh dari jalan utama Lengkong Kecil. Sebagai penanda gang ada papan petunjuk Masjid dan Madrasah Al-Amanah serta gapura masuk yang agak mencolok dihiasi payung warna-warni. Di dalam kampung, rumah-rumah berdinding torehan mural berisi gambar dan pesan-pesan mengenai toleransi. Sementara di bagian ujung gang ada sebuah masjid yang berdiri bersebelahan dengan vihara.

Gang ini diresmikan menjadi Kampung Toleransi oleh Pjs Walikota Bandung Muhamad Solihin pada tanggal 5 November 2018. Adapun tujuannya adalah sebagai upaya Pemerintah menjaga keberagaman di Kota Bandung yang telah sekian lama dihuni oleh warga bermacam sukubangsa, ras, dan agama maupun kepercayaan. Atau dengan kata lain, keberadaan Kampung Toleransi dimaksudkan untuk memperkuat kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Kota Bandung.

Gang Ruhana sendiri bukanlah yang pertama dijadikan sebagai Kampung Toleransi. Sebelumnya Pemerintah Kota Bandung juga telah meresmikan Kampung Toleransi Jamaika yang berada di RW 04, Kelurahan Jamaika, Kecamatan Bojongloa Kaler sebagai media komunikasi sekaligus penjaga toleransi atas keberagaman yang ada di Kota Bandung.

Foto: http://humas.bandung.go.id/humas/foto/2018-05-11/peresmian-kampung-toleransi-paledang

Festival Lengkong Balakecrakan

Selain Kampung Toleransi, di Kelurahan Paledang, tepatnya di RW 01 ada pula event khusus yang dapat dijadikan sebagai potensi budaya yaitu Festival Lengkong Balakecrakan. Festival ini sengaja diadakan secara rutin untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus sebagai saranan perekat persatuan dan kesatuan warga masyarakat Lengkong. Adapun pihak penyelenggaranya melibatkan pihak UMKM, Kepolisian, Babinkamtibmas, PKK, Karang Taruna, dan warga masyarakat lain di RW 01. Sedangkan lokasinya berada di perempatan Jalan Lengkong Besar dan Lengkong Kecil.

Di sepanjang jalan berjarak sekitar 500 meter tersebut mulai dari pagi hari hingga tengah malam dialihfungsikan menjadi sebuah pesta rakyat. Pada tahun 2018 para budayawan dan seniman dari berbagai daerah di Jawa Barat hingga Banten silih berganti menampilkan sejumlah kesenian tradisional buhun, seperti: dogdog lojor, karinding buhun (Komunitas Tradisional Karinding Jempling Asgar) yang melantunkan petuah-petuah leluhur, benjang, antraksi laes khas kampung adat Ciptamulya dan Ciptagelar, debus, dan lain sebagainya.

Foto: https://www.ayobandung.com/read/2018/09/23/38417/ngeri-pesta-rakyat-lengkong-balakecrakan-suguhkan-atraksi-debus

Masjid Agung Buahbatu

Masjid Agung Buahbatu (dulu bernama Masjid Kaoem Boeahbatoe) berada tidak jauh dari Pasar Kordon di Jalan Margacinta-Terusan Buahbatu. Masjid ini merupakan masjid tertua di kawasan Bandung Selatan yang mulai dibangun pada 17 Ramadhan 1357 H (10 November 1938) dengan peletakan batu pertama oleh Bupati Bandung Padoeka Kandjeng Dalem Raden Wiranatakoesoema hingga selesai dan diresmikan pada 22 Jumadil Awal 1358 H atau 9 Juli 1938. Adapun pelindung kepanitiaan pembangunan masjid adalah Raden Wiriadipoetra yang juga menjabat sebagai Wedana Oejoengbroeng sedangkan yang bertindak sebagai petugas pengawas (Noe Nitenan) adalah Opzichter Desawerken RR Bandoeng Mas Memed.

Selain Padoeka Kandjeng Dalem Raden Wiranatakoesoema dan Mas Memed, nama-nama lain yang ikut terlibat dalam proses pembangunan masjid tercatat di prasasti peresmian terpahat pada lempengan batu marmer berbentuk persegi yang ditempel pada salah satu tiang di teras masjid. Mereka adalah Padoeka Djoeragan Raden Demang Wiriadinata, Patih Bandoeng, Paduka Djoeragan Raden Hadji Abdul Kadir, Penghoeloe Bandoeng, Padoeka Djoeragan Raden Moehammad Enoch, Padoeka Djoeragan Raden Wiriadipoetra, dan Wedana Oejoengbroeng.

Sebagai catatan, masjid yang dirancang oleh N. Goedbloed Bouwkundige ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan tahun 1988 pada masa pemerintahan Bupati Bandung HD Cherman E dengan menghancurkan seluruh bangunan masjid dan hanya menyisakan prasasti peresmian. Selesai renovasi, dibuat prasasti lagi bertuliskan “Masjid Agung Buah Batu diresmikan Bupati Bandu HD Cherman E, Paseh 16 Desember 1988”.

Satu dasawarsa kemudian (tahun 2002) bangunan mulai direnovasi lagi karena telah tercakup dalam wilayah pemekaran Kota Bandung. Dan sejak saat itu, perombakan demi perombakan terus dilakukan dari mulai hal-hal kecil hingga besar. Perombakan besar terjadi pada tahun 2010 dan baru rampung dua tahun setelahnya. Tanggal 30 Agustus 2010 atau 20 Ramadhan 1431 H hasil perombakan diresmikan oleh Walikota Bandung Dada Rosada dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Sebagai penanda, keduanya membubuhkan tanda tangan pada prasasti hitam yang berada di bawah prasasti yang diresmikan oleh HD Cherman E.

Saat sekarang, bangunan masjid yang diarsiteki oleh H. Ahmad Nu’man ini telah berlantai dua. Pada bagian kubah berwarna emas sedangkan dinding luar berbalut kaca patri bermotif kaligrafi berwarna kuning dan hijau. Sementara untuk lantai bagian dalam berbahan parkit dan luarnya menggunakan keramik. Dan, untuk menambah kemegahan masjid, di sekeliling bangunan dipasang kusen-kusen terbuat dari kayu jati.

Foto: https://komunitasaleut.com/tag/masjid-agung-buah-batu/

Bulava Mpongeo (Emas Mengeong)

(Cerita Rakyat Sulawesi Tengah)

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Bulunggatugo atau Limboro/Towale ada seorang raja baik hati. Apabila sedang tidak mengurusi masalah kerajaan, dia menghabiskan waktu dengan menekuni hobi lamanya, yaitu mencari dan menangkap udang di sungai dekat benteng kerajaan. Tetapi karena telah lanjut usia, secara ngerangsur-angsur hobi ini tidak dilakukan sendiri, melainkan menitah belasan orang dayang istana yang berparas cantik jelita dan menggemaskan untuk mencarinya.

Suatu hari Sang Raja ingin sekali mendapat udang dari kuala sungai yang bermuara di Gunung Ravi. Untuk itu, dikerahkanlah para dayang agar segera mempersiapkan segala perlengkapan dan peralatan penangkap udang. Setelah siap, berangkatlah mereka (para dayang) secara beriringan menuju kuala yang diperkirakan masih terdapat banyak udang berukuran relatif besar.

Sesampai di lokasi para dayang mulai merentang jaring. Namun, setelah ditunggu sekian lama, tidak ada seekor pun yang berhasil terjaring. Mereka lalu pindah ke lokasi baru. Tetapi tetap saja tidak memperoleh hasil. Malah yang terjaring adalah sebutir mirip telur ayam. Telur itu lantas dibuang begitu saja karena target sasaran adalah udang.

Begitu seterusnya. Setiap menebar jaring yang terperangkap adalah sebutir telur yang telah dibuang berulang kali, seakan si telur selalu mengikuti ke mana pun jaring ditebar. Mereka akhirnya menyerah dan membawanya ke istana sebagai “hasil tangkapan” pengganti udang. Rencananya telur tadi akan dijadikan sebagai “tersangka” menghilangnya kawanan udang di sekitar kuala.

Sang Raja yang mendengar pengakuan para dayang tidak lantas mengambil tindakan. Biasanya dia akan marah bila apa yang diinginkan tidak terpenuhi. Tapi kali ini dia hanya terdiam sambil mengamati telur yang dipegang oleh salah seorang dayang. Dia lalu memerintah koki istana membawa dan mengambil si telur untuk disimpan dalam landue . Nanti malam akan dia minta koki istana menggoreng telur itu sebagai lauk saat bersantap.

Tetapi, oleh karena hanya berupa sebutir telur, begitu tiba makan malam Sang Raja lupa. Dia malah asyik bersenda gurau dengan para dayang serta penghuni istana lainnya. Bahkan sesekali menggoda beberapa diantara mereka hingga tersipu malu. Selesai makan barulah teringat akan telur yang disimpan dalam landue. Dia lalu mengingatkan lagi pada Sang koki agar menggoreng terlur untuk sarapan. Anehnya, kejadian serupa terulang kembali. Begitu seterusnya, telur berkali-kali lupa digoreng dan baru teringat setelah selesai makan.

Telur tadi akhirnya dilupakan. Tidak ada seorang pun yang menyinggungnya. Apalagi, para dayang sudah beraksi kembali menangkap udang dengan hasil luar biasa banyak. Akibatnya, suatu hari terdengarlah sebuah ledakan maha dahsyat di istana. Setelah dilakukan investigasi ^_^ ternyata sumber ledakan berasal dari arah dapur. Pada bagian solopio dapur terdapat lubang sangat besar besar sebagai tanda bahwa pusat ledakan tidak jauh dari situ. Seluruh benda yang berada di dapur rusak atau bahkan hancur tidak bersisa, termasuk telur yang berada dalam landue. Namun ajaibnya, hanya cangkang dan putih telur saja yang hancur. Putih telur tersebut terbang bersama solopio sementara bagian intinya (kuning telur) tetap utuh.

Kejadian luar biasa ini tidak dianggap serius oleh segenap penghuni istana. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa karena beranggapan bahwa dapur adalah sebuah tempat yang selalu berhubungan dengan panas, api membara, serta kepulan asap. Jadi, merupakan suata hal lumrah apabila kadangkala terjadi kebakaran atau ledakan. Kemungkinan besar hal tersebut terjadi akibat kelalaian orang yang sedang ada gawe di dalamnya.

Malam hari setelah kejadian, di atap kamar tidur raja samar-samar terdengar suara sesuatu sedang melompat. Semakin lama suaranya semakin terdengar jelas. Di sela-sela lompatan terdengar pula beberapa kali suara mengeong. Raja yang sepanjang hidup tidak pernah melihat ada seekor kucing di dalam istana langsung terkejut dan memerintahkan para pengawal mencari dan menemukan makhluk yang mengeong di atas atap kamar tidurnya.

Setelah ditemukan, alangkah terkejutnya para pengawal. Mereka melihat makhluk yang mengeong bukanlah seekor kucing melainkan kuning telur yang ditinggal bagian putihnya. Si kuning telur mondar-mandir kesana-kemari sembari mengeong layaknya seekor anak kucing. Dengan sangat hati-hati seorang pengawal mendekat dan menangkapnya untuk diserahkan pada Sang Raja.

Ketika sudah berada di hadapan, Sang Raja mengamati “kucing telur” dengan saksama. Rupanya kuning telur itu sudah berumah menjadi emas berwarna kuning terang. Emas yang dapat melompat dan mengeong. Raja menamakannya sebagai Bulava Mpongeo atau emas yang mengeong. Dia dianggap sebagai benda keramat yang sangat langka sehingga harus dipelihara dengan baik. Si Bulava Mpongeo dibiarkan berkeliaran di sekitar istana tanpa ada yang boleh mengganggunya.

Agar tetap hidup, raja beranggapan Bulava Mpongeo harus mendapat makan sebagaimana halnya makhluk hidup lain. Tetapi setelah diberi berbagai macam makanan dari mulai nasi, jagung, hingga umbi-umbian dia tidak mau menyentuhnya. Sang Raja menjadi khawatir kalau makhluk langka yang tidak mau makan itu sebentar lagi akan mati atau menghilang.

Satu minggu kemudian, entah mengapa Bulava Mpongeo keluar dari istana menuju sebatang pohon kolontigi yang sedang berbunga lebat. Dia lalu mendekati salah satu ranting dan memakan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Semenjak itu seluruh penghuni istana tahu bahwa makanan Bulava Mpongeo adalah bunga pohon kolontigi. Setiap minggu, tepatnya pada hari Jumat dia selalu mendatangi pohon itu untuk memakan bunganya. Begitu seterusnya hingga suatu hari ada seorang tamu kerajaan melihatnya sedang memakan bunga sambil sesekali mengeong.

Sang tamu yang awalnya terperanjat lalu menyadari kalau telur mengeong itu bukanlah makhluk sembarangan. Selesai bertamu dia bergegas pulang ke daerahnya di Palu untuk menceritakan pada sanak kerabat tentang makhluk ajaib yang kemungkinan dapat mendatangkan berkah serta kesejahteraan bagi siapa saja yang dapat memilikinya. Walhasil, timbullah niat untuk mencuri Bulava Mpongeo. Mereka sepakat mencuri pada hari Jumat, sesuai dengan laporan kawan yang datang ke istana Raja.

Beberapa jam menjalang hari H mereka telah bersembunyi di luar tembok istana. Ketika malam tiba secara mengendap-endap mereka menuju ke halaman tempat biasa Bulava Mpongeo memakan bunga kolontigi. Tidak lama berselang, dari dalam istana muncullah sinar terang menyilaukan mata yang perlahan-lahan menuju pohon kolontigi. Saat sang sinar mulai menyantap bunga, dari arah belakang kawanan pencuri datang menyergap dan membawanya pergi.

Keesokan hari barulah seisi istana sadar Bulava Mpongeo telah menghilang. Spekulasi pun mulai berkembang. Ada berpendapat Bulava Mpongeo kembali ke tempat asalnya di kahyangan. Ada lagi yang berprasangka dia telah dicuri karena dianggap sebagai benda bertuah, dan ada juga yang mengira kembali bersatu dengan bagian putihnya. Spekulasi-spekulasi tadi membuat Sang Raja pasrah dan merelakan kepergian Bulava Mpongeo.

Selang beberapa bulan setelahnya, daerah tempat para pencuri menjadi subur dan makmur. Seluruh penduduk hidup damai dan sejahtera. Sedangkan para pemilik Bulava Mpongeo sendiri hidup lebih mewah dari warga yang makmur tersebut. Mereka memiliki harta benda jauh lebih banyak dan besar, baik dari segi jumlah maupun ukuran. Oleh karena itu, mereka bersepakat mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang kerajaan-kerajaan terdekat sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah berupa emas mengeong walau didapat dari hasil curian.

Setelah sebagian besar tamu undangan datang, pesta dimulai dengan suguhan berbagai macam tari dan musik. Saat para tamu tengah asyik mendengarkan musik sambil menyantap aneka makanan, dari dalam sebuah rumah muncullah Bulava Mpongeo melompat-lompat sembari mengeong di sela-sela tempat duduk para tamu. Sang raja yang kebetulan melihat langsung berteriak bahwa mahkluk ajaib itu adalah miliknya.

Tuan rumah yang merasa tertangkap basah tentu berusaha membela diri. Di depan orang banyak dia mengatakan bahwa Bulava Mpongeo adalah miliknya sehingga terjadi perdebatan berujung pertengkaran dengan Sang Raja. Keduanya saling klaim sebagai pemilik sah Bulava Mpongeo tanpa memberikan bukti-bukti kuat tentang klaim tersebut.

Walhasil, suasana yang tadinya riang gembira berubah menjadi tegang. Tuan rumah dan Sang Raja sama-sama bersikeras ingin memiliki. Sementara para tamu yang tidak terlibat ada yang memilih berdiam diri sambil mengamati, ada yang mencoba melerai dan menjadi penengah, serta ada pula yang secara diam-diam pergi meninggalkan arena pesta karena menganggap suasana sudah tidak kondisuf lagi.

Di tengah kondisi semakin memanas, tiba-tiba seorang tamu mengusulkan agar Bulava Mpongeo dibuang ke Karone (Sungai Palu). Apabila milik sang raja, maka dia akan kembali ke istana. Sebaliknya bila milik si tuan rumah, maka dia akan kembali lagi ke tempat pesta. Dengan demikian tidak akan terjadi perselisihan karena si emas mengeong telah memilih sendiri siapa tuannya.

Usul tersebut diterima oleh kedua belah pihak. Selanjutnya bersama-sama dengan para tamu mereka membawa Bulava Mpongeo ke Karone. Sampai di sana si emas ajaib dilepas di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Kemudian mereka pulang kembali ke tempat masing-masing tanpa melanjutkan pesta.

Begitu sampai di istana, Sang Raja sudah disambut oleh suara mengeong Bulava Mpongeo. Sekarang tahulah Raja bahwa si emas mengeong memanglah miliknya. Oleh karena itu, dia tidak mempersoalkan lagi mengapa emas tadi bisa sampai di Palu. Baginya, dengan kembalinya Bulava maka persoalan dianggap selesai. Dia tidak ingin masalah perebutan Bulava menjadi berlarut-larut hingga menimbulkan permusuhan.

Sebaliknya, para pencuri yang merasa dipermalukan tidak terima dengan kembalinya Bulava Mpongeo ke istana Raja. Mereka ingin merebut kembali makhluk itu agar kemakmuran tetap terjaga dan orang-orang di sekitar tidak mencemooh. Pencurian kedua dilakukan dengan perencanaan sangat matang dan akhirnya berhasil mendapatkan Bulava Mpongeo.

Agar tidak dapat keluar rumah, atas nasihat seorang ahli nujum sekujur tubuh Bulava Mpongeo disiram perasan air jeruk. Tetapi akibatnya malah sebaliknya. Secara perlahan kondisi Bulava semakin melemah dan akhirnya mati. Ia tidak dapat lagi melompat ataupun mengeong dan perlahan beralih ujud menjadi seonggok emas bulat. Para pencuri tidak dapat berbuat apa-apa selain menyesal telah menuruti nasihat sang ahli nujum.

Beberapa bulan setelahnya keadaan daerah para pencuri malah memburuk. Tanaman tidak lagi tumbuh subur, kekeringan melanda, dan jumlah hewan ternak berkurang. Atas kesepakatan bersama mereka bersepakat mengembalikan pada pemiliknya walau dalam kondisi sudah mati dan telah menjadi seonggok emas bulat. Alasan pengembalian adalah kematian Bulava Mpongeo membawa kesengsaraan bagi banyak orang.

Ketika para pencuri datang ke istana untuk mengembalikan Bulava Mpongeo Sang Raja tidak banyak bereaksi. Bahkan saat mereka menceritakan mengapa sang makhluk ajaib berubah menjadi onggokan emas, Sang Raja hanya tersenyum (kecut) dan tidak berusaha menyalahkan para pencuri atau ahli nujumnya. Dia lalu memerintahkan para pengawal membawa dan menaruh emas itu di suatu tempat khusus dalam istana.

Konon, walau telah mati Bulava Mpongeo malah benar-benar menjadi benda keramat bagi kerajaan. Dia selalu dimandikan di daerah kuala (tempat ditemukan) apabila kerajaan sedang terjadi kekacauan atau mengalami suatu bencana, seperti kekeringan akibat kemarau panjang, kelaparan, maupun wabah penyakit. Dengan begitu, segala macam wabah maupun kekacauan dapat teratasi.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Popular Posts