Lodong Gejlig

Lodong gejlig adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat Sunda yang menggunakan lodong atau bambu besar sebagai alat utamanya. Bambu sendiri adalah tumbuhan jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Tumbuhan ini memiliki banyak fungsi, mulai dari sumber makanan (hewan dan manusia), peralatan rumah tangga, konstruksi bangunan, senjata, transportasi, hingga instrumen musik. Istilah lodong sendiri pada masyarakat Sunda awalnya bukanlah instrumen musik. Ia merupakan peralatan rumah tangga yang digunakan oleh para penyadap kawung untuk menampung air nira atau aren.

Sebelum proses penampungan nira dilakukan, para penyadap akan memeriksa lodong dengan cara menghempaskan ke tanah. Apabila menghasilkan bunyi nyaring, maka lodong diyakini belum bocor dan dapat digunakan. Sebaliknya apabila tidak berbunyi nyaring, berarti ada kebocoran atau keretakan di dalam lodong yang dapat mengakibatkan air nira merembes keluar.

Lambat laun, karena proses kreativitas, bunyi nyaring lodong ketika diketrukeun tersebut dijadikan sebagai sebuah kesenian yang dalam penyajiannya digabungkan dengan alunan gitar akustik. Kesenian baru ini kemudian dinamakan sebagai “tardong”, akronim dari gitar dan lodong. Selanjutnya, agar lebih menarik, penyajian seni tardong ditambah lagi dengan beberapa instrumen lain seperti angklung, kecapi, suling, kendang, dan bahkan keyboard. Namun, karena komponen awal dan yang paling berperan adalah suara lodong yang digejligkeun, maka nama kesenian pun diubah lagi lodong gejlig.

Dalam penyajiannya, seni lodong gejlig menggunakan lodong berukuran kecil untuk menghasilkan nada tinggi dan logong besar untuk nada rendah dan sedang yang dimainkan oleh 12-24 orang laki-laki dan perempuan selama sekitar setengah jam. Adapun lagu-lagu yang dibawakan antara lain lodong gejlig, sampurasun, salawat, dan lain sebagainya.

Foto: https://elib.unikom.ac.id/download.php?id=362293

Anyaman Mendong di Tasikmalaya

Kerajinan anyaman mendong di Kota Tasikmalaya terpusat di tiga kecamatan, yaitu Cibeurem, Tamansari, dan Purbaratu. Menurut Dinas Perindustrian Tasikmalaya di ketiga kecamatan ini terdapat 165 unit tempat pembuatan mendong yang menyerap sekitar 2.055 orang tenaga kerja dengan nilai total produksi sekitar 34,18 miliar rupiah per tahun. Adapun konsumennya tidak hanya dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan Surabaya, tetapi juga dari luar negeri seperti Jepang, Australia, Belanda, Malaysia, hingga Timur Tengah.

Hasil produksi kerajinan anyaman mendong antara lain adalah topi, wadah tissue, sandal, tas, tikar, boks, keranjang, dan lain sebagainya sesuai dengan pesanan atau permintaan konsumen. Bahan baku pembuatnya adalah tanaman mendong yang habitatnya sesuai dengan karakteristik agroklimat sebagian zona dataran di wilayah Tasikmalaya yaitu lahan basah seperti sawah atau rawa. Namun saat sekarang tanaman mendong mulai jarang ditemui sehingga tidak mencukupi untuk memenuhi keseluruhan pesanan. Padahal wilayah Tasikmalaya memiliki sumber air cukup dan bahkan di beberapa tempat sangat melimpah. Oleh karena itu, untuk mengatasinya perajin terpaksa mendatangkan mendong dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Akibatnya, produksi mendong baru bisa mencukupi kebutuhan kurang lebih 15% dari total pemesanan. Apabila terus berlangsung, bukan tidak mungkin kerajinan mendang suatu saat hanya dijual di sekitaran Tasikmalaya saja atau bahkan didatangkan dari daerah lain.

Foto: https://inilahtasik.com/tag/kerajinan-anyaman-mendong

Makam Syech Abdul Ghorib

Makam Syech Abdul Ghorib berada di Cibeas, Kelurahan Gunung Tandala, Kecamatan Kawalu. Lokasi makam sebenarnya merupakan sebuah komplek yang terdiri dari sembilan makam. Makam-makam tersebut adalah: Syech Abdul Ghorib, Raden Ajeng Ayu Sutri (istri Syech Abdul Ghorib), Raden Paranakusumah (Jaksa Sumedang), Raden Surawijaya (Wedana Cicariang), Raden Inda, Raden Indrajaya (Wedana Manonjaya), Ajengan Nursabin, Raden Abdul Manaf, dan makam Raden Abdulloh (putra Syech Abdul Ghorib).

Selain makam, di bagian utara komplek ini ada sebuah sumur dengan diameter sekitar 1,5 meter yang dikelilinngi tiga buah pohon besar. Oleh karena salah satunya (terbesar) adalah pohon sempur, maka penduduk sekitar menamai sumur itu sebagai Sumur Sempur. Di dekat sumur juga ada sebuah batu besar datar yang konon pernah dijadikan sebagai tempat sholat Syech Abdul Ghorib. Tidak jauh dari sumur ada sebuah sungai kecil yang dahulu airnya berwarna putih seperti cucian beras sehingga dinamakan Sungai Cibeas.

Bagi pengunjung yang ingin berziarah, di depan komplek makam juga menyediakan sarana perparkiran yang cukup luas. Namun untuk dapat memasuki area makam pengunjung harus mematuhi aturan yang dibuat oleh juru kunci (kuncen), yaitu: (1) harus mendaftarkan diri ke kuncen; (2) berziarah atas petunjuk kuncen; (3) berpakaian sopan menurut tata cara sesuai aturan agam Islam; (4) berziarah sesuai dengan ajaan Islam; (5) bertawasullah dengan benar; (6) mengindahkan segala ketentuan terutama mengenai ketertiban, keindahan, keamanan, dan kebersihan; (7) dilarang menulis fisik bangunan makam, benteng, jalan, dan lain sebagainya; (8) harus meminta izin kuncen bila hendak meninggalkan lokasi makam; dan (9) berziarah maksimal 3 hari.

Juru kunci atau kuncen yang membuat aturan di atas merupakan pemeliharan makam yang diangkat secara turun-temurun, sesuai dengan amanat/wasiat kuncen pertama (Bapak Kolot putra Syech Abdul Ghorib), yaitu: (a) makam supaya dipelihara dengan baik; (b) kuncen harus anak dari keturunan kuncen sebelumnya dan masih ada hubungan keluarga dengan Syech Abdul Ghorib; dan (c) area tanah sekitar makam yang luasnya sekitar 21 ha menjadi milik kuncen selama mereka masih mengurus makam.

Amanat ini tetap dilaksanakan dari kuncen kedua hingga ke lima (Anti putra Kolot, Anti putra Anti, Haji Abdurrohman putra Anti, Haji Jarkasih putra Haji Abdurrohman, dan KH Muhjidin cucu Haji Abdurrohman). Tetapi setelah KH Muhjidin menjadi kuncen, wasiat kuncen pertama agak sedikit dirubah. KH Muhjidin membuat wasiat baru yang isinya antara lain melimpahkan wewenang sebagai kuncen kepada adiknya (Odjo Sutarjo) dan kuncen-kuncen yang akan menggantikan selanjutnya diteruskan oleh keturunan dari Odjo Sutarjo.

Lepas dari siapa yang harus melanjutkan menjadi kuncen, yang pasti orang-orang tersebut telah berjasa merawat dan memelihara makam Syech Abdul Ghorib hingga sekarang. Syech Abdul Ghorib sendiri bukanlah orang asli Tasikmalaya. Beliau adalah seorang ulama penyebar ajaran Islam yang lahir di Kudus (waktu itu termasuk daerah Kerajaan Mataram) sekitar tahun 1655 M/1076 H. Semenjak kecil beliau sering berguru dari satu pesantren ke pesantren lain di Pulau Jawa dan Sumatera.

Suatu hari salah seorang gurunya mengajak menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Oleh karena Sang guru telah melihat ada sifat-sifat kewalian pada diri Abdul Ghorib, maka dia memerintahkannya untuk tinggal di Mekkah sambil memper dalam ilmu keagamaan. Beberapa tahun kemudian beliau kembali ke Kudus lalu mendirikan pesatren serta tempat tinggal baru atas bantuan masyarakat sekitar. Setelah terlaksana, oleh kedua orang tua beliau dinikahkan dengan seorang perempuan keturunan keraton yang taat terhadap ajaran Islam bernama Raden Ajeng Ayu Sutri.

Tidak berselang lama setelah pesantren beroperasi meletuslah peperangan melawan Belanda. Syech Abdul Ghorib pun turut bergerilya bersama para santrinya dan warga masyarakat setempat menghalau Belanda yang ingin memperluas daerah kekuasaan. Namun karena persenjataan pasukan Belanda jauh lebih lengkap dan mematikan, lama-kelamaan Syech Abdul Ghorib terdesak dan terpaksa menyingkir. Bersama keluarga, pengikut, dan seorang ajengan bernama Kursiban beliau pindah ke wilayah Jawa Barat.

Sebelum berangkat, beliau sempat berziarah ke makam Syech Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Selesai berziarah barulah ke arah barat menuju Cirebon melalui jalur utara Pulau Jawa untuk bersilaturrahim dengan para pembesar serta pemuka agama dan berziarah ke makam Sultan Fatahilah (Maulana Syarif Hidayatulloh/Sunan Gunung Jati). Hal yang sama juga dilakukannya di Banten (mengunjungi makam Syech Sultan Hasanuddin den bersilaturrahim dengan para pembesar dan alim ulama). Begitu pula ketika singgah di Bogor, beliau mengunjungi Prasasti Batu Tulis, bekas kerajaan Tarumanegara peninggalan Raja Purnawarman dan bersilaturrahim dengan para alim ulama di sana.

Dari ketiga daerah tersebut, Syech Abdul Ghorib mendapat semacam petunjuk agar meneruskan perjalanan menuju daerah Sumedang. Di daerah ini beliau tidak hanya disambut dengan baik, tetapi juga diberikan “guide” seorang petugas dari kejaksaan untuk menjumpai Syech Abdul Muchyi di Pamijahan. Atas petunjuk Syech Abdul Muchyi dari Pamijahan beliau menuju Tasikmalaya untuk mendirikan sebuah pesantren pada sekitar tahun 1708 M/1129 H di wilayah Kewedanaan Cicariang Kolot. Dan, setelah lebih dari 37 tahun, Syech Abdul Ghorib tutup usia pada usia 90 tahun. Seiring berjalannya waktu, makam beliau mulai diziarahi orang dari seluruh pelosok Indonesia.

Foto: https://mediadesa.id/pemkot-tasikmalaya-tak-perhatikan-makam-syekh-abdul-ghorib/

Makam Syech Abdul Muchyi

Syech Abdul Muchyi dipercaya sebagai waliyulloh (wali) penyebar ajaran Islam di dareah Jawa Barat bagian selatan dan bahkan hingga seluruh Pulau Jawa, Madura, dan mancanegara. Oleh karena telah berjasa sebagai penyabar ajaran Islam, setiap bulan Mulud, Rajab, dan Sapar, makamnya selalu diziarahi ribuah orang dari berbagai kota di Pulau Jawa, Madura, dan Sumatera.

Untuk dapat mengunjung makam Syech Abdul Muchyi, peziarah terlebih dahulu harus melapor kepada juru kunci (kuncen) untuk dicatat pada buku tamu. Setelah itu, peziarah baru diperbolehkan masuk ke komplek makam yang di dalamnya terdapat Goa Saparwadi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari peninggalan sejarah Syech Abdul Muchyi dalam melaksanakan pendidikan dan penyebaran ajaran Islam. Di dalam goa ada ruangan seperti masjid lengkap dengan mihrab, tempat penyimpanan Al Quran, jabal kopiah, padaringan (tempat penyimpanan beras), dan lain sebagainya. Selain itu, ada pula Cikahuripan sebagai representasi air zam-zam yang mengalir di antara bebatuan stalagtit dan stalagmit dalam sebuah lorong panjang yang konon merupakan jalan tembus menuju Cirebon, Surabaya, dan bahkan Mekkah. Dan, bila telah selesai berziarah pengunjung dapat membeli beraneka ragam cindera mata berupa kerajinan tangan khas Kota Tasikmalaya.

Foto: https://daerah.sindonews.com/read/1115873/29/kisah-karomah-syekh-abdul-muhyi-pamijahan-1465637226

Makam Adipati Sakarembong

Makam Adipati Sakarembong berada di Jalan Bantar, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bantarsari. Makam dengan luas area sekitar 500 meter persegi ini merupakan tempat bersemayam Adipati Sekarembong, salah seorang isteri dari Prabudilaya. Prabudilaya sendiri adalah tokoh legendaris penyebar agama Islam pada zaman Kebupatian Sukapura yang berasal dari keturunan Kerajaan Sumedang Larang.

Eyang Sekarembong sebenarnya bukanlah keturunan bangsawan Tasikmalaya. Beliau yang bernama asli Ratu Cempaka adalah putri dari Raja Kerajaan Mataram. Setelah menikah dengan Prabudilaya, Ratu Cempaka menetap di Tasikmalaya untuk menyebarkan ajaran Islam ke segenap penduduk di sana. Dan ketika meninggal dunia, lambat laut makamnya kemudian diziarahi sebagai bentuk penghormatan atas jasanya sebagai penyebar syariah Islam.

Selama menjadi tempat peziarahan, Makam Eyang Sekarembong dibiarkan begitu saja seperti apa adanya. Baru pada sekitar tahun 1975 ada usaha dari juru kunci untuk menjaga dan melestarikan tempat tersebut dengan mendirikan bangunan guna menutup makam. Selain itu, dibangun pula sebuah masjid dengan dana yang dikumpulkan dari hasil sumbangan para peziarah. Masjid ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat menunaikan sholat, melainkan juga tempat istirahat bagi yang berasal dari luar kota. Di dekat masjid dan makam terdapat sebatang pohon beringin yang dibawahnya mengalir sebuah sumber mata air yang tidak pernah kering walau sedang musim kemarau.

Foto: https://www.radartasikmalaya.com/gunakan-sumbangan-peziarah-menata-makam-sakarembong/

Payung Geulis

Payung geulis merupakan salah satu kerajinan khas sekaligus ikon Kota Tasikmalaya yang telah diproduksi sejak zaman Belanda hingga sekarang. Payung ini sama seperti payung-payung lainnya yaitu sebagai alat pelindung tubuh yang biasanya dibuat dari kain atau kertas diberi bertangkai dan dapat dilipat-lipat. Namun, payung geulis hanya dapat digunakan sebagai pelindung dari terik sinar matahari karena dia mempunyai fungsi lain yaitu sebagai aksesori penampilan para mojang Tasikmalaya. Bahkan, saat ini penggunaan payung geulis telah beralih fungsi menjadi hiasan dan alat peraga pada acara-acara kesenian tradisional, pintu utama hotel-hotel serta perkantoran di seputaran Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

Lapisan penutup payung geulis terbuat dari kertas atau kain yang akan tembus atau meresap apabila terkena air. Oleh karena itu, tidak cocok atau tidak dapat digunakan sebagai pelindung dari terpaan air hujan. Bagian rangkanya dari bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menyangga penutup payung. Sedangkan tangkainya dari bahan kayu bulat licin agar penyangga dapat mudah di turun-naikkan.

Adapun proses pembuatanya diawali dengan memotong bambu menjadi bilah-bilah kecil untuk dijadikan sebagai rangka payung. Selanjutnya, membuat bagian tangkai dari bahan kayu yang diampelas hingga berbentuk silinder licin. Tahap berikutnya memasang kain atau kertas sebagai penutup payung dengan bagian tengah dipasang benang berwarna-warni agar terlihat lebih menarik lalu dijemur di bawah sinar matahari selama 1-2 hari. Proses terakhir, pada lapisan penutup yang terbuat dari kertas atau kain dilakukan proses pewarnaan dan pelukisan motif bunga, ornamen, atau bergantung pesanan.

Di Kota Tasikmalaya sedikitnya ada 4 unit usaha payung geulis dengan total bekerja berjumlah 37 orang. Seluruhnya terpusat di Kecamatan Indihiang. Hasil produksi payung geulis di kecamatan ini mencapai nilai sekitar 350 juta rupiah per tahunnya. Sedangkan harga jual payungnya sendiri bervariasi bergantung besar-kecilnya ukuran. Untuk ukuran besar dijual dengan harga Rp.65.000, ukuran sedang Rp.55.000, dan ukuran kecil sekitar Rp. 35.000.




Nasi Cikur

Cikur adalah istilah orang Sunda bagi sejenis tanaman yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai kencur (kaempferia galanga). Tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang bagi stimulan tubuh. Oleh masyarakat Sunda cikur dimanfaatkan juga sebagai salah satu bumbu penyedap masakan. Hasil olahannya kemudian dinamakan sebagai nasi cikur, sesuai dengan bumbu yang paling dominan digunakan yaitu cikur.

Untuk membuat nasi cikur lengkap bahan-bahan yang diperlukan terdiri atas: cikur yang masih muda atau cikur bertunas yang umbinya masih berwarna putih, bawang merah, bawang putih, terasi, cabai rawit, garam dan minyak goreng. Sedangkan cara mengolahnya dengan menghaluskan bawang merah, bawang putih, dan terasi. Selanjutnya tumis hingga berbau wangi. Kemudian masukkan nasi, garam, irisan cabai rawit lalu aduk hingga merata. Setelah matang, nasi bisa dihidangkan untuk seisi keluarga. Sebagai catatan, nasi cikur biasanya disajikan bersama dengan sambal, ayam, telur, ikan asin, tempe, atau tahu goreng serta lalapan sebagaimana layaknya nasi uduk namun bercitarasa cikur.

Monumen Pahlawan Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia

Monumen Pahlawan Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia atau lebih dikenal dengan nama Monumen Lengkong berada di pertigaan Jalan Lengong Besar – Cikawao. Monumen ini diresmikan pada tahun 1995 oleh Wali Kota Bandung waktu itu Wahyu Hamidjaja sebagai bentuk peringatan atas sebuah pertempuran besar di daerah Lengkong pada akhir tahun 1945 yang menjadi salah satu pemicu terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946.

Di tempat ini pernah menjadi saksi 15 jam pertempuran besar antara para pejuang Indonesia melawan kaum penjajah. Pertempurannya sendiri berawal ketika Sekutu terdiri atas pasukan Inggris, India, dan Gurkha yang bertugas membebaskan tawanan dan interniran serta melucuti pasukan Jepang bertindak menembaki penduduk saat berusaha menyelamatkan diri ke Hotel Homann akibat banjir bandang di Sungai Cikapundung pada tanggal 25 November 1945.

Insiden tadi berimbas pada pembalasan para pejuang yang membuat Brigjen N.MacDonald mengeluarkan sebuah ultimatum agar wilayah kota dari tengah ke utara harus ditinggalkan dalam tempo 48 jam. Namun, beberapa hari setelah ultimatum terjadi lagi penyergapan di antara daerah Padalarang-Cimahi yang berujung pada tindak balas dari pasukan Sekutu dengan melancarkan serangan udara disusul pasukan darat hingga terjadi kontak senjata di Jalan Lengkong Besar yang mengakibatkan banyak pejuang gugur. Dan, untuk mengenangnya didirikanlah Monumen Lengkong berbentuk taman kecil di tengah persimpangan Jalan Lengong Besar – Cikawao. Di dalamnya terdapat replika senapan mesin dan prasati bertuliskan “Pengorbanan Kami Demi Nusa Bangsa dan Agama”.

Foto: http://jabar.tribunnews.com/2017/08/16/tempat-ini-menjadi-saksi-pertarungan-15-jam-pejuang-indonesia-melawan-penjajah

Gandarucu

Di warung-warung nasi atau pedagang gorengan sekeliling Kota Tasikmalaya ada sebuah makanan yang selalu disediakan yaitu gandarucu. Makanan ringan berasa manis, gurih, dan renyah ini berbentuk potongan kecil (kotak-kotak menyerupai dadu) buah pisang dicampur adonan tepung terigu yang digoreng basah. Bahan lainnya adalah gula pasir, putih telur, air, garam, dan minyak goreng.

Sedangkan cara membuatnya diawali dengan mengupas pisang lalu memotongnya kecil-kecil membentuk dadu. Kemudian masukkan potongan-potongan pisang tersebut dalam adonan berisi gula pasir, tepung terigu, garam, putih telur, dan air lalu aduk hingga merata. Apabila ingin disajikan, goreng dalam api berukuran sedang agar tidak mudah gosong. Gandarucu hangat umumnya disajikan sebagai teman minum kopi atau teh di pagi dan sore hari.

Papais Bugis

Papais bugis atau biasa disebut bugis adalah sejenis makanan ringan yang memiliki citarasa manis sebagai sajian dalam berbagai acara keluarga. Kata papais atau pais sendiri merupakan suatu cara khas orang Sunda mengolah bahan makanan dengan dibalut daun pisang. Adapun bahan-bahan pembuatnya antara lain: tepung ketan, kelapa, gula merah, pasta pandan, air, daun pisang, dan minyak kelapa. Sedangkan cara membuatnya diawali dengan memarut kelapa dan menggerus gula merah hingga halus. Kedua bahan tadi dicampur dan direbus hingga matang merata.

Selanjutnya, masukkan tepung ketan dalam wadah berisi air secukupnya untuk membuat kulit bugis. Setelah tepung membentuk sebuah adonan kental, kalis sedikit demi sedikit menggunakan minyak goreng agar tidak licin. Kemudian, letakkan adonan yang telah dikalis di atas daun pisang lalu isi dengan adonan kelapa parut beserta gula. Terakhir, bulatkan daun pisang hingga berbentuk silinder lalu kukus (dengan metode khusus) hingga daun pisang agak berubah warna dan tekstru adonan kenyal.

Foto: https://selerasa.com/resep-dan-cara-membuat-bugis-isi-kacang-hijau-yang-original-dan-manis

Kekewukan

Kekewukan (bahasa Sunda) berasal dari kata kewuk atau dalam bahasa Indonesia disebut siput, hewan anggota kelas moluska gastropoda yang memiliki cangkang bergelung pada tahap dewasanya. Sesuai dengan namanya, penganan ringan ini berbentuk menyerupai siput dengan bahan-bahan pembuatnya antara lain: margarin, gula pasir halus, tepung terigu, keju parut, garam, telur ayam, dan air. Bahan-bahan tadi diramu menjadi satu dengan cara diaduk hingga merata. Sesudah bahan tercampur merata masukkan telur dan aduk adonan hingga kalis kemudian potong pipih. Sebelum digoreng dengan margarin, adonan yang telah dipipihkan tadi dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai kewuk. Kekewukan biasa disajikan sebagai cemilan di ruang tamu.

Ceprus

Ubi kayu atau biasa disebut singkong merupakan salah satu makanan pokok penghasil karbohidrat yang bagian umbinya berwarna putih kekuningan dengan diameter antara 2-3 centimeter dan panjang sekitar 40-80 centimeter. Tanaman dengan nama latin manihot esculenta ini pertama kali dikembangkan di wilayah Amerika Selatan sekitar 10 ribu tahun lalu. Di Indonesia sendiri singkong mulai ditanam secara komersial pada masa kolonial sekitar tahun 1810. Namun, baru pada permulaan abad ke-20 dibudidayakan secara luas karena konsumsinya meningkat. Singkong pun menjadi sumber pangan utama setelah padi-padian dan jagung.

Singkong diolah dengan berbagai macam cara dan digunakan pada berbagai macam masakan. Di daerah Garut Setalan misalnya, singkong diolah sedemikian rupa dengan cara dibakar menjadi penganan yang dinamakan cepres. Adapun cara membuatnya diawali mencuci bersih umbi singkong lalu dibakar. Setelah harum singkong dibersihkan lagi, dipotong-potong, dan kukus hingga matang. Bila telah matang, masukkan dalam larutan gula pasir, gula merah (kawung/aren), garam serta daun pandan lalu direbus hingga rata dan meresap. Terakhir, angkat dan sajikan dalam keadaan hangat.

Gedung Gabungan Koperasi RI

Gedung Gabungan Koperasi RI berada tepat di belokan Jalan Dalem Kaum menuju Jalan Lengkong Besar. Bangunan yang masuk dalam daftar cagar budaya ini mulai digunakan pada 20 Juli 1959 setelah diresmikan oleh Raden Hasan Natapermana. Tujuan pembangunan gedung adalah sebagai kantor baru bagi Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (GKPRI) yang sebelumnya menempati ruangan di Kantor Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat di Jalan Asia Afrika Nomor 79.

Adapun perancang bangunannya adalah Presiden pertama RI Ir. Soekarno bersama Roosseno dengan gaya arsitektur art deco streamline (salah satu sisi bangunan berbentuk melengkung). Gedung ini memiliki dua lantai dan satu balkon dengan lantai yang sekarang sebagian telah diganti menjadi keramik. Hal lain yang masih dipertahankan hingga kini adalah jarak antara langit-langit dengan lantai yang mencapai sekitar 10 meter berhias beberapa tiang penyangga besar di dalam gedung sehingga terkesan megah. Khusus pada bagian atap, Soekarno merancang menyerupai sebuah bahtera. Adapun tujuannya adalah agar ketika berada di balkon atau di lantai paling atas dapat menikmati seluruh Kota Bandung di segala penjuru, termasuk kawasan Gunung Manglayang.

Setelah sekian lama menjadi kantor GKPRI, pada tahun 2006 gedung berpindah ke tangan pemilik baru yaitu Yose Rizal yang kemudian mengalihfungsikan sebagai hotel dengan nama Hotel Lengkong. Untuk menarik pengunjung, ada sejumlah penambahan di bagian belakang tanpa mengubah struktur bangunan utama serta pemberian warna baru (kombinasi krem-merah dan hijau-merah) pada beberapa tempat. Untuk bagian dalam gedung ditambah sejumlah perabotan baru, lukisan serta foto-foto bangunan-bangunan tempo dulu yang ada di seputar Kota Bandung.

Foto: https://situsbudaya.id/hotel-lengkong-tempati-gedung-rancangan-presiden-i-ri-soekarno/

Kecamatan Lengkong

Letak dan Keadaan Alam
Lengkong merupakan salah satu dari dua puluh sembilah kecamatan yang secara administratif termasuk dalam Kota Bandung dengan batas geografis sebelah utara dengan Kecamatan Sumur Bandung, sebelah timur dengan Kecamatan Batununggal, sebelah selatan dengan Kecamatan Bandung Kidul, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Regol. Kecamatan yang luas wilayahnya sekitar 575 ha dengan titik koordinat 107°37'21" Bujur Timur dan 6°56'2" Lintang Selatan ini terdiri dari 7 kelurahan, 65 Rukun Warga, dan 431 Rukun tetangga dengan jumlah penduduk. Ke-7 kelurahan itu Cikawao seluas 37,5 Ha, Paledang seluas 32,5 Ha, Lingkar Selatan seluas 118 Ha, Burangrang seluas 51 Ha, Turangga seluas 166 Ha, Malabar seluas 67 HA, dan Cijagra dengan luas 102 Ha.

Topografi Kecamatan Lengkong sebagian besar berada pada dataran dengan ketinggian antara 680 hingga 700 meter di atas permukaan air laut. Adapun iklum yang menyelimutinya sama seperti daerah lainnya di Indonesia, yaitu tropis yang ditandai oleh adanya dua musim, penghujan dan kemarau. Musim penghujan biasanya dimulai pada Oktober-Maret, sedangkan musim kemarau biasanya pada bulan April--September. Curah hujannya rata-rata 66 milimeter perbulan yang ditampung dalam dua buah sungai besar (Cikapundung dan Cikapundung Kolot) serta tiga buah anak sungainya (Cikarees, Cibalong Montok, dan Anak Kali Cikapundung). Temperaturnya rata-rata berkisar 20,0-29,2 Celcius. Tekanan udara sekitar 1.009,5 mb dan kelembaban udara rata-rata 79,3 persen.

Organisasi Pemerintahan
Struktur organisasi pemerintahan tertinggi di Kecamatan Lengkong dipegang oleh seorang Camat (Tb Agus Mulyadi). Dalam menjalankan tugasnya Camat dibantu oleh Wakil Camat, Sekretaris Kecamatan (Dra. Hj Sri Kurniasih), Sub Bagian Umum dan Kepegawaian (Susi Rochaesuci,S.Pd., M.Si.), Sub Bagian Program & Keuangan (Hj.Lia Marlia, S.Ip,Mm),Kelompok Jabatan Fungsional, Seksi Pemerintahan (Dra.Nur Hidayah Azhari, M.Si.), Seksi Pelayanan Kecamatan (Arie Astuti Pr, S.Ip.,M.Ap), Seksi Kemas & Pend (Asep Nunuh Hermawan, S.Sos), Seksi Ekbang & LH (H. Agoes Suprijanto), Seksi Trantib (Dedi Djunaedi, S.Sos), Seksi Pemerintahan (Nanang Suherman), Seksi Pelayanan (Bagus Pribadi, Se.), Seksi Kemasyarakatan (Masayu Elly Indrawati Saleh), Seksi Pemerintahan (Slamet Riyanto, S.Sos), Pelaksana Kecamatan (Wawan Setiawan, S.Sos), Lurah Malabar (Roaida Thalib, Se.,M.Ap.), Lurah Lingkar Selatan (Dikun, S.Sos), Lurah Turangga (Supriatna, S.Sos.), Lurah Paledang (Gun Gun Ginanjar S.Sos), Lurah Cikawao (Jajang Afipudin, S.Sos., M.Si), Lurah Cijagra (Maulana Fatahuddin, S.STP,M.Si), Lurah Burangrang (Japar Solihin, S.Sos, M.Si), dan Lurah Bambu Apus. Untuk melaksanakan tugasnya, bagian sekretariat dibantu lagi oleh Sub Bagian Umum, Sub Bagian Keuangan, serta Sub Bagian Program dan Anggaran.

Para aparatur kecamatan tersebut bekerja dalam satu kerangka visi dan misi yang sama untuk kemajuan Kecamatan Lengkong. Visi tersebut adalah mewujudkan "Kecamatan Lengkong BERSEMANGAT (BERsih, Sejahtera, Maju, Nyaman, Giat, Aman, dan Tertib)”. visi itu dijadikan sebuah misi yang harus dilaksanakan atau diemban agar seluruh anggota organisasi dan pihak yang berwenang dapat mengetahui dan mengenal keberadaan serta peran Kecamatan Lengkong dalam menyelenggarakan Pemerintahan. Adapun misi dari kecamatan ini adalah: (a) Memperkuat kapasitas kelembagaan Kecamatan dan Kelurahan sebagai institusi terdepan dalam pelayanan kepada masyarakat; (b) Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM aparatur kewilayahan di Kecamatan Lengkong; (c) Meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan di wilayah kecamatan; (d) Meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam berbagai sektor pembangunan; (e) Meningkatkan pembinaan ketentraman dan ketertiban umum; (f) Peningkatan kenyamanan; dan (g) Meningkatkan sarana dan prasarana bagi terselenggaranya manajemen perkantoran (portal.bandung.go.id).

Kependudukan
Penduduk Kecamatan Lengkong berjumlah 71.333 jiwa, dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) 16.065. Jika dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, maka jumlah penduduk laki-lakinya mencapai 32.169 jiwa dan penduduk berjenis kelamin perempuan mencapai 32.375 jiwa. Para penduduk ini tersebar di 7 kelurahan, yaitu Cijagra dihuni oleh 11.255 jiwa (15,78%), Turangga dihuni oleh 14.547 jiwa (20,39%), Lingkar Selatan 11.019 jiwa (15,45%), Malabar 8.206 jiwa (11,50%), Burangrang 10.367 jiwa (14,53%), Cikawao 9.483 jiwa (13,29%), dan Kelurahan Paledang dihuni oleh 6.456 jiwa (9,05%) (BPS Kota Bandung, 2017).

Jika dilihat berdasarkan golongan usia, penduduk yang berusia 0-4 tahun ada 5.914 jiwa, kemudian yang berusia 5-9 tahun ada 6.456 jiwa, berusia 10-14 tahun ada 6.342 jiwa, berusia 15-19 tahun ada 7.083 jiwa, berusia 20-24 tahun ada 7.250 jiwa, berusia 25-29 tahun ada 2.710 jiwa, berusia 30-34 tahun ada 4.892 jiwa, berusia 35-39 tahun ada 4.558 jiwa, berusia 40-44 tahun ada 4.313 jiwa, berusia 45-49 tahun ada 4.204 jiwa, berusia 50-54 tahun ada 3.656 jiwa, berusia 55-59 tahun ada 3.750 jiwa, berusia 60-64 tahun ada 2.873 jiwa, dan yang berusia 65 tahun ke atas ada 2.340 jiwa. Ini menunjukkan bahwa penduduk Kecamatan Lengkong sebagian besar berusia produktif.

Perekonomian
Letak Kecamatan Lengkong yang menjadi bagian dari Kota Bandung membuatnya mengalami kemajuan relatif pesat karena adanya perkembangan dalam bidang industri, terutama industri pariwisata, perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini membuat mata pencaharian penduduknya pun semakin beragam, di antaranya adalah pegawai negeri di berbagai instansi pemerintah, (kelurahan, kecamatan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lain sebagainya) sejumlah 7.737 orang, TNI/Polri 1.360 orang, karyawan swasta 8.239 orang, pedagang 6.516 orang, pensiunan 3.219 orang, petani 41 orang, dan lain sebagainya 11.187 orang.

Sarana Pendidikan dan Kesehatan
Sebagai sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, tentu saja Lengkong memiliki sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai bagi penduduknya. Adapun sarana pendidikan yang terdapat di kabupaten ini, diantaranya adalah: 21 buah taman kanak-kanak dengan jumlah siswa sebanyak 947 orang dan 90 tenaga pengajar; 20 buah RA dengan jumlah siswa sebanyak 322 orang dan 20 tenaga pengajar, 14 buah Sekolah Dasar Negeri dengan jumlah siswa sebanyak 5.045 orang dan 199 orang tenaga pengajar; 10 buah Sekolah Dasar swasta dengan jumlah siswa sebanyak 2.313 orang dan 150 orang tenaga pengajar, 12 buah Sekolah Menengah Pertama dengan jumlah siswa sebanyak 5.296 orang dan 318 tenaga pengajar; 10 buah sekolah menengah atas dengan jumlah siswa sebanyak 8.227 orang dan 282 tenaga pengajar; 14 buah Sekolah Menengah Kejuruan dengan jumlah siswa sebanyak 7.675 orang dan 382 tenaga pengajar; sebuah Perguruan Tinggi Negeri, dan 8 buah perguruan tinggi swasta dengan jumlah mahasiswa sebanyak 4.202 orang dan 68 tenaga pengajar.

Sementara untuk sarana kesehatan Kecamatan Lengkong memiliki 1 buah rumah sakit umum, 6 buah rumah sakit bersalin, 4 buah puskesmas, 31 buah apotek, 10 buah klinik/balai pengobatan, dan 67 buah posyandu dengan tenaga medis sebanyak 111 orang, terdiri atas: 40 orang dokter umum, 16 orang dokter gigi, 49 orang bidan, 69 apoteker (BPS Kota Bandung 2017).

Agama dan Kepercayaan
Agama yang dianut oleh Masyarakat Kecamatan Lengkong sangat beragam, yaitu: Islam 56.100 jiwa, Kristen 4.548 jiwa, Katolik 2.942 jiwa, Hindu 272 jiwa, Budha 672 jiwa, dan Konghucu 10 jiwa. Ada korelasi positif antara jumlah pemeluk suatu agama dengan jumlah sarana peribadatan. Hal itu tercermin dari banyaknya sarana peribadatan yang berkaitan dengan agama Islam (mesjid, musholla atau langar). Berdasarkan data yang tertera pada Badan Pusat Statistik Kota Bandung, jumlah masjid yang ada di sana mencapai 71 buah dan musholla/langgar/surau mencapai 30 buah. Sarana peribadatan yang berkenaan dengan penganut agama Kristen dan Katolik mencapai 13 buah, sementara data yang berkaitan dengan sarana peribadatan agama Hindu, Budha, maupun penganut aliran kepercayaan belum tersedia.

Sumber:
BPS Kota Bandung. 2017. Kecamatan Lengkong Dalam Angka 2017. Jakarta, Badan Pusat Statistik Kota Bandung.

"Kecamatan Lengkong", diakses dari https://portal.bandung.go.id/pemerintahan/kecamatan/KA xa/kecamatan-lengkong, tanggal 3 Maret 2019.

Nasi Gadung Merah Delima

Bahan
¼ kg gadung
200 gram kacang tolo
Garam secukupnya

Cara membuat
1 ½ kg gadung dikupas. Lalu diparut kasar dan dicuci bersih. Kemudian direndam dengan air abu selama 24 jam, setelah itu dicuci bersih lagi lalu ditiriskan. Direndam air mengalir selama 3 atau 4 hari. 200 gram kacang tolo juga direndam selama ± 2 jam, sebelum dimasak direbus dulu ± ½ jam supaya agak lemah. Baru dikukus bersama-sama gadung yang telah ditiriskan tadi.

Sambal Inkung

Sambal ingkung adalah sambal yang terdiri dari campuran utama belut, kelapa dan kacang tanah. Bahannya terdiri dari 50 gram belut kering, 60 gram kelapa parut dan 50 gram kacang tanah

Bumbu-bumbunya terdiri dari 3 siung bawang merah; 1 siung bawang putih; ketumbar secukupnya; jintan secukupnya; Gula, garam, daun salam secukupnya

Cara membuatnya, belut kering dipotong kecil sebesar dadu lalu digoreng. Kacang tanah digoreng. Bumbu tumis, masukkan kelapa dan masukkan belut yang sudah digoreng, aduk-aduk sampai masak.

Nasi Goreng Pisang Komplit

Bahan
1 sisir pisang kapok (lilin)
Minyak secukupnya
1 ikat sawi
2 butir telur
Kecap manis secukupnya
Garam secukupnya

Bumbu
Cabe merah 5 batang
Bawang putih 2 siung
Bawang merah 3 siung

Cara membuat
Pisang dikupas lalu dicuci bersih, baru disawot dan dikukus selama 30 menit lalu diangkat, didingingkan. Kemudian digiling halus, ditumis baru dimasukkan sawinya, dan telur dicampur dengan pisang + kecap, diaduk sampai masak.

Cumi Isi

Bahan
300 gram cumi
25 gram udang kupas
1 buah cabe hijau
1 ruas wortel
2 siung bawang merah
2 siung bawang putih
Garam, lada dan tomat.

Cara membuat
Dicincang cabai hijau, wotel, bawang putih, udang setelah dicuci beri garam dan lada secukupnya. Cumi dibersihkan (pisahkan dulu bagian kepalanya). Kemudian isi cumi dan tutup dengan bumbu-bumbu tersebut dan tutup kembali dengan kepala cumi. Selanjutnya digoreng sampai matang. Siap dihidangkan bersama saos.

Burung Tempua dan Puyuh

(Cerita Rakyat Daerah Riau)

Alkisah, ada dua ekor burung bersahabat. Mereka adalah Puyuh dan Tempua atau Manyar. Walau berlainan jenis, setiap hari Tempua dan Puyuh selalu mencari makan bersama dari satu tempat ke tempat lain. Menjelang matahari terbenam keduanya baru berpisah menuju sarang masing-masing. Begitu seterusnya hingga suatu hari mereka berselisih paham tentang bentuk, ukuran, dan fungsi sarang yang ideal.

Menurut Tempua, sarangnyalah yang terbaik karena terbuat dari ribuan helai alang-alang dan rumput kering. Kedua benda tersebut dijalin sedemikian rupa selama berminggu-minggu hingga membentuk sebuah sarang yang indah sekaligus fungsional. Apabila hujan sarang tidak akan menjadi basah dan bila panas menyengat tetap terasa sejuk.

Penjelasan Tempua tadi rupanya membuat Puyuh terpancing. Sang Puyuh menjelaskan juga bahwa sarangnya jauh lebih praktis. Tanpa perlu menjalin alang-alang atau rumput kering, sarang tetap sangat kuat dan anti air. Dia hanya tinggal mencari pohon tumbang lalu berlindung di bawahnya. Apabila sarang dirasa sudah tidak aman, dia akan mencari pohon tumbang baru.

Pernyataan balik Puyuh ternyata juga membuat Tempua panas hati. Dan, sejak saat itu, setiap ada kesempatan mereka selalu memperdebatkan bentuk serta fungsi sarang. Masing-masing berpendapat bahwa sarangnyalah yang terbaik. Tidak ada yang mau mengalah hingga akhirnya muncullah ide untuk saling bertukar sarang selama jangka waktu tertentu agar dapat menilai mana yang lebih baik.

Burung Puyuh mendapat giliran pertama mencoba sarang Tempua. Oleh karena sarang berada pada tangkai pohon bagian atas, maka Puyuh yang tidak dapat terbang harus bersusah payah mencapainya. Sesampai di sarang, Puyuh kagum melihat bentuk sarang yang sangat indah, rapi, bersih, dan nyaman. Namun, kekaguman Puyuh hanya bersifat sementara. Malam hari dia sulit tidur karena merasa haus tetapi tidak dapat turun dalam keadaan gelap gulita.

Saat tengah malam, tiba-tiba angin bertiup kencang hingga menggoyangkan pohon tempat Tempua bersarang. Walhasil, sarang pun terombang-ambing seakan hendak diterbangkan angin. Puyuh yang berada di dalam tentu saja merasa ketakutan. Dia berteriak-teriak memanggil Tempua yang berada di bawah agar datang menolong. Tetapi dengan santai (sekaligus menyombongkan diri) Tempua menjawab bahwa angin besar seperti itu sudah biasa dan tidak akan menghempaskan sarang. Tidak lama kemudian hembusan angin mereda dan kondisi sarang kembali seperti semula.

Menjelang matahari terbit, Puyuh keluar dan langsung menemui Tempua. Saat bertemu dia menyatakan tidak sanggup lagi tinggal di sarang Tempua dengan alasan takut ketinggian serta sulit mencari air bila malam telah tiba. Alasan ini tidak ditanggapi oleh Tempua. Dia seolah melupakan persaingan masalah sarang dan malah mengajak Puyuh mencari daerah baru untuk mencari makan.

Pencarian daerah baru tersebut tanpa disangka membawa jauh dari sarang. Ketika matahari akan tenggelam barulah mereka sadar. Puyuh yang tidak dapat terbang mengusulkan agar mencari pohon tumbang guna dijadikan sarang tempat bermalam sementara. Kebetulan di sekitar ada pohon tumbang dekat sebuah parit yang airnya mengalir cukup deras. Tempua sebenarnya tidak terlalu suka berlindung di bawah pohon tumbang, tetapi karena hari semakin gelap dia pun menyetujui usulan Puyuh.

Tidak berapa lama kemudian Puyuh telah tertidur pulas, sementara Tempua tetap terjaga. Seperti orang yang sedang mengalami “kegoncangan budaya ^_^”, dia tidak dapat langsung tidur dan hanya berjalan mondar-mandir di sisi Puyuh. Di saat bingung memikirkan bagaimana cara agar bisa tidur, tiba-tiba turun hujan lebat disertai petir menyambar-nyambar. Takut akan terkena air hujan yang dingin, Tempua mencoba merapatkan diri pada Puyuh yang tengah pulas.

Keesokan hari, Tempua mengeluh tidak dapat tidur di atas tanah beratap pohon tumbang. Oleh karena itu, Tempua menyatakan tidak akan mencoba sarang milik Puyuh yang dia yakini tidak akan berbeda jauh dari sarang sementara yang mereka diami tadi malam. Tempua telah merasakan bagaimana tidak nikmatnya sarang itu untuk ditinggali. Dan, sejak saat itu perbedaan antara sarang keduanya tidak lagi dipersoalkan. Tempua dan Puyuh sama-sama menyadari bahwa setiap makhluk hidup memiliki keunikannya sendiri-sendiri dan tidak dapat dibanding-bandingkan.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Usman Karim

Bila berbicara mengenai perempuan, anak-anak, dan kependudukan di daerah Kabupaten Way Kanan, nama Usman Karim pasti akan selalu menjadi "trending topic" pembahasan. Dia adalah Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Way Kanan. Dalam masa kepemimpinan yang terbilang masih seumur jagung Usman Karim telah membawa Way Kanan menyabet beberapa penghargaan tingkat nasional pada bidang yang ditanganinya.

Keberhasilan Usman tersebut tidak lepas dari didikan orang tua serta rasa kecintaan dan pengadian pada tanah kelahiran, Way Kanan. Usman Karim lahir di Negeri Besar pada tanggal 17 Juni 1963. Anak kedua dari empat bersaudara ini adalah putra pasangan Abdullah gelar Sunan Muka Adat dan Zahroh gelar Sutan Ibuan. Kakak kandung Usman bernama Amran gelar Sutan Gumanti, sedangkan adiknya Jupiah dan almarhumah Midah.

Sewaktu kecil, pria yang sebelum menikah bergelar Sutan Dijawi ini mulai mengenyam pendidikan formal di Sekolah Dasar Negeri Besar. Kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Negeri Besar. Selama menempuh pendidikan dasar tersebut Usman tinggal bersama kedua orang tua. Di rumah dia dididik dengan disiplin yang cukup ketat agar menjadi seorang yang kuat, mandiri dan patuh terhadap adat istiadat yang telah diwariskan oleh generasi pendahulunya.

Kedisiplinan yang ditanamkan oleh orang tua Usman di antaranya adalah dengan mengharuskannya sholat lima waktu agar menjadi orang yang takwa dan beriman. Selain itu, agar bertanggung jawab juga dibekali dengan kedisiplinan diri. Misalnya, ketika pulang ke rumah tidak tepat waktu atau pekerjaan yang diperintahkan tidak diselesaikan dengan benar, maka Sang ayah akan memberi hukuman berupa cambukan rotan pada bagian kaki. Sedangkan untuk masalah ketaatan, sedari dini Usman diharuskan patuh terhadap kakak laki-lakinya sesuai dengan adat yang belaku dalam masyarakat Lampung.

Sebagai orang Lampung asli, Ayah Usman adalah keturunan bangsawan Pepadun dari Buay Pemuka Bangsa Raja, salah satu dari lima kebuayan di Way Kanan. Adapun asal usul kelima kebuwayan tersebut, berdasarkan cerita masyarakat setempat, adalah dari sebuah keluarga yang dipimpin oleh Tuan Purba Matahari yang datang menggunakan perahu dari lautan lepas menuju ke hulu Sungai Umpu untuk menetap. Keluarga Tuan Purba Matahari kemudian beranak-pinak hingga membentuk sebuah kampung.

Ketika kampung semakin padat, beberapa di antara mereka ada yang pergi ke daerah Way Kanan dan membentuk dua komunitas bernama Poyang Kuasa (cikal bakal Buay Semengguk) dan Poyang Pandak Sakti (cikal Bakal Suku Pak Ngepuluh). Rombongan Poyang Kuasa yang mengikuti Sungai Umpu menetap di bagian selatan Way Kanan. Sementara rombongan Poyang Pandak Sakti yang dipimpin Minak Ratu Putra awalnya menetap di Cingiue lalu menyebar ke daerah Rebah Canggung dan Tahmi. Kelompok yang berada di Tahmi membentuk sebuah komunitas baru terdiri dari 40 rumah sebagai cikal bakal Suku Pak Ngepuluh.

Selain keturunan Tuan Purba Matahari, ada pula beberapa kelompok yang datang dari Bukit Siguntang (Sumatera Selatan), yaitu: Cucung Dalam, Dayang, dan Naga Bersaing (dipimpin oleh Puyang Sakti). Di Way Kanan Puyang Sakti mengadakan kongsi dengan Puyang Serata Di Langik, Puyang Kuasa, dan Pandak Sakti membentuk persekutuan bernama Paksi Pak Tukket Pedang. Puyang Sakti mengepalai Buay Bulan, Puyang Kuasa mengepalai Buay Semenguk, Puyang Serata Di Langik mengepalai Buay Nuwat, dan Puyang Pandak Sakti memimpin Suku Pak Ngepuluh.

Pada perkembangan selanjutnya Buay Semenguk menjadi tiga buay (Buay Semenguk, Buay Baradatu, dan Buay Barasakti). Sedangkan Suku Pak Ngepuluh menjadi Buay Pemuka dan Buay Bahuga. Kelima buay inilah yang sekarang mendiami wilayah Kabupaten Way Kanan. Buay Semenguk mendiami kampung: Negeri Batin, Negeri Baru, Bumi Ratu, Gedung Batin, Bandar Dalam, Negeri Agung, Pulau Batu, dan Penengahan. Buay Baradatu mendiami kampung: Tiuh Balak, Gedung Pakuon, Cugah, Gunung Katun, Banjar Masin, Suka Negeri, Gunung Labuhan, dan Bengkulu. Buay Bahuga mendiami Kampung: Bumi Agung, Mesir, Negeri Tulang Bawang, Kebang, Karangan, Segara Mider, dan Kedatun. Buay Barasakti meliputi kampung: Karang Agung, Gunung Waras, Gunung Cahya, Rumbih, Negara Ratu, dan Negara Sakti.

Sedangkan buay terakhir, yaitu Buay Pemuka dibagi menjadi empat marga, yaitu: (1) Pemuka Pangeran Tua meliputi wilayah Kampung Pakuan Ratu, Tanjung Ratu, Gedung Menong, Kota Bumi Way Kanan, Sungsang, dan Kota Bumi Baru; (2) Pemuka Udik meliputi wilayah Kampung Blambangan Umpu, Gunu Sangkaran, Tanjung Rajo/Giham, dan Segara Midar; (3) Pemuka Udik/Pemuka Pangeran Ilir meliputi wilayah Kampung Kartajaya, Sri Menanti, dan Negeri Batin; serta (4) Pemuka Bangsa Raja yang berada di Kampung Negeri Besar.

Sebagaimana masyarakat Pepadun di daerah Lampung lainnya, kelima kebuwayan di Way Kanan menggunakan sistem kekerabatan yang ditarik secara patrilineal. Berdasarkan konstruksi sosial ini orang tua Usman cenderung memberi kebebasan pada anak laki-lakinya untuk melakukan aktivitas di luar rumah (publik), baik siang maupun malam hari serta kegiatan yang cenderung mengukuhkan sifat kelaki-lakiannya sehingga memungkinkan anak laki-laki secara fisiologi, sosiologis maupun psikologis tumbuh sebagai pribadi yang kuat dan mandiri. Hal inilah yang dialami Usman. Dia tumbuh sebagai seorang pribadi kuat dan mandiri serta patuh terhadap kakak sulungnya sesuai dengan prinsip primogenitur.

Pribadi kuat serta kemandirian inilah yang membuat Usman berani keluar dari Negeri Besar untuk meneruskan pendidikan di SPGN Negeri Kotabumi, Lampung Utara, pada tahun 1981. Setelah lulus, tahun 1985 dia kembali ke Negeri Besar untuk mengabdikan diri sebagai pegawai negeri dengan menjadi tenaga pengajar di SDN Negeri Besar. Di sekolah ini dia tidak hanya dapat menularkan ilmu yang dimiliki kepada anak didik, tetapi juga mentransfer "hatinya" pada salah seorang guru bernama Aminah.

Dari hasil perkawinan dengan Aminah, Usman dikaruniani tiga orang anak, yaitu: Ipin Novisianti gelar Pujian (lahir tahun 1987), Eja Anggraini gelar Nanggok, dan Muhammad Rizki Usman Pubara gelar Raja Lima. Rizki merupakan anak Usman Karim yang paling dibanggakan karena berjenis kelamin laki-laki. Bagi orang Lampung anak laki-laki adalah penerus keturunan. Jadi apabila sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, agar tidak terputus garis keturunannya maka akan mengangkon (mengadopsi) anak melalui suatu upacara tertentu yang membutuhkan biaya relatif besar.

Setelah menikah Usman Karim tetap mengajar di SDN Negeri Besar hingga tahun 2000. Pada awal tahun dia pindah jabatan sebagai Kepala Cabang Dinas (Kacapdin) Pendidikan Kabupaten Lampung Utara. Dua tahun menjabat sebagai Kacapdin Usman "rehat" sebentar untuk melanjutkan pendidikan D2 jurusan keguruan di Universitas Terbuka hingga lulus tahun 2004. Kemudian ke Sekolah Tinggi Ilmu Pendidik (STKIP) Muhammadiyah di Kotabumi untuk mendapatkan gelar S1 tahun 2005.

Tamat dari STKIP Usman langsung menduduki jabatan Kepala Seksi Adat Istiadat Dinas Pemuda Olahraga Kabupten Way Kanan. Hanya sekitar tujuh bulan menjabat, dia dimutasi lagi sebagai Kepala Dinas Pendidikan Way Kanan hingga tahun 2007. Pada Desember 2007 jabatannya dinaikkan satu tingkat menjadi Camat Negeri Besar. Saat menjadi camat inilah Usman meneruskan lagi pendidikan menempuh jenjang S2 bidang manajemen di Universitas Saburai Bandarlampung.

Selama menjabat Camat Negeri Besar kiprah Usman dalam bidang kebudayaan cukup menarik. Hal pertama yang dilakukan adalah menghimbau warga masyarakat yang sedang melangsungkan perkawinan agar barang seserahan berupa peralatan rumah tangga sebaiknya diserahkan pada kedua mempelai. Kebiasaan di Negeri Besar adalah bahwa barang-barang tersebut umumnya "diperebutkan" oleh sanak kerabat yang ikut membantu terlaksanannya upacara perkawinan, sehingga mempelai kadang hanya mendapat sisanya.

Selain itu, dia juga menghimbau agar tidak seluruh kerbau dipotong dalam satu hari pada acara begawi. Adat kebiasaan yang selama ini berlaku yaitu memotong seluruh kerbau dalam satu hari umumnya daging hasil potongan tidak termanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, Usman menyarankan memotong seekor kerbau perhari agar tidak mubazir. Kecuali bila jumlah kerbau lebih banyak ketimbang waktu begawi yang direncanakan, maka kerbau yang dipotong boleh lebih dari seekor perharinya.

Selang dua tahun menjabat sebagai camat, Usman turun ke jabatan Kasi Pemuda dan Olahraga di Disparbud Way Kanan. Salah satu sebab penurunan jabatan tersebut adalah karena dia menudukung calon bupati yang kalah dalam Pilkada setempat. Tidak lama setelah terpilih, Bupati baru langsung mendepak dan menggantikannya dengan Idrus sebagai Camat Negeri Besar. Namun, karena kinerja Usman dinilai baik, tidak sampai 6 bulan dia kembali menjadi Camat di daerah lain yaitu Negara Batin.

Usman mnejabat sebagai Camat Negara Batin selama lima tahun tiga bulan. Awal September 2016 dia ditarik lagi ke kabupaten menjadi Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Way Kanan berdasarkan Keputusan Bupati Nomor 821/145/III.12.WK/2016 Tanggal 14 September 2016. Satu tahun kemudian Usman pindah menjadi Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat yang mengurusi bidang agama dan kemasyarakatan.

Sebagai Kabbag Kesra ada dua prestasi Usman terbilang cukup "moncer". Pertama, membawa Kabupaten Way Kanan menempati peringkat kedua pada perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran ke-46 setelah tahun sebelumnya hanya berada di peringkat keempat. Keberhasilan Usman dipicu oleh "kemarahan" Bupati karena Way Kanan belum pernah mendapatkan hasil memuaskan dalam pelaksanaan MTQ pada masa kepemimpinan bupati sebelumnya.

"Kemarahan" Bupati memicu Usman membuat formula khusus agar dapat memenangkan MTQ. Bekerja sama dengan LPTQ Kabupaten Way Kanan dia mengumpulkan 38 qori dan qoriah terbaik se-Kabupaten Way Kanan untuk mengikuti pembekalam pembinaan/training center di Pontok Pesantren Tahfizh Al Quran Daarut Tilawah Tanjungkarang. Hasilnya, bukan saja meraih peringat dua dalam MTQ nasional, tetapi juga membentuk suatu pakem baru bagi pembinaan calon qori dan qoriah Way Kanan di masa yang akan datang.

"Prestasi" kedua adalah berhasil mendatangkan Wijayanto, Ustadz "gokil" dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk tugas itu, Usman terbang langsung ke Yogyakarta membujuk Wujayanto agar bersedia hadir di Way Kanan. Oleh karena kesibukan Sang Ustadz yang sangat padat, Usman menggunakan strategi dengan mengatakan bahwa apabila tidak hadir maka jabatannyalah yang akan jadi taruhan alias di non-job-kan . Strategi Usman ternyata sangat efektif sehingga Wijayanto pun bersedia hadir.

Berkat keberhasilan membawa Way Kanan runnerup MTQ tingkat nasional dan "memajukan" bidang keagamaan, pada bulan Juni 2017 Usman diberi kepercayaan mengurusi masalah perempuan dan anak dengan dilantik menjadi Kepala Dinas P3AP2KB atau Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Adapun tugasnya antara lain: (1) menyiapkan rencana strategis dan laporan akuntabilitas kinerja Dinas; (2) melaksanakan program dan kegiatan sesuai dengan lingkungan tugas; (3) merumuskan kebijakan teknis di bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana; (4) pembinaan dan pelaksanaan tugas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana; (5) menyiapkan petunjuk teknis dalam pelaksanan lingkup pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian penduduk, dan keluarga berencana; dan (6) melaksanakan tugas kedinasan yang diberikan atasar serta berkoordinasi dengan instansi terkait dalam pelaksanaannya.

Kepercayaan Bupati kepada Usman untuk mengurusi masalah anak dan perempuan di Way Kanan ternyata tidak sia-sia. Dalam waktu relatif singkat (sekitar 1,5 tahun) Usman berhasil menorehkan beberapa buah prestasi, di antaranya: (1) Kabupaten Way Kanan masuk dalam enam besar pada ajang lomba Kesatuan Gerak (Kesrak) PKK-KB Kesehatan tingkat nasional, mewakili Provinsi Lampung. Sebelum maju ke tingkat nasional, pada 11 November 2017 Way Kanan yang diwakili oleh Kampung Pakuanbaru dan Kecamatan Pakuanratu berhasil meraih peringkat pertama lomba Kesrak PKK-KB Kesehatan Tingkat Provinsi Lampung. Atas dasar kemenangan tersebut Usman diundang oleh TP PKK Pusat dan BKKBN Pusat untuk mempresentasikan kegiatan Kesrak PKK Kesehatan di Kabupaten Way Kanan; (2) juara tiga lomba PTKSS tingkat Provinsi Lampung; (3) juara harapan satu lomba GSI (Gerakan Sayang Ibu) tingkat Provinsi Lampung; dan (4) menghantarkan Bupati Way Kanan Raden Adipati memperoleh penghargaan Manggala Karya Kencana dari Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah pusat melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ini diberikan kepada Raden Adipati karena dinilai mempunyai dedikasi tinggi terhadap program pengendalian penduduk dan pembangunan keluarga sejahtera.

Saat ini, di sela-sela kesibukannya sebagai Kepala Dinas P3AP2KB Usman telah merancang masa pensiunnya yang tinggal tiga tahun lagi. Setelah pensiun dia berencana istirahat total dan menghabiskan waktu hanya untuk berkumpul bersama keluarga dan dan mendekatkan diri pada Tuhan. Keputusannya ini dapat dimaklumi karena sejak bertugas di Blambangan Umpu (Ibukota Kabupaten Way Kanan) Usman tidak tinggal bersama keluarganya. Untuk dapat berkumpul dan bercengkerama dengan buah hati, setiap Jumat sore dia pulang ke Negeri Besar yang jaraknya sekitar 120 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam.

Awang Garang

(Cerita Rakyat Daerah Kepulauan Riau)

Alkisah, pada zaman dahulu di perairan Kepulauan Riau ada seorang pemuda miskin bernama Awang Garang. Oleh karena tinggal di daerah pesisir, maka orientasi hidupnya selalu berkaitan dengan laut. Sewaktu kecil dia menyambung hidup dengan bekerja sebagai tukang masak pada sebuah kapal. Walau bayarannya hanya dapat makan enak setiap hari, dia tetap rajin dalam bekerja. Sifat inilah yang membuat Datuk pemilik kapal mengangkatnya menjadi pembantu pembuat kapal di galangan miliknya.

Suatu saat, Sultan Riau ingin membuat sebuah kapal perang atau penjajap yang besar, kuat, dan tahan terhadap serangan lawan. Untuk mengerjakannya dia memerintahkan tujuh orang datuk di daerah Temiang, Moro Sulit, Bulang, Sugi, Pekaka, Mepar, dan Sekanan. Adapun lokasi pembuatannya dipusatkan pada sebuah pulau kecil tidak bernama yang terletak di antara Bulang Rempang dan Bintan.

Permintaan Sultan sangatlah sulit hingga membuat para datuk harus berpikir keras. Hampir dua bulan lamanya mereka berkutat dengan masalah pemilihan kayu sebagai bahan baku pembuat kapal. Berbagai jenis kayu sudah dipasang-copot, mulai dari medang tembaga hingga medang tanduk tetapi tidak ada satu pun yang cocok. Walhasil, mereka menjadi cemas bila sewaktu-waktu Sultan melakukan sidak dan melihat kapal yang dipesan belum terbentuk sempurna.

Di tengah kecemasan itu, Awang Garang muncul dan mengatakan bahwa harus ada tiga jenis kayu agar penjajap kokoh sempurna. Perkataan Awang tadi rupanya menyinggung para datuk yang telah malang melintang di dunia perkapalan. Awang Garang masih dianggap anak kemaren sore yang belum tahu apa-apa. Perkataannya yang mendadak muncul merupakan sebuah bentuk kelancangan yang harus diberikan hukuman. Namun, sebelum dihukum Awang Garang melakukan upaya negosiasi untuk membuktikan perkataannya.

Setelah disetujui, keesokan harinya para tukang sibuk mempersiapkan tiga jenis kayu yang diusulkan Awang Garang, yaitu medang sirai, penaga, dan keledang. Kayu medang sirai digunakan untuk membuat papan kapal, kayu penaga untuk membuat bagian kerangka, dan kayu keledang sebagai lunasnya. Kayu-kayu tersebut ternyata sangat cocok sehingga dalam waktu relatif singkat proses pengerjaan kapal hampir selesai.

Sayangnya, di tengah proses finishing kapal ada sebuah kejadian tragis menimpa Awang Garang. Pada saat dia sedang membantu salah seorang tukang kayu, tanpa disengaja tatal yang digunakan terlempar dan mengenai salah satu bola matanya hingga pecah. Tak ayal, Awang pun berteriak kesakitan dan tanpa disadari mengumpat (atau menyumpah??) supaya kapal tidak bisa diturunkan ke laut.

Semenjak kejadian itu, Awang Garang resign ^_^ dari pekerjaannya sebagai pembantu tukang pembuat kapal. Dia kembali ke kampung halaman dan menjalani kehidupan sebagai penangkap ikan di tepi pantai. Setiap hari dia selalu menggunakan tali kulit berwarna hitam guna menutup salah satu mata yang telah cacat dan tidak dapat bergungsi lagi.

Di lain tempat, walau ditinggalkan Awang Garang proses pembuatan penjajap tetap saja selesai tepat sesuai jadwal. Namun ketika hendak diturunkan ke laut, kapal sama sekali tidak dapat digeser. Bahkan, dengan bantuan dari penduduk setempat pun kapal tetap tidak bergeming. Dia berdiri tegak laksana sebuah monumen terbuat dari beton yang tak dapat dipindah-tempatkan lagi.

Melihat kejadian itu, tukang yang tatalnya mengenai mata Awang Gading segera menghadap para datuk dan menceritakan umpatan Awang ketika matanya tertancap tatal. Berdasarkan laporan tadi para datuk bersepakat mengutus salah seorang di antara mereka yaitu mantan majikan Awang mendatangi dan meminta Awang kembali. Mungkin dengan cara demikian kapal “terbebas” dari kutukan dan dapat diturunkan ke laut.

Sampai di rumah Awang, tanpa berbasa-basi Sang mantan majikan meminta kembali bekerja di galangan untuk “membebaskan” kapal dari kutukan yang telah dilontarkannya. Apabila tidak bersedia, dia khawatir para datuk akan memberi hukuman sangat berat, sebab Sultan telah mendesak agar kapal secepatnya diturunkan guna membasmi para lalun yang merajalela.

Awang Garang sebenarnya bingung bercampur tidak percaya kalau ucapannya waktu itu berubah menjadi kenyataan. Untuk dapat “menganulir” kata-kata yang telah terucap tersebut dia harus melakukan suatu ritual tertentu yang cukup panjang dan rumit. Oleh karena itu, dia mengajukan tiga buah syarat agar kapal dapat dilepas ke laut. Ketiga syarat tersebut adalah: (1) mengerahkan tiga puluh orang pembuat perahu yang masih berusia muda lengkap dengan perkakasnya; (2) mencarikan tujuh orang perempuan yang sedang mengandung anak pertama. Para perempuan tersebut harus berasal dari kerabat para datuk pembuat penjajap pesanan Sultan; dan (3) para datuk harus menutup mata ketika proses penurunan kapal sedang belangsung.

Ketiga syarat yang diajukan Awang Garang relatif berat dan tidak mungkin dapat diputuskan seorang diri oleh Sang mantan majikan. Oleh karena itu, dia pun harus kembali menemui para datuk lain untuk berunding. Dalam perundingan yang berlangsung sangat singkat para datuk memutuskan akan memenuhi syarat Awang Garang, sebab Sultan sudah menentukan tenggat waktu peluncuran penjajap.

Setelah seluruh syarat dipenuhi Awang Garang segera memberi instruksi rahasia pada ketiga puluh orang pembuat kapal yang dimintanya. Selanjutnya, bersama para datuk dan tujuh perempuan yang sedang mengandung (berbusana warna-warni) berjalan menuju galangan. Sesampai di galangan mata para datuk lantas ditutup menggunakan kain hitam agar tidak dapat melihat proses peluncuran kapal.

Tidak lama kemudian, terdengarlah suara gaduh dari peralatan yang dibunyikan para pembuat kapal yang disusul oleh suara jerit dan tangis ketujuh perempuan hamil tadi. Di tengah suasana yang seakan kacau balau tiba-tiba Awang Garang berteriak lantang memerintahkan para pembuat kapal mendorong bagian lambung hingga akhirnya tercebur ke laut. Bersamaan dengan terapungnya kapal terdengar pulalah tangis para bayi yang baru keluar dari rahim.

Mendengar tangisan bayi, para datuk menjadi khawatir. Mereka berpikir kalau para ibu hamil tadi telah digunakan sebagai landasan agar kapal dapat meluncur ke laut. Namun ketika mereka memaksa membuka penutup mata, yang dilihat adalah para perempuan yang tengah menggendong bayi masing-masing. Rupanya Awang tidak menggunakan mereka sebagai landasan kapal. Dia hanya memakai galang atau pohon yang dikupas kulitnya untuk membuat jalur peluncuran menjadi licin.

Singkat cerita, berkat keberhasilan meluncurkan penjajap, Awang Garang digelari sebagai Panglima Hitam Elang di Laut Bermata Satu. Oleh sultan dia dipercaya menjadi panglima yang bertugas menumpas kawanan lanun yang berkeliaran di sekitar Kepulauan Riau. Di antara puluhan anak buahnya adalah para bayi (setelah mereka dewasa tentunya) yang ibunya digunakan sebagai prasyarat peluncuran penjajap. Mereka dinamai sesuai dengan warna baju yang dikenakan ibu mereka, yaitu: Awang Merah, Awang Jingga, Awang Ungu, Awang Hijau, Awang Biru, Awang Nila, dan Awang Kuning. Sementara pulau “bersejarah” tempat pembuatan dan peluncuran penjajap kemudian dinamakan sebagai Galang. Pulau ini berada dalam gugusan kepulauan “barelang” atau Batam-Rempang-Galang di wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Babalang

Babalang adalah sebutan orang Lampung Pepadun bagi sebuah wadah atau peralatan untuk menyimpan hasil pertanian, seperti: padi, lada, jagung, kopi, cengkeh, dan lain sebagainya. Wadah ini berbentuk keranjang yang cara membawanya dapat diangkat maupun didukung. Adapun bahan pembuatnya dapat berupa bambu yang dianyam dan atau rotan. Babalang umumnya hanya digunakan sebagai wadah penyimpanan sementara ketika sedang mengadakan pengolahan hasil ladang.

Renet

Renet adalah istilah orang Manggarai di Nusa Teggara Timur bagi sebuah wadah yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai keranjang atau bakul. Di Indonesia sendiri keranjang umumnya dibuat dari anyaman bambu. Adapun fungsinya dapat bermacam-macam bergantung ukuran serta bentuknya. Jadi, ada keranjang yang dibuat khusus untuk mengangkut satu atau beberapa jenis barang saja dan ada pula yang multifungsi. Renet merupakan salah satu wadah yang hanya berfungsi sebagai penampung satu jenis barang saja, yaitu bulir padi. Wadah ini berbentuk keranjang besar terbuat dari anyaman bambu pada bagian penampungnya dengan tinggi antara 1 sampai 1,5 meter dan bilah-bilah bambu tipis sebagai penyangganya. Untuk satu kali angkut renet dapat membawa sekitar 50 kilogram bulir padi.

Nasi Kemunak Batang Hari

Bahan
½ kg keladi kemunak
200 gram jagung kuning
Air secukupnya

Cara Membuat
Keladi kemunak dibersihkan (dicuci) lalu dikukus sampai matang. Setelah matang biarkan dingin lalu dikukus sampai matang. Setelah matang biarkan dingin lalu parut kasar. Jagung direbus sampai lunak. Kalau akan dihidangkan kukus kembali sebentar saja dan dicampur dengan jagung yang sudah direbus tadi.

Putri Pinang Gading

(Cerita Rakyat Daerah Bangka-Belitung)

Alkisah, dahulu di daerah Belitung ada sebuah desa bernama Kelekak Nangak. Di desa ini hidup sepasang suami-isteri miskin yang tidak memiliki anak. Sang suami bernama Inda, sedangkan isterinya bernama Tumina. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk beratap rumbia dan berdinding anyaman bambu. Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Inda dan Tumina bekerja sebagai petani ladang dengan menanam padi tadah hujan. Selain itu, selama menunggu masa panen mereka beralih profesi sebagai nelayan dengan menangkap ikan di tepi pantai.

Suatu hari, Inda pergi menuju pantai untuk mengambil sero (sejenis perangkap ikan) yang telah dia pasang beberapa hari sebelumnya. Saat hendak mengangkat sero dia tersandung sepotong bambu yang salah satu ujungnya tertancap di pasir. Khawatir akan mencelakakan orang lain, bambu tadi dihanyutkan agar terbawa air ke tengah laut. Namun, di sekitar sero ternyata masih banyak potangan bambu lagi sehingga membuat Inda sibuk mencabut dan menghanyutkan ke laut sebelum mengambil sero miliknya.

Setelah mengeluarkan ikan yang terperangkap di dalam sero Inda bergegas hendak pulang ke rumah. Namun, sekali lagi, baru beberapa meter dia melangkah, kakinya terantuk lagi dengan bambu yang pertama kali dia hanyutkan ke laut. Dia heran bagaimana bambu dapat kembali tertancap, padahal telah hanyut jauh ke tengah laut. Pikirnya, mungkin benda itu bukanlah bambu "sembarangan". Dia lalu mengambil dia membawanya pulang bersama ikan hasil tangkapan. Sampai di rumah bambu "bertuah" tersebut digunakan untuk segala macam keperluan, mulai dari pemukul ikan hingga penindih jemuran padi agar tidak diterbangkan angin.

Suatu hari, dari arah jemuran padi terdengar bunyi letusan keras. Inda dan Tumina yang sedang berada di dalam rumah langsung berlari menuju arah sumber suara. Dia sana mereka melihat bambu telah terbelah menjadi dua bagian. Di sampingnya tergeletak seorang bayi berjenis kelamin perempuan yang tengah menangis.

Tanpa berpikir panjang Tumina meraih Sang bayi dan membawanya ke dalam rumah untuk dimandikan. Sementara Inda hanya diam tidak berbuat apa-apa. Dia masih tidak percaya kalau bambu yang dipungutnya di pantai ternyata memang memiliki tuah. Bambu tadi telah memberikan apa yang selama ini dia dambakan yaitu seorang anak. Sang bayi merupakan pelengkap hidup Inda dan Tumina dalam mengaruhi bahtera rumah tangga.

Sang bayi mereka rawat dan besarkan dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung sendiri. Mereka memberinya nama Putri Pinang Gading. Kehadiran bayi ini rupanya membawa berkah tersendiri bagi keluarga Inda. Hasil ladang maupun tangkapan ikan semakin melimpah sehingga kehidupan mereka kian hari semakin sejahtera.

Oleh karena Inda mengendaki agar anaknya menjadi seorang pemanah yang handal, sejak usia dini Putri Pinang Gading diajarkan berbagai macam teknik memanah. Hampir setiap minggu Inda membawanya ke hutan untuk melatih keahlian dalam memanah binatang. Hasilnya, Putri Pinang Gading seringkali dapat memanah lebih dari satu ekor binatang untuk dibawa pulang dan dijadikan sebagai bahan santapan. Keahlian ini diasah terus hingga dia beranjak dewasa.

Suatu hari, di kampung tetangga merebak kabar bahwa ada seekor burung raksasa ganas dan buas yang menyerang pemukiman penduduk. Sang burung berkeliling di atas kampung untuk memakan siapa saja yang ada dalam jangkauannya. Hal ini tentu saja membuat warga lain menjadi panik. Pada siang hari mereka memilih bersembunyi di dalam rumah agar tidak dimangsa. Malam harinya baru berani keluar karena Sang burung telah kembali ke sarang.

Merasa kasihan terhadap penderitaan penduduk di kampung tetangga, Putri Pinang Gading meminta izin pada orang tua untuk membinasakan burung yang membuat onar tersebut. Inda dan Tumina tentu saja enggan memberi izin. Mereka takut Putri Pinang Gading hanya akan menjadi sasaran empuk bagi Sang Burung. Tetapi karena Sang Putri terus memaksa, dengan berat hati mereka pun akhirnya memberikan izin.

Setelah mendapat "lampu hijau", sebelum berangkat Putri Pinang Gading menyiapkan busur beserta belasan buah anak panah yang paling mumpuni. Anak panah itu pada bagian matanya telah dilumuri semacam racun berbahan tumbuh-tumbuhan yang dapat membunuh binatang dalam hitungan beberapa menit saja. Dengan anak panah itu dia berharap dapat membinasakan burung raksasa yang mengganggu warga masyarakat.

Sesampai di desa tetangga Putri Pinang Gading disambut oleh suara pekikan Sang burung yang membahana. Sambil mengepakkan sayap berdiameter belasan meter Sang burung terbang berkeliling kampung mengincar siapa saja yang sedang berada di luar rumah. Agar tidak terlihat oleh pandangan tajam Sang burung, Putri Pinang Gading segera bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Sambil menanti kelengahan Sang Burung, dia mempersiapkan busur beserta anak panah beracunnya.

Ketika Sang burung terbang melewati pohon besar tempatnya bersembunyi, Putri Pinang Gading langsung melepaskan anak panah yang tepat mengenai bagian jantung. Burung raksasa itu pun limbung, terjerembab ke tanah, dan tewas seketika. Konon, tempat jatuhnya burung tersebut secara ajaib berubah menjadi tujuh buah sungai, sementara panah yang mengenainya tumbuh menjadi serumpun bambu. Oleh masyarakat setempat, lokasi bambu tersebut kemudian dinamakan sebagai Belantu. Seiring perkembangan zaman, Belantu berganti nama menjadi Membalong, sebuah kecamatan di Pulau Belitung.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Nggoet

Nggoet adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah wadah berbentuk keranjang pengangkut bulir padi hasil pengetaman. Nggoet terbuat dari bambu wuluh muda (berumur sekitar satu tahun). Bambu ini ada yang dibelah dan dihaluskan sebagai penyangga/kerangka nggoet dengan ukuran antara 1-1,5 centimeter dan ada pula yang dianyam membentuk sebuah keranjang. Pekerjaan membelah bambu umumnya dilakukan kaum laki-laki, sedangkan proses menganyamnya oleh kaum perempuan.

Apabila nggoet telah terbentuk, proses selanjutnya adalah mengeringkan dengan cara dijemur di panas mahatari selama beberapa hari. Nggoet hasil karya orang Manggarai ini memiliki volume bervariasi antara 2,5-5 kilogram. Adapun cara membawanya disandang di pinggang kiri ataupun kanan, bergantung pada kebiasaan si pembawanya menggunakan tangan mana ketika mengetam. Dan, agar tidak jatuh ketika disandang, pada bagian bilah bambunya diberi semacam tali untuk diikatkan di pinggang.

Kahitutan

Kahitutan adalah istilah orang Sunda bagi sebuah tanaman herba tahunan bernama latin paederia scandens. Tanaman yang dapat hidup di lapangan terbuka, tebing-tebing sungai, semak belukar, dan bahkan merambat di pagar-pagar rumah ini memiliki panjang antara 1-5 meter. Daunnya tunggal berbentuk bulat telur atau lonjong dan bagian pangkal menyerupai jantung. Tepi daun rata, ujung runcing, tulang menyirip, dan bila diremas akan mengeluarkan bau seperti hitut.

Namun, walau berbau tidak sebab, daun kahitutan ternyata berguna sebagai bahan atau ramuan obat tradisional. berikut adalah pengolahan secara tradisional daun kahitutan dalam mengobati suatu penyakit.

Sakit lambung
Daun kahitutan direbus selama kurang lebih seperempat jam atau hingga mendidih. Setelah hangat atau dingin airnya diminum dengan dosis sehari satu kali.

Sariawan
Peras beberapa helai daun kahitutan dan ambil airnya untuk dioleskan pada bagian yang luka.

Sakit perut
Daun kahitutan diremas-remas lalu tempelkan pada bagian perut.

Reumatik
Remas atau tumbuk beberapa helai daun kahitutan agar keluar getahnya untuk dioleskan pada bagian yang terkena reumatik

Kurap
Sama seperti mengobati reumatik, penyakit kurap dapat disembuhkan dengan mengoleskan getah daun kahitutan.

Foto: https://www.innerpath.com.au/matmed/herbs/Paederia~scandens.htm

Puteri Terselubung

Bahan
400 gram pakis gulung
50 gram udang basah
3 siung bawang merah
5 buah cabe merah, terasi dan garam secukupnya
1 buah telur
1 sendok margarine + bumbu penyedap
Sepotong laos dan daun salam

Cara membuat
Pakis dicuci bersih dan dipotong-potong lalu ditiriskan. Semua bumbu-bumbu digiling halus. Lalu tumis dengan mentega dan masukkan udang serta pakisnya. Setelah pakis setengah masak, dikocokkan telur kedalamnya. Setelah masak dihidangkan panas-panas.

Heis

Heis adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur bagi sebuah aktivitas berupa pembersihan rumput, dedaunan dan ranting-ranting kering di sekitar tanah yang akan dijadikan sebagai ladang. Pembersihan ini dilakukan secara merata hingga ke seluruh tepian ladang (lingko) agar ketika dilakukan pembakaran tidak merembet ke ladang milik orang lain. Adapun proses pembakarannya sendiri disebut sebagai tapa uma yang harus mendapat persetujuan dari Tua Teno/lebok (salah seorang anggota klen (Tua Pangga) yang dianggap mampu dan bijaksana untuk mengatur kepentingan bersama dalam pembukaan kebun/ladang (lingko) serta semua urusan adat).

Pekerjaan heis dilakukan selama satu hari penuh oleh seluruh penggarap lahan yang akan dijadikan lingko. Sedangkan tapa umanya baru dilakukan keesokan hari pada waktu cirang leso (mata hari sedang bersinar terik) antara pukul 10.00 hingga 11.00 siang waktu setempat. Pembakaran dimulai dari bagian yang berlawanan dengan arah angin. Apabila api telah melalap sekitar seperempat lingko, barulah bagian yang searah dengan arah angin mulai dibakar menggunakan culu atau cawar yang berupa ikatan sejumlah bambu berukuran kecil dengan panjang sekitar satu meter dan diameter seukuran lengan orang dewasa.

Beka Renco

Beka renco adalah istilah orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur untuk menyebut sebuah wadah berbentuk keranjang besar berfungsi sebagai penyalin bulir padi yang telah dietam dan dimasukkan dalam nggoet. Beka renco berasal dari kata beka yang berarti keranjang atau wadah dan renco berarti menyalin. Wadah ini terbuat dari anyaman bambu pada bagian penampungnya dan bilah-bilah bambu tipis sebagai penyangganya.

Pekerjaan menyalin bulir padi dari nggoet ke dalam beka renco umumnya dilakukan oleh salah seorang pengetam. Dia disebut sebagai ata renco, yaitu orang (laki-laki atau perempuan) dewasa yang diberi tugas khusus menyalin bulir padi ke beka benco untuk selanjutnya dibawa ke tempat rik (irik).

Popular Posts