Raden KH Umar

Raden KH Umar atau biasa disapa dengan Mbah Guru Keneng adalah seorang ulama ahli tassawuf yang sangat disegani di Bekasi, khususnya di daerah Jatibening, Cikunir, Jatiasih, dan Ceger. Oleh masyarakat setempat, beliau dianggap sebagai waliyullah yang banyak karomah serta masih memiliki garis silsilah bersambung terus hingga ke Wali Songo dan Nabi Muhammad SAW (Firdaus, 2016).

Masih menurut Firdaus (2016) yang mengutip Porbatjaraka, Mbah Guru Keneng lahir pada tahun 1857 dan meninggal tahun 1972. Beliau diperkirakan merupakan keturunan rombongan kerabat Kerajaan Banten yang menetap di Jati Kramat Jatiasih antara tahun 1527-1530. Rombongan dipimpin oleh Syeikh Syarifudin (Mbah Kandong) yang merupakan keturunan Pangeran Sageri/Segori dan masih memiliki garis dengan Syeikh Sunan Gunu Jati Cirebon. Selain Mbah Kandong, Pangeran Sageri juga memiliki keturunan bernama R.H. Sholeh yang kemudian menetap di Kampung Ceger Jaka, Bekasi Selatan. R.H. Sholeh inilah ayahanda dari R. H. Umar atau Mbah Guru Keneng.

Adapun susunan nasabnya adalah: Taajul Arsy. Rh Umar bin Rh Zahiri bin Rh Muhadir bin Raden Kanzul Asikin bin Pangeran Sageri bin Aabulfath Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa bin Abul Ma’ali Ahmad bin Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Syeikh Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati bin Raja Abdulloh bin Alhusein Jamaluddin Alkubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Al Akbar bin Abdulloh Khan bin Sayyid Abdul Malik Ba’aali Adzumat Khan bin Alwi bin muhammad Shohib Mirbath Alawi bin Ali Kholi’ Qosim bin Alwi bin Muhammad Shohib Assouwmaah bin Alwiy Ba’alawiy Al A’ala bin Abdulloh bin Ahmad Almuhajir Alfaqihil Muqoddam hingga ke Rasulullah SAW.

Semasa hidup Mbah Guru Keneng pernah mengajar di salah satu sekolah Islam diniyah yang sekarang menjadi YPIA Islam Al-Mu’awanah Bekasi. Selain itu beliau juga melakukan dakwah kepada warga masyarkat di Kampung Ceger (Irhamni, 2017). Dalam berdakwah, beliau mempunyai pesan tersendiri yaitu “Jalanilah apa yang tidak kamu pilih jangan menjalani apa yang kamu pilih, beragam pernak pernik kehidupan selalu saja menjadi bayangan dalam setiap gerak alur raga ini bergerak, aku bertanya apakah ini yang aku mau dan yang aku pilih…Ternyata menjalani apa yang aku pilih adalah suatu kesusahan hidup yang amat teramat menyakitkan” (Firdaus, 2016). Kata-kata “mutiara” ini rupanya banyak menarik minat orang, sehingga dakwahnya kemudian diikuti pula oleh orang-orang di luar Kampung Ceger. Mereka tidak hanya berasal dari Pulau Jawa saja melainkan juga dari daerah lain di luar Pulau Jawa.

Bagi para pengikutnya, Mbah Guru Keneng tidak hanya ahli dalam ilmu Islam, melainkan memiliki juga keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keistimewaan tersebut di antaranya adalah: tubuh tetap kering walau kehujanan, pencuri yang masuk ke rumahnya seakan mematung dan tidak dapat keluar sebelum diizinkan, dapat memasak sebutir telur hanya dengan menggenggamnya, suara speaker yang keras tidak berbunyi bila dihadapkan ke rumahnya, dan lain sebagainya.

Berkat jerih payah dalam menyebarkan agama Islam di Bekasi, hingga saat ini makamnya sering diziarahi orang untuk memanjatkan doa. Mereka tidak hanya berasal dari daerah Bekasi dan sekitarnya, melankan juga dari daerah lain di seluruh Indonesia.

Foto: https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger
Sumber:
Firdaus, Ahmad. 2017. “Mbah Guru Keneng Keramat dari Ceger”, diakses dari https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger, tanggal 23 April 2019.

Irhamni, Bayu. 2017. “Kisah Perjalanan Seorang Ulama Ceger”, diakses dari http://bayuirhamni.blogspot.com/2017/02/kisah-perjalanan-seorang-murid.html, tanggal 24 April 2019.

KH Ma’mun Nawawi

KH Ma’mun Nawawi adalah seorang tokoh ulama sekaligus pejuang yang berasal dari daerah Cibogo, Kecamatan Cibarusah, Bekasi. Ulama yang produktif sebagai penulis 63 kitab ini lahir di Cibogo pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M (As-Samfuriy, 2014). Beliau adalah putra sulung (tujuh bersarudara) dari pasangan H. Anwar (seorang pedagang sekaligus guru mengaji) dan Siti Romlah. Saudara-saudara kandungnya yang lain adalah: Nyi Rukiyah, Nyi Endeh, H. Yahya, Siti Iyok, Endang, Dimiyati, dan Abdul Salim. H. Anwar sendiri adalah putra Marhan bin H. Abdul Wahid, salah seorang keturunan dari Kerajaan Banten (mondok.co).

Berdasar garis keturunan tersebut, tidak heran bila Nawawi memperoleh pendidikan yang berkaitan dengan agama Islam. Tidak lama setelah menamatkan pendidikan dasar di usia yang baru mencapai 13 tahun, anak dari KH. R Anwar ini nyantri di Plered Sempur asuhan Tubagus Ahmad Bakri bin Seda (Mama Sempur) hingga tujuh tahun lamanya (ypialkamiliyyah.wordpress.com). Selesai nyantri di sempur, Nawawi hijrah ke Mekkah selama dua tahun (1937-1939) untuk memperdalam ajaran Islam dengan berguru pada 13 muallif (pengarang kitab), di antaranya: al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al Maliki, Syekh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî (ulama besar hadits di Masjidil Haram asal Bogor), Syekh Bâqir ibn Nûr al-Jukjâwî tsumma al-Makkî (ulama besar Masjidil Haram asal Yogyakarta), Sayyid ‘Alawî ibn ‘Abd al-‘Azîz al-Mâlikî al-Makkî, Syekh ‘Umar Hamdan al-Mahrasî, Syekh Khalifah Nabwah, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Fathoni, dan lain sebagainya (Sya’ban, 2017).

Kembali dari Mekkah, atas saran Sang Ayah pada tahun 1942 Nawawi nyantri lagi di beberapa pesantren guna lebih memperdalam ilmu, seperti: Pesantren Tebuireng (Jombang) asuhan Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan pesantren asuhan Syaik Ikhsan (Jampes Kediri). Adapun para guru Nawawi selama nyantri di Jawa menurut Mondok.co, di antaranya adalah: H. Masdiki al-Quruthi Sempur-Plered, Mualif Siradjud Tolibin Kediri, Syekh Muhammad Cholil Jember, Syekh Muhammad Yunus bin Abdullah Kediri, KH Suja’i al-Quruthi Sukaraja. Muhammad Ali bin Husen, Syahid Alwie bin Abas al-Maliki, Syahid Muhammad ‘Amin al-Qutbhi, Syekh Hasan bin Muhammad al-Masad, Sayyid Abdul Bari al-Quruti, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Banduni al-Jawi, Abdurahman Asyburaki al-Maki, Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Fatoni, Syekh Sabibullah al-Hindi al-Maki, Syekh Ubaidillah al-Maki, dan KH. Manshur Abdul Hamid (Guru Mansur Betawi). Dari para guru ini Nawawi mempelajari berbagai macam kitab, seperti: tafsir, alfiyah, mantiq, fiqih, lughat, dan lain sebagainya. Khusus ketika berguru dengan KH. Manshur Abdul Hamid di Jembatan Lima, Jakarta, Nawawi mempelajari ilmu falaq yang dapat dikuasai hanya dalam waktu 40 hari saja.

Selesai nyantri dan dianggap telah cakap bila mengembangkan dakwah, Nawawi diminta oleh mertuanya (Tugabus Bakri) untuk mendirikan pesantren di daerah Pandeglang, Banten. Namun, baru berjalan sekitar dua tahun, Sang ayah meminta pula mendirikan pesantren di Cibogo. Walhasil, para santri di Pandeglang pun ikut diboyong ke Cibogo dan tinggal di pesantren baru yang diberi namaAl-Baqiyatus Sholihat. Pesantren ini dibangun pada bulan Rajab tahun 1359 H/1938 M saat Ma’mun Nawawi baru berusia sekitar 25 tahun (http://nizomalhasani.blogspot.com).

Para santri asuhan KH Ma’mun Nawawi yang jumlahnya beberapa ratus orang pada masa perang kemerdekaan pernah mendapat pelatihan militer sebagai bekal menghadapi tentara sekutu. Mereka membentuk sebuah laskar yang dinamakan Hizbullah. Adapun pelatihan perdananya dilaksanakan pada 28 Februari 1945 dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim (mewakili KH Hasyim Asy’ari) dan beberapa tokoh lain seperti KH. Zainul Arifin, dan KH. Noer Alie (kini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional) serta dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Nippon, pimpinan pusat Partai Masyumi, dan para Pangreh Praja.

Para santri yang ikut serta dalam pelatihan tidak melulu berlatih perang menghadapi musuh. Pada malam hari mereka mengaji dengan beberapa ulama seperti KH. Mustada Kamil dari Singaparna dan lain sebagainya. Usai pelatihan para santri kembali ke kampung halaman masing-masing guna memberikan latihan kepada para pemuda lain. Hasilnya, pada saat Jepang menyerah anggota Hizbullah telah mencapai sekitar 50.000 orang. Menurut muslimedianews.com, mereka tidak saja aktif selama revolusi fisik, tetapi juga mampu mengubah peta militer di Indonesia.

Para laskar Hizbullah ini masuk menjadi sayap militer bagi Partai Masyumi yang berdiri pada 7 November 1945. Bersama dengan laskar Sabilillah, mereka kemudian bertempur melawan tentara Sekutu pada pertempuran 10 November 1945. Selanjutnya, bersama Gerakan Pemuda Islam Indonesia yang diprakarsai M. Natsir dan KH. Wahid Hasyim laskar Hizbullah dan Sabilillah membentuk Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia yang menentang semua perundingan dengan Belanda selepas agresi militer pertama 1947.

Lepas dari perannya dalam pembentukan laskar Hizbullah, yang jelas KH Ma’mun Nawawi merupakan ulama yang sangat produktif dalam menulis kitab berbahasa Arab dan Sunda. Sedikitnya ada 63 buah kitab yang pernah ditulis, di antaranya: At-Taisir fi ‘Ilmi al-Falak, Bahjatul Wuduh Fi Hadits Awfatil Fuluh, Idha’ al-Mubhamat (tentang rumus-rumus akumulasi dari kitab-kitab yang mengandung akronim), Hikayat al-Mutaqaddimin (tentang kisah-kisah ulama terdahulu), Manasiq H. wal Umrah, Khutbah Jumat, Kasyf al-Humum wa al-Ghumum (tentang doa), Majmu’at Da’wat, Risalah Zakat, Syair Qiyamat, Risalah Syurb ad-Dukhan, Qolaidul Juman Fi Aqaidul Iman, I’anah Rafiq fi Tarjamah, Sulamu Taufiq, Muhasinul al-Khatabh, As-Sirajul Wahaj, Syi’ran Kiyamat, Hibatullah Karimul Aly, Tahtasikul Abid, Majmu Da’wah, Kasyful Humum wal Ghumum, Tadwirul Qulud, Taysirul Awam, Tuhfatul At Fal, Manaqib Syekh Abdul Qadir, Fiqh (dua jilid), Maulid Nabi (empat jilid), Parakunan Pashalatan, Al-Atiyatul Haniyah, At-Taisir Ilmu Falaq (Empat Jilid), dan Hushuli Rojai, dan lain sebagainya (As-Samfuriy, 2014 dan mondok.co).

Setelah berhasil membuat sebuah “pencerahan” bagi umat Islam di daerah Bekasi, KH. Ma’mun Nawawi wafat pada malam Jumat 26 Muharram 1395H/7 Februari 1975 M di Cibogo-Cibarusah pada pukul 01.15 WIB dalam usia 63 tahun. Selama hidup beliau pernah menikah dengan Nyi Jumenah (bercerai) lalu dengan Nyi Siti Junah yang menghasilkan enam orang anak (Muhaimin, Muhammad Jajuli, Zainal Mutaqin, Abdul Mu’min, Abdul Rahim, dan Abdul Halim). Selain dengan Nyi Jumenah dan Nyi Siti Junah, Ma’mun Nawawi pernah menikah dengan tujuh perempuan lain, namun hanya empat orang yang menemani hingga akhir hayat, yaitu: Hj. Ummah, Hj. Nyi Junah, Hj. Rohman, dan Hj. Romiah. Dan, dari pernikahan-pernikahan tersebut beliau dikaruniai sejumlah anak, di antaranya: Nyi Rahman, Muhammad Firdaus, Nyi Fatimah, Nyi Khadijah, Muhammad Syahroni, Nyi Safiah, Nyi Aisyah, Muhammad Shahalidin, Abdul Qudus, Abdul Raul, Abdul Mujib, Nyi Umu Habibah, Abdullah, Muhammad Mahfudz, Ahmad, Muhammad, Abdur Rahman, Nyi Ummu Salamah, Abdul Mu’min, Nyi Rukayah, Nyi Maryam, Abdul Latif, Abdul Khabir, Nyi Aminah, R. Abdul Hamid, R.A Qadir, Abdul Hafidz, Nyi Endin, Abdul Khalik Yanwari, Jamal Abdul Ghafar, dan Endin Quratul Aeyin (As-Samfuriy, 2014).

Saat ini penerus pondok pesantren adalah salah satu dari putranya sendiri, KH. Jamaluddin Nawawi. Pesantren merupakan salah satu dari beberapa peninggalan KH Ma’mun Nawawi. Peninggalan lainnya adalah asrama pesantren, Masjid Jami Al-Baqiyatus Sholihat, Yayasan Pendidikan Agama Islam Al-Baqiyatus Sholihat, almanak, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Aliyah Al-Baqiyatus Sholihat, serta kitab-kitab yang telah dan belum diterbitkan.

Foto: http://nizomalhasani.blogspot.com/2017/04/kh-raden-mamun-nawawi-bekasi.html
Sumber:
“KH. Raden Ma’mun Nawawi (1915-1975)”, diakses dari https://mondok.co/kh-raden-ma%C2%92mun-nawawi-1915-1975/, tanggal 10 Juni 2019.

As-Samfuriy, Sya’roni. 2014. “KH. R. Ma’mun Nawawi Ahli Falak Bekasi Santri Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari”, diakses dari http://www.muslimedianews.com/2014/06/kh-r-mamun-nawawi-ahli-falak-bekasi.html#ixzz5pNOuiFCY, tanggal 10 Juni 2019.

“KH Raden Ma’mun Nawawi Bekasi”, diakses dari http://nizomalhasani.blogspot.com/2017/04/kh-raden-mamun-nawawi-bekasi.html, tanggal 11 Juni 2019.

“Mengenal Ulama Nusantara (KH Ma’mun Nawawi/Mama Cibogo, Bekasi), diakses dari https://ypialkamiliyyah.wordpress.com/2012/09/04/kh-mamun-nawawi-mama-cibogo-bekasi/, tanggal 12 Juni 2019.

Sya’ban, A. Ginanjar. 2017. “Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah”, diakses dari http://www.nu.or.id/post/read/76983/kitab-fiqih-manasik-berbahasa-sunda-karya-kh-mamun-nawawi-cibarusah, tanggal 12 Juni 2019.

Kelenteng Jin De Yuan

Kelenteng atau klenteng Jin De Yuan adalah salah satu dari empat kelenteng besar1 yang ada di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Kelenteng yang dahulunya di bawah pengelolaan Gong Guan atau "Dewan Opsir Tionghoa" Batavia ini berada di Jalan Kemenangan III Nomor 13 Jakarta yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kelurahan Glodok, Kecamatan Tamansari, Kotamadya Jakata Barat.

Claudine Salmon dan Denys Lombard dalam Les Chinois de Jakarta: Temples et vie Collectives (1977) yang dikutip Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1989) menyebutkan bahwa dalam "Catatan Sejarah Tionghoa tentang Batavia" sekitar tahun 1650 Luitenant Tionghoa Guo Xun Guan [Kwee Hoen] mendirikan sebuah kelenteng untuk menghormati Guan Yin [Kwan Im] di Glodok. Oleh karena itu, kelenteng tersebut disebut Guan Yin Ting [Kwan Im Teng] atau yang secara harafiah berarti “Paviliun Guan Yin”. Namun, ketika terjadi Tragedi Pembantainn Angke (1740) .kelenteng ini dirusak dan dibakar.

Tahun 1755 seorang Kapiten Tionghoa memugarnya dan memberi nama Jin De Yuan (Kim Tek Ie) Jin De [Kim Tek] artinya “kebajikan emas” dan Yuan [Ie] menurut Carstairs Douglas dalam Chinese-English Dictionary of the Vernacular or Spoken Language of Amoy (i.e. Xiamen), with the Principal Variations of the Chang-Chew (i.e. Zhangzhou) and Chin-Chew (i.e. Quanzhou) Dialects (1873:164a) berarti "Kelenteng yang berhalaman luas dengan beberapa bangunan umum".

Keterangan tertulis mengenai Kelenteng Jin De Yuan antara lain terdapat dalam Kai-ba li-dai shi-ji (Kronik Penduduk Tionghoa di Batavia). Dokumen tersebut menyebutkan bahwa kelenteng ini dibangun sekitar pertengahan abad XVII. Kelenteng yang disebut Guan Yin Ting itu dibangun tahun 1650 oleh Letnan Quo Xun Guan dan diselesaikan pada tahun 1669 oleh Kapten Guo Jun Guan. Menurut kronik yang sama, nama Jin De Yuan diberikan oleh Kapten Huang Shi Lao (Huang Yi Qu) pada tahun 1755 (Salmon & Lombard 1980: 730). Masyarakat sekitarnya menyebut “Kelenteng Kim Tek I” (sekarang bernama “Vihara Dharma Bhakti”).

Data Bangunan
a. Bangunan Utama
Bangunan Kelenteng Jin De Yuan terdiri atas bangunan utama dan bangunan samping (sayap) kanan, kiri, dan belakang. Bangunan utama berukuran 12 x 26 m dengan orientasi arah utara-selatan. Bangunan ini memiliki serambi dan ruang utama. Dalam ruang utama terdapat ruangan depan, impluvium, dan ruang samping, serta ruang suci utama. Di ruang tengah bangunan utama terdapat impluvium yang lantainya lebih rendah dari lantai di sekelilingnya. Sedangkan, lantai ruang utama bagian depan, samping, dan belakang (ruang suci utama) dibuat lebih tinggi.

Ruang suci utama yang terletak di bagian belakang atau di sebelah utara terbagi menjadi tiga. Masing-masing ada patung dewanya. Ruang tengah lebih besar dari ruang yang lainnya, karena merupakan tempat altar dewa-dewa utama.

Serambi (teras) yang terletak di bagian depan dibatasi dengan dinding ruang utama dan memiliki pagar besi berwarna merah. Dinding depan ini mempunyai pintu masuk dengan dua daun pintu dari kayu. Pintu ini diberi gambar orang penjaga yang berpakaian perang (dewa pintu). Di atas ambang pintu terpampang sebuah papan horizontal berisi tulisan Cina yang menyebutkan nama kelenteng dan tanggal Minguo 25 (1936). Minguo adalah perhitungan tahun Cina yang dimulai dari tahun 1911. Dalam perhitungannya, angka belakang Minguo dijumlahkan dengan 1911. Selain pintu masuk yang menghadap ke selatan, juga terdapat dua pintu lain untuk menuju ke ruang utama. Pintu ini terletak di dekat pintu pertama (utama) dan keduanya berdiri saling berhadapan.

Di kanan-kiri pintu utama tampak sebuah bidang segi empat berukuran 120 x 160 cm. Bidang tersebut terbagi menjadi beberapa bidang (panel) yang tidak sama besarnya. Pada permukaan bidang ini diberi ukiran vas berbunga, seekor gajah dengan bunga-bungaan, atau pohon dengan hewan seperti burung atau rusa. Motif pada ukiran berwarna kuning keemasan dengan tepi bingkai berwarna merah, kuning, dan hitam. Di kiri-kanan pintu utama juga terdapat jendela bulat dengan ukiran yang menerawang ke dalam. Ukuran jendela ini berdiameter 192 cm. Di tengah bulatan bergambar lilin dengan motif awan, matahari, dan beberapa lambang Buddhis seperti suling, daun, dan tanduk, serta warna merah di sekelilingnya. Panel-panel yang lain berukuran 215 x 120 cm dengan relif yang menggambarkan burung phoenik dan naga yang ditempatkan di sudut-sudut bangunan.

Ruang bangunan bagian dalam terdiri atas ruang bagian depan, impluvium, samping ipluvium, dan ruang suci utama. Antarruang-ruang tersebut tidak ada dinding pemisah. Dinding pemisah hanya terdapat pada ruang suci utama yang terletak paling belakang sebagai tempat dewa-dewa. Di ruang utama bagian depan, tepat di depan pintu masuk, terdapat meja altar dan diletakkan sebuah patung Wei Tuo yang dianggap sebagai dewa penjaga kelenteng dengan sikap membelakangi, karena ia menghadap ke dalam. Patung ini berjubah dan bertutup kepala warna keemasan. Kedua tangannya diletakkan di depan dada sambil memegang pedang. Sebuah padupaan (tempat hio) dan dua vas bunga diletakkan di atas meja altar.

Di atas ambang pintu bagian dalam terdapat sebuah kotak berisi tiga patung sebagai gambaran dari San Yuan, yaitu “kaisar Tiga Dunia” yang merupakan dewa Taoist. Di sudut ruangan sebelah timur, dekat pintu masuk, terdapat penjualan keperluan upacara. Sedangkan, di sudut ruang sebelah barat ada sebuah lemari tempat menyimpan obat-obatan.

Setelah melewati altar Wei Tuo, terdapat satu bangunan yang disebut impluvium berukuran 5x6 meter dengan lantai yang lebih rendah dan beratap kawat. Imoluvium ini terbentang tidak beratap, hanya ditutup atap anyaman kawat sebagai pengaman. Di sebelah kanan dan kiri impluvium terdapat ruangan, sedangkan di sebalah barat terdapat sederetan kursi untuk istirahat dan meja panjang untuk menempatkan piring-piring makanan. Di dinding sebelah barat dipasang sebuah papan prasasti. Sementara, ruang sebelah timur impluvium juga terdapat sederet kursi untuk istirahat dan lemari dengan laci-laci tempat menyimpan kertas-kertas ramalan. Dinding ruangan ini juga terpampang sebuah prasasti. Pada kedua prasasti itu tertulis nama-nama para pederma yang telah membantu perbaikan berguna dengan jumlah uang atau benda lain yang disumbangkan. Salah satu prasasti tersebut menyatakan bahwa pada tahun 1890 telah dilaksanakan perbaikan atas inisiatif Kong Tong (Dewan Tionghoa) di Jakarta. Di sebelah kiri prasasti tersebut digantung sebuah tambur besar dari kulit macan, sedangkan di seberangnya tergantung sebuah genta. Tidak jauh dari impluvium ada pintu keluar menuju ke halaman samping dan halaman belakang. Pintu ini berada di bagian barat menyamping. Bentuknya serupa dengan pintu masuk utama yang terdiri dua daun pintu, tetapi bentuknya lebih kecil yaitu tinggi 236 cm, lebar 60 cm, dan dicat merah.

Ruang suci utama berada di bagian paling belakang (lantainya paling tinggi). Di ruangan ini tempat patung-patung dewa. Di dinding barat dan timur, di dalam almari kaca, masing-masing terdapat sembilan patung Luo Han atau arhat yang dilapis warna emas. Di tengah-tengah ruang suci utama ditempatkan dua meja panjang berukir. Satu meja untuk Dewa Kwan Im dan dua pengiring yang disimpan dalam lemari kaca. Ketiganya berwarna keemasan. Dewa Kwan Im digambarkan dalam sikap duduk di atas bunga lotus dengan kaki bersila dan mempunyai tangan sebanyak sembilan pasang. Sepasang terletak di depan dada dan yang lainnya memegang sebuah benda. Seorang pendampingnya juga duduk di atas bunga lotus dengan melipat tungkai kaki ke atas dan tungkai kaki kiri dilipat mendatar. Sedangkan, pendamping yang lainnya menduduki seekor singa dengan kedua kaki menjuntai ke bawah dan tangan di depan dada. Sebuah bejana kuningan diletakkan di depan lemari kaca tersebut. Meja panjang lainnya dipergunakan sebagai tempat buku-buku kitab suci, sebuah kotak hitam tempat membakar kayu cendana, dan kentongan agak bulat yang disebut bo-ki.

Bagian paling belakang ruang suci ini terdiri atas tiga ruang yang diisi patung-patung dewa. Ruang terbesar berada di tengah tempat patung dewa utama, yaitu sebuah patung kayu Kwan Im berwarna hitam yang didampingi seorang pengiring dan tiga patung Budha besar di belakangnya. Ketiga patung Budha itu disebut Tri Tunggal Budhis atau San-zun fo-zuy yang terdiri atas Sakyamuni Buddha, Bhaisjyaguru, dan Amitabha (Salmond dan Lombard 1985: 59-0). Ketiga pantung ini diberi warna emas, tanpa jubah kain. Patung Kwan Im berjubah saten kuning dengan kerudung sutera merah panjang dan mahkota di kepalanya. Pengiring juga diberi jubah sutera dan mahkota.

Ruang patung dewa utama berkaca dan diberi tirai merah yang diletakkan ke samping. Sebuah lampu kristal bunder meneranginya. Di bagian atas tirai digantung sehelai kain (sulaman yang bertuliskan huruf Cina pada kain sutera). Kain ini merupakan sumbangan seseorang yang telah berhasil permintaannya. Di depan ruang dewa ini berdiri sebuah meja panjang untuk persembahan yang berisi dua pelita yang terus menyala (disebut pelita kehidupan), dua jambangan besar, lampu keramik bundar, beberapa piring berisi sajen kue dan buah-buahan. Tempat kuningan untuk pedupaan diletakkan di atas meja kecil di depan meja panjang.

Ruang lain yang berada di sebelah kanan (timur) Kwan Im berisi patung dewa Guan Di (Kwan Kong) sebagai dewa perang (berpakaian perang warna emas). Selembar kain sutera merah menyelimuti kedua bahunya dan tutup kepala juga berwarna merah. Wajahnya merah dan berjenggot. Kedua pengawal juga berpakaian perang dan salah seorang berwajah coklat dan membawa tombak. Mereka diterangi dua lampu merah kecil di depannya. Di ruang sebelah kiri (barat) Kwan Im berisi patung Dewi Ma Co Po (Thian Huo) sebagai pelindung para pelaut dan dua orang pengiringnya. Jumah Ma Co Po disepuh keemasan dan selembar kain sutera merah menutupi bahu. Ruangan ini diterangi dua lampu merah kecil dan di depannya diletakkan meja untuk tempat pedupaan dan sesajian.

b. Bangunan samping
Sesuai dengan namanya bangunan ini terpisah dari bangunan utama. Untuk menuju ke sana melalui dua pintu yang berada di tengah dinding barat dan timur bangunan utama. Sebuah halaman berada di antara bangunan utama dan bangunan samping yang mengelilinginya. Dari pintu penghubung dibuat sebuah koridor hingga ke teras. Di halaman samping ada sebuah tempat pembakaran kertas dari bata yang berbentuk pagoda (dekat ke dua pintu penghubung). Di belakangnya (utara) terdapat tiga genta dan satu pembakaran kertas kuno (jin-lu) yang terletak tepat di balik dinding utara ruang suci utama yang semuanya terdapat angka tahunnya (berhuruf Cina). Masing-masing genta berukuran tinggi 75-100 cm, diameter antara 67-76 cm. Genta yang terbesar berhiasan naga dan yang terkecil berhiaskan manusia yang bersikap akrobatik. Sedangkan, tempat pembakaran berukuran tinggi 200 cm dan lebar 40 cm, berbentuk menyerupai rumah yang ditopang empat tiang. Tempat tersebut terbuat dari besi cor (dari kaki hingga atap penuh dengan ukiran). Di bagian tubuhnya bertulisan prasasti yang menyatakan bahwa jin-lu ini dibuat di Kwantung pada tahun 1821. Sebagai catatan, benda-benda tersebut sudah tidak terpakai lagi.

Pada bangunan samping ini terdapat ruang-ruang dengan altar-altar sekunder yang terpisah dari ruang suci utama. Bentuk denah bangunan samping yang berada di sisi-sisinya (kanan, kiri, dan belakang bangunan utama) menyerupai huruf “U” terbalik serta susunan tata letak ruang-ruang di sebelah barat dan timur simetris. Beberapa tahun yang lalu salah satu ruang di bagian timur mengalami perubahan. Dinding bangunan samping berdiri di atas lapik yang tidak tinggi, tetapi lantai di dalam ruangan-ruangan tidak ada yang ditinggikan. Dinding bangunan dipergunakan sebagai penyangga atap, ruangannya terbuka, tanpa pintu untuk penempatan altar dewa. Sedangkan, ruang tertutup dilengkapi dengan pintu yang bercat merah dan jendela yang beruji untuk tempat penyimpanan barang-barang atau keperluan lainnya.

Atap bangian dalam bangunan samping dibuat dari papan-papan kayu berwarna hitam yang disusun berjejer ke samping. Atap luar terbuat dari genting, berbentuk pelana berwarna polos putih. Ruang-ruang bangunan samping yang terbuka dipergunakan untuk menyimpan patung dewa. Dewa-dewa di sini diberi pak wan dan mahkota dilapisi warna emas, selebar kain saten merah yang menutupi kedua bahu. Selain itu, di ruangan ini terdapat patung pendamping, dua buah lampu merah kecil yang ditempatkan dalam lemari kayu, dan sebuah tempat pedupaan dari kuningan yang diletakkan di atas meja (di depannya), serta dua lilin besar dalam keadaan terus menyala.

Dewa yang berada di bangunan samping bagian timur yaitu: patung dewa To Ta Thian Wang (Thian Ong) berjenggot dan didampingi oleh No Cak Gong (Lo Cah Kong) dan Mu Cak Gong (Bok Zha Kong). Mereka dianggap sebagai pemberi pertolongan kepada orang yang mengalami kesulitan. Arca-arca lain seperti: Qin, Shui Zu Shi (Cu Su Kong) sebagai dewa laut; Can Kui Zi Shi (Cuo Kue Cosu) atau guru pertama seorang rahib dari Yanping, Fujian (arca mengenakan jubah kuning dan tangannya memegang kipas); macan (harimau) putih yang ditempatkan dalam suatu kotak yang berbentuk rumah; Cheng Huan Yi (Seng Ho Ja) atau dewa sumpah; Tai Sui Ye (Tai Sue Ye); dan Hua-po (Hua-kong hua-bu) sebagai pelinduk anak.

Patung-patung dewa pada bagian samping sebelah belakang (utara) yaitu: (1) Patung Dutho Jiang Jun (Tatmo Co Su) berawjah suram berwarna coklat, mata melotot, berambut keriting dan berjenggot. Ia sebagai dewa yang dapat memberi keselamatan bagi pemujanya; (2) Patung Dewa Ze Hai Zhen Ren (Tik Hai Cin Jin) sebagai pelindung samudera dan di sampingnya berdiri Dewa Wen Chang Gong (Boen Ciong Kong) yang memegang seperti gulungan kertas sebagai ahli sastra, serta ditemani oleh seorang pengawal; (3) Patung Dewa Mi-lei-fo berperawakan gendut, sedang tertawa, duduk dengan satu lutut terangkat, sehingga perutnya kelihatan. Ia dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain bagi yang memujanya; dan (4) Xuan Tan Gong (Hian Tan Kong), ia sebagai tempat meminta pertolongan oleh orang sakit agar sembuh. Ia berjenggot, memakai pakaian kebesaran dan mahkota, lima orang pengawal bersenjatakan pedang.

Dewa-dewa yang berada di bagian samping sebelah barat dimulai dari utara, yaitu: (1) Dewa Fu De Zheng Shan atau Hok Tek Ceng Sin (dewa bumi) dengan dua pengawalnya yang berwajah hitam. Ciri-cirinya yaitu orang tua berjenggot, bermahkota, dan berwajah merah; (2) Cai Shen Ye (Chay Sin Ja) atau dewa bintang kekayaan. Ia ahli menghimpun kekayaan. Dewa ini disertai pendamping yang berdiri di sampingnya; (3) Macan agak besar dan dikelilingi empat macan kecil, orang memuja agar terhindar dari kesakitan; (4) Himpunan arca-patung dewa yang merupakan sumbangan orang-orang. Selain itu, ada tempat penyimpanan papan nama serta foto para pendeta yang telah meninggal di kelenteng ini.

c. Halaman
Di sebelah selatan terdapat sebuah gapura besar menyerupai gerbang dengan bagian atap yang tertutup. Bentuk ini disebut tipe pai lou (jenis paduraksa). Gerbang ini menyatu dengan tembok pagar yang melebar ke samping. Di tengah gapura terdapat dua daun pintu terbuat dari kayu berwarna merah khas kesenian Cina. Tepat di atas ambang pintu terpampang tulisan “Vihara Dharma Bhakti”. Sementara, di bagian luar sederetan huruf Cina berbunyi “Kim Tek I” pada sisi gapura bagian dalam. Atap gapura berbentuk pelana. Gapura yang lebih kecil terdapat pada pagar tembok sebelah timur. Keduanya juga berbentuk arsitektur Cina, walaupun pintunya bukan dari bahan kayu lagi, melainkan dari besi. Di halaman pertama ini berdiri tiga bangunan kelenteng lainnya yang semuanya menghadap ke arah timur. Halaman kelenteng dipergunakan untuk upacara-upacara tertentu hingga sekarang.

Halaman lainnya dibatasi pagar tembok setinggi 170 cm. Pintu masuk ke halaman ini terbuat dari besi (berada di tengah tembok). Bagian atasnya terpampang tulisan “Yayasan Vihara Dharma Bhakti”. Di masa lalu lapangan di dalam lingkup halaman ini merupakan sebuah taman kecil yang dihiasi tanaman, namun sekarang dengan semakin banyaknya jumlah umat yang bersembahyang diubah menjadi pelataran berlantai semen. Di bagian tengah halaman ini, tepatnya di muka bangunan kelenteng, berdiri sebuah bangunan segi delapan tanpa dinding yang ditopang oleh tiang kecil-kecil berjumlah empat buah. Atapnya juga berdenah segi delapan bersusun dua. Setiap jurainya mengarah ke atas. Bagian puncaknya dihiasi bunga teratai yang sedang mekar.

Di tengah bangunan terdapat sebuah wadah terbuat dari kuningan, berdiameter 85 cm. Wadah ini diletakkan di atas alas berbentuk bunga teratai berfungsi untuk tempat menancapkan hio setelah melaksanakan sembahyang kepada Thian (Tuhan). Di halaman ini terdapat sepasang patung singa (bougushi) berdiri di atas laping setinggi 70 cm yang berfungsi sebagai penjaga. Tinggi patung singa 80 cm, terbuat dari batu berada di kiri dan kanan halaman. Bangunan lainnya adalah dua buah balai pengobatan yang terletak di sebelah barat (bersebelahan dengan Vihara Dharma Bakti). Sedangkan, lainnya tepat di sisi timur bangunan utama Kelenteng Jin De Yuan.

Sumber:
Supardi, Nunus, dkk,. 2000. Kelenteng Kuno di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
http://community.siutao.com
http://www.detiknews.com
http://www.geocities.com

Muliaman Darmansyah Hadad

Muliaman Darmansyah Hadad merupakan salah seorang putra Bekasi yang berhasil menempati beberapa posisi strategis di pemerintahan. Pria yang lahir pada tanggal 3 April 1960 ini sudah mulai menunjukkan prestasi dengan menyelesaikan pendidikan dasarnya lebih cepat dari yang seharusnya (wikipedia.org). Begitu pula ketika menempuh pendidikan tingkat tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Studi Pembangunan pada tahun 1979 Muliaman memperoleh gelar Sarjana Ekonomi tahun 1984 sebagai salah satu lulusan tercepat di antara teman-teman satu angkatannya.

Dua tahun setelah mendapat gelar Sarjana Ekonomi, Mualiman memulai karir dengan bekarja sebagai staf umum di Kantor Bank Indonesia cabang Mataram. Tahun 1990 Muliaman kembali melanjutkan pendidikan di John F Kennedy School of Government, Havard University dan memperoleh gelar Master of Public Administration satu tahun setelahnya. Tidak puas hanya mendapat gelar Master, lima tahun kemudian (1996) dia pergi ke Australia untuk belajar di Faculty of Bussines and Economics Monas University hingga memperoleh gelar Doctor of Philosophy.

Sekembali dari Australia, tahun 2003 Muliaman diangkat sebagai Kepala Biro Stabilitas Keuangan lalu menjadi Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan pada tahun 2005 (finance.detik.com). selanjutnya, berdasarkan Keputusan Presiden RI No.69/P Tahun 2006, tanggal 22 Desember 2006 diangkat menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Jabatan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia ini diembannya dua kali setelah dilantik kembali oleh Ketua Mahkamah Agung Harifin A Tumpa pada tanggal 29 Desember 2011 berdasarkan Keputusan Presiden No.75/P tanggal 21 Desember 2011. Dalam proses pemilihannya Muliaman berhasil mengalahkan Wakil Direktur Bank Mandiri Riswandi yang merupakan hasil pilihan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI.

Selain jabatan prestisius tadi, Muliaman juga aktif sebagai Anggota Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan, Basel Committee on Banking Supervision (BCBS), Financial Stability Board (FSB), Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Sekretaris Dewan Penasihat Indonesian Risk Proffesionals Association (IRPA), Ketua Komite Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), dan pengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta (finance.detik.com).

Setelah tidak menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Komisi XI DPR RI yang dilaksanakan pada 19 Juni 2012. OJK sendiri adalah sebuah lembaga supervisi industri jasa keuangan. Bersama Nelson Tampubolon, Nurhaida, Rahmat Waluyanti, Firdaus Djaelani, Ilya Avianti, dan Kusumaningtuti S Soetiono, Muliaman mengelola dana OJK yang besarnya setara dengan produk domestik bruto Indonesia (ekonomisyariah.org).

Terpilihnya Muliaman sebagai ketua OJK tidak lepas dari sepak terjangnya dalam dunia perbankan khususnya dalam penelitian dan pengaturan perbankan di Indonesia. Baginya, untuk mengatur sektor keuangan Indonesia OJK harus memiliki sejumlah karakteristik tertentu agar dapat bekerja secara efektif dan efisien. Salah satunya adalah berhati-hati dalam menjalankan pengawasan terhadap industri jasa keuangan, terutama pada lembaga keuangan yang mengelola dana seperti bank, asuransi, dana pensiun, hingga pasar modal. Selanjutnya, kegiatan pengawasan dilakukan sebagai “business is not as usual”. Kemudian, membangun koorniasi dengan Bank Indonesia agar tidak terjadi overlapping pekerjaan. Dan, karakteristik lainnya adalah meningkatkan kebijakan keuangan yang bersifat inklusif dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat.

Jabatan sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK diemban Muliaman dari tahun 2012 hingga 2017. Usai menunaikan masa bakti di OJK, awal tahun 2018, tepatnya tanggal 20 Februari 20108, Muliaman secara resmi dilantik oleh Presiden Joko Widodo menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk negara Swiss merangkap Leichtenstein. Muliaman menggantikan Linggawaty Hakim yang telah telah menjabat sejak 11 Februari 2014.

Foto: http://www.tribunnews.com/bisnis/2014/09/03/ojk-minta-lembaga-keuangan-non-bank-biayai-infrastruktur
Sumber:
“Muliaman Darmansyah Hadad”, diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Muliaman_Darman syah_Hadad, tanggal 25 Mei 2019.

“Muliaman Darmansyah Hadad”, diakses dari https://finance.detik.com/moneter/d-1946032/ini-profil-7-petinggi-ojk-terpilih/2, tanggal 25 Mei 2019.

“Dr. Muliaman D Hadad [Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah] Memimpin Otoritas Jasa Keuangan”, diakses dari http://www.ekonomisyariah.org/4569/dr-muliaman-d-hadad-ketua-umum-masyarakat-ekonomi-syariah-memimpin-otoritas-jasa-keuangan-ojk/, tanggal 26 Mei 2019.

Siti Rohmah

Bila berbicara mengenai emansipasi di Indonesia, tentu yang terbayang adalah gambaran nama-nama besar seperti Kartini sebagai perempuan Jawa yang walau dapat menyuarakan isi hati melalui tulisan namun tetap tunduk pada aturan patriakis, Raden Dewi Sartika yang memberi pengajaran bagi anak negeri, hingga perempuan-perempuan gagah berani (Cut Nyak Dhien dan Martha Kristina Tiahahu) yang memimpin pasukan menghalau penjajah.

Di beberapa daerah juga ada perempuan-perempuan pejuang emansipasi seperti di atas, namun karena peran mereka kurang diekspos, maka jarang ada yang mengetahui. Di daerah Bekasi misalnya, ada seorang perempuan pejuang bernama Siti Rohmah. Beliau adalah putri dari KH Abdul Mugni dan isteri dari pahlawan nasional KH Noer Ali. Mereka menikah pada bulan April 1940 dan dikaruniai tujuh orang putri serta lima orang putra.

Perempuan yang biasa dipanggil Nyai Rohmah ini merupakan orang yang berada di belakang perjuangan KH Noer Ali yang terkenal dengan julukan Si Singa Bekasi. Sang suami berjuang dengan memanggul senapan memimpin laskar Hisbullah menghalau penjajah, sedangkan sang isteri dalam dunia pendidikan demi mencerdaskan kaum bumi putra.

H Madinah

H Madinah adalah Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Madaniyah, Ketua Tanfidhiyah Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi, dan sekaligus juga menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Bekasi Barat, Kota Bekasi. Seabreg jabatan tersebut tidak lepas dari perjuangan serta pengalaman hidup yang ditempuhnya selama ini yang mulai dirintis dari bawah.

Laki-laki kelahiran Bekasi tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama yang agak dominan. Dia mengawalinya dengan bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al Hidayah (1977) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Agus Salim (1981). Lulus dari MTS Agus Salim, Madihan melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru Negeri Lubang Buaya (1984). Kemudian hijrah ke Bandung untuk menempuh pendidikan tinggi di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunungjati (1996), Uninus Bandung (1997), dan Akta IV di Unisma 45 (1999). Terakhir dia mendapatkan ijazah S2-nya di Jakarta pada tahun 2008 (tentangbekasi.com).

Selama menempuh pendidikan formal keseharian Madinah tidak melulu belajar dan belajar. Di sela-sela waktu, berbekal sepeda onthel dia pernah menjadi loper koran, tukang dekor hajatan, penjual petasan,hingga berjualan es mambo dari daerah Jatiasih sampai ke Halim. Selain berdagang, dia juga menyempatkan diri belajar agama pada beberapa orang berpengaruh, seperti: KH Musryid Kamil, KH Latif Kamil (DR Syafie Kamiel), KH Mir’an Syamsuri, KH Jamaksari, KH Noer Ali, KH Muhazirin, KH Sirojil Munir, KH Dawam, dan DR KH Ali Mustofa Yakub.

Pada saat bersekolah di SPGN Lubang Buaya, pada tahun 1982 Madinah pernah menjadi menjadi guru honorer di salah satu sekolah di daerah Bekasi. Waktu itu, honor pertama yang diterima hanya sebesar Rp.5.000,00 per bulan. Namun seiring waktu meningkat menjadi Rp.12.000,00 dan di tahun 1996 menjadi RP.50.000,00 per bulan. Walaupun honorarium relatif kecil Madinah tetap menjalaninya, sebab dia beranggapan bahwa mengajar merupakan sebuah pengabdian bagi sesama sekaligus sebagai ibadah mencari ridlo Illahi.

Pengalaman hidup inilah yang kemudian membuat Madinah dapat lebih menghargai setiap kejadian. Dia berpendapat bahwa hidup haruslah cerdas dan jangan menjadi orang bodoh. Orang harus bersungguh-sungguh dalam menjalani hidup dan dapat mengambil hikmah sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal. Selain itu, juga menjaga “lima masa sebelum datang lima masa berikutnya”. Menurut poskotanews.com, masa-masa tersebut adalah masa muda sebelum masa tua, masa kaya sebelum miskin, masa sehat sebelum sakit, masa luang sebelum sibuk, dan masa hidup sebelum kematian.

Atas dasar prinsip hidup tersebut, Madinah bersama sejumlah tokoh ulama Bekasi kemudian mendirikan sebuah pondok pesantren yang diberi nama Miftahul Madaniyah. Pendirian pondok pesantren bertujuan agar generasi penerus bangsa memiliki akhlak baik di tengah masyarakat yang norma-norama aturannya sudah mulai bergeser. Adapun peresmiannya sendiri dilakukan pada tahun 2014 oleh Walikota Bekasi Rahmat Efeendi yang juga dihadiri pula oleh KH Ali Mustofa Yakub dan H Roma Irama.

Saat ini, di sela-sela kesibukan sebagai pimpinan pondok pesantren dan kepala KUA Bekasi Barat, Madinah juga menjabat sebagai Ketua Tanfidhiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi menggantikan KH Abdul Majid yang telah usai masa kepengurusannya. Pemilihan Madinah sebagai pengurus PCNU berlangsung dalam Konferensi Cabang IV Nahdlatul Ulama Kota Bekasi di Islamic Center. Madinah sebagai figur panutan di Bekasi dianggap mampu merangkul semua elemen dan potensi NU dalam mengembangkan peran dan manfaat kepada masyarakat (poskotanews.com).

Sumber:
“Tokoh Asli Jatiasih jadi Ketua NU Kota Bekasi”, diakses dari http://poskotanews.com/2018/12/19/tokoh-asli-jatiasih-jadi-ketua-nu-kota-bekasi/, tanggal 3 Juli 2019.

“Madinah: Jadikan Pengalaman Hidup sebagai Pembelajaran”, diakses dari http://www.tentangbekasi.com/2017/09/22/madinah-jadikan-pengalaman-hidup-sebagai-pembelajaran/, tanggal 2 Juli 2019.

“Kepala KUA Ini Pernah Jadi Loper Koran Pos Kota”, diakses dari http://poskotanews.com/2017/04/01/kepala-kua-ini-pernah-jadi-loper-koran-pos-kota/, tanggal 3 Juli 2019.

Popular Posts