Raden KH Umar

Raden KH Umar atau biasa disapa dengan Mbah Guru Keneng adalah seorang ulama ahli tassawuf yang sangat disegani di Bekasi, khususnya di daerah Jatibening, Cikunir, Jatiasih, dan Ceger. Oleh masyarakat setempat, beliau dianggap sebagai waliyullah yang banyak karomah serta masih memiliki garis silsilah bersambung terus hingga ke Wali Songo dan Nabi Muhammad SAW (Firdaus, 2016).

Masih menurut Firdaus (2016) yang mengutip Porbatjaraka, Mbah Guru Keneng lahir pada tahun 1857 dan meninggal tahun 1972. Beliau diperkirakan merupakan keturunan rombongan kerabat Kerajaan Banten yang menetap di Jati Kramat Jatiasih antara tahun 1527-1530. Rombongan dipimpin oleh Syeikh Syarifudin (Mbah Kandong) yang merupakan keturunan Pangeran Sageri/Segori dan masih memiliki garis dengan Syeikh Sunan Gunu Jati Cirebon. Selain Mbah Kandong, Pangeran Sageri juga memiliki keturunan bernama R.H. Sholeh yang kemudian menetap di Kampung Ceger Jaka, Bekasi Selatan. R.H. Sholeh inilah ayahanda dari R. H. Umar atau Mbah Guru Keneng.

Adapun susunan nasabnya adalah: Taajul Arsy. Rh Umar bin Rh Zahiri bin Rh Muhadir bin Raden Kanzul Asikin bin Pangeran Sageri bin Aabulfath Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa bin Abul Ma’ali Ahmad bin Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir bin Maulana Muhammad bin Maulana Yusuf bin Maulana Hasanuddin bin Syeikh Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati bin Raja Abdulloh bin Alhusein Jamaluddin Alkubro bin Ahmad Syah Jalaluddin Al Akbar bin Abdulloh Khan bin Sayyid Abdul Malik Ba’aali Adzumat Khan bin Alwi bin muhammad Shohib Mirbath Alawi bin Ali Kholi’ Qosim bin Alwi bin Muhammad Shohib Assouwmaah bin Alwiy Ba’alawiy Al A’ala bin Abdulloh bin Ahmad Almuhajir Alfaqihil Muqoddam hingga ke Rasulullah SAW.

Semasa hidup Mbah Guru Keneng pernah mengajar di salah satu sekolah Islam diniyah yang sekarang menjadi YPIA Islam Al-Mu’awanah Bekasi. Selain itu beliau juga melakukan dakwah kepada warga masyarkat di Kampung Ceger (Irhamni, 2017). Dalam berdakwah, beliau mempunyai pesan tersendiri yaitu “Jalanilah apa yang tidak kamu pilih jangan menjalani apa yang kamu pilih, beragam pernak pernik kehidupan selalu saja menjadi bayangan dalam setiap gerak alur raga ini bergerak, aku bertanya apakah ini yang aku mau dan yang aku pilih…Ternyata menjalani apa yang aku pilih adalah suatu kesusahan hidup yang amat teramat menyakitkan” (Firdaus, 2016). Kata-kata “mutiara” ini rupanya banyak menarik minat orang, sehingga dakwahnya kemudian diikuti pula oleh orang-orang di luar Kampung Ceger. Mereka tidak hanya berasal dari Pulau Jawa saja melainkan juga dari daerah lain di luar Pulau Jawa.

Bagi para pengikutnya, Mbah Guru Keneng tidak hanya ahli dalam ilmu Islam, melainkan memiliki juga keistimewaan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keistimewaan tersebut di antaranya adalah: tubuh tetap kering walau kehujanan, pencuri yang masuk ke rumahnya seakan mematung dan tidak dapat keluar sebelum diizinkan, dapat memasak sebutir telur hanya dengan menggenggamnya, suara speaker yang keras tidak berbunyi bila dihadapkan ke rumahnya, dan lain sebagainya.

Berkat jerih payah dalam menyebarkan agama Islam di Bekasi, hingga saat ini makamnya sering diziarahi orang untuk memanjatkan doa. Mereka tidak hanya berasal dari daerah Bekasi dan sekitarnya, melankan juga dari daerah lain di seluruh Indonesia.

Foto: https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger
Sumber:
Firdaus, Ahmad. 2017. “Mbah Guru Keneng Keramat dari Ceger”, diakses dari https://www.kompasiana.com/firdausiahmad/56cadaee4223bd2a12ea3597/mbah-guru-keneng-keramat-dari-ceger, tanggal 23 April 2019.

Irhamni, Bayu. 2017. “Kisah Perjalanan Seorang Ulama Ceger”, diakses dari http://bayuirhamni.blogspot.com/2017/02/kisah-perjalanan-seorang-murid.html, tanggal 24 April 2019.
Dilihat: