Rumah Pacenan

Pacenan adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Rumah pacenan bentuknya segi empat. Bagian atapnya serupa dengan omah kampung (rumah orang Jawa). Rumah pacenan yang berdiri sendiri dan ada yang bergabung (sambung) dengan lainnya, sehingga memanjang. Rumah ini memiliki sesakhah 8 buah, dengan rincian 4 buah sesakhah utama dan 4 buah sesakhah pembantu. Sesakhah utama berfungsi sebagai penyangga atap yang membentuk segi tiga. Atap yang membentuk segi tiga oleh masyarakat setempat disebut “antong-antong”. Jadi, ada antong-antong bagian depan dan antong-antong bagian belakang. Sedangkan, sesakhah pembantu berfungsi sebagai penyangga amparan, yaitu bagian atap rumah yang salah satu ujungnya bersambung dengan salah satu ujung yang membentuk segi tiga. Sebagaimana antong-antong, amparan juga ada dua, yaitu di bagian depan dan belakang. Amparan, baik yang ada di bagian depan maupun belakang, ditopang oleh kayu yang panjang yang oleh masyarakat setempat disebut plesur.

Sesakhah, baik yang utama maupun pembantu, pada umumnya terbuat dari kayu sengon. Kayu yang menghubungkan antara sesakhah utama yang satu dengan lainnya disebut lambheng pandhek. Di atas lambheng pandhek ada kayu lagi (bertumpangan) yang berfungsi sebagai alas andher (kayu yang menghubungkan antara lambheng pandhek dan atap (siku-siku atap). Di bawah lambheng pandhek ada kayu yang juga menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Kayu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthuk pandhek”. Pososinya kurang lebih 50 centimeter dari lambheng pandhek. Fungsinya sebagai penguat sesakhah, sehingga dapat membentuk siku-siku (sesakhah dapat berdiri secara tegak lurus).

Selain lambheng pandhek, ada juga yang disebut sebagai “lambheng panjang”, yaitu kayu yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya di bagian yang panjang. Oleh karena itu, disebut “lambheng panjang”. Di bawah lambheng panjang juga ada lambheng yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Posisi dan fungsinya sama dengan yang ada di bawah lambheng pendek, yaitu sebagai penguat sesakhah. Di bagian tengah lambheng panjang diberi lambheng yang panjang dan besarnya sama dengan lambheng pandhek.

Di bagian tengah lambheng-lambheng pandhek diberi andher, yaitu kayu tegak lurus sebagai penopang bubung. Panjang bubung sama dengan panjang lambheng panjang. Di atas senthuk panjang diberi beberapa kayu atau papan, lalu di atasnya diberi anyaman bambu. Posisinya sejajar dengan kayu atau papan penyanggah (mendatar), sehingga menyerupai plapon.

Tempat yang menyerupai plapon itu ada yang digunakan untuk menyimpan peralatan dapur, seperti: dandang, baskom, tempat makanan kecil yang terbuat dari plastik, dan barang-barang rumah tangga lainnya yang sewaktu-waktu dapat diambil dan digunakannya.

Dinding ada yang terbuat dari bambu (anyaman bambu), ada yang terbuat dari papan (kayu), dan ada yang berupa tembok. Namun demikian, pada umumnya dinding terbuat dari bambu dan atau kayu.. Pada sisi kanan dan kiri rumah diberi jendela yang terbuat dari kayu; masing-masing dua duah; demikian juga di bagian depan rumah (dua buah).

Ketinggian rumah dari permukaan tanah bervariasi; ada yang 10-30 centimeter dan ada yang 50-80 centimeter. Hal itu bergantung pada tinggi-rendahnya permukaan tanah, sehingga derasnya air hujan yang membasahi pelataran tidak masuk ke dalam rumah. Lantai rumah pacenan ada yang berupa tanah liat, ada yang berupa semen, dan ada pula yang telah dikeramik. Namun demikian, pada umumnya lantai berupa tanah liat dan atau semen. Alasannya adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini semen, apalagi tanah, biayanya relatif lebih murah ketimbang menggunakan keramik.

Pada bagian depan rumah diberi pembatas (semacam pagar) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang (penutup) agar ternak (ayam dan atau itik) tidak dapat leluasa masuk rumah. Selain itu, juga berfungsi agar tamu tidak secara utuh terlihat dari luar. Bagi yang mampu pagar tersebut terbuat dari kayu yang berukir. Pagar yang demikian oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh. Sedangkan, bagi yang kurang atau tidak mampu cukup hanya dengan bambu yang dianyam.

Ruang dan Tata Ruang Pacenan Beserta Fungsinya
Pada dasarnya rumah pacenan terdiri atas 3 ruangan, yakni ruang depan, tengah, dan belakang. Ruang depan berfungsi sebagai ruang tamu. Ruangan ini bagian depannya tidak berdinding, kecuali pada bagian samping kiri dan kanannya. Jadi, jika ada orang yang bertamu akan kelihatan dari luar, walaupun tidak seratus prosen karena masih dihalangi oleh tabing mantheh atau pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang tingginya kurang lebih satu meter.

Oleh karena fungsi utama ruang depan adalah sebagai ruang tamu, di ruangan tersebut diberi perlengkapan (mebelair) yang berkenaan dengan tamu, seperti meja dan kursi. Bagi yang mampu, ruang tamu diisi dengan dua set meja kursi; satu set ada di sebelah kiri dan satu set lagi ada di sebelah kanan ruang tamu. Sementara, bagi yang kurang mampu cukup hanya satu set meja kursi yang diletakkan pada bagian kiri ruang tamu. Sedangkan, bagian kanan ruang tamu diisi dengan tempat tidur. Tempat tidur ini tidak hanya berfungsi tempat duduk para tamu, tetapi juga sebagai tempat tidur bagi anak lelaki yang sudah dewasa yang karena satu dan lain hal tidak tidur di surau.

Ruang tengah dipergunakan sebagai tempat istirahat (tidur) dan sholat (melakukan ibadat), Ruangan ini pada umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kanan, kiri, dan tengah. Bagian kanan dan kiri berupa kamar tidur, sedang bagian tengah dibiarkan kosong karena berfungsi sebagai penghubung antara ruang depan dan ruang belakang. Pemilik rumah dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan menempati salah satu kamar tidur yang ada. Sedangkan, kamar tidur lainnya diperuntukkan bagi anak-anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau).

Ruang belakang berfungsi sebagai dapur dan sekaligus ruang makan. Dalam memasak, mereka masih menggunakan “tungku” yang terbuat dari batu bata dan semen yang diaduk dengan pasir. Batu bata tersebut disusun sedemikian rupa, kemudian diberi adukan semen dan pasir, sehingga membentuk segi empat. Ketinggian tungku yang berbentuk segi empat itu kurang lebih 30 centimenter dari permukaan tanah, dengan panjang sekitar 80 centimter dan lebar sekitar 60 centimeter. Bagian depan diberi lubang dalam bentuk segi empat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter. Posisi lubang tersebut berada di tengah-tengah. Kemudian, bagian atas tungku diberi lubang dua buah dengan ukuran lebih kecil ketimbang lubang yang ada di bagian depan. Fungsi lubang bagian depan sebagai untuk memasukkan kayu bakar. Sedangkan, kedua lubang yang berada di bagian atas tungku berfungsi sebagai tempat untuk menaruh peralatan menanak nasi, nggodok (mendidihkan air), dan menggoreng, seperti: dandang, kwali, teko, dan wajan.

Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Sauk

Sauk adalah sebutan orang Malaysia bagi sebuah alat tradisional yang digunakan untuk menangkap ikan, siput, remis, kerang dan lain sebagainya di dalam sungai. Sauk berbentuk menyerupai timba bujur dengan ukuran sekitar 36x15x15 centimeter. Benda ini memiliki pegangan yang terbuat dari kayu dengan ukuran bergantung selera pembuatnya. Bagian bawah sauk berbentuk jaring yang belubang kecil berfungsi agar air dapat keluar ketika sauk diangkat dari permukaan air.

Rumah Gudangan-mujur

Rumah Gudangan-mujur adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Nama rumah ini sangat erat kaitannya dengan atap yang menyerupai gudangan. Dari segi bentuk, rumah gudangan-mujur sama dengan rumah gudangan-malang, yaitu berbentuk empat persegi tetapi tidak sama sisi. Bedanya, jika rumah gudangan-malang pintu depannya ada di bagian yang panjang, maka rumah gudangan-mujur pintu depannya ada di bagian yang pendek (lebar). Perbedaan lainnya adalah kamar-kamarnya ada di satu sisi (di sisi panjang bagian kiri dan atau kanan). Pada mulanya ruang tamu membentuk huruf “L”. Namun dewasa ini bentuk ruang tamu yang masih tetap dalam bentuk “L”, tetapi ada yang sudah diberi sekat, sehingga tamu tidak langsung dapat melihat bagian dalam rumah.

Jika dilihat berdasarkan tiang penyangganya, rumah yang disebut gudangan-mujur ini keseluruhan memiliki 15 sesakah yang terdiri atas 10 sesakah asli dan 5 sesakah pembantu. Sesakah asli berada di sisi kiri-kanan rumah (masing-masing 5 buah). Fungsinya adalah bangunan rumah dapat berdiri tegak. Sedangkan, sesakah pembantu berada di antara sesakah asli. Fungsinya di samping untuk memperkokoh tegaknya rumah, juga sebagai acuan untuk menyekat ruangan yang satu dengan lainnya.

Antara sesakah yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh kayu yang posisinya horizontal, sehingga membentuk segi empat yang sisi-sisinya tidak sama. Kayu yang membujur pada sisi rumah yang panjang disebut “lembheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membujur pada sisi lebar rumah disebut “lempheng pandhek”. Fungsi lembheng lanceng di samping sebagai pengikat antara sesakah yang satu dan lainnya, juga sebagai landasan osok. Sedangkan, fungsi lempheng pandhek adalah sebagai alas kuda-kuda.

Kuda-kuda adalah sebuah bagian rumah yang membentuk segi tiga. Bagian yang tegak lurus disebut “andher”. Kemudian, bagian yang miring (dengan kemiringan 45 derajat) disebut “gerbil”. Jumlah gerbil dalam sebuah kuda-kuda ada dua buah, masing-masing menopang kemiringan atap. Sedangkan, alasnya disebut kuda-kuda. Jadi, kuda-kuda tidak hanya untuk menyebut bagian rumah yang membentuk segi tiga, tetapi juga alas andher dan gerbil. Pada masa lalu bahan-bahan yang digunakan, baik untuk sesakah, lembheng lanceng, lembheng pendhek, maupun kuda-kuda, terbuat dari kayu jati. Namun dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon.

Atap rumah terbuat dari bahan genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga air hujan tersalur dengan baik (tidak bocor). Penahan genteng yang vertikal disebut osok, sedangkan yang horisontal disebut reng. Pada masa lalu osok dan reng terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon. Malahan, ada yang menggunakan bambu, khususnya bagi yang tidak mampu. Alasannya, bambu lebih murah ketimbang jati atau sengon. Atap, selain ada yang membujur, juga yang melintang, yaitu yang berada di bagian depan rumah. Atap yang tidak tidak berdinding ini oleh masyarakat setempat disebut “kethek”. Fungsinya di samping sebagai penahan agar air hujan tidak langsung membasahi pintu dan jendela, juga sebagai serambi dan atau ruang tamu. Sementara, dinding ada yang berupa tembok, ada yang berupa kayu, dan ada yang berupa anyaman bambu. Sedangkan, lantainya ada yang berupa tanah liat dan ada yang telah disemen (bergantung pada tingkat ekonomi pemilik rumah). Tinggi lantai dari permukaan tanah ada yang hanya 5 centimeter, tetapi ada juga yang relatif tinggi (kurang lebih 80 centimeter). Kemudian, di bagian depan rumah diberi pagar kayu (berukir) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh atau karabeh. Panjang tabing mantheh bergantung pada lebar bagian depan rumah. Jumlahnya ada 4 buah dengan rincian: sebuah ada di bagian depan-kiri rumah, sebuah ada di bagian depan-kanan rumah, dan 2 buah berada di tengah-tengah yang berfungsi sebagai pintu. Sedangkan, alas rumah ada yang berupa tanah liat dan ada yang berupa semen.

Secara keseluruhan rumah gudangan-mujur memiliki empat buah ruangan, yakni ruang: tamu, kamar tidur pemilik rumah (orang tua laki-laki/suami/ayah), kamar tidur orang tua perempuan/isteri/ibu dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan. Jika anak perempuan sudah menginjak remaja, maka anak tersebut bisa tidur di kamar tersebut bersama ibunya atau Sang ibu tidur bersama ayahnya (suaminya). Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau). Sedangkan, ruang yang keempat berfungsi sebagai dapur beserta peralatannya. Hasil pertanian ada yang disimpan di ruang tamu bagian belakang, dan ada pula yang disimpan di dapur.

Rumah gudangan-mujur juga dilengkapi dengan ragam hias berupa ukiran dengan media kayu (papan). Walau sepintas memang berfungsi sebagai “pemanis” rumah, sehingga rumah akan terlihat indah dan menarik. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada fungsi lain yang menyangkut gensi atau status sosial. Dalam hal ini yang banyak ragam hiasnya, baik di atas pintu, jendela, maupun di bagian depan rumah (karabeh) akan dianggap sebagai orang yang mampu (kaya). Sebaliknya, orang yang rumahnya hanya dibagian-bagian tertentu yang dihias, atau malah tidak ada ragam hiasnya sama sekali, dianggap sebagai orang yang tidak mampu. Dengan kata lain, ragam hias atribut atau simbol dari orang yang termasuk dalam lapisan yang tergolong tinggi dalam masyarakatnya.

Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Desa Sidomukti

Letak dan Keadaan Alam
Sidomukti adalah sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Desa yang berada di ketinggian 250 meter dari permukaan air laut ini sebelah utara berbatasan dengan Desa Sumber Kejayaan (Kecamatan Mayang), sebelah selatan bebatasan dengan Desa Seputih (Kecamatan Mayang), sebelah timur berbatasan dengan Desa Silo (Kecamatan Silo), dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Tegal Waru (Kecamatan Mayang). Kantor Desa Sidomukti berada di tengah-tengah permukiman dan terletak di pinggir jalan beraspal yang menghubungkan antara desa tersebut dengan Kecamatan Mayang.

Jalan yang menghubungkan ibukota kecamatan (Mayang) sudah beraspal, tetapi kondisinya tidak semuanya mulus. Sesungguhnya jarak antara ibukota kecamatan dengan Desa Sidomukti tidak terlalu jauh (kurang lebih hanya 7 kilometer). Namun, karena kondisinya yang tidak terlalu mulus dan berkelok-kelok, maka untuk sampai ke pusat desa (Kantor Kelurahan) relatif lama, yaitu sekitar satu jam. Tidak ada transportasi umum, khususnya yang beroda empat, yang menghubungkan antara ibukota kecamatan dengan Desa Sidomukti. Namun demikian, seseorang yang akan pergi ke kecamatan dan sebaliknya dapat menggunakan jasa ojeg dengan ongkos Rp.5.000,00, atau menggunakan kendaraan pribadi.

Di sepanjang jalan yang menghubungkan antara ibukota Kecamatan Mayang dan Desa Sidomukti banyak dijumpai persawahan, ladang/tegalan yang ditanami oleh berbagai jenis pohon buah-buahan, seperti: jeruk, alpokat, mangga, rambutan, salak, durian, pisang, dan nangka. Kemudian, hutan yang ditumbuhi oleh bagai macam pohon, seperti kelapa, kopi, dan pohon sengon. Pohon sengon yang kulitnya berwarna agak kehitam-hitaman dapat tumbuh besar (garis tengahnya bisa mencapai 80 centimeter atau lebih). Masyarakat setempat memanfaatkan pohon tersebut sebagai bahan bangunan. Selain itu, juga ada hutan yang didominasi oleh pohon sengon laut, yaitu sengon yang batang dan cabangnya berkulit agak keputih-putihan.

Luas Desa Sidomukti mencapai 733,5 hektar. Luas tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti permukiman (152,6 ha), Pekarangan (2 ha), perkantoran (1,5 ha), sawah irigasi teknis (109,4 ha), sawah irigasi setengah teknis (54,3 ha), ladang/tegalan (355 ha), tanah bengkok (9,7 ha) hitang lindung (50 ha), dan sebagainya.

Data di atas menunjukkan bahwa luas tanah Desa Sidomukti sebagian besar digunakan untuk tegal/ladang (48,2%). Tanah yang digunakan untuk permukiman terlihat menempati urutan yang kedua (20,1%). Namun, sesungguhnya jika sawah irigasi teknis dan setengah teknis digabung, maka jumlahnya lebih besar ketimbang permukiman (22,3%). Sedangkan, hutan lindung menempati urutan yang keempat (6,8%).

Kependudukan
Desa Sidomukti berpenduduk 6.294 jiwa, dengan rincian laki-laki 3163 jiwa dan perempuan 3131 jiwa. Penduduk yang berumur 16—56 tahun berjumlah 2.964 jiwa (47,10%). Ini artinya penduduk yang berusia produktif hampir separuhnya. Sedangkan penduduk yang berusia 57 tahun ke atas hanya 324 jiwa (5,10%).

Jenjang pendidikan yang dicapai oleh penduduknya sebagian besar SD dan SLTP, malahan yang tidak tamat SD mencapai 1. 848 jiwa (29,36%). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penduduk Desa Sidomukti pada umumnya berpendidikan rendah karena, baik jumlah penduduk tamat SD maupun tamat SLTP mencapai ribuan (Tamat SD 1.299 jiwa atau 20,63%, tamat SLTP 1.074 jiwa atau 17,06%). Malahan, yang tidak tamat SD mencapai 1.848 jiwa (29,36%). Sementara, yang tamat SLTA hanya 450 jiwa (…%). Sedangkan, yang tamat Perguruan Tinggi (berpendidikan tinggi) 58 jiwa (0,92%).

Mata Pencaharian
Jenis mata pencaharaian yang digeluti oleh penduduk Desa Sidomukti tidak begitu kompleks. Pada umumnya mereka bekerja di sektor pertanian (35,98%), baik sebagai petani maupun buruh tani. Petani yang dimaksud adalah orang mengusahakan tanah milik sendiri (petani pemilik). Sedangkan, yang dimaksud dengan buruh tani adalah orang yang bekerja pada petani pemilik dengan sistem upah atau lainnya (sistem bagi hasil). Sedabgkan penduduk bekerja sebagai PNS hanya 2 jiwa (0,03%). Padahal, yang telah menamatkan Perguruan Tinggi mencapai 58 jiwa (0,92%). Lalu, yang 58 orang bekerja di mana? Ternyata, mereka tersebar di sekolah swasta yang ada di Kota Jember, dan sebagain sedang mencari pekerjaan (masih menganggur).

Pola Permukiman
Daerah permukiman masyarakat Desa Sidomukti berada di tengah desa. Sedangkan, persawahan, perladangan/tegalan, dan hutan lindung berada di pinggiran desa. Pola permukimannya mengelompok dan memanjang menyelusuri jalan desa. Perumahan yang berada di tepi jalan menghadap ke arah yang berlawan dengan jalan. Kebetulan jalan membentang dari arah barat-timur. Oleh karena itu, perumahan yang ada di jalan tersebut menghadap utara-selatan. Arah rumah yang menghadap utara dan atau selatan, bagi masyarakat Desa Sidomukti, tampaknya tidak hanya berdasarkan pertimbangan cuaca (keteduhan), tetapi juga kepercayaan (akan diuraikan dalam bab selanjutnya). Sehubungan dengan itu, pada umumnya rumah yang ada di Desa Sidomukti menghadap utara dan atau selatan. Jenis bangunannya hanya ada dua, yakni gudangan dan pacenan. Kedua jenis rumah tersebut ada yang berdinding tembok dan kayu, ada yang berdinding kayu dan atau anyaman bambu. Dinding yang berupa tembok berada di bagian samping rumah. Kemudian, dinding yang berupa kayu berada di bagian depan rumah. Sedangkan, dinding yang berupa anyaman bambu berada di bagian samping dan belakang rumah.

Sosial Budaya
Sebagaimana telah disinggung pada bagian depan bahwa Sidomukti adalah sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember. Secara geografis, Raharjo (2006) membagi Jember ke dalam tiga wilayah, yaitu: Jember bagian selatan (Jember Selatan), Jember bagian utara (Jember Utara) dan Jember bagian tengah (Jember Tengah). Dikatakan bahwa masyarakat etnis Jawa yang menempati wilayah selatan Jember (seperti Ambulu, Wuluhan, Balung, Puger, Gumukmas, Kencong, Jombang, Umbulsari, dan Semboro) sampai saat ini masih mempraktekkan produk budaya Jawa baik dalam hal bahasa, kesenian, maupun adat-istiadat lainnya. Masyarakat Jawa di Ambulu dan Wuluhan, misalnya, sampai saat ini masih melestarikan kesenian Beog yang berasal dari nenek moyangnya di Ponorogo. Di samping itu, hampir semua masyarakat di selatan juga menggemari Wayang Kulit, Jaranan, dan Campursari. Sedangkan, untuk urusan pendidikan mereka tetap berorientasi pada pendidikan formal, meskipun di sana juga terdapat pondok pesantren. Sementara, di wilayah utara masyarakat tetap bertahan pada orientasi budaya Madura. Bahasa Madura merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di Kecamatan Arjasa, Jelbug, Sukowono, Kalisat, Sumberjambe, Ledokombo, Mayang, dan sebagian Pakusari. Di samping ludruk ala Madura, masyarakat di sana gemar melihat pertunjukan Hadrah sebagai kesenian pesantren yang menjadi orientasi pendidikan etnis Madura. Pengajian juga menjadi acara favorit karena di samping mendapatkan wejangan-wejangan tentang Islam, juga bisa bertemu dengan para Lorah (sebutan untuk kyai) ataupun Gus (anak kyai) yang dianggap bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan warga. Sedangkan, di wilayah tengah—kota dan pinggiran kota—di samping berdagang, etnis Tionghoa—sebagai berkah reformasi politik nasional—juga mulai mengembangkan kesenian Barongsai dan Liang liong sebagai kesenian khas mereka. Pada peringatan Imlek, kesenian ini dipertontonkan menyusuri jalan-jalan protokol kota Jember. Meskipun generasi mudanya sudah banyak yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dengan aksen Tionghoa, Bahasa Mandarin sudah mulai diperkenalkan lagi. Dalam hal pendidikan sebagian besar warga etnis Tionghoa tetap menyekolahkan anak¬anaknya ke sekolah-sekolah yang dikelola gereja, seperti SD, SMP, dan SMA Santo Yusuf, SMA Setya Cadika, dan lain-lain. Sementara etnis Arab tetap kukuh mempertahankan identitasnya dengan tetap melestarikan pernikahan sesama etnis. Mereka juga masih mempertahankan musik gambus sebagai pemenuh kebutuhan estetiknya.

Mengacu pada pembagian tersebut, Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang berarti termasuk wilayah Jember Utara. Kemudian, mengacu pada kawasan tapal kuda, berarti masyarakat Desa Sidomukti termasuk dalam kategori masyarakat Pendhalungan.

Profil Desa Sidomukti Tahun 2010 tidak menyebutkan komposisi penduduk berdasarkan etnik. Namun demikian, nuansa etik Madura sangat terasa. Hal itu paling tidak tercermin dalam bahasa sehari-hari yang digunakan, yaitu bahasa Madura dengan dialek Jember. Selain itu, juga kegemaran terhadap kesenian Madura (ludruk-ala Madura), dan kegiatan-kegiatan lainnya yang ada kaitannya dengan agama Islam (kesenian hadrah dan pengajian). Pengajian menjadi acara yang favorit karena di samping mendapatkan wejangan-wejangan tentang Islam, juga bisa bertemu dengan para Lorah (sebutan untuk kyai) ataupun Gus (anak kyai) yang dianggap bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan warga. Pesis seperti apa yang dikemukakan oleh Raharjo (2006), yaitu bahwa di wilayah Jember-utara, masyarakat tetap bertahan pada orientasi budaya Madura.

Kebiasaan kontak dengan budaya lain, khususnya Jawa, pada gilirannya membuat masyarakat Sidomukti terbuka, akomodatif, dan toleran (menghargai perbedaan). Karakter masyarakatnya yang demikian itulah yang kemudian menumbuhkan “budaya baru” yang disebut hibrid. Oleh karena itu, tidak mengkerankan jika Sutarto (2006) mengatakan bahwa orang Pendhalungan dalam perilaku sehari-hari sangat akomodatif dan menghargai perbedaan, sehingga dapat dikatakan hampir tidak pernah (kalau tidak dapat dikatakan sama sekali tidak pernah) terjadi konflik antarkelompok etnik. Jika terjadi konflik, akar konflik lazimnya berupa kecemburuan sosial yang bernuansa pribumi dan nonpribumi, atau bernuansa keagamaan. Orang pandalungan juga dikenal tidak suka basa-basi.Jika merasa tidak senang, mereka akan segera mengungkapkannya. Sebaliknya, jika merasa senang, mereka pun akan segera mengatakannya. Seperti halnya masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kebudayaan Arek, orang pandalungan juga suka mengucapkan kata-kata makian, baik untuk mengungkapkan kejengkelan atau kemarahan maupun untuk mengiringi ucapan selamat atau ekspresi kegembiraan.

Ke-hibrida-an masyarakat dan budaya masyarakat Sidomukti yang Pendhalungan itu tidak hanya tercermin dari bahasa dan kesenian, tetapi juga unsur-unsur budaya lainnya. Salah di antaranya adalah arsitektur yang ditumbuh-kembangkannya, khususnya arsitektur yang berkenaan dengan tempat tinggal. Dalam hal ini masyarakat Pendhalungan-Sidomukti hanya mengenal rumah jenis pacenan dan gudangan. Padahal, di daerah nenek-moyangnya (Madura-Pulau) ada sebuah rumah lagi yang disebut pegon.

Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Rumah Gudangan-malang

Bentuk Bangunan Rumah Gudangan-malang
Gudangan-malang adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Penamaan rumah empat persegi panjang ini berkaitan dengan bentuk atap yang menyerupai gudangan dan pintu utama (bagian depan) yang berada di sisi bagian yang panjang. Rumah yang keberadaan pintu depannya demikian (ada di bagian sisi yang panjang) oleh masyarakat setempat disebut sebagai “malang”.

Struktur Bangunan Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang ditopang oleh 18 sesakhah (tiang penyangga). Ke-18 sesakhah itu terdiri atas sesakhah utama sejumlah 8 buah dan sesakhah pembantu sejumlah 10 buah. Masyarakat setempat menyebut sesakhah utama sebagai sesakhah asli. Sesakhah ini berada di kedua sisi-panjang rumah, baik samping kiri maupun samping kanan rumah (masing-masing berjumlah 4 buah). Jarak antar-sesakhah bergantung panjang sisi rumah. Jika ukuran rumah 6x15 meter, maka antara sesakhah nomor 1 dan 2 berjarak 6 meter; sesakhah nomor 2 dan 3 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 3 dan 4 berjarak 9 meter, sesakhah nomor 4 dan 5 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 5 dan 6 berjarak 6 meter, sesakhah nomor 6 dan 7 berjarak 3 meter, dan sesakhah nomor 7 dan 8 berjarak 9 meter. Ke-8 sesakhah asli tersebut berfungsi sebagai penyangga agar rumah dapat berdiri dengan tegak. Sedangkan, 10 buah sesakhah pembantu yang berada di bagian sisi-sisi panjang rumah ada 6 buah (masing-masing 3 buah), di bagian sisi-sisi lebar rumah 2 buah (masing-masing sebuah), dan di bagian tengah rumah (dalam) ada 2 buah. Fungsi ke-10 sesakhah pembantu tersebut tidak hanya sebagai penguat agar bangunan rumah kokoh, tetapi juga sekaligus sebagai acuan atau penyekat antarruangan (kamar). Antara ujung atas sesakhah yang satu dan lainnya, khususnya sesakhah asli, dihubungkan dengan kayu yang besarnya sama, sehingga membentuk empat persegi panjang yang tidak sama sisi. Kayu yang membentang pada sisi yang panjang disebut “lambheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membentang pada sisi yang pendek disebut “lambheng pandhek”. Fungsi lambheng lancing di samping sebagai pengokoh berdiri tegaknya sesakhah, juga sebagai alas osok. Sedangkan, fungsi lambheng pandhek di samping sebagai pengokoh sesakhah, juga sebagai alas kuda-kuda.

Pada masa lalu sesakhah, baik yang asli maupun pembantu, terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini sebagian masyarakat menggunakan kayu sengon dengan alasan harganya lebih (ekonomis). Kayu sengon selain digunakan untuk sesakha juga digunakan untuk osok dan reng, terutama bagi orang-orang yang mampu. Sementara, orang-orang yang tidak mampu cukup hanya menggunakan bambu.

Jika dilihat dari samping, atap rumah gudangan-malang berbentuk segi tiga.Ujung-ujung atap bagian atas bertemu di satu garis yang berlawanan arah. Titik pertemuan antara ujung atap yang satu dengan lainnya disebut bubung. Atap yang membentuk segi tiga (jika dilihat dari samping) itu pada salah satu titiknya ditopang oleh tiang penyangga yang disebut “andher” yang besarnya sama dengan tiang penyangga (sesakhah) lainnya. Ada empat andher yang menopangnya; dua ada di bagian samping kiri dan kanan rumah, sedangkan dua lagi ada di bagian dalam rumah. Masing-masing andher diberi kedudukan yang disebut kuda-kuda. Agar kedudukan andher semakin kokoh, di kanan-kirinya diberi penguat (tiang-tiang) yang posisinya membentuk kemiringan 45 derajat. Tiang-tiang tersebut oleh masyarakat setempat disebut “gerbil”.Jadi, ujung-ujung tiang tersebut yang satu berada di kuda-kuda dan ujung-ujung lainnya menyangga (memikul) kedudukan atap yang posisinya miring. Dengan demikian, kedudukan atap semakin kokoh. Atap berupa genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak bocor terkena air hujan turun.

Sementara, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, baik yang berada di bagian depan, samping maupun belakang. Pada setiap dinding ada penahannya, yaitu kayu yang posisinya sejajar lantai dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Kayu tersebut dihubungkan dari satu sesakhah ke sesakhah lainnya, sehingga membentuk 4 pesegi panjang yang tidak sama sisi (sesuai dengan bentuk rumah). Kayu yang berfungsi sebagai penahan dinding ini oleh masyarakat setempat disebut “senthing”. Sedangkan, daun pintu dan jendela terbuat dari papan (kayu sengon). Jumlah pintu ada 7 buah dengan posisi di bagian depan rumah ada 2 buah, di bagian belakang rumah sebuah, dan di dalam rumah (pintu-pintu kamar) ada 4 buah. Sedangkan, jendela ada 4 buah (di bagian depan rumah ada 2 buah dan samping kanan-kiri rumah masing-masing sebuah).

Lantai rumah berupa tanah liat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter dari permukaan tanah. Sesakhah tidak langsung mengenai lantai, tetapi didasari oleh batu sungai yang berukuran 20-25 centimeter. Batu sungai tersebut di samping agar tidak amblas, juga tidak rapuh karena termakan oleh serangga (rayap). Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthik”.

Tata Ruang Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang terdiri atas 5 ruangan dengan rincian: 2 ruangan ada di sebelah kiri, 2 ruangan ada di sebelah kanan, dan 1 ruangan di bagian tengah. Ruangan sisi kiri yang ada di bagian depan digunakan sebagai tempat tidur pemilik rumah (kamar tidur). Sedangkan, ruangan sisi kiri yang ada di belakang kamar tidur pemilik rumah digunakan untuk tidur anak. Dalam hal ini adalah anak perempuan yang umurnya di atas balita atau yang sudah remaja. Sementara, anak lelaki yang sudah remaja biasanya tidur di surau atau di ruang tamu.

Selanjutnya, ruangan yang ada di sisi kanan bagian depan digunakan untuk tamu perempuan. Jadi, tamu perempuan mempunyai ruang tersendiri. Namun demikian, jika di ruang tengah tidak ada laki-laki (tamu laki-laki), maka tamu perempuan dapat berada di ruang tersebut. Sedangkan, ruangan yang ada di sisi kanan bagian belakang, digunakan sebagai dapur beserta kelengkapannya.

Ruangan tengah yang besarnya dua kali lipat dari ruangan-ruangan di bagian kiri maupun kanan, digunakan sebagai ruang tamu laki-laki. Jika tamu perempuan jumlahnya banyak, sementara ruang tamu perempuan tidak muat, maka ruang tamu laki-laki dapat digunakan. Ruang tamu ini juga digunakan sebagai tidur anak laki-laki yang sudah remaja. Selain itu, digunakan untuk menyimpan hasil panen. “Jika mempunyai sawah, ruang tengah atau ruang tamu disekat lagi untuk menyimpan hasilnya”, tutur si pemilik rumah.

Kamar tidur orang tua (pemilik rumah) berdampingan dengan kamar tidur anak. Dalam hal ini kamar tidur orang tua ada di bagian depan, sedangkan kamar tidur anak (balita dan remaja) ada di belakangnya. Sementara, ruang tamu khusus perempuan dan dapur ada di seberang ruang tamu laki-laki. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi pemilik rumah untuk menjaga anak yang masih balita dan anak perempuan yang sudah mulai menginjak remaja.

Ruang tamu perempuan berdampingan dengan dapur. Dalam hal ini ruang tamu perempuan ada di bagian depan, sedangkan dapur ada di belakangnya. Di antara kedua ruang tersebut ada sebuah pintu yang menghubungkannya. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi Sang Ibu (orang tua perempuan) dan atau anak gadisnya menerima tamunya. Sebab, ada pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan. Jadi, tidak harus melalui pintu depan (pintu utama), tetapi melalui pintu dapur, kemudian pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan.

Ruang tamu laki-laki (utama) berada di tengah-tengah (di antara kamar pemilik rumah, kamar anak-anak, ruang tamu perempuan, dan dapur). Sesaui dengan namanya, ruang ini diperuntukkan bagi tamu laki-laki. Namun demikian, jika tamu perempuan banyak, sementara ruang tamu perempuan terbatas, maka tamu perempuan bisa menempati ruang tamu laki-laki. Tamu bagi masyarakat Pendhalungan adalah orang yang harus dihormati. Oleh karena itu, di ruang tamu, baik untuk laki-laki maupun perempuan, diisi dengan meja-kursi dan sebagainya, sesuai dengan kemampuannya.

Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Popular Posts