Desa Sidomukti

Letak dan Keadaan Alam
Sidomukti adalah sebuah desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Desa yang berada di ketinggian 250 meter dari permukaan air laut ini sebelah utara berbatasan dengan Desa Sumber Kejayaan (Kecamatan Mayang), sebelah selatan bebatasan dengan Desa Seputih (Kecamatan Mayang), sebelah timur berbatasan dengan Desa Silo (Kecamatan Silo), dan sebelah barat berbatasan dengan Desa Tegal Waru (Kecamatan Mayang). Kantor Desa Sidomukti berada di tengah-tengah permukiman dan terletak di pinggir jalan beraspal yang menghubungkan antara desa tersebut dengan Kecamatan Mayang.

Jalan yang menghubungkan ibukota kecamatan (Mayang) sudah beraspal, tetapi kondisinya tidak semuanya mulus. Sesungguhnya jarak antara ibukota kecamatan dengan Desa Sidomukti tidak terlalu jauh (kurang lebih hanya 7 kilometer). Namun, karena kondisinya yang tidak terlalu mulus dan berkelok-kelok, maka untuk sampai ke pusat desa (Kantor Kelurahan) relatif lama, yaitu sekitar satu jam. Tidak ada transportasi umum, khususnya yang beroda empat, yang menghubungkan antara ibukota kecamatan dengan Desa Sidomukti. Namun demikian, seseorang yang akan pergi ke kecamatan dan sebaliknya dapat menggunakan jasa ojeg dengan ongkos Rp.5.000,00, atau menggunakan kendaraan pribadi.

Di sepanjang jalan yang menghubungkan antara ibukota Kecamatan Mayang dan Desa Sidomukti banyak dijumpai persawahan, ladang/tegalan yang ditanami oleh berbagai jenis pohon buah-buahan, seperti: jeruk, alpokat, mangga, rambutan, salak, durian, pisang, dan nangka. Kemudian, hutan yang ditumbuhi oleh bagai macam pohon, seperti kelapa, kopi, dan pohon sengon. Pohon sengon yang kulitnya berwarna agak kehitam-hitaman dapat tumbuh besar (garis tengahnya bisa mencapai 80 centimeter atau lebih). Masyarakat setempat memanfaatkan pohon tersebut sebagai bahan bangunan. Selain itu, juga ada hutan yang didominasi oleh pohon sengon laut, yaitu sengon yang batang dan cabangnya berkulit agak keputih-putihan.

Luas Desa Sidomukti mencapai 733,5 hektar. Luas tersebut digunakan untuk berbagai keperluan, seperti permukiman (152,6 ha), Pekarangan (2 ha), perkantoran (1,5 ha), sawah irigasi teknis (109,4 ha), sawah irigasi setengah teknis (54,3 ha), ladang/tegalan (355 ha), tanah bengkok (9,7 ha) hitang lindung (50 ha), dan sebagainya.

Data di atas menunjukkan bahwa luas tanah Desa Sidomukti sebagian besar digunakan untuk tegal/ladang (48,2%). Tanah yang digunakan untuk permukiman terlihat menempati urutan yang kedua (20,1%). Namun, sesungguhnya jika sawah irigasi teknis dan setengah teknis digabung, maka jumlahnya lebih besar ketimbang permukiman (22,3%). Sedangkan, hutan lindung menempati urutan yang keempat (6,8%).

Kependudukan
Desa Sidomukti berpenduduk 6.294 jiwa, dengan rincian laki-laki 3163 jiwa dan perempuan 3131 jiwa. Penduduk yang berumur 16—56 tahun berjumlah 2.964 jiwa (47,10%). Ini artinya penduduk yang berusia produktif hampir separuhnya. Sedangkan penduduk yang berusia 57 tahun ke atas hanya 324 jiwa (5,10%).

Jenjang pendidikan yang dicapai oleh penduduknya sebagian besar SD dan SLTP, malahan yang tidak tamat SD mencapai 1. 848 jiwa (29,36%). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penduduk Desa Sidomukti pada umumnya berpendidikan rendah karena, baik jumlah penduduk tamat SD maupun tamat SLTP mencapai ribuan (Tamat SD 1.299 jiwa atau 20,63%, tamat SLTP 1.074 jiwa atau 17,06%). Malahan, yang tidak tamat SD mencapai 1.848 jiwa (29,36%). Sementara, yang tamat SLTA hanya 450 jiwa (…%). Sedangkan, yang tamat Perguruan Tinggi (berpendidikan tinggi) 58 jiwa (0,92%).

Mata Pencaharian
Jenis mata pencaharaian yang digeluti oleh penduduk Desa Sidomukti tidak begitu kompleks. Pada umumnya mereka bekerja di sektor pertanian (35,98%), baik sebagai petani maupun buruh tani. Petani yang dimaksud adalah orang mengusahakan tanah milik sendiri (petani pemilik). Sedangkan, yang dimaksud dengan buruh tani adalah orang yang bekerja pada petani pemilik dengan sistem upah atau lainnya (sistem bagi hasil). Sedabgkan penduduk bekerja sebagai PNS hanya 2 jiwa (0,03%). Padahal, yang telah menamatkan Perguruan Tinggi mencapai 58 jiwa (0,92%). Lalu, yang 58 orang bekerja di mana? Ternyata, mereka tersebar di sekolah swasta yang ada di Kota Jember, dan sebagain sedang mencari pekerjaan (masih menganggur).

Pola Permukiman
Daerah permukiman masyarakat Desa Sidomukti berada di tengah desa. Sedangkan, persawahan, perladangan/tegalan, dan hutan lindung berada di pinggiran desa. Pola permukimannya mengelompok dan memanjang menyelusuri jalan desa. Perumahan yang berada di tepi jalan menghadap ke arah yang berlawan dengan jalan. Kebetulan jalan membentang dari arah barat-timur. Oleh karena itu, perumahan yang ada di jalan tersebut menghadap utara-selatan. Arah rumah yang menghadap utara dan atau selatan, bagi masyarakat Desa Sidomukti, tampaknya tidak hanya berdasarkan pertimbangan cuaca (keteduhan), tetapi juga kepercayaan (akan diuraikan dalam bab selanjutnya). Sehubungan dengan itu, pada umumnya rumah yang ada di Desa Sidomukti menghadap utara dan atau selatan. Jenis bangunannya hanya ada dua, yakni gudangan dan pacenan. Kedua jenis rumah tersebut ada yang berdinding tembok dan kayu, ada yang berdinding kayu dan atau anyaman bambu. Dinding yang berupa tembok berada di bagian samping rumah. Kemudian, dinding yang berupa kayu berada di bagian depan rumah. Sedangkan, dinding yang berupa anyaman bambu berada di bagian samping dan belakang rumah.

Sosial Budaya
Sebagaimana telah disinggung pada bagian depan bahwa Sidomukti adalah sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember. Secara geografis, Raharjo (2006) membagi Jember ke dalam tiga wilayah, yaitu: Jember bagian selatan (Jember Selatan), Jember bagian utara (Jember Utara) dan Jember bagian tengah (Jember Tengah). Dikatakan bahwa masyarakat etnis Jawa yang menempati wilayah selatan Jember (seperti Ambulu, Wuluhan, Balung, Puger, Gumukmas, Kencong, Jombang, Umbulsari, dan Semboro) sampai saat ini masih mempraktekkan produk budaya Jawa baik dalam hal bahasa, kesenian, maupun adat-istiadat lainnya. Masyarakat Jawa di Ambulu dan Wuluhan, misalnya, sampai saat ini masih melestarikan kesenian Beog yang berasal dari nenek moyangnya di Ponorogo. Di samping itu, hampir semua masyarakat di selatan juga menggemari Wayang Kulit, Jaranan, dan Campursari. Sedangkan, untuk urusan pendidikan mereka tetap berorientasi pada pendidikan formal, meskipun di sana juga terdapat pondok pesantren. Sementara, di wilayah utara masyarakat tetap bertahan pada orientasi budaya Madura. Bahasa Madura merupakan bahasa sehari-hari masyarakat di Kecamatan Arjasa, Jelbug, Sukowono, Kalisat, Sumberjambe, Ledokombo, Mayang, dan sebagian Pakusari. Di samping ludruk ala Madura, masyarakat di sana gemar melihat pertunjukan Hadrah sebagai kesenian pesantren yang menjadi orientasi pendidikan etnis Madura. Pengajian juga menjadi acara favorit karena di samping mendapatkan wejangan-wejangan tentang Islam, juga bisa bertemu dengan para Lorah (sebutan untuk kyai) ataupun Gus (anak kyai) yang dianggap bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan warga. Sedangkan, di wilayah tengah—kota dan pinggiran kota—di samping berdagang, etnis Tionghoa—sebagai berkah reformasi politik nasional—juga mulai mengembangkan kesenian Barongsai dan Liang liong sebagai kesenian khas mereka. Pada peringatan Imlek, kesenian ini dipertontonkan menyusuri jalan-jalan protokol kota Jember. Meskipun generasi mudanya sudah banyak yang menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa dengan aksen Tionghoa, Bahasa Mandarin sudah mulai diperkenalkan lagi. Dalam hal pendidikan sebagian besar warga etnis Tionghoa tetap menyekolahkan anak¬anaknya ke sekolah-sekolah yang dikelola gereja, seperti SD, SMP, dan SMA Santo Yusuf, SMA Setya Cadika, dan lain-lain. Sementara etnis Arab tetap kukuh mempertahankan identitasnya dengan tetap melestarikan pernikahan sesama etnis. Mereka juga masih mempertahankan musik gambus sebagai pemenuh kebutuhan estetiknya.

Mengacu pada pembagian tersebut, Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang berarti termasuk wilayah Jember Utara. Kemudian, mengacu pada kawasan tapal kuda, berarti masyarakat Desa Sidomukti termasuk dalam kategori masyarakat Pendhalungan.

Profil Desa Sidomukti Tahun 2010 tidak menyebutkan komposisi penduduk berdasarkan etnik. Namun demikian, nuansa etik Madura sangat terasa. Hal itu paling tidak tercermin dalam bahasa sehari-hari yang digunakan, yaitu bahasa Madura dengan dialek Jember. Selain itu, juga kegemaran terhadap kesenian Madura (ludruk-ala Madura), dan kegiatan-kegiatan lainnya yang ada kaitannya dengan agama Islam (kesenian hadrah dan pengajian). Pengajian menjadi acara yang favorit karena di samping mendapatkan wejangan-wejangan tentang Islam, juga bisa bertemu dengan para Lorah (sebutan untuk kyai) ataupun Gus (anak kyai) yang dianggap bisa mendatangkan berkah bagi kehidupan warga. Pesis seperti apa yang dikemukakan oleh Raharjo (2006), yaitu bahwa di wilayah Jember-utara, masyarakat tetap bertahan pada orientasi budaya Madura.

Kebiasaan kontak dengan budaya lain, khususnya Jawa, pada gilirannya membuat masyarakat Sidomukti terbuka, akomodatif, dan toleran (menghargai perbedaan). Karakter masyarakatnya yang demikian itulah yang kemudian menumbuhkan “budaya baru” yang disebut hibrid. Oleh karena itu, tidak mengkerankan jika Sutarto (2006) mengatakan bahwa orang Pendhalungan dalam perilaku sehari-hari sangat akomodatif dan menghargai perbedaan, sehingga dapat dikatakan hampir tidak pernah (kalau tidak dapat dikatakan sama sekali tidak pernah) terjadi konflik antarkelompok etnik. Jika terjadi konflik, akar konflik lazimnya berupa kecemburuan sosial yang bernuansa pribumi dan nonpribumi, atau bernuansa keagamaan. Orang pandalungan juga dikenal tidak suka basa-basi.Jika merasa tidak senang, mereka akan segera mengungkapkannya. Sebaliknya, jika merasa senang, mereka pun akan segera mengatakannya. Seperti halnya masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kebudayaan Arek, orang pandalungan juga suka mengucapkan kata-kata makian, baik untuk mengungkapkan kejengkelan atau kemarahan maupun untuk mengiringi ucapan selamat atau ekspresi kegembiraan.

Ke-hibrida-an masyarakat dan budaya masyarakat Sidomukti yang Pendhalungan itu tidak hanya tercermin dari bahasa dan kesenian, tetapi juga unsur-unsur budaya lainnya. Salah di antaranya adalah arsitektur yang ditumbuh-kembangkannya, khususnya arsitektur yang berkenaan dengan tempat tinggal. Dalam hal ini masyarakat Pendhalungan-Sidomukti hanya mengenal rumah jenis pacenan dan gudangan. Padahal, di daerah nenek-moyangnya (Madura-Pulau) ada sebuah rumah lagi yang disebut pegon.

Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Dilihat: