Rumah Gudangan-malang

Bentuk Bangunan Rumah Gudangan-malang
Gudangan-malang adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Penamaan rumah empat persegi panjang ini berkaitan dengan bentuk atap yang menyerupai gudangan dan pintu utama (bagian depan) yang berada di sisi bagian yang panjang. Rumah yang keberadaan pintu depannya demikian (ada di bagian sisi yang panjang) oleh masyarakat setempat disebut sebagai “malang”.

Struktur Bangunan Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang ditopang oleh 18 sesakhah (tiang penyangga). Ke-18 sesakhah itu terdiri atas sesakhah utama sejumlah 8 buah dan sesakhah pembantu sejumlah 10 buah. Masyarakat setempat menyebut sesakhah utama sebagai sesakhah asli. Sesakhah ini berada di kedua sisi-panjang rumah, baik samping kiri maupun samping kanan rumah (masing-masing berjumlah 4 buah). Jarak antar-sesakhah bergantung panjang sisi rumah. Jika ukuran rumah 6x15 meter, maka antara sesakhah nomor 1 dan 2 berjarak 6 meter; sesakhah nomor 2 dan 3 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 3 dan 4 berjarak 9 meter, sesakhah nomor 4 dan 5 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 5 dan 6 berjarak 6 meter, sesakhah nomor 6 dan 7 berjarak 3 meter, dan sesakhah nomor 7 dan 8 berjarak 9 meter. Ke-8 sesakhah asli tersebut berfungsi sebagai penyangga agar rumah dapat berdiri dengan tegak. Sedangkan, 10 buah sesakhah pembantu yang berada di bagian sisi-sisi panjang rumah ada 6 buah (masing-masing 3 buah), di bagian sisi-sisi lebar rumah 2 buah (masing-masing sebuah), dan di bagian tengah rumah (dalam) ada 2 buah. Fungsi ke-10 sesakhah pembantu tersebut tidak hanya sebagai penguat agar bangunan rumah kokoh, tetapi juga sekaligus sebagai acuan atau penyekat antarruangan (kamar). Antara ujung atas sesakhah yang satu dan lainnya, khususnya sesakhah asli, dihubungkan dengan kayu yang besarnya sama, sehingga membentuk empat persegi panjang yang tidak sama sisi. Kayu yang membentang pada sisi yang panjang disebut “lambheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membentang pada sisi yang pendek disebut “lambheng pandhek”. Fungsi lambheng lancing di samping sebagai pengokoh berdiri tegaknya sesakhah, juga sebagai alas osok. Sedangkan, fungsi lambheng pandhek di samping sebagai pengokoh sesakhah, juga sebagai alas kuda-kuda.

Pada masa lalu sesakhah, baik yang asli maupun pembantu, terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini sebagian masyarakat menggunakan kayu sengon dengan alasan harganya lebih (ekonomis). Kayu sengon selain digunakan untuk sesakha juga digunakan untuk osok dan reng, terutama bagi orang-orang yang mampu. Sementara, orang-orang yang tidak mampu cukup hanya menggunakan bambu.

Jika dilihat dari samping, atap rumah gudangan-malang berbentuk segi tiga.Ujung-ujung atap bagian atas bertemu di satu garis yang berlawanan arah. Titik pertemuan antara ujung atap yang satu dengan lainnya disebut bubung. Atap yang membentuk segi tiga (jika dilihat dari samping) itu pada salah satu titiknya ditopang oleh tiang penyangga yang disebut “andher” yang besarnya sama dengan tiang penyangga (sesakhah) lainnya. Ada empat andher yang menopangnya; dua ada di bagian samping kiri dan kanan rumah, sedangkan dua lagi ada di bagian dalam rumah. Masing-masing andher diberi kedudukan yang disebut kuda-kuda. Agar kedudukan andher semakin kokoh, di kanan-kirinya diberi penguat (tiang-tiang) yang posisinya membentuk kemiringan 45 derajat. Tiang-tiang tersebut oleh masyarakat setempat disebut “gerbil”.Jadi, ujung-ujung tiang tersebut yang satu berada di kuda-kuda dan ujung-ujung lainnya menyangga (memikul) kedudukan atap yang posisinya miring. Dengan demikian, kedudukan atap semakin kokoh. Atap berupa genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak bocor terkena air hujan turun.

Sementara, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, baik yang berada di bagian depan, samping maupun belakang. Pada setiap dinding ada penahannya, yaitu kayu yang posisinya sejajar lantai dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Kayu tersebut dihubungkan dari satu sesakhah ke sesakhah lainnya, sehingga membentuk 4 pesegi panjang yang tidak sama sisi (sesuai dengan bentuk rumah). Kayu yang berfungsi sebagai penahan dinding ini oleh masyarakat setempat disebut “senthing”. Sedangkan, daun pintu dan jendela terbuat dari papan (kayu sengon). Jumlah pintu ada 7 buah dengan posisi di bagian depan rumah ada 2 buah, di bagian belakang rumah sebuah, dan di dalam rumah (pintu-pintu kamar) ada 4 buah. Sedangkan, jendela ada 4 buah (di bagian depan rumah ada 2 buah dan samping kanan-kiri rumah masing-masing sebuah).

Lantai rumah berupa tanah liat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter dari permukaan tanah. Sesakhah tidak langsung mengenai lantai, tetapi didasari oleh batu sungai yang berukuran 20-25 centimeter. Batu sungai tersebut di samping agar tidak amblas, juga tidak rapuh karena termakan oleh serangga (rayap). Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthik”.

Tata Ruang Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang terdiri atas 5 ruangan dengan rincian: 2 ruangan ada di sebelah kiri, 2 ruangan ada di sebelah kanan, dan 1 ruangan di bagian tengah. Ruangan sisi kiri yang ada di bagian depan digunakan sebagai tempat tidur pemilik rumah (kamar tidur). Sedangkan, ruangan sisi kiri yang ada di belakang kamar tidur pemilik rumah digunakan untuk tidur anak. Dalam hal ini adalah anak perempuan yang umurnya di atas balita atau yang sudah remaja. Sementara, anak lelaki yang sudah remaja biasanya tidur di surau atau di ruang tamu.

Selanjutnya, ruangan yang ada di sisi kanan bagian depan digunakan untuk tamu perempuan. Jadi, tamu perempuan mempunyai ruang tersendiri. Namun demikian, jika di ruang tengah tidak ada laki-laki (tamu laki-laki), maka tamu perempuan dapat berada di ruang tersebut. Sedangkan, ruangan yang ada di sisi kanan bagian belakang, digunakan sebagai dapur beserta kelengkapannya.

Ruangan tengah yang besarnya dua kali lipat dari ruangan-ruangan di bagian kiri maupun kanan, digunakan sebagai ruang tamu laki-laki. Jika tamu perempuan jumlahnya banyak, sementara ruang tamu perempuan tidak muat, maka ruang tamu laki-laki dapat digunakan. Ruang tamu ini juga digunakan sebagai tidur anak laki-laki yang sudah remaja. Selain itu, digunakan untuk menyimpan hasil panen. “Jika mempunyai sawah, ruang tengah atau ruang tamu disekat lagi untuk menyimpan hasilnya”, tutur si pemilik rumah.

Kamar tidur orang tua (pemilik rumah) berdampingan dengan kamar tidur anak. Dalam hal ini kamar tidur orang tua ada di bagian depan, sedangkan kamar tidur anak (balita dan remaja) ada di belakangnya. Sementara, ruang tamu khusus perempuan dan dapur ada di seberang ruang tamu laki-laki. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi pemilik rumah untuk menjaga anak yang masih balita dan anak perempuan yang sudah mulai menginjak remaja.

Ruang tamu perempuan berdampingan dengan dapur. Dalam hal ini ruang tamu perempuan ada di bagian depan, sedangkan dapur ada di belakangnya. Di antara kedua ruang tersebut ada sebuah pintu yang menghubungkannya. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi Sang Ibu (orang tua perempuan) dan atau anak gadisnya menerima tamunya. Sebab, ada pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan. Jadi, tidak harus melalui pintu depan (pintu utama), tetapi melalui pintu dapur, kemudian pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan.

Ruang tamu laki-laki (utama) berada di tengah-tengah (di antara kamar pemilik rumah, kamar anak-anak, ruang tamu perempuan, dan dapur). Sesaui dengan namanya, ruang ini diperuntukkan bagi tamu laki-laki. Namun demikian, jika tamu perempuan banyak, sementara ruang tamu perempuan terbatas, maka tamu perempuan bisa menempati ruang tamu laki-laki. Tamu bagi masyarakat Pendhalungan adalah orang yang harus dihormati. Oleh karena itu, di ruang tamu, baik untuk laki-laki maupun perempuan, diisi dengan meja-kursi dan sebagainya, sesuai dengan kemampuannya.

Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Dilihat: