Petauran atau biasa disebut juga dengan kubuw adalah istilah orang Lampung bagi tempat berlindung dari panas dan hujan yang sifatnya sementara. Petauran umumnya terdapat di ladang-ladang namun ada juga yang memanfaatkan sebagai gardu jaga di jalan kampung. Bangunan berbentuk segi empat berukuran kira-kira 2x2 meter, bertiang kayu, berlantai pelupuh bambu, beratap rumbia atau alang-alang, tidak berdinding, dan diikat dengan tali rotan atau dipaku.
Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah
Showing posts with label Arsitektur. Show all posts
Showing posts with label Arsitektur. Show all posts
Rumah Pacenan
Pacenan adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Rumah pacenan bentuknya segi empat. Bagian atapnya serupa dengan omah kampung (rumah orang Jawa). Rumah pacenan yang berdiri sendiri dan ada yang bergabung (sambung) dengan lainnya, sehingga memanjang. Rumah ini memiliki sesakhah 8 buah, dengan rincian 4 buah sesakhah utama dan 4 buah sesakhah pembantu. Sesakhah utama berfungsi sebagai penyangga atap yang membentuk segi tiga. Atap yang membentuk segi tiga oleh masyarakat setempat disebut “antong-antong”. Jadi, ada antong-antong bagian depan dan antong-antong bagian belakang. Sedangkan, sesakhah pembantu berfungsi sebagai penyangga amparan, yaitu bagian atap rumah yang salah satu ujungnya bersambung dengan salah satu ujung yang membentuk segi tiga. Sebagaimana antong-antong, amparan juga ada dua, yaitu di bagian depan dan belakang. Amparan, baik yang ada di bagian depan maupun belakang, ditopang oleh kayu yang panjang yang oleh masyarakat setempat disebut plesur.
Sesakhah, baik yang utama maupun pembantu, pada umumnya terbuat dari kayu sengon. Kayu yang menghubungkan antara sesakhah utama yang satu dengan lainnya disebut lambheng pandhek. Di atas lambheng pandhek ada kayu lagi (bertumpangan) yang berfungsi sebagai alas andher (kayu yang menghubungkan antara lambheng pandhek dan atap (siku-siku atap). Di bawah lambheng pandhek ada kayu yang juga menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Kayu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthuk pandhek”. Pososinya kurang lebih 50 centimeter dari lambheng pandhek. Fungsinya sebagai penguat sesakhah, sehingga dapat membentuk siku-siku (sesakhah dapat berdiri secara tegak lurus).
Selain lambheng pandhek, ada juga yang disebut sebagai “lambheng panjang”, yaitu kayu yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya di bagian yang panjang. Oleh karena itu, disebut “lambheng panjang”. Di bawah lambheng panjang juga ada lambheng yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Posisi dan fungsinya sama dengan yang ada di bawah lambheng pendek, yaitu sebagai penguat sesakhah. Di bagian tengah lambheng panjang diberi lambheng yang panjang dan besarnya sama dengan lambheng pandhek.
Di bagian tengah lambheng-lambheng pandhek diberi andher, yaitu kayu tegak lurus sebagai penopang bubung. Panjang bubung sama dengan panjang lambheng panjang. Di atas senthuk panjang diberi beberapa kayu atau papan, lalu di atasnya diberi anyaman bambu. Posisinya sejajar dengan kayu atau papan penyanggah (mendatar), sehingga menyerupai plapon.
Tempat yang menyerupai plapon itu ada yang digunakan untuk menyimpan peralatan dapur, seperti: dandang, baskom, tempat makanan kecil yang terbuat dari plastik, dan barang-barang rumah tangga lainnya yang sewaktu-waktu dapat diambil dan digunakannya.
Dinding ada yang terbuat dari bambu (anyaman bambu), ada yang terbuat dari papan (kayu), dan ada yang berupa tembok. Namun demikian, pada umumnya dinding terbuat dari bambu dan atau kayu.. Pada sisi kanan dan kiri rumah diberi jendela yang terbuat dari kayu; masing-masing dua duah; demikian juga di bagian depan rumah (dua buah).
Ketinggian rumah dari permukaan tanah bervariasi; ada yang 10-30 centimeter dan ada yang 50-80 centimeter. Hal itu bergantung pada tinggi-rendahnya permukaan tanah, sehingga derasnya air hujan yang membasahi pelataran tidak masuk ke dalam rumah. Lantai rumah pacenan ada yang berupa tanah liat, ada yang berupa semen, dan ada pula yang telah dikeramik. Namun demikian, pada umumnya lantai berupa tanah liat dan atau semen. Alasannya adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini semen, apalagi tanah, biayanya relatif lebih murah ketimbang menggunakan keramik.
Pada bagian depan rumah diberi pembatas (semacam pagar) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang (penutup) agar ternak (ayam dan atau itik) tidak dapat leluasa masuk rumah. Selain itu, juga berfungsi agar tamu tidak secara utuh terlihat dari luar. Bagi yang mampu pagar tersebut terbuat dari kayu yang berukir. Pagar yang demikian oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh. Sedangkan, bagi yang kurang atau tidak mampu cukup hanya dengan bambu yang dianyam.
Ruang dan Tata Ruang Pacenan Beserta Fungsinya
Pada dasarnya rumah pacenan terdiri atas 3 ruangan, yakni ruang depan, tengah, dan belakang. Ruang depan berfungsi sebagai ruang tamu. Ruangan ini bagian depannya tidak berdinding, kecuali pada bagian samping kiri dan kanannya. Jadi, jika ada orang yang bertamu akan kelihatan dari luar, walaupun tidak seratus prosen karena masih dihalangi oleh tabing mantheh atau pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang tingginya kurang lebih satu meter.
Oleh karena fungsi utama ruang depan adalah sebagai ruang tamu, di ruangan tersebut diberi perlengkapan (mebelair) yang berkenaan dengan tamu, seperti meja dan kursi. Bagi yang mampu, ruang tamu diisi dengan dua set meja kursi; satu set ada di sebelah kiri dan satu set lagi ada di sebelah kanan ruang tamu. Sementara, bagi yang kurang mampu cukup hanya satu set meja kursi yang diletakkan pada bagian kiri ruang tamu. Sedangkan, bagian kanan ruang tamu diisi dengan tempat tidur. Tempat tidur ini tidak hanya berfungsi tempat duduk para tamu, tetapi juga sebagai tempat tidur bagi anak lelaki yang sudah dewasa yang karena satu dan lain hal tidak tidur di surau.
Ruang tengah dipergunakan sebagai tempat istirahat (tidur) dan sholat (melakukan ibadat), Ruangan ini pada umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kanan, kiri, dan tengah. Bagian kanan dan kiri berupa kamar tidur, sedang bagian tengah dibiarkan kosong karena berfungsi sebagai penghubung antara ruang depan dan ruang belakang. Pemilik rumah dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan menempati salah satu kamar tidur yang ada. Sedangkan, kamar tidur lainnya diperuntukkan bagi anak-anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau).
Ruang belakang berfungsi sebagai dapur dan sekaligus ruang makan. Dalam memasak, mereka masih menggunakan “tungku” yang terbuat dari batu bata dan semen yang diaduk dengan pasir. Batu bata tersebut disusun sedemikian rupa, kemudian diberi adukan semen dan pasir, sehingga membentuk segi empat. Ketinggian tungku yang berbentuk segi empat itu kurang lebih 30 centimenter dari permukaan tanah, dengan panjang sekitar 80 centimter dan lebar sekitar 60 centimeter. Bagian depan diberi lubang dalam bentuk segi empat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter. Posisi lubang tersebut berada di tengah-tengah. Kemudian, bagian atas tungku diberi lubang dua buah dengan ukuran lebih kecil ketimbang lubang yang ada di bagian depan. Fungsi lubang bagian depan sebagai untuk memasukkan kayu bakar. Sedangkan, kedua lubang yang berada di bagian atas tungku berfungsi sebagai tempat untuk menaruh peralatan menanak nasi, nggodok (mendidihkan air), dan menggoreng, seperti: dandang, kwali, teko, dan wajan.
Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Sesakhah, baik yang utama maupun pembantu, pada umumnya terbuat dari kayu sengon. Kayu yang menghubungkan antara sesakhah utama yang satu dengan lainnya disebut lambheng pandhek. Di atas lambheng pandhek ada kayu lagi (bertumpangan) yang berfungsi sebagai alas andher (kayu yang menghubungkan antara lambheng pandhek dan atap (siku-siku atap). Di bawah lambheng pandhek ada kayu yang juga menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Kayu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthuk pandhek”. Pososinya kurang lebih 50 centimeter dari lambheng pandhek. Fungsinya sebagai penguat sesakhah, sehingga dapat membentuk siku-siku (sesakhah dapat berdiri secara tegak lurus).
Selain lambheng pandhek, ada juga yang disebut sebagai “lambheng panjang”, yaitu kayu yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya di bagian yang panjang. Oleh karena itu, disebut “lambheng panjang”. Di bawah lambheng panjang juga ada lambheng yang menghubungkan antara sesakhah yang satu dengan lainnya. Posisi dan fungsinya sama dengan yang ada di bawah lambheng pendek, yaitu sebagai penguat sesakhah. Di bagian tengah lambheng panjang diberi lambheng yang panjang dan besarnya sama dengan lambheng pandhek.
Di bagian tengah lambheng-lambheng pandhek diberi andher, yaitu kayu tegak lurus sebagai penopang bubung. Panjang bubung sama dengan panjang lambheng panjang. Di atas senthuk panjang diberi beberapa kayu atau papan, lalu di atasnya diberi anyaman bambu. Posisinya sejajar dengan kayu atau papan penyanggah (mendatar), sehingga menyerupai plapon.
Tempat yang menyerupai plapon itu ada yang digunakan untuk menyimpan peralatan dapur, seperti: dandang, baskom, tempat makanan kecil yang terbuat dari plastik, dan barang-barang rumah tangga lainnya yang sewaktu-waktu dapat diambil dan digunakannya.
Dinding ada yang terbuat dari bambu (anyaman bambu), ada yang terbuat dari papan (kayu), dan ada yang berupa tembok. Namun demikian, pada umumnya dinding terbuat dari bambu dan atau kayu.. Pada sisi kanan dan kiri rumah diberi jendela yang terbuat dari kayu; masing-masing dua duah; demikian juga di bagian depan rumah (dua buah).
Ketinggian rumah dari permukaan tanah bervariasi; ada yang 10-30 centimeter dan ada yang 50-80 centimeter. Hal itu bergantung pada tinggi-rendahnya permukaan tanah, sehingga derasnya air hujan yang membasahi pelataran tidak masuk ke dalam rumah. Lantai rumah pacenan ada yang berupa tanah liat, ada yang berupa semen, dan ada pula yang telah dikeramik. Namun demikian, pada umumnya lantai berupa tanah liat dan atau semen. Alasannya adalah faktor ekonomi. Dalam hal ini semen, apalagi tanah, biayanya relatif lebih murah ketimbang menggunakan keramik.
Pada bagian depan rumah diberi pembatas (semacam pagar) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut berfungsi sebagai penghalang (penutup) agar ternak (ayam dan atau itik) tidak dapat leluasa masuk rumah. Selain itu, juga berfungsi agar tamu tidak secara utuh terlihat dari luar. Bagi yang mampu pagar tersebut terbuat dari kayu yang berukir. Pagar yang demikian oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh. Sedangkan, bagi yang kurang atau tidak mampu cukup hanya dengan bambu yang dianyam.
Ruang dan Tata Ruang Pacenan Beserta Fungsinya
Pada dasarnya rumah pacenan terdiri atas 3 ruangan, yakni ruang depan, tengah, dan belakang. Ruang depan berfungsi sebagai ruang tamu. Ruangan ini bagian depannya tidak berdinding, kecuali pada bagian samping kiri dan kanannya. Jadi, jika ada orang yang bertamu akan kelihatan dari luar, walaupun tidak seratus prosen karena masih dihalangi oleh tabing mantheh atau pagar yang terbuat dari anyaman bambu yang tingginya kurang lebih satu meter.
Oleh karena fungsi utama ruang depan adalah sebagai ruang tamu, di ruangan tersebut diberi perlengkapan (mebelair) yang berkenaan dengan tamu, seperti meja dan kursi. Bagi yang mampu, ruang tamu diisi dengan dua set meja kursi; satu set ada di sebelah kiri dan satu set lagi ada di sebelah kanan ruang tamu. Sementara, bagi yang kurang mampu cukup hanya satu set meja kursi yang diletakkan pada bagian kiri ruang tamu. Sedangkan, bagian kanan ruang tamu diisi dengan tempat tidur. Tempat tidur ini tidak hanya berfungsi tempat duduk para tamu, tetapi juga sebagai tempat tidur bagi anak lelaki yang sudah dewasa yang karena satu dan lain hal tidak tidur di surau.
Ruang tengah dipergunakan sebagai tempat istirahat (tidur) dan sholat (melakukan ibadat), Ruangan ini pada umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kanan, kiri, dan tengah. Bagian kanan dan kiri berupa kamar tidur, sedang bagian tengah dibiarkan kosong karena berfungsi sebagai penghubung antara ruang depan dan ruang belakang. Pemilik rumah dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan menempati salah satu kamar tidur yang ada. Sedangkan, kamar tidur lainnya diperuntukkan bagi anak-anak perempuan yang sudah menginjak dewasa. Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau).
Ruang belakang berfungsi sebagai dapur dan sekaligus ruang makan. Dalam memasak, mereka masih menggunakan “tungku” yang terbuat dari batu bata dan semen yang diaduk dengan pasir. Batu bata tersebut disusun sedemikian rupa, kemudian diberi adukan semen dan pasir, sehingga membentuk segi empat. Ketinggian tungku yang berbentuk segi empat itu kurang lebih 30 centimenter dari permukaan tanah, dengan panjang sekitar 80 centimter dan lebar sekitar 60 centimeter. Bagian depan diberi lubang dalam bentuk segi empat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter. Posisi lubang tersebut berada di tengah-tengah. Kemudian, bagian atas tungku diberi lubang dua buah dengan ukuran lebih kecil ketimbang lubang yang ada di bagian depan. Fungsi lubang bagian depan sebagai untuk memasukkan kayu bakar. Sedangkan, kedua lubang yang berada di bagian atas tungku berfungsi sebagai tempat untuk menaruh peralatan menanak nasi, nggodok (mendidihkan air), dan menggoreng, seperti: dandang, kwali, teko, dan wajan.
Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Rumah Gudangan-mujur
Rumah Gudangan-mujur adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Nama rumah ini sangat erat kaitannya dengan atap yang menyerupai gudangan. Dari segi bentuk, rumah gudangan-mujur sama dengan rumah gudangan-malang, yaitu berbentuk empat persegi tetapi tidak sama sisi. Bedanya, jika rumah gudangan-malang pintu depannya ada di bagian yang panjang, maka rumah gudangan-mujur pintu depannya ada di bagian yang pendek (lebar). Perbedaan lainnya adalah kamar-kamarnya ada di satu sisi (di sisi panjang bagian kiri dan atau kanan). Pada mulanya ruang tamu membentuk huruf “L”. Namun dewasa ini bentuk ruang tamu yang masih tetap dalam bentuk “L”, tetapi ada yang sudah diberi sekat, sehingga tamu tidak langsung dapat melihat bagian dalam rumah.
Jika dilihat berdasarkan tiang penyangganya, rumah yang disebut gudangan-mujur ini keseluruhan memiliki 15 sesakah yang terdiri atas 10 sesakah asli dan 5 sesakah pembantu. Sesakah asli berada di sisi kiri-kanan rumah (masing-masing 5 buah). Fungsinya adalah bangunan rumah dapat berdiri tegak. Sedangkan, sesakah pembantu berada di antara sesakah asli. Fungsinya di samping untuk memperkokoh tegaknya rumah, juga sebagai acuan untuk menyekat ruangan yang satu dengan lainnya.
Antara sesakah yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh kayu yang posisinya horizontal, sehingga membentuk segi empat yang sisi-sisinya tidak sama. Kayu yang membujur pada sisi rumah yang panjang disebut “lembheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membujur pada sisi lebar rumah disebut “lempheng pandhek”. Fungsi lembheng lanceng di samping sebagai pengikat antara sesakah yang satu dan lainnya, juga sebagai landasan osok. Sedangkan, fungsi lempheng pandhek adalah sebagai alas kuda-kuda.
Kuda-kuda adalah sebuah bagian rumah yang membentuk segi tiga. Bagian yang tegak lurus disebut “andher”. Kemudian, bagian yang miring (dengan kemiringan 45 derajat) disebut “gerbil”. Jumlah gerbil dalam sebuah kuda-kuda ada dua buah, masing-masing menopang kemiringan atap. Sedangkan, alasnya disebut kuda-kuda. Jadi, kuda-kuda tidak hanya untuk menyebut bagian rumah yang membentuk segi tiga, tetapi juga alas andher dan gerbil. Pada masa lalu bahan-bahan yang digunakan, baik untuk sesakah, lembheng lanceng, lembheng pendhek, maupun kuda-kuda, terbuat dari kayu jati. Namun dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon.
Atap rumah terbuat dari bahan genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga air hujan tersalur dengan baik (tidak bocor). Penahan genteng yang vertikal disebut osok, sedangkan yang horisontal disebut reng. Pada masa lalu osok dan reng terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon. Malahan, ada yang menggunakan bambu, khususnya bagi yang tidak mampu. Alasannya, bambu lebih murah ketimbang jati atau sengon. Atap, selain ada yang membujur, juga yang melintang, yaitu yang berada di bagian depan rumah. Atap yang tidak tidak berdinding ini oleh masyarakat setempat disebut “kethek”. Fungsinya di samping sebagai penahan agar air hujan tidak langsung membasahi pintu dan jendela, juga sebagai serambi dan atau ruang tamu. Sementara, dinding ada yang berupa tembok, ada yang berupa kayu, dan ada yang berupa anyaman bambu. Sedangkan, lantainya ada yang berupa tanah liat dan ada yang telah disemen (bergantung pada tingkat ekonomi pemilik rumah). Tinggi lantai dari permukaan tanah ada yang hanya 5 centimeter, tetapi ada juga yang relatif tinggi (kurang lebih 80 centimeter). Kemudian, di bagian depan rumah diberi pagar kayu (berukir) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh atau karabeh. Panjang tabing mantheh bergantung pada lebar bagian depan rumah. Jumlahnya ada 4 buah dengan rincian: sebuah ada di bagian depan-kiri rumah, sebuah ada di bagian depan-kanan rumah, dan 2 buah berada di tengah-tengah yang berfungsi sebagai pintu. Sedangkan, alas rumah ada yang berupa tanah liat dan ada yang berupa semen.
Secara keseluruhan rumah gudangan-mujur memiliki empat buah ruangan, yakni ruang: tamu, kamar tidur pemilik rumah (orang tua laki-laki/suami/ayah), kamar tidur orang tua perempuan/isteri/ibu dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan. Jika anak perempuan sudah menginjak remaja, maka anak tersebut bisa tidur di kamar tersebut bersama ibunya atau Sang ibu tidur bersama ayahnya (suaminya). Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau). Sedangkan, ruang yang keempat berfungsi sebagai dapur beserta peralatannya. Hasil pertanian ada yang disimpan di ruang tamu bagian belakang, dan ada pula yang disimpan di dapur.
Rumah gudangan-mujur juga dilengkapi dengan ragam hias berupa ukiran dengan media kayu (papan). Walau sepintas memang berfungsi sebagai “pemanis” rumah, sehingga rumah akan terlihat indah dan menarik. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada fungsi lain yang menyangkut gensi atau status sosial. Dalam hal ini yang banyak ragam hiasnya, baik di atas pintu, jendela, maupun di bagian depan rumah (karabeh) akan dianggap sebagai orang yang mampu (kaya). Sebaliknya, orang yang rumahnya hanya dibagian-bagian tertentu yang dihias, atau malah tidak ada ragam hiasnya sama sekali, dianggap sebagai orang yang tidak mampu. Dengan kata lain, ragam hias atribut atau simbol dari orang yang termasuk dalam lapisan yang tergolong tinggi dalam masyarakatnya.
Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Jika dilihat berdasarkan tiang penyangganya, rumah yang disebut gudangan-mujur ini keseluruhan memiliki 15 sesakah yang terdiri atas 10 sesakah asli dan 5 sesakah pembantu. Sesakah asli berada di sisi kiri-kanan rumah (masing-masing 5 buah). Fungsinya adalah bangunan rumah dapat berdiri tegak. Sedangkan, sesakah pembantu berada di antara sesakah asli. Fungsinya di samping untuk memperkokoh tegaknya rumah, juga sebagai acuan untuk menyekat ruangan yang satu dengan lainnya.
Antara sesakah yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh kayu yang posisinya horizontal, sehingga membentuk segi empat yang sisi-sisinya tidak sama. Kayu yang membujur pada sisi rumah yang panjang disebut “lembheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membujur pada sisi lebar rumah disebut “lempheng pandhek”. Fungsi lembheng lanceng di samping sebagai pengikat antara sesakah yang satu dan lainnya, juga sebagai landasan osok. Sedangkan, fungsi lempheng pandhek adalah sebagai alas kuda-kuda.
Kuda-kuda adalah sebuah bagian rumah yang membentuk segi tiga. Bagian yang tegak lurus disebut “andher”. Kemudian, bagian yang miring (dengan kemiringan 45 derajat) disebut “gerbil”. Jumlah gerbil dalam sebuah kuda-kuda ada dua buah, masing-masing menopang kemiringan atap. Sedangkan, alasnya disebut kuda-kuda. Jadi, kuda-kuda tidak hanya untuk menyebut bagian rumah yang membentuk segi tiga, tetapi juga alas andher dan gerbil. Pada masa lalu bahan-bahan yang digunakan, baik untuk sesakah, lembheng lanceng, lembheng pendhek, maupun kuda-kuda, terbuat dari kayu jati. Namun dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon.
Atap rumah terbuat dari bahan genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga air hujan tersalur dengan baik (tidak bocor). Penahan genteng yang vertikal disebut osok, sedangkan yang horisontal disebut reng. Pada masa lalu osok dan reng terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini banyak yang menggunakan kayu sengon. Malahan, ada yang menggunakan bambu, khususnya bagi yang tidak mampu. Alasannya, bambu lebih murah ketimbang jati atau sengon. Atap, selain ada yang membujur, juga yang melintang, yaitu yang berada di bagian depan rumah. Atap yang tidak tidak berdinding ini oleh masyarakat setempat disebut “kethek”. Fungsinya di samping sebagai penahan agar air hujan tidak langsung membasahi pintu dan jendela, juga sebagai serambi dan atau ruang tamu. Sementara, dinding ada yang berupa tembok, ada yang berupa kayu, dan ada yang berupa anyaman bambu. Sedangkan, lantainya ada yang berupa tanah liat dan ada yang telah disemen (bergantung pada tingkat ekonomi pemilik rumah). Tinggi lantai dari permukaan tanah ada yang hanya 5 centimeter, tetapi ada juga yang relatif tinggi (kurang lebih 80 centimeter). Kemudian, di bagian depan rumah diberi pagar kayu (berukir) yang tingginya kurang lebih satu meter. Pagar tersebut oleh masyarakat setempat disebut tabing mantheh atau karabeh. Panjang tabing mantheh bergantung pada lebar bagian depan rumah. Jumlahnya ada 4 buah dengan rincian: sebuah ada di bagian depan-kiri rumah, sebuah ada di bagian depan-kanan rumah, dan 2 buah berada di tengah-tengah yang berfungsi sebagai pintu. Sedangkan, alas rumah ada yang berupa tanah liat dan ada yang berupa semen.
Secara keseluruhan rumah gudangan-mujur memiliki empat buah ruangan, yakni ruang: tamu, kamar tidur pemilik rumah (orang tua laki-laki/suami/ayah), kamar tidur orang tua perempuan/isteri/ibu dan anak-anak balita, baik laki-laki maupun perempuan. Jika anak perempuan sudah menginjak remaja, maka anak tersebut bisa tidur di kamar tersebut bersama ibunya atau Sang ibu tidur bersama ayahnya (suaminya). Sementara, anak laki-laki yang sudah remaja tidur di ruang tamu atau di langgar (surau). Sedangkan, ruang yang keempat berfungsi sebagai dapur beserta peralatannya. Hasil pertanian ada yang disimpan di ruang tamu bagian belakang, dan ada pula yang disimpan di dapur.
Rumah gudangan-mujur juga dilengkapi dengan ragam hias berupa ukiran dengan media kayu (papan). Walau sepintas memang berfungsi sebagai “pemanis” rumah, sehingga rumah akan terlihat indah dan menarik. Namun, jika dicermati lebih dalam, ada fungsi lain yang menyangkut gensi atau status sosial. Dalam hal ini yang banyak ragam hiasnya, baik di atas pintu, jendela, maupun di bagian depan rumah (karabeh) akan dianggap sebagai orang yang mampu (kaya). Sebaliknya, orang yang rumahnya hanya dibagian-bagian tertentu yang dihias, atau malah tidak ada ragam hiasnya sama sekali, dianggap sebagai orang yang tidak mampu. Dengan kata lain, ragam hias atribut atau simbol dari orang yang termasuk dalam lapisan yang tergolong tinggi dalam masyarakatnya.
Sumber:
Sindu Galba. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Rumah Gudangan-malang
Bentuk Bangunan Rumah Gudangan-malang
Gudangan-malang adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Penamaan rumah empat persegi panjang ini berkaitan dengan bentuk atap yang menyerupai gudangan dan pintu utama (bagian depan) yang berada di sisi bagian yang panjang. Rumah yang keberadaan pintu depannya demikian (ada di bagian sisi yang panjang) oleh masyarakat setempat disebut sebagai “malang”.
Struktur Bangunan Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang ditopang oleh 18 sesakhah (tiang penyangga). Ke-18 sesakhah itu terdiri atas sesakhah utama sejumlah 8 buah dan sesakhah pembantu sejumlah 10 buah. Masyarakat setempat menyebut sesakhah utama sebagai sesakhah asli. Sesakhah ini berada di kedua sisi-panjang rumah, baik samping kiri maupun samping kanan rumah (masing-masing berjumlah 4 buah). Jarak antar-sesakhah bergantung panjang sisi rumah. Jika ukuran rumah 6x15 meter, maka antara sesakhah nomor 1 dan 2 berjarak 6 meter; sesakhah nomor 2 dan 3 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 3 dan 4 berjarak 9 meter, sesakhah nomor 4 dan 5 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 5 dan 6 berjarak 6 meter, sesakhah nomor 6 dan 7 berjarak 3 meter, dan sesakhah nomor 7 dan 8 berjarak 9 meter. Ke-8 sesakhah asli tersebut berfungsi sebagai penyangga agar rumah dapat berdiri dengan tegak. Sedangkan, 10 buah sesakhah pembantu yang berada di bagian sisi-sisi panjang rumah ada 6 buah (masing-masing 3 buah), di bagian sisi-sisi lebar rumah 2 buah (masing-masing sebuah), dan di bagian tengah rumah (dalam) ada 2 buah. Fungsi ke-10 sesakhah pembantu tersebut tidak hanya sebagai penguat agar bangunan rumah kokoh, tetapi juga sekaligus sebagai acuan atau penyekat antarruangan (kamar). Antara ujung atas sesakhah yang satu dan lainnya, khususnya sesakhah asli, dihubungkan dengan kayu yang besarnya sama, sehingga membentuk empat persegi panjang yang tidak sama sisi. Kayu yang membentang pada sisi yang panjang disebut “lambheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membentang pada sisi yang pendek disebut “lambheng pandhek”. Fungsi lambheng lancing di samping sebagai pengokoh berdiri tegaknya sesakhah, juga sebagai alas osok. Sedangkan, fungsi lambheng pandhek di samping sebagai pengokoh sesakhah, juga sebagai alas kuda-kuda.
Pada masa lalu sesakhah, baik yang asli maupun pembantu, terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini sebagian masyarakat menggunakan kayu sengon dengan alasan harganya lebih (ekonomis). Kayu sengon selain digunakan untuk sesakha juga digunakan untuk osok dan reng, terutama bagi orang-orang yang mampu. Sementara, orang-orang yang tidak mampu cukup hanya menggunakan bambu.
Jika dilihat dari samping, atap rumah gudangan-malang berbentuk segi tiga.Ujung-ujung atap bagian atas bertemu di satu garis yang berlawanan arah. Titik pertemuan antara ujung atap yang satu dengan lainnya disebut bubung. Atap yang membentuk segi tiga (jika dilihat dari samping) itu pada salah satu titiknya ditopang oleh tiang penyangga yang disebut “andher” yang besarnya sama dengan tiang penyangga (sesakhah) lainnya. Ada empat andher yang menopangnya; dua ada di bagian samping kiri dan kanan rumah, sedangkan dua lagi ada di bagian dalam rumah. Masing-masing andher diberi kedudukan yang disebut kuda-kuda. Agar kedudukan andher semakin kokoh, di kanan-kirinya diberi penguat (tiang-tiang) yang posisinya membentuk kemiringan 45 derajat. Tiang-tiang tersebut oleh masyarakat setempat disebut “gerbil”.Jadi, ujung-ujung tiang tersebut yang satu berada di kuda-kuda dan ujung-ujung lainnya menyangga (memikul) kedudukan atap yang posisinya miring. Dengan demikian, kedudukan atap semakin kokoh. Atap berupa genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak bocor terkena air hujan turun.
Sementara, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, baik yang berada di bagian depan, samping maupun belakang. Pada setiap dinding ada penahannya, yaitu kayu yang posisinya sejajar lantai dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Kayu tersebut dihubungkan dari satu sesakhah ke sesakhah lainnya, sehingga membentuk 4 pesegi panjang yang tidak sama sisi (sesuai dengan bentuk rumah). Kayu yang berfungsi sebagai penahan dinding ini oleh masyarakat setempat disebut “senthing”. Sedangkan, daun pintu dan jendela terbuat dari papan (kayu sengon). Jumlah pintu ada 7 buah dengan posisi di bagian depan rumah ada 2 buah, di bagian belakang rumah sebuah, dan di dalam rumah (pintu-pintu kamar) ada 4 buah. Sedangkan, jendela ada 4 buah (di bagian depan rumah ada 2 buah dan samping kanan-kiri rumah masing-masing sebuah).
Lantai rumah berupa tanah liat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter dari permukaan tanah. Sesakhah tidak langsung mengenai lantai, tetapi didasari oleh batu sungai yang berukuran 20-25 centimeter. Batu sungai tersebut di samping agar tidak amblas, juga tidak rapuh karena termakan oleh serangga (rayap). Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthik”.
Tata Ruang Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang terdiri atas 5 ruangan dengan rincian: 2 ruangan ada di sebelah kiri, 2 ruangan ada di sebelah kanan, dan 1 ruangan di bagian tengah. Ruangan sisi kiri yang ada di bagian depan digunakan sebagai tempat tidur pemilik rumah (kamar tidur). Sedangkan, ruangan sisi kiri yang ada di belakang kamar tidur pemilik rumah digunakan untuk tidur anak. Dalam hal ini adalah anak perempuan yang umurnya di atas balita atau yang sudah remaja. Sementara, anak lelaki yang sudah remaja biasanya tidur di surau atau di ruang tamu.
Selanjutnya, ruangan yang ada di sisi kanan bagian depan digunakan untuk tamu perempuan. Jadi, tamu perempuan mempunyai ruang tersendiri. Namun demikian, jika di ruang tengah tidak ada laki-laki (tamu laki-laki), maka tamu perempuan dapat berada di ruang tersebut. Sedangkan, ruangan yang ada di sisi kanan bagian belakang, digunakan sebagai dapur beserta kelengkapannya.
Ruangan tengah yang besarnya dua kali lipat dari ruangan-ruangan di bagian kiri maupun kanan, digunakan sebagai ruang tamu laki-laki. Jika tamu perempuan jumlahnya banyak, sementara ruang tamu perempuan tidak muat, maka ruang tamu laki-laki dapat digunakan. Ruang tamu ini juga digunakan sebagai tidur anak laki-laki yang sudah remaja. Selain itu, digunakan untuk menyimpan hasil panen. “Jika mempunyai sawah, ruang tengah atau ruang tamu disekat lagi untuk menyimpan hasilnya”, tutur si pemilik rumah.
Kamar tidur orang tua (pemilik rumah) berdampingan dengan kamar tidur anak. Dalam hal ini kamar tidur orang tua ada di bagian depan, sedangkan kamar tidur anak (balita dan remaja) ada di belakangnya. Sementara, ruang tamu khusus perempuan dan dapur ada di seberang ruang tamu laki-laki. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi pemilik rumah untuk menjaga anak yang masih balita dan anak perempuan yang sudah mulai menginjak remaja.
Ruang tamu perempuan berdampingan dengan dapur. Dalam hal ini ruang tamu perempuan ada di bagian depan, sedangkan dapur ada di belakangnya. Di antara kedua ruang tersebut ada sebuah pintu yang menghubungkannya. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi Sang Ibu (orang tua perempuan) dan atau anak gadisnya menerima tamunya. Sebab, ada pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan. Jadi, tidak harus melalui pintu depan (pintu utama), tetapi melalui pintu dapur, kemudian pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan.
Ruang tamu laki-laki (utama) berada di tengah-tengah (di antara kamar pemilik rumah, kamar anak-anak, ruang tamu perempuan, dan dapur). Sesaui dengan namanya, ruang ini diperuntukkan bagi tamu laki-laki. Namun demikian, jika tamu perempuan banyak, sementara ruang tamu perempuan terbatas, maka tamu perempuan bisa menempati ruang tamu laki-laki. Tamu bagi masyarakat Pendhalungan adalah orang yang harus dihormati. Oleh karena itu, di ruang tamu, baik untuk laki-laki maupun perempuan, diisi dengan meja-kursi dan sebagainya, sesuai dengan kemampuannya.
Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Gudangan-malang adalah salah satu jenis rumah tradisional yang ada di kalangan masyarakat Pendhalungan-Jember, Jawa Timur. Penamaan rumah empat persegi panjang ini berkaitan dengan bentuk atap yang menyerupai gudangan dan pintu utama (bagian depan) yang berada di sisi bagian yang panjang. Rumah yang keberadaan pintu depannya demikian (ada di bagian sisi yang panjang) oleh masyarakat setempat disebut sebagai “malang”.
Struktur Bangunan Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang ditopang oleh 18 sesakhah (tiang penyangga). Ke-18 sesakhah itu terdiri atas sesakhah utama sejumlah 8 buah dan sesakhah pembantu sejumlah 10 buah. Masyarakat setempat menyebut sesakhah utama sebagai sesakhah asli. Sesakhah ini berada di kedua sisi-panjang rumah, baik samping kiri maupun samping kanan rumah (masing-masing berjumlah 4 buah). Jarak antar-sesakhah bergantung panjang sisi rumah. Jika ukuran rumah 6x15 meter, maka antara sesakhah nomor 1 dan 2 berjarak 6 meter; sesakhah nomor 2 dan 3 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 3 dan 4 berjarak 9 meter, sesakhah nomor 4 dan 5 berjarak 3 meter, sesakhah nomor 5 dan 6 berjarak 6 meter, sesakhah nomor 6 dan 7 berjarak 3 meter, dan sesakhah nomor 7 dan 8 berjarak 9 meter. Ke-8 sesakhah asli tersebut berfungsi sebagai penyangga agar rumah dapat berdiri dengan tegak. Sedangkan, 10 buah sesakhah pembantu yang berada di bagian sisi-sisi panjang rumah ada 6 buah (masing-masing 3 buah), di bagian sisi-sisi lebar rumah 2 buah (masing-masing sebuah), dan di bagian tengah rumah (dalam) ada 2 buah. Fungsi ke-10 sesakhah pembantu tersebut tidak hanya sebagai penguat agar bangunan rumah kokoh, tetapi juga sekaligus sebagai acuan atau penyekat antarruangan (kamar). Antara ujung atas sesakhah yang satu dan lainnya, khususnya sesakhah asli, dihubungkan dengan kayu yang besarnya sama, sehingga membentuk empat persegi panjang yang tidak sama sisi. Kayu yang membentang pada sisi yang panjang disebut “lambheng lanceng”. Sedangkan, kayu yang membentang pada sisi yang pendek disebut “lambheng pandhek”. Fungsi lambheng lancing di samping sebagai pengokoh berdiri tegaknya sesakhah, juga sebagai alas osok. Sedangkan, fungsi lambheng pandhek di samping sebagai pengokoh sesakhah, juga sebagai alas kuda-kuda.
Pada masa lalu sesakhah, baik yang asli maupun pembantu, terbuat dari kayu jati. Namun, dewasa ini sebagian masyarakat menggunakan kayu sengon dengan alasan harganya lebih (ekonomis). Kayu sengon selain digunakan untuk sesakha juga digunakan untuk osok dan reng, terutama bagi orang-orang yang mampu. Sementara, orang-orang yang tidak mampu cukup hanya menggunakan bambu.
Jika dilihat dari samping, atap rumah gudangan-malang berbentuk segi tiga.Ujung-ujung atap bagian atas bertemu di satu garis yang berlawanan arah. Titik pertemuan antara ujung atap yang satu dengan lainnya disebut bubung. Atap yang membentuk segi tiga (jika dilihat dari samping) itu pada salah satu titiknya ditopang oleh tiang penyangga yang disebut “andher” yang besarnya sama dengan tiang penyangga (sesakhah) lainnya. Ada empat andher yang menopangnya; dua ada di bagian samping kiri dan kanan rumah, sedangkan dua lagi ada di bagian dalam rumah. Masing-masing andher diberi kedudukan yang disebut kuda-kuda. Agar kedudukan andher semakin kokoh, di kanan-kirinya diberi penguat (tiang-tiang) yang posisinya membentuk kemiringan 45 derajat. Tiang-tiang tersebut oleh masyarakat setempat disebut “gerbil”.Jadi, ujung-ujung tiang tersebut yang satu berada di kuda-kuda dan ujung-ujung lainnya menyangga (memikul) kedudukan atap yang posisinya miring. Dengan demikian, kedudukan atap semakin kokoh. Atap berupa genteng yang disusun sedemikian rupa sehingga tidak bocor terkena air hujan turun.
Sementara, dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, baik yang berada di bagian depan, samping maupun belakang. Pada setiap dinding ada penahannya, yaitu kayu yang posisinya sejajar lantai dengan ketinggian kurang lebih satu meter. Kayu tersebut dihubungkan dari satu sesakhah ke sesakhah lainnya, sehingga membentuk 4 pesegi panjang yang tidak sama sisi (sesuai dengan bentuk rumah). Kayu yang berfungsi sebagai penahan dinding ini oleh masyarakat setempat disebut “senthing”. Sedangkan, daun pintu dan jendela terbuat dari papan (kayu sengon). Jumlah pintu ada 7 buah dengan posisi di bagian depan rumah ada 2 buah, di bagian belakang rumah sebuah, dan di dalam rumah (pintu-pintu kamar) ada 4 buah. Sedangkan, jendela ada 4 buah (di bagian depan rumah ada 2 buah dan samping kanan-kiri rumah masing-masing sebuah).
Lantai rumah berupa tanah liat dengan ketinggian kurang lebih 20 centimeter dari permukaan tanah. Sesakhah tidak langsung mengenai lantai, tetapi didasari oleh batu sungai yang berukuran 20-25 centimeter. Batu sungai tersebut di samping agar tidak amblas, juga tidak rapuh karena termakan oleh serangga (rayap). Batu tersebut oleh masyarakat setempat disebut “senthik”.
Tata Ruang Rumah Gudangan-malang
Rumah gudangan-malang terdiri atas 5 ruangan dengan rincian: 2 ruangan ada di sebelah kiri, 2 ruangan ada di sebelah kanan, dan 1 ruangan di bagian tengah. Ruangan sisi kiri yang ada di bagian depan digunakan sebagai tempat tidur pemilik rumah (kamar tidur). Sedangkan, ruangan sisi kiri yang ada di belakang kamar tidur pemilik rumah digunakan untuk tidur anak. Dalam hal ini adalah anak perempuan yang umurnya di atas balita atau yang sudah remaja. Sementara, anak lelaki yang sudah remaja biasanya tidur di surau atau di ruang tamu.
Selanjutnya, ruangan yang ada di sisi kanan bagian depan digunakan untuk tamu perempuan. Jadi, tamu perempuan mempunyai ruang tersendiri. Namun demikian, jika di ruang tengah tidak ada laki-laki (tamu laki-laki), maka tamu perempuan dapat berada di ruang tersebut. Sedangkan, ruangan yang ada di sisi kanan bagian belakang, digunakan sebagai dapur beserta kelengkapannya.
Ruangan tengah yang besarnya dua kali lipat dari ruangan-ruangan di bagian kiri maupun kanan, digunakan sebagai ruang tamu laki-laki. Jika tamu perempuan jumlahnya banyak, sementara ruang tamu perempuan tidak muat, maka ruang tamu laki-laki dapat digunakan. Ruang tamu ini juga digunakan sebagai tidur anak laki-laki yang sudah remaja. Selain itu, digunakan untuk menyimpan hasil panen. “Jika mempunyai sawah, ruang tengah atau ruang tamu disekat lagi untuk menyimpan hasilnya”, tutur si pemilik rumah.
Kamar tidur orang tua (pemilik rumah) berdampingan dengan kamar tidur anak. Dalam hal ini kamar tidur orang tua ada di bagian depan, sedangkan kamar tidur anak (balita dan remaja) ada di belakangnya. Sementara, ruang tamu khusus perempuan dan dapur ada di seberang ruang tamu laki-laki. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi pemilik rumah untuk menjaga anak yang masih balita dan anak perempuan yang sudah mulai menginjak remaja.
Ruang tamu perempuan berdampingan dengan dapur. Dalam hal ini ruang tamu perempuan ada di bagian depan, sedangkan dapur ada di belakangnya. Di antara kedua ruang tersebut ada sebuah pintu yang menghubungkannya. Tata ruang yang demikian memudahkan bagi Sang Ibu (orang tua perempuan) dan atau anak gadisnya menerima tamunya. Sebab, ada pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan. Jadi, tidak harus melalui pintu depan (pintu utama), tetapi melalui pintu dapur, kemudian pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang tamu perempuan.
Ruang tamu laki-laki (utama) berada di tengah-tengah (di antara kamar pemilik rumah, kamar anak-anak, ruang tamu perempuan, dan dapur). Sesaui dengan namanya, ruang ini diperuntukkan bagi tamu laki-laki. Namun demikian, jika tamu perempuan banyak, sementara ruang tamu perempuan terbatas, maka tamu perempuan bisa menempati ruang tamu laki-laki. Tamu bagi masyarakat Pendhalungan adalah orang yang harus dihormati. Oleh karena itu, di ruang tamu, baik untuk laki-laki maupun perempuan, diisi dengan meja-kursi dan sebagainya, sesuai dengan kemampuannya.
Sumber:
Galba, Sindu. 2012. Arsitektur Tradisional Masyarakat Pendhalungan Provinsi Jawa Timur. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.
Anjung
Anjung atau sapew umbul adalah sebutan orang Lampung bagi sebuah bangunan berupa rumah darurat di daerah peladangan atau umbulan (talang). Bentuk anjung segi empat memanjang, bertiang 1,80 meter, berlantai pelupuh bambu, berdinding pelupuh anyaman bambu atau kulit kayu, beratap alang-alang atau rumbia, dan memakai loteng darurat. Selain itu anjung juga bertangga, berserambi, mempunyai kamar, dapur dan bergarang. Anjung berfungsi sebagai tempat kediaman sementara dan kadang-kadang secara tetap, untuk tempat menunggu ladang dan atau kebun dari mulai masa tanam hingga panen.
Arsitektur Tradisional Masyarakat Sasak
Sasak1 adalah salah satu suku bangsa yang ada di Pulau Lombok2, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (id.wikipedia.org). Masyarakatnya mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Sasak, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Tulisan ini mencoba mengetengahkan arsitektur tradisional yang ditumbuh-kembangkan oleh mereka, khususnya yang berdiam di di Pulau Lombok.
Jenis-jenis Rumah Tradisional Orang Sasak di Lombok
Jenis-jenis rumah tradisional orang Sasak yang ada di Pulau Lombok, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, bangunan tempat menyimpan, dan rumah ibadah. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.
a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tradisional orang Sasak pada umumnya berbentuk rumah panggung (bale-bale) atau menggunakan bataran3 rumah yang tinggi dengan atap dan bubungan yang terbuat dari alang-alang (jerami). Bentuk atapnya menyerupai bentuk rumah limasan, namun ditambah emper sebagai atap serambi. Sedangkan, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (gedek) dan tanpa jendela.
Bagian depan rumah (serambi/sesangkok) dibuat terbuka atau tanpa dinding dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bataran lantar (panjang) dan bataran kontek (pendek). Bagian serambi rumah ini kadang juga digunakan untuk menerima tamu. Sebagai catatan, sebagian rumah tradisional masyarakat Sasak juga memiliki ruang tamu khusus yang letaknya di depan serambi rumah. Ruang tamu khusus ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) sekepat (ruang tamu yang bertiang empat dan beratap piramid). Di ruangan ini dipasang lasah atau tempat duduk yang terbuat dari bambu yang tingginga sekitar 75 cm; (2) beruga atau sekenam (ruang tamu yang bertiang enam buah dan atapnya berbentuk limasan); dan (3) bale jajar yang bentuknya menyerupai beruga namun dibawahnya memiliki bataran tanah.
Pada bagian dalam rumah terdapat ruang tidur yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: dalem bale (ruang tidur biasa) dan kudok bale yang dibagi lagi menjadi amben pengalu (kamar pengantin atau sering juga dipakai sebagai kamar gadis) dan amben pengak (tempat melahirkan). Di ruang tidur ini terkadang juga terdapat para-para (sempara) yang digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang.
b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lombok, rumah tempat menyimpan tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu. Rumah tempat penyimpanan ini dapat berada di muka atau belakang rumah tinggal dan dapat pula berada pada tempat khusus di luar kampung, bersama dengan lumbung-lumbung padi milik warga kampung lainnya.
Bentuk rumah tempat penyimpanan padi di daerah Lombok dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: (1) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang yang dibuat sedemikian rupa hingga melengkung ke atas dan tiangnya berbentuk silinder dengan ujung yang dibuat mirip seperti cakram yang berfungsi sebagai penghalang tikus. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di Lombok bagian selatan; (2) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk seperti rumah kodong, sementara tiangnya sama seperti tiang lumbung tipe pertama namun bagian tengahnya agak besar. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di daerah Lombok bagian timur dan biasa disebut sambi atau pantek; dan (3) dan lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kepala dan tiangnya berbentuk silinder yang panjangnya hanya sekitar 1 meter. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di bagian utara Pulau Lombok dan biasa disebut sambi.
d. Rumah Ibadah
Jenis rumah ibadah orang Sasak di Pulau Lombok adalah masjid dan santren (langgar) (Hilman, 2008). Bangunan masjid tradisional, terutama yang berada di wilayah Lombok utara dan selatan, sebagian masih mendapat pengaruh dari Hindu (Meru) yang memiliki ciri-ciri: (1) atap bertopang tua atau tiga; (2) pintu masjid hanya satu yang terdapat di bagian depan; dan (3) berdinding gedek (anyaman bambu) dan tanpa jendela. Sedangkan, tiang penyangga masjid atau sake guru berada di tengah-tengah bangunan, sebanyak satu hingga empat buah. (ali gufron)
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
"Suku Sasak", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak, tanggal 25 November 2014.
Hilman, Agus, "Kearifan Religi Masyarakat Lombok", diakses dari https://agushilman.wordpress.com/2008/03/17/kearifan-religi-masyarakat-lombok/, tanggal 25 November 2014.
Jenis-jenis Rumah Tradisional Orang Sasak di Lombok
Jenis-jenis rumah tradisional orang Sasak yang ada di Pulau Lombok, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, bangunan tempat menyimpan, dan rumah ibadah. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.
a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tradisional orang Sasak pada umumnya berbentuk rumah panggung (bale-bale) atau menggunakan bataran3 rumah yang tinggi dengan atap dan bubungan yang terbuat dari alang-alang (jerami). Bentuk atapnya menyerupai bentuk rumah limasan, namun ditambah emper sebagai atap serambi. Sedangkan, dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (gedek) dan tanpa jendela.
Bagian depan rumah (serambi/sesangkok) dibuat terbuka atau tanpa dinding dan dibagi menjadi dua bagian, yaitu bataran lantar (panjang) dan bataran kontek (pendek). Bagian serambi rumah ini kadang juga digunakan untuk menerima tamu. Sebagai catatan, sebagian rumah tradisional masyarakat Sasak juga memiliki ruang tamu khusus yang letaknya di depan serambi rumah. Ruang tamu khusus ini dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu: (1) sekepat (ruang tamu yang bertiang empat dan beratap piramid). Di ruangan ini dipasang lasah atau tempat duduk yang terbuat dari bambu yang tingginga sekitar 75 cm; (2) beruga atau sekenam (ruang tamu yang bertiang enam buah dan atapnya berbentuk limasan); dan (3) bale jajar yang bentuknya menyerupai beruga namun dibawahnya memiliki bataran tanah.
Pada bagian dalam rumah terdapat ruang tidur yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: dalem bale (ruang tidur biasa) dan kudok bale yang dibagi lagi menjadi amben pengalu (kamar pengantin atau sering juga dipakai sebagai kamar gadis) dan amben pengak (tempat melahirkan). Di ruang tidur ini terkadang juga terdapat para-para (sempara) yang digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang.
b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lombok, rumah tempat menyimpan tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu. Rumah tempat penyimpanan ini dapat berada di muka atau belakang rumah tinggal dan dapat pula berada pada tempat khusus di luar kampung, bersama dengan lumbung-lumbung padi milik warga kampung lainnya.
Bentuk rumah tempat penyimpanan padi di daerah Lombok dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu: (1) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang yang dibuat sedemikian rupa hingga melengkung ke atas dan tiangnya berbentuk silinder dengan ujung yang dibuat mirip seperti cakram yang berfungsi sebagai penghalang tikus. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di Lombok bagian selatan; (2) lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk seperti rumah kodong, sementara tiangnya sama seperti tiang lumbung tipe pertama namun bagian tengahnya agak besar. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di daerah Lombok bagian timur dan biasa disebut sambi atau pantek; dan (3) dan lumbung padi yang atapnya terbuat dari alang-alang atau daun kepala dan tiangnya berbentuk silinder yang panjangnya hanya sekitar 1 meter. Lumbung padi seperti ini banyak terdapat di bagian utara Pulau Lombok dan biasa disebut sambi.
d. Rumah Ibadah
Jenis rumah ibadah orang Sasak di Pulau Lombok adalah masjid dan santren (langgar) (Hilman, 2008). Bangunan masjid tradisional, terutama yang berada di wilayah Lombok utara dan selatan, sebagian masih mendapat pengaruh dari Hindu (Meru) yang memiliki ciri-ciri: (1) atap bertopang tua atau tiga; (2) pintu masjid hanya satu yang terdapat di bagian depan; dan (3) berdinding gedek (anyaman bambu) dan tanpa jendela. Sedangkan, tiang penyangga masjid atau sake guru berada di tengah-tengah bangunan, sebanyak satu hingga empat buah. (ali gufron)
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara III. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
"Suku Sasak", diakses dari http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sasak, tanggal 25 November 2014.
Hilman, Agus, "Kearifan Religi Masyarakat Lombok", diakses dari https://agushilman.wordpress.com/2008/03/17/kearifan-religi-masyarakat-lombok/, tanggal 25 November 2014.
____________________________________________________________
1. Menurut para arkeolog, sukubangsa Sasak ini telah ada di Pulau Lombok pada masa akhir zaman perunggu. Dahulu mereka hanyalah sebuah kelompok kecil yang kebudayaannya mirip dengan penduduk yang ada di wilayah Vietnam Selatan, Philipina Tengah (Pulau Pallawan), Bali (wilayah Gilimanuk), dan Sumba (wilayah Malolo). Waktu itu, kelompok tersebut hidup dan bermukim di daerah yang sekarang bernama Gunung Piring, Desa Trowai, Kecamatan Lombok Tengah.
2. Sampai akhir abad ke-19, Lombok lebih dikenal dengan nama Selaparang, menurut nama sebuah kerajaan yang terletak di Lombok Timur. Kerajaan ini semula bernama Watu Parang, kemudian berubah menjadi Selaparang yang berasal dari kata “sela” yang berarti “batu” dan “parang” yang berarti “parang”.
3. Bataran adalah alas rumah yang terbuat dari batu yang kemudian ditutup dengan tanah. Kemudian permukaannya diratakan dengan campuran tanah, sekam sebagai plester, dan setelah itu dilumuri dengan kotoran sapi atau kerbau (Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1992).
1. Menurut para arkeolog, sukubangsa Sasak ini telah ada di Pulau Lombok pada masa akhir zaman perunggu. Dahulu mereka hanyalah sebuah kelompok kecil yang kebudayaannya mirip dengan penduduk yang ada di wilayah Vietnam Selatan, Philipina Tengah (Pulau Pallawan), Bali (wilayah Gilimanuk), dan Sumba (wilayah Malolo). Waktu itu, kelompok tersebut hidup dan bermukim di daerah yang sekarang bernama Gunung Piring, Desa Trowai, Kecamatan Lombok Tengah.
2. Sampai akhir abad ke-19, Lombok lebih dikenal dengan nama Selaparang, menurut nama sebuah kerajaan yang terletak di Lombok Timur. Kerajaan ini semula bernama Watu Parang, kemudian berubah menjadi Selaparang yang berasal dari kata “sela” yang berarti “batu” dan “parang” yang berarti “parang”.
3. Bataran adalah alas rumah yang terbuat dari batu yang kemudian ditutup dengan tanah. Kemudian permukaannya diratakan dengan campuran tanah, sekam sebagai plester, dan setelah itu dilumuri dengan kotoran sapi atau kerbau (Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan, 1992).
Arsitektur Tradisional Suku Bangsa Lore (Sulawesi Tengah)
Pengantar
Lore adalah salah satu suku bangsa yang ada di Sulawesi Tengah. Suku bangsa Lore mendiami daerah pegunungan di sebelah utara dan di sekitar Lembah Bada yang dikelilingi oleh pegunungan di sebelah selatan wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Masyarakatnya mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Lore, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Tulisan ini mengetengahkan arsitektur tradisional orang Lore yang ada di Lembah Bada, Kecamatan Lore Selatan.
Jenis-jenis Rumah Tradisional orang Lore di Lembah Bada
Jenis-jenis rumah orang Lore yang ada di Lembah Bada, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, rumah ibadah, dan rumah tempat menyimpan. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.
a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tempat tinggal Suku Lore di Lembah Bada, baik tempat tinggal raja bangsawan maupun orang kebanyakan (rakyat biasa), disebut dengan tambi. Perbedaan antara tambi raja, bangsawan dan rakyat jelata terletak hanya pada bubungan rumah, yakni ada atau tidaknya kepala/tanduk kerbau. Tanduk kerbau yang ada di bubungan hanya ada pada tambi milik raja dan bangsawan saja, sedangkan pada rumah orang kebanyakan tidak dibenarkan memasang tanduk atau kepala kerbau.
Secara umum tambi yang ada di Lembah Bada ini berukuran antara 5x6 meter persegi hingga 6x9 meter persegi, bergantung dari kemampuan pemiliknya. Di dalam tambi hanya terdapat sebuah ruangan yang disebut lobona, dan tidak memiliki kamar-kamar. Lobona berfungsi sebagai ruang tamu di kalangan keluarga. Di sekeliling lobona, sepanjang dinding tambi terdapat asiri yang berfungsi serba guna. Selain dipergunakan sebagai tempat tidur yang dibatasi oleh sampiran, asiri dapat pula berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan benda pusaka atau barang berharga lainnya.
Pada bagian tengah lobona terdapat rapu (dapur), berbentuk segi empat kecil berukuran 1x1,5 meter persegi. Selain sebagai tempat untuk memasak, rapu juga digunakan sebagai alat penerangan pada waktu malam hari atau alat pemanas ruangan pada saat musim dingin. Pintu tambi terbuat dari selembar papan yang tidak disambung, berukuran 90x120 sentimeter persegi yang tebalnya kadang-kadang hingga 5 sentimeter.
Tangga rumah tambi berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya antara 3, 4 atau 5, bergantung tinggi-rendahnya banggunan. Atap tambi berbentuk seperti piramida yang membentuk siku 45 derajat. Pada bagian depan tambi adakalanya terdapat serambi yang ukuran panjangnya sekitar 3 meter dan lebarnya mengikuti lebar tambi.
b. Rumah Ibadah
Rumah Ibadah yang terdapat di Lembah Bada adalah gereja dan masjid. Bangunan gereja yang ada di tempat itu bukanlah bangunan tradisional. Bangunan ini dahulu adalah rumah seorang Pendeta Belanda bernama Wundereght, yang menetap di Desa Boma. Setelah Pendeta Wundereght meninggal dunia, rumah kediamannya dipindahkan ke Gintu dan pada tahun 1955 diubah menjadi gereja. Susunan ruangannya terdiri dari serambi depan, ruang tempat beribadah dan konsistory.
Sebelum Pendeta Wundereght meninggal dunia, tempat ibadah umat Kristen yang merupakan mayoritas di Lembah Bada (97,7%) adalah di sekolah-sekolah darurat yang didirikan oleh missi Zending. Rumah ibadah ini diberi nama tambi ponemba, yang berarti “rumah pemujaan”.
Masjid yang ada di Lembah Bada, tepatnya di daerah Gintu didirikan pada tahun 1977. Masjid ini digunakan oleh umat Islam yang jumlahnya hanya sekitar 2,3% dan tersebar pada 14 desa di Kecamatan Lore Selatan.
b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lembah Bada, rumah tempat menyimpan (buho) tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu dan sebagai tuana mahile (tempat persidangan untuk mengadili tindak pidana). Di tempat itu pula sering berlangsung upacara adat seperti peminangan.
Bangunan buho berbentuk panggung yang pada tiap ujungnya terdapat tiang penopang atap. Tiang tersebut umumnya terbuat dari kayu balimbi yang berbentuk bundar (delapa) dan berdiameter sekitar 10 sentimeter. Buho ini dibagi menjadi dua bagian (dua tingkat). Bagian atas dibuat berdinding dan digunakan sebagai tempat menyimpan padi (lumbung). Pintu masuk ke lumbung biasanya terdapat di bagian tengah atau samping bangunan. Sedangkan, bagian bawahnya tidak diberi dinding dan berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, tempat tuana mahile, dan dapat pula sebagai tempat melaksanakan upacara adat seperti peminangan. (ali gufron)
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Lore adalah salah satu suku bangsa yang ada di Sulawesi Tengah. Suku bangsa Lore mendiami daerah pegunungan di sebelah utara dan di sekitar Lembah Bada yang dikelilingi oleh pegunungan di sebelah selatan wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Masyarakatnya mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Lore, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Tulisan ini mengetengahkan arsitektur tradisional orang Lore yang ada di Lembah Bada, Kecamatan Lore Selatan.
Jenis-jenis Rumah Tradisional orang Lore di Lembah Bada
Jenis-jenis rumah orang Lore yang ada di Lembah Bada, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, rumah ibadah, dan rumah tempat menyimpan. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.
a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tempat tinggal Suku Lore di Lembah Bada, baik tempat tinggal raja bangsawan maupun orang kebanyakan (rakyat biasa), disebut dengan tambi. Perbedaan antara tambi raja, bangsawan dan rakyat jelata terletak hanya pada bubungan rumah, yakni ada atau tidaknya kepala/tanduk kerbau. Tanduk kerbau yang ada di bubungan hanya ada pada tambi milik raja dan bangsawan saja, sedangkan pada rumah orang kebanyakan tidak dibenarkan memasang tanduk atau kepala kerbau.
Secara umum tambi yang ada di Lembah Bada ini berukuran antara 5x6 meter persegi hingga 6x9 meter persegi, bergantung dari kemampuan pemiliknya. Di dalam tambi hanya terdapat sebuah ruangan yang disebut lobona, dan tidak memiliki kamar-kamar. Lobona berfungsi sebagai ruang tamu di kalangan keluarga. Di sekeliling lobona, sepanjang dinding tambi terdapat asiri yang berfungsi serba guna. Selain dipergunakan sebagai tempat tidur yang dibatasi oleh sampiran, asiri dapat pula berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan benda pusaka atau barang berharga lainnya.
Pada bagian tengah lobona terdapat rapu (dapur), berbentuk segi empat kecil berukuran 1x1,5 meter persegi. Selain sebagai tempat untuk memasak, rapu juga digunakan sebagai alat penerangan pada waktu malam hari atau alat pemanas ruangan pada saat musim dingin. Pintu tambi terbuat dari selembar papan yang tidak disambung, berukuran 90x120 sentimeter persegi yang tebalnya kadang-kadang hingga 5 sentimeter.
Tangga rumah tambi berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya antara 3, 4 atau 5, bergantung tinggi-rendahnya banggunan. Atap tambi berbentuk seperti piramida yang membentuk siku 45 derajat. Pada bagian depan tambi adakalanya terdapat serambi yang ukuran panjangnya sekitar 3 meter dan lebarnya mengikuti lebar tambi.
b. Rumah Ibadah
Rumah Ibadah yang terdapat di Lembah Bada adalah gereja dan masjid. Bangunan gereja yang ada di tempat itu bukanlah bangunan tradisional. Bangunan ini dahulu adalah rumah seorang Pendeta Belanda bernama Wundereght, yang menetap di Desa Boma. Setelah Pendeta Wundereght meninggal dunia, rumah kediamannya dipindahkan ke Gintu dan pada tahun 1955 diubah menjadi gereja. Susunan ruangannya terdiri dari serambi depan, ruang tempat beribadah dan konsistory.
Sebelum Pendeta Wundereght meninggal dunia, tempat ibadah umat Kristen yang merupakan mayoritas di Lembah Bada (97,7%) adalah di sekolah-sekolah darurat yang didirikan oleh missi Zending. Rumah ibadah ini diberi nama tambi ponemba, yang berarti “rumah pemujaan”.
Masjid yang ada di Lembah Bada, tepatnya di daerah Gintu didirikan pada tahun 1977. Masjid ini digunakan oleh umat Islam yang jumlahnya hanya sekitar 2,3% dan tersebar pada 14 desa di Kecamatan Lore Selatan.
b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lembah Bada, rumah tempat menyimpan (buho) tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu dan sebagai tuana mahile (tempat persidangan untuk mengadili tindak pidana). Di tempat itu pula sering berlangsung upacara adat seperti peminangan.
Bangunan buho berbentuk panggung yang pada tiap ujungnya terdapat tiang penopang atap. Tiang tersebut umumnya terbuat dari kayu balimbi yang berbentuk bundar (delapa) dan berdiameter sekitar 10 sentimeter. Buho ini dibagi menjadi dua bagian (dua tingkat). Bagian atas dibuat berdinding dan digunakan sebagai tempat menyimpan padi (lumbung). Pintu masuk ke lumbung biasanya terdapat di bagian tengah atau samping bangunan. Sedangkan, bagian bawahnya tidak diberi dinding dan berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, tempat tuana mahile, dan dapat pula sebagai tempat melaksanakan upacara adat seperti peminangan. (ali gufron)
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rumah Adat Temukung (NTT)
Pengantar
Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia. Wilayahnya terdiri atas pulau-pulau, baik besar maupun kecil. Seluruhnya berjumlah kurang lebih 550 pulau (www.wikipedia.org). Sabu adalah salah satu sukubangsa yang ada di sana. Mereka hidup di Pulau Sabu1)
Masyarakat Sabu mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Sabu, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Satu di antaranya adalah rumah adat yang oleh mereka disebut “Temukung”. Arsitektur rumah ini berbeda dengan jenis rumah lainnya (rumah biasa dan rumah ibadat). Oleh karena arsitekturnya berbeda, maka makna simbolis dan filosofis yang ada di balik bagian-bagiannya juga berbeda.
Tulisan ini mengetengahkan bentuk, bagian-bagian, makna simbolik dan filosofis yang ada dalam sebuah rumah temukung.
Jenis, Bentuk dan Bagian-bagian Rumah Temukung Beserta Makna Simboliknya
Rumah temukung termasuk dalam kategori rumah panggung. Rumah yang bentuknya empat persegi panjang ini bagian-bagiannya ada yang bermakna filosofis dan ada yang non-filosofis (fungsional belaka). Bagian-bagian itu adalah: atap, bangngu (balok lok bubungan), tiang-tiang gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu, dinding, pintu, tangga, dan kelaga (balai-balai). Untuk lebih jelasnya, berikut ini bagian-bagian itu akan diuraikan satu-persatu.
Atap
Atap rumah temukung menyerupai perahu yang terbalik. Oleh karena itu, Orang Sabu menyebut atap rumah temukung sebagai “atap perahu terbalik”. Bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan mereka yang selalu berhubungan dengan laut (tidak dapat dipisahkan dari laut). Dalam kehidupan sehari-hari, perahu tidak hanya sekedar sebagai alat transportasi ke dan dari pulau-pulau yang ada di sekitarnya, tetapi juga sebagai alat untuk mencari ikan dan sekaligus sebagai tempat berlindung di lautan. Mengingat bahwa perahu demikian berartinya bagi Orang Sabu, maka ketika mereka membuat rumah, atapnya dibuat menyerupai perahu (perahu yang terbalik). Ini adalah simbol bahwa kehidupan mereka tidak lepas dari laut. Malahan, bukan atap rumah saja, menyebut suatu kampung atau kumpulan kampung pun dengan istilah ree kowa (kampung perahu).
Balok Lok Bubungan
Istilah lain yang sering digunakan oleh Orang Sabu untuk menyebut balok lok bubungan adalah “bangngu”. Bangngu sangat erat kaitannya dengan atap karena ukuran atap ditentukan oleh bagian ini. Bentuk bangngu pada tipe rumah temukung dan rumah biasa dapat dibagi menjadi dua, yaitu: ammu ae roukoko (bangngu yang sama ukurannya dengan badan rumah) dan ammu iki (bangngu yang ukurannya 3/5 dari panjang badan rumah)2). Bangngu ini dipasangi kayu-kayu yang posisinya menurun ke arah samping kiri dan kanan sampai ke tepi tiris, sehingga bentuknya menyerupai segi tiga. Kayu-kayu tersebut oleh mereka disebut worena (usuk besar). Dalam sebuah rumah, baik temukung maupun rumah biasa, jumlahnya selalu ganjil. Sebutan untuk jumlah worena dalam sebuah rumah sesuai dengan bahasa deret hitung mereka. Jadi, jika jumlah worenanya ada tiga buah, maka disebut “wo tallu”; jika ada lima buah disebut “wo pidu”; jika ada tujuh buah disebut “wo heo”; dan seterusnya.
Di atas worena dipasangi kayu-kayu yang arahnya melintang. Kayu-kayu ini oleh Orang Sabu disebut “reng” atau “badu”. Jumlah badu yang ada di bagian depan rumah selalu ganjil (9, 11, dan 21), sedangkan yang ada di bagian belakang rumah selalu genap (10,12, dan 22). Ganjil dan genapnya jumlah badu mengandung makna tersendiri. Ganjil merupakan simbol: kiri, belakang, adik, dan perempuan. Sedangkan, genap merupakan simbol: kanan, depan, kakak, dan laki-laki. Artinya, dalam struktur sosial masyarakat Sabu seorang kakak laki-laki mempunyai kedudukan dan peranan yang penting, baik dalam keluarganya maupun masyarakatnya.
Tiang-tiang Rumah Temukung/Gela (Tiang Penopang Bangngu)
Jumlah gela ada dua buah. Satu ada di ujung kiri dan satunya lagi ada di ujung kanan bangngu. Di antara kedua gela itu ada ruang terbuka (kosong). Orang Sabu menyebut ruang itu “roa ammu”. Gela biasanya terbuat dari kayu kola, kayu merah, kayu jati, kayu pohon lontar, kayu pohon kelapa, ajumaddi (kayu hitam) dan aju bahhi (kayu besi). Kayu lainnya dianggap kurang baik.
Selain gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu ada tiang-tiang yang fungsinya untuk menopang atap secara keseluruhan. Jumlahnya sekitar 8--10 buah. Tiang-tiang yang jenis kayunya sama dengan gela dibentuk bulat dengan panjang kurang lebih 3 sampai 4 meter. Ujungnya dibentuk runcing, sedangkan pangkalnya dipotong rata. Ujungnya yang runcing itu dimasukkan pada lubang yang dibuat pada kebie (balok penindas), sedangkan pangkalnya ditanamkan dalam tanah. Tiang-tiang tersebut ada yang ditanamkan dalam tanah (geri) dan ada yang ditumpukan di atas balok (tiang-tiang yang terdapat di gela). Di antara tiang-tiang itu ada dua tiang yang oleh Orang Sabu dianggap sebagai “tarru” (tiang utama), yaitu “tarru duru” (tiang laki-laki/tiang haluan) dan “tarru wui” (tiang perempuan/tiang buritan). Agar kedua tiang utama itu, satu dengan lainnya tidak kelihatan, maka dibuatkan dinding pemisah. Ini penting karena menurut mereka tarru duru tidak boleh “terlihat“ oleh taru wui.
Sementara itu, tiang-tiang lainnya, seperti tiang-tiang penyangga loteng dan tiang penyangga balok-balok lainnya diberi nama menurut pembagian utama dalam rumah temukung, yaitu duru dan wui. Sedangkan, tiang penyangga yang melebar ke tiris, dinamakan hubu (moncong). Tiang moncong itu sendiri ada yang disebut “moncong duru” dan “moncong wui”. Ujung duru maupun wui dibuat agak melengkung. Bentuk seperti ini oleh mereka disebut “tebakka”. Fungsinya sebagai “jalan nafas” rumah.
Lepas dari masalah pemasangan dan penamaan dari berbagai tiang yang terdapat pada rumah temukung, yang jelas bahwa pembulatan dan peruncingan tiang tidak hanya sekedar bagian dari teknologi tradisional yang mereka terapkan dalam pembuatan sebuah rumah temungkus. Akan tetapi, ada makna simbolik yang mengacu pada pandangan tentang alam semesta yang bersifat dikotomis. Dalam konteks ini tiang yang berbentuk bulat dengan ujung yang runcing sebagai simbol laki-laki, sedangkan kebie (balok penindas) sebagai simbol perempuan.
Kelaga (Balai-balai)
Orang Sabu menyebut lantai rumah temukung sebagai kelaga (balai-balai). Kelaga terbagi dalam tiga bagian, yaitu: kelaga rai (balai-balai tanah), kelaga ae (balai-balai besar) dan kelaga dammu (balai-balai loteng). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang dunia. Menurut mereka “dunia” terbagi dalam tiga bagian, yaitu: rai dida-liru bala (dunia para dewa), rai wawa (dunia manusia), dan rai menata (dunia para arwah).
Kelaga rai terdapat di sepanjang sisi bagian depan atau bagian kanan rumah3). Kelaga yang ketinggiannya dari permukaan tanah sekitar 0,50--0,75 meter ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: kelaga rai duru dan kelaga rai wui. Kelaga rai duru adalah kelaga yang berada di bagian kiri rumah yang disimbolkan sebagai “laki-laki”. Oleh karena itu, kelaga ini hanya untuk menerima tamu laki-laki. Sedangkan, kelaga rai wui adalah bagian kelaga yang disimbolkan sebagai “perempuan”. Kelaga ini disamping untuk menerima tamu perempuan, juga digunakan untuk bekerja (menganyam atau menenun).
Kelaga ae yang merupakan balai-balai besar terletak di atas balok-balok utama. Kelaga yang ketinggiannya sekitar 1,00--1,50 meter dari permukaan tanah ini juga terbagi atas dua bagian: duru (laki-laki) dan wui (perempuan). Di dalam kelaga ae ini ada empat balok utama (ae) yang menopang kelaga dammu (balai-balai loteng). Kelaga ini biasanya digunakan sebagai tempat makan bagi para anggota rumah maupun tamu. Dan, sama seperti kelaga rai, kaum laki-laki akan makan di bagian duru, sedangkan kaum perempuan akan makan di bagian wui.
Kelaga dammu (balai-balai loteng) terletak di bagian wui rumah. Kelaga ini tertutup dengan tabir yang terbuat dari ketangan rohe (daun kelapa), sehingga terlindung dari pengelihatan orang-orang yang duduk di bagian “lelaki”. Kelaga ini digunakan untuk menaruh barang yang berkaitan dengan “urusan” perempuan (benang, alat ikat, tenun dan lain sebagainya). Hanya kaum perempuan, termasuk Inna Ammu (isteri kepala rumah), yang boleh memasukinya. Kekhususan inilah yang kemudian membuahkan ungkapan bahwa kelaga dammu adalah wewenang kaum perempuan.
Selain ketiga kelaga tersebut di atas, ada sebuah kelaga lagi yang dinamakan kelaga ruuhu (balai-balai rusuk). Kelaga ini letaknya sejajar dengan bagian tengah rumah temukung. Diantara kelaga dan ruang tengah diberi dinding (sekat), sehingga tidak terlihat dari bagian wui maupun duru rumah. Kelaga ruuhu ini pada bagian wui-nya digunakan untuk melakukan kegiatan memasak serta menyimpan alat-alat dapur. Tempat tersebut, oleh orang Sabu, disebut “koppo”.
Pintu
Orang Sabu menyebut pintu rumah temukung sebagai kelai. Bentuknya segi empat. Secara keseluruhan, jumlah pintu rumah temukung ada empat, yaitu: kelai duru (pintu anjungan), kelai wui (pintu buritan), kelai koppo (pintu kamar), dan kelai dammu (pintu loteng). Ukuran setiap pintu bergantung dari ukuran rumah itu sendiri. Meskipun demikian, pada umumnya berukuran: panjang sekitar 1,30-1,75 meter dan lebar 0,70-0,90 meter. Di masa lalu pintu terbuat dari anyaman daun lontar. Namun, dewasa ini jarang ditemukan karena sebagian besar sudah menggunakan kayu.
Berdasarkan cara membuka dan atau menutupnya, pintu rumah temukung dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: kelai ketode (pintu tolak gantung), kelai nyaka (pintu tolak) dan kelai moda (pintu putar). Kelai ketode adalah pintu yang dibuka dengan cara ditolak ke atas dan hanya terdapat di bagian loteng rumah (kelaga dammu). Kemudian, kelai moda adalah pintu yang cara buku-tutupnya dengan memutarnya. Sedangkan, kelai nyaka dibuka dengan cara mendorong ke sisi kiri maupun kanan. Pintu ini terdapat pada anjungan dan wui (buritan) rumah.
Tangga
Tangga rumah temukung berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya bergantung tinggi-rendahnya tangga (pada umumnya berketinggian sekitar 0,50–0,60 meter). Tangga ini kebanyakan digunakan untuk naik ke loteng (kelaga dammu) atau untuk naik ke balai-balai besar, khususnya jika panjang balai-balai tanah tidak mencapai daerah pintu. Meskipun demikian, ada juga yang tidak menggunakan tangga untuk naik ke balai-balai besar (kelaga ae) karena di bawah pintu anjungan sudah ada balai-balai tanah sebagai tempat berpijak.
Dinding
Posisi dinding tegak lurus (menempel pada ujung kelaga ae). Ujung dinding bagian bawah lebih rendah sedikit dari kelaga ae, sedangkan ujung dinding bagian atas berakhir di bawah kabie. Dinding tersebut didirikan mengelilingi bagian tengah rumah (mengelilingi kelaga ae dan kelaga ruuhu). Untuk bagian atas (dammu) hanya disekat dengan ketangga robe (tutup gesek) yang dibuat dari daun kelapa. Letaknya yang ada di tengah-tengah atap sekaligus berfungsi sebagai tabir (pembatas antara loteng dan ruang atap duru (anjungan). Tabir ini juga berfungsi sebagai pemisah antara atap duru dan wui. Motif hiasan yang terdapat dalam tabir biasanya berupa meander atau tanaman menjalar.
Nilai Budaya
Rumah dalam sebuah masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari teriknya sinar matahari, derasnya air hujan, dan dinginnya udara malam semata, tetapi juga memiliki fungsi yang lain (fungsi sosial-budaya masyarakat yang bersangkutan). Oleh karena itu, rumah dibuat tidak hanya sekedar kokoh dan kuat, tetapi juga diselimuti dengan makna simbolik yang mengacu pada nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Rumah temukung yang merupakan rumah khas orang Sabu misalnya, jika dicermati secara teliti, juga mengandung nilai-nilai yang ditumbuh-kembangkan dalam budaya mereka. Nilai-nilai itu, antara lain adalah: kebaharian, kesehatan, keseimbangan, dan kepercayaan (kehidupan setelah mati).
Nilai kebaharian tercermin dari atap rumah mereka yang dibentuk menyerupai perahu yang terbalik. Ini artinya bahwa orientasi mereka adalah laut, sehingga laut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Untuk dapat “bercanda”, “bergumul”, dan sekaligus mengais kehidupan di laut, perahu merupakan alat yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Untuk menunjukkan betapa berartinya perahu dalam kehidupan mereka, maka ketika mereka membuat rumah temukung, atapnya dibuat menyerupai perahu yang terbalik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat bahari.
Nilai kesehatan tercermin dalam pembuatan tebakka (ujung duru dan wui yang agak melengkung) yang berfungsi sebagai “jalan nafas” rumah. Ini artinya, Orang Sabu dalam membuat sebuah rumah memperhatikan sirkulasi udara, sehingga rumah yang mereka buat tidak pengap. Dengan perkataan lain, mereka mempedulikan kesehatan.
Nilai keseimbangan tercermin dalam makna simbolik dari tiang yang berbentuk bulat dengan ujung yang runcing (sebagai simbol laki-laki) dan kebie (balok penindas) sebagai simbol perempuan. Simbol-simbol tersebut sangat erat kaitannya dengan pandangan Orang Sabu tentang alam semesta yang bersifat dikotomis, yaitu segala sesuatu bersifat berlawanan tetapi harus berjalan sebagaimana mestinya (seimbang).
Nilai kepercayaan (kehidupan setelah mati) tercermin dalam makna simbolik dari kelaga yang terdiri atas tiga bagian (kelaga rai, kelaga ae dan kelaga dammu). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang “dunia” rai dida-liru bala (dunia para dewa), dunia rai wawa (dunia manusia), dan dunia rai menata (dunia para arwah). Ini artinya Orang Sabu percaya bahwa ada kehidupan lain setelah kematian. (Pepeng)
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1998. Khasanah Budaya Nusantara IX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
www.wikipedia.org
www.students.ukdw.ac.id
Nusa Tenggara Timur adalah salah satu provinsi di Indonesia. Wilayahnya terdiri atas pulau-pulau, baik besar maupun kecil. Seluruhnya berjumlah kurang lebih 550 pulau (www.wikipedia.org). Sabu adalah salah satu sukubangsa yang ada di sana. Mereka hidup di Pulau Sabu1)
Masyarakat Sabu mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Sabu, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Satu di antaranya adalah rumah adat yang oleh mereka disebut “Temukung”. Arsitektur rumah ini berbeda dengan jenis rumah lainnya (rumah biasa dan rumah ibadat). Oleh karena arsitekturnya berbeda, maka makna simbolis dan filosofis yang ada di balik bagian-bagiannya juga berbeda.
Tulisan ini mengetengahkan bentuk, bagian-bagian, makna simbolik dan filosofis yang ada dalam sebuah rumah temukung.
Jenis, Bentuk dan Bagian-bagian Rumah Temukung Beserta Makna Simboliknya
Rumah temukung termasuk dalam kategori rumah panggung. Rumah yang bentuknya empat persegi panjang ini bagian-bagiannya ada yang bermakna filosofis dan ada yang non-filosofis (fungsional belaka). Bagian-bagian itu adalah: atap, bangngu (balok lok bubungan), tiang-tiang gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu, dinding, pintu, tangga, dan kelaga (balai-balai). Untuk lebih jelasnya, berikut ini bagian-bagian itu akan diuraikan satu-persatu.
Atap
Atap rumah temukung menyerupai perahu yang terbalik. Oleh karena itu, Orang Sabu menyebut atap rumah temukung sebagai “atap perahu terbalik”. Bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan mereka yang selalu berhubungan dengan laut (tidak dapat dipisahkan dari laut). Dalam kehidupan sehari-hari, perahu tidak hanya sekedar sebagai alat transportasi ke dan dari pulau-pulau yang ada di sekitarnya, tetapi juga sebagai alat untuk mencari ikan dan sekaligus sebagai tempat berlindung di lautan. Mengingat bahwa perahu demikian berartinya bagi Orang Sabu, maka ketika mereka membuat rumah, atapnya dibuat menyerupai perahu (perahu yang terbalik). Ini adalah simbol bahwa kehidupan mereka tidak lepas dari laut. Malahan, bukan atap rumah saja, menyebut suatu kampung atau kumpulan kampung pun dengan istilah ree kowa (kampung perahu).
Balok Lok Bubungan
Istilah lain yang sering digunakan oleh Orang Sabu untuk menyebut balok lok bubungan adalah “bangngu”. Bangngu sangat erat kaitannya dengan atap karena ukuran atap ditentukan oleh bagian ini. Bentuk bangngu pada tipe rumah temukung dan rumah biasa dapat dibagi menjadi dua, yaitu: ammu ae roukoko (bangngu yang sama ukurannya dengan badan rumah) dan ammu iki (bangngu yang ukurannya 3/5 dari panjang badan rumah)2). Bangngu ini dipasangi kayu-kayu yang posisinya menurun ke arah samping kiri dan kanan sampai ke tepi tiris, sehingga bentuknya menyerupai segi tiga. Kayu-kayu tersebut oleh mereka disebut worena (usuk besar). Dalam sebuah rumah, baik temukung maupun rumah biasa, jumlahnya selalu ganjil. Sebutan untuk jumlah worena dalam sebuah rumah sesuai dengan bahasa deret hitung mereka. Jadi, jika jumlah worenanya ada tiga buah, maka disebut “wo tallu”; jika ada lima buah disebut “wo pidu”; jika ada tujuh buah disebut “wo heo”; dan seterusnya.
Di atas worena dipasangi kayu-kayu yang arahnya melintang. Kayu-kayu ini oleh Orang Sabu disebut “reng” atau “badu”. Jumlah badu yang ada di bagian depan rumah selalu ganjil (9, 11, dan 21), sedangkan yang ada di bagian belakang rumah selalu genap (10,12, dan 22). Ganjil dan genapnya jumlah badu mengandung makna tersendiri. Ganjil merupakan simbol: kiri, belakang, adik, dan perempuan. Sedangkan, genap merupakan simbol: kanan, depan, kakak, dan laki-laki. Artinya, dalam struktur sosial masyarakat Sabu seorang kakak laki-laki mempunyai kedudukan dan peranan yang penting, baik dalam keluarganya maupun masyarakatnya.
Tiang-tiang Rumah Temukung/Gela (Tiang Penopang Bangngu)
Jumlah gela ada dua buah. Satu ada di ujung kiri dan satunya lagi ada di ujung kanan bangngu. Di antara kedua gela itu ada ruang terbuka (kosong). Orang Sabu menyebut ruang itu “roa ammu”. Gela biasanya terbuat dari kayu kola, kayu merah, kayu jati, kayu pohon lontar, kayu pohon kelapa, ajumaddi (kayu hitam) dan aju bahhi (kayu besi). Kayu lainnya dianggap kurang baik.
Selain gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu ada tiang-tiang yang fungsinya untuk menopang atap secara keseluruhan. Jumlahnya sekitar 8--10 buah. Tiang-tiang yang jenis kayunya sama dengan gela dibentuk bulat dengan panjang kurang lebih 3 sampai 4 meter. Ujungnya dibentuk runcing, sedangkan pangkalnya dipotong rata. Ujungnya yang runcing itu dimasukkan pada lubang yang dibuat pada kebie (balok penindas), sedangkan pangkalnya ditanamkan dalam tanah. Tiang-tiang tersebut ada yang ditanamkan dalam tanah (geri) dan ada yang ditumpukan di atas balok (tiang-tiang yang terdapat di gela). Di antara tiang-tiang itu ada dua tiang yang oleh Orang Sabu dianggap sebagai “tarru” (tiang utama), yaitu “tarru duru” (tiang laki-laki/tiang haluan) dan “tarru wui” (tiang perempuan/tiang buritan). Agar kedua tiang utama itu, satu dengan lainnya tidak kelihatan, maka dibuatkan dinding pemisah. Ini penting karena menurut mereka tarru duru tidak boleh “terlihat“ oleh taru wui.
Sementara itu, tiang-tiang lainnya, seperti tiang-tiang penyangga loteng dan tiang penyangga balok-balok lainnya diberi nama menurut pembagian utama dalam rumah temukung, yaitu duru dan wui. Sedangkan, tiang penyangga yang melebar ke tiris, dinamakan hubu (moncong). Tiang moncong itu sendiri ada yang disebut “moncong duru” dan “moncong wui”. Ujung duru maupun wui dibuat agak melengkung. Bentuk seperti ini oleh mereka disebut “tebakka”. Fungsinya sebagai “jalan nafas” rumah.
Lepas dari masalah pemasangan dan penamaan dari berbagai tiang yang terdapat pada rumah temukung, yang jelas bahwa pembulatan dan peruncingan tiang tidak hanya sekedar bagian dari teknologi tradisional yang mereka terapkan dalam pembuatan sebuah rumah temungkus. Akan tetapi, ada makna simbolik yang mengacu pada pandangan tentang alam semesta yang bersifat dikotomis. Dalam konteks ini tiang yang berbentuk bulat dengan ujung yang runcing sebagai simbol laki-laki, sedangkan kebie (balok penindas) sebagai simbol perempuan.
Kelaga (Balai-balai)
Orang Sabu menyebut lantai rumah temukung sebagai kelaga (balai-balai). Kelaga terbagi dalam tiga bagian, yaitu: kelaga rai (balai-balai tanah), kelaga ae (balai-balai besar) dan kelaga dammu (balai-balai loteng). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang dunia. Menurut mereka “dunia” terbagi dalam tiga bagian, yaitu: rai dida-liru bala (dunia para dewa), rai wawa (dunia manusia), dan rai menata (dunia para arwah).
Kelaga rai terdapat di sepanjang sisi bagian depan atau bagian kanan rumah3). Kelaga yang ketinggiannya dari permukaan tanah sekitar 0,50--0,75 meter ini terbagi dalam dua bagian, yaitu: kelaga rai duru dan kelaga rai wui. Kelaga rai duru adalah kelaga yang berada di bagian kiri rumah yang disimbolkan sebagai “laki-laki”. Oleh karena itu, kelaga ini hanya untuk menerima tamu laki-laki. Sedangkan, kelaga rai wui adalah bagian kelaga yang disimbolkan sebagai “perempuan”. Kelaga ini disamping untuk menerima tamu perempuan, juga digunakan untuk bekerja (menganyam atau menenun).
Kelaga ae yang merupakan balai-balai besar terletak di atas balok-balok utama. Kelaga yang ketinggiannya sekitar 1,00--1,50 meter dari permukaan tanah ini juga terbagi atas dua bagian: duru (laki-laki) dan wui (perempuan). Di dalam kelaga ae ini ada empat balok utama (ae) yang menopang kelaga dammu (balai-balai loteng). Kelaga ini biasanya digunakan sebagai tempat makan bagi para anggota rumah maupun tamu. Dan, sama seperti kelaga rai, kaum laki-laki akan makan di bagian duru, sedangkan kaum perempuan akan makan di bagian wui.
Kelaga dammu (balai-balai loteng) terletak di bagian wui rumah. Kelaga ini tertutup dengan tabir yang terbuat dari ketangan rohe (daun kelapa), sehingga terlindung dari pengelihatan orang-orang yang duduk di bagian “lelaki”. Kelaga ini digunakan untuk menaruh barang yang berkaitan dengan “urusan” perempuan (benang, alat ikat, tenun dan lain sebagainya). Hanya kaum perempuan, termasuk Inna Ammu (isteri kepala rumah), yang boleh memasukinya. Kekhususan inilah yang kemudian membuahkan ungkapan bahwa kelaga dammu adalah wewenang kaum perempuan.
Selain ketiga kelaga tersebut di atas, ada sebuah kelaga lagi yang dinamakan kelaga ruuhu (balai-balai rusuk). Kelaga ini letaknya sejajar dengan bagian tengah rumah temukung. Diantara kelaga dan ruang tengah diberi dinding (sekat), sehingga tidak terlihat dari bagian wui maupun duru rumah. Kelaga ruuhu ini pada bagian wui-nya digunakan untuk melakukan kegiatan memasak serta menyimpan alat-alat dapur. Tempat tersebut, oleh orang Sabu, disebut “koppo”.
Pintu
Orang Sabu menyebut pintu rumah temukung sebagai kelai. Bentuknya segi empat. Secara keseluruhan, jumlah pintu rumah temukung ada empat, yaitu: kelai duru (pintu anjungan), kelai wui (pintu buritan), kelai koppo (pintu kamar), dan kelai dammu (pintu loteng). Ukuran setiap pintu bergantung dari ukuran rumah itu sendiri. Meskipun demikian, pada umumnya berukuran: panjang sekitar 1,30-1,75 meter dan lebar 0,70-0,90 meter. Di masa lalu pintu terbuat dari anyaman daun lontar. Namun, dewasa ini jarang ditemukan karena sebagian besar sudah menggunakan kayu.
Berdasarkan cara membuka dan atau menutupnya, pintu rumah temukung dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: kelai ketode (pintu tolak gantung), kelai nyaka (pintu tolak) dan kelai moda (pintu putar). Kelai ketode adalah pintu yang dibuka dengan cara ditolak ke atas dan hanya terdapat di bagian loteng rumah (kelaga dammu). Kemudian, kelai moda adalah pintu yang cara buku-tutupnya dengan memutarnya. Sedangkan, kelai nyaka dibuka dengan cara mendorong ke sisi kiri maupun kanan. Pintu ini terdapat pada anjungan dan wui (buritan) rumah.
Tangga
Tangga rumah temukung berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya bergantung tinggi-rendahnya tangga (pada umumnya berketinggian sekitar 0,50–0,60 meter). Tangga ini kebanyakan digunakan untuk naik ke loteng (kelaga dammu) atau untuk naik ke balai-balai besar, khususnya jika panjang balai-balai tanah tidak mencapai daerah pintu. Meskipun demikian, ada juga yang tidak menggunakan tangga untuk naik ke balai-balai besar (kelaga ae) karena di bawah pintu anjungan sudah ada balai-balai tanah sebagai tempat berpijak.
Dinding
Posisi dinding tegak lurus (menempel pada ujung kelaga ae). Ujung dinding bagian bawah lebih rendah sedikit dari kelaga ae, sedangkan ujung dinding bagian atas berakhir di bawah kabie. Dinding tersebut didirikan mengelilingi bagian tengah rumah (mengelilingi kelaga ae dan kelaga ruuhu). Untuk bagian atas (dammu) hanya disekat dengan ketangga robe (tutup gesek) yang dibuat dari daun kelapa. Letaknya yang ada di tengah-tengah atap sekaligus berfungsi sebagai tabir (pembatas antara loteng dan ruang atap duru (anjungan). Tabir ini juga berfungsi sebagai pemisah antara atap duru dan wui. Motif hiasan yang terdapat dalam tabir biasanya berupa meander atau tanaman menjalar.
Nilai Budaya
Rumah dalam sebuah masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari teriknya sinar matahari, derasnya air hujan, dan dinginnya udara malam semata, tetapi juga memiliki fungsi yang lain (fungsi sosial-budaya masyarakat yang bersangkutan). Oleh karena itu, rumah dibuat tidak hanya sekedar kokoh dan kuat, tetapi juga diselimuti dengan makna simbolik yang mengacu pada nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Rumah temukung yang merupakan rumah khas orang Sabu misalnya, jika dicermati secara teliti, juga mengandung nilai-nilai yang ditumbuh-kembangkan dalam budaya mereka. Nilai-nilai itu, antara lain adalah: kebaharian, kesehatan, keseimbangan, dan kepercayaan (kehidupan setelah mati).
Nilai kebaharian tercermin dari atap rumah mereka yang dibentuk menyerupai perahu yang terbalik. Ini artinya bahwa orientasi mereka adalah laut, sehingga laut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Untuk dapat “bercanda”, “bergumul”, dan sekaligus mengais kehidupan di laut, perahu merupakan alat yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Untuk menunjukkan betapa berartinya perahu dalam kehidupan mereka, maka ketika mereka membuat rumah temukung, atapnya dibuat menyerupai perahu yang terbalik. Ini sekaligus menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat bahari.
Nilai kesehatan tercermin dalam pembuatan tebakka (ujung duru dan wui yang agak melengkung) yang berfungsi sebagai “jalan nafas” rumah. Ini artinya, Orang Sabu dalam membuat sebuah rumah memperhatikan sirkulasi udara, sehingga rumah yang mereka buat tidak pengap. Dengan perkataan lain, mereka mempedulikan kesehatan.
Nilai keseimbangan tercermin dalam makna simbolik dari tiang yang berbentuk bulat dengan ujung yang runcing (sebagai simbol laki-laki) dan kebie (balok penindas) sebagai simbol perempuan. Simbol-simbol tersebut sangat erat kaitannya dengan pandangan Orang Sabu tentang alam semesta yang bersifat dikotomis, yaitu segala sesuatu bersifat berlawanan tetapi harus berjalan sebagaimana mestinya (seimbang).
Nilai kepercayaan (kehidupan setelah mati) tercermin dalam makna simbolik dari kelaga yang terdiri atas tiga bagian (kelaga rai, kelaga ae dan kelaga dammu). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang “dunia” rai dida-liru bala (dunia para dewa), dunia rai wawa (dunia manusia), dan dunia rai menata (dunia para arwah). Ini artinya Orang Sabu percaya bahwa ada kehidupan lain setelah kematian. (Pepeng)
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1998. Khasanah Budaya Nusantara IX. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
www.wikipedia.org
www.students.ukdw.ac.id
Tata Ruang Istana Kesultanan Yogyakarta
Sesudah runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha, yang muncul ialah kerajaan Demak. Yang tampak sekarang di Demak ialah alun-alun serta masjid yang sangat tersohor yang terletak di sebelah barat dari alun-alun. Rumah Bupati yang asli juga ada di sebelah selatan dari alun-alun yang dahulunya menjadi istana sultan Demak.
Istana Susuhunan di Surakarta (dibangun abad XVII M) dan istana Kasultanan di Yogyakarta (dibangun tahun 1755 M) semuanya menghadap ke utara; di depan istana ada alun-alun utara dan di barat alun-alun utara ini ada masjid agung; di selatan istana juga ada alun-alun selatan yang ukurannya lebih kecil daripada alun-alun utara.
Istana Sulatan Hamengkubuwono di Yogyakarta mempunyai panorama alam berupa Gunung Merapi yang jauhnya sekitar 30 km; puncak Merapi ini tampak jelas dari istana jika cuacanya baik. Di dalam istana dibangun pula taman rekreasi berupa pemandian Tamansari yang konon hanya dipakai oleh puteri-puteri raja. Rumah para pangeran, yaitu saudara dari raja serta anak-cucu dari sultan-sultan terdahulu juga berada di dalam lingkungan istana, tetapi ada pula yang dibangun di luar benteng istana karena lahan di dalam benteng sudah penuh. Masing-masing kelompok bangunan ini dikelilingi tembok yang mempunyai gapura-gapura sendiri sebagai pintu keluar dan masuk.
Seluruh kompleks istana ini kemudian dikelilingi tembok tinggi dan tebal (disebut benteng) yang sisi-sisinya mempunyai panjang 1.500 meter; jadi luas kompleks istana ini ada 1,5 km x 1,5 km atau 2,25 km persegi. Di luar benteng ada parit lebar dan dalam yang mengelilinginya. Pada keempat sisi benteng ada gapura untuk keluar dan masuk, sedangkan pada tiap sudut benteng ada bastion (bagian bangunan yang menonjol keluar) sebagai tempat penjagaan dan pengintaian yang konstruksinya dikhususkan bagi pengawal bersenjata panah atau senapan. Di dalam kompleks istana terdapat banyak jalan yang menghubungkan antara satu tempat dan tempat lainnya. Setiap gapura, baik pada benteng yang mengelilingi bangunan lain di dalam kompleks istana, dilengkapi dengan pintu gerbang dan dijaga oleh prajurit keraton yang berpakaian tradisional dan bersenjatakan tombak dan pedang.
Saat ini hanya gerbang ke rumah raja yang dijaga, sedangkan gerbang lainnya terbuka untuk umum karena penghuni di dalam benteng istana itu bukan hanya keluarga raja dan hamba-hambanya melainkan juga anggota masyarakat pada umumnya. Parit keliling di luar benteng menjadi kering sejak masa pendudukan Jepang dan di bekas parit itu sekarang penuh rumah dan toko yang mula-mula menempel ke tembok benteng, tetapi kemudian benteng itu dijebol ke belakang sehingga benteng istana sultan itu nyaris lenyap dan tidak tampak terutama benteng sebelah timur istana yang membujur di sepanjang jalan Brigjen Katamso. Benteng yang tersisa hanya di dekat pintu gerbang utama di empat sisi dan sudut benteng di barat-laut, barat-daya dan tenggara.
Perumahan pra prajurit dibangun di luar benteng, a.l. perumahan prajurit daeng (yang berasal dari Sulawesi Selatan) berada di sebelah barat benteng sudut barat-daya. Kompleks prajurit Daeng ini sekarang hanya tinggal nama sebagai kampung Daengan.
Sementara itu pihak Belanda mendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan militer yang maksudnya menjaga atau mengawasi kekuasaan Sultan Hamengku Buwono. Bangunan Belanda ini juga diberi tembok keliling dan kompleks itu disebut Vredebrug, artinya jembatan perdamaian. Letak Vredebrug ada di sebelah utara alun-alun pada jarak sekitar 300 m, yang hingga sekarang masih tegak dan baru selesai dipugar lima tahun yang lalu. Di depan Vredebrug didirikan gedung tempat tinggal pejabat Belanda yang pada masa sekarang dijadikan istana Negara di wilayah Yogyakarta.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Istana Susuhunan di Surakarta (dibangun abad XVII M) dan istana Kasultanan di Yogyakarta (dibangun tahun 1755 M) semuanya menghadap ke utara; di depan istana ada alun-alun utara dan di barat alun-alun utara ini ada masjid agung; di selatan istana juga ada alun-alun selatan yang ukurannya lebih kecil daripada alun-alun utara.
Istana Sulatan Hamengkubuwono di Yogyakarta mempunyai panorama alam berupa Gunung Merapi yang jauhnya sekitar 30 km; puncak Merapi ini tampak jelas dari istana jika cuacanya baik. Di dalam istana dibangun pula taman rekreasi berupa pemandian Tamansari yang konon hanya dipakai oleh puteri-puteri raja. Rumah para pangeran, yaitu saudara dari raja serta anak-cucu dari sultan-sultan terdahulu juga berada di dalam lingkungan istana, tetapi ada pula yang dibangun di luar benteng istana karena lahan di dalam benteng sudah penuh. Masing-masing kelompok bangunan ini dikelilingi tembok yang mempunyai gapura-gapura sendiri sebagai pintu keluar dan masuk.
Seluruh kompleks istana ini kemudian dikelilingi tembok tinggi dan tebal (disebut benteng) yang sisi-sisinya mempunyai panjang 1.500 meter; jadi luas kompleks istana ini ada 1,5 km x 1,5 km atau 2,25 km persegi. Di luar benteng ada parit lebar dan dalam yang mengelilinginya. Pada keempat sisi benteng ada gapura untuk keluar dan masuk, sedangkan pada tiap sudut benteng ada bastion (bagian bangunan yang menonjol keluar) sebagai tempat penjagaan dan pengintaian yang konstruksinya dikhususkan bagi pengawal bersenjata panah atau senapan. Di dalam kompleks istana terdapat banyak jalan yang menghubungkan antara satu tempat dan tempat lainnya. Setiap gapura, baik pada benteng yang mengelilingi bangunan lain di dalam kompleks istana, dilengkapi dengan pintu gerbang dan dijaga oleh prajurit keraton yang berpakaian tradisional dan bersenjatakan tombak dan pedang.
Saat ini hanya gerbang ke rumah raja yang dijaga, sedangkan gerbang lainnya terbuka untuk umum karena penghuni di dalam benteng istana itu bukan hanya keluarga raja dan hamba-hambanya melainkan juga anggota masyarakat pada umumnya. Parit keliling di luar benteng menjadi kering sejak masa pendudukan Jepang dan di bekas parit itu sekarang penuh rumah dan toko yang mula-mula menempel ke tembok benteng, tetapi kemudian benteng itu dijebol ke belakang sehingga benteng istana sultan itu nyaris lenyap dan tidak tampak terutama benteng sebelah timur istana yang membujur di sepanjang jalan Brigjen Katamso. Benteng yang tersisa hanya di dekat pintu gerbang utama di empat sisi dan sudut benteng di barat-laut, barat-daya dan tenggara.
Perumahan pra prajurit dibangun di luar benteng, a.l. perumahan prajurit daeng (yang berasal dari Sulawesi Selatan) berada di sebelah barat benteng sudut barat-daya. Kompleks prajurit Daeng ini sekarang hanya tinggal nama sebagai kampung Daengan.
Sementara itu pihak Belanda mendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan militer yang maksudnya menjaga atau mengawasi kekuasaan Sultan Hamengku Buwono. Bangunan Belanda ini juga diberi tembok keliling dan kompleks itu disebut Vredebrug, artinya jembatan perdamaian. Letak Vredebrug ada di sebelah utara alun-alun pada jarak sekitar 300 m, yang hingga sekarang masih tegak dan baru selesai dipugar lima tahun yang lalu. Di depan Vredebrug didirikan gedung tempat tinggal pejabat Belanda yang pada masa sekarang dijadikan istana Negara di wilayah Yogyakarta.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ragam Hias Masjid Mantingan di Jepara
Salah satu peninggalan purbakala di daerah pesiri utara Jawa Tengah dikenal dengan nama Kompleks Makam dan Masjid Mantingan. Secara administratif kompleks ini berada di Desa Mantingan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Tokoh yang dimakamkan di sini adalah Ratu Kalinyamat beserta kerabatnya. Ia adalah anak R. Trenggana dari Sultan Demak yang kawin dengan Adipati Jepara (Mulyono, 1968: 280). Makam ini terletak di sebelah timur masjid yang sangat menarik karena memiliki hiasan-hiasan unik antara lain relief berbentuk binatang yang distilir.
Diperkirakan pendirian masjid pada abad XVI karena di atas mihrab masjid terdapat sengkala yang berbunyi “rupa brahmana warna sari” yang berarti 1481 Saka atau 1559 Masehi (Bosch, 1930: 52). Bangunan yang sekarang tidak semuanya asli dari masa itu, sudah berubah karena telah beberapa kali mengalami pemugaran.
Menurut Knabel yang mengunjungi Mantingan pada 1910 (ROC, 1910: 166-167) bahwa Masjid Mantingan terbuat dari bata merah, atapnya bersusun tiga, dan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda; ketiga pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Pada dinding ini terdapat relief rendah, dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28 panel. Di kiri kanan masing-masing deretan panel berelief terdapat hiasan berbentuk kelelawar, demikian juga di tiap-tiap pintu, sehingga jumlah seluruhnya 64 buah. Hiasan medalion bulat yang juga terdapat di dinding yang terletak di kiri kanan tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.
Tahun 1927 Kompleks Mantingan dipugar, menggunakan semen dan kapur sehingga merusak kekunaan dan keasliannya. Bangunan baru ini telah ditempelkan pada panel relief yang berasal dari masjid lama yang dibangun pada 1559 Masehi. Papan-papan batu berelief ini sebagian besar diletakkan di kanan-kiri atas tiga pintu yang terdapat pada dinding serambi masjid, kemudian ada yang dipasang di dinding bawah, dinding luar dan sudut-sudut bangunan.
Sekitar tahun 1978-1981, Masjid Mantingan kembali dipugar. Dalam kegiatan pemugaran berhasil ditemukan enam panel yang berelief di kedua belah sisinya, sejumlah besar balok-balok batu putih dan juga suatu fondasi bangunan kuna (Kusen, 1989, 122). Pemugaran yang terakhir ini telah mengakibatkan perubahan bentuk masjid yang atapnya dahulu bersusun tiga, kini beratap satu, tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang terdapat panel berelief.
Ragam Hias Masjid Mantingan
Ragam hias yang terdapat di Mantingan sangat menarik karena hiasan yang berbentuk relief dipahatkan pada panel-panel. Bentuk panel ada yang bulat (medalion), roset, bujur sangkar, empat persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk lengkung kurawal dan ada pula berbentuk kelelawar. Panel-panel ini berisi relief yang menggambarkan.
1. tumbuh-tumbuhan daun dan bunga teratai, sulur-suluran, labu air, pandan, kangkung, nipah, bambu, paku, kelapa, keben, sagu dan kamboja.
2. Binatang yang distilir seperti angsa, burung, ular, kuda, kijang, gajah, kera, ketam dan kelelawar.
3. rumah panggung, pagar, gapura dan bentar.
4. gunung dan matahari.
5. motif makara yang distilir.
6. anyaman (jalinan).
Panel yang kedua sisinya berelief
Pada pemugaran yang terakhir ditemukan enam panel yang kedua bidang sisinya berisi relief. Bentuk-bentuk panel dan reliefnya sebagai:
1. panel berbentuk bujur sangkar. Sisinya yang tampak dihiasi bunga dan sulur-suluran. Sisi di baliknya yang semula terpendam dalam dinding berisi hiasan yang menggambarkan dua orang dan seorang memakai kain panjang, berdiri dan sikapnya menyambah dan mereka tanpa kepala. Adegan ini diduga melukiskan Rama, Laksamana sedang duduk dan Sinta menghormat di depannya.
2. panel berbentuk bundar. Sisinya yang tampak berhiaskan labu air dan sisi di belakangnya terdapat hiasan (relief) seekor kijang yang distilir. Kijang ini mungkin penjelmaan raksasa yang bernama Marici.
3. Panel berbentuk segi enam atau persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk kurawal atau akulade berisi seekor gajah yang distilir dengan daun, sulur-suluran dan bunga teratai. Sisi belakangnya berelief dua ksatria. Seorang bersanggul jatamakuta, berupawita, memakai kalung, subang, gelang, berkelat bahu, berkain mulai dari perut sampai ke kaki dan memegang busur. Ksatria yang lain rambutnya terurai, memakai kalung, subang, gelang, upawita, berkain mulai dari perut sampai ke kaki. Kakinya terpotong. Muka kedua ksatria ini keadaannya sudah rusak. Di depannya tampak seorang laki-laki berukuran pendek, rambut dikuncir. Orang ini seperti sedang memancing.
Adegan ini menggambarkan Rama membawa busur dan Laksmana di belakangnya. Sedangkan orang pendek sebagai pengiring/punakawannya.
4. panel berbentuk bujur sangkar memuat relief yang menggambarkan bunga dan sulur-suluran. Sisi sebaliknya menggambarkan seorang ksatria bersanggul dan berekor, diiringi oleh dua pengiring bertubuh manusia berkepala dan berekor seperti kera.
Sayangnya semua muka mereka dalam keadaan rusak. Adegan ini menggambarkan Hanoman yang sedang berjalan dan diiringi oleh dua sosok bertubuh kera.
5. panel berbentuk bujur sangkar. Sisi depan dihiasi dengan bunga dan suluran, sedangkan sisi belakangnya dihiasi dengan seorang raksasa.
6. Panel berbentuk persegi panjang dengan kedua sisinya berkurawal. Sisi depan memuat bunga dan daun teratai. Sisi di baliknya berisi dua kera tanpa pakaian sedang memanjat suatu tempat, satunya lagi memegang tongkat. Adegan ini menggambarkan dua kera sedang bermain-main.
Jika diperhatikan, relief yang menggambarkan Ramayana terpotong sehingga tidak menggambarkan selengkapnya, sedangkan relief yang dibaliknya dalam penggambarannya lengkap dan sempurna. Dapat disimpulkan bahwa relief Ramayana dibuat lebih dulu dan relif sebaliknya dibuat kemudian. Relief Ramayana memang sengaja dipotong dan dirusak yang kemudian dimanfaatkan untuk dibuat panel sebaliknya. Selain itu dapat dilihat pula bahwa wajah semua tokoh yang digambarkan dalam relief itu rusak. Kerusakan pada wajah para tokoh manusia memang disengaja karena masa itu terjadi transisi antara kesenian masa Hindu ke masa Islam. Menurut Bernet Kempers, dalam Islam tidak lazim adanya penggambaran manusia atau binatang. Maka hiasan yang ada di masjid Mantingan yang menggambarkan binatang maupun manusia ditiadakan. Apabila ada maka binatang itu dilukiskan dengan stiliran. Ada pendapat baru bahwa pengaruh kesenian Islam dalam relief Mantingan dapat dihubungkan dengan pengaruh kebatinan Islam atau tasawuf (Kusen, 1989: 128). Hal ini didasarkan pada bentuk panel persegi panjang dengan sepasang sisi pendeknya berbentuk lengkung yang dihiasi relief binatang yang distilir serta letak panel-panel di serambi Masjid Mantingan yang terdiri atas tujuh panel dalam setiap bidang (sebelum dipugar tahun 1976-1981) dan bentuk kelelawae yang mengelilinginya, serta relief anyaman/jalinan (Kusen, 1989: 142-161).
Panel yang berbentuk empat persegi panjang dengan sepasang sisi pendeknya berbentuk lengkung kurawal disebut cermina oleh van der Hoop (1949; 316). Cermin ini dalam sufisme merupakan benda yang sering dipakai untuk menjelaskan hubungan Allah dengan manusia.
Orang yang melihat dalam cermin adalah subyek sekaligus objek dari pengelihatanya, artinya sesuatu muncul dari dan kembali ke tempat asalnya. Demikian pula dalam menanamkan pengertian tentang hakekat Tuhan sebagai “Yang Ada – Tiada”. Relief yang menggambarkan binatang yang distilir dapat ditafsirkan sebagai contoh tentang pengertian “ada – tiada”.
Berbagai gambaran yang terdapat di dalam bingkai cermin merupakan cermin dari realitas dunia. Orang yang belum berpengetahuan dan karena kecerobohannya akan menyangka bahwa yang dilihatnya adalah kenyataan, pada hal semuanya hanya bayang-bayang saja. Dengan diterangi oleh cahaya atau nur Allah yang dilambangkan dalam bentuk “garuda”, melalui permenungan dia akan dapat melihat kebenaran. Cahaya adalah salah satu daya terpendam dalam diri; Allah sendiri juga disebut Nur. Allah menyinarkan cahaya-Nya ke tujuh langit dan tujuh bumi. Hal ini dihubungkan dengan panel relief yang bersusun tujuh serta hiasan kelelawar (ditafsirkan sebagai garuda) yang mengelilingi semua panel. Sedangkan relief dengan motif jalinan (anyaman) melambangkan cinta kasih Allah yang tak ada batasnya.
Adanya enam panel yang memiliki relief pada kedua sisinya, membuktikan bahwa di Mantingan terjadi perubahan tata nilai, yaitu tata nilai kesenian dari masa Hindu menuju ke kesenian masa Islam sehingga relief di Mantingan merupakan transisi yang benar-benar terjadi.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Diperkirakan pendirian masjid pada abad XVI karena di atas mihrab masjid terdapat sengkala yang berbunyi “rupa brahmana warna sari” yang berarti 1481 Saka atau 1559 Masehi (Bosch, 1930: 52). Bangunan yang sekarang tidak semuanya asli dari masa itu, sudah berubah karena telah beberapa kali mengalami pemugaran.
Menurut Knabel yang mengunjungi Mantingan pada 1910 (ROC, 1910: 166-167) bahwa Masjid Mantingan terbuat dari bata merah, atapnya bersusun tiga, dan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda; ketiga pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Pada dinding ini terdapat relief rendah, dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28 panel. Di kiri kanan masing-masing deretan panel berelief terdapat hiasan berbentuk kelelawar, demikian juga di tiap-tiap pintu, sehingga jumlah seluruhnya 64 buah. Hiasan medalion bulat yang juga terdapat di dinding yang terletak di kiri kanan tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.
Tahun 1927 Kompleks Mantingan dipugar, menggunakan semen dan kapur sehingga merusak kekunaan dan keasliannya. Bangunan baru ini telah ditempelkan pada panel relief yang berasal dari masjid lama yang dibangun pada 1559 Masehi. Papan-papan batu berelief ini sebagian besar diletakkan di kanan-kiri atas tiga pintu yang terdapat pada dinding serambi masjid, kemudian ada yang dipasang di dinding bawah, dinding luar dan sudut-sudut bangunan.
Sekitar tahun 1978-1981, Masjid Mantingan kembali dipugar. Dalam kegiatan pemugaran berhasil ditemukan enam panel yang berelief di kedua belah sisinya, sejumlah besar balok-balok batu putih dan juga suatu fondasi bangunan kuna (Kusen, 1989, 122). Pemugaran yang terakhir ini telah mengakibatkan perubahan bentuk masjid yang atapnya dahulu bersusun tiga, kini beratap satu, tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang terdapat panel berelief.
Ragam Hias Masjid Mantingan
Ragam hias yang terdapat di Mantingan sangat menarik karena hiasan yang berbentuk relief dipahatkan pada panel-panel. Bentuk panel ada yang bulat (medalion), roset, bujur sangkar, empat persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk lengkung kurawal dan ada pula berbentuk kelelawar. Panel-panel ini berisi relief yang menggambarkan.
1. tumbuh-tumbuhan daun dan bunga teratai, sulur-suluran, labu air, pandan, kangkung, nipah, bambu, paku, kelapa, keben, sagu dan kamboja.
2. Binatang yang distilir seperti angsa, burung, ular, kuda, kijang, gajah, kera, ketam dan kelelawar.
3. rumah panggung, pagar, gapura dan bentar.
4. gunung dan matahari.
5. motif makara yang distilir.
6. anyaman (jalinan).
Panel yang kedua sisinya berelief
Pada pemugaran yang terakhir ditemukan enam panel yang kedua bidang sisinya berisi relief. Bentuk-bentuk panel dan reliefnya sebagai:
1. panel berbentuk bujur sangkar. Sisinya yang tampak dihiasi bunga dan sulur-suluran. Sisi di baliknya yang semula terpendam dalam dinding berisi hiasan yang menggambarkan dua orang dan seorang memakai kain panjang, berdiri dan sikapnya menyambah dan mereka tanpa kepala. Adegan ini diduga melukiskan Rama, Laksamana sedang duduk dan Sinta menghormat di depannya.
2. panel berbentuk bundar. Sisinya yang tampak berhiaskan labu air dan sisi di belakangnya terdapat hiasan (relief) seekor kijang yang distilir. Kijang ini mungkin penjelmaan raksasa yang bernama Marici.
3. Panel berbentuk segi enam atau persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk kurawal atau akulade berisi seekor gajah yang distilir dengan daun, sulur-suluran dan bunga teratai. Sisi belakangnya berelief dua ksatria. Seorang bersanggul jatamakuta, berupawita, memakai kalung, subang, gelang, berkelat bahu, berkain mulai dari perut sampai ke kaki dan memegang busur. Ksatria yang lain rambutnya terurai, memakai kalung, subang, gelang, upawita, berkain mulai dari perut sampai ke kaki. Kakinya terpotong. Muka kedua ksatria ini keadaannya sudah rusak. Di depannya tampak seorang laki-laki berukuran pendek, rambut dikuncir. Orang ini seperti sedang memancing.
Adegan ini menggambarkan Rama membawa busur dan Laksmana di belakangnya. Sedangkan orang pendek sebagai pengiring/punakawannya.
4. panel berbentuk bujur sangkar memuat relief yang menggambarkan bunga dan sulur-suluran. Sisi sebaliknya menggambarkan seorang ksatria bersanggul dan berekor, diiringi oleh dua pengiring bertubuh manusia berkepala dan berekor seperti kera.
Sayangnya semua muka mereka dalam keadaan rusak. Adegan ini menggambarkan Hanoman yang sedang berjalan dan diiringi oleh dua sosok bertubuh kera.
5. panel berbentuk bujur sangkar. Sisi depan dihiasi dengan bunga dan suluran, sedangkan sisi belakangnya dihiasi dengan seorang raksasa.
6. Panel berbentuk persegi panjang dengan kedua sisinya berkurawal. Sisi depan memuat bunga dan daun teratai. Sisi di baliknya berisi dua kera tanpa pakaian sedang memanjat suatu tempat, satunya lagi memegang tongkat. Adegan ini menggambarkan dua kera sedang bermain-main.
Jika diperhatikan, relief yang menggambarkan Ramayana terpotong sehingga tidak menggambarkan selengkapnya, sedangkan relief yang dibaliknya dalam penggambarannya lengkap dan sempurna. Dapat disimpulkan bahwa relief Ramayana dibuat lebih dulu dan relif sebaliknya dibuat kemudian. Relief Ramayana memang sengaja dipotong dan dirusak yang kemudian dimanfaatkan untuk dibuat panel sebaliknya. Selain itu dapat dilihat pula bahwa wajah semua tokoh yang digambarkan dalam relief itu rusak. Kerusakan pada wajah para tokoh manusia memang disengaja karena masa itu terjadi transisi antara kesenian masa Hindu ke masa Islam. Menurut Bernet Kempers, dalam Islam tidak lazim adanya penggambaran manusia atau binatang. Maka hiasan yang ada di masjid Mantingan yang menggambarkan binatang maupun manusia ditiadakan. Apabila ada maka binatang itu dilukiskan dengan stiliran. Ada pendapat baru bahwa pengaruh kesenian Islam dalam relief Mantingan dapat dihubungkan dengan pengaruh kebatinan Islam atau tasawuf (Kusen, 1989: 128). Hal ini didasarkan pada bentuk panel persegi panjang dengan sepasang sisi pendeknya berbentuk lengkung yang dihiasi relief binatang yang distilir serta letak panel-panel di serambi Masjid Mantingan yang terdiri atas tujuh panel dalam setiap bidang (sebelum dipugar tahun 1976-1981) dan bentuk kelelawae yang mengelilinginya, serta relief anyaman/jalinan (Kusen, 1989: 142-161).
Panel yang berbentuk empat persegi panjang dengan sepasang sisi pendeknya berbentuk lengkung kurawal disebut cermina oleh van der Hoop (1949; 316). Cermin ini dalam sufisme merupakan benda yang sering dipakai untuk menjelaskan hubungan Allah dengan manusia.
Orang yang melihat dalam cermin adalah subyek sekaligus objek dari pengelihatanya, artinya sesuatu muncul dari dan kembali ke tempat asalnya. Demikian pula dalam menanamkan pengertian tentang hakekat Tuhan sebagai “Yang Ada – Tiada”. Relief yang menggambarkan binatang yang distilir dapat ditafsirkan sebagai contoh tentang pengertian “ada – tiada”.
Berbagai gambaran yang terdapat di dalam bingkai cermin merupakan cermin dari realitas dunia. Orang yang belum berpengetahuan dan karena kecerobohannya akan menyangka bahwa yang dilihatnya adalah kenyataan, pada hal semuanya hanya bayang-bayang saja. Dengan diterangi oleh cahaya atau nur Allah yang dilambangkan dalam bentuk “garuda”, melalui permenungan dia akan dapat melihat kebenaran. Cahaya adalah salah satu daya terpendam dalam diri; Allah sendiri juga disebut Nur. Allah menyinarkan cahaya-Nya ke tujuh langit dan tujuh bumi. Hal ini dihubungkan dengan panel relief yang bersusun tujuh serta hiasan kelelawar (ditafsirkan sebagai garuda) yang mengelilingi semua panel. Sedangkan relief dengan motif jalinan (anyaman) melambangkan cinta kasih Allah yang tak ada batasnya.
Adanya enam panel yang memiliki relief pada kedua sisinya, membuktikan bahwa di Mantingan terjadi perubahan tata nilai, yaitu tata nilai kesenian dari masa Hindu menuju ke kesenian masa Islam sehingga relief di Mantingan merupakan transisi yang benar-benar terjadi.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tata Ruang Istana Raja di Jawa
Istana para raja atau sultan di Jawa biasanya merupakan suatu kompleks yang luas yang menampung tempat tinggal bagi keluarga raja, saudara dekat dan jauh, pengawal dan pegawai kerajaan. Kompleks ini dilengkapi berbagai sarana fisik yang antara lain untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan perlindungan, rekreasi, ibadah dan tepat upacara. Dari semua unsur itu yang terpenting ialah bangunan yang kuat dan aman dari kemungkinan serangan lawan atau musuh. Bangunan pertahanan yang terbaik ialah benteng atau tembok keliling yang tinggi dan kuat yang pintu-pintunya dijaga siang dan malam oleh pengawal-pengawal yang handal. Bahkan wilayah suatu negara ada yang dibatasi atau ditutup dengan benteng semacam ini. Contoh klasik yang dikenal luas ialah tembok besar Cina yang panjangnya sekitar 2450 kilometer untuk mencegah kaum Nomad yang terutama datang dari arah utara. Tembok Cina tersebut dibangun oleh kaisar Chin Sye Huang Ti sekitar tahun 220 SM.
Konsep Tata Ruang Istana
Sebelum timbulnya kesultanan di Jawa lebih dahulu ada kerajaan Hindu-Buddha yang tentunya juga mempunyai istana atau keraton sendiri yang dilengkapi berbagai sarana untuk melancarkan jalannnya pemerintahan. Bangunan terpenting masa itu ialah rumah raja dan keluarganya, pegawainya dan pengawalnya serta bangunan suci untuk beribadah. Bangunan istana kerajaan Majapahit, terutama ketika masa pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350-1389), disebutkan secara tidak langsung oleh pujangga Prapanca di dalam kitab Nagarakertagama. Dituturkan bahwa pintu gerbang kompleks istana Majapahit ada di sebelah utara disertai menara pengawas dan alun-alun luas. Bangunannya dikelilingi tembok berwarna merah. Rumah raja diapit oleh rumah ayahandanya dan adiknya yang semuanya berada di sudut tenggara. Ada bangunan suci beserta rumah pendeta ada lapangan luas dan lapangan upacara dan balai yang besar serta gapura-gapura yang memisahkan bangunan rumah raja dengan semua bangunan sebelumnya. Bangunan rumah tinggal bagi pejabat keagamaan dan pejabat tinggi lainnya berada di luar tembk sebelah utara, timur dan selatan. Posisi ini sekaligus ikut mengamankan kompleks istana raja.
Tata Ruang Istana Kasultanan Yogyakarta
Sesudah runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha, yang muncul ialah kerajaan Demak. Yang tampak sekarang di Demak ialah alun-alun serta masjid yang sangat tersohor yang terletak di sebelah barat dari alun-alun. Rumah Bupati yang asli juga ada di sebelah selatan dari alun-alun yang dahulunya menjadi istana sultan Demak.
Istana Susuhunan di Surakarta (dibangun abad XVII M) dan istana Kesultanan di Yogyakarta (dibangun tahun 1755 M) semuanya menghadap ke utara; di depan istana ada alun-alun utara dan di barat alun-alun utara ini ada masjid agung; di selatan istana juga ada alun-alun selatan yang ukurannya lebih kecil daripada alun-alun utara.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Konsep Tata Ruang Istana
Sebelum timbulnya kesultanan di Jawa lebih dahulu ada kerajaan Hindu-Buddha yang tentunya juga mempunyai istana atau keraton sendiri yang dilengkapi berbagai sarana untuk melancarkan jalannnya pemerintahan. Bangunan terpenting masa itu ialah rumah raja dan keluarganya, pegawainya dan pengawalnya serta bangunan suci untuk beribadah. Bangunan istana kerajaan Majapahit, terutama ketika masa pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350-1389), disebutkan secara tidak langsung oleh pujangga Prapanca di dalam kitab Nagarakertagama. Dituturkan bahwa pintu gerbang kompleks istana Majapahit ada di sebelah utara disertai menara pengawas dan alun-alun luas. Bangunannya dikelilingi tembok berwarna merah. Rumah raja diapit oleh rumah ayahandanya dan adiknya yang semuanya berada di sudut tenggara. Ada bangunan suci beserta rumah pendeta ada lapangan luas dan lapangan upacara dan balai yang besar serta gapura-gapura yang memisahkan bangunan rumah raja dengan semua bangunan sebelumnya. Bangunan rumah tinggal bagi pejabat keagamaan dan pejabat tinggi lainnya berada di luar tembk sebelah utara, timur dan selatan. Posisi ini sekaligus ikut mengamankan kompleks istana raja.
Tata Ruang Istana Kasultanan Yogyakarta
Sesudah runtuhnya kerajaan Hindu-Buddha, yang muncul ialah kerajaan Demak. Yang tampak sekarang di Demak ialah alun-alun serta masjid yang sangat tersohor yang terletak di sebelah barat dari alun-alun. Rumah Bupati yang asli juga ada di sebelah selatan dari alun-alun yang dahulunya menjadi istana sultan Demak.
Istana Susuhunan di Surakarta (dibangun abad XVII M) dan istana Kesultanan di Yogyakarta (dibangun tahun 1755 M) semuanya menghadap ke utara; di depan istana ada alun-alun utara dan di barat alun-alun utara ini ada masjid agung; di selatan istana juga ada alun-alun selatan yang ukurannya lebih kecil daripada alun-alun utara.
Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rumah Jolopong (Jawa Barat)
Oleh D Indrawati
Orang Sunda, adalah salah satu suku bangsa yang mendiami sebagian besar wilayah Propinsi Jawa Barat, dan merupakan penduduk asal daerah itu. Wilayah asal orang Sunda itu bisa ditebut Tatar Sunda atau Tanah Pasundan. Dalam wilayah Jawa Barat itu, orang Sunda bertetangga atau hidup berdampingan dengan beberapa kelompok lain seperti kelompok orang Banten Cirebon dan Baduy.
Pada umumnya pemukiman penduduk daerah Jawa Barat bervariasi, ada yang mengelompok dan ada yang menyebar.
Pola perkampungan masyarakat Sunda sebelum mengalami perubahan dikemukakan oleh Ir Anwar Adiwilaga bahwa: Orang Sunda umumnya mempunyai rumah menyendiri di tengah padang luas atau di tengah hutan. Kalaupun mereka berkampung halaman, maka rumah mereka selalu berhimpit-himpitan, dua deret saling berhadapan, terpisah oleh pelataran.
Bentuk Rumah
Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung yang tingginya 0,5 m - 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter, karena digunakan untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk menaiki rumah disediakan tangga yang disebut Golodog terbuat dari kayu atau bambu, biasanya tidak lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi pula untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah.
Sekalipun rumah orang Sunda berbentuk panggung, akan tetapi tidak berarti sebutan rumah orang Sunda adalah rumah panggung, sebab di hampir seluruh provinsi di Indonesia secara tradisional berbentuk panggung, dan itu merupakan sebutan yang khas.
Rumah-rumah orang Sunda memiliki nama yang berbeda-beda tergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya. Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan jolopong, tagong anjing, badak heuay, perahu kemureb dan jubleg nangkub dan buka pongpok.
Suhunan Jolopong dikenal juga dengan sebutan Suhunan Panjang Jolopong artinya tergolek lurus. Bentuk Jolopong merupakan bentuk yang cukup tua, karena bentuk ini ternyata terdapat pada bentuk atap bangunan saung (dangan) yang diperkirakan bentuknya sudah sangat tua.
Bentuk Jolopong memiliki dua bidang atap. Kedua bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang sebelah menyebelah. Sedangkan lainnya lebih pendek dibanding dengan suhunan dan memotong tegak lurus di kedua ujung suhunan itu.
Susunan Ruangan
Ruang Jolopong terdiri atas ruang depan disebut emper atau tepas; ruangan tengah disebut tengah imah atau patengahan; ruangan samping disebut pangkeng (kamar); dan ruangan belakang yang terdiri atas dapur yang disebut pawon dan tempat menyimpan beras yang disebut padaringan.
Ruangan yang disebut emper berfungsi, untuk menerima tamu. Pada waktu dulu ruangan ini dibiarkan kosong tanpa perkakas atau perabot rumah tangga seperti meja, kursi, ataupun bale-bale tempat duduk. Kalau tamu datang barulah yang empunya rumah menggelarkan tikar untuk duduk tamu. Namun sekarang sudah disediakan meja dan kursi bahkan peralatan lainnya.
Ruang balandongan berfungsi untuk menambah kesejukan bagi penghuni rumah. Pangkeng merupakan tempat untuk tidur. Ruangan sejenis pangkeng ialah jobong atau gudang yang digunakan untuk menyimpan barang-barang atau alat-alat rumah tangga.
Ruangan tengah digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga dan sering digunakan untuk melaksanakan upacara atau selamatan yang mengundang orang banyak. Ruang belakang (dapur) digunakan untuk memasak.
Ragam Hias
Jenis ragam hias yang terdapat pada rumah-rumah secara tradisional sudah amat langka ditemui sekarang ini, kecuali di beberapa daerah di Cirebon yaitu pada rumah-rumah keluarga bangsawah (keraton) dan pada bangunan-bangunan peninggalan kesultanan Cirebon.
Hal tersebut penyebabnya antara lain orang Sunda pada zaman dahulu tidak mempunyai kebiasaan membuat ukiran pada rumah, karena rumah mereka umumnya terbuat dari kayu dan bambu yang tidak tahan seumur hidup. Orang Sunda lebih banyak perhatian pada bangunannya dibanding dengan ukirannya. Pada sisa bangunan bangsawan atau kesultanan di Cirebon ditemukan beberapa ragam hias dengan motif tumbuh-tumbuhan, binatang, alam dan motif lain-lainnya. Ragam hias dengan motif tumbuh-tumbuhan yang ada di bangunan lama di daerah Cirebon antara lain: kawung rucuk bung, keliangan, kangkungan patran simbar dan kombinasi dari beberapa tumbuhan.
Ragam hias yang terdapat pada bangunan-bangunan lama (tradisional) seperti yang berpola geometris yang disebut anggun, wajikan, tumpal, dan yang polakan sarigsig yang diberi nama jangkalong, rusuk ikan atau bangreng.
Ragam hias pola geometris biasanya terdiri atas gambar-gambar bergaris lurus yang seluruhnya membentuk tepi keliling yang disebut banji. Ragam hias ini merupakan pengisi bagian dinding dengan gambar-gambar bergaris lurus yang disebut swastika. Potongan-potongan kayu yang disusun pun jadi pola garis lurus dan melintang sebagai pengisi lubang-lubang angin di pintu-pintu/jendela-jendela rumah dan merupakan ragam hias tersendiri yang disebut angen. Demikian pula pola wajikan sesuai dengan namanya, pola ini menyerupai bentuk wajik (jajaran genjang).
Dalam bentuk segitiga, pola geometris muncul pada motif-motif tempel. Sedangkan yang berpola sarigsig yakni dalam bentuk tulang-tulang sayap burung (kalong) menyerupai huruf "w." Rusuk ikan mengambil letak garis-garis sejajar disusun menyerupai rusuk ikan.
Pola angen biasanya diletakkan pada lubang-lubang angin di atas pintu-pintu/jendela. Pola wajikan banyak diletakkan pada lubang-lubang angin dan di pagar-pagar teras (tepas) rumah. Sedangkan pola sarigsig banyak diletakkan pada daun pintu, di depan dan di tengah rumah, berfungsi sebagai pengatur udara dalam ruangan.
D Indrawati (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
Sumber: www.hupelita.com
Orang Sunda, adalah salah satu suku bangsa yang mendiami sebagian besar wilayah Propinsi Jawa Barat, dan merupakan penduduk asal daerah itu. Wilayah asal orang Sunda itu bisa ditebut Tatar Sunda atau Tanah Pasundan. Dalam wilayah Jawa Barat itu, orang Sunda bertetangga atau hidup berdampingan dengan beberapa kelompok lain seperti kelompok orang Banten Cirebon dan Baduy.
Pada umumnya pemukiman penduduk daerah Jawa Barat bervariasi, ada yang mengelompok dan ada yang menyebar.
Pola perkampungan masyarakat Sunda sebelum mengalami perubahan dikemukakan oleh Ir Anwar Adiwilaga bahwa: Orang Sunda umumnya mempunyai rumah menyendiri di tengah padang luas atau di tengah hutan. Kalaupun mereka berkampung halaman, maka rumah mereka selalu berhimpit-himpitan, dua deret saling berhadapan, terpisah oleh pelataran.
Bentuk Rumah
Secara tradisional rumah orang Sunda berbentuk panggung yang tingginya 0,5 m - 0,8 m atau 1 meter di atas permukaan tanah. Pada rumah-rumah yang sudah tua usianya, tinggi kolong ada yang mencapai 1,8 meter, karena digunakan untuk tempat mengikat binatang-binatang peliharaan seperti sapi, kuda atau untuk menyimpan alat-alat pertanian seperti cangkul, bajak, garu dan sebagainya. Untuk menaiki rumah disediakan tangga yang disebut Golodog terbuat dari kayu atau bambu, biasanya tidak lebih dari tiga anak tangga. Golodog berfungsi pula untuk membersihkan kaki sebelum naik ke dalam rumah.
Sekalipun rumah orang Sunda berbentuk panggung, akan tetapi tidak berarti sebutan rumah orang Sunda adalah rumah panggung, sebab di hampir seluruh provinsi di Indonesia secara tradisional berbentuk panggung, dan itu merupakan sebutan yang khas.
Rumah-rumah orang Sunda memiliki nama yang berbeda-beda tergantung pada bentuk atap dan pintu rumahnya. Secara tradisional ada atap yang bernama suhunan jolopong, tagong anjing, badak heuay, perahu kemureb dan jubleg nangkub dan buka pongpok.
Suhunan Jolopong dikenal juga dengan sebutan Suhunan Panjang Jolopong artinya tergolek lurus. Bentuk Jolopong merupakan bentuk yang cukup tua, karena bentuk ini ternyata terdapat pada bentuk atap bangunan saung (dangan) yang diperkirakan bentuknya sudah sangat tua.
Bentuk Jolopong memiliki dua bidang atap. Kedua bidang atap ini dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah. Batang suhunan sama panjangnya dan sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap yang sebelah menyebelah. Sedangkan lainnya lebih pendek dibanding dengan suhunan dan memotong tegak lurus di kedua ujung suhunan itu.
Susunan Ruangan
Ruang Jolopong terdiri atas ruang depan disebut emper atau tepas; ruangan tengah disebut tengah imah atau patengahan; ruangan samping disebut pangkeng (kamar); dan ruangan belakang yang terdiri atas dapur yang disebut pawon dan tempat menyimpan beras yang disebut padaringan.
Ruangan yang disebut emper berfungsi, untuk menerima tamu. Pada waktu dulu ruangan ini dibiarkan kosong tanpa perkakas atau perabot rumah tangga seperti meja, kursi, ataupun bale-bale tempat duduk. Kalau tamu datang barulah yang empunya rumah menggelarkan tikar untuk duduk tamu. Namun sekarang sudah disediakan meja dan kursi bahkan peralatan lainnya.
Ruang balandongan berfungsi untuk menambah kesejukan bagi penghuni rumah. Pangkeng merupakan tempat untuk tidur. Ruangan sejenis pangkeng ialah jobong atau gudang yang digunakan untuk menyimpan barang-barang atau alat-alat rumah tangga.
Ruangan tengah digunakan sebagai tempat berkumpulnya keluarga dan sering digunakan untuk melaksanakan upacara atau selamatan yang mengundang orang banyak. Ruang belakang (dapur) digunakan untuk memasak.
Ragam Hias
Jenis ragam hias yang terdapat pada rumah-rumah secara tradisional sudah amat langka ditemui sekarang ini, kecuali di beberapa daerah di Cirebon yaitu pada rumah-rumah keluarga bangsawah (keraton) dan pada bangunan-bangunan peninggalan kesultanan Cirebon.
Hal tersebut penyebabnya antara lain orang Sunda pada zaman dahulu tidak mempunyai kebiasaan membuat ukiran pada rumah, karena rumah mereka umumnya terbuat dari kayu dan bambu yang tidak tahan seumur hidup. Orang Sunda lebih banyak perhatian pada bangunannya dibanding dengan ukirannya. Pada sisa bangunan bangsawan atau kesultanan di Cirebon ditemukan beberapa ragam hias dengan motif tumbuh-tumbuhan, binatang, alam dan motif lain-lainnya. Ragam hias dengan motif tumbuh-tumbuhan yang ada di bangunan lama di daerah Cirebon antara lain: kawung rucuk bung, keliangan, kangkungan patran simbar dan kombinasi dari beberapa tumbuhan.
Ragam hias yang terdapat pada bangunan-bangunan lama (tradisional) seperti yang berpola geometris yang disebut anggun, wajikan, tumpal, dan yang polakan sarigsig yang diberi nama jangkalong, rusuk ikan atau bangreng.
Ragam hias pola geometris biasanya terdiri atas gambar-gambar bergaris lurus yang seluruhnya membentuk tepi keliling yang disebut banji. Ragam hias ini merupakan pengisi bagian dinding dengan gambar-gambar bergaris lurus yang disebut swastika. Potongan-potongan kayu yang disusun pun jadi pola garis lurus dan melintang sebagai pengisi lubang-lubang angin di pintu-pintu/jendela-jendela rumah dan merupakan ragam hias tersendiri yang disebut angen. Demikian pula pola wajikan sesuai dengan namanya, pola ini menyerupai bentuk wajik (jajaran genjang).
Dalam bentuk segitiga, pola geometris muncul pada motif-motif tempel. Sedangkan yang berpola sarigsig yakni dalam bentuk tulang-tulang sayap burung (kalong) menyerupai huruf "w." Rusuk ikan mengambil letak garis-garis sejajar disusun menyerupai rusuk ikan.
Pola angen biasanya diletakkan pada lubang-lubang angin di atas pintu-pintu/jendela. Pola wajikan banyak diletakkan pada lubang-lubang angin dan di pagar-pagar teras (tepas) rumah. Sedangkan pola sarigsig banyak diletakkan pada daun pintu, di depan dan di tengah rumah, berfungsi sebagai pengatur udara dalam ruangan.
D Indrawati (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
Sumber: www.hupelita.com
Rumah Joglo (Yogyakarta)
Oleh Dewi I
Rumah bagi orang Jawa merupakan patokan tentramnya suatu keluarga, sebab dengan sudah mampu memiliki rumah, keluarga tersebut sudah merasa tenang, tidak harus nyewa atau ngindung (numpang).
Rumah-rumah yang ada di daerah perkotaan sangat padat, sehingga hampir tidak ada batas atau garis pemisah antara rumah satu dengan lainnya. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di daerah pedesaan, yang penduduknya masih memiliki pekarangan cukup luas, maka batas antar rumah sangat jelas, misalnya dibatasi pagar, pohon atau tanaman. Dahulu hanya orang yang tergolong dan terpandang dalam masyarakatlah, yang dapat membangun rumah joglo yang besar dan megah. Berbeda dengan orang biasa, pada umumnya mereka membangun rumah setengah permanen, atau rumah bentuk kampung ata rumah limasan sederhana. Perbedaan dari sebutan rumah itu dilihat dari atapnya dan kelengkapan ruangan dalam satu rumah. Tapi sekarang Rumah Joglo sudah dapat dibuat oleh golongan manapun asalkan cukup biayanya.
Bentuk Rumah
Orang Jawa menyebut rumah omah yang berarti tempat tinggal. Bentuknya empat persegi panjang atau bujur sangkar. Bentuk rumah joglo merupakan bentuk rumah tradisional Jawa yang paling sempurna. Bangunan ini memiliki bentuk dan teknik pembuatan tinggi, sehingga tampak sangat megah dan artistik. Keistimewaan rumah joglo terletak pada empat soko guru yang menyangga blandar tumpang sari. Kemudian bagian kerangka yang disebut brunjung yaitu bagian atas keempat soko guru atau tiang utama sampai bubungan yang disebut molo atau suwunan. Oleh karenanya rumah joglo banyak membutuhkan kayu sebagai bahan bangunannya.
Rumah tradisional Jawa bukanlah berbentuk panggung. Sebagai fondosi (bebatur) dibuat dari tanah yang ditinggikan dan dipadatkan atau diperkeras, yang menurut istilah setempat disebut dibrug. Tiang rumah didirikan di atas ompak, yaitu alas tiang dari batu alam berbentuk persegi empat, bulat atau segi delapan. Pada mulanya rumah joglo hanya bertiang empat seperti yang ada di bagian tengah rumah joglo jaman sekarang (soko guru). Selanjutnya joglo diberi tambahan pada bagian samping dan bagian lain, sehingga tiangnya bertambah sesuai dengan kebutuhan.
Susunan Ruangan
Dari halaman depan, pertama-tama yang kita temui adalah ruangan lepas terbuka yang disebut pendopo. Ruang ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, pertemuan bila ada musyawarah serta kegiatan kesenian seperti menari, bermain sandiwara atau pementasan wayang. Pada bagian pinggir pendopo, yaitu bagian emperannya dahulu tempat anak-anak perempuan bermain dakon. Pada waktu ada upacara atau pagelaran kesenian, pendopo ini menjadi tempat pertunjukkan. Sementara para undangan duduk di bagian kanan dan kiri ruang pendopo. Ruang terdepan diperuntukkan bagi iringan gamelan atau musik pemilik rumah beserta keluarga duduk dalam ruangan pendopo menghadap keluar searah bangunan.
Selanjutnya masuk ke ruangan tengah yang disebut pringgitan, tempat untuk mementaskan wayang (pringgit). Kadang-kadang antara pendopo dan pringgitan dibuat terpisah oleh gang kecil yang disebut longkangan. Ruang tersebut digunakan untuk jalan kendaraan kereta atau mobil keluarga. Bila pendopo bersambung dengan pringgitan, maka untuk pemberhentian kendaraan dibuat di depan pendopo, yang disebut kuncung.
Dari ruang tengah kemudian menuju ruang belakang, yang disebut dalem atau omah jero. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang keluarga atau tempat menerima tamu wanita. Di kala ada pementasan wayang kulit, dahulu wanita hanya diperbolehkan menyaksikan di balik kelir, di ruangan ini. Di dalem atau rumah jero, terdapat tiga buah kamar atau senthong yaitu senthong kiwo (kiri), senthong tengah dan senthong tengen (kanan).
Pada para petani, senthong kiwo berfungsi untuk menyimpan senjata atau barang-barang keramat. Senthong tengah untuk menyimpan benih atau bibit akar-akaran atau gabah. Sedangkan senthong tengen untuk ruang tidur. Kadang-kadang senthong tengah dipakai pula untuk berdoa dan pemujaan kepada Dewi Sri. Oleh karenanya disebut juga pasren atau petanen. Senthong tengah tersebut diberi batas kain yang disebut langse atau gedhek, berhias anyaman yang disebut patang aring.
Pada rumah joglo milik bangsawan, senthong tengah ini berisi bermacam-macam benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Setiap benda memiliki arti lambang kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga. Sebelah kiri, kanan dan belakang senthong terdapat gandhok, yaitu bangunan kecil yang digunakan untuk tempat tinggal kerabat. Bila ada upacara atau kenduri, gandhok ini dipakai untuk tempat para wanita mengerjakan segala keperluan dan persiapan upacara terutama mengatur makanan yang sudah dimasak di dapur. Dapur (pawon) terletak di belakang dalem, yang selain untuk memasak, juga berfungsi sebagai tempat menyimpan perkakas dapur serta bahan makanan seperti kelapa, palawija, beras dan sebagainya. Antara gadhok kiri dan kanan dengan dalem, dibuat gerbang kecil yang disebut seketheng.
Ragam Hias
Fungsi hiasan pada suatu bangunan adalah untuk memberi keindahan, yang diharapkan dapat memberi ketentraman dan kesejukan bagi yang menempatinya. Pada orang Jawa di Yogyakarta, hiasan rumah tersebut banyak diilhami oleh flora, fauna, dan alam. Pada alas tiang yang disebut umpak, biasanya diberi hiasan terutama umpak pada soko guru. Hiasan tersebut berupa ukiran bermotif bunga mekar, yang disebut Padma. Padma adalah bunga teratai merah sebagai lambang kesucian, kokoh dan kuat yang tidak mudah tergoyahkan oleh segala macam bencana yang menimpanya.
Ragam hias lung-lungan merupakan ragam hias yang paling banyak dijumpai. Lung-lungan berarti batang tumbuh-tumbuhan melata yang masih muda. Hiasan ini biasanya diukirkan pada kayu, banyak mengambil gambar bunga teratai, bunga melati, daun markisa dan tanaman lain yang bersifat melata. Semua hiasan itu memberi arti ketentraman, di samping sifat wingit dan angker.
Ragam hias saton dan tlacapan merupakan dua kesatuan yang tidak terpisahkan, memberi arti persatuan dan kesatuan.
Ragam hias nanasan, mengambil contoh buah nanas yang penuh duri, melambangkan bahwa untuk mendapat sesuatu yang diinginkan, harus mampu mengatasi rintangan yang penuh duri.
Ragam hias yang banyak bernuansa fauna banyak mengambil gambar burung garuda, ayam jago, kala, dan ular. Burung garuda merupakan jenis burung yang paling besar yang mampu terbang tinggi di angkasa, melambangkan pemberantas kejahatan. Biasanya ragam hias garuda dipadukan dengan ragam hias ular, karena ular mempunyai unsur jahat.
Ragam hias jago yang mengambil gambar ayam jago, memiliki arti penghuni rumah mempunyai andalan pada berbagai bidang, baik anak laki-laki maupun perempuan, sebab andalan itu merupakan kebanggaan seluruh keluarga.
Ragam hias perwujudan alam berupa gunung, matahari, dan sebagainya.
Ragam hias gunungan berarti hiasan yang bentuknya mirip dengan gunung.
Gunungan merupakan lambang alam semesta dengan puncaknya yang melambangkan pula keagungan dan keesaan. Sedangkan kayon atau pohonnya melambangkan tempat berlindung dan ketentraman. Dengan demikian ragam hias tersebut memberi arti bahwa keluarga yang menempati rumah itu dapat berteduh dan mendapatkan ketentraman, keselamatan serta dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ragam hias praba berarti sinar, mengandung arti menyinari tiang-tiang yang terpancang di rumah tersebut, sehingga dapat menyinari rumah secara keseluruhan.
Ragam hias mega mendhung berarti awan putih dan awan hitam. Mega mendhung melambangkan dua sisi yang berbeda, seperti ada siang ada malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, tegak dan datar, hidup dan mati dan sebagainya. Dengan demikian ragam hias tersebut mengandung makna bahwasannya manusia dalam hidup di dunia ini harus selalu ingat bahwa di dunia ini ada dua sifat yang sangat berbeda, oleh karenanya setiap manusia harus mampu membedakan keduanya dan mana yang lebih bermanfaat dalam hidup sebagai pilihan.
Dewi I (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
Sumber: www.hupelita.com
Rumah bagi orang Jawa merupakan patokan tentramnya suatu keluarga, sebab dengan sudah mampu memiliki rumah, keluarga tersebut sudah merasa tenang, tidak harus nyewa atau ngindung (numpang).
Rumah-rumah yang ada di daerah perkotaan sangat padat, sehingga hampir tidak ada batas atau garis pemisah antara rumah satu dengan lainnya. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di daerah pedesaan, yang penduduknya masih memiliki pekarangan cukup luas, maka batas antar rumah sangat jelas, misalnya dibatasi pagar, pohon atau tanaman. Dahulu hanya orang yang tergolong dan terpandang dalam masyarakatlah, yang dapat membangun rumah joglo yang besar dan megah. Berbeda dengan orang biasa, pada umumnya mereka membangun rumah setengah permanen, atau rumah bentuk kampung ata rumah limasan sederhana. Perbedaan dari sebutan rumah itu dilihat dari atapnya dan kelengkapan ruangan dalam satu rumah. Tapi sekarang Rumah Joglo sudah dapat dibuat oleh golongan manapun asalkan cukup biayanya.
Bentuk Rumah
Orang Jawa menyebut rumah omah yang berarti tempat tinggal. Bentuknya empat persegi panjang atau bujur sangkar. Bentuk rumah joglo merupakan bentuk rumah tradisional Jawa yang paling sempurna. Bangunan ini memiliki bentuk dan teknik pembuatan tinggi, sehingga tampak sangat megah dan artistik. Keistimewaan rumah joglo terletak pada empat soko guru yang menyangga blandar tumpang sari. Kemudian bagian kerangka yang disebut brunjung yaitu bagian atas keempat soko guru atau tiang utama sampai bubungan yang disebut molo atau suwunan. Oleh karenanya rumah joglo banyak membutuhkan kayu sebagai bahan bangunannya.
Rumah tradisional Jawa bukanlah berbentuk panggung. Sebagai fondosi (bebatur) dibuat dari tanah yang ditinggikan dan dipadatkan atau diperkeras, yang menurut istilah setempat disebut dibrug. Tiang rumah didirikan di atas ompak, yaitu alas tiang dari batu alam berbentuk persegi empat, bulat atau segi delapan. Pada mulanya rumah joglo hanya bertiang empat seperti yang ada di bagian tengah rumah joglo jaman sekarang (soko guru). Selanjutnya joglo diberi tambahan pada bagian samping dan bagian lain, sehingga tiangnya bertambah sesuai dengan kebutuhan.
Susunan Ruangan
Dari halaman depan, pertama-tama yang kita temui adalah ruangan lepas terbuka yang disebut pendopo. Ruang ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, pertemuan bila ada musyawarah serta kegiatan kesenian seperti menari, bermain sandiwara atau pementasan wayang. Pada bagian pinggir pendopo, yaitu bagian emperannya dahulu tempat anak-anak perempuan bermain dakon. Pada waktu ada upacara atau pagelaran kesenian, pendopo ini menjadi tempat pertunjukkan. Sementara para undangan duduk di bagian kanan dan kiri ruang pendopo. Ruang terdepan diperuntukkan bagi iringan gamelan atau musik pemilik rumah beserta keluarga duduk dalam ruangan pendopo menghadap keluar searah bangunan.
Selanjutnya masuk ke ruangan tengah yang disebut pringgitan, tempat untuk mementaskan wayang (pringgit). Kadang-kadang antara pendopo dan pringgitan dibuat terpisah oleh gang kecil yang disebut longkangan. Ruang tersebut digunakan untuk jalan kendaraan kereta atau mobil keluarga. Bila pendopo bersambung dengan pringgitan, maka untuk pemberhentian kendaraan dibuat di depan pendopo, yang disebut kuncung.
Dari ruang tengah kemudian menuju ruang belakang, yang disebut dalem atau omah jero. Ruangan ini berfungsi sebagai ruang keluarga atau tempat menerima tamu wanita. Di kala ada pementasan wayang kulit, dahulu wanita hanya diperbolehkan menyaksikan di balik kelir, di ruangan ini. Di dalem atau rumah jero, terdapat tiga buah kamar atau senthong yaitu senthong kiwo (kiri), senthong tengah dan senthong tengen (kanan).
Pada para petani, senthong kiwo berfungsi untuk menyimpan senjata atau barang-barang keramat. Senthong tengah untuk menyimpan benih atau bibit akar-akaran atau gabah. Sedangkan senthong tengen untuk ruang tidur. Kadang-kadang senthong tengah dipakai pula untuk berdoa dan pemujaan kepada Dewi Sri. Oleh karenanya disebut juga pasren atau petanen. Senthong tengah tersebut diberi batas kain yang disebut langse atau gedhek, berhias anyaman yang disebut patang aring.
Pada rumah joglo milik bangsawan, senthong tengah ini berisi bermacam-macam benda lambang (perlengkapan) yang mempunyai kesatuan arti yang sakral (suci). Setiap benda memiliki arti lambang kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga. Sebelah kiri, kanan dan belakang senthong terdapat gandhok, yaitu bangunan kecil yang digunakan untuk tempat tinggal kerabat. Bila ada upacara atau kenduri, gandhok ini dipakai untuk tempat para wanita mengerjakan segala keperluan dan persiapan upacara terutama mengatur makanan yang sudah dimasak di dapur. Dapur (pawon) terletak di belakang dalem, yang selain untuk memasak, juga berfungsi sebagai tempat menyimpan perkakas dapur serta bahan makanan seperti kelapa, palawija, beras dan sebagainya. Antara gadhok kiri dan kanan dengan dalem, dibuat gerbang kecil yang disebut seketheng.
Ragam Hias
Fungsi hiasan pada suatu bangunan adalah untuk memberi keindahan, yang diharapkan dapat memberi ketentraman dan kesejukan bagi yang menempatinya. Pada orang Jawa di Yogyakarta, hiasan rumah tersebut banyak diilhami oleh flora, fauna, dan alam. Pada alas tiang yang disebut umpak, biasanya diberi hiasan terutama umpak pada soko guru. Hiasan tersebut berupa ukiran bermotif bunga mekar, yang disebut Padma. Padma adalah bunga teratai merah sebagai lambang kesucian, kokoh dan kuat yang tidak mudah tergoyahkan oleh segala macam bencana yang menimpanya.
Ragam hias lung-lungan merupakan ragam hias yang paling banyak dijumpai. Lung-lungan berarti batang tumbuh-tumbuhan melata yang masih muda. Hiasan ini biasanya diukirkan pada kayu, banyak mengambil gambar bunga teratai, bunga melati, daun markisa dan tanaman lain yang bersifat melata. Semua hiasan itu memberi arti ketentraman, di samping sifat wingit dan angker.
Ragam hias saton dan tlacapan merupakan dua kesatuan yang tidak terpisahkan, memberi arti persatuan dan kesatuan.
Ragam hias nanasan, mengambil contoh buah nanas yang penuh duri, melambangkan bahwa untuk mendapat sesuatu yang diinginkan, harus mampu mengatasi rintangan yang penuh duri.
Ragam hias yang banyak bernuansa fauna banyak mengambil gambar burung garuda, ayam jago, kala, dan ular. Burung garuda merupakan jenis burung yang paling besar yang mampu terbang tinggi di angkasa, melambangkan pemberantas kejahatan. Biasanya ragam hias garuda dipadukan dengan ragam hias ular, karena ular mempunyai unsur jahat.
Ragam hias jago yang mengambil gambar ayam jago, memiliki arti penghuni rumah mempunyai andalan pada berbagai bidang, baik anak laki-laki maupun perempuan, sebab andalan itu merupakan kebanggaan seluruh keluarga.
Ragam hias perwujudan alam berupa gunung, matahari, dan sebagainya.
Ragam hias gunungan berarti hiasan yang bentuknya mirip dengan gunung.
Gunungan merupakan lambang alam semesta dengan puncaknya yang melambangkan pula keagungan dan keesaan. Sedangkan kayon atau pohonnya melambangkan tempat berlindung dan ketentraman. Dengan demikian ragam hias tersebut memberi arti bahwa keluarga yang menempati rumah itu dapat berteduh dan mendapatkan ketentraman, keselamatan serta dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ragam hias praba berarti sinar, mengandung arti menyinari tiang-tiang yang terpancang di rumah tersebut, sehingga dapat menyinari rumah secara keseluruhan.
Ragam hias mega mendhung berarti awan putih dan awan hitam. Mega mendhung melambangkan dua sisi yang berbeda, seperti ada siang ada malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, tegak dan datar, hidup dan mati dan sebagainya. Dengan demikian ragam hias tersebut mengandung makna bahwasannya manusia dalam hidup di dunia ini harus selalu ingat bahwa di dunia ini ada dua sifat yang sangat berbeda, oleh karenanya setiap manusia harus mampu membedakan keduanya dan mana yang lebih bermanfaat dalam hidup sebagai pilihan.
Dewi I (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
Sumber: www.hupelita.com
Kajang Lako Rumah Orang Batin (Jambi)
Oleh Dewi Indrawati
Orang Batin adalah salah satu suku bangsa yang ada di Provinsi Jambi. Sampai sekarang orang Batin masih mempertahankan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, bahkan peninggalan bangunan tua pun masih bisa dinikmati keindahannya dan masih dipergunakan hingga kini.
Konon khabarnya orang Batin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari Koto Rayo. Ke 60 keluarga inilah yang merupakan asal mula Marga Batin V, dengan 5 dusun asal. Jadi daerah Marga Batin V itu berarti kumpulan 5 dusun yang asalnya dari satu dusun yang sama. Kelima dusun tersebut adalah Tanjung Muara Semayo, Dusun Seling, Dusun Kapuk, Dusun Pulau Aro, dan Dusun Muara Jernih. Daerah Margo Batin V kini masuk wilayah Kecamatan Tabir, dengan ibukotanya di Rantau Panjang, Kabupaten Sorolangun Bangko.
Pada awalnya orang Batin tinggal berkelompok, terdiri dari 5 kelompok asal yang membentuk 5 dusun. Salah satu perkampungan Batin yang masih utuh hingga sekarang adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang. Rumah-rumah di sana dibangun memanjang secara terpisah, berjarak sekitar 2 m, menghadap ke jalan. Di belakang rumah dibangun lumbung tempat menyimpan padi.
Pada umumnya mata pencaharian orang Batin adalah bertani, baik di ladang maupun di sawah. Selain itu, mereka juga berkebun, mencari hasil hutan, mendulang emas, dan mencari ikan di sungai.
Bentuk Rumah
Rumah tinggal orang Batin disebut Kajang Lako atau Rumah Lamo. Bentuk bubungan Rumah Lamo seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal, empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang tersebut dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya, dan dipengaruhi pula oleh hukum Islam.
Sebagai suatu bangunan tempat tinggal, rumah lamo terdiri dari beberapa bagian, yaitu bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban, dan tangga.
Bubungan/atap biasa juga disebut dengan 'gajah mabuk,' diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang, atau potong jerambah. Atap dibuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap rumah lamo kelihatan berbentuk segi tiga. Bentuk atap seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hari hujan, mempermudah sirkulasi udara, dan menyimpan barang.
Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atas sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah, bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasou bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.
Dinding/masinding rumah lamo dibuat dari papan, sedangkan pintunya terdiri dari 3 macam. Ketiga pintu tersebut adalah pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang. Pintu tegak berada di ujung sebelah kiri bangunan, berfungsi sebagai pintu masuk. Pintu tegak dibuat rendah sehingga setiap orang yang masuk ke rumah harus menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada si empunya rumah. Pintu masinding berfungsi sebagai jendela, terletak di ruang tamu. Pintu ini dapat digunakan untuk melihat ke bawah, sebagai ventilasi terutama pada waktu berlangsung upacara adat, dan untuk mempermudah orang yang ada di bawah untuk mengetahui apakah upacara adat sudah dimulai atau belum. Pintu balik melintang adalah jendela terdapat pada tiang balik melintang. Pintu itu digunakan oleh pemuka-pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, dan cerdik pandai.
Adapun jumlah tiang rumah lamo adalah 30 terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban. Tiang utama dipasang dalam bentuk enam, dengan panjang masing-masing 4,25 m. Tiang utama berfungsi sebagai tiang bawah (tongkat) dan sebagai tiang kerangka bangunan.
Lantai rumah adat dusun Lamo di Rantau Panjang, Jambi, dibuat bartingkat. Tingkatan pertama disebut lantai utama, yaitu lantai yang terdapat di ruang balik melintang. Dalam upacara adat, ruangan tersebut tidak bisa ditempati oleh sembarang orang karena dikhususkan untuk pemuka adat. Lantai utama dibuat dari belahan bambu yang dianyam dengan rotan. Tingkatan selanjutnya disebut lantai biasa. Lantai biasa di ruang balik menalam, ruang tamu biasa, ruang gaho, dan pelamban.
Tebar layar, berfungsi sebagai dinding dan penutup ruang atas. Untuk menahan tempias air hujan, terdapat di ujung sebelah kiri dan kanan bagian atas bangunan. Bahan yang digunakan adalah papan.
Penteh, adalah tempat untuk menyimpan terletak di bagian atas bangunan.
Bagian rumah selanjutnya adalah pelamban, yaitu bagian rumah terdepan yang berada di ujung sebelah kiri. Pelamban merupakan bangunan tambahan/seperti teras. Menurut adat setempat, pelamban digunakan sebagai ruang tunggu bagi tamu yang belum dipersilahkan masuk.
Sebagai ruang panggung, rumah tinggal orang Batin mempunyai 2 macam tangga. Yang pertama adalah tangga utama, yaitu tangga yang terdapat di sebelah kanan pelamban. Yang kedua adalah tangga penteh, digunakan untuk naik ke penteh.
Susunan Ruangan
Kajang Lako terdiri dari 8 ruangan, meliputi pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, ruang balik melintang, ruang balik menalam, ruang atas/penteh, dan ruang bawah/bauman.
Yang disebut pelamban adalah bagian bangunan yang berada di sebelah kiri bangunan induk. Lantainya terbuat dari bambu belah yang telah diawetkan dan dipasang agak jarang untuk mempermudah air mengalir ke bawah.
Ruang gaho adalah ruang yang terdapat di ujung sebelah kiri bangunan dengan arah memanjang. Pada ruang gaho terdapat ruang dapur, ruang tempat air dan ruang tempat menyimpan.
Ruang masinding adalah ruang depan yang berkaitan dengan masinding. Dalam musyawarah adat, ruangan ini dipergunakan untuk tempat duduk orang biasa. Ruang ini khusus untuk kaum laki-laki.
Ruang tengah adalah ruang yang berada di tengah-tengah bangunan. Antara ruang tengah dengan ruang masinding tidak memakai dinding. Pada saat pelaksanaan upacara adat, ruang tengah ini ditempati oleh para wanita.
Ruangan lain dalam rumah tinggal orang Batin adalah ruang balik menalam atau ruang dalam. Bagian-bagian dari ruang ini adalah ruang makan, ruang tidur orang tua, dan ruang tidur anak gadis.
Selanjutnya adalah ruang balik malintang. Ruang ini berada di ujung sebelah kanan bangunan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding. Lantai ruangan ini dibuat lebih tinggi daripada ruangan lainnya, karena dianggap sebagai ruang utama. Ruangan ini tidak boleh ditempati oleh sembarang orang. Besarnya ruang balik melintang adalah 2x9 m, sama dengan ruang gaho.
Rumah lamo juga mempunyai ruang atas yang disebut penteh. Ruangan ini berada di atas bangunan, dipergunakan untuk menyimpan barang. Selain ruang atas, juga ada ruang bawah atau bauman. Ruang ini tidak berlantai dan tidak berdinding, dipergunakan untuk menyimpan, memasak pada waktu ada pesta, serta kegiatan lainnya.
Ragam Hias
Bangunan rumah tinggal orang Batin dihiasi dengan beberapa motif ragam hias yang berbentuk ukir-ukiran. Motif ragam hias di sana adalah flora (tumbuh-tumbuhan) dan fauna (binatang).
Motif flora yang digunakan dalam ragam hias antara lain adalah motif bungo tanjung, motif tampuk manggis, dan motif bungo jeruk.
Motif bungo tanjung diukirkan di bagian depan masinding. Motif tampuk manggis juga di depan masinding dan di atas pintu, sedang bungo jeruk di luar rasuk (belandar) dan di atas pintu. Ragam hias dengan motif flora dibuat berwarna.
Ketiga motif ragam hias tersebut dimaksudkan untuk memperindah bentuk bangunan dan sebagai gambaran bahwa di sana banyak terdapat tumbuh-tumbuhan.
Adapun motif fauna yang digunakan dalam ragam hias adalah motif ikan. Ragam hias yang berbentuk ikan sudah distilir ke dalam bentuk daun-daunan yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan. Motif ikan dibuat tidak berwarna dan diukirkan di bagian bendul gaho serta balik melintang.
Dewi Indrawati (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
Sumber: www.hupelita.com
Orang Batin adalah salah satu suku bangsa yang ada di Provinsi Jambi. Sampai sekarang orang Batin masih mempertahankan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, bahkan peninggalan bangunan tua pun masih bisa dinikmati keindahannya dan masih dipergunakan hingga kini.
Konon khabarnya orang Batin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari Koto Rayo. Ke 60 keluarga inilah yang merupakan asal mula Marga Batin V, dengan 5 dusun asal. Jadi daerah Marga Batin V itu berarti kumpulan 5 dusun yang asalnya dari satu dusun yang sama. Kelima dusun tersebut adalah Tanjung Muara Semayo, Dusun Seling, Dusun Kapuk, Dusun Pulau Aro, dan Dusun Muara Jernih. Daerah Margo Batin V kini masuk wilayah Kecamatan Tabir, dengan ibukotanya di Rantau Panjang, Kabupaten Sorolangun Bangko.
Pada awalnya orang Batin tinggal berkelompok, terdiri dari 5 kelompok asal yang membentuk 5 dusun. Salah satu perkampungan Batin yang masih utuh hingga sekarang adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang. Rumah-rumah di sana dibangun memanjang secara terpisah, berjarak sekitar 2 m, menghadap ke jalan. Di belakang rumah dibangun lumbung tempat menyimpan padi.
Pada umumnya mata pencaharian orang Batin adalah bertani, baik di ladang maupun di sawah. Selain itu, mereka juga berkebun, mencari hasil hutan, mendulang emas, dan mencari ikan di sungai.
Bentuk Rumah
Rumah tinggal orang Batin disebut Kajang Lako atau Rumah Lamo. Bentuk bubungan Rumah Lamo seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas. Tipologi rumah lamo berbentuk bangsal, empat persegi panjang dengan ukuran panjang 12 m dan lebar 9 m. Bentuk empat persegi panjang tersebut dimaksudkan untuk mempermudah penyusunan ruangan yang disesuaikan dengan fungsinya, dan dipengaruhi pula oleh hukum Islam.
Sebagai suatu bangunan tempat tinggal, rumah lamo terdiri dari beberapa bagian, yaitu bubungan/atap, kasau bentuk, dinding, pintu/jendela, tiang, lantai, tebar layar, penteh, pelamban, dan tangga.
Bubungan/atap biasa juga disebut dengan 'gajah mabuk,' diambil dari nama pembuat rumah yang kala itu sedang mabuk cinta tetapi tidak mendapat restu dari orang tuanya. Bentuk bubungan disebut juga lipat kajang, atau potong jerambah. Atap dibuat dari mengkuang atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua. Dari samping, atap rumah lamo kelihatan berbentuk segi tiga. Bentuk atap seperti itu dimaksudkan untuk mempermudah turunnya air bila hari hujan, mempermudah sirkulasi udara, dan menyimpan barang.
Kasau Bentuk adalah atap yang berada di ujung atas sebelah atas. Kasau bentuk berada di depan dan belakang rumah, bentuknya miring, berfungsi untuk mencegah air masuk bila hujan. Kasou bentuk dibuat sepanjang 60 cm dan selebar bubungan.
Dinding/masinding rumah lamo dibuat dari papan, sedangkan pintunya terdiri dari 3 macam. Ketiga pintu tersebut adalah pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang. Pintu tegak berada di ujung sebelah kiri bangunan, berfungsi sebagai pintu masuk. Pintu tegak dibuat rendah sehingga setiap orang yang masuk ke rumah harus menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada si empunya rumah. Pintu masinding berfungsi sebagai jendela, terletak di ruang tamu. Pintu ini dapat digunakan untuk melihat ke bawah, sebagai ventilasi terutama pada waktu berlangsung upacara adat, dan untuk mempermudah orang yang ada di bawah untuk mengetahui apakah upacara adat sudah dimulai atau belum. Pintu balik melintang adalah jendela terdapat pada tiang balik melintang. Pintu itu digunakan oleh pemuka-pemuka adat, alim ulama, ninik mamak, dan cerdik pandai.
Adapun jumlah tiang rumah lamo adalah 30 terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban. Tiang utama dipasang dalam bentuk enam, dengan panjang masing-masing 4,25 m. Tiang utama berfungsi sebagai tiang bawah (tongkat) dan sebagai tiang kerangka bangunan.
Lantai rumah adat dusun Lamo di Rantau Panjang, Jambi, dibuat bartingkat. Tingkatan pertama disebut lantai utama, yaitu lantai yang terdapat di ruang balik melintang. Dalam upacara adat, ruangan tersebut tidak bisa ditempati oleh sembarang orang karena dikhususkan untuk pemuka adat. Lantai utama dibuat dari belahan bambu yang dianyam dengan rotan. Tingkatan selanjutnya disebut lantai biasa. Lantai biasa di ruang balik menalam, ruang tamu biasa, ruang gaho, dan pelamban.
Tebar layar, berfungsi sebagai dinding dan penutup ruang atas. Untuk menahan tempias air hujan, terdapat di ujung sebelah kiri dan kanan bagian atas bangunan. Bahan yang digunakan adalah papan.
Penteh, adalah tempat untuk menyimpan terletak di bagian atas bangunan.
Bagian rumah selanjutnya adalah pelamban, yaitu bagian rumah terdepan yang berada di ujung sebelah kiri. Pelamban merupakan bangunan tambahan/seperti teras. Menurut adat setempat, pelamban digunakan sebagai ruang tunggu bagi tamu yang belum dipersilahkan masuk.
Sebagai ruang panggung, rumah tinggal orang Batin mempunyai 2 macam tangga. Yang pertama adalah tangga utama, yaitu tangga yang terdapat di sebelah kanan pelamban. Yang kedua adalah tangga penteh, digunakan untuk naik ke penteh.
Susunan Ruangan
Kajang Lako terdiri dari 8 ruangan, meliputi pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, ruang balik melintang, ruang balik menalam, ruang atas/penteh, dan ruang bawah/bauman.
Yang disebut pelamban adalah bagian bangunan yang berada di sebelah kiri bangunan induk. Lantainya terbuat dari bambu belah yang telah diawetkan dan dipasang agak jarang untuk mempermudah air mengalir ke bawah.
Ruang gaho adalah ruang yang terdapat di ujung sebelah kiri bangunan dengan arah memanjang. Pada ruang gaho terdapat ruang dapur, ruang tempat air dan ruang tempat menyimpan.
Ruang masinding adalah ruang depan yang berkaitan dengan masinding. Dalam musyawarah adat, ruangan ini dipergunakan untuk tempat duduk orang biasa. Ruang ini khusus untuk kaum laki-laki.
Ruang tengah adalah ruang yang berada di tengah-tengah bangunan. Antara ruang tengah dengan ruang masinding tidak memakai dinding. Pada saat pelaksanaan upacara adat, ruang tengah ini ditempati oleh para wanita.
Ruangan lain dalam rumah tinggal orang Batin adalah ruang balik menalam atau ruang dalam. Bagian-bagian dari ruang ini adalah ruang makan, ruang tidur orang tua, dan ruang tidur anak gadis.
Selanjutnya adalah ruang balik malintang. Ruang ini berada di ujung sebelah kanan bangunan menghadap ke ruang tengah dan ruang masinding. Lantai ruangan ini dibuat lebih tinggi daripada ruangan lainnya, karena dianggap sebagai ruang utama. Ruangan ini tidak boleh ditempati oleh sembarang orang. Besarnya ruang balik melintang adalah 2x9 m, sama dengan ruang gaho.
Rumah lamo juga mempunyai ruang atas yang disebut penteh. Ruangan ini berada di atas bangunan, dipergunakan untuk menyimpan barang. Selain ruang atas, juga ada ruang bawah atau bauman. Ruang ini tidak berlantai dan tidak berdinding, dipergunakan untuk menyimpan, memasak pada waktu ada pesta, serta kegiatan lainnya.
Ragam Hias
Bangunan rumah tinggal orang Batin dihiasi dengan beberapa motif ragam hias yang berbentuk ukir-ukiran. Motif ragam hias di sana adalah flora (tumbuh-tumbuhan) dan fauna (binatang).
Motif flora yang digunakan dalam ragam hias antara lain adalah motif bungo tanjung, motif tampuk manggis, dan motif bungo jeruk.
Motif bungo tanjung diukirkan di bagian depan masinding. Motif tampuk manggis juga di depan masinding dan di atas pintu, sedang bungo jeruk di luar rasuk (belandar) dan di atas pintu. Ragam hias dengan motif flora dibuat berwarna.
Ketiga motif ragam hias tersebut dimaksudkan untuk memperindah bentuk bangunan dan sebagai gambaran bahwa di sana banyak terdapat tumbuh-tumbuhan.
Adapun motif fauna yang digunakan dalam ragam hias adalah motif ikan. Ragam hias yang berbentuk ikan sudah distilir ke dalam bentuk daun-daunan yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan. Motif ikan dibuat tidak berwarna dan diukirkan di bagian bendul gaho serta balik melintang.
Dewi Indrawati (Asdep Pemberdayaan Masyarakat/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
Sumber: www.hupelita.com