Cerita dimulai dengan kejenuhan Barry Seal (diperankan dengan karisma meluap-luap oleh Tom Cruise), seorang pilot komersial berbakat dari maskapai TWA yang mulai jenuh dengan rutinitas penerbangannya. Celah ini dimanfaatkan oleh seorang agen CIA oportunis bernama Monty Schafer (Domhnall Gleeson) yang recruit Barry untuk melakukan misi pengintaian udara rahasia di atas wilayah Komunis di Amerika Selatan menggunakan pesawat kecil yang dilengkapi kamera canggih.
Petualangan Barry melompat ke tingkat yang jauh lebih berbahaya ketika kemampuannya mengendus jalur udara tercium oleh Kartel Medellín yang dipimpin oleh Jorge Ochoa dan Pablo Escobar. Barry kemudian merangkap jabatan secara ekstrem: ia memotret markas pemberontak untuk CIA, menyelundupkan kokain berton-ton ke Amerika Serikat untuk kartel narkoba, hingga akhirnya ditugaskan CIA untuk mengirimkan senjata kepada kelompok pemberontak Kontra di Nikaragua. Uang tunai dalam jumlah jutaan dolar mengalir begitu cepat ke kehidupan Barry hingga ia dan istrinya, Lucy (Sarah Wright), kehabisan tempat untuk mengubur dan menyembunyikan tumpukan lembaran hijau tersebut di kota kecil Mena, Arkansas.
Keberhasilan film ini tidak lepas dari pesona bawaan Tom Cruise yang berhasil mendobrak persona pahlawan aksi sempurnanya. Di sini, Cruise tidak bermain sebagai agen rahasia yang menyelamatkan dunia, melainkan seorang antihero yang didorong oleh keserakahan, adrenalin, dan kenaifan yang akut. Cruise menampilkan Barry Seal bukan sebagai kriminal berdarah dingin yang jahat, melainkan sebagai seorang pria kekeluargaan yang terlalu mencintai tantangan navigasi udara dan terjebak dalam pusaran kapitalisme global yang liar.
Dinamika hubungan Barry dengan CIA dan Kartel Medellín mencerminkan kemunafikan geopolitik yang sangat kelam. Film ini dengan berani menunjukkan bagaimana institusi penegak hukum tertinggi Amerika Serikat rela menutup mata terhadap penyelundupan narkoba yang merusak generasi bangsanya sendiri, asalkan agenda politik luar negeri mereka untuk menumbangkan paham Komunis terpenuhi. Komparasi visual antara tumpukan uang kartel yang tidak muat di lemari Barry dengan dokumen-dokumen rahasia CIA yang dihancurkan di akhir cerita memberikan tamparan satir yang kuat mengenai siapa penjahat sebenarnya dalam sejarah Perang Dingin tersebut.
Dari segi estetika dan hiburan, American Made diakui sebagai salah satu pencapaian penyuntingan gambar yang sangat dinamis. Penata sinematografi César Charlone menggunakan palet warna yang jenuh, kekuningan, dan berbutir (grainy) untuk mereplikasi estetika seluloid tahun 1980-an, memberikan atmosfer dokumenter yang autentik sekaligus retro. Sutradara Doug Liman juga berhasil mengarahkan sekuens penerbangan taktis yang mendebarkan tanpa mengandalkan terlalu banyak efek CGI komputer, termasuk adegan ikonis saat Barry harus mendaratkan pesawatnya secara darurat di tengah pemukiman warga pinggiran kota demi menghindari kejaran agen federal.
Aspek audio dan narasi film ini juga memegang peranan krusial melalui penggunaan teknik sulih suara (voiceover) langsung dari Barry Seal. Sepanjang film, Barry mengisahkan petualangannya sendiri melalui rekaman kaset video amatir, memberikan sudut pandang personal yang jenaka sekaligus tragis karena penonton tahu bahwa ia sedang menghitung mundur hari-hari kematiannya. Musik pengiring yang diisi oleh lagu-lagu rock klasik era akhir 70-an dari band seperti The Allman Brothers Band dan Walter Murphy memberikan denyut nadi yang menyenangkan, membuat tempo film yang sangat cepat terasa seperti wahana taman bermain yang menegangkan namun adiktif.
Namun, dramatisasi Hollywood yang sangat tebal ini menjadi pedang bermata dua yang memicu kritik dari para sejarawan dan purist biografi. Demi menjaga ritme komedi dan kenyamanan penonton, film ini dinilai terlalu memperlembut realitas kekejaman Kartel Medellín dan dampak destruktif dari kecanduan kokain yang melanda Amerika akibat pasokan dari jalur Barry Seal. Karakter Barry dibuat terlalu simpatik, sehingga mengaburkan fakta bahwa tindakan nyatanya di dunia barat telah berkontribusi pada hilangnya banyak nyawa manusia.
Gaya penceritaan yang terlalu cepat dan fragmentaris juga membuat beberapa karakter pendukung, seperti sang istri Lucy atau para petinggi kartel, kekurangan ruang untuk eksplorasi karakter yang lebih mendalam. Secara keseluruhan, jika Anda mencari sebuah film dokumenter sejarah yang akurat, kaku, dan penuh dengan detail biografi yang muram, American Made mungkin akan terasa terlalu dangkal dan main-main. Sebaliknya, jika Anda mampu menikmati film ini sebagai sebuah sindiran politik yang cerdas, perjalanan aksi komedi yang liar, serta pembuktian kelas Tom Cruise dalam mengeksplorasi peran yang cacat secara moral, film ini adalah sebuah mahakarya hiburan sejarah yang sangat segar dan memikat untuk dinikmati.