Manik-manik di Indonesia

Pada 1993 terbit buku langka berjudul “Manik-manik Di Indonesia” ditulis oleh Sumarah Adhyatman dan Redjeki Arifin, diterbitkan oleh Penerbit Djambatan, Jakarta. Penulisnya adalah pakar keramik dan manik-manik. Buku ini sangat indah gambarnya berwarna, bahan kajiannya mencakup wilayah luas sehingga cukup lengkap. Buku ini sangat penting sebagai langkah awal untuk penelitian ilmiah di bidang arkeologi dan secara populer buku ini dapat menyemarakkan dunia pariwisata Indonesia. Tulisan di bawah ini merupakan ringkasan dari buku tersebut di atas dengan beberapa tambahan kecil.

Manik adalah sejenis benda yang relatif sangat kcil yang berlubang di tengahnya sebagai tempat untuk dimasuki sejenis benang atau tali dan selanjutnya dirangkai sebagai untaian. Keindahan manik ini tergantung pada bahan yang dipakai, bentuknya zat warna yang ditambahkan keterampilan dan teknik pembuatannya. Seorang ahli manik dari Amerika, Peter Francis Jr. mengatakan “Manik adalah benda indah. Setiap butir merupakan karya seni kecil. Sesungguhnya manik adalah bentuk seni pertama yang dikenal di mana pun. Semua orang menggemarinya: tidak ada yang tidak menggunakannya!”

Adapun fungsi manik dalam masyarakat ialah sebagai perhiasan dan sarana upacara keagamaan. Sebagai benda kuna manik sangat penting bagi penelitian arkeologi dan sejarah peradaban manusia.

Tempat Pembuatan dan Riwayatnya
Manik batu sudah dikenal di Mesir dan Mesopotamia sejak 6.500 tahun SM. Terbuat dari batu lapis lazuli, batu amber dari Laut Baltik, batu merjan dari Laut Tengah. Semuanya itu dipakai sebagai jimat. Teknik pembuatan manik batu dan pandai emas pada 2.500 tahun SM sangat baik. Benda manik ini kemudian tersebar ke Asia sebagai barang dagangan penting.

Di India pembuatan manik dari batu kuarsa sudah dikenal sejak ribuan tahun SM. Pusat penyebaran manik di India ialah Cambay dekat Gujarat di India Barat dan Arikamedu di pantai tenggara India.

Temuan Manik dan Bahannya di Indonesia
Di Indonesia temuan manik tersebar luas, tetapi relatif muda, yakni dari abad ke-12 M. Manik dari bahan batu, lempung dan kaca ditemukan di situs Bukit Patenggeng daerah Subang (Jawa Barat) pada penelitian tahun 1973 dan di situs Tri Donorejo di daerah Demak (Jawa Tengah) pada penelitian tahun 1977.

Kuarsa adalah bahan mineral yang paling umum, sejenis kristalin seperti batuan hablur dan kecubung serupa kaca yang menghablur dan tembus pandang. Adapun bahan semacam mikro-kistalin seperti kalsedon akik, oniks dan kornelian adalah padat, serba sama dan memiliki susunan hablur yang dapat dilihat dengan mikroskop.

Endapan batu akik ditemukan di daerah Sumedang (Jawa Barat) dan di daerah sekitar Padang (Sumatera Barat). Batu kornelian ditemukan di sebelah barat Sukabumi (Jawa Barat) dan di selatan Solo (Jawa Tengah). Adapun bahan hablur ditemukan di daerah Tulung Agung (Jawa Timur), Sumatera Barat dan Kalimantan Barat. Batu giok ditemukan di Papua, daerah Sumedang, Banten Selatan, Aceh dan Sumatera Utara.

Di situs Sriwijaya dekat Palembang (situs Karang Anyar dan Kambang Unglen) ditemukan manik dari bahan kaca warna putih, biru, kuning, hijau, hitam, merah-cokelat dan jingga. Di situs Air Sugihan (sebelah tenggara Palembang) ditemukan manik dari batu (dari bahan kornelian dan oniks), manik kaca jenis kaca emas beruas-ruas dan kaca Indo Pasifik.

Di situs Muara Jambi (30 km sebelah barat timur-laut kota Jambi) ditemukan manik dari bahan batu dan kaca, warnanya putih, biru muda, biru, hitam, merah-cokelat, jingga, hijau, kuning dan tungu. Umumnya manik batu yang ditemukan di Indonesia dibuat dari bahan kernelian, batuan bhablur, oniks, akik bergaris, kalsedon, kecubung dan batu hijau lunak.

Di luar penelitian arkeologi, jauh sebelumnya pernah ditemukan manik polikrom dari bahan kaca, polanya adalah gambar mata dan pancaran matahari. Temuan manik di daerah Batujaya (Karawang, Jawa Barat) yang jatuh ke tangan pedagang, emas butir di antaranya sama dengan temuan manik di Arikamedu (India). Ada pula manik asal Batujaya yang menjadi koleksi Museum Nasional yang berlekuk dan berlubang tiga: manik ini menurut Peter Francis adalah jenis manik Indo Pasifik.

Jenis Manik
Berdasarkan bahannya maka ada manik kaca, batu, kerang, tulang, biji-bijian, kayu, merjan, mutiara, damar, lempung dan logam. Bahan manik ini ikut menentukan keindahannya dan harganya jika dipasarkan. Manik dari lempung tentu tidak dapat mengalahkan manik dari batu atau kaca.

Teknik Pembuatan
Manik dibuat dengan tahapan:
- dibentuk
- dilubangi
- dihias

bahan manik yang dapat dilebur (misalnya logam dan kaca) atau dilunakkan (misalnya lempung dan damar), bentuknya dapat dicetak sesuai minat pembuatnya. Dalam proses pencetakan bentuk manik juga disiapkan lubang untuk tali penguntai. Jika bahannya keras seperti batu dan kayu, maka bentuknya dibuat dengan cara meraut, menggosok atau menggerinda, sedangkan lubang penguntai dibuat dengan cara dibor. Akibatnya bentuk manik sering tidak simetris dan bentuk lubang penguntai tidak lurus atau sama besarnya.

Teknik pembuatan hiasan, terutama pada manik yang warna-warni yang bahannya dapat dilebur, dikerjakan di bengkel peleburan. Manik dan bahan warna sama-sama dipanaskan kemudian bahan warna dioleskan dengan alat tertentu sehingga melekat sesuai dengan letak dan bentuk yang diinginkan.

Bentuk Manik
Benda kecil dan indah ini bentuknya bermacam-macam, yaitu cakram silinder, silinder, pipa, kerucut, bulat, elips, cincin, tabular, prisma, kubus, segi empat panjang, segi lima, segi enam, kubus tanpa sudut, prisma tanpa sudut, belah ketupat, manik berleher pipih, tong, belimbing, bidang banyak bergalur, berpembatas, murbel, piramid terpenggal, manik panel, beruas-ruas, panjang, manik burung, manik pancaran matahari, manik lukut tuma dan lain-lain.

Penggunaan manik di Indonesia ditandai dengan penggunaan kalung manik pada arca Nandi (lembu) yang sekarang dipajang di halaman dalam Museum Nasional, Jakarta. Makara pada candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga sering dihias dengan kalung manik. Selain sebagai hiasan badan, manik juga untuk menghias benda-benda upacara dan kemudian untuk menghias pakaian, tas dan berbagai perlengkapan. Khususnya di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan banyak pusat kerajinan dan toko manik yang menyediakan berbagai bentuk dan jenis barang dan manik atau berhias manik.

Tinggalan manik kuna perlu dikaji dan dilestarikan agar dapat menjadi acuan bagi studi ilmiah maupun acuan bagi pengembangan kerajinan manik karena hal ini dapat menghasilkan cinderamata yang indah, sehingga dapat menunjang perkembangan pawirisata Indonesia.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: