Lampu Gantung Perunggu di Jawa

Lampu gantung adalah lampu yang tidak didudukkan atau disandarkan pada benda atau tempat lain, tetapi diletakkan dalam posisi tergantung pada kawat atau rantai sehingga cahaya yang dipancarkannya dapat mencapai ruang yang luas. Lampu gantung dapat dibuat dari berbagai bahan seperti bambu, kayu, tanah liat, porselen atau logam. Yang penting bagian lampu yang bersentuhan dengan api harus dibuat dari bahan yang anti api. Bahan bakarnya dapat berupa minyak tanah, liin, biji buah jarak, dan biji-bijian lainnya yang mengandung minyak.

Bantuk lampu dibuat beraneka ragam sesuai dengan kemahiran pembuatnya. Lampu gantung perunggu ada yang berbentuk burung terbang, daun bunga bangunan, cawan dan bejana bercerat.

Teknik pembuatan
Komponen sebuah lampu gantung terdiri atas wadah bahan bakar, pegangan dan kait lengkung atau rantai sebagai alat untuk menggantungkan lampu dan kait lengkung atau rantai sebagai alat untuk menggantungkan lampu pada suatu tempat. Lampu gantung sebagai keseluruhan tidak mungkin dibuat dengan teknik cetak, tetapi komponen-komponen lampu ini dapat dicetak. Beberapa komponen lain dapat dibuat dengan teknik tempa setelah logam dipanaskan. Komponen lampu itu selanjutnya dirakit dengan cara dipateri atau dikaitkan pada lubang-lubang yang tersedia.

Fungsi lampu gantung
Lampu gantung berfungsi sebagai alat penerangan pada malam hari I tempat-tempat yang gelap. Karena adanya kepercayaan kepada api sebagai sat yang mempunyai kekuatan gaib, maka dalam upacara keagamaan sering dipergunakan api, dapat berwujud lampu menyala karena itu ada lampu upacara. Lampu upacara dan lampu untuk keperluan sehari-hari umumnya dibedakan.

Umur dan asal usul
Umur lampu perunggu tidak dapat dipastikan karena tempat temuannya tidak diketahui dan tidak bertuliskan angka tahun. Dari gayanya diduga lampu-lampu ini dibuat sebelum abad XV M. Asal usulnya juga tidak jelas karena lampu-lampu gantung ini diperoleh dengan cara membeli dari pedagang barang kuna yang datang ke kantor. Semua lampu gantung yang dibahas di sini adalah koleksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Bentuk-bentuk lampu gantung
1. Bentuk burung
Lampu gantung ini mungkin berasal dari Jawa Timur, tinggi 10 cm, panjang 14 cm, lebar 9 cm. Wadah minyaknya berbentuk lonjong; pada satu sisi ujungnya digambarkan kepala burung berleher panjang dan pada sisi lainnya digambarkan ekor burung yang sedang melengkung ke atas. Badan burung tidak berhias kecuali ekornya dibuat bentuk krawangan. Rantai pengaitnya hilang.

2. Bentuk bangunan
Lampu ini mungkin berasal dari Jawa Timur, tinggi 14,5 cm, panjang 14,5 cm dan lebar 7,5 cm. Wadah minyak berbentuk cawan berbingkai dengan sebuah cerat. Bangunannya ada di tengah seperti stupa beralaskan lapik tinggi. Pada badan stupa yang langsing ini ada lengan ke kanan dan ke kiri seolah-olah berkait pada pegangan lampu yang berawal dari bingkai wadah minyak. Dari titik temu ini ada simpai memayungi puncak stupa dan di atas simpai ada lagi payung atau chattra. Rantai penggantungnya hilang.

3. Bentuk daun bunga
Model lampu ini mungkin berasal dari Jawa Tengah tinggi 17 cm, lebar 14,5 cm dan garis tengah wadah minyak 8,5 cm. Wadah minyak ini berbentuk daun bunga yang kedua ujungnya runcing. Pegangannya berasal dari penyangga di bawah daun bunga yang melengkung ke atas dan bertemu dengan gantungan. Lampu ini tanpa hiasan dan rantainya hilang.

4. Bentuk burung bersayap
Lampu ini berasal dari masa Jawa Timur, tinggi 24 cm, lebar 17,5 cm dan panjang rantai 32,5 cm. Pada tepi wadah minyak berdiri sepasang kaki burung yang sayapnya membentang lebar. Di kepala burung ada orang laki-laki duduk, tangan kanannya memegang kepala burung. Ekor burung melengkung ke atas sehingga melindungi badan orang. Sayang burung menempel pada pegangan lampu yang membentuk segi empat panjang. Di atasnya terdapat payung yang melindungi lengkungan tempat berkaitnya rantai.

5. bentuk bejana
Lampu ini mungkin berasal dari Jawa Tengah, tinggi 19,5 cm, panjang 22 cm, lebar 19 cm, panjang rantai 43 cm. Bentuk bejana bulat dengan dua cerat panjang dan dua kelopak bunga pada dua sisinya. Pegangan lampu berawal dari pundak bejana yang tidak bercerat, terus ke puncak yang berbentuk daun pepaya dan di atasnya ada kait rantai.

Selanjutnya masih banyak bentuk-bentuk lampu gantung yang tidak dapat dituturkan semuanya pada media ini.

Lampu gantung perunggu dari masa Klaik Indonesia (abad V-XV M) ini sudah tidak dibuat lagi sejak beberapa abad yang silam. Tinggalan lampu-lampu ini sebagian sudah keropos dimakan waktu, tetapi masih bernilai seni tinggi. Karena lampu-lampu kuna ini merupakan warisan kebudayaan nenek moyang kita maka kita tetap harus menjaga kelestariannya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: