Showing posts with label Peralatan Rumah Tangga. Show all posts
Showing posts with label Peralatan Rumah Tangga. Show all posts

Kukor

Kukor atau kukuran adalah sebutan orang Lampung bagi alat untuk memisahkan daging buah kelapa dari tempurungnya. Kukor terbuat dan bahan kayu yang dibentuk sedemikian rupa untuk dapat dijadikan sebagai tempat duduk. Proses membuat tempat duduk ini dapat dilakukan sendiri atau didapat dengan membeli dari pembuatnya. Pada bagian atas dari kukor dipasang sebilah mata pisau terbuat dan besi yang hanya dapat dibuat oleh pandai besi. Untuk membelinya dapat dengan memesan ke Si pandai besi sendiri atau di pasar tradisional.

Pemais

Pemais adalah sebutan orang Lampung bagi alat pengawet ikan dengan menyalai atau memepesnya. Cara menggunakan alat yang terbuat dari tanah liat ini adalah dengan menaruhnya di atas tungku yang sudah menyala. Pemepesan dilakukan selama beberapa menit hingga ikan menjadi matang. Saat memepes, kadang-kadang pemais ditindih lagi dengan batu agar debu dari bara api tungku tidak mengotori pepesan ikan. Hasilnya, ikan akan matang secara merata dan bebas dari debu atau bara api tungku.

Batu Kisar

Batu kisar adalah sebutan orang Melayu di Malaysia bagi sebuah peralatan rumah tangga yang berfungsi sebagai penumbuk bahan makanan, seperti: beras, beras ketan, kacang hijau, dan lain sebagainya hingga menjadi tepung. Selain itu, batu kisar juga dapat difungsikan untuk menumbuk atau meramu bahan-bahan pembuat obat-obatan tradisional.

Sesuai dengan namanya, peralatan ini terbuat dari batu berjenis granit yang terdiri atas dua komponen, yaitu anak dan induk. Induk batu kisar pada bagian tengahnya memiliki lubang sebagai ruang penampung bahan yang akan ditumbuk. Disamping lubang, bagian induk juga memiliki alur untuk mengalirkan air sisa tumbukan. Sedangkan yang disebut anaknya adalah berupa sebatang kayu lonjong yang ujungnya dibuat bulat sedemikian rupa agar pas/cocok/muat dengan lubang induk.

Bahan yang akan dikisar umumnya akan direndam terlebih dahulu agar mudah dilembutkan. Kemudian sedikit-demi sedikit dimasukkan ke dalam lubang kisar serta diberi sejumlah air agar hasil tumbukan tidak menjadi kasar. Hasil kisaran atau tumbukan akan berbentuk menyerupai tepung basah. Dan, bila ingin digunakan harus ditiris terlebih dahulu untuk memisahkan air dan tepung hasil tumbukan.

Petikas

Petikas atau biasa disebut juga dengan bak adalah sebutan orang Lampung bagi tempat menyimpan butiran padi atau beras yang telah terkelupas kulitnya setelah ditumbuk. Petikas dibuat dari kayu papan teras dengan bagian atas memakai tutup yang mudah dibuka. Sebelum dibentuk sedemikian rupa menjadi petikas, papan teras akan diserut menggunakan benda tajam (mis. Golok) agar terlihat rapi. Dan, setelah terbentuk peralatan penyimpan ini biasanya diletakkan di dapur atau di tempat yang mudah dijangkau ketika isinya akan ditanak.

Lekar

Lekar adalah sebutan masyarakat Melayu di Malaysia untuk sebuah benda yang berfungsi sebagai alas atau wadah makanan. Lekar terbuat dari rotan yang dianyam sedemikian rupa hingga menyerupai piring yang bagian bawah dan tepinya tidak rapat (berlubang). Selain rotan, lekar juga dapat berbahan baku lidi. Adapun cara membuatnya diawali dengan merangkai bagian alas dalam satu bingkai agar bilah-bilah lidi atau rotan tidak mudah terurai. Selanjutnya, pada setiap ujung lidi atau rotan dilenturkan agar dapat dianyam berselang-seling antara satu dengan lainnya membentuk corak yang diinginkan. Terakhir, ujung-ujung lidi atau rotan diselipkan agar anyaman tidak longgar dan terurai.

Foto: http://www.tehramuan.com/lekar.html

Lesung

Bercocok tanam adalah teknologi untuk menggarap tanah sampai menghasilkan panen tanaman untuk keperluan hidup (Koentjaraningrat, dkk, 2003:25). Apabila diklasifikasikan, bercocok tanam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu di ladang (tanah kering) dan di sawah (tanah basah). Keduanya memiliki tahap yang bila digeneralisasikan terdiri atas: pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan pemungutan hasil (panen).

Apabila jenis tanaman yang diusahakan adalah padi, apabila seluruh hasil panen terkumpul, dijemur sampai kering dan baru kemudian disimpan. Di daerah Jawa Barat penjemuran padi biasanya beralaskan giribig (semacam tikar terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran 2x3 meter), kain terpal atau lantai yang di plester. Bila jenisnya pare leutik (padi kecil), cara menjemurnya adalah dengan menebarkannya di atas giribig. Agar kering merata padi perlu dibolak-balikkan dengan alat yang dinamakan sosorong. Sementara bila jenisnya pare gede (padi besar), cara menjemurnya adalah dengan dijebrakeun, yaitu ikatan padi berada di bawah dan tertutupi oleh untaian-untaian butir padi, sehingga hampir seluruh butir padi akan tersinari panas matahari. Setelah itu dijemur dengan posisi yang berlawanan dari arah sebelumnya sehingga ikatan padi berada di atas. Demikianlah seterusnya sampai padi kering secara merata.

Pare leutik yang telah kering dan tidak lagi panas kena sinar matahari, dapat langsung dimasukkan ke dalam karung atau wadah untuk kemudian disimpan. Sedangkan pare gede terlebih dahulu harus melalui tahap mangkek (mengikat padi). Caranya dimulai dengan diguar (ikatan padi dibuka) lalu dibalikkan supaya bagian dalam menjadi di luar. Setelah itu nyabutan salakop atau mencabuti tangkai padi atau jerami yang terlepas supaya bersih dan rapi. Selanjutnya dipapakeun (tangkai padi diratakan dengan cara dipukul-pukul ujungnya), lalu diikat dengan tali bambu yang telah diolesi tanah liat agar lentur. Untuk memperkuat ikatan, dibantu dengan alat yang disebut pahul, yaitu tongkat kayu atau bambu yang panjangnya dua jengkal dan garis tengahnya kurang lebih 2 centimeter. Cara mengencangkannya, ujung tali diikatkan pada pahul, sementara itu ujung yang lain diikatkan pada batang-batang padi, kemudian pahul diputar sehingga ikatan menjadi kencang.

Dahulu, padi yang telah kering akan disimpan di dalam leuit (lumbung) yang letaknya di samping atau belakang, terpisah dari rumah utama. Jika ingin dijadikan beras, padi akan diambil secukupnya lalu diinjak-injak hingga menjadi gabah, kemudian dimasukkan ke dalam lisung (lesung) untuk ditumbuk agar lepas kulitnya menggunakan halu atau alu. Lesung adalah lumpang kayu panjang yang digunakan untuk menumbuk padi dan sebagainya (kbbi.web.id). Menurut id.wikipedia.org, lesung umumnya terbuat dari kayu berbentuk menyerupai perahu kecil dengan panjang sekitar 2 meter, lebar 0,5 meter, dan berkedalaman sekitar 40 centimeter. Adapun alat penumbuknya yang disebut sebagai alu atau halu berbentuk tongkat setinggi sekitar 1,5 meter.

Selanjutnya, agar beras tersebut menjadi bersih (putih), maka perlu ditumbuk lagi dan ditampi dengan alat yang disebut nyiru atau niru. Dengan cara sedemikian rupa, kulit ari padi akan terbang jatuh terpisah dari beras yang akan tertinggal pada nyiru tersebut. Kulit ari tersebut dapat dimakfaatkan sebagai pakan ayam dan bebek. Sedangkan berasnya dapat langsung ditanak atau disimpan dalam gentong atau padaringan (tempayan gerabah). Namun, dewasa ini para petani tidak perlu memberaskan dengan cara “tradisional” sebagaimana yang diuraikan di atas. Mereka dapat memberaskan ke penggilingan-penggilingan padi yang ada di Desanya. (ali gufron)
Sumber:
Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan, dkk. 2003. Kamus Istilah Antropologi, Jakarta: Progres
"Lesung", diakses dari http://kbbi.web.id/lesung, tanggal 26 Agustus 2016.
"Lesung", diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lesung, tanggal 26 Agustus 2016.

Unem

Unem adalah peralatan tradisional yang digunakan oleh orang Sunda untuk membawa atau memindahkan beras dari satu tempat ke tempat lainnya. Unem dibuat dari tempurung kelapa yang dibentuk menyerupai cawan dengan kapasitas bergantung dari besarnya tempurung yang didapat. Cara menggunakannya dengan disipat, yaitu meratakan beras pada permukaaan unem dengan alat yang disebut gegeloh (sejengkal bambu atau kayu yang dibentuk menyerupai silinder).

Sap Dudung

Sap dudung adalah sebuah tempat menyimpan berbagai macam benda ringan. Oleh kaum perempuan sukubangsa Lampung, sap dudung umumnya digunakan sebagai tempat menyimpan bahan jahitan atau pakaian. Sap dudung dibuat dari anyaman rotan halus yang diperindah, memakai pegangan agar mudah diangkat dan dibawa. Pada tepi bagian tutupnya dipergunakan bilah rotan sebagai pengunci.

Tukkeu/tukkuw

Tukkeu atau tukkuw adalah istilah orang Pepadun di Lampung Utara untuk menyebut alat atau wadah untuk memasak (membakar, merebus, menggoreng) sesuatu dengan memakai bahan bakar kayu. Tukkeu dapat berbentuk sederhana terdiri dari susunan batu atau batu bata yang diatur sedemikian rupa sehingga bahan bakar kayu terlindung dari angin dan panas yang dihasilkan dapat diarahkan. Selain itu, tukkeu juga dapat dibuat dari tanah liat dengan bentuk yang lebih tertutup sehingga panas yang dihasilkan lebih merata. Tukkeu jenis ini mulai marak lagi di daerah Lampung Utara dengan istilah baru, yaitu Tungku SBY.

Pemberian nama baru tersebut konon disebabkan oleh adanya beberapa kali kenaikan harga bahan bakar minyak pada masa periode pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Sebagian masyarakat yang merasa terbebani dengan kenaikan harga BBM, ada yang beralih lagi menggunakan alat masak tradisional tukkeu dan ada pula yang menggunakannya secara bergantian dengan alat masak (kompor) berbahan bakar gas sebagai penghematan biaya.

Tungku SBY sebenarnya dapat dibuat sendiri karena bahannya hanya berupa tanah liat. Tetapi karena proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama, mayoritas rumah tangga di Lampung Utara membelinya di pasar tradisional terdekat dengan harga berkisar antara Rp.20-50 ribu rupiah. Adapun proses pembuatannya adalah sebagai berikut.

Pertama, adalah tahap pengumpulan bahan berupa tanah liat. Tanah liat dapat diambil dari tempat-tempat tertentu di pekarangan rumah atau perladangan yang tidak banyak mengandung batu atau kerikil dengan menggunakan tembilang dan atau belibay (cangkul). Setelah terkumpul, tanah liat dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari. Bila telah kering, tanah ditumbuk lalu diayak untuk memperoleh butiran-butiran tanah yang agak halus.

Tahap selanjutnya adalah mencampur tanah yang telah diayak tadi dengan air untuk dijadikan adonan pembentuk tukkeu. Bila telah liat barulah tanah dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah tukkeu berbentuk bulat-lonjong dengan lubang pada bagian tengah dan atasnya. Lubang bagian atas berguna sebagai tempat menaruh peralatan masak (panci, wajan, oven bakar), sedangkan lubang tengah sebagai tempat menaruh bahan bakar (kayu, ranting kering, sabut kelapa, arang). Dan, sebelum dapat digunakan, tukkeu atau tungku SBY dikeringkan dengan cara diangin-anginkan untuk menghindari keretakan akibat penyerapan dan penguapan kadar air yang tidak merata. Setelah agak kering baru dilanjutkan dengan menjemurnya pada terik sinar matahari selama sekitar 10 hari. (Ali Gufron)


Sumber:
Ibu Hindun (54 Tahun)
Desa Peraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara

Pepara

Pepara adalah tempat meletakkan/menyimpan bahan makanan kering, seperti gula aren yang sudah dibungkus daun pisang, berbagai jenis bumbu dapur atau ikan kering dan garam. Pepara dibuat dari bahan anyaman bambu yang digantungkan pada atap dapur atau di bawah rumah, dan biasanya diletakkan di dekat perapian.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemem Pendidikan dan Kebudayaan.

Kucundang

Kucundang adalah sejenis bakul yang memakai pegangan, wadah penyimpan hasil produksi lada dan kopi yang bersifat sementara. Dibuat dari bahan bambu yang dianyam rapat atau jarang, atau dari anyaman rotan. Kucundang ini dapat diangkat dan dibawa dengan cara digenggam.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Senik

Senik adalah sebutan masyarakat Lampung bagi sebuah wadah yang berfungsi sebagai tempat meletakkan benda-benda ringan, seperti alat dan bahan rajutan, termasuk tempat meletakkan guntingm pisau, jarum dan kepingan-kepingan logam yang telah dibentuk dalam usaha industri rumah, misalnya bagi tukang pembuat alat perlengkapan adat. Senik terbuat dari bahan anyaman rotan yang agak sajrang, bentuknya bulat atau lonjong terbuka, dengan pemegang untuk diangkat.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemem Pendidikan dan Kebudayaan.

Walai (Lampung)

Walai adalah tempat menyimpan padi cangkang. Berbentuk seperti bangunan rumah kecil yang berdinding papan atau heribik bambu, beratap lalang atau belahan papan tipis, bertiang agak tinggi dan pada tiang bagian bawah diberi perintang mencegah naiknya tikus. Walai ini bertangga yang dapat diangkat ke atas lantai papan. Biasanya lubung padi ini didirikan berdekatan dengan sapu di huma (ladang) masyarakat yang sudah hidup mengelompok (umbulan).

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemem Pendidikan dan Kebudayaan.

Gerobok (Lampung)

Gerobok adalah selmari kecil yang dahulu dapat dibuat sendiri atau dibeli di pasar. Gerobok ini memakai pintu ganda yang sebagian berkaca, terbuat dari bahan kayu yang tahan lama, bentuknya segi empat meninggi dan bertiang pendek. Digunakan sebagai tempat menyimpan pakaian dan perhiasan. Bentuk gerobok ada yang sederhana, dan ada juga yang berukir-ukir pada dinding muka dan atas.

Sumber:
Hadikusuma, Hilman, dkk. 1978. Adat Istiadat Derah Lampung. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemem Pendidikan dan Kebudayaan.

Aseupan (Jawa Barat)

Aseupan atau kukusan adalah suatu wadah untuk mengukus nasi atau makanan lain. Aseupan berbentuk kerucut dan terbuat dari bambu yang dianyam. Seperti halnya seeng, aseupan merupakan alat memasak makanan yang penting yakni untuk menanak nasi. Oleh sebab itu hampir di setiap dapur masyarakat Sunda selalu didapati aseupan.

Sumber:
Sucipto, Toto, Rosyadi, dkk,. 2000. Kebudayaan Masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak. Bandung: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jawa Barat.

Tarra (Provinsi Jambi)

Pengantar
Jambi1) adalah salah satu provinsi di Indonesia. Secara astronomis, provinsi yang terletak di pesisir timur bagian tengah pulau Sumatera dengan luas wilayah 5.180,35 km2 ini, berada diantara 1°15’-- 2°2’ Lintang Selatan (LS) dan 102°30'--104°30' Bujur Timur (BT). Sukubangsa Jambi (baca Melayu-Jambi) adalah salah satu sukubangsa yang ada di provinsi ini. Matapencaharian mereka cukup bervariasi, mulai dari bercocok tanam padi di ladang, pegawai negeri (ABRI), sampai ke berdagang. Bahkan, dalam berladang, menangkap ikan, dan berburu, mereka mengembangkan peralatan tersendiri, seperti: tuba akar, taiman, ambat, tangkul, kacar, sukam, lukah, rawe, cemetik, dan takalak. Demikian juga dalam perdagangan, khususnya sebagai pedagang di pasar-pasar tradisional di Kecamatan Muara Jambi (Kabupaten Batanghari), mereka mengembangkan peralatan timbang dan takar, seperti: dacing, gantang, kaleng, cupak, canting, taning dan cucuk. Peralatan tersebut secara keseluruhan, oleh masyarakat setempat, disebut sebagai tarra.

Urian di atas menunjukkan bahwa orang Melayu-Jambi tidak hanya mengenal peralatan yang berkenaan dengan perladangan, penangkapan ikan, dan perburuan binatang, tetapi juga perdagangan. Akan tetapi, tulisan ini hanya akan membahas tentang peralatan timbang dan takar (tarra) dari segi bentuk dan kegunaannya.

Tarra dan Kegunaanya
1. Dacing
Dacing adalah alat yang digunakan untuk mengukur atau menimbang berat suatu barang. Alat yang terbuat dari perunggu ini digunakan oleh para pedagang untuk menimbang berat suatu barang. Dacing yang kecil berdaya ukur-berat 10 kilogram, sedangkan dacing yang terbesar berdaya ukur-berat maksimal 100 kilogram (1 kwintal).

Pada batang dacing terdapat angka-angka petunjuk volume untuk mengukur berat suatu barang. Bentuknya menyerupai tongkat (bulat panjang), dengan diameter kira-kira 1 cm. Pada bagian tengahnya terdapat gelang atau logam melengkung yang fungsinya sebagai penggantung dacing. Oleh karena tergantung-gantung, maka dacing sering disebut juga dengan istilah “timbangan gantung”. Sedangkan, pada dacing kecil ada piring logam yang tergantung dengan rantai-rantai logam (kuningan) yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung sesuatu (barang) yang akan ditimbang.

2. Gantang
Gantang adalah alat yang digunakan untuk menakar volume beras. Dari segi bahannya, alat ini ada yang terbuat dari kayu dan ada yang terbuat dari logam. Kayu yang dijadikan alat ini adalah kayu yang keras tetapi seratnya lembut. Dan, kayu itu oleh masyarakat setempat disebut padero. Kayu tersebut dibuat sedemikian rupa, sehingga berbentuk bulat lonjong dengan tinggi sekitar 1,5 cm dan lebar “mulutnya” berdiameter 10 cm. Sedangkan, gantang yang terbuat dari logam dapat diperoleh dengan mudah karena telah diproduksi oleh pabrik. Gantang logam ini disamping mudah didapat tetapi juga tahan lama. Oleh karena itu, gantang kayu sudah mulai ditinggalkan.

3. Kaleng
Kaleng juga dapat dipakai untuk menakar volume beras. Namun, jarang yang melakukannya. Kebanyakan kaleng dipakai untuk menakar kacang tanah, jagung dan cabe giling. Ukuran kaleng beraneka ragam, namun bentuknya sama, yaitu persegi panjang (kotak). Kaleng yang terbesar kira-kira berukuran 30 x 30 x 50 cm. Cara memperolehnya adalah memanfaatkan kaleng bekas tempat minyak sayur, roti kering, kapur/gamping sirih, atau tempat barang-barang lain yang memakai bahan dari kaleng/seng yang berbentuk kotak.

4. Cupak
Cupak adalah alat yang digunakan untuk menakar atau menentukan volume suatu barang yang berbutir (beras, kedelai, kacang tanah dan lain-lain). Alat ini dibuat dari tempurung kelapa yang sudah dibersihkan dan dihaluskan. Cupak juga sering digunakan untuk mengeluarkan beras dari karung ke gantang, namun beras yang dimasukkan ke dalam cupak ini jumlahnya relatif kecil. Selain untuk alat takar, cupak juga digunakan oleh para ibu rumah tangga untuk mengukur/menakar beras yang akan ditanak.

5. Canting
Canting fungsinya sebenarnya sama dengan cupak, yaitu alat untuk menakar beras. Bedanya, jika cupak terbuat dari tempurung kelapa, maka canting terbuat dari seng (kaleng bekas produk susu). Cara membuatnya adalah dengan memotong salah satu bulatan di ujung kaleng, lalu dibersihkan dan jadilah alat yang disebut sebagai canting. Alat ini dinilai lebih praktis ketimbang cupak. Oleh karena itu, cupak sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

6. Taning
Taning adalah tali yang terbuat dari ilalang atau kulit bambu yang diikatkan pada buah-buahan yang dipetik dengan tangkainya (rambai, petai, rambutan dan lain-lain). Jadi taning dapat berarti ikat. Contohnya, satu taning rambai berarti satu ikat rambai, satu taning petai berarti satu ikat petai. Dalam satu taning terdiri dari 5--10 tangkai buahan-buahan.

7. Cucuk
Sama seperti taning, cucuk juga merupakan sebuah tali yang terbuat dari rumput/ilalang atau kulit bambu. Namun, cucuk digunakan untuk mengikat ikan dengan cara mencucukkannya ke mulut ikan melalui insangnya. Dalam satu cucuk dapat terdiri dari 4--10 ekor ikan, tergantung dari ukuran ikan yang akan diikat atau dicucuk. Apabila yang akan dicucuk ikan-ikan yang berukuran sebesar telapak tangan, maka satu cucuk dapat untuk 10 ekor ikan. Namun apabila ukurannya dua kali telapak tangan, maka satu cucuk hanya untuk 4--7 ekor ikan. Kalau untuk ikan yang lebih besar lagi, tidak diikat dengan cucuk, tetapi dengan jenis tali lain yang disebut ekok. Satu ekok berarti satu ekor ikan. Sedangkan apabila ukuran ikannya kecil seperti ikan teri dan siluang maka tidak dicucuk atau dijual perekor, melainkan ditumpuk/digelar di atas sehelai tikar atau plastik, cara menakarnya disebut dengan cumpuk. Cumpuk adalah takaran untuk ikan yang jumlahnya sekitar 3--4 genggaman tangan.

Penutup
Hingga tahun 90-an masyarakat Jambi (Melayu-Jambi), khususnya yang hidup di Kecamatan Muara Jambi dan Kabupaten Batanghari masih menggunakan peralatan tradisional, seperti dacing, gantang, kaleng, cupak, canting, taning dan cucuk dalam perdagangan (di pasar tradisional). Peralatan-peralatan tersebut oleh mereka disebut tarra. Bahkan, diataranya (cupak) masih digunakan dalam rumah tangga, yaitu untuk menakar beras yang akan ditanak. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, alat-alat tersebut ada yang sebagian masih digunakan dan ada pula yang mulai ditinggalkan dan diganti dengan alat lain yang lebih praktis (mudah dibuat) dan tahan lama. (Pepeng)

Sumber:
Siregar, J. dkk. 1991. Peranan Pasar Pada Masyarakat Pedesaan di Daerah Jambi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Seeng (Jawa Barat)

Seeng (dandang) adalah suatu tempat untuk memasak nasi yang sudah diaroni. Seeng berbentuk tinggi ramping, bagian dalam berongga seperti silinder, bagian bawah membesar, bagian atas membesar, menyempit di tengah dan alasnya agak cembung. Bahan bakunya ada yang terbuat dari tembaga dan ada pula dari aluminium yang merupakan produksi pabrik. Seeng ini merupakan alat memasak makanan yang paling penting, terutama untuk memenuhi makanan pokok yakni nasi. Oleh sebab itu hampir setiap keluarga masyarakat Sunda memiliki seeng yang digunakan untuk memasak nasi, sekalipun dengan ukuran yang berbeda misalnya ada yang kecil, sedang atau besar. Untuk mendapatkan seeng bisa dibeli dari pedagang keliling atau di pasar.

Sumber:
Sucipto, Toto, Rosyadi, dkk,. 2000. Kebudayaan Masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak. Bandung: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jawa Barat.

Tolombong (Jawa Barat)

Tolombong adalah wadah berbentuk bundar cekung dengan alas agak persegi dan bahannya terbuat dari bambu yang dianyam rapat. Tolombong dapat dikatakan wadah serba guna, bisa digunakan untuk tempat nasi atau menyimpan barang pecah belah. Selain itu, tolombong juga digunakan untuk tempat menyimpan bahan makanan dan dipergunakan sebagai wadah gabah yang diangkut dari sawah ke rumah. 

Sumber: Sucipto, Toto, Rosyadi, dkk,. 2000. Kebudayaan Masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak. Bandung: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jawa Barat.

Boboko (Jawa Barat)

Boboko adalah suatu tempat untuk mencuci beras atau wadah nasi. Boboko terbuat dari bambu yang dianyam rapat, berbentuk bundar cembung dengan kaki segi empat yang disebut soko. Sisi permukaan wadah diberi wengku yang dililitkan dengan bambu tali. Pada masyarakat Sunda, boboko digunakan juga untuk menyimpan barang makanan yang akan dikirimkan ke tetangga atau saudara.

Sumber:
Sucipto, Toto, Rosyadi, dkk,. 2000. Kebudayaan Masyarakat Sunda di Kabupaten Lebak. Bandung: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Jawa Barat.

Runcung (Lampung)

Runcung terbuat dari tanah lempung yang dibakar. Bentuk runcung bulat, leher pendek. Alat ini dipergunakan untuk menyimpan cadangan beras sebelum dimasak menjadi nasi. Penyimpanan beras dalam runcung dimaksudkan agar beras dapat tahan lama dan tidak mudah dimakan rayap atau hama beras lainnya. Cara pengadaannya dilakukan dengan membeli di pasar.

Sumber:
Sucipto, Toto, dkk,. 2003. Kebudayaan Masyarakat Lampung di Kabupaten Lampung Timur. Bandung: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive