Keris Hasil Budaya Bangsa Indonesia

Fungsi museum diantaranya mengumpulkan, merawat dan memamerkan bukti-bukti peninggalan budaya dan alam agar lestari dan bermanfaat bagi peradaban manusia.

Keris sebagai hasil budaya bangsa Indonesia yang khas, turut tampil serta memperkaya museum sebagai benda koleksi.

Latar belakang
Keris sering juga disebut duwung, curiga atau tosan aji. Fungsi keris mengalami perubahan, yang semula sebagai senjata kemudian berumah menjadi benda keramat, pusaka yang dipuja, lambang ikatan keluarga, tanda jasa, tanda pangkat atau jabatan, kemudian yang terakhir sebagai barang seni dan cindera mata.

Masing-masing daerah mempunyai keris yang bercorak khas. Misalnya keris Jawa dengan ukuran sedang dan pendek bulat; Keris Bali dengan hiasan meriah dari permata dan pegangan berbentuk manusia; Keris Madura dengan pendok berhiaskan topeng; keris Sumatera dengan pegangan berbentuk burung; Keris Sulawesi dengan pegangan berbentuk burung laut dan pada ujung gandarnya terdapat sangkutan.

Sejarah
Daerah penyebaran keris bertautan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan di masa lampau, terutama kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa. Hal tersebut dapat dititi dari babad, primbon, kitab silsilah dan sebagai berikut. Empu sebagai pakar perekayasa keris, mempunyai sejarah lampau. Kehidupan empu pun kebanyakan berada di lingkungan istana dan di bawah pengawasan istana, sehingga pembuatan keris dikatakan sebagai kebudayaan istana.

Keris dapat digolong-golongkan sesuai dengan masa pembuatannya, seperti berikut:
1. Masa purwacarita
Pada masa ini selain Empu Gandring yang termashur dalam sejarah Singasari, juga muncul Empu Ramayadi yang membuat keris Pasepati.

2. Masa Pajajaran
Menurut babad, masa ini merupakan permulaan masa terang. Pada masa ini ada empu yang terkenal yaitu Empu Keleng yang membuat keris Kyai Kopek.

3. Masa Majapahit
Dalam babad disebut sebagai Majalengka, yang menghasilkan keris dapur lurus dan bagian pegangan menjadi satu dengan wilahan. Empu yang terkenal pada masa ini ialah Empu Ki Supa Mandrangi (Pangeran Sedayu).

4. Masa Demak
Masa ini merupakan masa perkembangan agama Islam di Jawa, sehingga banyak keris yang dipesan oleh para wali. Empu yang ada pada masa ini merupakan keturunan dari masa Majapahit. Misalnya Empu Ki Jaka Growah putera Pangeran Sedayu, yang kemudian menjadi leluhur empu-empu pada masa kerajaan Islam berikutnya. Saudara sekandungnya, yaitu Ki Jaka Supa diangkat menjadi empu istana Demak oleh Sunan Kalijaga, untuk membuat senjata bertuah sebagai kekuatan negara, yang kemudian diberi nama keris Sabuk Inten.

5. Masa Pajang
Masa akhir periode Demak ini sudah tidak memperlihatkan pengaruh masa Majapahit. Empu yang terkenal pada masa ini, yaitu Empu Ki Umyang yang membuat keris Kanjeng Kyai Pandetan.

6. Masa Mataram
Yang dimaksud masa ini adalah masa sebelum diadakan Perjanjian Giyanti (1755). Karena kerajaan Mataram yang agraris yakni yang tidak begitu terbuka terhadap pengaruh luar, maka kepercayaan terhadap keris sangat besar dan sejarah keris pun lebih berkembang. Empu yang terkenal pada masa ini yaitu Kyai Anom yang membuat keris Pulanggeni dan Nagasasra.

7. Masa Yogyakarta dan Surakarta
Walaupun kesenian dan tatacara kedua kerajaan ini berbeda, akan tetapi mempunyai corak serta kepentingan terhadap keindahan keris nyaris sama. Ada empu yang terkenal dari Keraton Surakarta yaitu Ki Jaka Sukatga yang membuat keris Kanjeng Kyai Gajah Satrubanda.

8. Masa Pergerakan Nasional dan Kemerdekaan
Masa ini pembuatan keris mulai menurun pamornya. Walaupun ada tetapi tidak ditekankan pada tuahnya, hanya sekedar pelengkap busana semata atau hanya sebagai barang suvenir.

Cara Pembuatan
Keris dibuat dari bahan logam besi sebagai bahan utama dan nekel sebagai bahan pelapis bagian pamor. Berbagai nama besi yang digunakan yaitu besi purasani, besi werani, besi malela, besi belitung dan sebagainya. Nama nekel yang terkenal sebagai bahan pelapis yaitu nekel madagaskar, nekel luwu dan nekel prambanan.

Para empu dalam memilih logam dengan cara meninting, meraba, mencium atau melamat. Dari cara memilih logam, cara membandingkan mutunya, cara mencampur dan meleburnya, dapatlah kita katakan bahwa para empu pada waktu itu sudah mencapat tataran rekayasa yang tinggi dengan dasar-dasar metalurgi yang kuat.

Pada umumnya pembuatan keris dilakukan dengan memanaskan pada bara api, kemudian ditempat dan dibentuk sesuai kemampuan empu. Ada ceritera bahwa keris dapat dibuat dengan pijitan tangan empu, yang sebelumnya telah melakukan sesuci, samadi atau bertapa. Menurut Babad Tanah Jawa, Mrapen Jawa Tengah adalah bekas tempat pembuatan keris. Pada tempat tersebut terdapat api alam dan kolam yang airnya mendidih. Menurut ceritera di tempat inilah Empu Jaka Supa membuat keris Sabuk Inten pesanan Sunan Kalijaga. Api alam digunakan ntuk memanaskan keris yang dibuat, sedang kolam air panas tersebut digunakan untuk mencelupnya.

Ada dua cara dalam pembuatan keris, yaitu: pertama, dengan membuat wilayah keris terlebih dahulu, baru kemudian ditambahi pamor pada permukaannya; kedua, dengan mencampurkan logam wilahan dan logam pamornya sekaligus, yang kemudian pamor akan timbul sendiri. Kadangkala pamor keris yang asli ditutupi pamor palsu dengan maksud merahasiakan daya gaib yang sebenarnya.

Bagian-bagian keris
Keris terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Wulahan (bila)
Wilahan merupakan bagian keris yang pokok atau yang dimaksud keris sebenarnya. Wilahan mempunyai bagian-bagian yang tidak sama bentuknya, sehingga setiap wilahan mempunyai dapur (tipe) yang berbeda. pada pokoknya keris mempunyai dua macam dapur, yaitu dapur leres (lurus) dan dapur luk (berkelok). Pada wilayah terdapat gambar atau lukisan, yang merupakan lambang kesaktian atau kekeramatan keris, yang merupakan sumber daya sugesti dan yang disebut pamor.

2. Ukiran (pegangan)
Ukiran dibuat dari bahan kayu, gading, tanduk, besi atau emas. Ukuran keris yang dibuat pada masa Majapahit sampai Mataram mempunyai bentuk seperti sikap begawan, melambangkan kesaktian dan kesucian. Ukiran keris Sulawesi mempunyai bentuk mirip burung laut, melambangkan keselamatan.

3. Wrangka (rangka)
Wrangka berfungsi sebagai sarung keris, yang terbuat dari kayu cendana atau timahan dan biasanyadibungkus lempengen logam kuningan, tembaga, perak atau emas. Gayungan (bagian pangkal) mempunyai dua bentuk, yaitu ladrangan yang ujungnya lancip dan gandon yang ujungnya tumpul. Keris yang mempunyai gayungan bentuk ladrangan biasanya dipakai dalam upacara-upacara resmi, misalnya menghadap raja, pesta perkawinan dan lain-lain. Sedangkan keris yang mempunyai gayungan bentuk gandong biasanya di pakai untuk acara harian, inspeksi raja, perang dan acara lain yang membutuhkan kemudahan bergerak.

Penyimpanan keris dapat dilakukan dengan membungkusnya dalam kain bersih (bebes asam) dan diletakkan di papan beralas atau terpisah dalam kotak penyimpanan yang sudah divernis.

Dengan melakukan perawatan dan penyimpanan yang baik terhadap koleksi keris, berarti ikut serta melestarikan hasil budaya bangsa Indonesia.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

hal
Dilihat: