Bangkong Reang (Cianjur)

1. Asal-usul
Pagelaran adalah sebuah kecamatan secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur. Dari kota Cianjur jaraknya kurang lebih 90 kilometer ke arah selatan. Jadi, kecamatan ini berada di wilayah Cianjur-Selatan. Di sana ada sebuah kesenian yang bernama “Bangkong Reang”. Konon, disekitar tahun 70-an di salah satu kecamatan yang berbatasan dengannya, yaitu Kecamatan Ciwidey yang berada di sebelah timurnya, persisnya di Kampung Lebakmuncang, Desa Lebakmuncang, ada tiga orang seniman yang bersaudara. Mereka adalah Yayat alias Bang Jampang, Komar Sukiman, dan Anom Sukiman. Ketiga seniman tersebut ahli dalam pembuatan peralatan musik calung. Suatu saat ketika salah seorang dari mereka (Yayat) sedang membuat alat musik calung, bambu yang dipersiapkan terinjak dan pecah. Pecahnya bambu tersebut membuat ia marah. Dan, untuk melampiaskan kemarahannya, ia pun memukulnya berulang-ulang. Pemukulan itu tentu saja mengeluarkan bunyi. Dasar seniman; dalam suasana marah pun ia sempat memperhatikan bunyinya yang khas. Lalu, ia memukulnya lagi secara berulang-ulang untuk meyakinkan kekhasan bunyi yang dihasilkan. Bunyi yang menyerupai suara katak (bangkong) itulah yang mengilhami terwujudnya suatu kesenian yang kemudian disebut sebagai “Bangkong Reang” .

2. Peralatan
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa kesenian bangkong reang terwujud dari pengembangan suara yang dihasilkan oleh bambu yang dipukul. Sehubungan dengan itu, peralatan yang digunakan dalam kesenian ini sebagian besar bahannya terbuat dari awi wulung (bambu wulung). Secara keseluruhan peralatan musik yang diperlukan dalam memainkan kesenian bangkong reong adalah: kingking, jongjrong, tong-tong, brang (suara katak), terompet, kendang, gong, kosrek, kok-kok, dan kentongan.

3. Pemain dan Busana
Untuk memainkan kesenian yang disebut sebagai bangkong reang dibutuh sebelas orang pemain, dengan rincian: seorang pemaian kingking yang memerankan suara katak kecil; seorang pemain tongtong memerankan suara katak yang agak besar; seorang pemain jongjrong yang memerankan suara katak besar; seorang pemain brang yang memerankan suara katak terbesar; seorang pemain kosrek yang memerankan ornament tambahan; seorang pemain terompet yang memerankan sebagai pembawa melodi; seorang pemain kendang yang memerankan pengatur irama; seorang pemain gong yang memerankan penyempurna rasa (patokan lagu); dua orang pemain kokok; dan seorang juru sekar. Dalam suatu pementasan, mereka mengenakan pakain sehari-hari, kecuali para pemain katak. Mereka menggunakan topeng yang menyerupai katak (bangkong).

4. Pementasan
Bangkong reang dapat dipentaskan dalam bentuk helaran, panggung, baik dalam ruang terbuka maupun tertutup. Pementasan diawali dengan penabuhan semua peralatan musik, kemudian pemeran katal (bangkong) masuk pentas sambil menari (menirukan gerakan katak). Penari tersebut diiringi dengan bunyi-bunyian yang menyerupai katak dari perelatan kingking, tontong, jongjrong, dan brang. Selanjutnya, pengidungan yang disusul dengan dialog yang diselingi dengan humor (komedi segar). Setelah itu, pelantunan lagu-lagu pop, dangdut, jaipong, dan lain sebagainya. Pementasan diakhiri dengan gending penutup. Sebagai catatan, kesenian ini sering diikuti dengan pesan-pesan kemasyarakatan, keagamaan, dan pembangunan.

5. Fungsi dan Nilai Budaya
Bangkong reang adalah satu jenis kesenian yang dapat mengadopsi berbagai jenis musik, seperti kawaritan (gending), populer, ndangdut, dan jaipong. Kesenian ini semata-mata hanya berfungsi sebagai hiburan, baik dalam menyemarakkan khitanan maupun hari-hari besar agama dan nasional (17 Agustusan). Sebagaimana kesenian pada umumnya, kesenian ini juga tidak hanya mengandung nilai keindahan semata, tetapi juga kreativitas. Nilai kreativtas tidak hanya tercermin dari Sang pencitanya (Yayat), tetapi juga para pemainnya yang dituntut untuk membawakan homur-humor segarnya dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya (termasuk pesan-pesan pembangunan). Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah jatidiri masyarakat pendukungnya.

6. Kondisi Dewasa Ini
Di masa lalu kesenian yang disebut sebagai bangkong reang ini pernah mengalami kejayaan. Malahan, kesenian ini pada tahun 1992 pernah menjadi Jura Kedua pada acara helaran seni tradisional se-Jawa Barat. Namun demikian, dewasa ini kondisinya memprihatinkan karena para senimannya sudah mulai langka, sementara generasi mudanya enggan untuk mempelajarinya. Kondisi ini jika dibiarkan begitu saja bukan hal yang mustahil kesenian tersebut akan punah. Dan jika itu terjadi berarti masyarakat Cianjur, khususnya masyarakat Pagelaran, akan kehilangan salah satu unsur jatidirinya. Menyadari hal itu, maka Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaannya (2002) berusaha untuk menginventarisasi dan mendokumentasikannya dalam rangka melestarikannya. (gufron)

Sumber:
Galba, Sindu. 2007. “Kesenian Tradisional Masyarakat Cianjur”.

Tim Seksi Kebudayaan.2002. Deskripsi Seni Tradisional Reak. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur.
hal
Dilihat: