Asal Usul Kampung Banda di Betawi

Kampung Banda (Wanda) ada di daerah Pasar Ikan Jakarta Kota sekarang ini. Nama Betawi berasal dari kata Batavia sesudah Belanda datang di Indonesia. Dahulu nama Sunda Kepala, kemudian berubah menjadi Jayakarta, kemudian menjadi Batavia dan akhirnya Betawi. Di zaman kemerdekaan Indonesia disebut Jakarta. Jadi sejak 1527 sampai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Jakarta mengalami empat kali perubahan nama dari Sunda Kelapa sampai Jakarta. Pada abad ke-17, yaitu pada 1604 dan 1621 di Banda terjadi dua kali perang antara orang Banda melawan Belanda. Akibat perang melawan Belanda itu maka orang Banda melawan dibuang ke Batavia (betawi) dan mereka lalu mendirikan perkampungan yang disebut Kampung Wandan (Banda) yang sampai saat ini masih ada, dengan peninggalan mereka berupa sebuah mesjid tua dan makam (keramat) orang Belanda di daerah Pasar Ikan Jakarta Kota.

Latar Belakang Sejarah
Kepulauan Banda merupakan gugusan pulau yang terdiri dari enam pulau kecil di tengah Laut Banda yang dalamnya 7.880 meterk, di daerah Maluku Tengah, antara kota Ambon dan Kota Tual daerah Maluku Tenggata. Kepulauan Banda ini sangat kecil, sehingga di dalam peta seperti titik saja, namun Pulau Banda adalah penghasil pala terbesar di dunia sejak purbakala. Pulau bagian dari Kepulauan Maluku dan bagian dari Nusantara ini mempunyai sejarah yang sangat menarik. Banda mempunyai arti tersendiri dalam sejarah perdagangan nasional yang menyangkut perdagangan rempah-rempah dan sejak dahulu kala pedagang Eropa, khususnya pedagang rempah-rempah dan sejak dahulu kala pedagang Eropa, khususnya padagang rempah-rempah dan para pelaut.

Sejarah telah membuktikan bahwa sejak 226 SM rempah-rempah dari Maluku (Kepulauan Nusantara) telah ramai diperdagangkan diTiongkok.

Usaha mencari rempah-rempah ini menyebabkan sebaga bangsa baik Barat maupun Timur (Arab, Persia, Tiongkok, India) berebutan datang ke daerah Maluku. Begitu pentingnya daerah rempah-rempah Maluku menyebabkan berbagai bangsa di dunia mencari Indonesia.

Surat-surat Kapten Serao kepada Bagelan yang dikirim ke Portugal melalui Malaka, meyakinkan raja Spanyol untuk lebih memperbesar biaya perusahaan Spanyol mengelilingi dunia dalam bisnis. Kerakusan dan keserakahan bangsa Portugis dan Spanyol akan rempah-rempah Maluku menyebabkan begitu cepat kematian Magelan di Filipina setelah gagal menemukan Pulau Banda dan kematian Kapten Serao di Ternate pada waktu yang hampir bersamaan di sinilah Banda dan Ternate menjadi penting dalam arena pertarungan.

Peperangan serta pertarungan bangsa Barat dan Timur di daerah Maluku sangat mempengaruhi kebudayaan asli daerah Maluku pada umumnya dan kebudayaan Banda khususnya. Karena itu di Banda terdapat banyak sekali percampuran unsur-unsur kebudayaan dan saling berpengaruh.

Selain Portugis memusuhi Belanda dan begitu sebaliknya, maka Belanda juga memusuhi Inggris yang telah tiba di Banda pada 1601 dan mengklaim suatu daerah di Kepulauan Banda itu sebagai milik Inggris serta bersaing dengan Belanda.

Tahun 1602-1605 terjadi pertengkaran antara para penduduk Kepulauan Banda itu sendiri yang merasa dipermalukan. Terbunuhnya lima orang Banda oleh Belanda menyebabkan rakyat Banda sangat marah. Terjadilah Perang Banda I melawan Belanda tahun 1604. Sebagaian rakyat Banda mati terbunuh oleh Belanda. Yang masih hidup lari dari Banda ke Seram, Kei dan terus ke Banten, di mana mereka tinggal di daerah Pasar Ikan yang terkenal dengan nama Sunda Kelapa.

Api peperangan tersebut tidak henti-hentinya di atas bumi Pulau Banda, sehingga timbul perang besar tahun 1621 di Pulau Lontor di mana J.P. Zoon Coen memaki-maki orang Banda sebagai pengkhianat melanggar kontrak-kontrak dengan Belanda. Para pedagang lain dari Belanda yang ada di Banda saat itu semuanya dibunuh dengan kejam. Tindakan ini menyebabkan orang Banda Marah dan bangkit melawan Belanda yang terkenal dengan perang Banda II melawan imperialisme dan kolonialisme. Dalam perang ini sebagian orang Banda dibunuh. Belanda membakar dan meratakan kampung-kampung mereka yang telah kosong karena sebagian lagi mengungsi dan bersembunyi. Sementara mereka yang benar-benar menyerah kepada Belanda dikumpulkan dengan para pedagang lain yang ditangkap oleh Belanda.

Mereka kemudian diperintahkan naik kapal yang mengangkut pasukan Belanda ke Batavia dan dibuang di sana. Di Batavia mereka dijadikan pelayan-pelayan Belanda dan dijual sebagai budak belian. Pertama kali itulah mereka tiba ke Batavia.

Terbentuknya Kampung Banda (Wandan) di Batavia
Orang-orang Banda dalam pembuangan di Batavia tersebut mula-mula mengalami kesulitan hebat sekali. Mereka seluruhnya berjumlah 883 orang, diantaranya 287 laki-laki, 356 perempuan dan 240 anak-anak. Dalam perjalanan dari Banda ke Betawi 176 orang meninggal dan sebagian lagi meninggal karena berkali-kali menghadapi kelaparan dan penyakit di Betawi. Sebagian lagi orang Banda yang tinggal atau yang tidak diberangkatkan ke Betawi karena tidak tertangkap, lari ke Pulau Seram, Kei dan Aru, mengikuti teman-temannya yang dahulu.

Di antara rombongan yang tiba di Betawi ditempatkan di daerah Pasar Ikan/Sunda Kelapa. Waktu itu 13 orang kaya Raja Banda dihukum mati karena mereka bekerja sama dengan beberapa orang Jawa/Betawi di Batavia untuk membunuh J.P. Coen, empat orang dipenggal kepalanya, sembilan orang dipotong kaki dan tangannya. Peristiwa ini menyebabkan orang Banda yang dibuang ke Betawi marah dan mati-matian tidak mau pulang ke Banda lagi, karena merasa dirinya dihina sebagai budak Belanda di perantauan dan senang hidup bersama-sama orang Betawi.

Perlakukan Belanda terhadap orang Banda baik yang dijual maupun yang bekerja sebagai pelayan Belanda di Betawi, menimbulkan dendam kesumat dan sakit hati terhadap Belanda. Itulah sebabnya terjadi pembauran antara orang Banda dan orang Betawi dan khususnya suku Jawa, sehingga mereka berkomplot untuk membunuh J.P. Coen dalam waktu singkat. Terjadi pula pembauran kebudayaan Banda dan Batavia. Mereka lalu mendirikan Kampung Banda (Wandan) di daerah Pasar Ikan pada 1621 itu juga. Kampung itu sampai sekarang masih ada, yakni di daerah Pasar Jakarta Utara (Jakarta Kota), dengan peninggalan mereka, diantaranya berupa mesjid tua dan makam pimpinan mereka, yang mereka jadikan keramat bagi keturunan Banda di Jakarta.

Dari uraian sejarah di atas terbukti jelas asal usul Kampung Banda (Wandan) di Betawi. Sampai saat ini pengaruh kebudayaan orang Banda di Jakarta tampak berupa pembuatan kue-kue seperti wajid, bika ambon dan lain-lain. Juga alat pancing ikan atau hohate, permainan congklak, upacara adat perkawinan dan banyak hal lagi telah membaur dengan adat istiadat Betawi.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1993. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: