Wanita Nelayan di Kecamatan Kedung Jepara

Oleh: Siti Munawaroh
Pendahuluan
Wanita sebagai salah satu anggota keluarga, seperti juga anggota keluarga yang lain mempunyai tugas dan fungsi dalam mendukung keluarga. Sejak dahulu hingga kini masih ada anggota masyarakat yang menganggap tugas wanita dalam keluarga adalah melahirkan keturunan, mengasuh anak, melayani suami, dan mengurus rumah tangga. Dalam perkembangan kemudian ternyata tugas, peranan wanita dalam kehidupan keluarga dan masyarakat semakin berkembang.

Sejalan dengan semakin kompleksnya kehidupan dan semakin beratnya beban ekonomi keluarga, tugas dan peranan wanita dalam keluarga serta masyarakat semakin diperlukan. Hal ini semakin terasa sekali baik di perkotaan maupun di pedesaan. Wanita pada saat ini tidak saja berkegiatan di dalam lingkup keluarga, tetapi banyak di antara bidang-bidang kehidupan di masyarakat membutuhkan sentuhan wanita dalam penanganannya. Kegiatan wanita dalam ikut menopang kehidupan dan penghidupan keluarga semakin nyata.

Peran serta wanita dalam menopang perekonomian keluarga telah berlangsung sejak munculnya institusi keluarga itu sendiri. Pembagian tugas antar anggota keluarga, termasuk juga para wanitanya dalam rangka menyelenggarakan kehidupan keluarga, pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ekonomi.

Karakter wanita dalam keluarga sangat dipengaruhi oleh latar belakang ekonomi dan sosial budaya keluarga, serta kondisi geografis tempat tinggalnya. Setiap kebudayaan mempunyai pranata tersendiri dalam mengatur anggota masyarakat, termasuk perilaku yang harus dilakukan oleh para wanitanya. Sementara kondisi sosial ekonomi mempengaruhi pola perilaku keluarga yang bersangkutan. Sementara itu kondisi geografis suatu daerah akan mempengaruhi corak matapencaharian masyarakatnya, yang pada ahkirnya akan mempengaruhi pula pola pembagian tugas dari setiap anggota keluarga.[1]

Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah perairan (laut, selat dan teluk) maka salah satu matapencahariannya adalah di bidang perikanan (keluarga nelayan).[2] Dalam kenyataan nelayan yang ada tergolong nelayan tradisional, yaitu nelayan yang masih menggunakan peralatan tradisional, seperti perahu layar sebagai alat transportasi, dan alat tangkap yang masih sederhana. Kendala alam merupakan masalah utama yang dihadapi oleh kelompok masyarakat nelayan ini. Motorisasi sebagai hasil pembangunan nasional di bidang perikanan walaupun telah membantu nelayan dalam mengatasi kendala alam tampaknya belum mampu mengentaskan mereka dari berbagai persoalan yang dihadapi.[3] Dalam peta kemiskinan, nelayan tradisional dapat digabungkan sebagai kelompok masyarakat miskin setelah kelompok buruh tani.[4]

Di Jawa Tengah masyarakat nelayan terkonsentrasi di desa-desa nelayan yang terdapat di sepanjang Pantai Utara Jawa Tengah misalnya Kabupaten Jepara, Tegal dan lain sebagainya. Di Jepara secara keseluruhan jumlah nelayan pada saat penelitian tercatat sebanyak 142.564 orang, sedangkan jumlah perahu (armada tangkap) yang digunakan untuk kegiatan kenelayanan sebanyak 18.059 unit. Dari sekian unit armada tersebut sebagian besar )76,8%) diantaranya tergolong sebagai perahu motor, tanpa motor 19,4% dan kapal motor sebanyak 3,8%.[5] Perahu tanpa motor saat ini biasanya hanya digunakan oleh nelayan yang mobilitasnya rendah, seperti menghubungkan pantai dengan bagan. Lain halnya dengan kapal motor, kapal ini mempunyai daya jelajah yang cukup jauh dan lebih tangguh dalam menghadapi tantangan alam. Oleh karena itu, nelayan yang menggunakan alat transportasi tersebut dapat digolongkan sebagai nelayan modern.

Sehubungan dengan kondisi ekonomi tersebut menarik untuk diketahui aktivitas wanita nelayan dalam ikut menopang kehidupan keluarganya. Usaha sampingan yang dilakukan oleh ibu-ibu dan anak-anak wanita selagi menunggu suami atau ayah mereka pulang dari laut jarang yang berhasil. Selanjutnya apa dan bagaimana sebenarnya aktivitas yang dilakukan oleh para wanita nelayan untuk menunjang kehidupan keluarganya.

Informasi tentang aktivitas wanita nelayan dalam mendukung kehidupan keluarga, terutama dalam bidang sosial ekonomi diharapkan dapat digunakan sebagai bahan dasar bagi penentuan kebijakan pemerintah dalam rangka pembangunan di bidang kewanitaan, terutama bagi wanita nelayan. Selain itu, data dan informasi ini datap digunakan sebagai dokumentasi khasanah budaya bangsa tentang aktivitas wanita nelayan di daerah lainnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi masalah penelitian ini bagaimana corak dan pola aktivitas wanita nelayan dalam kehidupan ekonomi keluarga.

Kondisi Daerah Sampel
Kecamatan Kedung merupakan salah satu dari 14 kecamatan yang berada di Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan tersebut berhadapan langsung dengan Laut Jawa. Dari Kota Jepara Keamatan Kedung dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dalam waktu kurang dari 20 menit. Oleh karena keadaan jalan yang cukup baik, menjadikan desa-desa yang ada mudah dijangkau. Jalan utama yang menghubungkan desa-desa atau desa dengan daerah lain, kebanyakan mencapai 4 meter. Kondisinya cukup bagus dan beraspal. Sementara secara administratif, Kecamatan Kedung berbatasan dengan wilayah atau daerah lain. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Tahunan Pecangaan, sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Demak Propinsi JawaTengah.

Mengenai kependudukan, dari data[6] jumlah penduduk di Kecamatan Kedung sebesar 62.491 jiwa atau 49,875% dan wanita sebesar 31.327 jiwa atau 50,13%. Dari jumlah tersebut ada 16.439 kepala keluarga (KK), sehingga rata-rata anggota dalam setiap keluarga terdapat 4 jiwa. Sementara tingkat pendidikan, bahwa masyarakat Kecamatan Kedung terdolong rendah. Proporsi terbesar (31,0%) penduduk hanyalah tamatan sekolah dasar. Penduduk yang tidak tamat sekolah dasar sebesar 14,1% dan tidak sekolah dasar 13,0%. Kemudian penduduk yang menamatkan belajar sampai bangku SLTP 39,3% dan sampai tingkat SMA hanya sebesar 2,6% dari jumlah penduduk seluruhnya. Besarnya persentasi penduduk yang tidak tamat SD di Kecamatan Kedung ini dikarenakan banyak orang tua yang telah mengajak anaknya untuk mencari nafkah. Anak laki-laki untuk membantu ayahnya mencari ikan di tengah laut dan yang wanita kegiatan mengesek ikan, meskipun mereka masih dalam usia sekolah.

Pada waktu-waktu tertentu seperti pada musim ikan yakni bulan antara Desember sampai Maret, jumlah penduduk bertambah dengan musiman. Wilayah ini akan dihuni oleh sejumlah pendatang yang ingin mencari pekerjaan. Secara umum mereka bekerja sebagai bidak, yaitu nelayan buruh di perahu milik nelayan. Saat-saat seperti ini, pendatang musiman yakni bidak secara kuantitatif sukar dipastikan jumlahnya. Berdasarkan perkiraan dari berbagai pihak yang erat kaitannya dengan kenelayanan, jumlah para pendatang bisa mencapai ratusan orang. Mereka datang dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Jepara bahkan ada yang dari Tegal.

Sebagai daerah pantai, matapencaharian utama penduduk wilayah di Kecamatan Kedung kebanyakan di bidang kenelayanan. Jumlah nelayan baik nelayan buruh (pendega) maupun nelayan pemilik dari data tercatat sebesar 74,2%, tambak 12,9%, buruh industri 9,9%, tukang bangunan/kayu 1.0%, sedangkan yang bekerja di luar kenelayanan seperti medis, pegawai negeri, ABRI, pensiunan adalah sebesar 1,0%. Sebagai wilayah yang letaknya di dekat pantai, maka kehidupan penduduknya bernafaskan kenelayanan. Tampaknya warga yang bekerja sebagai pedagang, buruh atau lainnya masih sangat berkaitan dengan bidang kenelayanan. Para pedagang umumnya berdagang ikan, sedangkan petani tambak adalah orang-orang yang memelihara tambak sendiri atau sebagai buruh/menyewa tambak. Dengan demikian suasana kehidupan kenelayanan di wilayah Kecamatan Kedung sangat terasa sekali.

Di sisi lain sarana dan prasarana transportasi serta komunikasi sangat penting bagi suatu daerah baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Demikian pula di Kecamatan Kedung, hal ini penting untuk berlangsungnya kegiatan masyarakat dan mobilitas penduduk. Sarana komunikasi, dapat membantu kecepatan masuknya informasi ke daerah bersangkutan yang berarti pula meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakatnya. Demikian juga sarana ekonomi juga terdapat di daerah penelitian yaitu berupa pasar ikan maupun warung, toko, kios dan TPI (Tempat Pelelangan Ikan).

Berkaitan dengan TPI, bagi masyarakat nelayan di daerah penelitian untuk memasarkan hasil tangkapannya tidak begitu dipermasalahkan (bebas). Hal ini karena hasil tangkapannya bisa dipasarkan atau dijual ke tempat pelelangan ikan (TPI) setempat atau dijual ke pedagang/bakul ikan terdekat. Bahkan ada bakul sampai mendatangi ke rumah masing-masin nelayan. Dengan demikian dalam hal pola pemasaran nelayan bisa dilakukan melalui lembaga resmi maupun tidak resmi. Melalui lembaga resmi yaitu ke TPI, sedangkan lembaga tidak resmi dijual langsung kepada bakul-bakul ikan atau tengkulak bahkan ada pembeli/konsumen langsung ke nelayan. Data yang ada diperoleh bahwa di Jepara ada 12 pasar ikan atau tempat pelelangan ikan (TPI) dari 14 kecamatan yang ada seperti TPI Kedungmalang, Panggung, Demaan, Bulu, Jobokuto, Mlonggo, Bando, Tubanan, Bandungharjo, Ujung Watu I, Ujung Watu II, dan TPI Karimunjawa. Namun dari sejumlah TPI yang tercatat ada TPI yang sekarang (waktu penelitian) sama sekali sudah tidak berfungsi atau tidak dimanfaatkan tempatnya, misalnya yang berada di Kecamatan Kedung, tepatnya TPI Kedungmalang sebagai salah satu desa nelayan yang dijadikan sampel penelitian.

Sarana lainnya adalah sopek atau perahu. Di Jepara ada dua jenis ukuran perahu yakni perahu kecil dengan panjang 5,5 m dan lebar 1,2-2 m, serta perahu besar dengan panjang 11 m dan lebar 4 m. Masing-masing perahu mempunyai peralatan tersendiri serta jumlah muatan yang berbeda. Biasanya perahu jenis kecil digunakan di sekitar pantai atau paling jauh hanya 20-30 kilometar dari pantai. Sementara perahu besar bisa digunakan sampai ke tengah laut dan dapat berlayar sampai berhari-hari. Penggerak perahu yang diguanakan adalah mesin tempel. Sedangkan alat tangkap utama yang digunakan jaring dan pancing. Ada beberapa bentuk jaring yang dikenal oleh nelayan yaitu jaring kantong atau triple net, dogol atau canterng serta bundes.

Kegiatan Wanita Nelayan
A. Dalam Sektor Rumah Tangga
Telah diuraikan bahwa setiap anggota keluarga mempunyai kegiatan sendiri-sendiri dalam keluarganya. Secara ideal seorang suami sebagai kepala keluarga mempunyai tanggungjawab penuh dalam memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk dalam memasok pendapatan keluarga. Namun demikian kondisi kerja nelayan yang cukup berat itu dikerjakan sendiri, tanpa bantuan si istri, ataupun anggota keluarga yang lain. Hal ini tampak lebih kentara pada keluarga-keluarga nelayan pemilik atau nelayan-nelayan yang memiliki perahu sendiri.

Perahu dan segala perlengkapannya termasuk juga alat tangkapnya memerlukan penanganan yang baik agar tidak cepat rusak dan terpelihara. Penanganan yang cermat harus dilakukan agar kegiatan kenelayanan tidak terganggu. Kerusakan mesin di tengah laut akan menyebabkan usaha penangkapan ikan terganggu, bahkan akan mengancam keselamatan jiwa nelayan itu sendiri. Peralatan yang kurang cermat pada geladak juga dapat menyebabkan perahu bocor dan tenggelam. Oleh karena itu pekerjaan suami begitu berat dalam memperoleh pendapatannya. Selain mereka harus bergulat dengan lautan yang kadang-kadang ganas dan tidak bersahabat serta dapat mengancam jiwanya. Mereka masih disibukkan oleh perawatan-perawatan guna kelancaran pekerjaannya. Perolehan pendapatan secara ideal menjadi tanggung jawab suami, namun pada kenyataannya para isteri dan anggota keluarga lainnya juga ikut membantu, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bentuk partisipasi para wanita nelayan tersebut ada tiga hal, yaitu mengelola ikan hasil tangkapan suami, bekerja di sektor perikanan tetapi di luar kegiatan kenelayanan, dan bekerja di luar sektor perikanan.

1. Pengelolaan Ikan Hasil Tangkapan
Pengelolaan hasil ikan tangkapan suami atau ayah dilakukan oleh para isteri/ibu atau anak-anak wanita keluarga nelayan pemilik perahu. Dalam pengelolaan ikan dimulai pada saat perahu merapat di dermaga setelah penangkapan ikan di laut hingga menjualnya Adapun langkah-langkah kegiatan yang dilakukan oleh isteri serta anggota keluarga adalah setelah mengetahui perahu memasuki muara, maka isteri mulai bersiap-siap menyambut kedatangannya. Berbagai peralatan seperti ember plastik dan keranjang tempat ikan dibawa isteri atau anak-anak untuk menyongsong kedatangan suami atau ayahnya. Kemudian pada saat perahu merapat di pinggir, suami ataupun buruh perahu kalau ada yang ikut dalam kegiatan penangkapan ikan mengeluarkan ikan-ikan hasil tangkapan dari peti pendingin. Selanjutnya, isteri maupun anak-anaknya yang sudah bisa membantu pekerjaan tersebut ikut memilah-milah menurut jenis ikan yang didapatnya, kemudian langsung dimasukkan dalam ember plastik atau keranjang yang telah dipersiapkan. Setelah ember-ember plastik atau keranjang penuh ikan, suami atau anak laki-laki, selanjutnya menurunkannya dari perahu untuk kemudian dijual oleh si isteri yakni di tempat pelelangan ikan (TPI), ke pembeli langsung, pedagang atau ke pasar terdekat.

Pemilahan-pemilahan jenis ikan ini dilakukan dengan maksud untuk memudahkan dalam penjualan. Oleh karena jenis-jenis ikan tersebut dapat dibedakan menurut kualitas dan harganya, dan diklasifikasi jenis ikan yang bernilai tinggi dengan yang bernilai rendah. Menurut salah satu ibu nelayan di daerah penelitian mengungkapkan:

“…….Bahwa jenis-jenis ikan yang bernilai tinggi seperti kerapu, bambangan, tenggiri, cumi-cumi dan bandeng, sedangkan jenis udang seperti udang windu, rebon, udang keto, dan udang SB. Untuk jenis ikan dengan nilai rendah yang biasanya oleh ibu-ibu nelayan di buat ikan asing seperti pethek, layur, lemuru, selar, udang barung dan masih banyak lagi…….”

Biasanya jenis ikan yang bernilai tinggi oleh para isteri nelayan dijual langsung kepada bakul atau pedagang langganannya di mana mereka biasa meminjam uang. Begitu juga jenis-jenis ikan dengan nilai atau harga rendah (biasanya dijual ke pedagang tertentu yang menerimanya). Baru kalau tidak laku atau musik ikan/panen ikan, dibuat ikan asin. Hampir semua nelayan di daerah penelitian mempunyai bakul langganan tempat mereka menjua ikan dan meminjam uang mereka pada saat memerlukan. Penjualan ikan yang dilakukan oleh para isteri serta anak perempuan nelayan harus cepat dilakukan, artinya makin cepat makin baik. Kecuali mereka merapat pada sore hari, pembongkaran dilakukan pada pagi hari atau keesokan harinya. Cepat dijual, hal ini karena apabila ada yang ikut (sebagai buruh) dalam proses penangkapan ikan di laut menunggu hasil upah bagiannya atau sebagai jerih payahnya dalam menangkap ikan. Selain itu penjualan secara cepat juga harus dilakukan untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan agar tidak cepat busuk.

Berkaitan dengan aktivitas atau pekerjaan suami yakni menangkap ikan di laut, peranan ibu di dalam rumah tangga boleh dikatakan cukup besar. Hal ini karena para ibu rumah tangga nelayan beraktivitas atau berperan juga dalam mempersiapkan dan memperbaiki jaring sebagai peralatannya bahkan ada juga yang membuat alat tangkap ikan sebagai “senjata” suami dalam berburu ikan di laut. Alat-alat tangkap ikan yang rusak seperti jaring yang robek terkena geleparan ikan besar atau menyangkut alat tangkap ikan yang lainnya (sodo) selain merupakan tugas suami ada ibu rumah tangga yang ikut juga memperbaikinya. Pekerjaan tersebut mereka lakukan pada waktu senggang selagi suami pergi melaut. Aktivitas ibu sebagai isteri seorang nelayan juga mempersiapkan segala perlengkapan atau perbekalan suami apabila mau berangkat kerja seperti alat yang dipergunakan, solar dan oli sebagai bahan bakar, makan, minum, buah-buahan, es dan tempat ikan.

Pekerjaan isteri nelayan lainnya adalah mencari pinjaman atau ngebon bila tidak punya uang terutama musim kemarai[7], baik untuk kebutuhan makan sehari-hari, pengadaan uang untuk keperluan biaya produksi yang utama yakni dalam hal perbaikan perahu maupun alat tangkap dan juga berkaitan dengan pengadaan bekal selama penangkapan atau biaya operasional. Semua keperluan tersebut oleh si isteri diperoleh dari warung terdekat yang biasanya sudah menjadi langganannya. Adapun cara pembayarannya setelah suami pulang dari menjalankan pekerjaannya serta setelah ikan-ikan hasil tangkapannya terjual.

Berhutang kepada tetangga ataupun kerabat dekat memang dimungkinkan, hal ini karena hampir semua penduduk yang berdekatan sudah kenal baik dan sudah seperti keluarganya sendiri. Oleh karena itu, pinjam-meminjam tidak menjadi masalah hanya kadang mempunyai perasaan sungkan. Seorang isteri informan mengatakan lebih baik pinjam saja ke tempat juragan atau warung yang biasa dijadikan langganan daripada hutang tetangga. Namun bagi mereka isteri yang tidak merasa sungkan, ada anggapan bahwa memberi pinjaman pada tetangga, kerabat yang sedang membutuhkan sepanjang masih ada persediaan menurut sejumlah isteri yang diwawancarai tampaknya juga menjadi dorongan dalam pinjam meminjam uang. Mengingat kondisi seperti ini merupakan suatu hal yang biasa dan dapat menimpa siapa saja dari keluarga nelayan, termasuk keluarga isteri informan sendiri.

2. Sektor Perikanan (Di Luar Kenelayanan)
Kegiatan di dalam sektor perikanan tetapi di luar kegiatan kenelayanan dilakukan isteri dan anak-anak rumah tangga nelayan tidak lain karena untuk memperoleh tambahan pendapatan keluarga, mengingat hasil tangkapan ikan dari suami tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Adapun yang dilakukan isteri dan anak perempuannya ada yang berjualan kebutuhan sehari-hari atau buka warung, ada juga yang kegiatannya sebagai pedagang ikan, dan ada yang kegiatannya melakukan “gesek” atau membuat pengasinan ikan dan teri nasi, baik itu dilakukan di rumah sendiri maupun di rumah tangga lain (buruh). Untuk kegiatan atau kativitas gesek tidak hanya dilakukan isteri atau ibu saja akan tetapi juga anak-anak. Hal tersebut dilakukan selain untuk mendapatkan tambahan pendapatan juga untuk mengantisipasi pada saat permintaan ikan segar rendah karena sedang musim ikan sehingga penjualannya dengan nilai/harga rendah dan kadang sulit dilakukan. Selain itu, harga ikan asin lebih tinggi bila dibandingkan dengan sebelum diasin. Sebagai contoh harga ikan basah sebelum diasin pada saat penelitian dilakukan hanya mencapai Rp. 3.000/ember plastik kecil kurang lebih 3 kg ikan basah, tetapi setelah diasin harganya mencapai Rp. 8.000/kg. Namun demikian pengasinan ini hanya jenis ikan yang bernilai ekonomis rendah, sedang untuk jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi lebih menguntungkan dijual secara basah.

Tahap-tahap kegiatan gesek atau pengasinan meliputi beberapa tahap seperti mencuci ikan, membeteti atau membelah ikan dan mengeluarkan jerohan ikan, memberi garam, menatanya di ember plastik, dan menjemurnya di terik panas matahari. Semua rangkaian aktivitas tersebut dilakukan oleh isteri dan anak-anak perempuannya yang sudah bisa membantu. Adapun proses pembuatan pengasinan setelah ikan diambil oleh isteri dari perahu sang suami, ikan-ikan tersebut dicuci, yang dilakukan di air laut. Setelah bersih, ikan tersebut dibeteti atau dibuang isi jerohannya, kemudian diberi garam, dan selanjutnya ditata di ember plastik selama seharian. Setelah garam diperkirakan sudah merasuk pada ikan, dilanjutkan dengan aktivitas penjemuran dengan panas matahari. Dalam penjemuran ikan asin menggunakan tempat pengeringan yang terbuat dari bambu yang diseset-seset kemudian dianyam. Pada musim kemarau penjemuran memakan waktu kurang lebih 2 hari, sedangkan di musim penghujan hingga 5 hari. Agar keringnya bisa merata maka setiap beberapa saat aktivitas yang dilakukannya adalah membalik-balikkan. Setelah kering, keesokan harinya di jual ke pasar atau ke pedagang pengumpul yang membelinya sendiri di rumah. Menurut para ibu nelayan musim penghujan merupakan kendala bagi keluarga nelayan dalam proses pengeringan ikan asin ini, padahal musim penghujan biasanya banyak tangkapan oleh suaminya. Di bawah ini penuturan salah satu ibu pembuat ikan asin di Kedungmalang.

“……Proses pengeringan ikan asin saat penghujan membuat masalah bagi ibu-ibu nelayan, padahal ikan tangkapan melimpah bahkan sudah ngemohi karena terlalu banyaknya hasil tangkapan, untuk satu-satunya jalan ikan-ikan yang tidak laku harus dijemur untuk dijadikan ikan asin. Karena hujan terus-menerus sehingga hasil ikan asin kualitasnya kurang baik yang akhirnya dalam penjualannya pun tidak maksimal. Untuk membeli alat pengering seperti yang telah dilakukan di daerah lain belum mampu dan pemerintah setempat tidak memperhatikannya pada para nelayan kecil seperti keluarga saya ini……”

Selain membantu suami dan mengurus anggota keluarganya, seorang isteri ada juga yang melakukan kegiatan sebagai bakul/pedagang ikan. Secara umum dari hasil wawancara dengan informan faktor yang mendorong memilih pekerjaan bakul ikan karena pendapatan rumah tangga bila hanya mengandalkan pendapatan suami sebagai buruh nelayan tidak mencukupi, misalnya untuk kepentingan bermasyarakat, menyekolahkan anak, membeli pakaian dan untuk kepentingan primer. Selain itu memilih pekerjaan bakul ikan karena pekerjaan ini relatif mudah yakni dapat dilakukan setiap saat serta modal relatif kecil dan penghasilan langsung dapat digunakan untuk mencukupi keperluan rumah tangga sehari-harinya. Penuturan salah satu informan menyebutkan:

“…..Saya sebagai bakul ikan sejak berumur 20 tahun dan dirasakan kegiatan bakul ikan ini dapat memberikan hasil yang relatif cukup dengan jumlah anggota 5 orang, sehingga saya tidak ada keinginan untuk pindah kegiatan atau aktivitas yang lainnya. Hal ini disebabkan selain di atas juga karena keterampilan terbatas dan telah dilakukan lama dan pekerjaan ini merupakan pekerjaan warisan orang tua saya, sehingga pindah pekerjaan akan mengalami kesulitan. Selain itu, pekerjaan bakul ikan telah memiliki semacam langganan tetap, baik penyedia bahan baku ikan maupun pembelinya……”

B. Pengelolaan Keuangan
Selain membantu mencari penghasilan bagi kebutuhan hidup keluarga, para ibu nelayan di daerah Kecamatan Kedung juga berperan dalam pengaturan keuangan rumah tangga. Pekerjaan ini hampir tidak pernah dilakukan oleh para suami. Kondisi kerja yang sangat menyita waktu menyebabkan para suami sulit mengkonsentrasikan fikiran untuk mengelola keuangan keluarga. Segala rekayasa keuangan rumah tangga cenderung dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga yang hampir semua waktunya dihabiskan di rumah. Namun demikian peranan suami sebagai kepala rumah tangga tentunya akan diajak berkonsultasi dan harus mengetahui pengeluaran uang, terutama yang menyangkut persoalan keuangan yang jumlahnya besar.

Dalam kehidupannya, keluarga nelayan yang berada di wilayah Kecamatan Kedung ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh seorang ibu nelayan dalam mengelola keuangan. Pertama pengadaan uang untuk kebutuhan hidup sehari-hari termasuk beli bahan pokok kebutuhan sehari-hari, beli pakaian dan kebutuhan yang tidak terduga seperti sakit. Kedua, uang untuk perbekalan selama penangkapan ikan di laut, perbaikan alat tangkap bagi kegiatan kenelayanan. Ketiga, pengadaan uang bagi kepentingan kehidupan bermasyarakat, termasuk kepentingan hajatan. Di samping ketiga hal tersebut, sebenarnya ada hal lain yang juga perlu diperhatikan oleh setiap wanita nelayan yang berada di daerah Kecamatan Kedung terutama ibu rumah tangga dalam mengelola keuangannya seperti pengadaan perabot rumah tangga, radio, TV dan perabot rumah tangga lain. Akan tetapi bentuk-bentuk pengeluaran yang terakhir ini umumnya tidak terlalu dipikirkan secara khusus. Seperti penuturan informan berikut:

“…Untuk kepemilikan barang-barang rumah tangga kalau saya membeli apabila masih mempunyai uang sisa, malahan saya sering pula secara kredit karena barang tersebut penting. Di sini hampir setiap hari ada pedagang keliling yang menawarkan batang-barang dagangan mulai dari kebutuhan rumah tangga, pakaian, barang-barang elektronik (TV, radio) bahkan sampai sepeda motor yang harganya cukup mahal…..”

Informan lain juga mengatakan:

“Benda-benda rumah tangga ada lemari, radio, TV, diperoleh masyarakat nelayan di sini secara kredit kepada juragan keliling. Sistem kredit dilakukan secara harian, mingguan, dan bulanan. Sebagai contoh sewaktu saya membeli TV, ini juga secara kredit yakni membayarnya dicicil atau diangsur setiap bulan sekali. Misalnya kalau pada suatu hari tidak punya uang tidak apa-apa karena lowong juga boleh, yang terpenting harus lunas. Malahan kadang-kadang hutang belum lunas sudah ditawari lagi oleh juragan tersebut”.

Hasil wawancara menunjukkan kondisi pas-pasan menyebabkan mereka sulit untuk mengalokasikan keuangan. Hal itu keadaan dan kondisi para keluarga nelayan tang pernah dikunjungi. Rumah-rumah nelayan sudah tua dan kurang terawat. Selain itu, kondisi ekonomi yang rendah dan pekerjaan sebagai nelayan yang banyak menyita waktu serta tenaga, sehingga mereka kurang memperhatikan kondisi rumahnya.

Penduduk di daerah Kedung kehidupan sebuah keluarga dapat berlangsung bila kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi. Kebutuhan makan merupakan jenis kebutuhan yang sangat primer. Jenis kebutuhan ini pengadaan dan pengelolaannya dipenuhi oleh para wanita, khususnya ibu rumah tangga. Untuk keperluan ini para wanita dapat memenuhinya dari warung-warung yang ada di desa. Hampir segala kebutuhan yang biasa dikonsumsi terdapat di warung-warung tersebut.

Secara khusus tidak ada alokasi dana khusus untuk keperluan hidup sehari-hari. Namun demikian para wanita, terutama para ibu rumah tangga secara rutin harus memikirkan pengadaan keuangan bagi keperluan keluarga. Sumber dana utama bagi keperluan hidup sehari-hari didapat para ibu rumah tangga dari hasil penjualan ikan para suami atau hasil kerjanya menjadi buruh gesek. Sedapat mungkin uang penghasilan harus cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari. Walaupun sebenarnya untuk kebutuhan sehari-hari pengeluaran utama digunakan untuk membeli beras bagi keperluan makan tetapi dalam pengelolaan, memerlukan kepandaian tersendiri, karena pendapatan mereka sangat tergantung dari musim, yang kadang-kadang tidak menentu. Pada saat-saat along atau musim ikan tinggi para ibu rumah tangga lebih mudah mengelolanya. Akan tetapi pada saat musim ikan sedang rendah atau sedang sulit mencari ikan, para ibu rumah tangga memerlukan kiat-kiat tersendiri bagi keberlangsungan kehidupan sehari-hari keluarga terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok.

Hasil wawancara menunjukkan ternyata pada saat “paila” atau sedang sulit ikan, merupakan saat-saat yang paling tidak menyenangkan bagi para ibu rumah tangga. Hal itu karena ibu harus tetap menyediakan uang untuk makan bagi keluarga, namun dana untuk keperluan tersebut sangat terbatas dan bahkan tidak ada sama sekali. Saat-saat seperti ini banyak di antara keluarga nelayan yang tidak mempunyai uang sama sekali. Selain itu, sering pula dalam penangkapan ikan tidaklah membawa hasil, malahan merugi. Kerugian ini karena tidak seimbangnya harga jual ikan dengan biaya operasional yang dikeluarkan untuk penangkapan, atau bahkan tidak mandapatkan ikan sama sekali. Pada saat seperti inilah warung-warung yang berada di daerah kedung seolah menjadi penyelamat bagi keluarga nelayan. Untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya para ibu rumah tangga ngebon di warung terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan setelah para suami mendapatkan uang dari hasil tangkapan. Kondisi semakin sulit bila musim “paila” berkepanjangan dan bersamaan dengan kebutuhan biaya untuk membayar pendidikan anak, maupun ada keluarga yang sakit. Mereka harus menyiapkan dana yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Setelah hutang di warung menumpuk dan suami belum mendapat hasil dari kegiatannya, maka mereka terpaksa berhutang kepada tetangga ataupun kerabat dekat.

Bila berhutang kepada tetangga dan kerabat tidak berhasil, maka upaya selanjutnya adalah meminjam di kperasi. Bila ternyata kondisi keuangan mereka semakin sulit, maka upaya selanjutnya adalah menjual alat-alat rumah tangga yang dimiliki, seperti gelas, piring, radiso maupun almari. Menurut informan barang-barang seperti itu yang sering di jual nelayan, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup keluarga. Barang-barang untuk pengganti dibeli lagi pada saat musim ikan sedang tinggi. Pada saat musim ikan, ibu rumah tangga mudah mengelolanya dan musim yang paling membahagiakan para ibu-ibu nelayan di daerah Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.

C. Pengelolaan Rumah Tangga
Pengaturan atau pengelolaan rumah tangga merupakan tugas utama para wanita, khususnya para ibu rumah tangga. Kegiatan ini seolah-olah tidak mengenal waktu dalam penanganannya/ Tugas itu antara lain berkaitan dengan penyiapan pangan bagi segenap anggota keluarga juga mengasuh, mendidik, menjaga dan mengarahkan anak-anak terutama bagi yang belum dewasa serta membereskan keseluruhan urusan rumah tangga. Melihat tugas kerumahtanggaan yang harus dipikul para ibu sehingga tidak mempunyai lagi waktu untuk kegiatan lain. Tugas seorang ibu nelayan diperberat lagi dengan rendahnya tingkat bantuan para suami mereka dalam pekerjaan sehari-hari. Pekerjaan suami sebagai nelayan sangat menyita waktu dan tenaga, sehingga bila kebetulan suami di rumah karena tidak melaut, maka waktunya habis untuk beristirahat atau mempersiapkan segala peralatan untuk melaut esok harinya. Sementara waktu suami melaut berarti selama masa itu ibu rumah tangga harus mengelola kehidupan rumah tangganya sendiri dan juga merangkap sebagai kepala rumah tangga.

Menyiapkan bahan makanan bagi seluruh anggota rumah tangga termasuk bekal suami dalam mencari ikan merupakan tugas utama para isteri nelayan sehari-hari. Walaupun dilihat dari penyiapan dilakukan secara sederhana dan lauk yang seadanya, kecuali pada hari-hari tertentu seperti akan mengadakan hajatan, selamatan ataupun pada saat menghadapi hari raya lebaran. Telah disinggung dalam uraian sebelumnya bahwa bahan-bahan yang dioleh diperoleh dari warung-warung yang ada di daerah setempat, sehingga ibu-ibu dapat membeli untuk makanan keluarga pada hari itu. Bila sedang ada uang biasanya mereka membeli khususnya beras untuk sekitar 2-3 hari sekaligus, sedang kebetulan persediaan uang menipis dan musim “paila” biasanya mereka membeli untuk keperluan satu hari saja. Untuk lauk pauk bagi masyarakat nelayan di daerah penelitian umumnya sederhana yakni yang kualitas rendah seperti pethek, kembung dan teri begitu juga cara pengolahannya sangat sederhana. Lauk pauk itulah yang sering mereka santap beserta sambal dan kecap bahkan hampir setiap hari. Sementara sayur-mayur jarang dimasak.

Sementara untuk memasak nasi dan air minum masyarakat nelayan umumnya dilakukan pada pagi hari sambil menyiapkan bekal suami melaut, sedangkan lauk pauk ikan biasanya memasaknya tergantung dari kapan mereka peroleh. Hal ini karena dalam pendaratan ikan yang dilakukan tidak menentu dan tergantung musim. Pada saat nelayan menggunakan alat pancing, pendaratan biasanya pada siang hingga sore, alat tangkap berupa jaring plastik pendaratan pada sore hari, dan saat nelayan menggunakan jaring bondes atau cantrang pendaratan pagi hari. Untuk kegiatan memasak para ibu rumah tangga sering dibantu oleh anak-anak wanita mereka yang sudah besar dan kebetulan berada di rumah. Anak pria sangat kecil peranannya dalam menyiapkan makanan ini. Keterlibatan mereka biasanya hanya terbatas bila si ibu membutuhkannya, misalnya membeli bahan bakar yang masih kecil (7-9 tahun). Namun anak pria yang sudah dewasa (10 tahun ke atas) sudah ikut membantu ayahnya pergi melaut. Kemudian pencucian peralatan dapur dan makan yang kotor setelah dipergunakan juga merupakan tugas ibu begitu juga mencuci pakaian.

Menjaga anak yang masih balita dalam permainan, pendidikan, kebersihan dan keteraturan rumah tangga juga merupakan pekerjaan yang sebagian besar harus dilakukan oleh ibu rumah tangga. Walaupun dalam kenyataannya mereka dibantu oleh anak-anak yang sudah dewasa terutama anak-anak wanita. Kesibukan suami dalam mencari ikan di luat seolah sudah tidak dapat lagi membantu pekerjaan rumah, hal ini karena suami mencari ikan selama 4-5 hari. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan seperti memasak, mencuci, pendidikan, permainan, kebersihan dalam rumah tangga berada di tangan ibu dan dibantu oleh anak-anak yang sudah dewasa.

Penutup
Kegiatan wanita masyarakat nelayan di daerah penelitian sangatlah nyata. Baik secara langsung maupun tidak langsung, wanita nelayan di daerah ini telah ikut ambil bagian dalam menambah pendapatan keluarga. Walaupun pendapatan bagi keperluan hidup keluarga merupakan tanggung jawab sepenuhnya seorang ayah. Kondisi kerja dan ekonomi masyarakat nelayan tampaknya juga yang mempengaruhi tingginya wanita nelayan ikut menambah penghasilan keluarga.

Kehidupan nelayan merupakan permasalahan yang cukup serius untuk diperhatikan dan kemudian dicarikan jalan keluarnya. Hal ini perlu diperhatikan mengingat jumlah masyarakat nelayan di Indonesia cukup banyak. Selain itu, kelompok masyarakat nelayan merupakan kelompok masyarakat penghasil komoditi yang cukup penting, bagi masyarakat Indonesia umumnya dan Jawa Tengah khususnya.

Telah lama kelompok masyarakat ini terbelenggu oleh lingkungan kemiskinan yang disebabkan oleh keterbatasan dalam mengatasi kendala alam melalui peralatan yang digunakan. Dalam pada itu kondisi ekonomi nelayan diperlemah karena sistem tata niaga perikanan laut yang keberadaannya tidak memihak pada nelayan. Sebagai penghasil ikan laut, karena senantiasa terlihat hutang bagi modal kerjanya mereka tidak dapat menentukan harga jual ikannya sendiri. Tengkulak yang seolah-olah berperan sebagai katup penyelamat dalam sistem keuangan mereka berada pada fihak yang sangat menentukan dalam penentuan harga jual produksinya.

Sadar akan kondisi kerja suami yang cukup berat dan berbahaya, serta penghasilan yang senantiasa kurang mencukupi, wanita nelayan ikut terjun dalam menopang kebutuhan hidup keluarga. Dalam kehidupan ekonomi aktivitas wanita cukup besar. Selain harus menyelesaikan segala tugas kerumahtanggaan yang memang secara kodrati telah menjadi tanggung jawabnya, wanita juga ikut membantu baik langsung maupun tidak langsung proses produksi yang dilakukan oleh para pria. Dalam kegiatan penangkapan ikan, mereka terlibat pada masa persiapan menjelang kegiatan tersebut dilakukan, misalnya menyediakan dan merawat alat tangkap yang digunakan, serta menyediakan bekal bagi keperluan melaut. Kemudian penjualan sebagai penyelesaian akhir dari satu rangkaian proses produksi sepenuhnya ditangani oleh para wanita ibu rumah tangga. Mengingat ikan sebagai komoditi yang cepat rusak, pekerjaan ini harus dilakukan dengan cepat.

Untuk menambah penghasilan keluarga banyak di antara wanita yang ikut bekerja secara langsung, baik hasil tangkapan ikan dari suami atau sengaja bekerja sebagai buruh upahan pada orang lain. Bekerja sebagai buruh umumnya wanita di pengasinan atau buruh gesek dan pabrik krupuk. Usaha gesek merupakan suatu jenis pekerjaan yang umum dilakukan. Hal ini karena tidak memerlukan pendidikan khsus dalam pengerjaannya dan sangat mudah dilakukan oleh anak-anak sekalipun.

Selain terlibat secara langsung dalam proses produksi, wanita juga mengelola keuangan keluarga. Di pundak seorang ibu pengelolaan keuangan dibebankan. Seorang ibu rumah tangga harus dapat mengatur segala pengeluaran yang diperlukan bagi kehidupan keluarga. Di samping itu, ia juga dituntut agar dapat mencari penyelesaian atau jalan keluar pada saat keluarga tersebut dalam keadaan kesulitan keuangan (musim paceklik). Berbagai upaya termasuk meminjam uang kepada tetangga, bakul atau tengkulak, dan bahkan sampai menjual barang yang dimiliki karena keadaan memaksa.

Pengurusan berbagai kegiatan kerumahtanggaan yang secara adat kebiasaan merupakan tugas dari pada wanita di daerah penelitian ini dilakukannya, walaupun dalam batas-batas standar kehidupan nelayan dengan tingkat ekonomi yang pas-pasan. Tugas yang cukup banyak menyita pikiran dan tenaga tersebut, secara rutin ditambah dengan statusnya sebagai kepala rumah tangga pengganti, karena suami harus mencari ikan di laut. Tugas kepala keluarga sebagai pelindung dan pengayom harus dilaksanakan. Dalam kondisi seperti ini, wanita nelayan harus memikirkan semua kesulitan rumah tangga yang dialaminya.


Daftar Pustaka
Balai Pusat Statistik. Kecamatan Dalam Angka Tahun 2004. Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Depdikbud. 1995. Peran Wanita Nelayan Dalam Kehidupan Ekonomi Keluarga Di Tegal Jawa Tengah. Jakarta: Depdikbud.

Mubyarto (dkk). 1984. Nelayan dan Kemiskinan. Studi Ekonomi Antropologi Di Desa Pantai. Jakarta: Rajawali.

Siti Munawaroh. 2003. Strategi Adaptasi Nelayan Pantai Teluk Penyu. Laporan Penelitian Jarahnitra. Yogyakarta: BKSNT.

Suhardi. 1982. “Pemberdayaan Air Tanah dan Lingkungan” Makalah seminar Peranan Agama, Filsafat, Sastra dan Budaya. Untuk Menggali dan Meningkatkan Wawasan Lingkungan Masyarakat. PPLH. Yogyakarta: PPLH UGM.

Kompas Tahun 2003. “Kemarau Perparah Derita Nelayan”.

Sumberi:
Jentara, Jurnal Sejarah dan Budaya. 2006. Volume 1, No. 2

[1] Depdikbud, Peranan Wanita Nelayan Dalam Kehidupan Ekonomi Keluarga Di Tegal Jawa Tengah. Depdikbud, Jakarta tahun 1995, hal. 3-4
[2] Suhardi. “Pemberdayaan Air Tanah dan Lingkungan”. Makalah seminan Peranan Agama, Filsafat, Sastra dan Budaya Untuk Menggali dan Meningkatkan Wawasan Lingkungan Masyarakat. PPLH. Yogyakarta: PPLH UGM, 1982
[3] Mubyarto (dkk). Nelayan dan Kemiskinan. Studi ekonomi Antropologi Di Desa Pantai. Jakarta: Rajawali, 1984
[4] Siti Munawaroh. 2003. Strategi Adaptasi Nelayan Pantai Teluk Penyu. Laporan Penelitian Jarahnitra Yogyakarta. Belum Terbit.
[5] Balai Pusat Statistik. Kecamatan Dalam Angka Tahun 2004. Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara Jawa Tengah
[6] Balai Pusat Statistik. Kecamatan Dalam Angka Tahun 2004. Kecamatan Kedung, Kapubaten Jepara, Jawa Tengah
[7] Kompas Tahun 2003. “Kemarau Perparah Derita Nelayan”, hal. 35
hal
Dilihat: