Upacara Kematian pada Suku Bangsa Madura di Desa Lenteng Timur

Lenteng Timur merupakan salah satu di antara dua puluh desa di Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep (Madura). Desa ini terletak sepuluh kilometer dari barat Kabupaten Sumenep. Luas wilayahnya 407,425 ha terdiri dari tanah sawah 50 ha, untuk telah 297,625 ha, tanah pekarangan 55,250 ha, tanah kuburan 3,300 ha dan tanah wakaf 1,250 ha, merupakan tanah pribadi yang disumbangkan untuk keperluan desa. Penduduknya berjumlah 5.223 jiwa, 1.309 kepala keluarga, sesuai hasil sesnsus penduduk 1982, hidup dari pertanian, perdagangan, pegawai negeri, swasta, TNI/Polri dan lain-lain.

Upacara kematian
Pada suatu hari dari suatu rumah kedengaran orang membaca surat Yassin. Bagi masyarakat setempat membaca surat Yassin mempunyai arti khusus, yaitu mengaji untuk menuntut orang yang akan meninggal dunia atau dibaca pada setiap malam Jumat oleh anggota masyarakat yang menjadi anggota perkumpulan Yassinan. Membaca Yassin bersama adalah suatu amalan, seperti halnya tahlilan untuk memintakan ampun bagi sanak famili serta sahabat yang sudah meninggal. Salah satu tanda bahwa ia akan segera meninggal bila ia sudah elemelle-e, artinya berjaga-jaga selalu pada malam hari. Jika keadaannya demikian, kerabatnya sekali-sekali melakukan epettok, yaitu bisikan agar selalu ingat kepada Tuhan.

Para tetangg dekatnya segera tahu bahwa tetangganya sedang menghadapi musibah. Para tetangga dekat bertandang atau menjenguknya, sebagai pernyataan solidaritas atau musibah yang sedang dihadapi oleh keluarga itu.

Di kalangan masyarakat Lenteng Timur, apabila ada salah seorang keluarganya yang sedang menghadapi kematian, lebih-lebih jika saat yang demikian itu berlangsung berlarut-larut hingga beberapa hari, maka si sakit dibacakan surat Yassin. Jika ia masih dapat berbicara, dibimbing untuk membaca Laa Ilaha Illallah, yang artinya “tidak ada Tuhan selain Allah”. Bacaan itu dituntunkan agar orang yang akan meninggal dunia, mati dalam keadaan Islam.

Biasanya seorang tetangganya segera memukul kentongan dengan pukulan yang segera dapat dimaklumi artinya oleh orang-orang sekitarnya, yaitu sebagai pemberitahuan adanya kematian pada warga kampung mereka.

Merawat Jenazah
Ketika orang yang sekarat sudah tidak bernyawa lagi, seseorang mengambil alih tugas selanjutnya. Dengan mengucap “Inna Lillahi wa’inna Illaihi Raji’un” (kita berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya), pertama-tama mengatur tangan mayat yang semula sejajar dengan badannya, disilangkan di dada, seperti sikap orang sholat. Agar tidak terlepas, diikat dengan sapu tangan. Kemudian diperbaiki letak kakinya, diluruskan dan pada ujung kedua kakinya juga diikat, agar letaknya tidak terbuka. Mulutnya yang sedikit menganga, dikatupkan rapat untuk mencegah agar tidak terbuka lagi dari geraham diikat dengan kain yang simpulnya berada di ubun-ubun. Demikian pula matanya yang sedikit terbuka, dipejamkan pada kelopak matanya ditindih dengan uang benggol, dengan suatu doa: “allahumagdir lihaadal myati warfak darajahatu fimahdiina wahlufhu fii akibihilghoib”. (Ya, Allah ampunilah mayit ini dan tinggikanlah derajatnya, dalam golongan orang-orang yang Kau beri petunjuk; berilah ia ganti sesudahnya dengan orang-orang yang tertinggal, serta ampunilah ia dan kita semua wahai Tuhan yang memelihara alam).

Semua itu dikerjakan tidak lama setelah orang itu meninggal, agar mudah diatur, karena mayat belum menjadi kaku. Kemudian jenazah itu dibaringkan dengan arah bujur utara-selatan, kepala di utara, kaki di selatan, lalu diselubungi dengan kain panjang. Mayat itu dibaringkan pada bangku panjang berkaki rendah. Pada keempat kakinya dimasukkan ke dalam kaleng yang sudah diisi air. Dekat dengan tempat pembaringan itu ditaruh penebha, yaitu sapu lidi yang hanya digunakan untuk membersihkan tempat tidur. Maksudnya untuk menolak bala.

Upacara memandikan jenazah
Tempat untuk memandikan mayat berada di luar rumah, di tempat terbuka. Tempat itu dikitari dinding kain setinggi orang berdiri, yang diikatkan pada empat pancang dari bambu, sehingga tempat memandikan itu berupa segi empat panjang. Di tempat itu diletakkan:

a. Batang pisang yang dibelah; sebanyak lima atau tujuh batang, dipakai untuk alas jenazah yang dimandikan, di atas balai-balai.

b. Klemuk, semacam buyung atau kemaron besar; tiga buah, masing-masing diisi air. Klemuk yang pertama hanya diisi air berih untuk membasuh seluruh badan serta mencuci rambut. Klemuk kedua diisi air dengan ramuan bunga atau wangi-wangian. Klemuk ketiga diisi air suci untuk mensucikan jenazah dari hadast kecil maupun besar. Masing-masing klemuk dilengkapi dengan gunung dari tempurung kelapa.

c. Sabun mandi yang harum, daun pacar dan rumput ilalang, atau batang padi.

d. Air landa merang, yaitu bahan keramas yang dibuat dari batang bulir padi yang dibakar, kemudian abunya dimasukkan ke dalam baskom yang berisi air.

Setelah persiapan tersebut selesai, maka jenazah diusung dari tempatnya ke luar oleh sanak keluarganya yang terdekat, untuk dimandikan. Jenazah itu diusung oleh tiga orang, yang akan memandikan semua laki-laki, yang dipimpin oleh majadinya. Ia boleh melakukan pekerjaan tersebut karena dia juga seorang haji yang mengaji dari ilmu agama.

Mengafani Jenazah
Pada ruang tengah rumah, terletak sebuah katel atau keranda yang sudah dibuka bagian atasnya dengan posisi arah utara-selatan. Pada alas katel diletakkan selembar tikar, kemudian di atasnya diletakkan selembar kain kafan yang digunakan sebagai pembungkus. Pada sisi kepala, tubuh dan kaki, ada serpihan kain untuk pengikat. Di atas lembaran itu terdapat kain putih yang akan digunakan sebagai sarung, celana dalam dan baju. Sedang di bagian atas diletakkan kain putih yang sudah dipas kira-kira setapak tangan untuk pengikat kepala.

Upacara Salat Jenazah
Sebagian besar penduduk Desa Lenteng Timur beragama Islam, maka upacara sembahyang jenazah itu selain dilakukan di rumah, yaitu sebelum katel itu ditutup, juga diadakan lagi sembahyang jenazah di masjid desa itu. Upacara sembahyang dipimpin oleh seorang Kyai Ngaji.

Upacara Penglepasan Jenazah
Jenazah yang siap dimakamkan itu dibawa ke halaman rumah melalui pintu depan. Semua pelayat berdiri dengan khidmat. Kemudian diadakan sambutan singkat oleh wakil keluarga almarhum, biasanya diberikan oleh seorang kyai atau guru mengaji. Dalam sambutan singkat itu dikemukakan tentang asal-usul manusia, yaitu dari tanah kembali ke tanah. Dan diuraikan tentang hubungan manusia yang sudah meninggal dengan keluarga yang masih hidup sudah putus.

Upacara Pemberangkatan ke Makam
Setelah upacara penglepasan maka segala sesuatu yang berkaitan dengan upacara pemakaman telah disiapkan:

a. Betonan (Beton)
Istilah dalam masyarakat Desa Lenteng Timur ialah dinding areh. Benda ini dibuat dari batu atau kayu, gunanya untuk menutup jenazah dalam liang lahat sebelum ditutup dengan tanah; berukuran panjang dalam liang lahat sebelum ditutup dengan tanah; berukuran panjang 80 cm, lebar 30 cm, tebal 6 cm.

b. Tanah kepalan
Istilah dalam masyarakat Desa Lenteng Timur ialah belu-belu, terbuat dari tanah yang dikepal-kepal. Tanahnya diambil dari tanahan di kuburan tempat jenazaj akan dimakamkan. Belu-belu ini berjumlah tujuh dan dipergunakan sebagai pengganjal jenazah di dalam liang lahat agar letaknya tidak berubah. Masing-masing belu-belu diletakkan di bawah pelipis kanan, leher, bahu, pinggang, pinggul, lutut dan mata kaki.

c. Sepasang nisan (Maejan)
Benda ini terbuat dari batu atau kayu, gunanya untuk tetenger (tanda) bagi orang yang meninggal. Pada nisan tersebut dituliskan nama orang yang meninggal dan kapan meninggalnya (tanggal, bulan, tahun). Nisan berukuran panjang + 65 cm, lebar + 20 cm dan tebal + 10 cm, ujungnya berbentuk runcing untuk orang laki-laki. Nisan untuk orang perempuan ujungnya rata dengan ukuran panjang + 55 cm, lebar + 20 cm dan tebal + 10 cm.

d. Payung jenazah
Payung jenazah biasanya dibuat dari kertas dan berfungsi untuk memayungi jenazah dalam perjalanan menuju ke kubur. Pada waktu pelayat pulang payung ditinggal di kubur dan diletakkan di atas pusara.

e. Bunga tabur dan minyak wangi
Jenis bunga ialah mawar, melati dan cempaka. Bunga ditaburkan di atas kuburan, begitu pula minyak wangi disiramkan di atas kuburan.

Dengan didahului ucapan selawat “Allohumma soli alla Muhammad” maka iringan jenazah itu mulai meninggalkan halaman rumah. Dengan iringan kalimat “La Illaha Illaloh Muhammadar Rasullullah” iringan itu menuju ke masjid yang terdekat, untuk sekali lagi melakukan upacara sembahyang jenazah.

Setelah slesai menyembahyangkan, para pemikul keranda membawanya ke luar masjid, sementara itu para pelayat sudah siap menyambutnya, memberangkatkan jenazah ke makam.

Upacara Pemakaman
Upacara menanam jenazah berlangsung di kuburan. Keranda diletakkan di samping kanan, atau di barat liang lahat, kain penutup katel dilepaskan lalu dibentangkan di atas lahat, menaungi jenazah dimasukkan ke dalamnya. Kerangka penutup katel juga diangkat dan disingkirkan agak jauh, agar tidak merintangi orang-orang yang bekerja menanam jenazah. Biasanya telah ada orang yang menyimpannya kembali di kompleks makam itu.

Di liang lahat itu penerima jenazah telah siap, terdiri dari tiga orang yang semuanya mempunyai hubungan kerabat dengan almarhum. Setelah jenazah dipindahkan dari katel, maka dengan khidmat mulai diturunkan ke liang lahat dibacakan doa “Bismillahi waalaa millati Rasullulah” (dengan nama Allah, dan semoga tetap tuntunan agama Rasullulah). Setelah jenazah dibaringkan, dua orang naik ke atas dan tinggal seorang di liang lahat.

Ia pertama-tama memperbaiki letak jenazah dengan membaringkan agak miring, dengan pipi kanan menyentuh tanah. Posisi itu adalah posisi yang melambangkan orang sedang sholat menghadap ka’bah atau kiblat. Agar letak tubuh jenazah tidak berubah, maka pada tengkuk jenazah, punggung, pantat, bagian belakang lutut dan tungkai, ditopang dengan belu-belu. Sesudah itu tali pengikat di atas kepala dilepaskan demikian pula yang terdapat di pinggang dan kaki.

Sesudah itu ia menghadap ke kiblat, menyerukan adzan dan dilanjutkan dengan iqomat. Selesai, orang itu naik dari liang lahat, kemudian turun dua orang untuk memasang betonan atau dinding areh. Sesudah pekerjaan penutup liang lahat selesai, dimulailah menimbun liang lahat.

Pada cangkulan pertama dilakukan oleh Kyai dengan doa: “Minha khalaqu nakum” (Engkau semua telah kujadikan dari tanah). Pada cangkulan ke dua, disunatkan membaca doa: “wafiiha nuidukum” (dan kukembalikan engkau semua ke dalam tanah). Pada saat menimbun dengan cangkulan ke tiga dibaca doa: “wa minha nuhrjuukum taratan ukhro” (Engkau semua akan Kami bangkitkan dari tanah sekali lagi).

Setelah itu secara beramai-ramai para pelayat menimbun liang lahat tersebut secara bergantian. Setelah hampir selesai, dipasang maejan atau nisan pada bagian atas dan bagian bawah, diperkirakan letaknya di atas kepala dan kaki. Kemudian menimbun liang lahat dilanjutkan sampai penuh, melebihi permukaan tanah sekitarnya. Di atas pusara itu kemudian dipancangkan payung, rangkaian bunga dan bunga tabur yang disebarkan di atas tanah gundukan antara dua nisan yang sudah terpasang itu.

Membaca Telekan (talkin)
Di sebelah timur makam dibentangkan tikar dan diletakkan anglo/untuk membakar kemenyan. Kemudian seorang kyai duduk di atas tikar tersebut dan sebelum ia menuangkan air talkin dan kendi dari arah kepala ke kaki sambil membaca Tsakolliji, wabaradallhu masjaahu, wajahhalal jannata maswahu”.

Upacara selamatan sesudah pemakaman

Ketika jenazah diberangkatkan ke makam, di rumah telah dipersiapkan selamatan untuk para pelayat sesudah kembali dari kubur. Untuk selamatan ini, masyarakat menyebutnya sebagai “arasol atau rasolam” yang berarti selamatan.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: