Prinsip Bawalaksana Dalam Kepercayaan

Budaya Jawa khususnya khasanah seni sastra Jawa masih sangat banyak pengaruhnya di kalangan masyarakat Jawa. Oleh karena itu khasanah sastra Jawa menjadi sorotan ilmu dan kajian budaya bagi kepentingan perkembangan budaya bangsa Indonesia. Banyak yang perlu digali dan dipelajari kembali. Dari sekian banyak yang perlu dikaji tersebut terdapat titik pandang yang merupakan bagian dari hasil budaya bangsa, khususnya Jawa, yaitu bentuk ungkapan yang bermaksud dan makna luas bagi kehidupan. Terdapat satu ungkapan yang sangat menarik, yaitu “bawalaksana”. Ungkapan tersebut rupanya masih sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Jawa, sehingga menjadi prinsip atau peka pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari, mengingat makna dan arti yang sangat relevan di dalam kehidupan bermasyarakat dan bangsa Indonesia.

Di dalam kepercayaan Jawa terdapat pengertian bahwa ucapan atau ungkapan seseorang mempunyai daya magis. Maksud daya magis adalah suatu pernyataan atau ungkapan yang mempunyai makna “sebab akibat”. “Sebab” maksudnya suatu ungkapan yang terlontar, tertulis karena ingin memberikan, suatu pengaruh terhadap orang lain. Sedang “akibat” adalah timbul apabila “sebab” yang telah terlontar, tertulis tetapi tidak terbukti, terealisir atau terwujud. Pernyataan atau ungkapan tersebut mempunyai daya magis tak ubahnya seperti perkataan seorang pendeta sakti; apa yang diucapkan jadi. Dalam dunia pewayangan diberitakan contaoh Resi Gotama yang mengucapkan tidak senangnya terhadap isterinya, Dewi Raguwati karena tidak menjawab pertanyaan Resi Gotama. Akibat ungkapan Resi Gotama, maka Dewi Raguwati menjadi tugu. Kembalinya menjadi wanita dalam episode “Anggada Duta”. Demikian perkataan yang berdaya magis tersebut tertuang dalam ungkapan “bawalaksana”. Fenomena-fenomena seperti dalam ungkapan atau dalam ceritera drama menjadi gambaran terhadap perilaku atau kehidupan dalam bertindak, ucapan dan perbuatan, meskipun terdapat pengakuan antara setuju dan tidak. Sehingga kehidupan tak ubahnya seperti sebuah ceritera lakon atau drama dalam dunia pentas.

Bawalaksana mempunyai arti “netepi kang dadi ujare” atau menjalankan sesuai dengan ucapannya atau dapat juga diartikan satunya kata dengan perbuatan. Arti tersebut mempunyai makna luas dan kompleks dalam kehidupan Jawa, seperti terlihat banyaknya konsep ceritera dan kehidupan masyarakat Jawa yang diwarnai atau dipengaruhi oleh ungkapan tersebut. Apabila ungkapan tersebut diperhatikan erat kaitannya dengan ungkapan lain seperti “sabda pandhita ratu” yang erat kaitannya dengan karakteristik tokoh sebagai penderita. Hubungan penderita dengan ungkapan tersebut rupanya suatu keterkaitan antara sebab dan akibat.

Di dalam dunia pewayangan terdapat banyak contoh yang menggambarkan konsep bawalaksana, seperti tokoh Karna dalam ceritera “Baratayuda”. Jika diperhatikan tokoh Karna merupakan kesatria yang sangat tangguh dan tampan, tetapi secara sepintas cukup disayangkan tindakan Karna tersebut. Secara rasio Karna yang berasal dari keluarga baik dan tangguh dalam berperang, tetapi disayangkan karena pembela para Kurawa yang berwatak jahat. Jika diperhatikan alur ceritera, misalnya episode “Banjaran Karna”, yang menceriterakan awal kelahiran Karna sampai kematiannya, terdapat suatu peristiwa yang cukup membingungkan, antara benar dan salah. Bagian tersebut terlihat dalam pertemuan Kunti, Kresna dan Karna. Di satu sisi Kresna dan Kunti membujuk Karna untuk berpihak atau membela Pandawa karena Pandawa adalah adik Karna, di pihak yang benar. Karna, sebagai tokoh yang baik dan berwatak kesatria, secara rasio sepantasnya membela ibu dan adik-adiknya, tetapi Karna justru melontarkan suatu pertanyaan yang sangat berbobot. Karena memberikan pertimbangan bujukan tersebut dengan pertanyaan, “siapa yang membesarkan Karna dan kenapa ibunya sendiri, Kunti justru membuang Karna yang setelah besar akan diraih untuk membela Pandawa dan memusuhi yang membesarkannya selama ini”. Dalam bagian ini akan timbul suatu analog, siapa sebenarnya tang bertindak khianat, Karna atau Kunti dan Kresna. Bagian ini akan memberikan gambaran antara benar dan salah dalam hubungan sebab akibat. Ditinjau dari “sebab” tokoh Karna membela Kurawa karena menempatkan dirinya dengan ungkapan bawalaksana karena yang membesarkan dirinya adalah Kurawa apalagi Karna telah bersumpah akan membela Kurawa sampai kematiannya. Kesanggupan sumpah adalah suatu konsep kesatria yang baik, tetapi di satu sisi apakah Karna melampiaskan dendamnya, karena waktu lahir dibuang oleh ibunya. Hal tersebut rupanya tidak menjadi landasan pemikirannya karena terlihat kesanggupannya untuk mengalah dalam perang dan merelakan kematiannya. Di samping itu Karna bersumpah membela Kurawa karena waktu itu belum tahu bahwa ia anak Kunti. Konsep bawalaksana yang melandasi kepribadiannya memberikan suatu jawaban terhadap akibat dari perbuatannya.

Jika uraian di atas merupakan konsep “sebab” dari bawalaksana, berikut ini dapat dilihat konsep akibat dari konsekwensi bawalaksana. Karna menepati janji menanggung akibat moral pribadi terhadap kenyataan hidupnya. Karna tetap sebagai kesatria sejati meskipun membela Kurawa yang berwatak jahat. Karena berani merelakan kematiannya untuk dikorbankan dalam pembelaannya secara tidak langsung kepada Pandawa. Merelakan kematiannya berarti Karna tidak melestarikan watak Jahat yang dimiliki oleh Kurawa karena kematiannya akan mengikis habis watak jahat, sebagai makna perang Baratayuda yang merupakan hukum sebab akibat. Di satu sisi Karna dalam kematiannya tetap mempunyai nama harum dan mendapat kematian sempurna, sehingga mendapat surga.

Banyak contoh cerita visual yang intinya tetap sama, yaitu “ngunduh wohing pakarti” atau memetik buah perbuatannya. Banyak contoh episode yang membuat konsep bawalaksana, tetapi kiranya satu contoh tersebut cukup mewakili dan sebagai bahan acuan bahwa budaya Jawa banyak menampilkan konsep bawalaksana.

Gambaran dalam dunia pewayangan tersebut kiranya suatu visualisasi kehidupan manusia dalam masyarakat yang penuh dengan problematik. Seandainya tokoh Karna dialami oleh manusia, cukup berat tantangannya, yaitu antara benar dan salah yang masih diikuti penampilan kepribadian, yaitu nilai sosialnya.

Cukup berbobot kiranya konsep bawalaksana bagi seseorang yang telah menjalankannya, tetapi karena beberapa unsur pertimbangan kehidupan dan lain sebagainya kadang-kadang justru merasa riskan dan semakin takut akan kenyataan. Konsep bawalaksana agaknya erat dengan golongan menengah ke atas, meskipun prosentase itu juga kurang tepat, tetapi hendaknya dapat dipertimbangkan. Pertimbangan tersebut muncul dan dapat diambil contoh dalam kehidupan seseorang yang telah tergolong “mampu”, sehingga kadang-kadang sebutan mampu yang luas tersebut akan mempengaruhi kehidupan sosial dalam bermasyarakat. Contoh kemampuan seseorang dari segi harta, ilmu dan lain-lain akan membawa sifat penghargaan terhadap masyarakat lingkungannya. Orang yang mampu atau sering disebut orang terpandang, kalau tidak konsekwen dengan ucapan akan mudah meluas dan banyak orang memandang bahwa dalam kehidupannya dapat dikatakan kurang memenuhi syarat bermasyarakat. Dalam istilah Jawa sering disebut “ora umum” atau tidak setara, tidak sesuai dan lain sebagainya.

Banyaknya “sebab akibat” dari konsep bawalaksana tersebut, membuat seseorang takut akan “hukum sebab akibat”, sehingga seseorang hendaknya berhati-hati dalam bertutur kata demi satunya kata dan perbuatan. Dalam kehidupan orang Jawa tidak sedikit yang beranggapan bahwa kepekaan terhadap hukum sebab akibat, menimbulkan banyak pula ungkapan yang erat dengan bawalaksana, seperti “ajining dihiri mung saka kedaling lathi, mandi marang ucapane dhewe, sabda pandhita ratu” dan lain sebagainya. Semua itu memberi asumsi terhadap bawalaksana. Kiranya dapat dibayangkan bahwa seseorang yang telah terkena ucapannya sendiri. Seperti dalam persidangan, jika seseorang memberikan keterangannya berbelit-belit akan mendapat hukuman yang lebih berat. Dalam dunia pewayangan diberikan banyak contoh, yaitu tokoh Wisrawa yang terkena sumpahnya sendiri dalam Sastrajendra Hayuningrat, Resi Sampani dalam kasus kematian Jayadrata dan masih banyak yang lain.

Seperti juga dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang telah melontarkan ucapan terhadap orang lain maupun bersaksi dalam dirinya sendiri, tentu akan mempunyai rasa atau bahkan kena sangsi akibat dari ucapannya tersebut. Contohnya, seorang ayah telah berjanji kepada anaknya, tentu saja jika tidak ditepati aan kena sangsi berupa kemarahan anaknya, sehingga akan mengurangi kepercayaan anak kepada ayahnya. Ini satu contoh ringan, dalam kehidupan sehari-hari, yang levelnya antar kehidupan keluarga, anak dan ayah. Dapat dibayangkan jika hal seperti ini dialami oleh seorang pemimpin yang mempunyai pengaruh besar dan luas, maka pemimpin tersebut akan kena akibat, yaitu sangsi kurangnya anggapan orang banyak terhadap dirinya.

Timbul pertanyaan, yaitu “ana ngendi dununging bawaleksana..” atau dimana letak konsekwensi dari ucapan tersebut. Bandingkan dengan contoh lakon wayang “Baratayuda” episode “Kresna Duta”, yaitu Buryudana menjilat ucapannya sendiri sewaktu menjawab pertanyaan Kresna. Semula ia bersedia memberikan negara Hastina tanpa syarat, tetapi setelah para dewa pergi, ia meralat ucapannya, yaitu akan memberikan negara Hastina asal dapat mengalahkan dirinya. Akibat dari ucapannya tersebut Duryudana mati dengan cara menyedihkan yang tidak selayaknya bagi seorang raja.

Cerita demi cerita yang terdapat dalam khasanah sastra Jawa tersebut memberikan intuisi atau gambaran kepada masyarakat tentang perikehidupan yang sangat kompleks. Tidak mustahil dalam kepercayaan Jawa timbul anggapan atau pengaruh dari contoh-contoh drama, lakon wayang dan lain sebagainya, sehingga makna konsep bawalaksana dengan segala keterkaitannya dengan ungkapan yang menjadi pegangan.

Perbandingan antara cerita lakon wayang dan kenyataan, khususnya prinsip bawalaksana, kiranya tidak jauh berbeda karena kenyataan prinsip bawalaksana dalam masyarakat menjadi cermin yang sangat baik.

Akibat dari prinsip tersebut di masa sekarang banyak mewarnai kehidupan masyarakat, seperti banyaknya ungkapan jawa dalam pidato, ceramah dan lain-lain, misalnya ungkapan-ungkapan “mulat sarira hangrasa wani, aji mumpung, aja dumeh” dan sebagainya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: