Makna Wangsit Dalam Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Wangsit dalam kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan kata kunci. Berdasarkan wangsit yang diterima oleh seseorang dari Tuhan Yang Maha Esa itulah suatu organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tumbuh dan berkembang. Wangsit sering pula diistilahkan dengan ilham, petunjuk, sabda, tuntunan atau dhawuh (perintah) juga wisik (bisikan) gaib dari Tuhan Yang Maha Esa.

Wangsit diterima saat seseorang sedang melaksanakan sujud menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak sembarang orang dapat menerima wangsit. Hanya mereka yang terpilih yang mampu menerimanya. Orang terpilih tersebut umumnya adalah orang yang tekun mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan tekun mencari hakikat dari hidup dan kehidupan manusia di dunia ini. Orang tersebut juga tekun menjalankan apa yang diistilahkan dengan laku, yaitu menjalankan berbagai bentuk puasa seperti tidak makan dan minum untuk jangka waktu tertentu, mutih (hanya makan nasi putih), ngrowot (hanya makan buah-buahan) dan lain-lain.

Wujud wangsit yang sering dijumpai dalam organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, umumnya berupa suara gaib atau suara batin dan dapat pula berupa perlambang atau gegambaran yang hanya dapat didengar atau dilihat oleh seseorang yang benar-benar bersih dan suci hatinya. Wangsit tidak hanya diterima sekali dalam satu saat, artinya hany sekali seseorang menerima satu wangsit setelah itu tidak menerimanya lagi. Wangsit umumnya diterima secara berkesinambungan dan dalam jangka waktu yang relatif panjang, bahkan dapat berlangsung puluhan tahun. Yang pasti tidak seorang pun dapat memastikan kapan wangsit tersebut akan diterima dan apa isinya. Adanya diyakini adalah atas karsa dan kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sesuai dengan padanan penyebutannya wangsit berisikan ilham, pertunjuk, sabda tuntunan, dhawuh (perintah) atau wisik (bisikan) gaib ke arah perilaku berbudi luhur. Artinya apabila seseorang mencerna menghayati dan kemudian mengamalkan wangsit tersebut, dia akan dapat mencapai keluhuran budi yang akan mampu membawanya ke arah pencapaian ketenteraman hidup lahir dan batin. Wangsit itu ditularkan oleh penerimanya kepada orang lain. Dengan semakin bertambahnya mereka yang berminat untuk mencerna, menghayati dan mengamalkan apa yang terkandung dalam wangsit tersebut demi ketenteraman hidup lahir dan batin, maka terbentuklah kemudian suatu organisasi penghayat kepercayaan. Wangsit kemudian menjadi pokok-pokok ajaran organisasi penghayat kepercayaan. Penerima wangsit selanjutnya disebut sebagai sesepuh dari organisasi itu.

Metode Pendekatan diri kepada Tuhan
Bangsa Indonesia kaya akan warisan budaya. Secara garis besar, warisan budaya tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu warisan budaya material dan non material. Termasuk dalam warisan budaya material adalah peninggalan sejarah dan purbakala seperti candi, makam, mesjid dan lain-lain. Sedangkan warisan budaya non material meliputi warisan yang berupa nilai, ide dan gagasan. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa termasuk dalam warisan budaya non material ini.

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah warisan kekayaan rohaniah yang bukan agama yang dalam kenyataannya merupakan bagian dari kebudayaan angsa yang hidup dan dihayati serta dilaksanakan oleh sebagian rakyat Indonesia sebagai budaya spiritual. Warisan tersebut berupa ajaran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang beraneka ragam. Apabila ajaran yang beraneka ragam itu kita cermati di dalamnya kita antara lain dapat melihat konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, alam, pengamalan, kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari dan juga metode pendekatan diri kepada Tuhan. Metode pendekatan diti kepada Tuhan ini sering pula diistilahkan dengan penghayatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, semedi, sujud, manembah, manekung dan lain-lain.

Intensitas pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa ini sangat bergantung pada masing-masing orang. Intensitas tersebut ditentukan oleh tekad atau niat seseorang, disamping pemahaman seseorang terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pendekatan diri kepada Tuhan ini dibarengi dengan laku berupa tapa brata atau tarak brata yang intinya meningkatkan pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu yang ada pada diri manusia agar dapat berada lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Intensitas pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan pengalaman berke-Tuhanan yang berbeda-beda untuk masing-masing orang. Orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sangat intensif, akan kemungkinan memperoleh wangsit. Tetapi sekali lagi, kemungkinan tersebut hanya akan terjadi apabila Tuhan Yang Maha Esa mengizinkannya.

Beberapa Contoh
Wangsit yang diterima oleh para pinisepuh organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sangat beragam isinya. Berikut ini ditampilkan tiga diantaranya.

Kerohanian Sapta Darma adalah organisasi penghayat kepercayaan yang sekarang berpusat di Yogyakarta. Ajarannya pertama kali diterimakan kepada Penuntun Agung sri gutama, yang nama aslinya Bapak Hardjosapuro pada 27 Desember 1952 dan penerimaan ajaran-ajaran lainnya berlangsung selama 12 tahun. Ajran-ajaran tersebut antara lain sujud, Wewarah Tujuh, Simbul Pribadi Manusia, racut dan sesanti. Sebagai contoh dikutipkan di sini salah satu terjemahan dari ajaran-ajaran tersebut, yaitu wewarah tujuh:

1. Setya tahu kepada Allah Hyang Maha Agung Maha Rohim, Maha Adil, Maha Waswsa, dan Maha Langgeng.
2. Dengan jujur dan suci hati harus seia menjalankan perundang-undangan negaranya.
3. Turut serta menyingsingkan lengan baju menegakkan berdirinya nusa dan bangsanya.
4. Menolong kepada siapa saja bila perlu tanpa mengharapkan sesuatu balasan, melainkan berdasarkan rasa cinta kasih.
5. Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri.
6. Sikapnya kepada warga masyarakat harus susila dengan halusnya budi pekerti, senantiasa membuat pepadang dan puasnya pihak lain.
7. Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi melainkan selalu berubah-ubah tanyakramanggilingan.

Aliran kebatinan “Perjalanan” adanya organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berpusat di Jakarta, namun warganya sebagian besar tersebar di Jawa Barat. Wangsit gaib yang diberi nama Dasa Wasita dan menjadi pokok ajaran Aliran Kebatinan “Perjalanan” diterima oleh Bapak Mei Kartawinata pada 17 September 1927. Dasa Wasita tersebut secara lengkap adalah sebagai berikut:

1. Janganlah membiarkan dirimu dihina dan direndahkan oleh siapa pun, sebab dirimu tidak lahir dan besar oleh sendirinya, tetapi dilahirkan dan dibesarkan penuh dengan cinta kasih ibu dan bapakmu. Bahkan dirimu itu sendirilah yang melaksanakan segala kehendak dan cita-citamu dan seyogyanya kamu berterima kasih kepadanya.
2. Barang siapa menghina dan merendahkan dirimu sama juga artinya menghina dan merendahkan ibu bapakmu, bahkan leluhur bangsamu.
3. Tiada lagi kekuatan dan kekuasaan yang melebihi Tuhan Yang Maha Belas dan Kasih. Sifat belas kasih itu pun dapat mengatasi dan menyelesaikan segala pertentangan/pertengkaran, bahkan dapat memadukan faham dan usaha untuk mencapai tujuan lebih maju, serta menyempurnakan akhlak dan meluhurkan budi pekerti manusia.
4. Dengan kagum dan takjub kamu menghitung-hitung tetesan air yang mengalir merupakan kesatuan mutlak menuju lautan, sambil memberi manfaat kepada kehidupan manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi belum pernah kamu mengagumi dan takjub terhadap dirimu sendiri yang telah mempertemukan kamu dengan dunia dan isinya. Bahkan kamu belum pernah menghidung kedip matamu dan betapa nikmat yang kamu telah rasakan sebagai nikmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
5. Ke mana kamu pergi dan di mana pun kamu berada, Tuhan Yang Maha Esa selalu beserta denganmu.
6. Perubahan besar dalam kehidupan dan penghidupan manusia akan menjadi pembalasan terhadap segala penindasan serta mencetuskan/melahirkan kemerdekaan hidup bangsa.
7. Apabila pengetahuan disertai kekuatan raga dan jiwanya digunakan secara salah untuk memuaskan hawa nafsu akan menimbulkan dendam kesumat, kebencian, pembalasan dan perlawanan. Sebaliknya apabila pengetahuan dan kekuatan raga serta jiwamu digunakan untuk menolong sesama akan menumbuhkan rasa kasih sayang dan persaudaraan yang mendalam.
8. Cintailah sesama hidupmu tanpa memandang jenis dan rupa, sebab apabila hidup telah meninggalkan jasad. Siapapun akan berada dalam keadaan sama tiada daya dan upaya. Justeru karena itu selama kamu masih hidup berusahalah agar dapat memelihara kelangsungan hidup sesamamu sesuai dengan kodratnya menurut kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
9. Batu di tengah kali jikalau olehmu digarap menurut kebutuhan, kamu bisa menjadi kaya raya karenanya. Dalam hal itu yang membuat kamu kaya bukanlah pemberian dari batu itu, tetapi adalah hasil kerjamu sendiri.
10. Geraklah untuk kepentingan sesamamu, bantulah yang sakit untuk mengurangi penderitaannya. Kelak akan tercapailah masyarakat kemanusiaan yang menegakkan kemerdekaan dan kebenaran.

Paguyuban Penghayat Kasampurnaan (Papengkas) adalah organisasi penghayat kepercayaan yang berpusat di Surabaya. Petunjuk yang serupa suara batin yang menjadi pokok ajaran organisasi ini diterima oleh Ki Soedjak pada 10 November 1978. Petunjuka tersebut beserta artinya sebagai berikut:

1. Sing mbok goleki wis ana ing awakmu dewe, artinya apa yang dicari sudah ada pada dirimu sendiri.
2. Reksanen gunung reksa muka, artinya peliharalah gunung reksa muka.

Maksud dari petunjuk itu adalah:

1. Gunung adalah lambang sesuatu yang tinggi dan agung, lambang diri manusia yang memiliki sesuatu yang tinggi nilainya, yang membedakannya dari makhluk lain sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu akal, budi dan angan-angan.
2. Reksa secara harafiah berarti memelihara, menguasai atau menjaga.
3. Muka artinya wajah. Pada wajah manusia terdapat beberapa jalan masuk bagi anasir-anasir alam yang menghidupi manusia, namun juga sering mempengaruhi akal budi manusia. Jalan masuk tersebut adalah paninggal (mata), pengucap (mulut), pangrungu (telinga), dan pangganda (hidung). Jadi yang dimaksud reksanen gunung reksa muka adalah keharusan selalu menjaga agar anasir-anasir alam yang masuk ke badan manusia melalui jalan-jalan yang ada pada wajah manusia ini dapat diatur, dijaga dan dikuasai agar nantinya tidak akan terpengaruh atau dirasuki anasir-anasir yang kurang baik, sehingga akal budi dan angan-abangan kita dapat kita kendalikan.

Selain mendapat petunjuk berupa suara gaib atau suara batin, Ki Soedjak mendapat suatu petunjuk berupa bayangan sebuah kereta kuda yang ditarik oleh empat ekor kuda dengan empat macam warna dan kereta tersebut dikusiri oleh seseorang yang berbusana seperti Prabu Bathara Kresna yang memegang kendali ke empat ekor kuda tadi.

Demikianlah sekilas uraian tentang makna wangsit dalam kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Uraian ini baru merupakan upaya untuk memahami pengertian wangsit yang menjadi pokok ajaran organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Tentunya masih sangat diperlukan upaya-upaya pengupasan lain untuk lebih memperjelas pengertian tersebut karena wangsit pada dasarnya bersifat gaib.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
hal
Dilihat: