Damarwulan Jumeneng Nata

Pengalih huruf naskah ini tidak menyebutkan berasal dari naskah mana ceritera ini berasal. Yang jelas naskah ini berbentuk legendriya “drama tari istana Jawa” (KBRI, 1988: 494) yang disajikan dalam bentuk sinom, asmaradana, mijil, megatruh, pangkur, kinanthi dan durma. Naskah ini menceriterakan perjalanan hidup Damarwulan sampai ia berhasil menduduki tahta Kerajaan Majapahit dan memperisteri Ratu Kenya, pewaris tahta Kerajaan Majapahit. Kemudian naskah ini diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982.

Dikisahkan bahwa Adpati Blambangan, Prabu Urubesma, atau yang lebih dikenal dengan Prabu Menakjingga memberontak terhadap kekuasaan Majapahit; didasari keinginannya memperisteri Ratu Majapahit. Sebenarnya Ratu Majapahit telah mengutus Adipati Tuban dan Adipati Kediri untuk menumpas pemberontakan itu, tetapi gagal, bahkan mereka berdua gugus di medan pertempuran. Persoalan Blambangan belum selesai, muncul pasukan dari Wandan Gupita yang hendak menyerang Majapahit. Selanjutnya Ratu Majapahit dalam mimpinya menerima petunjuk Dewata bahwa yang dapat mengalahkan Prabu Urubesma adalah seorang bernama Damarwulan.

Setelah menemukan Damarwulan, Ratu Majapahit mengutus Damarwulan, Ratu Majapahit mengutus Damarwulan menumpas pemberontakan itu dengan diiringi oleh Raden Layangseta dan Raden Layangkumitir. Berkat pertolongan isteri Prabu Urubesma, yaitu Dewi Sasmitaningrum dan Dewi Suselawati, Damarwulan berhasil membunuh Prabu Urubesma.

Di tengah perjalanan pulang menuju Majapahit, Damarwulan dibunuh oleh Raden Layangseta dan Raden Layang Kumitir. Setelah berhasil membunuh Damarwulan dan merampas peti yang berisikan kepala Prabu Urubesma, kedua orang itu pulang ke Majapahit dan mengaku bahwa merekalah yang berhasil membunuh PrabuUrubesma. Prabu Kenya tidak begitu saja mempercayai keterangan kedua orang itu karena tidak sesuai dengan wangsit yang diterimanya.

Ternyata memang benar bahwa Damarwulan masih hidup sehingga untuk membuktikan kebenaran ceritera itu. Damarwulan berperang tanding melawan Raden Layangsetadan Raden Layang Kumitir. Damarwulan berhasil mengalahkan kedua orang itu sehingga ialah yang berhak memperisteri Ratu Majapahit dan bertahta sebagai Raja Majapahit.

Dapat disimpulkan bahwa ceritera ini yang hidup pada masa akhir kejayaan Majapahit masih diwarnai pengaruh agama Hindu. Hal ini terlihat pada waktu Ratu Majapahit menerima wangsit dari Dewata untuk menemukan seorang yang bernama Damarwulan.
Jeng Dewa Ji kula boten dugi,
mring wangsit Hyang Manon,
Damarwulan Kang saged nyirnakke,
mring pun Besma Wusana blenjadi,
Damarwulan lalis,
mengsih Besma Prabu.

Ugi pejah Prabu Urubesmi,
saking dasih katong,
Layangseta Kumitir kalihe,
anglengkara wangsitnya Dewa Ji.

Wangsit yang datang dari Dewata ini dipegang teguh oleh Ratu Majapahit sehingga ia tidak mempercayai keterangan Layangseta dan Layangkumitir yang mengaku telah membunuh Prabu Urubesma. Dan akhirnya memang terbukti bahwa Layangseta dan Layangkumitir telah berbohong terhadap ratunya sehingga mereka dapat dikalahkan Damarwulan dalam perang tanding.

Selain unsur agama Hindu yang tampak masih dominan, dapat ditemui pula unsur mitologi dalam ceritera ini. Unsur mitologi itu mengenai kekuasaan seorang raja yang tidak boleh diganggu gugat. Raja adalah utusan atau wakil Dewata di muka bumi ini yang harus dipatuhi dan ditaati segala perintahnya. Barang siapa yang melawan raja akan hancur binasa. Maka perbuatan Prabu Urubesma yang bernai memberontak terhadap Ratu Majapahit, yang dilandasi keinginannya untuk memperisteri Ratu Majapahit tidak direstui oleh Dewata. Prabu Urubesma yang gagah perkasa, yang tidak dapat mati selain oleh senjata sendiri, besi kuning, akhirnya binasa karena pengkhianatan kedua isterinya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1996. Khasanah Budaya Nusantara VII. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Dibaca: