Suku Bangsa Citak (Papua)

Orang Citak merupakan satu kelompok etnik yang berdiam dalam wilayah Kecamatan Citak Mitak, Kabupaten Merauke, Propinsi Papua. Mereka ini berdiam di sekitar aliran sungai Wildeman dan sungai Sua. Wilayah pemukiman kelompok ini berdekatan dengan beberapa kelompok etnik lainnya, seperti kelompok Awyu, Yaqai, Asmat. Dilihat dari hasil-hasil karya seninya orang Citak bersama dengan orang Mimika dan ketiga kelompok tersebut di atas termasuk wilayah gaya seni Barat-Daya. Hasil penelitian para ahli menyimpulkan, bahwa wilayah gayasenia Barat-Daya ini merupakan satu dari sembilan wilayah gayaseni yang terdapat di Papua.

Orang Citak memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Citak atau terkadang disebut bahasa Kaunak. Ada yang berpendapat bahasa ini merupakan salah satu dialek dari bahasa Asmat yang termasuk rumpun bahasa Papua. Jumlah penutur bahasa ini diperkirakan sekitar 4.000 jiwa, yang sekaligus sebagai perkiraan jumlah orang Citak. Kecamatan Citak Mitak yang luasnya 2.156 kilometer persegi itu pada tahun 1987 berpenduduk 8.811 jiwa. Dalam wilayah ini masih ada kelompok-kelompok lain, seperti kelompok Butu Katnao, Kuruwai, dan Sirape.

Kelompok orang Citak bersama dengan kelompok lain dalam wilayah gayaseni Barat-Daya tadi masih menunjukkan sifat-sifat khas masing-masing, misalnya bahasa dan beberapa aspek budaya, di samping adanya unsur-unsur persamaan. Sebelum berlangsungnya penetrasi kebudayaan Barat kelompok-kelompok tadi menunjukkan ciri umum seperti berikut ini. Mereka hidup dengan pola semi nomadis, karena mereka selalu mencari daerah baru yang masih kaya akan pohon sagu dan binatang buruan yang hidup pada taraf ekonomi subsisten. Sistem kekerabatannya menganut prinsip matrilineal, adat menetap nikah matrilokal, sistem pergaulan kekerabatan bilateral, sistem istilah kekerabatan yang klasifikatoris. Hal yang terakhir ini dimaksudkan bahwa istilah-istilah untuk kelompok kerabat dari satu kelompok generasi adalah sama. Mereka juga tidak mengenal sistem klen.

Semula mereka tidak tinggal dalam kampung-kampung permanen, tetapi terpencar dalam kampung-kampung kecil. Setelah ada paksaan dari pemerintah Belanda barulah mereka tinggal dalam dusun-dusun yang lebih besar. Hal ini untuk memudahkan pengawasan dari pihak pemerintah masa itu, yang baru saja memperkenalkan agama Nasrani. Makanan pokok orang Citak adalah sagu dan gizinya diperkaya dengan ikan dan daging. Sagu dan ikan adalah hasil ramuan kaum wanita, dan daging merupakan hasil buruan kaum pria. Dalam memperoleh bahan makanan itu, mereka menggunakan perahu. Perahu untuk kepentingan keluarga panjangnya sekitar 10 meter, sedangkan untuk berburu lebih ramping dan panjangnya sekitar empat meter.

Orang Citak pernah mengembangkan cabang seni semacam seni drama dan seni rupa. Seni tersebut sebagai bagian dari upacara-upacara yang mereka lakukan. Seni memahat dan membuat perisai untuk tarian merupakan satu kemahiran yang luar biasa. Teknik mengukir dan pilihan warna yang ditampilkan pada perisai-perisai orang Citak ini sama dengan yang dihasilkan orang Asmat dan orang Awyu.

Sumber:
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A--K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suku Bangsa Kedang (NTT)

Orang Kedang adalah salah satu kelompok sosial yang merupakan penduduk asal di daerah Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar orang Kedang bermukim dalam wilayah Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Bayusuri. Kecamatan ini adalah dua dari enam kecamatan yang ada dalam Pulau Lembata atau Lomblem. Lingkungan alam pulau ini umumnya berpadang rumput, sebagian kecil berhutan belukar, dan bergunung-gunung dengan puncaknya seperti gunung He Ape, gunung Labalekang dengan ketinggian di bawah 1.500 meter di atas permukaan laut.

Pada tahun 1986 jumlah penduduk Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri, sebagai daerah asal orang Kedang, berjumlah masing-masing 13.979 jiwa dan 15.786 jiwa. Di antara jumlah tersebut tidak diketahui dengan pasti berapa jumlah orang Kedang sendiri. Orang Kedang mempunyai bahasa sendiri yaitu bahasa Kedang, salah satu dari empat bahasa yang ada di Kabupaten Flores Timur. Tiga bahasa lainnya adalah bahasa Lamaholot, bahasa Melayu, dan bahasa Boru Hewa. Bahasa Kedang berbeda sekali dengan bahasa Lamaholot, sehingga bahasa pengantar antar kelompok ini adalah bahasa Indonesia, dan pada masa lalu menggunakan bahasa Melayu; sedangkan bahasa Boru Hewa merupakan bahasa peralihan antara bahasa Lamaholot dan bahasa Sikka di sebelah barat. Suatu penelitian tentang bahasa Kedang telah dilakukan oleh tim Paulus et al yang menghasilkan laporan Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis Bahasa Kedang (Jakarta, Depdikbud, 1989). Dalam laporan ini dinyatakan bahwa jumlah penutur bahasa Kedang adalah sekitar 14.000 orang.

Kehidupan mereka tergantung pada pertanian tanah kering, dengan tanaman utama jagung dan palawija lainnya. Peralatan yang digunakan masih sederhana seperti tofa dan parang. Musim tanam hanya sekali dalam setahun, karena itu waktu antar musim itu umumnya diisi dengan kegiatan menangkap ikan.

Sumber:
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A--K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suku Bangsa Kemang (NTT)

Orang Kemang adalah satu kelompok sosial yang berdiam di daerah Taramana, sebagai bagian dari wilayah administratif Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Orang Kemang memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Kemang, dan penutur bahasa ini jumlahnya relatif kecil. Mereka merupakan salah satu kelompok di antara puluhan kelompok kecil lainnya yang merupakan penduduk asal yang ada di Kabupaten Alor.

Sumber:
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A--K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suku Bangsa Deing (Nusa Tenggara Timur)

Orang Deing berdiam di daerah Nadar, Lebang Beengada, Mariabang, dan Bagang yang termasuk wilayah administratif Kabupaten Alor, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Orang Deing merupakan satu kelompok yang jumlahnya relatif kecil, namun mereka mempunyai bahasa sendiri yaitu bahasa Deing. Kelompok ini merupakan salah satu dari puluhan kelompok kecil penduduk asal Kabupaten Alor. Mereka hidup dari pertanian dengan tanaman pokoknya adalah jagung.

Sumber:
Melalatoa, J. 1995. Ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia. Jilid A--K. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Madudutu Lese (Maluku)

Asal Usul
Madudutu lese artinya “banting badan”. Dinamakan demikian, karena dalam permainan ini masing-masing pemain berusaha sekuat tenaga agar dapat membanting badan atau tubuh lawannya sehingga jatuh ke tanah dan tidak lagi berdaya untuk membalas bantingan tersebut. Permainan madudutu lese terdapat di Puau Halmahera, tepatnya di Kecamatan Sahu dan Kecamatan Jailolo, Kabupaten Maluku Utara. Pada mulanya madudutu lese hanya dilakukan pada waktu malam hari sebelum diadakan upacara Waleng yaitu upacara adat yang biasa dilakukan sesudah panen padi. Namun, madudutu lese tidak terikat pada waleng, karena keduanya adalah dua hal yang berbeda. Jadi, pelaksana waleng tidak beranggung jawab atas jalannya madudutu lese dan sebaliknya, pelaksana madudutu lese pun tidak beranggung jawab terhadap jalannya upacara waleng. Saat ini permainan madudutu lese dapat dimainkan kapan saja tanpa harus menunggu adanya upacara waleng terlebih dahulu.

Pemain

Madudutu lese
hanya dimainkan oleh laki-laki dewasa yang dianggap sudah mahir berkelahi, sehingga jika bermain tidak terlalu membahayakan keselamatannya. Permainan ini terdiri dari 2 orang atau satu lawan satu dan dilaksanakan secara bertingkat. Artinya, yang menang melawan yang menang lagi sehingga selesai bermain tinggal beberapa orang saja. Permainan ini dapat 7 atau 9 malam berturut-turut menurut pelaksanaan upacara Waleng.

Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan madudutu lese tidak memerlukan tempat yang luas (10 x 10 meter), karena satu kali pertandingan hanya diikuti oleh dua orang. Halaman rumah atau tanah yang agak lapang sudah cukup untuk menyelenggarakan permainan. Madudutu lese juga tidak memerlukan peralatan tertentu untuk membantu jalannya permainan, karena untuk menjatuhkan lawan hanya diperlukan kekuatan tubuh yang disalurkan melalui tangan dan kaki.


Aturan dan Proses Permainan

Aturan permaian tergolong mudah, yaitu siapa yang dapat menjatuhkan atau membanting lawannya maka dia dianggap sebagai pemenangnya. Pada saat pertandingan dimulai, pemain berdiri berhadapan sambil memegang ikat pinggang lawannya. Setelah wasit memberikan aba-aba, para pemain berusaha untuk membanting dengan tangan tetap berada pada ikat pinggang lawan tersebut. Ada beberapa cara untuk merobohkan lawan antara lain: labit rou, yaitu mengaitkan kaki lawan dari bagian luar atau dari dalam; badu bolon, yaitu membanting lawan dengan cara menjepit kaki lawan dengan kedua lutut sendiri, dan sementara itu tangan yang memegang ikat pinggang membanting ke kiri atau kekanan; sikur, yaitu mengangkat lawan dengan kedua lengan pada kain pengikat pnggang kemudian berusaha membanting lawan itu ke tanah; dan si wale, yaitu melemparkan lawan ke tanah tetapi tangan tidak boleh terlepas dari ikat pinggang lawan tersebut. Apabila seorang pemain dapat menjatuhkan lawannya maka ia dinyatakan sebagai pemenang dan nantinya akan berhadapan lagi dengan pemenang dari pertandingan lainnya. Begitu seterusnya hingga tinggal dua pemain terakhir yang selalu menang berhadapan satu sama lain untuk mendapatkan pemenang utama.

Nilai Budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan rampuat kakaran adalah keterampilan, kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai keterampilan tercermin dari keterampilan membawa bilah bambu dalam berbagai posisi dan ketepatan mengenai bilah bambu lawannya. Nilai kerja keras tercermin dari usaha para pemain untuk mengenai bilah bambu lawan. Kemudian, nilai kerja sama tercermin dari kekompakan pemain dalam berusaha memperoleh poin agar bisa memenangkan permainan. Dan, nilai sportivitas tercermin dari adanya kesadaran bahwa dalam permainan tentunya ada pihak yang kalah dan memang. Oleh karena itu, setiap pemain dapat menerima kekalahan dengan lapang dada. (gufron)

Sumber:
Suradi Hp, dkk, 1981, Perainan Rakyat Maluku. Ambon: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Benteng Burangasi

Oleh Sugeng Riyanto

Bagi sebagian besar orang - sebenarnya bagi semua orang - rasa aman merupakan hal yang paling utama dan didambakan. Rasa aman di tempat kerja, rasa aman di perjalanan, dan tentu saja rasa aman di rumah dan lingkungannya. Dengan berbagai cara orang atau kelompok orang akan mengusahakan rasa aman antara lain dengan "membatasi" hunian dengan lingkungannya.

Perilaku semacam ini sama sekali bukan dominasi masyarakat sekarang yang memang semakin hari jumlah potensi ancamannya semakin bertambah. Sejak keberadaan manusia, secara naluri, telah mendorong adanya usaha untuk tetap dapat bertahan dari berbagai ancaman. Oleh karena itu tidak boleh heran jika mendengar di Pulau Buton terdapat lebih dari 100 bangunan benteng.

Akan tetapi jangan dibayangkan kalau seluruh benteng tersebut sebagai benteng perang karena sebagian di antaranya sama sekali tidak berhubungan dengan militer, mesiu, meriam, dan tentara. Memang ada dua tipe benteng di sana jika dilihat dari bentuknya, yaitu benteng dengan bastion dan benteng tanpa bastion. Namun persamaannya lebih banyak, yaitu: keduanya dibangun pada masa kesultanan Buton, keduanya terletak di perbukitan, keduanya dibangun dari bahan batu hitam berporus, keduanya tidak mempunyai pola tertentu karena mengikuti lahan yang ada, keduanya memiliki lahan hunian di dalamnya, dan tentu saja keduanya secara umum berfungsi sebagai "pertahanan."

Burangasi yang Pertama?
Contoh benteng yang tidak dilengkapi dengan bastion adalah yang terdapat di Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Yang terkenal adalah benteng Burangasi dan benteng Kaindea di Desa Lapandewa.

Benteng Burangasi disebut-sebut sebagai benteng (hunian) yang tertua karena dihubungkan dengan kerangka sejarah masuknya Islam di Buton.

Disebutkan dalam sejarah bahwa Islam masuk ke Buton dibawa oleh Abdul Wahid bin Suleiman sebagai putra Sultan Suleiman dari Johor yang berdarah Arab pada abad ke-16 atau tahun 1542. Pada saat itu, yang berkuasa di Buton adalah Raja Lakilaponto (raja ke-6 Buton). Desa yang disinggahi pertama kali oleh Abdul Wahid adalah Kampung Burangasi sekarang.

Melalui dakwahnya, Raja Lakilaponto kemudian memeluk Islam dan segera memerintahkan rakyatnya untuk memeluk Islam juga. Sebenarnya, sebelum raja memeluk Islam sebagian rakyat Buton telah muslim, khususnya yang tinggal di sekitar Burangasi. Oleh karena itu Raja merasa heran mengetahui rakyatnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

Lokasi benteng Burangasi sebenarnya relatif sulit untuk dijangkau, paling tidak harus mendaki setinggi 5 km dan cenderung terjal. Sampai dengan tahun 1967, seluruh masyarakat yang sekarang tinggal di sekitar benteng adalah penghuni dalam benteng ini. Oleh karena itu saat ini benteng Burangasi dikepung oleh semak belukar yang lebat karena telah ditinggal oleh penghuninya.

Kepindahan mereka dilatarbelakangi oleh kebutuhan air yang pada saat itu sangat kurang, dan lokasi hunian baru dianggap dapat memenuhi kebutuhan air karena letaknya lebih rendah. Sisa-sisa hunian yang diperkirakan sudah sangat tua ini antara lain adalah beberapa gugus makam kuna, pecahan keramik dan tembikar, fondasi bangunan dari batu, dsb. Semua ini jelas menunjukkan adanya dinamika kemasyarakatan yang pernah ada dan berlangsung cukup lama.

Dinamika Kemasyarakatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas di dalam Benteng Burangasi dan benteng tipe tanpa bastion lainnya ternyata memiliki struktur sosial yang mandiri. Mereka memiliki seorang pemimpin yang disebut "Parabela" dengan struktur di bawahnya mulai dari pemimpin adat dan pemimpin agama, hingga pejabat yang mengurus hari besar tertentu. Pola perkampungan sedikit banyak juga menunjukkan adanya dinamika sosial yang bersistem, seperti adanya bangunan besar tempat bermusyawarah, lapangan terbuka tempat melaksanakan kegiatan tertentu, dsb. Kemandirian juga ditunjukkan dengan adanya areal pertanian, baik yang di dalam benteng maupun di sekitar benteng.

Kesultanan Buton yang paling tidak telah ada sejak abad ke-16 tentu saja memiliki sistem pemerintahan yang rapi, termasuk hubungan dengan "daerah," yaitu komunitas-komunitas yang ada di wilayah kesultanan. Hubungan dengan komunitas ini antara lain juga menjangkau komunitas di Benteng Burangasi. Hubungan ini antara lain diwujudkan paling tidak dalam dua hal, yaitu: 1) adanya seorang perwakilan kesultanan Buton, dan 2) adanya "pusaka" yang menjadi simbol kekuasaan parabela sekaligus sebagai lambang hubungan langsung dengan Sultan. Khusus pusaka ini bentuknya bermacam-macam, seperti meriam kecil atau senapan.

Mengintip Musuh
Seperti halnya benteng lainnya di Buton, benteng Burangasi juga tidak memiliki pola tertentu karena mengikuti kondisi lahan yang ada. Secara umum benteng ini memiliki dua ruang besar dengan ukuran yang berbeda. Ruang di sebelah utara berukuran sekitar 90 x 70 m dan di sebelah selatan berukuran sekitar 60 x 60 m. Kedua ruang ini dibatasi dengan tembok benteng yang juga dibangun dari susunan batu hitam berporus, dan dihubungkan dengan pintu terbuka di bagian tengah.

Fungsi benteng ini memang bukan untuk berperang, akan tetapi lebih sebagai batas tertitorial sebuah komunitas sehingga tidak dilengkapi dengan bastion. Namun demikian, bukan berarti benteng ini rentan serangan, lihat misalnya jumlah pintu yang hanya 4 buah atau 2 pintu pada masing-masing ruangan. Bukan hanya itu, pintu-pintu ini dianggap memiliki kekuatan untuk menangkal kekuatan jahat dari luar kampung. Oleh karena itu pintu-pintu dipersonifikasikan dengan memberi nama: Warorogu, Lampoda, dan Duria. Selain itu, ambang keempat pintu ini juga dibuat lebih tinggi pada bagian bawahnya sehingga untuk melaluinya harus naik beberapa trap anak tangga.

Rasanya memang kurang bisa dimengerti jika harus ada benteng yang melindungi sebuah perkampungan di sini mengingat lingkungannya didominasi oleh ngarai dengan dominasi bongkahan batuan. Namun komunitas Burangasi merasa perlu membangun benteng tentu saja karena rasa aman memang dibutuhkan oleh siapa saja. Yang jelas, mereka melindungi lahan pertanian yang diusahakan di dalam benteng dari serangan binatang, khususnya babi hutan.

Dengan pintu yang dipersonifikasikan sebagai penjaga, menjadikan ambang pintu benteng bukan sekedar sebagai jalan keluar dan menuju perkampungan, karena memiliki nilai yang sangat penting. Selain babi hutan, ancaman lain dalam berbagai bentuk dapat langsung dipantau melalui pintu yang "hidup" ini. Oleh karena itu jangan coba-coba berniat jahat kepada komunitas benteng Burangasi karena apapun yang di dalam benteng dapat mengintip ancaman dalam bentuk apapun, termasuk "yang tidak kelihatan."

Sumber:
Sugeng Riyanto (Pusat Penelitian Arkeologi/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
www.hupelita.com

Gapura Bajangratu, Peninggalan Masa Majapahit

Daerah Trowulan dan sekitarnya yang diduga bekas ibukota Kerajaan Majapahit terletak pada posisi geografis 11-23 derajat bujut timur dan 7-34 derajat lintang selatan. Di daerah ini banyak terdapat peninggalan cagar budaya yang beraneka ragam dan jenisnya yang nampak di permukaan tanah antara lain berupa candi, pintu gerbang, kolam, pondasi-pondasi bangunan serta benda-benda purbakala lainnya. Selain itu diperkirakan masih banyak peninggalan purbakala yang masih terpendam di dalam tanah. Hasil pemotretan udara dapat memberi gambaran mengenai hal tersebut.

Gapura Bajangratu adalah salah satu di antara peninggalan-peninggalan tersebut. Gapura ini letaknya di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Deskripsi Bangunan
Gapura Bajangratu merupakan bangunan yang terbuat dari dua jenis bahan yaitu bata dan batu andesit. Denah bangunannya berbentuk segi empat berukuran 11,00 x 8,50 meter dengan lubang pintu selebar 1,4 meter. Tingginya mencapai 18,5 meter. Keseluruhan bangunan terdiri dari bagian induk dengan struktur kaki, tubuh dan atas, bagian sayap serta tembok keliling.

Bangunan peninggalan Majapahit ini berbentuk paduraksa (bangunan berupa pintu gerbang dengan atap yang menyatu) yang kiri-kanannya bersayap dan bagian-bagiannya dihiasi relief-relief yang jarang ditemukan pada sebuah gapura.

Pada sudut-sudut kaki gapura masing-masing terdapat panel-panel yang pada bagian depannya dihiasi dengan relief (keadaannya sudah aus). Hiasan pada panel pertama (secara samar-samar) berupa dua orang berdiri dikelilingi oleh sulur-sulur mungkin seorang pari dan wanita. Panel kedua terdapat seekor ikan paus yang menyemburkan air, di atasnya ada hiasan menyerupai bonggol rumput di tengah riak air atau kalajengking yang berkaki enam dengan sengatnya. Pada panel kiri digambarkan seorang wanita mengendarai ikan paus yang dipahatkan serupa dengan relief sebelumnya. Relief pada panel terakhir menggambarkan ceritera Sri Tanjung (seorang wanit mengendarai ikan). Menurut Sri Suyatmi Satari urutan relief di kaki gapura ini adalah:

a. Sidapaksa dan isterinya, Sri Tanjung.
b. Mungkin suma Sri Tanjung mengendarai ikan paus menyeberangi sungai menuju alam baka.
c. Sri Tanjung mengendarai ikan.
d. Sri Tanjung setelah sampai ke alam baka, berdiri dengan menoleh ke belakang.

Bagian atap terletak di atas tubuh candi setinggi 8,38 meter. Bagian ini banyak dihiasi dengan pahatan-pahatan kecil sehingga nampak indah dan unik, setiap dua lapis atap diselingi oleh deretan menara yang pejal dan bersambung dengan tingkat atap berikutnya. Hiasan menara ini berjumlah tiga tingkat. Dua lapisan atap yang terbawah tidak berhias atau mungkin telah rusak. Dua lapis ke dua masing-masing berhiaskan:
  1. Kepala kala di tengah dengan sepasang taring yang panjang yang mirip dengan sepasang duri seperti pipi kala Candi Jago. Sisi kiri maupun sisi kanan kepala kala diapit oleh dua ekor binatang yang berdiri berhadapan, tetapi mempunyai sebuah kepala saja berupa kala. Relief serupa ini kita dapatkan pula pada Candi Jago. Sistem pahatan simetris berupa binatang atau makhluk lainnya yang digambarkan berhadapan ke arah pusat yang berupa kala dapat kita lihat pada gunungan wayang.
  2. Relief matahari memancarkan sinar. Matahari ini merupakan perubahan bentuk dari kepala kala. Karena ada gigi dan taring panjang di bawah relief matahari. Dua ekor naga yang berkaki dan bercakar berdiri berhadapan menghadap ke arah matahari. Naga itu bertelinga panjang dan bertanduk. Moncongnya menganga dan bergeligi tajam. Di dekat telinga terdapat sungut; tampak jelas garis yang membatasi punggung dan perutnya. Punggung bagian belakangnya menyerupai punggung buaya, sedangkan ekornya berujungkan sulur-suluran.
Pada lapis atau ketiga berhiaskan relief kepala atau mungkin kepala garuda yang dipahat miring. Relief ini terdapat di bagian tengah maupun sudut-sudut atas. Kepala-kepala kala yang di tengah diapit oleh sepasang binatang seperti motif yang terdapat pada Candi Panataran.

Dua lapis atas ke empat berhiaskan monocle cyclops atau Si Mata Satu bentuknya menyerupai siput yang bulat sebagai pengganti dari kepala kala, baik di tengah maupun di sudut atap.

Hiasan pada tingkat atap di bawah puncak atap berupa hiasan geometris dan kelopak bunga, sedangkan puncak atap sendiri diberi hiasan seperti bonggol.

Pada sayap gapura terdapat ceritera Ramayana, yaitu menggambarkan dua orang yang sedang berkelahi. Salah seorang di antaranya menderita kekalahan karena badannya diinjak oleh musuhnya yang berbentuk seekor kera. Pihak yang kalah berbadan besar dan berkepala raksasa.

Penampilan-penampilan gapura dihias dengan pelipit bawah, pelipit tengah dan pelipit atas masing-masing diukir dengan rangkaian bunga atau hiasan belah ketupat panjang, ada beberapa pelipit yang belum sempat diukir.

Bingkai di kiri-kanan pintu masuk berdiri pahatan berupa binatang bertelinga panjang dengan ekor berbentuk sulur gulung naik ke atas. Sulur gulung ini pun tidak selesai di pahat. Sebagian besar bingkai masih polos atau diberi goresan rancangan. Di atas lantai dipahatkan sepasang umpak dengan dua buah lubang bekas engsel pintu yang daun pintunya membuka ke dalam.

Bajangratu dalam Sejarah
Gapura Bajangratu masih banyak menyimpan hal-hal yang belum diketahui secara pasti baik mengenai masa berdirinya, raja yang mendirikan, fungsi maupun segi-segi lainnya.

Nama Bajangratu pertama kali terdapat dalam Oudheidkundig Versalag (OV) tahun 1915, yang menyebutkan bahwa bangunan tersebut telah diperbaiki dengan penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisi spesi dari campuran PC dan pasir halus pada nat-nat yang renggang.

Gapura Bajangratu mungkin dikenal sebagai salah satu pintu gerbang Kraton Majapahit. Keletakannya di Dukung Kraton menunjukkan kaitannya dengan istana. Menurut legenda penduduk setempat, bangunan berupa kala Majapahit itu dibangun untuk mengenang seorang putera mahkota Majapahit semasa dalam kandungan tapi bayi mahkota kemudian mati saat dilahirkan. Bangunan itu kemudian dinamakan Gapura Bajangratu, yang berarti gagal menjadi ratu. Penduduk setempat percaya bahwa siapa yang berani masuk melalui gapura itu tidak akan naik pangkat.

Sri Suyatmi Satari menyebutkan bahwa Gapura Bajangratu diperkirakan dibangun sekitar abad XIII dan abad XIV untuk memperingati wafatnya Raja Jayanegara. Jayanegara atau Kalagement adalah Raja Majapahit yang memerintah antara tahun 1309-1328 M. Ia adalah anak dari Kertarajasa dengan Dyar Sri Tribhuwaneswari. Di dalam prasasti Taharu yang berangka tahun Saka 1245 (1323 M), Jayanegara disebtukan dengan nama gelas Sri Sundara Pandyadewadhiswara. Pada waktu ayahnya masih memerintah yakni pada tahun 1218 S (1296 M), ia sudah dinobatkan sebagai raja muda (Kumararaja) dengan nama Abhiseka Sri Jayanegara. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan nama Bajangratu, yaitu dinobatkan tatkana masih “bajang” sehingga jelas menjadi ratu waktu masih “bajang” atau Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.

Dalam Pararaton dijelaskan bahwa Jayanegara wafat pada tahun 1328 M. Teks itu berbunyi: “sira dhinarmeng Kapopongan, bhisekering sranggapura, pratistaning antarwulan.” Menurut Krom (1926), Sranggapura sama dengan Sri Ranggapura dalam Nagarakertagama, sedangan Antarwulan sama dengan Antarisasi. Atas dasar ini maka dapat dikatakan bahwa dharma (tempat suci) Raja Jayanegara berada di Kapopongan alias Sranggapura atau Sri Ranggapura. Pratistanya (bangunan suci) berada di Antarwulan atau Trowulan. Arcanya yang berbentuk Wisnu terdapat di Babat dan Shila Petak, sedang yang dalam bentuk amonghasidi terdapat di Sukalila.

Pemugaran
Gapura Bajangratu telah dipugar sejak 1985/1986 sampai dengan 1990/1991. Pemugarannya merupakan bagian dari kegiatan besar proyek pemugaran/pemeliharaan bekas ibukota Majapahit di Trowulan. Kini tinggal upaya kita untuk turut melestarikannya sebagai warisan budaya untuk memperkuat kepribadian bangsa dan sebagai obyek wisata.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Gapura Bersayap di Kompleks Sendang Duwur (Jawa Timur)

Salah satu permanensi etnografis, yang hampir senantiasa tampil berulang kali dalam setiap perubahan budaya, adalah pengoperasian simbol-simbol untuk menyatakan konsep dasar, konsep imbuhan, maupun konsep yang telah terubah. Mungkin untuk alasan itulah maka, manusia juga disebut sebagai homo symbolicus. Lambang-lambang itu ada kalanya bermakna dalam, langka dan bahkan tak bermakna, yang dapat berwujud gerak tubuh, suara, gambar, pengarcaan dan lain sebagainya.

Anggapan kuatnya kehadiran permanensi etnografis itu pula yang ditafsirkan oleh banyak pakar menyebabkan penerapan seni-bangunan pintu gerbang berlambang sayap burung garuda di kompleks makam Sunan Sendang (di Sendang Duwur), Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, menjadi amat menarik untuk dikaji.

Keistimewaan penerapan lambang burung garuda, yang begitu populer dan sakral pada keagamaan Hindu masa sebelumnya adalah penampilan “kulit” dari budaya transisi Hindu-Islam dan bukan pengingkaran terhadap kaidah-kaidah normatif dalam Islam. Mungkin ada benarnya bahwa masyarakat Nusantara memang permisif terhadap unsur budaya asing, sepanjang tetap berada dalam lingkup keselarasan dan keseimbangan kultural setempat. Inilah gejala yang kemudian dipermanenkan dalam pasal 32 UUD RI 1945 dan penjelasannya, yang belakangan ini ditafsirkan cukup progresif sekaligus represif. Ternyata ungkapan ini bukan hal yang baru. Mari kita amati peninggalan seni bangun pintu gerbang dalam wujud Gapura bersayap di Sendang Duwur.

Kompleks Makam Sendang Duwur
Di Desa Sendang Duwur, di selatan Kelurahan Paciran (Kec/Kab. Lamongan), pada lahan seluas sekitar 1 hektar, terdapat petilasan masa Indonesia Islam, yang oleh penduduk setempat dikenal/populer dengan nama Mesjid Sendang Duwur atau Makan Sunan Sendang. Penamaan ganda tersebut, disebabkan adanya berbagai jenis kekunaan di petilasan Sendang Duwur yang terdiri dari Mesjid baru, Cukup Makam yang paling dikeramatkan (makam utama), bangunan bagian utara (gerbang timur laut, gerbang F dan gerbang E). Sedangkan di bagian barat kompleks terdapat gapura bersayap B.

Sementara itu dalam kelompok selatan adalah bangunan-bangunan gerbang C dan makam-makam lebih baru. Sedangkan bangunan atau objek lain yang terdapat di kompleks Sendang Duwur adalah sumur “guling”, arena batu di dekat gerbang D, tempayan, pecahan keramik dan sebagainya.

Benteng lahan situs Sendang Duwur yang terletak pada fisigrafi bukit karang/kapur, mulai memperoleh perhatian pencatatan (registrasi), penelitian, pemeliharaan serta pemugaran sejak tahun 1919, 1920, 1922-1923, 1936-1937, 1940-1941, 1943, 1950, 1959 sampai akhirnya tersentuh lagi secara berkesinambungan melalui program-program PELITA.

Gapura Bersayap
Kompleks Sendang Duwur memiliki konstruksi kayu, bata dan batu. Seni pahat diterapkan pada ketiga jenis komponen bahan tersebut. Seni pahat dekoratif yang diterapkan di Sendang Duwur ini memiliki persamaan dengan seni pahat dekoratif yang ditetapkan di Mantingan (Jepara), dengan perbedaan, di Sendang Duwur lebih banyak diterapkan pada komponen bangunan/bahan kayu, sedangkan di Mantingan di bahan batu. Persamaan ini menimbulkan dugaan yang berkaitan dengan diffusi unsur budaya.

Salah satu hal yang amat menarik perhatian dari kompleks makam abad XVI M (C 1507) ialah hadirnya seni hias bangunan gapura padureksa, yang berbentuk sayap pada bagian kiri dan kanan paduraksa, sementara hiasan kepala dan badan burung atau anggota lain dari satwa tersebut terdapat pada bagian atas/kemuncak paduraksa. Di Sendang Duwur, paduraksa bersayap tersebut masing-masing terdapat di barat mesjid (gerbang B) dan utara mesjid (gerbang E).

Drs. Uka Tjandrasasmita, arkeolog, sangat terkesan pada gerbang bersayap itu karena antara lain melambangkan burung garuda yang sedang terbang, maupun tergadap pola-pola hias kalpawreksa (pohon hayat) atau gunungan yang biasa terdapat pada kesenian Indonesia-Hindu. Demikian pula terdapat hiasan lengkung kalamerga (lengkung-kijang) yang mengingatkan kita pada gambaran di Candi Penataran dan Candi Penanggungan.

Menurut Uka, Perlambangan-perlambangan tersebut dianggap memiliki hubungan dengan hal-hal sakral, kedewataan kayangan dan sebagainya, yang diwujudkan/dilambangkan sebagai gapura bersayap, gapura surga ataupun gapura matahari. Perlambangan yang berasal dari masa Indonesia-Hindu tersebut sangat boleh jadi merupakan perkembangan lanjut sebagai pengganti arca penjaga (semacam dwarapala) pada sebuah bangunan suci.

Namun demikian Dr. Hasan M. Ambary menekankan bahwa seperti halnya terbukit dalam kajian kaligrafi Islam-Indonesia, ciri normatif Islam tetap terkandung kuat dalam berbagai peninggalan Islam-Indonesia, yang dalam fisik kulturalnya membawa serta perwujudan tradisi dan budaya lokal Nusantara. Gapura bersayap ini memiliki ciri-ciri seni Islam yang tinggi estetikanya dan bersifat illahiyah. Sinkretisme boleh jadi berlangsung pada fisik kultural dan bukan pada sendi-sendi normatif Islam seperti aqidah dan ‘ubudiyah.

Perlambangan satwa burung pun bukan mutlak dilahirkan/muncul pada masa Indonesia-Hindu belaka. Lukisan burung juga dijumpai pada berbagai tradisi pahat prasejarah, seperti pada nekara, moko, kapak upacara, dinding peti kubur batu, dinding gua, batu (monolit) dan sebagainya. Suku Dayak, Toraja, Flores, Timor dan berbagai Sub-Suku di Papua, memandang keramat burung-burung dari spesies tertentu. Tak heran kalau lambang negara kita juga adalag garuda, dimana burung yang hampir sejenis digunakan pula sebagai lambang negara di Philipina, Amerika Serikatd dan sejumlah negara di Amerika Latin.

Obyek Wisata
Selesainya pemugaran sebagian besar bangunan pada kompleks Sendang Duwur ini berarti semakin menambah obyek-obyek wisata ziarah Islami di pantai utara Jawa, mulai dari Banten sampai ke Gresik, yang diantaranya terdapat kompleks peninggalan/makam/mesjid. Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Sunan Gununga Jati (Gunung Sembung), Sunan Kalijaga (Kadilangu), Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Giri, Maulana Malik Ibrahim, Fatimah binti Maemun dan lain-lainnya. Bahkan jika menyeberang ke Madura akan dijumpai makam para adipati yang benar-benar menampakkan miniatur dan ornamen candi.

Dari paparan singkat di atas tampak jelas bahwa di dalam sejarah seni bangunan di Nusantara, secara berulang terlihat adanya kesinambungan unsur/pengaruh lain, ketika fase sejarah digantikan fase berikutnya. Kesinambungan tersebut, misalnya tampak pada penggunaan-penggunaan lambang pada masa prasejarah di masa Hindu dan lambang Hindu pada masa berkembangnya agama Islam. Lambang-lambang itu kemudian mengikat bangsa Indonesia dalam wadah persatuan dan kesatuan nasional.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Kepulauan Banda

Letak geografis Kepulauan Banda pada 130 derajat Bujur Timur dan 4 derajat 30’ Lintang Selatan, terdiri atas Pulau Lontor, Pulau Gunung Api, Pulau Neira, Pulau Ay, Pulau Rhun, Pulau Hatta, Pulau Syahrir, Pulau Manukang, Pulau Kurukan, Pulau Nailoka dan Pulau Kapal. Termasuk Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Ibukota Kecamatan ini adalah Kota Banda Neira di Pulau Neira.

Kepulauan Banda dikenal sejak lama, disebut dalam Buku Nagarakertagama dengan nama Wanda sebagai penghasil rempah-rempah pala dan fuli (lapisan antara kulit dan biji pala). Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang menyinggahi Banda untuk membeli rempah-rempah tersebut pada awal tahun 1512. Mereka datang ke Banda dipandu oleh para mualim Melayu yang berlayar menyusuri Jawa, Sunda Kecil (NTB dan NTT sekarang) terus menuju Maluku. Mereka rupanya lebih tertarik pada cengkeh daripada pala dan fuli, sehingga mereka kemudian lebih memfokuskan perhatiannya di Maluku Utara. Maka tak mengherankan bahwa di Maluku Utara, khususnya di Ternate dan Tidore peninggalan mereka berupa benteng dan lain-lain masih dapat disaksikan.

Warisan Budaya
Lepas dari masa eksploitasi Belanda VOC dan NHM (Nederlandsch Handel Maatschappy) di Kepulauan Banda, kini kita mempunyai warisan budaya dari mereka. Bentuknya berupa bangunan benteng, rumah-rumah bekas para tuan lokal, maupun rumah yang pernah ditempati oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional selama enam tahun dalam pengasingannya. Beberapa peninggalan tersebut telah dipugar oleh pemerintah, yang telah siap dipasarkan sebagai objek pariwisata di kawasan Indonesia Bagian Timur (IBT).

Benteng Nassau
Didirikan di atas pondasi yang urung dibangun oleh Portugis tahun 1609. Oleh Belanda kemudian didirikan benteng pada 1617 yang diberi nama Benteng Nassau. Kini tinggal sisa-sisanya. Benteng dikelilingi parit sebagai pengaman. Dalam sejarahnya dalam benteng ini pernah dilakukan masakre 44 orang kaya (tuan-lokal) pada 8 Mei 1621 oleh Gubernur Jan Pieter Zoon Coen. Lukisan peristiwanya ini tersimpan pada Rumah Budaya Banda milik Des Alwi.

Benteng Belgica
Terletak di suatu bukit, mulai dibangun pada 1611 oleh Pieter Both, diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 oleh Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum diperintahkan agar benteng ini dipugar. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis dan untuk memasukinya harus dipergunakan tangga yang aslinya berupa tangga yang dapat diangkat (semacam tangga hidrolik). Tahun 1991 benteng ini dipugar secara keseluruhan dengan bantuan Dephankam yang menghabiskan dana hampir setengah miliar rupiah. Benteng Belgica kini siap untuk dikunjungi wisatawan. Menurut beberapa turis mancanegara, Benteng Belgica merupakan benteng yang paling indah di antara benteng-benteng lainnya yang dibuat oleh Belanda.

Istana Mini
Masyarakat Banda menyebut bangunan ini sebagai istana mini (mirip Istana Merdeka di Jakarta) walaupun yang terakhir ini dibangun belakangan. Dahulu kompleks bangunan ini merupakan tempat tinggal para pejabat VOC, NHM dan Kontrolir yang sekaligus sebagai gudang tempat penyimpanan rempah-rempah sebelum dikapalkan menuju Eropa dan didirikan tahun 1622. Para kontrolir yang pernah menempati bangunan tersebut antara lain Van Kotte, Kaufman, Wenterwert.

Gereja Kuno
Gereja ini tidak mempunyai nama khusus sebagai pelindungnya, merupakan tempat beribadat umat Kristen Protestan. Dibangun dari tanggal 20 April 1873 hingga 23 Meri 1875 oleh Mauritz Vantzius dan Johan Wilhelm Hoeke, pendeta di sana, dibangun di atas bekas pemakaman orang Belanda dan Inggris. Jirat-jirat mereka dari batu granit yang berukuran 1,5 x 2,5 m kini berfungsi sebagai lantai gereja. Nama-nama mereka masih dapat dibaca pada setiap jirat. Dalam gereja ini masih disimpan dua gelas perak yang dibuat tahun 1635 yang masih dipergunakan sebagai tempat anggur pada waktu kebaktian dan satu piring perak juga dibuat tahun 1635 yang berfungsi sebagai tempat roti perjamuan.

Rumah Pengasingan Bung Hatta
Rumah ini pada 11 Februari 1936 hingga 31 Januari 1942 ditempati Bung Hatta sewaktu pengasingan di Banda. Bekas rumah yang ditempati oleh Sutan Syahrir dan Dr. Cipto Mangunkusumo kini telah hancur. Tokoh lain yang pernah diasingkan ke Banda adalah Syarifudin Prawiranegara.

Peninggalan-peninggalan lain Benteng Hollandia di Pulau Lontor dan Benteng Revenge di Pulau Ay kini tinggal sisa-sisanya. Beberapa bangunan rumah yang sangat indah telah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk diambil kerangka besinya. Pohon-pohon kenari yang besar yang ditanam di sisi kiri-kanan jalan juga telah habis ditebang, sehingga terkesan Kota Banda Neira semakin gersang.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kubur Nekara Perunggu di Pesisir Utara Jawa Tengah

Pada tahun 1985 di Desa Plawangan di pesisir utara Jawa Tengah, Kabupaten Rembang tiba-tiba saja gempar dan ramai menjadi pembicaraan orang karena di desa kecil yang mayoritas penduduknya petani ikan atau nelayan tersebut ditemukan dua rangka manusia dikubur dalam nekara perunggu.

Nekara adalah semacam bejana atau “dandang” perunggu yang bentuknya terbalik. Pada umumnya nekara mempunyai berbagai macam ornamen atau hiasan, seperti bentuk bintang, binatang (burung, kodok, kadal, ikan dan sebagainya) serta bentuk-bentuk manusia atau kodok yang sudah distilir. Nekara merupakan produk budaya prasejarah yang berkembang pada masa perundagian (paleometalik) dan berfungsi sebagai sarana dalam upacara keagamaan. Pada umumnya nekara didapatkan dari hasil “temuan lepas” dan penyebarannya hampir meliputi seluruh kepulauan Indonesia, terutama di Indonesia bagian Timur (NTT).

Nekara unik
Temuan nekara perunggu sebagai wadah kubur di Plawangan ini mempunyai keunikan yang jarang ditemui di seluruh Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Keistimewaannya, kubur nekara ini ditemukan dalam suatu penggalian (ekskavasi) secara sistematis yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang sudah berlangsung tahun 1977-1990. Jadi dapat dipastikan kubur nekara ini merupakan satu-satunya temuan data yang masih “insitu” dan sangat menarik perhatian para ahli, khususnya dalam bidang kepurbakalaan. “Dunia arkeologi” pun mencuat dan menjadi bahan perbincangan hangat di media masa pada waktu itu.

Rangka anak-anak
Nekara perunggu temuan di Situa Plawangan tersebut ternyata merupakan suatu wadah kubur untuk anak-anak. Di dalam nekara tersebut ditemukan rangka anak-anak yang sudah hancur dan berumur antara 8-10 tahun. Di bawah nekara ditemukan lagi satu rangka anak-anak yang lebih muda usianya, yaitu sekitar 4-6 tahun dalam keadaan tertindih oleh nekara dan temuk di bagian kepalanya. Mengapa ada dua rangka anak-anak yang umumnya hampir sebagai dikuburkan dalam nekara perunggu di Plawangan, hal ini masih menjadi tanda tanya dan teka-teki yang belum terpecahkan oleh para ahli prasejarah sampai saat ini.

Ada suatu pendapat menyatakan bahwa rangka anak-anak yang berada di dalam nekara tersebut diduga adalah anak dari salah seorang tokoh masyarakat yang dihormati, sedangkan rangka anak-anak yang terletak di bawah/tertindih oleh nekara adalah pengikut setia atau teman akrab bermainnya yang sengaja dibunuh untuk menemani perjalanan tuannya ke alam baka.

Menurut kepercayaan pada masa prasejarah, seorang tokoh penting dalam masyarakat, seperti misalnya kepala suku, mempunyai pengaruh yang sangat kuat, dihormati dan disegani. Jika ia meninggal dunia, maka dalam penguburannya akan disertakan beberapa bekal kubur yang berharga atau pengikut/pelayan setianya yang rela dibunuh atau dijadikan korban untuk mengikuti perjalanan arwah tuannya. Demikian halnya dengan nekara temuan sebagai kubur di Plawangan tersebut, menunjukkan suatu bukti bahwa paling tidak, orang (anak-anak) yang dikubur tersebut mempunyai status sosial yang tinggi karena nekara merupakan suatu benda yang amat langka dan tinggi nilainya waktu itu.

Kompleks Kubur Kuno
Plawangan merupakan suatu situs atau kompleks kubur kuno dari tinggalan budaya pantai utara Pulau Jawa. Berdasarkan ciri-ciri sistem penguburan yang diterapkan, maka secara kronologis dapat diperkirakan bahwa Situs Plawangan paling tidak menunjukkan tiga fase perkembangan, yaitu tradisi penguburan yang berkembang pada masa prasejarah (paleometalik), tradisi penguburan pra-Islam, dan tradisi penguburan Islam.

Tradisi penguburan pada masa prasejarah di Plawangan ini memiliki ciri-ciri umum berupa kubur tempayan ganda (double urnburial) dan ciri-ciri khusus berupa kubur dengan wadah nekara perunggu, sedangkan sisa-sisa penguburan pra-Islam menunjukkan ciri-ciri mayat yang dikubur mengarah utara-selatan dengan disertai bekal kubur, dan sisa-sisa penguburan Islam dengan ciri-ciri mayat yang dikubur mengarah utara-selatan tanpa disertai bekal kubur.

Selain di Plawangan, tradisi penguburan di tepi pantai di Indonesia antara lain terdapat di Buni dan Anyer (Jawab Barat), Melolo (Sumba Timur) dan di Tondano. Tradisi semacam ini diperkirakan berkembang pada akhir masa prasejarah sampai awal masuknya Hindu di Indonesia dengan ciri-ciri berupa kubur tempayan atau penguburan yang disertai bekal kubur (funeral gift).

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Reuncong

Oleh Muhammad Agung Putranto

Reuncong sebagai benda pusaka yang bernilai dalam masyarakat Aceh adalah salah satu senjata tajam yang dipergunakan oleh masyarakat Aceh yang berdomisili di Daerah Provinsi Nagroe Aceh Darussalam, maupun orang-orang Aceh yang sudah merantau ke daerah lain di Indonesia.

Reuncong mempunyai tiga fungsi dalam penggunaan sehari-hari bagi masyarakat Aceh sejak dahulu sampai pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia.

Pertama, reuncong digunakan sebagai alat senjata sejak Aceh mulai berkembang menjadi daerah kerajaan, menghadapi berbagai keangkaramurkaan dan tantangan dari penyerbu-penyerbu luar Aceh.

Kedua, reuncong ini digunakan sebagai alat perhiasan sehari-hari oleh pria-pria Aceh dalam gerak kehidupannya. Sebagai alat perhiasan sehari-hari. Reuncong disisipkan di pingang dan juga digunakan sebagai pelengkap dalam berkesenian terutama dalam tari Seudati dan Ratoh.

Ketiga, reuncong digunakan sebagai alat pengganti alat-alat pelobang. Reuncong sering digunakan untuk melobangi pelebah rumbia pada bagian-bagian tertentu untuk dijadikan dinding rumah, pengganti papan.

Ada beberapa reuncong tertentu dianggap sebagai barang bernilai magis religius dalam pandangan masyarakat Aceh, maka reuncong sama sekali tidak digunakan sebagai alat pemotong atau pengupas. Dia dipakai apabila amat diperlukan, misalnya jika menghadapi musuh. Hal ini terbukti dalam perang Aceh melawan Belanda sejak tahun 1873 karena itu rakyat Aceh menganggap bahwa reuncong itu merupakan senjata sakti, sehingga daerah Aceh dijuluki pula dengan tanah reuncong.

Pada masa perang kemerdekaan (1945-1950), reuncong kembali berperan dalam perang menghadapi Belanda di front Medan Area di masa rakyat Aceh memasuki rusuk pertahanan Belanda sampai ke Sungai Sikambing, setelah melalui Tanjung Pura dan Binjai. Pada waktu Mujahidin Aceh sudah menggunakan senjata-senjata peninggalan serdadu Jepang, reuncong tidak pernah diabaikan dalam penggunaannya sebagai senjata penikam musuh atau senjata bela diri. Oleh karena itu reuncong masih sangat bernilai dan bermutu di dalam masyarakat Aceh hingga saat ini. Pada dasarnya setiap masyarakat Aceh memiliki sebilah reuncong sebagai senjata yang mendampingi hidupnya, sejak mereka berumur 18 tahun, walaupun reuncong itu tidak dibawa serta atau diselipkan di pinggangnya.

Sejarah
Mengenai sejarah timbulnya akal manusia dalam menciptakan senjata reuncong ini:

Pertama, sejak sebelum zman Islam orang Aceh sudah menggunakan berbagai peralatan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat. Berbagai macam bentuk alat-alat atau perkakas itu antara lain, alat perang, kapak, pisau dan sebagainya. Sudah barang tentu dalam penciptaan berbagai macam alat yang dibutuhkan tersebut mempunyai cara pembuatannya masing-masing, sebagai tampai pada kapak genggam zaman batu tua (paleolithikum) menjadi kapak licin atau diasah dengan baik sehingga tajam, merupakan hasil ciptaan manusia dalam pembuatan alat-alat pada zaman batu baru (neolithikum).

Demikian juga terjadi pada alat-alat pemotong seperti parang. Tentu saja pada mulanya berbentuk kasar, lama-kelamaan berbentuk licin dan halus. Hal ini merupakan tugas dari pandai-pandai besi, yang di Aceh dikenal dengan nama Pandee Beusou. Pandee Beusou itu umumnya menciptakan alat-alat pemotong yang praktis untuk rumah tangga yaitu pisau yang pada mulanya berbentuk kasar kemudian secara perlahan-lahan mencapai kesempurnaannya.

Kedua, reuncong dilihat sebagai senjata perang. Alat-alat ini mula-mula berasal dari pisau yang digunakan secara praktis kemudian dikembangkan untuk penggunaannya yang bersifat magis religius setelah dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi senjata perang dan biasanya diciptakan oleh pandee beusou yang ahli. Pandee beusou disamping berkeahlian menciptakan bentuk yang indah, dia juga harus dapat menciptakan bentuk yang dapat membahayakan musuh, kalau digunakan untuk menikam.

Sebagaimana tiap naluri manusia menginginkan alat perkakas pribadi, demikian juga bahwa alat yang seperti reuncong diciptakan orang Aceh sebelum masuk Islam ke Indonesia. Untuk selanjutnya demikian pula bahwa reuncong secara evolusi mencapai kesempurnaannya mulai sejak masuknya Islam ke Indonesia. Dengan perkataan lain bahwa reuncong itu mulai dikenal sejak berdirinya kerajaan Islam yang bernama Pasee. Sejak Pasee tumbuh dan berkembang dia membutuhkan kekuatan anggota militer yang dibarengi dengan persenjataan dan peralatan perang yang cukup memadai. Salah satu alat ini adalan reuncong dan menurut para ahli sejarah reuncong ini mulai digunakan pertama kali pada saat Sultan Ali Muqhayat-Syah memerintah kerajaan pada tahun 1514-1528.

Senjata reuncong ini menemui bentuk yang sebenarnya pada waktu itu sebagaimana yang kita kenal sekarang, yang kelihatannya lebih berorientasi pada kepercayaan Islam sebagai agama yang amat berpengaruh dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Aceh.

Oleh karena itu reuncong secara keseluruhan dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Gagang, yang melekuk kemudian menebal pada bagian sikunya merupakan aksara Arab BA.
  • Bujuran, bujuran gagang tempat genggaman merupakan aksara SIN.
  • Bentuk-bentuk lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat gagangnya merupakan aksara MIM.
  • Lajur-lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara LAM.
  • Ujung-ujung yang runcing dengan datar sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit melekuk ke atas merupakan aksara HA.
  • Rangkaian dari aksara BA, MIM, LAM dan HA itu mewujudkan kalimah “BISMILLAH”.
Jadi jelas reuncong merupakan reaksi dan perwujudan dari kalimah “BISMILLAH” dalam bentuk senjata tajam sebagai alat perang untuk mempertahankan diri dari musuh-musuh. Di samping itu reuncong dipergunakan juga sebagai alat perhiasan sehari-hari.

Pada waktu pemerintahan Sultan Ali Mughayat Syah dan pengganti beliau reuncong telah digunakan sebagai senjata perang. Waktu itu tempat-tempat penempaan terdapat di seluruh Aceh. Tempat-tempat itu antaranya di kampung Pande, Lam blang, Sibreh, Ulee kareng, lampakuk di Aceh Besar, Peukan Pidie, Kampung Aree, Uno di Pidie. Matang Geulumpang dua, Gedong, Lho'sukon, Pantonlabu di Aceh Utara. Peureulak, Idi, Simpang Ulim dan Manyak Poyet di Aceh Timur.

Macam-macam Reuncong
Reuncong sebagai alat senjata maupun sebagai alat perhiasan dalam kehidupan masyarakat Aceh, makin lama makin memperoleh kesempurnaan dalam mutu penempaannya. Sebagai alat senjata yang khas Aceh, mata reuncong tidak berobah bentuk, karena bentuk mata itu mencerminkan kalimah Bismillah sebagai kalam pertama untuk memulai sesuatu pekerjaan di kalangan masyarakat Islam.

Adanya bermacam-macam reuncong bukan terletak pada mata atau bentuk penempaannya, tetapi tergantung pada gagangnya, atau sumbunya, mereka yang mengerti reuncong segera mengetahui macamnya. Oleh karena itu timbulah nama-nama tertentu terhadap reuncong di kalangan masyarakat pemakainya.

Macam-macam reuncong tersebut adalah:
Reuncong Meupucok, reuncong ini menggunakan ukiran emas pada gagangnya bagian atas. Gagang reuncong ini kelihatan kecil pada bagian bawahnya, hingga membesar pada bagian atasnya.

Reuncong Meucugek, reuncong ini menggunakan cugek (bergagang lengkung 90 derajat). Cugeknya itu melengkung ke bagian belakang mata reuncong kira-kira 8-10 cm, sehingga gagang (sumbunya) berbentuk siku-siku.

Reuncong Meukuree, reuncong ini tidak di titik beratkan pada gagangnya tetapi terpusat pada tanda gambar yang bermacam-macam bentuknya pada mata reuncong. Gambar ini terjadi dengan sendirinya, tidak sengaja dibuat oleh pandai besi saat menempanya.

Reuncong Pudoi, pudoi artinya tidak sempurna, rencong ini memiliki gagang yang pendek maka rencong yang gagangnya pendek disebut reincong Pudoi.

Warisan budaya yang pernah dihayati masyarakat Aceh tempo dulu, baik tentang reuncong, maupun unsur budaya lainnya perlu terus diteliti dan dikembangkan, agar generasi muda yang akan datang mengetahui dan bangga dengan budaya mereka. Dengan demikian hal ini dapat menghindarkan mereka dari keinginan untuk mencari bentuk dan nilai budaya yang ternyata bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Sumber:
Muhammad Agung Putranto (Asdep Urusan Program/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
www.hupelita.com

Jelajah Manusia Prasejarah di Desa Wates Lampung Selatan

Oleh Nurul Laili

Secara administratif, Desa Wates dibagi menjadi 6 dusun, yaitu Dusun Umbulrejo, Wonorejo, Kalirejo, Watea, Umbulkluih, dan Selorejo. Areal Desa Wates kurang lebih 2.771 ha, dengan batas wilayah sebelah utara adalah Gunung Pesawar, sebelah selatan dengan Desa Sumberjaya, batas sisi Barat adalah Desa Gunungrejo, dan batas timur adalah Desa Bunut.

Wilayah Desa Wates rata-rata berada pada ketinggian 40-175 m di atas permukaan air laut. Berbagai jenis tanaman budidaya tumbuh subur di daerah ini. Tanaman tersebut, adalah kelapa, kopi, pisang, lada, dan tanaman lahan persawahan. Kegiatan perkebunan kopi dan lada, berdasarkan keterangan penduduk setempat sudah dimulai sejak pemerintahan kolonial (1800-an) dan berakhir tahun 1960-an. Saat ini lahan perkebunan tersebut dikelola oleh penduduk.

Jejak manusia prasejarah di daerah Wates dapat diketahui dari artefak yang dibuatnya. Artefak tersebut adalah:

1. Kapak Perimbas (chopper)
Artefak terbuat dari bahan batu rijang. Metrik artefak 15,6 X 8,1 X 6,2 cm. Ciri utama alat ini adalah pembentukan tajaman melalui pangkasan monofacial. Pangkasan dilakukan sebanyak tiga kali. Tipe kapak merupakan kapak yang sederhana diindikasikan masih terdapatnya korteks di dua muka (sisinya). Keadaan alat halus, kemungkinan pembundaran diakibatkan oleh arus sungai. Adapun bagian tajaman sudah aus, dimungkinkan oleh transformasi sungai yang intens.

2. Kapak Penetak (chopping tool)
Temuan alat jenis ini sebanyak dua buah. Atribut kuat dari alat ini adalah pembentukan tajaman dengan pemangkasan dua muka (bifacial). Kapak Penetak secara morfologi bisa dikategorikan sebagai kapak penetak runcing (pointed chopping-tool). Ukuran alat 9,6 X 2,9 X 3,9 cm. Jumlah pangkasan sebanyak 7 buah. Pemangkasan dilakukan melebar pada masing-masing muka (sisi) yang bertemu pada ujungnya dan membentuk lancipan. Bagian tajaman terlihat ada jejak pakai yang ditandai dengan pecahan berbentuk cekungan. Bentuk tajaman semi oval. Kulit batu hanya pada bagian kecil ventral. Alat ini berbahan batu rijang.

Kapak penetak yang lain, berbahan batuan beku. Ukurannya 10 X 5,8 X 3 cm Pangkasan dilakukan dua kali. Pengamatan pada teknologi alat ini cenderung merupakan kapak penetak sederhana. Tajaman berbentuk lurus. Korteks (kulit batu) terlihat di kedua sisinya.

3. Serut (Scraper)
Alat ini berjumlah dua buah. Keduanya berbahan rijang. Alat ini sudah mengalami pembundaran akibat arus sungai Ratai. Ciri yang menonjol adalah keberadaan retus yang teratur di kedua sisi/lateral. Retus mengikuti kontur tepian dengan berbentuk lurus. Pemangkasan yang dilakukan mempertemukan ujungnya sehingga membentuk lancipan. Alat serut ini disebut juga dengan lancipan.

Pemilihan Desa Wates sebagai tempat aktivitas sangat mungkin apabila dikaitkan dengan kondisi lingkungan sekitar. Pengamatan lingkungan situs menunjukkan terdapatnya bahan baku yang melimpah, ketersediaan air dari sungai, kontur alam daerah yang dikelilingi barisan pegunungan, dan lahan yang subur merupakan atribut kuat yang dipertimbangkan manusia dalam pemilihan lahan aktivitas.

Sumber:
Nurul Laili (Balai Arkeologi Bandung/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)
www.hupelita.com

Benteng Ujung Pandang

Oleh Sunarno Sastro Atmojo

Benteng Ujung Pandang memiliki sejarah yang unik, karena sedikitnya lima peranan telah dilaluinya. Peranan yang berkesinambungan dan selalu berubah sesuai situasi dan kondisi jamannya. Sehingga sejak didirikan hingga keberadaannya sekarang, dapat menggambarkan lintasan sejarah Sulawesi Selatan. Keunikan itu pula yang mengantarkan benteng ini menjadi salah satu objek wisata yang menarik di wilayah Indonesia belahan timur.

Nama Benteng
Terdaftar dalam Monumenten Ordonatie sebagai monumen bersejarah pada tanggal 23 Mei 1940 dengan nama Fort Rotterdam. Bertindak sebagai pendaftarnya adalah Yayasan Fort Rotterdam, yang diberi tugas oleh pemerintah Belanda pada waktu itu untuk memelihara dan melindungi bangunan-bangunan yang terdaftar di dalamnya dari tindakan yang bertentangan dengan fungsi bangunan yang sebenarnya, misalnya penggunaan benteng sebagai asrama.

Nama "Benteng Ujung Pandang," diambil dari nama ibukota Sulawesi Selatan Ujung Pandang, sejak tahun 1772 sampai beberapa tahun lalu. Menurut cerita lontara (naskah lontar) tempat tersebut banyak sekali tumbuh pandan sebelum didirikan benteng. Benteng ini pernah bernama "Benteng Panyua," dikaitkan dengan bentuk menyerupai penyu sedang merayap ke laut. Ada yang menfasirkan sebagai gambaran tempurung penyu yang keras dan kuat, yang diharapkan dapat melindungi rakyat dan Kerajaan Gowa. Pada jaman pendudukan Belanda disebut Katayya karena benteng ini difungsikan sebagai pusat pemerintahan atau kota.

Sejarah Benteng
Benteng ini menjadi salah satu bukti kejayaan dan kebesaran Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, yang masih berdiri dengan utuh dan megah hingga sekarang, meskipun usianya telah mencapai empat abad. Berkaitan dengan usaha pertahanan, hingga abad ke-17 Kerajaan Gowa membangun 14 benteng. Empat belas benteng tersebut adalah benteng-benteng: Sanrobone, Kale Gowa, Galesong, Barombong, Panakukang, Pattunuang, Sombaopu, Bontorannu, Mariso, Baro Boso, Tallo, Ana' Tallo, Ujung Tanah, dan Ujung Pandang. Satu-satunya yang masih ada dari 14 benteng tersebut adalah Benteng Ujung Pandang, lainnya tinggal nama saja.

Sejarah Benteng Ujung Pandang tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Kerajaan Gowa, yang muncul pada abad ke-13. Menurut cerita Lontara (naskah lontar), pendiri Benteng Ujung Pandang adalah raja Gowa ke-10, yaitu I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yang disebut juga Tunipalangga Ulaweng, pada tahun 1545. Pada mulanya benteng ini dibangun dari tanah liat, tetapi pada masa pemerintahan raja Gowa ke-14, yaitu Tumenanga ri Gaukanna yang disebut juga Sultan Alauddin, diganti dengan lapisan batu pada tahun 1634.

Pada masa pemerintahan Sultan Allaudin dilakukan perjanjian perdamaian dan perdagangan bebas pada tanggal 26 Juni 1937, dengan ketentuan pedagang-pedagang Kompeni tidak diperkenankan menetap di Somboapu. Karena hak monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku, serta didorong oleh kepribadian rakyat Gowa atas kebebasan, harga diri dan kesetiaan kepada raja, raja Gowa ke-16, yaitu Malombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape yang bergelar Sultan Hasanuddin, berperang melawan Kompeni Belanda. Perang pertama kali dilakukan pada bulan April 1655, dengan kemenangan di pihak Kerajaan Gowa. Perang kedua terjadi pada tahun 1660, karena kesalahan strategi, Kerajaan Gowa mengalami kekalahan, ditandai dengan jatuhnya Benteng Panakhukang pada tanggal 12 Juni 1660. Perang berlanjut sampai enam kali, hingga menimbulkan kerugian besar di kedua pihak. Sehingga pada tanggal 18 November 1667 diadakan perjanjian yang disebut "Cappaya ri Bungaya." Dengan Perjanjian Bungaya, secara resmi Benteng Ujung Pandang menjadi milik Kompeni Belanda dan diubah namanya menjadi "Fort Rotterdam." Pada tanggal 15 Juni 1669, Sombaopu yang menjadi ibukota Kerajaan Gowa, jatuh ke tangan Kompeni Belanda. Baru pada tanggal 22 Juni 1669 Benteng Sombaopu jatuh ke tangan Kompeni Belanda. Sebanyak 272 pucuk meriam termasuk meriam sakti "Anak Makassar" disita. Sultan Hasanuddin turun tahta pada tanggal 29 Juni 1669.

di dalam kompleks benteng dijumpai 15 bangunan rumah dengan gaya arsitektur Belanda abad XVII. Semula bangunan rumah tersebut berbentuk Rumah Makassar dengan tiang tinggi yang terbuat dari kayu. Semuanya dibangun oleh Kompeni Belanda (VOC), kecuali satu bangunan yaitu yang kini disebut bangunan no 11, dibangun oleh Pemerintah Pendudukan Jepang. Perbaikan yang dilakukan oleh Belanda selesai pada tahun 1677.

Fungsi Benteng
Pada jaman kerajaan Gowa, benteng ini berfungsi sebagai benteng pengawal, yang bertugas melindungi Benteng Sombaopu yang berperan sebagai benteng induk, jika mendapat serangan musuh. Pada masa pendudukan Belanda, benteng ini berfungsi ganda yakni sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian. Semasa pendudukan Jepang teknologi mengalami perkembangan pesat, sedangkan fungsi benteng untuk pertahanan tidak efektif lagi, sehingga fungsi benteng diubah menjadi pusat penelitian ilmiah, khususnya dibidang bahasa dan pertanian.

Setelah Indonesia merdeka, tempat ini dijadikan tempat penampungan bagi orang-orang pemihak Belanda yang terancam jiwanya oleh para gerilyawan yang menaruh dendam. Dengan demikian benteng ini berfungsi sebagai perumahan. Keadaan ini berlangsung hingga saat terjadi "penyerahan kedaulatan" pada tanggal 27 Desember 1949. Benteng ini difungsikan kembali sebagai benteng pertahanan pada saat berlangsung pertempuran selama tujuh hari antara pasukan KNIL dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Seusai perang benteng ini berfungsi kembali sebagai perumahan sipil dan militer.

Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan
Ketentuan yang terdapat dalam surat Kepala Dinas Purbakala tanggal 4 April 1953 No 504/D.4 disebutkan bahwa seusai perang hanya usaha yang bersifat kebudayaan saja yang dapat ditempatkan di dalam benteng. Sehingga pada tahun 1770 sekitar 1.500 jiwa berhasil dipindahkan oleh pemerintah Sulawesi Selatan. Selanjutnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Dr Sjarif Thajeb mengeluarkan surat keputusan No 014/A/1/1974 yang menetapkan bahwa benteng Ujung Pandang dijadikan pusat budaya Ujung Pandang serta perlu dibentuk dewan pembinanya.

Sebagai tindak lanjut usaha termaksud, dilakukan beberapa kegiatan, di antaranya memugar bangunan yang ada di dalamnya. Pada tahun 1974, di tengah lapangan kompleks benteng dibangun sebuah panggung pertunjukan kesenian. Segala jenis kegiatan kesenian yang mencakup seni tari, seni suara, seni musik, drama, pameran purbakala dan sebagainya, dipentaskan di panggung ini. Akhirnya pada tanggal 21 April 1977, benteng Ujung Pandang secara resmi dijadikan Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan.

Sunarno Sastro Atmojo (Asdep Konservasi & Pemeliharaan/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Sisa "Rumah" Berlantai Enam di Situs Kota Kuno Trowulan

Oleh Y. Eriawati

Telah cukup banyak ahli arkeologi yang tidak lagi menyangsikan bahwa Wilayah Trowulan, yang terletak sekitar 10 km dari Kota Mojokerto, merupakan sisa Kota Kuno Masa Majapahit (abad 14-15 Masehi). Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya ribuan bahkan ratusan ribu fragmen tembikar yang sebagian besar menunjukkan wadah-wadah yang biasa dipakai sehari-hari, seperti kendi, mangkuk, piring, cangkir, tempayan, serta puluhan jenis wadah lainnya. Demikian pula temuan arkeologi yang dikenal dengan terakota, memperlihatkan jumlah, bentuk, jenis, ukuran beraneka-rupa. Terakota yang terkenal dari Trowulan ini adalah celengan dengan bermacam bentuk dan ukuran, boneka-boneka terakota, serta miniatur bangunan "rumah."

Tinggalan lain yang juga sangat mendukung bahwa Trowulan merupakan bekas kota kuno adalah ditemukannya sisa-sisa bangunan, berupa bangunan-bangunan keagamaan seperti: candi, petirtaan, dll, juga sisa-sisa bangunan yang diinterpretasikan sebagai bangunan tempat tinggal atau bangunan bekas "rumah."

Tinggalan keramik asing dari berbagai negara (Cina, Vietnam, Thailand, Burma, dll) yang juga banyak ditemukan di situs ini memperlihatkan bahwa hubungan "kenegaraan" Majapahit dengan negara-negara asing pun telah dibina dengan baiknya, serta dalam jangka waktu yang tidak pendek.

Sekelumit Mengenai Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit
Sumber-sumber sejarah yang menyebutkan asal mula berdirinya Majapahit cukup banyak jumlahnya. Sumber yang berasal dari dalam negeri terdiri dari prasasti dan berita yang terdapat dalam kesusastraan. Prasasti yang isinya dapat dipakai sebagai sumber keterangan peristiwa-peristiwa yang ada hubungan dengan kemunculan kerajaan Majapahit antara lain: Prasasti Gunung Butak atau Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamerta (1296 M); sedangkan sumber yang berupa hasil kesusastraan, yaitu: Nagarakrtagama dan Pararaton.

Di samping sumber dari dalam negeri, berita China dari Dinasti Yuan (1280-1367) memperkuat bukti bahwa apa yang disebut di dalam sumber-sumber dari dalam negeri memang merupakan suatu peristiwa sejarah.

Berdasarkan sumber-sumber data tekstual tersebut, dapat diuraikan secara ringkas bahwa Kertanegara, Raja Singasari terakhir, gugur pada tahun 1292 karena serangan Jayakatwang dari Kediri. Menantunya yaitu Raden Wijaya dengan beberapa pengiringnya dapat menyelamatkan diri ke Madura dan meminta bantuan adipati Sumenep bernama Wiraraja. Dengan bantuan Wiraraja, disusun rencana dengan cara Raden Wijaya menyerahkan diri ke Jayakatwang dan menghamba kepadanya. Setelah itu, Raden Wijaya memohon membuka hutan di wilayah Trik yang diluluskan Jayakatwang.

Mulailah hutan Trik dibuka dengan dibantu oleh orang-orang Madura. Tempat itu kemudian dinamakan Majapahit, dari sinilah Raden Wijaya mempersiapkan kekuatan untuk melawan kekuasaan Jayakatwang, yang akhirnya bisa ia kalahkan. Raden Wijaya kemudian dinobatkan menjadi Raja Majapahit pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, pada tahun 1293 M.

Perkiraan Bentuk-bentuk Bangunan "Rumah"
Sebagai bekas kota, tidaklah heran bahwa salah satu jenis tinggalan arkeologi yang banyak ditemukan di Situs Trowulan ini adalah sisa-sisa bangunan. Baik sisa-sisa struktur bata dalam bentuk bekas tembok atau dinding, serta batu-batu kali maupun tanah liat bakar yang membentuk sisa-sisa lantai. Temuan lainnya artefak berupa genteng yang juga dibuat dari tanah liat bakar. Banyak di antaranya masih dalam keadaan utuh, sehingga kita bisa tahu adanya berbagai bentuk genteng yang ada di wilayah Trowulan ini pada masa lalunya.

Artefak yang tidak kalah menariknya adalah tinggalan berupa miniatur bangunan "rumah" yang dibuat dari tanah liar bakar. Bangunan yang terlihat dari terakota tersebut memiliki tiga dimensi yang menggambarkan rumah lengkap dengan komponen bangunannya. Bentuk atap rumah yang digambarkan menunjukkan bentuk tajuk atau limasan, dengan penutup atap digambarkan dibuat dari berbagai bahan (sirap, genteng, dll).

Hasil penelitian T.P. Galestin tahun 1936, memberikan pengetahuan kepada kita mengenai bentuk-bentuk arsitektur bangunan hunian masa Majapahit di Jawa Timur, yang dalam hal ini termasuk juga bangunan di "Kota Trowulan." Secara garis besar dikatakan bahwa ada bangunan yang bertiang satu, empat, lima, enam, dan delapan, memiliki denah dasar berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar, serta bentuk-bentuk atap berupa limasan atau kampung. Pengetahuannya itu didapat atas dasar penelitiannya terhadap relief-relief candi yang menggambarkan bentuk-bentuk "rumah" tinggal.

Penelitian Parmono Atmadi yang dipublikasikan pada tahun 1993 menyatakan bahwa rumah Majapahit dapat dibagi ke dalam tiga bentuk arsitektur, yaitu: 1) bentuk arsitektur Jawa Kuno berupa konstruksi kayu dengan tiang langsung berdiri di permukaan tanah, dan ada kolong di bawah lantai; 2) bentuk arsitektur Majapahit Lama, yaitu bangunan kayu yang berdiri pada batur, tetapi tidak mempunyai pemisah ruangan; 3) bentuk arsitektur Majapahit Akhir yang pada dasarnya memiliki kemiripan dengan bentuk arsitektur Majapahit Lama, tetapi pada konstruksi ini telah dikenal adanya pemisahan ruangan.

Tahun 1999, dalam tesis S2nya Osrifoel Oesman yang telah melakukan analisis pada beberapa sisa-sisa struktur bangunan yang ditemukan di Situs Trowulan, menuliskan sketsa bangunan hunian Masa Majapahit, yang dibaginya ke dalam 3 bagian, yaitu: kaki bangunan, badan bangunan, dan kepala bangunan. Menurutnya bangunan ada yang berdiri di atas batur tanpa umpak atau dengan umpak, serta tanpa batur dengan umpak langsung berdiri di tanah, serta bangunan tanpa batur dan umpak. Badan bangunan ada yang memperlihatkan dinding terbuka, setengah terbuka, dan dinding yang tertutup. Kepala bangunan, dengan atap berbentuk limasan, kampung, tajuk, dan pangang-pe.

Bangunan "Rumah" Berlantai Segi Enam
Salah satu lokasi temuan sisa struktur bangunan yang cukup penting di wilayah Situs Trowulan, adalah area tempat ditemukannya lantai yang memiliki bentuk khusus, yaitu lantai berbentuk segi enam. Lokasi temuan "sisi rumah" berlantai berbentuk segi enam itu berada di Dukuh Kedaton, Desa Sentonorejo, yang masih berada dalam wilayah Situs Trowulan.

Tempat ini pertama kali ditemukan oleh seorang penduduk pada tahun 1982, pada saat ia sedang menggali perkarangan belakang rumahnya. Berdasarkan laporan adanya temuan tersebut, maka dilakukan ekskavasi penyelamatan pada tahun 1982, 1984, dan 1985 oleh Proyek Pemugaran Kota Majapahit dan SPSP Jawa Timur.

Hasil pembukaan kotak sebanyak 22 buah dapat diketahui bahwa wilayah yang mengandung temuan sisa-sisa struktur bangunan ini memiliki ukuran luas sekitar 12,50 m x 12,50 meter. Temuan-temuan hasil ekskavasi dapat dilihat masih dalam keadaan in-situ.

Dari sisa-sisa bangunan yang ada, yang paling menarik adalah susunan lantai bata yang masih tersusun rapih, terpasang dari bata-bata yang berbentuk segi enam. Lantai bata segi enam tersebut memiliki ukuran panjang sisi-sisi luasnya: 17 cm, dan tebal sekitar 6 cm, disusun dengan jarak antara dua-sisi-sisi luar bata rata-rata 30 x 30 cm.

Di samping susunan lantai segi enam, ditemukan pula susunan lantai berbentuk segi empat, serta susunan struktur bata dengan ukuran yang berbeda-beda, berukuran panjang antara satu setengah hingga dua setengah meter, lebar sekitar 60 cm, serta terdiri dari susunan 5-7 bata yang masing-masing memiliki ukuran tebal sekitar 15-20 cm. Di situs ini pun ditemukan beberapa umpak batu yang dibuat dari batuan andesit, berbentuk limas terpancung.

Berdasarkan sisa struktur bangunan yang ditemukan di situs ini, diperkirakan bahwa bangunan "rumah" memiliki ukuran yang cukup luas, dengan denah bangunan berpola geometris dan berbentuk persegi panjang. Lantai bata berbentuk segi enam dan segi empat, yang dibuat dari bata. Bangunan mempunyai tiang yang diletakkan di atas umpak batu berukuran besar, di mana umpak tersebut berdiri di atas lantai. Sayangnya belum dapat diketahui arah hadap maupun ruang-ruang pemisah dari "rumah" berlantai segi enam ini.

Penutup
Adanya temuan-temuan arkeologi yang menggambarkan sisa-sisa pemukiman kota, menjadikan Situs Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur merupakan situs yang cukup penting. Bahkan dari semua kerajaan-kerajaan masa Hindu-Buddha di Indonesia, hanya kerajaan terakhir, yaitu Kerajaan Majapahit yang meninggalkan sisa bangunan-bangunan hunian di Situs Trowulan.

Tampaknya Situs Trowulan dalam perjalanan sejarahnya mengalami proses penurunan kualitas secara terus menerus akibat rusak dan berkurangnya tinggalan arkeologis yang ada. Faktor penyebab terjadinya tersebut bisa bermacam-macam. Secara garis besar dapat dibedakan akibat dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor tangan-tangan manusia. Faktor kedua ini tampaknya yang paling intensif merusakkannya, misalnya pembukaan areal sawah, dan seperti yang banyak terjadi yaitu pengerukan tanah guna pembuatan batu bata. Tampaknya kita memang harus berlomba dengan mereka dalam usaha "menyelamatkan" Situs Kota Kuno Trowulan ini.

Y. Eriawati (Pusat Penelitian Arkeologi/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Kulkul Alat Komunikasi Tradisional Masyarakat Bali

Oleh Dahlia Silvana

Masyarakat Bali terkenal sebagai masyarakat yang kaya akan warisan budaya. Mereka menerima warisan budaya secara tradisional. Artinya, antara satu generasi ke generasi berikutnya tetap terjalin hubungan yang erat dari sejak dahulu hingga sekarang ini. Hubungan itu pula yang pada akhirnya membentuk suatu wadah berupa organisasi tradisional seperti tempel, banjar, dan subak.

Lazimnya sebuah organisasi tradisional di Bali memiliki sebuah Kulkul. Apabila terdengar suara kulkul maka hal itu sebagai pertanda panggilan kepada warga untuk berkumpul. Panggilan tersebut bisa karena kesepakatan sebelumnya atau karena situasi mendadak.

Kulkul adalah alat bunyian yang merupakan umumnya terbuat dari kau dan benda peninggalan para leluhur. Selain di Bali Kulkul yang lazimnya disebut dengan kentongan hampir terdapat di seluruh pelosok kepulauan Indonesia. Kulkul dijadikan alat komunikasi tradisional oleh masyarakat Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, kulkul lebih populer dengan nama "Tongtong." Sedangkan pada zaman Jawa-Hindu kulkul disebut "Slit-drum" yaitu berupa tabuhan dengan lubang memanjang yang terbuat dari bahan perunggu.

Pada masyarakat Bali, istilah kulkul ditemukan dalam syair Jawa-Hindu Sudamala. Beberapa lontar Bali juga menyebutkan keberadaan kulkul seperti Awig-awig Desa Sarwaada, Markandeya Purana, dan Siwa Karma. Keempat naskah kuno Bali ini mengungkapkan pentingnya kayu bermakna pikiran dalam kehidupan manusia yang biasa disebut dengan kulkul. Kayu erat hubungannya dengan manusia, sementara kayu adalah bahan dasar dari kulkul.

Untuk menyebutkan suatu keadaan, umat Hindu Bali menggunakan istilah "ala ayuning dewasa" artinya dewasa yang baik dan dewasa yang kurang baik. Kedua hal ini sulit dipisahkan bahkan selalu berdampingan. Demikian pula dalam pembuatan sebuah kulkul dari kayu biasa menjadi sebuah alat bunyian bernilai sakral dan keramat, harus mengalami pemrosesan yang cukup panjang. Dimulai dari mencari bahan, menebang kayu sampai kepada proses pembuatannya harus melalui serentetan upacara. Para pembuat kulkul harus melakukan tahap-tahap upacara guna mencari dewasa yang baik dan menghindari dewasa yang kurang baik, dari awal hingga akhir pembuatan kulkul. Sampai kepada tahap melepaskan sebuah kulkul juga harus melalui sebuah upacara. Apabila tahapan upacara sudah dilaksanakan maka kulkul telah memiliki kekuatan magis dan dianggap sebagai benda suci serta keramat.

Ada empat jenis kulkul yang dikenal masyarakat Bali yaitu Kulkul Dewa, Kulkul Bhuta, Kulkul Manusa, dan Kulkul Hiasan. Kulkul Dewa adalah kulkul yang digunakan saat upacara Dewa Yadnya. Kulkul Dewa dibunyikan apabila akan memanggil para dewa. Ritme yang dibunyikan sangat lambat dengan dua nata yaitu tung.... tit.... tung.... tit.... tung.... tit dan seterusnya. Kulkul Bhuta adalah kulkul yang digunakan saat upacara Bhuta Yadnya. Kulkul Bhuta dibunyikan apabila akan memanggil para Bhuta Kala guna menetralisir alam semesta sehingga keadaan alam menjadi aman dan tenteram. Kulkul Manusa adalah kulkul yang digunakan untuk kegiatan manusia, baik itu rutin maupun mendadak. Di kedua kegiatan inilah saat membunyikan Kulkul Manusa. Kulkul Manusa terbagi atas tiga yaitu Kulkul Tempekan, Kulkul Sekeha-sekeha, dan Kulkul Siskamling. Ritme yang dibunyikan kulkul manusa lambat dan pendek, sedangkan pada kegiatan mendadak terdengar cepat dan panjang. Kulkul Hiasan disebut karena kulkul ini diberi hiasan-hiasan untuk menambah keindahannya. Biasanya kulkul ini dianggap sebagai barang anti oleh wisatawan yang datang ke pulau Bali, sering dijadikan oleh-oleh atau buah tangan. Kulkul biasa banyak dijual di toko-toko, di pasar dengan harga relatif murah.

Nilai sakral sebuah kulkul ini didukung sepenuhnya oleh agama Hindu Bali yang diyakini masyarakat Bali secara umum. Terutama kulkul yang tersimpan di Pura-pura besar di Bali dianggap sebagai wujud nyata beryadnya sehingga apabila terjadi penyimpangan dalam penggunaannya maka segera upacara penyucian dilakukan. Sebuah kulkul layaknya diletakkan pada sebuah bangunan yang disebut "Bale Kulkul", tepatnya berada pada sudut depan pekarangan pura atau banjar dengan cara menggantungkannya.

Fungsi kulkul berkaitan erat dengan kegiatan banjar. Banjar-banjar di Bali umumnya melakukan pertemuan rutin warga sebulan sekali. Menjelang hari pertemuan, didahului dengan memukul kulkul dengan sebuah alat pemukul dari kayu. Suara kulkul akan terdengar sampai ke pelosok banjar. Suara tersebut merupakan panggilan kepada warga untuk segera berkumpul di tempat yang sudah disepakati bersama.

Selain untuk pertemuan rutin, bunyi kulkul juga mengandung arti untuk pengerahan tenaga kerja. Ada pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan, dan ada pula yang sifatnya mendadak. Gotong royong membersihkan desa, mempersiapkan upacara di pura, dan mencuci barang-barang suci adalah bentuk-bentuk pengerahan tenaga kerja yang sudah direncanakan. Diawali dengan terdengarnya suara kulkul, warga pun segera berkumpul dan bersama-sama melakukan aktivitas membersihkan desa. Sedangkan pengerahan tenaga kerja yang sifatnya mendadak umumnya menanggulangi kejadian yang tiba-tiba menimpa banjar. Kejadian itu dapat berupa kebakaran, banjir, orang mengamuk, dan pencuri. Bunyi kulkul terdengar cepat dan panjang. Ini sebagai isyarat supaya warga segera datang atau berjaga-jaga karena ada bahaya mengancam.

Terjadinya gejala alam seperti gerhana bulan akan disambut oleh seluruh banjar dengan membunyikan kulkul. Masyarakat Bali berkeyakinan bahwa gerhana bulan terjadi karena bulan dimangsa oleh Kalarau. Bunyi kulkul yang menggema di seluruh Bali akan menghilangkan konsentrasi Kalarau sehingga ia akan melepaskan bulan kembali.

Contoh-contoh yang telah disebutkan menunjukkan warga patuh terhadap aturan banjar. Kepatuhan warga terhadap aturan banjar menunjukkan azas kebersamaan dan kekeluargaan. Di dalamnya terkandung nilai semangat gotong royong yang mendorong warga untuk menciptakan keharmonisan dan keselarasan dalam lingkungan banjar.

Hal tersebut terkait erat dengan peranan kulkul dalam masyarakat Bali. Dapat dikatakan hampir seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat Bali mengikutsertakan kulkul. Bahkan dalam pemanggilan para Dewa dan Bhuta Kala didahului dengan membunyikan kulkul. Kulkul diyakini mengandung kekuatan magis dan dianggap keramat oleh pendukungnya. Kulkul adalah alat komunikasi tradisional, antara manusia dengan dewa, manusia dengan penguasa alam, dan manusia dengan sesamanya. Kulkul diyakini juga dapat meningkatkan rasa kesatuan dan persatuan. Hal ini terlihat dari rasa kebersamaan dan kekeluargaan seluruh warga ketika mendengar bunyi kulkul. Oleh sebab itu, keberadaan kulkul pada masyarakat Bali perlu dilestarikan karena sangat membantu jalannya pelaksanaan pembangunan.

Dahlia Silvana (Dir Tradisi & Kepercayaan/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Permainan Massempek (Sulsel)

Oleh Ismi Hadriati

Beraneka ragam permainan rakyat tersebar di seluruh pelosok tanah air, beraneka ragam pula bentuk dan caranya. Di antara permainan rakyat tersebut ada satu yang cukup menarik untuk kita kenal namanya Massempek.

Massempek adalah permainan rakyat yang berasal dari Sulawesi Selatan. Permainan ini dapat kita jumpai hampir di setiap kabupaten dan kotamadya yang berada di propinsi tersebut, namun dengan nama atau istilah yang berbeda-beda. Umpamanya di daerah Makassar permainan ini dikenal dengan nama a'sempak atau a'batte dengan kata dasar batte yang berarti adu atau laga, namun pada masyarakat Bugis di Kabupaten Bone permainan rakyat ini disebut dengan nama Massempek seperti judul tersebut di atas. Istilah Massempek di daerah ini berasal dari kata sempek yang berarti menendang/menyepak ditambah dengan awalan ma sehingga berarti melakukan tendangan/menyepak. Lain lagi di daerah Tana Toraja, mereka menyebut permainan ini dengan istilah Massemba, sedangkan orang-orang Mandar biasa menggunakan istilah Malanja.

Perbedaan nama atau istilah dalam permainan rakyat yang telah saya sebutkan tadi tidak menyebabkan cara bermainnya berbeda, sebab permainan ini semuanya memiliki kesamaan yaitu saling menyepak atau menendang ke arah badan lawan dengan menggunakan kaki. Dalam hal ini hanya kedua kaki yang boleh digunakan untuk berlaga, sedangkan kedua tangan tidak boleh digunakan untuk bermain.

Menurut cerita yang dikenal masyarakat secara turun temurun, dahulu keberadaan Massempek berawal dari keisengan kalangan keluarga bangsawan (raja-raja), sebab pada masa itu sarana olahraga maupun hiburan tidak seperti saat ini. Oleh karena itu, mereka mencari cara untuk mendapatkan kesenangan atau hiburan bagi keluarga di kalangan bangsawan. Apalagi jika ada pesta maupun upacara-upacara adat, seperti perkawinan, pelantikan raja maka keberadaan hiburan mutlak diperlukan. Akhirnya mereka membuat suatu atraksi hiburan tersendiri yang berkaitan dengan permainan adu ketangkasan yang kemudian mereka sebut dengan istilah Massempek.

Pada masa dahulu permainan rakyat Massempek yang dimaksudkan hanya untuk menghibur keluarga bangsawan (raja-raja) ini hanya dimainkan oleh golongan hamba sahaya yang berada di lingkungan istana raja saja. Seiring dengan berjalannya waktu, lama kelamaan permainan ini terus berkembang dan tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga bangsawan saja, namun juga oleh masyarakat umum, sehingga permainan ini pun dapat dimainkan oleh semua lapisan masyarakat di daerah itu.

Permainan rakyat Massempek ini dapat dilaksanakan setiap waktu, baik pagi, sore, bahkan pada malam hari terutama saat munculnya bulan purnama, sesuai dengan kesepakatan waktu yang telah disetujui oleh semua pihak.

Untuk menyelenggarakan permainan ini dibutuhkan suatu tempat yang agak luas agar permainan dapat berlangsung dengan lancar. Setelah tempat penyelenggaraan permainan diperoleh, pertama-tama dibuatlah suatu arena atau gelanggang dengan mempergunakan kapur bubuk sebagai garis arena dan juga pijakan kaki para pemain. Arena tersebut dapat dibentuk seperti lingkaran atau bujur sangkar. Maksud dibentuknya arena berbentuk lingkaran atau bujur sangkar ini agar terdapat pemisahan antara pemain dan penonton, pemain di dalam arena sedangkan penonton harus berada di luar arena.

Pemain yang akan berlaga di dalam arena terdiri dari dua orang laki-laki dewasa. Di antara dua orang yang akan berlaga tersebut ada seseorang yang bertindak sebagai penengah atau wasit yang disebut dengan istilah Pallape dalam bahasa Bugis. Pallape ini haruslah orang yang disegani agar para pemain dan penonton tidak melakukan tindakan yang merugikan kedua belah pihak. Pallape menyebutkan beberapa peraturan yang harus ditaati. Di antara beberapa peraturan itu disebutkan peraturan mengenai pakaian yang harus dikenakan dalam permainan yaitu kedua pemain hanya diperkenankan mengenakan baju dan celana pendek, serta sarung yang dililitkan dengan kencang di pinggangnya, kemudian bagian bawah sarung diselempangkan pada kunci paha dan diselipkan pada gulungan sarung di pinggang sedemikian rupa jangan sampai lepas. Peraturan lain menyebutkan bahwa dalam melakukan permainan tidak boleh menyentakkan kaki dan yang paling penting gerakan kaki hanya boleh mengenai bagian pusat ke atas, selain itu tidak boleh. Nilai yang tertinggi akan diperoleh apabila seorang pemain mampu mengarahkan tendangannya ke arah leher lawan.

Sebelum permainan dimulai Pallape mempersilakan pemain yang akan berlaga untuk memasuki arena permainan, namun pemain tersebut juga dapat memasuki arena tanpa dipersilakan terlebih dahulu, misalnya seorang pemain dengan kemauan sendiri masuk ke dalam arena dan langsung mengambil sikap mengembangkan kedua tangan sambil mengepak-ngepakkannya dan sekali-kali menepuk-nepukkan kedua pahanya sebagai tanda siap untuk berlaga diselingi dengan suara-suara bernada tantangan yang keluar dari mulutnya sendiri. Gerakan-gerakan ini selintas mirip dengan ayam jantan yang siap berlaga. Setelah itu biasanya ada seseorang yang berada di luar arena menjawab tantangan itu sambil menempelkan tangan melompat ke dalam arena. Pemain yang baru masuk itu tidak begitu saja dapat langsung bermain, karena Pallape akan mempertimbangkan apakah lawan yang masuk seimbang. Bila Pallape menilai seimbang permainan akan dilangsungkan, namun bila tidak akan dicari penantang yang lain.

Setelah diperoleh pasangan pemain yang seimbang, kedua Pallape berpegangan tangan dan di atas tangan kedua Pallape, kedua pemain berjabatan tangan. Kemudian Pallape memberikan aba-aba tanda permainan dapat dimulai. Para pemain melakukan gerakan seakan-akan melayang dengan manja, berlari-lari kecil, lalu melompat-lompat dan menepuk kedua pahanya. Kedua pemain mencoba mencari peluang untuk menyerang dan akhirnya mereka saling menyepak dan menangkis hingga Pallape mengatakan "ki" yang berarti babak pertama selesai.

Babak kedua dimulai dengan mengubah posisi pemain. Babak ini merupakan babak untuk menentukan siapa pemenangnya. Tapi kadang-kadang tidak sampai babak kedua ada seorang pemain yang tidak sanggup meneruskan permainan karena menghadapi lawan yang dianggapnya terlalu berat, maka pemain itu melompat mundur dan melakukan mappale, yaitu menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas sebagai tanda mengalah, dan Pallape menyatakan bahwa pemain itu kalah. Dengan berakhirnya babak kedua maka berakhir pulalah permainan rakyat Massempek ini.

Permainan Massempek ini termasuk permainan yang cukup menegangkan, sehingga para penonton yang berada di luar arena ramai memberikan dukungan dan sorak-sorai kepada para pemain yang sedang berlaga. Apalagi permainan ini biasanya berlangsung dalam beberapa partai.

Sampai saat ini permainan Massempek masih dapat kita jumpai di Sulawesi Selatan, namun hanya di daerah-daerah tertentu saja seperti di Tana Toraja, Bone dan Jeneponto dan hanya dimainkan pada acara-acara tertentu saja sekedar atraksi dalam suatu upacara, pesta-pesta besar untuk menghibur dan menghormati tamu yang datang ke daerah tersebut.

Memang permainan ini merupakan permainan yang memiliki resiko yang cukup besar, sehingga langkah selanjutnya dapat dikembangkan untuk membina fisik dan mental para remaja, karena sesungguhnya permainan ini mengandung nilai-nilai sportivitas yang tinggi.

Ismi Hadriati (Direktorat Tradisi dan Kepercayaan/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com

Goa Pawon (Jawa Barat)

Oleh Her Suganda

Lebih dari seabad silam, para peneliti sudah menduga bahwa Dataran Tinggi Bandung pernah dijadikan hunian manusia sejak zaman prasejarah. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya berbagai peralatan dari batu seperti anak panah, pisau dan kapak yang terbuat dari batu obsidian dan artefak lainnya yang tersebar di beberapa tempat.

Usaha menemukan jejak manusia purba di Dataran Tinggi Bandung akhirnya menjadi kenyataan ketika pertengahan Juli lalu, para arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Bandung yang menindaklanjuti penelitian sekelompok geolog muda yang tergabung dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), menemukan fosil manusia purba di daerah yang disebut Goa Pawon.

“Walaupun usianya lebih muda karena diperkirakan berasal dari masa mesolitik, namun secara arkeologis temuan itu sangat signifikan, terutama dalam hubungannya dengan terbentuknya Danau Bandung Purba,” kata Dr Tony Djubiantono, Kepala Balar Bandung.

Goa Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung, atau sekitar 25 km arah barat Kota Bandung. Lokasi penemuan terletak tidak jauh dari sisi jalan raya yang menghubungkan Bandung-Cianjur dan kota-kota lainnya di sebelah barat.

Disebut Goa Pawon karena lokasi temuan berada di dalam goa kars yang terletak di sisi tebing bukit kars Gunung Masigit yang oleh penduduk setempat dinamakan Goa Pawon. Dalam bahasa Sunda, pawon artinya sama dengan dapur. Jika diukur dengan permukaan tanah terendah di daerah itu yang diperkirakan merupakan dasar danau, maka letak goa tersebut berada pada ketinggian sekitar 100 meter.

Dugaan goa tersebut pernah dihuni manusia prasejarah pertama kali disampaikan KRBC. Ketika itu, sekitar dua tahun lalu, sekelompok geolog muda yang terdiri dari Eko Yulianto, Budi Brahmantyo, Johan Arief, T Bachtiar, dan dibantu oleh Sujatmiko melakukan penelitian endapat danau Bandung Purba. Namun, tatkala meneliti endapatn Sungai Cibukur yang letaknya sekitar 200 meter dari Goa Pawon, mereka menemukan artefak berupa dua buah mata kapak dan satu kapak genggam. Karena merasa menemukan sesuatu yang dianggapnya “istimewa”, mereka tidak bisa menahan nalurinya sebagai peneliti untuk meneliti lokasi tersebut lebih lanjut. Ternyata dugaannya tidak meleset. Mereka menemukan lebih banyak lagi artefak setelah melakukan penggalian di Goa Pawon yang selama ini dianggap angker oleh masyarakat setempat.

Penelitian lebih mendalam terhadap Goa Pawon barulah dilakukan dua tahun kemudian oleh Balar Bandung. Dipimpin arkeolog Drs Lutfi Youndri, penelitian dilakukan sejak 10-19 Juli lalu. Dari penggalian yang dilakukan, selain ditemukan 20.250 serpihan tulang-belulang dan 4.050 serpihan batu, pada kedalaman 80 cm ditemukan fosil tulang tengkorak manusia. Sementara pada kedalaman 120 cm, ditemukan fosil tulang kering dan telapak kaki manusia prasejarah. Baik Lutfi maupun Tony Djubiantono meyakini masih terdapat fosil individu lainnya di tempat tersebut.

Melihat temuan yang cukup penting dalam sejarah terbentuknya Danau Bandung Purba tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, H Memet H Hamdan, yang melakukan peninjauan lapangan melihat besarnya potensi sejarah dan budaya situs tersebut. Karena itu, ia segera memerintahkan pemagaran situs tersebut untuk menghindarkan perusakan oleh tangan-tangan iseng.

“Saya juga akan meminta bantuan Bupati Bandung mengamankan lokasi ini,” katanya bersemangat. Keinginan ini disampaikan karena daerah sekitar situs merupakan lokasi eksploitasi kapur dan marmer terbesar di Kabupaten Bandung.

Goa Pawon yang terletak pada kawasan kars Padalarang, menurut geolog Hanang Samodra, merupakan kompleks goa fosil yang bertingkat dengan gejala peruntuhan dan pelarutan yang membentuk beberapa lubang atau sumuran tegak (shaft) sedalam belasan meter. Sedimen di dalam goa yang tebalnya lebih dari tiga meter bercampur dengan endapan fosfat quano.

Pada sedimen goa tersebut diakui pernah ditemukan artefak, kepingan tulang vertebrata dan beberapa jenis moluska darat. Menurut dia, penemuan itu mengukuhkan nilai arkeologi goa yang informasinya dapat dipakai untuk menafsirkan keberadaan manusia purba atau prasejarah yang diduga tinggal di sekitar pinggiran Danau Bandung Purba. Ia menduga, goa tersebut hanya merupakan tempat persinggahan dan bukan merupakan tempat tinggal manusia prasejarah.

Danau Bandung Purba dengan latar belakang sejarah dan legendanya yang memikat, selama ini belum banyak dijual sebagai obyek wisata khusus, terutama geowisata. Padahal, potensinya sangat besar sehingga akan menambah kuat daya tarik wisatawan mengunjungi Dataran Tinggi Bandung.

Dari segi ceritera rakyat Sunda, legenda Sangkuriang yang diciptakan nenek moyang manusia Sunda hingga kini masih tetap memikat untuk diceriterakan kembali. Konon, danau tersebut diciptakan berkat kesaktian Sangkuriang yang berusaha memenuhi permintaan Dayang Sumbi yang akan disuntingnya sebagai isteri. Wanita yang diceriterakan tetap cantik di masa tuanya itu tidak lain dari ibunya sendiri. Rencananya, pasangan anak dan ibu itu akan berbulan madu dengan berlayar mengarungi danau tersebut yang diciptakan dengan membendung Sungai Citarum.

Namun, sang ibu rupanya tak kalah akal untuk menggagalkan rencana tersebut. Dengan kesaktiannya, ia berhasil mengelabui anaknya tercinta. Ia menciptakan seolah-olah fajar yang menjadi batas waktu yang dijanjikan, sudah menyingsing. Keadaan itu disusul dengan ramainya kokok ayam jantan. Burung-burung berkicau bersahut-sahutan menyambut pagi.

Menyadari usahanya telah gagal, Sangkuriang kemudian menendang perahunya yang belum rampung sehingga terbalik. Dan, setelah sadar bahwa dirinya telah tertipu, ia mengejar-ngejar Dayang Sumbi. Wanita bernasib malang itu menyelamatkan diri dengan melompat ke atas lunas perahu yang terbalik sehingga menciptakan lubang yang besar menembus perut bumi.

Kelak dikemudian hari, perahu yang terbalik itu berubah menjadi Gunung Tangkubanperahu. Di bagian tengahnya terdapat kawah Ratu, tempat di mana Dayang Sumbi melompat dan kemudian hilang ditelan bumi. Karena itu, jika swaktu-waktu kita bernasib mujur tatkala berkunjung ke Gunung Tangkubanperahu, sesekali akan terdengar suara yang berasal dari lepasan tufa panas dari kawahnya. Suaranya yang terdengar mendengus-dengus itu diibaratkan sebagai tangis Dayang Sumbi yang harus menanggung derita sampai akhir hayatnya.

Danau Bandung Purba sebenarnya bukanlah hanya dongeng semata. Secara geologis, fenomena itu bisa dibuktikan dengan berbagai peristiwa alam yang pernah dilalui dalam perjalanan sejarahnya. Dataran Tinggi Bandung yang kini dihuni lebih dari tujuh juta jiwa manusia, pada awalnya merupakan dasar lautan. Dataran tertinggi hanya ada di daerah Pangalengan.

Di sebelah utara, menjulang tinggi gunung api yang dikelilingi laut. Tingginya sekitar 3000 meter. Karena puncaknya selalu diselimuti es, gunung tersebut dinamakan Gunung Sunda, kata yang berasal dari bahasa Sanksakerta. Cuda artinya putih, bersih. Kelak dikemudian hari, sejalan dengan peristiwa geologi yang terjadi, daratan bagian selatan Pulau Jawa makin terdesak ke atas. Sementara pantainya di bagian utama main terdesak sehingga dasar laut di daerah Dataran Tinggi Bandung berubah menjadi daratan.

Bukti fenomena alam tersebut hingga kini masih bisa kita saksikan dengan jelas jika memasuki Bandung dari arah barat, baik melalui Cianjur maupun Purwakarta/Cikampek. Seperti kawasan kars lainnnya, kawasan kars Padalarang yang tersebar di daerah Cipatat dan Tagogapu, pada awalnya berasal dari koloni binatang dan tumbuhan yang hidup dan tumbuh di laut dangkal. Namun, dengan terjadinya pergeseran pantai, koloni binatang dan tumbuhan tersebut kemudian mati lalu membentuk batu gamping. Apa yang bisa kita saksikan sekarang ini sebenarnya merupakan hasil proses geologi setelah batuan tersebut kemudian terangkat ke permukaan.

Gunung Sunda yang terdapat di Dataran Tinggi Bandung merupakan gunu api yang sangat aktif. Gunung api tersebut diperkirakan mengalami beberapa kali letusan dahsyat. Gunung Tangkubanperahu yang menjadi land mark Dataran Tinggi Bandung dan Gunung Burangrang di sebelahnya yang selalu dikait-kaitkan dengan legenda Sangkuriang, sebenarnya merupakan prasasti Gunung Sunda setelah mengalami beberapa kali letusan dahsyat.

Letusan dahsyat itu juga meninggalkan patahan Lembang yang hingga kini bisa kita saksikan jika berkunjung ke daerah bagian utara Bandung.

Peristiwa alam tersebut tidak terhenti sampai di situ. Sebagai gunung api yang hingga kini masih aktif, dalam satu letusannya yang paling dahsyat, Gunung Tangkubanperahu memuntahkan abu dan material vulkanik lainnya. Aliran lava dan awan panas mengalir ke segala penjuru sampai akhirnya menyumbat aliran Sungai Citarum dan sejumlah anak sungainya di daerah yang kini bernama Rajamandala.

Secara perlahan-lahan, sumbatan lava itu akhirnya menciptakan Danau Bandung yang sangat luas. Di kalangan masyarakat Sunda, danau tersebut sering disebut Situ Hyang.

Permukaan air Danau Bandung Purba ketika itu diperkirakan tingginya sekitar 725 meter di atas permukaan laut. Ini berarti, bibir danau tersebut membentang dari Sanghyang Tikoro di Rajamandalam di sebelah barat sampai Cicalengka di sebelah timur, sejauh lebih kurang 50 km.

Sumber: www.kompas.com

Purbakala

Oleh Nurhadi Rangkuti

Purbakala! Sebuah kata yang telah lama akrab di telinga masyarakat kita dibandingkan dengan sinonim yang lain. Masyarakat mengasosiasikan purbakala dengan kehidupan manusia prasejarah, bangunan candi, arca dewa, serta tulisan-tulisan kuno zaman kerajaan-kerajaan Nusantara sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab pelajaran sekolah.

Kata “purbakala” sering kali pula dikonotasikan sebagai segala sesuatu dari masa silam yang lama terkubur dalam-dalam sehingga menganga jarak terdekat dinding pemisah dengan kekinian. Namun, tak dapat disangkal, kepurbakalaan mengepung alam pikiran kita sekarang lewat memori-memori kolektif yang panjang. Memori-memori itu mendapatkan jejaknya dalam bentuk benda dan situs purbakala yang tak terhingga jumlahnya di negeri ini.

Sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu asal-usulnya dan asal mula peradaban bangsanya menyebabkan kepurbakalaan menjadi urusan yang penting di banyak negara. Purbakalawan diperlukan untuk menggali informasi budaya masa lalu dan memberinya makna dalam konteks kebangsaan. Bukan itu saja, mereka juga bertanggung jawab terhadap kelestarian obyek purbakala. Para purbakalawan Indonesia yang mengemban tugas mulia itu bekerja dengan berbagai keterbatasan: alat, dana, tenaga, dan penghargaan.

Masyarakat Purbakalawan
Siapa masyarakat purbakalawan Indonesia? Jawabnya bergantung dari mana melihat dimensi kepurbakalaan: substansi atau instrumen. Dari segi substansi, kepurbakalaan adalam milik semua untuk semua. Bukankah alam pikiran sebagaian besar masyarakat kita masih menyimpan memori arkeologi yang panjang?

Jelaslah, kepurbakalaan bukanlah semata-mata urusan dan tanggung jawab ahli arkeologi dan pemerintah. Oleh karena itu, yang menjadi anggota masyarakat purbakalawan Indonesia-selain ahli arkeologi adalah semua pemerhati kepurbakalaan yang memiliki kepedualian yang memadai terhadap kepurbakalaan di Indonesia.

Kepedulian itu diwujudkan dengan tindakan nyata. Seorang wartawan sering menulis masalah-masalah kepurbakalaan, misalnya, patut menjadi anggota masyarakat purbakalawan. Demikian pula individu-individu dari berbagai latar belakang pendidikan yang menaruh kepedulian terhadap kelestarian benda cagar budaya, mengembangkannya, serta memberi makna dalam konteks kekinian, merekalah tulang punggung masyarakat purbakalawan.

Masyarakat purbakalawan mencakup berbagai komunitas dan organisasi. Banyak sekali organisasi yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kepurbakalaan atau berbagai disiplin ilmu yang memperlakukan benda cagar budaya sebagai obyek formal maupun obyek materialnya. Komunitas dan organisasi tersebut dapat berupa ikatan profesi, misalnya, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) dan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI); dapat berupa institusi pemerintah, lembaga adat, organisasi nonpemerintah (NGO) yang bergerak di bidang pelestarian budaya (heritage society), yang semakin menjamur dewasa ini.

Ke Mana Kita Melangkah?
Masa lalu itu pasti, masa depan adalah pilihan. Artinya, masyarakat purbakalawan dihadapkan oleh sejumlah pilihan untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik, berdasarkan pengetahuan dan informasi tentang nilai-nilai kultural benda cagar budaya.

Dari sejumlah pilihan, sedikitnya ada dua opsi yang mengkristal dalam dunia kepurbakalaan Indonesia saat ini. Opsi yang pertama adalah kepurbakalaan untuk pembangunan jati diri bangsa, sedangkan kepurbakalaan sebagai sumber daya ekonomi menjadi opsi yang kedua.

Edu Sedyawati dalam makalahnya, “Arkeologi dan Jati Diri Bangsa” (1992), menyatakan bahwa unsur penting dari jati diri adalah kesadaran sejarah yang dimiliki bersama oleh suatu bangsa. Jati diri bangsa dapat dijelaskan sebagai akumulasi gagasan-gagasan dan nilai-nilai yang telah terbentuk sepanjang masa. Ia mengingatkan, jati diri penting. Apabila identitas itu rusak, apalagi hilang, suatu bangsa akan menderita trauma yang dalam. Jati diri bangsa dapat dikaji dari nilai-nilai kultural benda dan situs purbakala.

Opsi kedua, kepurbakalaan sebagai sumber daya ekonomi dapat dilihat langsung di lapangan. Banyak situs purbakala yang menjadi obyek wisata. Sumber daya arkeologi itu idealnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat luas. Contoh yang paling jelas adalah pariwisata berbasis masyarakat. Selain menghasilkan devisa bagi negara, juga keuntungan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya.

Sayangnya, sumber daya arkeologi cenderung melampaui batas, sebagaimana sumber daya ekonomi lainnya. Mungkin mereka “lupa” bahwa benda dan situs purbakala merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbarui (nonrenewable resources).

Faktor ekonomi pula yang menyebabkan terjadinya “pencemaran purbakala”. Lihat saja berita-berita pencurian benda-benda purbakala yang semakin marak dan sindikatnya yang sulit diberantas. Demi pertumbuhan ekonomi, terjadilah penggusuran situs-situs purbakala dan terus berlangsung sampai hari ini. Dengan geram tercetus ungkapan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara digulirkannya UU tentang Benda Cagar Budaya pada tahun 1992 dengan menurunnya frekuensi pencemaran tersebut sampai sekarang.

Berkenaan dengan dua opsi tadi, ada fenomena yang menarik ketika diselenggarakan diskusi kecil dengan tema “Upaya Pelestarian dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya” pada bulan Februari lalu di Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada. Dengan dipandu oleh Dr. PM Laksono, ahli antropologi, disebar angkat kepada peserta tentang pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya.

Sebagian besar peserta setuju benda cagar budaya memiliki nilai-nilai budaya dan makna simbolis yang dapat dikembangkan untuk pembangunan jati diri. Namun, terjadi ambiguitas dalam pemanfaatannya. Sebagian besar peserta berpendapat, benda cagar budaya merupakan sumber daya yang perlu dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan ekonomi, terutama pariwisata.

Diskusi itu menghasilkan rekomendasi yang patut dicermati. Rekomendasi sebagai berikut, “Kita sering potong kompas untuk mentransformasikan benda cagar budaya yang bernilai kultural tinggi menjadi sumber daya ekonomi tanpa mengindahkan hukum dan kaidah teknis. Untuk itu diperlukan usaha-usaha yang lebih arif untuk mengembangkan instrumen hukum dan instrumen teknis. Ini terjadi karena masih diperlukan pengembangkan lebih lanjut nilai-nilai kultural agar bisa mendorong/memfasilitasi pengembangan hukum dan teknis”.

“Positioning”
Menurut hemat penulis, masyarakat purbakalawan hendaknya menempatkan posisinya sebagai penggerak pembangunan jati diri bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenali jati dirinya. Bangsa yang tidak terombang-ambing oleh hantu yang bernama globalisasi. Hantu yang menyihir dunia jadi mengecil dan perbedaan lokal semakin menipis dan larut dalam tatanan sosial yang homogen dan massal. Dunia pun menjadi kesatuan tunggal yang saling bergantung (Martin Mowforth dan Ian Maunt, 2000).

Jalan yang ditempuh memang sepi dan berkelok-kelok, oleh karena masih minimnya perangkat metodologi, instrumen hkum, dan kaidah teknis sebagai bekal di perjalanan. Walaupun demikian, sekali memilih jalan, tempuhlah sampai tujuan. Ciptakan aksi-aksi yang membumi dalam proses mencerdaskan bangsa. Taruhlah seperti mengenalkan dan mendidik anak-anak kita akan kepurbakalaan yang ada di sekitar sebagai bagian dari lingkungan budaya mereka.

Sumber: www.kompas.com

Popular Posts

-