Relief Gajah Wiku dari Candi Planggatan

Oleh Agustijanto I

Masyarakat umum yang ingin berwisata budaya di sekitar lereng barat Gunung Lawu, dapat dipastikan tujuan mereka akan ke Candi Sukuh atau Candi Ceto. Padahal di lereng gunung tersebut masih ada dua candi lagi yakni Candi Menggung dan Planggatan. Tampaknya Candi Menggung atau Planggatan tidak begitu populer dibandingkan dengan Candi Ceto atau Candi Sukuh. Hal tersebut tampaknya perlu dimaklumi mengingat kedua candi terakhir ini kondisinya tidak selengkap Candi Sukuh atau Ceto. Candi Planggatan misalnya, candi yang berjarak sekitar 3 km arah selatan Candi Sukuh dan kini berada di tengah areal permukiman penduduk yang secara administrasi berada di Desa Tambak, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar ini hanya tinggal reruntuhan saja. Artinya jika kita mencoba membandingkan aspek arsitektur candi tersebut dengan Candi Ceto atau Sukuh jelas suatu hal yang sia-sia saja. Yang tersisa dari Candi Planggatan yang dibangun pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut kini hanyalah sisa-sisa candi berupa sekumpulan batu andesit tersusun berderet membentuk denah berukuran 30 x 30 meter sedangkan bagian tengahnya berupa gundukan tanah setinggi satu meter saja. Dari tinggalan beberapa batu candi yang tersisa ini ada yang mempunyai relief.

Relief yang dipahatkan pada sebuah batu sebagai bagian dari sebuah candi biasanya berfungsi sebagai penghias candi belaka atau dapat pula memuat cerita yang sesuai dengan sifat keagamaan candi tersebut.

Tampaknya relief-relief yang tersisa di candi ini dahulunya merupakan rangkaian sebuah cerita tetapi mengingat jumlahnya yang terbatas (6 buah) tampaknya cerita yang ingin disampaikan dalam relief tersebut sukar untuk diketahui kembali.

Relief-relief tersebut antara lain relief seorang tokoh laki-laki yang merangkul pinggang tokoh lain (wanita) di bagian muka dan di bagian belakang tokoh terdapat tiga orang pengiring; relief seorang tokoh menunggang kuda sedang di bagian belakang tokoh tersebut ada dua orang pengiring membawa tombak dan pada bagian depan terdapat tiga orang bertubuh pendek; relief rumah panggung dan dua rumah berbentuk pendapa yang di bagian sampingnya terdapat seorang pengawal membawa tombak mengiring seorang tokoh menunggang kuda; relief beberapa orang membawa senjata; relief seorang tokoh menunggang kuda diiringi oleh beberapa wanita dan tiga punakawan.

Dari sejumlah relief yang tersisa ini ada satu relief yang cukup menarik dan menjadi petunjuk kuat mengenai pertanggalan candi tersebut. Relief itu adalah relief seekor gajah yang digambarkan secara antropomorfis (setengah hewan-setengah manusia) dalam posisi berdiri dengan belalai ke bawah dan di bagian mulutnya terdapat gambar bulan sabit, seolah-olah gajah tersebut tengah memakan buah sabit. Gajah digambarkan memakai sorban seperti seorang wiku/pendeta. Pada bagian pinggang memakai ikat pinggang yang dibuat dari lipatan kain dan pada bagian pinggang sampai lutut tertutup kain pula. Relief ini merupakan sebuah sengkalan memet yang jika dibaca berbunyi "Gajah wiku mangan wulan" yang jika diartikan menjadi sebuah angka tahun 1378 caka atau sama dengan 1456 Masehi. Penggambaran Gajah Wiku ini sama dengan relief yang ditemukan di Candi Sukuh merupakan bagian dari relief pande besi, hanya saja relief Gajah Wiku di Candi Sukuh digambarkan tengah memakan buntut. Namun nilai sengkalan memetnya mempunyai arti yang sama yakni 1378 caka. Artinya pembangunan kedua candi ini (Planggatan dan Sukuh) mempunyai kurun waktu yang sama.

Pada bagian kanan relief Gajah Wiku ini terdapat pahatan prasasti sebanyak empat baris. Bentuk pahatan huruf prasasti ini juga sama dengan prasasti batu yang ditemukan di Candi Ceto dan Sukuh. Hasil pembacaan Riboet Darmosoetopo, seorang dosen arkeologi Fakultas Sastra UGM, Yogyakarta menyebutkan:

"padamel ira ra
ma balanggadawang
barnghyang punu
n dah nrawang"

Terjemahannya adalah: "Pembuatannya rama Balanggadawang bersamaan dengan Hyang Panunduh Nrawang"

Selain relief di candi ini juga ditemukan sebuah yoni yang mempunyai tinggi 39 cm, lebar permukaan dan dasar 32 cm dengan panjang cerat 15 cm. Dengan temuan yoni ini maka dapat dipastikan bahwa sifat keagamaan Candi Planggatan adalah Hinduistik. Artinya baik Candi Planggatan, Sukuh dan Ceto juga ditemukan lingga-yoni, ketiga candi ini mempunyai sifat keagamaan yang sama yakni Hinduistik.

Agustijanto I (Pusat Penelitian Arkeologi/Proyek Pemanfaatan Kebudayaan)

Sumber: www.hupelita.com
Dilihat: