Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah
Showing posts with label Seni Pertunjukan. Show all posts
Showing posts with label Seni Pertunjukan. Show all posts

Odong-odong Karawang

Odong-odong adalah salah satu kesenian khas masyarakat Sunda di Kabupaten Karawang yang menampilkan 2-4 boneka singa, naga, dan atau burung garuda diusung oleh para pemainnya sambil menari. Di atas boneka biasanya duduk seorang anak yang akan dikhitan atau seorang tokoh masyarakat.

Pertunjukan odong-odong umumnya dilakukan oleh laki-laki dewasa yang tergabung dalam sebuah kelompok terdiri atas: 8 orang penggotong boneka (1 boneka digotong oleh 4 orang), seorang pemimpin kelompok, beberapa orang pemain waditra, dan satu atau dua orang jajangkungan (pemain yang menggunakan kayu sepanjang 3-4 meter untuk berjalan). Para pemain adalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, baik dalam menari maupun memainkan waditra. Keterampilan khusus itu perlu dimiliki oleh setiap pemain karena dalam sebuah pertunjukan sisingaan yang bersifat kolektif diperlukan suatu tim yang solid agar semua gerak tari yang dimainkan sambil menggotong boneka singa dapat selaras dengan musik yang dimainkan oleh para nayaga.

Untuk peralatan dan perlengkapan pendukung pertunjukan biasanya digunakan: (1) dua atau empat buah usungan boneka singa/naga/rajawali. Rangka dan kepala usungan boneka-boneka tersebut terbuat dari kayu dan bambu yang dibungkus dengan kain serta diberi tempat duduk di atas punggungnya. Sedangkan, untuk bulu-bulu yang ada di kepala maupun ekor dibuat dari benang rafia; (2) seperangkat waditra yang terdiri dari: dua buah kendang besar (kendang indung dan kendang anak), sebuah terompet, tiga buah ketuk (bonang), sebuah kentrung (kulanter), sebuah gong kecil, dan sebuah kecrek; dan (3) busana pemain yang terdiri dari: celana kampret/pangsi, iket barangbang semplak, baju taqwa dan alas kaki tarumpah atau salompak.

Sedangkan pertunjukannya sendiri diawali dengan kata-kata sambutan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. Setelah pemimpin kelompok memberikan kata sambutan, barulah anak yang akan dikhitan atau tokoh masyarakat yang akan diarak dipersilahkan untuk menaiki boneka. Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan lagu-lagu berirama dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan. Kemudian, sejumlah 8 orang pemain akan mulai menggotong dua buah boneka singa dan atau burung garuda (satu boneka digotong oleh 4 orang).

Setelah para penggotong boneka siap, sang pemimpin akan memberikan aba-aba agar mereka mulai melakukan gerakan-gerakan tarian secara serempak dan bersamaan. Para penggotong boneka segera melakukan gerakan-gerakan akrobatis yang cukup mendebarkan. Gerakan-gerakan tarian yang biasa dimainkan oleh para penggotong boneka tersebut adalah: igeul ngayun glempang, pasang/kuda-kuda, mincid, padungdung, gugulingan, bangkaret, masang, sepakan dua, langkah mundur, kael, ewag, jeblang, depok, solor, sesenggehan, genying, putar taktak, nanggeuy singa, angkat jungjung, ngolecer, lambang, pasagi tilu, melek cau, nincak rancatan, dan kakapalan.

Sedangkan, lagu-lagu yang dimainkan oleh juru kawih untuk mengiringi tarian biasanya diambil dari kesenian Ketuk Tilu, Doger, dan Kliningan, seperti: Keringan, Kidung, Titipatipa, Gondang, Kasreng, Gurudugan, Mapay Roko, Kembang gadung, Kangsring, Kembang Beureum, Buah Kawung, Gondang, Tenggong Petit, Sesenggehan, Badudud, Tunggul Kawing, Samping Butut, Sireum Beureum, dan lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet Rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dan lain sebagainya).

Pertunjukan odong-odong dilakukan sambil mengelilingi kampung atau desa, hingga akhirnya kembali lagi ke tempat semula. Dan, dengan sampainya para penari di tempat semula, maka pertunjukan pun berakhir.

Kesenian odong-odong perlu dilestarikan karena di dalamnya tidak hanya mengandung nilai estetika sebagai ekspresi jiwa semata, melainkan juga nilai-nilai lain yang apabila dicermati dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, ketertiban, dam ketekunan. Nilai kerja sama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan gerakan-gerakan tarian.

Wayang Golek Cepak

Wayang golek cepak masuk dalam terminologi wayang golek pada umumnya. Yang membedakannya hanyalah hiasan kepala wayang yang papak/cepak (tidak runcing). Selain itu, cerita yang ditampulkannya bukanlah Ramayana atau Mahabarata, melainkan babad-babad Cirebon yang bernafaskan Islam, seperti: Sutajaya Kuncung, Sutajaya Kebon, Sutajaya Kalam, Sutajaya Kentol, dan Sutajaya Telon, Blambangan, Cakra Buana. Wali Sanga dengan menampilkan tokoh Nyi Mas Gandasari, Wiralodra, Ki Tinggil, Panji Semirang, Kuwu Sangkan, Bagal Buntung, dan lain sebagainya.

Adapun pertunjukannya diawali dengan pembukaan berupa instrumen lagu-lagu bayoman, kajengan, rungu-rungu, balo-balo. Kemudian disusul jejer/kaboran yang berbentuk keraton, petapan. Lalu dilanjutkan dengan Murwa, Catur (isi cerita), paseban (musyawarah), Perang, dan penutup (tutug).

Pertunjukannya sendiri diiringi oleh seperangkat waditra yang terdiri atas: demung, bonang, gambang, kemyang, saron, kendang, beri (simbal), kenong-jengglong, suling, titil, kebluk, kemanak, klenang, kiwul-gong, sabet-gong, bedug, dan kecrek atau keprak.

Barzanji

Al Barzanj adalah nama seorang Bangsa Kurdi penulis prosa dan puisi yang terkenal pada zamannya. Konon, nama kesenian yang berkembang di Kepulauan Riau ini berasal dari nama tersebut. Jadi dari kata “Barzanj” berubah bunyi menjadi “Barzanji”. Prosa dan puisi yang dihasilkan isinya menceritakan tentang riwayat kebesaran Nabi Muhammad S.A.W. Dahulu, karya seorang yang nama lengkapnya adalah Jafar Al Barzanj ini, dibacakan khusus untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Karya-karya tersebut kemudian dijadikan pegangan utama dalam upacara peringatan tersebut.

Di Kepulauan Riau, persebarannya meliputi daerah Tanjung Batu-Kundur dan Tanjungpinang. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Sedangkan, jumlah pemain dan durasi pementasan fleksibel (menyesuaikan). Waktu pementasan tidak terbatas pada peringatan Maulud Nabi saja, tetapi juga hari-hari besar Islam lainnya, serta upacara perkawinan, dan pesta-pesta dalam upacara tradisional (upacara di lingkaran hidup individu). Sedangkan, kostum yang dikenakan berupa baju kurung (baju Melayu).

Gobang

Gobang adalah kesenian khas Orang Laut di Kepulauan Riau, salah satu komunitas adat yang dikategorikan sebagai terasing. Kesenian yang berkembang sekitar di awal abad ke-20 ini ditumbuhkembangkan oleh mereka, terutama kelompok yang berada di daerah Jemaja (daerah Pulau Tujuh). Para penarinya terdiri atas Laki-laki dan perempuan. Sembari menari mereka menyanyikan lagu yang diiringi oleh alat musik seruni, kompang, dan gong.

Gobang tidak hanya tersebar di Pulau Tujuh (Jemaja dan Siantan) saja, tetapi juga Lingga dan Singkep. Dengan perkataan lain, di mana ada Orang Laut disitu ada Gobang atau nama lainnya adalah Gumbang atau To Pengka. Disebut demikian, terutama sebutan yang terakhir (to pengka) karena tidak lepas dari berbagai macam topeng sebagai propertinya (topeng binatang, topeng perempuan, dan topeng laki-laki). Bahasa yang digunakan bahasa Melayu-Riau Kepulauan dengan durasi pementasan mulai dari pukul 20.00 sampai menjelang fajar menyingsing. Lagu-lagu yang dinyanyikan antara lain: Abang Dinding Limau, Anak Malang, Abang Tamelan, dan Ganjo.

Gazal

Salah satu jenis kesenian orang Melayu-Kepulauan Riau ini konon berasal dari Timur Tengah. Gazal adalah bahasa Arab yang berarti sajak. Kesenian gazal masuk ke Kepualan Riau dan tumbuh subur di Penyengat melalui Malaysia, tepatnya dari Muar lalu Johor.

Gazal pada dasarnya adalah sebuah kesenian yang merupakan alat dakwah dalam penyebaran agama Islam. Namun, sekarang lebih banyak berfungsi sebagai hiburan. Iramanya khas, nadanya lembut dan mendayu-dayu. Di Kepulauan Riau sendiri penyebarannya, disamping di Penyengat juga di Tanjungbalai Karimun. Lagu-lagu yang dinyanyikan meliputi: Bulan Mengambang, Pak Ngah Balik, Sayang Muslina, Damak, Laksemana Mati Dibunuh, Sri Mahligai, Musalmah Manis, Malam Merindu, Nasib Panjang, dan Siti Payung. Adapun peralatan musik yang digunakan adalah harmonika, gitar, biola, marakah, gendang, tabla, dan gong.

Jumlah pemain dan durasi pementasannya menyesuaikan. Sedangkan, waktu pementasan seringkali pada saat diadakan upacara di lingkaran hidup individu (perkawinan dan khitanan), atau dalam rangka memeriahkan hari-hari besar agama Islam dan hari-hari besar nasional, khususnya hari ulang tahun kemerdekaan.

Bardah

Bardah adalah kesenian yang termasuk dalam jenis pembacaan syair. Kesenian ini diiringi oleh musik yang terdiri atas kompang dan rebana. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Arab yang kadang dicampur dengan bahasa Melayu-Riau Kepulauan. Durasi pementasannya menyesuaikan.

Kesenian yang persebarannya meliputi daerah: Siantan, Bunguran Barat, dan Tanjungbatu-Kundur ini, biasanya dipentaskan pada peringatan hari-hari besar agama Islam, penyambutan tamu, dan upacara di lingkaran hidup individu. Sedangkan, kostum yang dikenakan adalah baju kurung Melayu. Dewasa ini bardah jarang tampil dalam berbagai kesempatan (kalau tidak dapat dikatakan menjelang ajal).

Hadrah Kompang

Di daerah Kepulau Riau kesenian ini terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama menirukan kelompok kedua (lihat Kompang). Hardah Kompang dipentaskan setelah acara Barzanji. Nama lain dari kesenian ini adalah Radat Hadrah atau rebana. Lagu-lagu yang dilantunkan berupa Shalawat Nabi Muhammad dan syair Barzanji. Sedangkan, persebarannya meliputi: Daik-Lingga, Bunguran Timur, Serasan, Bunguran Barat, Tanjungbalai Karimun, Tambelan, Tanjungbatu-Kundur, dan Dabo Singkep.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu-Riau Kepulauan dan bahasa Arab. Jumlah pemainnya paling sedikit 6 orang, kadang sampai 20 orang. Durasi pementasan sekitar satu jam pada peringatan hari-hari besar Islam (Maulud Nabi Muhammad S.A.W) dan upacara-upacara di lingkaran hidup individu (perkawinan atau khitanan). Sedangkan, peralatan pengiringnya adalah rebana kerincing, keracah (krincingan), dan kompang. Kemudian, kostum yang digunakan adalah baju kurung Melayu.

Gurindam Dua Belas

Kata Gurindam Dua Belas tidak asing lagi bagi telinga masyarakat di berbagai pelosok tanah air, khususnya yang pernah duduk di bangku sekolah karena sering diucapkan oleh guru pengajar bahasa Indonesia. Gema dari Gurindam bahkan menerobos lintas negara, dari yang paling dekat (tetangga) sampai yang paling jauh. Ini artinya, bahwa orang Melayu telah dapat menghasilkan karya besar dalam susastra. Karya ini berisikan petuah atau nasihat-nasihat, baik untuk para remaja, orang yang sudah berumah tangga, maupun para pejabat. Petuah-petuah itu, sesuai dengan roh Melayu yang tidak lepas dari ajaran agama Islam.

Pada masa lalu gurindam dua belas hanya merupakan pembacaan Gurindam yang dilagukan semata (irama syair yang dipadukan dengan irama nandung). Akan tetapi, sekarang sering diiringi oleh musik. Pelantunnya bisa hanya perempuan, bisa laki-laki, atau perempuan dan laki-laki.

Kesenian yang termasuk jenis pembacaan syair dan diiringi musik ini dapat dikatakan hanya tersebar di Penyengat. Suatu pulau yang merupakan tanah kelahiran sang pengarang sekaligus pujangga istana yaitu Raja Ali Haji. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu-Kepulauan Riau yang huruf “er”-nya tidak terlalu jelas. Sedangkan, kostum yang dikenakan, baik laki-laki maupun perempuan adalah baju kurung Melayu. Untuk laki-laki sering menggunakan baju kurung teluk belanga. Sedangkan peralatan pengiringnya terdiri atas seruni, kompang, dan gong. Waktu pementasan biasanya pada saat acara penyambutan tamu, hari-hari besar nasional, dan festival-festival kebudayaan dan atau kesenian.

Wayang Cecak

Wayang cecak merupakan sebuah kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah Kepulauan Riau. Konon, kesenian ini bermula dari kalangan orang Tionghoa yang bermukim di Tanjungpinang dan Daik-Lingga. Namun dalam perkembangannya orang-orang Tionghoa itu sendiri hampir tidak mengenalnya lagi. Justru kalangan orang Melayulah yang menyerap dan menumbuhkembangkannya.

Henri Chamber-Loir, yang dikutip oleh Raja Hamzah Yunus (1994) mengatakan bahwa Wayang Cecak merupakan bentuk drama yang dimainkan oleh perempuan dewasa. Berdasarkan apa dipertunjukkan, kesenian ini dapat dikatakan sebagai teater boneka yang dimainkan dengan dua jari telunjuk. Wayangnya, yang notabene adalah bonekanya itu sendiri, dibuat dari kain perca dengan tinggi kira-kira sejengkal (tidak lebih besar dari cecak). Oleh karena itu, permainan ini disebut sebagai Wayang Cecak. Adapun cerita yang sering dipentaskan berkisar tentang cinta yang berakhir dengan duka (tokohnya selalu menemui ajal). Judul ceritanya antara lain Siti Zubaidah dan Selendang Delima.

Di masa kini, dapat dikatakan, hanya seorang bernama Khadijah Terung yang mengetahui banyak (menguasai) tentang wayang cecak. Dia tinggal di sebuah desa di Pulau Penyengat, sebuah pulau yang tidak lepas dari kesejarahan Melayu, karena pernah menjadi salah satu pusat Kerajaan Melayu Riau-Lingga dengan peninggalan-peninggalannyanya yang masih dapat dijumpai sampai hari ini, seperti masjid sultan yang kemudian disebut sebagai Masjid Penyengat dan Makam Engku Puteri.

Kompang

Kompang asalah salah satu jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Melayu di Kepulauan Riau. Kesenian yang menyerupai hadrah ini dibawakan oleh paling sedikit 5 orang laki-laki dan perempuan. Mereka melantunkan syair baezanji berbahasa Arab-Parsi berisi puji-pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Allah) dalam iringan rebana. Kompang dipentaskan dalam rangka memeriahkan sebuah pesta perkawinan (pada saat pengantin diarak), pada acara khitanan atau menyambut tamu.

Durasi pementasannya menyesuaikan waktu dan acara yang dimeriahkannya. Untuk acara khitanan misalnya, biasanya pementasan baru dimulai sekitar pukul 22.00 WIB sampai menjelang subuh. Alat musiknya semacam rebana atau hadrah tetapi dalam ukuran agak lebih besar. Alat tersebut bernama Kompang. Kostum yang dikenakan adalah baju kurung Melayu. Adapun persebarannya di Kepulauan Riau meliputi daerah Sekop Darat Singkep, Tanjungpinang, Tanjunguban, Sebung, Kampun Bugis, Tanjungbalai Karimun, Tanjungbatu Kundur, dan Daik-Lingga.

Kesenian Berokan

Berokan adalah sebuah kesenian khas masyarakat Sunda, khususnya yang berada di daerah Karawang. Kesenian ini mulai dikembangkan serta dikenal oleh masyarakat sekitar tahun 1925. Penciptanya adalah seorang seniman bernama Kesol. Waktu itu kesenian berokan tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan saja, melainkan juga sebagai media penangkal gangguan makhluk gaib.

Kesenian ini konon diadopsi dari kisah cucu Raden Arjuna, yaitu Raden Parikesit sewaktu memerintah Kerajaan Astinapura. Adapun kisahnya sebagai berikut.

Ketika Raden Parikesit memerintah, kerajaannya diserang oleh Gedeng Permoni dari Setra Gandamayit. Penyerangan didasari oleh rasa dendam Gedeng Permoni karena cintanya tidak dibalas Raden Arjuna, kakek Raden Parikesit. Penduduk Kerajaan Astinapura menjadi geger, termasuk ketiga anak Raden Parikesit (Kusa Sengsaya, Kuda Jaka, dan Kuda Wisesa).

Kuda Wisesa yang ketakutan memilih pergi menuju ke suatu tempat terpencil jauh dari Kerajaan Astinapura. Dalam perjalanannya dia tiba di sebuah perkebunan yang dijaga oleh sepasang suami-isteri tua renta. Singkat cerita, karena merasa cocok akhirnya Kuda Wisesa memilih tinggal bersama si kakek dan nenek penjaga kebun.

Untuk mengisi waktu, selama tinggal bersama kakek dan nenek penjaga kebun, Kuda Wisesa menyalurkan bakat dengan melukis. Ternyata, hasil-hasil lukisannya dapat dikatakan nyaris sempurna seperti bentuk aslinya sehingga mengundang perhatian warga disekitar perkebunan.

Keindahan lukisan Kuda Wisesa rupanya terdengar pula oleh raja yang berkuasa di daerah tersebut. Sang raja kemudian mengirimkan utusan menemui Kuda Wisesa untuk memintanya melukis kerajaan beserta seluruh isinya. Kuda Wisesa dapat memenuhi permintaan sang raja dengan hasil lukisan yang sangat detil.

Masih penasaran dengan hasil karya Kuda Wisesa yang tidak mungkin dapat dibuat oleh orang biasa, Sang raja lalu menyuruh melukis laut beserta seluruh isinya. Lukisan laut berhasil dibuat oleh Kuda Wisesa. Hanya saja, ada satu binatang laut yang hanya terlukis kepalanya saja, sedangkan anggota badannya sama sekali tidak dapat diterawang. Binatang itu sebenarnya adalah binatang sakti yang disebut sebagai Hyang Baruna. Hanya orang-orang tertentu saja dapat menyaksikan wujud utuh dari Hyang Baruna.

Untuk mengatasi kebingungan Kuda Wisesa, sang Kakek penjaga kebun menyarankan agar menempelkan kulit kambing dan waring sebagai badan Hyang Baruna serta sebatang tongkat sebagai ekornya. Akhirnya lukisan pun jadi. Dan setelah diserahkan kepada Raja, Sang pelukis kemudian diberi julukan Sungging Perbangkara, sedangkan binatang Hyang Baruna dinamakan Berokan yang berasal dari kata Berok (bahasa Jawa).

Dalam pementasan berokan, binatang berok digambarkan memiliki wujud sangat mengerikan namun suaranya kecil “empet”. Sedangkan orang yang memainkannya haruslah mempunyai keahlian khusus serta mampu mengobati orang sakit atau mengusir dan menangkal serangan makhluk halus.

Nilai Budaya
Kesenian Berokan perlu dilestarikan karena di dalamnya tidak hanya mengandung nilai estetika sebagai ekspresi jiwa semata, melainkan juga nilai-nilai lain yang apabila dicermati dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, ketertiban, dam ketekunan. Nilai kerja sama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. Nilai kerja keras dan ketekunan tercermin dari penguasaan dalam mementaskan binatang berok.

PMJ, Pelestari Bajidoran Karawang

Bajidoran merupakan salah satu jenis kesenian yang hingga saat ini masih tetap eksis di kalangan masyarakat pedesaan Jawa Barat. Ada beberapa versi mengenai asal usul kesenian ini. Menurut karawangtoday.com, bajidoran (diperkirakan akronim banjet/tarian, tanji/alat musik, dan bodor/lawakan) adalah transformasi dari tari ketuk tilu. Di daerah Priangan, bajidoran sering juga disebut sebagai kliningan-bajidoran atau kliningan-jaipongan. Sedangkan versi lainnya dari Aprilianti (2013), menyatakan bahwa bajidoran adalah istilah orang Karawang bagi jaipongan tanpa pola. Dalam artian, para penari tidak memiliki skill khusus dalam menari dan hanya mengikuti iringan musik sambil mengharapkan saweran.

Ada banyak grup bajidoran yang ada di Jawa Barat. Salah satunya adalah Gurp PMJ asal Desa Ciranggon, Kabupaten Karawang. PMJ merupakan akronim dari Putra Mandiri Jaya yang didirikan oleh Ujang Lanay pada sekitar tahun 1995. Anggotanya terdiri dari 3 orang sinden (salah satunya isteri Ujang Lanay bernama Hj. Euis Megawati), 13-17 orang nayaga, seorang Master Ceremony, 14 orang penari, serta beberapa orang pengatur peralatan dan perlengkapan panggung. Asal pemain tidak hanya dari Karawang saja, melainkan dari daerah-daerah lain di sekitar Pantai Utara Jawa Barat yang memiliki tradisi bajidoran, seperti Bekasi dan Subang.

Komposisi jumlah pemain dalam grup PMJ dari awal pendirian hingga saat ini relatif tidak berubah. Apabila ada yang keluar karena alasan tertentu, maka posisinya akan segera digantikan oleh pemain baru. Oleh karena nama grup ini cukup terkenal, para pemain tidak ada yang bermain pada grup lain untuk mencari nafkah. Sebab, jadwal manggung sangat padat. Sebelum pandemi Covid-19, untuk satu bulan paling tidak ada sekitar 24 kali jadwal manggung di wilayah Banten, Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, dan Karawang sendiri.

Sekali panggilan manggung, PMJ mematok "harga normal" antara Rp.15-20 juta rupiah. Namun, apabila yang nanggap juga berprofesi sebagai seniman tradisi Sunda, dapat dinego menjadi "harga batur" dengan nominal setengah dari "harga normal". Oleh pemimpin grup, uang tersebut dibagikan pada para pemain sesuai dengan tingkat jabatannya dengan urutan: tukang kendang vokal, tukang rebab, tukang kendang dobel, tukang rincing, tukang saron, tukang bonang, tukang kecrek, dan pemegang peralatan saweran. Para penari dan sinden mendapat bagian sama yang rata-rata hanya sebesar Rp.100 ribu. Sinden dan penari dapat memperoleh tambahan penghasilan dari saweran para bajidor yang hasilnya juga dibagikan dengan komposisi 6 untuk sinden-penari dan 4 untuk para nayaga.

Menurut penuturan salah seorang pemainnya, Charlie (tukang goong), setiap pentas grup PMJ selalu membawa waditra tradisional dan modern. Waditra tradisional berupa goong besar dan kecil, dua set kendang, dua buah kentrung, dua buah saron, penerus, gambang, bonang, kecrek, dan rebab. Sedangkan waditra modern berupa jimbe dan keyboard. Jimbe merupakan alat musik pukul asal Afrika bermembran kulit atau mika. Menurut artculture567.blogspot.co.id, Jimbe tergolong alat musik ritmis karena tidak bernada dan hanya bisa menghasilkan ketukan saja. Pada kesenian bajidoran jimbe dan keyboard hanya dimainkan untuk lagu-lagu tertentu saja yang bersifat instrumentalia.

Seluruh waditra diangkut menggunakan truck berukuran 3/4 bersama dengan genset, sound system, dan peralatan pendukung lainnya. Genset berfungsi sebagai penyedia daya bagi sound system pengeras suara waditra. Jadi, dalam setiap penampilannya, Grup Putra Mandiri Jaya tidak harus menggunakan sumber listrik PLN. Mereka dapat bermain di mana saja karena memiliki sumber listrik sendiri. Selain truck, grup PMJ juga menggunakan sebuah elf serta empat buah minibus untuk mengangkut para penari dan nayaga.

Pertunjukan Bajidoran Grup PMJ
Pertunjukan Bajidoran PMJ dimulai dengan membuat panggung berukuran panjang 6 meter dan lebar 6 meter. Tinggi bagian depan panggung sekitar 1,5 meter, tinggi bagian belakang 2 meter, dan tinggi atap sekitar 5 meter. Pada panggung pementasan dipasang banner di bagian depan bertuliskan "Ujang Lanay Karawang", lampu di bagian atap, sound system (8 buah di kiri, 8 buah di kanan, dan 4 buah di belakang waditra. Susunan waditra dibagi menjadi 3 saft. Saft pertama diisi oleh kendang dobel di sebelah kiri dan kendang vokal di sebelah kanan. Saft kedua diisi oleh jejeran saron, gambang, bonang, dan kecrek. Saft terakhir diisi oleh pemain rebab dan goong.

Tahap selanjutnya penyelarasan waditra (nyetem) serta pensinkronan suara waditra dengan sound system. Tahap ini dilakukan lebih dari setengah jam. Di sela-sela penyeteman, salah seorang pemain yang memiliki keahlian khusus menyiapkan sesajen demi kelancaran pertunjukan. Isi sesajen (bergantung ketersediaan bahan) diantaranya adalah: kemenyan, deugan, kopi manis dan pahit, rurujakan tujuh rupa, kembang tujuh rupa, pisang sesisir, beras, rokok Djarum Super sebatang, Minak Djinggo sebatang, Gudang Garam Merah Sebatang, Dji Sam Soe sebatang, dan cerutu sebatang. Setelah didoakan, sesajen diletakkan di bawah panggung.

Usai nyetem, para nayaga yang mengenakan seragam berwarna putih mulai memperdengarkan lagu-lagu instrumental sebagai pembukaan. Sambil menunggu penonton memenuhi arena, MC mulai membuka acara dengan memperkenalkan grup PMJ, orang yang punya hajat, meminta izin pada aparat desa setempat, dan mempersilakan para aparat memberikan sambutan. Pada segmen ini tetabuhan terus dibunyikan tanpa henti sambil menunggu para sinden dan penari muncul sekitar pukul sembilan malam.

Saat muncul, secara berbaris mereka berjalan menaiki panggung lalu duduk bersimpuh di depan nayaga dengan posisi membentuk setengah lingkaran atau huruf U. Para sinden (berjumlah 3 orang) berada di bagian tengah mengenakan baju berwarna merah, sementara penari mengenakan juga mengenakan baju merah plus karembong hijau berada di samping kiri dan kanan mereka. Seluruhnya mengenakan sanggul/konde besar, kain kebaya, serta tata rias tebal alias menor agar terlihat cantik. Tujuannya adalah untuk memikat para penonton agar menyaksikan acara sampai selesai serta memberikan saweran sebanyak mungkin. Sebagai catatan, dahulu para penari dan sinden grup PMJ mengenakan kostum milik sendiri sehingga penampilan mereka tidak seragam. Namun saat ini kostum disediakan oleh pimpinan grup. Agar penonton tidak bosan, setiap bulan mereka berganti kostum.

Ketika mereka duduk itulah irama musik berubah untuk mengiringi lagu wajib Kembang Gadung. Tidak lama kemudian salah seorang di antaranya maju dan mulai menari. Gerakan tarinya khas jaipongan gaya kaleran yang memperlihatkan spontanitas, kesederhanaan, semangat, keceriaan, genit, erotis dan sensual. Penari memperlihatkan kemolekan tubuhnya, mulai dari lirikan mata, leher, dada, pinggul, hingga bokong yang membangkitkan rangsangan bagi lawan jenis. Khusus untuk bagian pinggul penari melakukan gerakan geol (pinggul berputar), gitek (gerakan pinggul ke kanan dan kekiri diiringi hentakan), dan goyang (gerakan gitek tanpa hentakan). Oleh karena itu, tidak heran ketika penari kedua dan ketiga ikut tampil para penonton laki-laki mulai "menggila" dan merangsek hingga ke depan panggung.

Seakan menyihir para penonton, sinden kemudian menyanyikan lagu ibingan Karawang Tandang serta lagu bajidoran (juragan empang, naik percuma, baju loreng, dan lain sebagainya). Seorang penonton pun mulai muncug (menari) ditengah kerumunan sambil memberikan saweran. Khusus untuk saweran pihak PMJ menyediakan uang pecahan Rp.2-5 ribu sebanyak Rp.5-10 juta guna dipertukarkan. Apabila ada orang yang memberikan saweran sebesar Rp.50-100 ribu, uang tersebut tidak lantas diambil melainkan dikembalikan lagi oleh tukang nyoder dalam bentuk pecahan Rp.2-5 ribu untuk digunakan nyawer. Begitu seterusnya hingga acara berakhir sekitar pukul 02.00 WIB yang ditutup dengan lagu Mitra Sunda.

Wujud Kebudayaan dalam Bajidoran
Koentjaraningrat membagi wujud kebudayaan menjadi tiga yaitu gagasan atau ide yang menciptakan nilai-nilai; perilaku; dan artefak. Namun dalam hal ini wujud ide agak digeser sedikit oleh nilai budaya. Nilai budaya digunakan sebagai pembentuk ide atau gagasan bagi terciptanya suatu bentuk kebudayaan. Dalam analisis tentang bajidoran, nilai budaya yang diketengahkan adalah syukuran. Syukuran merupakan ungkapan seseorang atau kelompok orang atas keberhasilan mencapai sesuatu.

Kegembiraan atas keberhasilan itu oleh seniman diwujudkan dalam bentuk gabungan seni tari, suara, dan musik yang disebut sebagai bajidoran. Setiap gerakan tari dan iringan musik bajidoran menjadi bentuk perilaku pemuas rasa syukur atas keberhasilan yang menyiratkan kegembiraan. Sedangkan wujud fisiknya berupa artefak yang dipergunakan seperti gambang, saron, rebab, goong, tata lampu, dan lain sebagainya.

Tetapi apabila melihat dari tata lampu yang berkedap-kedip, mendengarkan iringan musiknya yang menyerupai dugem, dan gerakan para bajidor yang seperti orang sedang dugem, maka nilai budayanya adalah akulturasi. Oleh karena kondisi kesenian tradisional yang seakan hidup segan mati tak mau, seniman jaipongan yang imajinatif dan kreatif ingin mengembangkan tarian yang bisa diterima oleh kalangan muda. Dugem dari Barat sebagai alternatifnya. Dengan menggabungkan kedua jenis kesenian tersebut, maka terciptalah bajidoran yang fungsinya lebih sebagai hiburan pelepas rutinitas keseharian. Seperti dikatakan di atas, pola perilaku yang tercipta adalah gabungan dari dua budaya (Sunda dan Barat), sementara artefaknya juga gabungan dari yang tradisional (kendang, saron, gambang) dan modern (jimbe, keyboard, tata lampu). (Gufron)

Sumber:
"Bajidoran Kesenian Khas Karawang Makin Terkikis", diakses dari http://karawangtoday.com/wp/?p=1596, tanggal 24 Desember 2016.

"Jimbe", diakses dari http://artculture567.blogspot.co.id/2016/03/jimbe.html, tanggal 24 Desember 2016.

Aprilianti, Victoriana Aire. 2013. Perkembangan Kesenian Bajidoran di Kabupaten Karawang Tahun 1980-1990. Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia.

Salabadan

Salabadan adalah salah satu seni pertunjukkan yang ada di kalangan masyarakat Madura. Sebagai sebuah seni pertunjukkan, salabadan mempertunjukkan cerita-cerita atau lakon-lakon tentang kehidupan keseharian, khususnya yang berkenaan dengan kehidupan di zaman pemerintahan Kolonial Belanda. Satu lakon yang sering ditampilkan dalam berbagai pementasan adalah tentang orang-orang Madura yang pro kepada Belanda (menjadi antek-antek Belanda). Selain itu, juga lakon-lakon lainnya yang kontra terhadap Belanda. Tokoh-tokoh yang kontra terhadap Belanda ini antara lain: Bun Segundal, Bun Lopis, Semprong, dan Brudin. Mereka dengan gayanya yang khas (melalui lawakan) mengkritik kebijakan pemerintah Kolonial Belanda. Tokoh lainnya adalah seseorang yang berperan sebagai orang dungu, bodoh, dan misikin. Tokoh ini sebenarnya merupakan perwujudan kritik atas pemerintah Belanda yang sengaja membuat kebodohan dan kemiskinan masyarakat yang dijajahnya.

Sesuai dengan kehidupan keseharian masyarakat pedesaan, maka kostum (pakaian) yang digunakan oleh para pemainnya adalah pakaian sehari-hari. Pementasan salabadan diiringi oleh serangkat alat musik berupa sronen dan kennong tello. Sebagaimana seni pertunjukkan lainnya, pementasan salabadran juga dimulai menjelang malam sampai menjelang pagi. Dan, sebelum acara inti dilakukan biasanya pertunjukkan atau pergelaran salabadran diawali dengan kajuwan (tayub ala Madura). Dewasa ini seni pertunjukkan yang disebut sebagai salabadran telah tertelan zaman (tidak pernah tampil lagi alias punah). Padahal, di masa lalu seni pertunjukkan ini favorit, di seluruh Pulau Madura.

Sintung

Sintung adalah salah satu kesenian yang ada di kalangan masyarakat Desa Tamba Agung Barat, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Kesenian ini merupakan modifikasi dari kesenian hadrah, samman, rudat, dan gambus. Secara historis sintung berasal dari Asia Tengah. Konon, kesenian sintung dibawa oleh para pedagang Gujarat (India) yang sekaligus mempunyai misi menyebarkan agama Islam. Dari Aceh mereka menuju ke arah timur Pulau Jawa dan akhirnya sampai di Pulau Madura. Sekitar abad ke-18 di Kampung Prompong, Kecamatan Rubaru berdiri sebuah pesantren. Di pesantren inilah kesenian sintung dijarkan kepada para santrinya. Diantara para santri tersebut ada yang berasal dari Desa Tamba Agung Barat. Pada waktu itu ada dua tokoh penata gerak yang terkenal, yaitu K. Ridwan dan K. Talibin. Beliau berdualah yang meletakkan dasar-dasar tarian dan nyanyian (selawat dan barzanji) yang hanya ditujukan kepada zat yang menguasai alam semesta (Sang Khalik).

Peralatan musik kesenian Sintung terdiri atas: jodor terbuat dari batang pohon besar, gendang, dan tong-tong yang terbuat dari buah siwalan. Setiap pementasan jumlah penarinya minimal 25 orang yang kesemuanya laki-laki. Mereka diiringi 5 pemusik yang terdiri atas: seorang penabuh jidor, dua orang penabuh gendang, dan dua orang penabuh rebana. Adapun tata rias serta aksesoris yang digunakan dalam setiap penampilan terdiri atas: kain sarung, kemeja taqwa, dan ikat kepala. Ragam gerak tariannya ditujukan kepada ke Sang Pencipta. Kesenian ini dipentaskan dalam kegiatan upacara di lingkaran hidup individu (perkawinan dan khitanan) dan hari-hari besar Agama Islam.

Mamaca

Mamaca adalah sebuah kesenian khas orang Madura yang termasuk dalan seni suara berupa puisi yang dinyanyikan lalu dituturkan. Dalam konteks ini suatu cerita dinyanyikan oleh seorang pembaca (laki-laki), kemudian diterjemahkan, dijelaskan, dan dikembangkan oleh orang kedua (laki-laki) dengan gaya deklamasi. Pada umumnya kedua mitra dalam acara mamaca saling bersahutan.

Mamaca biasanya diselenggarakan para acara arisan. Acara ini biasanya dimulai pada pukul 21.00-23.00 WIB. Selain pada acara arisan, mamaca juga dipentaskan dalam berbagai kesempatan, seperti pada upacara rokat bhuju (makam keramat) atau di rumah pribadi dalam rangka upacara di lingkaran hidup individu (sunat, perkawinan, dan nazar). Mengingat teks yang harus dibaca biasanya utuh (seluruhnya), maka waktu yang dibutuhkan relatif lama ketimbang pementasan mamaca dalam acara arisan (pukul 22.00-04.00 WIB).

Mamaca menggunakan buku berbahasa Madura dan Jawa. Sedangkan, huruf yang digunakan adalah huruf Jawa dan atau Arab. Teksnya sendiri menggunakan bahasa Jawa-Kawi dengan aksara Arab. Beberapa tembang di tulis dalam bahasa Madura yang berasal dari abad ke-20. Namun, tembang-tembang yang populer diambil dari kesusasteraan Jawa. Tembang-tembang berbahasa Jawa tidak hanya terdapat di kalangan luar keraton (di pedasaan), tetapi juga di kalangan bangsawan. Dalam pementasan sebuah mamaca ada dua atau tiga repertoar, yaitu naratif (cerita), prosodis (tembang), dan musikal (gendhing).

Saronen

Saronen adalah sebutan orang Madura bagi sebuah alat musik tiup. Oleh karena alat musik ini bunyinya demikian khas, maka organisasi kesenian (orkes) yang memainkannya disebut sebagai “saronen”. Saronen, konon berasal dari Timur Tengah dengan berbagai sebutan (nama), seperti: sirnai, sarune, dan shanai. Di Madura sendiri juga tidak hanya dikenal dengan nama saronen, tetapi juga selompret, serompet, dan serunen. Alat ini terbuat dari kayu jati, dengan bentuk kerucut dan ada 6 lobang yang berderet (di depan) ditambah dengan sebuah lubang yang ada di bagian belakang. Apabila berada dalam sebuah orkes, Saronen “ditemani” oleh seperangkat musik yang terdiri atas: (1) tabbhuwan raja (gong besar), (2) tabbhuwan kene (gong kecil), (3) pendong (gong kecil) beserta kennong pemanga, (4) kolkol yang ditaruh di lantai, (5) ghendang raja, yaitu gendang besar, (6) gendhang kene (gendang kecil), (7) saronen, dan (8) kerca-kerca (sepasang simbal kecil).

Sebagai sebuah seni pertunjukan, saronen dapat dipergelarkan pada acara kerapan sapi, dan juga acara-acara yang berkaitan dengan ritual keluarga. Apabila dipergelarkan dalam kerapan sapi, para pemain berjalan mengikuti iring-iringan sapi (menyerupai arak-arakan). Akan tetapi, dalam ritual kekuarga, musiknya tidak lagi berfungsi sebagai pengiring arak-arakan. Peningkatan tempo dilakukan secara bertahap. Mula-mula untuk semua alat musik. Lalu, jika diperlukan, penutup dilakukan dalam tempo yang tinggi (cepat). Gung, kempul, dan kennong raja juga temponya dipercepat.

Kecapi Jenaka

Kesenian Kecapi atau Kacapi Jenaka atau Jenaka Sunda ini diprakarsai oleh Dayat Hidayat atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Mang Dekok/Mang Ukok. Seniman yang lahir sekitar tahun 1931 di Ciwaru, Lebakwangi, Banjaran ini merupakan maestro kesenian kacapi. Kacapi jenaka lahir secara tidak sengaja dari pertemua Mang Dekok dengan seniman lain bernama Mang Utun atau Mang Udjo. Sekitar tahun 1960an mereka kemudian berkolaborasi membentuk sebuah kesenian baru yang dinamakan Kacapi Janaka. Adapun groupnya sendiri bernama Kacapi Jenaka Utun Ukok.

Sekitar tahun 1970an Kacapi Jenaka Utun Ukok menjadi pengiring Ros Rosita dalam acara Menglean (Kawih Istri). Lepas dari Ros Rosita mereka kemudian menelurkan dua buah album yaitu Jenjreng Jembret dan Tulung Balong. Album ketiga ini merupakan hasil kolaborasi dengan seorang seniman Sunda yang cukup berpengaruh yaitu Kang Ibing.

Setelah dua album tersebut beredar di pasaran, seni Kecapi Jenaka Sunda mulai dilirik masyarakat. Mang Ukok dan Mang Utun mulai kebanjiran “job” manggung pada ruang-ruang publik yang dihadiri banyak orang. Mereka menyajikan sebuah hiburan berupa lagu-lagu jenaka dan beluk sembari diiringi petikan waditra kacapi siter yang berirama bebas atau konstan. Di sela-sela lagu juga diisi banyolan-banyolan komunikatif yang mengundang tawa penonton.

Seni Jibrut

Di Kabupaten Bandung, tepatnya di Kampung Kiaraeunyeuh, Kecamatan Pamengungpeuk Banjaran ada sebuah kesenian bernama Jibrut. Menurut disparbud.jabarprov.go.id, kesenian ini pertama kali dicetuskan oleh seorang bernama Mang Aji sekitar tahun 1930 dan mencapai puncaknya sekitar tahun 1945. Asal nama jibrut sendiri adalah akronim dari “Ji” yang diambil dari nama pencetusnya “Aji” dan “Brut” yaitu suara telapak tangan ketika dihimpitkan pada ketiak atau cecekolan (bagian lutut atau sikut bila dilipat).

Mengutip bonoquest.wordpress.com, konon seni Jibrut lahir ketika Mang Aji masih kecil dan menjadi penggembala kerbau, kambing, atau itik miliki tetangganya. Di kala hewan gembalaan sedang merumput dia iseng memasukkan telapak tangannya ke ketiak sambil menghentakkan bahu sehingga mengeluarkan bunyi “brut”. Bunyi itu dijadikan sebagai “beat” pengiring bunyi kendang atau siulan yang dikeluarkan oleh mulutnya. Dan, oleh teman-temannya “musik” Mang Aji tadi dipadukan dengan suara tepukan sehingga menimbulkan sebuah harmonisasi bunyi yang mengundang tawa.

Kepandaian membunyikan “brut” ini rupanya terus diasah hingga Mang Aji berumur sekitar 40 tahun. Bahkan, dia menjadikan bebunyian itu sebagai sebuah kesenian baru yang dinamakan “jibrut” dengan menambah beberapa unsur lain seperti hentakan kaki, gerakan pantomim, lawakan atau bebodoran, serta sajian lakon berupa cerita kehidupan sehari-hari.

Oleh Mang Aji, jibrut kemudian dijadikan sebagai mata pencaharian. Bersama teman-temannya, dia sering memainkan jibrut keliling kampung pada pagi (pukul 10.00-13.00), sore (pukul 16.00-18.00), dan malam hari antara pukul 19.00.21.00. Selain berkeliling kampung, mereka juga mengiringi arak-arakan pengantin sunat dan acara-acara khusus di alun-alun atau lapangan.

Sumber:
“Kesenian Jibrut” diakses dari https://bonoquest.wordpress.com/2010/11/ 06/kesenian-jibrut/, tanggal 1 Agustus 2020.

“Jibrut”, diakses dari http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=515&lang=id#:~:text=Seni%20Jibrut%20ini%20pertama%20kali,Arak%C2%ACarakan%20Budak%20Sunat, tanggal 1 Agustus 2020.

Loddrok

Loddrok adalah sebuah jenis seni pertunjukkan yang sangat populer di daerah Sumenep, Madura. Kesenian ini sering disebut juga sebagai “ajhing”, salah satu genre drama Madura yang konon mendahului loddrok. Oleh karena itu, loddrok tidak lepas dari unsur dagelan ajhing lama, seperti: permainan kata, gerak badan, dan wajah yang dihiasi dengan warna hitam dan putih.

Loddrok memiliki kemiripan dengan ludruk dan ketoprak dari Jawa. Namun, dalam pertunjukkannya bahasa yang digunakan adalah bahasa Madura. Bagi sementara orang yang tidak mengetahui secara persis tentang loddrok, seringkali berpendapat bahwa ludruk Surabaya adalah loddrok asli Madura. Padahal, ludruk Surabaya genrenya berbeda dengan loddrok. Loddrok merupakan genre dari ajhing lama Madura yang ciri lawakannya memang diwarisi loddrok. Ada yang mengklasifikasikan bahwa loddrok Madura sepadan dengan ketoprak Jawa; keduanya berdasarkan cerita raja-raja, sandiwara Madura, atau drama yang sepadan dengan ludruk Jawa. Pada umumnya mereka menggunakan ungkapan ketoprak Madura atau kadang-kadang ludruk Madura. Meskipun demikian, ketika tampil, para pelawak selalu mengajak penonton untuk “nengguh loddrok” (nonton ludruk).

Rombongan loddrok berjumlah sekitar 50 orang yang terdiri atas: pemain musik, pemain teater, pelawak, teknisi, dan sutradara. Mereka semuanya laki-laki. Peran perempuan dilakukan oleh laki-laki muda. Para pemain sekaligus adalah penyanyi. Mereka bertutur dan bernyanyi secara berselang-seling. Loddrok dipergelarkan dalam berbagai kesempatan dan tempat. Jika dipergelarkan di tempat umum (gedung pertunjukkan), para penonton diwajibkan untuk membeli karcis. Di tempat tersebut biasanya pertunjukkan dimulai pukul 21.00 WIB dan berakhir pukul 01.00 atau 02.00 WIB. Jika dipergelarkan dalam suatu khajatan (upacara perkawinan) biasanya dimulai dari pukul 21.00 WIB dan berakhir pukul 03.00 atau 04.30 WIB. Pergelaran loddrok terdiri atas: pembukaan musikal, tarian oleh dua sampai 6 orang, dua sajian lawak, dan satu pelakonan (cerita). Adapun judul lakon yang biasanya dipentaskan adalah: Lutung Kasarung, Joko Kodok, Angling Sakti, Satria Gunung Kidul, dan Pinang Mas.

Sandhur Pantel

Sandhur Pantel adalah sebuah kesenian yang berbau magis berasal dari Desa Ambunten Barat, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Tarian ini berfungsi sebagai media untuk menolak dan mengusir serta menjauhkan bencana yang direfleksikan dalam bentuk puji-pujian, rangkuman doa yang disertai dengan nyanyian dan ragam gerak dalam alunan musik pengiring.

Kesenian ini konon berasal dari kisah penggembala kambing bernama “Sandhur”. Walau hanya seorang penggembala dia adalah anak yang saleh (taat beragama Islam) hingga menjadi buah bibir warga masyarakat setempat. Ketenaran Sandhur rupanya membuat iri hati seseorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan (kafir). Si Kafir berniat untuk mencelakakannya. Sahdan, ketika Sandhur sedang mengembalakan kambingnya di gunung, dia berencana membunuhnya. Akan tetapi, niatnya tidak terlaksana karena Shandur tiba-tiba hilang bagaikan ditelan bumi. Namun demikian, Si Kafir tidak putus asa. Melalui meditasi, dia mendengar suara gaib yang memberitahu persembunyian Sandhur, yaitu di dalam sebuah pohon besar. Dan, tanpa pikir panjang, Si Kafir langsung memotong pohon tersebut dengan gerjaji. Kisah tentang hilangnya Sandhur inilah yang kemudian menjadi “ruh” kesenian sandhur pantel.

Sandhur Pantel dimainkan oleh laki-laki dan perempuan, terdiri atas: 13 penabuh, 5 penembang, seorang penebas, 14 penari. Pementasan awal berdurasi sekitar 3-4 jam. Setelah itu, dilanjutkan dengan pelantunan bait-bait pujian dan doa. Pada bagian kedua, penari melakukan gerak ragam yang sama. Dalam setiap pementasan selalu ada sesaji (sesajen) berupa: kelapa gading, jajan pasar, rengginang, nasi dan panggang ayam, serta roncean jagung. Selain itu, disediakan pula berbagai pakaian anak-anak, remaja, dan dewasa berbeda warna (merah, kuning, hitam, dan hijau). Konon, pakaian tersebut diperuntukkan bagi makhluk lain (halus) agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Archive