Showing posts with label Cerita Rakyat DKI Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat DKI Jakarta. Show all posts

Buaya Buntung

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang gadis cantik jelita sedang menyapu halaman rumahnya. Dia bernama Jenab, anak gadis semata wayang seorang janda tua di sebuah kampung tepi sungai. Usai menyapu Jenab bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rencananya, sehabis mandi dia dan Sang Ibu akan pergi berziarah ke makam ayahnya yang lokasinya agak jauh dari rumah.

Selepas mandi Jenab menuju dapur untuk menyantap hidangan nasi uduk sayur jengkol dan teh hangat buatan Sang Ibu. Selanjutnya, masih di area dapur, dia mengambil sekantung bunga dan sebotol air penyiram tanah kuburan Sang Ayah yang telah disediakan oleh Sang ibu pada malam sebelumnya.

Sejurus kemudian keduanya pun berjalan keluar rumah menuju pemakaman. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di antara perumahan warga kampung. Di saat menyusuri lorong-lorong itu banyak pria yang menyapa. Mereka takjub melihat kemolekan tubuh Jenab yang berjalan bak bidadari dari kahyangan.

Tetapi seluruh sapaan para pria tadi tidak ada yang dihiraukan Jenab. Dia tetap angkuh berlalu seakan tidak ada orang lain di sepanjang perjalanannya. Bahkan, ketika Sang Ibu mencoba menasihati agar mau menyapa balik atau setidaknya tersenyum, Jenab malah mengatakan bahwa mereka telah berlaku kurang ajar dengan memanggil-manggil namanya.

Hal ini tentu membuat Sang Ibu hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadisnya. Dia tidak berkata apa-apa lagi pada Jenab walau tahu bahwa para lelaki yang menyapa menunjukkan ekspresi kekecewaan atas tindakan Jenab. Begitu seterusnya hingga mereka tiba di area pemakaman.

Memasuki pemakaman mereka menuju ke sebuah pohon asam besar nan rindang. Tidak jauh dari pohon itulah ayah Jenab dimakamkan. Keduanya duduk di sisi pusara sembari memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selesai berdoa air dan kembang yang dibawa dari rumah ditaburkan di atas pusara. Adapun fungsi dari tradisi ini adalah: (1) meringankan beban mayat; (2) mendinginkan tempat peristirahatan terakhir; (3) menjaga tanah kuburan agar tidak hilang terkena terpaan angin; dan (4) meringankan siksa kubur penghuni makam.

Usai tabur bunga anak beranak itu pulang ke rumah. Sampai di rumah ternyata ada seorang pemuda bersama kedua orang tuanya yang telah menunggu di teras berlantai ubin. Jenab yang tidak kenal dengan mereka langsung menuju dapur. Sementara Sang Ibu menemui untuk menanyakan maksud kedatangan mereka.

Setelah berbasa basi sebentar salah seorang dari mereka (kepala keluarga) mengatakan bahwa anaknya yang bernama Somad menaruh hati pada Jenab dan bermaksud ingin melamarnya. Walau belum pernah berkomunikasi, tetapi sang putra tampaknya telah jatuh hati setiap kali melihat Jenab. Oleh karena itu, dia bersama sang istri berniat untuk menjodohkan Somad dengan Jenab.

Kaget mendengar ada orang yang ingin melamar, Jenab langsung belari dari arah dapur menuju Sang Ibu yang tengah menerima tamu. Setengah berbisik dia meminta ibunya masuk ke rumah. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung menyatakan ketidakmauannya menikah dengan Somad. Dalam pandangannya yang hanya sepintas dia melihat Somad sebagai pemuda pendek dengan hidung pesek.

Sang ibu berusaha menenangkan jenab. Dia mengatakan bahwa walau bertubuh pendek dan berhidung pesek Somad berasal dari keluarga berada. Hal ini terlihat dari penampilan serta cara bicara keluarga itu. Apabila Jenab mau menjadi istrinya, maka kehidupannya kelak tidak akan berkesusahan. Dia yakin Somad akan bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhannya.

Bujukan Sang ibu ternyata tidak membuat Jenab berubah pikiran. Dia tetap tidak mau menikah dengan Somad. Sang ibu akhirnya kembali lagi menemui Somad dan orang tuanya. Secara halus dia menolak lamaran Somad dengan alasan Jenab belum ingin berumah tangga. Mungkin suatu hari nanti, setelah Jenab siap, Somad boleh melamarnya lagi.

Kecewa akan penolakan tadi Somad keluar dari pekarangan rumah Jenab dengan tertunduk lesu. Sang ibu yang melihat anaknya bersedih hati segera mengelus-elus punggungnya mencoba menenangkan kegundahan hati Somad.

Semenjak itu tidak ada lagi yang datang melamar Jenab. Para pemuda menganggap Jenab sebagai seorang angkuh dan sulit didekati. Mereka tidak tahu tipe laki-laki apa yang menjadi idaman Jenab. Begitu seterusnya, hingga berbulan-bulan kemudian datanglah seorang pemuda gagah perkasa bersama Jin Iprit.

Konon, Iprit adalah raja gaib yang memiliki ribuan bala tentara. Dia dapat bergonta-ganti wujud sesuai keinginannya. Jadi, apabila ingin menjadi binatang dia beralih wujud menjadi binatang tertentu. Sedangkan bila ingin berwujud manusia, maka dia akan mengubah bentuk menjadi manusia.

Sang pemuda dan Iprit datang dari arah goa yang ada di tepi sungai. Namun, Iprit hanya sampai di mulut goa. Selanjutnya, Sang pemudalah yang keluar dari goa untuk berkeliling kampung. Dia melihat-lihat kondisi kampung yang ada di sekitar tepian sungai. Dan, setelah menemukan lokasi yang cocok dia kemudian membangun sebuah gubug sebagai tempat tinggal.

Ajaibnya, hanya dalam waktu beberapa bulan gubugnya menjadi menjadi sebuah istana nan besar dan megah. Padahal kerjanya dari pagi hingga petang hanya berbincang-bincang santai dengan para tetangga. Dia dikenal supel, ramah, dan baik sehingga dalam waktu singkat sudah dikenal luas oleh warga kampung.

Mereka tidak mengetahui kalau keramahan itu hanyalah kedok semata. Pada tengah malam Sang Pemuda kerap pergi mencuri ke kampung-kampung lain di sekitarnya. Dia melancarkan aksinya tanpa diketahui oleh siapa pun. Bahkan, penghuni rumah yang disatroninya selalu dibuat tertidur pulas saat barang-barangnya disikat habis.

Suatu hari saat dia tengah berbincang asyik dengan salah seorang tetangga tiba-tiba perhatiannya tertuju pada satu titik. Matanya melihat sosok perempuan rupawan berperawakan tinggi semampai sedang berjalan seorang diri. Dia adalah Jenab yang oleh warga sekitar dikenal angkuh dan tidak suka didekati laki-laki.

Berdasarkan penuturan warga tentang Jenab, Sang Pemuda menjadi tertantang untuk mendekati dan menaklukkannya. Tanpa berpikir lama dia pergi mendatangi rumah Jenab. Sampai di sana dia memperkenalkan diri pada ibu Jenab dan langsung mengutarakan niat untuk melamar anaknya.

Sang ibu tidak kaget dengan ucapan Sang pemuda. Dia yakin pasti Jaenab akan menolaknya. Sebab, selain Somad sudah ada beberapa pemuda lagi yang ditolaknya. Oleh karena itu, agar tidak terlalu mengecewakan dia memberi Sang pemuda teh hangat dan beberapa cemilan sembari menunggu jawaban Jenab.

Dugaan Sang ibu ternyata meleset. Jenab yang sedari tadi mengintip dari dalam rumah ternyata menerima lamaran Sang pemuda. Wajahnya terlihat berbinar ketika menyatakan mau menerima lamaran. Padahal dia belum mengetahui latar belakang pemuda itu. Apakah mungkin dia tertarik karena latar belakang ekonominya? Ataukah ketampanan dan kesempurnaan fisiknya? Hanya Jenab yang bisa menjawabnya.

Singkat cerita mereka pun menikah dalam suasana yang sangat meriah. Hasil pernikahan keduanya membuahkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Mi’ing. Mi’ing tumbuh sebagai anak yang sehat. Menginjak usia remaja walau hidup berkecukupan dia memiliki tabiat seperti ayahandanya, yaitu rakus dan suka mengambil milik orang lain.

Suatu hari Mi’ing melancarkan aksinya dengan mencuri buah di kampung sebelah. Namun, karena masih amatir dia kepergok oleh empunya pohon hingga terkena bacokan di bagian tangan. Akibat pembacokan itu Mi’ing menjadi cacat.

Di tengah kesibukan Jenab dan suami mencari pengobatan guna menyembuhkan cacat Mi’ing tiba-tiba datanglah “kawan lama” sang suami. Dari goa di pinggir sungai Iprit datang mencari suami Jenab. Iprit merasa dikhianati karena suami Jenab telah melanggar perjanjian dengannya. Padahal, harta kekayaan yang selama ini dimiliki sebenarnya bukan hasil dari mencuri saja tetapi sebagian dari perjanjian di antara mereka.

Sayangnya, niat menanggih janji tadi tidak ditanggapi oleh suami Jenab. Akibatnya, Iprit murka dan menghukum suami Jenab beserta anak laki-lakinya. Sang suami diubah menjadi seekor buaya raksasa, sementara Sang anak juga menjadi buaya tetapi dengan kondisi salah satu kakinya buntung karena telah cacat akibat bacokan pemilik pohon mangga.

Hal ini tentu membuat Jenab kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau kedua orang yang dicintai beralih wujud menjadi buaya. Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya tangisan menyanyat hati yang keluar dari mulutnya ketika kedua buaya itu berjalan keluar rumah menuju sungai. Dan, sejak saat itu apabila Jenab rindu, maka dia akan ke sungai untuk menemui suami dan anak tercintanya yang telah beralih wujud menjadi buaya buntung.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Legenda Monyet Putih

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Pulau Untung Jawa yang pada masa penjajahan Belanda disebut sebagai Pulau Amiterdam ada sebuah cerita tentang kawanan monyet yang dipimpin oleh seekor monyet putih pernah menduduki pulau tersebut. Konon, peristiwa ini terjadi ketika pulau ditinggalkan penghuninya pada saat pemerintahan Belanda berakhir dan beralih ke Jepang. Dan, walaupun jejak-jejak Si Monyet Putih sudah tidak ada lagi, namun sebagian penduduk Pulau Untung Jawa masih mempercayai bahwa cerita itu benar adanya. Berikut adalah kisahnya.

Ketika pemerintahan Belanda berakhir dan beralih ke Jepang, terjadi mobilitas besar-besaran yang dilakukan oleh penduduk di Kepuluan Seribu. Sebagian dari mereka ada yang berpindah dari satu pulau ke pulau lain dan ada pula yang hijrah ke tanah Jawa untuk mencari penghidupan yang lebih layak.

Hal ini terjadi pula pada seluruh penduduk di Pulau Amiterdam. Mereka pindah ke pulau lain karena Pulau Amiterdam dianggap sudah tidak menjanjikan lagi. Akibatnya, Amiterdam pun menjadi pulau mati dan yang tersisa hanyalah rumah-rumah kosong serta barang-barang tidak berharga yang berserakan di sana-sini.

Tidak berapa lama setelah ditinggal penghuninya, secara ajaib tiba-tiba datanglah kawanan monyet berekor panjang ke Pulau Amiterdam. Mereka dipimpin oleh seekor monyet jantan berbulu putih bersih dengan mata berwarna merah dan mengenakan ikat kepala berwarna biru laut. Sang pemimpin monyet ini dikabarkan memiliki sorot mata sangat tajam yang dapat membuat takut siapa saja yang melihatnya.

Konon, sejak kedatangan kawanan monyet berekor panjang itu tidak ada seorang pun yang berani memasuki Pulau Amiterdam. Sebab, kabarnya ada seorang bajak laut terkenal bernama Bajul Kerok yang tewas bersama para pengikutnya di tangan kawanan monyet.

Setelah beberapa lama menguasai Pulau Amiterdam, pada sekitar tahun 1946-an kawanan monyet tersebut tiba-tiba menghilang tanpa diketahui rimbanya. Tidak ada jejak atau tanda-tanda sedikit pun mengenai keberadaan mereka di pulau itu. Jadi, sama seperti waktu mereka datang, saat pergi pun tidak ada yang mengetahui.

Dan, setelah telah kembali kosong, lambat laun penduduk yang tinggal di pulau-pulau lain mulai berani datang ke Pulau Amiterdam. Sebagian dari mereka bahkan ada yang mulai mendirikan rumah untuk menetap. Seiring dengan berjalannya waktu Pulau Amiterdam yang berganti nama menjadi Pulau Untung Jawa menjadi sebuah pulau ramai yang dihuni oleh orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia.

Mansur dan Genderuwo

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang pedagang keliling bernama Mansur. Bila berdagang area berkelilingnya bisa sangat jauh (hingga ke daerah Cirebon). Oleh karena itu, dia menjadi Bang Toyib yang jarang pulang. Dalam sekali berkeliling menjajakan dagangan, minimal dia pulang ke rumah satu minggu sekali. Selebihnya, dapat dua, tiga atau bahkan satu bulan penuh baru berjumpa lagi dengan isterinya.

Suatu hari, saat akan berdagang keliling Mansur didatangi oleh seorang tetangga bernama Udin. Dia mengingatkan Mansur bahwa malam nanti mendapat giliran ronda bersama Otong dan beberapa orang tetangga lain. Namun, karena jadwal ronda bertepatan dengan hari pasaran di daerah yang hendak kunjungi, Mansur lebih memilih untuk berjualan. Sebagai ganti, dia merogoh saku dan menyerahkan sejumlah uang pada Udin agar membeli tembakau sebagai "teman" saat meronda.

Malam harinya, menjelang subuh Otong dan Udin pulang meronda. Ketika melewati rumah Mansur, mereka melihatnya sedang membuka pintu dan hendak pergi dari rumah. Melihat hal itu, Otong dan Udin langsung mendatangi dan bertanya mengapa Mansur tidak ikut meronda. Mereka merasa kecewa terhadap sikap Mansur yang beralasan hendak pergi berdagang dan menggantinya dengan sejumlah uang.

Mansur tidak menghiraukan teguran mereka. Dia terus saja berlalu tanpa berkata apa-apa. Hal ini awalnya membuat Otong dan Udin menjadi jengkel dan hendak mengejar Mansur. Namun mereka mengurungkan niat karena Mansur orang yang sangat ramah, supel, dan setia kawan. Bila ditanya biasanya dia akan berhenti dan menjawab, walau hanya sekadar berbasa-basi. Mungkin hari itu dia sedang diburu waktu atau tidak mendengar atau melihat Otong dan Udin yang menegurnya.

Keesokan harinya, sepulang meronda kejadian serupa terulang lagi. Mansur tidak menjawab ketika ditanya oleh Otong dan Udin. Dia tetap berlalu di tengah udara dingin menjelang pagi. Otong sampai jengkel melihatnya dan hendak mendamprat Mansur yang dianggapnya sombong. Sementara Udin lebih bijaksana. Dia merasa ada yang aneh pada diri Mansur, sebab bila sedang berdagang minimal satu minggu kemudian baru pulang. Oleh karena penasaran, dia mengajak Otong melakukan pengintaian di rumah Mansur.

Malamnya mereka mulai menjalankan aksi dengan mengendap-endap di antara semak belukar dekat rumah Mansur. Entah mengapa, ketika lewat tengah malam suasana menjadi aneh, mencekam, sekaligus menakutkan. Tidak berapa lama kemudian muncullah Mansur dari kegelapan malam. Sampai di pintu rumah dia disambut oleh Sang isteri yang telah berdandan dan terlihat sangat menggoda.

Setelah Mansur masuk dan isterinya menutup pintu, Otong dan Udin segera beranjak dari persembunyian mengendap-endap mendekati rumah. Namun setengah jam kemudian runtuhlah rasa curiga keduanya setelah mendengar suara lenguhan kenikmatan dari isteri Mansur ^_^. Tahulah mereka apa yang sedang diperbuat oleh Mansur. Rasa curiga berubah menjadi umpatan karena hasil dari menunggu selama berjam-jam ternyata hanya seperti itu.

Selagi mereka mengumpat datang orang-orang yang kebetulan mendapat giliran ronda. Oleh para peronda Otong dan Udin malah diolok-olok dan ditertawakan setelah mendengar cerita mereka. Hanya seorang saja yang terdiam, bernama Bang Komar. Bang Komar yang telah malang melintang dalam dunia persilatan merasa aneh mendengar penuturan Otong dan Udin. Banyak tanda-tanda keanehan dari cerita Otong dan Udin sehingga dia menahan teman-temannya agar tidak beranjak dahulu dari depan rumah Mansur.

Menjelang subuh Mansur keluar dari rumah. Dengan langkah cepat dia berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang berdiri di depan rumahnya (Otong, Udin, Komar, dan teman-teman ronda lain). Komar, mungkin karena indra keenamnya bekerja baik dapat melihat ada yang ganjil, langsung mengejar Mansur. Tetapi karena yang dikejar adalah makhluk halus, dia tidak dapat menyamainya. Mansur melangkah sangat ringan dan memiliki lompatan di atas manusia biasa. Dalam sekejap mata dia sudah menghilang dalam rimbunya pohononan.

Peristiwa melompatnya Mansur yang luar biasa tersebut membuat mereka sadar bahwa yang dikejar bukanlah manusia, melainkan mahkluk halus yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai genderuwo. Makhluk ini umumnya tinggal atau bersemayam di pepohonan besar yang sudah tua. Berbeda dengan makhluk halus lainnya, genderuwo dipercaya memiliki nafsu terhadap manusia, terutama kaum perempuan. Bila lagi "pengen" dia akan mendatangi perempuan yang sering ditinggal pergi suami.

Hal ini terjadi pada isteri Mansur yang sering ditinggal pergi dalam jangka waktu relatif lama. Dia akhirnya hamil. Bayi hasil hubungan berwujud manusia namun memiliki ciri-ciri fisik layaknya genderuwo, di antaranya: sekujur tubuh ditumbuhi bulu lebat, bola mata turun, tidak tumbuh gigi dan berwajah agak menyeramkan. Si bayi hanya berumur beberapa hari. Konon, dia tidak meninggal melainkan ikut dan tinggal bersama bapaknya di pepohonan tua.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Bangau Tongtong

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, suatu hari ada seekor Bangau Tongtong tua sedang bertengger di pohon rindang dekat sebuah telaga yang jernih airnya. Di dalam telaga terdapat ikan yang berenang bergerombol mencari makan. Maksud hati Sang Bangau ingin menyantap satu atau beberapa ikan tersebut, namun karena sudah tua dan kurang bertenaga lagi dia hanya dapat menatap sembari meneteskan air liur.

Tidak berapa lama kemudian dia menemukan sebuah ide licik untuk mendapatkan ikan tanpa harus bersusah payah menangkapnya. Adapun caranya adalah dengan mengumpulkan binatang-binatang yang tinggal dan menggantungkan hidup di telaga. Setelah mereka berkumpul, Bangau Tongtong berkata bahwa telaga akan segera mengering karena musim kemarau berlangsung panjang.

Perkataan Bangau tongtong rupanya dapat mempengaruhi penghuni telaga. Mereka ada yang menangis ketakutan, ada yang mondar-mandir tak tentu arah, serta ada pula yang panik dan mengumpulkan anggota keluarganya. Untuk meredakannya Bangau tongtong menghimbau agar tidak panik karena di balik bukit ada telaga yang lebih luas lagi. Mereka dapat pindah ke telaga yang menurutnya tidak pernah mengalami kekeringan.

Bagi binatang air, berpindah ke telaga di balik bukit merupakan hal yang mustahil. Mereka hanya bisa berenang dan bukan berjalan atau terbang untuk dapat mencapainya. Oleh karena itu, dengan akal bulusnya, Bangau Tongtong menawarkan jasa mengantar dengan cara menaruh mereka di paruh dan membawa terbang menuju lokasi.

Tawaran Bangau Tongtong rupanya menarik minat binatang air. Mereka tidak perpikir panjang. Yang ada di benak adalah dapat mencapai telaga yang baru, sehingga tawaran yang tidak lain hanyalah akal bulus disambut dengan gembira. Secara bergiliran satu per satu ikan dibawa terbang oleh Bangau Tongtong.

Bagi ikan yang belum mendapat giliran percaya bahwa Bangau Tongtong akan membawa terbang ke danau di balik bukit. Sementara yang sudah dibawa menjadi sangat kecewa setelah dilemparkan ke sebuah kubangan kecil yang dangkal. Oleh Bangau Tongtong kubangan itu dijadikan sebagai tempat penyimpanan. Tujuannya, apabila dia lapar dapat dengan mudah mengambil beberapa ekor untuk disantap.

Menjelang senja seluruh ikan dan binatang air lain telah terangkat, kecuali seekor ketam yang dalam antrian berada pada posisi buncit. Bangau Tongtong yang sebenarnya sudah lelah tetap mendatanginya. Pikir Sang Bangau daging ketam sangat lezat dan sayang apabila dibiarkan lepas begitu saja.

Dia lalu mendekat dan membawa ketam menggunakan paruhnya. Di perjalanan Ketam mulai curiga karena Sang Bangau terbang bukan ke arah bukit melainkan menyusur danau menuju sebuah kubangan. Di sana teman-temannya berenang berdesakan dalam ruang yang relatif sempit. Sadar kalau dia dan teman-temannya telah ditipu oleh Bangau Tongtong, Ketam menjadi marah. Dengan capitnya yang besar dan tajam dicekiknya Bangau Tongtong hingga tewas. Ketamakan Sang Bangau akhirnya membawa malapetaka bagi diri sendiri.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Warsa Si Juragan Kambing

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada tujuh orang gadis cantik jelita. Mereka adalah anak dari seorang hartawan. Ketika remaja, Sang ayah meninggal dunia. Tidak lama berselang ibu mereka juga meninggal dunia. Oleh karena masih tergolong muda, maka sebagian dari mereka belum memikirkan tentang masa depan. Setiap hari diisi dengan bersenang-senang bersama para pemuda dari kalangan bangsawan dan orang berada.

Hanya salah seorang dari adik-beradik ini yang tidak pernah turut bersenang-senang. Dia adalah Siti Zaenab. Di kala para saudarinya sedang berasyik ria dengan para pemuda, dia memilih memisahkan diri. Walhasil, Siti Zaenab pun seakan terabaikan. Padahal, sesungguhnya ada seorang kakak (bernama Siti Zubaidah) yang merasa kasihan padanya. Tetapi dia tidak berani terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada Siti Zaenab karena takut akan murka Siti Zulaikha (sulung) yang bengis dan amat membenci adik bungsunya.

Adapun cara yang dilakukan oleh Siti Zubaidah agar tidak dicurigai oleh Siti Zulaikha adalah dengan memberi uang kepada seorang janda yang akrab disapa Bibi Kambing untuk membantu memasak dan mencuci pakaian Siti Zaenab. Walau upah yang diterima tidak seberapa tetapi Bibi Kambing bekerja dengan rajin dan tekun sehingga Siti Zaenab tidak terlantar karena tidak diperhatikan oleh para kakaknya.

Berkenaan dengan sebutan "Bibi Kambing" bagi dirinya, berawal dari anak satu-satunya bernama Warsa yang bekerja sebagai penggembala kambing. Oleh karena tiap hari Warsa selalu pergi menggembala kambing, maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai juragan kambing. Sementara sang ibu disebut dengan Bibi Kambing.

Awalnya Bibi Kambing setiap hari datang ke rumah Siti Zaenab membawa makanan dan pulangnya membawa pakaian kotor untuk dicuci di rumah. Lama-kelamaan karena melihat Siti Zaenab selalu seorang diri dan tidak ada yang mempedulikan, maka dia mengajak untuk tinggal di rumahnya. Pikir Bibi Kambing, tentu tidak akan ada yang "ngeh" bila Siti Zaenab tidak ada di rumah. Sebab, mereka sibuk mengurus diri sendiri agar terlihat cantik di hadapan para pemuda.

Tidak berapa lama tinggal di bilik sederhana milik Bibi Kambing, Siti Zaenab sudah merasa kerasan. Badannya terlihat berisi dengan wajah menampakkan keceriaan. Di rumah itu dia juga mulai akrab dengan Warsa Si Juragan Kambing. Bahkan, semakin hari meraka menjadi akrab sekali sehingga menimbulkan kekhawatiran pada Bibi Kambing. Sesuai dengan adat waktu itu, dia merasa pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang terlalu dekat kuranglah baik. Bila warga masyarakat melihat, maka sanksi sosialnya dapat berupa teguran atau bahkan sindiran yang tidak mengenakkan hati.

Sebelum terlanjur, Bibi Kambing memanggil dan menasihati Warsa. Sebagai solusi, dia menyarankan agar Warsa beralih pekerjaan menjadi seorang peniaga. Dengan begitu, dia dapat berniaga ke daerah lain yang selama ini belum pernah didatangi serta mencegah gunjingan tetangga karena kedekatannya dengan Siti Zaenab.

Menuruti kata Sang ibu, Juragan Kambing lalu menjual seekor anak kambing yang telah menjadi haknya. Sebagai penggembala kambing, upah yang didapat bukanlah sejumlah uang melainkan dalam bentuk sistem bagi-hasil. Apabila kambing yang digembalakan hamil, maka anak-anak kambing tersebut selanjutnya dibagi dua antara pemilik dan orang yang dipekerjakan untuk menggembalakannya. Kebetulan kambing yang digembalakan oleh Warsa baru saja melahirkan dua ekor, sehingga dia mendapatkan seekor anak kambing sebagai bagiannya.

Anak kambing upah menggembala itu rencananya akan dijual sebagai modal usaha membeli berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Oleh karena setiap hari kerjanya hanya berurusan dengan kambing, ketika di pasar dengan mudah kambing terjual. Dia dapat menjelaskan secara detail kekurangan dan kelebihan kambingnya sehingga pembeli berminat untuk membeli. Dan, karena menjual kambing dirasa lebih mudah, maka dia memutuskan menjadi makelar kambing.

Transaksi awal yang dilakukan Warsa sebagai makelar adalah ketika dia berhasil menjualkan kambing milik seorang haji pada seorang pemilik warung sate kambing yang kebetulan kehabisan stok daging. Upah menjadi makelar kambing ini sebagian digunakan untuk makan dan berkelana mencari orang yang akan menjual kambing, sementara sisanya disimpan sebagai modal usaha.

Seiring waktu, simpanan Warsa bertambah banyak sehingga dia dapat membeli sejumlah kambing untuk dipelihara agar lebih sehat sebelum dijual dengan harga yang lebih tinggi. Dalam waktu yang tidak berapa lama Warsa benar-benar menjelma menjadi juragan kambing. Julukan yang mungkin merupakan olok-olok sewaktu kecil ternyata menjadi motivasi untuk mewujudkannya.

Setelah menjadi juragan kambing yang kaya raya, Warsa memutuskan pulang kampung. Sesampai di kampung halaman, Warsa segera merenovasi rumah hingga terlihat mewah dan mentereng. Walhasil, banyak orang terkesima. Tidak terkecuali para saudari kandung Siti Zaenab. Mereka, kecuali Siti Zubaidah yang telah menikah, beramai-ramai "tebar pesona" pada Warsa. Adapun tujuannya adalah agar Warsa terpikat dan mau mengawini salah seorang di antaranya. Bila hal itu terjadi, otomatis harta yang diperoleh Warsa dapat dikuasai.

Namun, hati Warsa rupanya telah tertambat pada Siti Zaenab. Demikian pula dengan Siti Zaenab. Dia yang kini tinggal bersama keluarga Siti Zubaidah juga memendam rasa pada Warsa. Mereka akhirnya mengikat diri dalam sebuah pernikahan. Acara resepsinya diadakan secara besar-besaran dengan menanggap berbagai macam kesenian. Hal ini tentu saja membuat saudari-saudari Siti Zaenab menjadi iri, marah, dan kesal, karena merasa salah seorang dari merekalah yang lebih berhak bersanding dengan Warsa. Dan, untuk melampiaskannya, mereka bersekongkol hendak mencelakakan Siti Zaenab.

Rencana mencelakakan itu dilancarkan ketika Warsa pergi berniaga ke negeri seberang. Mereka datang ke rumah Siti Zaenab dan mengajaknya pergi berpesiar naik sampan menuju tempat wisata di daerah seberang. Alasannya sebagai hadiah bagi Siti Zaenab yang baru menikah. Mereka bertingkah seolah-olah sayang terhadap si adik bungsu. Padahal, dibaliknya tersimpan rencana keji terhadap Siti Zaenab.

Usai menetapkan hari berpesiar mereka undur diri. Siti Zaenab yang merasa aneh dengan tingkah laku para kakaknya yang berubah 180 derajat segera melaporkan pada Siti Zubaidah. Oleh Siti Zubaidah dia dinasihati berhati-hati selama ikut berpesiar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, dia juga memberi sebuah kantong berisi roti, cincin permata dan sebilah sekin sebagai bekal selama berpesiar.

Pada hari yang telah disepakati berangkatlah mereka menuju sampan yang telah ditambatkan di tepi sungai. Sepanjang perjalanan mereka saling bersenda gurau seakan menyambut gembira karena Sang adik bungsu telah berhasil menemukan tambatan hati. Ketika sampan merapat, satu persatu mereka turun ke darat. Terakhir, ketika Siti Zaenab hendak ikut ke darat tiba-tiba Siti Zulaikha melepas tambatan hingga sampan oleng dan terseret arus.

Pekikan minta tolong Siti Zaenab ditanggapi dengan tawa riang para kakaknya. Dan setelah sampan hilang dari pandangan mereka segera menaiki sampan milik nelayan setempat yang tertambat tanpa dijaga menuju rumah Siti Zaenab. Sesampai di sana, dipelopori Siti Zilaikha mereka menduduki rumah mewah itu. Bibi Kambing tidak dapat berbuat apa-apa dan memilih menyingkir ke rumah Siti Zubaidah.

Di lain tempat, Siti Zaenab terombang ambing hingga ke muara sungai (dekat pelabuhan) yang jauhnya puluhan kilometer dari rumah. Saat sampan hendak menuju laut lepas, beruntung ada seorang nelayan yang menariknya. Siti Zaenab diselamatkan dan diantar ke rumah Syahbandar. Di sana, dia "indekost" sembari menunggu perahu suami datang dari negeri seberang. Cincin permata pemberian Siti Zubaidah digunakan untuk membayar kamar serta makan sehari-hari.

Beberapa bulan kemudian datanglah Warsa dari negeri seberang. Ketika perahu mewah yang ditumpangi merapat di pelabuhan dia langsung disambut hangat oleh Siti Zaenab. Selanjutnya Siti Zaenab menceritakan bagaimana dia bisa menyambut kedatangan Warsa, mulai dari rencana berpesiar hingga "indkost" di rumah Syahbandar.

Mendengar penuturan isterinya, Warsa langsung naik pitam dan berniat membalas dendam. Tanpa menunggu lagi mereka langsung pulang naik bendi. Sesampai di batas kampung, Warsa menyuruh Siti Zaenab masuk ke dalam sebuah peti besar yang salah satu sisinya memiliki lubang sebesar kepalan tangan. Tiba di rumah Warsa disambut hangat oleh Siti Sulaikha. Dia seolah-olah bertindak sebagai pemilik rumah dan tidak sedikit pun bicara tentang Siti Zaenab atau Bibi Kambing. Hal pertama yang ditanyakan adalah apakah Warsa mendapatkan keuntungan besar dari hasil berniaga.

Warsa hanya menjawab bahwa seluruh keuntungan telah disimpan di dalam peti yang dibawanya. Siti Zulaikha dipersilakan mendekati peti besar berisi keuntungan yang telah didapat Warsa selama berbulan-bulan berniaga di negeri seberang. Bila tertarik, dia boleh mengambil barang sedikit melalui lubang yang ada di sisi peti.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Siti Zulaikha. Dia lalu mendekat dan menjulurkan tangannya ke dalam peti. Ketika tangannya sudah berada di dalam, secepat kilat Siti Zaenab menikamnya pada bagian jantung dengan senjata skin pemberian Siti Zubaidah. Mayatnya kemudian disembunyikan oleh para pengawal Warsa ke dalam bendi. Begitu seterusnya, satu per satu kakak Siti Zaenab dipersilakan memasukkan tangan ke dalam peti lalu ditikam.

Setelah tewas, mayat mereka kemudian dikuburkan di halaman belakang rumah. Selanjutnya, Siti Zaenab dan Warsa si Jurgan Kambing dapat menempati kembali rumah mereka. Bersama dengan Bibi Kambing ketiganya hidup tenteram hingga akhir hayat.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Jaka Pertaka

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang penebang pohon. Suatu hari ketika sedang mencari pohon tua di tengah hutan, secara tiba-tiba dia diserang oleh seekor burung garuda. Tetapi karena serangan garuda demikian cepat, dia tidak sempat menghindar. Kedua matanya tersambar cakar tajam garuda hingga buta seketika dan tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya bisa duduk bertafakur meminta pertolongan para dewa di kahyangan.

Doa Sang penebang ternyata dapat menggetarkan kahyangan dan didengar oleh Dewa Umar Maya. Dia lalu memerintahkan anaknya yang bernama Jaka Slaka untuk bertapa agar mendapatkan obat guna kesembuhan Sang Penebang. Tanpa membantah, Jaka Slaka pergi memunaikan perintah Umar Maya. Dia menuju ke suatu tempat khusus yang biasa digunakan oleh para dewa bila ingin bermeditasi atau bertapa.

Tidak berapa lama setelah Jaka Slaka bertapa, Sang isteri yang tengah hamil tua melahirkan bayi laki-laki. Oleh karena Jaka Slaka tidak bersamanya, maka Umar Maya yang memberi nama Sang cucu, Jaka Pertaka. Agar Jaka Pertaka tidak rewel, Umar Maya memberi mainan berupa boneka gajah putih berkepala empat.

Mainan tersebut rupanya tidak hanya membuat Jaka Pertaka senang dan tidak rewel. Ada orang lain yang juga ingin memilikinya. Dia adalah seorang puteri dari sebuah kerajaan. Awal mula ketertarikan Sang Puteri ketika dia bermimpi melihat seekor gajah putih berkepala empat. Dari mimpi itu dia menjadi resah dan meminta pada ayahanda Raja agar mencarikan gajah sesuai dengan mimpinya.

Alangkah terkejut Sang raja mendengar permintaan puterinya. Selama hidup dia sendiri belum pernah melihat ada gajah berwarna putih, apalagi memiliki empat kepala. Hewan itu hanya ada di kahyangan. Dan, tidak sembarang penghuni kahyangan dapat memiliki. Namun, karena rasa sayang dan tidak ingin mengecewakan Sang puteri, maka dia menyanggupi. Dititahnya patih kepercayaan yang sakti mandra guna mencari dan membawa gajah permintaan Sang Puteri ke kerajaan.

Tidak lama kemudian berangkatlah Sang Patih meninggalkan kerajaan. Sama seperti Sang raja, dia sendiri sebenarnya juga belum pernah melihat gajah putih berkepala empat. Oleh karena itu, dia selalu bertanya pada siapa saja di tempat-tempat yang di singgahi. Tetapi, hingga berhari-hari tidak ada yang tahu atau pernah melihat gajah putih berkepala empat.

Dalam keputusasaan, Sang Patih tiba di sebuah taman nan asri, indah, dan sejuk. Ketika hendak beristirahat, dia mendengar ada suara kanak-kanak yang tertawa riang gembira. Ketika didekati, dia melihat ada seorang di antara mereka yang menggenggam mainan berupa boneka berbentuk gajah putih berkepala empat. Pikirnya, apabila anak itu memiliki boneka gajah putih, kemungkinan besar dia pernah melihat wujud aslinya. Atau, paling tidak orang tua si anak dapat menunjukkanya.

Dia kemudian mendatangi si anak. Dengan nada ramah, ditanyanya dari mana boneka itu berasal dan apakah dia pernah melihat wujud asli binatangnya. Tetapi, mungkin karena dia anak dewa yang selalu dimanja, di luar dugaan pertanyaan Sang Patih dijawab dengan sangat ketus. Marahlah Sang patih kehabisan kesabaran. Dalam sekejap mata ditariknya tangan Jaka Pertaka dan dibawa pergi jauh dari taman.

Malam harinya, Ibunda Jaka Pertaka resah karena Sang anak belum juga kembali. Sambil menangis tersedu-sedu dia mendatangi Umar Maya dan menceritakan perihal ketidak pulangan Jakar Pertaka ke rumah. Padahal, biasanya menjelang senja dia telah pulang untuk membersihkan diri dan menikmati hidangan makan malam.

Menindaklanjuti "laporan" Ibunda Jaka Pertaka, Umar Maya segera bergegas mencari anak itu, baik di kahyangan maupun bumi. Namun setelah berhari-hari mencari, Jaka Pertaka tak kunjung ditemukan. Pikir Umar Maya, mungkin karena di dewa maka tidak ada yang berani mendekat. Oleh karena itu, dia memutuskan menyamar sebagai manusia dalam wujud seorang kakek dengan nama Kaki Jugil.

Tetapi, lagi-lagi dia tidak dapat menemukan keberadaan Jaka Pertaka kendati telah dicari selama berhari-hari bahkan sampai bertahun-tahun. Suatu saat, dia melihat ada seorang remaja yang diikat dan diseret oleh laki-laki tua. Merasa kasihan terhadap remaja itu, Kaki Jugil bertanya pada si penyeret mengapa dia diperlakukan demikian.

Biasanya, bila ada orang yang bertanya si penyeret yang tidak lain adalah Sang patih akan menjawab sekenanya. Tetapi melihat sosok Kaki Jugil yang terlihat berkharisma (karena dia dewa), maka Sang Patih menceritakan awal mula kejadian hingga dia harus mengikat dan menyeret si remaja ke mana pun mereka pergi.

Berdasar cerita Sang Patih tersebut tahulah Kaki Jugil bahwa si remaja adalah cucunya sendiri, Jaka Pertaka. Ada rasa sedih, duka, dan bersalah bercampur aduk dalam diri Kaki Jugil. Dia tidak menyangka kalau mainan yang diberikan agar tidak rewel malah menjadi malapetaka bagi Jaka Pertaka. Tentu saja Jaka Pertaka tidak akan tahu di mana keberadaan gajah putih berkepala empat yang dicari oleh Sang patih.

Oleh karena itu, Kaki Jugil berusaha membujuk Sang patih agar melepaskan Jaka Pertaka. Sebagai ganti dia akan menunjukkan dimana keberadaan gajah putih berkepala empat yang selama ini dia cari. Tanpa basa-basi tawaran itu ditolak oleh Sang patih sehingga terjadilah perkelahian dengan Kaki Jugil. Namun karena yang dilawan adalah dewa, dalam sekejap mata Sang patih dapat dikalahkan hingga lari tunggang-langgang meninggalkan Jaka Pertaka.

Selepas Sang patih melarikan diri Kaki Jugil lalu mengajak Jaka Pertaka berkelana. Kaki Jugil tidak memeritahu siapa dirinya, melainkan hanya berujar bahwa dia diutus untuk mendampingi Jaka Pertaka mengembara di dunia. Bila telah tiba waktunya, tentu Jaka Pertaka dapat kembali ke kahyangan dan berkumpul kembali bersama kedua orang tua serta sanak kerabat lainnya.

Selanjutnya, berkelanalah mereka ke ujung dunia. Jaka Pertaka yang terlihat sangat lelah karena selalu diseret ke mana pun Sang patih pergi, oleh Kaki Jugil diubah wujud sebagaimana layaknya dewa. Dia lalu dimasukkan dalam tusuk kondai ajrang yang selalu disematkan di kepala Kaki Jugil. Hanya sesekali saja Jaka Pertaka keluar dari kondai ajrang. Selebihnya, dia memilih untuk berdiam diri karena telah lelah diseret Sang patih selama bertahun-tahun.

Suatu hari, ketika sampai di sebuah desa, mereka mendapati ada empat orang bersitegang memperebutkan patung seorang perempuan. Perebutan patung itu bermula ketika salah seorang dari mereka menemukan sebatang kayu langka yang berkualitas tinggi. Sayang bila dijadikan perabot rumah tangga biasa, salah seorang saudaranya mengusulkan agar kayu dibentuk menjadi sebuah patung. Untuk itu, mereka kemudian menyerahkan pada saudara lain yang memiliki kepandaian dalam memahat kayu. Selesai dibuat, patung lalu diserahkan pada saudara lain lagi yang pandai melukis untuk diberi warna. Hasilnya, jadilah sebuah patung perempuan sangat cantik dan seolah hidup.

Mereka pun menjadi takjub dan masing-masing ingin memiliki sehingga terjadi keributan. Namun ketika akan saling baku hantam, datang Kaki Jugil melerai sambil bertanya mengapa mereka berbuat demikian. Salah seorang di antara mereka kemudian menceritakan secara kronologis sebab musabab mengapa mereka bertengkar. Selesai bercerita, yang lain menimpali dengan meminta Kaki Jugil yang dianggap bijaksana untuk memilih siapa yang paling berhak memiliki patung.

Kaki Jugil tidak mau menentukan siapa yang berhak memilikinya. Dia berkata bahwa yang berhak adalah si patung sendiri. Oleh karena itu, dia mengeluarkan tusuk kondai ajrang yang tersemat di kepala lalu mamasangnya pada patung. Sejurus kemudian hiduplah si patung yang langsung menari dengan lemah gemulai.

Ketika si patung berhenti menari, Kaki Jugil bertanya tentang siapa yang berhak memiliki. Si patung tidak memilih keempatnya karena mereka masih bersaudara. Singkat cerita, agar tidak berlarut-larut Kaki Jugil mengambil jalan tengah. Dia mengusulkan pada empat bersaudara itu ikut berkelana bersamanya dalam bentuk sebuah group. Keempat bersaudara menjadi panjak atau pemain waditra, si patung yang telah menjadi manusia berperan sebagai penari, dan Kaki Jugil bertindak sebagai dalangnya. Setelah dicapai kesepakatan, mereka pun berkelana dan ngamen di mana-mana.

Lalu bagaimana nasib sang penebang pohon yang buta matanya akibat cakaran burung garuda? Apakah dia telah diobati oleh Jaka Slaka dan sembuh seperti sedia kala? Entahlah......gelap...

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Si Monyet Malas

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seekor monyet yang sangat malas. Kerjanya hanya makan, tidur, dan bermain di pepohonan. Suatu hari, ketika sedang bersantai di sebuah pohon rindang pandangannya diusik oleh aktivitas seekor tupai. Si tupai berjalan pulang-pergi mengangkut buah kenari ke dalam sarang yang berada tidak jauh dari Si monyet bersantai.

Aktivitas Si tupai tadi tentu saja membuat monyet terganggu. Perlahan dia bangkit mencari tempat baru yang lebih tenang. Baru beberapa kali berayun dilihatnya sebuah mempelam ranum tergeletak di tanah. Tanpa membuang waktu dia turun dari pohon untuk menyantap mempelam itu. Usai menyantap mempelam dia beranjak menuju ke pohon jambu yang sedang berbuah. Sambil menikmati buah jambu matanya tetap mengawasi aktivitas tupai.

Oleh karena Si tupai tidak berhenti hilir-mudik memasukkan buah-buah kenari ke dalam sarang, lama-lama risih juga Si monyet. Ditegurnya Si tupai agar tidak berjalan kesana-kemari. Hal itu dianggap mengganggu ketenangan hutan dan dapat membuat burung-burung berhenti berkicau.

Mendapat teguran Si Monyet, tupai menjelaskan bahwa dia sedang mengumpulkan makanan ke dalam sarang. Menurut monyet usaha Si tupai tadi hanyalah sia-sia belaka. Hutan sudah berlebihan makanan berupa buah-buahan. Bahkan, para penghuninya tidak perlu bersusah-payah memetik karena buah akan matang dan jatuh dengan sendirinya.

Penjelasan tadi hanya ditanggapi tupai dengan senyuman sambil kembali ke sarangnya. Dia memang tidak akan mencari buah kenari lagi karena hari telah menjelang senja. Sebagian kecil dari tumpukan buah kenari di dalam sarang cukup untuk mengganjal perutnya sepanjang malam. Esok hari dia akan kembali mencari buah kenari. Pikirnya, besok Si monyet pasti bertengger di pohon lain yang sedang berbuah.

Begitu seterusnya. Setiap hari tupai mengumpulkan buah kenari, sementara monyet berpindah dari satu pohon ke pohon lain yang sedang berbuah. Pada pertengahan musim kemarau tupai tidak perlu pergi jauh dari sarangnya karena persediaan buah kenarinya cukup hingga musim penghujan tiba. Lain halnya Si monyet yang kian hari semakin jauh dari Si tupai. Sebab, pepohonan mulai meranggas dan sebagian malah terlihat kering kekurangan air.

Dia harus mencari pepohonan yang masih tersisa yang biasanya berada di dekat aliran sungai. Setiap hari dia berjalan di bawah terik mata hari untuk mencari pepohonan yang masih berbuah. Sering kali ketika menemukan pohon yang masih berbuah, tidak lama kemudian binatang lain juga mendekat. Oleh karena pohon itu di luar daerah kekuasaannya, terpaksa dia harus mengalah dan pergi. Akibatnya, badan menjadi kurus kering kekurangan makan. Si monyet menyesal tidak mengikuti jejak tupai sehingga tetap asyik menikmati kenari walau kemarau melanda. Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Untuk memperbaikinya, terpaksa dia harus menunggu hingga musim penghujan tiba.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Si Ucup dan Kelongwewe

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang nenek yang memperingatkan cucunya agar tidak keluar rumah karena hati telah malam. Namun, Sang cucu menolak dengan alasan sedang terang bulan. Banyak anak-anak yang keluar rumah dan bermain di halaman rumah. Adapun permainannya bergantung pada gender yang bersangkutan. Bila anak perempuan, mereka bermain congklak, lompat karet, dan lain sebagainya. Sedangkan anak laki-laki umumnya bermain petak umpet.

"Kalo lu pergi nanti diculik Kelongwewe," ujar Sang Nyak tua (nenek) menakuti.

"Apaan tuh?" tanya Sang cucu.

"Setan", jawab Nyak tua singkat.

"Bentuknye?", Sang cucu penasaran.

"Serem! Rambutnye gimbal panjang, matanye belo kayak mau keluar, lidahnye juge panjang kayak ular. Rumahnya di pohon gede. Kalau habis magrib dia keluar nyariin anak-anak buat diculik", jelas Nyak tua.

"Wiiiiih, syerem banget!" seru Sang cucu sambil merapat pada Nyak tua.

Agar sang cucu lebih merapat Nyak tua mulai bercerita bahwa dahulu di kampung sebelah pernah ada anak kecil yang diculik kelongwewe karena selepas magrib masih asyik bermain dan belum mau pulang. Dia bernama Ucup. Si Ucup diculik dan dibawa ke rumah kelongwewe, sehingga orang tuanya kebingungan. Mereka mendatangi seluruh lokasi yang biasa disambangi Si Ucup untuk bermain serta ke rumah teman-temannya, namun tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.

Hampir putus asa, mereka memutuskan datang ke Nyak Iden. Dia adalah "orang pintar" yang berprofesi sebagai dukun beranak. Menurut keterangan Nyak Iden, Si Ucup diculik dan disembunyikan Kelongwewe. Sambil membakar kemenyan dan berkomat-kamit membaca mantera dia mencari petunjuk keberadaan Ucup. Dan, setelah mendapatkan bisikan gaib dia lalu memerintahkan orang tua Ucup pergi ke sebuah pohon besar yang berada di batas kampung. Di sanalah Kelongwewe itu menyembunyikan Si Ucup.

Ucapan Nyak Iden ternyata benar. Sesampai di pohon besar keduanya bersama sebagian penduduk kampung melihat Si Ucup tengah duduk termangu dengan tatapan kosong. Ketika ditanya dia hanya membisu dan tidak membalas sedikit pun. Oleh karena itu, Nyak Iden dipanggil untuk mengobati. Dan, baru pada hari ketiga dia dapat berbicara kembali.

Menurut penuturan Si Ucup, sewaktu akan pulang terpisah dengan teman-teman yang lari berhampuran tanpa mempedulikan satu dengan lainnya. Di tengah perjalanan dia berjumpa dengan perempuan tua yang membujuk agar turut ke rumah. Sebenarnya dia ingin menolak, tetapi entah mengapa, tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya menurut saja ketika tangannya digenggam oleh perempuan itu. Mereka kemudian menuju pohon besar tempat dia duduk termangu sebelum ditemukan oleh orang tuanya.

Cerita Nyak tua tadi, entah benar atau hanya rekaan belaka, rupanya mampu mempengaruhi Sang cucu. Dia mengurungkan niat untuk bermain bersama teman-temannya di bawah sinar bulan purnama. Di dalam pikirannya sudah terbayang perempuan tua yang mengintai dari balik pepohonan dan siap untuk menculik siapa saja yang tengah lengah atau kosong pikirannya.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Koleangkak

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang janda miskin. Dia hanya memiliki seorang anak gadis yang telah bertunangan dengan anak seorang petani. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Sang janda bekerja sebagai penumbuk padi. Oleh karena berupah tidak seberapa, dia dan anak gadisnya acapkali kekurangan makan hingga suatu saat sang janda jatuh sakit. Dalam sakitnya, dia sempat meminta buah pisang untuk mengisi perut. Namun, hingga ajal menjemput keinginan itu tidak terwujud. Tidak ada uang untuk membelinya.

Melihat Sang ibu meninggal, Sang gadis bingung hendak meminta pertolongan pada siapa. Dia berlari kesana-kemari mendatangi para tetangga, namun entah kenapa, tidak seorang pun mau menolong. Sementara bila meminta pertolongan pada calon suami serta mertua, dia tidak sanggup harus menempuh sekitar satu hari perjalanan.

Agar jasad Sang ibu tidak diganggu binatang, untuk sementara dibungkus menggunakan sehelai tikar kemudian disimpan di lesung yang biasa digunakan menumbuk padi. Malam harinya terdengarlah suara dari dalam lesung. Sang gadis yang berada tidak jauh dari lesung tidak berani mendekat. Sambil menangis terisak dia memegangi kedua lutut yang gemetar ketakutan.

Ketika matahari terbit barulah dia berani mendekati lesung. Tetapi alangkah terkejutnya Sang gadis karena jasad Sang ibu sudah tidak berada dalam lesung. Sambil menangis sesenggukan dicarinya jasad itu di seluruh penjuru rumah. Tiba di samping rumah terdengarlah suara koleangkak (sejenis burung) yang bertengger di salah satu cabang pohon kapuk. Konon, burung ini kegemarannya adalah mencari kutu untuk dijadikan cemilan ^_^.

Si koleangkak berkicau parau mirip seperti suara manusia. Dalam kicauannya dia memberitahu Sang gadis agar berhenti menangis karena Sang ibu telah pulang mengikuti bayang-bayang. Selain itu dia juga memerintahkan agar Sang gadis pergi ke rumah calon mertuanya.

Di lain tempat, Sang petani calon mertua juga didatangi burung koleangkak yang bertengger di genting rumah. Si koleangkak berkicau bahwa calon menantu akan datang seorang diri. Calon besan telah menitipkan. Terimalah sepenuh hati.

Esok harinya datanglah Sang gadis. Dia disambut hangat oleh keluarga calon suami. Ada perasaan kasihan sekaligus senang karena Sang gadis akan menjadi bagian keluarga. Tidak lama kemudian mereka menikah. Pasangan ini hidup aman, bahagia, dan sejahtera. Sang isteri (sudah tidak gadis lagi) tidak lagi kelaparan seperti ketika masih bersama ibunya. Oleh karena itu dia sangat mengasihi dan tulus ikhlas mengabdi pada suami.

Walhasil, kehidupan mereka pun terlihat harmonis hingga suatu hari ada sebuah kejadian yang mengubah segalanya. Kala itu Sang suami memintanya mencari kutu-kutu yang bersarang di kepala. Sang isteri merasa hal itu sebagai suatu hal biasa sehingga dia menurut tanpa membantah.

Tetapi ketika kutu-kutu mulai diambil, secara perlahan tumbuhlah bulu di sekujur tubuh Sang isteri. Kian lama bulu-bulu itu bertambah lebat dan tubuh Sang isteri akhirnya berubah menjadi burung koleangkak. Tanpa berkata apa-apa dia lalu terbang menuju bayang-bayang. Dan, sejak saat itu Sang suami tertekan batin, merasa bersalah telah memerintah Sang Isteri mencari kutu. Dia menjadi lupa ingatan. Setiap hari kerjanya hanya berkeliling mengejar bayang-bayang burung koleangkak.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Kramat Tunggak

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Ada dua orang adik-beradik bernama Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa. Semenjak kecil hidup sebagai yatim piatu. Orang tua mereka tidak memberi warisan berupa harta benda sebagai bekal hidup. Adapun yang "diwarsikan" hanya sebuah pesan agar selalu tabah, jujur, dan berusaha keras dalam menjalani kehidupan.

Untuk memenuhi kebutuhan Aria Wiratanudatar dan Aria Prabangsa menjadi pekerja kasar. Setiap hari rutinitasnya hanyalah mencari kayu bakar, menjualnya di pasar, dan hasilnya digunakan membeli beras serta lauk-pauk untuk kebutuhan selama satu hingga dua hari. Setelah habis, mereka kembali lagi ke hutan mencari kayu atau benda apa pun yang dapat diperdagangkan atau dibarterkan di pasar.

Suatu hari, selesai menata kayu bakar di belakang rumah, mereka beristirahat di beranda yang relatif lebih bersemilir ketimbang di dalam. Tidak lama kemudian mereka tertidur. Di dalam tidur Aria Prabangsa didatangi seorang kakek berjenggot lebat dan berjubah putih. Sang Kakek berkata bahwa Aria Prabangsa akan menjadi raja, namun rakyatnya hanya satu orang yaitu Aria Wirayanudatar. Dia harus tabah dan sabar, sebab jika tidak demikian maka akan dikutuk menjadi lebih miskin dari sekarang.

Selain masuk dalam mimpi Aria Prabangsa, Kakek berjenggot juga menyambangi mimpi Aria Wiratanudatar. Pada Wirataudatar Sang Kakek berkata sebaliknya, yaitu Wiratanudatar diperintahkan menjadi rakyat yang mengabdi pada kerajaan yang "dipimpin" oleh adiknya sendiri. Dia harus melaksanakan seluruh tugas kerajaan. Apabila tidak tabah dan sabar dalam menjalankan peran, maka akan dikutuk menjadi miskin selamanya.

Setelah mendapat "wangsit", keduanya lantas terbangun hampir berbarengan. Sang adik mendahului menceritakan mimpi yang baru saja dialami. Selesai bercerita, Sang kakak menimpali bahwa dia juga didatangi Sang Kakek berjenggot dan berjubah putih. Dan, mereka berkesimpulan bahwa mimpi-mimpi tadi bukanlah "kembang tidur" biasa. Mereka lantas bersepakat menaati "perintah"nya agar dapat merubah nasib.

Malam harinya mereka disambangi Sang Kakek lagi. Tetapi mimpi kali ini sama. Dia memerintahkan agar mereka seolah-olah tidak saling kenal. Sebelum menghilang dari mimpi, Sang Kakek memperingatkan agar apabila salah seorang ada yang jatuh miskin, saudaranya tidak diperkenankan memberi bantuan.

Pagi hari, ketika bangun Aria Prabangsa mendapati diri berada di mahligai kerajaan. Dia telah mengenakan pakaian mewah nan indah laksana seorang raja. Di hadapan berdiri seorang kawula dengan air mawar dalam nampan di tangan. Kawula itu tidak lain adalah kakaknya sendiri, Aria Wiratanudatar. Dia tidak hanya bertugas membawakan air guna mencuci muka, mekainkan juga seluruh urusan rumah tangga kerajaan.

Di dalam hati Aria Prabangsa sebenarnya khasihan dan sedih melihat Sang kakak harus menjadi pelayan. Namun perasaan tadi dipendam karena "wangsit" Sang kakek berjenggot mengendaki agar dia tidak boleh mengakuinya sebagai kakak dan memberikan bantuan apapun pada Aria Wiratanudatar.

Demikian pula dengan Aria Wiratanudatar yang ingin memberontak karena setiap hari hanya melayani adiknya mulai dari bangun hingga beranjak ke peraduan. Hidupnya terasa getir, terhina, dan sengsara. Namun seperti Sang adik, dia hanya dapat memendam perasaan karena pesan "wangsit" dari Sang Kakek berjenggot.

Begitu seterusnya selama bertahun-tahun hingga suatu saat Aria Wiratanudatar tidak tahan lagi dan memohon pada raja agar diperkenankan meninggalkan kerajaan untuk mencari penghidupan baru. Alasannya, dia sudah tidak tahan lagi menjadi hamba sahaya yang harus mengurusi masalah kerajaan seorang diri.

Mendengar permintaan tersebut Aria Prabangsa kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau kakaknya menyerah dalam menjalankan perintah "wangsit" Sang Kakek berjenggot. Namun, karena sudah diamanatkan agar tidak boleh saling mengenal dan membantu yang sedang berkesusahan, dia terpaksa merelakan kepergian Aria Wiratanudatar.

Keesokan hari Aria Wiratanudatar memulai perjalanan mencari penghidupan baru. Dia pergi berkelana selama berbulan-bulan keluar masuk hutan, menyusuri pantai, lembah, gunung, dan sungai menuju satu tempat ke tempat lain. Tetapi tidak ada satu lokasi pun yang dirasa cocok. Walhasil, Aria Wiratanudatar menjadi benar-benar miskin. Badannya kurus kering, kulit mulai berkeriput, dan kuit hitam legam terbakar matahari.

Di lain tempat, sepeninggal Sang Kakak Aria Prabangsa merasa kesepian tinggal seorang diri di kerajaan. Dalam benak sempat terpikir untuk mencari dan menolong Aria Wiratanudatar. Lagi-lagi, ketika akan menjalankan niat, di telinga terngiang wejangan Sang Kakek berjenggot sehingga dia ragu melaksanakannya. Tetapi setelah merenung beberapa lama akhirnya dia bertekat mencari Sang Kakak. Dia hanya ingin melihat kondisi Aria Wiratanudatar dan tidak untuk menolong.

Berbulan-bulan kemudian Aria Wiratanudatar tiba di sebuah daerah yang subur dengan ditumbuhi oleh bermacam-macam pepohonan yang berbuah lebat. Merasa cocok dengan tempat tersebut, dia segera mengeluarkan kapak, menebang beberapa buah pohon tua guna membangun rumah. Dalam benak, Aria Wiratanudatar yakin jika rumah selesai akan ada orang yang tertarik dan ikut membangun pula sehingga lambat laun akan menjadi ramai. Dan, sebagai orang yang pertama kali datang di tempat itu kemungkinan besar dia akan diangkat menjadi penguaasa atau bahkan raja.

Selesai membangun dan rumah akan ditempati, tiba-tiba datang Aria Prabangsa. Dia menegur Aria Wiratanudatar karena telah membangun di wilayah kerajaan tanpa izin. Dengan nada marah Aria Perbangsa lantas mengusir Sang Kakak keluar dari wilayah kerajaan. Padahal, sebenarnya dia tidak menghendaki Aria Wiratanudatar keluar dari rumah itu. Tetapi apabila dibiarkan dia takut Sang Kakek berjenggot mengganggap hal tersebut sebagai memberi bantuan pada Aria Wiratanudatar. Mereka bisa kena kutuk menjadi miskin.

Menyadari bahwa tanah tempat mendirikan rumah merupakan bagian dari wilayah kerajaan Aria Prabangsa, Aria Tanudatar tidak membantah. Dia segera mengemasi barang bawaannya dan siap berkelana lagi. Sebelum berangkat dia meminta izin pada Aria Prabangsa untuk menancapkan tunggak di depan rumah yang tidak jadi ditempati. Alasannya sebagai bukti bahwa dia pernah ke tempat ini sekaligus bertemu dengan Raja Aria Perbangsa.

Oleh karena yang diminta hanyalah menancapkan sebuah tunggak, tanpa banyak bicara Aria Perbangsa mengizinkan. Begitu tunggak ditancap, seketika itu juga Aria Wiratanudatar hilang dari pandangan. Di suatu tempat dia tiba-tiba saja duduk di singgasana dikelilingi oleh banyak kawula. Dia telah menjadi raja seperti Aria Perbangsa. Kedua adik-beradik ini telah menepati janji pada Sang Kakek berjenggot dan hidup sejahtera sampai akhir hayat. Dan, tempat ditancapnya tunggak Aria Wiratanudatar itu oleh masyarakat sekitar kemudian dinamakan sebagai Kramat Tunggak.

Diceritakan kembali oleh Ali Gufron

Ariah

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, sekitar medio tahun 1800-an di Kampung Sawah, Kramat Setiong, hidup sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dan dua anak perempuannya. Sang ibu bernama Mak Emper sedangkan anak bungsunya bernama Ariah atau biasa disapa Arie. Suami Mak Emper telah lama meninggal dunia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Mak Emper dan anak pertamanya (kakak Ariah) bekerja sebagai penumbuk padi pada seorang saudagar. Sementara Ariah sendiri ditugasnya oleh Mak Emper mencari kayu bakar, sayur-mayur, dan telur ayam di hutan Ancol. Oleh karena bekerja pada sang saudagar, ketiga anak-beranak ini diperbolehkan tinggal di emperan rumahnya dalam bentuk bangunan kecil yang menempel di bagian belakang rumah.

Begitu seterusnya hingga bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu. Ariah pun tumbuh besar dan menjadi seorang gadis cantik jelita. Kecantikannya membuat mata setiap lelaki tidak berkedip jika melihatnya. Begitu pula dengan mata Saudagar yang mempekerjakannya. Bahkan, merasa telah memberi budi, Sang Saudagar datang pada Mak Emper meminang Ariah.

Lamaran Sang Saudagar tentu saja membuat bingung Mak Emper. Apabila ditolak, kemungkinan besar dia dan anak-anak akan terusir dari rumah sekaligus menjadi pengangguran. Tetapi apabila diterima, dia kasihan terhadap Airah karena hanya akan dijadikan sebagai isteri muda. Hidup sebagai isteri muda tidak akan leluasa, apalagi jika tinggal berdekatan dengan isteri tua.

Mak Emper tidak langsung menjawab lamaran Sang Saudagar. Dia meminta izin menanyakan terlebih dahulu pada Ariah. Alasannya, Ariah masih terlalu kecil. Jangankan berumah tangga, menjalin hubungan dengan laki-laki pun belum terlintas di benaknya. Perlu waktu bagi Mak Emper untuk memberi penjelasan yang sangat detil agar Ariah mau menerimanya.

Setelah Sang Saudagar pulang, tidak berapa lama kemudian Ariah datang dari mencari kayu bakar di hutan. Mak Emper langsung mengikutinya ke dapur membantu menaruh kayu bakar. Selesai menata kayu bakar, tanpa berbasa basi Mak Emper mengutarakan niat Sang Saudagar. Dia bingung apa yang harus diperbuat karena merasa bergantung hidup pada Sang Saudagar. Oleh karena itu, Mak Emper menyarankan Ariah menerima pinangannya agar mereka tidak terusir dari rumah yang selama ini ditempati.

Di luar dugaan Ariah langsung mengambil sikap berkenaan dengan pinangan Sang Saudagar. Dia menolak kawin sebab kakaknya masih belum menemukan jodoh. Sang kakak yang kebetulan mendengar percakapan tersebut lalu mendatangi Ariah dan menyatakan bahwa dirinya ikhlas apabila dilangkahi. Kakak Ariah juga merasa berhutang budi pada Sang Saudagar dan memilih mementingkan kelangsungan hidup keluarga ketimbang harus terusir dari rumah menjadi gelandangan.

Tetapi, sambil menangis tersedu, Ariah berargumen bahwa hal itu oleh masyarakat dianggap tidak baik. Seandainya Sang Kakak bersedia dilangkahi, di dalam perjalanannya nanti pasti hati akan terluka bila melihat Ariah diarak dalam baju pengantin, dikerumuni banyak tamu undangan, diberi mas kawin yang berharga mahal, dan dihibur oleh berbagai macam kesenian yang salah satunya adalah orkes hermunium.

Usai berkata demikian, Ariah bergegas meninggalkan ibu dan kakaknya menuju pangkek untuk menenangkan diri. Tidak lama berselang, Mak Emper datang menghampiri lalu duduk di samping Airah. Tanpa berkata apa-apa Mak Emper mengusap ramput Airah hingga dia tertidur di pangkuannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ariah pergi mencari kayu bakar, sayur-sayuran, dan telur ayam hutan. Namun tidak seperti biasanya, sebelum berangkat dia mencium dengan hikmat tangan Mak Emper dan kakak perempuannya. Selanjutnya, dia memandang lama wajah mereka dan tanpa berkata-kata berlalu meninggalkan emperan rumah menuju arah utara.

Dalam perjalanan menuju hutan Ancol dia sempat lama mengamati para pekerja yang sedang membuat jalan kereta api. Sesampai di daerah Bendungan Melayu yang dekat dengan pantai Ariah menghentikan langkah. Dia beristirahat sambil menikmati bekal berupa nasi timbel buatan Mak Emper. Selesai makan, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju hutan Ancol.

Menjelang senja dia tiba di Ancol. Tetapi ketika akan mulai mencari kayu bakar, dari balik pepohonan muncul dua sosok laki-laki berpakaian hitam-hitam. Mereka bernama Pi'un dan Sura, antek dari pemuda ganteng kaya raya namun bertabiat buruk bernama Tambahsia atau Oei Tambah Sia. Dia memiliki hobi aneh yaitu menculik dan memperkosa perempuan di bungalow miliknya yang diberi nama Bintang Mas. Pi'un dan Sura adalah orang kepercayaan Tambahsia yang ditugasi menculik anak gadis, janda, atau bahkan isteri orang untuk dibawa ke Bintang Mas.

Saat akan dibawa paksa, Ariah meronta-ronta tak terkendali hingga kedua centeng itu terkena tendangannya. Mereka marah dan menghempaskan tubuh Ariah ke tanah. Namun Ariah tetap saja melawan dan membuat Pi'un serta Sura habis kesabaran. Golok mereka akhirnya "berbicara" dan mengakhiri hidup Ariah. Mayatnya kemudian dilemparkan ke laut Ancol.

Di lain tempat, Mak Emper menunggu gelisah. Biasanya sebelum senja Ariah telah sampai ke rumah. Tetapi ditunggu hingga malam, sosoknya tidak juga muncul. Begitu seterusnya, hari-hari berlalu berganti bulan dan tahun. Ariah tidak pernah lagi pulang ke rumah. Mak Emper hanya bisa pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa.

Suatu hari giliran kakak Ariah yang dilamar orang. Tidak seperti Ariah, Sang kakak dilamar oleh pemuda dari keluarga orang kebanyakan. Walau si pemuda sudah menyanggupi akan menanggung seluruh biaya perkawinan, hati Mak Emper tetap merasa resah. Sebab, dia berkewajiban menyediakan makanan, terutama saat menyambut calon besan yang akan datang mengajukan lamaran secara resmi.

Lelah memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut (menyambut besan), Mak Emper mencoba tidur. Di dalam tidurnya, Mak Emper mimpi didatangi Ariah yang terlihat sangat cantik, berseri, dan sehat walafiat. Ketika ditanya kemana saja selama ini, dia tidak menjawab. Ariah hanya berkata bahwa Mak Emper tidak perlu resah memikirkan hidangan apa yang akan disajikan dalam acara penyambutan calon besannya nanti.

Kaget didatangi anak yang telah lama menghilang, Mak Emper langsung terbangun. Antara sadar dan tidak dia bergegas mencari ke seluruh penjuru gubuknya. Ketika berada di dapur Mak Emper kaget bukan kepalang. Entah dari mana datangnya, di area dapur telah penuh dengan berpikul-pikul ikan laut serta sayur mayur yang sangat cukup bila dijadikan sebagai suguhan bagi calon besan. Walau hanya bertemu di dalam mimpi, tetapi Ariah telah menepati janjinya untuk tidak membuat Mak Emper resah menghadapi kedatangan calon besannya.

Sebagai catatan, kisah Ariah ini telah menjadi sebuah folklor di kalangan masyarakat Betawi pesisir. Orang tidak hanya menyebut namanya sebagai Ariah, melainkan juga Maria, Mariah, atau Mariam. Adapun arwahnya, oleh sebagian orang dianggap beralih ujud menjadi setan Ancol. Sementara sebagian lainnya meyakini kalau Ariah menjadi makhluk gaib penguasa laut utara. Dia tidak disebut dengan nama aslinya, melainkan "Si Manis". Konon Si Manis mempunyai pengawal gaib yang bernama Si Kondor (siluman monyet), Si Gempor, Si Gagu, dan Tuan Item.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Si Panjang

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Pada sekitar abad ke-18 VOC Belanda yang waktu itu telah menguasai Batavia mulai menghadapi masalah dalam perdagangan karena kalah bersaing dengan para pedagang keturunan Tionghoa. Para tauke berhasil mengatasi monopoli Belanda karena organisasi mereka sangat rapih dan solid sehingga dapat menyusup ke daerah-daerah yang sebelumnya telah dikuasai oleh Belanda.

Mengantisipasi agar tidak diganggu oleh Belanda yang bila tersaingi biasanya akan menurunkan antek-anteknya, para tauke sepakat mendatangkan seorang guru silat dari seberang lautan. Setelah sang guru silat datang, mereka memintanya mengajari ilmu silat dengan alasan kebugaran jasmani. Mereka berlatih secara sembunyi-sembunyi di Gading Melati pada malam hari agar tidak dicurigai. Apabila ada prajurit kompeni berpatroli, mereka langsung berpura-pura berlatih barongsai sebagai kamuflase.

Kegiatan ini tentu saja tidak disukai oleh para pejabat Kumpeni. Mereka curiga kalau latihan barongsai hanyalah akal-akalan para tauke agar lebih memperkuat barisan. Oleh karena itu, mereka pun mengadakan rapat agar dapat menghadapi para "pemain" barongsai bila sewaktu-waktu beralih ujud menjadi "pasukan" para tauke. Hasil rapat memutuskan bahwa selain para antek, mereka juga akan mengerahkan ribuan budak belian yang akan dilatih menjadi pengawal handal dan siap mati.

Namun, dalam kenyataannya bukan para tauke yang memicu keributan melainkan para budak belian. Mereka yang mayoritas didatangkan dari tempat jauh tidak berlaku sebagaimana mestinya. Di hadapan para tauke, mereka menyombongkan diri dan bahkan lebih semena-mena ketimbang tuannya. Hal ini menimbulkan ketegangan hingga sempat terjadi keributan antara para budak belian dengan pedagang kelontong di beberapa tempat. Anehnya, ketika dibawa ke pengadilan mereka dibela dan akhirnya dibebaskan begitu saja.

Melihat para budak dibebaskan, ada salah seorang tauke yang merasa tidak puas. Dia bernama Si Panjang. Si Panjang adalah tauke muda berusia sekitar 30 tahun yang sangat rajin berlatih silat di Gading Melati, dekat Gandaria. Oleh karena itu, dia cepat sekali mengusai jurus-jurus yang diberikan oleh guru silat dari seberang lautan. Dan, ketika sang guru kembali lagi ke seberang lautan, secara aklamasi Si Panjang kemudian diangkat untuk menggantikannya.

Ketika sedang berkumpul bersama teman-temannya Si Panjang menyatakan bahwa perlakuan orang-orang Belanda yang membela para budaknya itu sangat tidak adil. Si Panjang berpendapat apabila lebih giat berlatih dengan memperdalam penyerangan menggunakan tangan kosong, niscaya mereka dapat melumpuhkan lawan hanya dengan sedikit tenaga. Dengan demikian, orang lain akan menjadi segan dan tidak berani berbuat semena-mena.

Di lain pihak, Penguasa Batavia waktu itu Gubernur Jenderal Baron van Imhoff yang sangat ahli dalam membaca gerak-gerik lawan, segera memerintahkan ageng-agennya berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mencari informasi tentang kegiatan para tauke selain berdagang. Dia sadar benar bahwa dengan dimenangkannya para budak pasti akan menimbulkan rasa ketidakpuasan pada pihak tauke. Dua diantara para agen van Imhoff yang paling diandalkan adalah Jacob dan orang Tionghoa sendiri bernama Liu Chu. Bersama dengan Jacob, Liu Chu dapat masuk dan berkumpul dengan orang-orang Tionghoa di Gading Melati.

Dari laporan mereka diketahui bahwa Gading Melati dijadikan sebagai tempat menimbun candu yang ditutupi rempah-rempah agar tidak terlihat. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat menimbun senjata dan berlatih barongsai. Tetapi suasana latihannya tidak banyak menunjukkan gerakan-gerakan guna mengangkat barongsai, melainkan seperti gerakan-gerakan yang sering diperagakan oleh para pesilat ketika mereka sedang berlaga.

Setelah Liu Chu memberikan laporan, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff langsung mengadakan rapat yang mmbicarakan peningkatan keamanan. Salah satu hasil rapat menyatakan bahwa apabila para tauke tetap berlatih di Gading Melati dan tidak dapat lagi dikendalikan, maka mereka akan dibuang ke Ceylon (sekarang Sri Lanka). Van Imhoff lalu memerintahkan anteknya bernama Kapten Swa Beng Kong menyampaikan hasil keputusan VOC pada para tauke.

Keputusan yang dikeluarkan VOC itu tentu saja membuat Si Panjang dan kawan-kawannya gerah. Lebih-lebih ketika Kapten Cina Swa Beng Kong terus-menerus meminta Si Panjang dan kawan-kawannya membubarkan diri dan tidak lagi berlatih silat, barongsai atau kegiatan lain yang dapat menyulut keributan. Si Panjang menjadi sangat marah dan dengan terang-terangan menentang Swa Beng Kong di depan umum.

Agar "masalah" cepat teratasi, atas usul Jacob orang-orang yang berpakaian pangsi hitam atau biru sebaiknya ditangkap. Selanjutnya, mereka digiring ke balai kota lalu diangkut menuju muara Sungai Ciliwung. Sesampai di muara mereka digiring lagi masuk ke dalam kapal perang untuk dibawa ke Ceylon. Dari ratusan orang yang diangkut ke kapal, beberapa diantaranya ada yang berhasil lolos dengan cara menceburkan diri ke laut.

Sesampai di pantai, mereka langsung berlari ke arah Gading Melati menemui Si Panjang. Singkat cerita, Si Panjang pun marah lalu mengumpulkan teman-teman sesama pesilat Gading Melati. Berbekal senjata selundupan yang telah lama disimpan mereka menuju balai kota. Tetapi karena pasukan Baron van Imhoff lebih terlatih dalam mempergunakan senjata api, kelompok Si Panjang terpaksa mundur sampai ke Peninggaran. Di daerah itu Si Panjang akhirnya tewas terkena peluru salah seorang serdadu Belanda.

Diceritakan kembali oleh gufron

Sang Merak dan Kutilang

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, di sebuah hutan ada seekor merak yang sangat sombong karena memiliki bulu indah serta suara amat merdu. Dia selalu saja memakerkan kelebihannya itu pada seluruh penghuni hutan. Hal ini berbanding terbalik dengan kutilang yang bertubuh kecil dan suaranya amatlah buruk. Apabila bertemu dengan penghuni hutan lainnya dia selalu menjadi bahan olok-olokan. Tetapi hal itu tidak merisaukannya. Dia tetap riang gembira dan suka menolong sesama.

Suatu hari, Kutilang melihat ada sekelompok bunga yang tertunduk layu. Penasaran, dia pun menghampiri mereka. Namun ketika ditanya, para bunga tidak menjawab. Mereka hanya menggeleng lemah lalu tertunduk lagi. Oleh karena tidak puas hanya mendapat jawaban berupa gelengan, Kutilang lalu terbang berkeliling di sekitar kumpulan bunga layu itu untuk mencari tahu masalahnya.

"Wah, pantas saja mereka menjadi layu," pikir Kutilang ketika melihat peri bunga tergeletak lemah tak berdaya di antara akar-akar pohon waru.

Ketika telah berada dekat dengan sang Peri Bunga, Kutilang bertanya, "Apa yang terjadi denganmu wahai peri?"

"Sayapku patah dipatuk Merak," jawab Peri Bunga Lemah.

"Kenapa dia berbuat begitu padamu?" tanya Kutilang.

"Dia terlalu sombong sehingga aku menolak memujinya," jawab Peri Bunga.

"Sudahlah, dia memang begitu. Lebih baik aku mengobatimu, tetapi bagaimana caranya yah?" tanya Kutilang bingung.

"Obatnya hanyalah sari bunga anggrek bulan. Tapi bunga itu hanya tumbuh di puncak pohon yang sulit dijangkau, sementara aku tidak dapat terbang lagi," ujar Peri Bunga memelas.

"Jangan khawatir, sekarang engkau naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu ke puncak pohon meranti. Kalau tidak salah lihat, di sana ada sekuntum anggrek bulan," jawab Kutilang panjang lebar.

"Tubuhmu kan kecil. Apa engkau kuat membawaku?" tanya Peri Bunga ragu.

"Tubuhmu juga kecil. Kita coba aja. Nanti kalo tidak kuat paling jatuh, hehehe," jawab Kutilang sambil meringis.

Walau masih ragu, secara perlahan Peri Bunga naik ke punggung Kutilang. Tidak lama kemudian Kutilang terbang dengan susah payah menuju puncak pohon meranti. Namun, karena beban yang dibawanya terlalu berat, dia hanya dapat hinggap di ranting dekat anggrek bulan. Selama beberapa saat mereka hanya diam saja. Kutilang sudah tidak sangup lagi mencapai sari bunga anggrek karena nyaris kehabisan nafas, sementara Peri Bunga juga tidak sanggup karena tubuhnya terlalu lemah.

Melihat mereka tergeletak lemah anggrek bulan segera merundukkan tubuh dan menyodorkan sari madunya ke mulut Peri Bunga. Setelah meminumnya setetes Peri Bunga sembuh dan dapat mengepakkan sayapnya kembali. Bersamaan dengan sembuhnya sang peri, para bunga kembali ceria seperti sedia kala. Tetapi ketika Sang Peri hendak menghampiri kutilang, ternyats binatang itu tengah tertelentang dan nyaris kehabisan nafas. Sontak saja Peri Bunga segera terbang menuju anggrek bulan dan meminta setetes madu lagi untuk menyembuhkan Kutilang.

Singkat cerita, setelah diberi setetes madu anggrek bulan Kutilang langsung segar bugar seperti sedia kala. Selain itu, sebagai ungkapan terima kasih, melalui kesaktiannya Peri Bunga mengalihkan suara merdu Merak pada Kutilang. Sebaliknya, suara parau Kutilang dialihkan pada Merak sebagai hukuman atas kesombongannya. Dan sejak saat itu, Kutilang pun memiliki suara merdu, sementara Merak, walau memiliki bulu yang sangat indah, tetapi suaranya parau.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Jenab dan Buaya Buntung

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, pada zaman dahulu kala hidup seorang gadis cantik jelita bernama Jenab. Dia tinggal hanya dengan ibunya di sebuah rumah besar dan indah warisan Sang Ayah. Sebagai anak semata wayang Jenab selalu dimanja oleh orang tuanya. Segala kehendaknya dikabulkan. Oleh karena itu dia pun tumbuh menjadi seorang yang angkuh, sombong dan memandang rendah orang lain. Sifat inilah yang membuat Jenab sulit mendapatkan jodoh. Padahal, banyak sekali pemuda yang tergila-gila akan kecantikannya. Tetapi ketika mencoba mendekati selalu ditolak mentah-mentah tanpa alasan jelas.

Sang Ibu mulai cemas melihat Jenab yang sudah seharusnya memasuki usia perkawinan, menyarankan agar dia memilih salah seorang laki-laki yang pernah datang mendekati. Tujuannya adalah agar dia tidak menjadi perawan tua dan Sang Ibu dapat segera menimang cucu.

"Siapa aje yang pernah kemari?" tanya Jenab ketika Sang Ibu menyarankannya memilih salah seorang pemuda yang pernah mendekati.

"Si Ayub," jawab Sang Ibu singkat.

"Si Ayub orangnya Jelek. Pendek. Idup lagi!" jawab Jenab ketus

"Kalo Mat Bongkar gimane? Die tinggi gede," tanya Sang Ibu.

"Mat Bongkar idungnye pesek. Item lagi. Banyakan maen layangan kali tuh orang," jawab Jenab lebih ketus.

"Ya, udah. Terserah lu aja dah!" kata Sang Ibu jengkel sambil beranjak menuju dapur.

Lain hari, ketika Jenab sedang asyik menyapu teras rumah lewatlah seorang pemuda bernama Roing. Tanpa sengaja, tiba-tiba gulungan kertas yang disapu Jenab terlontar jauh hingga jatuh tepat di kaki Roing. Dia lalu menoleh dan ingin marah kepada orang yang melempar kertas ke arahnya. Namun ketika melihat paras cantik Jenab, amarah Roing segera reda. Dia pun menghampiri.

"Maap, ada yang bisa aye bantu?" tanya Roing lembut setelah mereka berhadapan.

"Lu siapa? Kenal juga kagak. Kurang ajar bener," jawab Jenab seenaknya.

Mendengar jawaban Jenab yang seperti itu membuat Roing menjadi sakit hati. Dia langsung berlalu begitu saja tanpa pamit atau mengucapkan sepatah kata pun. Di sepanjang jalan menuju rumah hatinya terus bergejolak karena sakit mendengar ucapan Jenab yang tidak disangka-sangka. Sesampai di rumah dia lalu berwudlu dan sholat untuk meredakan sakit hatinya. Setelah itu dia tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua bersorban dan berjanggut putih. Sang lelaki tua berkata bahwa dia tidak perlu sakit hati dengan Jenab karena suatu saat nanti pasti akan mendapat balasan yang setimpal atas kesombongannya.

Beralih dari Jenab dan kisah kesombongannya, di lain tempat ada seseorang yang ingin menjadi pencuri kawakan dan disegani. Untuk itu, dia lalu mempelajari ilmu hitam di sebuah gunung angker dengan cara bertapa. Setelah melalui berbagai macam gangguan dan godaan akhirnya sukses menjalankan tapa bratanya. Sebagai imbalannya, pada malam terakhir dia didatangi oleh Sang Penguasa Gunung bernama Jin Afrit. Jin Afrit kemudian memberinya ilmu hitam dengan syarat seumur hidup tidak boleh menikah. Apabila dilanggar, maka akan dikutuk menjadi seekor buaya.

Setelah ilmu hitam diterima dia turun gunung dan kembali ke kampung. Tidak lama berselang dia mulai menjalankan aksi dengan mencuri ke berbagai kampung di seluruh negeri. Hasilnya, tanpa pernah sekali pun tertangkap, dia juga menjadi orang kaya dan terpandang di kampungnya. Banyak para orang tua yang datang dan menginginkannya menjadi menantu. Tetapi karena telah terikat perjanjian dengan Jin Afrit, dengan serta merta ditolaknya seluruh keinginan para orang tua tersebut. Padahal, di dalam hati sebenarnya begejolak keinginan untuk berumah tangga dan memiliki keturunan.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan penyelidikan pada rumah-rumah yang akan menjadi target operasinya, dia melihat Jenab yang kebetulan sedang menyapu. Mata mereka beradu pandang. Tetapi hanya sesaat karena Jenab langsung memalingkan muka dan masuk ke dalam rumah. Tertarik melihat kecantikan dan kemolekan Jenab, Si Pencuri singgah di sebuah warung dan bertanya pada pemiliknya tentang Jenab.

"Dia Jenab. Cantik, tapi belagu orangnya. Kalo ada laki yang ngedeketin pasti ditolak," jawab pemilik warung.

Jawaban pemilik warung membuat Si Pencuri merasa tertantang. Dia jadi lupa kalau masih terikat "kontrak" dengan Jin Afrit. Dalam pikirannya yang ada adalah bagaimana caranya agar dapat menaklukkan gadis cantik jelita dan berbadan sintal itu. Agar niatnya cepat terlaksana, tanpa membuang waktu lagi dia bergegas menuju rumah Jenab. Sesampai di sana tanpa basa basi Si Pencuri mengutarakan maksudnya kepada ibu Jenab. Sang Ibu tidak dapat memutuskan menolak atau menerima lamaran Si Pencuri. Disuruhnya Si Pencuri menunggu sejenak, sementara dia masuk ke rumah untuk memberitahu Jenab. Dan, secara tidak disangka-sangka Jenab yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka segera saja menerima lamaran Si Pencuri. Rupanya, ketika mata mereka beradu pandang Jenab juga jatuh hati pada Si Pencuri.

Beberapa minggu setelah lamaran diterima diadakanlah sebuah pesta perkawinan besar selama tiga hari tiga malam. Jenab dan Si Pencuri resmi menjadi pasangan suami-isteri. Tidak lama kemudian Jenab hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Mereka memberinya nama Mi'ing. Mi'ing tumbuh menjadi seorang anak yang tampan, namun sama seperti orang tuanya, memiliki tabit buruk. Dia hanya mau bermain dengan anak orang kaya saja dan suka mengambil atau bahkan merampas barang milik orang lain. Tabiat buruk ini akhirnya membuat dia cilaka dan cacat seumur hidup akibat terkena bacokan saat kepergok mencuri buah di rumah tetangga.

Selepas kejadian itu, datang lagi musibah lebih besar. Sesuai janji, Jin Afrit datang untuk menghukum Si Pencuri yang telah mengingkari "kontrak" untuk tidak menikah seumur hidup. Dia tidak hanya menghukum Si Pencuri saja, tetapi juga Si Mi'ing dan mengembalikan seluruh harta benda yang telah di curi ke tempat asalnya. Si Pencuri dihukum menjadi buaya besar dan Si Mi'ing menjadi buaya muda yang butung ekornya (karena cacat).

Melihat hal ini Jenab menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka kalau suami dan anaknya dapat berubah menjadi buaya. Selain itu, harta benda pun ludes tanpa menyisakan apa-apa. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur (tanpa suwiran ayam, kecap, dan kerupuk ^_^). Jenab hanya bisa pasrah saat melihat orang-orang yang disayangi merayap keluar dari rumah menuju sungai.

Singkat cerita, sejak itu Jenab menjadi pemurung sehingga wajahnya cepat sekali berkeriput dan menyerupai nenek-nenek. Untuk menghibur diri, pada saat-saat tertentu dia pergi ke tepi sungai menemui suami dan anaknya. Tetapi hanya beberapa bulan saja mereka dapat berkumpul. Selebihnya yang datang hanyalah Si buaya buntung, sementara buaya tua yang lebih besar telah tewas di tangan warga ketika hendak memangsa seseorang yang sedang buang hajat di sungai.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Kunyit Emas

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, tersebutlah seorang pemuda bernama Badu. Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai pencari kayu bakar di hutan. Suatu ketika dia bermaksud menjual kayu bakar di pasar. Hasil penjualannya dibelikan sekantung kecil beras yang bila ditanak hanya cukup untuk beberapa hari saja. Sesampai di rumah dia merasa luar biasa lelah dan dahaga karena matahari bersinar sangat terik. Tetapi ketika hendak menghilangkan rasa dahaga itu ternyata persediaan air telah habis. Sementara untuk mendapatkan air lagi dia harus pergi ke sumber mata air yang jauh letaknya. Sebagai jalan keluarnya dia meminta air ke tetangga sebelah rumah yang terkenal kikir.

"Enak aja. Lu cari aje sendiri!," kata Sang tetangga ketika Badu meminta setahang air.

"Kalo gitu, aye minta segelas aje. Buat pelepas dahage," tanya Badu.

"Kagak bisa. Gua juga jauh nyarinye. Capek! Lu mau bayar berape?" jawab Sang tetangga ketus.

"Baiklah kalo gitu. Makasih," jawab Badu lesu sambil berlalu pergi menuju sumber mata air.

Beberapa jam kemudian sampailah Badu di sumber mata air. Oleh karena rasa haus sudah tidak tertahankan lagi, dia langsung saja meminum air mentah yang keluar dari mata air. Selanjutnya, sebagian air ditampung dalam wadah bambu dan dibawanya pulang. Di rumah air itu digunakan untuk mencuci beras dan sisanya sebagai persediaan minum. Namun, sebelum sempat memakan nasi yang ditanak kepalanya terasa sakit seakan hendak pecah. Rupanya, akibat dehidrasi, kelelahan, serta meminum air mentah tidak higienis membuat Badu jatuh sakit. Dia hanya dapat berbaring tidak berdaya selama beberapa hari karena tidak memiliki uang untuk berobat ke tabib.

Mendengar kalau Badu sakit, Sang tetangga kikir datang menjunguk. Tetapi maksud kedatangannya bukanlah melihat kondisi kesehatan Badu, melainkan ingin membeli kapak yang biasa dipakai menebang kayu kering di hutan sebagai ganti membeli obat. Tentu saja penawaran itu ditolak, sebab apabila dijual maka dia hanya dapat mengumpulkan ranting kering yang harganya sangatlah murah.

Beberapa hari setelahnya, Badu sembuh sendiri tanpa diobati. Walau masih sedikit lemah, dia berusaha pergi ke hutan untuk mencari kayu lagi. Dengan berbekal sebuah kapak berukuran sedang Badu mulai mencari pepohonan kecil yang tidak membutuhkan banyak tenaga saat ditebang. Pepohonan kecil itu sebenarnya tidak terlalu mahal harganya, tetapi karena kondisi fisik belumlah seperti sedia kala maka dia terpaksa menebangnya agar dapat dijual dan uangnya dibelikan beras.

Setelah beberapa kali tebasan, mata kapak mulai melonggar. Dan, saat dia mengayunkan kapak itu pada sebuah pohon muda yang berada di dekat lubuk, mata kapak pun terlepas dan jatuh ke dalam lubuk. Cilakanya, ketika akan diambil ternyata di sekitar tepian lubuk penuh dengan buaya yang bergerombol menjemur diri. Situasi demikian membuat Badu bingung. Bila dia berenang mengambil kapak, kemungkinan besar akan menjadi santapan buaya. Namun bila tidak diambil, niscaya dia akan mati kelaparan karena kapak itu adalah alat penghidupannya.

Pertimbangan akan mati kelaparan inilah yang membuat Badu akhirnya memutuskan untuk nekad menyelam. Dengan sangat berhati-hati dia melangkah dan masuk ke dalam lubuk yang berair sangat keruh sehingga nyaris tidak dapat melihat benda apa pun di dalamnya. Yang dapat dia lihat hanyalah seberkas cahaya putih dan setelah dihampiri adalah sebuah goa besar di dasar lubuk.

Tanpa berpikir panjang Badu langsung memasukinya. Di dalam goa terdapat sebuah lorong menuju "dunia lain" dengan pemandangan berupa bentangan padang rumput luas. Tidak berapa lama kemudian datanglah seorang laki-laki tua berjubah putih menghampiri. "Apa yang engkau cari di dunia kami, hai manusia?" tanya laki-laki tua itu.

"Aye lagi nyari mata kapak yang tenggelam di lubuk. Tapi nyasar nyampe mari, Kong," jawab Badu lugu.

"Mata kapakmu telah berada di dalam perut buaya. Sebagai gantinya, aku akan memberimu karung ini. Ambil dan pulanglah engkau ke tempat asalmu," kata Sang laki-laki tua.

Singkat cerita, pulanglah Badu ke rumah. Sesampai di rumah karung pemberian Sang laki-laki tua segera dibuka dan ternyata berisi ratusan buah kunyit. Badu tersenyum bahagia, sebab apabila daging kunyit telah berwarna sangat kuning dapat dijual dan uangnya digunakan membeli kapak baru. Untuk itu, dia coba mengupas salah satunya. Dan, betapa terkejutnya dia karena di balik lapisan kunyit berisi emas 24 karat. Seluruh kunyit kemudian dikupas dan dijual ke kota. Si Badu pun menjadi kaya mendadak. Dia menjadi orang terkaya di desanya.

Kekayaan mendadak Badu membuat tetangganya yang kikir iri hati. Dia langsung mendatangi dan menanyakan perihal hartanya yang melimpah. Setelah dijelaskan tanpa berpikir panjang dia langsung menuju lubuk dan menyelam mendekati goa. Tetapi belum sempat mencapai bagian mulut goa tubuhnya tiba-tiba ditarik dan dimakan oleh seekor buaya besar. Si Tetangga kikir mati secara mengenaskan.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Si Bener

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, tersebutlah seorang laki-laki bernama Bener. Oleh karena tinggal di daerah pantai, pekerjaannya tiada lain adalah sebagai nelayan. Setiap hari dia pergi ke laut berbekal bekatul sebagai umpan dan sebuah kail berukuran sedang. Namun, setiap hari pula dia selalu bernasib sial. Tidak pernah seekor ikan pun dia dapat, sementara umpannya selalu habis. Hal ini membuat konsentrasi ikan di tempatnya biasa memancing menjadi bertambah banyak. Mereka berebut memakan umpan yang seakan diberikan secara cuma-cuma.

Raja Ikan yang mengetahui keadaan tersebut segera mengumpulkan rakyatnya. "Setiap hari kalian telah diberi makan oleh pengail itu. Apakah kalian tidak menyayanginya?" tanya Sang Raja Ikan ketika mereka telah berkumpul.

Seekor cucut yang bijaksana segera mengerti maksud pertanyaan Sang Raja Ikan. "Wahai Raja, umurku sudah uzur dan tidak berguna lagi. Aku ingin menyerahkan diriku pada Si Pengail karena dia telah memberiku makan setiap hari," katanya.

"Baiklah, Cucut. Sekarang engkau telan intan ini dan pergilah ke tempat dia biasa memancing," kata Raja Ikan.

Tanpa berkata lagi Cucut menelan intan sebesar kepala manusia yang diberikan oleh Raja Ikan. Selanjutnya, dia pergi menuju ke tempat Si Bener yang kebetulan sedang memancing. Cucut menghampiri mata kailnya dan kemudian memakannya sehingga menimbulkan sentakan kuat pada jorang Si Bener.

Terkejut karena baru pertama kali merasakan sentakan jorang, Si Bener langsung berdiri dan berusaha menarik kailnya. Tidak berapa lama setelahnya, dari kejauhan tampaklah seekor ikan cucut luar biasa besar dengan bagian bibir tersangkut mata kail. Ikan itu tidak memberikan perlawanan, walau sebenarnya dia dapat saja mematahkan jorang Si Bener dengan sangat mudah.

Pada saat cucut telah tertangkap, Si Bener melihat ada sebuah perahu nelayan melintas. Dia segera berteriak memanggil Sang nakhoda agar merapat ke dermaga. Setelah perahu merapat, entah mengapa, Si Bener meminta tolong pada Sang Nakhoda agar mengantarkan cucut hasil tangkapannya sebagai persembahan kepada Raja negeri seberang.

"Baiklah," kata Sang Nakhoda sambil memberikan isyarat pada juru mudi untuk melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di negeri seberang, entah mengapa pula, Sang Nakhoda datang menghadap Raja Seberang sambil membawa persembahan yang diberikan oleh Si Bener. Padahal, Si Bener hanyalah golongan orang kebanyakan yang secara kebetulan dijumpainya ketika sedang berlayar. Jadi, dia dapat saja menjual Cucut itu dan diaku sebagai hasil tangkapannya di laut.

"Siapa yang telah berani memberiku seekor ikan bau ini, wahai Nakhoda?" tanya Sang Raja sambil menekan-tekan perut ikan itu.

"Kalau tidak salah namanya Bener, Baginda," jawab Nakhoda.

Namun, ketika Raja hendak murka karena merasa dilecehkan, tiba-tiba tongkatnya menyentuh sebuah benda keras dari dalam tubuh ikan. Benda itu sangat licin sehingga ketika terkena tongkat langsung melesat keluar dari mulut Cucut. "Astaga, ini adalah intan terbesar yang pernah aku lihat," kata Sang Raja setengah berteriak.

"Nakhoda, aku ingin menitipkan sebuah peti berisi emas untuk engkau berikan pada Si Bener sebagai imbalan atas persembahannya," sambung Sang Raja.

"Baik, Baginda," jawab Sang Nakhoda.

Keesokan harinya, setelah menjual hasil tangkapannya, Nakhoda yang sangat jujur ini kembali berlayar menemui Si Bener. Dia sama sekali tidak memiliki niat menyelewengkan peti berisi kepingan emas itu. Padahal, apabila tidak diberikan pada Si Bener nisacaya tidak ada yang tahu. Bahkan, Si Bener sendiri pun sebenarnya juga tidak mengetahui kalau di dalam perut ikan yang dikailnya terdapat intan sebesar kepala manusia.

Sesampainya di dusun Si Bener, Sang Nakhoda langsung menyerahkan peti emas pemberian Raja Seberang kepada Si Bener yang kebetulan sedang mengail ikan di dekat dermaga. Setelah membuka petinya bukan main senang hati Si Bener. Dia lalu menyerahkan sebagian keping emas itu kepada Sang Nakhoda sebagai imbalan atas jasanya, sementara sisanya dibawa pulang. Dan, sebagaimana layaknya orang kaya baru, dalam waktu singkat Si Bener telah memiliki sebuah rumah besar, ratusan hewan ternak, serta puluhan hektar sawah dan ladang.

Berita tentang Si Bener yang mendadak menjadi kaya raya karena diberi hadiah dari Raja seberang lautan tentu saja cepat tersebar ke seluruh pelosok negeri. Mereka ada yang turut senang karena menilai bahwa Si Bener orang jujur dan ada pula yang iri sekaligus dengki. Salah seorang di antara mereka adalah Raja yang memerintah di negeri tempat Si Bener tinggal. Dia merasa tersaingi karena Si Bener hampir menyamai kekayaan dirinya. Oleh karena itu, dia berusaha mengatur siasat agar dapat menguasai seluruh harta kekayaan Si Bener. Adapun caranya adalah dengan memaksa Si Bener mengumpulkan selaksa jarum yang dahulu jatuh ke laut sewaktu berada dalam perahu dagang milik Raja. Apabila tidak dapat mengumpulkan seluruhnya, maka hukum pancunglah yang akan menantinya.

Si Bener yang mendapat perintah demikian langsung kecut hatinya. Manalah mungkin dia dapat menemukan jarum-jarum kecil yang telah lama berada di dasar samudera. Tetapi dia terpaksa mematuhi perintah Sang Raja karena bila tidak, maka nyawanyalah yang akan melayang. Dengan langkah guntai dia berjalan menuju tempatnya biasa memancing. Di tempat itu dia duduk termenung putus asa sambil memikirkan nasibnya yang malang.

Keputusasaan yang tercermin dari raut muka Si Bener ternyata dilihat oleh Raja ikan. Dia lalu mendatangi Si Bener dan berkata, "Wahai Pengail, mengapa engkau tampak murung? Apakah engkau sudah tidak memiliki bekatul lagi untuk dijadikan umpan?"

"Bukan," jawab Si Bener singkat. Dia tidak sadar kalau ikan itu dapat berbicara.

"Apa kailmu patah?" tanya Raja ikan menyelidik.

"Bukan juga. Aku diperintahkan oleh Raja untuk mencari selaksa jarum yang dulu pernah tenggelam," jawab Si Bener.

"Hahaha..hanya itu? Engkau tunggu saja di sini wahai Pengail. Aku akan mencarinya untukmu. Jangan kemana-mana!" jawab Raja Ikan.

Setelah berkata demikian, Raja Ikan segera mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk mencari dan mengumpulkan selaksa jarum milik Raja darat. Tidak berapa lama kemudian, seluruh jarum telah terkumpul dan diserahkan kepada Si Bener. Oleh Si Bener, jarum dibawa menggunakan sebuah peti untuk diserahkan kepada Raja. Raja yang terkejut melihat perintahnya dapat dilaksanakan dengan mudah, Raja lalu menitah lagi mengambil pedang wulung yang ikut tenggelam bersama jarum. Tanpa membantah Si Bener kembali ke pantai dan meminta pertolongan kepada Raja Ikan.

"Pedang wulung adalah milik Raja Buaya. Engkau bilang saja kalau pedang itu sudah ada di muara. Rajamu tinggal mengambilnya saja. Biarlah nanti dia yang berhadapan dengan Raja Buaya," kata Raja Ikan panjang lebar.

Singkat cerita, Si Bener menghadap Raja lagi dan mengatakan bahwa pedang wulung telah berada di muara. Raja dipersilahkan untuk mengambilnya karena Raja Buaya sendirilah yang akan memberikannya. Raja pun menuruti perkataan Si Bener. Bersama para pengawalnya dia pergi menuju muara. Di sana dia duduk bersila sambil menanti kedatangan Raja Buaya. Tidak berapa lama kemudian Raja Buaya muncul dari permukaan air dan mulai mendekat. Dan, ketika telah berhadapan, tanpa berkata-kata Sang Raja Buaya langsung dan menyeretnya ke dalam air. Raja pun akhirnya mati mengenaskan.

Diceritakan kembali oleh Gufron

Si Mirah dari Marunda

(Cerita Rakyat Daerah DKI Jakarta)

Alkisah, pada suatu malam di zaman kumpeni di rumah Babah Yong terjadi suatu perampokan. Para centeng kaki tangan Babah Yong ada yang terkapar tidak sadarkan diri dan ada pula yang merintih kesakitan karena tulang kaki dan atau tangannya patah. Sementara Babah Yong sendiri terikat pada sebuah tiang di ruang tengah. Sebagian besar perabot dalam rumah yang terletak di daerah Kemayoran itu hancur dan berserakan, sedangkan barang-barang berharganya telah dibawa kabur oleh kawanan perampok.

Setelah mendapat laporan warga, malam itu juga penguasa daerah Kemayoran yang bernama Tuan Ruys bergegas datang bersama Nadir Bek Kemayoran dan para opasnya untuk mencari petunjuk dari bekas-bekas perampokan. Dari hasil olah tempat kejadian perkara, Tuan Ruys menyimpulkan bahwa perampokan itu adalah ulas Asni sehingga dia memerintahkan Bek Kemayoran untuk menangkapnya.

Keesokan harinya, Bek Kemayoran datang ke kantor Tuan Ruys dengan membawa seorang pemuda tampan dan gagah. Pemuda itu berjalan dengan tangan terborgol di belakang. "Saya sudah tangkap orang yang tuan cari," kata Bek Kemayoran.

"Langsung masukkan dia ke penjara, Saeyan!" perintah Tuan Ruys pada Bek Kemayoran.

Oleh karena merasa tidak bersalah, Asni keberatan apabila harus dimasukkan ke penjara. Dia pun menjelaskan pada Tuan Ruys kalau malam itu dia ada di rumah dan tidak pergi kemana-mana. Alibinya didukung oleh beberapa saksi yang menyatakan bahwa Asni memang tidak pergi kemana-mana. Ternyata alibi Asni sangat kuat sehingga Tuan Ruys tidak dapat begitu saja menjebloskannya ke penjara.

Agar tidak kehilangan muka di masyarakat karena telah salah tangkap, maka Tuan Ruys memberi syarat pada Asni kalau tidak ingin masuk penjara. Syarat tersebut adalah Asni harus dapat menangkap kepala perampok yang sebenarnya. Apabila tidak berhasil, sebagai gantinya dia akan dijebloskan ke penjara. Tanpa pikir panjang Asni mensetujui syarat itu.

Di lain tempat, yaitu di daerah Marunda, ada seorang gadis cantik bernama Mirah. Dia tinggal bersama ayahnya yang bernama Bang Bodong, sementara ibunya telah meninggal ketika dirinya baru berusia tiga tahun. Oleh Bang Bodong, Mirah sangat disayangi dan dirawat dengan penuh kesabaran dengan tujuan agar menjadi seorang wanita utuh yang dapat dibanggakan. Tetapi anehnya, Mirah malah lebih suka bermain dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Mereka sering bermain dayung dan berenang di muara Sungai Blencong, sehingga tidak aneh bila Mirah dapat berenang dengan cepat walaupun harus melawan arus sungai.

Selain berenang, Mirah juga tertarik pada ilmu silat. Sebagai penyalurannya, dia turut bergabung bersama teman-temannya berlatih silat pada malam hari. Melihat bakat dan ketekunan Mirah dalam berlatih silat, Bang Bodong jadi berubah pikiran dan malah ingin membuatnya menjadi jagoan silat. Untuk itu, dia pun secara rutin melatih Mirah bersilat. Dan, dalam waktu yang tidak terlalu lama dia sudah menjadi ahli silat. Ketika dipertarungkan, Mirah selalu dapat mengalahkan lawan tandingnya hingga dia sangat disegani di daerah Marunda.

Setelah puterinya menjadi jagoan, Bang Bodong bukannya senang. Dia malah khawatir akan masa depan Mirah. Bagaimanapun juga Mirah adalah seorang perempuan yang kelak akan menjadi seorang pendamping suami. Apabila saat ini seluruh lelaki ditolak karena tidak dapat mengalahkannya dalam beradu silat, maka kemungkinan besar dia sulit menikah dan menjadi perawan tuan.

Pada saat Bang Bodong sedang gundah gulana karena tidak ada lelaki yang dapat mengalahkan puterinya, datanglah Azni ke Marunda untuk mencari jejak kawanan perampok rumah Babah Yong. Tetapi ketika akan masuk perkampungan, dia ditegur oleh penjaga gardu karena tidak meminta izin terlebih dahulu.

"Kenapa saya harus meminta izin? Ini kan masih siang," kata Asni polos.

Pertanyaan Asni itu ternyata membuat penjaga kampung Marunda tersinggung. Dia langsung melotot dan berusaha menendang Asni. Namun, tendangannya dapat dihindari oleh Asni hingga membuat si penjaga hilang keseimbangan dan terjerembab ke tanah. Begitu juga dengan temannya yang turun dan ikut menyerang, dapat dipelintir sedemikian rupa hingga mengaduh kesakitan.

Keduanya langsung kabur dari gardu yang dijaganya dan pergi ke rumah Bang Bodong. Sesampainya di sana mereka melaporkan bahwa telah diserang oleh seorang perusuh yang sedang mabuk. Kontan saja Bang Bodong menjadi marah dan berlari menuju gardu mencari si perusuh. Ketika bertemu si perusuh, tanpa bertanya lagi Bang Bodong langsung menyerang menggunakan jurus-jurus silat yang mematikan. Tetapi sama saja seperti kedua penjaga gardu, Bang Bodong tersungkur dengan sendirinya, walau Azni terpaksa harus meloncat, bersalto ke belakang, dan berguling-guling untuk menghindari serangannya.

Kekalahan Bang Bodong dari seorang pemuda tanggung akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Marunda. Hal ini membuat Mirah "gerah" dan ingin menantang Asni bertarung untuk mengembalikan martabat sang ayah. Untuk itu, dia pun mendatangi Asni yang masih berada di Marunda. Ketika telah berhadapan, tanpa basa-basi Mirah langsung menyerang menggunakan tongkat dan jurus-jurus yang sangat mematikan. Tetapi, seperti halnya Bang Bodong dan kedua penjaga gardu, seluruh serangan Mirah dapat dielakkan dan bahkan membuatnya terlempar sendiri ke dalam kolam.

Dengen tubuh penuh lumpur kolam Mirah bangkit lagi lalu meraih pedang yang sejak tadi hanya disarungkan dekat pinggangnya. Tetapi entah bagaimana, dalam beberapa serangan pedang tersebut terlepas dan Mirah malah terpelanting ke pohon yang banyak cabangnya. Ketika jatuh, tubuhnya langsung ditangkap oleh Asni sambil tersenyum-senyum. Mirah menjadi semakin marah dan hendak mencekik Asmi. Untungnya, Bang Bodong yang dari tadi mengikuti jalannya pertarungan itu segera berteriak, "Berhenti! Kamu harus mengakuinya sebagai pemenang, Mirah. Dan sesuai dengan janjimu, pemuda ini berhak menjadi suamimu!"

Singkat cerita, Asni diterima sebagai menantu oleh Bang Bodong. Dan dengan demikian, segala perselisihan diantara mereka pun dapat diselesaikan. Bang Bodong akhirnya tahu bahwa Asni bukanlah pemuda mabok pembuat onar. Di datang ke Marunda karena ingin mencari pimpinan kawanan perampok yang telah menyatroni rumah Babah Yong. Bang Bodong tahu bahwa pimpinan kawanan perampok tersebut tidak lain adalah Tirta. Untuk dapat menangkapnya, Bang Bodong memberi usul agar Tirta bersama Bek Kemayoran dan Tuan Ruys diundang dalam perkawinan Asni dan Mirah.

Setelah undangan disebar secara besar-besaran, pada hari pelaksanaan perkawinan para tamu pun berdatangan dari berbagai pelosok. Saat Tirta datang, dia menjadi kaget bukan kepalang karena melihat Bek Kemayoran dan Tuan Ruys bersama para opasnya juga ada di sana. Begitu juga ketika Tirta duduk, mereka juga ikut duduk dengan posisi seolah-olah mengelilingi dan mengepungnya. Tirta menjadi gusar lalu mengeluarkan pistolnya untuk menembak Bek Kemayoran sekaligus menakuti opas-opas Tuan Ruys. Tetapi tembakan Tirta meleset dan malah membuat panik para tamu. Ketika dia hendak melepaskan tembakan kedua, Bang Bodong yang berusaha menghalangi malah tertembak dadanya hingga tidak sadarkan diri.

Sejurus setelah itu Tirta kabur dari acara pernikahan. Para opas, centeng serta kedua pengantin segera mengejarnya. Namun, dari seluruh pengejarnya hanya Mirah yang paling cepat dan dapat menyusul Tirta. Terjadilah pergumulan di antara mereka yang berakhir dengan sebuah letusan senjata. Wajah tirta seketika pucat dan ambruk ke tanah.

"Aku sudah lega dapat berjumpa dengamu, Mirah. Ambilah benda ini sebagai hadiah pernikahanmu," kata Tirta meringis kesakitan sambil menyerahkan sebuah bungkusan.

Ketika Asni menyusul, Mirah lalu membuka bungkusan itu yang ternyata berisi pending emas. Dengan rasa haru Mirah memperkenalkan Asni pada Tirta, "Ini suami saya, Bang."

"Kamu sebenarnya adalah adikku, Asni. Kita satu ayah, namun ibuku dari Karawang, sedangkan ibumu dari Banten," kata Tirta terbata-bata sambil memegang lengan Asni sebelum fisiknya melemah dan akhirnya tewas kehabisan darah.

Asni dan Mirah lalu pulang ke rumah untuk merawat Bang Bodong yang terkena peluru Tirta. Setelah Bang Bodong sembuh, beberapa minggu kemudian pasangan pengantin baru itu pindah ke Kemayoran. Di sana mereka hidup berbahagia hingga akhir hayat.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
NUSANTARA COSMIC ECHOES - Pink Floyd Style Progressive Rock

Archive