Si Ucup dan Kelongwewe

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang nenek yang memperingatkan cucunya agar tidak keluar rumah karena hati telah malam. Namun, Sang cucu menolak dengan alasan sedang terang bulan. Banyak anak-anak yang keluar rumah dan bermain di halaman rumah. Adapun permainannya bergantung pada gender yang bersangkutan. Bila anak perempuan, mereka bermain congklak, lompat karet, dan lain sebagainya. Sedangkan anak laki-laki umumnya bermain petak umpet.

"Kalo lu pergi nanti diculik Kelongwewe," ujar Sang Nyak tua (nenek) menakuti.

"Apaan tuh?" tanya Sang cucu.

"Setan", jawab Nyak tua singkat.

"Bentuknye?", Sang cucu penasaran.

"Serem! Rambutnye gimbal panjang, matanye belo kayak mau keluar, lidahnye juge panjang kayak ular. Rumahnya di pohon gede. Kalau habis magrib dia keluar nyariin anak-anak buat diculik", jelas Nyak tua.

"Wiiiiih, syerem banget!" seru Sang cucu sambil merapat pada Nyak tua.

Agar sang cucu lebih merapat Nyak tua mulai bercerita bahwa dahulu di kampung sebelah pernah ada anak kecil yang diculik kelongwewe karena selepas magrib masih asyik bermain dan belum mau pulang. Dia bernama Ucup. Si Ucup diculik dan dibawa ke rumah kelongwewe, sehingga orang tuanya kebingungan. Mereka mendatangi seluruh lokasi yang biasa disambangi Si Ucup untuk bermain serta ke rumah teman-temannya, namun tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.

Hampir putus asa, mereka memutuskan datang ke Nyak Iden. Dia adalah "orang pintar" yang berprofesi sebagai dukun beranak. Menurut keterangan Nyak Iden, Si Ucup diculik dan disembunyikan Kelongwewe. Sambil membakar kemenyan dan berkomat-kamit membaca mantera dia mencari petunjuk keberadaan Ucup. Dan, setelah mendapatkan bisikan gaib dia lalu memerintahkan orang tua Ucup pergi ke sebuah pohon besar yang berada di batas kampung. Di sanalah Kelongwewe itu menyembunyikan Si Ucup.

Ucapan Nyak Iden ternyata benar. Sesampai di pohon besar keduanya bersama sebagian penduduk kampung melihat Si Ucup tengah duduk termangu dengan tatapan kosong. Ketika ditanya dia hanya membisu dan tidak membalas sedikit pun. Oleh karena itu, Nyak Iden dipanggil untuk mengobati. Dan, baru pada hari ketiga dia dapat berbicara kembali.

Menurut penuturan Si Ucup, sewaktu akan pulang terpisah dengan teman-teman yang lari berhampuran tanpa mempedulikan satu dengan lainnya. Di tengah perjalanan dia berjumpa dengan perempuan tua yang membujuk agar turut ke rumah. Sebenarnya dia ingin menolak, tetapi entah mengapa, tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya menurut saja ketika tangannya digenggam oleh perempuan itu. Mereka kemudian menuju pohon besar tempat dia duduk termangu sebelum ditemukan oleh orang tuanya.

Cerita Nyak tua tadi, entah benar atau hanya rekaan belaka, rupanya mampu mempengaruhi Sang cucu. Dia mengurungkan niat untuk bermain bersama teman-temannya di bawah sinar bulan purnama. Di dalam pikirannya sudah terbayang perempuan tua yang mengintai dari balik pepohonan dan siap untuk menculik siapa saja yang tengah lengah atau kosong pikirannya.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: