Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts

Asal Usul Desa Tanara

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Pada masa silam, jauh sebelum wilayah Banten dikenal sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara, hamparan tanah di sepanjang aliran Sungai Cidurian masih berupa hutan lebat, rawa-rawa, dan ladang kecil yang dikelola oleh masyarakat setempat. Wilayah ini sunyi, tetapi subur, dan menjadi tempat hidup kelompok-kelompok masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada alam. Dari tanah inilah kelak lahir sebuah desa yang memiliki peran penting dalam sejarah Banten, yaitu Desa Tanara.

Masyarakat awal yang mendiami wilayah Tanara hidup sederhana. Mereka bercocok tanam, menangkap ikan di sungai, dan berburu di hutan. Kehidupan berjalan selaras dengan alam, namun masih diliputi kepercayaan lama yang bercampur dengan unsur animisme dan dinamisme. Setiap pohon besar, batu, dan aliran air diyakini memiliki penunggu yang harus dihormati. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai cara menjaga keseimbangan hidup.

Perubahan besar mulai terjadi ketika kabar tentang agama Islam perlahan-lahan masuk ke wilayah Banten melalui jalur perdagangan.

Sebelum masa perubahan itu, kehidupan sosial masyarakat Tanara diikat kuat oleh adat dan tradisi leluhur. Setiap peristiwa penting dalam hidup (seperti kelahiran, panen, pernikahan, hingga kematian) selalu disertai upacara adat. Upacara tersebut dipimpin oleh tetua kampung yang dipercaya memiliki pengetahuan spiritual dan kemampuan berkomunikasi dengan alam gaib. Sesajen berupa hasil bumi, bunga, dan air sungai disiapkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penjaga alam.

Masyarakat Tanara juga hidup dalam ikatan gotong royong yang kuat. Ketika membuka ladang, membangun rumah, atau memperbaiki perahu, seluruh warga terlibat tanpa mengharapkan imbalan. Nilai kebersamaan ini diyakini sebagai warisan leluhur yang menjaga keharmonisan desa. Pelanggaran terhadap adat, seperti bersikap serakah atau merusak alam, dipercaya akan mendatangkan bala berupa penyakit atau gagal panen.

Dalam cerita lisan yang berkembang, wilayah Tanara diyakini dijaga oleh makhluk halus penjaga sungai dan hutan. Penjaga ini tidak menampakkan diri secara nyata, tetapi kehadirannya dirasakan melalui tanda-tanda alam. Jika sungai tiba-tiba meluap tanpa hujan atau hutan menjadi sunyi tanpa suara binatang, masyarakat menganggapnya sebagai peringatan agar mereka kembali menjaga sikap dan perilaku.

Beberapa tempat di Tanara dianggap keramat, seperti pohon besar di tepi sungai atau batu tua yang diyakini sebagai tempat bersemayam roh leluhur. Masyarakat dilarang berkata kasar atau berbuat sembarangan di tempat-tempat tersebut. Larangan ini bukan semata-mata karena rasa takut, melainkan sebagai cara menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia tak kasatmata.

Ketika Maulana Hasanuddin datang, ia memahami kuatnya ikatan adat dan spiritual masyarakat Tanara. Ia tidak serta-merta menghapus kepercayaan lama, melainkan mengarahkannya secara perlahan. Nilai penghormatan kepada leluhur diterjemahkan sebagai penghormatan kepada orang tua dan guru, sementara rasa takut kepada penjaga alam diarahkan menjadi kesadaran akan kebesaran Tuhan.

Dalam proses dakwahnya, Maulana Hasanuddin kerap mengaitkan ajaran Islam dengan cerita-cerita lokal. Ia menjelaskan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga, dan bahwa doa dapat menggantikan sesajen sebagai bentuk permohonan. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa bahwa ajaran baru tidak memutus hubungan mereka dengan tradisi, melainkan menyempurnakannya.

Legenda lokal bahkan menyebutkan bahwa pada malam-malam tertentu, cahaya lembut terlihat di sekitar tempat Maulana Hasanuddin bermeditasi dan berdoa. Masyarakat menafsirkan cahaya itu sebagai tanda keberkahan dan penerimaan alam terhadap dakwah yang dilakukan. Sejak saat itu, Tanara semakin diyakini sebagai tanah yang diberkahi dan dilindungi secara spiritual. Para saudagar dari berbagai negeri datang membawa barang dagangan sekaligus ajaran baru. Sungai menjadi jalur utama pergerakan, dan wilayah Tanara yang berada di tepi sungai mulai sering disinggahi para pendatang. Dari sinilah benih-benih perubahan sosial dan keagamaan mulai tumbuh.

Di antara para pendatang tersebut, terdapat seorang ulama muda bernama Maulana Hasanuddin, putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dalam perjalanannya menyebarkan Islam, Maulana Hasanuddin menyusuri wilayah Banten dan singgah di daerah yang kelak dikenal sebagai Tanara. Ia melihat potensi wilayah tersebut sebagai pusat dakwah karena letaknya strategis dan masyarakatnya terbuka terhadap ajaran baru.

Maulana Hasanuddin tidak datang dengan paksaan. Ia memilih pendekatan yang lembut, menyatu dengan masyarakat, menghormati adat setempat, dan memperkenalkan ajaran Islam secara bertahap. Ia sering berdialog dengan para tetua kampung, menjelaskan nilai-nilai keislaman yang sejalan dengan prinsip hidup mereka, seperti keadilan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam.

Lambat laun, ajaran Islam mulai diterima. Beberapa tokoh masyarakat menyatakan diri memeluk Islam dan membantu Maulana Hasanuddin menyebarkan ajaran tersebut. Sebagai pusat kegiatan keagamaan, dibangunlah sebuah langgar sederhana dari kayu dan bambu. Langgar ini menjadi tempat salat, belajar agama, dan bermusyawarah.

Nama Tanara konon berasal dari ungkapan masyarakat setempat yang menggambarkan wilayah tersebut sebagai tanah yang terang dan membawa pencerahan. Dalam penuturan lisan, Tanara dimaknai sebagai tempat munculnya cahaya ilmu dan keimanan. Seiring waktu, sebutan tersebut melekat dan digunakan sebagai nama desa.

Dengan semakin berkembangnya komunitas Muslim, Tanara tumbuh menjadi perkampungan yang tertata. Rumah-rumah mulai dibangun lebih permanen, ladang diperluas, dan hubungan sosial semakin kuat. Sungai tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga jalur penyebaran ajaran dan budaya baru.

Peran Tanara semakin penting ketika Maulana Hasanuddin menetapkan wilayah ini sebagai salah satu pusat dakwah dan pemerintahan awal. Dari Tanara, ia mengatur strategi penyebaran Islam ke wilayah Banten lainnya. Desa ini pun menjadi tempat berkumpulnya ulama, santri, dan tokoh masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan Banten pertama. Meski pusat pemerintahan kemudian berpindah, Tanara tetap memiliki kedudukan istimewa sebagai tempat kelahiran dan makam Sultan Maulana Hasanuddin. Hal ini menjadikan Tanara tidak hanya sebagai desa biasa, tetapi juga sebagai ruang sejarah dan spiritual.

Masyarakat Tanara menjaga warisan tersebut dengan penuh hormat. Tradisi keagamaan, ziarah, dan peringatan hari-hari besar Islam terus dilakukan. Cerita tentang asal-usul desa ini diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pengingat akan perjuangan dakwah dan pentingnya hidup dalam kebersamaan.

Hingga kini, Desa Tanara dikenal sebagai salah satu desa bersejarah di Kabupaten Serang. Asal-usulnya tidak hanya mencerminkan terbentuknya sebuah wilayah, tetapi juga perjalanan panjang perubahan keyakinan, budaya, dan identitas masyarakat Banten. Kisah ini menjadi bukti bahwa sebuah desa dapat tumbuh besar melalui nilai ilmu, toleransi, dan kebijaksanaan para pendahulunya.

Legenda Danau Tasikardi

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Pada masa kejayaan Kesultanan Banten, ketika pusat pemerintahan berdiri megah di Surosowan dan kehidupan istana diatur dengan tata krama yang ketat, wilayah di sekitarnya masih didominasi oleh hutan, rawa, dan perkampungan rakyat. Alam Banten kala itu dikenal subur, tetapi juga menyimpan tantangan tersendiri. Pada musim kemarau panjang, ketersediaan air bersih menjadi persoalan penting, bahkan bagi lingkungan istana. Dari kebutuhan inilah kelak lahir sebuah danau buatan yang bukan hanya berfungsi secara praktis, tetapi juga diselimuti kisah legenda yang hidup hingga kini: Danau Tasikardi.

Sultan Maulana Yusuf, putra Sultan Maulana Hasanuddin, dikenal sebagai pemimpin yang tegas, berwawasan luas, dan memiliki perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kelangsungan Kesultanan Banten. Ia menyadari bahwa kekuatan sebuah kerajaan tidak hanya terletak pada bala tentara atau benteng pertahanan, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana. Air, sebagai sumber kehidupan, menjadi perhatian utama sang Sultan.

Pada suatu masa, istana Surosowan menghadapi masalah serius. Pasokan air untuk kebutuhan istana dan masyarakat di sekitarnya mulai tidak mencukupi. Sungai-sungai kecil yang selama ini dimanfaatkan tak lagi mampu memenuhi kebutuhan, terutama ketika kemarau datang berkepanjangan. Para abdi dalem, ulama, dan penasihat kerajaan mengadakan musyawarah, mencari solusi terbaik agar kehidupan istana tetap berjalan tanpa mengorbankan rakyat.

Dalam perenungan panjangnya, Sultan Maulana Yusuf mendapatkan gagasan untuk membangun sebuah danau buatan yang mampu menampung air dalam jumlah besar. Danau ini tidak hanya akan menjadi cadangan air, tetapi juga simbol kemakmuran dan kecanggihan peradaban Banten. Namun, membangun danau bukanlah perkara mudah. Diperlukan tenaga besar, keahlian teknis, dan yang tak kalah penting, restu alam dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sultan kemudian memerintahkan para arsitek kerajaan, ahli tata air, serta tokoh-tokoh spiritual untuk bersama-sama merancang danau tersebut. Setelah melalui berbagai pertimbangan, dipilihlah sebuah lokasi yang strategis tidak jauh dari istana, namun cukup tinggi agar air dapat dialirkan melalui saluran khusus. Lokasi itu kemudian dikenal sebagai Tasikardi yang berasal dari kata "tasik" berarti danau, dan "ardi" yang berarti indah atau luhur.

Pembangunan Danau Tasikardi dimulai dengan gotong royong besar-besaran. Rakyat dari berbagai penjuru Banten datang membantu, membawa peralatan sederhana seperti cangkul, linggis, dan keranjang tanah. Mereka bekerja dari pagi hingga senja, diiringi doa dan lantunan dzikir. Konon, pada malam hari, para ulama dan sesepuh melakukan tirakat agar pekerjaan berjalan lancar dan terhindar dari marabahaya.

Menurut cerita rakyat, selama proses pembangunan, sering terjadi peristiwa-peristiwa yang dianggap di luar nalar. Tanah yang digali terasa lebih ringan dari biasanya, dan air yang muncul dari dalam bumi mengalir dengan teratur seolah mengikuti rancangan yang telah ditentukan. Sebagian masyarakat percaya bahwa makhluk halus penjaga alam turut membantu, karena pembangunan danau dilakukan dengan niat baik dan tidak merusak keseimbangan alam.

Setelah bertahun-tahun bekerja, Danau Tasikardi akhirnya terbentuk. Airnya jernih dan tenang, memantulkan langit serta pepohonan di sekitarnya. Dari danau ini, air dialirkan ke istana Surosowan melalui saluran bawah tanah yang canggih untuk ukuran zamannya. Sistem ini membuat kebutuhan air istana terpenuhi tanpa harus mengganggu sumber air masyarakat.

Danau Tasikardi tidak hanya berfungsi sebagai penampung air. Tempat ini juga menjadi ruang perenungan dan rekreasi bagi keluarga kerajaan. Sultan Maulana Yusuf sering datang ke tepi danau untuk menenangkan pikiran, bermeditasi, dan bersyukur atas karunia Tuhan. Keindahan dan ketenangan danau membuatnya dianggap sebagai tempat yang memiliki nilai spiritual tinggi.

Seiring waktu, masyarakat mulai meyakini bahwa Danau Tasikardi memiliki kekuatan magis. Airnya dipercaya membawa berkah dan siapa pun yang datang dengan niat baik akan mendapatkan ketenangan batin. Namun, legenda juga menyebutkan bahwa danau ini akan murka jika manusia bersikap serakah atau merusak alam di sekitarnya.

Hingga kini, Danau Tasikardi tetap menjadi saksi bisu kejayaan Kesultanan Banten. Namun, di balik ketenangan permukaannya, masyarakat meyakini bahwa danau ini menyimpan kisah-kisah mistis yang menambah kekhidmatan namanya.

Menurut cerita para sesepuh, sebelum Danau Tasikardi dibangun, wilayah tersebut merupakan tempat bersemayam makhluk penjaga alam. Mereka bukan makhluk jahat, melainkan penunggu yang bertugas menjaga keseimbangan tanah, air, dan hutan di sekitarnya. Oleh karena itu, sebelum pembangunan dimulai, Sultan Maulana Yusuf memerintahkan para ulama dan tokoh adat untuk menggelar ritual permohonan izin kepada para penjaga alam. Ritual ini dilakukan pada malam hari dengan penerangan obor dan lantunan doa-doa yang khusyuk.

Konon, pada malam pelaksanaan ritual tersebut, beberapa orang melihat cahaya-cahaya kecil berkilauan di atas tanah yang kelak menjadi danau. Cahaya itu bergerak perlahan, seolah mengamati manusia yang sedang berdoa. Tidak ada rasa takut yang muncul, justru suasana terasa damai dan menenangkan. Para ulama menafsirkan peristiwa itu sebagai tanda bahwa alam merestui pembangunan Danau Tasikardi.

Selama proses pembangunan, para pekerja juga mengalami kejadian-kejadian aneh. Alat-alat kerja yang tertinggal di malam hari sering ditemukan dalam posisi rapi keesokan paginya. Galian tanah yang semula runtuh tiba-tiba mengeras dan mudah dibentuk. Masyarakat percaya bahwa makhluk penjaga danau membantu pekerjaan manusia karena niat pembangunan dilakukan untuk kemaslahatan bersama, bukan demi keserakahan.

Legenda lain menyebutkan adanya sosok gaib yang dikenal sebagai Penjaga Tasikardi, digambarkan sebagai pria tua berjubah putih yang sesekali menampakkan diri di sekitar danau. Sosok ini dipercaya sebagai perwujudan spiritual penjaga air. Ia tidak pernah mengganggu manusia, tetapi akan memberi peringatan kepada siapa pun yang berniat merusak danau atau bersikap tidak sopan.

Beberapa cerita rakyat mengisahkan bahwa orang-orang yang datang ke Danau Tasikardi dengan niat buruk akan merasakan kegelisahan tanpa sebab. Langkah mereka terasa berat, pikiran menjadi kacau, dan keinginan buruk itu perlahan menghilang. Sebaliknya, mereka yang datang dengan hati bersih sering merasakan ketenangan batin dan kejernihan pikiran setelah berada di tepi danau.

Pada malam-malam tertentu, terutama ketika bulan purnama, permukaan Danau Tasikardi dipercaya memantulkan cahaya yang berbeda dari danau biasa. Airnya tampak berkilau lembut, dan suasana di sekitarnya terasa hening dan sakral. Masyarakat sekitar meyakini bahwa pada saat-saat itulah para penjaga danau sedang berkeliling memastikan keseimbangan alam tetap terjaga.

Legenda juga menyebutkan sumpah leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Sumpah itu berbunyi bahwa Danau Tasikardi akan memberikan keberkahan selama manusia menjaga kesucian dan kelestariannya. Namun, jika manusia serakah, merusak lingkungan, dan melupakan nilai-nilai luhur, danau akan menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangannya melalui air yang surut, keruh, atau bencana alam di sekitarnya.

Kisah-kisah mistis ini membuat Danau Tasikardi bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan ruang sakral yang dihormati. Hingga kini, sebagian masyarakat masih menabur bunga atau memanjatkan doa singkat ketika berkunjung ke danau sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur.

Dengan demikian, legenda Danau Tasikardi tidak hanya menceritakan kecanggihan tata air Kesultanan Banten, tetapi juga mengajarkan bahwa keberhasilan manusia selalu berkaitan dengan sikap hormat terhadap kekuatan yang lebih besar, baik itu Tuhan, alam, maupun nilai-nilai spiritual yang diwariskan oleh para leluhur.

Asal Usul Sungai Cibanten

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, pada masa lampau ketika wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Serang masih berupa hamparan hutan lebat dan perkampungan kecil yang terpencar, kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kemurahan alam. Hutan menyediakan kayu dan hasil buruan, sementara ladang dan sawah menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, di balik kesuburan tanahnya, wilayah ini kerap menghadapi persoalan besar: ketersediaan air yang tidak menentu. Pada musim hujan, air melimpah hingga menenggelamkan ladang, sedangkan pada musim kemarau panjang tanah mengering dan retak, menyebabkan tanaman mati dan hasil panen gagal.

Di tengah kondisi tersebut, hiduplah seorang tokoh tua yang dikenal dengan sebutan Ki Banten. Ia bukan bangsawan istana, bukan pula seorang prajurit, tetapi sosoknya dihormati karena kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kedalaman ilmu spiritualnya. Ki Banten sering berpindah dari satu kampung ke kampung lain, mendengarkan keluh kesah rakyat, memberi nasihat, dan membantu sebisanya. Bagi masyarakat, Ki Banten adalah penghubung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Suatu tahun, kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Sungai-sungai kecil yang selama ini menjadi sumber air mulai menyusut. Sumur-sumur warga mengering, dan ternak banyak yang mati kehausan. Para petani hanya bisa memandangi sawah mereka yang berubah menjadi tanah keras berdebu. Setiap malam, masyarakat berkumpul di balai kampung untuk berdoa, berharap hujan segera turun atau mukjizat datang menyelamatkan kehidupan mereka.

Mendengar penderitaan itu, Ki Banten merasa terpanggil. Ki Banten percaya bahwa alam tidak pernah kejam tanpa alasan; manusialah yang sering lupa menjaga keseimbangan. Dengan niat suci, ia memutuskan untuk melakukan tapa brata, sebuah laku spiritual yang diyakini dapat membuka jalan petunjuk. Ki Banten memilih sebuah bukit sunyi di pedalaman, jauh dari hiruk pikuk perkampungan. Di sanalah dia berpuasa, bermeditasi, dan memanjatkan doa-doa selama beberapa hari.

Pada malam ketujuh tapa brata, langit di atas bukit tampak berbeda. Angin bertiup lebih kencang, dedaunan berdesir seolah berbisik, dan awan gelap menggantung rendah. Dalam keheningan itu, Ki Banten merasakan getaran kuat dari dalam bumi. Dia mendapatkan wangsit yang menginstruksikan agar menancapkan tongkat pusakanya ke tanah di sebuah lembah tertentu, lalu membiarkan alam bekerja sesuai kehendaknya.

Keesokan paginya, Ki Banten turun dari bukit dan berjalan menuju lembah yang dimaksud dalam wangsit. Lembah itu masih perawan, dipenuhi pepohonan besar dan semak belukar. Dengan langkah mantap dan hati penuh keyakinan, dia berdiri di tengah lembah lalu menancapkan tongkat kayunya ke tanah. Tak lama kemudian, tanah di sekitarnya bergetar perlahan, dan terdengar suara gemuruh halus dari bawah permukaan.

Dari bekas tancapan tongkat itu, tiba-tiba memancar air jernih. Awalnya hanya setetes demi setetes, namun lama-kelamaan alirannya semakin deras. Air itu mengalir mengikuti lekuk tanah, membentuk alur kecil yang terus memanjang. Pepohonan di sekitarnya tampak lebih segar, dan burung-burung berdatangan seolah menyambut kelahiran sumber kehidupan baru.

Aliran air tersebut tidak berhenti di lembah itu saja. Ia terus bergerak, menyusuri hutan, melewati bebatuan, dan menuruni dataran rendah. Di sepanjang perjalanannya, air menyatu dengan mata air lain, membesar dan semakin kuat. Dalam waktu yang tidak lama, aliran tersebut berubah menjadi sebuah sungai yang mengalir mantap, membawa kesejukan dan harapan bagi wilayah yang dilaluinya.

Penduduk dari berbagai kampung mulai menyadari perubahan alam itu. Mereka mengikuti aliran air tersebut hingga menemukan sungai baru yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan penuh rasa syukur, masyarakat percaya bahwa sungai itu adalah jawaban atas doa-doa mereka. Sawah-sawah kembali dialiri air, ternak mendapatkan minum, dan kehidupan perlahan pulih dari krisis panjang.

Sungai itu kemudian dinamakan sebagai Sungai Cibanten. Kata “ci” dalam bahasa setempat berarti air atau sungai, sedangkan “Banten” merujuk pada tanah tempat sungai itu mengalir dan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Nama tersebut menjadi simbol bahwa sungai ini adalah urat nadi kehidupan bagi Banten dan khususnya wilayah Serang.

Seiring berjalannya waktu, Sungai Cibanten tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga menjadi jalur transportasi dan perdagangan. Perahu-perahu kecil hilir mudik membawa hasil bumi, kayu, dan barang dagangan. Di tepi sungai, kampung-kampung tumbuh dan berkembang. Sungai menjadi pusat aktivitas sosial, tempat anak-anak bermain, orang tua berbincang, dan tradisi-tradisi diwariskan dari generasi ke generasi.

Hingga kini, cerita tentang asal-usul Sungai Cibanten terus diceritakan secara lisan oleh masyarakat Serang. Kisah ini mengandung pesan moral yang kuat: manusia harus hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan, dan tidak melupakan doa serta rasa syukur. Selama nilai-nilai itu dijaga, masyarakat percaya bahwa Sungai Cibanten akan terus mengalir, membawa kehidupan dan keberkahan bagi tanah Banten.

Namun, kisah Sungai Cibanten tidak berhenti sampai di situ. Setelah sungai itu terbentuk dan memberi kehidupan baru, Ki Banten tidak serta-merta kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Ia memilih menetap sementara di salah satu kampung di tepi sungai, membantu masyarakat mengatur pembagian air agar adil dan tidak menimbulkan perselisihan. Dari sinilah masyarakat mulai belajar bahwa air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama.

Ki Banten mengajarkan tata cara membuka saluran air sederhana dari sungai menuju sawah-sawah. Dengan alat-alat tradisional, warga bergotong royong menggali parit kecil yang menghubungkan Sungai Cibanten dengan lahan pertanian mereka. Kegiatan ini mempererat hubungan sosial antarwarga. Mereka bekerja dari pagi hingga senja, saling membantu tanpa pamrih, karena mereka sadar bahwa keberlangsungan hidup satu orang bergantung pada yang lain.

Dalam perkembangannya, Sungai Cibanten mulai memengaruhi pola hidup masyarakat. Waktu tanam dan panen menjadi lebih teratur karena ketersediaan air yang stabil. Upacara-upacara adat pun mulai diselenggarakan di tepi sungai sebagai ungkapan rasa syukur. Masyarakat percaya bahwa doa yang dipanjatkan di dekat aliran Sungai Cibanten akan lebih mudah sampai kepada Yang Maha Kuasa.

Anak-anak tumbuh besar dengan sungai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Mereka belajar berenang, memancing, dan mengenal berbagai jenis ikan air tawar yang hidup di Sungai Cibanten. Orang-orang tua sering duduk di tepi sungai sambil menceritakan kembali kisah Ki Banten dan asal-usul sungai tersebut. Dengan cara inilah nilai-nilai luhur diwariskan dari generasi ke generasi.

Seiring waktu, kabar tentang Sungai Cibanten menyebar ke wilayah lain. Pendatang mulai berdatangan, tertarik oleh kesuburan tanah dan ketersediaan air. Kampung-kampung baru bermunculan di sepanjang aliran sungai. Meskipun demikian, masyarakat setempat tetap memegang pesan Ki Banten agar tidak serakah dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat.

Konon, Ki Banten pernah mengingatkan bahwa Sungai Cibanten akan murka jika manusia melupakan keseimbangan. Murka itu bukan dalam bentuk amarah gaib, melainkan melalui bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Pesan ini tertanam kuat dalam ingatan masyarakat, sehingga mereka berhati-hati dalam membuka hutan, membuang sampah, dan memanfaatkan air sungai.

Setelah merasa tugasnya selesai, Ki Banten berpamitan kepada masyarakat. Ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Sungai Cibanten yang kini telah menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Beberapa orang percaya bahwa Ki Banten tidak benar-benar pergi, melainkan menyatu dengan alam dan menjaga sungai tersebut secara spiritual.

Pada masa-masa berikutnya, ketika Kesultanan Banten berkembang pesat, Sungai Cibanten memiliki peran strategis. Sungai ini menjadi jalur penghubung antara pedalaman dan pusat pemerintahan. Hasil bumi dari desa-desa diangkut melalui sungai menuju pusat perdagangan, sementara kebutuhan masyarakat desa juga didistribusikan melalui jalur yang sama.

Para pemimpin adat dan tokoh agama sering mengingatkan masyarakat tentang asal-usul Sungai Cibanten dalam setiap pertemuan penting. Cerita ini dijadikan landasan untuk menanamkan etika lingkungan dan kebersamaan. Sungai tidak boleh dimonopoli, tidak boleh dirusak, dan harus dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Hingga kini, meskipun zaman telah berubah dan teknologi semakin maju, Sungai Cibanten tetap menjadi simbol kehidupan dan identitas masyarakat Serang. Cerita rakyat tentang asal-usulnya bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan pengingat abadi tentang hubungan manusia dengan alam. Selama cerita ini terus diceritakan, Sungai Cibanten akan selalu hidup, bukan hanya sebagai aliran air, tetapi juga sebagai aliran nilai, sejarah, dan kebijaksanaan leluhur.

Buaya Buntung

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang gadis cantik jelita sedang menyapu halaman rumahnya. Dia bernama Jenab, anak gadis semata wayang seorang janda tua di sebuah kampung tepi sungai. Usai menyapu Jenab bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rencananya, sehabis mandi dia dan Sang Ibu akan pergi berziarah ke makam ayahnya yang lokasinya agak jauh dari rumah.

Selepas mandi Jenab menuju dapur untuk menyantap hidangan nasi uduk sayur jengkol dan teh hangat buatan Sang Ibu. Selanjutnya, masih di area dapur, dia mengambil sekantung bunga dan sebotol air penyiram tanah kuburan Sang Ayah yang telah disediakan oleh Sang ibu pada malam sebelumnya.

Sejurus kemudian keduanya pun berjalan keluar rumah menuju pemakaman. Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di antara perumahan warga kampung. Di saat menyusuri lorong-lorong itu banyak pria yang menyapa. Mereka takjub melihat kemolekan tubuh Jenab yang berjalan bak bidadari dari kahyangan.

Tetapi seluruh sapaan para pria tadi tidak ada yang dihiraukan Jenab. Dia tetap angkuh berlalu seakan tidak ada orang lain di sepanjang perjalanannya. Bahkan, ketika Sang Ibu mencoba menasihati agar mau menyapa balik atau setidaknya tersenyum, Jenab malah mengatakan bahwa mereka telah berlaku kurang ajar dengan memanggil-manggil namanya.

Hal ini tentu membuat Sang Ibu hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan anak gadisnya. Dia tidak berkata apa-apa lagi pada Jenab walau tahu bahwa para lelaki yang menyapa menunjukkan ekspresi kekecewaan atas tindakan Jenab. Begitu seterusnya hingga mereka tiba di area pemakaman.

Memasuki pemakaman mereka menuju ke sebuah pohon asam besar nan rindang. Tidak jauh dari pohon itulah ayah Jenab dimakamkan. Keduanya duduk di sisi pusara sembari memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selesai berdoa air dan kembang yang dibawa dari rumah ditaburkan di atas pusara. Adapun fungsi dari tradisi ini adalah: (1) meringankan beban mayat; (2) mendinginkan tempat peristirahatan terakhir; (3) menjaga tanah kuburan agar tidak hilang terkena terpaan angin; dan (4) meringankan siksa kubur penghuni makam.

Usai tabur bunga anak beranak itu pulang ke rumah. Sampai di rumah ternyata ada seorang pemuda bersama kedua orang tuanya yang telah menunggu di teras berlantai ubin. Jenab yang tidak kenal dengan mereka langsung menuju dapur. Sementara Sang Ibu menemui untuk menanyakan maksud kedatangan mereka.

Setelah berbasa basi sebentar salah seorang dari mereka (kepala keluarga) mengatakan bahwa anaknya yang bernama Somad menaruh hati pada Jenab dan bermaksud ingin melamarnya. Walau belum pernah berkomunikasi, tetapi sang putra tampaknya telah jatuh hati setiap kali melihat Jenab. Oleh karena itu, dia bersama sang istri berniat untuk menjodohkan Somad dengan Jenab.

Kaget mendengar ada orang yang ingin melamar, Jenab langsung belari dari arah dapur menuju Sang Ibu yang tengah menerima tamu. Setengah berbisik dia meminta ibunya masuk ke rumah. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung menyatakan ketidakmauannya menikah dengan Somad. Dalam pandangannya yang hanya sepintas dia melihat Somad sebagai pemuda pendek dengan hidung pesek.

Sang ibu berusaha menenangkan jenab. Dia mengatakan bahwa walau bertubuh pendek dan berhidung pesek Somad berasal dari keluarga berada. Hal ini terlihat dari penampilan serta cara bicara keluarga itu. Apabila Jenab mau menjadi istrinya, maka kehidupannya kelak tidak akan berkesusahan. Dia yakin Somad akan bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhannya.

Bujukan Sang ibu ternyata tidak membuat Jenab berubah pikiran. Dia tetap tidak mau menikah dengan Somad. Sang ibu akhirnya kembali lagi menemui Somad dan orang tuanya. Secara halus dia menolak lamaran Somad dengan alasan Jenab belum ingin berumah tangga. Mungkin suatu hari nanti, setelah Jenab siap, Somad boleh melamarnya lagi.

Kecewa akan penolakan tadi Somad keluar dari pekarangan rumah Jenab dengan tertunduk lesu. Sang ibu yang melihat anaknya bersedih hati segera mengelus-elus punggungnya mencoba menenangkan kegundahan hati Somad.

Semenjak itu tidak ada lagi yang datang melamar Jenab. Para pemuda menganggap Jenab sebagai seorang angkuh dan sulit didekati. Mereka tidak tahu tipe laki-laki apa yang menjadi idaman Jenab. Begitu seterusnya, hingga berbulan-bulan kemudian datanglah seorang pemuda gagah perkasa bersama Jin Iprit.

Konon, Iprit adalah raja gaib yang memiliki ribuan bala tentara. Dia dapat bergonta-ganti wujud sesuai keinginannya. Jadi, apabila ingin menjadi binatang dia beralih wujud menjadi binatang tertentu. Sedangkan bila ingin berwujud manusia, maka dia akan mengubah bentuk menjadi manusia.

Sang pemuda dan Iprit datang dari arah goa yang ada di tepi sungai. Namun, Iprit hanya sampai di mulut goa. Selanjutnya, Sang pemudalah yang keluar dari goa untuk berkeliling kampung. Dia melihat-lihat kondisi kampung yang ada di sekitar tepian sungai. Dan, setelah menemukan lokasi yang cocok dia kemudian membangun sebuah gubug sebagai tempat tinggal.

Ajaibnya, hanya dalam waktu beberapa bulan gubugnya menjadi menjadi sebuah istana nan besar dan megah. Padahal kerjanya dari pagi hingga petang hanya berbincang-bincang santai dengan para tetangga. Dia dikenal supel, ramah, dan baik sehingga dalam waktu singkat sudah dikenal luas oleh warga kampung.

Mereka tidak mengetahui kalau keramahan itu hanyalah kedok semata. Pada tengah malam Sang Pemuda kerap pergi mencuri ke kampung-kampung lain di sekitarnya. Dia melancarkan aksinya tanpa diketahui oleh siapa pun. Bahkan, penghuni rumah yang disatroninya selalu dibuat tertidur pulas saat barang-barangnya disikat habis.

Suatu hari saat dia tengah berbincang asyik dengan salah seorang tetangga tiba-tiba perhatiannya tertuju pada satu titik. Matanya melihat sosok perempuan rupawan berperawakan tinggi semampai sedang berjalan seorang diri. Dia adalah Jenab yang oleh warga sekitar dikenal angkuh dan tidak suka didekati laki-laki.

Berdasarkan penuturan warga tentang Jenab, Sang Pemuda menjadi tertantang untuk mendekati dan menaklukkannya. Tanpa berpikir lama dia pergi mendatangi rumah Jenab. Sampai di sana dia memperkenalkan diri pada ibu Jenab dan langsung mengutarakan niat untuk melamar anaknya.

Sang ibu tidak kaget dengan ucapan Sang pemuda. Dia yakin pasti Jaenab akan menolaknya. Sebab, selain Somad sudah ada beberapa pemuda lagi yang ditolaknya. Oleh karena itu, agar tidak terlalu mengecewakan dia memberi Sang pemuda teh hangat dan beberapa cemilan sembari menunggu jawaban Jenab.

Dugaan Sang ibu ternyata meleset. Jenab yang sedari tadi mengintip dari dalam rumah ternyata menerima lamaran Sang pemuda. Wajahnya terlihat berbinar ketika menyatakan mau menerima lamaran. Padahal dia belum mengetahui latar belakang pemuda itu. Apakah mungkin dia tertarik karena latar belakang ekonominya? Ataukah ketampanan dan kesempurnaan fisiknya? Hanya Jenab yang bisa menjawabnya.

Singkat cerita mereka pun menikah dalam suasana yang sangat meriah. Hasil pernikahan keduanya membuahkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Mi’ing. Mi’ing tumbuh sebagai anak yang sehat. Menginjak usia remaja walau hidup berkecukupan dia memiliki tabiat seperti ayahandanya, yaitu rakus dan suka mengambil milik orang lain.

Suatu hari Mi’ing melancarkan aksinya dengan mencuri buah di kampung sebelah. Namun, karena masih amatir dia kepergok oleh empunya pohon hingga terkena bacokan di bagian tangan. Akibat pembacokan itu Mi’ing menjadi cacat.

Di tengah kesibukan Jenab dan suami mencari pengobatan guna menyembuhkan cacat Mi’ing tiba-tiba datanglah “kawan lama” sang suami. Dari goa di pinggir sungai Iprit datang mencari suami Jenab. Iprit merasa dikhianati karena suami Jenab telah melanggar perjanjian dengannya. Padahal, harta kekayaan yang selama ini dimiliki sebenarnya bukan hasil dari mencuri saja tetapi sebagian dari perjanjian di antara mereka.

Sayangnya, niat menanggih janji tadi tidak ditanggapi oleh suami Jenab. Akibatnya, Iprit murka dan menghukum suami Jenab beserta anak laki-lakinya. Sang suami diubah menjadi seekor buaya raksasa, sementara Sang anak juga menjadi buaya tetapi dengan kondisi salah satu kakinya buntung karena telah cacat akibat bacokan pemilik pohon mangga.

Hal ini tentu membuat Jenab kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau kedua orang yang dicintai beralih wujud menjadi buaya. Namun dia tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya tangisan menyanyat hati yang keluar dari mulutnya ketika kedua buaya itu berjalan keluar rumah menuju sungai. Dan, sejak saat itu apabila Jenab rindu, maka dia akan ke sungai untuk menemui suami dan anak tercintanya yang telah beralih wujud menjadi buaya buntung.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Raden Arya Kemuning

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, di daerah Parung dahulu ada seorang mandor bernama Dul Kobar. Dia bekerja pada seorang kaya raya pemilik tanah partikelir bernama Babah Hok. Selain sebagai mandor perkebunan Dul Kobar juga diberi tugas sebagai debt collector. Dia akan menarik uang kepada warga penghutang yang telah jatuh tempo. Apabila tidak sanggup membayar maka dia tidak segan-segan akan melakukan kekerasan. Bahkan, apabila si penghutang ternyata memiliki anak gadis, dia akan langsung membawanya sebagai tebusan.

Selain menjadi mandor dan debt collector, Dul Kobar juga mempunyai profesi sampingan yaitu sebagai perampok. Bersama teman-temannya dia kerap melakukan perampokan terhadap pedagang-pedagang yang kebetulan melewati rute menuju Gunung Salak. Hasil rampokan digunakan untuk berfoya-foya mencari kesenangan duniawi.

Berkaitan dengan profesi kedua yaitu sebagai debt collector, suatu hari Dul Kobar berurusan dengan H Sami’in guru mengaji di daerah Rawa Bebek. Oleh karena belum dapat melunasi hutang, Dul Kobar dengan paksa mengambil Aisyah anak gadis Sami’in sebagai tebusannya.

Tanpa basa-basi Dol Kobar mengangkat tubuh gemoy Aisyah di punggungnya. Dia ingin membawa gadis itu ke markasnya untuk dijadikan pelampiasan nafsu. Baginya tubuh gemoy Aisyah sangat menggoda dan pantas untuk dijadikan sebagai pengganti hutang ayahnya.

Namun, belum sampai keluar dari halaman rumah tiba-tiba ada sesosok bayangan melesat menghampiri. Dan tanpa disadari secepat kilat bayangan itu berhasil mengambil tubuh Aisyah yang berada di punggung Dol Kobar. Sang bayangan kemudian berdiri tepat di hadapan Dol Kobar. Dia adalah seorang pendekar tampan dengan ikat kepala berbentuk igel serta berkalung tasbih.

Terkejut kalau Aisyah telah lepas dari genggamannya Dol Kobar menjadi marah. Sambil menghunus golok dia menghardik sang pendekar tampan dan menanyakan tujuan merebut Aisyah. Apakah sang pendekar tampan sudah bosan hidup di dunia hingga berani merebut Aisyah yang sudah menjadi miliknya.

Sang pendekar tampan mengatakan bahwa dia hanyalah seorang musafir yang kebetulan lewat. Dia tidak mengenal Aisyah apalagi Dul Kobar. Tindakannya hanya terpicu karena melihat seorang perempuan berteriak-teriak digendong paksa oleh Dul Kobar. Baginya tindakan itu merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Mendengar penjelasan Sang pendekar tampan Dul Kobar malah lebih tersulut emosinya. Tanpa basa-basi lagi dia langsung meloncat sambil menebaskan goloknya. Perkalahian pun tidak dapat dihindari. Keduanya saling mengeluarkan jurus andalan untuk mengalahkan satu sama lain. Dul Kobar mengerahkan jurus sakti lampah lumpuh guna melumpuhkan Sang pendekar tampan.

Namun jurus itu ternyata tidak mempan. Sang pendekar tampan justru membalikkan keadaan hingga Dul Kobar jatuh tersungkur di tanah. Sambil mengambil golok milik Dul Kobar yang jatuh di tanah dia kemudian meloncat dan hendak menghabisinya.

Di saat tangannya akan mengayunkan golok pada Dul Kobar yang tengah terduduk di tanah tiba-tiba Aisyah berteriak mencegahnya. Dia tidak ingin Sang pendekar tampan membunuh Dul Kobar, sebab masih memiliki tangungan hidup. Anak-anak Dul Kobar masih kecil dan memerlukan tumpuan hidup.

Penjelasan Aisyah tadi mampu melulukan hati Sang pendekar tampan. Dia lalu mengulurkan tangan pada Dul Kobar yang sudah tidak berdaya. Dan, ketika tangan disambut Sang pendekar tampan pun menawarkan bahwa perkelahian harus diakhiri dengan saling memaafkan.

Tawaran itu disambut baik oleh Dul Kobar. Dia yang tadinya pasrah merasa lega karena masih diberi kesempatan hidup. Oleh karena itu dia berjanji pada Sang pendekar tampan untuk merubah sifatnya dan tidak lagi berbuat semena-mena terhadap orang lain, khususnya kaum perempuan.

Setelah berkata demikian Dul Kobar pamit meninggalkan Sang pendekar tampan dan Aisyah. Keduanya lalu memulai percakapan tentang bagaimana Aisyah bisa sampai dibawa Dul Kobar dan sebaliknya bagaimana Sang pendekar tampan tiba-tiba datang menolongnya.

Percakapan keduanya selanjutnya mengarah pada maksud kedatangan Sang pendekar tampan. Rupanya Sang pendekar tampan berasal dari Cirebon yang diutus oleh ayahandanya menemui tetua kampung yang tidak lain adalah Sami’in ayah dari Aisyah sendiri.

Oleh Aisyah Sang pendekar tampan yang bernama Arya Fadhilah diantar ke rumahnya untuk bertemu Sami’in. Saat bertemu dia lalu menyerahkan sebuah buntalan berisi kitab suci, kitab kanuragan beserta doa-doa pilihan. Dia berkata bahwa ini adalah amanat dari orangtuanya yang harus diserahkan pada tetua kampung.

Melihat benda yang dibawa oleh Arya Fadhilah bukanlah sembarangan Sami’in pun teringat pada cerita kakeknya bernama Kai Tua bahwa suatu saat nanti akan kedatangan seorang guru nyaji dan ahli bela diri yang merupakan salah seorang putra Adipati Cirebon. Sang Adipati sendiri merupakan sahabat dari Kai Tua nama lain dari Ki Rebo, seorang ulama setempat yang sangat disegani.

Sami’in lalu mengantarkan Arya Fadhilah menuju kediaman Ki Rebo. Sampai di sana tanpa basa basi Ki Rebo langsung membuka pembicaraan dengan menanyakan kabar dari Ayahanda Arya Fadhilah. Selain itu, dia juga menanyakan apakah Arya Fadhilah membawa amanat yang dahulu pernah dijanjikan Adipati Cirebon kepadanya.

Walau bingung tujuannya telah diketahui Pendekar tampan alias Arya Fadhilah tetap menyerahkan barang yang tadi telah diberikan pada Sami’in. Dia lalu sungkem dan undur ke belakang sejajar dengan Sami’in sebagai rasa hormat pada Ki Rebo.

Setelah melihat dan mengamati benda-benda yang diserahkan, Ki Rebo bertanya lagi apakah masih ada benda lain yang dititipkan oleh Adipati Cirebon. Sebab, menurut penerawangannya, masih ada satu benda lagi titipan Adipati Cirebon yang harus diserahkan oleh Arya Fadhilah.

Pertanyaan tadi membuat Arya Fadhilah mengernyitkan dahi. Setahunya tidak ada barang atau benda lain yang dititipkan Sang ayah untuk diberikan pada Ki Rebo. Namun, setelah berpikir agak lama dia teringat kalau sebelum melangkahkan kaki keluar rumah Sang ayah sempat memberikan sebuah kantung kecil yang diselipkan di saku baju. Dia berpesan agar baru dibuka setelah sampai di tempat tujuan. Kantong kecil itu kemudian diserahkan pada Ki Rebo.

Setelah diterima Ki Rebo membuka kantong itu yang ternyata adalah biji buah kemuning. Dia lalu berkata bahwa ayah Arya Fadhilah telah menepati janji. Dan, sebagai balasannya Arya Fadhilah boleh menetap serta ikut menyebarkan ajaran Islam bersama Ki Rebo. Sementara lokasi biji kemuning ditanam nantinya akan didirikan padepokan guna mensyiarkan ajaran Islam.

Seiring berjalannya waktu padepokan milik Arya Fadhilah mulai dibanjiri orang untuk melajar ilmu agama Islam. Sebagai konsekuensinya, nama Arya Fadhilah menjadi terkenal di mana-mana. Penyebutan namanya kemudian dikaitkan dengan asal mula pohon kemuning yang tubuh di depan padepokannya. Oleh karena itu, namanya pun Raden Arya Kemuning.

Diceritakan kembali oleh gufron

Golok Buluh Basuh

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Golok dapat didefinisikan sebagai pisau besar terbuat dari besi bergagang kayu yang digunakan untuk membelah atau memotong. Alat ini bersifat multifungsi di antaranya: sebagai senjata mempertahankan diri dari serangan lawan hingga pemotong semak belukar dan dahan pepohonan.

Di Desa Tanjung Pasir ada sebuah golok keramat yang hingga kini masih tersimpan di salah satu sesepuh desa. Namanya adalah Golok Buluh Basuh milik seorang sakti mandraguna bernama Ki Buyut Miskin, seorang pejuang kemerdekaan sekaligus pengusaha tambak yang dermawan.

Selama masa penjajahan Belanda Ki Buyut Miskin bertugas sebagai penjaga pesisir Tanjung Pasir dari serangan Belanda di bagian timur hingga barat. Bersama empat sahabatnya, yaitu Ki Buyut Kasman, Ki Buyut Mas Rantai, Ki Buyut Ragem, dan Ki Buyut Deugan, mereka melakukan pengintaian terhadap kapal-kapal perang Belanda yang ingin merapat.

Di sela-sela aktivitas menjaga pantai, Ki Buyut Miskin juga mengusahakan hektaran lahan tambak ikan dan udang sebagai penghidupannya. Tambak itu selalu membuahkan hasil melimpah ketimbang tambak-tambak milik masyarakat setempat. Rahasianya adalah pernah ada sebuah batu meteor jatuh di area tambaknya yang menjadi semacam magnet bagi ikan dan udang untuk berkumpul dan berkembang biak.

Oleh karena membawa berkah, Ki Buyut Miskin berinisiatif mengeringkan tambaknya untuk mencari batu meteor. Setelah ditemukan batu meteor kemudian dibentuk sedemikian rupa menjadi sebuah golok yang diberi nama sebagai Golok Buluh Basuh.

Berkat adanya golok ini Ki Buyut Miskin menjadi kaya raya. Dia selalu membagikan hasil tambaknya kepada seluruh masyarakat yang kekurangan pangan di daerah Tanjung Pasir. Dan, setelah Ki Buyut Miskin meninggal, golok tersebut disimpan pada sesepuh desa sebagai pusaka pembawa berkah.

Keramat Solear

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Keramat Solear berada dalam kawasan hutan lindung seluar 4,5 hektar di Kampung Solear, Desa Cikasungka, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tengerang. Di lokasi ini terdapat beberapa makam yang dikeramatkan, terutama makam Syekh Mas Masa’ad bin Hawa yang berada di bawah sebuah pohon tua dikelilingi tembok dan pendopo.

Syekh Mas Masa’ad adalah penglima Kesultanan Banten yang diutus menyebarkan ajaran Islam di wilayah yang saat ini bernama Solear. Walau berstatus sebagai ulama dia datang dalam kawalan ratusan tentara Kesultanan Banten. Mereka berencana bergotong-royong akan mendirikan sebuah pesantren guna dijadikan pusat pendidikan dan penyebaran Islam.

Namun, rencana itu tidak berjalan lancar. Ada jawara setempat yang tidak berkenan masuknya paham baru di wilayahnya. Dia bernama Pangeran Jaya Perkasa alias Mas Laeng, seorang patih dari Kerajaan Pajajaran. Sang Pangeran lantas menantang Syakeh Mas Masa’ad mengadu kesaktian.

Dibantu oleh Ki Seteng Sang Pangeran bertanding melawan Syekh Mas Masa’ad. Namun, karena ketiganya sangat sakti mandraguna, maka tidak ada seorang pun yang kalah. Mereka akhirnya memutuskan untuk berdamai yang dikemudian hari menjadi asal usul nama “Tigaraksa” atau tiga orang yang memelihara perdamaian dan Syekh Mas Masa’ad dapat membangun pesantren dengan aman tanpa gangguan.

Beliau kemudian menjadi pensiar agama di Tigaraksa hingga akhir hayat dan dimakamkan di bawah pohon kedoya besar dalam lingkungan pesantren. Lambat laun makam itu mulai dikeramatkan dan diziarahi banyak orang, khususnya saat memasuki tahun baru Islam. Para peziarah datang dari berbagai daerah, mulai dari Cirebon, Kuningan, Jombang, Kudus, hingga Lampung.

Sebagai catatan, di area makam banyak terdapat monyet ekor panjang yang dipercaya sebagai murid Syeik Mas masa’ad. Mereka terbagi dalam tiga kawanan yang dipimpin oleh seekor kera gaib raksasa. Para monyet tadi dianggap dapat menirukan tabiat-tabiat buruk dari para peziarah. Misalnya, ada yang berhubungan intim sebelum berziarah, maka pelaku akan melihat ada monyet yang sedang kawin. Begitu pula bila peziarah memberi makan dari hasil tidak halal maka para monyet tidak akan memakannya.

Diceritakan kembali oleh gufron

Macan, Kerbau, dan Petani

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Alkisah, ada dua ekor binatang sedang berdialog di pinggir hutan yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian tanah kering milik warga. Mereka adalah kerbau dan macan yang sedang memperbincangkan perihal manusia.

“Eh Kebo, badan lu gede tapi kok takut ama manusia?” tanya Macan.

“Iya lah. Manusia tu banyak akalnya,” jawab Kerbau singkat.

“Emang lu berani ma manusia?” Kerbau balik bertanya.

“Berani. Emangnya lu penakut. Dicucuk hidung aja kagak ngelawan malah nurut,” jawab Macan ketus.

“Kan tadi gua udah bilang, manusia tu banyak akalnya. Kagak mungkin gua bisa ngelawan. Jadi ya…nurut aja biar aman. Dah gitu gua dikasih makan kenyang lagi,” jawab Kerbau panjang lebar.

“Eh, Macan. Kalo elu beneran berani berantem gih ama manusia,” tantang Kerbau.

“Ayo kita cari manusia. Bakal gua ajak berantem kalo ketemu,” jawab Macam panas.

Sejurus kemudian Macan dan Kerbau pun berjalan keluar hutan menuju areal peladangan. Di sana mereka bertemu dengan seorang laki-laki muda bertubuh kekar yang sedang menyiangi tanaman ladang.

Tanpa basa-basi lagi Macan mendatangi Sang Petani dan langsung menggertaknya, “He Manusia, lu berani ama gua?”

Walau kaget ada yang tiba-tiba menggertaknya, Si Petani tak gentar menjawab singkat, “Berani.”

“Kalo gitu ayo kita berantem,” jawab Macan sambil memposisikan tubuh hendak menyerang.

“Bentar tunggu dulu,” jawab Si Petani. “Elu punya cakar gua kagak. Gua ambil perkakas dulu biar seimbang,” lanjutnya.

“Gih ambil sono,” jawab Macan tidak sabar.

“Kalo gua pulang nanti lu kabur lagi?” tanya Si Petani bersiasat.

“Ya kagak. Kalo kabur tandanya gua takut ama lu,” jawab Macam kesal.

“Ya udah. Biar kagak kabur, gimana kalo lu gua iket dulu di pohon gede tu?” tanya Si Petani bersiasat.

“Boleh,” jawab Macan sambil mendekatkan lehernya pada Si Petani untuk diikatkan pada sebatang pohon besar.

Singkat cerita, usai diikat sangat kuat Si Petani mengambil perkakas berupa sebatang kayu besar lalu memukulkannya berkali-kali hingga Macan tak berdaya. Macan akhirnya sadar bahwa perkataan kerbau benar adanya. Walau berukuran relatif kecil dan tampak tak berdaya manusia ternyata dibekali akal guna mengatasi keterbatasan fisiknya.

 Diceritakan kembali oleh ali gufron 

Ki Rebo

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Alkisah, pada zaman penjajahan Belanda di sebuah dusun di Distrik Paroong atau Pemulang ada seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani. Konon dia adalah salah seorang pembesar dari Kerajaan Banten yang datang ke Pemulang dengan suatu misi khusus. Masyarakat setempat memanggilnya sebagai Ki Rebo.

Bagi masyarakat Pemulang Ki Rebo dianggap sebagai jawara tangguh yang sakti mandraguna. Banyak perampok alias begal atau centeng-centeng bayaran tuan tanah yang takluk bila berhadapan dengannya. Para perampok yang ditaklukkan oleh Ki Rebo umumnya beroperasi di sepanjang jalan dari Batavia menuju Gunung Salak.

Berkat kesaktian inilah namanya menjadi sangat tenar sehingga Regent Paroong mengangkatnya menjadi Bek Kampung Pemulang. Adapun tugasnya adalah sebagai penarik pajak masyarakat yang nantinya akan diserahkan kepada pemerintah.

Dalam menjalankan tugas, Ki Rebo tidak berlaku sama seperti bek-bek kampung lain di sekitar Batavia yang sering menggunakan pendekatan represif kepada masyarakat. Ki Rebo lebih memilih jalan persuasif dan berlaku arif bijaksana. Dia hanya menarik pajak berupa uang pada tanah-tanah partikelir dan masyarakat kaya yang memiliki lahan sangat luas. Sementara rakyat kecil hanya diwajibkan menyetor sebagian dari hasil bumi yang mereka hasilkan.

Begitu seterusnya hingga Ki Rebo menjadi gusar sendiri tatkala melihat pajak hasil bumi yang ditimbun di lumbung depan rumahnya semakin menipis setiap hari. Dia curiga ada seseorang atau sekawanan orang yang secara diam-diam menjarah hasil bumi tersebut. Mereka kemungkinan datang malam hari ketika dirinya sedang tertidur lelap.

Untuk mengobati rasa penasarannya, Ki Rebo memutuskan melakukan pengintaian di malam hari. Dan benar saja, tepat tengah malam dia mendengar ada langkah-langkah kaki menuju lumbung. Ternyata ada dua orang sedang mengendap-endap mencari lubang di sisi lumbung. Mereka mengenakan topeng dari kain sarung sehingga yang terlihat hanya bagian matanya saja. Tindak pencurian ini hanya disaksikan dan dibiarkan saja oleh Ki Rebo.

Esok harinya Ki Rebo baru beraksi dengan membawa air dalam ember kemudian memantrainya. Selanjutnya air yang telah dimantrai dipercikkan di hampir setiap dinding lumbung. Tujuannya adalah agar hasil bumi di dalam lumbung terlindung dari mara bahaya dan hal-hal yang tidak diinginkan.

Ketika malam tiba, kedua orang pencuri kembali melakukan aksinya. Secara mengendap-endap mereka menuju lubung mencari padi yang masih tersisa. Kondisi ini dibiarkan saja oleh Ki Rebo. Dia malah beranjak ke peraduan hingga menjelang subuh seakan tidak peduli kalau padi di lumbung akan semakin menipis.

Ajaibnya, saat karung yang dibawa telah penuh terisi padi mereka tidak dapat keluar dari lumbung. Dalam pandangan kedua pencuri itu pada bagian luar lumbung telah dikepung air yang luas menyerupai sebuah danau. Tidak ada jalan keluar selain berenang menuju tepian yang entah di mana letaknya.

Tetapi karena keadaan air yang semakin naik mereka akhirnya memutuskan juga untuk berenang. Hasil curian berupa dua karung padi ditinggalkan begitu saja. Mereka melompat dari pintu lumbung menuju daratan yang dalam pandangan sudah tidak terlihat lagi.

Namun, setelah sekian lama berenang belum juga sampai ke tepian. Tenaga pun sudah terkuras dan hanya menyisakan sedikit untuk dapat tetap terapung di air. Dan ketika keduanya merasa sudah hampir tenggelam tiba-tiba tepukan tangan Ki Rebo menyadarkannya.

Keduanya seakan linglung dan tidak tahu harus berbuat apa. Air yang sangat luas dan seakan tidak bertepi tiba-tiba hilang dari pandangan. Mereka hanya berada tidak jauh dari pintu lumbung yang tadi malam seakan mulai tergenang dan akan tenggelam.

Sadar bahwa hal itu hanyalah ilusi buatan oleh Ki Rebo, mereka kemudian bersujud dan memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Keduanya tidak berani berdiri sebelum Ki Rebo menepuk pundak dan memerintahkan masuk ke dalam rumah untuk disuguhi kopi dan singkong rebus sarapan pagi.

Sambil menikmati gurihnya singkong dan menyeruput kopi manis Ki Rebo membuka pembicaraan dengan menanyakan maksud keduanya mencuri padi di lumbung. Padahal mereka juga tahu kalau lumbung merupakan bagian dari persediaan warga apabila suatu saat dilanda paceklik.

Salah seorang di antaranya menjawab bahwa penarikan pajak oleh Belanda di wilayah kampung mereka terlampau tinggi. Selain itu, kerja paksa bagi yang tidak dapat membayar pajak mengakibatkan banyak orang terserang penyakit. Akibatnya banyak di antara mereka mati baik karena kelaparan maupun penyakit. Oleh karena itu, mereka terpaksa mencuri agar dapat menyambung hidup.

Pengakuan pencuri tadi membuat hati Ki Rebo menjadi iba. Dia lalu mempersilahkan keduanya menuju dapur dan diperkenankan mengambil hasil bumi yang mereka butuhkan berupa tujuh ikat padi yang berada di bagian atas tungku dapur. Ki Rebo berpesan bahwa tujuh ikat padi tersebut dibagikan kepada warga yang kelaparan, sedangkan sisanya boleh mereka bawa pulang ke rumah.

Usai menerima padi pemberian Ki Rebo mereka kemudian pamit kembali ke rumah. Dan, sejak saat itu mereka bertobat tidak pernah mencuri lagi.

Asal Mula Kampung dan Makam Keramat Panjang

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Di Jalan Cituis, Kelurahan Keramat, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, ada sebuah makam keramat. Penduduk setempat menamainya sebagai Makam Keramat Panjang sebab berukuran panjang sembilan meter dan lebar satu setengah meter. Ia dikeramatkan dan diziarahi banyak orang karena dianggap membawa karomah bagi keberkahan hidup.

Ada beberapa versi cerita yang berkembang di kalangan masyarakat Pakuhaji mengenai orang yang makamnya dikeramatkan itu. Versi pertama mengatakan bahwa jasad yang dimakamkan bernama Al-Habib Abdullah bin Ali Al-Uraidhi dari Hadramaut, Yaman Selatan.Nama ini terpampang di atas pintu masjid bersebelahan dengan Keramat Panjang. Al-Habib Abdullah bin Ali Al-Uraidhi dipercaya memiliki nasab (silsilah) keturunan langsung Nabi Muhammad SAW garis Sayyidina Husein.

Sang Habib bersama istri (Aminah Khan) datang ke wilayah Pakuhaji setelah menyebarkan ajaran Islam di Aceh, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Keduanya berlabuh di sekitar Pantai Pakuhaji untuk memperbaiki perahu yang mengalami kerusakan. Di sela-sela perbaikan perahu Al-Habib rupanya menyempatkan diri mengawini gadis setempat bernama Siti Sulaiha dan memutuskan menetap hingga akhir hayatnya.

Versi kedua mengatakan pemilik jasad Keramat Panjang adalah orang Persia bernama Syekh Daud bin Ami bin Ismail. Sedangkan versi lainnya mengatakan bahwa pemilik jasad tidak pernah menyebutkan namanya. Dia berasal dari Madinah yang menyebarkan syariat Islam ke Yaman, Turki, India, dan Indonesia.

Saat hendak bersyiar Islam di tanah Jawa perahu yang ditumpanginya mengalam kerusakan berat sehingga harus berlabuh di perairan sekitar daerah Mauk. Selama masa perbaikan dia mengisi waktu dengan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Selesai perahu diperbaiki dia berangkat lagi menuju Palembang dan Aceh.

Berbulan-bulan kemudian, entah dari mana, tiba-tiba dia terdampar di pesisir Pantai Mauk dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Para warga yang menemukan segera membawa jasadnya untuk dikuburkan di dekat sebuah sumur tua. Konon, karena ukuran tubuhnya yang tinggi besar, maka makam pun dibuat panjang dan lebar.

Untuk menghormati jasanya sebagai penyebar ajaran Islam, warga membangun sebuah masjid di area makam. Lambat-laun, mungkin karena air sumur disamping makam memiliki karomah tertentu yang dapat digunakan untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta, masyarakat kemudian mengkeramatkannya. Makam itu lantas dinamai Keramat Panjang sesuai dengan ukurannya yang sangat panjang melebihi manusia pada umumnya.

Selain area makam yang diberi nama, warga sekitar juga menamai kampung tempat tinggal mereka sebagai Keramat Panjang. Adapun tujuannya juga sama, yaitu menghormati jasa Sang pensyiar agama Islam yang tidak diketahui namanya hingga akhir hayat. Sang pensyiar dianggap sebagai wali Allah yang senantiasa meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan air sumur dijadikan sebagai bukti bahwa dirinya selalu tetap istiqomah di jalan Allah.

Saat ini, Keramat Panjang selalu didatangi peziarah khususnya pada hari Kamis dan Jumat. Mereka membacakan tahlil di depan makam sambil membuka tudung kain berwarna hijau yang membentang sepanjang sembilan meter. Selesai tahlil peziarah akan mengambil air dari sumur karomah untuk dibawa pulang sebagai berkah. (ali gufron)

Nyi Jompong

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Alkisah, dahulu di daerah Cibaliung ada seorang gadis gemoy nan cantik jelita bernama Nyi Jompong. Dia adalah anak tunggal dari pasangan petani miskin yang serba kekurangan. Walau tidak pernah peduli dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya, Nyi Jompong tetap menjadi idaman bagi para pemuda di kampungnya dan bahkan kampung-kampung lain di sekitarnya.

Sebagai anak yang berbakti Nyi Jompong selalu membantu pekerjaan orang tuanya di sawah mulai dari menanam, menyiangi, hingga memanen tanaman padi. Suatu hari, entah mengapa sang ayah memintanya tetap di rumah menutu pare atau menumbuk padi menjadi beras. Alasannya, persediaan beras di rumah sudah mulai menipis dan hanya cukup untuk beberapa hari saja.

Setelah kedua orang tua pergi menuju sawah yang jaraknya relatif jauh Nyi Jompong mulai melakukan pekerjaannya. Dia memasukkan untaian padi ke dalam lesung lalu menumbuknya menggunakan alu sehingga kulit padi terkelupas menjadi butiran-butiran beras. Pekerjaan ini dilakukan di samping bangunan leuit tempat penyimpanan padi.

Saat tengah asyik menutu padi datanglah seorang pemuda bertubuh kekar menghampiri. Sang pemuda langsung saja membuka pembicaraan dengan mengatakan bahwa hatinya menjadi galau bila memikirkan Nyi Jompong. Sesuai kebiasaan masyarakat setempat, usai mencurahkan isi hati Sang pemuda yang bernama Ciriwis itu lalu memainkan seruling guna memikat hati Nyi Jompong.

Sebenarnya untuk dapat mencurahkan perasaan serta bermain seruling di hadapan Nyi Jompong tidaklah mudah. Ciriwis harus berkelahi dengan para pemuda yang antri untuk mendapatkan hati Nyi Jompong. Dan ketika ditolak, dia akan mengulangi kembali mengalahkan para pemuda pemuja Nyi Jompong dalam pertarungan.

Namun kali ini alunan merdu seruling Ciriwis tidak berlangsung lama. Di tengah asyik bermain tiba-tiba terdengar suara tongtong bertalu-talu. Suara itu menandakan bahwa kompeni Belanda tengah berada di dalam kampung dan siap untuk menarik pajak berupa hasil bumi dari setiap rumah yang didatangi.

Biasanya para serdadu yang ditugaskan tidak hanya sekadar mengambil hasil produksi pertanian saja. Mereka juga kadang iseng menggangu dengan menjamah para perempuan penghuni rumah yang dianggap gemoy dan mengundang birahi tanpa memandang bahwa mereka telah bersuami atau masih perawan.

Walhasil, setiap kali mendengar bunyi tongtong para perempuan menjadi trauma. Jeritan-jeritan ketakutan selalu terdengar apabila para serdadu memasuki rumah mereka. Nyi Jompong yang kerap mendengar perilaku kompeni Belanda tentu juga menjadi ketakutan. Dia langsung berlari masuk ke rumah meninggalkan pekerjaannya.

Sayangnya, usaha melarikan diri Nyi Jompong sempat terlihat oleh beberapa serdadu kompeni. Mereka langsung berteriak dan mengejar hingga ke depan pintu rumah Nyi Jompong yang dikunci rapat.

Saat mereka hendak mendobrak pintu rumah, tiba-tiba Ciriwis berteriak agar jangan mengganggu Nyi Jompong. Selanjutnya, dia merangsek dan memukul mereka hingga tersungkur di tanah. Tidak ada satu orang pun serdadu Kompeni yang dapat menandingi kehebatan Ciriwis dalam bertarung. Mereka kalah dan melarikan diri.

Keesokan harinya tersiarlah kabar bahwa ada seorang pemuda tewas di persawahan dengan lubang peluru bersarang di kepalanya. Orang-orang yang mendengar berita itu tentu menyimpulkan bahwa korban adalah Ciriwis. Sebab, sehari sebelumnya Ciriwis berhasil membuat serdadu Kompeni kocar kacir melarikan diri. Kemungkinan besar serdadu lainnya membalas dendam dengan menembak Ciriwis tepat di bagian kepala.

Selang beberapa hari kemudian datanglah seorang meneer berkuda mendatangi desa. Dia bertanya pada setiap penduduk mengenai keberadaan seorang gadis cantik yang ada di desa mereka. Gadis yang dia cari tidak lain adalah Nyi Jompong yang telah membuat pasukannya kocar-kacir diserang Ciriwis.

Sesuai dengan ciri-ciri fisik yang diceritakan para serdadunya, ketika bertemu Nyi Jompong Sang Meneer langsung turun dari kuda dan menemuinya. Melihat kecantikan Nyi Jompong yang luar biasa, tanpa basa-basi Sang Meneer memintanya menjadi istri. Apabila bersedia dia menjanjikan kebahagian serta kekayaan yang melimpah pada Nyi Jompong.

Permintaan itu tentu saja tidak dikabulkan oleh Nyi Jompong. Dengan nada santun, walau takut luar biasa, dia meminta Sang Meneer pergi dan jangan kembali lagi.

Walau sangat marah karena ditolak, Sang Menir hanya diam tanpa berkata apa-apa. Dia lalu naik ke atas pelana kudanya dan pergi begitu saja meninggalkan Nyi Jompong yang masih gemetar ketakutan namun berpendirian tegas.

Satu minggu setelahnya, ketika tengah mencari tutut di sawah tanpa sadar Nyi Jompong diikuti oleh Sang Meneer. Secara sembunyi-sembunyi dia membuntutinya terus dari sawah hingga Nyi Jompong mandi di tepian sungai.

Selesai mandi dan hendak pulang ke rumah tiba-tiba Sang pengintai keluar dari persembunyiannya. Sambil menunggang kuda dia membawa seutas tali tambang besar dan sebuah senapan laras panjang. Sang Meneer berusaha menculik Nyi Jompong untuk dibawa ke benteng pertahanannya.

Menyadari dirinya akan ditangkap, Nyi Jompong berlari sekencang mungkin tanpa mempedulikan barang bawaannya berupa boboko, haseupan, dan lain sebagainya yang berjatuhan entah di mana. Baginya, menghindar dari kejaraan Meneer lebih penting ketimbang peralatan pencari tutut yang dibawanya.

Sayangnya, pelarian Nyi Jompong tidak terarah dan malah menuju ke air terjun atau curug berjurang. Sampai di tepi jurang dia bingung harus melarikan diri kemana lagi sementara Sang Meneer mulai menyusul, mendekat, dan memblokir jalan keluar.

Terdesak oleh keadaan, tanpa berpikir panjang Nyi Jompong langsung menerjunkan diri ke jurang. Dia lebih memilih mati daripada kehormatan dan harga dirinya sampai ternoda oleh Sang Meneer. Apalagi, pinangan Sang Meneer bukan berdasar atas cinta melainkan hanya nafsu belaka. Dia takut apabila diterima, maka hanya sebagai pelampiasan nafsu saja. Ketika sudah mencapai titik bosan kemungkinan besar Sang Meneer akan mencari gadis gemoy yang baru lagi.

Akibatnya, tubuh Nyi Jompong terbentur bebatuan jurang berkali-kali hingga hancur terpisah-pisah. Nyi Jompong tewas secara mengenaskan di bebatuan terjal sekitar curuk. Konon, salah satu serpihan tubuh yaitu di bagian alat reproduksi secara ajaib menjadi batu di sekitar curug. Dahulu setiap bulan batu itu mengeluarkan air berwarna merah layaknya perempuan yang sedang menstruasi. Namun karena sudah tua, batu tidak lagi mengeluarkan cairan merah melainkan hanya air biasa bagian dari curug.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Asal Mula Desa Lontar

Desa Lontar yang berada di Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, sebelum kemerdekaan termasuk dalam Kawedanaan Mauk. Setelah kemerdekaan ada program pemerintah memekarkan wilayah kota kecamatan dengan dibentuknya kantor perwakilan kecamatan Desa Lontar masuk ke dalam Kemantren Kemiri. Dan, baru pada tahun 2004 Kemantren Kemiri berubah status menjadi kecamatan dengan masih mengikutsertakan Desa Lontar ke dalam wilayahnya.

Sejarah panjang desa Lontar tidak hanya tercatat ketika menjadi bagian dari Kawedanaan Mauk saja. Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di sana, wilayah Lontar telah berpenghuni jauh sebelum penjajahan Belanda. Tanahnya yang subur dengan banyak ditumbuhi pepohonan lontar membuat banyak orang tertarik untuk menetap di sana.

Para penduduk yang berinteraksi menggunakan istilah “lontar” untuk menamai perkampungan mereka berdasarkan banyaknya pepohonan lontar yang tumbuh di sana. Mereka hidup rukun sebagai sebuah komunitas petani yang bergantung sepenuhnya pada alam dengan cara mengolahnya dalam bentuk pertanian lahan kering maupun basah.

Oleh karena semakin hari bertambah jumlah penduduknya, para pendatang baru kemudian menetap di bagian utara Lontar. Adalah Ki Latip yang pertama kali membuka hutan di sana untuk dijadikan lahan tempat tinggal. Orang-orang yang mengikuti jejaknya lantas memberi nama tempat itu Kampung Selatip sebagai penghormatan atas jasa Ki Latip.

Seiring berubahnya administrasi pemerintahan, kedua kampung disatukan dalam sebuah desa bernama Desa Lontar. Pada sekitar tahun 1978 Desa Lontar menambah satu kampung lagi karena adanya migrasi penduduk Selapajang Benda di sebelah timur Kabupaten Tangerang akibat ada pembangunan Bandara Soekarno-Hatta. Kampung baru ini dinamakan Pajang Kelapa Dua karena di tempat mereka bermukim terdapat dua buah pohon kelapa yang tumbuh sejajar di tengah areal persawahan. (gufron)

Pendekar Cisadane

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Alkisah, dahulu di sekitar aliran Sungai Cisadane banyak didiami oleh buaya yang salah satunya berukuran sangat besar. Dia adalah Ratu Siluman Buaya, makhluk sebangsa jin yang menyerupai buaya. Sang Ratu Buaya kerap mencelakai orang-orang yang sedang berada di sungai, terutama mereka yang bersikap tidak sopan atau mengganggu kelestarian lingkungan sekitar daerah aliran sungai.

Salah seorang korbannya adalah Sarif. Anak kepala dusun bernama Sanusi ini tiba-tiba menghilang saat sedang memancing di tepi sungai. Sang ayah beserta segenap warga dusun mencari hingga berhari-hari namun tidak juga menemukannya. Mereka akhirnya pasrah dan menganggap bahwa Sarif telah dimakan Ratu Siluman Buaya.

Sejak kejadian itu, warga di sekitar bantaran sungai menjadi lebih waspada. Mereka selalu cemas ketika beraktivitas di sungai seperti mandi, mencuci, dan lain sebagainya. Padahal, kehidupan sehari-hari warga masyarakat tak lepas dari sungai.

Begitu seterusnya, selama lebih dari lima tahun seluruh dusun dan desa di bantaran sungai selalu dibayangi ketakutan akan keberadaan Ratu Siluman Buaya hingga datanglah seorang pemuda bernama Aby. Pemuda berikat kepala ungu ini adalah seorang sakti mandraguna yang memiliki kekuatan luar biasa.

Sebelum bertindak, terlebih dahulu Sang pemuda melakukan observasi terhadap penduduk sekitar. Ditanyainya beberapa orang (termasuk Sanusi) yang dianggap mengetahui seluk beluk Ratu Siluman Buaya.

Dari keterangan warga Sang pemuda mengambil kesimpulan bahwa Ratu Siluman Buaya memang benar adanya. Sang Ratu Siluman Buaya rupanya mempengaruhi sisi psikologis mereka sehingga timbul kecemasan berlebih yang membuat takut beraktivitas di sungai. Mereka sangat membutuhkan bantuan agar terbebas dari kecemasan itu dan hidup tenteram seperti sediakala.

Segala keterangan tadi membawa Sang pemuda ke tepian sungai untuk membinasakan Ratu Siluman Buaya. Saat berada di sekitar sungai dia melihat ada seorang perempuan gemoy berparas cantik jelita sedang duduk termenung. Sang pemuda lalu mendatangi dan bertanya mengapa Sang perempuan termenung dan terlihat murung.

Sang perempuan terdiam beberapa saat sebelum menjawab bahwa dia sedang bersedih karena baru saja kehilangan anak semata wayang yang paling dikasihinya. Sambil terisak dia menceritakan kalau sang anak tiba-tiba tenggelam ketika sedang bermain di sungai dan sampai sekarang belum muncul ke permukaan.

Cerita yang disampaikan perempuan gemoy itu sebenarnya hanyalah karangan belakang. Sang perempuan bukanlah seorang manusia, melainkan Ratu Siluman Buaya yang sedang beralih wujud. Dia tahu kalau Sang pemuda sedang mencari dan ingin membinasakannya. Oleh karena itu, dia berusaha menyesatkan Sang pemuda agar terlena dan menjadi mangsanya.

Begitu juga dengan Sang pemuda. Dia sebenarnya tahu kalau Sang perempuan bukanlah seorang manusia. Dari aura yang memancar di tubuhnya jelas bahwa Sang Pemuda tahu kalau Sang perempuan berasal dari bangsa siluman. Dia sengaja meladeni permainan Ratu Siluman Buaya agar dapat menemukan tempat persembunyiannya.

Oleh karena itu, ketika perempuan jelmaan Ratu Siluman Buaya meminta tolong menemukan anaknya, Sang Pemuda menyanggupi. Dia lalu menyelam ke dasar sungai, tetapi baru beberapa menit mencari dia langsung tidak sadarkan diri.

Ketika siuman, Sang pemuda terkejut mengetahui dirinya telah berada di sebuah sel penjara di dalam gua bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya. Pada bagian depan penjara terhampar harta benda berupa emas, intan, permata, dan pakaian yang tak ternilai harganya.

Melihat Sang pemuda telah siuman, salah seorang dari penghuni sel mendekat dan bertanya mengapa dia sampai tertangkap oleh Ratu Siluman Buaya. Apakah karena telah berlaku tidak sopan ketika berada di sungai? Atau ada hal lain yang membuat Ratu Siluman Buaya marah?

Sang pemuda menjawab bahwa dia memang sengaja datang ke tempat persembunyian Ratu Siluman Buaya. Adapun tujuannya adalah untuk menyelamatkan orang-orang yang telah ditenggelamkan oleh Sang Ratu.

Penjelasan tadi tentu disambut gembira oleh para tawanan. Namun, mereka juga memperingatkan pada Sang pemuda bahwa Ratu Siluman Buaya Sangatlah sakti. Bahkan, kesaktiannya semakin bertambah ketika dia menumbalkan tawanannya setiap bulan purnama. Selain itu, tumbal juga dapat membuat Ratu Siluman Buaya hidup abadi sepanjang masa.

Perbincangan antara para tawanan dengan Sang pemuda tiba-tiba terhenti ketika terdengar suara langkah kaki mendekat. Rupanya Sang Ratu Siluman Buaya datang untuk memeriksa keadaan para tawanan. Setelah berada tepat di depan sel dia meminta dengan agak memaksa Sang Pemuda ikut dengannya.

Mereka berjalan berkeliling gua sambil berbincang-bincang. Rupanya Sang Ratu Siluman Buaya menaruh hati pada Sang pemuda sehingga menceritakan asal usulnya sebagai penguasa buaya serta seluruh isi gua persembunyian yang merupakan istananya. Bahkan, saking kesengsemnya, Sang Ratu Siluman Buaya mau menceritakan rahasia bagaimana cara keluar dari gua persembunyian.

Informasi dari Ratu Siluman Buaya merupakan petunjuk berharga bagi Sang pemuda. Dia lalu mengatur rencana guna meloloskan diri bersama para tawanan tepat saat bulan purnama tiba. Sebab, saat itulah Ratu Siluman Buaya akan mengadakan semacam ritual guna menambah kesaktiannya. Dan, ketika mengadakan ritual Ratu Siluman Buaya akan melepaskan mustika yang merupakan pusat kesaktiannya.

Singkat cerita, tepat saat bulan Sang pemuda mengendap-endap mengambil mustika Ratu Siluman Buaya yang tengah melangsungkan ritual. Selanjutnya, bersama para tawanan melarikan diri menuju lorong rahasia yang diceritakan Ratu Siluman Buaya menuju suatu tempat di tepi sungai.

Sampai di mulut terowongan mereka kembali ke rumah masing-masing. Dan sejak saat itu daerah sekitar sungai tidak pernah diganggu lagi oleh Ratu Siluman Buaya karena mustika kesaktiannya telah dibawa Sang pemuda. Oleh masyarakat setempat dia kemudian digelari sebagai Pendekar Cisadane karena telah berjasa membuat daerah sekitar aliran Sungai Cisadane aman dari gangguan Ratu Siluman Buaya dan anak buahnya.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Keramat Sumur Sentul

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Sumur Sentul berada di Kampung Santri, Desa Klebet, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Ada cerita menarik yang berkembang di masyarakat setempat tentang keberadaan Sumur Sentul. Konon, dahulu lokasi sumur berbentuk menyerupai sendang berada di tengah hutan belantara yang tidak terjamah manusia. Ia baru ditemukan oleh sekelompok ulama Banten bernama Syekh Khaerun, Syekh Mansyur, dan Syeh Barnawi.

Keberadaan mereka di sana adalah untuk ngeli (bersembunyi) dari kejaran tentara Belanda yang berusaha menangkap para ulama Banten. Tanpa di sangka, di sekitar lokasi persembunyian terdapat sebuah mata air jernih yang keluar dari dalam tanah tanpa henti. Di tempat itulah mereka kemudian membentuk sebuah wadah bagi para ulama dan santri berkumpul serta berdiskusi guna melawan penjajah Belanda.

Namun, setelah Indonesia merdeka lokasi berkumpul di sekitar Sumur Sentul ditinggalkan begitu saja. Ia menjadi terbengkalai dan tidak terawat hingga didatangi kembali oleh salah seorang keturunan Syekh Khaerun bernama Abuya Uci Turtusi, pimpinan Pondok Pesantren Istiqlaliyah Cilongok Pasarkemis.

Sejak kedatangan Abyua Uci Turtusi area Sumur Sentul mulai ramai dikunjungi baik oleh warga Tangerang sendiri maupun daerah lain di Indonesia. Sumur Sentul tidak hanya difungsikan sebagai tempat pengajian mingguan (setiap malam Jumat), melainkan juga ziarah mencari berkah dan karomah. Ada kepercayaan tertentu yang membuat Sumur Sentul dikeramatkan karena dipercaya memiliki khasiat tersendiri apabila diminum atau untuk membasuh tubuh. Adapun khasiatnya antara lain: dapat menjadi sumber penyembuh bagi berbagai macam penyakit, melancarkan rezeki, membuat rumah tangga menjadi harmonis, hingga memperlancar usaha.

Oleh karena telah menjadi sesuatu yang dikeramatkan, ada tata tertib tertentu ketika berada di area sumur, yaitu: (1) tidak boleh bicara sembarangan; (2) harus menjaga kebersihan; (3) tidak boleh membawa bunga-bungaan untuk mandi; (4) tidak boleh mamakai sabun dan shampo ketika mandi; (5) tidak boleh menanggalkan busana ketika mandi; (6) tidak boleh memasukkan anggota tubuh ke sumur; dan (7) tidak boleh membuang uang logam ke dalam sumur. (gufron)

Asal Mula Desa Kandawati

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Di Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, ada sebuah desa bernama Kandawati. Masyarakatnya sebagian adalah keturunan para tokoh alim ulama yang apabila ditarik lebih jauh akan sampai pada Sultan Maulana Hasanuddin, Raden Kenyep/Arya Wangsakara dan Nyimas Gandawati.

Nyimas Gandawati atau lengkapnya Nyimas Gandasari Cirebon adalah murid dari Sunan Gunung Jati (Syekh Sayarief Hidayatulloh). Dia adalah anak angkat dari Pangeran Cakra Buana. Konon, sosoknya merupakan idaman para lelaki yaitu cantik rupawan dengan bentuk tubuh mempesona. Namun, dibalik kecantikan tersebut tersimpan kekuatan istimewa. Sesuai dengan namanya “ganda” yang berarti berlipat, Gandawati memiliki kekuatan berlipat-lipat.alias sakti mandraguna yang dapat menaklukkan siapa saja.

Bersama Sultan Maulana Hasanuddin Nyimas Gandasari mensyiarkan Islam di daerah Banten. Adapun wilayahnya di sepanjang pesisir utara Banten (sekarang wilayah Tangerang Utara) yaitu Belod, Cakung, Kedung, dan sekitarnya. Memakai media kendang dan Silat Paku sebagai daya tarik, dia mengajak penduduk setempat memeluk ajaran Islam.

Di salah satu tempat di wilayah Tangerang Utara Nyimas Gandawati tidak hanya menyebarkan syiar Islam dengan cara damai melainkan juga harus mengeluarkan kesaktiannya guna menaklukkan para jawara. Dan, berkat usahanya tersebut penduduk setempat kemudian menamai daerah yang meraka diami Kandawati sebagai penghormatan kepada Nyimas Gandawati. Kandawati dapat diartikan sebagai seorang kakak perempuan yang dituakan.

Sebagai catatan, sepeninggal Nyimas Gandawati, daerah Kandawati juga digunakan sebagai makam dan makom para ulama penyebar Islam lainnya, antara lain Syekh Abdul Jabbar, Syekh Hasan Basri, Syekh Astari/Ki Cakung, dan Syekh Cinding. Makom dan makam mereka saat ini dikeramatkan dan ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di luar Kabupaten Tangerang. (gufron)

Asal Mula Kampung Cirewed

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Kampung Cirewed berada di Kelurahan Sukadamai, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Dinamakan demikian karena dahulu banyak orang bawel yang tinggal di daerah ini. Cirewed sendiri merupakan hasil nasalisasi dari kata cerewet yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai suka mencela (mengomel, mengata-ngatai), banyak mulut, nyinyir, dan bawel.

Konon, sebagian besar penduduk (terutama kaum perempuan) yang tinggal di sana mempunyai kebiasaan unik yaitu sering bergunjing dan kalau sedang berbicara sulit untuk dihentikan. Terlebih lagi bila sedang marah (baik pada suami, anak, maupun orang lain) mereka akan berbicara tanpa henti hingga arahnya menjadi melebar ke mana-mana. Kebiasaan para perempuan inilah yang kemudian dijadikan sebagai nama kampung tempat mereka tinggal.

Dahulu, Kampung Cirewed yang terletak di Jalan Raya Serang Km 13 Cikupa, merupakan secara administratif termasuk dalam Kelurahan Sukadamai. Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk, Kelurahan Sukadamai dimekarkan menjadi Kelurahan Bunder dan Kampung Cirewed menjadi bagiannya. (gufron)

Legenda Danau Tondano

(Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Utara)

Alkisah, dahulu di daerah Minahasa ada sebuah gunung menjulang tinggi. Pada bagian utara dan selatan gunung dikuasai oleh dua orang tonaas. Tonaas wilayah utara memiliki seorang anak perempuan yang diberi nama Marimbaouw. Sementara tonaas wilayah selatan dikaruniai seorang putra bernama Maharimbouw.

Keduanya memiliki umur yang tidak terpaut jauh. Sayangnya mereka tidak saling kenal karena tempat tinggal yang dipisahkan oleh gunung. Jadi, Marimbaouw dan Maharimbouw hidup bersama klennya masing-masing hingga tumbuh dewasa dan siap meneruskan kepemimpinan orang tuanya.

Perbedaan keduanya hanyalah pada perspektif gender yang dianut klennya. Maharimbouw diposisikan sebagai seorang laki-laki patriark yang menjadi pusat kekuasaan. Dia dicitrakan sebagai pengambil keputusan, kuat, jantan, berani, bersifat pelindung, pantang menyerah dan rasional. Berdasar konstruksi sosial tadi Maharimbouw bebas melakukan aktivitas di luar rumah, baik siang maupun malam serta kegiatan yang cenderung mengukuhkan sifat kelaki-lakiannya sehingga memungkinkannya secara fisiologis, sosiologis, maupun pasikologis tumbuh sebagai pribadi kuat dan mandiri.

Sementara Marimbaouw awalnya diposisikan berkenaan dengan peran domestik perempuan dalam rumah tangga. Namun, karena dia adalah anak satu-satunya, maka mau tidak mau harus menjalankan pula peran sebagaimana layaknya laki-laki karena kelak harus menjadi tonaas menggantikan ayahandanya. Oleh karena itu, walau banyak laki-laki datang melamar, Marimbaouw menolak dengan halus sebelum dirinya siap menjadi tonaas.

Bahkan, saking seriusnya ingin menjadi tonaas Marimbaouw sampai mengubah penampilan secara total layaknya seorang laki-laki. Dengan demikian, dia pun bebas melakukan aktivitas layaknya laki-laki seperti mempelajari ilmu bela diri, berburu di hutan, dan lain sebagainya.

Suatu hari, ketika sedang mengasah ilmu berburunya di hutan dia ditangkap oleh Maharimbouw yang kebetulan tengah berjaga di daerah perbatasan. Dia pun diiterogasi karena dikira sebagai mata-mata yang dikirim dari daerah utara.

Merasa dirinya bukanlah seorang mata-mata Marimbaouw tentu saja menyangkal tuduhan Maharimbouw. Terjadilah adu mulut di antara keduanya yang berujung pada perkelahian. Marimbaouw dan Maharimbouw sama-sama mengeluarkan jurus andalan untuk mengalahkan satu sama lain.

Tetapi perkelahian itu tidak berlangsung lama. Ketika Maharimbouw menyerang ke arah wajah, tanpa disengaja mengenai bagian belakang kepala Marimbaouw sehingga rambut hitamnya yang panjang menjadi terurai dan menampakkan wajah aslinya.

Seketika Maharimbouw langsung menghentikan serangan. Dia berdiri kaku menyaksikan kecantikan Marimbaouw yang tengah sibuk merapikan rambutnya kembali. Dan, dengan hati masih berdegup kencang dia meminta maaf karena mengira Marimbaouw adalah orang yang sengaja diutus untuk memata-matai aktivitas tonaas wilayah selatan.

Selanjutnya, dia mempersilahkan Marimbaouw pulang kembali ke rumahnya. Namun, dia berharap agar Marimbaouw mau menemuinya kembali di tempat ini beberapa minggu ke depan. Maharimbouw telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Bak gayung bersambut, harapan Maharimbouw ternyata ditanggapi oleh Marimbaouw. Dan, semenjang itu mereka kerap berjumpa di perbatasan. Benih-benih cinta akhirnya mulai muncul di antara keduanya.

Beberapa bulan kemudian Maharimbouw memutuskan untuk melamar Marimbaouw. Sayangnya, lamaran itu ditolak dengan alasan Marimbaouw sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum menjadi tonaas menggantikan ayahnya.

Begitu seterusnya, setiap kali bertemu alasan itu yang dimunculkan. Maharimbouw selalu saja membujuknya untuk melanggar sumpah hingga suatu saat Marimbaouw luluh dan akhirnya menerima. Mereka menikah secara diam-diam tanpa dihadiri orang tua dari kedua belah pihak.

Walhasil, baru beberapa hari menikah dampaknya mulai terasa. Akibat Marimbaouw melanggar sumpah wilayah dua tonaas tiba-tiba dilanda gempa bumi dahsyat yang menyebabkan bebatuan besar dari puncak gunung berjatuhan. Sejurus kemudian puncak gunung yang memisahkan kedua tonaas tiba-tiba menyemburkan lahar panas.

Tidak lama setelahnya, entah dari mana, datanglah air bah yang menenggelamkan seluruh wilayah bagian utara dan selatan di sekitar gunung tinggi itu. Lama-kelamaan kedua daerah itu menjadi sebuah danau besar yang oleh masyarakat kemudian dinamakan sebagai Tondano.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Asal Mula Kecamatan Sepatan

(Cerita Rakyat Daerah Tangerang, Banten)

Kecamatan Sepatan yang kini dimekarkan menjadi Sepatan dan Sepatan Timur memiliki sebuah kisah unik yang melatar belakangi penamaannya. Dahulu sebelum menjadi kecamatan di Kabupaten Tangerang daerah ini didiami oleh orang-orang yang tidak kembali lagi ke Banten setelah melakukan penyerbuan ke Jayakarta.

Lambat laun tidak hanya orang Banten saja yang menetap, melainkan juga mereka yang berasal dari beberapa etnis (Betawi, Sunda, Jawa) di daerah Jayakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Etnis Betawi di Jayakarta mulai datang dan menetap sekitar tahun 1600an. Adapun sebab kepindahan mereka ada yang menyatakan karena kedatangan Kompeni Belanda secara masif ke Jayakarta dan ada pula yang mengatakan karena wilayah Jayakarta waktu itu sering dilanda banjir.

Sementara etnis Sunda yang menetap sebagian besar berasal dari daerah Sumedang dan sisanya dari daerah Jasinga serta Lebak. Kedatangan orang-orang Sumedang ini mulai membanjir pasca penyerbuan pasukan Kerajaan Mataram ke Jayakarta antara tahun 1628 sampai 1929. Sedangkan pendatang dari Jawa adalah para pengikut Fatahilah dari Demak yang menguasai Banten sekitar tahun 1526. Selain itu ada juga kelompok-kelompok kecil sisa pasukan Mataram yang gagal mengepung Jayakarta.

Ketiga kelompok etnis tadi semakin hari mulai terdesak setelah Kompeni melarang orang-orang Tionghoa menetap di Jayakarta. Bahkan jumlah mereka semakin bertambah tatkala terjadi pemberontakan orang Tionghoa di Jayakarta yang telah berubah nama menjadi Batavia. Kompeni melarang mereka tinggal di Batavia dan hanya diperbolehkan menetap di daerah-daerah pinggiran.

Oleh karena sebagian orang Tionghoa memiliki modal besar, mereka kemudian menjadi tuan-tuan tanah di Tangerang. Akibatnya, penduduk yang datang sebelumnya (Betawi, Sunda, dan Jawa) menjadi terpinggirkan. Mereka kalah dalam hal penguasaan lahan partikelir karena tidak didukung oleh kekuatan finansial yang memadai.

Dan, untuk mencegah semakin meluasnya ekspansi orang-orang Tionghoa, mereka lantas mengerahkan orang-orang sakti membuat sebuah pembatas gaib yang diseput sepatan atau sipatan. Sepatan ini dibuat untuk membatasi wilayah para tuan tanah Tionghoa di sisi timur muara Sungai Cisadane dan wilayah pendatang sebelumnya di sisi sebelah barat. Hasilnya, konon, orang-orang Tionghoa tidak dapat melewati batas maya tersebut sehingga tidak bisa melakukan ekspansi ke sisi sebelah barat Sungai Cisadane.

Lambat laun seiring bertambahnya jumlah penduduk dengan etnis yang lebih beragam, sepatan tidak lagi menjadi pembatas gaib melainkan telah berupa populasi penduduk dalam sebuah kecamatan yang bernama sama dengan batas-batas: sebelah utara dengan Kecamatan Sukadiri dan Kecamatan Pakuhaji, sebelah timur dengan Kecamatan Sepatan Timur (hasil pemekaran Kecamatan Sepatan), sebelah selatan dengan Kota Tangerang, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Rajeg serta Kecamatan Pasar Kemis. Di dalamnya terdapat sejumlah desa dan kelurahan, yaitu: Sepatan Pisangan Jaya, Kayu Bongkok, Karet, Mekar Jaya, Sarakan, Kayuagung, dan Pondok Jaya. (gufron)

Asal Mula Danau Batur

(Cerita Rakyat Daerah Bali)

Alkisah, ada sepasang suami istri yang tinggal di sebuah desa di pedalaman Bali. Mereka telah lama berumah tangga, namun belum juga dikaruniai momongan. Rutin menjelang tidur mereka selalu berdoa memohon agar keinginan mendapat bayi dikabulkan Tuhan.

Setelah sekian tahun berdoa akhirnya Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Sang istri mulai mengandung dan sembilan bulan kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki sehat tak kurang satu apa pun. Ajaibnya, Si bayi tumbuh dengan sangat pesat melebihi pertumbuhan manusia normal.

Ketika memasuki usia kanak-kanak tubuhnya sudah seperti orang dewasa. Orang-orang di sekitarnya menjulukinya sebagai “Kebo Iwa” atau “Paman Kerbau” karena tubuh dan nafsu makannya di luar batas kewajaran. Kedua orang tuanya sampai kewalahan memenuhi nafsu makannya yang luar biasa.

Sesuai dengan julukannya, Kebo Iwa bisa menjadi sangat pemarah terlebih bila makanan yang disediakan tidak membuatnya kenyang. Dia akan merusak apa saja yang ditemui, mulai dari rumahnya sendiri hingga rumah para tetangga yang letaknya berdekatan. Namun, apabila perutnya kenyang dia berubah menjadi sangat baik dengan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongannya, mulai dari meratakan tanah hingga mengangkut batu untuk membendung sungai.

Begitu seterusnya hingga suatu hari terjadi masa paceklik yang melanda desa hingga warga mulai kesulitan mendapatkan bahan pangan. Kondisi ini tidak membuat Kebo Iwa sadar. Dia tetap saja mengancam akan memporak-porandakan seisi desa apabila jatah makannya kurang.

Merasa terancam oleh keberadaan Kebo Iwa, warga desa bersepakat untuk menyingkirkannya. Adapun caranya adalah memberikan makan hingga kenyang lalu menyuruhnya menggali lubang yang sangat dalam untuk dijadikan sumur raksasa berdiameter besar dan dalam. Apabila lubang telah terbentuk dan Kebo Iwa berada di dalamnya, maka warga akan menimbunnya dengan batu kapur.

Setelah rencana penyingkiran disepakati esok harinya kepala desa mendatangi Kebo Iwa dan menawarinya pekerjaan sebagai penggali sumur dengan imbalan berupa makanan yang luar biasa banyak. Iming-iming tadi ditanggapi serius oleh Kebo Iwa. Dia minta ditunjukkan lokasi sumur akan dibuat.

Sampai di lokasi dia langsung menggali tanah membentuk sebuah lubang hanya dengan kedua tangannya tanpa alat bantu apapun. Ketika air mulai merembes Kebo Iwa merasa lelah dan ingin beristirahat. Dari dalam lubang dia meminta dikirimi makanan pada warga yang menunggu di atasnya.

Selesai makan sangat banyak, Kebo Iwa merasa mengantuk dan mencoba tidur di dalam lubang. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh warga. Saat Kebo Iwa mulai terlelap beramai-ramai mereka menimbunnya dengan batu kapur hingga tubuhnya terlihat lagi dan akhirnya tewas kehabisan napas.

Ajaibnya, setelah Kebo Iwa tewas dari dalam sumur air memancar begitu besar hingga meluap ke mana-mana. Bahkan, saking banyaknya hingga membanjiri dan menenggelamkan desa menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat danau itu kemudian dinamakan sebagai Danau Batur. Sedangkan gundukan tanah hasil galian Kebo Iwa yang tidak ikut tenggelam dinamakan sebagai Gunung Batur.

Diceritakan kembali oleh ali gufron

Asal Mula Desa Panongan

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Panongan merupakan salah satu desa yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang. Menurut cerita yang berkembang pada masyarakat setempat, nama desa ini berasal dari kata “panoongan” (bahasa Sunda) yang berarti “sesuatu untuk dilihat”. Konon, sebelum menjadi sebuah desa, dahulu hidup seorang perempuan cantik bernama Nyai Menong. Sang Nyai hidup seorang diri di sebuah kawasan yang menjadi tempat perlintasan orang-orang dari berbagai kampung.

Oleh karena memiliki paras cantik jelita, Nyai Menong banyak dilirik para lelaki yang kebetulan melintasi depan rumahnya. Lama kelamaan, kawasan di sekitar rumah Nyai Menong dinamakan sebagai “Hulu Panoongan” karena hampir setiap laki-laki akan menyempatkan diri untuk noong (melihat) Sang Nyai. Tunjuannya bermacam-macam, mulai dari hanya sekedar mengagumi paras cantiknya, kemolekan lekuk tubuhnya atau aktivitas kesehariannya.

Aktivitas noong itulah yang kemudian menjadi sebuah arena bagi para jawara mengadu ilmu kanuragan guna merebut hati Sang Nyai. Di antara mereka ada dua orang jawara kelas kakap, yaitu Ki Banteng dan Ki Banjir. Saking kakapnya tempat petilasan mereka saat ini menjadi makom keramat yang ramai dikunjungi para peziarah. Mereka tidak hanya datang ngalap berkah di kedua makom tersebut, melainkan juga ke dua tempat lain di sekitar makom yang dinamakan sebagai Sumur Tujuh dan Telapak Sujud.

Seiring waktu nama panoongan oleh masyarakat setempat dilafalkan menjadi panongan dan menjadi sebuah desa dengan pemimpin pertamanya bernama Ki Angko. Pemimpin selanjutnya adalah Ki Janaan (1941-1949), Hasyim (1949-1957), Amat (1957-1965), H. Ahmad (1965-1981), Dadang Hermawan (1981-1989), Rais (1989), Suhendi (1999-2007), Suadi (2007-2013), dan Suhendi (2013-2020). (gufron)
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive