(Cerita Rakyat Daerah Banten)
Alkisah, pada masa lampau ketika wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Serang masih berupa hamparan hutan lebat dan perkampungan kecil yang terpencar, kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kemurahan alam. Hutan menyediakan kayu dan hasil buruan, sementara ladang dan sawah menjadi tumpuan utama untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, di balik kesuburan tanahnya, wilayah ini kerap menghadapi persoalan besar: ketersediaan air yang tidak menentu. Pada musim hujan, air melimpah hingga menenggelamkan ladang, sedangkan pada musim kemarau panjang tanah mengering dan retak, menyebabkan tanaman mati dan hasil panen gagal.
Di tengah kondisi tersebut, hiduplah seorang tokoh tua yang dikenal dengan sebutan Ki Banten. Ia bukan bangsawan istana, bukan pula seorang prajurit, tetapi sosoknya dihormati karena kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kedalaman ilmu spiritualnya. Ki Banten sering berpindah dari satu kampung ke kampung lain, mendengarkan keluh kesah rakyat, memberi nasihat, dan membantu sebisanya. Bagi masyarakat, Ki Banten adalah penghubung antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Suatu tahun, kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Sungai-sungai kecil yang selama ini menjadi sumber air mulai menyusut. Sumur-sumur warga mengering, dan ternak banyak yang mati kehausan. Para petani hanya bisa memandangi sawah mereka yang berubah menjadi tanah keras berdebu. Setiap malam, masyarakat berkumpul di balai kampung untuk berdoa, berharap hujan segera turun atau mukjizat datang menyelamatkan kehidupan mereka.
Mendengar penderitaan itu, Ki Banten merasa terpanggil. Ki Banten percaya bahwa alam tidak pernah kejam tanpa alasan; manusialah yang sering lupa menjaga keseimbangan. Dengan niat suci, ia memutuskan untuk melakukan tapa brata, sebuah laku spiritual yang diyakini dapat membuka jalan petunjuk. Ki Banten memilih sebuah bukit sunyi di pedalaman, jauh dari hiruk pikuk perkampungan. Di sanalah dia berpuasa, bermeditasi, dan memanjatkan doa-doa selama beberapa hari.
Pada malam ketujuh tapa brata, langit di atas bukit tampak berbeda. Angin bertiup lebih kencang, dedaunan berdesir seolah berbisik, dan awan gelap menggantung rendah. Dalam keheningan itu, Ki Banten merasakan getaran kuat dari dalam bumi. Dia mendapatkan wangsit yang menginstruksikan agar menancapkan tongkat pusakanya ke tanah di sebuah lembah tertentu, lalu membiarkan alam bekerja sesuai kehendaknya.
Keesokan paginya, Ki Banten turun dari bukit dan berjalan menuju lembah yang dimaksud dalam wangsit. Lembah itu masih perawan, dipenuhi pepohonan besar dan semak belukar. Dengan langkah mantap dan hati penuh keyakinan, dia berdiri di tengah lembah lalu menancapkan tongkat kayunya ke tanah. Tak lama kemudian, tanah di sekitarnya bergetar perlahan, dan terdengar suara gemuruh halus dari bawah permukaan.
Dari bekas tancapan tongkat itu, tiba-tiba memancar air jernih. Awalnya hanya setetes demi setetes, namun lama-kelamaan alirannya semakin deras. Air itu mengalir mengikuti lekuk tanah, membentuk alur kecil yang terus memanjang. Pepohonan di sekitarnya tampak lebih segar, dan burung-burung berdatangan seolah menyambut kelahiran sumber kehidupan baru.
Aliran air tersebut tidak berhenti di lembah itu saja. Ia terus bergerak, menyusuri hutan, melewati bebatuan, dan menuruni dataran rendah. Di sepanjang perjalanannya, air menyatu dengan mata air lain, membesar dan semakin kuat. Dalam waktu yang tidak lama, aliran tersebut berubah menjadi sebuah sungai yang mengalir mantap, membawa kesejukan dan harapan bagi wilayah yang dilaluinya.
Penduduk dari berbagai kampung mulai menyadari perubahan alam itu. Mereka mengikuti aliran air tersebut hingga menemukan sungai baru yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan penuh rasa syukur, masyarakat percaya bahwa sungai itu adalah jawaban atas doa-doa mereka. Sawah-sawah kembali dialiri air, ternak mendapatkan minum, dan kehidupan perlahan pulih dari krisis panjang.
Sungai itu kemudian dinamakan sebagai Sungai Cibanten. Kata “ci” dalam bahasa setempat berarti air atau sungai, sedangkan “Banten” merujuk pada tanah tempat sungai itu mengalir dan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Nama tersebut menjadi simbol bahwa sungai ini adalah urat nadi kehidupan bagi Banten dan khususnya wilayah Serang.
Seiring berjalannya waktu, Sungai Cibanten tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga menjadi jalur transportasi dan perdagangan. Perahu-perahu kecil hilir mudik membawa hasil bumi, kayu, dan barang dagangan. Di tepi sungai, kampung-kampung tumbuh dan berkembang. Sungai menjadi pusat aktivitas sosial, tempat anak-anak bermain, orang tua berbincang, dan tradisi-tradisi diwariskan dari generasi ke generasi.
Hingga kini, cerita tentang asal-usul Sungai Cibanten terus diceritakan secara lisan oleh masyarakat Serang. Kisah ini mengandung pesan moral yang kuat: manusia harus hidup selaras dengan alam, menjaga keseimbangan, dan tidak melupakan doa serta rasa syukur. Selama nilai-nilai itu dijaga, masyarakat percaya bahwa Sungai Cibanten akan terus mengalir, membawa kehidupan dan keberkahan bagi tanah Banten.
Namun, kisah Sungai Cibanten tidak berhenti sampai di situ. Setelah sungai itu terbentuk dan memberi kehidupan baru, Ki Banten tidak serta-merta kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Ia memilih menetap sementara di salah satu kampung di tepi sungai, membantu masyarakat mengatur pembagian air agar adil dan tidak menimbulkan perselisihan. Dari sinilah masyarakat mulai belajar bahwa air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga amanah yang harus dijaga bersama.
Ki Banten mengajarkan tata cara membuka saluran air sederhana dari sungai menuju sawah-sawah. Dengan alat-alat tradisional, warga bergotong royong menggali parit kecil yang menghubungkan Sungai Cibanten dengan lahan pertanian mereka. Kegiatan ini mempererat hubungan sosial antarwarga. Mereka bekerja dari pagi hingga senja, saling membantu tanpa pamrih, karena mereka sadar bahwa keberlangsungan hidup satu orang bergantung pada yang lain.
Dalam perkembangannya, Sungai Cibanten mulai memengaruhi pola hidup masyarakat. Waktu tanam dan panen menjadi lebih teratur karena ketersediaan air yang stabil. Upacara-upacara adat pun mulai diselenggarakan di tepi sungai sebagai ungkapan rasa syukur. Masyarakat percaya bahwa doa yang dipanjatkan di dekat aliran Sungai Cibanten akan lebih mudah sampai kepada Yang Maha Kuasa.
Anak-anak tumbuh besar dengan sungai sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Mereka belajar berenang, memancing, dan mengenal berbagai jenis ikan air tawar yang hidup di Sungai Cibanten. Orang-orang tua sering duduk di tepi sungai sambil menceritakan kembali kisah Ki Banten dan asal-usul sungai tersebut. Dengan cara inilah nilai-nilai luhur diwariskan dari generasi ke generasi.
Seiring waktu, kabar tentang Sungai Cibanten menyebar ke wilayah lain. Pendatang mulai berdatangan, tertarik oleh kesuburan tanah dan ketersediaan air. Kampung-kampung baru bermunculan di sepanjang aliran sungai. Meskipun demikian, masyarakat setempat tetap memegang pesan Ki Banten agar tidak serakah dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat.
Konon, Ki Banten pernah mengingatkan bahwa Sungai Cibanten akan murka jika manusia melupakan keseimbangan. Murka itu bukan dalam bentuk amarah gaib, melainkan melalui bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Pesan ini tertanam kuat dalam ingatan masyarakat, sehingga mereka berhati-hati dalam membuka hutan, membuang sampah, dan memanfaatkan air sungai.
Setelah merasa tugasnya selesai, Ki Banten berpamitan kepada masyarakat. Ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Sungai Cibanten yang kini telah menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Beberapa orang percaya bahwa Ki Banten tidak benar-benar pergi, melainkan menyatu dengan alam dan menjaga sungai tersebut secara spiritual.
Pada masa-masa berikutnya, ketika Kesultanan Banten berkembang pesat, Sungai Cibanten memiliki peran strategis. Sungai ini menjadi jalur penghubung antara pedalaman dan pusat pemerintahan. Hasil bumi dari desa-desa diangkut melalui sungai menuju pusat perdagangan, sementara kebutuhan masyarakat desa juga didistribusikan melalui jalur yang sama.
Para pemimpin adat dan tokoh agama sering mengingatkan masyarakat tentang asal-usul Sungai Cibanten dalam setiap pertemuan penting. Cerita ini dijadikan landasan untuk menanamkan etika lingkungan dan kebersamaan. Sungai tidak boleh dimonopoli, tidak boleh dirusak, dan harus dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Hingga kini, meskipun zaman telah berubah dan teknologi semakin maju, Sungai Cibanten tetap menjadi simbol kehidupan dan identitas masyarakat Serang. Cerita rakyat tentang asal-usulnya bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan pengingat abadi tentang hubungan manusia dengan alam. Selama cerita ini terus diceritakan, Sungai Cibanten akan selalu hidup, bukan hanya sebagai aliran air, tetapi juga sebagai aliran nilai, sejarah, dan kebijaksanaan leluhur.
Home »
Banten
,
Cerita Rakyat
,
Cerita Rakyat Banten
,
Objek Pemajuan Kebudayaan
» Asal Usul Sungai Cibanten