Es Doger

Suryadi (2017), menyatakan bahwa minuman tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya suatu masyarakat karena mencerminkan kondisi geografis, sumber daya alam, serta nilai-nilai sosial yang berkembang di dalamnya. Salah satu minuman tradisional Indonesia yang masih bertahan hingga saat ini adalah es doger. Es doger dikenal sebagai minuman berbasis es dengan cita rasa manis dan gurih, serta warna merah muda yang khas, yang banyak dijumpai di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Es doger tidak hanya berfungsi sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya yang cukup kuat. Dalam kehidupan masyarakat perkotaan maupun pedesaan, es doger sering dijumpai dalam berbagai aktivitas sosial, mulai dari pasar tradisional, acara hajatan, hingga perayaan rakyat. Keberadaannya yang mudah dijangkau dan harganya yang relatif terjangkau menjadikan es doger sebagai minuman yang bersifat inklusif dan dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Purwanto (2019), menegaskan bahwa kajian terhadap minuman tradisional seperti es doger penting dilakukan untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal dan menjaga keberlanjutan warisan kuliner Nusantara. Dalam konteks modernisasi dan globalisasi, es doger menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Asal Usul dan Sejarah Es Doger
Rachman (2015) menjelaskan bahwa es doger berasal dari wilayah Jawa Barat dan berkembang seiring dengan budaya masyarakat Sunda yang akrab dengan olahan berbasis santan dan gula. Nama “doger” sendiri diyakini berasal dari istilah lokal yang merujuk pada campuran bahan-bahan sederhana yang diolah menjadi minuman segar. Sejarah es doger tidak dapat dilepaskan dari tradisi kuliner rakyat yang berkembang secara lisan dan turun-temurun.

Pada masa awal kemunculannya, es doger dijajakan oleh pedagang keliling menggunakan gerobak dorong atau pikulan. Es doger menjadi minuman favorit di tengah iklim tropis Indonesia karena mampu memberikan sensasi dingin sekaligus rasa manis yang menyegarkan. Keberadaannya di ruang publik seperti pasar dan alun-alun memperkuat posisinya sebagai minuman rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Santosa (2018), menyebutkan bahwa popularitas es doger meningkat pesat pada era urbanisasi, ketika masyarakat perkotaan membutuhkan minuman praktis dan terjangkau. Meskipun mengalami berbagai adaptasi dalam penyajian dan variasi bahan, es doger tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai minuman tradisional yang sarat nilai historis dan budaya.

Bahan-Bahan Utama Es Doger
Widyastuti (2018), mengemukakan bahwa es doger tersusun dari bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh dan mencerminkan kekayaan sumber daya alam Indonesia. Bahan utama es doger meliputi santan kelapa, gula, es serut, tape singkong, ketan hitam, kelapa muda, dan roti tawar. Kombinasi bahan tersebut menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang beragam.

Santan kelapa berfungsi sebagai dasar cairan yang memberikan rasa gurih dan lembut. Gula pasir atau gula sirup digunakan sebagai pemanis, sementara pewarna merah muda—baik alami maupun buatan—memberikan tampilan visual yang khas. Tape singkong dan ketan hitam menambah kompleksitas rasa sekaligus nilai gizi karena mengandung karbohidrat hasil fermentasi.

Menurut Putri et al., (2020), penggunaan bahan-bahan tradisional dalam es doger menunjukkan pengetahuan lokal masyarakat dalam mengolah pangan berbasis karbohidrat dan kelapa. Setiap bahan memiliki fungsi sensorik dan simbolik, sehingga es doger tidak hanya dinilai dari rasanya, tetapi juga dari kekayaan komposisinya.

Proses Pembuatan Es Doger
Rahmawati & Nugraha (2019) menjelaskan bahwa proses pembuatan es doger dimulai dengan menyiapkan santan yang telah dimasak dan dicampur dengan gula serta pewarna makanan. Campuran ini kemudian didinginkan sebelum digunakan sebagai kuah utama. Proses pendinginan penting untuk menjaga kesegaran dan kestabilan rasa santan.

Tahap selanjutnya adalah penyiapan bahan isian seperti tape singkong, ketan hitam, kelapa muda serut, dan potongan roti tawar. Bahan-bahan tersebut disusun di dalam mangkuk atau gelas saji, kemudian ditambahkan es serut dalam jumlah yang cukup. Kuah santan manis dituangkan di atasnya hingga merata.

Menurut Hidayat (2021), teknik penyajian es doger menuntut kecepatan dan ketepatan agar es tidak cepat mencair dan merusak tekstur. Proses ini mencerminkan keterampilan praktis pedagang tradisional dalam menyajikan minuman segar di tengah keterbatasan peralatan modern.

Nilai Gizi dan Aspek Kesehatan
Sementara Putri et al., (2020) menyatakan bahwa es doger mengandung energi yang cukup tinggi karena komposisi karbohidrat dari gula, tape, dan ketan hitam. Kandungan ini menjadikan es doger sebagai sumber energi instan yang cocok dikonsumsi saat cuaca panas atau setelah melakukan aktivitas fisik ringan.

Santan kelapa dalam es doger mengandung lemak nabati yang berfungsi sebagai sumber kalori tambahan. Selain itu, tape singkong mengandung hasil fermentasi yang dapat membantu pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun demikian, kandungan gula yang cukup tinggi perlu diperhatikan, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Menurut (Sari, 2022), konsumsi es doger sebaiknya dilakukan secara moderat sebagai bagian dari pola makan seimbang. Meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, aspek kesehatan tetap perlu menjadi pertimbangan dalam pelestarian dan pengembangan minuman tradisional.

Es Doger dalam Konteks Sosial dan Budaya
Suharto (2017) menekankan bahwa es doger memiliki fungsi sosial sebagai medium interaksi antarindividu. Minuman ini sering hadir dalam acara keluarga, pesta rakyat, dan kegiatan sosial lainnya, sehingga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Es doger juga mencerminkan nilai kebersamaan dan keterbukaan dalam budaya masyarakat Sunda dan Jawa Barat. Penyajiannya yang sederhana dan dapat dinikmati bersama-sama memperkuat rasa solidaritas dan kebersamaan sosial.

Selain itu, Kurniawan (2021) menyebutkan bahwa es doger sering dijadikan simbol kuliner daerah dalam promosi pariwisata. Kehadirannya dalam festival budaya menunjukkan perannya sebagai identitas lokal yang patut dilestarikan.

Adaptasi Es Doger di Era Modern
Hidayat (2022) menjelaskan bahwa es doger mengalami berbagai inovasi di era modern, baik dari segi penyajian maupun variasi rasa. Beberapa pelaku usaha menambahkan topping modern seperti keju, cokelat, dan boba untuk menarik minat generasi muda.

Kemasan es doger juga mengalami perubahan, dari mangkuk tradisional menjadi cup plastik bersegel yang lebih praktis dan higienis. Adaptasi ini memungkinkan es doger bersaing dengan minuman modern tanpa kehilangan karakter dasarnya.

Namun, Suryana (2020) mengingatkan bahwa inovasi perlu dilakukan secara bijak agar tidak menghilangkan nilai tradisional dan autentisitas rasa es doger sebagai warisan budaya kuliner.

Tantangan dan Upaya Pelestarian Es Doger
Suryana (2020), mengidentifikasi tantangan utama pelestarian es doger adalah menurunnya minat generasi muda terhadap minuman tradisional. Dominasi minuman global dan instan membuat es doger kurang mendapat perhatian dalam kehidupan urban modern.

Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui edukasi budaya, promosi kuliner tradisional, serta integrasi es doger dalam program pariwisata berbasis kearifan lokal. Pemerintah dan komunitas budaya memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan minuman tradisional ini.

Menurut Kurniawan (2021), pelestarian es doger bukan hanya soal mempertahankan resep, tetapi juga menjaga nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Foto: https://www.rctiplus.com/news/detail/seleb/3352108/disebut-es-doger-karena-ini
Sumber:
Hidayat, R. 2021. Praktik kuliner tradisional di Indonesia. Bandung: Pustaka Nusantara.
Hidayat, R. 2022. Inovasi minuman tradisional di era modern. Bandung: Humaniora.
Kurniawan, D. 2021. Kuliner tradisional dan identitas budaya daerah. Jurnal Budaya Nusantara, 5(2), 112–125.
Putri, A. R., Santoso, B., & Lestari, M. 2020. Analisis gizi minuman tradisional Indonesia. Jurnal Gizi dan Pangan, 15(1), 45–53.
Rachman, A. 2015. Sejarah kuliner rakyat Jawa Barat. Bandung: Balai Pustaka.
Rahmawati, S., & Nugraha, F. 2019. Pengetahuan lokal dalam pengolahan minuman tradisional. Jurnal Antropologi Indonesia, 40(3), 201–214.
Santosa, B. 2018. Minuman tradisional dalam dinamika budaya lokal. Jurnal Sosiologi Budaya, 10(1), 55–69.
Sari, M. 2022. Konsumsi gula dan kesehatan masyarakat. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(2), 89–101.
Suharto, E. 2017. Makanan tradisional sebagai media interaksi sosial. Jurnal Sosiologi, 9(1), 67–80.
Suryadi, A. 2017. Budaya kuliner Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Suryana, Y. 2020. Pelestarian kuliner tradisional di era globalisasi. Jurnal Pariwisata Budaya, 4(2), 89–101.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive