Lagu Asyik Buat Ngopi Pinggir Sawah
Showing posts with label E. Show all posts
Showing posts with label E. Show all posts

Empal Gentong

Empal gentong merupakan salah satu kuliner tradisional khas Cirebon yang memiliki posisi penting dalam khazanah gastronomi Indonesia. Hidangan ini dikenal sebagai sajian berbahan dasar daging sapi dan jeroan yang dimasak menggunakan kuah santan berbumbu rempah, lalu dimasak secara tradisional di dalam gentong tanah liat. Keunikan empal gentong tidak hanya terletak pada rasanya yang kaya dan kompleks, tetapi juga pada proses memasaknya yang masih mempertahankan teknik tradisional turun-temurun. Sebagai makanan khas daerah, empal gentong mencerminkan perpaduan budaya, sejarah, dan kearifan lokal masyarakat Cirebon.

Secara historis, empal gentong diyakini telah ada sejak masa pengaruh Kesultanan Cirebon dan berkembang seiring dengan dinamika perdagangan dan budaya di pesisir utara Jawa. Cirebon sebagai wilayah pertemuan berbagai budaya—Jawa, Sunda, Arab, dan Tionghoa—memberikan pengaruh besar terhadap ragam kuliner setempat. Empal gentong menjadi representasi dari proses akulturasi tersebut, terutama dalam penggunaan rempah-rempah yang kaya dan teknik memasak yang khas. Nama “gentong” sendiri merujuk pada wadah tanah liat besar yang digunakan untuk memasak hidangan ini, yang dipercaya mampu menjaga kestabilan panas dan memperdalam cita rasa masakan.

Bahan utama empal gentong umumnya terdiri dari daging sapi, babat, usus, dan bagian jeroan lainnya. Pemilihan bahan menjadi tahap penting karena kualitas daging sangat memengaruhi hasil akhir hidangan. Daging sapi dipilih yang masih segar agar menghasilkan tekstur empuk dan rasa yang optimal. Selain daging, santan kelapa digunakan sebagai dasar kuah, memberikan rasa gurih yang khas. Aneka rempah seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, kunyit, lengkuas, jahe, dan serai menjadi komponen utama yang membangun aroma dan cita rasa empal gentong.

Proses pengolahan empal gentong tergolong panjang dan membutuhkan kesabaran. Daging dan jeroan terlebih dahulu dibersihkan dan direbus hingga setengah empuk. Setelah itu, bumbu rempah dihaluskan dan ditumis hingga harum sebelum dicampurkan ke dalam rebusan daging bersama santan. Seluruh bahan kemudian dimasak di dalam gentong tanah liat yang diletakkan di atas tungku kayu bakar. Penggunaan kayu bakar dan gentong tanah liat dipercaya memberikan aroma khas serta rasa yang lebih mendalam dibandingkan metode memasak modern.

Dari segi rasa, empal gentong menawarkan perpaduan cita rasa gurih, rempah yang kuat, dan sedikit manis alami dari santan. Kuahnya cenderung kental namun tetap ringan di lidah, sementara daging dan jeroan yang dimasak lama menghasilkan tekstur empuk dan mudah dikunyah. Rempah-rempah yang digunakan tidak mendominasi secara berlebihan, melainkan saling melengkapi dan menciptakan harmoni rasa. Sensasi hangat dari jahe dan lengkuas menambah kenikmatan empal gentong, terutama saat disajikan dalam keadaan panas.

Empal gentong biasanya disajikan bersama nasi putih atau lontong, serta dilengkapi dengan sambal dan taburan daun kucai. Sambal memberikan sentuhan pedas yang memperkaya rasa, sementara kucai menambah aroma segar yang khas. Penyajian sederhana ini justru menonjolkan karakter utama empal gentong sebagai hidangan rakyat yang mengutamakan cita rasa daripada tampilan visual. Meski demikian, dalam konteks modern, empal gentong juga sering disajikan dengan penataan yang lebih menarik di restoran dan rumah makan.

Dalam kehidupan sosial masyarakat Cirebon, empal gentong memiliki peran penting sebagai hidangan yang kerap hadir dalam berbagai acara, baik acara keluarga, perayaan adat, maupun jamuan tamu. Kehadirannya sering diasosiasikan dengan kebersamaan dan kehangatan. Banyak warung empal gentong yang telah beroperasi selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari identitas kuliner kota Cirebon. Warung-warung tersebut tidak hanya menjual makanan, tetapi juga menyimpan cerita dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Seiring perkembangan zaman, empal gentong mengalami berbagai adaptasi tanpa meninggalkan ciri khasnya. Beberapa pelaku usaha kuliner mulai mengembangkan variasi empal gentong dengan tingkat kepedasan yang berbeda atau penyajian yang lebih modern. Meski demikian, esensi empal gentong sebagai masakan tradisional berbasis santan dan rempah tetap dipertahankan. Adaptasi ini menunjukkan fleksibilitas empal gentong sebagai kuliner tradisional yang mampu bertahan di tengah perubahan selera masyarakat.

Dari sudut pandang gizi, empal gentong mengandung protein hewani yang cukup tinggi dari daging sapi dan jeroan. Santan menyumbang lemak yang memberikan energi, sementara rempah-rempah memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti sifat antioksidan dan antiinflamasi. Namun, karena kandungan lemaknya yang cukup tinggi, empal gentong sebaiknya dikonsumsi secara seimbang. Dengan porsi yang tepat, hidangan ini dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan bernutrisi.

Empal gentong juga memiliki peran penting dalam pariwisata kuliner Cirebon. Bagi wisatawan, mencicipi empal gentong sering dianggap sebagai pengalaman yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke kota ini. Hidangan ini menjadi salah satu ikon kuliner yang memperkuat citra Cirebon sebagai destinasi wisata budaya dan kuliner. Melalui empal gentong, wisatawan dapat mengenal lebih dekat kekayaan rempah dan tradisi memasak masyarakat setempat.

Keberlanjutan empal gentong sebagai warisan kuliner sangat bergantung pada upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dan pelaku usaha. Regenerasi pembuat empal gentong, dokumentasi resep tradisional, serta promosi kuliner lokal menjadi langkah penting untuk menjaga eksistensinya. Pendidikan kuliner dan dukungan terhadap usaha kecil menengah juga berperan dalam memastikan empal gentong tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda.

Secara keseluruhan, empal gentong bukan sekadar hidangan khas daerah, melainkan representasi dari sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Cirebon. Proses memasak yang tradisional, penggunaan bahan lokal, serta cita rasa yang kaya menjadikan empal gentong sebagai salah satu warisan kuliner Nusantara yang bernilai tinggi. Di tengah arus modernisasi, empal gentong tetap bertahan sebagai simbol kelezatan dan kearifan lokal yang patut dilestarikan dan diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Foto: https://www.kompas.com/food/read/2021/11/28/202600375/resep-empal-gentong-cirebon-yang-empuk-dan-tidak-amis

Es Teler

Es teler merupakan salah satu minuman tradisional Indonesia yang sangat populer dan dikenal luas sebagai simbol kesegaran tropis. Minuman ini identik dengan perpaduan berbagai macam buah segar yang dipadukan dengan santan, susu, dan es serut atau es batu, sehingga menghasilkan cita rasa manis, gurih, dan menyegarkan. Es teler tidak hanya hadir sebagai pelepas dahaga, tetapi juga sebagai bagian dari identitas kuliner Nusantara yang mencerminkan kekayaan alam Indonesia, khususnya hasil bumi berupa buah-buahan tropis yang melimpah. Kehadiran es teler dalam berbagai kesempatan, mulai dari penjual kaki lima hingga restoran modern, menunjukkan bahwa minuman ini mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter dasarnya.

Secara historis, es teler mulai dikenal luas di Indonesia pada paruh kedua abad ke-20. Popularitasnya meningkat seiring dengan berkembangnya budaya kuliner perkotaan yang menggabungkan unsur tradisional dan modern. Nama “es teler” sendiri memiliki daya tarik unik karena terdengar ringan, akrab, dan mudah diingat. Dalam perkembangannya, es teler tidak hanya menjadi minuman rumahan, tetapi juga menu andalan di berbagai pusat kuliner, festival makanan, dan acara keluarga. Keberadaannya sering dikaitkan dengan suasana santai, kebersamaan, dan kenikmatan sederhana yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Komposisi utama es teler umumnya terdiri dari alpukat, kelapa muda, dan nangka, meskipun variasi modern sering menambahkan buah lain seperti melon, pepaya, mangga, atau anggur. Alpukat memberikan tekstur lembut dan rasa gurih yang khas, kelapa muda menghadirkan sensasi segar alami, sedangkan nangka menyumbangkan aroma harum yang kuat. Kombinasi ketiga bahan ini menciptakan harmoni rasa dan tekstur yang seimbang. Selain buah, komponen cair seperti santan dan susu kental manis berperan penting dalam membangun karakter rasa es teler yang creamy dan legit.

Proses pembuatan es teler relatif sederhana, namun membutuhkan ketelitian dalam pemilihan bahan. Buah-buahan harus dalam kondisi segar dan matang sempurna agar menghasilkan rasa optimal. Alpukat dipilih yang tidak terlalu keras maupun terlalu lembek, kelapa muda diambil dagingnya yang masih kenyal, dan nangka dipotong tipis agar aromanya mudah menyatu dengan komponen lain. Es batu biasanya diserut halus untuk memberikan sensasi dingin yang merata dan tidak merusak tekstur buah. Kesederhanaan proses inilah yang membuat es teler mudah dibuat di rumah, sekaligus mudah dikembangkan dalam skala usaha.

Dari sisi rasa, es teler menawarkan pengalaman yang kompleks namun menyenangkan. Rasa manis dari susu dan gula berpadu dengan gurihnya santan, sementara buah-buahan memberikan nuansa segar dan alami. Perpaduan ini menciptakan sensasi yang tidak hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga memanjakan lidah. Tekstur yang beragam, mulai dari lembutnya alpukat, kenyalnya kelapa muda, hingga serat halus buah nangka, membuat setiap suapan es teler terasa unik. Inilah yang menjadikan es teler tidak membosankan meskipun dikonsumsi berulang kali.

Dalam konteks sosial dan budaya, es teler memiliki makna yang lebih dari sekadar minuman. Ia sering hadir dalam acara keluarga, perayaan kecil, hingga momen berkumpul bersama teman. Es teler juga menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia, terutama yang tumbuh dengan budaya jajan tradisional. Keberadaan penjual es teler di pinggir jalan, pasar, atau pusat keramaian mencerminkan dinamika ekonomi kecil yang hidup dan berperan penting dalam keseharian masyarakat.

Perkembangan zaman membawa es teler ke ranah inovasi kuliner. Banyak pelaku usaha yang mengemas es teler dengan tampilan lebih modern, menggunakan gelas estetik, topping tambahan seperti keju parut atau biji selasih, serta variasi saus buah. Bahkan, konsep es teler kini diadaptasi ke dalam bentuk dessert lain seperti es krim, puding, atau cake dengan cita rasa khas es teler. Inovasi ini menunjukkan fleksibilitas es teler sebagai produk kuliner yang mampu mengikuti selera generasi baru tanpa meninggalkan akar tradisionalnya.

Dari sudut pandang gizi, es teler memiliki kandungan nutrisi yang cukup beragam, terutama dari buah-buahan yang digunakan. Alpukat kaya akan lemak baik, kelapa muda mengandung elektrolit alami, dan buah-buahan lain menyumbang vitamin serta serat. Namun, kandungan gula dan santan yang cukup tinggi membuat es teler sebaiknya dikonsumsi secara bijak. Dengan penyesuaian komposisi, seperti mengurangi gula atau menggunakan susu rendah lemak, es teler dapat menjadi pilihan minuman yang lebih seimbang secara nutrisi.

Keberadaan es teler dalam dunia pariwisata kuliner Indonesia juga patut diperhitungkan. Bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, es teler sering menjadi salah satu minuman yang direkomendasikan untuk dicoba karena mencerminkan karakter tropis Indonesia. Rasanya yang unik dan tampilannya yang menarik menjadikan es teler sebagai media pengenalan budaya kuliner Nusantara. Dalam konteks ini, es teler berperan sebagai duta rasa yang memperkenalkan kekayaan buah tropis Indonesia kepada dunia.

Secara keseluruhan, es teler bukan sekadar minuman penyegar, melainkan representasi dari kreativitas, kekayaan alam, dan budaya kuliner Indonesia. Kesederhanaan bahan dan prosesnya berpadu dengan kedalaman rasa dan makna sosial yang dimilikinya. Dari generasi ke generasi, es teler terus bertahan dan berkembang, membuktikan bahwa kuliner tradisional memiliki daya hidup yang kuat di tengah arus modernisasi. Dengan segala keunikan dan fleksibilitasnya, es teler layak dipandang sebagai salah satu warisan kuliner Indonesia yang patut dilestarikan dan terus dikenalkan kepada masyarakat luas.

Foto: https://www.kompas.com/food/read/2021/10/23/142526375/resep-es-teler-santan-minuman-dingin-segar-untuk-cuaca-panas

Es Doger

Suryadi (2017), menyatakan bahwa minuman tradisional merupakan bagian penting dari identitas budaya suatu masyarakat karena mencerminkan kondisi geografis, sumber daya alam, serta nilai-nilai sosial yang berkembang di dalamnya. Salah satu minuman tradisional Indonesia yang masih bertahan hingga saat ini adalah es doger. Es doger dikenal sebagai minuman berbasis es dengan cita rasa manis dan gurih, serta warna merah muda yang khas, yang banyak dijumpai di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Es doger tidak hanya berfungsi sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya yang cukup kuat. Dalam kehidupan masyarakat perkotaan maupun pedesaan, es doger sering dijumpai dalam berbagai aktivitas sosial, mulai dari pasar tradisional, acara hajatan, hingga perayaan rakyat. Keberadaannya yang mudah dijangkau dan harganya yang relatif terjangkau menjadikan es doger sebagai minuman yang bersifat inklusif dan dapat dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Purwanto (2019), menegaskan bahwa kajian terhadap minuman tradisional seperti es doger penting dilakukan untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal dan menjaga keberlanjutan warisan kuliner Nusantara. Dalam konteks modernisasi dan globalisasi, es doger menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Asal Usul dan Sejarah Es Doger
Rachman (2015) menjelaskan bahwa es doger berasal dari wilayah Jawa Barat dan berkembang seiring dengan budaya masyarakat Sunda yang akrab dengan olahan berbasis santan dan gula. Nama “doger” sendiri diyakini berasal dari istilah lokal yang merujuk pada campuran bahan-bahan sederhana yang diolah menjadi minuman segar. Sejarah es doger tidak dapat dilepaskan dari tradisi kuliner rakyat yang berkembang secara lisan dan turun-temurun.

Pada masa awal kemunculannya, es doger dijajakan oleh pedagang keliling menggunakan gerobak dorong atau pikulan. Es doger menjadi minuman favorit di tengah iklim tropis Indonesia karena mampu memberikan sensasi dingin sekaligus rasa manis yang menyegarkan. Keberadaannya di ruang publik seperti pasar dan alun-alun memperkuat posisinya sebagai minuman rakyat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Santosa (2018), menyebutkan bahwa popularitas es doger meningkat pesat pada era urbanisasi, ketika masyarakat perkotaan membutuhkan minuman praktis dan terjangkau. Meskipun mengalami berbagai adaptasi dalam penyajian dan variasi bahan, es doger tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai minuman tradisional yang sarat nilai historis dan budaya.

Bahan-Bahan Utama Es Doger
Widyastuti (2018), mengemukakan bahwa es doger tersusun dari bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh dan mencerminkan kekayaan sumber daya alam Indonesia. Bahan utama es doger meliputi santan kelapa, gula, es serut, tape singkong, ketan hitam, kelapa muda, dan roti tawar. Kombinasi bahan tersebut menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang beragam.

Santan kelapa berfungsi sebagai dasar cairan yang memberikan rasa gurih dan lembut. Gula pasir atau gula sirup digunakan sebagai pemanis, sementara pewarna merah muda—baik alami maupun buatan—memberikan tampilan visual yang khas. Tape singkong dan ketan hitam menambah kompleksitas rasa sekaligus nilai gizi karena mengandung karbohidrat hasil fermentasi.

Menurut Putri et al., (2020), penggunaan bahan-bahan tradisional dalam es doger menunjukkan pengetahuan lokal masyarakat dalam mengolah pangan berbasis karbohidrat dan kelapa. Setiap bahan memiliki fungsi sensorik dan simbolik, sehingga es doger tidak hanya dinilai dari rasanya, tetapi juga dari kekayaan komposisinya.

Proses Pembuatan Es Doger
Rahmawati & Nugraha (2019) menjelaskan bahwa proses pembuatan es doger dimulai dengan menyiapkan santan yang telah dimasak dan dicampur dengan gula serta pewarna makanan. Campuran ini kemudian didinginkan sebelum digunakan sebagai kuah utama. Proses pendinginan penting untuk menjaga kesegaran dan kestabilan rasa santan.

Tahap selanjutnya adalah penyiapan bahan isian seperti tape singkong, ketan hitam, kelapa muda serut, dan potongan roti tawar. Bahan-bahan tersebut disusun di dalam mangkuk atau gelas saji, kemudian ditambahkan es serut dalam jumlah yang cukup. Kuah santan manis dituangkan di atasnya hingga merata.

Menurut Hidayat (2021), teknik penyajian es doger menuntut kecepatan dan ketepatan agar es tidak cepat mencair dan merusak tekstur. Proses ini mencerminkan keterampilan praktis pedagang tradisional dalam menyajikan minuman segar di tengah keterbatasan peralatan modern.

Nilai Gizi dan Aspek Kesehatan
Sementara Putri et al., (2020) menyatakan bahwa es doger mengandung energi yang cukup tinggi karena komposisi karbohidrat dari gula, tape, dan ketan hitam. Kandungan ini menjadikan es doger sebagai sumber energi instan yang cocok dikonsumsi saat cuaca panas atau setelah melakukan aktivitas fisik ringan.

Santan kelapa dalam es doger mengandung lemak nabati yang berfungsi sebagai sumber kalori tambahan. Selain itu, tape singkong mengandung hasil fermentasi yang dapat membantu pencernaan jika dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun demikian, kandungan gula yang cukup tinggi perlu diperhatikan, terutama bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu.

Menurut (Sari, 2022), konsumsi es doger sebaiknya dilakukan secara moderat sebagai bagian dari pola makan seimbang. Meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, aspek kesehatan tetap perlu menjadi pertimbangan dalam pelestarian dan pengembangan minuman tradisional.

Es Doger dalam Konteks Sosial dan Budaya
Suharto (2017) menekankan bahwa es doger memiliki fungsi sosial sebagai medium interaksi antarindividu. Minuman ini sering hadir dalam acara keluarga, pesta rakyat, dan kegiatan sosial lainnya, sehingga menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat.

Es doger juga mencerminkan nilai kebersamaan dan keterbukaan dalam budaya masyarakat Sunda dan Jawa Barat. Penyajiannya yang sederhana dan dapat dinikmati bersama-sama memperkuat rasa solidaritas dan kebersamaan sosial.

Selain itu, Kurniawan (2021) menyebutkan bahwa es doger sering dijadikan simbol kuliner daerah dalam promosi pariwisata. Kehadirannya dalam festival budaya menunjukkan perannya sebagai identitas lokal yang patut dilestarikan.

Adaptasi Es Doger di Era Modern
Hidayat (2022) menjelaskan bahwa es doger mengalami berbagai inovasi di era modern, baik dari segi penyajian maupun variasi rasa. Beberapa pelaku usaha menambahkan topping modern seperti keju, cokelat, dan boba untuk menarik minat generasi muda.

Kemasan es doger juga mengalami perubahan, dari mangkuk tradisional menjadi cup plastik bersegel yang lebih praktis dan higienis. Adaptasi ini memungkinkan es doger bersaing dengan minuman modern tanpa kehilangan karakter dasarnya.

Namun, Suryana (2020) mengingatkan bahwa inovasi perlu dilakukan secara bijak agar tidak menghilangkan nilai tradisional dan autentisitas rasa es doger sebagai warisan budaya kuliner.

Tantangan dan Upaya Pelestarian Es Doger
Suryana (2020), mengidentifikasi tantangan utama pelestarian es doger adalah menurunnya minat generasi muda terhadap minuman tradisional. Dominasi minuman global dan instan membuat es doger kurang mendapat perhatian dalam kehidupan urban modern.

Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui edukasi budaya, promosi kuliner tradisional, serta integrasi es doger dalam program pariwisata berbasis kearifan lokal. Pemerintah dan komunitas budaya memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan minuman tradisional ini.

Menurut Kurniawan (2021), pelestarian es doger bukan hanya soal mempertahankan resep, tetapi juga menjaga nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Foto: https://www.rctiplus.com/news/detail/seleb/3352108/disebut-es-doger-karena-ini
Sumber:
Hidayat, R. 2021. Praktik kuliner tradisional di Indonesia. Bandung: Pustaka Nusantara.
Hidayat, R. 2022. Inovasi minuman tradisional di era modern. Bandung: Humaniora.
Kurniawan, D. 2021. Kuliner tradisional dan identitas budaya daerah. Jurnal Budaya Nusantara, 5(2), 112–125.
Putri, A. R., Santoso, B., & Lestari, M. 2020. Analisis gizi minuman tradisional Indonesia. Jurnal Gizi dan Pangan, 15(1), 45–53.
Rachman, A. 2015. Sejarah kuliner rakyat Jawa Barat. Bandung: Balai Pustaka.
Rahmawati, S., & Nugraha, F. 2019. Pengetahuan lokal dalam pengolahan minuman tradisional. Jurnal Antropologi Indonesia, 40(3), 201–214.
Santosa, B. 2018. Minuman tradisional dalam dinamika budaya lokal. Jurnal Sosiologi Budaya, 10(1), 55–69.
Sari, M. 2022. Konsumsi gula dan kesehatan masyarakat. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(2), 89–101.
Suharto, E. 2017. Makanan tradisional sebagai media interaksi sosial. Jurnal Sosiologi, 9(1), 67–80.
Suryadi, A. 2017. Budaya kuliner Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Suryana, Y. 2020. Pelestarian kuliner tradisional di era globalisasi. Jurnal Pariwisata Budaya, 4(2), 89–101.

Engkak

Engkak merupakan salah satu jenis kuih-muih yang populer di daerah Sumatera Selatan dan Lampung. Kue lembut-manis berbentuk persegi empat berbahan ketan ini dibuat secara berlapis menggunakan loyang atau cetakan. Engkak dibuat dari berbagai macam bahan, yaitu tepung ketan putih, gula pasir, telur ayam, santan kelapa, susu kental manis, dan mentega. Adapun cara membuatnya diawali dengan mencampur telur dan gula dalam baskom lalu dikocok hingga mengembang. Selanjutnya campuran telur dan gula tadi ditambah dengan tepung ketan putih, santan, dan susu kaleng. Bila adonan telah tercampur merata, langkah berikutnya adalah menuangnya ke dalam loyang yang telah diolesi mentega untuk dipanggang. Penuangan adonan tidak dilakukan sekaligus, melainkan selapis demi selapis dengan suhu panggangan yang berbeda-beda. Dan, bila telah masak dan didinginkan, kue engkak pun siap disajikan.

Archive