Cerita dimulai dengan kehidupan Axel Blackmar (diperankan dengan penuh kerapuhan oleh Johnny Depp), seorang pemuda yang bekerja sebagai pencatat ikan untuk Departemen Perikanan di New York. Kehidupan tenangnya terusik ketika sepupunya, Paul (Vincent Gallo), menjemputnya pulang ke Arizona untuk menghadiri pernikahan pamannya, Leo Sweetie (Jerry Lewis), seorang pemilik diler mobil Cadillac yang sukses. Leo berharap Axel mau mewarisi bisnis keluarga tersebut, sebuah simbol dari pencapaian tertinggi American Dream versi generasi tua.
Namun, kepulangan Axel ke Arizona justru membawanya masuk ke dalam pusaran hubungan cinta segitiga yang eksentrik dan destruktif dengan dua wanita lokal: Elaine Stalker (Faye Dunaway), seorang janda paruh baya neurotik yang terobsesi untuk bisa terbang, dan Grace (Lili Taylor), anak tiri Elaine yang mengidap depresi berat, hobi bermain akordeon, dan memiliki obsesi kelam terhadap reinkarnasi sebagai seekor kura-kura. Di tengah lanskap gurun yang sunyi, Axel terjebak di antara tuntutan realitas pamannya dan fantasi liar kedua wanita tersebut.
Keberhasilan film ini tidak lepas dari kehadiran Leo Sweetie dan Elaine Stalker sebagai simbol dua sisi mata uang dari impian Amerika yang mulai rapuh. Leo mewakili materialisme dan kesuksesan finansial konvensional, sementara Elaine mewakili pelarian ekstrem dari kenyataan hidup melalui ilusi-ilusi magis. Performa Jerry Lewis sebagai paman Leo memberikan kedalaman emosional yang tragis, menyajikan sosok yang mencoba mempertahankan kendali di atas dunia yang perlahan-lahan runtuh.
Kontras antara karakter-karakter di dalam film ini menciptakan dinamika narasi yang sangat absurd namun mengharukan. Axel, yang awalnya hanya ingin menjadi pengamat pasif seperti pekerjaannya mencatat ikan, dipaksa menjadi jangkar emosional bagi Elaine dan Grace. Hubungannya dengan Elaine dipenuhi gairah kekanak-kanakan untuk menerbangkan pesawat rakitan, sementara hubungannya dengan Grace diwarnai oleh dialog-dialog filosofis yang kelam tentang bunuh diri dan makna hidup. Simbolisme "ikan terbang" yang muncul secara periodik di langit Arizona mempertegas bahwa setiap karakter dalam film ini sedang berenang di dalam tangki mimpi mereka masing-masing, mencoba melarikan diri dari gravitasi realitas yang menyakitkan.
Dari segi estetika dan visual, Arizona Dream adalah sebuah pencapaian sinematik yang kaya akan metafora. Emir Kusturica membawa gaya realisme magis khas Eropa Timur ke dalam lanskap Amerika, menciptakan kontras visual yang luar biasa antara gurun Arizona yang gersang dengan elemen surealis seperti ambulans yang terbang ke bulan atau ikan esme yang melayang di udara. Setiap seting tempat, mulai dari diler Cadillac yang penuh dengan tumpukan mobil hingga rumah tua Elaine yang terisolasi, dieksplorasi dengan sudut pandang kamera yang intim dan terkadang teatrikal, memberikan atmosfer seperti berada di dalam mimpi buruk yang indah.
Aspek audio juga memegang peranan yang sangat krusial dalam menghidupkan lanskap emosional film ini. Kolaborasi antara komposer legendaris Goran Bregović dan ikon rock Iggy Pop menghasilkan salah satu soundtrack paling ikonis di masanya. Lagu-lagu seperti "In the Deathcar" menyajikan melodi yang melankolis, getir, sekaligus magis, merefleksikan keputusasaan sekaligus keindahan hubungan romansa yang disfungsional antara Axel dan Elaine. Musik dalam film ini bukan sekadar pengiring, melainkan suara batin dari para karakter yang tidak mampu mereka sampaikan lewat kata-kata.
Namun, gaya penceritaan yang sangat longgar, episodik, dan penuh dengan simbolisme abstrak ini menjadi pedang bermata dua yang membuat Arizona Dream menjadi film yang cukup memecah opini audiens. Bagi penonton yang terbiasa dengan struktur plot tiga babak yang rapi, film berdurasi lebih dari dua jam ini mungkin akan terasa melelahkan, membingungkan, dan terlalu memanjakan absurditasnya sendiri tanpa arah yang jelas.
Beberapa adegan teatrikal—seperti Paul yang meniru adegan film The Godfather Part II secara repetitif—terkadang terasa menghentikan momentum narasi utama. Secara keseluruhan, jika Anda mencari sebuah drama romantis yang lurus, logis, dan penuh kejelasan konflik, Arizona Dream berpotensi membuat Anda frustrasi. Sebaliknya, jika Anda bersedia menyerahkan logika Anda dan menikmati sinema sebagai sebuah kanvas puisi visual yang menangkap fragmen-fragmen jiwa manusia yang kesepian, film ini adalah sebuah mahakarya surealisme yang sangat personal, menyentuh, dan sulit untuk dilupakan.
.jpg)