Es goyobod merupakan minuman tradisional khas Sunda yang dikenal terutama di wilayah Garut dan Bandung. Minuman ini memiliki perpaduan rasa manis dan gurih dengan tekstur kenyal dari bahan goyobod yang dipotong kecil-kecil. Dalam penyajiannya, goyobod dicampur dengan santan, es serut, dan pemanis, kemudian dilengkapi berbagai bahan seperti alpukat, kelapa muda, serta roti tawar.
Ropiah (2016) memasukkan goyobod sebagai salah satu jenis minuman tradisional Sunda dalam kajiannya mengenai makanan dan minuman tradisional Jawa Barat. Pengelompokan tersebut menunjukkan bahwa goyobod tidak hanya dikenal sebagai minuman pelepas dahaga, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner yang menggunakan nama dan pengetahuan lokal masyarakat Sunda.
Sejarah
Sejarah Es Goyobod memiliki beberapa versi yang berkembang melalui cerita para pedagang dan penuturan masyarakat. Salah satu kisah yang cukup dikenal menyebutkan bahwa minuman ini diperkenalkan oleh Junaedi, seorang pedagang Sunda yang berjualan di kawasan Kwitang, Jakarta, sekitar dekade 1930-an. Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh anaknya, Usep Suryana, yang membawa Es Goyobod ke Bandung sekitar 1940 dan berjualan di kawasan Banceuy.
Sadli (2014), dalam tulisan yang diterbitkan melalui Kabar UPI, menceritakan bahwa usaha Usep berkembang di Bandung, tetapi kemudian harus berpindah setelah peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946. Usep selanjutnya melanjutkan penjualan Es Goyobod di kawasan Alun-alun Garut. Dari Garut, minuman ini semakin dikenal dan kemudian menjadi salah satu kuliner yang lekat dengan daerah tersebut.
Kisah serupa juga muncul dalam tulisan Manggini (2015) di Kabar UPI yang membahas Es Goyobod Kliningan di Bandung. Tulisan tersebut mengaitkan perkembangan minuman ini dengan perjalanan usaha keluarga dan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Walaupun terdapat perbedaan penuturan mengenai waktu dan tokoh dalam sejarah awalnya, cerita perpindahan usaha dari Jakarta dan Bandung menuju Garut menjadi bagian penting dalam ingatan kuliner mengenai Es Goyobod.
Dengan demikian, sejarah Es Goyobod dapat dilihat sebagai perjalanan sebuah minuman yang berkembang melalui pengalaman berdagang, perpindahan penduduk, dan penerimaan masyarakat. Garut kemudian dikenal sebagai salah satu pusat yang membuat nama Es Goyobod semakin populer, sementara Bandung juga tetap memiliki tradisi penjualan dan racikan goyobod tersendiri.
Kekhasan Es Goyobod
Kekhasan Es Goyobod terletak pada bahan utamanya, yaitu adonan bertekstur kenyal yang dipotong menyerupai dadu. Bahan ini memberikan sensasi berbeda ketika disantap bersama es serut dan kuah santan. Perpaduan tekstur kenyal, lembut, dan renyah dari bahan pelengkap menjadikan goyobod berbeda dari minuman es campur lainnya.
Manggini (2015) menjelaskan bahwa Es Goyobod Kliningan menggunakan campuran goyobod berbahan aci sagu, sekoteng, dan alpukat yang disajikan bersama santan, es serut, sirup gula, susu kental manis, serta roti manis. Sementara itu, Sadli (2014) menggambarkan penyajian goyobod dengan kuah gula, susu, es serut, dan buah-buahan. Perbedaan komposisi tersebut memperlihatkan bahwa tidak ada satu racikan yang sepenuhnya seragam untuk semua penjual.
Bahan goyobod sendiri dapat dibuat menggunakan tepung hunkwe atau bahan pati lainnya, bergantung pada resep yang digunakan. Perbedaan bahan dasar tersebut turut memengaruhi warna, kekenyalan, dan rasa. Selain itu, takaran santan, pemanis, serta bahan pelengkap menjadi bagian dari ciri khas masing-masing penjual.
Es Goyobod juga memperlihatkan hubungan antara kuliner tradisional dan pengetahuan lokal. Nama, cara pengolahan, serta kebiasaan penyajiannya diwariskan melalui praktik sehari-hari dan usaha keluarga. Dalam konteks tersebut, keberadaan goyobod sejalan dengan pembahasan Ropiah (2016) yang menempatkan minuman tradisional sebagai salah satu unsur yang turut mempertahankan keberadaan kuliner dan identitas budaya Sunda.
2. Peralatan dan Bahan
Peralatan untuk membuat es goyobod relatif sederhana. Peralatan yang dibutuhkan antara lain panci, kompor, pengaduk, wadah adonan, pisau, talenan, saringan, dan cetakan atau loyang. Peralatan tersebut digunakan untuk memasak adonan goyobod, mendinginkannya hingga mengeras, memotongnya menjadi bagian kecil, serta menyiapkan bahan pelengkap sebelum disajikan.
Bahan utama goyobod dapat berupa tepung hunkwe atau tepung pati sesuai resep yang digunakan. Bahan tersebut dicampur dengan air, kemudian dimasak hingga mengental. Sebagian resep menggunakan air daun pandan atau daun suji untuk memberikan aroma dan warna. Setelah adonan matang, adonan dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan dingin sampai teksturnya mengeras serta dapat dipotong.
Bahan pelengkap Es Goyobod umumnya terdiri atas santan, gula merah atau sirup gula, es serut, alpukat, dan kelapa muda. Sebagian penjual menambahkan roti tawar, sekoteng, tape singkong, atau susu kental manis. Pemilihan bahan pelengkap tersebut dapat berbeda sesuai dengan kebiasaan penjual dan selera pembeli.
Perbedaan racikan merupakan salah satu hal yang menarik dalam perkembangan Es Goyobod. Sebagaimana tergambar dalam tulisan Manggini (2015) mengenai Es Goyobod Kliningan, penggunaan sekoteng, alpukat, santan, sirup, dan roti manis membentuk karakter penyajian yang khas. Sementara itu, penjual lain dapat menggunakan bahan yang lebih sederhana atau menambahkan pelengkap sesuai resep keluarga masing-masing.
3. Proses Pembuatan
Pembuatan es goyobod dimulai dengan menyiapkan adonan bahan utama. Tepung hunkwe atau bahan pati dicampur dengan air, kemudian dimasak sambil terus diaduk hingga mengental. Pengadukan perlu dilakukan secara merata agar adonan tidak menggumpal dan menghasilkan tekstur yang sesuai. Jika digunakan, air daun pandan atau daun suji dapat ditambahkan untuk memberikan aroma dan warna.
Setelah adonan matang, adonan dituangkan ke dalam loyang atau cetakan. Adonan kemudian dibiarkan dingin hingga mengeras dan memiliki tekstur kenyal. Setelah itu, goyobod dipotong kecil-kecil sesuai ukuran yang diinginkan. Tahap ini menentukan bentuk bahan utama yang akan menjadi ciri khas minuman ketika disajikan.
Tahap berikutnya adalah menyiapkan pemanis dan bahan pelengkap. Gula merah dapat dimasak bersama air hingga larut menjadi sirup, sedangkan santan disiapkan secara terpisah. Alpukat dikerok, kelapa muda diserut, dan bahan tambahan lainnya disiapkan sesuai kebutuhan. Es serut dibuat menjelang penyajian agar minuman tetap dingin.
Proses tersebut merupakan gambaran umum pembuatan Es Goyobod. Dalam praktiknya, setiap penjual dapat memiliki takaran, pilihan bahan, dan teknik pengolahan yang berbeda. Perbedaan itu dapat memengaruhi kekenyalan goyobod, kekentalan kuah, serta keseimbangan rasa manis dan gurih. Resep keluarga atau kebiasaan usaha yang diwariskan dari generasi sebelumnya juga dapat menjadi bagian dari identitas masing-masing penjual.
4. Penyajian
Es Goyobod disajikan dalam gelas atau mangkuk dengan menempatkan potongan goyobod sebagai bahan utama. Potongan tersebut kemudian dipadukan dengan alpukat, kelapa muda, dan bahan pelengkap lain sesuai racikan penjual. Santan dan sirup gula ditambahkan untuk membentuk perpaduan rasa gurih dan manis, kemudian es serut diletakkan di atasnya agar minuman terasa dingin dan menyegarkan.
Pada beberapa penyajian, roti tawar atau roti manis ditambahkan sebagai pelengkap. Susu kental manis juga dapat digunakan untuk memperkuat rasa manis dan memberikan tekstur kuah yang lebih kaya. Sementara itu, penjual yang menggunakan racikan lebih sederhana dapat mengutamakan goyobod, santan, gula, dan es sebagai unsur utama.
Manggini (2015) menunjukkan bahwa Es Goyobod Kliningan memiliki racikan yang menggabungkan bahan kenyal, buah, santan, pemanis, dan roti. Komposisi ini memperlihatkan bahwa penyajian bukan hanya tahap akhir dalam pembuatan minuman, tetapi juga bagian dari identitas rasa yang dikenali pelanggan. Setiap penjual dapat mempertahankan racikan tertentu sehingga pembeli memiliki alasan untuk kembali.
Es Goyobod umumnya dinikmati pada siang hari atau ketika cuaca panas. Sensasi dingin dari es serut, rasa gurih santan, manisnya sirup, dan tekstur goyobod menjadikan minuman ini cocok sebagai pelepas dahaga. Meski demikian, keberadaan Es Goyobod tidak hanya bergantung pada kesegarannya. Cerita tentang perjalanan para pedagang dan keberlanjutan usaha keluarga juga menjadi bagian dari daya tarik kuliner ini.
Hingga sekarang, Es Goyobod dikenal di sejumlah daerah di Jawa Barat, khususnya Garut dan Bandung. Perkembangannya menunjukkan bahwa kuliner tradisional dapat bertahan melalui pewarisan resep, penyesuaian bahan, dan hubungan yang terjalin antara penjual dengan pelanggan. Es Goyobod pada akhirnya bukan hanya minuman campuran es, melainkan bagian dari kekayaan kuliner Sunda yang menyimpan jejak perjalanan masyarakat dan usaha perdagangan dari masa ke masa.
Sumber
Manggini, Asdian Rangga. 2015. “Es Goyobod, Minuman GoKil Khas Priangan.” Kabar UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, 6 Januari 2015. https://berita.upi.edu/es-goyobod-minuman-gokil-khas-priangan/.
Ropiah, Opah. 2016. “Makanan dan Minuman Tradisional Sunda sebagai Eksistensi Bahasa Daerah untuk Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).” Lokabasa, Vol. 7, No. 2. https://doi.org/10.17509/jlb.v7i2.9169.
Sadli, Ridwan Ahmad. 2014. “Sejarah Es Goyobod, Tak Segar Rasanya.” Kabar UPI, Universitas Pendidikan Indonesia, 29 Desember 2014. https://berita.upi.edu/sejarah-es-goyobod-tak-segar-rasanya/.
Foto
https://food.detik.com/info-kuliner/d-4095835/slurrp-legitnya-es-goyobod-hingga-bandrek-yang-populer
