Cerita berfokus pada John Dillinger (Johnny Depp), seorang perampok bank karismatik yang dicintai oleh masyarakat miskin karena dianggap sebagai pahlawan ala Robin Hood yang melucuti bank-bank korup. Gerakan Dillinger yang licin dan berani mempermalukan otoritas penegak hukum, memaksa J. Edgar Hoover (Billy Crudup) untuk memanfaatkan momentum ini demi membesarkan biro investigasinya (yang kelak menjadi FBI). Hoover menunjuk agen khusus Melvin Purvis (Christian Bale), seorang pria berprinsip teguh dan tak kenal ampun, untuk memimpin perburuan nasional demi melumpuhkan Dillinger. Di tengah pelariannya, narasi film diperdalam oleh hubungan asmara Dillinger yang intens namun tragis dengan Billie Frechette (Marion Cotillard), seorang perempuan blasteran Prancis-India yang menjadi jangkar emosional di tengah hidupnya yang penuh desing peluru.
Keberhasilan film ini secara substansi performa terletak pada dualisme karakter utama yang dibawakan secara brilian oleh Depp dan Bale. Johnny Depp menanggalkan segala kejenakaan teatrikal ala Jack Sparrow untuk menampilkan John Dillinger yang sangat tenang, taktis, namun memiliki fatalisme yang kelam. Depp berhasil memproyeksikan Dillinger sebagai pria yang sadar bahwa waktunya di dunia sudah hampir habis, sehingga ia hidup tanpa penyesalan dan ketakutan. Di sisi lain, Christian Bale memberikan perimbangan yang kokoh melalui Melvin Purvis. Bale membawakan Purvis bukan sebagai pahlawan klise, melainkan sebagai personifikasi dari birokrasi modern yang efisien, dingin, dan mulai digerogoti oleh dilema moral ketika metode pemburuannya harus mengorbankan hak-hak kemanusiaan. Kontras antara ego Dillinger yang flamboyan dan dedikasi Purvis yang kaku menciptakan ketegangan psikologis yang kuat, meskipun keduanya jarang berada dalam satu bingkai adegan.
Ambisi Michael Mann dalam film ini tercermin kuat pada pendekatan estetikanya yang berani dan revolusioner pada masanya. Menggunakan kamera digital definisi tinggi (High-Definition Digital Video) dengan frame rate yang tidak biasa, Mann sengaja membuang estetika sinematik seluloid yang hangat dan menggantinya dengan visual yang terasa sangat mentah, bergetar (handheld), dan menyerupai dokumenter langsung (hyper-realistic). Keputusan ini membuat adegan baku tembak ikonis di penginapan Little Bohemia terasa sangat mencekam dan nyata; suara letusan senapan Thompson terdengar memekakkan telinga tanpa dramatisasi musik, sementara percikan api dari moncong senjata menerangi kegelapan malam secara organik. Desain produksi dan kostum yang akurat juga berhasil menghidupkan kembali keputusasaan dan keindahan visual Amerika tahun 1930-an.
Aspek audio dan skor musik film ini memegang peranan krusial dalam menyuntikkan nuansa kesepian yang puitis di balik aksi kekerasan. Komposer Elliot Goldenthal menggubah skor musik yang minimalis, mengandalkan denting piano yang sunyi dan gesekan biola yang pilu untuk mengiringi keterasingan para karakternya. Penggunaan lagu-lagu blues tradisional dan balada seperti "Ten Million Slaves" karya Otis Taylor memberikan denyut ritme yang gagah sekaligus primitif pada adegan pengejaran. Pilihan musik ini mempertegas subteks bahwa Dillinger dan komplotannya adalah spesies yang sedang punah, tergilas oleh roda zaman yang bergerak menuju keteraturan teknologi.
Namun, pilihan estetika video digital yang radikal ini menjadi pedang bermata dua yang memicu polarisasi tajam di kalangan kritikus dan penonton. Bagi sebagian orang, visual digital yang terlampau tajam dan minim pencahayaan buatan membuat beberapa adegan malam hari terlihat buram, pecah (grainy), dan mengganggu kenyamanan estetika film sejarah (period piece) yang biasanya anggun. Alur cerita yang berfokus pada prosedur pelacakan taktis juga dinilai mengorbankan pengembangan emosional beberapa karakter pendukung, membuat komplotan Dillinger seperti Baby Face Nelson (Stephen Graham) terasa kurang tereksplorasi secara mendalam.
Secara keseluruhan, jika Anda mengharapkan sebuah film gangster yang romantis, penuh drama air mata, dan visual Hollywood yang glorios dan rapi, Public Enemies mungkin akan terasa asing dan melelahkan. Sebaliknya, jika Anda mampu mengapresiasi eksperimen visual yang mentah, menyukai pendekatan rekonstruksi sejarah yang realistis, serta ingin menikmati salah satu performa paling matang dan subtil dari Johnny Depp, film ini adalah sebuah mahakarya sinema kriminal modern yang sangat berani, berbobit, dan puitis dalam menggambarkan akhir dari era para pelanggar hukum yang legendaris.