Cerita berpusat pada kehidupan Gilbert Grape (diperankan dengan keputusasaan yang tertahan oleh Johnny Depp), seorang pemuda yang memikul beban sebagai kepala keluarga tidak resmi setelah kematian tragis ayahnya. Gilbert terjebak dalam rutinitas tanpa akhir: bekerja di toko kelontong lokal yang hampir bangkrut dan merawat keluarganya yang eksentrik sekaligus disfungsional. Tanggung jawab terbesarnya dibagi antara menjaga adiknya, Arnie (Leonardo DiCaprio), seorang remaja dengan disabilitas intelektual parah yang hobi memanjat menara air kota, dan merawat ibunya, Bonnie (Daria Nicolodi), yang mengalami obesitas morbid ekstrem akibat depresi dan menolak meninggalkan sofa rumah mereka selama bertahun-tahun.
Kehidupan Gilbert yang monoton dan penuh kepasrahan perlahan mulai goyah ketika sebuah karavan pelancong rusak di kota Endora. Peristiwa ini mempertemukannya dengan Becky (Juliette Lewis), seorang gadis berjiwa bebas yang sedang bepergian bersama neneknya. Kehadiran Becky membuka mata Gilbert terhadap dunia luar yang luas dan menawarkan secercah harapan serta cinta yang tulus. Namun, kedekatan ini sekaligus memicu krisis eksistensial dalam diri Gilbert, yang dipaksa menghadapi pertanyaan menyakitkan: apakah ia boleh egois mengejar kebahagiaannya sendiri, atau membiarkan dirinya terkubur selamanya demi komitmen keluarga?
Keberhasilan film ini tidak lepas dari penokohan Gilbert Grape sebagai perwujudan dari martir domestik yang menderita burnout emosional akut. Judul film ini secara literal menanyakan apa yang sedang "memakan" atau menggerogoti jiwa Gilbert, dan jawabannya adalah rasa bersalah serta kewajiban moral yang menindasnya. Johnny Depp memberikan penampilan yang sangat subtil, pasif, dan penuh penahanan diri—sebuah kontras tajam dengan akting fisikalitasnya di Benny & Joon. Melalui tatapan matanya yang lelah, Depp berhasil menyalurkan rasa cinta yang mendalam sekaligus kemarahan terpendam yang sewaktu-waktu siap meledak.
Namun, daya tarik emosional terbesar dalam film ini lahir dari performa fenomenal Leonardo DiCaprio sebagai Arnie Grape. Di usianya yang masih sangat muda saat itu, DiCaprio menyajikan penafsiran karakter yang luar biasa organik, detail, dan jauh dari kesan karikatur. Setiap gerak tubuh, artikulasi suara, dan perubahan emosional Arnie yang mendadak terasa begitu nyata hingga membuahkan nominasi Piala Oscar pertamanya untuk Aktor Pendukung Terbaik. Dinamika persaudaraan antara Gilbert dan Arnie menjadi jantung narasi; adegan di mana Gilbert kehilangan kesabaran dan memukul Arnie menjadi salah satu momen paling memilukan dan jujur dalam sejarah film drama, menggambarkan batas akhir dari kesabaran seorang manusia.
Dari segi estetika dan arahan, Lasse Hallström dengan sangat jenius memanfaatkan sinematografi bernuansa hangat dan berdebu untuk menangkap kelesuan kota kecil Amerika. Endora digambarkan sebagai kota yang stagnan, di mana waktu seolah berhenti dan masa depan adalah kemewahan yang tidak eksisten. Visualisasi rumah keluarga Grape yang reyot, dengan lantai yang perlahan amblas akibat berat badan sang ibu, menjadi metafora visual yang brilian untuk menggambarkan bagaimana struktur keluarga mereka perlahan-lahan runtuh di bawah beban realitas.
Aspek audio film ini digarap dengan pendekatan minimalis yang manis oleh komposer Alan Parker dan Björn Isfält. Skor musik yang didominasi oleh dentingan piano lembut dan gesekan biola yang melankolis berhasil mempertegas rasa kesepian dan kehangatan yang silih berganti dalam kehidupan keluarga Grape. Musiknya tidak pernah mencoba mendikte emosi penonton secara berlebihan, melainkan mengalir secara natural di latar belakang, memberikan ruang bagi keheningan gurun dan dialog-dialog intim antar karakter untuk berbicara lebih keras.
Namun, bagi sebagian penonton yang terbiasa dengan struktur narasi Hollywood yang memiliki klimaks dramatis yang besar, tempo film ini mungkin akan terasa lambat dan monoton di beberapa bagian. Struktur plotnya yang bersifat episodik dan berfokus pada studi karakter (character study) membuat film ini terasa mengalir seperti potongan kehidupan nyata (slice of life) tanpa adanya resolusi konflik yang instan atau akhir yang sepenuhnya bahagia.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari melodrama yang penuh dengan air mata buatan atau plot thriller yang menegangkan, What's Eating Gilbert Grape akan terasa membosankan. Sebaliknya, jika Anda ingin menyaksikan sebuah fabel modern yang jujur, menyentuh, dan tanpa kompromi mengenai arti sejati dari cinta keluarga, pengorbanan, dan bagaimana cara memaafkan masa lalu, film ini adalah sebuah mahakarya klasik 90-an yang menampilkan salah satu duet akting terbaik sepanjang masa dari Johnny Depp dan Leonardo DiCaprio.