Cerita dimulai dengan latar sepuluh tahun di masa depan, di mana kota Springwood, Ohio, telah menjadi kota mati yang kehilangan seluruh populasi anak-anak dan remajanya akibat pembantaian berantai. Tersisa satu remaja amnesia yang dijuluki John Doe (Shon Greenblatt), yang dimanipulasi oleh Freddy agar bisa keluar dari batas kota Springwood demi mencari mangsa baru. John akhirnya terdampar di sebuah penampungan remaja bermasalah dan bertemu dengan Maggie Burroughs (Lisa Zane), seorang psikolog anak yang kerap dihantui oleh mimpi buruk serupa.
Penyelidikan Maggie bersama John dan sekelompok remaja pelarian—Carlos, Spencer, dan Tracy—membawa mereka melakukan perjalanan kembali ke Springwood. Di sana, mereka tidak hanya menghadapi jebakan mimpi yang mematikan, tetapi juga mengungkap asal-usul kelam masa lalu Freddy. Puncaknya adalah ketika Maggie menyadari sebuah fakta mengejutkan bahwa ambisi Freddy jauh lebih personal dari yang ia bayangkan: Maggie adalah putri kandung Freddy Krueger yang telah lama hilang. Hubungan darah inilah yang menjadi kunci utama bagi para penyintas untuk menarik sang iblis mimpi keluar ke dunia nyata demi sebuah pertempuran final.
Keberhasilan film ini dalam ingatan kolektif tidak lepas dari performa Robert Englund yang membawakan Freddy Krueger dengan pendekatan yang sangat berbeda. Tidak seperti di film-film awal garapan Wes Craven yang haus darah secara kelam dan misterius, Freddy di film keenam ini didorong oleh kompleksitas megalomania yang penuh humor karikatural. Englund membawakan karakter ini dengan gerak-gerik pantomim, lelucon satu kalimat (one-liners), dan ekspresi teatrikal yang menciptakan kontras aneh antara aksi pembunuhan sadis dengan atmosfer komedi kartun looney-tunes.
Eksplorasi masa lalu Freddy pra-kematiannya—termasuk kilas balik masa kecil dan kehidupan pernikahannya—mencerminkan gagasan siklus kekerasan domestik yang sangat kelam. Ironisnya, demi memuluskan rencana megahnya untuk menyebarkan teror ke seluruh dunia, Freddy justru menggunakan putrinya sendiri sebagai jembatan emosional. Kehadiran deretan kameo papan atas seperti Alice Cooper (sebagai ayah angkat Freddy yang kasar), Roseanne Barr, Tom Arnold, hingga Johnny Depp (yang melakukan penampilan kilas balik sebagai bentuk penghormatan atas debut kariernya di film pertama) memberikan dinamika pop-kultur 90-an yang sangat kental dan menghibur bagi para penggemar lawas.
Dari segi estetika dan hiburan, Freddy's Dead diakui sebagai salah satu pencapaian teknis paling ambisius dari New Line Cinema pada masanya karena menjadi film pertama mereka yang dirilis menggunakan teknologi 3D pada sekuens klimaksnya. Efek visual visualisasi isi otak Freddy serta lorong waktu ingatan yang surealis berhasil menghidupkan mitologi "Dream Demons" dengan visual yang megah dan berani. Ditunjang oleh sinematografi Declan Quinn dan desain set yang unik—seperti adegan Spencer yang terjebak di dalam dunia video game 2D—memberikan perimbangan visual yang pas di tengah kegilaan konsep yang dihadapi.
Aspek audio film ini juga memegang peranan krusial dalam membangun atmosfer kemegahan yang aneh sekaligus menegangkan. Komposer legendaris Brian May (bukan gitaris Queen) dipercaya untuk menggarap skor musiknya. Ia sengaja menurunkan tensi musik horor tradisional dan menggantinya dengan simfoni yang lebih teatrikal dan dinamis. Lagu tema utama yang diisi oleh Iggy Pop berjudul "Why Was I Born (Freddy's Dead)" memberikan sentuhan rock alternatif yang eksentrik, melengkapi montase kilas balik sejarah waralaba Elm Street yang diputar selama kredit akhir film.
Namun, pergeseran genre dari horor murni ke arah komedi slapstick ini menjadi pedang bermata dua yang membuat Freddy's Dead menjadi salah satu entri yang paling memecah opini kritikus dan penggemar hingga hari ini. Bagi sebagian penonton purist, plot yang menampilkan Freddy membunuh korbannya menggunakan alat Power Glove (kontroler game Nintendo) dinilai terlalu konyol, kekanak-kanakan, dan mengkhianati akar cerita spionase psikologis yang menyeramkan dari film orisinalnya. Riasan wajah Freddy yang tampak berbeda serta akting beberapa karakter remaja yang terasa artifisial sering kali mengorbankan ketegangan naratif yang seharusnya intens menjelang kematian sang monster.
Secara keseluruhan, jika Anda mencari film horor yang kelam, taktis, dan penuh intrik psikologis yang mencekam, Freddy's Dead mungkin akan terasa mengecewakan. Sebaliknya, jika Anda mampu melepaskan ekspektasi realistis tersebut dan menikmatinya sebagai sebuah tontonan fantasi horor-komedi awal 1990-an yang menghibur, campy, mewah, dan penuh nostalgia era kejayaan Robert Englund, film ini adalah sebuah mahakarya hiburan pop-kultur yang sangat menyenangkan untuk ditonton.
