Asal Usul Desa Tanara

(Cerita Rakyat Daerah Banten)

Pada masa silam, jauh sebelum wilayah Banten dikenal sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara, hamparan tanah di sepanjang aliran Sungai Cidurian masih berupa hutan lebat, rawa-rawa, dan ladang kecil yang dikelola oleh masyarakat setempat. Wilayah ini sunyi, tetapi subur, dan menjadi tempat hidup kelompok-kelompok masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada alam. Dari tanah inilah kelak lahir sebuah desa yang memiliki peran penting dalam sejarah Banten, yaitu Desa Tanara.

Masyarakat awal yang mendiami wilayah Tanara hidup sederhana. Mereka bercocok tanam, menangkap ikan di sungai, dan berburu di hutan. Kehidupan berjalan selaras dengan alam, namun masih diliputi kepercayaan lama yang bercampur dengan unsur animisme dan dinamisme. Setiap pohon besar, batu, dan aliran air diyakini memiliki penunggu yang harus dihormati. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai cara menjaga keseimbangan hidup.

Perubahan besar mulai terjadi ketika kabar tentang agama Islam perlahan-lahan masuk ke wilayah Banten melalui jalur perdagangan.

Sebelum masa perubahan itu, kehidupan sosial masyarakat Tanara diikat kuat oleh adat dan tradisi leluhur. Setiap peristiwa penting dalam hidup (seperti kelahiran, panen, pernikahan, hingga kematian) selalu disertai upacara adat. Upacara tersebut dipimpin oleh tetua kampung yang dipercaya memiliki pengetahuan spiritual dan kemampuan berkomunikasi dengan alam gaib. Sesajen berupa hasil bumi, bunga, dan air sungai disiapkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan penjaga alam.

Masyarakat Tanara juga hidup dalam ikatan gotong royong yang kuat. Ketika membuka ladang, membangun rumah, atau memperbaiki perahu, seluruh warga terlibat tanpa mengharapkan imbalan. Nilai kebersamaan ini diyakini sebagai warisan leluhur yang menjaga keharmonisan desa. Pelanggaran terhadap adat, seperti bersikap serakah atau merusak alam, dipercaya akan mendatangkan bala berupa penyakit atau gagal panen.

Dalam cerita lisan yang berkembang, wilayah Tanara diyakini dijaga oleh makhluk halus penjaga sungai dan hutan. Penjaga ini tidak menampakkan diri secara nyata, tetapi kehadirannya dirasakan melalui tanda-tanda alam. Jika sungai tiba-tiba meluap tanpa hujan atau hutan menjadi sunyi tanpa suara binatang, masyarakat menganggapnya sebagai peringatan agar mereka kembali menjaga sikap dan perilaku.

Beberapa tempat di Tanara dianggap keramat, seperti pohon besar di tepi sungai atau batu tua yang diyakini sebagai tempat bersemayam roh leluhur. Masyarakat dilarang berkata kasar atau berbuat sembarangan di tempat-tempat tersebut. Larangan ini bukan semata-mata karena rasa takut, melainkan sebagai cara menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia tak kasatmata.

Ketika Maulana Hasanuddin datang, ia memahami kuatnya ikatan adat dan spiritual masyarakat Tanara. Ia tidak serta-merta menghapus kepercayaan lama, melainkan mengarahkannya secara perlahan. Nilai penghormatan kepada leluhur diterjemahkan sebagai penghormatan kepada orang tua dan guru, sementara rasa takut kepada penjaga alam diarahkan menjadi kesadaran akan kebesaran Tuhan.

Dalam proses dakwahnya, Maulana Hasanuddin kerap mengaitkan ajaran Islam dengan cerita-cerita lokal. Ia menjelaskan bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga, dan bahwa doa dapat menggantikan sesajen sebagai bentuk permohonan. Pendekatan ini membuat masyarakat merasa bahwa ajaran baru tidak memutus hubungan mereka dengan tradisi, melainkan menyempurnakannya.

Legenda lokal bahkan menyebutkan bahwa pada malam-malam tertentu, cahaya lembut terlihat di sekitar tempat Maulana Hasanuddin bermeditasi dan berdoa. Masyarakat menafsirkan cahaya itu sebagai tanda keberkahan dan penerimaan alam terhadap dakwah yang dilakukan. Sejak saat itu, Tanara semakin diyakini sebagai tanah yang diberkahi dan dilindungi secara spiritual. Para saudagar dari berbagai negeri datang membawa barang dagangan sekaligus ajaran baru. Sungai menjadi jalur utama pergerakan, dan wilayah Tanara yang berada di tepi sungai mulai sering disinggahi para pendatang. Dari sinilah benih-benih perubahan sosial dan keagamaan mulai tumbuh.

Di antara para pendatang tersebut, terdapat seorang ulama muda bernama Maulana Hasanuddin, putra dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Dalam perjalanannya menyebarkan Islam, Maulana Hasanuddin menyusuri wilayah Banten dan singgah di daerah yang kelak dikenal sebagai Tanara. Ia melihat potensi wilayah tersebut sebagai pusat dakwah karena letaknya strategis dan masyarakatnya terbuka terhadap ajaran baru.

Maulana Hasanuddin tidak datang dengan paksaan. Ia memilih pendekatan yang lembut, menyatu dengan masyarakat, menghormati adat setempat, dan memperkenalkan ajaran Islam secara bertahap. Ia sering berdialog dengan para tetua kampung, menjelaskan nilai-nilai keislaman yang sejalan dengan prinsip hidup mereka, seperti keadilan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam.

Lambat laun, ajaran Islam mulai diterima. Beberapa tokoh masyarakat menyatakan diri memeluk Islam dan membantu Maulana Hasanuddin menyebarkan ajaran tersebut. Sebagai pusat kegiatan keagamaan, dibangunlah sebuah langgar sederhana dari kayu dan bambu. Langgar ini menjadi tempat salat, belajar agama, dan bermusyawarah.

Nama Tanara konon berasal dari ungkapan masyarakat setempat yang menggambarkan wilayah tersebut sebagai tanah yang terang dan membawa pencerahan. Dalam penuturan lisan, Tanara dimaknai sebagai tempat munculnya cahaya ilmu dan keimanan. Seiring waktu, sebutan tersebut melekat dan digunakan sebagai nama desa.

Dengan semakin berkembangnya komunitas Muslim, Tanara tumbuh menjadi perkampungan yang tertata. Rumah-rumah mulai dibangun lebih permanen, ladang diperluas, dan hubungan sosial semakin kuat. Sungai tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga jalur penyebaran ajaran dan budaya baru.

Peran Tanara semakin penting ketika Maulana Hasanuddin menetapkan wilayah ini sebagai salah satu pusat dakwah dan pemerintahan awal. Dari Tanara, ia mengatur strategi penyebaran Islam ke wilayah Banten lainnya. Desa ini pun menjadi tempat berkumpulnya ulama, santri, dan tokoh masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, Maulana Hasanuddin diangkat sebagai Sultan Banten pertama. Meski pusat pemerintahan kemudian berpindah, Tanara tetap memiliki kedudukan istimewa sebagai tempat kelahiran dan makam Sultan Maulana Hasanuddin. Hal ini menjadikan Tanara tidak hanya sebagai desa biasa, tetapi juga sebagai ruang sejarah dan spiritual.

Masyarakat Tanara menjaga warisan tersebut dengan penuh hormat. Tradisi keagamaan, ziarah, dan peringatan hari-hari besar Islam terus dilakukan. Cerita tentang asal-usul desa ini diceritakan dari generasi ke generasi sebagai pengingat akan perjuangan dakwah dan pentingnya hidup dalam kebersamaan.

Hingga kini, Desa Tanara dikenal sebagai salah satu desa bersejarah di Kabupaten Serang. Asal-usulnya tidak hanya mencerminkan terbentuknya sebuah wilayah, tetapi juga perjalanan panjang perubahan keyakinan, budaya, dan identitas masyarakat Banten. Kisah ini menjadi bukti bahwa sebuah desa dapat tumbuh besar melalui nilai ilmu, toleransi, dan kebijaksanaan para pendahulunya.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive