Kesenian Badingkut

Kesenian Badingkut merupakan salah satu bentuk ekspresi seni tradisional yang berkembang dalam konteks masyarakat lokal di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Keberadaan kesenian ini tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial masyarakat pendukungnya, terutama dalam menghadapi keterbatasan sumber daya dan kebutuhan akan ruang ekspresi kolektif. Menurut Dim (2011), kesenian yang lahir dari komunitas sering kali berangkat dari pengalaman sehari-hari masyarakatnya, termasuk dari cara mereka memaknai benda, ruang, dan suara di sekitarnya. Dalam konteks inilah Badingkut muncul sebagai seni perkusi yang memanfaatkan benda-benda nonkonvensional, khususnya barang-barang bekas, sebagai sumber bunyi dan media ekspresi artistik.

Asal-usul kesenian Badingkut berkaitan erat dengan upaya kreatif masyarakat dalam membangun identitas kesenian lokal. Sebagaimana dikemukakan oleh sumber lokal yang dihimpun Infogarut (2025), kesenian ini mulai dirintis di Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut, melalui inisiatif seorang tokoh seni bersama mahasiswa yang tengah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Inisiatif tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menciptakan bentuk kesenian yang mudah diakses, murah, dan mampu melibatkan banyak warga tanpa memerlukan alat musik tradisional yang mahal atau sulit diperoleh.

Menurut Infogarut (2025), pemilihan barang bekas seperti ember, panci, ketel, dan wadah logam lainnya bukan semata-mata karena keterbatasan ekonomi, tetapi juga sebagai bentuk kesadaran akan potensi bunyi yang terkandung dalam benda-benda tersebut. Dengan cara ini, Badingkut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi tentang kreativitas, keberlanjutan lingkungan, dan pemaknaan ulang terhadap benda-benda yang dianggap tidak berguna.

Bentuk Pertunjukan Kesenian Badingkut
Pertunjukan kesenian Badingkut pada umumnya disajikan dalam bentuk permainan ritmis kolektif yang menonjolkan kekompakan dan interaksi antarpemain. Menurut konsep dasar musik perkusi yang dijelaskan dalam kajian seni tradisional Sunda, bunyi yang dihasilkan dari pukulan merupakan sarana utama dalam membangun struktur musikal (Dim, 2011). Dalam Badingkut, struktur tersebut tidak diikat oleh notasi baku, melainkan berkembang secara organik melalui pola ritme yang disepakati bersama oleh para pemain.

Sebagaimana dikatakan oleh Dim (2011), seni pertunjukan berbasis komunitas cenderung memberi ruang luas bagi improvisasi, sehingga setiap pertunjukan memiliki kemungkinan variasi yang berbeda. Hal ini juga tampak dalam Badingkut, di mana tempo, intensitas pukulan, dan dinamika bunyi dapat berubah mengikuti suasana acara, jumlah pemain, serta respons penonton. Pertunjukan ini sering diselingi gerak tubuh sederhana yang mengikuti irama, sehingga memperkuat aspek visual dan performatif dari kesenian tersebut.

Menurut laporan Infogarut (2025), Badingkut kerap dipentaskan dalam acara-acara sosial seperti perayaan desa, hajatan, festival budaya, dan kegiatan penyambutan tamu. Dalam konteks tersebut, pertunjukan Badingkut berfungsi sebagai media pemersatu warga sekaligus sarana komunikasi simbolik yang menegaskan identitas lokal masyarakat Garut.

Pemain dan Struktur Kelompok
Pemain dalam kesenian Badingkut berasal dari berbagai lapisan usia dan latar belakang sosial. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tentang kelompok Gondang Putra Badingkut, partisipasi dalam kesenian ini bersifat terbuka dan kolektif, sehingga siapa pun dapat terlibat selama mampu mengikuti ritme dan dinamika kelompok (Putra, 2018). Pola ini menunjukkan bahwa Badingkut tidak menempatkan hierarki ketat antar pemain, melainkan menekankan kerja sama dan solidaritas.

Menurut Putra (2018), dalam satu kelompok Badingkut biasanya terdapat pembagian peran informal, seperti pemain ritme dasar, pemain variasi bunyi, dan pemain penguat tempo. Meskipun pembagian ini tidak selalu dinyatakan secara eksplisit, keberadaannya penting untuk menjaga keseimbangan musikal selama pertunjukan berlangsung. Dengan demikian, Badingkut mencerminkan sistem sosial masyarakatnya, di mana peran individu menyatu dalam tujuan kolektif.

Busana dalam Pertunjukan Badingkut
Busana yang dikenakan dalam pertunjukan Badingkut pada umumnya mencerminkan kesederhanaan dan identitas budaya Sunda. Menurut Putra (2018), pemain laki-laki biasanya mengenakan baju pangsi, sedangkan pemain perempuan memakai kebaya yang dipadukan dengan kain samping dan selendang. Pilihan busana ini tidak dimaksudkan untuk menciptakan kemewahan visual, melainkan untuk menegaskan kedekatan kesenian dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sebagaimana dikemukakan oleh Dim (2011), busana dalam seni pertunjukan tradisional sering kali berfungsi sebagai simbol identitas kultural, bukan sekadar elemen estetika. Dalam Badingkut, kesederhanaan busana justru memperkuat pesan bahwa kesenian ini lahir dari dan untuk masyarakat, tanpa jarak antara pelaku seni dan penontonnya.

Peralatan dan Instrumen Badingkut
Peralatan yang digunakan dalam kesenian Badingkut merupakan ciri paling menonjol dari kesenian ini. Menurut Infogarut (2025), instrumen Badingkut terdiri atas berbagai benda bekas yang dipilih berdasarkan karakter bunyinya. Ember plastik menghasilkan suara rendah dan tumpul, panci logam memberikan bunyi nyaring, sementara ketel dan kaleng bekas menciptakan variasi resonansi yang memperkaya komposisi bunyi.

Sebagaimana dikatakan oleh Dim (2011), penggunaan benda nonmusik sebagai instrumen merupakan bentuk eksplorasi estetika yang menantang batas konvensional seni. Dalam Badingkut, eksplorasi ini tidak hanya bersifat artistik, tetapi juga ideologis, karena mengandung pesan tentang kreativitas, efisiensi, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Makna Sosial dan Budaya Kesenian Badingkut
Kesenian Badingkut memiliki makna sosial yang mendalam bagi masyarakat pendukungnya. Menurut Putra (2018), kesenian ini berfungsi sebagai sarana pembentukan solidaritas sosial, karena proses latihan dan pertunjukan menuntut kerja sama, disiplin, dan rasa saling percaya antaranggota kelompok. Selain itu, Badingkut juga menjadi ruang aktualisasi diri bagi masyarakat yang mungkin tidak memiliki akses ke pendidikan seni formal.

Sebagaimana dikemukakan oleh Dim (2011), seni komunitas seperti Badingkut berperan penting dalam menjaga kesinambungan nilai budaya di tengah perubahan sosial. Dengan memanfaatkan benda-benda sederhana dan melibatkan partisipasi luas masyarakat, Badingkut mampu bertahan sebagai kesenian yang relevan dengan konteks zamannya.

Sumber:
Dim, H. 2011. Badingkut di antara tiga jalan teater. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Infogarut. 2025. Kesenian Badingkut yang diciptakan untuk memanfaatkan barang limbah. Garut: Infogarut.
Putra, A. 2018. Kesenian Gondang Lingkung Seni Putra Badingkut di Kampung Citimbun Desa Dungusiku Kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut. Skripsi tidak diterbitkan.
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive