Kue Balok Menes

Kue balok Menes merupakan salah satu kuliner tradisional khas Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, yang keberadaannya tidak hanya dikenal sebagai makanan ringan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Kue ini tumbuh dan berkembang di wilayah Menes, sebuah kecamatan yang sejak lama dikenal sebagai pusat aktivitas sosial, keagamaan, dan ekonomi masyarakat Pandeglang bagian selatan. Dalam kehidupan sehari-hari, kue balok Menes hadir sebagai pangan rakyat yang dekat dengan memori kolektif masyarakat, terutama dalam konteks pertemuan sosial, kegiatan keagamaan, dan tradisi keluarga.

Asal-usul kue balok Menes berkaitan erat dengan sejarah masyarakat agraris di wilayah Menes dan sekitarnya. Sejak masa lalu, masyarakat Pandeglang menggantungkan hidup pada hasil pertanian seperti padi, kelapa, dan tanaman palawija. Ketersediaan bahan-bahan lokal tersebut mendorong lahirnya berbagai olahan pangan sederhana namun mengenyangkan, salah satunya kue balok. Nama “balok” merujuk pada bentuknya yang menyerupai potongan balok atau persegi panjang, sedangkan penambahan nama “Menes” menegaskan keterikatannya dengan wilayah asal dan tradisi lokal yang melingkupinya.

Dalam sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, kue balok awalnya dibuat sebagai bekal makanan bagi para petani dan pekerja ladang. Teksturnya yang padat dan rasanya yang manis-gurih menjadikannya cocok sebagai sumber energi saat bekerja dalam waktu lama. Seiring waktu, fungsi kue balok tidak lagi terbatas sebagai bekal kerja, melainkan berkembang menjadi sajian rumah tangga yang disuguhkan kepada tamu dan disajikan dalam berbagai kegiatan sosial. Proses ini menunjukkan bagaimana sebuah pangan sederhana dapat mengalami pergeseran makna seiring perubahan konteks sosial masyarakat.

Bahan-bahan pembuat kue balok Menes mencerminkan kekayaan sumber daya lokal yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat. Tepung terigu menjadi bahan dasar utama yang memberikan struktur pada kue, sementara gula pasir atau gula merah digunakan sebagai pemanis yang memberi rasa khas. Telur berfungsi sebagai pengikat adonan sekaligus memberikan tekstur lembut, sedangkan margarin atau mentega menambah cita rasa gurih dan aroma yang menggugah selera. Dalam beberapa variasi, susu cair atau santan ditambahkan untuk memperkaya rasa dan meningkatkan kelembutan kue.

Penggunaan bahan-bahan tersebut tidak lepas dari kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pada masa lalu, takaran bahan sering kali tidak diukur secara presisi, melainkan mengandalkan pengalaman dan intuisi pembuatnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses memasak kue balok tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengandung pengetahuan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pengetahuan ini menjadi bagian dari tradisi kuliner yang hidup dalam praktik keseharian masyarakat Menes.

Proses pembuatan kue balok Menes relatif sederhana, namun memerlukan ketelatenan dan ketepatan dalam pengolahan adonan. Tahap awal dimulai dengan mencampurkan telur dan gula hingga tercapai tekstur yang mengembang dan berwarna pucat. Selanjutnya, tepung terigu dimasukkan secara bertahap sambil terus diaduk agar adonan tercampur merata dan tidak menggumpal. Margarin cair kemudian ditambahkan untuk memberikan kelembutan dan rasa gurih yang seimbang dengan manisnya gula.

Setelah adonan siap, proses pemanggangan menjadi tahap penting yang menentukan kualitas akhir kue balok. Adonan dituangkan ke dalam cetakan khusus berbentuk balok atau persegi panjang, kemudian dipanggang menggunakan api kecil hingga sedang. Pemanggangan tradisional biasanya dilakukan dengan menggunakan arang atau kompor sederhana, sehingga aroma khas hasil panggangan menjadi ciri tersendiri dari kue balok Menes. Proses ini menuntut kesabaran, karena suhu yang terlalu tinggi dapat membuat kue cepat gosong di luar namun belum matang di bagian dalam.

Dalam perkembangannya, teknik pembuatan kue balok Menes mengalami penyesuaian dengan teknologi modern. Penggunaan oven listrik atau oven gas mulai menggantikan metode pemanggangan tradisional, terutama dalam produksi skala lebih besar. Meski demikian, sebagian pembuat kue tetap mempertahankan cara tradisional karena diyakini menghasilkan cita rasa yang lebih autentik. Perbedaan teknik ini mencerminkan dinamika antara tradisi dan modernitas dalam praktik kuliner lokal.

Penyajian kue balok Menes umumnya dilakukan dalam kondisi hangat maupun suhu ruang, tergantung pada konteks penyajiannya. Kue ini sering disajikan sebagai teman minum teh atau kopi, terutama pada pagi dan sore hari. Dalam acara-acara tertentu seperti pengajian, hajatan, atau pertemuan keluarga, kue balok disusun rapi di atas piring atau tampah dan disajikan kepada para tamu sebagai bentuk penghormatan dan keramahan tuan rumah.

Selain sebagai sajian rumah tangga, kue balok Menes juga memiliki peran ekonomi bagi masyarakat setempat. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang menjadikan kue balok sebagai produk dagangan utama. Penjualan kue balok di pasar tradisional, warung, dan pusat oleh-oleh menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Aktivitas ekonomi ini menunjukkan bahwa kue balok tidak hanya bernilai gastronomis, tetapi juga berkontribusi pada keberlangsungan ekonomi lokal.

Nilai budaya kue balok Menes tercermin dalam perannya sebagai simbol kebersamaan dan kesederhanaan hidup masyarakat Pandeglang. Kue ini tidak diasosiasikan dengan kemewahan, melainkan dengan kehangatan relasi sosial dan kedekatan antaranggota masyarakat. Proses pembuatannya yang sering melibatkan anggota keluarga, terutama perempuan, memperkuat ikatan sosial dan menjadi sarana transmisi nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam konteks identitas lokal, kue balok Menes berfungsi sebagai penanda budaya yang membedakan masyarakat Menes dari wilayah lain. Keberadaannya dalam berbagai peristiwa sosial menjadikannya bagian dari narasi kolektif tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Kue balok menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus memperlihatkan kontinuitas tradisi kuliner di tengah arus perubahan zaman.

Secara keseluruhan, kue balok Menes dapat dipahami sebagai warisan kuliner yang memuat nilai historis, sosial, ekonomi, dan budaya. Ia lahir dari kebutuhan sederhana masyarakat agraris, berkembang melalui praktik keseharian, dan bertahan sebagai simbol identitas lokal hingga saat ini. Melalui kue balok Menes, dapat dilihat bagaimana makanan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan pangan, tetapi juga sebagai cermin dinamika budaya dan kehidupan sosial masyarakat Pandeglang.

Foto: https://cookpad.com/id/resep/1862629
Cara Pasang Tali Layangan agar Manteng di Udara
Topeng Monyet
Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Archive