Koleangkak

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang janda miskin. Dia hanya memiliki seorang anak gadis yang telah bertunangan dengan anak seorang petani. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Sang janda bekerja sebagai penumbuk padi. Oleh karena berupah tidak seberapa, dia dan anak gadisnya acapkali kekurangan makan hingga suatu saat sang janda jatuh sakit. Dalam sakitnya, dia sempat meminta buah pisang untuk mengisi perut. Namun, hingga ajal menjemput keinginan itu tidak terwujud. Tidak ada uang untuk membelinya.

Melihat Sang ibu meninggal, Sang gadis bingung hendak meminta pertolongan pada siapa. Dia berlari kesana-kemari mendatangi para tetangga, namun entah kenapa, tidak seorang pun mau menolong. Sementara bila meminta pertolongan pada calon suami serta mertua, dia tidak sanggup harus menempuh sekitar satu hari perjalanan.

Agar jasad Sang ibu tidak diganggu binatang, untuk sementara dibungkus menggunakan sehelai tikar kemudian disimpan di lesung yang biasa digunakan menumbuk padi. Malam harinya terdengarlah suara dari dalam lesung. Sang gadis yang berada tidak jauh dari lesung tidak berani mendekat. Sambil menangis terisak dia memegangi kedua lutut yang gemetar ketakutan.

Ketika matahari terbit barulah dia berani mendekati lesung. Tetapi alangkah terkejutnya Sang gadis karena jasad Sang ibu sudah tidak berada dalam lesung. Sambil menangis sesenggukan dicarinya jasad itu di seluruh penjuru rumah. Tiba di samping rumah terdengarlah suara koleangkak (sejenis burung) yang bertengger di salah satu cabang pohon kapuk. Konon, burung ini kegemarannya adalah mencari kutu untuk dijadikan cemilan ^_^.

Si koleangkak berkicau parau mirip seperti suara manusia. Dalam kicauannya dia memberitahu Sang gadis agar berhenti menangis karena Sang ibu telah pulang mengikuti bayang-bayang. Selain itu dia juga memerintahkan agar Sang gadis pergi ke rumah calon mertuanya.

Di lain tempat, Sang petani calon mertua juga didatangi burung koleangkak yang bertengger di genting rumah. Si koleangkak berkicau bahwa calon menantu akan datang seorang diri. Calon besan telah menitipkan. Terimalah sepenuh hati.

Esok harinya datanglah Sang gadis. Dia disambut hangat oleh keluarga calon suami. Ada perasaan kasihan sekaligus senang karena Sang gadis akan menjadi bagian keluarga. Tidak lama kemudian mereka menikah. Pasangan ini hidup aman, bahagia, dan sejahtera. Sang isteri (sudah tidak gadis lagi) tidak lagi kelaparan seperti ketika masih bersama ibunya. Oleh karena itu dia sangat mengasihi dan tulus ikhlas mengabdi pada suami.

Walhasil, kehidupan mereka pun terlihat harmonis hingga suatu hari ada sebuah kejadian yang mengubah segalanya. Kala itu Sang suami memintanya mencari kutu-kutu yang bersarang di kepala. Sang isteri merasa hal itu sebagai suatu hal biasa sehingga dia menurut tanpa membantah.

Tetapi ketika kutu-kutu mulai diambil, secara perlahan tumbuhlah bulu di sekujur tubuh Sang isteri. Kian lama bulu-bulu itu bertambah lebat dan tubuh Sang isteri akhirnya berubah menjadi burung koleangkak. Tanpa berkata apa-apa dia lalu terbang menuju bayang-bayang. Dan, sejak saat itu Sang suami tertekan batin, merasa bersalah telah memerintah Sang Isteri mencari kutu. Dia menjadi lupa ingatan. Setiap hari kerjanya hanya berkeliling mengejar bayang-bayang burung koleangkak.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: