Jaka Pertaka

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seorang penebang pohon. Suatu hari ketika sedang mencari pohon tua di tengah hutan, secara tiba-tiba dia diserang oleh seekor burung garuda. Tetapi karena serangan garuda demikian cepat, dia tidak sempat menghindar. Kedua matanya tersambar cakar tajam garuda hingga buta seketika dan tidak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya bisa duduk bertafakur meminta pertolongan para dewa di kahyangan.

Doa Sang penebang ternyata dapat menggetarkan kahyangan dan didengar oleh Dewa Umar Maya. Dia lalu memerintahkan anaknya yang bernama Jaka Slaka untuk bertapa agar mendapatkan obat guna kesembuhan Sang Penebang. Tanpa membantah, Jaka Slaka pergi memunaikan perintah Umar Maya. Dia menuju ke suatu tempat khusus yang biasa digunakan oleh para dewa bila ingin bermeditasi atau bertapa.

Tidak berapa lama setelah Jaka Slaka bertapa, Sang isteri yang tengah hamil tua melahirkan bayi laki-laki. Oleh karena Jaka Slaka tidak bersamanya, maka Umar Maya yang memberi nama Sang cucu, Jaka Pertaka. Agar Jaka Pertaka tidak rewel, Umar Maya memberi mainan berupa boneka gajah putih berkepala empat.

Mainan tersebut rupanya tidak hanya membuat Jaka Pertaka senang dan tidak rewel. Ada orang lain yang juga ingin memilikinya. Dia adalah seorang puteri dari sebuah kerajaan. Awal mula ketertarikan Sang Puteri ketika dia bermimpi melihat seekor gajah putih berkepala empat. Dari mimpi itu dia menjadi resah dan meminta pada ayahanda Raja agar mencarikan gajah sesuai dengan mimpinya.

Alangkah terkejut Sang raja mendengar permintaan puterinya. Selama hidup dia sendiri belum pernah melihat ada gajah berwarna putih, apalagi memiliki empat kepala. Hewan itu hanya ada di kahyangan. Dan, tidak sembarang penghuni kahyangan dapat memiliki. Namun, karena rasa sayang dan tidak ingin mengecewakan Sang puteri, maka dia menyanggupi. Dititahnya patih kepercayaan yang sakti mandra guna mencari dan membawa gajah permintaan Sang Puteri ke kerajaan.

Tidak lama kemudian berangkatlah Sang Patih meninggalkan kerajaan. Sama seperti Sang raja, dia sendiri sebenarnya juga belum pernah melihat gajah putih berkepala empat. Oleh karena itu, dia selalu bertanya pada siapa saja di tempat-tempat yang di singgahi. Tetapi, hingga berhari-hari tidak ada yang tahu atau pernah melihat gajah putih berkepala empat.

Dalam keputusasaan, Sang Patih tiba di sebuah taman nan asri, indah, dan sejuk. Ketika hendak beristirahat, dia mendengar ada suara kanak-kanak yang tertawa riang gembira. Ketika didekati, dia melihat ada seorang di antara mereka yang menggenggam mainan berupa boneka berbentuk gajah putih berkepala empat. Pikirnya, apabila anak itu memiliki boneka gajah putih, kemungkinan besar dia pernah melihat wujud aslinya. Atau, paling tidak orang tua si anak dapat menunjukkanya.

Dia kemudian mendatangi si anak. Dengan nada ramah, ditanyanya dari mana boneka itu berasal dan apakah dia pernah melihat wujud asli binatangnya. Tetapi, mungkin karena dia anak dewa yang selalu dimanja, di luar dugaan pertanyaan Sang Patih dijawab dengan sangat ketus. Marahlah Sang patih kehabisan kesabaran. Dalam sekejap mata ditariknya tangan Jaka Pertaka dan dibawa pergi jauh dari taman.

Malam harinya, Ibunda Jaka Pertaka resah karena Sang anak belum juga kembali. Sambil menangis tersedu-sedu dia mendatangi Umar Maya dan menceritakan perihal ketidak pulangan Jakar Pertaka ke rumah. Padahal, biasanya menjelang senja dia telah pulang untuk membersihkan diri dan menikmati hidangan makan malam.

Menindaklanjuti "laporan" Ibunda Jaka Pertaka, Umar Maya segera bergegas mencari anak itu, baik di kahyangan maupun bumi. Namun setelah berhari-hari mencari, Jaka Pertaka tak kunjung ditemukan. Pikir Umar Maya, mungkin karena di dewa maka tidak ada yang berani mendekat. Oleh karena itu, dia memutuskan menyamar sebagai manusia dalam wujud seorang kakek dengan nama Kaki Jugil.

Tetapi, lagi-lagi dia tidak dapat menemukan keberadaan Jaka Pertaka kendati telah dicari selama berhari-hari bahkan sampai bertahun-tahun. Suatu saat, dia melihat ada seorang remaja yang diikat dan diseret oleh laki-laki tua. Merasa kasihan terhadap remaja itu, Kaki Jugil bertanya pada si penyeret mengapa dia diperlakukan demikian.

Biasanya, bila ada orang yang bertanya si penyeret yang tidak lain adalah Sang patih akan menjawab sekenanya. Tetapi melihat sosok Kaki Jugil yang terlihat berkharisma (karena dia dewa), maka Sang Patih menceritakan awal mula kejadian hingga dia harus mengikat dan menyeret si remaja ke mana pun mereka pergi.

Berdasar cerita Sang Patih tersebut tahulah Kaki Jugil bahwa si remaja adalah cucunya sendiri, Jaka Pertaka. Ada rasa sedih, duka, dan bersalah bercampur aduk dalam diri Kaki Jugil. Dia tidak menyangka kalau mainan yang diberikan agar tidak rewel malah menjadi malapetaka bagi Jaka Pertaka. Tentu saja Jaka Pertaka tidak akan tahu di mana keberadaan gajah putih berkepala empat yang dicari oleh Sang patih.

Oleh karena itu, Kaki Jugil berusaha membujuk Sang patih agar melepaskan Jaka Pertaka. Sebagai ganti dia akan menunjukkan dimana keberadaan gajah putih berkepala empat yang selama ini dia cari. Tanpa basa-basi tawaran itu ditolak oleh Sang patih sehingga terjadilah perkelahian dengan Kaki Jugil. Namun karena yang dilawan adalah dewa, dalam sekejap mata Sang patih dapat dikalahkan hingga lari tunggang-langgang meninggalkan Jaka Pertaka.

Selepas Sang patih melarikan diri Kaki Jugil lalu mengajak Jaka Pertaka berkelana. Kaki Jugil tidak memeritahu siapa dirinya, melainkan hanya berujar bahwa dia diutus untuk mendampingi Jaka Pertaka mengembara di dunia. Bila telah tiba waktunya, tentu Jaka Pertaka dapat kembali ke kahyangan dan berkumpul kembali bersama kedua orang tua serta sanak kerabat lainnya.

Selanjutnya, berkelanalah mereka ke ujung dunia. Jaka Pertaka yang terlihat sangat lelah karena selalu diseret ke mana pun Sang patih pergi, oleh Kaki Jugil diubah wujud sebagaimana layaknya dewa. Dia lalu dimasukkan dalam tusuk kondai ajrang yang selalu disematkan di kepala Kaki Jugil. Hanya sesekali saja Jaka Pertaka keluar dari kondai ajrang. Selebihnya, dia memilih untuk berdiam diri karena telah lelah diseret Sang patih selama bertahun-tahun.

Suatu hari, ketika sampai di sebuah desa, mereka mendapati ada empat orang bersitegang memperebutkan patung seorang perempuan. Perebutan patung itu bermula ketika salah seorang dari mereka menemukan sebatang kayu langka yang berkualitas tinggi. Sayang bila dijadikan perabot rumah tangga biasa, salah seorang saudaranya mengusulkan agar kayu dibentuk menjadi sebuah patung. Untuk itu, mereka kemudian menyerahkan pada saudara lain yang memiliki kepandaian dalam memahat kayu. Selesai dibuat, patung lalu diserahkan pada saudara lain lagi yang pandai melukis untuk diberi warna. Hasilnya, jadilah sebuah patung perempuan sangat cantik dan seolah hidup.

Mereka pun menjadi takjub dan masing-masing ingin memiliki sehingga terjadi keributan. Namun ketika akan saling baku hantam, datang Kaki Jugil melerai sambil bertanya mengapa mereka berbuat demikian. Salah seorang di antara mereka kemudian menceritakan secara kronologis sebab musabab mengapa mereka bertengkar. Selesai bercerita, yang lain menimpali dengan meminta Kaki Jugil yang dianggap bijaksana untuk memilih siapa yang paling berhak memiliki patung.

Kaki Jugil tidak mau menentukan siapa yang berhak memilikinya. Dia berkata bahwa yang berhak adalah si patung sendiri. Oleh karena itu, dia mengeluarkan tusuk kondai ajrang yang tersemat di kepala lalu mamasangnya pada patung. Sejurus kemudian hiduplah si patung yang langsung menari dengan lemah gemulai.

Ketika si patung berhenti menari, Kaki Jugil bertanya tentang siapa yang berhak memiliki. Si patung tidak memilih keempatnya karena mereka masih bersaudara. Singkat cerita, agar tidak berlarut-larut Kaki Jugil mengambil jalan tengah. Dia mengusulkan pada empat bersaudara itu ikut berkelana bersamanya dalam bentuk sebuah group. Keempat bersaudara menjadi panjak atau pemain waditra, si patung yang telah menjadi manusia berperan sebagai penari, dan Kaki Jugil bertindak sebagai dalangnya. Setelah dicapai kesepakatan, mereka pun berkelana dan ngamen di mana-mana.

Lalu bagaimana nasib sang penebang pohon yang buta matanya akibat cakaran burung garuda? Apakah dia telah diobati oleh Jaka Slaka dan sembuh seperti sedia kala? Entahlah......gelap...

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: