Si Monyet Malas

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada seekor monyet yang sangat malas. Kerjanya hanya makan, tidur, dan bermain di pepohonan. Suatu hari, ketika sedang bersantai di sebuah pohon rindang pandangannya diusik oleh aktivitas seekor tupai. Si tupai berjalan pulang-pergi mengangkut buah kenari ke dalam sarang yang berada tidak jauh dari Si monyet bersantai.

Aktivitas Si tupai tadi tentu saja membuat monyet terganggu. Perlahan dia bangkit mencari tempat baru yang lebih tenang. Baru beberapa kali berayun dilihatnya sebuah mempelam ranum tergeletak di tanah. Tanpa membuang waktu dia turun dari pohon untuk menyantap mempelam itu. Usai menyantap mempelam dia beranjak menuju ke pohon jambu yang sedang berbuah. Sambil menikmati buah jambu matanya tetap mengawasi aktivitas tupai.

Oleh karena Si tupai tidak berhenti hilir-mudik memasukkan buah-buah kenari ke dalam sarang, lama-lama risih juga Si monyet. Ditegurnya Si tupai agar tidak berjalan kesana-kemari. Hal itu dianggap mengganggu ketenangan hutan dan dapat membuat burung-burung berhenti berkicau.

Mendapat teguran Si Monyet, tupai menjelaskan bahwa dia sedang mengumpulkan makanan ke dalam sarang. Menurut monyet usaha Si tupai tadi hanyalah sia-sia belaka. Hutan sudah berlebihan makanan berupa buah-buahan. Bahkan, para penghuninya tidak perlu bersusah-payah memetik karena buah akan matang dan jatuh dengan sendirinya.

Penjelasan tadi hanya ditanggapi tupai dengan senyuman sambil kembali ke sarangnya. Dia memang tidak akan mencari buah kenari lagi karena hari telah menjelang senja. Sebagian kecil dari tumpukan buah kenari di dalam sarang cukup untuk mengganjal perutnya sepanjang malam. Esok hari dia akan kembali mencari buah kenari. Pikirnya, besok Si monyet pasti bertengger di pohon lain yang sedang berbuah.

Begitu seterusnya. Setiap hari tupai mengumpulkan buah kenari, sementara monyet berpindah dari satu pohon ke pohon lain yang sedang berbuah. Pada pertengahan musim kemarau tupai tidak perlu pergi jauh dari sarangnya karena persediaan buah kenarinya cukup hingga musim penghujan tiba. Lain halnya Si monyet yang kian hari semakin jauh dari Si tupai. Sebab, pepohonan mulai meranggas dan sebagian malah terlihat kering kekurangan air.

Dia harus mencari pepohonan yang masih tersisa yang biasanya berada di dekat aliran sungai. Setiap hari dia berjalan di bawah terik mata hari untuk mencari pepohonan yang masih berbuah. Sering kali ketika menemukan pohon yang masih berbuah, tidak lama kemudian binatang lain juga mendekat. Oleh karena pohon itu di luar daerah kekuasaannya, terpaksa dia harus mengalah dan pergi. Akibatnya, badan menjadi kurus kering kekurangan makan. Si monyet menyesal tidak mengikuti jejak tupai sehingga tetap asyik menikmati kenari walau kemarau melanda. Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Untuk memperbaikinya, terpaksa dia harus menunggu hingga musim penghujan tiba.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: