Warsa Si Juragan Kambing

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, ada tujuh orang gadis cantik jelita. Mereka adalah anak dari seorang hartawan. Ketika remaja, Sang ayah meninggal dunia. Tidak lama berselang ibu mereka juga meninggal dunia. Oleh karena masih tergolong muda, maka sebagian dari mereka belum memikirkan tentang masa depan. Setiap hari diisi dengan bersenang-senang bersama para pemuda dari kalangan bangsawan dan orang berada.

Hanya salah seorang dari adik-beradik ini yang tidak pernah turut bersenang-senang. Dia adalah Siti Zaenab. Di kala para saudarinya sedang berasyik ria dengan para pemuda, dia memilih memisahkan diri. Walhasil, Siti Zaenab pun seakan terabaikan. Padahal, sesungguhnya ada seorang kakak (bernama Siti Zubaidah) yang merasa kasihan padanya. Tetapi dia tidak berani terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada Siti Zaenab karena takut akan murka Siti Zulaikha (sulung) yang bengis dan amat membenci adik bungsunya.

Adapun cara yang dilakukan oleh Siti Zubaidah agar tidak dicurigai oleh Siti Zulaikha adalah dengan memberi uang kepada seorang janda yang akrab disapa Bibi Kambing untuk membantu memasak dan mencuci pakaian Siti Zaenab. Walau upah yang diterima tidak seberapa tetapi Bibi Kambing bekerja dengan rajin dan tekun sehingga Siti Zaenab tidak terlantar karena tidak diperhatikan oleh para kakaknya.

Berkenaan dengan sebutan "Bibi Kambing" bagi dirinya, berawal dari anak satu-satunya bernama Warsa yang bekerja sebagai penggembala kambing. Oleh karena tiap hari Warsa selalu pergi menggembala kambing, maka masyarakat sekitar menyebutnya sebagai juragan kambing. Sementara sang ibu disebut dengan Bibi Kambing.

Awalnya Bibi Kambing setiap hari datang ke rumah Siti Zaenab membawa makanan dan pulangnya membawa pakaian kotor untuk dicuci di rumah. Lama-kelamaan karena melihat Siti Zaenab selalu seorang diri dan tidak ada yang mempedulikan, maka dia mengajak untuk tinggal di rumahnya. Pikir Bibi Kambing, tentu tidak akan ada yang "ngeh" bila Siti Zaenab tidak ada di rumah. Sebab, mereka sibuk mengurus diri sendiri agar terlihat cantik di hadapan para pemuda.

Tidak berapa lama tinggal di bilik sederhana milik Bibi Kambing, Siti Zaenab sudah merasa kerasan. Badannya terlihat berisi dengan wajah menampakkan keceriaan. Di rumah itu dia juga mulai akrab dengan Warsa Si Juragan Kambing. Bahkan, semakin hari meraka menjadi akrab sekali sehingga menimbulkan kekhawatiran pada Bibi Kambing. Sesuai dengan adat waktu itu, dia merasa pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang terlalu dekat kuranglah baik. Bila warga masyarakat melihat, maka sanksi sosialnya dapat berupa teguran atau bahkan sindiran yang tidak mengenakkan hati.

Sebelum terlanjur, Bibi Kambing memanggil dan menasihati Warsa. Sebagai solusi, dia menyarankan agar Warsa beralih pekerjaan menjadi seorang peniaga. Dengan begitu, dia dapat berniaga ke daerah lain yang selama ini belum pernah didatangi serta mencegah gunjingan tetangga karena kedekatannya dengan Siti Zaenab.

Menuruti kata Sang ibu, Juragan Kambing lalu menjual seekor anak kambing yang telah menjadi haknya. Sebagai penggembala kambing, upah yang didapat bukanlah sejumlah uang melainkan dalam bentuk sistem bagi-hasil. Apabila kambing yang digembalakan hamil, maka anak-anak kambing tersebut selanjutnya dibagi dua antara pemilik dan orang yang dipekerjakan untuk menggembalakannya. Kebetulan kambing yang digembalakan oleh Warsa baru saja melahirkan dua ekor, sehingga dia mendapatkan seekor anak kambing sebagai bagiannya.

Anak kambing upah menggembala itu rencananya akan dijual sebagai modal usaha membeli berbagai macam kebutuhan rumah tangga. Oleh karena setiap hari kerjanya hanya berurusan dengan kambing, ketika di pasar dengan mudah kambing terjual. Dia dapat menjelaskan secara detail kekurangan dan kelebihan kambingnya sehingga pembeli berminat untuk membeli. Dan, karena menjual kambing dirasa lebih mudah, maka dia memutuskan menjadi makelar kambing.

Transaksi awal yang dilakukan Warsa sebagai makelar adalah ketika dia berhasil menjualkan kambing milik seorang haji pada seorang pemilik warung sate kambing yang kebetulan kehabisan stok daging. Upah menjadi makelar kambing ini sebagian digunakan untuk makan dan berkelana mencari orang yang akan menjual kambing, sementara sisanya disimpan sebagai modal usaha.

Seiring waktu, simpanan Warsa bertambah banyak sehingga dia dapat membeli sejumlah kambing untuk dipelihara agar lebih sehat sebelum dijual dengan harga yang lebih tinggi. Dalam waktu yang tidak berapa lama Warsa benar-benar menjelma menjadi juragan kambing. Julukan yang mungkin merupakan olok-olok sewaktu kecil ternyata menjadi motivasi untuk mewujudkannya.

Setelah menjadi juragan kambing yang kaya raya, Warsa memutuskan pulang kampung. Sesampai di kampung halaman, Warsa segera merenovasi rumah hingga terlihat mewah dan mentereng. Walhasil, banyak orang terkesima. Tidak terkecuali para saudari kandung Siti Zaenab. Mereka, kecuali Siti Zubaidah yang telah menikah, beramai-ramai "tebar pesona" pada Warsa. Adapun tujuannya adalah agar Warsa terpikat dan mau mengawini salah seorang di antaranya. Bila hal itu terjadi, otomatis harta yang diperoleh Warsa dapat dikuasai.

Namun, hati Warsa rupanya telah tertambat pada Siti Zaenab. Demikian pula dengan Siti Zaenab. Dia yang kini tinggal bersama keluarga Siti Zubaidah juga memendam rasa pada Warsa. Mereka akhirnya mengikat diri dalam sebuah pernikahan. Acara resepsinya diadakan secara besar-besaran dengan menanggap berbagai macam kesenian. Hal ini tentu saja membuat saudari-saudari Siti Zaenab menjadi iri, marah, dan kesal, karena merasa salah seorang dari merekalah yang lebih berhak bersanding dengan Warsa. Dan, untuk melampiaskannya, mereka bersekongkol hendak mencelakakan Siti Zaenab.

Rencana mencelakakan itu dilancarkan ketika Warsa pergi berniaga ke negeri seberang. Mereka datang ke rumah Siti Zaenab dan mengajaknya pergi berpesiar naik sampan menuju tempat wisata di daerah seberang. Alasannya sebagai hadiah bagi Siti Zaenab yang baru menikah. Mereka bertingkah seolah-olah sayang terhadap si adik bungsu. Padahal, dibaliknya tersimpan rencana keji terhadap Siti Zaenab.

Usai menetapkan hari berpesiar mereka undur diri. Siti Zaenab yang merasa aneh dengan tingkah laku para kakaknya yang berubah 180 derajat segera melaporkan pada Siti Zubaidah. Oleh Siti Zubaidah dia dinasihati berhati-hati selama ikut berpesiar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, dia juga memberi sebuah kantong berisi roti, cincin permata dan sebilah sekin sebagai bekal selama berpesiar.

Pada hari yang telah disepakati berangkatlah mereka menuju sampan yang telah ditambatkan di tepi sungai. Sepanjang perjalanan mereka saling bersenda gurau seakan menyambut gembira karena Sang adik bungsu telah berhasil menemukan tambatan hati. Ketika sampan merapat, satu persatu mereka turun ke darat. Terakhir, ketika Siti Zaenab hendak ikut ke darat tiba-tiba Siti Zulaikha melepas tambatan hingga sampan oleng dan terseret arus.

Pekikan minta tolong Siti Zaenab ditanggapi dengan tawa riang para kakaknya. Dan setelah sampan hilang dari pandangan mereka segera menaiki sampan milik nelayan setempat yang tertambat tanpa dijaga menuju rumah Siti Zaenab. Sesampai di sana, dipelopori Siti Zilaikha mereka menduduki rumah mewah itu. Bibi Kambing tidak dapat berbuat apa-apa dan memilih menyingkir ke rumah Siti Zubaidah.

Di lain tempat, Siti Zaenab terombang ambing hingga ke muara sungai (dekat pelabuhan) yang jauhnya puluhan kilometer dari rumah. Saat sampan hendak menuju laut lepas, beruntung ada seorang nelayan yang menariknya. Siti Zaenab diselamatkan dan diantar ke rumah Syahbandar. Di sana, dia "indekost" sembari menunggu perahu suami datang dari negeri seberang. Cincin permata pemberian Siti Zubaidah digunakan untuk membayar kamar serta makan sehari-hari.

Beberapa bulan kemudian datanglah Warsa dari negeri seberang. Ketika perahu mewah yang ditumpangi merapat di pelabuhan dia langsung disambut hangat oleh Siti Zaenab. Selanjutnya Siti Zaenab menceritakan bagaimana dia bisa menyambut kedatangan Warsa, mulai dari rencana berpesiar hingga "indkost" di rumah Syahbandar.

Mendengar penuturan isterinya, Warsa langsung naik pitam dan berniat membalas dendam. Tanpa menunggu lagi mereka langsung pulang naik bendi. Sesampai di batas kampung, Warsa menyuruh Siti Zaenab masuk ke dalam sebuah peti besar yang salah satu sisinya memiliki lubang sebesar kepalan tangan. Tiba di rumah Warsa disambut hangat oleh Siti Sulaikha. Dia seolah-olah bertindak sebagai pemilik rumah dan tidak sedikit pun bicara tentang Siti Zaenab atau Bibi Kambing. Hal pertama yang ditanyakan adalah apakah Warsa mendapatkan keuntungan besar dari hasil berniaga.

Warsa hanya menjawab bahwa seluruh keuntungan telah disimpan di dalam peti yang dibawanya. Siti Zulaikha dipersilakan mendekati peti besar berisi keuntungan yang telah didapat Warsa selama berbulan-bulan berniaga di negeri seberang. Bila tertarik, dia boleh mengambil barang sedikit melalui lubang yang ada di sisi peti.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Siti Zulaikha. Dia lalu mendekat dan menjulurkan tangannya ke dalam peti. Ketika tangannya sudah berada di dalam, secepat kilat Siti Zaenab menikamnya pada bagian jantung dengan senjata skin pemberian Siti Zubaidah. Mayatnya kemudian disembunyikan oleh para pengawal Warsa ke dalam bendi. Begitu seterusnya, satu per satu kakak Siti Zaenab dipersilakan memasukkan tangan ke dalam peti lalu ditikam.

Setelah tewas, mayat mereka kemudian dikuburkan di halaman belakang rumah. Selanjutnya, Siti Zaenab dan Warsa si Jurgan Kambing dapat menempati kembali rumah mereka. Bersama dengan Bibi Kambing ketiganya hidup tenteram hingga akhir hayat.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: