Bangau Tongtong

(Cerita Rakyat DKI Jakarta)

Alkisah, suatu hari ada seekor Bangau Tongtong tua sedang bertengger di pohon rindang dekat sebuah telaga yang jernih airnya. Di dalam telaga terdapat ikan yang berenang bergerombol mencari makan. Maksud hati Sang Bangau ingin menyantap satu atau beberapa ikan tersebut, namun karena sudah tua dan kurang bertenaga lagi dia hanya dapat menatap sembari meneteskan air liur.

Tidak berapa lama kemudian dia menemukan sebuah ide licik untuk mendapatkan ikan tanpa harus bersusah payah menangkapnya. Adapun caranya adalah dengan mengumpulkan binatang-binatang yang tinggal dan menggantungkan hidup di telaga. Setelah mereka berkumpul, Bangau Tongtong berkata bahwa telaga akan segera mengering karena musim kemarau berlangsung panjang.

Perkataan Bangau tongtong rupanya dapat mempengaruhi penghuni telaga. Mereka ada yang menangis ketakutan, ada yang mondar-mandir tak tentu arah, serta ada pula yang panik dan mengumpulkan anggota keluarganya. Untuk meredakannya Bangau tongtong menghimbau agar tidak panik karena di balik bukit ada telaga yang lebih luas lagi. Mereka dapat pindah ke telaga yang menurutnya tidak pernah mengalami kekeringan.

Bagi binatang air, berpindah ke telaga di balik bukit merupakan hal yang mustahil. Mereka hanya bisa berenang dan bukan berjalan atau terbang untuk dapat mencapainya. Oleh karena itu, dengan akal bulusnya, Bangau Tongtong menawarkan jasa mengantar dengan cara menaruh mereka di paruh dan membawa terbang menuju lokasi.

Tawaran Bangau Tongtong rupanya menarik minat binatang air. Mereka tidak perpikir panjang. Yang ada di benak adalah dapat mencapai telaga yang baru, sehingga tawaran yang tidak lain hanyalah akal bulus disambut dengan gembira. Secara bergiliran satu per satu ikan dibawa terbang oleh Bangau Tongtong.

Bagi ikan yang belum mendapat giliran percaya bahwa Bangau Tongtong akan membawa terbang ke danau di balik bukit. Sementara yang sudah dibawa menjadi sangat kecewa setelah dilemparkan ke sebuah kubangan kecil yang dangkal. Oleh Bangau Tongtong kubangan itu dijadikan sebagai tempat penyimpanan. Tujuannya, apabila dia lapar dapat dengan mudah mengambil beberapa ekor untuk disantap.

Menjelang senja seluruh ikan dan binatang air lain telah terangkat, kecuali seekor ketam yang dalam antrian berada pada posisi buncit. Bangau Tongtong yang sebenarnya sudah lelah tetap mendatanginya. Pikir Sang Bangau daging ketam sangat lezat dan sayang apabila dibiarkan lepas begitu saja.

Dia lalu mendekat dan membawa ketam menggunakan paruhnya. Di perjalanan Ketam mulai curiga karena Sang Bangau terbang bukan ke arah bukit melainkan menyusur danau menuju sebuah kubangan. Di sana teman-temannya berenang berdesakan dalam ruang yang relatif sempit. Sadar kalau dia dan teman-temannya telah ditipu oleh Bangau Tongtong, Ketam menjadi marah. Dengan capitnya yang besar dan tajam dicekiknya Bangau Tongtong hingga tewas. Ketamakan Sang Bangau akhirnya membawa malapetaka bagi diri sendiri.

Diceritakan kembali oleh ali gufron
Dilihat: